LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Annisa Astari
Tempat/ Tanggal Lahir : Medan, 26 Januari 1994
Agama : Islam
Alamat : Jl. Stm Gang Rahmat No. 20 Medan
Riwayat Pendidikan :
1. Taman Kanak-Kanak Swasta Iftah Rizkiansyah Medan (1997-1999) 2. Sekolah Dasar Swasta Kemala Bhayangkari 1 Medan (1999-2005) 3. Sekolah Menengah Pertama Swasta Harapan 2 Medan (2005-2008) 4. Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Medan (2008-2011)
Riwayat Pelatihan :
1. TBM CAMP 2012 2. LKMM Lokal 2012
Riwayat Organisasi :
1. PMR 001 SMAN 2 Medan 2010 2. OSIS SMAN 2 Medan 2010
3. BKM Alfarabi SMAN 2 Medan 2010
4. Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia Wilayah 1 2013 5. Tim Bantuan Medis FK USU PEMA FK USU 2013
LAMPIRAN 3
DATA INDUK
No Umur Marital Status Tahun Kejadian
Gravidarum Diagnosis Penyebab Kasus Penanganan 1 16 tahun Menikah 2013 G1P1A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan MgSO4 2 29 tahun Menikah 2011 G4P3A1 PE berat/ eklampsia Disfungsi kardiovaskular MgSO4 3 35 tahun Menikah 2012 G3P0A3 PE berat/ eklampsia Disfungsi neurologi ICU, MgSO4 4 31 tahun Menikah 2013 G2P2A0 PE berat/ eklampsia disfunsi kardiovaskular,
Disfungsi hematologi
ICU, MgSO4
5 20 tahun Menikah 2013 G1P1A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan MgSO4 6 21 tahun Menikah 2013 G1P1A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi kardiovaskular Transfusi PRC,
MgSO4 7 26 tahun Menikah 2012 G3P2A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi hematologi MgSO4 8 30 tahun Menikah 2013 G3P2A1 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan ICU, MgSO4
9 39 tahun Menikah 2013 G6P2A3 PE berat/ eklampsia Disfungsi kardiovaskular ICU, MgSO4 10 27 tahun Menikah 2013 G1P0A1 Sepsis Disfungsi pernafasan,
Disfungsi renal
ICU, Antibiotik IV 11 38 tahun Menikah 2013 G2P2A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan MgSO4
14 39 tahun Menikah 2012 G3P3A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan MgSO4 15 43 tahun Menikah 2013 G4P4A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan MgSO4
16 22 tahun Menikah 2013 G1P1A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan ICU,MgSO4 17 22 tahun Menikah 2012 G2P2A0 PPH disfunsi kardiovaskular,
Disfungsi hematologi
Laparotomi, Transfusi PRC 10 Bag, Oksitosin 18 23 tahun Menikah 2013 G1P1A0 PE berat/ eklampsia Disfungsi pernafasan ICU, MgSO4
19 38 tahun Menikah 2011 G5P4A1 PPH Disfungsi renal Transfusi PRC 5 Bag, Oksitosin
20 35 tahun Menikah 2012 G3P3A0 PPH Disfungsi
pernafasan,Disfungsi uterus
ICU,Histerekomi, Transfusi PRC, Oksitosin 21 26 tahun Menikah 2012 G2P1A1 PPH Disfungsi pernafasan ICU, Oksitosin 22 30 tahun Menikah 2011 G3P4A0 PPH Disfungsi kardiovaskular,
Disfungsi pernafasan
Transfusi PRC, Oksitosin 23 45 tahun Menikah 2012 G8P8A0 PPH Disfungsi uterus Histerektomi,
LAMPIRAN 5
OUTPUT DATA HASIL PENELITIAN
Frekuensi Data Penelitian
Diagnosis
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
PE berat/ Eklampsia 16 69.6 69.6 69.6
PPH 6 26.1 26.1 95.7
Sepsis 1 4.3 4.3 100.0
Total 23 100.0 100.0
kelompok umur
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
< 20 1 4.3 4.3 4.3
20-35 16 69.6 69.6 73.9
> 35 6 26.1 26.1 100.0
Total 23 100.0 100.0
Paritas
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
0 2 8.7 8.7 8.7
1-2 13 56.5 56.5 65.2
3-5 7 30.4 30.4 95.7
≥ 6 1 4.3 4.3 100.0
Penyebab Near Miss
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
disfungsi hematologi 1 4.3 4.3 4.3
disfungsi kardiovaskular 3 13.0 13.0 17.4
disfungsi neurologi 1 4.3 4.3 21.7
disfungsi organ multiple 5 21.7 21.7 43.5
disfungsi pernafasan 11 47.8 47.8 91.3
disfungsi renal 1 4.3 4.3 95.7
disfungsi uterus 1 4.3 4.3 100.0
Total 23 100.0 100.0
Tahun Kasus
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
2011 3 13.0 13.0 13.0
2012 8 34.8 34.8 47.8
2013 12 52.2 52.2 100.0
Total 23 100.0 100.0
Penanganan Near MIss
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
Antibiotik IV 1 4.3 4.3 4.3
Data tidak lengkap 1 4.3 4.3 8.7
Magnesium sulfat 16 69.6 69.6 78.3
Oksitosin 5 21.7 21.7 100.0
Critical Intervention
Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
ICU 8 34.8 34.8 34.8
ICU, laparotomi 2 8.7 8.7 43.5
Laparotomi, transfusi 2 8.7 8.7 52.2
Tidak mendapatkan 8 34.8 34.8 87.0
Transfusi 3 13.0 13.0 100.0
DAFTAR PUSTAKA
Barton, John R., Sibai, Baha M., 2012. Severe Sepsis and Septic Shock in
pregnancy. Journal Obstetrics and Gynecology 120(3):689-703. Available from:http://www.sigo.it/pdf_esterni/severe_sepsis_septic_shock2012_29_ 08.pdf.[Accesed 15 Mei 2014].
Benson, Ralph C. & Pernoll, Martin L., 1994. Handbook of Obstetrics and Gynecology. 9th Ed. The Mc Graw-Hill Companies,Inc. Terjemahan Wijaya, Susiani, 2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Edisi Ke-9.Cetakan I. McGraw-hill dan ECG.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2012. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2012. Available from :
http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_KES_PROVINSI_2012/02_ Profil_Kes_Prov.SumateraUtara_2012.pdf. [Accesed 17 Mei 2014]. Gadefaw, Molla.,Gebrehana, Habtamu.,Gizachew, Ayu.,Taddess, Fentahun,2014.
Assessment of Maternal Near Miss at Debre Markos Refferal Hospital, Northwest Ethiopia: Five years Experience. Journal of Epidemiology 2014 (4): 199-207
Galvao, LP,.Alvim-Pereira, Fabiano,.Menezes,caio,.Menezes, Filipe,.Andre, Kaique,. Farias, Ruy,.Queiroz, Ricardo.2013. The Prevalence of Several Maternal Morbidity and Near Miss and Associated Factors in Sergipe, Northeast Brazil.BMC Pregnancy and Chilbird,2014
Gaufberg, S.V., 2012. Abortion Complication. 22 october. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/795001-overview#a0199.[Accesed 15 Mei 2014].
Goldman, M.B., Troisi, R. & Rexrode, K.M., 2013. women and health. 2nd Ed. Elsevier Inc.
Faculty of Gadjah Mada University. Available
from:http//obgin- ugm.com/case-fatality-rate-severe-preeclampsia-dr-sardjito-hospital-2008-2012/.[Accesed 15 Mei 2014]
Jabir, Maysoon,.Abdul-Salam, Imad.,M Suheil, Dhikra., Al Hilli, Waffa., Abu-Hassan, Sana,. Al-Zuhein, Amal,. Al-Ba'aj, Rasha,.Dekan, Abeer,.
Tuncalp,Ozge,.Souza, Joan Paulo,.2012.Maternal near miss and quality of maternal health care in Baghdad, Iraq.2013 Jan 16. Available from: http://www.biomedcentral.com/1471-2393/13/11. [ Accesed 25 November 2014].
Luexay, Phadouangdeth,.Malinee,Laopaiboon,.Pisake, Lumbiganon,.Marie- Helene, Bouvier- Colle,.2014. Maternal near-miss and mortality in Sayaboury Province, Lao PDR. 2014 March 11.BMC public health 2014. Mangun, M., 2008. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan ibu nyaris mati dan kematian maternal (near miss maternal morbidity and maternal mortality) di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Available from:
http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDet ail&act=view&typ=html&buku_id=37972&obyek_id=4.[ Accesed 2 Mei 2014]
Mousa, H., Blum, J., Abou., Shakur H., Alfirevic Z., 2014. Treatment for Primary Postpartum Haemorrhage. Cochrane Database Syst Rev. 2014 Feb
13;2:CD003249. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24523225. [Accesed 12 Mei 2014]. Nahum, G.G., 2012. Uterine Rupture in Pregnancy. 31 july. Available from:
http://reference.medscape.com/article/275854-overview.[Accesed 15 Mei 2014]
POGI, 1991. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian 1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Prawirohardjo, s., 2010. Ilmu Kebidanan. 4th ed. Jakarta: PT Bina Pustaka. Pritchard, J.A., MacDonald, P.C.,Gant, N.F., 1984.Williams Obstetrics. 17th Ed.
Appleton Century Crofts. Terjemahan Hariadi,R., 1991. Obstetri William. Surabaya: Airlangga University Press.
Roopa, P S., Verma, Shailja., Rai, Lavanya., Kumar, Pratap., Pai, Murlidhar V., Shetty, Jyothi, 2013. Near Miss Obstetric Events and Maternal Deaths in a Tertiary Care Hospital: An Audit . Journal of Pregnancy 2013(5)
Sarimin, Yeanne S., 2014. Pendekatan Near Miss Dalam Perbaikan Kualitas Pelayanan Kesehatan Maternal di Sister Hospital Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Smith, J.R., 2012. Post Partum Hemorrhage. 20 december. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/275038-overview#a0102.[Accesed 15 Mei 2014]
Statistics Indonesia (Badan Pusat Statistik—BPS), National Population and Family Planning Board (BKKBN), and Kementerian Kesehatan
(Kemenkes—MOH), and ICF International, 2013. Indonesia Demographic and Health Survey 2012. Jakarta, Indonesia: BPS, BKKBN, Kemenkes, and ICF International.
Taber, B.-Z., 1984. Manual of Gynecologic and Obstetric Emergencies. 2nd Ed. W.B. Saunders Company. Terjemahan Supriyadi,Teddy., Gunawan, Johanes., 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. 2nd Ed.Cetakan I. EGC. Jakarta.
Walley, J., Simkin, P. & keppler, A., 2010. Pregnancy,childbirth,and the newborn: The Complete Guide. 4th Ed. Meadowbrook Press. New York WHO, 2005. Global Burden of Disease for the year 2001 by World Bank Region,
for Use in Disease Control Priorities in Developing Countries.
WHO, 2012. Evaluating the quality of care for severe pregnancy complication. the WHO near-miss approach for maternal health.
WHO, 2012. Trends in maternal mortaliity:1990-2010. Ganeva.
WHO, 2012. WHO recommendations for the prevention and treatment of postpartum haemorrhage.
WHO, 2012. Maternal Mortality. Available from:
http//www.who.int/mediacentre/factsheets/f348/en/index.html.[accesed 3 Maret 2014]
Yiadom, M.Y.A.B., 2014. Postpartum Hemorrhage in Emergency Medicine Clinical Presentation. 3 march. Available from:
Wanita hamil
Mengalami komplikasi dalam
kehamilan yang mengancam jiwa
Perdarahan pasca salin
Preeklampsia berat
Eklampsia
Sepsis atau infeksi sistemik berat
Ruptur uterus
Komplikasi berat dari abortus
Selamat
(maternal near miss)
Meninggal BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kasus maternal near miss di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013. Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
3.2. Definisi Operasional
Tabel .3.1. Tabel Definisi Operasional Penelitian
Variabel Definisi Operasional Cara
Ukur
Alat
Ukur Hasil Ukur Skala
Mater-nal near miss
Adalah wanita yang selamat dari
komplikasi kehamilan yang mengancam jiwa selama kehamilan, bersalin, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan. Analisis Data Rekam Medis 1.Perdarahan pasca salin 2. Preeklampsia berat 3. Eklampsia 4. Sepsis atau infeksi sistemik berat
5. Ruptur uterus 6. Komplikasi abortus Nominal Penye-bab kasus mater-nal near miss Adalah sebagai berikut: 1. Disfungsi kardiovaskular - Shock
- Cardiac arrest
(tidak ada denyut nadi/denyut jantung dan kehilangan kesadaran) - Menggunakan obat vasoaktif secara rutin - Cardio pulmonary resuscitation - Hipoperfusi berat (laktat > 5 mmol/l atau > 45 mg/dl) - Asidosis berat
(pH < 7.1)
2. Disfungsi pernafasan - Akut sianosis - Gasping
- Bradipnea (Respiratory Rate < 6 kali per menit) - Intubasi dan
ventilasi yang tidak terkait oleh anastesi - Hipoksemia
berat (SaO2 < 90% dalam ≥ 60 menit atau PaO2/FiO2 < 200)
3. Disfungsi renal - Oliguria yang
tidak responsif terhadap cairan atau diuretik - Dialisis untuk
gagal ginjal akut
- Severe acute azotemia
(kreatinin ≥ 300 µmol/ml atau ≥ 3.5 mg/dl) 4. Disfungsi hematologi/ koagulasi - Kegagalan pembekuan - Transfusi darah
atau sel darah merah (≥ 5 unit)
- Severe acute hyperbilirubi-nemia (bilirubin > 100µmol/l atau 6.0 mg/dl) 6. Disfungsi neurologi - Kehilangan kesadaran dalam waktu yang lama (≥ 12 jam)/koma (termasuk koma metabolik) - Stroke - Status epileptikus - Paralisis total
7. Disfungsi uterus - Perdarahan uterus atau infeksi akibat histerektomi Penang -anan Kasus mater-nal near miss Adalah penanganan yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang disesuaikan dengan
The WHO near miss approach for maternal health. Analisis Data Rekam Medis 1. Laparotomi 2. Transfusi darah 3. Perawatan di ICU
4. Intervensi radiologi 5. Tidak mendapatkan penanganan kritis 2.
Nominal
Paritas
Adalah jumlah kelahiran hidup yang pernah dilahirkan oleh pasien Analisis Data Rekam Medis 1. 0 2. 1-2 3. 3-5 4.≥ 6
Umur Adalah lamanya hidup pasien yang termasuk dalam kasus MNM yang dihitung dari tanggal lahir sampai masuk ke rumah sakit dan tercatat dalam rekam medis
AAnalisis Data
Rekam Medis
1. < 20 2. 20-35 3. > 35
Interval Standar penan-ganan mini-mal kasus mater-nal near miss Adalah standar penanganan
berdasarkan the WHO near-miss approach for Maternal health.
1. Perdarahan pasca salin harus
mendapatkan oksitosin
2. Preeklampsia dan eklampsia
mendapatkan harus mendapatkan MgSO4
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain
penelitian retrospectivecross sectional. Dengan satu kali pengamatan didapatkan
data gambaran kasus maternal near miss di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun
2011-2013.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada bulan
Oktober - November tahun 2014. Rumah sakit ini dipilih karena merupakan
rumah sakit tipe A dan menjadi rumah sakit rujukan utama untuk wilayah
Sumatera Utara dan sekitarnya.
4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah wanita hamil yang mengalami
perdarahan post partum, preeklampsia, eklampsia, sepsis atau infeksi sistemik
berat, ruptur uterus, dan komplikasi berat dari abortus, dengan satu atau lebih
gejala disfungsi organ di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013 yang
sesuai dengan kriteria MNM yang dikeluarkan oleh WHO (2012).
4.3.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling, dimana seluruh
populasi digunakan sebagai sampel penelitian.
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Semua data yang telah dikumpulkan kemudian dicocokkan dengan
kriteria maternal near miss kemudian data rekam medik yang memenuhi kriteria
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Pengambilan data penelitian ini dilakukan di instalasi rekam medis Rumah
Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. RSUP Haji Adam Malik Medan
merupakan rumah sakit tipe A sesuai dengan SK Menkes RI No.
335/Menkes/SK/VIII/1990. RSUP Haji Adam Malik Medan menjadi sentra
rujukan utama untuk wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya. Sejak tanggal 6
September 1991 RSUP Haji Adam Malik ditetapkan sebagai Rumah Sakit
Pendidikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
502/Menkes/IX/1991. RSUP Haji Adam Malik Medan terletak di Jalan Bunga
Lau Nomer 17 Medan, Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan Tuntungan,
Medan, Sumatera Utara.
5.1.2. Deskripsi Data Penelitian
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang
berasal dari rekam medis pasien yang mengalami perdarahan pasca salin,
preeklampsia, eklampsia, sepsis atau infeksi sistemik, ruptur uterus dan abortus di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dari tahun 2011-2013.
Jumlah data keseluruhan adalah 301 data rekam medis dan data rekam
medis yang berhasil diteliti adalah 200 data rekam medis, ini dikarenakan banyak
rekam medis yang tidak ditemukan di instalasi rekam medis.
5.1.2.1. Karakteristik Umum Kasus Maternal Near Miss
Tabel 5.1. Karakteristik Kasus Maternal Near Miss
Karakteristik n %
Umur < 20 20 – 35 > 35 1 16 6 4,3 69,6 26,1 Paritas 0 1 - 2 3 - 5 ≥ 6
2 13 7 1 8,7 56,5 30,4 4,3
Total 23 100
Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa kasus Maternal Near
Miss paling banyak terjadi pada umur 20 - 35 tahun yaitu berjumlah 16
orang sedangkan yang paling sedikit adalah umur di bawah 20 tahun yaitu
berjumlah 1 orang. Kemudian di tabel 5.1 juga dapat diketahui bahwa kasus
Maternal Near Miss paling banyak terjadi pada jumlah paritas 1 – 2 yaitu berjumlah 13 orang.
5.1.2.2. Deskripsi Angka Kasus Maternal Near Miss
Distribusi data penelitian berdasarkan jumlah kasus Maternal Near Miss
pada tahun 2011-2013 dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 5.2. Frekuensi Kasus Maternal Near Miss
Diagnosis n %
Perdarahan pasca salin 6 26,1
PE berat/ Eklampsia 16 69,6
Sepsis atau infeksi sistemik berat 1 4,3
Ruptur uterus 0 0
Komplikasi abortus 0 0
Berdasarkan Tabel 5.2. dapat diketahui bahwa jumlah kasus
maternal near miss berjumlah 23 orang dengan diagnosis perdarahan pasca salin sebanyak 6 orang (26,1%), dengan preeklampsia berat atau
eklampsia sebanyak 16 orang (69,6%), dengan sepsis atau infeksi sistemik
berat sebanyak 1 orang (4,3%) dan untuk ruptur uterus dan komplikasi dari
abortus tidak di jumpai kasus maternal nearmiss.
5.1.2.3. Deskripsi Penyebab kasus Maternal Near Miss
Distribusi data penelitian yang menunjukkan penyebab kasus
maternal near miss dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 5.3. Penyebab Kasus Maternal Near miss Berdasarkan Disfungsi Organ
Berdasarkan tabel 5.3. didapati bahwa penyebab paling banyak dari
kasus maternal near miss adalah akibat disfungsi pernafasan sebanyak 11
orang (47,8%), sedangkan penyebab paling sedikit dari kasus maternal
near miss adalah akibat disfungsi hematologi sebanyak 1 orang (4,3%), disfungsi neurologi sebanyak 1 orang (4,3%), disfungsi renal sebanyak 1
orang (4,3%) dan disfungsi uterus sebanyak 1 orang (4,3%).
5.1.2.4. Deskripsi Kasus Maternal Near Miss Berdasarkan Tahun Kejadian
Penyebab n %
Disfungsi hematologi 1 4,3
Disfungsi kardiovaskular 3 13
Disfungsi neurologi 1 4,3
Disfungsi organ multipel 5 21,7
Disfungsi pernafasan 11 47,8
Disfungsi renal 1 4,3
Disfungsi uterus 1 4,3
Distribusi data penelitian yang menunjukan kasus maternal near
miss berdasarkan tahun kejadian pada tahun 2011-2013 dapat dilihat pada
tabel berikut
Tabel 5.4. Jumlah Kasus Maternal Near Miss Berdasarkan Tahun Kejadian
Tahun n %
2011 3 13
2012 8 34,8
2013 12 52,2
Total 23 100
Berdasarkan tabel 5.4. didapati bahwa kasus maternal near miss
dari tahun 2011-2013 terjadi peningkatan. Distribusi terbanyak pada tahun
2013 yaitu sebanyak 12 orang (52,2%) kemudian pada tahun 2012
sebanyak 8 orang (34,8%) dan pada tahun 2011 sebanyak 3 orang (13%).
Gambar. 5.4. Kasus Maternal Near Miss Berdasarkan Tahun Kejadian di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2013
5.1.2.5. Deskripsi Penanganan Kasus Maternal Near Miss
Distribusi data penelitian yang menunjukan penanganan kasus
maternal near miss pada tahun 2011-2013 dapat dilihat pada tabel berikut : 0
2 4 6 8 10 12 14
Tabel 5.5. Standar Penanganan Minimal Kasus Maternal Near Miss n % Penanganan PPH
Mendapat oksitosin 5 21,7
Tidak mendapat oksitosin 0 0
Data tidak lengkap 1 4,3
Penanganan Preeklampsia dan Eklampsia
Mendapat MgSO4 16 69,6
Tidak mendapat MgSO4 0 0
Penanganan Sepsis/ Infeksi Sistemik Berat
Mendapat antibiotik IV 1 4,3
Tidak mendapat antibiotik IV 0 0
Total 23 100
Tabel 5.6. Penanganan Kasus Maternal Near Miss
Penanganan n %
Transfusi darah 3 13
Perawatan di ICU 8 34,8
Perawatan di ICU dan laparotomi 2 8,7
Laparotomi dan transfusi darah 2 8,7
Intervensi radiologi 0 0
Tidak mendapatkan penanganan MNM 8 34,8
Total 23 100
Berdasarkan tabel 5.5. dapat dilihat standar penanganan minimal
kasus maternal near miss. Pada standar penanganan PPH terdapat 5 orang
(21,7%) yang mendapatkan oksitosin sebagai terapi PPH dan 1 orang
(4,3%) datanya tidak lengkap. Pada standar penanganan preeklampsia dan
eklampsia terdapat 16 orang (69,6%) yang mendapatkan MgSO4. Pada
standar penanganan sepsis atau infeksi sitemik berat terdapat 1 orang
(4,3%) yang mendapatkan terapi antibiotik IV .
Berdasarkan tabel 5.6. dapat dilihat penanganan kasus maternal
near miss yang mendapatkan transfusi darah sebanyak 3 orang (13%), mendapatkan perawatan di ICU sebanyak 8 orang (34,8%), mendapatkan
perawatan di ICU dan transfusi darah sebanyak 2 orang (8,7%),
mendapatkan intervensi radiologi sebanyak 0 orang (0%) dan yang tidak
mendapatkan penanganan kasus maternal near miss sebanyak 8 orang
(34,8%).
5.2. Pembahasan
Bedasarkan data pada tahun 2011-2013 terdapat 23 kasus
maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan. Kasus maternal near miss terbanyak terdapat pada kasus PE berat/ eklampsia dan perdarahan pasca salin, ini sesuai dengan penyebab kematian ibu
terbanyak di Indonesia yaitu akibat perdarahan dan eklampsia (SDKI,
2012). Pada penelitian yang dilakukan oleh Luexay et al. (2014) di Laos di
Provinsi Sayaboury yang menggunakan kriteria identifikasi MNM yang di
keluarkan oleh WHO terdapat 11 kasus maternal near miss dengan
penyebab yang paling banyak adalah perdarahan yaitu sebanyak 9 orang
dan sisanya 2 orang adalah akibat hypertensive disorders. Pada penelitian
yang dilakukan Galvao et al. (2014) di dua rumah sakit bersalin di ibu
kota Timur laut Brazil dari Juni 2011 sampai Mei 2012 yang
menggunakan kriteria identifikasi MNM yang di keluarkan oleh WHO
terdapat 77 kasus maternal near miss dengan penyebab yang paling
banyak adalah akibat hypertensive disorders hasil ini sama halnya dengan
hasil yang dilaporkan dari Negara berkembang yang lain.
Kasus Maternal Near Miss paling banyak terjadi pada umur 20-35
tahun yaitu berjumlah 16 orang (69,6%) ini mungkin dikarenakan pada
umur 20–35 tahun adalah umur reproduksi aktif bagi wanita ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Galvao et al. (2014) bahwa kasus
maternal near miss terjadi paling banyak pada umur dibawah 35 tahun.
Kasus Maternal Near Miss paling banyak terjadi pada jumlah paritas 1–2
yaitu berjumlah 13 orang (56,5%), menurut Rochyati dalam Prawirohardjo
resiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya bahaya dan
komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin yang
dikandungnya selama kehamilan, persalinan ataupun nifas bila
dibandingkan dengan kehamilan, persalinan ataupun nifas yang normal.
Penyebab kasus maternal near miss terbanyak adalah disfungsi
pernafasan ini mungkin dikarenakan komplikasi yang ditimbulkan akibat
PE berat atau eklampsia. Pada penelitian yang di lakukan oleh Jabir et al.
(2013) di Baghdad, Iraq penyebab maternal near miss terbanyak adalah
disfungsi kardiovaskular dan disebutkan bahwa penyebab utama maternal
near miss pda penelitian ini adalah akibat perdarahan pasca salin yang
berat.
Pada kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan
terlihat terjadi peningkatan kasus dari tahun ke tahun . Pada penelitian
yang dilakukan Gedefaw et al. (2014) di Debre Markos Referral Hospital,
Timur laut Etiopia dari 1 januari 2008 – 30 desember 2012 kejadian kasus
maternal near miss pada yang terjadi dalam lima tahun menurun, tetapi
jika dibandingkan dengan Negara Afrika angka kejadian maternal near
miss pada penelitian ini lebih tinggi kemudian disini disebutkan bahwa
jika angka kasus maternal near miss tinggi itu menunjukan bahwa
program pemerintah sukses dalam mengurangi angka kematian ibu. Tetapi
tidak semua Negara yang melakukan penelitian kasus ini mengunakan
kriteria MNM yang di keluarkan oleh WHO dikarenakan situasi yang
terjadi di setiap Negara berbeda, banyak penelitian yang melakukan
adaptasi dari kriteria yang di keluarkan oleh WHO untuk mempermudah
mendapatkan kasus maternal near miss. Peningkatan kasus maternal near
miss di RSUP H. Adam Malik Medan ini mungkin dapat menunjukan
peningkatan kualitas pelayanan dari tahun sebelumnya di RSUP H. Adam
Malik Medan.
Dari enam orang pasien perdarahan post pastum yang mendapat
oksitosin sebagai standar penanganan minimal sebanyak 5 orang dan satu
didapat tidak lengkap. Pada pasien PE berat/ eklampsia dan sepsis
semuannya telah mendapatkan standar penanganan minimal
bagaimanapun juga ini menggambarkan sebagian besar kasus maternal
near miss sudah mendapatkan penanganan minimal di RSUP H. Adam
Malik Medan. Pada penelitian yang dilakukan Jabir et al. (2013) dari 84
orang yang mengalami perdarahan pasca salin berat 57 orang yang
mendapatkan oksitosin tidak semua diberikan oksitosin dikarenakan diberi
uterotonika jenis lain. Kemudian dari 43 orang yang mengalami eklampsia
29 orang mendapatkan magnesium sulfat tidak semua diberikan
magnesium sulfat dikarenakan diberi antikonvulsan jenis lain. Kemudian
dari 10 orang yang mengalami sepsis 10 orang mendapatkan antibiotik IV.
Berdasarkan penanganan kasus maternal near miss yang
mendapatkan transfusi darah sebanyak 3 orang (13%), mendapatkan
perawatan di ICU sebanyak 8 orang (34,8%), mendapatkan perawatan di
ICU dan laparotomi sebanyak 2 orang (8,7%), mendapatkan laparotomi
dan transfusi darah sebanyak 2 orang (8,7%), mendapatkan intervensi
radiologi sebanyak 0 orang (0%) dan yang tidak mendapatkan penanganan
kasus maternal near miss sebanyak 8 orang (32%). Tidak mendapatkan
penanganan kasus maternal near miss disini bisa disebabkan pasien yang
mengalami perdarahan pasca salin, PE berat/ eklampsia, dan sepsis tidak
perlu mendapatkan penanganan kasus maternal near miss atau dilakukan
penanganan lain selain penanganan tersebut, ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Jabir et al. (2013) tidak semua kasus maternal near miss
mendapatkan penanganan kasus maternal near miss dari 212 kasus marnal
near miss hanya 181 orang yang mendapatkan penanganan kasus maternal near miss, dari 181 orang yang mendapatkan laparotomi sebanyak 85 orang, mendapatkan transfusi darah sebanyak 118 orang, mendapatkan
intervensi radiologi sebanyak 2 orang dan yang mendapatkan perawatan di
BAB 6
KESIMPULAN & SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh, maka kesimpulan yang
dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jumlah kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan tahun
2011-2013 berjumlah 23 orang dengan diagnosis yang paling banyak PE
berat/ eklampsia
2. Penyebab kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan
tahun 2011- 2013 berdasarkan disfungsi organ yang paling banyak akibat
disfungsi pernafasan
3. Kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-
2013 dapat dilihat mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ini secara
tidak langsung menunjukan peningkatan kualitas pelayanan
4. Pada penanganan kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik
Medan 15 orang mendapatkan penanganan kasus maternal near miss
sedangkan 8 orang tidak mendapatkan penanganan kasus maternal near
miss dikarenakan tidak perlunya mendapatkan penanganan tersebut atau
karena telah dilakukan penanganan lain.
6.2. Saran
1. Lokasi penelitian sebaiknya diperluas, sampel penelitian diperbanyak dan
dibuat selengkap mungkin, sehingga data yang didapat lebih banyak dan
hasil yang didapat semakin akurat
2. Sebaiknya penelitian kasus maternal near miss ini dilakukan rutin untuk
mengidentifikasi cara pencegahan dan penanganan yang nantinya berguna
untuk mengurangi angka kematian ibu di Indonesia terutama di Sumatera
3. Untuk pihak rumah sakit agar melakukan pengkajian ulang di sistem
pengelolaan rekam medis mulai dari dari sistem pendataan, penulisan, dan
penyimpanan untuk memudahkan penelitian selanjutnya
4. Untuk penelitian selanjutnya jika ingin meneliti kasus maternal near miss
menggunakan guideline yang dikeluarkan oleh WHO sebaiknya dilakukan
adaptasi kriteria maternal near miss untuk mempermudah
mengidentifikasi kasus maternal near miss karena dirasakan tidak semua
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Maternal Near Miss 2.1.1. Definisi
Definisi maternal near miss berbeda-beda di setiap negara dan tidak ada
yang bisa dipakai secara universal (Tambunan, 2008). Karena itu, pada tahun
2011, WHO menyeragamkan definisi dari maternal near miss.
Menurut WHO dalam “WHO near miss approach for maternal health” (2011), maternal near miss adalah wanita yang hampir mati, tetapi selamat dari komplikasi selama kehamilan, pada saat bersalin, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan. Secara praktis, wanita yang dipertimbangkan dalam kasus maternal near miss adalah wanita yang selamat dari kasus yang mengancam kehidupannya seperti disfungsi organ (WHO, 2012).
2.1.2. Kriteria
Menurut WHO (2012) terdapat tiga kriteria dalam penilaian kasus
maternal near miss, yaitu:
A. Berdasarkan Komplikasi Berat dari Kehamilan
Komplikasi berat dari kehamilan dapat menggambarkan kondisi yang
mengancam jiwa bagi ibu yang sedang hamil. Secara luas ini menggambarkan
gejala klinis dari pasien, ini termasuk penyakit yang dapat diobati pada wanita
pada saat kehamilan dan melahirkan dan setelah terminasi dari kehamilan.
Menurut WHO (2012), komplikasi berat dari kehamilan yang termasuk dalam
kriteria yaitu:
- Perdarahan pasca salin berat
- Preeklamsia berat
- Eklampsia
- Sepsis atau infeksi sistemik berat
- Ruptur uterus
Kriteria ini mudah digunakan oleh klinisi ataupun non-klinisi, terutama
kondisi yang ada merupakan cerminan dari penyebab utama penyebab kematian
pada ibu hamil. Di banyak negara berkembang, data tentang diagnosis berbagai
komplikasi relatif mudah diperoleh (Tambunan, 2008)
B. Berdasarkan Penanganan
Menurut WHO (2012) yang termasuk penilaian dalam kriteria ini adalah:
- Dirawatnya pasien di Intensive Care Unit/ICU (tersedia pengawasan
selama 24 jam, terdapat ventilasi mekanik, dan obat vasoaktif yang
memadai)
- Intervensi radiologi
- Laparotomi (termasuk histerektomi, tidak termasuk seksio sesarea)
- Menggunakan produk dari darah
C. Berdasarkan Kondisi yang Mengancam Jiwa
Menurut WHO (2012) yang termasuk penilaian maternal near miss
apabila pada pasien dijumpai paling sedikit satu atau lebih gejala atau tanda dari
kriteria berikut:
1. Disfungsi kardiovaskular
- Syok
- Cardiac arrest (tidak ada denyut nadi/denyut jantung dan kehilangan kesadaran)
- Menggunakan obat vasoaktif secara rutin
- Cardio pulmonary resuscitation
- Hipoperfusi berat (laktat > 5 mmol/l atau > 45 mg/dl)
- Asidosis berat (pH < 7.1)
2. Disfungsi pernafasan
- Sianosis akut
- Gasping
- Takipnea berat (Respiratory rate > 40 kali per menit)
- Intubasi dan ventilasi yang tidak terkait oleh anastesi
- Hipoksemia berat (SaO2 < 90% dalam ≥ 60 menit atau PaO2/FiO2 < 200)
3. Disfungsi renal
- Oliguria yang tidak responsif terhadap cairan atau diuretik
- Dialisis untuk gagal ginjal akut
- Severe acute azotemia (kreatinin ≥ 300 µmol/ml atau ≥ 3.5 mg/dl) 4. Disfungsi hematologi/ koagulasi
- Kegagalan pembekuan
- Transfusi darah atau sel darah merah (≥ 5 unit)
- Severe acute trombocytopenia (< 50.000 trombosit/ml) 5. Disfungsi hepatik
- Jaundice akibat preeklampsia
- Severe acute hyperbilirubinemia (bilirubin > 100µmol/l atau 6.0 mg/dl) 6. Disfungsi neurologi
- Kehilangan kesadaran dalam waktu yang lama (≥ 12 jam)/koma (termasuk
koma metabolik)
- Stroke
- Status epileptikus
- Paralisis total
7. Disfungsi uterus
- Perdarahan uterus atau infeksi akibat histerektomi
2.2. Perdarahan Pasca Salin 2.2.1. Definisi
Perdarahan pasca salin merupakan penyebab terbesar dari kematian ibu,
sekitar 140.000 kematian ibu di dunia disebabkan oleh perdarahan. Kasus
perdarahan meningkat di negara berkembang. Secara umum perdarahan pasca
salin dapat didefinisikan sebagai hilangnya darah > 500 ml pada persalinan
normal atau > 1000 ml pada seksio sesarea (Goldman et al., 2013). Menurut
sesudah melahirkan diikuti perdarahan yang abnormal > 1000 ml atau semua
perdarahan dengan hipotensi atau transfusi darah.
2.2.2. Etiologi
Menurut Oxorn dan Forte (1990), perdarahan pasca salin ini disebabkan
oleh beberapa hal, yaitu:
1. Atonia uteri
2. Robekan jalan lahir
3. Retensio plasenta, inversi uterus, dan gangguan pembekuan darah
2.2.3. Gejala Klinis
Menurut WHO (2012) pasien yang dikategorikan sebagai perdarahan
pasca salin berat yaitu jika terdapat tanda atau gejala dibawah ini:
- Perkiraan darah yang hilang > 1000 ml atau lebih
- Perdarahan diikuti oleh hipotensi atau transfusi darah
2.2.4. Penatalaksanaan
Manajemen perdarahan bergantung pada penyebab dan keparahan dari
perdarahan itu sendiri, contohnya perdarahan akibat atonia uteri dapat dihentikan
dengan menggunakan uterotonik, ligasi arteri uterina, atau histerektomi serta
penggantian dari cairan, faktor pembekuan, dan darah yang hilang pada saat
perdarahan. Perdarahan pasca salin akibat atonia uteri dapat dicegah dengan
pemberian uterotonik dan melakukan secara rutin manajemen aktif kala III pada
semua wanita yang bersalin (Goldman et al., 2013).
Pada perdarahan yang hebat diperlukan cairan intravena dan transfusi.
Kuretase dianjurkan bila ada bukti jaringan plasenta tertahan atau bila perdarahan
hebat terus terjadi atau berulang walaupun diterapi dengan oksitosin. Laparotomi
eksplorasi untuk ligasi arteri atau histerektomi mungkin diperlukan bila
2.2.5. Komplikasi
Menurut Mousa et al. (2014) komplikasi yang ditimbulkan oleh
perdarahan pasca salin adalah:
- Syok hipovolemik
- DIC (Disseminated intravascular coagulation)
- Acute kidney injury - Liver failure
- Acute respiratory distress syndrome
- Kematian
2.2.6. Prognosis
Perdarahan pasca salin adalah penyebab utama kematian ibu di seluruh
dunia dengan tingkat prevalensi sekitar 6%. Afrika memiliki tingkat prevalensi
tertinggi sekitar 10,5% . Di Afrika dan Asia, di mana sebagian besar kematian ibu
terjadi, perdarahan postpartum menyumbang lebih dari 30% dari semua kematian
maternal (WHO, 2012). Di Inggris, risiko kematian karena perdarahan pasca salin
diperkirakan sebesar 1 wanita dalam 100.000 kelahiran (Cantwell et al., 2011). Di
Amerika Serikat, risiko kematian karena perdarahan pasca salin diperkirakan 7-10
wanita dalam 100.000 kelahiran (Smith, 2012). Menurut Yiadom et al. (2014)
insiden perdarahan postpartum adalah sekitar 1 dari 5 kehamilan, tetapi angka ini
sangat bervariasi disebabkan perbedaan definisi untuk perdarahan postpartum.
2.3. Preeklampsia Berat 2.3.1. Definisi
Preeklampsia berat adalah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik ≥
160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih
2.3.2. Gejala Klinis
Preeklampsia digolongkan menjadi preeklampsia berat bila ditemukan satu
atau lebih gejala sebagai berikut: (Prawirohardjo, 2010)
- Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110
mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah
dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring
- Proteinuria lebih 5g/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif
- Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500cc/24 jam
- Kenaikan kadar kratinin plasma
- Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma,
dan pandangan kabur
- Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat
teregangnya kapsula glisson)
- Edema paru-paru dan sianosis
- Hemolisis mikroangiopatik
- Trombositopenia berat < 100.000 sel/mm³ atau penurunan trombosit
dengan cepat
- Gangguan fungsi hepar (kerusakan hepatoselular) : peningkatan kadar
alanin dan aspartat aminotransferase
- Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat
- Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes and low platelet)
2.3.3. Penatalaksanaan
Pengelolaan preeklamsia dan eklampsia mencakup pencegahan kejang,
pengobatan hipertensi, penggelolaan cairan, pelayanan suportif terhadap penyulit
organ yang terlibat, dan saat yang tepat untuk persalinan, antara lain :
(Prawirohardjo, 2010)
Penderita preeklampsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat
inap dan dianjurkan tirah baring miring ke satu sisi (kiri). Perawatan yang
penting pada preeklampsia berat adalah pengelolaan cairan karena
terjadinya edema paru dan oliguria. Sebab terjadinya kedua keadaan
tersebut belum jelas, tetapi faktor yang sangat menentukan terjadinya
edema paru dan oliguria ialah hipovolemia, vasospasme, kerusakan sel
endotel, dan penurunan gradien tekanan onkotik koloid/pulmonary
capillary wedge pressure. Oleh karena itu, monitoring input cairan
(melalui oral ataupun infus) dan output cairan (melalui urin) menjadi
sangat penting, artinya harus dilakukan pengukuran secara tepat berapa
jumlah cairan yang dimasukkan dan dikeluarkan melalui urin. Bila terjadi
tanda-tanda edema paru, segera dilakukan tindakan koreksi. Cairan yang
diberikan dapat berupa (a) 5% ringer-dekstrose atau cairan garam faali
jumlah tetesan < 125 cc/jam atau (b) infus dekstrose 5% yang tiap liternya
diselingi dengan infus ringer laktat (60-125 cc/jam) 500 cc . Dipasang
foley catheter untuk mengukur pengeluaran urin. Oliguria terjadi bila produksi urin < 30 cc/jam dalam 2-3 jam atau < 500 cc/24 jam. Diberikan
antasida untuk menetralisir asam lambung sehingga bila mendadak kejang,
dapat menghindari aspirasi asam lambung yang sangat asam. Diet yang
cukup protein, rendah karbohidrat, lemak, dan garam.
Pemberian obat anti kejang
Obat anti kejang diantaranya adalah MgSO4 (magnesium sulfat). Obat ini banyak digunakan di Indonesia sebagai obat anti kejang. Kemudian contoh obat anti kejang lain yaitu diazepam dan fenitoin.
Diuretikum tidak diberikan secara rutin, kecuali bila ada edema paru,
payah jantung kongestif, atau anasarka. Diuretikum yang dipakai adalah
furosemid. Pemberian diuretikum dapat merugikan yaitu memperberat
hipovolemia, memperburuk perfusi utero-plasenta, meningkatkan
hemokonsentrasi, menimbulkan dehidrasi pada janin, dan menurunkan
berat janin.
Pemberian antihipertensi
karena efek vasodilatasi sangat cepat sehingga hanya boleh diberikan peroral.
2.3.4. Komplikasi
Menurut Walley et al. (2010) yang termasuk komplikasi dari preeklampsia
berat adalah:
- Eklampsia
- Plasenta abruption
- Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes and low platelet)
- Kejang
- Koma
- Kematian
2.3.5. Prognosis
Di seluruh dunia, preeklampsia dan eklampsia diperkirakan menjadi
penyebab atas sekitar 14% kematian ibu per tahun (50.000-75.000) (WHO, 2004).
Pada tahun 2008-2012 di RS dr. Sarjito Yogyakarta, dilaporkan terjadi 48
kematian ibu dari 742 ibu penderita preeklampsia berat, case fatality rate untuk
preeklampsia berat di RS. dr.Sarjito Yogyakarta sekitar 6.47 (Handreswari, 2012).
2.4. Eklampsia 2.4.1. Definisi
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia yang
disertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Sama halnya dengan preeklampsia,
eklampsia dapat timbul pada antepartum, intrapartum, dan postpartum. Eklampsia
postpartum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah
persalinan. Pada penderita preeklampsia yang akan kejang, umumnya memberi
gejala-gejala atau tanda-tanda yang khas yang dapat dianggap sebagai tanda
prodormal akan terjadinya kejang. Preeklampsia yang disertai dengan tanda-tanda
prodormal ini disebut sebagai impending eclampsia atau imminent eclampsia
2.4.2. Gejala Klinis
Dikategorikan sebagai eklampsia yaitu jika pasien mengalami
preeklampsia berat yang diikuti kejang tonik dan klonik tanpa adanya riwayat
kejang sebelumnya, termasuk koma dalam preeklampsia (WHO, 2012).
2.4.3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan eklampsia yang utama ialah terapi supportif untuk
stabilisasi fungsi vital, yang harus selalu diingat airway, breathing, circulation
(ABC), mengatasi dan mencegah kejang, mengatasi hipoksemia dan asidemia
mencegah trauma pada pasien yang kejang, mengendalikan tekanan darah,
khususnya pada waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat
dan dengan cara yang tepat. Perawatan medikamentosa meliputi pemberian
magnesium sulfat (MgSO4) untuk mencegah dan mengatasi terjadinya kejang
(Prawirohardjo, 2010).
2.4.4. Komplikasi A. Edema Paru
Kejang eklampsia dapat menyebabkan edema paru terutama mereka yang
dirawat dengan pemberian cairan intravena dalam jumlah besar dan selalu
memberikan prognosis yang jelek.
B. Gagal Jantung
Terjadi pada keadaan terminal suatu eklampsia, terutama sianosis, denyut
nadi yang cepat dan penurunan tekanan darah.
C.Kematian Mendadak
Sebagai akibat dari perdarahan serebral yang masif, hemiplegia juga dapat
2.4.5. Prognosis
Prognosis selalu gawat, meskipun angka kematian maternal pada
eklampsia tampak menurun selama tiga dekade terakhir ini, tetapi eklampsia
masih merupakan salah satu keadaan yang mengancam jiwa bagi ibu yang sedang
hamil. Angka kematian maternal yang dilaporkan berkisar antara 0 sampai 17,5
persen. Pada saat yang sama, kematian perinatal 13 sampai 30 persen (Pritchard et
al., 1984).
Bila penderita tidak terlambat dalam pemberian pengobatan, maka gejala
perbaikan akan tampak jelas setelah kehamilannya diakhiri. Segera setelah
persalinan berakhir perubahan patofisiologik akan segera pula mengalami
perbaikan. Diuresis terjadi 12 jam kemudian setelah persalinan. Keadaan ini
merupakan tanda prognosis yang baik karena hal ini merupakan gejala pertama
penyembuhan. Tekanan darah kembali normal dalam beberapa jam kemudian.
Eklampsia tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya kecuali pada janin dari ibu
yang sudah mempunyai hipertensi kronik. Prognosis janin pada penderita
eklampsia juga tergolong buruk. Sering kali janin mati intrauterin atau mati pada
fase neonatal karena memang kondisi bayi sudah sangat inferior (Prawirohardjo,
2010).
2.5. Sepsis atau Infeksi Sistemik Berat 2.5.1. Definisi
Menurut WHO (2012) yang dimaksud dengan infeksi sistemik berat atau
sepsis adalah adanya demam (> 38°C), didiagnosis atau dicurigai mengalami
infeksi (contoh: korionamnionitis, abortus septik, endometritis, pneumonia), dan
paling sedikit diikuti oleh salah satu gejala berikut: denyut jantung > 90 per menit,
pernafasan > 20 per menit, leukopenia (sel darah putih < 4000/mm³), dan
2.5.2. Gejala Klinis
Dikategorikan sebagai sepsis atau infeksi sistemik berat, yaitu jika pasien
mengalami tanda-tanda atau gejala di bawah ini: (WHO, 2012)
- Suhu tubuh > 38°C
- Didiagnosis atau dicurigai infeksi (korionamnionitis, abortus septik,
endometritis, pneumonia)
- Diikuti paling sedikit oleh gejala berikut: denyut jantung > 90 per menit,
pernapasan > 20 per menit, leukopenia (sel darah putih < 4000/mm³),
leukositosis (sel darah putih > 12000/mm³)
2.5.3. Penatalaksanaan
Menurut Taber (1984), prinsip umum penatalaksanaan yaitu infeksi harus
dihilangkan dengan terapi antibiotik, dibantu pembedahan bila ada indikasi,
homeostasis kardiovaskular dan respirasi harus dipertahankan (kekurangan
volume intravaskular harus dikoreksi, oksigenasi harus adekuat, dan perfusi
jaringan harus direstorasi).
Bantuan pernapasan
Oksigen dan jalan napas yang adekuat penting. Pengukuran gas darah yang diulang menilai keperluan oksigen dan perlunya intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik.
Bantuan sirkulasi
Bila ada sepsis, banyak volume cairan terpisah pada tempat peradangan. Selain itu, kekurangan cairan penting lainnya berasal dari demam, muntah, diare, dan perdarahan. Cairan intravena, biasanya larutan ringer laktat atau larutan garam fisiologis, penting untuk menambah volume plasma. Pengukuran tekanan vena sentralis atau tekanan desakan arteri pulmonalis ditambah dengan keluaran urin merupakan suatu petunjuk untuk penggantian cairan. Transfusi dengan sel darah merah (packed red cell) atau whole blood dapat diindikasikan bila hematokrit kurang dari 30.
Asidosis terjadi akibat kegagalan perfusi jaringan dan akibat terkumpulnya metabolit-metabolit asam. Keadaan ini dapat diobati dengan penambahan
volume intravaskular dan perbaikan perfusi jaringan daripada dengan
Antibiotik intravena
Sebelum mengetahui organisme spesifik, pilihan antibiotik
dilakukan berdasarkan pada tempat dari infeksi, apakah didapat dari rumah sakit, terapi antibiotik sebelumnya, penyakit penjamu yang mendasarinya, biakan dan tes sensitivitas sebelumnya, dan antibiogram masing-masing rumah sakit. Mikroorganisme yang biasanya bertanggung jawab pada infeksi pelvis yang serius meliputi basil gram-negatif, streptokokus anaerob, bakteroides, dan klostridia.
- Gentamisin (60-80 mg setiap delapan jam) sering dipilih karena
bersifat bakteriosidal dan efektif terhadap kebanyakan organisme
gram negatif. Dosisnya harus disesuaikan bila ada tanda-tanda
gagal ginjal
- Penisilin (3-5 juta unit setiap 4 jam) atau ampisilin (2 g setiap
enam jam) dapat diberikan untuk menangani organisme gram
positif
- Klindamisin (600 mg setiap delapan jam) sering dianjurkan bila
dicurigai ada infeksi bakteroides
Kortikosteroid dapat mencegah cedera selular nonspesifik dengan
menstabilkan membran lisosom. Selain itu, obat-obat ini dapat
memperbaiki perfusi jaringan, meningkatkan curah jantung, dan
menurunkan tahanan perifer arteri. Walaupun banyak pendapat yang
berbeda akan dosis dan lamanya pengobatan, deksametason (3-5 mg/kg)
atau yang sebanding mungkin bermanfaat.
Obat-obat vasoaktif dapat diindikasikan bila pasien tidak memberikan
respon terhadap penambahan volume intravaskular.
Dopamin (inotropin) cenderung meningkatkan kontraktilitas miokard serta
aliran darah. Dua ratus miligram dopamin dilarutkan dalam 250 ml atau
500 ml larutan garam fisiologis dan diberikan pada dosis 2-5
mcg/kg/menit.
Pembedahan mungkin diperlukan untuk menghilangkan fokus infeksi.
Produk-produk konsepsi yang terinfeksi harus dibuang dari uterus.
Laparatomi dapat dianjurkan bila ada tanda-tanda rupturnya abses tuboovarium, pasien tidak memberi respon terhadap terapi antibiotik, atau
ada tanda-tanda viskus yang perforasi atau benda asing dalam kavum
peritoneum, histerektomi dengan salpingo-ooforektomi bilateral mungkin
diperlukan.
2.5.4. Komplikasi
Menurut Barton dan Sibai (2012), komplikasi yang di timbulkan dari
sepsis atau infeksi sistemik berat yaitu:
- Edem paru
- Respiratory distress syndrome
- Gagal ginjal akut
- DIC (Disseminated intravascular coagulation)
- Kematian
2.5.5. Prognosis
Di Inggris, angka kematian ibu dilaporkan meningkat dari 0.85 kematian
per 100.000 ibu hamil dalam waktu 2003-2005, menjadi 1.13 kematian dalam
2006-2008 (Barton dan Sibai, 2012).
2.6. Ruptur Uterus 2.6.1. Definisi
Ruptur uterus adalah robeknya dinding uterus pada saat kehamilan atau
dalam persalinan dengan atau tanpa robeknya peritoneum viseral (POGI, 1991).
2.6.2. Gejala Klinis
Gejala Klinis ruptur uterus yaitu sebagai berikut (POGI, 1991):
- Sakit perut mendadak
- Perdarahan pervaginam
- Syok yang cenderung tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar
- Adanya penyulit operasi rahim, trauma, partus sulit sebelumnya, dan
sebagainya
- Kadang-kadang disertai sesak napas/napas cuping hidung atau sakit
karena tekanan napasnya intra abdominal pada diagfragma
- Teraba bagian janin langsung di bawah kulit dinding perut disertai
tanda sakit perut mendadak, bunyi jantung janin tidak terdengar
- Kadang–kadang urin hemoragis
2.6.3. Penatalaksanaan
Menurut Taber (1984), penatalaksanaan untuk pasien ruptur uteri meliputi:
Terapi Suportif
Perbaiki syok dan kehilangan darah. Tindakan ini meliputi pemberian oksigen, aliran intravena, darah pengganti, dan antibiotik untuk infeksi.
Laparotomi segera
Segera setelah diagnosis ditegakan, dilakukan persiapan untuk pembedahan. Pada saat itu, volume darah diperbaiki dengan cairan intravena dan darah. Setelah luasnya perlukaan ditentukan, ahli bedah dapat memilih antara memperbaiki kerusakan uterus dengan melakukan histerektomi. Keputusan tersebut berdasarkan tempat ruptur, sifat robekan, luasnya perdarahan, penyebab ruptur, adanya parut uterus, stadium kehamilan, kondisi umum pasien, dan keinginan pasien untuk mengandung dikemudian hari.
Bila hematuria memberi kesan adanya hubungan perlukaan kandung
kemih, maka kandung kemih juga harus diperbaiki. Karena devitalisasi
dinding kandung kemih yang menyertai robekan uterus kejadiannya lebih
sering daripada perlukaan kandung kemih, drainase kandung kemih
postoperatif dengan kateter di tempat selama 10 sampai 14 hari merupakan
suatu hal penting yang dapat membantu penyembuhan kandung kemih
2.6.4. Komplikasi
Menurut Benson dan Pernoll (1994), komplikasi dari ruptur uterus yaitu:
- Perdarahaan
- Syok
- Infeksi
- Trauma kandung kemih atau ureter
- Tromboflebitis
- DIC (Disseminated intravascular coagulation)
- Hipofungsi hipofisis (misalnya gagal menyusui atau kematian)
- Jika pasien tetap hidup dapat terjadi infertilitas atau sterilitas
-2.6.5. Prognosis
Ruptur uteri menyebabkan 10%-40% kematian ibu dan paling sedikit 50%
kematian perinatal (Benson dan Pernoll, 1994).
Dari tahun 1976-2012, dilaporkan 2.084 kasus diantara 2.951.297 wanita
hamil. Tingkat kejadian ruptur uterus keseluruhan adalah 1 dari 1.146 kehamilan
(0.07%). Dilaporkan juga kematian ibu akibat ruptur uterus di negara maju 0-1%
dan di negara berkembang 5-10% (Nahum, 2012).
2.7. Komplikasi Berat dari Abortus 2.7.1. Definisi
Komplikasi abortus yang berat, paling sering berkaitan dengan suatu
abortus kriminalis. Perdarahan yang hebat, sepsis, syok bakterial, dan gagal ginjal
akut semua timbul sehubungan dengan abortus legal, tetapi dengan frekuensi yang
jauh lebih rendah (Pritchard et al., 1984).
2.7.2. Gejala Klinis
Yang dikategorikan sebagai komplikasi berat dari abortus adalah
gejala-gejala komplikasi dari abortus yang mengancam jiwa pasien yang meliputi
perdarahan yang berat, infeksi, syok septik, dan gagal ginjal akut (Pritchard et al.,
2.7.3. Penatalaksanaan
Prinsip umum penatalaksanaan adalah infeksi harus dikendalikan dengan
antibiotik yang tepat, volume intravaskuler efektif harus dipertahankan untuk
memberikan perfusi jaringan yang adekuat, uterus harus dievakuasi (hasil
konsepsi yang tertahan atau alat kontrasepsi dalam rahim disingkirkan). Tindakan
spesifik yang harus dilakukan yaitu (Taber, 1984): Terapi Antibiotik
Dimulai secara intravena bahkan sebelum organisme spesifik dibiakan. Antibiotik dipilih atas dasar organisme yang terlihat pada perwarnaan gram apusan serviks. Kombinasi penisilin dan gentamisin mencakup semua organisme yang paling mungkin dengan pengecualian untuk bakteroides. Bila dicurigai bakteriodes, maka bisa dipilih klindamisin atau kloramfenikol.
Cairan Intravena dengan Oksitosin
Dua puluh sampai 40 unit oksitosin diencerkan dalam 1000 ml dekstrosa 5% di dalam larutan ringer laktat membantu dalam pengeluaran isi intrauteri yang terinfeksi. Disamping itu, oksitosin merangsang kontraksi uterus untuk mengurangi perdarahan uterus.
Transfusi Darah
Diberikan sesuai indikasi, tergantung pada derajat anemia dan perdarahan.
Kuretase
Uterus dievakuasi secepat kadar antibiotik darah yang adekuat tercapai. Potongan besar jaringan nekrotik dibuang dengan forsep cincin.
Laparotomi eksplorasi
Diperlukan jika ada bukti perdarahan intraperitoneum aktif atau cedera usus yang mengikuti perforasi uterus traumatic atau jika benda asing intraperitoneum terlihat pada foto abdomen. Bila pewarnaan gram mengandung organisme klostridium, maka laparotomi ekplorasi dengan debridemen jaringan nekrotik yang adekuat dilakukan, biasanya histerektomi abdominalis totalis dan salpingo-ooforektomi akan diindikasikan jika tanda-tanda tidak menyenangkan berikut ini timbul:
- Gas dalam jaringan pelvis pada pemeriksaan sinar-X
- Bukti hemolisis intravaskuler seperti serum atau urin berwarna
- Gagal ginjal
- Tanda kemunduran pasien oleh sepsis.
2.7.4. Komplikasi
Menurut Goldman et al. (2013) dan Gaufberg (2012) komplikasi dari
abortus yaitu:
- Emboli
- Komplikasi dari anestesi
- Perdarahan
- Trauma servik
- Trauma uterus
- Infeksi
- Abortus septik
- Kematian
2.7.5. Prognosis
Mortalitas dan morbiditas tergantung pada usia kehamilan pada saat
keguguran atau aborsi. Di Amerika Serikat, angka kematian per 100.000 aborsi
adalah dibawah 8 minggu 0.5% , 11-12 minggu 2,2%, 16-20 minggu 14%, dan
lebih dari 21 minggu 18% (Gaufberg, 2012).
Menurut WHO, sekitar 68.000 wanita meninggal setiap tahun akibat
komplikasi dari aborsi yang tidak aman dengan sepsis sebagai penyebab utama
kematian. Di Amerika Serikat, pada tahun 2005 dilaporkan 7 wanita meninggal
akibat komplikasi aborsi legal. Kematian akibat aborsi septik di Amerika Serikat
cepat menurun setelah legalisasi aborsi yaitu kurang dari 1 per 100.000 aborsi.
Angka ini hampir sama dengan kebanyakan negara-negara di Eropa (Gaufberg,
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut WHO, kasus maternal near miss adalah wanita yang hampir mati, tetapi selamat dari komplikasi selama kehamilan, pada saat bersalin, atau
dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan. Secara praktis, wanita yang
dipertimbangkan dalam kasus maternal near miss adalah wanita hamil yang
selamat dari kasus yang mengancam kehidupannya seperti disfungsi organ (WHO,
2012).
Near miss merupakan indikator baru untuk menilai mutu pelayanan kebidanan dan untuk meningkatkan perawatan kesehatan maternal sehingga
pasien yang berisiko tinggi dan yang mengalami komplikasi obstetri berat tidak
mengalami near miss bahkan kematian (Mangun, 2008).
Audit near miss sebagai alat evaluasi akan membantu dalam proses
pengambilan keputusan. Hasil audit akan memberikan gambaran pencapaian
pencegahan kematian ibu serta faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya
kasus near miss. Bila pendekatan ini digunakan secara rutin dan menyeluruh,
maka akan terjadi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan maternal secara
signifikan. Oleh sebab itu, penelitian pendekatan ini sangat penting guna
penerapannya secara tepat di Indonesia (Pattinson et al., 2003; Rosmans dan
Fillipi, 2004; WHO, 2011, dalam Sarimin, 2014). Semakin tinggi ratio dari
maternal near miss memperlihatkan bahwa adanya peningkatan dari pelayanan kesehatan (Roopa, 2013).
Di dunia, sekitar delapan ratus wanita meninggal setiap harinya dengan
penyebab yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Hampir seluruh
kematian maternal (99%) terjadi di negara berkembang. Di negara maju,
dilaporkan 16 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup sedangkan di negara
berkembang dilaporkan 240 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (WHO,
DAFTAR SINGKATAN
ABC : Airway, Breathing, Circulation
Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
DIC : Disseminated Intravascular Coagulation
HELLP : Hemolisis, Elevated Liver enzymes and Low Platelet
ICU : Intensive Care Unit
IV : Intra Vena
Menkes : Menteri Kesehatan
MgSO4 : Magnesium Sulfat
MNM : Maternal Near Miss
PaO2/FiO2 : Tekanan parsial Oksigen di arteri
PE : Preeklampsia
POGI : Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia
PPH : Post Partum Haemorrhage
RI : Republik Indonesia
RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
SaO2 : Saturasi Oksigen
SK : Surat Keputusan
Angka kematian ibu dan bayi merupakan tolok ukur dalam menilai derajat
kesehatan suatu bangsa, oleh karena itu pemerintah sangat menekankan praktisi
medis untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui program-program
kesehatan (Depkes RI, 2012).
Pada tahun 2007, angka kematian ibu di Sumatera Utara mencapai 231 per
100.000 kelahiran hidup. Angka ini melebih angka kematian ibu nasional yang
mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2010 menurut
hasil sensus penduduk angka kematian ibu di Sumatera Utara menjadi 328 per
100.000 kelahiran hidup, dan pada tahun 2012 berdasarkan laporan dari profil
kabupaten atau kota angka kematian ibu di provinsi Sumatera Utara menurun
menjadi 106 per 100.000 kelahiran hidup namun ini belum bisa menggambarkan
angka kematian ibu sebenarnya di populasi (Depkes RI, 2012).
Bagaimanapun juga, angka kematian ibu di dunia masih tinggi, secara
tidak langsung ini menggambarkan angka kematian di rumah sakit juga tinggi.
Oleh sebab itu, kasus maternal near miss akan digunakan untuk menilai kualitas
pelayanan kesehatan di rumah sakit terutama di bagian kebidanan dan penyakit
kandungan, atau di tingkat regional. Kasus maternal near miss juga
menggambarkan sebagian besar karakteristik dari kematian ibu. Selama kriteria
identifikasi dari maternal near miss belum diseragamkan, maka aneka penelitian
yang sudah dilakukan tidak dapat disamakan karena itu WHO mengembangkan
definisi baru dari maternal near miss (MNM) dan kriteria identifikasi dari kasus
maternal near miss yang ditulis dalam “WHO near miss approach for maternal health” pada tahun 2011 (WHO, 2012).
Hingga saat ini peneliti belum mendapatkan data yang menunjukan kasus
maternal near miss di Medan. Sementara itu, WHO sangat menganjurkan untuk melakukan pendataan yang rutin untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas
dari sistem pelayanan kesehatan .
Atas dasar itu, peneliti tertarik untuk melakukan pengamatan kasus
sakit rujukan dan memiliki fasilitas yang lengkap sehingga peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian di rumah sakit ini.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran maternal near miss di RSUP Haji Adam
Malik Medan tahun 2011-2013?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kasus maternal near miss di RSUP
Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013.
1.3.2 Tujuan Khusus
Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui angka kasus maternal near miss di RSUP Haji
Adam Malik Medan tahun 2011-2013.
2. Untuk mengetahui penyebab kasus maternal near miss di RSUP Haji
Adam Malik Medan tahun 2011-2013.
3. Untuk mengetahui kecenderungan tahun kasus maternal near miss di
RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2011-2013.
4. Untuk mengetahui penanganan kasus maternal near miss di RSUP
Haji Adam Malik Medan tahun 2011-2013.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai informasi gambaran kasus maternal near miss di RSUP
Haji Adam Malik Medan dari tahun 2011-2013 dan juga sebagai evaluasi
pelayanan kesehatan terutama pada pelayanan kebidanan dan kandungan
1.4.2 Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam
membuat karya tulis ilmiah.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber informasi dan juga dapat digunakan sebagai data
ABSTRAK
Kasus maternal near miss digunakan sebagai alat evaluasi untuk meningkatkan mutu dari pelayanan kesehatan maternal. Menurut WHO, kasus maternal near miss adalah wanita yang hampir mati, tetapi selamat dari komplikasi selama kehamilan, pada saat bersalin, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kasus Maternal Near Miss di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2013. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian retrospective cross-sectional. Pada penelitian ini, WHO near miss approach digunakan sebagai indikator. Populasi pada penelitian ini adalah kasus perdarahan post partum, preklampsia, eklampsia, sepsis atau infeksi sistemik berat, ruptur uterus dan komplikasi berat dari abortus dengan satu atau lebih gejala disfungsi organ di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011- 2013. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dan pengumpulan data menggunakan rekam medis.
Hasil penelitian ini menunjukan angka kasus maternal near miss tahun 2011-2013 berjumlah 23 orang, dengan rincian pada tahun 2011 sebanyak 3 orang (13%), tahun 2012 sebanyak 8 orang (34,8%), dan tahun 2013 sebanyak 12 orang (52,2%). Diagnosis yang paling sering ditemui ialah eklampsia, yaitu berjumlah 16 orang (69,6%). Disfungsi organ yang paling banyak terjadi ialah disfungsi pernafasan, yaitu sebanyak 11 orang (47,8%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ini secara tidak langsung menunjukan peningkatan kualitas pelayanan.
ABSTRACT
Maternal near miss cases are used as an evaluation tool to improve the quality of maternal health services. According to WHO, a maternal near miss case is defined as a woman who nearly died but survived a complications that occured during pregnancy, childbirth, or within 42 days of termination of pregnancy. This study aims to determine the picture of maternal near miss cases at Haji Adam Malik General Hospital Year 2011-2013. This is a descriptive study with a retrospective cross-sectional design. In this study, WHO near miss approach is used as an indicator. The population in this study are postpartum hemorrhage, preclampsia, eclampsia, sepsis or severe systemic infections, uterine rupture and severe complications of abortion cases with one or more symptoms of organ dysfunction at Haji Adam Malik General Hospital in 2011- 2013. This study used total sampling technique and data were collected by analyzing medical records obtained from Medical Record Division .
The result of this study showed the number of maternal near miss cases in 2011-2013 were amounted to 23 cases, which there were 3 cases (13%) in 2011, 8 cases (34,8%) in 2012, and 12 cases(52,2%) in 2013. The most common diagnosis was eclampsia, as much as 16 people (69,6%). The most common organ dysfunction that occured during that periode was respiratory dysfunction, as much as 11 people (47,8%).
From the results obtained in this study, it can be concluded that there was an increased in number of maternal near miss cases in Haji Adam Malik General Hospital during 2011-2013. This undirectly showed an improvement in quality of service.
Oleh : ANNISA ASTARI
110100135
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh : ANNISA ASTARI
110100135
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Kasus maternal near miss digunakan sebagai alat evaluasi untuk meningkatkan mutu dari pelayanan kesehatan maternal. Menurut WHO, kasus maternal near miss adalah wanita yang hampir mati, tetapi selamat dari komplikasi selama kehamilan, pada saat bersalin, atau dalam 42 hari setelah terminasi kehamilan.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kasus Maternal Near Miss di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2013. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian retrospective cross-sectional. Pada penelitian ini, WHO near miss approach digunakan sebagai indikator. Populasi pada penelitian ini adalah kasus perdarahan post partum, preklampsia, eklampsia, sepsis atau infeksi sistemik berat, ruptur uterus dan komplikasi berat dari abortus dengan satu atau lebih gejala disfungsi organ di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011- 2013. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dan pengumpulan data menggunakan rekam medis.
Hasil penelitian ini menunjukan angka kasus maternal near miss tahun 2011-2013 berjumlah 23 orang, dengan rincian pada tahun 2011 sebanyak 3 orang (13%), tahun 2012 sebanyak 8 orang (34,8%), dan tahun 2013 sebanyak 12 orang (52,2%). Diagnosis yang paling sering ditemui ialah eklampsia, yaitu berjumlah 16 orang (69,6%). Disfungsi organ yang paling banyak terjadi ialah disfungsi pernafasan, yaitu sebanyak 11 orang (47,8%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan kasus maternal near miss di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ini secara tidak langsung menunjukan peningkatan kualitas pelayanan.
ABSTRACT
Maternal near miss cases are used as an evaluation tool to improve the quality of mat