• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Isi Kebijakan

4.3.2 Tipe Manfaat

Pada poin ini Content of Policyisi kebijakan menurut Merilee S Grindle berupaya untuk menunjukkan atau menjelaskan bahwa dalam suatu kebijakan harus terdapat beberapa jenis manfaat yang menunjukkan dampak positif yang dihasilkan oleh pengimplementasian kebijakan yang hendak dilaksanakan.

Manfaat yang dihasilkan tersebut bukanlah manfaat tunggal sebagai tujuan kebijakan namun memberikan manfaat lintas sektor. Manfaat lintas sektor tersebut merupakan dampak positif yang dialami suatu sektor sebagai akibat dari manfaat yang dialami sektor lain sehingga banyak pelaku yang mengalami manfaat dari kebijakan tersebut.

Sebuah kebijakan yang jelas, yang memberikan manfaat yang aktual kepada banyak pelaku lebih mudah di implementasikan dibanding dengan kebijakan yang kurang bermanfaat. Suatu kebijakan yang dibuat oleh pemerintah baik itu program, peraturan atau perundang-undangan sebagai landasan hukumnya harus dapat memberikan hasil yang bermanfaat dan berdampak positif serta dapat merubah ke arah yang lebih baik dari hasil pengimplementasiannya.

Dalam konteks implementasi kebijakan pemberdayaan UKM, manfaat yang ingin dihasilkan tidak hanya untuk pelaku UKM tetapi juga harus berdampak kepada sektor lain seperti penyerapan tenaga kerja, pengembangan ekonomi masyarakat secara keseluruhan maupun penyediaan barang yang menjadi kebutuhan masyarakat sebagai hasil dari kegiatan UKM. Dengan adanya manfaat lintas sektor tersebut, implementasi kebijakan pemberdayaan UKM layak disebut sebagai kebijakan yang berdampak positif secara menyeluruh terhadap kehidupan masyarakat.

Melalui hasil wawancara dengan informan Seksi Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha Mikro Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang menyatakan bahwa:

“Manfaat yang kita harapkan dari pemberdayaan UKM ini adalah agar masyarakat pelaku UKM memiliki usaha berbasis Usaha Kecil Menengah yang mandiri dan berdaya saing yang nantinya kita harapkan juga dapat membuka lapangan pekerjaan. Jadi manfaatnya dapat dirasakan semua lapisan masyarakat.”

(Transkrip Wawancara, halaman 3)

Hasil wawancara dengan informan tersebut menunjukkan bahwa manfaat yang diharapkan dari kebijakan pemberdayaan UKM agar masyarakat pelaku UKM mampu memiliki usaha yang berdaya saing serta memberikan pengaruh kepada lingkungannya seperti pembukaan lapangan kerja dan mendorong lahirnya UKM baru yang nantinya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

Dalam mewujudkan implementasi kebijakan pemberdayaan UKM tersebut pemerintah melaksanakan program sosialisasi pemberdayaan UKM dan pelatihan akses modal. Dalam konteks program sosialisasi pemberdayaan UKM, Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Dairi melaksanakan kegiatan sosialisasi UKM dan membantu masyarakat membentuk sebuah Usaha Kecil Menengah. Disamping itu dinas tersebut juga membantu masyarakat pelaku UKM memperoleh izin usahanya. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan informan Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro yang menyatakan bahwa:

“Jadi yang kita harapkan dari program sosialisasi pemberdayaan UKM ini adalah bagaimana agar masyarakat mengerti apa itu UKM, membantu masyarakat yang ingin mendirikan usaha dan membantu dalam hal pengurusan izinya.”

(Transkrip Wawancara, halaman 1 )

Sesuai dengan hasil wawancara dengan informan masyarakat yang menyatakan bahwa:

“Melalui program sosialisasi pemberdayaan ini sangat bermanfaat, kami saat ini telah memiliki usaha penyediaan peralatan pesta dan dapat dikatakan sampai saat ini berjalan lancarlah. Sebelumnya keseharian saya dan istri hanya berkebun.” (Transkrip Wawancara, halaman 12 )

Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa program sosialisasi pemberdayaan UKM yang dilaksanakan oleh Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Dairi telah dirasakan, salah satunya masyarakat yang sebelumnya kesehariannya sebagai petani saat ini telah memiliki usaha kecil berizin di bidang penyewaan peralatan pesta yang berdampak kepada peningkatan taraf hidup masyarakat tersebut.

Berbeda dengan hasil wawancara dengan informan masyrakat yang lain yang menyatakan bahwa:

“Ya sebelumnya kita pernah mengikuti kegiatan pemberdayaan UKM.

Dulu kita dilatih mendirikan usaha sampai pengrusan izin usaha. Namun ya itu,seperti gak ada hasilnya karena saat itu kita lebih butuh pada tambahan modal usaha, jadi tidak terlalu berdampak. Dulu juga ada dikasi seperti buku-buku pengembangan usaha namun namanya orang tua masa disruh baca buku lagi. Jadi tidak terlalu berpengaruh.” (Transkrip Wawancara, halaman 14)

Sesuai dengan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa tidak semua masyarakat yang mengikuti program sosialisasi program pemberdayaan UKM merasakan manfaat dari program tersebut. Seperti informan masyarakat di atas yang lebih membutuhkan penambahan modal usaha agar dapat mengembangkan usahanya. Program tersebut juga kurang dirasakan manfaatnya karena metode sosialisasi yang dilakukan berupa pembagian buku atau modul pengembangan usaha tidak sesuai dengan kultur masyarakat di desa,

Dalam konteks program pelatihan akses modal, Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Dairi melaksanakan kegiatan

yang bertujuan untuk membantu masyarakat pelaku UKM memperoleh tambahan atau pinjaman modal usaha dari pihak bank. Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengharapkan manfaat yang diperoleh dari program pelatihan akses modal dapat membantu masyarakat pelaku UKM memperoleh tambahan modal usaha dalam mengembangkan usahanya. Dalam kegiatan UKM, dinas tersebut juga akan melakukan pendampingan terhadap pelaku UKM yang mengikuti pelatihan akses modal. Hal tersebut sesuai wawancara dengan informan Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro yang menyatakan bahwa:

“Tentu yang kita harapkan melalui program pelatihan akses modal tersebut, masyarakat pelaku UKM dapat mengembangkan usahanya melalui pinjaman modal usaha dari pihak perbankan. Sejalan dengan itu, kita juga melakukan pendampingan terhadap para pelaku UKM yang ikut serta dalam program tersebut.” (Transkrip Wawancara, halaman 2)

Sesuai dengan hasil wawancara dengan informan masyarakat yang menyatakan bahwa:

“Melalui pelatihan yang kami ikuti kemarin, kita dilatih bagaimana memperoleh dana pinjaman dari bank. Disana dijelaskan syarat dan ketentuan apa saja untuk memperoleh pinjaman tersebut. Pinjaman itulah yang kita gunakan untuk pengembangan usaha kita.” (Transkrip Wawancara, halaman 14)

Melalui hasil pengamatan penulis di lapangan, pada kunjungan ke lokasi usaha penyewaan peralatan pesta milik Manihuruk, telah tampak dampak positif dari implementasi kebijakan pemberdayaan UKM. Usaha penyewaan peralatan pesta Manihuruk telah berkembang dengan adanya pelatihan akses modal yang berbuah lahirnya pinjaman modal usaha dari perbankan untuk mengembangkan usaha yang bersangkutan.

Gambar 4.1 Ruang Seminar

Sumber: Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Dairi, 2018

Pada gambar di atas menunjukkan kegiatan pelatihan akses modal yang dilakukan oleh Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Dairi pada tahun 2017. Hal itu menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan akses modal benar-benar pernah terlaksana.

Berdasarkan hasil wawancara dari berbagai informan, observasi di lapangan dan studi kepustakaan dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Kabupaten Dairi melalui Dinas Ketenagakerjaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah telah mengimplementasikan kebijakan pemberdayaan UKM. Program yang dijalankan berupa sosialisasi pemberdayaan UKM dan Pelatihan akses modal. Sebagian masyarakat pelaku UKM merasakan manfaat langsung dari program sosialisasi pemberdayaan UKM tersebut. Hal itu dibuktikan dari lahirnya UKM baru yang telah memiliki izin usaha dan masih menjalakan usahanya hingga saat ini. Dalam program pelatihan akses modal, masyarakat pelaku UKM yang mengikuti

pelatihan tersebut telah diberi pelatihan tentang bagaimana cara dan syarat-syarat dalam memperoleh pinjaman modal usaha dari pihak perbankan.