Pelayanan Pengguna Tunanetra Pada Badan Perpustakaan
Arsip Dan Dokumentasi (BPAD) Provinsi Sumatera Utara
KERTAS KARYA
OLEH :
ISABELLA CHRISTINA SEMBIRING COLIA
082201019
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
PROGRAM STUDI D-III PERPUSTAKAAN
MEDAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Kertas Karya
: Pelayanan Pengguna Tunanetra Pada Badan
Perpustakaan Arsip Dan Dokumentasi (BPAD)
Oleh
: Isabella Christina Sembiring Colia
NIM
: 082201019
PROGRAM STUDI D3 PERPUSTAKAAN
Ketua Jurusan
: Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd
NIP
: 19570407 198603 2 001
Tanda Tangan
:
LEMBAR PERSETUJUAN
Judul Kertas Karya
: Pelayanan Pengguna Tunanetra Pada
Badan
Perpustakaan Arsip Dan Dokumentasi (BPAD)
Oleh
: Isabella Christina Sembiring Colia
NIM
: 082201023
Dosen Pembimbing
: Himma Dewiyana, ST.M. Hum
NIP
: 197208252006042001
Tanda Tangan
:
:
Tanggal
:
Dosen Pembaca
: Ishak, SS.M.Hum
NIP
: 19570407 198603 2 001
Tanda Tangan
:
“
Diberkatilah orang mengadalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia
seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang
air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang
tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”
(Yeremia 17 : 7-8)
Kupersembahkan Kepada Allah Bapa, di dalam
Putra-Nya yang Kudus, Yesus Kristus yang selalu membimbingku dalam
pertolongan Roh Kudus
Juga Buat Keluargaku Tercinta
Ayahku
:
Bachtaraku Sembiring Colia
Ibuku
:
Serasi Br Karo
Saudaraku
:
K’Imelda Sari Sembiring
K’Siska Puspita Se
mbiring
Susi Lestari Sembiring
Sri Indah Karina Sembiring
“Namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup
melainkan Kristus yang hidup didalamku.”
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yesus, karena berkat dan rahmatNya
penulis dapat menyelesaikan kertas karya ini. Terimakasih Tuhan Yesus Kristus pertolongan yang
Tuhan berikan.
Kertas karya ini berjudul “PELAYANAN PENGGUNA TUNANETRA PADA BADAN
PERPUSTAKAAN ARSIP DAN DOKUMENTASI PROVINSI SUMATERA UTARA.” Kertas
karya ini ditulis untuk memenuhui persyaratan kelulusan Program Studi D-III Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada Ayahanda Bachtraku Sembiring Colia, dan Ibunda Serasi Br Karo, yang
telah begitu banyak memberikan dukungan kepada penulis baik materi, moral, dan doa serta yang
telah bersusah payah dengan cucuran kerigat dan penuh rasa kasih sayang dalam mengasuh dan
membesarkan penulis.
Dalam menyelesaikan kertas karya ini, penulis juga telah banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk yang tak ternilai harganya. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimaksih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Drs. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Zaslina Zainuddin, M.Pd., selaku Ketua Program Studi D-III Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya.
3. Ibu Himma Dewiyana, ST, M.Hum., sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan
arahan dalam penulisan kertas karya ini.
4. Bapak Ishak, SS., M.Hum., sebagai dosen pembaca yang telah meluangkan waktu kepada
penulis serta memberikan banyak masukan dalam penyusunan kertas karya ini.
5. Ibu Dr. Irawaty A. Kahar, M.Pd., sebagai dosen wali masa perkulihan yang selalu
memberikan arahan dan bimbingan di dalam mengikuti masa perkuliahan.
6. Seluruh staf pengajar beserta staf Administrasi Program Studi D-III Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama
7. Nurdin Pane, SE, M.AP., selaku Kepada Badan Perpustakaan , Arsip dan Dokumentasi
Provinsi Sumatera Utara beserta seluruh staf pegawai yang telah menginjinkan penulis
melakukan observasi dan mengumpulkan data sehingga penulis dapat menyelesaikan
kertas karya ini dengan selesai.
8. Imelda Sari Sembiring Colia, SE, Sudibio Perangin-angin, Siska Puspita Sembiring
Colia, Spd., Susi Lestari Sembiring Colia, Sri Indah Karina Sembiring Colia, Keluarga
Besar Colia dan Sitepu terimakasih buat saudara-saudaraku yang selalu memberikan
motivasi dan dukungan dalam penulisan kertas karya ini.
9. Buat Marihot Siregar yang ikhlas dan tulus menjadi sahabat hati yang selalu cerewet
terimakasih buat dukungan dan motivasinya.
10. Buat Sahabat-sahabat penulis : Agustianum (ratu ngambek), Imelda (ratu makan),
Maulidaini (ratu bakso), Mifta (ratu sibuk), Regina (ratu fb), Titin (ratu kecantikan),
Wahyuni (ratu cerewet) dan seluruh angkatan 2008 yang telah senantiasa yang
memberikan semangat dan senantiasa dalam berbagi dalam suka dan duka.
11. Buat Abang Fadlan, Abang Suryawan, angkatan 2007, angkatan 2009, angkatan 2010
terimakasih atas dukungan dan motivasinya dalam penulisan kertas karya ini.
12. Buat Guru KA-KR, PERMATA JEDIDAH JPA IV terimakasih atas dukungan dan
motivasinya dalam penulisan kertas karya ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga kertas karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 29 April 2011
Penulis
Isabella Christina Sembiring Colia
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang... 2
1.2 Tujuan Penulisan... 2
1.3 Ruang Lingkup... 2
1.4 Metode Pengumpulan Data... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Umum... 3
2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum... 3
2.2 Bahan Pustaka... 5
2.2.1 Karya Tercetak... 5
2.2.2 Karya Noncetak... 5
2.2.3 Bentuk Mikro... 6
2.2.4 Karya Dalam Bentuk Elektronik... 6
2.3 Pelayanan Pengguna... 6
2.3.1 Pengertian Pelayanan Pengguna... 7
2.3.2 Tujuan Pelayanan Penggguna... 8
2.3.3 Fungsi Pelayanan Pengguna... 8
2.4 Pelayanan Pengguna Tunanetra... 9
2.4.1 Komputer Berbicara... 12
2.4.2 Huruf Braille... 13
2.4.3 Printar Braille... 15
2.4.4 Digital Ascesible System Player... 15
2.4.5 Buku Bicara... 16
2.4.6 Termofrom... 16
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Pada Badan Perpustakaan, Arsip dan
Dokumentasi Sumatera Utara ... 18
3.2 Struktur Organisasi... 18
3.3 Pelayanan Pengguna Tunanetra... 21
3.4 Pelayanan Pengguna... 22
3.4.1 Kelompok Pengguna... 22
3.4.2 Sistem Pelayanan... 22
3.4.3 Jenis-Jenis Pelayanan... 23
3.4.4 Waktu Pelayanan... 30
3.5 Kondisi Penyandang Cacat Tunanetra Pada Badan
Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Sumatera Utara... 30
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan... 33
4.2 Saran... 33
DAFTAR PUSTAKA... 35
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Arsip dan Dokumentasi... 30
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2
Huruf Braille... 14
Gambar 3
Printer Braille... 15
Gambar 4
Digital Ascesible System Player... 16
Gambar 5
Buku Bicara... 16
Gambar 6
Termoform... 17
Gambar 7
Telesensory... 17
Gambar 8
Bagan Organisasi Badan Perpustakaan, Arsip
dan Dokumentasi Provinsi Sumatera Utara... 20
Gambar 9
Ruang Baca Tunanetra bergabung
dengan Ruang Anak Dewasa B... 21
Gambar 10
Komputer Berbicara di Ruang Remaja... 21
Gambar 11
Contoh Formulir Anggota Perpustakaan... 24
Gambar 12
Contoh Kartu Anggota Perpustakaan... 25
Gambar 13
Flowchart Peminjaman Koleksi Braille Pada
Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi... 27
Gambar 14
Flowchart Pengembalian Koleksi Braille Pada
Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi... 29
BAB I
1.1 Latar Belakang
Peran Perpustakaan Umum sebagai wahana untuk mencerdaskan masyarakat sekitarnya
menjadi sangat penting. Perpustakaan umum seringkali diibaratkan sebagai Universitas Rakyat
atau Universitas Masyarakat. Maksudnya adalah bahwa perpustakaan umum merupakan
lembaga pendidikan bagi masyarakat umum dengan menyediakan berbagai informasi, ilmu
pengetahuan, teknologi dan budaya, sebagai sumber belajar untuk memperoleh dan
meningkatkan ilmu pengetahuan bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu posisi
perpustakaan umum dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sangat strategis. Sebab fungsinya
melayani semua lapisan masyarakat dalam rangka memperoleh dan meningkatkan berbagai
ilmu pengetahuan.
Perpustakaan umum merupakan lembaga pendidikan yang dinyatakan sangat
demokratis karena menyediakan sumber belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan
melayaninya tanpa membedakan suku bangsa, agama, umur dan pendidikan serta perbedaan
lainya. Perpustakaan Umum memberikan layanan kepada semua orang, antara lain mahasiswa,
pegawai, ibu rumah tangga, tunanetra, para lanjut usia.
Perpustakaan umum juga menyelenggarakan layanan khusus yang diberikan kepada
penyandang cacat seperti tunanetra. Tunanetra merupakan merupakan salah satu jenis kelainan
pada indra (sensory), yaitu kelainan pada indra penglihatan (mata). Layanan yang diberikan
perpustakaan umum kepada tunanetra antara lain buku dengan tulisan huruf braille dan
komputer berbicara dengan menggunakan program jaws.
Koleksi yang dimiki perpustakaan umum harus dapat menunjang segala kegiatan
masyarakat, agar tujuan perpustakaan dapat tercapai maka koleksi perpustakaan harus dibina
sebaik mungkin sehingga kebutuhan pengguna dapat terpenuhi yang pada akhirnya berdampak
positif dikalangan masyarakat. Oleh karena itu, perpustakaan harus lebih berkembang sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi. Walaupun koleksi yang
dimiliki perpustakaan memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas tetapi akan sia-sia
apabila tidak dimanfaatkan oleh pengguna, dapat dikatakan perpustakaan tidak berfungsi
sebagaimana diharapkan. Untuk menghindari fenomena di atas maka perpustakaan harus
malakukan pelayanan pengguna dengan tepat sebab pelayanan pengguna adalah tugas penting
dalam menyelenggarakan sebuah perpustakaan. Maka perpustakan dikatakan bermutu apabila
Berdasarkan paparan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang
Pelayanan Pengguna Tunanetra pada Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD)
Provinsi Sumatera Utara (Propsu).
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah :
a. Untuk mengetahui kegiatan palayanan pengguna tunanetra pada BPAD.
b. Untuk mengetahui segala kendala yang dihadapi pustakawan dalam pelaksanaan
kegiatan pelayanan pengguna tunanetra pada BPAD.
1.3 Ruang Lingkup
Sesuai dengan masalah yang telah dikemukakan, ruang lingkup dalam penulisan kertas
karya ini mencakup beberapa aspek pelayanan pengguna yaitu pengguna tunanetra pada BPAD
Propsu.
1.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan kertas karya ini metode yang dipergunakan dalam pengumpulan data
adalah :
a. Studi Kepustakaan
Data yang diperoleh melalui literatur yang sesuia dengan masalah yang dibahas
dalam kertas karya ini yang bersifat teoritis yaitu dengan membaca buku-buku,
literature dan sumber lain yang mendukung di dalam penulisan kertas karya ini.
b. Observasi
Dengan mengadakan pengamatan langsung ke BPAD Propsu.
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Umum
Perpustakaan umum sebagai sarana pendidikan untuk mendidik diri sendiri dengan kata
lain tempat mendapatkan pendidikan nonformal, mempunyai tugas untuk menghimpun,
memelihara dan mendayagunakan bahan perpustakaaan untuk kepentingan masyarakat
Indonesia. Perpustakaan umum wadah yang sangat penting dalam memberikan informasi dan
pelayan kepada masyarakat umum. Perpustakaan Umum merupakan perpustakaan yang
penunjang sumber belajar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan melayaninya tanpa
membedakan suku bangsa, agama, umur dan pendidikan serta perbedaan lainya.
Sulistyo-Basuki (1999 : 152) menyatakan bahwa Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang didanai dari sumber yang berasal dari masyarakat seperti pajak retribusi yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan.
Hasugian (2009 : 77) menyatakan bahwa Perpustakaan Umum adalah sebuah perpustakaan atau sistem perpustakaan yang menyediakan akses yang tidak terbatas kepada sumberdaya perpustakaan dan layanan gratis kepada warga masyarakat di daerah atau wilayah tertentu, yang didukung penuh atau sebagian dari dana masyarakat.
Sutarno (2006 : 37) menyatakan bahwa Perpustakaan Umum sering diibaratkan sebagai universitas rakyat, karena perpustakaan umum menyediakan semua jenis koleksi bahan pustaka dari berbagai displin ilmu, dan penggunaanya oleh seluruh lapisan masyarakat dan memeberikan kesempatan dan akses layanan bagi semua orang untuk memfaatkannya.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan umum merupakan wadah
pengetahuan yang mendukung kepentingan masyarakat umum sebagai pusat informasi.
Mengingat pentingnya perpustakaan umum sebagai perpustakaan masyarakat umum,
sehingga UNESCO menyatakan perpustakaan umum sebagai media mencerdaskan kehidupan
bangsa .
Sulistyo – Basuki (1993 : 46) menyatakan bahwa perpustakaan umum mempunyai 4 tujuan utama yaitu :
a. Memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka kea rah kehidupan yang lebih baik.
b. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hagat dalam kalangan masyarakat.
c. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bahan pustaka.
d. Bertindak selaku agent cultural, artinya perpustakaan umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
Hermawan (2006 : 31) menyatakan bahwa perpustaka umum mempunyai 5 tujuan utama yaitu :
a. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraannya. b. Menyediakan informasi yang murah, mudah, cepat dan tepat yang berguna bagi
masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari.
c. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan infornasi.
d. Bertindak selaku agen kultur, sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
e. Memfasilitasi masyarakat untuk berlajar sepanjang hayat.
Dari uraian di atas, dapat diketahui tujuan perpustakaan umum adalah memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan
pengetahuan dan menyediakan informasi yang berguna bagi
kehidupan masyarakat. Sehubungan dengan uraian di atas (Sulistyo - Basuki, 1993 : 48) merumuskan tujuan perpustakaan umum sebagai berikut :
b. Informasi, perpustakaan menyediakan kemudahan bagi pemakai berupa akses yang cepat terhadap informasi yang tepat mengenai seluruh julatan pengetahuan manusia.
c. Kebudayaan, perpustakaan merupakan pusat kehidupan kebudayaan dan secara aktif mempromasikan partisipasi dan apresiasi semua bentuk seni
d. Rekreasi, perpustakaan memainkan peran penting dalam mendorong penggunaan secara aktif rekreasi dan waktu senggang dengan penyediaan bahan pustaka.
2.2. Bahan Pustaka
Perpustakaan terdiri-dari empat unsur yaitu bahan pustaka atau koleksi, pemakai,
sarana dan pustakawan. Dari keempat unsur tersebut, unsur bahan pustaka dan pemakai
mempunyai hubungan yang sangat erat. Pengguna perpustakaan pergi ke perpustakaan dengan
harapan dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. Maka, perpustakaan harus berusaha
menghimpun bahan pustaka yang sesuia dengan kebutuhan dan minat pengguna.
2.2.1 Karya Tercetak
Menurut Soetminah (1992 : 21) karya cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam betuk cetak seperti :
a. Buku
Buku merupakan koleksi perpustakaan yang paling umum. Buku adalah terbitan yang membahas informasi secara tertulis sedikitnya 64 halaman tidak termasuk halaman sampul, diterbitkan oleh penerbit atau lembaga tertentu, serta ada yang bertanggung jawab terhadap isi yang dikandungnya. Beberapa jenis buku adalah sebagai berikut:
1. Buku teks (buku wajib) yang telah digariskan oleh pemerintah.
2. Buku penunjang adalah buku pengayaan yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah untuk digunakan di sekolah – sekolah, serta buku penunjang untuk kalangan mahasiswa tentang bidang tertentu.
2. Buku fiksi serta buku bergambar.
3. Buku popular (umum) merupakan buku yang berisi ilmu pengetahuan secara umum dan popular.
seperti arti kata. Buku rujukan tidaka perlu dibaca secara keselurahan sehingga cara penyusunannya berbeda dengan susunan buku.
b. Terbitan Berseri
Pada umumnya terbitan berseri berupa majalah dan koran. Majalah biasanya diterbitkan mingguan, dua mingguan atau bahkan bulanan. Koran diterbitkan setiap hari. Tabloid merupakan terbitan seperti koran tetapi ukuranya separuh dari ukuran koran.
2.2.2 Karya NonCetak
Karya noncetak sering dikatakan sebagai bahan non buku ataupun bahan pandang
dengar.
Menurut Siregar (2010 : 16) yang termasuk dalam jenis bahan pustaka noncetak adalah:
a. Rekaman suara
Rekaman suara adalah bahan pustaka dalam betuk pita kaset dan pirangan hitam
b. Gambar Hidup dan Rekaman Video
Yang termasuk dalam betuk ini adalah film dan kaset video yang pada umumnya bersifat rekreasi.
c. Bahan Grafika
Ada dua jenis tipe bahan grafika yaitu bahan pustaka yang dapat dilihat langsung seperti lukisan, bagan, foto dan gambar lukisan yang harus dilihat dengan bantuan alat seperti selide, transpransi dan film strip.
2.2.3 Bentuk Mikro
Menurut Siregar (2010 : 55) Bentuk mikro adalah koleksi perpustakaan yang merupakan alih media dari buku ke dalam mikro seperti mikro film dan mikro fice (carik mikro). Koleksi mikro hanya dapat dibaca dengan alat bantu yaitu mikro reader. Bentuk mikro juga dapat dicetak dengan alat yaitu mikro reader priter. Yang termasuk dalam jenis bentuk mikro adalah :
a. Mikro film
b. Mikrofis
Bentuk mikro dalam lembara film dengan ukuran 105 mm x 148 mm (standard) dan 75 mm x 125 mm.
c. Mikroopaque
Bentuk mikro dimana informasinnya dicetak dalam kertas yang mengkilat tidak tembus cahaya. Ukurannya sebesar mikrofis.
2.2.4 Karya dalam Bentuk Elektronik
Menurut Siregar (2010 : 5) karya dalam bentuk elekronik ini biasanya disebut dengan
bahan pandang dengar (audio visual) juga merupakan koleksi perpustakaan. Contoh bahan
pandang dengar ini adalah kaset, video, piringan hitam, CD-ROM, VCD, slide, film.
2.3 Pelayanan Pengguna
Pelayanan perpustakaan merupakan tugas penting dari setiap perpustakaan untuk
melayani masyarakat umum. Pelayanan perpustakaan berarti kesibukan yang tidak ada
akhirnya, kecuali perpustakaan menyatakan jam layanan ditutup.
Menurut Darmono (2006 : 34) dalam pelayanan , perlu diperhatikan asas sebagai berikut :
1. Selalu berorientasi kepada kebutuhan dan kepentingan pemakai perpustakaan.
2. Layanan diberikan atas dasar keseragaman, keadilan, merata dan memandang pemakai perpustakaan sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan tidak dipandang secara individual.
3. Layanan perpustakaan dilandasi dengan tata aturan yang jelas dengan tujuan umtuk mengoptimalkan fungsi layanan. Peraturan perpustakaan perlu didukung oleh semua pihak agar layanan perpustakaan dapat berjalan dengan baik.
4. Layanan dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor kecepatan, ketepatan, dan kemudahan dengan didukung oleh administrasi yang baik.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah sebuah organisasi
yang bergerak di bidang jasa penyebarluasan informasi karena itu perpustakaan harus
diperlukan. Pelayanan pengguna merupakan bagian kegiatan perpustakaan. Pelayanan
pengguna yaitu kegiatan pemberian layanan, bimbingan informasi agar pemakai perpustakaan
dapat menggunakan bahan pustaka dengan mudah, cepat dan tepat serta jelas dimengerti oleh
pemakai perpustakaan.
2.3.1 Pengertian Pelayanan Pengguna
Pelayanan pengguna merupakan salah satu kegiatan utama di perpustakaan sebab
perpustakaan adalah organisasi yang bergerak di bidang jasa yang diindentik dengan layananya.
Melalui pelayanan perpustakaan tersebut pengguna akan memperoleh informasi secara optimal
serta memnafaatkan berbagai sarana penelusuran yang tersedia, seperti kartu catalog dan
OPAC.
Dalam buku Perpustakaan Perguruan Tinggi : Buku Pedoman (2004 : 71) menyatakan bahwa pelayanan perpustakaan adalah pemberian informasi dan fasilitas kepada pengguna dapat memperoleh informasi yang dibutuhkannya secara optimal dari berbagai media dan memanfaatkan berbagai alat bantu penelusuran yang tersedia.
Sedangkan menurut Darmono (2006 : 134) bahwa pelayanan perpustakaan adalah
menawarkan semua bentuk kolesi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang datang ke
perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkannya.
Selain pendapat di atas Soeatminah (1992 : 138) menyatakan bahwa pelayanan
perpustakaan adalah kegiatan kerja yang berupa pemberian bantuan kepada pemakai
perpustakaan dalam proses peminjaman dan pengembalian pustaka.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pengguna adalah kegiatan
pemberian bantuan kepada pengguna untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan agar para
pengguna dapat memanfaatkan bahan pustaka sebaik- baiknya.
Sebagai organisasi perpustakaan harus mempunyai tujuan yang jelas agar
perpustakaan dapat menentukan target yang akan dicapai. Setiap perpustakaan mempunyai
tujuan-tujuan yang berbeda–beda, tetapi pada dasarnya tujuan perpustakaan adalah kepuasan
pengguna.
Darmono (2006 : 135) menyatakan bahwa tujuan layanan perpustakaan adalah membantu memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat tentang informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Membantu memenuhi kebutuhan dimaksudakan agar memberikan layanan kepada pengguna untuk mencari informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat sedangkan tuntutan masyarakat tentang informasi yang dibutuhkan yang sesuai dengan kebutuhan dimaksud agar segala kebutuhan informasi sesuai yang dikehendaki pembaca.
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan yaitu tujuan layanan pelayanan adalah
memberikan jasa pelayanan perpustakaan kepada pengguna perpustakaan untuk
mendayagunakan bahan pustaka atau informasi sesuai dengan kebutuhan pengguna dengan
demikian koleksi bahan pustaka dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin demi pencapaian
tujuan perpustakaaan.
2.3.3 Fungsi Pelayanan Pengguna
Menurut Trimo (1986 : 56) fungsi pelayanan pengguna adalah sebagai berikut:
a. Memberikan stimulasi dan guidance untuk memenuhi minat dan kebutuhan anak dan untuk memperluas wawasan membaca mereka.
b. Membantu para mahasiswa/mahasiswi yang sedang mengerjakan laporan dan proyek lainnya serta kegiatan mereka
c. Mengajar para mahasiswa/mahasiswi bagaimana menggunakan buku dan fasilitas lainnya, dan membantu mengembangkan kecakapan mereka tentang perpustakaan. d. Memberikan bantuan kepada para pengajar dan perencanaan kurikulum dan ikut
menyelesaikan problem khusus dalam bidang kurikulum pengajar.
e. Membantu program-program inservice training dan perkembangan profesi para dosen/guru dan para mahasiswa/mahasiswi dalam menggunakan perpustakaan. f. Memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk keperluan pengaruh
perpustakaan dan memajukan suatu pembaca.
Menurut Martoadmojo (1993 : 6) : fungsi layanan perpustakaan adalah mempertemukan
Uraian di atas dapat menghasilkan kesimpulan bahwa fungsi pelayanan pengguna
adalah membantu pengguna untuk menemukan informasi dalam memenfaatkan koleksi
perpustakaan yang dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan.
2.4 Pelayanan Pengguna Tunanetra
Perpustakaan sudah seharusnya menyediakan koleksi dan melayani pengguna dari
semua kalangan tak terkecuali penyandang cacat. Dalam praktek sehari-hari terbukti bahwa
penyandang cacat relatif kurang mendapatkan pelayanan yang memadai baik mengenai
koleksi-koleksi buku, format media bahan pustaka, ataupun dari segi layanan dan komunikasi. Untuk
memenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan keperluan informasi bagi para penyandang
cacat secara adil, maka dipandang perlu untuk memperhatikan beberapa hal seperti bangunan
perpustakaan, layanan dan program-program pelayanan pengguna.
Pada saat pengguna masih berada di luar gedung perpustakaan, keberadaan mereka
sudah harus diperhatikan misalnya dengan simbol khusus bagi para pengguna cacat dekat
dengan pintu perpustakaan, kemudahan untuk melihat tanda lalu lintas, lampu penerangan
yang memadai, permukaan pintu masuk yang tidak licin, tangga yang landai. Ketika menuju
gedung perpustakaan, beberapa hal harus mendapatkan perhatian juga misalnya space yang
cukup depan pintu masuk dan pintu masuk yang lebar, pintu kaca bertanda untuk tunanetra,
tanda piktogram menuju lift, elevator dengan penerangan cukup dan tanda dalam huruf braille .
Tunanetra merupakan salah satu jenis kelainan pada indra (sensory), yaitu kelainan pada indra
penglihatan (mata). Secara umun istilah tunanetra digunakan untuk menggambarkan kelainan
penglihatan dari tingkatan ringan sampai berat atau buta. Dalam konteks pendidikan seseorang
dikatakan tunanetra apabila untuk mencapai prestasi belajar yang optimal diperlukan berbagai
adaptasi atau penyesuaian komponen pendidikan. Ketunanetraan ini berimplikasi langsung pada
kemampuan tunanetra dalam mengakses informasi. Hal ini berarti bahwa kebutaan akan
mengakibatkan keterbatasan dasar pada individu, seperti dalam jenjang variasi pengalaman,
kemampuan memperoleh sesuatu atau melakukan perjalanan, dan mengontrol lingkungan
atau indra penglihatan yang karena sesuau hal tidak berfungsi sebagai mana mestinya, sehingga
mengalamai keterbatasan dan atau ketidakmampuan melihat.
Sedangkan menurut Purwanto (1998 : 50) bahwa tunanetra adalah hilangnya indra
penglihatan akan membawa berbagai dampak baik secara mekanis maupun psikologis. Indra
penglihatan merupakan indra pemadu segala rangsang yang diterima individu.
Selain pendapat di atas Saputro (2009 : 2) menyatakan bahwa tunanetra adalah
seseorang yang mengalami gangguan pengliatan, baik itu kebutuhan total atau sebagian,
sehingga untuk beraktifitas, khususnya komunikasi tulisan memerlukan alat bantu teknik khusus
( huruf braille).
Dari urain di atas dapat menghasilkan kesimpulan bahwa tunanetra adalah hilangnya
indra penglihatan sehingga mengalami keterbatasan dan ketidakmampuan untuk melihat
dengan sempurna harus menggunakan alat bantu berupa tulisan huruf braille.
Safaruddin (2010 : 8) menyatakan bahwa pada prinsipnya pengelolaan perpustakaan dan lingkungan belajar penyandang tunanetra sama dengan pengelolaan perpustakaan dan lingkungan belajar orang-orang nonberkebutuhan khusus. Namun demikian ada hal-hal khusus yang tidak menjadi kebutuhan orang pada umumnya tetapi menjadi kebutuhan penyandang tunanetra. Oleh karena itu perpustakaan dan lingkungan belajar penyandang tunanetra perlu dikelola oleh pihak yang tetkait dengan strategi khusus antara lain,
(1) Setiap ruang perpustakaan, tempat dimana penyandang tunanetra memperoleh infiormasi dan tempat duduk, meja, sampai rak-rak buku perlu diberi tanda yang dapat diraba oleh penyandang tunanetra. Tanda ini dapat berupa tulisan huruf braille maupun tanda-tanda tertentu, misalnya relief-relief gambar.
(2) Pengaturan ruangan hendaknya memperhatikan keleluasaan gerak pada penyandang tunanetra agar tidak mengganggu mobilitas mereka. Ruangan hendaknya tidak terlalu sempit dan jarak antara rak satu dengan rak lainnya dapat dilalui oleh dua orang atau lebih.
teknologi layanan bagi tunanetra, menghasilakan alat-alat yang bersifat manual, mekanis, sampai alat elektronik yang canggih.
Dari urain di atas menyatakan bahwa pengelolaan perpustakaan untuk tunanetra harus
memadai fasilitas, memberi tanda dengan huruf braille di rak-rak buku agar dapat diraba
penyandang tunanetra dan ruang geraknya tidak terlalu sempit .
Safaruddin (2010 : 7) menyatakan bahwa pelayanan pengguna tunanetra adalah layanan berbasis teknologi bagi tunanetra yang mempunyai kelainan diharapkan dapat membantu penyandang tunanetra untuk dapat mengakses informasi. Berbagai alat bantu yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak yang menaruh minat pada teknologi layanan bagi tunanetra, menghasilakan alat-alat yang bersifat manual, mekanis, sampai alat elektronik yang canggih, seperti Komputer dengan program Job Acces With Speech (JAWS), Printer Braille (Impact Printer), Open Book scanner, DAISY Player (Digital Ascesible System Player), Buku bicara (Digital Talking Book), Termoform, dan telesensory.
Dari uraian di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa pelayanan pengguna tunanetra
adalah memberikan layanan kepada pengguna tunanetra dengan segala keterbatasan fisik di
milikinya dalam mencari informasi sesuai dengan kebutuhannya sehingga informasi yang
dibutuhkan dapat terpenuhi.
2.4.1 Komputer Berbicara
dengan program JAWS. Komputer yang memudahkan penyandang tunanetra mengakses informasi dari internet maupun ketika mengetik adalah computer yang memiliki aplikasi screen reader yang disebut JAWS.
Cara kerja aplikasi screen reader yaitu komputer menerangkan tampilan yang ada
pada layar monitor (screen) dengan suara. Mulai dari menu program yang tersedia, sampai
menginformasikan dimana letak kursor dan menerangkan tulisan apa saja yang terbaca pada
Suara yang dihasilkan oleh JAWS terkesan seperti robot yang berlogat barat. Kecepatannya
pun dapat diatur, dipercepat maupun diperlambat. Program JAWS dapat juga mentranslate kata
dari Bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (saduran dari kamus Hasan Sadili). Pembrailannya pun
menggunakan dua program, yaitu Duxbury dan MBC MBC (Mitra Netra Braille Conventer).
Duxbury merupakan program dari luar negeri, sedangkan MBC berasal dari Indonesia.
Persamaan dari keduanya adalah dapat mengubah tulisan Braille ke tulisan awas maupun
sebaliknya. Namun, proses ini memilki kelemahan yaitu file yang disimpan formatnya akan
berubah dan simbol-simbol khusus (misal arab dan metematika) tidak dapat dikonversikan
langsung.
Gambar 1. Komputer Berbicara
Sumber :
Dari uraian di atas komputer berbicara adalah komputer yang menggunakan program
jaws yang mengeluarkan suara saat di gunakan penyandang tunanetra dengan berbahasa
inggris.
Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille (1809-1852), seorang guru berkebamgsaan
Perancis yang mengalami kebutaan pada usia 3 tahun. Braille menemukan sistem cetakan dan
tulisan khusus untuk penderita tunanetra ini pada tahun 1824 saat masih menjadi siswa pada
Institution Nationale des Jeunes Aveugles (National Institute for Blind Children), Paris, Perancis.
Tulisan braille berupa huruf-huruf timbul yang sederhana dan praktis dan metoda membaca
dipakai diseluruh dunia. Tulisan braille yang ditulis menonjol atau timbul di atas kertas dan
dibaca dengan cara meraba secara lembut dan perlahan tulisan, terdiri atas 6 titik atau lubang
dan dijadikan 2 baris, masing-masing 3 titik dari atas kebawah. Jika hanya titik pertama dari baris
pertama yang timbul, itu huruf a, jika titik pertama dan kedua dari baris pertama yang timbul itu
huruf b. Tulisan braille terdiri dari 63 karakter, yang meliputi huruf, angka, tanda baca, tanda
ulang, huruf besar .
Pada tahun 1932, tulisan braille diakui sebagai Standard English Braille oleh perwakilan
dari perkumpulan penyandang cacat netra seInggris Raya dan Amerika Serikat. Untuk
melengkapi dan menyempurnakan tulisan braille, pada tahun 1065 The Nemeth Code of Braille
Mathematics and Scientific Notation memodifikasi tulisan braille yang mewakili
bermacam-macam simbol khusus yang digunakan untuk bidang matematika dan teknik. Di samping itu juga,
masih banyak tulisan braille yang dimodifikasi untuk penulisan notasi musik, tulisan cepat
(stenografi) dan macam-macam bahasa di dunia. Saat ini, tulisan tangan dengan menggunakan
tulisan braille sudah dimungkinkan dengan menggunakan alat yang bernama ”slate”. Yang
terdiri dari 2 buah lembaran baja, yang dihubungkan dengan menggunakan sendi yang berguna
untuk memasukkan selembar kertas diantaranya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tulisan penemuan Louis Braille sangat berperan
penting untuk membantu para penyandang cacat netra mengatasi kendala dalam bersosialisasi
dan berkomunikasi antar sesama penyandang cacat netra dan dengan masyarakat umum.
Kendala ini dapat teratasi karena masalah pokok penyandang cacat netra adalah individu yang
mempunyai kelainan fisik (physical handicap) yang berpengaruh terhadap fungsi sosial dan
fungsi emosional, yang termanifestasi dalam bentuk gangguan kepribadian (sikap pasif dan sikap
ragu) serta gangguan dalam penyesuaian diri (rendah diri, kurang berani mengenal orang lain,
merasa tidak berguna). Karena tulisan braille sudah diakui sebagai standar cetakan dan tulisan
bagi penyandang cacat netra, sehingga para penyandang cacat netra tidak perlu takut dan
akses yang bisa dipakai sebagai identitas diri, dimana hal ini nantinya akan menumbuhkan
keberanian mereka untuk berkomunikasi dengan orang normal dan melakukan tugas dan
fungsinya dalam masyarakat, tanpa terganggu oleh ketunaannya, sama dengan orang normal.
Jane Ware (2002 : 2) menyatakan bahwa Huruf Braille adalah kode didasarkan pada enam titik, disusun dalam dua kolom tiga titik. Ada berbagai jenis kode braille. variasi menggunakan ini dari enam titik untuk mewakili semua huruf dari alfabet, angka, tanda baca dan kelompok yang sering terjadisurat. orang buta membaca dari kiri ke kanan di halaman dengan sentuhan ringan, menggunakan satu atau kedua tangan. Bantalan lembut jari-jari digunakan untuk merasakan titik terangkat, karena ini lebih sensitif dibandingkan dengan ujung jari. Sebagian besar pembaca braille terlihat membaca huruf braille oleh penglihatan. Jari sensitif dibutuhkan untuk membaca braille. Ukuran huruf braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 mm.
Gambar 2. Huruf Braille
Sumber:
Dari urain di atas dapat disimpulkan bahwa huruf braille adalah kode didasarkan enam
tiitk dengan membaca dari kiri ke kanan yang di susun dalam dua kolom tiga titik.
2.4.3 Printer Braille
sehingga printer ini lebih bersuara jika dibandingkan dengan printer tinta. Printer braille terdiri
dari dua tipe, yaitu COMET dan BRAILLO NORWAY (tipe 200 dan 400). Perbedaan dari dua tipe
ini terletak pada hasil cetakannya. Printer COMET hanya dapat mencetak dari dua sisi (satu
muka), sedangkan BRAILLO NORWAY dapat mencetak dua sisi (bolak-balik).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa printer braille mengeluarkan suara dengan
memiliki 2 tipe yaitu COMET dan BRAILLO NORWAY perbedaannya pada saat mencetak.
Gambar 3. Printer Braille
Sumber :
2.4.4 Digital Ascesible System (DAISY) Player
PlayerDigital Ascesible System (DAISY)Player. DAISY Player digunakan untuk
mempermudah penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi dari buku tertentu yang
telah diubah menjadi bentuk suara. Kecepatan dan volume suara dapat diatur sedemikian rupa
Gambar 4. DAISY Player
Sumber: http://www.hksb.org. (2010)
2.4.5 Buku bicara (Digital Talking Book)
Buku bicara pada dasarnya memilki cara kerja yang hampir sama dengan buku bicara
dalam bentuk compact disk (CD). Hanya saja pengoperasian kaset bicara harus menggunakan
radio tape.
Sumber:
2.4.6 Termoform
Termoform merupakan mesin pengganda (copy) bacaan penyandang tunanetra dengan
penggunakan kertas khusus, yaitu braillon.
Gambar 6. Termoform
Sumber:
2.4.7 Telesensory
Telesensory merupakan suatu alat yang digunakan untuk memperbesar huruf awas agar
terbaca oleh penderita tunanetra low vision.
Sumber :
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pengguna tunanetra adalah
memberikan layanan kepada penyadang tunanetra dengan memberikan fasilitas buku secara
manual yaitu buku braille maupun teknologi seperti komputer berbicara, buku elektronik, yang
menggunakan program jaws. Dengan adanya layanan perpustakaan berbasis teknologi,
diharapkan dapat memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi, memotivasi
penyandang tunanetra mencintai perpustakaan dan dapat mewujudkan perpustakaan ideal bagi
penyandang tunanetra. Pihak yang terkait harus juga lebih memperhatikan penyandang
tunanetra dengan memberikan layanan perpustakaan berbasis teknologi agar supaya
penyandang tunanetra termotivasi untuk mencintai perpustakaan sehingga dapat terwujudnya
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Pada Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera
Utara
Berdasarkan Perda Provinsi Sumatera Utara No.4 Tahun 2001 tentang lembaga teknis
daerah bahwa BPAD Propsu merupakan lembaga teknis yang berada dalam perangkat
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, yang dulunya bernama Perpustakaan Nasional Provinsi
Sumatera Utara. Perubahan nama setelah diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang
otonomi daerah.
Sebelum menjadi badan semenjak berdiri namanya adalah Perpustakaan Wilayah bertempat
di Jln. Jambi, pindah ke Jln. Cik Ditiro No. 1, pindah lagi ke Jln. Serdang No. 18 pindah lagi ke Jln.
Iskandar Muda dan sekarang di Jln. Bringjend Katamso No. 45 K Medan. Berdasarkan keputusan
Presiden No. 11 Tahun 1999 tentang Perpustakaan Nasional RI yang dulunya Perpustakaan
Wilayah berubah menjadi Perpustakaan Daerah Sumatera Utara. Kemudian setelah lahirnya
Kepusan Presiden No. 50 Tahunn 1997 dan Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 44
Tahun 1998 namanya berubah menjadi Perpustakaan Nasinal Provinsi Sumatera Utara.
Pelayanan yang diberikan oleh penyadang cacat yaitu tunanetra pada Tahun 2009 oleh
Drs.Syaiful Syafri, MM. Beliau memberikan layanan kepada penyandang cacat tunanetra berupa
koleksi buku yang bertuliskan huruf braille dan komputer bersuara dengan mengunakan
program jaws. Ruangan untuk layanan ini terdapat satu ruangan dengan layanan audiovisual di
ruangan remaja dikarenakan belum adanya ruangan yang ada untuk penempatan layanan tunanetra.
Untuk bagian kesekretariatan dikepalai oleh seseorang kepala bagian sekretariat
membawahi sub bagian umum, sub bagian keuangan dan sub bagian program. Adapun yang
menjadi tugas di bagian sekretariat ini adalah yang berkaitan dengan urusan surat menyurat,
administrasi, kepegawaian dan urusan rumah tangga perkantoran dan urusan keuangan.
Untuk bidang arsip daerah di kepalai oleh seseorang kepala bidang yang membawahi
tiga sub bidang yakni sub bidang pengelolaan arsip in aktif, sub bidang pengelolaan arsip statis
dan sub bidang pembinaan kearsipan. Bidang ini adalah merupakan peleburan dari kantor arsip
daerah provinsi Sumatera Utara. Adapun tugas bidang kearsipan ini mengurus berbagai hal yang
berkaitan dengan masalah kearsipan.
Bidang pengembangan dan pengelolaan membawahi dua sub bidang yakni sub bidang
deposit dan sub bidang pengembangan dan pengolahan bahan pustaka. Tugas bagian ini adalah
untuk melakukan pemasyarakatan UU Nomor 4 Tahun 1990 tentang serah simpan karya cetak
dan karya rekam serta melakukan pengadaan dan pengolahan bahan pustaka. Bidang Layanan
Perpustakaan membawahi dua sub bidang yakni sub bidang layanan dan sub bidang automasi
dan multimedia. Tugas di bagian ini adalah melaksanakan layanan informasi, melakukan
kerjasama dan automasi, bibliografi, serta melakukan kegiatan promosi perpustakaan seperti
melakukan pameran, perlombaan, serta membuat literature sekunder.
Bidang Pembinaan perpustakaan membawahi dua sub bidang yakni sub bidang
sumberdaya manusia dan sub bidang kelembagaan. Adapun tugas dibagian pembinaan
perpustakaan ini adalah melakukan pembinaan sumber daya manusia dan melakukan
pembinaan semua jenis perpustakaan.
Berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pembentukan Lembaga Teknis Daerah
Povinsi Sumatera Utara dan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor: 061.293.K/Tahun
2002 tentang Tugas dan Tata Kerja Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi
Tata Kerja Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera tara
[image:32.612.91.491.152.659.2]struktur organisasi BPAD Propsu
Gambar 8: Bagan Organisasi Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Sumatera
Utara
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
SEKRETARIS
SUBBAG SUBBAG
KEUANGAN
SUBBAG
PROGRAM
BIDANG PEMBINAAN SUMBER DAYA MANUSIA
DAN KELEMBAGAAN PERPUSTAKAAN BIDANG ARSIP DAERAH SUB BIDANG PEMBINAAN SUB BIDANG PEMBINAAN KELEMBAGAAN PERPUSTAKAAN SUB BIDANG LAYAN DAN PEMBINAAN KEARSIPAN BIDANG PENGOLAHAN
BAHAN PUSTAKA DAN DEPOSIT DAERAH
SUB BIDANG PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA
SUB BIDANG DEPOSIT DAERAH
BIDANG LAYANAN PERPUSTAKAAN DAN
TEKNOLOGI
Sumber : Profil BPAD Propsu (2008)
3.3 Pelayanan Pengguna Tunanetra
Pelayanan yang diberikan BPAD Propsu kepada tunanetra yaitu buku braille dan dua
unit komputer berbicara dengan menggunakan program jaws. Koleksi-koleksi buku yang di
dapat dari pembelian. Jumlah koleksi untuk pengguna tunanetra 300 judul.
Kendala yang sering dihadapi pustakawan ketika menghadapi tunanetra adalah pada
saat mencari informasi yang di butuhkannya dan menuntunnya keluar ruangan baca karena
ruang bacanya bersatu dengan Ruang Baca Anak Dewasa B sehingga ruang gerak untuk keluar
tidak bebas. BPAD Propsu memberikan motivasi semagat dalam minat baca dengan cara
[image:33.612.120.492.333.495.2]mengadakan kegiatan lomba membaca huruf braille, lomba membaca puisi.
Gambar 9: Ruang Baca Tunanetra bergabung dengan Ruang Anak Dewasa B
Tata letak ruangan untuk penyadang tunanetra BPAD Propsu belum memadai untuk
ruang gerak untuk mencari informasi. Seharusnya ruang bagi penyadang tunanetra harus di
bedakan dengan pengguna umum agar tunanetra dapat bebas dalam pergerakan dan
memberikan tulisan di rak buku dengan bertuliskan huruf braille atau tulisan timbul, agar
tunanetra dapat mudah mencari informasi dibutuhkan sesuai dengan kebutuhanya.
3.4 Pelayanan Pengguna
Pelayanan Pengguna adalah pelayanan yang menyelenggarakan pemanfaatan dan
penyebarluasan informasi atau bahan pustaka untuk setiap pengguna perpustakaan. BPAD
Propsu memberikan layanan kepada semua pengguna tanpa membedakan status sosial, ras
agama dan yang memiliki keterbatasan fisik seperti penyandang tunanetra.
3.4.1 Kelompok Pengguna
Kelompok pengguna Perpustakaan BPAD Propsu yaitu semua kalangan masyarakat dari
anak-anak sampai orang dewasa tanpa membedakan status sosial maupun mereka yang
penyandang cacat seperti tunanetra. Pelayanan tunanetra pada BPAD juga di sediakan untuk
penyandang cacat.
3.4.2 Sistem Pelayanan
Perpustakaan BPAD Propsu dalam memberikan layanan kepada penggunya menetapkan
sistem dan kegiatan pelayanan. Sistem yang diterapkan pada BPAD Propsu kepada layanan
tunanetra adalah sistem layanan terbuka dimana pengguna dapat secara langsung dapat
memilih, menemukan dan mengambil bahan pustaka yang dikehendaki dengan memilih
bantuan kepada pustakawan agar pengguna tunannetra dapat menemukan informasi yang
diinginkanya.
1. Keanggotaan
Yang menjadi anggota BPAD Propsu adalah seluruh masyarakat tanpa membedakan
status sosial, ras agama, maupun mereka yang penyandang cacat seperti tunantera. Tunanetra
yang ingin mendaftar menjadi anggota BPAD mengisi formulirnya seperti masyarakat umum
formulirnya tidak bertuliskan huruf braille. Penyandang tunanetra di isikan oleh keluarga atau
yayasan yang bertanggungjawab.
Syarat pendaftaran anggota BPAD Propsu untuk tunanetra adalah :
1. Isi formulir permohonan menjadi anggota boleh di isikan oleh keluarga maupun yayasan
yang beretanggung jawab
2. Lampirkan Pas Poto ukuran 2 x 3 sebanyak 1 lembar
3. Lampirkan foto kopi indentitas yang digunakan
4. Lama peminjaman buku maksimal 2 buku
5. lama peminjaman emapat belas hari lamanya dan bila mana diperlukan dapat
diperpanjanag selama 2 minggu
6. Bagi pemustaka yang menggunakan fasilitas computer dengan program jaws maksimal 2
jam/hari dan dapat dilanjutkan apabila pengguna lain tidak ada.
7. Setelah dilengkapi dengan pas poto, foto kopi Kartu Siswa serta disahkan oleh Kepala
sekolah , Yayasan Tunanetra bersekolah berkas di masukkan ke dalam map dan
Gambar 11 : Contoh formulir anggota perpustakaan
Sumber : BPAD Propsu (2011)
Kartu anggota akan diberikan kepada anggota perpustakaan. Kartu perpustakaan inilah
menjadi sarana indentitas bagi calon peminjaman atau pengguna bahan pustaka, maka kartu
Depan Belakang
[image:37.612.92.460.135.400.2]
Gambar 12 : Contoh Kartu Anggota Perpustakaan
Sumber : BPAD Propsu (2010)
Setelah calon anggota menggurus kartu anggota dan memenuhui persyaratan keanggotaan
maka pengguna tunanetra mendapatkan kartu anggota atau kantong pinjam. Pengguna sah
dalam meminjamankan dan menggunakan buku braille.
2. Peminjaman
Peminjaman bahan pustaka adalah pelayana sirkulasi yang berupa kegiatan pencatatan
bukti bahwa pemakai atau anggota perpustakaan meminjaman bahan pustaka. Tunanetra dalam
peminjaman buku dengan menayakan pustakawan dimana letak buku yang dicarinya berada
dan setalah mendapatkan tunanetra tersebut meraba tulisan buku apakah buku itu benar yang
mencatat tanggal pengembalian pada buku peminjamn dan slip pengembalian. Buku yang di
pinjam hanya 2 buku saja . Lama peminjaman buku selam 2 minggu.
Prosedur peminjaman bahan perpustakaan BPAD Propsu adalah sebagai berikut :
a. Peminjaman boleh langsung dan mencarinya sendiri atau meminta bantuan kepada
petugas perpustakaan ke ruang koleksi dengan menunjukkan kartu anggota.
b. Mengambil sendiri buku yang diperlukan atau meminta bantuan kepada petugas
perpustakaan.
c. Buku yang dipinjam ditunjukkan kepada petugas perpustakaan.
d. Petugas perpustakaan mencatat tanggal pengembalian pada peminjaman dan slip
pengembalian.
Mulai
Buku
Dapat dipilih dan dipinjam
Mencatat Peminjaman
Stempel tanggal
Memberi buku dan meminta kartu pada
pengguna
Kartu Anggota
Stop
Memberitahu Pengguna
Gambar 13: Flowchart peminjaman koleksi braille pada BPAD Propsu
Sumber : BPAD Propsu
3. Pengembalian
Dalam pelayanan pengembalian bahan perpustakaan adalah merupakan kelanjutan
dari pelayanan peminjaman suatu bahan perpustakaan. Lama peminjaman yang diberikan
kepada penyandang tunanetra hanya dua minggu. Setelah habis masa peminjaman maka
tunanetra wajib mengembalikan buku, tunanetra juga bisa menitipkannya kepada keluarga
untuk mengembalikan buku yang sudah di pinjam.
Prosedur pengembalian bahan perpustakaan BPAD Propsu adalah sebagai berikut :
a. Peminjam menyerahkan bahan perpustakaan yang telah di pinjam kepada petugas
b. Petugas menerima dan memeriksa bahan perpustakaan yang dipinjam apakah
bahan perpustakaan yang dikembalikan dalam keadaan baik atau tidak.
c. Jika tidak terjadi kerusakan maka petugas memeriksa apakah bahan perpustakaan yang
dikembalikan dalam keadaan baik atau tidak.
d. Petugas mengambil kartu peminjaman dari kotak kartu peminjaman atas nama anggota
tersebut.
e. Petugas mengembalikan kartu buku pada kantung buku
Gambar 14: Flowchart pengembalian koleksi braille pada BPAD Propsu
Sumber : BPAD Propsu Mulai
Buku
Mencatat Pengembalian
Habis masa pinjam
Memberi buku dan meminta kartu anggota kepada petugas
Buku untuk di shelving
Stop
Denda Memberitahu
4. Perpanjangan
Bahan perpustakaan yang dipinjam telah habis masa peminjamannya, maka tunanetra
dapat berkewajiban untuk mengembalikan bahan perpustakaan tersebut, tunanetra juga bisa
menitipkan kepada keluarga untuk mengembalikan buku yang sudah dipinjam. Jika peminjam
masih ingin tetap menggunakan bahan pustaka maka tunanetra harus melakukan perpanjangan
dengan melapor kepada pustakawan dan perpanjangan masa peminjaman bahan perpustakaan
hanya dapat satu kali saja dalam dua minggu. Perpanjangan harus dialakukan langsung oleh
tunanetra dan tidak boleh diwakilkan.
5. Penagihan
Prosedur penagihan yang dilakukan bila terjadi kerterlambatan batas penegmbalian
buku adalah petugas memeriksa lama keterlambatan pengembalian bahan pustaka dan
membuat surat tagihan kepada pengguna sebagai sanksi administrasi atau denda sebesar
Rp.1000/hari setiap buku kecuali buku hilang maka pengguna penyandang tunanetra wajib
mengganti dengan buku yang sama.
3.4.4 Waktu Pelayanan
Sistem pelayanan yang diberikan BPAD Propsu yaitu sistem layanan terbuka dimana
pengguna secara langsung dapat memilih, menemukan dan mengambil bahan pustaka yang
dikehendaki dengan memilih bantuan kepada pustakawan agar pengguna tunannetra dapat
[image:42.612.141.444.602.699.2]menemukan informasi yang diinginkanya.
Tabel-1 Waktu Layanan
Waktu Layanan Perpustakaan adalah :
Hari Waktu
Senin – Jumat Pukul 08.00 – 17.30 Wib
Sumber: BPAD Propsu
3.5 Kondisi Penyandang Cacat Tunanetra BPAD Propsu
1. Kondisi Fisik Pelayanan
Secara umum, kondisi fisik fasilitas BPAD Propsu sudah belum memadai dalam
memberikan pelayanan masih mengejar pemenuhan kebutuhan penyandang tunanetra dasar
saja. Ruang penyandang tunanetra yang bergabung dengan Ruang Dewasa B yang membuat
penyandang tunanetra tidak leluasa dalam pergerakannya.
2. Aspek Lingkungan dan Tempat
BPAD Propsu sudah sangat terkenal dengan berbagai sebutan, antara lain pendidikan,
budaya dan pusat informasi . Hal ini perlu dipertahankan sebagai identitas kebanggaan BPAD
Propsu, salah satu usahanya dengan menambah perbendaharaan jenis fasilitas teknologi untuk
penyandang cacat netra.
3. Aspek Perilaku Pelaku Kegiatan Utama
Diperoleh dengan cara studi literatur, yaitu :
1) Kesederhanaan
Yang dimaksud kesederhanaan disini adalah bahwa penyandang cacat netra sebagai
pelaku kegiatan utama dapat membawa dirinya dari satu tempat ke tempat lain dalam suatu
lokasi, tanpa bantuan orang lain (dinamis dan independen). Karena pergerakannya dinamis
dan mengandung unsur swadaya, maka indra pengganti indra penglihatan dalamdirinya
harus dimaksimalkan, yaitu : alat pendengaran dan alat peraba (dalam hal ini penggunaan
tongkat sebagai detektor, yang digunakan dengan cara mengetuk-ngetuk tongkat tersebut
kekiri. dan kekanan untuk memastikan keamanan jalan di depannya sebelum
melangkah).Untuk menerjemahkannya kata ”kesederhanaan” dapat dilakukan dengan
mengatur tata letak (lay out) secara linier/segaris atau peletakan material-material yang
2) Keamanan
Kata Keamanan diartikan sebagai pergerakan yang bebas dan leluasa serta terhindar dari
hal-hal yang membahayakan, misalnya : tersandung, terpeleset, tabrakan/bersinggungan
dengan objek yang tidak diinginkan. Keamanan yang di berikan BPAD Propsu sangat
memberikan keamanan kepada penyadang tunanetra dengan lantai yang tidak licin sehingga
tidak membahayakan bagi penyandang tunanetra.
3) Kenyamanan
Menurut para ahli, ternyata konsep kenyamanan antara penyandang cacat netra dengan
orang normal adalah sama. Malah penyandang cacat netra diuntungkan karena tidak
mengenal konsep cahaya, warna dan perspektif. Oleh karena itu, diasumsikan dalam
membacapun konsep kenyamanannya tidak berbeda. Di sini, faktor pembentuk
kenyamanan, adalah : penghawaan, yang terbagi menjadi penghawaan alami (penggunaan
ventilasi) dan penghawaan buatan (penggunaan AC sebagai pengatur temperatur dan
kelembaban dalam ruangan) serta akustik (penggunaan bahan-bahan akustik didalam dan di
luar ruangan, untuk meminimalisasi sumber-sumber bunyi internal dan eksternal), karena
setelah kehilangan sensor visual, maka indra pendengaran dimaksimalkan penggunaannya
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya maka dapat
diambil kesimpulan yaitu :
1. BPAD Propsu memberikan layanan kepada semua pengguna tanpa membedakan status sosial,
ras agama dan yang memiliki keterbatasan fisik seperti penyandang tunanetra.
2. Pelayanan yang diberikan BPAD Propsu kepada tunanetra yaitu buku braille dan dua unit
komputer berbicara dengan menggunakan program jaws.
3. Sistem yang diterapkan pada BPAD Propsu kepada layanan tunanetra adalah sistem layanan
terbuka dimana pengguna dapat secara langsung dapat memilih, menemukan dan
mengambil bahan pustaka yang dikehendaki dengan meminta bantuan kepada pustakawan
agar pengguna tunannetra dapat menemukan informasi yang diinginkanya.
4. Jenis-jenis Pelayanan Pengguna Tunanetra yang diberikan BPAD Propsu adalah keanggotaan,
peminjaman, pengembalian, perpanjangan, penagihan.
5. Dengan adanya pelayanan yang diberikan BPAD Propsu ke penyadang tunanetra, tunanetra
dapat mencari informasi yang diinginkannya.
4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dari observasi yang telah dilakukan, maka penulis mencoba
1. Koleksi bahan pustaka huruf braille di tambahkan lebih banyak lagi agar pengguna tunanetra
tidak bosan saat mencari informasi yang diinginkanya.
2. Memberikan ruang khusus untuk penyadang cacat yaitu tunanetra agar tunanetra bebas
dalam pergerakannya dengan memberikan huruf braille di setiap ruangan.
3. Sebaiknya rak-rak buku, diberi tulisan huruf braille agar tunanetra bisa mencari informasi
yang diinginkanya dengan meraba tulisan huruf braille tersebut.
4. Menambahkan komputer berbicara dan teknologi yang canggih bagi penyadang tunanetra
agar tunanetra dapat juga merasakan apa yang dirasakan dengan non penyadang
tunanetra.
5. Sistem Klasifikasi berdasarkan DDC 22 BPAD Propsu harusnya menerjemahkan ke huruf
DAFTAR PUSTAKA
DAISY Player. 2010. (http://www.hksb.org) diakses 23 Maret 2011
Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah.
Jakarta : Grasindo
Darmono. 2006. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Grasindo.
Depdiknas RI. Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi. 2004. Pedoman Perpustakaan Perguruan
Tinggi. Jakarta: Dapartemen Pendidikan Nasional Direktoral Jenderal Pendidikan
Tinggi.
Digital Talking Book. 2010.
Hartono, Bambang. 1986. Sistem Pelayanan Informasi Perpustakaan. Jakarta : Arga Kencana
Abadi.
Hermawan, Rachman. 2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik
Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto
Huruf Braille.
23 Maret 2011
Jane, Ware. 2002. Buku belajar bagaimana untuk menuliskan musik Braille dari RNIB
2011
Komputer Berbicara. 2010.
Layanan Berbasis Teknologi sebagai Sarana Mewujudkan
Perpustakaan Ideal bagi Penyandang Tunanetra.
diakses 13 Febuary 2011
Lasa.1994. Jenis-jenis Pelayanan Informasi Perpustakaan. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Lusli, Mimi Mariani. 1992. Pedoman dan Struktur dalam Huruf Braille. Jakarta : Fakultas
Martoadmojo, Karmidi. 1993. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta : Universitas Terbuka,
Depdikud.
Printer Braille.
Purwanto, Heri.1998. Diklat Ortopedagogik Umum. Yogyakarta: FIP Universitas Negeri
Yogyakarta. Rifyanto Bakri.
Saputro, Turis Purno. 2009. Prencanaan dan perancangan struktur arsitektur Perpustakaan
Tunanetra .
Safaruddin, 2010. Layanan Berbasis Teknologi sebagai Sarana Mewujudkan
Perpustakaan Ideal bagi Penyandang Tunanetra.
Siregar, Belling. 2010. Pengatalongan Bahan Buku Khusus Bahan Audio Visual. Medan :
Universitas Sumatera Utara.
Soetminah. 1987. Perpustakaan, Kepustakaan dan Pustakawan. Yogyakarta: Djambatan
Sulistyo, Basuki.1999. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia.
Sulistyo, Basuki.1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia
Sumardji, P. 1992. Pelayanan Referensi di Perpustakaan. Yogyakarta : Kanisius
Sutarno NS. 2006. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Sagung Seto.
Sutarno NS.2006. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Sagung Seto.
Sutoyo, Agus.2001. Strategi dan Pemikiran Perpustakaan. Jakarta : Sagung Seto
Telesensory. 2010.
Termoform.
diakses 23 Maret 2011
Trimo, Soejono. 1986. Pedoman Pelaksanaan Perpustakaan. Bandung: Alumni.
LAMPIRAN
DATA KOLEKSI BUKU BRAILLE PADA TAHUN 2010
No Judul Pengarang Penerjemah Penerbit Tahun Klas Hlm
1 100 puisi Indonesia terbaik
2008
Anugerah Sastra
Pena Kencana
Sonia Limbang Gramedia 2008 811 371
2 100 kejadian yang
mengubah sejarah dunia
Bill Yanne Zainal Delapratsa
Publising
2004 900 470
3 100 peluang usaha Agung Widyatmoko Media Kita Medai Kita 2006 330.12 265
4 100 wanita yang
berpengaruh dalam sejarah
dunia
Gail Mayer Roika Atika Suryanto Karisma
Publishing
900 422
5 1001 keajiaban alam dunia Bill Yanne Staff Mitra
Watch
Karisma
Publishing
2005 813 193
6 101 dosa- dosa besar Nasrul Umam
Syafiy
Qualtum
Media
2004 200 333
7 18 wisdom Andre Wongso Amdre Wongso AW Publishing
2005 152.2 108
8 50 tokoh politik legendaris
dunia
Ahmad Munif Miftanul Narasi 2007 923. 512
9 Aku ingin tahu mengapa:
sabun menghasilkan
gelembung dan banyak
pertayaan
10 Aneka resep masakan kue
dan puding cipta selera
Dewi Suharsono Ima Cipta Media
Surabaya
2002 641.5 344
11 Apa yang diajarkan oleh
anak kita
Pierri Feruci Angela Rosanty Gramedia 2002 370 356
12 Bahasa Arab 1 untuk
mahasiswa PT
H.Rialo Masduki,
dkk
Zainal Darul Umum
Press
2006 400 116
13 Bahasa Arab untuk
mahasiswa PT. Jil.3
H.Chatibul Umam Zainal Darul Umum
Press
2002 200 150
14 Bahasa Inggris kelas XI
modul paket C
Yeni Supriyani Zainal Depdiknas 2007 420 86
15 Batavia awal abad 20 HCC Clockener
Brousson
Ananta
Gondomono
Komunitas
Bambu
2004 900 231
16 Being happy kiat hidup
tentaram dan bahagia
Andreww Matt Zainal Gramedia 2007 000 322
17 Berani menulis artikel Wahyu WIbowo Adriani Ahadiat Gramedia 2006 070 470
18 Berguru pada matahari:
membangkitkan jiwa
kepemimpinan dalam diri
anda
Andrias Harefa Andrias Harefa Gramedia 2007 158.4 153
19 Berkat madu sehat, cantik
dan penuh vitalis
Rosita dan tim
Redaksi Qanita
Dewi Maryastuti Qanita 2007 613 185
20 Bisnis modal dengkul orang
lain
Indra Ismawan Relawan book
blind Mall
Ciputra
21 Blind power: berkarya
tanpa mata
Indra Ismawan Zainal Med Press 2007 152 692
22 Buku pintar berprestasi
untuk SD, SMP, SMA dan
umum
Tim penyusun Bintang
Indonesia
2005 000 259
23 Cerita bijak untuk
mewujudkan legenda
appribadi
Dewi Minangsari Indah Grasindo 2005 800 372
24 Dasar-dasar didaktit dan
penerapannya dalam
pembelajaran
Herry Sukarman Depdiknas 2003 370 104
25 Displin tanpa teriakan atau
pukulan
Jerry Wyckoff Marheni B Bina Rupa
Aksara
1997 150 487
26 Essential grammar in use Raymond Murphy Erlangga 2001 420 994
27 Every day English
conversation jil.2
S.F Habeyb Anih Bhuana Ilmu
Populer
1999 420 248
28 Fatimah buah cinta
Rasullah SAW : sosok
sempurna wanita surga
Abu Muh Ordoni Nunik Djarot Zahra
Publishing
2006 200 531
29 Hak azazi perempuan
instrumen hokum untuk
mewujudkan keadilan
gender
Keluarga Kerja
Convention Watch
Pusat Kajian gender
UI
Yayasan Obor Yayasan
Obor
2005 348 348
30 Harimau-harimau Mochtar Lubis Yayasan Obor Yayasan
Obor
31 Hidup sukses dan bahagia Ben Handaya The Blind Mall
Ciputra
152.2 111
32 Hukum agraria di Indonesia Efendi
Perangin-angin
Dumi Aisyah Rajawali
Press
1991 300 891
33 Jangan pukul aku :
pradigma baru pola
pangasuhan anak
Alfia Kohi Syenni Susanti MLC Lumos
book
2000 370 749
34 Keberhasilan anak ditangan
orangtua
Chainizah Graha Tri H.
Pramastuti
Elek
Komputido
2007 370 188
35 Ketika cinta bertasbih Habiburaham El
Sirazy
Dinny Zudiyanti Republika 2004 813 690
36 Ki Hajar Dewantara : bapak
Pendidikan Nasional
Harjana HP 84
37 Kick Andy : menonton
dengan hati :kumpulan
kisah inspiratif
Gantyo
Koespradono
Zainal Bentang
Budaya
2008 000 323
38 Kumpulan dogeng Paul Durand Jovita Tandean 2000 398.5 177
39 La Tahzan : jangan besedih Aidh al Qami Krisna Dewanti Qisthy Press 2002 150 1693
40 Making team work Michael Maginn Theofany
Melyana
Bhuana Ilmu
Populer
2006 651.3 112
41 Manajemen sumber daya
manusia
Sondang P. Siagian Marhani 2003 650 1150
42 Mantap dalam 30 hari
menit karir
Caro Handley Diana A.Sucipta Erlangga 2007 344.6 142
Quran
44 Matimatika 1 untuk SMA
dan MA kelas X
Yanti Mulyanti Tisna Sudrajat Piranti
Darma
Kalokatama
2008 510 830
45 Matimatika kelas XI modul
paket C
Sujatmiko Anih Depdiknas 2007 510 492
46 Melihat jendela hati 99
kisah keseharian yang
membuka hati
Mindo Adriansyah 2005 152.5 355
47 Mengembangkan
kreativitas
David Campbel Kansius 1996 152.2 102
[image:57.612.45.579.72.703.2]48 Mengenal anak autis Bandie Dalphie Normiati Mitra
Grafika,
Bandung
1996 000 60
49 Orang-orang dalam
lintasan cerita
Warno Hamia Insan
Cendikia
2002 200 247
50 Panduan hidup sehat dari
alergi sampai gemuk
dr Syamsunjal
Djauzi
Martina
Gamayanti
Kompas 613 354
51 Panduan hidup sehat dari
soal ginjal sampai kanker
dr Syamsunjal
Djauzi
Jetty
Danuturwindo
Kompas 2005 613 367
52 Panduan hidup sehat dari
soal pemeriksaan
kesehatan sampai vertigo
dr Syamsunjal
Djauzi
Jetty
Danuturwindo
Erlangga 2005 613 367
53 Panduan mengetik, awas
10 jari untuk tunanetra
VL Mimi Mari Manani Yayasan
Mitra Netra
54 Pendalaman materi sukses
UN 2008: bhs Inggris SMA
IPA/IPS
SMU 66 Jakarta SMU 66 Jakarta Zainal 2007 510 226
55 Pendalaman materi sukses
UN 2008: matimatika SMP
Anis Akasia 2007 510 558
56 Persiapan TOEFL 101 Arief Rahman Dumi Aisyah Visipro 2000 420 855
57 Putri si pembuat kekmbang
api
Phillip Pulman Rina Ruslaini Gramedia 2007 813 119
58 Quantum ikhlas Erbe Sentanu Erbe Sentanu Elek
Komputindo
2008 152.5 322
59 Rahasia otak cemerlang Eric Jensen Nana Meyliana Gramedia 2007 370 271
60 Rekayasa perangkat lunak Andri Kristanto Dumi Aisyah Gava Media 2004 005 308
61 Research methology on
English morphology and
syntaxis
Muh Basri Zainal Badan
Penerbit
UNM
2007 420 444
62 Sang Nabi Khalil Gibran Rita Tanzil Bentang
Budaya
2000 800 103
63 Sejarah islam ( Tarikh
pramodem)
K.Ali Dumi Aisyah Srigunting 2000 209 1077
64 Simple public speaking Dion Christian
Nugroho
Josephine Tjong 2000 152.5 50
65 Smart emotion :
membangun kecerdasan
emosi
Anthony Dio
Martin
Indah Gramedia 2005 152.5 280