• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Hasil Penelitian

4.1.2 Uji Hipotesis Penelitian I

Hipotesis penelitian I adalah penggunaan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan membangun empati pada mata pelajaran IPA kelas V SD Kanisius Demangan Baru semester gasal tahun ajaran 2014/2015. Variabel dependen pada hipotesis tersebut adalah kemampuan membangun empati sedangkan variabel independennya adalah penggunaan metode inkuiri. Instrumen pertanyaan yang digunakan sebagai sarana untuk mengukur variabel dependen adalah empat butir soal uraian pada nomor 5a, 5b,5c dan 5d.

Pada bagian ini akan dipaparkan hasil analisis statistik yang secara keseluruhan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 20 for

58

Windows. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Langkah-langkah

analisis data sebagai berikut. 1) Uji normalitas data untuk mengetahui jenis uji statistik yang akan digunakan apakah parametrik atau nonparametrik. 2) Uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok. 3) Uji signifikansi pengaruh perlakuan untuk melihat perbedaan rerata kedua kelompok yaitu selisih skor pretest dan posttest I kedua kelompok. 4) Uji kenaikan rerata skor pretest ke posttest I pada tiap kelompok untuk mengetahui apakah ada kenaikan rerata skor pada tiap kelompok. 5) Uji besar pengaruh perlakuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan metode inkuiri. 6) Uji retensi pengaruh perlakuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih kuat setelah satu bulan. 7) Dampak pengaruh perlakuan dari hasil observasi dan wawancara.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi

eksperimental yang menggunakan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang memperoleh perlakuan (treatment) yaitu dengan menggunakan metode inkuiri dalam proses pembelajaran, sedangkan kelompok kontrol merupakan kelompok yang tidak memperoleh perlakukan (treatment) atau menggunakan pembelajaran seperti biasa dimana guru menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan

membangun empati adalah soal tes tertulis yang berjumlah empat butir soal dan

untuk kemampuan memahami diri adalah tiga butir soal uraian. Soal tersebut diujikan pada saat pretest dan posttest yang sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya.

4.1.2.1 Uji Normalitas Distribusi Data

Analisis yang pertama adalah uji normalitas data. Uji normalitas ini bertujuan untuk menentukan analisis statistik yang akan digunakan untuk mengetahui hasil dari pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dengan tingkat kepercayaan 95% sehingga diketahui jenis statistik yang akan digunakan untuk menganalisis data. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan pada uji normalitas adalah 1) Jika harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka distribusi data normal

59

sehingga analisis data menggunakan statistik parametrik. 2) Jika harga sig.

(2-tailed) < 0,05 maka distribusi data tidak normal sehingga analisis data

menggunakan statistik non parametrik. Berdasarkan kriteria di atas diperoleh data hasil perhitungan sebagai berikut (lengkapnya lihat Lampiran 4.3.1).

Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Membangun empati No Aspek Sig. (2-tailed) Keterangan

1 Pretest membangun empati kelompok kontrol 0,76 Normal

2 Posttest membangun empati kelompok kontrol 0,24 Normal

3 Rerata selisih skor pretest-posttest I membangun

empati kelompok kontrol

0,71 Normal

4 Posttest II membangun empati kelompok kontrol 0,52 Normal

5 Pretest membangun empati kelompok eksperimen 0,37 Normal

6 Posttest membangun empati kelompok eksperimen 0,88 Normal

7 Rerata selisih skor pretest-posttest I membangun

empati kelompok eksperimen

0,62 Normal

8 Posttest II membangun empati kelompok eksperimen 0,56 Normal

Berdasarkan analisis data tersebut menunjukkan bahwa hasil pretest,

posttest I, selisih skor dan posttest II dari kelompok kontrol maupun kelompok

eksperimen memiliki harga sig. (2-tailed) > 0,05. Hal ini menunjukkan data yang digunakan pada kemampuan membangun empati memiliki distribusi data normal sehingga analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik yaitu Independent samples t-test untuk analisis data dari kelompok yang berbeda sedangkan untuk analisis data dari satu kelompok menggunakan Paired samples

t-test.

4.1.2.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal

Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara hasil pretest kelompok kontrol dan hasil pretest kelompok eksperimen. Tujuan uji ini adalah untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok, apakah sama atau tidak sama. Langkah ini dilakukan karena teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini tidak dilakukan secara random. Jika kemampuan awal kedua kelompok sama, maka kedua kelompok bisa dibandingkan. Analisis yang digunakan untuk menguji perbedaan rerata skor pretest adalah statistik parametrik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 326).

60

Sebelum dilakukan analisis ini perlu dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan Levene’s test. Jika harga sig. > 0,05 ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig. < 0,05 tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Jika data variannya homogen maka hasil yang dibaca adalah pada baris pertama. Jika data tidak homogen maka data yang dibaca adalah pada baris kedua (Field, 2009: 53). Hasil analisis Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh F sebesar 3,58 dengan sig. sebesar 0,06 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat homogenitas varians sehingga dapat digunakan Independent samples t-test untuk analisis selanjutnya. Setelah diketahui homogenitas variannya, selanjutnya dilakukan uji statistik Independent samples t-test untuk mengetahui kemampuan membangun

empati di masing-masing kelompok. Kriteria yang digunakan untuk menolak

Hnull adalah jika harga sig.(2-tailed) > 0,05. Berikut adalah hasil data yang dilakukan untuk melihat kemampuan membangun empati di masing-masing kelompok (lengkapnya lihat Lampiran 4.4.1).

Tabel 4.2 Hasil Uji Kemampuan Awal Pretest Kemampuan Membangun empati Uji Statistik Sig. (2-tailed) Keterangan

Independent samples t-test 0,87 Tidak ada perbedaan

Berdasarkan hasil pretest dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians data. Rerata skor yang dicapai kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Hasil skor kelompok kontrol yaitu M = 2,81; SD = 0,37

SE = 0,07; N = 28 dan df = 27. Hasil skor kelompok eksperimen yaitu M = 2,79; SD = 0,33; SE = 1,00; N = 25 dan df = 24. Analisis menggunakan independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga sig. (2-tailed)

adalah 0,87 dan nilai t = 0,17. Harga sig. (2-tailed) > 0,05 maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan membangun empati, dengan kata lain kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan membangun

empati. Kedua kelompok tersebut dapat dibandingkan. Tujuan dilakukannya

teknik pengambilan sampel adalah untuk memastikan kelompok eksperimen dan kontrol yang pilih benar-benar memiliki kemampuan awal yang sama. Uji

61

perbedaan diatas menunjukkan bahwa tujuan tersebut sudah tercapai (Cohen, 2007: 276). Untuk memastikan bahwa kelompok kontrol dan eksperimen memiliki kemampuan yang sama meskipun teknik pengambilam sampel tidak dilakukan secara random.

4.1.2.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan

Uji signifikansi pengaruh perlakuan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan membangun empati dengan cara menghitung selisih skor pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mendapatkan perhitungan selisih skor dapat dilakukan dengan cara mengurangkan selisih skor posttest dan skor pretest pada kelompok kontrol dengan selisih posttest dan pretest pada kelompok eksperimen. Analisis statistik yang digunakan adalah statistik parametrik

Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% karena data

memiliki distribusi normal (Field, 2009: 326).

Sebelum dilakukan analisis perlu dilakukan uji asumsi perlu dilakukan untuk memeriksa homogenitas varians dengan Levene’s test. Kriteria yang digunakan adalah jika harga sig. > 0,05 ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga sig < 0,05 tidak ada homogenitas varians pada kedua data yang dibandingkan. Hasil analisis Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga F sebesar 1,07 dan sig. sebesar 0,30 (p > 0,05). Dengan demikian terdapat signifikansi homogenitas variansi sehingga dapat digunakan adalah Independent samples t-test untuk analisis selanjutnya sehingga kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika Sig. (2-tailed) < 0,05. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih pretest-posttest kelompok kontrol dan eksperimen. Berikut adalah hasil analisis data selisih skor yang akan digunakan sebagai tolak ukur untuk menarik kesimpulan apakah hipotesis diterima atau ditolak pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan membangun empati (lengkapnya lihat Lampiran 4.5.1).

62 Tabel 4.3 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Membangun empati

Hasil Rerata Selisih Skor Sig. (2-tailed) Keterangan Rerata selisih skor pretest-posttest kelompok

kontol dan kelompok eksperimen 0,00 Ada perbedaan

Berdasarkan analisis selisih yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varians data dengan rerata selisih skor pretest-posttest pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol. Hasil skor kelompok kontrol yaitu M = - 0,16; SD = 0,75; SE = 0,14; N = 28 dan df = 27. Hasil skor kelompok eksperimen yaitu M = 0,40; SD = 0,54; SE = 0,11; N = 25 dan df = 24. Analisis menggunakan independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga sig. adalah 0,31 dan nilai t = -3,06. Harga sig. (2-tailed) > 0,03 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada kemampuan membangun

empati artinya Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode inkuiri berpengaruh terhadap kemampuan

membangun empati. Berikut adalah diagram batang yang menunjukkan selisih

skor posttest dan pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Gambar 4.1 Diagram batang yang menunjukkan selisih rerata skor pretest-posttest kelompok kontrol dan eksperimen

63

4.1.2.4 Analisis Lebih Lanjut

1. Uji Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I

Tujuan dilakukan uji kenaikan skor adalah untuk mengetahui kenaikan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Analisis statistik yang digunakan untuk menguji peningkatan pretest dan posttest adalah Paired samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika

harga sig. (2-tailed) < 0,05 dan jika rerata skor posttest lebih tinggi daripada

rerata skor pretest berarti ada peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke

posttest (Field, 2009: 53). Selanjutnya untuk mengetahui seberapa besar

peningkatan yang terjadi dapat dilakukan dengan cara mengurangkan skor

pretest ke posttest lalu dibagi dengan pretest dan dikalikan dengan 100%.

Berikut adalah hasil analisis data yang dilakukan untuk melihat peningkatan di kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen pada variabel membangun

empati (lengkapnya lihat Lampiran 4.6.2).

Tabel 4.4 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest-Posttest I No Kelompok Rerata Peningkatan

(%)

Sig. (2-tailed)

Keterangan

Pretest Posttest I

1 Kontrol 2,80 2,65 -5,36 0,27 Tidak ada perbedaan 2 Eksperimen 2,79 3,19 14,34 0,00 Ada

perbedaan

Secara umum hasil uji kenaikan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hasil uji peningkatan skor

pretest ke posttest I menunjukkan harga sig.(2-tailed) kelompok kontrol sebesar

0,27 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak dengan harga M = -0,16; SE = 0,14 ; SD = 0,78; t = -1,12; df = 27; N = 28, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest I dengan kata lain tidak ada peningkatan yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. Sedangkan harga sig.(2-tailed) kelompok eksperimen sebesar 0,00 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi

64

diterima dengan harga M = 0,40; SE =0,11 ; SD = 0,54 ; t = 3,70; df = 24; N = 25, artinya ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest I dengan kata lain ada peningkatan yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. Secara lebih rinci, indikator-indikator pada variabel membangun empati sebagai berikut (lengkapnya lihat Lampiran 4.6.1).

Tabel 4.5 Hasil Uji Peningkatan Skor Pretest-Posttest I Kelompok Kontrol

No Indikator Membangun empati Kontrol Peningkatan (%) Sig. (2-tailed) Keterangan Pre Post I 1

Mempertimbangkan 2,50 2,71 8,40 0,26 Tidak ada perbedaan 2

Membayangkan 3,18 3,14 -1,26 0,77 Tidak ada perbedaan 3 Menghubungkan 2,93 2,43 -17,06 0,05 Ada perbedaan 4 Mengambil peran sebagai 2,61 2,32 -11,11 0,40 Tidak ada perbedaan

Tabel 4.6 Uji Peningkatan Skor Pretest-Posttest I Kelompok Eksperimen

No Indikator Membangun empati Eksperimen Peningkatan (%) Sig. (2-tailed) Keterangan Pre Post I 1 Mempertimbangkan 2,48 3,16 27,42 0,00 Ada perbedaan 2 Membayangkan 3,16 3,44 8,86 0,15 Tidak ada perbedaan 3 Menghubungkan 2,92 3,24 10,96 0,10 Tidak ada perbedaan 4 Mengambil peran

sebagai 2,60 2,92 12,31 0,13

Tidak ada perbedaan

Dari tabel pada kelompok kontrol hanya ada satu indikator yang mengalami peningkatan skor dari pretest ke skor posttest yaitu pada indikator mempertimbangkan yakni peningkatan sebesar 8,40% dengan harga sig.

(2-tailed) sebesar 0,26 maka Hnull diterima dan Hi ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari skor pretest ke posttest I pada aspek mempertimbangkan. Indikator yang lain seperti membayangkan memiliki harga

sig. (2-tailed) sebesar 0,77 (p > 0,05); aspek mengambil peran sebagai harga sig. (2-tailed) sebesar 0,40, maka Hnull diterima dan Hi ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I dengan kata lain tidak terdapat kenaikan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I pada

65

kedua indikator pada variabel membangun empati kelompok kontrol. Pada aspek menghubungkan memiliki harga sig. (2-tailed) sebesar 0,05 ( p= 0,05) maka Hnull ditolak dan Hi diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest I dengan kata lain terdapat kenaikan skor yang signifikan dari skor

pretest ke posttest I.

Pada kelompok eksperimen tersebut diketahui bahwa seluruh rerata skor

posttest lebih tinggi daripada rerata skor pretest dengan kata lain seluruh

indikator pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I pada aspek mempertimbangkan, membayangkan, menghubungkan dan mengambil peran sebagai. Harga

sig.(2-tailed) yang diperoleh masing-masing indikator adalah 0,00 (p < 0,05) pada

aspek mempertimbangkan, maka Hnull ditolak dan Hi diterima artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I dengan kata lain terdapat kenaikan skor yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada variabel membangun empati kelompok eksperimen untuk indikator mempertimbangkan. Untuk aspek membayangkan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,15 (p > 0,05); aspek menghubungkan harga sig. (2-tailed) sebesar 0,10 ( p > 0,05); aspek mengambil peran sebagai harga sig. (2-tailed) sebesar 0,13, maka Hnull diterima dan Hi ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I. Dengan kata lain, tidak terdapat kenaikan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I.

2. Uji Besar Pengaruh Perlakuan (effect size)

Uji besar pengaruh perlakuan dilakukan untuk melihat besarnya pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan membangun empati. Hal ini digunakan untuk memastikan adanya pengaruh perbedaan antara skor posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang disebut effect size. Untuk menghitung effect size adalah korelasi Pearson dengan kriteria r = 0.10 (efek kecil) yang setara dengan 1%, r = 0,30 (efek menengah) yang setara dengan 9% dan r = 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25% (Field, 2009: 179). Cara yang digunakan untuk mengetahui koefisien korelasi yaitu dengan mengubah harga t menjadi harga r dengan menggunakan rumus sebagaimana yang telah

66

disebutkan pada bab III. Berikut adalah hasil perhitungan besar pengaruh penggunaan metode inkuiri pada kemampuan membangun empati secara keseluruhan dimana t diambil dari Independent samples t-test pada uji statistik selisih (lengkapnya lihat lampiran 4.7)

Tabel 4.7 Effect size Kemampuan Membangun empati

t t2 df r R2 % Efek

-3,06 9,36 51 0,40 0,16 16 Besar

Berikut adalah hasil perhitungan besar pengaruh penggunaan metode ceramah pada kelompok kontrol dan pengaruh penggunaan metode inkuiri pada kelompok eksperimen dimana t diambil dari Paired Samples test (lengkapnya lihat Lampiran 4.8.1)

Tabel 4.8 Effect size Kemampuan Membangun empati

No Kelompok t t2 Df r R2 % Efek 1 Kontrol -1,121 1,1257 27 0,20 0,04 4 Menengah 2 Eksperimen 3,703 13,71 24 0,60 0,36 36 Besar

Tabel tersebut menunjukkan bahwa besar pengaruh yang diperoleh untuk kelompok kontrol sebesar 0,2, sesuai kriteria dari Field (2009: 550) besar pengaruh kelompok kontrol memiliki efek menengah, sedangkan untuk kelas eksperimen diperoleh besar pengaruh sebesar 0,60 berarti kelompok eksperimen memiliki efek besar. Dengan demikian, penggunaan metode ceramah memiliki pengaruh menengah terhadap kemampuan membangun empati pada kelompok kontrol sedangkan kelompok eksperimen metode inkuiri memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan membangun empati. Secara lebih rinci, akan dijabarkan dalam keempat indikator dari variabel membangun empati (lengkapnya lihat Lampiran 4.8.2).

67 Tabel 4.9 Effect size Kemampuan Membangun empati kelompok Kontrol

Kelompok Kontrol No Indikator T t2 df r R2 % Efek 1 Mempertimbangkan 1,14 1,29 27 0,21 0,04 4 Menengah 2 Membayangkan -0,30 0,09 27 0,06 0,00 0,3 Kecil 3 Menghubungkan -2,05 4,19 27 0,37 0,13 13 Menengah 4 Mengambil peran sebagai -0,86 0,74 27 0,16 0,026 2,6 Kecil Kelompok Eksperimen No Indikator T t2 df r R2 % Efek 1 Mempertimbangkan 3,78 14,27 24 0,60 0,36 36 Besar 2 Membayangkan 1,50 2,23 24 0,29 0,084 28 Besar 3 Menghubungkan 1,69 2,86 24 0,32 0,10 10 Menengah 4 Mengambil peran sebagai 1,55 2,14 24 0,30 0,09 9 Menengah

Dari tabel diatas menunjukkan besar pengaruh (effect size) pada variabel

membangun empati dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tabel

tersebut menerangkan empat indikator yaitu mempertimbangkan, membayangkan, menghubungkan, mengambil peran sebagai. Besar pengaruh pada kelompok kontrol untuk aspek mempertimbangkan adalah 0,21 termasuk memiliki efek menengah, sedangkan pada kelompok eksperimen untuk aspek mempertimbangkan adalah 0,60 termasuk memiliki efek besar. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penggunaan metode inkuiri pada kelompok eksperimen memiliki efek yang lebih besar dibandingkan pada kelompok kontrol yang menggunakan metode ceramah. Jadi, metode inkuiri memiliki pengaruh yang besar terhadap aspek mempertimbangkan pada kelompok eksperimen sedangkan memiliki efek menengah pada kelompok kontrol.

Besar pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol untuk aspek membayangkan adalah 0,07 termasuk memiliki efek kecil, sedangkan pada kelompok eksperimen untuk aspek membayangkan adalah 0,53 termasuk memiliki efek besar. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penggunaan metode inkuiri pada kelompok eksperimen memiliki efek yang lebih besar

68

dibandingkan pada kelompok kontrol yang menggunakan metode ceramah. Jadi, metode inkuiri memiliki pengaruh yang besar terhadap aspek membayangkan pada kelompok eksperimen sedangkan memiliki efek kecil pada kelompok kontrol.

Besar pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol untuk aspek menghubungkan adalah 0,37 termasuk memiliki efek menengah, sedangkan pada kelompok eksperimen untuk aspek menghubungkan adalah 0,32 termasuk memiliki efek menengah. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penggunaan metode inkuiri pada kelompok eksperimen memiliki efek yang sama besar dibandingkan pada kelompok kontrol yang menggunakan metode ceramah. Jadi, metode inkuiri memiliki pengaruh yang menengah terhadap aspek menghubungkan pada kelompok eksperimen dan memiliki efek menengah pada kelompok kontrol.

Besar pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol untuk aspek mengambil peran sebagai adalah 0,16 termasuk memiliki efek kecil, sedangkan pada kelompok eksperimen untuk aspek mengambi peran sebagai adalah 0,30 termasuk memiliki efek menengah. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa penggunaan metode inkuiri pada kelompok eksperimen memiliki efek yang lebih besar dibandingkan pada kelompok kontrol yang menggunakan metode ceramah. Jadi, metode inkuiri memiliki pengaruh yang menengah terhadap aspek mengambil peran sebagai pada kelompok eksperimen sedangkan memiliki efek kecil pada kelompok kontrol.

3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan

Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh penggunaan metode inkuiri setelah 1 bulan dilakukan perlakuan masih sekuat pada perlakuan posttest I (Krathwohl, 2004:546). Data yang digunakan adalah skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Hasil skor dari posttest II akan diuji perbandingannya dengan

posttest I. Data yang diperoleh dari posttest I diuji normalitasnya terlebih dahulu.

Besarnya skor posttest II pada kelompok eksperimen dan kontrol adalah p > 0,05 sehingga distribusi data normal maka dilakukan dengan menggunakan

69

statistik parametrik dalam hal ini Paired samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Jika distribusi data tidak normal, maka digunakan statistik non parametruk dalam hal ini adalah Wilcoxon signed ranks test. Untuk menghitung data tersebut digunakan bantuan program komputer IBM SPSS

Statistics 20 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Kriteria yang

digunakan untuk menarik kesimpulan adalah jika harga sig. (2-tailed) > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan kata lain tidak terjadi penurunan/peningkatan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Jika harga sig. (2-tailed) < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor

posttest I dan posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

dengan kata lain terjadi penurunan/peningkatan skor yang signifikan dari

posttest I ke posttest II. Berikut adalah hasil perbandingan skor posttest I ke posttest II (lengkapnya lihat Lampiran 4.10.1).

Tabel 4.10 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan

No Indikator Rerata Peningkatan (%)

Sig.

(2-tailed) Keterangan PostI PostII

1 Kontrol 2,65 2,89 9,06 0,10 Tidak ada perbedaan 2 Eksperimen 3,19 2,99 -6,27 0,14 Tidak ada perbedaan

Tabel diatas menunjukkan bahwa kelompok kontrol lebih tinggi daripada kelompok eksperimen. Hal ini ditunjukkan dengan harga sig.(2-tailed) kelompok kontrol sebesar 0,10 (p > 0,05), dengan M = 0,24; SE = 0,14; SD = 0,74 ; df = 27; N = 28 , maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol, dengan kata lain tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa harga

sig.(2-tailed) sebesar 0,14 (p > 0,05), dengan M = -0,20; SE = 0,13 ; SD = 0,65; df = 24; N = 25 , maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II kelompok eksperimen,

70

dengan kata lain tidak terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke

posttest II pada kelompok eksperimen. Jadi, kelompok kontrol tidak mengalami

penurun skor yang signifikan setelah satu bulan pemberian posttest I sedangkan kelompok eksperimen mengalami penurunan skor yang signifikan karena hasil rerata skor posttest II lebih rendah daripada rerata skor posttest I setelah selama 1 bulan dari pemberian posttest I. Secara lebih rinci akan dijabarkan dalam keempat indikator pada variabel membangun empati yaitu mempertimbangkan, membayangkan, menghubungkan, mengambil peran sebagai (lengkapnya lihat Lampiran 4.10.2).

Tabel 4.11 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Membangun empati Kelompok Kontrol

No Indikator Rerata Peningkatan (%) Sig. (2-tailed) Keterangan

PostI PostII

1 Mempertimbangkan 2,71 2,79 2,95 0,78 Tidak ada perbedaan 2 Membayangkan 3,14 3,50 11,46 0,07 Tidak ada perbedaan 3 Menghubungkan 2,43 2,89 18,93 0,08 Ada perbedaan 4 Mengambil peran sebagai 2,32 2,39 3,01 0,81 Tidak ada perbedaan Kelompok Eksperimen

No Indikator Rerata Peningkatan (%)

Sig.

(2-tailed) Keterangan PostI PostII

1 Mempertimbangkan 3,16 3,24 2,53 0,72 Tidak ada perbedaan 2 Membayangkan 3,44 3,44 0,00 1,00 Tidak ada perbedaan 3 Menghubungkan 3,24 2,52 -22,2 0,01 Ada perbedaan 4 Mengambil peran sebagai 2,92 2,76 -5,47 0,62 Tidak ada perbedaan

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa hasil uji retensi skor posttest I ke

posttest II setiap indikator pada variabel membangun empati pada kelompok

kontrol dan kelompok eksperimen. Seluruh indikator variabel membangun

empati kelompok kontrol mengalami kenaikan untuk indikator mempertimbangkan sebesar 2,95%, membayangkan 11,46%, menghubungkan 18,93% dan mengambil peran sebagai 3,01%. Pada kelompok eksperimen hanya indikator mempertimbangkan yang mengalami peningkatan skor yang signifikan

71

yaitu sebesar 2,53%. Indikator membayangkan tidak mengalami peningkatan