SKRIPSI
AKUNTANSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
PADA PT. AGUNG SUMATERA SAMUDERA ABADI MEDAN
OLEH :
MILDA AGUSTINA
070503030
PROGRAM STUDI STRATA – 1 AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul :
“ Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai pada PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam
konteks penulisan skripsi untuk Program Studi Strata -1 Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Sumber-sumber data dan informasi yang diperoleh, telah dinyatakan dengan jelas,
benar apa adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, Saya
bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh pihak Universitas.
Medan, Mei 2011
Yang Membuat Pernyataan,
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini, yang
merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
Peneliti juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, nasehat serta doa
selama penyusunan skripsi ini dan mengikuti perkuliahan di Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara, terutama kepada :
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Firman Syarif, MSi., Ak., selaku Ketua Program Studi S1
Akuntansi dan Ibu Dra. Mutia Ismail, MM., Ak., selaku Sekretaris S1
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara.
3. Bapak Drs. Arifin Hamzah, MM, Ak., selaku Dosen Pembimbing,
yang telah memberikan bimbingan dan masukan kepada peneliti
sehingga terselesainya skripsi ini.
4. Bapak Drs. Abikusno Dharsuky, MM, Ak., selaku Dosen Penguji I dan
Bapak Drs. Hotmal Jafar, MM, Ak., selaku dosen Penguji II yang telah
5. Keluargaku tersayang, Ayah saya Kasrul Simatupang dan ibu saya
Rahma Sari Panggabean yang telah mengasihi; membimbing;
mendidik dan menyertai saya dalam doa. Terima kasih telah menjadi
orang tua yang begitu luar biasa bagi saya dan kepada Kakak dan
Abang saya yang mendukung dan memotivasi saya. Peneliti menyadari
bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti
mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir
kata semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Mei 2011
Yang Membuat Pernyataan
ABSTRAK
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan ikan. Dalam pemeriksaan pajak, hampir dapat dipastikan bahwa rekonsiliasi omzet penjualan menurut SPT Masa PPN dan SPT PPh Badan ini akan dilakukan oleh pemeriksa sebagai bagian dari prosedur pemeriksaan, sehingga WP dapat memberikan penjelasan kepada pemeriksa pajak atas perbedaan tersebut dan meyakini bahwa omzet yang dilaporkan adalah sudah benar. PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan juga wajib mencatat semua jumlah harga perolehan dan penyerahan BKP terutama untuk menerapkan akuntansi PPN.
Penelitian ini dilakukan pada PT.Agung Sumatera Samudera Abadi Medan yang beralamat di Jl. Seipadang No.58 Medan.Sumber data dalam penelitian ini diambil dari bagian perpajakan dan keuangan serta dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan penelitian. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik penelitian lapangan yaitu wawancara, dokumentasi, dan observasi Metode analisis data digunakan metode deskriptif dan kualitatif .
Dari hasil penelitian akan dapat disimpulkan bahwa perbedaan omzet yang dihasilkan dari faktor-faktor penyebab perbedaan omzet PPN dan PPh yaitu karena perbedaan pengakuan penjualan dan pembuatan faktur pajak. Dan akun PPN yang diterapkan perusahaan telah memadai dengan prinsip-prinsip akuntansi dan peraturan perpajakan , walaupun masih ada hal-hal yang belum dilaksanakan tetapi perusahaan berusaha untuk menyempurnakannya.
ABSTRACT
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan is a company engaged in fish trade. In tax examination , is almost certain that the reconciliation of sales turnover according to Time-SPT of Value Added Tax and SPT of Corporation Income Tax will be carried out by examiner as a part of exanination procedures so the taxpayers can explain the differences to tax examiners, as well as ascertain that the stated turnovers is correct. PT. Agung Sumareta Samudera Abadi Medan that has a duty to record all the price of acquisition and delivery of Taxable Goods to apply the Accounting of Value- Added Tax (VAT).
This research was conducted at PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan is located at Jl. Seipadang No.58 Medan. Sources of data in this study were taken from the taxation and finance as well as other documents related to the research. For data collection, researchers used a technique of field research is an interview, documentation, and observation. The analytical procedure used is descriptive analytical method.
It could be concluded from the research results the turnover differences resulted from causal factors of turnovers differences of Value Added Tax and Income Tax due to the differences of sale admission and making of their tax invoices. And account for VAT which the company has been appropriated with accounting principal and taxation laws, even tough there still other things have not done yet, the company always try to complete.
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN………. i
KATA PENGANTAR………... ii
ABSTRAK……….. iv
ABSTRACT……… v
DAFTAR ISI………... vi
DAFTAR GAMBAR……….. x
DAFTAR TABEL……….. xi
DAFTAR LAMPIRAN……….. xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah……….. 1
B. Perumusan Masalah……… 6
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian……… 7
1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai……… 8
2. Objek Pajak Pertambahan Nilai……… 9
3. Subjek Pajak Pertambahan ……….. 12
4. Dasar Pengenaan Pajak ……….… 13
5. Tarif Pajak Pertambahan Nilai……….. 16
6. Saat Terutangnya Pajak Pertambahan Jasa……… 16
7. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai ……… 19
8. Faktur Pajak……… 21
9. Faktur Pajak Gabungan ………. 22
10. Nota Retur……….………... 25
11. Pajak Masukan dan Pajak Keluaran………. 27
a. Pengkreditan Pajak Masukan……….. 27
b. Ketentuan Pengkreditan Pajak Masukan ……… 29
12. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) ……… 30
13. Tata Cara Penyetoran, Pelaporan dan Penyampaian SPT Masa PPN……….. 32
14. Pengakuan dan Pengukuran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Menurut SAK dan UU Perpajakan…. 34 15. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai……… 39
17. Koreksi Fiskal Pajak Pertambahan Nilai (PPN)…… 45
B. Kerangka Konseptual……….. 47
C. Tinjauan Penelitian Terdahulu………... 48
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian……… 49
B. Jenis Data ……… 49
C. Teknik Pengumpulan Data……….. 50
D. Metode Analisis Data………..… 50
E. Responden ……….. 51
F. Lokasi dan Jadwal Penelitian……….. 51
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Data Penelitian………..…….. 53
1. Sejarah Perkembangan Perusahaan………….….. 53
2. Visi dan Misi Perusahaan... 54
3. Struktur Organisasi Perusahaan………. 54
4. Dasar Pengenaan Pajak (DPP)... 57
5. Mekanisme Pengkreditan Pajak serta SPT Masa PPN... 58
6. Kebijakan Transaksi Pembelian... 59
8. Akuntansi Pajak Penghasilan PT. Agung Sumatera
Samudera Abadi Medan... 61
9. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)... 65
B. Analisia Hasil Penelitian... 68
1. PT.Agung Sumatera Samudera Abadi Sebagai Pengusaha Kena Pajak... 68
2. Faktor Penyebab Timbulnya Perbedaan... 69
3. Dasar Pengenaan Pajak (DPP)... 74
4. Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)... 75
5. Mekanisme Pengkreditan Pajak serta Pelaporan SPT Masa PPN... 75
6. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai... 76
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ………. 79
B. Saran……… 80
DAFTAR PUSTAKA……….…. 81
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 2.1 Pengakuan Pendapatan……….. 35
Tabel 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu…………... 48
Tabel 3.1 Jadwal Penelitian……… 51
Tabel 4.1 Data Pembelian yang Berasal dari Non
DAFTAR LAMPIRAN
No Lampiran Hal
Lampiran 1 : Struktur Organisasi PT. Agung Sumatera Samudera
Abadi Medan…….………. 82
Lampiran 2 : Surat Ijin Riset……… 83
Lampiran 3 : SPT Masa PPN PT. Agung Sumatera Samudera Abadi
Medan……… 84
Lampiran 4 : Neraca PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan….… 85
Lampiran 5 : SPT Tahunan PPh Badan PT. Agung Sumatera
ABSTRAK
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang perdagangan ikan. Dalam pemeriksaan pajak, hampir dapat dipastikan bahwa rekonsiliasi omzet penjualan menurut SPT Masa PPN dan SPT PPh Badan ini akan dilakukan oleh pemeriksa sebagai bagian dari prosedur pemeriksaan, sehingga WP dapat memberikan penjelasan kepada pemeriksa pajak atas perbedaan tersebut dan meyakini bahwa omzet yang dilaporkan adalah sudah benar. PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan juga wajib mencatat semua jumlah harga perolehan dan penyerahan BKP terutama untuk menerapkan akuntansi PPN.
Penelitian ini dilakukan pada PT.Agung Sumatera Samudera Abadi Medan yang beralamat di Jl. Seipadang No.58 Medan.Sumber data dalam penelitian ini diambil dari bagian perpajakan dan keuangan serta dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan penelitian. Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik penelitian lapangan yaitu wawancara, dokumentasi, dan observasi Metode analisis data digunakan metode deskriptif dan kualitatif .
Dari hasil penelitian akan dapat disimpulkan bahwa perbedaan omzet yang dihasilkan dari faktor-faktor penyebab perbedaan omzet PPN dan PPh yaitu karena perbedaan pengakuan penjualan dan pembuatan faktur pajak. Dan akun PPN yang diterapkan perusahaan telah memadai dengan prinsip-prinsip akuntansi dan peraturan perpajakan , walaupun masih ada hal-hal yang belum dilaksanakan tetapi perusahaan berusaha untuk menyempurnakannya.
ABSTRACT
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan is a company engaged in fish trade. In tax examination , is almost certain that the reconciliation of sales turnover according to Time-SPT of Value Added Tax and SPT of Corporation Income Tax will be carried out by examiner as a part of exanination procedures so the taxpayers can explain the differences to tax examiners, as well as ascertain that the stated turnovers is correct. PT. Agung Sumareta Samudera Abadi Medan that has a duty to record all the price of acquisition and delivery of Taxable Goods to apply the Accounting of Value- Added Tax (VAT).
This research was conducted at PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan is located at Jl. Seipadang No.58 Medan. Sources of data in this study were taken from the taxation and finance as well as other documents related to the research. For data collection, researchers used a technique of field research is an interview, documentation, and observation. The analytical procedure used is descriptive analytical method.
It could be concluded from the research results the turnover differences resulted from causal factors of turnovers differences of Value Added Tax and Income Tax due to the differences of sale admission and making of their tax invoices. And account for VAT which the company has been appropriated with accounting principal and taxation laws, even tough there still other things have not done yet, the company always try to complete.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Beragam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan
oleh negara melalui pembangunan nasional.Pembangunan nasional merupakan
kegiatan yang terus berlangsung dan berkesinambungan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Untuk melaksanakan pembangunan nasional dalam
membiayai berbagai keperluannya pemerintah membutuhkan dana yang tidak
sedikit. Dana pembangunan tersebut salah satunya diperoleh dari penerimaan
sektor pajak.
Salah satu jenis pajak yang merupakan sumber penerimaan negara adalah
Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang menggantikan Pajak Penjualan (PPn) sejak
1 April 1985 yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.11 Tahun 1994 dan
Undang-Undang No.18 Tahun 2000 tentang PPN dan PPnBM. Kemudian berubah
lagi dengan disahkannya Undang-Undang Baru yaitu UU PPN No. 42 thn 2009
dan mulai berlaku tanggal 1 April 2010. Dasar pemikiran pengenaan pajak ini
pada dasarnya adalah untuk mengenakan pajak pada tingkat kemampuan
masyarakat untuk berkonsumsi, yang pengenaannya dilakukan secara tidak
Pajak pertambahan nilai adalah pajak yang dikenakan atas penyerahan Barang
Kena Pajak (BKP) ataupun Jasa Kena Pajak (JKP) didalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh pengusaha pajak ini memiliki ciri khas, yaitu mempunyai nilai
tambah.
Pajak Pertambahan Nilai lebih dikenal dengan sebutan pajak atas konsumsi
(tax on consumption).Sesuai ketentuan perpajakan yang ada, sistem pemungutan
pajak yang dianut di Indonesia adalah self assessment yaitu masyarakat
mendaftarkan diri sebagai wajib pajak selanjutnya menghitung, menyetor dan
melaporkan sendiri pajak yang terutang.
Sistem pemungutan pajak yang bersifat self assessment berpengaruh pada
sistem PPN yang dianut di Indonesia yaitu metode pengkreditan atau pembayaran.
Jadi Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar atau yang lebih bayar dihitung
sendiri dengan menggunakan mekanisme pengkreditan pajak masukan terhadap
pajak keluaran. Pajak Masukan merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang
seharusnya sudah dibayar Pengusaha Kena Pajak (PKP) karena perolehan Barang
Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam daerah pabean dan atau
pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean dan atau pemanfaatan
JKP dari luar daerah pabean. Sedangkan Pajak Keluaran adalah Pajak
Pertambahan Nilai yang terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak
yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak
atau ekspor Barang Kena Pajak.
PPN tersebut kurang bayar. Jadi kurang bayar tersebut sebagai Wajib Pajak harus
menyetorkannya ke Kas Negara. Sebaliknya apabila ternyata Pajak Masukan lebih
besar daripada Pajak Keluaran, yang terjadi adalah PPN tersebut lebih bayar.
Lebih bayar tersebut dapat dimintakan kembali dalam bentuk uang (restitusi) atau
dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya.
Pajak Pertambahan Nilai dilaksanakan berdasarkan sistem faktur, sehingga
atas penyerahan barang dan atau penyerahan jasa wajib dibuat faktur pajak
sebagai bukti transaksi penyerahan barang atau jasa.Hal ini merupakan ciri khas
dari Pajak Pertambahan Nilai, karena faktur pajak merupakan bukti pungutan
pajak yang bagi pengusaha yang dipungut pajak dapat dikreditkan dengan jumlah
pajak yang terutang.
Permasalahan yang timbul dalam perhitungan PPN baik yang kurang bayar
maupun yang lebih bayar adalah ketidaktahuan Wajib Pajak dalam menghitung
dasar pengenaan pajak, ada beberapa tagihan yang seharusnya dikenakan PPN
tetapi tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai nya, membandingkan antara Pajak
Masukan yang merupakan kredit pajak dengan Pajak Keluaran yang merupakan
hutang pajak, atau perhitungan tidak disesuaikan dengan perundang-undangan
yang berlaku. Selanjutnya dalam pembuatan faktur pajak dapat dibuat pada akhir
bulan setelah bulan penyerahan BKP/JKP.Pada saat penyerahan BKP/JKP,
PPN-nya belum terutang sehingga belum dicatat dan yang dilaporkan dalam SPT Masa
hanya yang terhitung saja.
Dalam pelaporan SPT Masa PPN dan SPT PPh Badan, wajib pajak sebaiknya
dipungut PPN nya sesuai dengan peraturan yang berlaku , karena dalam sebuah
pemeriksaana pajak, hampir dapat dipastikan bahwa rekonsiliasi ini akan
dilakukan oleh pemeriksa sebagai bagian dari prosedur pemeriksaan. Terlebih
pemeriksaan pajak yang dilakukan terhadap pemeriksaan perusahaan besar yang
unit bisnisnya banyak dan jumlah datanya pun juga sangat banyak dan
beragam.Kepentingan pemeriksa sebenarnya adalah untuk meyakini bahwa Wajib
Pajak telah mentaati aturan perpajakan yang berkaitan dengan PPh dan PPN, serta
meyakini bahwa omset yang dilaporkan adalah sudah benar.
Wajib Pajak seringkali tidak memahami rekonsiliasi omset penjualan menurut
PPN dengan PPh merupakan suatu hal yang sangat penting.Rekonsiliasi bisa
menjadi petunjuk bahwa kewajiban penyampaian SPT Masa PPN dan SPT
Tahunan Pajak Penghasilan Badan sudah dilakukan dengan benar. Rekonsiliasi
juga menjadi alat control bagi manajemen sebagai penunjang agar seluruh
kewajiban menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakan
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Idealnya rekonsiliasi tersebut
dilakukan setiap bulan, sehingga bila terjadi perbedaan dapat dengan mudah
ditelusuri apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan tersebut. Dengan demikian
PKP dapat menghindari sanksi pajak yang dikenakan bila terdapat selisih.
Sebenarnya sebuah rekonsiliasi bukan untuk menghasilakan angka atau nilai
yang sama, akan tetapi lebih ditekankan pada penjelasan tentang berbagai
perbedaan yang timbul. Demikian juga dalam rekonsiliasi omset SPT Masa PPN
harus sama dengan nilai total penyerahan menurut SPT PPN, akan tetapi segala
perbedaan yang timbul harus dapat ditelusuri dan di jelaskan.
PT. Agung Sumatera Samudera Abadi adalah sebuah perusahaan dagang
yang bergerak dalam perdagangan ikan.Pada umumnya sebagian besar
penghasilan perusahaan ini diperoleh dari penjualan ikan secara langsung maupun
tidak langsung kepada konsumen akhir secara ritel maupun eceran. Juga
melakukan pembelian ikan secara langsung dari PKP maupun non PKP dalam
jumlah yang cukup besar kemudian menjualnya lagi kepada konsumen akhir.
Dalam satu tahun buku, peredaran bruto yang dicapai oleh PT. Agung Sumatera
Samudera Abadi telah melebihi Rp 600.000.000.Dengan demikian PT.Agung
Sumatera Samudera Abadi tergolong sebagai Pengusaha Kena Pajak yang wajib
membayar PPN yang terutang ke kas Negara.
Setiap pemungutan PPN, perusahaan wajib membuat Faktur Pajak yang
dinamakan dengan “Faktur Pajak Keluaran”. Dalam menghitung PPN yang
terutang, PKP menggunakan mekanisme PPN Keluaran dan PPN Masukan.
Sedangkan tarif yang umumnya digunakan adalah tarif 10%. PKP menggunakan
mekanisme PPN Keluaran dan PPN Masukan tersebut, maka perusahaan
memisahkan mana pajak keluarannya dan mana menjadi pajak masukannya
berdasarkan aktivitas pembelian dan penjualan oleh pihak perusahaan.
Pengusaha Kena Pajak setiap bulan wajib menghitung jumlah pajak yang
terutang dalam satu Masa Pajak, yang jangka waktunya sama dengan satu bulan
takwim. Dalam mekanisme penghitungannya, PKP menghitung selisih antara
jumlah Pajak Keluarannya lebih besar daripada jumlah Pajak Masukan, PKP
wajib menyetorkan selisihnya ke Kas Negara.sebaliknya apabila ternyata jumlah
Pajak Keluaran lebih kecil daripada jumlah Pajak Masukan maka PKP berhak
untuk memperoleh pengembalian atau dikompensasikan dengan utang pajak
dalam Masa Pajak berikutnya. Seluruh kegiatan penghitungan dan penyetoran ini
dilaporkan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat usaha PKP yang
bersangkutan.
Akibat dari banyaknya transaksi yang dilakukan PT. Agung Sumatera
Samudera Abadi dalam aktivitas pembelian dan penjualannya sehingga pelaporan
omzet menurut SPT PPh dengan total nilai penyerahan menurut SPT PPN banyak
mengalami perbedaan, hal ini mengakibatkan terjadinya kurang bayat PPN, maka
dalam hal ini perusahaan harus bisa menyesuaikan dan menjelaskan penyebab
terjadinya perbedaan hasil omzet SPT PPh dan SPT PPN. Hal inilah yang dirasa
cukup menyulitkan bagi pihak perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk membuat suatu karya
ilmiah yang berjudul “Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai pada PT. Agung
Sumatera Samudera Abadi Medan ”.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka untuk mempermudah penulis
1. Faktor – faktor apa sajakah yang mempengaruhi perbedaan nilai
penyerahan PPN dengan PPh Badan pada PT. Agung Sumatera
Samudera Abadi Medan?
2. Apakah akuntansi Pajak Pertambahan Nilai pada PT. Agung Sumatera
Samudera Abadi Medan sudah diterapkan.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui factor- factor yang dapat mempengaruhi
perbedaan nilai penyerahan PPN dengan PPh Badan pada PT. Agung
Sumatera Samudera Abadi Medan.
b. Untuk mengetahui mengenai penerapan akuntansi Pajak Pertambahan
Nilai pada PT. Agung Sumatera Samudera Abadi Medan.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Penulis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan
tentang masalah yang diteliti, yaitu bagaimana penerapan akuntansi
pajak pertambahan nilai.
b. Bagi Perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi maupun masukan untuk perusahaan sekaligus membantu
memecahkan masalah yang berhubungan dengan penerapan akuntansi
c. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi
dan wawasan serta dapat sebagai referensi bagi peneliti lain di masa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai
Dalam Undang-Undang PPN No. 42 Tahun 2009 tentang Pajak
Pertambahan Nilai tidak terdapat defenisi mengenai Pajak Pertambahan Nilai dan
Pajak Penjualan atas Barang Mewah, sehingga setiap orang dapat secara bebas
memberikan defenisi mengenai pajak tersebut.
Pajak Pertambahan Nilai menurut Sukardji (2006:270) adalah “pengenaan
pajak atas pengeluaran untuk konsumsi baik yang dilakukan perseorangan
maupun badan baik baik badan swasta maupun badan pemerintah dalam bentuk
belanja barang atau jasa yang dibebankan pada anggaran belanja negara”.
Berdasarkan objek yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah
konsumsi barang dan jasa, maka Pajak Pertambahan Nilai secara bebas dapat
diartikan pajak yang dikenakan atas pertambahan nilai suatu barang atau
jasa.Secara matematis pertambahan nilai atau nilai tambah suatu barang atau jasa
dapat dihitung dari nilai/harga penjualan dikurangi nilai/harga pembelian,
sehingga salah satu unsur pertambahan nilai atau nilai tambah suatu barang atau
jasa adalah laba yang diharapkan.
a. Barang Kena Pajak (BKP)
BKP adalah barang berwujud yang menurut sifat atau hukumnya dapat
berupabarang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang tidak
berwujud yang dikenai PPN.
Penyerahan barang dapat dikenakan PPN bila memenuhi unsur:
1) Penyerahan BKP
2) Penyerahan JKP
3) Daerah Pabean
4) Kegiatan Usaha atau pekerjaan
5) Yang melakukan harus PKP
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dikenakan atas:
1) Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha.
2) Impor Barang Kena Pajak.
3) Penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha.
4)Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah
Pabean didalam Daerah pabean.
5)Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean
6)Ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
7) Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan
usaha/ pekerjaan oleh orang pribadi/ badan yang hasilnya digunakan
8)Penyerahan aktiva oleh PKP yang menurut tujuan semula aktiva tersebut
tidak digunakan untuk diperjualbelikan, sepanjang PPN yang dibayar
pada saat perolehannya dapat dikreditkan.
b. Barang Tidak Kena Pajak (Non BKP) :
1) Barang hasil pertambangan atau hasil hasil pengeboran yang
diambil langsung dari sumbernya:
- Minyak Mentah (Crude Oil)
- Gas bumi, panas bumi
- Pasir & kerikil
- Batubara sebelum diprosesmenjadi briket
- Bijig besi, biji timah, bijih emas, bijih nikel,bijih tembaga, bijih
perak & biji bauksit
2) Barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan rakyat banyak:
- Beras, gabah
- Jagung
- Sagu
- Kedelai
- Garam
3) Makanan dan minuman yang disediakan di hotel, restoran, rumah
makan, warung & sejenisnya bukan catering
4) Uang, emas batangan, surat berharga.
JKP adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau
perbuatan hukum yang menyebabkansuatu barang atau fasilitas atau
kemudahan atau hak tersediauntuk dipakai, temasuk jasa yang
dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan
dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan.
d. Jasa Tidak Kena Pajak (Non JKP)
Berdasarkan Pasal 4A ayat (3) UU PPN 1984 yang dijabarkan lebih
lanjut dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 16 Peraturan Pemerintah
Nomor 144 Tahun 2000 dtetapkan jenis jasa yang tidak dikenakan PPN
sebagai berikut:
1) Jasa di bidang pelayanan kesehatan medic 2) Jasa di bidang pelayanan social
3) Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko
4) Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi
5) Jasa di bidang keagamaan
6) Jasa di bidang pendidikan baik pendidikan sekolah maupun penyelenggaraan pendidikan luar sekolah
7) Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang sudah dikenakan Pajak Tontonan
8) Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan 9) Jasa di bidang angkutan umum
10) Jasa di bidang tenga kerja 11) Jasa di bidang perhotelan
12) Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum
3. Subjek Pajak Pertambahan Nilai a. Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Pengusaha adalah orang atau badan yang dalm kegiatan usaha atau
1) Menghasilkan barang
2) Mengimpor barang
3) Mengekspor barang
4) Melakukan usaha perdagangan
5) Memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean
6) Melakukan usaha jasa
7) Memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean
Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak ,
tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan
Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak.
b. Pengusaha Kecil
Kriteria Pengusa Kecil yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 552/KMK.04/2000 tanggal 22 Desember 2000 diubah dengan keputusan
Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.03/2003 tanggal 29 Desember 2003.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan ini Pengusaha Kecil sebagai berikut:
1) Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang menyerahkan BKP dan atau JKP dalam satu tahun buku memeperoleh jumlah peredaran bruto atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah)
untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak selambat-lambatya pada akhir bulan berikutnya.
3) Dalam hal kewajiban pelaporan usaha dimaksud dilaksanakan tidak tepat waktu, maka saat pengukuhan adalah awal bulan berikutnya setelah akhir bulan seharusnya kewajiban pelaporan usaha dilakukan. 4) Dalam hal pengukuhan sebagai PKP dilakukan secara jabatan, maka
saat pengukuhan tetap pada awal bulan berikutnya setelah batas akhir bulan seharusnya kewajiban pelaporan usaha dilakukan.
c. Bukan Pengusaha Kena Pajak (Non PKP)
1) Siapapun yang mengimpor BKP (Ps. 4 huruf b UU PPN)
2) Siapapun yang memanfaatkan BKP tidak berwujud/ JKP dari luar
daerah pabean di dalam daerah pabean (ps. 4 huruf d,e UU PPN)
3) Siapapun yang membangun sendiri tidak dalam lingkungan perusahaan
atau pekerjaannya (Ps. 16 UU PPN)
4. Dasar Pengenaan Pajak
Menurut Soemarso (2007:547) untuk menghitung besarnya pajak yang
terutang adalah “ adanya dasar pengenaan pajak (DPP)”. Pajak yang terutang
dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak.
Atau dengan rumus:
Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual atau Penggantian atau Nilai
Impor atau Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan
terutang. Selanjutnya yang dimaksud dengan Harga Jual, Penggantian, Nilai
Ekspor, dan Nilai Impor adalah:
c. harga jual, ialah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP/JKP, tidak
termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut
Undang-Undang PPN dan PPnBM dan potongan harga yang dicantum dalam
faktur pajak.
d. penggantian, ialah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan JKP, tidak
termasuk pajak yang dipungut menurut undang-undang ini dan potongan
harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.
e. nilai ekspor, ialah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau yang seharusnya diminta oleh eksportir. Nilai Ekspor dapat
diketahui dari dokumen ekspor, misalnya harga yang tercantum dalam
Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).
f. nilai impor, ialah berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea
masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan pabean untuk Impor Barang Kena
Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut
Undang-Undang PPN dan PPnBM.
g. Nilai lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan
Pajak dengan Keputusan Menteri Keuangan. Nilai lain yang ditetapkan
- Pemakaian sendiri/ pemberian Cuma-Cuma BKP/JKP adalah
harga jual/ penggantian dikurangi laba kotor;
- Rekaman suara atau rekaman suara dan gambar adalah harga
jual rata-rata
- Film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film
- Persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan adalah harga pasar wajar
- Aktiva yang menurut tujuannsemula tidak untuk
diperjualbelikan yang masih ada pada saat pembubaran
perusahaan sepanjang PPN yang dibayar atas perolehannya
dapat dikreditkan adalah harga pasar wajar
- Kendaraan bermotor bekas adalah 10% x Harga Jual
- Jasa biro perjalanan/ jasa biro pariwisata adalah 10% x jumlah
tagihan/ seharusnya ditagih
- Jasa pengiriman paket adalah 10% x jumlah tagihan/
seharusnya ditagih
- Jasa anjak piutang adalah 5% x (service charge, provisi,
diskon)
- Penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan sebaliknya dan antar
cabang adalah harga jual dikurangi laba kotor
- Penyerahan BKP kepada pedagang perantara atau melalui juru
5. Tarif Pajak Pertambahan Nilai
a. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% (sepuluh persen).
Tarif Pajak Pertambahan Nilai yang berlaku atas penyerahan BKP/JKP
adalah tarif tunggal, sehingga mudah dalam pelaksanaannya dan tidak
memerlukan daftar penggolongan barang atau penggolongan jasa dengan tarif
yang berbeda sebagaimana berlaku pada Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Pasal 7 ayat (1) UU PPN 1984 diubah dengan UU Nomor 42 Tahun 2009
sebagai penyesuain dengan perluasan objek PPN yang diatur dalam pasal 4 ayat
(1) sehingga menjadi sebagai berikut:
B. tarif PPN adalah 10%
C. tarif PPN sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas:
- ekspor BKP Berwujud
- ekspor BKP Tidak Berwujud
- ekspor JKP
Adapun Pasal 7 ayat (2) tetap menetukan bahwa dengan Peraturan
Pemerintah tariff PPN tersebut dapat dinaikkan paling tinggi 15% atau
diturunkan paling rendah 5%.
6. Saat Terutangnya Pajak Pertambahan Nilai
Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai pada dasarnya menganut prinsip
akrual, artinya terutangnya pajak terjadi pada saat penyerahan BKP/JKP atau pada
saat impor barang kena pajak, meskipun atas penyerahan tersebut belum atau
sebelum penyerahan barang kena pajak atau penyerahan jasa kena pajak, maka
terutangnya pajak terjadi pada saat penerimaan pembayaran.Secara lebih rinci,
terutangnya pajak sebagai berikut:
a. terutangnya pajak atas penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat
atau hukumnya merupakan barang bergerak terjadi pada saat barang kena
pajak tersebut diserahkan secara langsung kepada pembeli atau pihak
ketiga untuk dan atas nama pembeli, atau pada saat BKP diserahkan
kepada juru kirim atau pengusaha jasa angkutan,
b. terutangnya pajak atas penyerahan BKP berwujud yang menurut sifat
atau hukumnya merupakan barang tidak bergerak, terjadi pada saat
penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai BKP tersebut, baik
secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli,
c. terutangnya pajak atas penyerahan BKP tidak berwujud oleh Pengusaha
Kena Pajak, adalah pada saat yang terjadi lebih dahulu dari
peristiwa-peristiwa dibawah ini:
1) saat harga penyerahan barang kena pajak tidak berwujud
dinyatakan sebagai piutang oleh Pengusaha Kena Pajak,
2) saat harga penyerahan barang kena pajak tidak berwujud ditagih
oleh Pengusaha Kena Pajak,
3) saat harga penyerahan barang kena pajak tidak berwujud diterima
pembayarannya, baik sebagian atau seluruhnya oleh Pengusaha
4) saat ditandatanganinya kontrak atau perjanjian oleh Pengusaha
Kena Pajak, dalam hal saat-saat sebagaimana dimaksud dalam
huruf a sampai dengan huruf c tidak diketahui.
d. terutangnya pajak atas penyerahan JKP, terjadi pada saat mulai
tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik
sebagian atau seluruhnya.
e. terutangnya pajak atas impor BKP, terjadi pada saat BKP tersebut
dimasukkan ke dalam daerah pabean. Terutangnya pajak atas ekspor
BKP, terjadi pada saat BKP tersebut dikeluarkan dari daerah pabean.
f. terutangnya pajak atas aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan dan atas persediaan BKP yang masih tersisa pada saat
pembubaran perusahaan, terjadi pada:
1) saat ditandatanganinya akta pembubaran,
2) saat diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah
tidak melakukan kegiatan usaha atau sudah dibubarkan,
berdasarkan hasil pemeriksaan,
3) saat diketahuinya bahwa perusahaan tersebut telah bubar
berdasarkan data atau dokumen yang ada.
g. terutangnya pajak atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari
luar daerah pabean adalah pada saat orang pribadi atau badan tersebut
mulai memanfaatkan BKP tidak berwujud atau JKP di dalam daerah
luar daerah pabean oleh orng pribadi atau badan di dalam daerah pabean
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
7. Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai
Mekanisme PPN menurut Muljono dan Tunggal ( 2007 ) sebagai berikut :
a. setiap PKP menyerahkan BKP / JKP diwajibkan membuat faktur pajak
untuk memungut pajak yang terutang. Pajak yang dipungut dinamakan
Pajak Keluaran,
b. pada saat Pengusaha Kena Pajak tersebut di atas membeli BKP atau
menerima JKP dari Pengusaha Kena Pajak lain, juga membayar pajak
yang terutang, yang dinamakan Pajak Masukan,
c. pada akhir masa pajak, Pajak Masukan tersebut dikreditkan dengan Pajak
Keluaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal jumlah Pajak
Keluaran lebih besar daripada jumlah Pajak Masukan, maka
kekurangannya dibayar ke Kas Negara selambat-lambatnya tanggal 15
bulan berikutnya,
d. pada akhir masa pajak, setiap Pengusaha Kena Pajak diwajibkan untuk
melaporkan pemungutan dan pembayaran pajak yang terutang kepada
Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat selambat-lambatnya tanggal 20
setelah akhir masa pajak.
Menurut Sukardji, Untung (2010:19) mekanisme PPN di Indonesia dapat
1) Pengusaha Kena Pajak (PKP) A menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) kepada PKP B dengan Harga jual Rp 1.000.000,00. Atas penyerahan ini terutang PPN sebesar = 10% x Rp 1.000.000,00 = Rp 100.000,00 dan wajib dipungut oleh PKP A. Pemungutan PPN dilakukan dengan cara membuat Faktur Pajak. Sehubungan dengan itu, PKP A membuat dan menyerahkan Faktur Pajak dengan PPN sebesar Rp 100.000,00 kepada PKP B.
2) Karena PKP B yang menerima Faktur Pajak dengan nilai PPN sebesar Rp 100.000,00, PKP B selaku pembeli BKP akan membayar Rp 1.000.000,00 ditambah PPN sebesar Rp 100.000,00 kepada PKP A selaku penjual.
3) BKP dimaksud oleh PKP B diserahkan lebih lanjut kepada PKP C. Kali ini, PKP B berstatus sebagai penjual BKP, sedangkan PKP C selaku pembeli. Harga jual tidak lagi Rp 1.000.000,00 melainkan Rp 1.200.000,00. Atas penyerahan ini terutang PPN sebesar 10% x Rp 1.200.000,00 = Rp 120.000,00, dan wajib dipungut oleh PKP B. seperti yang dilakukan oleh PKP A, untuk memungut PPN ini PKP B membuat dan menyerahkan Faktur Pajak dengan nilai PPN Rp 120.000,00 kepada PKP C.
4) Karena menerima Faktur Pajak dengan nilai PPN sebesar Rp 120.000,00, selaku pembeli, PKP C membayar harga BKP Rp 1.200.000,00 ditambah dengan PPN sebesar Rp 120.000,00.
5) PPN sebesar Rp 100.000,00 yang dipungut oleh PKP A, dalam UU PPN 1984 disebut “Pajak Keluaran”, sedangkan bagi PKP B selaku pembeli membayar PPN tersebut dinamakna “Pajak Masukan”.
Demikian pula halnya, PPN sebesar Rp 120.000,00 yang dipungut oleh PKP B dinamakan “Pajak Keluaran”,sedangkan bagi PKP C selaku pembeli yang membayar PPN tersebut dinamakan “Pajak Masukan” 6) Pada akhir bulan (sebenarnya lebih tepat pada awal bulan berikutnya),
PKP B memperhitungkan Pajak Masukan sebesar Rp 100.000,00 dengan Pajak Keluaran sebesar Rp 120.000,00. Hasilnya, diperoleh selisih lebih banyak Pajak Keluaran sebesar Rp 20.000,00 yang wajib disetorkan ke kas Negara melalui bank penerima pembayaran pajak. Memperhitungkan (mengurangkan) Pajak Masukan dengan Pajak Keluran ini, dalam mekanisme PPN berdasarkan UU PPN 1984 dinamakan “pengkreditan Pajak Masukan.” Jadi mengkreditkan Pajak Masukan mengandung pengertian mengurangkan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran
1. Defenisi Faktur Pajak
Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena
Pajak yang melakukan penyerahan BKP /JKP atau bukti pungutan pajak karena
impor barang kena pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
(Pasal 1 angka 23 UU PPN Tahun 2000). Dalam Faktur Pajak harus dicantumkan
keterangan tentang penyerahan BKP dan/ atau penyerahan JKP yang paling
sedikit memuat:
- Nama, alamat, dan Nomor Wajib Pajak yang menyerahkan
BKP atau JKP
- Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib pembeli BKP atau
penerima JKP
- Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau penggantian, dan
potongan harga
- Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut
- Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut
- Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak, dan
- Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur
Pajak
Pengusaha Kena Pajak wajib membuat faktur pajak untuk setiap
penyerahan BKP / JKP yang dilakukan di dalam daerah pabean. Pembuatan faktur
pajak bersifat wajib bagi setiap Pengusaha Kena Pajak, karena faktur pajak adalah
bukti yang menjadi sarana pelaksanaan cara kerja (mekanisme) pengkreditan
Faktur pajak hanya boleh dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak.Oleh karena
itu, bagi orang pribadi dan badan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak dilarang membuat faktur pajak.Larangan membuat faktur pajak oleh bukan
Pengusaha Kena Pajak dimaksudkan untuk melindungi pembeli dari pemungutan
pajak yang tidak semestinya.Namun demikian, apabila faktur pajak telah dibuat
oleh orang pribadi atau badan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena
Pajak tersebut, jumlah pajak yang tercantum dalam faktur pajak harus disetorkan
ke Kas Negara.
9. Faktu
Pengusaha Kena
penyerahan yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena
penerima Jasa Kena
disebut dengan Faktur
Faktur
Barang Kena
Beberapa hal berkenaan dengan penerbitan Faktur Pajak diberikan
kemudahan, kesederhanaan dan kepastian hukum dalam UU PPN no.42 Th 2009
yaitu:
1. Hanya akan dikenal satu jenis Faktur Pajak dan tidak ada lagi Faktur Pajak Standar dan Faktur Pajak Sederhana.
Dalam rangka meringankan beban administrasi Wajib Pajak maka saat
pembuatan Faktur Pajak adalah pada saat terutangnya pajak, yaitu pada saat
penyerahan, atau dalam hal pembayaran mendahului penyerahan maka Faktur
Pajak dibuat pada saat pembayaran. Dengan pengaturan ini, Wajib Pajak tidak
perlu lagi membuat faktur penjualan (invoice) yang berbeda dengan Faktur Pajak.
Pembuatan Faktur Pajak dibuat pada (Pasal 13 ayat (1a) :
• Saat penyerahan BKP/JKP
• Saat penerimaan pembayaran (dalam hal pembayaran terjadi
sebelum penyerahan)
• Saat penerimaan pembayaran termin (dalam hal penyerahan
sebagian tahap pekerjaan)
• Saat lain yang diatur atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan.
a. Berdasarkan UU PPN no.42 Th 2009, ada beberapa syarat untuk
kelengkapan Faktur Pajak yaitu sebagai berikut :
• Faktur Pajak harus diisi dengan lengkap, jelas dan benar sesuai
Pasal 13 ayat 5 UU PPN apabila tidak merupakan Faktur Pajak
Cacat
• Faktur pajak Penjualan yang memuat keterangan sesuai Pasal 13
• PPN yang tercantum dalam FP cacat tidak dapat dikreditkan, dan
PKP penerbit dikenakan sanksi administrasi Pasal 14 ayat 4 UU
KUP.
b. Faktur Pajak Pengganti, Hilang dan Batal
Yang dapat dilakukan apabila Faktur Pajak :
• Faktur pajak yang cacat, rusak, salah dalam pengisian maupun
penulisan dapat diganti dengan cara menerbitkan Faktur Pajak
pengganti
• Apabila FP hilang, maka dapat dibuat copy FP tsb dan di stempel
KPP (legalisir)
• Apabila terjadi pembatalan transaksi sedangkan FP telah terbit,
maka atas FP tersebut harus dibatalkan oleh PKP yang
menerbitkan FP
c. Pejabat/ Kuasa yang menandatangani Faktur Pajak
Adapun Pejabat/Kuasa yang berhak menandatangani Faktur Pajak
adalah sebagai berikut :
• WP harus menyampaikan surat pemberitahuan nama
pejabat/kuasa yang ditunjuk untuk menandatangani
• Apabila surat tersebut tidak disampaikan/terlambat disampaikan
d. Penomoran Faktur Pajak
Pengusaha kena pajak harus menerbitkan faktur pajak dengan
menggunakan Kode dan nomor seri faktur pajak.Apabila terjadi kesalahan
pengisian kode dan nomor seri FP, maka FP yang diterbitkan merupakan FP cacat.
Format penomoran :
- 2 digit kode transksi
- 1 digit kode status
- 3 digit kode cabang
- 2 digit tahun penerbitan
- 8 digit nomor urut
Contoh : 010.000-10.00000025
Artinya : penyerahan kepada selain pemungut PPN, faktur pajak normal (bukan
pengganti), diterbitkan di tahun 2010 dengan nomor urut 25.
Khusus untuk PKP Eceran (PKP PE) diberikan kemudahan untuk menggunakan
nomor sendiri yang dapat berupa nomor invoice atau nomor struk penjualan
sebagaimana telah dipergunakaan saat ini, sampai dengan tanggal 31 Desember
2010. Mulai 1 Januari 2011 wajib melakukan penomoran faktur pajak sesuai
10. Nota Retur
Nota Retur adalah Nota yang dibuat oleh penerima barang kena pajak karena
adanya pengembalian barang kena pajak yang dibeli/diterima.Dalam terjadi
pengembalian barang kena pajak, maka pembeli harus membuat dan
menyampaikan nota retur kepada Pengusaha Kena Pajak Penjual. Nota retur
tersebut harus dibuat dalam masa pajak yang sama dengan masa pajak terjadinya
pengembalian barang kena pajak. Namun atas pengembalian barang kena pajak
yang kemudian diganti dengan barang kena pajak yang sama, baik dalam jumlah
fisik, jenis, maupun harganya oleh Pengusaha Kena Pajak atau yang menghasilkan
dan menyerahkan barang kena pajak tersebut, dapat tidak dibuat nota retur. Nota
retur mengurangkan Pajak Keluaran bagi PKP penjual sedangkan bagi PKP
pembeli mengurangkan Pajak Masukan. Nota retur sekurang-kurangnya harus
mencantumkan:
a. nomor urut,
b.nomor dan tanggal faktur pajak dari barang kena pajak yang
dikembalikan,
c. nama, alamat, dan NPWP pembeli,
d. nama, alamat, NPWP, serta tanggal pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
yang menerbitkan faktur Pajak,
dikembalikan,
f. pajak pertambahan nilai atas BKP yang dikembalikan,
g. pajak Penjualan atas Barang Mewah atas barang kena pajak yang
tergolong mewah yang dikembalikan,
h. tanggal pembuatan nota retur,
i. tanda tangan pembeli
11. Pajak Masukan dan Pajak Keluaran
Pajak Masukan Menurut Muljono ( 2008 : 61 ) adalah Pajak Pertambahan
Nilai yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak yang berkaitan
dengan : perolehan BKP, penerimaan JKP, pemanfaatan BKP tidak berwujud dari
luar daerah pabean, pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean, dan impor BKP.
Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai yang terutang yang wajib
dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan BKP,
Penyerahan JKP, atau ekspor BKP.PPN Masukan dan PPN Keluaran dihitung
dengan mempergunakan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 7
Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 dari Dasar Pengenaan Pajak. Dasar Pengenaan Pajak
PPN adalah : harga jual, nilai pergantian, nilai impor, atau nilai lain.
a. Pengkreditan Pajak Masukan
Pengkreditan pajak masukan harus memperhatikan hal-hal sebagai
a. pajak masukan dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan
pajak keluaran untuk masa pajak yang sama,
b. dalam hal belum ada pajak keluaran dalam suatu masa pajak,
maka pajak masukan tetap dapat dikreditkan,
c. apabila dalam suatu masa, PKP selain melakukan penyerahan
yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak
terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang
pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, maka
jumlah pajak keluaran yang dapat dikreditkan adalah pajak
masukan yang berkenaan dengan penyerahan terutang pajak,
d. apabila dalam suatu pajak, PKP selain melakukan penyerahan
terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang
pajak, sedangkan pajak masukan untuk penyerahan yang
terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah
pajak masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang
terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang
diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan,
e. besarnya pajak masukan yang dapat dikreditkan oleh
pengusaha yang dikenakan Pajak Penghasilan dengan
menggunakan Norma Perhitungan Penghasilan Neto
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 17
menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan yang
ditetapkan Menteri Keuangan,
f. pajak masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan
dengan pajak keluaran pada masa pajak yang sama, dapat
dikreditkan pada masa pajak berikutnya, selambat-lambatntya 3
bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan
sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum
dilakukan pemeriksaan.
b. Ketentuan Pengkreditan Pajak Masukan
Dengan UU Nomor 42 Tahun 2009 (Sukardji, 2010:157) , ketentuan
pengkreditan Pajak Masukan sebagai berikut:
i. Bagi PKP yang belum berproduksi sehingga belum melakukan
penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan
dan/ atau impor barang modal dapat dikreditkan.
ii. Pajak Masukan bagi PKP yang gagal berproduksi
Pasal 9 ayat (2a) : “Pajak Masukan yang telah dikreditkan dan telah
diberikan pengembalian wajib dibayar kembali oleh Pengusaha
Kena Pajak dalam hal PKP tersebut mengalami gagal berproduksi
dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak Masa Pajak
pengkreditan Pajak Masukan dimulai.”
iii. Saat PKP menggunakan hak untuk memperoleh kembali kelebihan
Berdasarkan Pasal 9 ayat (4), dalam hal Pajak Masukan lebih besar
daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak
yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.
iv. Criteria Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan:
- Perolehan BKP dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa
sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau
disewakan;
- Perolehan BKP atau JKP yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi
ketentuan atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor
Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima JKP;
- Perolehan BKP selain barang modal atau JKP sebelum BKP
berproduksi
v. Pengkreditan Pajak Masukan sehubungan dengan pengalihan BKP
dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan
pengambilalihan usaha.
vi. Pengembalian PPN atau PPN dan PPnBM yang telah dibayar oleh
orang pribadi pemegang paspor Negara lain (Pasal 16E,UU PPN No.9
th 2009)
12.Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) Surat Pemberitahuan Masa (SPT) menurut Waluyo (2006: 239) adalah “surat
yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan atau
Dalam sistem Self Assessment, SPT Masa PPN berfungsi sebagai sarana bagi
Pengusaha kena Pajak untuk mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah PPN
atau PPN dan PPnBM yang terutang.
a. pengkreditan Pajak Masukan (PM) terhadap pajak Keluaran(PK),
b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri
dan/atau melalui pihak lain dalam suatu Masa Pajak.
Setiap Pengusaha Kena Pajak wajib mengisi dan menyampaiakan Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dengan benar, lengkap dan jelas
serta menandatanganinya. Yang dimaksud dengan mengisi Surat Pemberitahuan
adalah mengisi formulir Surat Pemberitahuan, dalam bentuk kertas dan/atau
dalam bentuk elektronik, dengan benar, lengkap, dan jelas sesuai dengan petunjuk
pengisian yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan. Sementara itu, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam
mengisi Surat Pemberitahuan adalah:
a. benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam
penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan,
dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,
b. lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan
objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam surat
pemberitahuan,
c. jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan
Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 18 tahun
2000, UU Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan UU Nomor 28 tahun
2007.
Aturan pelaksanaannya terakhir diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-146/PJ./2006 tentang bentuk, isi, dan Tata Cara Penyampaian
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN) dan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-147/PJ./2006 tentang Bentuk, Isi,
dan Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
Bagi Pemungut PPN, maka dikenal 2 (dua) SPT Masa PPN, Yaitu :
a. SPT Masa PPN bentuk formulir 1107, yang wajib digunakan bagi
semua PKP dan mulai berlaku sejak Masa Pajak Januari 2007.
b. SPT Masa PPN Bagi Pemungut PPN bentuk formulir 1107 PUT, yang
wajib digunakan bagi pemungut PPN dan mulai berlaku sejak Masa
Pajak Januari 2007.
Kemudian dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-29/PJ/2008 tanggal 23 Juni 2008 ditetapkan bahwa PKP yang menyampaikan SPT
dalam bentuk formulir kertas ( hard copy) wajib menggunakan SPT Masa PPN
Formulir 1108 yang terdiri atas:
b. Lampiran 1 Daftar Pajak Keluaran dan PPnBM – Formulir 1107 A
c. Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan dan PPnBM – Formulir 1108 B
13. Tata Cara Penyetoran, Pelaporan dan Penyampaian SPT Masa PPN a. Batas Waktu Penyetoran
PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang dalam satu Masa Pajak , harus
disetor paling lambat 15 (lima belas) hari setelah Masa Pajak berakhir. Dalam hal
tanggal jatuh tempo penyetoran bertepatan dengan hari libur, maka penyetoran
dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya
b. Batas waktu Pelaporan SPT Masa PPN
SPT Masa PPN harus disampaikan setiap bulan paling lambat 20 (dua
puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.Dalam hal hari ke-20 adalah hari libur,
maka SPT Masa PPN harus disampaikan pada hari kerja sebelum hari libur.
c. Penyampaian SPT Masa PPN
Surat Pemberitahuan Masa PPN dapat disampaiakn oleh Pengusaha Kena
Pajak dengan cara:
1. Manual
• disampaikan langsung ke KPP tempat PKP dikukuhkan atau KP4
(Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan)
setempat; dan atas penyampaian SPT Masa PPN tersebut PKP akan
• disampaikan melalui Kantor Pos secara tercatat atau melaui
perusahaan jasa ekspedisi atau melalui perusahaan jasa kurir, ke
KPP tempat PKP dikukuhkan atau KP4 setempat. Tanda bukti serta
tanggal pengiriman SPT dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal
penerimaan SPT, sepanjang SPT tersebut lengkap.
2. Elektronik yaitu melalui e-Filling, yang tata cara penyampaiannya
sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
KEP-05/PJ./2005 tentang Tata Cara Penyampaian Surat
Pemberitahuan Secara Elektronik (e-Filling) Melalui Perusahaan
Penyedia Jasa Aplikasi.
14.Pengakuan dan Pengukuran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Menurut SAK dan UU Perpajakan.
Pajak Pertambahan Nilai timbul akibat adanya transaksi pembelian dan
penjualan terhadap BKP/ JKP. Apabila PKP melakukan pembelian BKP maka
akan dikenakan Pajak Masukan. Selanjutnya bila PKP tersebut melakukan
penjualan atas BKP tersebut maka mereka berhak untuk melakukan pemungutan
PPN yang telah mereka setor sebelumnya dan hal ini merupakan Pajak Keluaran.
Seperti halnya pendapatan, PPN juga harus diketahui kapan diakui dan bagaimana
cara pengukurannya.
Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
“Penghasilan diakui dalam laba rugi kalau peningkatan manfaat ekonomi
selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva
atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal.”
Menurut UU Perpajakan R.I No.250/PMK/2008 Pasal 4 ayat 1, dijelaskan
bahwa: “Penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima
atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan
wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun”.
Menurut Donald E Kieso, dkk dalam buku Akuntansi Intermediate (2002:53),
Pendapatan umumnya diakui jika:
a. Telah direalisasi atau dapat direalisasi
b. Telah dihasilkan
Misal, PT. X melakukan penjualan barang dengan penyerahan Rp
25.000.000,00 terdiri dari :
- Penyerahan yang telah diterima pembayarannya Rp 20.000.000,00,-
- Penyerahan yang belum diterima pembayarannya Rp 5.000.000,00,-
Prinsip kas : pendapatan (penjualan) adalah Rp 20.000.000,00,- sisa
yang belum di bayar sebesar Rp 5.000.000,00 ditetapkan
sebagai penghasilan pada periode berikutnya apabila telah
dilakukan pembayaran berikutnya.
Pengakuan Pendapatan
Des 2009 Jan 2010
Prinsip akrual
Penyerahan = Rp 25.000.000,00
Pembayaran = Rp 20.000.000,00 Pembayaran II = Rp 5.000.000,00
Penghasilan ditetapkan = Rp 25.000.000,00
Des 2009 Jan 2010
Prinsip kas
Penyerahan = Rp 25.000.000,00
Pembayaran = Rp 20.000.000,00 Pembayaran II = Rp 5.000.000,00
Penghasilan ditetapkan = Rp 20.000.000,00 Penghasilan ditetapkan=Rp5.000.000,00
Pengakuan pendapatan dari penjualan barang dalam Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No.23 menurut IAI (2009 : 23) menyebutkan bahwa
pendapatan dari penjualan barang harus diakui bila seluruh kondisi berikut
terpenuhi :
a. Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan dan telah memindahkan menfaat kepemilikan barang kepada penbeli ;
b. Perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual;
c. Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal;
e. Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal.
Pengukuran pendapatan dalam PSAK No.23( 2009 : 23) dijelaskan bahwa “
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang
dapat diterima”. Dalam UU Perpajakan No.42 Tahun 2009 Pasal 8A ayat 1,
dijelaskan bahwa “ Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 dengan Dasar Pengenaan
Pajak yang meliputi Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai
lain”.
Dalam Pasal 11 ayat 1 UU PPN No.42 Tahun 2009, terutangnya pajak terjadi
pada saat:
a. Penyerahan BKP; b. Impor BKP; c. Penyerahan JKP;
d. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean; e. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean;
f. Ekspor BKP Berwujud;
g. Ekspor BKP tidak berwujud, atau h. Ekspor JKP.
Menurut Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
dalam SAK (2009 : 23) dijelaskan bahwa “Beban diakui dalam Laporan Laba
Rugi kalau penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat
diukur dengan andal”. Hal ini berarti pengakuan beban terjdi bersamaan dengan
pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aktiva ( misalnya, akrual hak
karyawan atau penyusutan aktiva tetap).
Pajak dari Luar Daerah Pabean, saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran”.
Dalam akuntansi, saat penyerahan barang merupakan salah satu saat pengakuan
beban atau perolehan aktiva (PSAK No.23 ; 38). Begitu juga dengan pajak,
pengakuan beban atau perolehan aktiva diakui pada saat penyerahan barang kena
pajak, tetapi karena pembuatan faktur pajak dapat diserahkan bulan berikutnya
maka pendapatan tersebut tidak dapat dilaporkan pada bulan saat penyerahan
BKP.
Terutangnya PPN menurut akuntansi yaitu pada saat penyerahan BKP
walaupun faktur pajak belum dibuat dan belum diterima pembayarannya. Menurut
UU Perpajakan terutangnya PPN sama dengan akuntansi yaitu pada saat
penyerahan BKP atau sudah terjadi penjualan (UU Perpajakan RI No.42 Tahun
2009), tetapi apabila diterima uang muka dari penjualan tersebut maka
terutangnya PPN secara administrative adalah pada saat pembayaran uang muka
dan diterbitkan faktur pajaknya.
Efek dari pengakuan dan pengukuran beban PPN ini memiliki implikasi
terhadap pelaporan keuangan yaitu laba ruginya terlalu rendah sehingga
mengakibatkan pajak terutangnya juga understated. Misal, pada tanggal 25
Desember 2009 diterima uang muka sebesar Rp. 1.000.000,00 dari penjualan
barang dagang sebesar Rp 10.000.000,00. Barang tersebut akan diserahkan pada
20 Januari 2010.
Menurut UU Perpajakan, pada saat diterima uang muka PPN dan
menurut SAK, penjualan belum diakui karena barang belum diserahkan dan faktur
belum diterbitkan, tetapi uang muka atas penjualan barang tersebut sudah diakui
dan dikenakan PPN Keluaran. Jadi penjualan diakui menurut akuntansi adalah
pada saat penyerahan barang pada bulan berikutnya yaitu tanggal 20 Januari 2010.
Perbedaan pengakuan penjualan menurut SAK dan Pajak, akan menyebabkan laba
yang dihasilkan perusahaan terlalu rendah ( understated). Hal ini terjadi karena
menurut akuntansi penjualan belum diakui bila belum terjadi penyerahan
barang.Sedangkan dalam pajak, apabila pembayaran diterima lebih dahulu
sebelum barangnya diserahkan maka pada saat pembayaran uang muka tersebut
penjualan dan PPN sudah diakui. Oleh karena itu, perusahaan harus melakukan
koreksi fiscal atas pendapatan dan beban untuk mendapatkan Penghasilan Kena
Pajak dan rekonsiliasi nilai atas penyerahan omset penjualan.
15. Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai
Prosedur pembukuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terdiri dari:
• Pembelian barang yang PPN-nya dapat dikreditkan dan yang tidak
dapat dikreditkan,
• Penjualan dan PPN terutang,
• PPN yang masih harus dibayar atau lebih
• dan lain-lain
Dilihat dari pengenaan PPN, barang yang dibeli oleh perusahaan dapat
digolongkan ke dalam dua jenis barang, yaitu barang yang PPN-nya dapat
tersebut perlu dipertimbangkan dalam rangka pembukuan, karena PPN yang tidak
dapat dikreditkan tersebut dapat dimasukkan kedalam biaya dalam perhitungan
pajak penghasilan nantinya.
Pembelian barang yang PPN-nya dapat dikreditkan masih dapat dikelompokkan
ke dalam dua jenis, yaitu:
1) pembelian barang untuk diolah (persediaan), dan
2) pembelian barang modal yang ada hubungannya dengan proses produksi.
Berikut ini akan diuraikan prosedur pembukuan pembelian barang yang PPN-nya
dapat dikreditkan dan tidak dapat dikreditkan (berkaitan dengan PPN Masukan) :
1. Pembelian barang/ persediaan yang PPN-nya dapat dikreditkan.
Misal, PT. Jaya membeli barang untuk persediaan dalam bulan Agustus 2009
seharga Rp. 20.000.000,00 dengan kredit dari PT. Sejahtera
Pembelian Rp 20.000.000,00
Jurnal
PPN Masukan Rp 1.000.000,00
Utang Rp 21.000.000,00
2. Pembelian barang modal yang PPN-nya dapat dikreditkan
PT. Jaya membeli mesin seharga Rp 10.000.000,00 dengan kredit pada bulan
Juni 2009 dari PT. Sejahtera. Transaksi ini dicatat dengan ayat jurnal sebagai
berikut :
Mesin Rp 10.000.000,00
PPN Masukan Rp 1.000.000,00
3. Pembelian barang/ persediaan yang PPN-nya tidak dapat dikreditkan
Misal, PT. Sentosa membeli tunai alat-alat tulis seharga Rp 500.000 ditambah
PPN 10%. Karena alat-alat tulis ini tidak mempunyai hubungan langsung
dengan proses produksi, Pajak Masukannya tidak boleh dikreditkan. Sesuai
dengan UU PPh 1984, PPN yang tidak dapat dikreditkan dapat dibebankan
sebagai biaya operasi.
Alat-alat Tulis Rp 500.000,00 Jurnal
Biaya PPN Rp 50.000,00
Utang Rp 550.000,00
4. Pembelian barang/modal yang PPn-nya tidak dapat dikreditkan
PT. Makmur membeli kendaraan sedan untu keperluan kantor administrasi
seharga RP 50.000.000,00 tunai. Pajak Masukan pembelian kendaraan sedan
tidak dapat dikreditkan.Namun, pajak tersebut dibebankan sebagai biaya
perolehan kendaraan.Jadi, tidak dapat dibedaka sekaligus di tahun
perolehannya, melainkan disusut dengan tariff penyusutannya. Transaksi ini
dicata dengan ayat jurnal sebagai berikut:
Kendaraan sedan Rp 50.000.000,00
Kas Rp 50.000.000,00
Misal, PT. Angkasa membeli barang seharga Rp 16.000.000,00 dengan
potongan pembelian Rp 6.000.000,00 jika pembayaran dilakukan dalam
periode yang ditentukan. Tarif PPN 10%.
Pembelian Rp 16.000.000,00
Jurnal
Cadangan potongan pembelian (Rp 6.000.000,00)
PPN Masukan Rp 1.000.000,00
Utang Rp 11.000.000,00
Apabila perusahaan tidak dapat membayar utang dalam waktu yang
ditentukan, pembeli tidak berhak atas potongan.
Pembayaran hutang pembelian ini dicatat dengan ayat jurnal:
Utang Rp 11.000.000,00
Jurnal
PPN Masukan Rp 6.000.000,00
Rugi Karena Potongan Rp 600.000,00
Kas Rp 17.600.000,00
Karena potongan tidak diambil maka PPN Masukan atas potongan yang belum
pada saat pembelian harus dibebankan. Demikian pula penjual harus
memperhitungkan PPN terutang dengan jumlah yang sama.
6. Untuk pengembalian pembelian
Contoh: Karena tidak sesuai dengan spesifikasi barang, pembelian sebanyak
Rp.5.000.000,00 ditambah PPN 10% dikembalikan kepada penjual.
Utang Rp 5.500.000,00 Jurnal
Pembelian Rp 5.000.000,00
PPN Masukan Rp 500.000,00
Pengembalian ini akan mengurangi PPN Masukan, demikian pula penjualan
akan mengurangi PPN terutang.
7. Penjualan Tunai
Contoh: PT Hidayah menjual barang secara tunai Rp. 30.000.000,00 dengan
PPN 10%. Transaksi ini dicatat dengan ayat jurnal :
Kas Rp 33.000.000,00
Penjualan Rp 30.000.000,00
PPN Keluaran Rp 3.000.000,00
8. Pengembalian penjualan
Contoh : Masih dengan contoh no. 5 barang yang dijual dikembalikan
Rp.8.000.000,00
Pengembalian ini dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut:
Penjualan Rp 8.000.000,00
PPN Keluaran Rp 800.000,00
Kas Rp 8.800.000,00
Contoh : Pada tanggal 13 Juni 2009 PKP “XYZ” menerima uang muka dari
PKP “ABC” atas pembelian barang kena pajak peralatan kantor yaitu sebesar
Rp 10.000.000,00 ditambah PPN 10%. Pada tanggal 13 Juli 2009 yaitu pad
asst penyerahan barang, diterima sisa pembayaran Rp 5.000.000,00 dimana
dalam pembayaran tersebut belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai. Karena
itu, ada dua transaksi yang harus dicatat, yaitu:
a) Pada saat pembayaran uang muka
Kas Rp 11.000.000,00
Uang muka pelanggan Rp 10.000.000,00
PPN Keluaran Rp 1.000.000,00
b) Pada saat penyerahan barang
Kas Rp 10.000.000,00
Uang muka pelanggan Rp 10.000.000,00
Penjualan Rp 15.000.000,00
PPN Keluaran Rp 5.000.000,00
Sesuai dengan ketentuan bahwa PPN sudah terutang pada saat
pembayaran.Karena itu, pada saat pembayaran uang muka PKP menerima
uang muka harus memungut PPN.
10. Penjualan dengan angsuran
Contoh: PT. Abadi Cipta menjual suatu barang dengan angsuran seharga
Rp44.000.000,00 pembayaran dilakukan dengan 10 kali cicilan. Transaksi
penjualan dan angsuran setiap bulan dicatat dengan ayat jurnal:
Piutang penjualan angsuran Rp. 48.400.000,00
Penjualan Rp 44.000.000,00
PPN Keluaran Rp 4.400.000,00
b) Pada saat pembayaran angsuran
Kas Rp 4.840.000,00
Piutang penjualan angsuran Rp 4.840.000,00
16.Saat Perhitungan Pembayaran dan Pembuatan Laporan
Pada setiap akhir bulan pengusaha kena pajak akan menghitung PPN yang
terutang untuk masa pajak yang bersangkutan, kemudian akan membandingkan
antara PPN Keluaran dan PPN Masukan. Kemudian mengisi dan memasukkan
surat pemberitahuan masa untuk masa yang bersangkutan yang berlaku sebagai
laporan. Jurnal penutup untuk menutup perkiraan PPN adalah sebagai berikut:
PPN Keluaran Rp xx
PPN Masukan Rp xx
PPN yang masih harus dibayar Rp xx
Apabila PPN masukan lebih besar yang berarti ada kelebihan setoran, maka jurnal
penutupnya adalah:
PPN Keluaran Rp xx
PPN lebih bayar Rp xx
PPN Masukan Rp xx
Apabila PPN masukan lebih besar yang berarti ada kelebihan setoran, maka jurnal
penutupny