G0. HAMAYANGU
H. UPACARA LAMBANG, LAMBANG UPACARA
Demikianlah ungkapan secara singkat tentang pelaksanaan beberapa upacara kebaktian sebagai wujud pelaksanaan ketaatan dan pemujaan kepada Alkhalik sesuai tuntutan agama Marapu bagi masyarakat Sumba. Masyarakat Sumba yang masih menganut keagamaan ini
masih tetap melakukannya sampai saat ini, kecuali upacara-upacara besar yang mahal. Di wilayah-wilayah yang jumlah penganutnya tinggal segelintir, praktis tidak pernah lagi mengadakan sebagian besar upacara,
selain hanya hamayangu (berdoa) saja.
Akan tetapi pelaksanaan beberapa upacara atau pun bagian-bagian tertentu dari upacara keagamaan marapu ini masih dilakukan juga oleh masyarakat Sumba yang sudah tidak lagi menganut kepercayaan Marapu itu tetapi sudah menganut agama modern terutama agama Kristen.
Bagian-bagian upacara yang sebenarnya merupakan bagian dari upacara pemujaan kepada Marapu dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat Sumba yang tergolong mampu, dan dilaksanakannya dengan dalih sebagai adat-istiadat orang Sumba. Prakteknya sama dengan upacara Marapu, hanya namanya saja yang diubah untuk disesuaikan agar menjadi
“halal”. Mungkin oleh karena itulah, yaitu bahwa yang dilakukan itu hanya sebagai “lambang” saja, sehingga Pimpinan Agama Moderen
yang bersangkutan tidak melarangnya atau melakukan kritik atau protes.
Yang dimaksud dengan Lambang Upacara adalah tindakan-tindakan atau aktivitas yang dilaksanakan sekedar sebagai “lambang” atau “simbol” saja dari upacara keagamaan yang sesungguhnya. Sedangkan Upacara Lambang adalah upacara yang digelar sekedarnya saja, apakah sesuai atau tidak dengan upacara keagamaan yang sesungguhnya, tidak menjadi soal.
Beberapa contoh yang Penulis sudah pernah saksikan atau mendengar beritanya adalah hal-hal antara lain:
1. Di suatu saat dalam tahun 2002, Penulis berkunjung ke Waikabubak, ibu kota kabupaten Sumba Barat. Mendapat berita bahwa putera dari seorang tokoh penting dari Pimpinan Gereja Kristen Sumba di Waikabubak meninggal dunia, maka kami pergi melayat.
Penulis sangat terkejut karena ketika menengok jenazah terlihat dengan sangat menyolok sebuah “mamuli mas” tergantung dengan megahnya pada leher jenazah.
Bagi orang Marapu, hal itu wajar saja, namanya isi ngaru (isi mulut) yaitu sebagai pembawaan orang yang meninggal itu sehingga ter-hormat ketika memasuki Parai Marapu (=Kayangan). Tetapi kalau seorang tokoh Kristen berbuat seperti itu, lalu ?
2. Di suatu saat dalam tahun 2009 ketika Penulis berada di Waingapu, mendapat ceritera dari keluarga yang baru pulang dari Lewa, bahwa ketika jenazah seorang tokoh etnis Sabu yang cukup berada akan diturunkan ke liang lahat, langsung dipotong seekor kerbau besar.
Padahal, upacara pemakamannya diselenggarakan secara agama Kristen. Orang yang menyampaikan berita ini mungkin saja memandang hal itu sebagai hal yang aneh.
3. Juga ketika tokoh-tokoh masyarakat dan bangsawan Sumba di Kupang ada yang meninggal dan dimakamkan untuk sementara di Kupang (istilahnya
adatnya: dengi tera-dengi lau), begitu jenazah diturunkan ke liang lahat, langsung dipotong seekor atau dua ekor kerbau, disaksikan dan ditonton oleh banyak orang Kupang bukan Sumba yang mamandang hal ini sebagai “adat-istiadat.”
Dan pejabat-pejabat pemerintah yang hadir juga bertepuk tangan oleh karena dengan caca-cara itu seakan-akan pariwisata sedang dipromosikan.
4. Hal-hal yang seperti itulah, yang Penulis menganggapnya sebagai Upacara Lambang, atau pun sebagai Lambang atau Simbol dari Upacara yang sebenarnya, atau Upacara Simbolis. Selain dari itu, Penulis juga melihat banyak sekali Skripsi dari mahasiswa Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang asal Sumba yang membahas tentang praktek-praktek Agama Marapu yang masih tampak dalam kehidupan Jemaat (= orang Kristen) di beberapa tempat di pulau Sumba.
5. Hal-hal yang Penulis sampaikan dalam bagian ini telah memperkuat dugaan umum akan adanya “agama KTP.” Di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya, seseorang mengaku beragama A dan ini dicantumkan dalam KTPnya. Tetapi dalam kehidupannya sehari-hari, orang ini masih mempraktekkan cara-cara hidup agama aslinya.
Agama KTP juga dijuluki kepada mereka yang sudah menganut agama moderen, tetapi tidak pernah atau jarang melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaannya itu.
6. Sebagai penutup dari bab dan bagian ini, Penulis mengutip sebuah penggalan laporan perjalanan jurnalistik dari seorang turis asing yang mengunjungi Sumba (Barat) pada awal tahun 2008, tentang salah sebuah bentuk gado-gado pembauran sebagai akibat dari pertemuan dari kedua agama yang berbeda (Kristen dan Marapu). Laporan itu Penulis muat secara asli dalam bahasa Inggeris sebagai berikut:
A little way beyond Buku Bani Kampung I hear the sound of a gong tolling in the trees. A boy in a red T-shirt is wading through the chest-high dead nettles and he calls out to me.
“Come on, there has been a death in the village, come and see!” I don’t want to intrude, but he insists.
Dozens of people mill around in the glaring sunlight outside a traditional house. The tarnished metal gong – used to announce the death – is set up at the end of the bamboo veranda. People clear a space for me to sit and give me food and water, and a man in a black sarong with a twist of red cloth around his head explains that a young man from the village had died in hospital in Waikabubak the night before.
His body has been brought back to the village and he must lie in the family home for three days while a tomb is prepared. When it is ready the body will be interred and buffalo, horses and chickens sacrificed – to join the spirit of the dead man.
It is dark inside the house, and it smells of smoke. The body lies just beyond the doorway.
He is swaddled in folds of rich ikat cloth and a single candle burns beside his head. His face
is beautiful and calm, with the corners of his mouth turned into the beginnings of a smile. The women of the family sit around him, mourning silently.
The man whispers to me, “There is no crying. This is what we believe in Sumba: when the body is still in the house we cannot cry.”
“Why not?” I ask.
“Because his spirit is still here, and crying and noise will make him angry and dangerous. We can cry after the sacrifices when he has already gone to the Ancestors.”
The eyes of the women are hollows of stoic sadness.
“What is your religion?” I ask dreamily.
“Christian,” he says, “we are all Christians here.”
Belonging to a “modern” religion is seen by many – both inside and outside
traditional societies – as a requirement for full membership of an Indonesian nation and a modern world. But as I walk away from the village, through the trees and into the sunlight, I feel more confident of the future of Sumbanese traditions. Right now the island is in transition into the accommodating syncretism that characterizes much religion across Indonesia.
In 20 years there will probably be no true followers of the Marapu religion, but traditions will still be strong; they will still be building houses with the towering roofspace for the spirits and heirlooms.
And as in the village I had just left, they will probably still be sacrificing buffalo for the spirit of the dead when it goes to join the ancestors.
(
The Jakarta Post, Wed, 01/23/2008) Terjemahannya secara bebas:
Di jalan setapak di luar kampung Buku Bani saya mendengar bunyi gong dari celah pepohonan. Seorang anak laki-laki berbaju kaus merah menyeberangi pagar jelatang mati setinggi dadanya dan ia memanggil saya.
“Mari ! Ada kematian di kampung. Datanglah dan lihat.” Saya sebenarnya tidak mau repot-repot tetapi ia memaksa.
Belasan orang berkerumun di bawah sinar matahari di sekeliling sebuah rumah adat. Beberapa gong-gong logam berkarat – digunakan untuk mengumumkan kematian - dipasang pada pojok sebuah serambi bambu.
Orang membuka jalan untuk saya duduk dan memberikan saya makanan dan air minum, dan seorang laki-laki yang mengenakan sarung hitam dengan lilitan kain merah di kepalanya menjelaskan bahwa “seorang anak muda dari kampung itu telah meninggal di rumah sakit di Waikabubak semalam yang lalu. Jenazahnya sudah dibawa kembali ke kampung dan ia harus disemayamkan di dalam rumah keluarga selama tiga hari sementara sebuah batu kubur disiapkan baginya. Apabila ini sudah siap, maka jenazah itu akan dimasukkan ke dalamnya dan beberapa ekor kerbau, kuda dan ayam dikurbankan – agar bergabung dengan roh orang mati itu.”
Di dalam rumah itu gelap, dan berbau asap. Jenazah itu dibaringkan di depan pintu masuk. Ia dikapani dengan tumpukan kain tenunan dan sebatang lilin menyala di bagian kepalanya. Roman mukanya gagah dan
tenang, dengan sudut bibirnya yang menggambarkan akan memulai sebuah senyuman. Perempuan-perempuan keluarganya duduk menge-lilinginya, berkabung dengan diam-diam.
Laki-laki itu berbisik kepada saya:”Tidak boleh ada yang menangis. Ini sesuai dengan yang kami orang Sumba percaya, bahwa apabila jenazah masih berada di dalam rumah, kami tidak boleh menangis.”
“Kenapa tidak?” tanya saya.
“Sebab bila rohnya masih berada di sini, tangisan dan suara keributan akan membuatnya marah dan berbahaya. Kami boleh menangis sesudah kami memberikannya korban ketika ia sudah akan pergi kepada para Leluhur.”
Mata para perempuan itu sayu dan menunjukkan kesedihan mendalam.
“Apa agama kalian?” tanya saya ingin tahu.
“Kristen.” katanya. “kami semua di sini orang Kristen.”
Menjadi milik dari sebuah agama moderen dilihat oleh banyak orang – baik dari dalam mau pun dari luar masyarakat tradisional – sebagai kebutuhan untuk menjadi anggota penuh dari Negara Indonesia dan dunia moderen. Akan tetapi begitu saya berjalan meninggalkan kampung itu melalui pepohonan dan di bawah sinar matahari, saya lebih meyakini masa depan dari adat-istiadat itu. Saat ini pulau itu (=Sumba) berada di dalam transisi kepada persiapan penyatuan aliran agama di seluruh Indonesia.
Dalam 20 tahun ke depan, mungkin tidak ada lagi penganut murni agama Marapu, tetapi tradisi (adat istiadat) akan tetap kuat; mereka akan tetap membangun rumah-rumahnya dengan menara untuk menjadi tempat bagi roh-roh dan pusakanya.
Dan seperti di kampung yang baru saja saya tinggalkan, mungkin mereka akan tetap mengorbankan kerbau untuk roh dari orang yang mati itu ketika ia akan bergabung dengan para leluhurnya.
(The Jakarta Post, Wed, 01/23/2008)