• Tidak ada hasil yang ditemukan

Trust Mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Trust Mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

Trust

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Terhadap DPRD Kota Medan

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan

Ujian Sarjana Psikologi

Oleh :

Rahmi Zuraida

091301066

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

Trust Mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan

adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi in saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, Juni 2013

(3)

Trust Mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan

Rahmi Zuraida dan Ari Widiyanta, M.Si, psikolog

ABSTRAK

Trust telah muncul sebagai isu sentral dalam diskusi terbaru mengenai dinamika organisasi kelompok, mulai dari organisasi kerja untuk sistem politik dan sosial. Dalam konteks pemerintahan, trust menjadi andalannya demokrasi karena merupakan kunci utama dari kemauan untuk bekerja sama secara sukarela. DPRD Kota Medan sebagai pelaksana legislatif merupakan posisi yang strategis dalam konteks penyelenggaraan pemerintah daerah. Idealnya anggota legislatif melaksanakan tugasnya (fungsi pengawasan, legislasi dan anggaran) sebagai wakil rakyat, sangat membutuhkan kepercayaan dari masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan dengan melibatkan subjek sejumlah 400 orang mahasiswa dengan metode kuantitatif deskriptif yang diukur dengan menggunakan skala trust dan wawancara personal sebagai analisa tambahan. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa sebanyak 71% subjek memiliki trust yang rendah, 17,75% memiliki trust yang sedang dan hanya 11% yang memiliki trust tinggi terhadap DPRD. Secara keseluruhan trust mahasiswa terhadap DPRD Kota Medan dan ketiga fungsinya berada di kategori rendah (70%-78% dari jumlah keseluruhan subjek penelitian).

(4)

Abstract

Trust has emerged as a central issue in recent discussions of the dynamics of organizational groups, ranging from the organization of work for political and social system. In the context of the government, trust became a mainstay of democracy because it is the key of willingness tp cooperate voluntarily. DPRD Kota Medan as a legislative implementing is a strategis position in the context of local governance. Ideally, legislators carry out their duties (supervisory, legislation and budgeting functions) as representatives of the people, desperately need the trust of public. This study was conducted to see how the image of the trust at University of North Sumatera’s student to DPRD Kota Medan with a number of subjects involving 400 students with descriptive quantitative methods are measured using a scale of trust and personal interviews as additional analysis. Statistical analysis showed that as many as 71% of the subjects had low trust, 17.75% had moderate trust and only 11% had a high trust towards DPRD Kota Medan. Student overall’s trust toward DPRD Medan and third functions are in the low category.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah Nya maka peneliti dapat menyelesaikan skripsi Psikologi Sosial ini yang berjudul Trust Mahasiswa USU terhadap DPRD Kota Medan”. Puji syukur juga peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kekuatan kepada orang tua peneliti sehingga mereka bisa terus berada di sisi peneliti untuk memberikan semangat, motivasi dan doa kepada peneliti sehingga peneliti mendapat kemudahan dalam pengerjaan penelitian ini.

Selama proses penelitian, peneliti mendapat banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati, psikolog sebagai Dekan Fakultas Psikologi.

2. Terkhusus untuk Dosen Pembimbing peneliti yaitu Pak Ari Widiyanta, M.Si, psikolog yang telah mengarahkan, membantu dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas kesabaran, bimbingan, saran-sarannya serta nasihat-nasihatnya selama proses bimbingan mulai dari seminar hingga terselesainya skripsi ini.

(6)

4. Seluruh dosen-dosen Departemen Sosial, Ibu Rika Eliana, M.Psi, psikolog. Kepada Ibu Meutia Nauly, M.Si, psikolog, Kak Ridhoi Meilona Purba, M.Si serta Bang Omar K. Burhan, M.Sc yang telah memberi banyak masukan kepada peneliti mengenai metode penelitian, diskusi-diskusi mengenai skripsi peneliti, dan referensi-referensi yang berkaitan dengan skripsi peneliti.

5. Ibu Rahma Yurliani, M.Psi, psikolog sebagai Dosen Penasehat Akademik peneliti. Terima kasih karena Ibu telah banyak mengarahkan dan membimbing peneliti sejak semester 1 sampai dengan sekarang.

6. Bapak dan Ibu Dosen staf pengajar serta staf pegawai Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas segala ilmu dan pengalaman yang telah diberikan. Semoga ilmu dan pengalaman yang telah diberikan menjadi bekal di kemudian hari.

7. Terima kasih yang sebesar-besar dan sedalam-dalamnya untuk Abu dan Ummi yang sejak lahir dan hingga sekarang selalu mendampingi peneliti dan mendoakan untuk kelancaran pendidikan selama ini. Terimakasih atas doa dan nazarnya sehingga nilai yang saya dapatkan cukup memuaskan. 8. Terima kasih juga peneliti ucapkan untuk teman-teman seangkatan peneliti

(7)

Tami, Hana, Pita, Mimip, Mbak Opi, Shoffa, Dita, Imam, Babau, Rani, Marini dan Diva serta Jelita yang sukses bikin galau saat pembahasan dan kesimpulan uda selesai dibikin. Teman-teman dari fakultas lain yang juga sudah membantu peneliti menyebar skala yaitu Aldi, Rasyid, Deo, Akbar, Kak Nisa, dan Linda. Terima kasih banyak kepada teman-teman semua karena dengan bantuannya peneliti bisa mendapatkan subjek hingga 400 responden.

9. Terimakasih untuk Pak As yang sudah dengan berbesar hati dan sabar mengurus mulai dari semenjak semester 1 peneliti ada di Fakultas Psikologi, pendaftaran sidang skripsi sampai dengan skripsi peneliti selesai.

Tanpa bantuan Allah SWT dan mereka semua, skripsi ini tidak akan pernah selesai dan semoga pengorbanan dan jasa baik yang diberikan kepada peneliti mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT.

Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penelitian skripsi ini, semua itu adalah kesalahan dan kekhilafan dari peneliti. Semoga skripsi ini nantinya akan memberi manfaat bagi semua pihak, amin.

Medan Juni 2013

(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 13

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian... 15

E. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II LANDASAN TEORI A. Trust ... 18

1. Definisi Trust ... 18

2. Dimensi Trust ... 19

3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Trust ... 12

4. Dampak DisTrust ... 23

B. DPRD Kota Medan ... 24

1. Kota Medan ... 24

1.1 Kota Medan Secara Demografis, Kultural dan Ekonomi ... 24

2. DPRD Kota Medan ... 25

(9)

3. Susunan Organisasi dan dan Tata Kerja DPRD Kota Medan ... 29

3.1. Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ... 29

C. Mahasiswa USU ... 30

D. Trust Mahasiswa USU Terhadap DPRD Kota Medan ... 31

BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 37

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 37

C. Subjek Penelitian dan Teknik Sampling ... 39

1. Subjek Penelitian ... 39

2. Teknik Sampling ... 40

3. Jumlah Sampel Penelitian ... 40

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 41

1. Skala Trust ... 42

2. Wawancara Personal ... 44

E. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 44

1. Uji Validitas ... 45

2. Uji Reliabilitas Alat Ukur ... 46

F. Prosedur Penelitian... 48

1. Tahap Persiapan Penelitian ... 48

2. Pelaksanaan Penelitian ... 49

3. Pengolahan Data Penelitian... 50

G. Metode Analisa Data ... 50

BAB IV HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 52

1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Fakultas ... 52

2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 54

3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

(10)

5. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Etnis ... 56

6. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pengalaman Langsung dengan DPRD Kota Medan ... 58

7. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Ada Tidaknya Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan ... 59

B. Hasil Utama Penelitian ... 60

1. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap DPRD Kota Medan ... 60

2. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap Fungsi Pengawasan DPRD Kota Medan ... 62

3. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap Fungsi Legislasi DPRD Kota Medan ... 63

4. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap Fungsi Anggaran DPRD Kota Medan ... 64

5. Hubungan Faktor Sosial Demografis, Pengalaman Langsung, dan Keikutsertaan Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan terhadap Munculnya Trust ... 66

C. Hasil Analisa Alat Ukur Trust... 68

D. Hasil Analisa Wawancara Personal ... 71

1. Analisa Data Hasil Wawancara Personal Mahasiswa yang Memiliki Trust Rendah ... 71

2. Interpretasi Data Hasil Wawancara Personal Mahasiswa yang Memiliki Trust Rendah ... 75

a. Gambaran Trust terhadap DPRD Kota Medan ... 75

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Blueprint Skala Trust... 43

Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Trust Sebelum Uji Coba ... 46

Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Trust Setelah Uji Coba ... 48

Tabel 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Etnis ... 57

(12)

DAFTAR GAMBAR

Diagram 1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Fakultas ... 53

Diagram 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia... 54

Diagram 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 55

Diagram 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 56

Diagram 5. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Pengalaman Langsung dengan DPRD Kota Medan ... 58

Diagram 6. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Ada Tidaknya Mengikuti Suatu Organisasi Kemahasiswaan... 59

Diagram 7. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap DPRD Kota Medan Secara Keseluruhan ... 61

Diagram 8. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap Fungsi Pengawasan DPRD Kota Medan ... 62

Diagram 9. Gambaran Trust Mahasiswa USU Terhadap Fungsi Legislasi DPRD Kota Medan ... 63

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A

Reliabilitas dan Daya Beda Aitem Skala Trust

LAMPIRAN B

Rangkuman Kategorisasi Trust Subjek Penelitian LAMPIRAN C

1. Hasil Analisa Deskriptif 2. Hasil Analisa Korelasi LAMPIRAN D

1. Verbatim Wawancara Awal

2. Verbatim Wawancara Personal dengan Subjek Penelitian LAMPIRAN E

(14)

Trust Mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan

Rahmi Zuraida dan Ari Widiyanta, M.Si, psikolog

ABSTRAK

Trust telah muncul sebagai isu sentral dalam diskusi terbaru mengenai dinamika organisasi kelompok, mulai dari organisasi kerja untuk sistem politik dan sosial. Dalam konteks pemerintahan, trust menjadi andalannya demokrasi karena merupakan kunci utama dari kemauan untuk bekerja sama secara sukarela. DPRD Kota Medan sebagai pelaksana legislatif merupakan posisi yang strategis dalam konteks penyelenggaraan pemerintah daerah. Idealnya anggota legislatif melaksanakan tugasnya (fungsi pengawasan, legislasi dan anggaran) sebagai wakil rakyat, sangat membutuhkan kepercayaan dari masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan dengan melibatkan subjek sejumlah 400 orang mahasiswa dengan metode kuantitatif deskriptif yang diukur dengan menggunakan skala trust dan wawancara personal sebagai analisa tambahan. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa sebanyak 71% subjek memiliki trust yang rendah, 17,75% memiliki trust yang sedang dan hanya 11% yang memiliki trust tinggi terhadap DPRD. Secara keseluruhan trust mahasiswa terhadap DPRD Kota Medan dan ketiga fungsinya berada di kategori rendah (70%-78% dari jumlah keseluruhan subjek penelitian).

(15)

Abstract

Trust has emerged as a central issue in recent discussions of the dynamics of organizational groups, ranging from the organization of work for political and social system. In the context of the government, trust became a mainstay of democracy because it is the key of willingness tp cooperate voluntarily. DPRD Kota Medan as a legislative implementing is a strategis position in the context of local governance. Ideally, legislators carry out their duties (supervisory, legislation and budgeting functions) as representatives of the people, desperately need the trust of public. This study was conducted to see how the image of the trust at University of North Sumatera’s student to DPRD Kota Medan with a number of subjects involving 400 students with descriptive quantitative methods are measured using a scale of trust and personal interviews as additional analysis. Statistical analysis showed that as many as 71% of the subjects had low trust, 17.75% had moderate trust and only 11% had a high trust towards DPRD Kota Medan. Student overall’s trust toward DPRD Medan and third functions are in the low category.

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kota Medan merupakan ibukota Deli yang kini telah berkembang menjadi pusat pemerintahan yaitu sebagai ibukota provinsi Sumatera Utara. Sebagai pusat pemerintahan, Kota Medan adalah sebuah Kotamadya yang dipimpin dan dijalankan oleh seorang Walikota dan Wakil Walikota sebagai pihak eksekutif dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai pihak legislatif yang menjalankan pemerintahan daerah. Walikota dan DPRD memiliki hubungan garis kemitraan dimana DPRD bekerja bersama-sama dengan Pemerintah Kota Medan serta sebagai pengawas penyelenggaraan daerah Pemerintah Kota Medan (Bainfokom Prov. SU, 2007).

(17)

DPRD merupakan suatu organisasi perangkat daerah dimana perangkat daerah kabupaten/kota adalah unsur pembantu Kepala Daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan dan Kelurahan (Kasim dalam Jansen, 2006). Dimana organisasi merupakan suatu kesatuan (entity) sosial yang dapat dikoordinasikan secara sadar yang saling berinteraksi dan bekerjasama untuk merealisasikan tujuan bersama (Robbins, 1994).

Disini, tujuan bersama yang dilakukan oleh DPRD beserta alat kelengkapan daerah lainnya adalah menyelenggarakan pemerintahan daerah Kota Medan. DPRD juga dapat diibaratkan seperti sebuah organisasi sosial dimana unsur masyarakat beserta wakil-wakil rakyatnya bekerja secara bersama-sama untuk menjalankan suatu sistem pemerintahan yang baik (Nurhaya, 2010).

Anggota legislatif merupakan jembatan bagi masyarakat agar berbagai masalah serta kepentingan masyarakat terpenuhi. Sebaliknya, melalui para wakilnya, masyarakat dapat mempelajari dan memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa secara nasional baik yang terjadi di pusat maupun daerah (Nurhaya, 2010).

(18)

para anggota dewan, yaitu membuat legislasi, melakukan kontrol terhadap pemerintah, dan menyusun anggaran (Nurhaya, 2010).

Terkait dengan pelaksanaan tugas dan ketiga fungsi DPRD Kota Medan yaitu fungsi pengawasan, legislasi dan anggaran, ada beberapa fenomena pro dan kontra yang banyak di beritakan di media. Ketua DPRD Medan, Amiruddin, mengatakan bahwa semenjak pelantikannya di tahun 2009, sudah banyak tugas-tugas yang dilakukan oleh DPRD Medan. Adapun tugas-tugas DPRD ini merupakan bagian dalam fungsi DPRD. Berikut kutipannya dalam sebuah surat kabar:

"Sejak dilantik September 2009 lalu, DPRD Medan sudah banyak melakukan kegiatan sesuai dengan kewajiban sebagai anggota dewan. Diantaranya penyelesaian APBD tahun 2010, LKPJ Walikota Medan 2009 dan LPJ 2005-2010, laporan pertanggungjawaban keuangan tahun 2009, menindaklanjuti hasil LHPBPK RI Kota Medan, Penyelesaian Tata Tertib DPRD Kota Medan, PAPBD tahun 2010, pembentukan pansus aset, bintek dan workshop yang telah dilakukan oleh masing-masing anggota dewan serta banyak kegiatan lainnya,"

(DNA Berita, 2010)

Bahkan, di tahun 2011, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri), Gamawan Fauzi SH MM memberikan penghargaan ―Peringkat 5 Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Kota Berprestasi Paling Tinggi secara Nasional Tahun 2011‖ kepada Walikota Medan karena Kota Medan dinilai

(19)

kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Kota Medan terutama dalam pelayanannya ke masyarakat Kota Medan (Pemko Medan, 2011).

Seorang aktivis LSM sekaligus pengamat politik yang aktif menulis di surat kabar, Joko Riski Yono, dalam komunikasi personal pada Senin 06 Mei 2013 mengatakan hal yang berbeda, bahwa dalam hal fungsi pengawasan dan legislasi, DPRD dinilai sangat lemah. Menurutnya, DPRD hanya maksimal dalam hal fungsi anggaran.

“..Yang paling lemah dari ketiga fungsi itu adalah fungsi legislasi dan fungsi pengawasan. Kalo fungsi budgeting ini karena memang sudah dikonsep dari pemerintah sendiri, orang itu tinggal tanda tangan aja. Fungsi legislasi sama pengawasan terutama ya, itu lemah. Makanya kemudian dalam perwujudan aspirasi itu tidak maksimal karena sumber daya manusia dia pun gak mumpuni, apa yang mau

diperjuangkan kan ya.”

(Komunikasi Personal, 2013)

(20)

“..yang contoh lebih konkrit lagi itu persoalan Jamkesda ya, jaminan

kesehatan daerah. Itu didalam praktek lapangan kalo orang itu bukan pendukung daripada walikota, dia tidak akan mendapat fasilitas itu. Kemudian kalaupun mereka yang mau mendapatkan jamkesda itu persyaratannya birokratis sekali.”

(Komunikasi Personal, 2013)

“..fungsi pengawasan kan ya DPRD ini kan gak jauh beda dengan

eksekutif juga yang harusnya itu benar-benar melakukan pengawasan seperti yang dimandatkan oleh undang-undang tetapi dalam prakteknya kan juga membenarkan apa yang dilaksanakan oleh eksekutif dan terbukti bahwa korupsi di Pemko Medan semakin hari semakin justru meningkat bukannya menurun.”

(Komunikasi Personal, 2013)

Kurang maksimalnya pelaksanaan fungsi legislasi, menurut Sekretaris Eksekutif Fitra Sumatera Utara Rurita Ningrum, berkaitan dengan tidak terselesainya empat buah rancangan peraturan daerah (ranperda) yang telah lama diusulkan Pemerintahan Kota Medan. Hal ini dikatakan beliau melalui Harian Tribun Medan tanggal 07 April 2013 :

“Kita melihat DPRD Medan tidak peka terhadap permasalahan

masyarakat, ini terbukti dengan berlarutnya pembahasan empat

ranperda itu.”

(Tribun Medan, 2013)

(21)

dinas daerah yang melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah dalam bidang pekerjaan umum yang meliputi jalan, jembatan, sumber perawatan air dan lain sebagainya (Bisnis Sumatera, 2012).

DPRD sebagai penetap sekaligus pengawas pemakaian anggaran daerah melakukan kebijakan tersebut karena adanya laporan dari masyarakat ke DPRD mengenai kerusakan jalan dan jembatan yang bertahun-tahun tidak diperbaiki dengan alasan keterbatasan anggaran, padahal DPRD sendiri melihat bahwa ada sisa anggaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana (Bisnis Sumatera, 2012).

Pemberitaan-pemberitaan dan opini-opini para ahli tersebut baik itu positif maupun negatif memiliki korelasi yang cukup kuat dengan persepsi publik. Hal ini dijelaskan melalui teori komunikasi dimana suatu proses komunikasi dapat memberikan efek tertentu yang akan membuat si penerima memiliki suatu persepsi (Wuryandari, 2010).

(22)

dengan terpenuhinya harapan dan tercapainya kepuasan. Adapun organisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah DPRD, yaitu sebagai organisasi perangkat daerah (Kasim dalam Jansen, 2006); dan harapan dan kepuasan yang dimaksud adalah berasal dari masyarakat.

Masyarakat memiliki persepsi mengenai DPRD dalam pelaksanaan fungsinya. Seorang mahasiswa dari sebuah universitas negeri di Sumatera Utara menyatakan bahwa DPRD kurang mewakili masyarakat dan belum maksimal dalam pelaksanaan fungsi pengawasan terhadap Pemerintahan Kota Medan seperti yang diutarakan dalam kutipan komunikasi personal berikut:

“menurut saya mereka kurang mewakili aspirasi dan keinginan

masyarakat Medan itu sendiri, jadi gak terasa ada perubahan apa-apa dengan kota Medan,contohnya ni ya beberapa pengrusakan rumah ibadah di kota Medan, mereka anteng-anteng aja tuh, gak ada ngasi

reaksi apa. ……menurut saya DPRD itu cuma tempat lancarin proyek dan cari uang oleh Partai. Mereka gak pernah maksimal ngelakukan

fungsinya itu.”

(23)

sudah layak memiliki peraturan daerah kawasan tanpa rokok. Seperti yang dikatakan oleh Ketua Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia, Fatwa Fadillah, melalui Harian Waspada tanggal 25 Maret 2013:

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Kota Medan sangat

membutuhkan kawasan tanpa rokok”

(Waspada, 2013)

Terlihat bahwa DPRD serius dalam menjalankan fungsi legislasinya dengan merespon permintaan masyarakat mengenai kebutuhan pembentukan Kawasan Tanpa Rokok. Walikota Medan Drs H Rahudman melalui harian Sumut Pos tanggal 14 Mei 2013 juga mengatakan bahwa Perda Kawasan Tanpa Rokok sedang dirancang dan pemberlakuan sanksinya tidak akan main-main. Berikut kutipan beliau di harian Sumut Pos:

“Besaran denda yang diperbolehkan dalam Perda ini adalah Rp 50

juta. … Pemko Medan akan tetap konsisten dalam pengawasan Perda

KTR ini. … Intinya, Pemko Medan ingin menegakkan dan mengendalikan serta membangun kesadaran masyarakat pengguna rokok.

(Sumut Pos, 2013)

(24)

organisasi. Dengan demikian, masyarakat akan merasa lebih sukarela dalam menjalankan kerjasama dengan wakil rakyatnya berkaitan dengan fungsi yang dimiliki oleh DPRD, sehingga pelaksanaan fungsi DPRD bisa menjadi lebih maksimal.

Tyler (dalam Cook, 2001) mengatakan bahwa trust merupakan kunci utama dari kemauan untuk bekerja sama secara sukarela yang nantinya memunculkan perilaku yang akan memfasilitasi interaksi sosial yang produktif. Jika DPRD dalam pelaksanaan ketiga fungsinya tidak melibatkan masyarakat, kebijakan-kebijakan yang disusun tanpa pelibatan masyarakat akan berdampak pada ketidaksukarelaan dalam melaksanakannya (Arief, 2010; Mufidjar, 2007).

(25)

Jika trust menyiratkan keyakinan atau belief bahwa motif dari organisasi tersebut penuh dengan kebaikan dan peduli, maka distrust berarti menyiratkan bahwa individu mengalami adanya pelanggaran dari pengharapan, pelanggaran integritas dan kecenderungan untuk mengatribusi niat jahat kepada organisasi tersebut (Lewicki dalam Deutsch, dkk, 2006; Zalabak-Shockley, dkk, 2010).

Mahasiswa merupakan kelompok yang kritis dan mewakili kelompok intelektual dalam masyarakat. Dalam hal ini, Sarlito (1979) menyatakan mahasiswa biasanya memerankan diri sebagai kalangan yang kritis sekaligus membangun terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial dan kebijakan politik. Ketika terjadi sesuatu hal yang tidak seharusnya, mahasiswa yang menjadi awal pergerakan massa. Seperti yang terjadi di tahun 1998, pergerakan mahasiswa yang menuntut perubahan mampu menurunkan Soeharto dari kursi kepresidenan.

(26)

Sebagai universitas yang memiliki jumlah mahasiswa terbesar di Kota Medan serta universitas terbesar di Sumatera, Universitas Sumatera Utara (USU) adalah universitas kebanggaan masyarakat Sumatera Utara. USU merupakan universitas yang mempersiapkan mahasiswanya menjadi anggota masyarakat yang bermoral. Berdasarkan uraian di atas,diasumsikan bahwa mahasiswa USU merupakan mahasiswa yang bermoral (Portal USU, 2012).

Kondisi trust atau distrust pada mahasiswa dapat mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat saat pemilihan legislatif. Kekecewaan atas hilangnya harapan dan kepuasan terhadap DPRD diekspresikan melalui absen pemilu, yaitu rendahnya tingkat voter turn out (partisipasi pemilih yang mencoblos di TPS pada hari pemilihan) (Wardhana, 2009). Data pemilihan legislatif di Kota Medan tahun 2009 menunjukkan bahwa jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya berkisar 53 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (YPID, 2009). Angka ini cukup mengkhawatirkan karena sudah melebihi setengahnya atau 50 persen.

Bagi Negara demokrasi seperti Indonesia yang baru menjalankan sistem demokrasi di negaranya, rendahnya voter turn out merupakan hal yang cukup mengkhawatirkan. Karena ini akan menjadi awal dari ketidakpercayaan terhadap demokrasi. Sistem demokrasi tidak akan kokoh tanpa kepercayaan publik atas keefektifannya (Wardhana, 2009).

(27)

umum dan khususnya mahasiswa. Dengan begitu, jalannya pemerintahan serta hubungannya dengan masyarakat akan berjalan dengan baik tanpa adanya konflik antara masyarakat dan pemerintah (Wardhana, 2009).

Pada penelitian sebelumnya mengenai trust terhadap pemerintahan dan parlemen, diketahui bahwa faktor sosial demografis dan pengalaman langsung memiliki hubungan dengan keadaan trust terhadap pemerintahan dan parlemen (Bouckaert & Van de Walle, dalam Christensen and Lægreid, 2002a, 2003; Newton and Norris dalam Knesset, 2006; Miller & Listhaug, Mishler & Rose, Price & Romantan dalam Newburg, 2011). Ketika pengalaman individu terhadap pemerintahan sebagian besar baik, maka individu tersebut cenderung untuk trust.

Lainnya yaitu berdasarkan faktor sosial demografis, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan latar belakang etnis. Orang yang berusia tua cenderung lebih trust daripada generasi muda, wanita lebih trust terhadap pemerintah daripada pria, orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih trust serta etnis minoritas dari suatu populasi cenderung untuk trust dibandingkan dengan etnis mayoritas.

(28)

tidak terlepas dari peran mahasiswa yang bergerak dalam organisasi kemahasiswaan intra kampus seperti Senat Mahasiswa Fakultas yang sekarang kita kenal dengan Pemerintahan Mahasiswa atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) (Budiyarso, 2000).

Tidak hanya organisasi intra kampus, alternatif gerakan mahasiswa untuk menghindari sikap represif pemerintah yaitu dengan aktif di organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), HMI (Himpunan Mahasisswa Islam) dan lain sebagainya (Budiyarso, 2000).

Berdasarkan fenomena-fenomena pro dan kontra mengenai DPRD secara keseluruhan dan ketiga fungsinya yang telah tersebut di atas, maka peneliti ingin melihat bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan dan ketiga fungsinya. Disamping itu, peneliti juga melihat adakah hubungan faktor pengalaman langsung, sosial demografis seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan latar belakang etnis serta organisasi kemahasiswaan yang diikuti terhadap munculnya trust.

B. Rumusan Masalah

(29)

Pertanyaan Penelitian Utama:

1. Bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap DPRD Kota Medan?

2. Bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap fungsi Fungsi Pengawasan DPRD Kota Medan?

3. Bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap Fungsi Legislasi DPRD Kota Medan.

4. Bagaimana gambaran trust mahasiswa Universitas Sumatera Utara terhadap dan Fungsi Anggaran DPRD Kota Medan.

Pertanyaan Penelitian Tambahan:

5. Adakah hubungan faktor pengalaman langsung, sosial demografis seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan latar belakang etnis serta keikutsertaan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan terhadap munculnya trust.

C. Tujuan Penelitian

(30)

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini:

a. Diharapkan mempunyai manfaat yang bersifat pengembangan ilmu Psikologi, khususnya di bidang Psikologi Sosial tentang trust terhadap DPRD.

b. Penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfaat menjadi salah satu sumber informasi dan menjadi pemicu untuk penelitian selanjutnya yang ingin meneliti lebih lanjut yang berkaitan dengan trust terhadap DPRD Kota Medan.

2. Manfaat Praktis

a. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana gambaran trust mahasiswa saat ini terhadap DPRD Kota Medan

b. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan mengenai wakil rakyat daerah, terutama mengenai trust mahasiswa USU terhadap DPRD Kota Medan.

c. DPRD Kota Medan dan pihak-pihak terkait lainnya, hasil penelitian mengenai gambaran trust dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan mereka dalam meningkatkan performa kinerja agar trust dikalangan masyarakat khususnya mahasiswa menjadi lebih baik. d. Bagi pengamat politik dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD),

(31)

gambaran trust mahasiswa saat ini terhadap DPRD Kota Medan serta tindak lanjutnya mengenai usaha-usaha untuk meningkatkan tingkat trust terhadap DPRD Kota Medan.

E. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan. dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi objek penelitian meliputi tentang Kota Medan, penjelasan susunan organisasi dan Tata Kerja DPRD Kota Medan, Mahasiswa USU, Teori trust dan Trust mahasiswa USU terhadap DPRD Kota Medan. BAB III : Metode Penelitian

(32)

BAB IV : Analisa Data dan Pembahasan

Bab ini menguraikan gambaran subjek penelitian, hasil utama penelitian, data tambahan serta pembahasan mengenai hasil penelitian.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

(33)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Trust

1. Definisi Trust

Konsep kepercayaan (trust) telah muncul sebagai isu sentral dalam diskusi terbaru dari dinamika organisasi kelompok mulai dari organisasi kerja untuk sistem politik dan sosial (Braithwaite & Levi; Tyler & Krame1 dalam Cook, 2001). Trust juga didefinisikan sebagai sebuah atribusi yang dilakukan orang tentang motif dari otoritas kelompok. Jika orang percaya kepada otoritas kelompok, itu berarti bahwa orang tersebut menilai bahwa kelompok yang memiliki otoritas peduli dengan kebutuhan mereka. Kelompok otoritas ini memiliki ketertarikan yang tulus, peduli terhadap sudut pandang orang itu, mempertimbangkan pandangan atau opini orang itu ketika membuat keputusan, dan mencoba adil kepadanya. Dengan kata lain, trust merefleksikan penilaian bahwa motif dari otoritas tersebut penuh dengan kebaikan dan kepedulian—bahwa kelompok yang memiliki otoritas termotivasi untuk bertindak dengan cara yang memperhitungkan kesejahteraan orang dalam kelompok (Cook, 2001).

(34)

untuk diidentifikasi (Zalabak-Shockley dkk, 2010). Definisi lain trust adalah keyakinan dan kemauan individu untuk bertindak atas dasar kata-kata, tindakan dan keputusan pihak lain (McAllister; Lewicki, McAllister & Bies dalam Deutsch & Coleman, 2006).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa trust adalah atribusi yang dilakukan orang tentang motif dari otoritas kelompok serta keyakinan menyeluruh mengenai kompetensi organisasi dalam hal komunikasi dan perilaku, dalam hal keterbukaan dan kejujuran, kepedulian, kehandalan, disamping itu individu merasa tujuan, norma serta nilai-nilainya sama sehingga layak untuk diidentifikasi.

2. Dimensi Trust

Ada 5 (lima) dimensi yang telah di identifikasi menjadi prediktor trust yang paling kuat dan stabil (Zalabak-Shockley, dkk, 2010):

1. Kompetensi (Competence)

Dimensi kompetensi adalah kemampuan organisasi melalui kepemimpinannya, strategi, keputusan, kualitas dan kapabilitas dalam menghadapi tantangan-tantangan di sekitar. Pada akhirnya,kompetensi adalah kemampuan organisasi dalam mencapai tujuannya.

2. Keterbukaan dan kejujuran (Openness and Honesty)

(35)

identifikasikan bahwa orang bisa mendapatkan informasi yang dia butuhkan serta bisa mendapatkan informasi yang benar dan dipercaya. 3. Peduli terhadap pemangku kepentingan (Concern for Stakeholder)

Dimensi ini merefleksikan persepsi bahwa organisasi peduli dengan stakeholder, pihak organisasi perhatian dengan kesejahteraan kita baik untuk memajukan kepentingan kita atau setidaknya tidak menghambat kepentingan kita tersebut. Komunikasi yang jujur dan terbuka mengindikasikan bahwa pihak tersebut peduli dengan kita. 4. Kehandalan (Reliability)

Dimensi ini menggambarkan mengenai menjaga komitmen. Kehandalan juga merupakan kemantapan dalam perilaku yang membangun kepercayaan yang diperlukan untuk waktu yang tidak pasti serta konsistensi tindakan dan kata-kata serta perbuatan.

5. Identifikasi (Identification)

Dimensi identifikasi merupakan koneksi atau hubungan antara organisasi dan individu sebagian besar didasarkan pada kesamaan nilai-nilai utama. Identifikasi muncul ketika orang percaya bahwa nilai-nilai mereka tercermin dalam nilai-nilai yang ditunjukkan oleh perilaku organisasi tersebut sehari-hari.

(36)

menggunakan standar penelitian yang sangat tinggi. Data yang dikumpulkan berasal dari berbagai belahan dunia dan dari berbagai bahasa dunia sehingga faktor pendorong utamanya ini merupakan prediktor kuat dan stabil untuk mengukur trust diseluruh budaya, bahasa, industri dan berbagai tipe organisasi.

Proyek-proyek penelitian lain dan perusahaan-perusahaan yang menggunakan model organizational trust ini menyimpulkan bahwa model ini dapat memenuhi tantangan dunia luar untuk mengukur bagaimana tingkat trust. Evaluasi positif yang dihasilkan dari masing-masing dimensi trust menunjukkan bahwa organisasi memiliki skor trust yang tinggi, begitu juga sebaliknya (Zalabak-Shockley, dkk, 2010).

3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Trust

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa trust terhadap pemerintah dan parlemen didasarkan pada beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sosial demografis dan pengalaman yang dialami langsung (Bouckaert & Van de Walle, dalam Christensen & Lægreid 2002a, 2003; Newton & Norris dalam Knesset, 2006; Miller & Listhaug, Mishler & Rose, Price & Romantan dalam Newburg, 2011).

1. Sosial Demografis

(37)

2005). Faktor sosial demografis seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan latar belakang etnis berasosiasi dengan trust (Newburg, 2011; Christensen & Lægreid, 2002a).

Christensen and Lægreid dalam penelitiannya mengatakan bahwa pertama, usia mempunyai pengaruh terhadap trust kepada institusi pemerintahan, yaitu orang yang berumur lebih tua memiliki trust yang lebih tinggi daripada yang berumur lebih muda. Kedua, jenis kelamin, dalam penelitiannya Christensen and Lægreid (2002a) mengatakan bahwa perempuan lebih cenderung trust kepada pemerintahan karena perempuan lebih mendukung sektor publik dibandingkan dengan laki-laki.

(38)

2. Pengalaman Langsung

Menghubungkan pengalaman langsung seseorang terhadap unit administratif spesifik, seperti yang ditunjukkan dalam literatur kepuasan pelayanan dan trust (Kumlin 2002, Rothstein & Steinmo dalam Christensen & Lægreid, 2003). Ketika pengalaman langsung individu sebagian besar baik, mereka cenderung untuk trust.

4. Dampak Distrust

Distrust merupakan ekspektasi negatif dan individu mengalami adanya pelanggaran dari pengharapan, pelanggaran integritas dan kecenderungan untuk mengatribusi niat jahat kepada otoritas kelompok tersebut (Lewicki dalam Deutsch., dkk, 2006; Zalabak-Shockley, 2010). Keadaan distrust merupakan hal yang ―mahal‖. Butuh waktu dan proses yang sangat lama untuk bisa kembali menumbuhkan keadaan trust. Distrust membuat krisis semakin memburuk, serta berkontribusi membentuk perilaku ―kita vs mereka‖ (Zalabak-Shockley, dkk, 2010).

(39)

merupakan hal yang cukup mengkhawatirkan. Karena ini akan menjadi awal dari ketidakpercayaan terhadap demokrasi. Sistem demokrasi tidak akan kokoh tanpa kepercayaan publik atas keefektifannya (Wardhana, 2009).

Ketidakterlibatan masyarakat, khususnya mahasiswa, dalam pelaksanaan fungsi-fungsi DPRD seperti pembuatan Perda, akan membuat masyarakat menjadi tidak sukarela dalam melaksanakannya. Ketidaksukarelaan merupakan suatu keadaan distrust yang jika ini terakumulasi secara luas akan meledak dan menimbulkan aksi massa yang besar serta demonstrasi yang tidak jarang melibatkan kekerasan dan merugikan semua pihak (Arief, 2010).

B. DPRD Kota Medan

1. Kota Medan

1. 1. Kota Medan Secara Demografis, Kultural dan Ekonomi

(40)

penduduk yang besar, sehingga memiliki diferensiasi pasar (Bainfokom Prov. SU, 2007).

Sebagai pusat perdagangan baik regional maupun internasional, sejak awal Kota Medan telah memiliki keragaman etnis dan Agama. Oleh karenanya, budaya masyarakat yang ada juga sangat pluralis yang berdampak beragamnya nilai-nilai budaya tersebut yang tentunya sangat menguntungkan, sebab diyakini tidak ada satupun kebudayaan yang berciri menghambat kemajuan (modernisasi), dan sangat diyakini pula, hidup dan berkembangnya nilai-nilai budaya yang heterogen, dapat menjadi potensi besar dalam mencapai kemajuan.

Kota Medan mengemban fungsi regional yang luas, baik sebagai pusat pemerintahan maupun kegiatan ekonomi dan sosial yang mencakup bukan hanya Propinsi Sumatera Utara tetapi juga wilayah propinsi (Sumbagut). Adanya fungsi regional yang luas tersebut, telah menjadikan Kota Medan dapat menyelenggarakan aktifitas ekonomi dalam volume yang besar. Kapasitas ekonomi yang besar tersebut ditunjukkan oleh laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai Kota Medan, yang selalu berada diatas pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah sekitarnya.

2. DPRD Kota Medan

(41)

mengikutsertakan rakyat dalam pemerintahan. Secara normatif demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat sebagaiman yang diungkapkan dalam pasal 1 ayat (2) UUD 1945 bahwa ―Kedaulatan

berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar‖ (Kartono, 1996).

Sistem kedaulatan rakyat dijalankan oleh para wakil rakyat dengan sistem perwakilan atau demokrasi dengan perwakilan (representative democracy). Dalam konteks pemerintahan daerah, yaitu Kota Medan, lembaga legislatif daerah (DPRD) merupakan badan perwakilan yang mencerminkan struktur dan sistem pemerintahan demokratis di daerah.

Badan politik yang selama ini kita kenal sebagai DPR, dalam bahasa Eropa adalah Parliament, di Amerika dikenal sebagai legislature. Dalam bahasa Eropa parlemen mengandung makna ―pembicaraan‖

masalah-masalah kenegaraan, sedangkan di Amerika legislator mengandung makna badan pembuat undang-undang (legislatif atau law making body).

(42)

sebelum mengambil keputusan, dan bertanggung jawab kepada rakyat (Nurhaya, 2010).

2. 1 Fungsi Parlemen

Fungsi pokok parlemen tidak harus semata-mata dilihat sebagai pembuat undang-undang (law-making body) namun juga perlu dilihat sebagai media komunikasi antara rakyat dengan pemerintah. Di Indonesia, menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2003 Tentang Susunan dan Kedudukan DPR, DPD, DPRD adalah sebagai berikut (Nurhaya, 2010) : a. Fungsi Pengawasan

Berdasarkan hakekat DPRD sebagai lembaga legislatif daerah, maka pengawasan terhadap eksekutif merupakan fungsi lain dari DPRD. Pengawasan dilakukan melalui penggunaan hak-hak yang dimiliki oleh DPRD. Pengawasan terhadap penyelenggaraan daerah ini sangat penting diperlukaan pelaksanaannya dalam pengelolaan pembangunan, sebagai refleksi partisipasi masyarakat dan hakekat kedaulatan rakyat yang dilaksanakan lewat para wakilnya dalam lembaga perwakilan, sebagai hakekat demokrasi Pancasila.

b. Fungsi Legislasi

Fungsi utama lembaga perwakilan rakyat adalah di bidang legislatif. Disini keberadaan DPRD tidak dapat dilepaskan dari konsep

“Trias Politica” yang memisahkan kekuasaan ke dalam tiga bidang

(43)

merupakan fungsi utama karena melalui fungsi ini, DPRD dapat menunjukkan warna dan karakter serta kualitasnya baik secara material maupun fungsional.

Kadar peraturan daerah yang dihasilkan oleh DPRD dapat menjadi ukuran kemampuan DPRD dalam melaksanakan fungsinya, mengingat pembuatan suatu peraturan daerah yang baik harus dipenuhi dengan beberapa persyaratan tertentu dimana jika sudah memenuhi persyaratan tersebut maka peraturan daerah tersebut akan dikatakan baik, sehingga terlaksananya fungsi ini dengan baik akan sangat ditentukan oleh tingkat pemahaman anggota legislatif terhadap apa yang menjadi aspirasi masyarakat, kebutuhan daerah, proses pembuatan kebijakan serta pengawasan atas kebijakan yang dihasilkan. c. Fungsi Anggaran

(44)

3. Susunan Organisasi dan Tata Kerja DPRD Kota Medan

3. 1. Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

DPRD Kota terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan umum. Anggota DPRD berjumlah sekurang-kurangnya dua puluh orang dan sebanyak-banyaknya empat puluh lima orang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Lembaga Legislatif Daerah (DPRD) telah mengalami perubahan dan peningkatan fungsi serta peran yang sangat berarti dalam hal:

1. DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai penyelenggara pemerintahan daerah.

2. Membentuk Perda yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapat persetujuan bersama.

3. Membahas dan menyetujui rancangan Perda tentang APBD bersama dengan kepala daerah.

4. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, Kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah dan kerja sama internasional di daerah.

(45)

6. Memilih wakil kepala daerah hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah.

7. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah.

8. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama internasional di daerah.

9. Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah.

10.Membentuk panitia pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah.

11.Memberikan persetujuan terhadap rencana kerjasama antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah.

Dari semua poin-poin diatas, jelas terlihat bahwa lembaga legislatif daerah (DPRD) merupakan perwakilan rakyat di pemerintahan serta bertugas dalam mengawasi penyelenggaraan Perda yang berjalan di pemerintahan daerah.

C. Mahasiswa USU

(46)

Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa (Takwin, 2008).

Masa mahasiswa meliputi rentang umur dari 18/19 tahun sampai 24/25 tahun. Rentang umur itu masih dapat dibagi-bagi lagi atas periode 18/19 tahun sampai 20/21 tahun yaitu mahasiswa dari semester I sampai dengan semester IV dan periode umur 21/22 tahun sampai 24/25 tahun yaitu mahasiswa dari semester V sampai dengan semester VIII (Winkel, 1997). Salah satu perguruan tinggi terbesar di Sumatera adalah Universitas Sumatera Utara (USU) yang memiliki jumlah mahasiswa terbesar di Kota Medan. Tercatat jumlah mahasiswa USU hingga Agustus 2012 adalah 44.030 orang (USU, 2012).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa USU adalah individu dalam usia remaja lanjut dan atau usia dewasa awal dengan karakteristiknya yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara yang meliputi rentang umur dari 18 – 25 tahun.

D. Trust Mahasiswa USU Terhadap DPRD Kota Medan

(47)

DPRD menjalankan perannya sebagai wakil masyarakat di pemerintahan baik secara individu berdasarkan kelompok maupun secara keseluruhan dengan bertindak atas nama rakyat dan merumuskan serta memutuskan kebijakan tentang kehidupan, memiliki tiga fungsi utama yaitu pertama, fungsi pengawasan yang merupakan pengawasan terhadap eksekutif. Kedua, fungsi legislasi yaitu membuat peraturan daerah serta yang terakhir adalah fungsi anggaran yaitu bersama-sama dengan pemerintah daerah menyusun dan menetapkan APBD.

Melalui ketiga fungsi ini, DPRD merupakan penyambung antara rakyat dan pemerintahan daerah agar berbagai masalah serta kepentingan mereka terpenuhi. Sebaliknya, rakyat melalui para wakilnya dapat mempelajari dan memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa secara nasional baik yang terjadi di pusat maupun daerah.

(48)

kepercayaan publik dan dukungan demokrasi (Christensen & Lægreid, 2003).

Trust merupakan suatu konsep yang multidimensional, yang berarti bahwa trust memiliki dimensi perilaku, kognitif dan emosional. Trust adalah perpaduan kompleks perilaku dan tindakan (dimensi perilaku), keyakinan, kecenderungan, motivasi, ekspektasi, dan asumsi (dimensi kognitif), dan emosi serta perasaan (dimensi emosional). Ketika diketahui bahwa wakil rakyat telah melakukan sesuatu yang tidak sesuai, tingkat trust dapat berkurang. Reaksi dalam kognitif dan emosi ini didasarkan pada perilaku yang diamati (Zalabak-Shockley, dkk, 2010).

Mahasiswa merupakan kaum yang kritis dan mewakili kelompok intelektual dalam masyarakat serta mampu menghadapi berbagai hal yang berkembang, apalagi terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial dan kebijakan politik. Disamping itu, mahasiswa yang juga dikenal sebagi agen perubahan serta calon pemimpin masa depan, sadar bahwa trust merupakan hal yang utama dalam membentuk kesuksesan negara.

(49)

kinerja DPRD. Jika semakin percaya, maka bisa dikatakan bahwa kinerja DPRD juga semakin bagus (Komunikasi Personal, 2012).

Penelitian sebelumnya di Norwegia yang juga menganut sistem demokrasi diketahui bahwa trust kepada pemerintahan secara umum bervariasi, namun persentase yang paling tinggi ada di trust terhadap parlemen. Dikatakan bahwa orang yang cenderung puas dengan bagaimana sistem demokrasi mereka bekerja, secara umum memiliki trust yang lebih tinggi (Christensen & Lægreid, 2003).

Namun, kasus di Indonesia menunjukkan bahwa trust pada lembaga negara tidak terlalu tinggi yang diukur secara tidak langsung dengan ―rasa keterwakilan anggota DPR/D‖. Hasil ini didapat dari survey

yang dilakukan pada Juli 2000 oleh Konsorsium Lembaga Pengumpul Pendapat Umum. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa rasa keterwakilan anggota DPR dan DPRD Tingkat I (Provinsi) tidak terlalu mewakili, sedangkan terhadap DPRD Tingkat II (Kota/Kabupaten) dirasa sudah mewakili (Sujatmiko, 2001).

(50)

Keadaan trust akan mengarah pada hubungan kepada pemerintah yang akan berjalan dengan baik tanpa adanya konflik serta terciptanya kestabilan sosial dan politik yang berarti mahasiswa percaya terhadap fungsi DPRD sebagai fungsi perwakilan. Sebaliknya, kondisi distrust mengarah pada sikap apatis terhadap DPRD dan hilangnya antusiasme pada saat pemilihan legislatif (Wardhana, 2009).

Ketiadaan distrust juga bisa berakibat pada munculnya cara-cara penyaluran aspirasi dengan menggunakan metode demonstrasi yang tidak jarang melibatkan kekerasan dan merugikan semua pihak. Jika hal ini terus terjadi, akan berdampak pada demokrasi. Sistem demokrasi tidak akan kokoh tanpa kepercayaan publik atas keefektifannya (Wardhana, 2009).

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai trust terhadap pemerintahan diketahui bahwa keadaan trust atau distrut bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor sosial demografis (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, latar belakang etnis) dan pengalaman langsung (Bouckaert & Van de Walle, dalam Christensen & Lægreid, 2002a, 2003; Newton & Norris dalam Knesset, 2006; Miller & Listhaug, Mishler & Rose, Price & Romantan dalam Newburg, 2011).

(51)
(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berkaitan dengan trust mahasiswa USU terhadap DPRD Kota Medan. Guna memperoleh gambaran hasil penelitian tersebut maka peneliti menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Penelitian deskriptif menurut Azwar (2000) bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu. Penelitian deskriptif dilakukan secara kuantitatif untuk mendapatkan hasil analisis statistik mengenai gambaran trust mahasiswa seperti apa adanya fenomena tersebut.

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka dalam penelitian ini variabel yang terlibat adalah trust.

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Trust adalah atribusi yang dilakukan orang tentang motif dari otoritas DPRD Kota Medan serta keyakinan menyeluruh mengenai kompetensi DPRD Kota Medan dalam hal komunikasi dan perilaku, dalam hal keterbukaan dan kejujuran, kepedulian, kehandalan. Disamping itu individu merasa tujuan, norma serta nilai-nilainya sama sehingga layak untuk diidentifikasi.

(53)

Index dari Zalabak-Shockley, dkk, (2010) dan dari beberapa referensi lain dari karakteristik-karakteristik trustee yang diajukan oleh Zalabak-Shockley, dkk, 2010 yaitu kompetensi (competence), keterbukaan dan kejujuran (openness and honesty), peduli terhadap pemangku kepentingan (concern for stakeholder), kehandalan (reliability) dan identifikasi (identification).

Berikut merupakan definisi operasional dari masing-masing dimensi pembentuk trust:

1. Kompetensi (competence)

Kompetensi meliputi tidak hanya sejauh mana kita melihat keefektifan, kapabilitas dan kualitas karyawan atau pemimpin kita, tetapi juga organisasi secara keseluruhan.

2. Keterbukaan dan kejujuran (openness and honesty)

Dimensi ini tidak hanya meliputi keakurasian dan jumlah dari informasi yang dibagikan, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disampaikan secara tepat dan tulus.

3. Peduli terhadap pemangku kepentingan (concern for stakeholder) Kepedulian terhadap pemangku kepentingan meliputi perasaan peduli, empati, toleransi, dan keselamatan yang ditunjukkan ketika mengalami kerentanan.

(54)

Kehandalan ditentukan oleh apakah rekan kerja, tim atau organisasi bertindak konsisten dan dapat diandalkan atau tidak.

5. Identifikasi (identification)

Dimensi ini mengindikasikan seberapa dekat individu terhubung dengan organisasi dan rekan kerja melalui kesamaan tujuan, norma, nilai dan belief yang berasosiasi dengan budaya organisasi.

Tingkat trust juga ditinjau berdasarkan 3 (tiga) fungsi DPRD yaitu Fungsi Pengawasan, Fungsi Legislasi dan Fungsi Anggaran. Semakin tinggi skor trust yang didapat pada setiap subjek maka semakin trust terhadap DPRD Kota Medan serta terhadap ketiga fungsinya.

C. Subjek Penelitian dan Teknik Sampling

1. Subjek Penelitian

(55)

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Karena keterbatasan peneliti untuk menjangkau keseluruhan populasi, maka peneliti hanya meneliti sebagian dari keseluruhan populasi yang dijasikan sebagai subjek penelitian atau yang dikenal dengan nama sampel.

2. Teknik Sampling

Penelitian sampel dilakukan untuk menggeneralisasikan sampel yaitu untuk mengambil kesimpulan penelitian sampel sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi (Arikunto, 1998).

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Teknik non probability, dalam teknik non probability tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. Teknik non probability yang digunakan dalam penelitian ini adalah incidental sampling, dimana pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2000).

3.Jumlah Sampel Penelitian

(56)

Dengan keterangan: n = jumlah sampel N = jumlah populasi E = margin of error

Diketahui jumlah populasi mahasiswa USU berjumlah 44.036 mahasiswa, maka dapat ditentukan jumlah sampel sebagai berikut:

n = 396.39, pembulatan menjadi 400 mahasiswa

Berdasarkan formula diatas, maka didapat jumlah sampel dalam penelitian adalah 400 subjek dan jumlah ini diharapkan dapat mewakili karakteristik populasinya.

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data

(57)

pernyataan (Azwar, 2000). Metode skala yaitu suatu metode pengumpulan data yang merupakan suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab oleh subjek secara tertulis (Hadi, 2000). Sedangkan wawancara personal digunakan untuk mengeksplorasi hasil penelitian yang telah diukur dengan skala.

Menurut Hadi (2000), metode skala mempunyai kebaikan-kebaikan dengan alasan sebagai berikut:

a. Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya.

b. Apa yang dinyatakan subjek pada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.

c. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.

1. Skala Trust

(58)

(openness and honesty), peduli terhadap pemangku kepentingan (concern for stakeholder), kehandalan(reliability)dan identifikasi (identification).

Metode skala yang digunakan adalah metode Likert (Azwar, 2000). Skala ini merupakan format respons dimana setiap aitem meliputi 4 (empat) pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS).

Tabel 1. Blueprint Skala Trust

Skala ini disajikan dalam bentuk pernyataan-pernyataan favorable (mendukung) dimana nilainya bergerak mulai dari 4 untuk Sangat Sesuai (SS) hingga 1 untuk Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala trust ini juga akan

(59)

mengukur tingkat trust berdasarkan Fungsi DPRD yaitu trust terhadap Fungsi Pengawasan, Fungsi Legislasi dan Fungsi Anggaran.

Semakin tinggi skor masing-masing dimensi trust maka akan menunjukkan skor trust yang semakin baik atau tinggi. Sebaliknya, semakin rendah skor masing-masing dimensi trust maka akan menunjukkan skor trust yang semakin rendah.

2. Wawancara Personal

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud mengadakan eksplorasi terhadap isu tersebut (Poerwandari, 2007).

Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan secara personal dan dengan pedoman umum sebagai panduan wawancara. Wawancara dilakukan kepada 4 orang responden penelitian yang sebelumnya telah diberikan skala dengan tujuan untuk lebih mengeksplor apa yang menjadi alasan responden distrust terhadap DPRD Kota Medan. Metode wawancara ini bersifat sebagai penyedia data tambahan untuk mengeksplorasi hasil penelitian yang telah didapatkan.

(60)

Uji coba alat ukur dilakukan dengan tujuan untuk melihat seberapa jauh alat ukur dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur dan seberapa jauh alat ukur menunjukkan kecermatan pengukuran (Azwar, 2000). Uji validitas dan reliabilitas alat ukur diperlukan agar aitem-aitem yang dikonstruk valid dan reliable. Aitem-aitem dalam skala yang memiliki validitas baik dengan daya beda yang cukup tinggi dan reliable akan digunakan untuk mengukur tingkat trust individu.

1. Uji Validitas

Azwar (2000) mendefinisikan validitas tes atau validitas alat ukur adalah sejauh mana tes itu mengukur apa yang dimaksudkannya untuk diukur, artinya derajat fungsi mengukurnya suatu tes atau derajat kecermatan suatu tes. Untuk mengkaji validitas alat ukur dalam penelitian ini, peneliti melihat alat ukur berdasarkan arah isi yang diukur yang disebut dengan validitas isi (content validity). Dalam penelitian ini, validitas alat ukur ditentukan melalui pendapat profesional (professional judgement) dalam proses telaah soal.

(61)

aitem-aitem yang telah dikonstruk oleh peneliti apakah masih ada kata-kata yang sulit dipahami atau sulit dimengerti. Keempat, skala yang telah dikomentari diperiksa kembali oleh professional judgment, yaitu dosen

pembimbing.

(62)

2. Uji Reliabilitas Alat Ukur

Pengujian reliabilitas terhadap hasil ukur skala dilakukan bila aitem-aitem yang terpilih lewat prosedur analisis aitem telah dikompilasi menjadi satu. Reliabilitas mengacu kepada konsistensi atau kepercayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Azwar, 2000).

Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal (Cronbach’s alpha coeffecient), yaitu suatu bentuk tes yang hanya memerlukan satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok individu sebagai subjek dengan tujuan untuk melihat konsistensi antar item atau antar bagian dalam skala. Teknik ini dipandang ekonomis dan praktis (Azwar, 2000). Penghitungan daya beda aitem dan koefisien reliabilitas dalam uji coba ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS version 16.0 For Windows.

Pengujian reliabilitas alat ukur diujicobakan kepada 114 mahasiswa/i dengan rincian 94 mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas

(63)

Sumatera Utara dan 20 mahasiswa/i yang tersebar di beberapa Universitas Swasta yang ada di Kota Medan. Berdasarkan dari hasil penghitungan reliabilitas dengan menggunakan formula Alpha Cronbach didapatkan koefisien reliabilitas dari skala trust adalah sebesar 0,956. Azwar (2004) mengatakan bahwa nilai reliabilitas yang koefisiennya mencapai minimal rxx’ = 0,900 dianggap memuaskan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai reliabilitas dari skala trust ini sangat memuaskan dan menunjukkan bahwasanya alat ukur ini reliabel untuk digunakan.

Setelah validitas dan reliabilitas alat ukur diketahui maka akan dilakukan seleksi aitem. Seleksi aitem dilakukan untuk memperlihatkan kesesuaian fungsi aitem dengan fungsi skala dalam mengungkap perbedaan individual. Seleksi aitem ini didasarkan pada besarnya koefisien korelasi termaksud (corrected item total correlation) dengan batasan rix ≥ 0,30 (Azwar, 2000).

(64)

F. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan Penelitian

Dalam tahap ini, yang dilakukan oleh peneliti adalah: 1. Pembuatan Alat Ukur

(65)

2. Uji Coba Alat Ukur

Uji coba alat ukur dilakukan pada tanggal 15 Maret – 24 Maret 2013 dengan memberikan skala trust pada 94 mahasiswa/i Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan 20 orang mahasiswa/i dari Universitas Swasta berbeda yang ada di Kota Medan.

3. Revisi Alat Ukur

Setelah dilakukan uji coba peneliti menguji reliabilitas skala dan melakukan seleksi aitem dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 16.0 for windows. Setelah diketahui aitem-aitem mana saja yang memenuhi, maka peneliti melakukan revisi alat ukur. Peneliti mengambil aitem-aitem yang sudah lolos uji untuk dijadikan skala trust. Skala inilah yang akan digunakan dalam mengambil data penelitian.

2. Pelaksanaan Penelitian

(66)

3. Pengolahan DataPenelitian

Setelah data semua subjek terkumpul, maka data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan analisa deskriptif pada SPSS versi 16.0 for windows.

G. Metode Analisa Data

Data yang diperoleh melalui skala trust akan dianalisis dengan metode statistik. Pertimbangan penggunaan statistik dalam penelitian ini menurut Hadi (2000) adalah:

1. Statistik bekerja dengan angka-angka. 2. Statistik bersifat objektif.

3. Statistik bersifat universal, artinya dapat digunakan hampir pada semua bidang penelitian.

(67)
(68)

BAB IV

HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan mengenai keseluruhan hasil penelitian. Pembahasan pada bab ini dimulai dengan gambaran umum subjek penelitian dan hasil penelitian yang berkaitan dengan analisis data penelitian sesuai dengan permasalahan dan analisa data tambahan yang ada.

A. Gambaran Umum Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini berjumlah 400 mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang tersebar di 14 fakultas. Subjek dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan fakultas, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, etnis, pengalaman langsung, keikutsertaan di organisasi dan organisasi kemahasiswaan yang diikuti.

1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Fakultas

(69)

Diagram 1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Fakultas

Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat bahwa jumlah subjek di Fakultas Psikologi ada sebanyak 18 orang (4,5 %), di Ilmu Budaya ada sebanyak 43 orang (10,75 %), di Kedokteran ada sebanyak 19 orang (4,75 %), di Kedokteran Gigi ada sebanyak 11 orang (2,75%), di Teknik ada sebanyak 31 orang (7,75%), di Ekonomi ada sebanyak 34 orang (8,5%), di FISIP ada sebanyak 46 orang (11,5%), di Pertanian ada sebanyak 39 orang (9,75%), di FASILKOM-TI ada sebanyak 11 orang (2,75%), di Farmasi ada sebanyak 31 orang (7,75%), di FKM ada sebanyak 39 orang (9,75%), di Keperawatan ada sebanyak 23 orang (5,75%), di MIPA ada sebanyak 13 orang (3,25%), dan di Hukum ada sebanyak 42 orang (10,5%).

(70)

2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Subjek dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan usia dengan 2 pengelompokan kategori usia, yaitu: 18-20 tahun dan 21-25 tahun dengan penyebaran sebagai berikut:

Diagram 2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia

Berdasarkan pada diagram diatas dapat dilihat bahwa jumlah subjek penelitian yang paling banyak menjadi subjek penelitian berdasarkan usia adalah kategori usia 18-20 tahun sebanyak 263 orang (65,8%), kemudian untuk kategori usia 21-25 tahun sebanyak 135 orang (33,8%) dan ada sebanyak 2 orang (0,5%) subjek yang tidak menjawab berapa tahun usianya.

18-20 tahun 66% 21-25 tahun

34%

Tidak Menjawab

(71)

3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Subjek dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya yaitu laki-laki dan perempuan dengan penyebaran sebagai berikut:

Diagram 3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan pada diagram diatas dapat dilihat bahwa jumlah subjek laki-laki sebanyak 178 orang (44,5%) dan perempuan sebanyak 221 orang (55,25%) sedangkan yang tidak menjawab ada 1 orang (0,25 %). Jumlah subjek laki-laki dan perempuan diketahui memiliki proporsi yang agak seimbang.

Laki-laki 45% Perempuan

55%

Tidak Menjawab

(72)

4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Subjek dalam penelitian ini dibedakan berdasarkan tingkat pendidikan yaitu berdasarkan semester yang sedang dijalani, dengan penyebaran sebagai berikut:

Diagram 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Berdasarkan diagram diatas dapat dilihat bahwa jumlah subjek berdasarkan tingkat pendidikan yaitu semester 2 sebanyak 90 orang (22,5%), semester 4 sebanyak 88 orang (22%), semsester 6 sebanyak 126 orang (31,5 %), semester 8 sebanyak 78 orang (19,5 %), semester 10 sebanyak 14 orang (3,5 %), semester 12 sebanyak 3 orang (0,8 %) dan yang tidak menjawab semesternya ada 1 orang (0,2%).

Gambar

Tabel 1. Blueprint Skala Trust
Tabel 2. Distribusi Aitem Skala Trust Sebelum Uji Coba
Tabel 4. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Etnis
Tabel 5. Rangkuman Analisa Korelasi Kategori Trust dengan Faktor Sosial demografis, Pengalaman langsung dan Keikutsertaan Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan

Referensi

Dokumen terkait

Judul penelitian: Gambaran Pengetahuan Mengenai Obesitas dan Kejadian Obesitas pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2007 dan Angkatan 2010 di

Fitriani Solin : Kebijakan Pengembangan Koleksi ada Perpustakaan DPRD Sumatera Utara, 2003... Fitriani Solin : Kebijakan Pengembangan Koleksi ada Perpustakaan DPRD Sumatera

Pengaruh Brand Equity Teh Botol Sosro Terhadap Keputusan Pembelian Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Medan (Dibimbing oleh Ibu Dra. Nisrul Irawaty, MBA.,

Subjek dalam penelitian ini adalah 99 mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang memiliki pekerjaan sampingan yang diambil dengan incidental sampling.. Hasil analisis

Inform consent dan kuesioner kepada subjek melakukan penelitian ke atas mahasiswa.. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di perguruan tinggi negeri Kota Medan yaitu Universitas Sumatera Utara (USU) peneliti melihat bahwa sudah terdapat banyak mahasiswa

Mahasiswa yang menjadi responden adalah seluruh mahasiswa Universitas Sumatera Utara, baik yang aktif dalam organisasi Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) maupun tidak

MEDAN 2012.. Judul Tesis : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Mahasiswa Memilih Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara Al Munawaroh Medan. Rahim