2.4 Pendekatan Kurva AD – AS
2.4.3 Upah Minimum dan Inflasi
Penentuan upah minimum adalah salah satu bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar tenaga kerja mengingat pasar tersebut cenderung mengarah dari pasar oligopsonis ke pasar monopsonis. Tujuan kebijakan ini adalah sebagai jejaring pengaman (safety net) agar tingkat upah tidak merosot akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar tenaga kerja. Menilik dari sisi perusahaan, upah minimum diharapkan akan meningkatkan produktivitas pekerja, sedangkan dari sisi pekerja sendiri, kebijakan tersebut idealnya dapat meningkatkan daya beli pekerja sehingga dapat meningkatkan taraf hidup pekerja dan keluarganya, sementara dari sisi pemerintah, instrumen tersebut merupakan salah satu program tidak langsung dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan melalui redistribusi pendapatan.
Bila terjadi kenaikan upah minimum, perusahaan sesungguhnya memiliki tiga alternatif untuk meresponnya, yaitu mengurangi jumlah pekerja, mengurangi keuntungan perusahaan atau menaikkan harga produk. Umumnya, pendekatan teori ekonomi meramalkan bahwa jika upah minimum mengalami peningkatan, perusahaan tidak akan mengurangi keuntungan. Hal ini karena perusahaan yang memberikan standar gaji yang rendah biasanya adalah perusahaan yang terlalu kecil untuk dapat menyerap biaya ekstra yang ditimbulkan oleh kenaikan upah minimum. Pada pasar persaingan sempurna dengan setiap pelaku ekonomi diasumsikan sebagai price taker, teori ekonomi memprediksi bahwa perusahaan akan mengurangi pekerjanya dalam merespon kenaikan upah minimum. Selain itu, diprediksi pula oleh teori ekonomi jika terjadi lonjakan biaya pada tingkat industri yang cukup luas, maka kenaikan upah minimum tersebut akan direspon dengan menaikkan harga (Lemos, 2004b).
Terkait dengan bagaimana upah minimum dapat memengaruhi harga dan inflasi, Sellekaerts (1981, dalam Lemos, 2004b) menjelaskan bagaimana mekanisme transmisi tersebut. Pertama, adanya dampak langsung dari perubahan upah minimum. Kedua, ada dampak spillover tak langsung dari penetapan upah
minimum yang baru. Ketiga, perusahaan menaikkan harga sebagai responnya atas biaya pekerja yang lebih tinggi. Keempat, perusahaan melakukan penyesuaian level kegiatan produksi dan melakukan penilaian atas besarnya input dan output terkait dengan minimisasi biaya dengan kendala ekspektasi permintaan. Kelima, menghasilkan kombinasi jumlah tenaga kerja dan tingkat upah yang baru untuk memproduksi keseimbangan baru pada tingkat pendapatan, permintaan agregat dan setelah beberapa waktu keseimbangan baru pada tingkat produksi. Keenam, inflasi dan tingkat pengangguran menjadi konsisten dengan keseimbangan baru yang mungkin pada waktunya kembali akan memengaruhi upah dan harga.
Merujuk pada transmisi dari Sellekaerts (1981, dalam Lemos, 2004b), respon dari perusahaan ditekankan pada bagaimana kemudian upah minimum memengaruhi pasar tenaga kerja sehingga menghasilkan tingkat upah dan tingkat penyerapan tenaga kerja pada level keseimbangan yang baru. Hasil keseimbangan baru tersebut kemudian akan memengaruhi penawaran dan permintaan agregat, yang selanjutnya akan memengaruhi tingkat output dan harga. Berdasarkan penekanan pada keseimbangan di pasar tenaga kerja tersebut, Lemos (2004a) memberikan beberapa alternatif jalur yang memungkinkan penetapan upah minimum dapat memengaruhi harga dari pendekatan teori ekonomi, yaitu (1) melalui permintaan atas tenaga kerja sehingga mendorong biaya perusahaan dan harga lebih tinggi, (2) melalui penawaran tenaga kerja, dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja sehingga mendorong harga menjadi lebih rendah; atau dengan meningkatkan partisipasi angkatan kerja yang kemudian akan mendorong upah atau harga menjadi lebih rendah, (3) melalui penawaran agregat, sehingga terjadi penurunan jumlah tenaga kerja dan output, kemudian mendorong upah dan harga menjadi lebih tinggi, (4) melalui permintaan agregat, dengan peningkatan pengeluaran agregat sehingga mendorong harga menjadi lebih tinggi; atau dengan penurunan permintaan untuk produk-produk pada perusahaan dengan tipe labour-intensive yang menerapkan upah minimum, sehingga mendorong harga menjadi turun.
Pada kasus negara Indonesia, adanya sektor pekerjaan formal dan informal menjadikan dampak upah minimum terhadap pasar tenaga kerja menarik untuk diteliti. Di samping itu, pada sektor formal upah minimum tersebut bisa dilihat
pada sektor swasta dan sektor pemerintah. Besarnya upah minimum pada sektor swasta terbagi menjadi upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK), sementara pada sektor formal, besarnya upah minimum adalah besarnya gaji pegawai pemerintah (PNS/TNI/POLRI) dengan golongan terendah. Dalam 15 tahun terakhir, penetapan upah minimum pada sektor swasta dilakukan secara kontinu, setiap setahun sekali melalui proses negosiasi antara serikat pekerja dan asosiasi perusahan yang difasilitasi oleh pemerintah. Berbeda dengan sektor swasta, pada sektor pemerintah, penyesuaian gaji PNS/TNI/POLRI secara kontinu baru dalam beberapa tahun terakhir dengan tujuan untuk menjaga agar daya beli dari pegawai pemerintah tersebut tidak tergerus oleh inflasi dan yang terpenting adalah untuk meningkatkan produktivitas dari pegawai.
Terkait dengan fenomena upah minimum tersebut, khususnya pada sektor swasta, penelitian Camola dan de Melo (2010) mengenai dampak desentralisasi penetapan upah minimum terhadap penyerapan tenaga kerja menyatakan (1) pada sektor formal, upah minimum memberi pengaruh negatif atas penyerapan tenaga kerja di sektor formal, khususnya pada perusahaan domestik, tetapi tidak memengaruhi tingkat penyerapan tenaga kerja pada perusahaan multi nasional yang beroperasi di Indonesia, (2) pada sektor informal, upah minimum memberi efek positif karena pengurangan tenaga kerja di sektor formal menambah tenaga kerja di sektor informal. Berdasarkan hasil penelitian Camola dan de Melo (2010) dan beberapa jalur yang memungkinkan penetapan upah minimum dapat memengaruhi harga dari Lemos (2004a), maka untuk kasus Indonesia, diduga upah minimum pada sektor swasta akan memengaruhi harga melalui permintaan tenaga kerja sehingga mendorong biaya perusahaan dan harga lebih tinggi. Ilustrasi dari kondisi ini dapat dilihat pada Gambar 6 untuk panel (a), yaitu ketika terjadi kenaikan upah minimum di sektor swasta, maka akan mendorong kenaikan upah secara keseluruhan sehingga upah nominal menjadi naik, demikian pula dengan upah riil. Kenaikan upah nominal tersebut kemudian akan menyebabkan kenaikan harga, dan selanjutnya karena upah riil juga ikut naik, maka perusahaan meresponnya dengan mengurangi permintaan terhadap tenaga kerjanya sehingga secara agregat terjadi pengurangan tenaga kerja. Akibat dari pengurangan tenaga kerja tersebut akan terjadi penurunan output yang dibarengi oleh kenaikan harga.
Berbeda dengan sektor swasta, mekanisme transmisi penyesuaian upah minimum terhadap harga pada sektor pemerintah tidak melalui analisis pasar tenaga kerja seperti diilustrasikan oleh Gambar 6. Kenaikan upah minimum yang berupa kenaikan gaji PNS/TNI/POLRI pada golongan terendah dengan masa kerja nol tahun selalu diikuti kenaikan gaji pegawai pemerintah pada golongan berikutnya sehingga pada akhirnya akan meningkatkan belanja pemerintah secara keseluruhan. Akibat kenaikan total belanja pemerintah tersebut, output akan ikut meningkat, namun kenaikan output tersebut akan diikuti dengan kenaikan harga alias akan menyebabkan inflasi (Gambar 5. panel (a)). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka mekanisme transmisi kenaikan upah minimum terhadap harga dan inflasi pada sektor pemerintah cenderung mengikuti jalur permintaan agregat sebagaimana dinyatakan oleh Lemos (2004a).