• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA PUSTAKA

2.1 Teori Belajar .1 Teori Bruner .1 Teori Bruner

Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan belajar penemuan. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberi hasil yang baik. Selain itu, Bruner menyatakan bahwa proses perkembangan kognisi dan representasi pada anak dipengaruhi oleh aktivitas dan lingkungannya. Bruner (Rifa’i & Anni, 2012:37) memiliki keyakinan bahwa ada tiga tahap perkembangan kognitif yaitu (1) Enaktif, dalam tahap ini anak memahami lingkungannya; (2) Ikonik, dalam tahap ini anak membawa informasi yang dibawa anak melalui imajinasi; (3) Simbolik, dalam tahap ini tindakan tanpa pemikiran terlebih dahulu dan pemahaman konseptual sudah berkembang. Bruner sebagaimana dikutip Al-Tabany (2014:38) menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep dan prinsip untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri.

Keterkaitan penelitian ini dengan teori belajar Bruner ialah tahapan perkembangan kognitif yang disampaikan Bruner juga merupakan tahapan dalam merepresentasikan suatu persoalan dan didukung oleh pembelajaran SAVI dimana tahapan pembelajaran SAVI memuat tahapan perkembangan kognitif yang disampaikan oleh Bruner misalnya pada tahap enaktif memuat proses auditory, pada tahap ikonik memuat proses visual, tahap simbolik memuat proses somatic

13

dan dilajutkan dengan proses intellectually untuk membantu siswa menemukan rumus dan penyelesaian masalah pada materi prisma dan limas.

2.1.2 Teori Piaget

Menurut Piaget sebagaimana dikutip oleh Rifa’i & Anni (2012:207), terdapat tiga prinsip utama dalam pembelajaran, yaitu (1) belajar aktif, (2) belajar lewat interaksi sosial, dan (3) belajar lewat pengalaman sendiri.

(1) Belajar aktif

Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Sehingga untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya melakukan percobaan, manipulasi simbol-simbol, mengajukan pertanyaan dan menjawab sendiri, serta membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.

(2) Belajar lewat interaksi sosial

Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi diantara subyek belajar. Piaget percaya bahwa belajar bersama membantu perkembangan kognitif anak. Melalui interaksi sosial, perkembangan kognitif anak akan diperkaya dengan macam-macam sudut pandangan dan alternatif tindakan.

(3) Belajar lewat pengalaman sendiri

Perkembangan kognitif anak lebih berarti apabila didasarkan pada pengalaman nyata daripada bahasa yang digunakan berkomunikasi. Pembelajaran di sekolah hendaknya dimulai dengan memberikan pengalaman-pengalaman nyata daripada dengan pemberitahuan-pemberitahuan, atau pertanyaan-pertanyaan yang

jawabannya harus persis seperti yang dikehendaki pendidik. Hal ini membelenggu anak, juga tidak menunjang perkembangan kognitif anak yang lebih bermakna.

Keterkaitan penelitian ini dengan teori belajar Piaget ialah adanya partisipasi siswa secara aktif dalam pembelajaran membantu siswa meningkatkan kemampuan representasi matematis. Proses pembelajaran SAVI yang dirancang oleh peneliti melibatkan siswa untuk aktif dan memberi kesempatan siswa memunculkan ide representasi matematisnya dengan berpikir, mecoba, melihat, dan berdiskusi untuk menemukan rumus luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar khususnya prisma dan limas serta menggunakannya dalam penyelesaian masalah

2.1.3 Teori Gagne

Menurut Gagne, sebagaimana dikutip oleh Saad & Ghani (2008:51), terdapat delapan tipe belajar. Delapan tipe belajar tersebut, yaitu belajar isyarat, belajar stimulus respon, belajar rangkaian gerak, belajar rangkaian verbal, belajar memperbedakan, belajar pembentukan konsep, belajar pembentukan aturan, dan belajar pemecahan masalah. Menurut Gagne, pemecahan masalah merupakan proses belajar yang paling tinggi karena harus mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah (Suyitno, 2004:37).

Keterkaitan teori Gagne juga terdapat dalam pembelajaran SAVI salah satunya yaitu tipe belajar menurut Gagne termuat dalam proses-proses pembelajaran SAVI yang dapat membantu siswa untuk memecahkan masalah.

Kemampuan pemecahan masalah berkaitan erat dengan kemampuan siswa pada aspek representasi matematis dalam penyelesaian tugas matematika. Suatu masalah dianggap rumit dan kompleks bisa menjadi lebih sederhana jika strategi dan

pemanfaatan representasi matematis yang digunakan sesuai dengan permasalahan tersebut. Sebaliknya, permasalahan menjadi sulit dipecahkan jika penggunaan representasinya keliru.

2.1.4 Teori Ausubel

Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar di mulai. Dia membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima dan perbedaan antara belajar menghafal dan belajar bermakna.

Keterkaitan dengan representasi matematika, yaitu belajar bermakna yang berarti apa yang sudah diperoleh di kaitkan dengan keadaan lain sehingga lebih dimengerti dan belajar menemukan yang berarti konsep ditemukan oleh siswa sendiri. Hal ini dalam representasi matematika, siswa dalam mengomunikasikan ide/gagasan matematika yang dipelajari dengan cara tertentu untuk menemukan solusi dari permasalahan yang ada. Dalam proses-prosesnya pembelajaran SAVI memberi kesempatan siswa untuk merepresentasikan ide-ide matematisnya sehingga belajar menjadi lebih bermakna.

2.1.5 Teori Van Hiele

Materi pembelajaran dalam penelitian ini adalah bangun ruang sisi datar yang termasuk dalam cakupan geometri. Kerami menyatakan bahwa geometri adalah ilmu mengenai bangun, bentuk, dan ukuran benda-benda (Fauziah, Mariani, &

Isnarto, 2017). Teori Van Hiele menyatakan bahwa terdapat lima tahap belajar anak dalam belajar geometri yaitu tahap pengenalan, tahap analisis, tahap pengurutan, tahap dedukasi dan tahap akurasi. (Suherman, 2006:51)

Suherman (2006) mengemukakan ada tiga unsur utama dalam pengajaran matematika menurut Van Hiele, yaitu waktu, materi pengajaran dan metode

pengajaran yang diterapkan. Apabila hal ini diperhatikan dan dijalankan secara baik akan meningkatkan kemampuan berfikir siswa pada tingkatan yang lebih tinggi.

Dengan demikian tahapan berpikir yang di lalui siswa dalam belajar geometri menurut Van Hiele sangat penting. Tahapan tersebut digunakan sebagai dasar pencapaian konsep siswa mengenai geometri.

Keterkaitan teori Van Hiele dalam penelitian ini yaitu dipilihnya materi geometri yaitu bangun ruang sisi datar pada sub materi prisma dan limas dan metode pembelajaran menjadi salah satu tahapan penting pengajaran menurut Van Hiele yang mempengaruhi tahapan berpikir siswa dalam belajar geometri. Proses pembelajaran SAVI memaksimalkan siswa dalam melalui tahapan-tahapan siswa dalam belajar geometri khususnya pada prisma dan limas.

Dokumen terkait