SASARAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH
RENCANA KERJA DAN PENDANAAN
6. Urusan Sosial
Rencana program dan kegiatan tahun 2021 pada urusan sosial terdiri dari 6 program 48 kegiatan. Rencana program dan kegiatan diusulkan oleh perangkat daerah Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyaratat. Program pembangunan berdasarkan rencana kerja pada urusan Sosial sebagai berikut;
a. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya.
Rencana Program ini dilaksanakan untuk pencapaian indikator Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJMD 2016-2021. Pada tahun 2021 target indikator program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya yaitu Persentase kenaikan zakat di lembaga ZIS sebesar 40%, Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar sebesar 60%, Cakupan Raskin terhadap Rumah Tangga Miskin sebesar 79,42%.
Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program tersebut akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Verifikasi dan Validasi Data Terpadu Kemiskinan, Pendampingan dan Pembinaan KUBE, Pemutakhiran Data Base PMKS, Fasilitasi Program Keluarga Harapan (PKH), Pendampingan dan Operasional Bantuan Pangan Non Tunai, dan Pemberdayaan lanjut usia non potensial.
b. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial
Pada tahun 2021 target indikator program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial yaitu Persentase PMKS yang terlayani jaminan sosial sebesar 95%, Persentase PMKS yang mendapatkan bansos sebesar 63,20%, Persentase panti yang menyediakan sarpras kesejahteraan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar sebesar 61%, penyandang cacat fisik dan mental serta lanjut usia tidak potensial yang menerima jaminan sosial sebesar 30%, Persentase PMKS yang menerima program pemberdayaan melalui KUBE atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya sebesar 60%. Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program tersebut akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Pelayanan dan perlindungan sosial, hukum bagi korban eksploitasi, perdagangan perempuan dan anak, Pelayanan psikososial bagi PMKS di trauma centre termasuk bagi korban bencana, Operasional Logistik Bencana Alam, Pemulangan orang terlantar dan kehabisan bekal, Bimbingan Sosial & Bantuan UEP bagi PMKS, Fasilitasi Pengiriman dan Penjemputan ke balai
rehabilitasi sosial/ RSJ dan biaya perawatan di RSU/ RSJ, Asistensi Penanganan dan Pemberdayaan PMKS bagi paca berat, Fasilitasi Alat bantu bagi Penyandang Disabilitas, Operasional Rumah Singgah, Pembangunan Rumah Singgah serta Pemeliharaan Taman Makam Pahlawan.
c. Program Pembinaan Anak Terlantar
Pada tahun 2021 target indikator program pembinaan anak terlantar yaitu Persentase anak terlantar, balita terlantar, ABH, anak dengan kecacatan yang terpenuhi kebutuhan dasarnya sebesar 74,40%. Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program ini akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Penanganan anak remaja terlantar/ABH dan Pembinaan dan Pelayanan Adopsi Anak.
d. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma
Pada tahun 2021 target indikator program pembinaan para penyandang cacat dan trauma yaitu Persentase penyandang cacat dan trauma yang kebutuhan dasarnya terpenuhi sebesar 65%. Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program ini akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Stimulan biaya transportasi bagi Penderita Penyakit Kronis dan Fasilitasi kegiatan Penyandang Disabilitas.
e. Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial (Eks Narapidana, PSK, Narkoba dan Penyakit Sosial Lainnya)
Pada tahun 2021 target indikator program pembinaan eks penyandang penyakit sosial (eks narapidana, PSK, narkoba dan penyakit sosial lainnya) yaitu Persentase rata- rata kenaikan PMKS yang memiliki kemandirian ekonomi sebesar 2,50%. Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program ini akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Pendidikan dan pelatihan ketrampilan berusaha bagi eks penyandang penyakit sosial serta Penertiban dan Pembinaan Tuna Sosial
f. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial
Pada tahun 2021 target indikator program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial yaitu Persentase lembaga sosial yang berbadan hukum sebesar 60%. Beberapa upaya untuk pencapaian indikator program ini akan diimplementasikan dalam beberapa rencana kegiatan yaitu Operasional TKSK, Bimbingan Sosial dan Pemberian Santunan Bagi Anggota Veteran dan atau Keluarganya, Pembinaan dan bulan bhakti Karang Taruna, Fasilitasi PSKS (PSM/TKSM/IKPW/TAGANA, dll), Pengembangan Pengelolaan Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LK2S) dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).
5.2. Urusan Wajib Non Pelayanan Dasar 1. Urusan Tenaga Kerja
Rencana program dan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:
a. Program pengembangan hubungan industrial dan peningkatan jaminan sosial tenaga kerja
Program ini diarahkan pada kegiatan peningkatan lembaga ketenagakerjaan LKS bipartit, tripartit dan serikat pekerja melalui sidang badan pekerja sebanyak 5 kali; fasilitasi penyelesaian perselisihan PHI/PHK; fasilitasi kegiatan dewan pengupahan kabupaten berupa pemantauan pelaksanaan UMK pada 50 perusahaan serta sosialisasi penerapan UMK, fasilitasi kesejahteraan pekerja dan jaminan sosial berupa sosialisasi peraturan perusahaan, jaminan sosial kesehatan ketenagakerjaan serta perjanjian kerja bagi 50 perusahaan.
Program ini diarahkan pada pencapaian indikator persentase kenaikan kepesertaan pekerja dalam jaminan kesehatan sebesar 80%; persentase sengketa pengusaha pekerja per tahun yang diselesaikan sebesar 100%; persentase perusahaan yang menerapkan syarat kerja non diskrinimatif sebesar 100%; angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun sebanyak 0.
b. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja
Program ini diarahkan pada kegiatan pengadaan peralatan pendidikan dan ketrampilan bagi pencari kerja yaitu berupa pengadaan peralatan IT, pariwisata, menjahit dan agribisnis; pendidikan dan pelatihan ketrampilan berbasis kompetensi bagi 1120 orang pencari kerja serta 320 peserta yang lulus uji kompetensi; rehabilitasi 3 unit gedung workshop BLK dan penataan lingkungan BLK; workshop pelatihan berbasis kompetensi bagi 50 instruktur dan tenaga kepelatihan, kerjasama lembaga pelatihan dengan 15 unit dunia industri baik di dalam maupun luar Wonosobo; pembinaan bagi 25 lembaga pelatihan kerja swasta (LPKS), fasilitasi uji kopetensi bagi 25 instruktur LPKS, pembinaan peningkatan mutu bagi 25 LPKS; pengembangan pelayanan informasi pasar kerja berupa sosialisasi peluang mekanisme dan prosedur kerja bagi 480 peserta, penyuluhan dan bimbingan jabatan untuk 200 pencari kerja, job cansaving/pemasaran tenaga kerja ke 15 perusahaan; pelatihan ketrampilan dan kewirausahaan bagi 60 warga miskin dan 20 disabilitasi/pekerja rentan non skill; penyiapan tenaga kerja siap pakai berupa pelatihan soft skill bagi 100 orang dan kerjasama penempatan dengan 2 perusahaan; pengembangan kompetensi wirausaha melalui inkubasi bisnis bagi 64 orang; pengembangan pelayanan penempatan dan
perlindungan tenaga kerja berupa sosialisasi traficking bagi 636 orang di 16 lokasi, pembinaan P3Mi bagi 40 peserta, pembinaan BKK bagi 70 peserta; skill competition berupa lomba ketrampilan web programming, prosesing hasil pertanian, tata busana, otomotif, design grafis, barista, fotografi, conten creator, tata rias, pariwisata; penciptaan 120 wirausaha baru melalui pemberdayaan tenaga kerja mandiri.
Program ini diarahkan pada pencapaian indikator persentase angkatan kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi sebesar 60%; persentase angkatan kerja yang mendapat pelatihan berbasis masyarakat sebesar 75%; persentase peserta pelatihan yang mendapat sertifikat kompetensi sebesar 15%; persentase instruktur bersertifikat kompetensi sebesar 2; persentase lembaga kursus dan pelatihan bersertifikat nasional sebesar 4%; persentase pencari kerja terdaftar yang ditempatkan sebesar 55%; peningkatan jumlah kerjasama penempatan tenaga kerja dengan perusahaan sebesar 30%; persentase warga miskin yang mendapatkan pelatihan ketrampilan sebesar 30%.