EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL
UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) KOTA DEPOK
Oleh :
RAHMI SARI DEWI A14304054
RINGKASAN
RAHMI SARI DEWI. Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok. (dibawah bimbingan YUSMAN SYAUKAT)
Kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah perkotaan membuat dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Daerah (Pemda) kota-kota besar di Indonesia mulai mencanangkan program pengelolaan sampah terpadu. Pemkot Depok menggulirkan program Sistem Pengolahan dan Pengelolaan Sampah Terpadu (SIPESAT) pada tahun 2006. Salah satu pendekatan program SIPESAT dalam mereduksi volume sampah adalah dengan membangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang merupakan upaya mengubah paradigma pengelolaan sampah yang lama, yaitu kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-olah-manfaat. SIPESAT diubah namanya menjadi UPS pada awal tahun 2008.
Tujuan umum penelitian adalah untuk mengestimasi nilai manfaat ekonomi-sosial yang ditimbulkan oleh adanya UPS. Tujuan umum tersebut dicapai melalui tujuan-tujuan khusus, yaitu : 1) mengestimasi nilai ekonomi sampah yang dapat dihasilkan per-UPS dan Kota Depok jika sampah-sampah tersebut mendapat penanganan lebih lanjut yaitu melalui pemilahan sampah dan pengomposan sampah organik, 2) membandingkan antara manfaat dan biaya sistem pengelolaan sampah Kota Depok sistem UPS juga membandingkan dengan sistem pengelolaan sampah tanpa UPS, dan 3) mengevaluasi manfaat sosial keberadaan UPS berdasarkan persepsi warga sekitar, jumlah tenaga kerja yang dapat terserap, dan perubahan perilaku masyarakat dalam menangani sampah.
Penelitian mengambil lokasi dipilot project UPS RW 11 Griya Tugu Asri (GTA), Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Lokasi tersebut ditentukan secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan keberadaan sistem baru yang terpadu dalam penanganan sampah untuk skala kota besar. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2008. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survei pada responden di sekitar UPS RW 11. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang relevan, diantaranya buku referensi, laporan kegiatan, internet, serta informasi dari instansi terkait, seperti Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok, Pengelola UPS, dan lain-lain. Data primer yang diambil dengan teknik panduan wawancara dan responden yang dipilih berdasarkan metodejudgement/purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 32 orang.
Potensi nilai ekonomi pengelolaan sampah dengan UPS yang sebenarnya ditunjukkan oleh nilai manfaat bersih yang dihasilkan per UPS dan Kota Depok. Total manfaat bersih (total net benefit) merupakan penjumlahan dari manfaat bersih kegiatan operasional UPS (operasional net benefit) ditambah biaya pengangkutan sampah yang dapat dihindarkan (avoided transportation cost). Analisis biaya-manfaat menggunakan parameter kelayakan suatu investasi dari aspek finansial (Gittinger, 1986), yaitu : 1) NPV; 2)Net B/C ratio; 3) IRR; dan 4) Payback Period.
responden. Perilaku yang dinilai perubahannya adalah perilaku membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah rumah tangga, menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan, menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse), meminimalkan penggunaan kantong plastik pada saat berbelanja misalnya dengan membawa tas belanja tersendiri (reduce), dan terdorong atau melakukan pengomposan sampah organik dari sampah rumah tangganya.
UPS dengan volume sampah yang diolah sebesar 7,56 m3/hari mampu menghasilkan potensi nilai olahan sampah Rp 51.634.264 per tahun dan Rp 81.059.694.857 jika seluruh sampah domestik Kota Depok diolah lebih lanjut. Manfaat bersih pengolahan sampah Kota Depok, terdiri dari manfaat bersih operasional dan avoided transportation cost, yang dihasilkan mampu mencapai Rp 105.101.317.536 per tahun walaupun manfaat bersih dalam skala UPS bernilai negatif. Hal tersebut disebabkan tidak semua sampah domestik masyarakat Kota Depok dapat terlayani untuk diolah di UPS.
Jika volume sampah yang diolah di UPS RW 11 tetap sebesar 7,56 m3/hari selama lima tahun umur proyek, maka sistem UPS tidak layak untuk dilanjutkan. Oleh karenanya, dibutuhkan peningkatan volume sampah yang diolah pada tahun ketiga sebesar 120 persen. Skenario pengembangan UPS dibuat berdasarkan dua tujuan yaitu pencapaian skala ekonomi dan maksimisasi kapasitas olah (30 m3/hari).
Pemkot Depok berencana membangun 60 UPS, yang artinya mampu menyerap 840 orang tenaga kerja. Manfaat langsung yang paling banyak dirasakan oleh 50 persen responden adalah tidak terjadi penumpukan sampah. Dampak negatif yang dirasakan amat menganggu bagi 62,5 persen responden adalah timbulnya bau yang tidak sedap. Berdasarkan uji McNemar, maka perubahan perilaku yang nyata/signifikan adalah memilah sampah rumah tangga dan menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan.
EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL
UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) KOTA DEPOK
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh : Rahmi Sari Dewi
A14304054
PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok
Nama : Rahmi Sari Dewi
NRP : A14304054
Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya (EPS)
Fakultas : Pertanian
Menyetujui, Dosen Pembimbing Skripsi
Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec NIP. 131 804 162
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL UNIT PENGOLAHAN SAMPAH
(UPS) KOTA DEPOK ADALAH BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA
SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. SEMUA SUMBER DATA DAN INFORMASI YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DIBAGIAN AKHIR SKRIPSI.
Bogor, September 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada hari Minggu tanggal 9 November 1986 sebagai putri pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak H. Tukul Widyanto, M.Pi dan Ibu Hj. Gusni Lafita. Penulis mempunyai seorang adik laki-laki bernama Andi Yudho. Pada tahun 1992, penulis memulai pendidikan dasar di SDN Beji Timur 2 Depok kemudian dilanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 2 Depok dan lulus pada tahun 2001. Pendidikan menengah atas ditempuh Penulis di SMU Negeri 1 Depok dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama, Penulis menerima Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Ekonomi Pertanian Dan Sumberdaya (EPS), Fakultas Pertanian.
Semasa kuliah Penulis aktif pada berbagai kegiatan dan organisasi kampus. Penulis pernah menjadi Sekretaris Departemen Informasi dan Komunikasi (Infokom) Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (BEM TPB) tahun 2004-2005, Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (DPM KM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (MPM KM) tahun 2005-2006, dan Wakil Bendahara I (Kabiro Keuangan Kementerian Administrasi dan Keuangan) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) tahun 2006-2007. Penulis juga mengikuti dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu Perguruan Silat (PS) Merpati Putih 2004-2006 dan Association of Students In Agriculture and Related Sciences Local Commitee IPB (IAAS LC IPB) tahun 2007 sebagai Anggota Muda.
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillahi Rabbil alamin, segala puja dan puji syukur hanya pantas Penulis panjatkan kepada ALLAH SWT, Tuhan semesta alam, Yang Memasukkan malam ke siang dan Memasukkan siang ke malam, Yang Mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Mengeluarkan yang mati dari yang hidup, atas segala rahmat dan nikmat yang tidak sanggup Penulis hitung, ternasuknya rampung pengerjaan skripsi ini dengan segala kemudahan diberikanNya. Shalawat serta Salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Suri tauladan dan Pembawa risalah Islam.
Selesainya skripsi ini tentunya tidak lepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, dalam lembaran ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Keluargaku, Mama dan Ayah tersayang,segala kasih sayang, pengertian, dan pembelajaran yang kalian berikan tidak akan pernah sanggup Sari balas,,Ya ALLAH jadikanlah hamba-Mu ini seorang anak yang sholihah, anak yang menjadi amal orangtuaku di akhirat nanti, juga untuk de Andi, atas kesabaran dan layanan antar-jemputnya..(^_^).
2. Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec atas semua masukan, bimbingan, dan ilmu yang telah diberikan selama kuliah dan terutama selama pengerjaan skripsi.
3. Dr. Ahyar Ismail, M.Agr dan A. Faroby Falatehan, SP. ME yang telah bersedia menjadi dosen penguji utama dan wakil departemen.
4. Seluruh guru-guruku di TK, SDN Beji Timur 2, SLTPN 2 Depok, dan SMUN 1 Depok, serta dosen-dosen Departemen Sosial Ekonomi (Sosek) Pertanian khususnya dosen PS EPS atas didikan dan ilmu pengetahuan yang tak ternilai. 5. Aparat Pemerintah Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota
Depok : Pak Indra, Mbak Harsy, Mbak Diah, Mbak Eva, Mbak Eka, Pak Mulyo atas data, informasi, dan penerimaan yang sangat hangat, serta Kesbanglinmas Kota Depok atas kemudahan perizinan penelitian.
7. Ibu Eka Intan Kumala Putri, Ibu Yetty Lis, Mbak Pini, Mbak Sofi, Pak Husein, Pak Basir, dan Mbak Santi atas perhatian dan bantuan yang diberikan.
8. Warga Perumahan Griya Tugu Asri (GTA), Cimanggis khususnya Ketua RW Bapak Azwin Marlin dan para responden atas kesediaan waktu, masukan, dan keterbukaan informasi yang diberikan selama wawancara.
9. Sahabat-sahabatku yang selama empat tahun amat sabar menghadapi diriku : Aghiez, Teteh, dan teman-teman seperguruan .You show me the true meaning of friendship and also ukhuwah. Sahabat-sahabat Depok (I miss u guys..) 10. My memorable and unforgetable friends in EPS 41 for the amazing four
years. Teman sebimbingan, Wulan dan Zae, terima kasih untuk rasa seperjuangan dan bantuan yang diberikan.
11. My 2 best team-work ever: BEM TPB 41 (Nanien, Fitri, Novera, Bena, Mbak Annis, Ibnu, Rudy, Aries, dan Gema) dan KKP Desa Pasanggrahan (Efie, Ratih, Desie, Dede, dan Yudhi),Working with all of you nothing but joys. 12. Kakak-kakak BEM KM 2006-2007 (Mbak Pipiet, Ka Erick, Ka Andi, Ka
Jayadin, Mbak Iiq, dkk), DPM/MPM KM 2005-2006 (Mbak Dee, Mbak Ina, Ka Cher, Ka Upik, dkk), EPS 40 (Mbak Tunjung, Ka Eka, Mas Iwan, Ka Ok, Mbak Ima, Mbak Hanum, Mas Kris, dkk) untuk semua pengalaman organisasi, bimbingan, dan perhatiannya.
13. The Windies : Lesta, Ika, Dewi, Endang, Ivon, mbak-mbakku : Mbak Beti, Mbak Lina, Mbak Prima, Mbak Eka, semuanya,,,it feels like home.
14. Semua pihak yang telah membantu, yang pernah hadir, dan tidak bisa disebutkan satu persatu.Thank you for helping me.
Semoga ALLAH SWT membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, Kakak, dan rekan-rekan semua dengan balasan kebaikan yang jauh lebih baik. Amin.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas segala nikmat dan rahmat yang telah diberikan Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya khususnya seluruh umat manusia sebagai Khalifah di bumi. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan ajaran tauhid dan membawa umat manusia dari zaman kegelapan menjadi zaman yang terang-benderang.
Skripsi yang berjudul “Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok” dibuat dalam rangka memenuhi tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor. Penulis berterima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, ilmu, dan wawasan yang diberikan selama proses pembuatan skripsi.
Dalam pembahasan skripsi, penulis meneliti mengenai manfaat dari adanya sistem pengelolaan dan pengolahan sampah yang baru di Kota Depok dari segi ekonomi dan sosial. Dari penelitian tersebut dapat diketahui seberapa besar manfaat ekonomi yang timbul dari sistem pengolahan baru tersebut dan dampak terhadap masyarakat disekitarnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, saran amat penulis harapkan demi perbaikan kedepan. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.
Bogor, September 2008
EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL
UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) KOTA DEPOK
Oleh :
RAHMI SARI DEWI A14304054
RINGKASAN
RAHMI SARI DEWI. Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok. (dibawah bimbingan YUSMAN SYAUKAT)
Kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah perkotaan membuat dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Daerah (Pemda) kota-kota besar di Indonesia mulai mencanangkan program pengelolaan sampah terpadu. Pemkot Depok menggulirkan program Sistem Pengolahan dan Pengelolaan Sampah Terpadu (SIPESAT) pada tahun 2006. Salah satu pendekatan program SIPESAT dalam mereduksi volume sampah adalah dengan membangun Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang merupakan upaya mengubah paradigma pengelolaan sampah yang lama, yaitu kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-olah-manfaat. SIPESAT diubah namanya menjadi UPS pada awal tahun 2008.
Tujuan umum penelitian adalah untuk mengestimasi nilai manfaat ekonomi-sosial yang ditimbulkan oleh adanya UPS. Tujuan umum tersebut dicapai melalui tujuan-tujuan khusus, yaitu : 1) mengestimasi nilai ekonomi sampah yang dapat dihasilkan per-UPS dan Kota Depok jika sampah-sampah tersebut mendapat penanganan lebih lanjut yaitu melalui pemilahan sampah dan pengomposan sampah organik, 2) membandingkan antara manfaat dan biaya sistem pengelolaan sampah Kota Depok sistem UPS juga membandingkan dengan sistem pengelolaan sampah tanpa UPS, dan 3) mengevaluasi manfaat sosial keberadaan UPS berdasarkan persepsi warga sekitar, jumlah tenaga kerja yang dapat terserap, dan perubahan perilaku masyarakat dalam menangani sampah.
Penelitian mengambil lokasi dipilot project UPS RW 11 Griya Tugu Asri (GTA), Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Lokasi tersebut ditentukan secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan keberadaan sistem baru yang terpadu dalam penanganan sampah untuk skala kota besar. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2008. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari survei pada responden di sekitar UPS RW 11. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber yang relevan, diantaranya buku referensi, laporan kegiatan, internet, serta informasi dari instansi terkait, seperti Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota Depok, Pengelola UPS, dan lain-lain. Data primer yang diambil dengan teknik panduan wawancara dan responden yang dipilih berdasarkan metodejudgement/purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 32 orang.
Potensi nilai ekonomi pengelolaan sampah dengan UPS yang sebenarnya ditunjukkan oleh nilai manfaat bersih yang dihasilkan per UPS dan Kota Depok. Total manfaat bersih (total net benefit) merupakan penjumlahan dari manfaat bersih kegiatan operasional UPS (operasional net benefit) ditambah biaya pengangkutan sampah yang dapat dihindarkan (avoided transportation cost). Analisis biaya-manfaat menggunakan parameter kelayakan suatu investasi dari aspek finansial (Gittinger, 1986), yaitu : 1) NPV; 2)Net B/C ratio; 3) IRR; dan 4) Payback Period.
responden. Perilaku yang dinilai perubahannya adalah perilaku membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah rumah tangga, menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan, menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse), meminimalkan penggunaan kantong plastik pada saat berbelanja misalnya dengan membawa tas belanja tersendiri (reduce), dan terdorong atau melakukan pengomposan sampah organik dari sampah rumah tangganya.
UPS dengan volume sampah yang diolah sebesar 7,56 m3/hari mampu menghasilkan potensi nilai olahan sampah Rp 51.634.264 per tahun dan Rp 81.059.694.857 jika seluruh sampah domestik Kota Depok diolah lebih lanjut. Manfaat bersih pengolahan sampah Kota Depok, terdiri dari manfaat bersih operasional dan avoided transportation cost, yang dihasilkan mampu mencapai Rp 105.101.317.536 per tahun walaupun manfaat bersih dalam skala UPS bernilai negatif. Hal tersebut disebabkan tidak semua sampah domestik masyarakat Kota Depok dapat terlayani untuk diolah di UPS.
Jika volume sampah yang diolah di UPS RW 11 tetap sebesar 7,56 m3/hari selama lima tahun umur proyek, maka sistem UPS tidak layak untuk dilanjutkan. Oleh karenanya, dibutuhkan peningkatan volume sampah yang diolah pada tahun ketiga sebesar 120 persen. Skenario pengembangan UPS dibuat berdasarkan dua tujuan yaitu pencapaian skala ekonomi dan maksimisasi kapasitas olah (30 m3/hari).
Pemkot Depok berencana membangun 60 UPS, yang artinya mampu menyerap 840 orang tenaga kerja. Manfaat langsung yang paling banyak dirasakan oleh 50 persen responden adalah tidak terjadi penumpukan sampah. Dampak negatif yang dirasakan amat menganggu bagi 62,5 persen responden adalah timbulnya bau yang tidak sedap. Berdasarkan uji McNemar, maka perubahan perilaku yang nyata/signifikan adalah memilah sampah rumah tangga dan menyediakan wadah atau tempat sampah khusus di rumah untuk memudahkan pemilahan.
EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL
UNIT PENGOLAHAN SAMPAH (UPS) KOTA DEPOK
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Oleh : Rahmi Sari Dewi
A14304054
PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok
Nama : Rahmi Sari Dewi
NRP : A14304054
Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya (EPS)
Fakultas : Pertanian
Menyetujui, Dosen Pembimbing Skripsi
Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec NIP. 131 804 162
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI BERJUDUL EVALUASI EKONOMI DAN SOSIAL UNIT PENGOLAHAN SAMPAH
(UPS) KOTA DEPOK ADALAH BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA
SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. SEMUA SUMBER DATA DAN INFORMASI YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUN TIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DIBAGIAN AKHIR SKRIPSI.
Bogor, September 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada hari Minggu tanggal 9 November 1986 sebagai putri pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak H. Tukul Widyanto, M.Pi dan Ibu Hj. Gusni Lafita. Penulis mempunyai seorang adik laki-laki bernama Andi Yudho. Pada tahun 1992, penulis memulai pendidikan dasar di SDN Beji Timur 2 Depok kemudian dilanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTP Negeri 2 Depok dan lulus pada tahun 2001. Pendidikan menengah atas ditempuh Penulis di SMU Negeri 1 Depok dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama, Penulis menerima Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Ekonomi Pertanian Dan Sumberdaya (EPS), Fakultas Pertanian.
Semasa kuliah Penulis aktif pada berbagai kegiatan dan organisasi kampus. Penulis pernah menjadi Sekretaris Departemen Informasi dan Komunikasi (Infokom) Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (BEM TPB) tahun 2004-2005, Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (DPM KM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (MPM KM) tahun 2005-2006, dan Wakil Bendahara I (Kabiro Keuangan Kementerian Administrasi dan Keuangan) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) tahun 2006-2007. Penulis juga mengikuti dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yaitu Perguruan Silat (PS) Merpati Putih 2004-2006 dan Association of Students In Agriculture and Related Sciences Local Commitee IPB (IAAS LC IPB) tahun 2007 sebagai Anggota Muda.
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulillahi Rabbil alamin, segala puja dan puji syukur hanya pantas Penulis panjatkan kepada ALLAH SWT, Tuhan semesta alam, Yang Memasukkan malam ke siang dan Memasukkan siang ke malam, Yang Mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Mengeluarkan yang mati dari yang hidup, atas segala rahmat dan nikmat yang tidak sanggup Penulis hitung, ternasuknya rampung pengerjaan skripsi ini dengan segala kemudahan diberikanNya. Shalawat serta Salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Suri tauladan dan Pembawa risalah Islam.
Selesainya skripsi ini tentunya tidak lepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, dalam lembaran ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Keluargaku, Mama dan Ayah tersayang,segala kasih sayang, pengertian, dan pembelajaran yang kalian berikan tidak akan pernah sanggup Sari balas,,Ya ALLAH jadikanlah hamba-Mu ini seorang anak yang sholihah, anak yang menjadi amal orangtuaku di akhirat nanti, juga untuk de Andi, atas kesabaran dan layanan antar-jemputnya..(^_^).
2. Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec atas semua masukan, bimbingan, dan ilmu yang telah diberikan selama kuliah dan terutama selama pengerjaan skripsi.
3. Dr. Ahyar Ismail, M.Agr dan A. Faroby Falatehan, SP. ME yang telah bersedia menjadi dosen penguji utama dan wakil departemen.
4. Seluruh guru-guruku di TK, SDN Beji Timur 2, SLTPN 2 Depok, dan SMUN 1 Depok, serta dosen-dosen Departemen Sosial Ekonomi (Sosek) Pertanian khususnya dosen PS EPS atas didikan dan ilmu pengetahuan yang tak ternilai. 5. Aparat Pemerintah Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kota
Depok : Pak Indra, Mbak Harsy, Mbak Diah, Mbak Eva, Mbak Eka, Pak Mulyo atas data, informasi, dan penerimaan yang sangat hangat, serta Kesbanglinmas Kota Depok atas kemudahan perizinan penelitian.
7. Ibu Eka Intan Kumala Putri, Ibu Yetty Lis, Mbak Pini, Mbak Sofi, Pak Husein, Pak Basir, dan Mbak Santi atas perhatian dan bantuan yang diberikan.
8. Warga Perumahan Griya Tugu Asri (GTA), Cimanggis khususnya Ketua RW Bapak Azwin Marlin dan para responden atas kesediaan waktu, masukan, dan keterbukaan informasi yang diberikan selama wawancara.
9. Sahabat-sahabatku yang selama empat tahun amat sabar menghadapi diriku : Aghiez, Teteh, dan teman-teman seperguruan .You show me the true meaning of friendship and also ukhuwah. Sahabat-sahabat Depok (I miss u guys..) 10. My memorable and unforgetable friends in EPS 41 for the amazing four
years. Teman sebimbingan, Wulan dan Zae, terima kasih untuk rasa seperjuangan dan bantuan yang diberikan.
11. My 2 best team-work ever: BEM TPB 41 (Nanien, Fitri, Novera, Bena, Mbak Annis, Ibnu, Rudy, Aries, dan Gema) dan KKP Desa Pasanggrahan (Efie, Ratih, Desie, Dede, dan Yudhi),Working with all of you nothing but joys. 12. Kakak-kakak BEM KM 2006-2007 (Mbak Pipiet, Ka Erick, Ka Andi, Ka
Jayadin, Mbak Iiq, dkk), DPM/MPM KM 2005-2006 (Mbak Dee, Mbak Ina, Ka Cher, Ka Upik, dkk), EPS 40 (Mbak Tunjung, Ka Eka, Mas Iwan, Ka Ok, Mbak Ima, Mbak Hanum, Mas Kris, dkk) untuk semua pengalaman organisasi, bimbingan, dan perhatiannya.
13. The Windies : Lesta, Ika, Dewi, Endang, Ivon, mbak-mbakku : Mbak Beti, Mbak Lina, Mbak Prima, Mbak Eka, semuanya,,,it feels like home.
14. Semua pihak yang telah membantu, yang pernah hadir, dan tidak bisa disebutkan satu persatu.Thank you for helping me.
Semoga ALLAH SWT membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, Kakak, dan rekan-rekan semua dengan balasan kebaikan yang jauh lebih baik. Amin.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas segala nikmat dan rahmat yang telah diberikan Allah SWT kepada seluruh makhluk-Nya khususnya seluruh umat manusia sebagai Khalifah di bumi. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan ajaran tauhid dan membawa umat manusia dari zaman kegelapan menjadi zaman yang terang-benderang.
Skripsi yang berjudul “Evaluasi Ekonomi dan Sosial Unit Pengolahan Sampah (UPS) Kota Depok” dibuat dalam rangka memenuhi tugas akhir sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Institut Pertanian Bogor. Penulis berterima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, ilmu, dan wawasan yang diberikan selama proses pembuatan skripsi.
Dalam pembahasan skripsi, penulis meneliti mengenai manfaat dari adanya sistem pengelolaan dan pengolahan sampah yang baru di Kota Depok dari segi ekonomi dan sosial. Dari penelitian tersebut dapat diketahui seberapa besar manfaat ekonomi yang timbul dari sistem pengolahan baru tersebut dan dampak terhadap masyarakat disekitarnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, saran amat penulis harapkan demi perbaikan kedepan. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan.
Bogor, September 2008
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Daftar Isi ... ii
Daftar Tabel ... iv
Daftar Gambar ... vi
Daftar Lampiran... vii
Bab I Pendahuluan ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 11
Bab II Tinjauan Pustaka ... 12
2.1 Tinjauan Teoritis ... 12
2.1.1Economy of Waste Management ... 12
2.1.2 Definisi, Penggolongan, dan Komponen Sampah ... 14
2.1.3 Pengolahan Sampah ... 16
2.1.4 Pengelolaan Sampah ... 19
2.2 Pengelolaan Sampah : Kasus Pengelolaan Sampah di DKI Jakarta .. 23
2.3 Penelitian Terdahulu ... 25
Bab III Kerangka Pemikiran ... 30
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 30
3.1.1 Interaksi Antara Ekonomi dan Lingkungan ... 30
3.1.2Economy of Waste Management ... 32
3.1.3 Analisis Biaya Manfaat (Benefit Cost Analysis/BCA) ... 35
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 38
3.3 Hipotesis Operasional ... 39
Bab IV Metode Penelitian... 41
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41
4.2 Jenis dan Sumber Data ... 41
4.3 Teknik Pengambilan dan Pengumpulan Data ... 43
4.4 Teknik Analisis Data ... 44
Bab V Gambaran Umum Penelitian ... 52 5.1 Kondisi Geografis Kota Depok ... 52 5.2 Potensi Ekonomi Daerah ... 54 5.3 Sistem Pengelolaan Persampahan Kota Depok... 56 5.4 Unit Pengolahan Sampah (UPS) ... 60 5.5 Karakteristik Demografi Responden ... 64
Bab VI Evaluasi Ekonomi dan Sosial Keberadaan Unit Pengolahan
Sampah (UPS) Kota Depok ... 66 6.1 Potensi Nilai Ekonomi Sampah Kota Depok ... 66 6.2 Perbandingan Manfaat dan Biaya Sistem Pengelolaan Sampah
Kota Depok dengan dan tanpa Unit Pengelolaan Sampah (UPS) .... 74 6.2.1 Analisis Biaya-Manfaat UPS RW 11 Kelurahan Tugu ... 74 6.2.2 Analisis Biaya-Manfaat UPS ... 76 6.2.3 Proyeksi Pengembangan Proyek UPS ... 80 6.2.4 Perbandingan Sistem UPS dan Sistem Pengolahan Sampah
Tanpa UPS ... 84 6.3 Tinjauan Sosial Keberadaan Unit Pengelolaan Sampah (UPS) ... 85 6.3.1 Persepsi Masyarakat Sekitar UPS RW 11... 85 6.3.2 Perubahan Perilaku Responden Dalam Menangani Sampah .. 90
Bab VII Penutup ... 93 7.1 Kesimpulan ... 93 7.2 Saran ... 94
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Cakupan Pelayanan Persampahan di Indonesia Tahun 2001 ... 2 2. Komponen Pencemar Daratan ... 16 3. Limbah Padat dan Pemanfaatannya Kembali ... 18 4. Jenis dan Sumber Data Penelitian ... 43 5 . Tabel 5. Konsep Alat Analisis Penelitian ... 45 6. Skenario Analisis Biaya-Manfaat UPS ... 49 7. Jumlah Penduduk, Luas Wilayah, dan Kepadatan Penduduk Menurut
Kecamatan di Kota Depok Tahun 2007 ... 53 8. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Depok dan Propinsi Jawa
Barat Tahun 2001-2006 ... 54 9. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Depok Berdasarkan Kontribusi
Sektor Ekonomi Tahun 2001-2006 ... 55 10. PDRB Per Kapita Kota Depok Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2001-2006 ... 56 11. Tingkat pelayanan kebersihan kota Depok ... 56 12. Jumlah Anggaran Total dan Anggaran Kebersihan Kota Depok ... 57 13. Timbulan dan Jumlah Sampah yang Terangkut Pada Tahun 2006/2007 .... 57 14. Karakteristik Sampah Kota Depok ... 58 15. Penanganan Sampah Kota Depok... 58 16. TPA dan Fasilitas Pengelolaan Persampahan Lainnya yang Digunakan
Di Kota Depok ... 60 17. Persebaran Karakteristik Demografi Responden ... 65 18. Potensi Nilai Ekonomi Olahan Sampah UPS RW 11 Kelurahan Tugu ... 67 19. Potensi Nilai Ekonomi Olahan Sampah Kota Depok ... 72 20. Manfaat Bersih (Net Benefit) Proses Pengolahan Sampah dengan UPS
23. Analisis Manfaat-Biaya UPS RW 11 Kelurahan Tugu (Skenario 1) ... 75 24. Hasil Analisis Biaya-Manfaat Pada Lima Skenario Pengembangan UPS ... 77 25. Analisis Manfaat-Biaya UPS Skenario Pencapaian Skala Ekonomi ... 78 26. Analisis Manfaat-Biaya UPS Skenario Maksimisasi Volume Olah ... 79 27. Proyeksi Pengembangan UPS Kondisi Riil UPS RW 11 (Skenario 1) ... 82 28. Proyeksi Pengembangan UPS Skenario 2a (Volume sampah olah 28,5
m3/hari, 15 persen kompos, dan 1persen plastik pilahan) ... 82 29. Proyeksi Pengembangan UPS Skenario 2b (Volume sampah olah 16,5
m3/hari, 31,7 persen kompos, dan 2,5 persen plastik pilahan) ... 82 30. Proyeksi Pengembangan UPS Skenario 3a (Volume sampah olah 30
m3/hari, 15 persen kompos, dan 1persen plastik pilahan) ... 83 31. Proyeksi Pengembangan UPS Skenario 3b (Volume sampah olah 30
m3/hari, 31,7 persen kompos, dan 2,5 persen plastik pilahan) ... 83 32. Perbandingan Manfaat dan Biaya Antara Sistem UPS dan Sistem
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Hasil UjiMcNemar ... 98 2. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS) RW
11 Kondisi Riil (Volume Sampah yang Diolah 7,56 m3/hari dengan Persentase Hasil Olahan 15 Persen Kompos – 1 Persen Plastik Pilahan).. 100 3. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS) RW
11 dengan Skenario Kenaikan Produksi 120 persen (16,63 m3/hari) pada tahun ketiga dan Persentase Hasil Olahan 15 Persen Kompos – 1 Persen Plastik Pilahan) ... 102 4. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS)
Skenario 2a (Volume sampah olah 28,5 m3/hari, 15 persen kompos, dan 1persen plastik pilahan) ... 104 5. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS)
Skenario 2b (Volume sampah olah 16,5 m3/hari, 31,7 persen kompos, dan 2,5 persen plastik pilahan) ... 106 6. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS)
Skenario 3a (Volume sampah olah 30 m3/hari, 15 persen kompos, dan 1persen plastik pilahan) ... 108 7. Cash Flow Pengelolaan Sampah Unit Pengolahan Sampah (UPS)
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampah perkotaan merupakan salah satu permasalahan kompleks yang
dihadapi negara-negara berkembang. Seiring dengan semakin meningkatnya
aktivitas pembangunan dan pertumbuhan penduduk, hampir setiap ibukota dan
kota besar mengalami masalah pengelolaan sampah. Kecenderungan komposisi
sampah yang bersifat organik dan meningkatnya produksi sampah pada negara
berkembang karena jumlah limbah (sampah) hasil kegiatan manusia selalu
bertambah dari hari ke hari, termasuk Indonesia, akan menimbulkan dampak pada
peningkatan kebutuhan lahan untuk mengolah sampah seperti untuk Tempat
Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Hal tersebut akan sulit dipenuhi karena kebutuhan lahan untuk keperluan lainnya
seperti pemukiman juga akan meningkat seiring dengan pertambahan jumlah
penduduk. Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian
mendesak kota-kota di Indonesia, sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang
baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang
merugikan sehingga mencemari lingkungan baik terhadap tanah, air, dan udara.
Keterbatasan lainnya dalam hal kurangnya alat angkut sampah dan
sarana-sarana pendukung akan berdampak pada pelayanan pengolahan sampah.
Persentase penduduk yang pengolahan sampahnya dapat dilayani masih minim
seperti yang tertera pada Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa rata-rata
yaitu sebesar 18,9 persen sedangkan untuk wilayah Depok, tingkat pelayanan
persampahan tahun 2006 baru mencapai 34,03 persen (Ringkasan Eksekutif
Kajian Pengelolaan Persampahan Kota Depok 2006).
Tabel 1. Cakupan Pelayanan Persampahan di Indonesia Tahun 2001
No. Propinsi Penduduk
A Sumatera 17.884.336 100 8.218.197 46,0
1 NAD 1.636.288 13 877.443 53,6
2 Sumatera Utara 6.940.581 26 2.208.142 31,8
3 Sumatera Barat 1.810.884 13 1.330.360 73,5
4 Riau 1.432.729 11 1.043.214 72,8
5 Jambi 1.214.291 11 463.028 38,1
6 Sumatera Selatan 2.380.358 13 835.891 35,1
7 Bengkulu 394.367 4 275.418 69,8
8 Lampung 2.074.838 9 1.184.701 57,1
B Jawa-Bali 75.049.732 148 21.294.350 28,4
1 DKI Jakarta 12.506.352 1 7.567.450 60,5
2 Jawa Barat 32.902.780 48 6.208.875 18,9
3 Jawa Tengah 12.221.214 37 2.468.305 20,2
4 DI Yogyakarta 856.319 6 386.248 45,1
5 Jawa Timur 14.597.730 45 4.020.317 27,5
6 Bali 1.965.337 11 643.155 32,7
C Kalimantan 5.259.688 45 1.806.718 34,4
1 Kalimantan Barat 1.016.552 12 517.094 50,9
2 Kalimantan Tengah 1.012.156 14 183.124 18,1
3 Kalimantan Timur 1.883.453 8 556.483 29,5
4 Kalimantan Selatan 1.347.527 11 550.017 40,8
D Sulawesi 6.103.336 62 2.228.856 36,5
1 Sulawesi Utara 1.548.496 11 739.880 47,8
2 Sulawesi Tengah 635.055 15 167.592 26,4
3 Sulawesi Selatan 3.544.560 28 1.128.703 31,8
4 Sulawesi Tenggara 375.225 8 192.681 51,4
E Lainnya 5.115.469 29 1.582.065 30,9
1 Nusa Tenggara Barat 2.721.435 6 193.850 7,1
2 Nusa Tenggara Timur 1.074.866 6 593.116 55,2
3 Maluku 506.772 5 326.158 64,4
4 Maluku Utara 176.298 2 40.293 22,9
5 Papua 636.098 10 428.648 67,4
I Wilayah Barat 92.934.068 248 29.512.547 31,8
II Wilayah Timur 16.478.493 136 5.617.639 34,1
INDONESIA 109.412.561 384 35.130.186 32,1
Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit
dengan semakin kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan
dengan semakin majunya kebudayaan. Oleh karena itu, penanganan sampah di
perkotaan relatif lebih sulit dibanding sampah di desa-desa, maka perlu pemikiran
lebih lanjut bagaimana mengurangi jumlah limbah padat dengan memanfaatkan
kembali limbah padat untuk kepentingan manusia melalui proses daur-ulang,
sekaligus sebagai usaha untuk mengurangi pencemaran daratan. Limbah padat
yang semula tidak berharga, setelah dimanfaatkan kembali melalui proses daur
ulang menjadi bernilai ekonomis.
Berdasarkan kebutuhan akan sistem pengelolaan sampah perkotaan
tersebut, maka beberapa tahun terakhir Pemerintah Daerah (Pemda) kota-kota
besar di Indonesia mulai mencanangkan program pengelolaan sampah terpadu
yang dinilai dapat mengatasi permasalahan sampah yang semakin kompleks.
Keberadaan program pengelolaan sampah yang terpadu tidak hanya menyangkut
masalah kebersihan dan lingkungan saja, namun juga menyimpan potensi manfaat
ekonomi dan sosial. Masuknya unsur teknologi, SDM, sistem, hukum, sosial, dan
dana dalam suatu program pengelolaan sampah, akan menjadikan sampah tidak
lagi diletakkan sebagai sumber masalah, tetapi sebaliknya, dipandang sebagai
sumber daya yang dapat diolah dan dikelola untuk memberikan manfaat yang
besar bagi masyarakat. Manfaat tersebut antara lain adalah menciptakan lapangan
kerja dan menghasilkan produk bernilai jual.
Menurut penelitian Oswari et al. (2006), potensi sampah khususnya
sampah dengan perkiraan harga lapak adalah Rp 187.951.800 setiap hari.
Perkiraan nilai sampah tersebut didapat dengan melakukan survei terhadap
sepuluh keluarga yang dipilih secara acak dan mewakili enam kecamatan Kota
Depok, kemudian sampah yang ada ditimbang jumlah dan komposisi sampah.
Potensi nilai ekonomis tersebut merupakan potensi penerimaan yang tidak dapat
dikesampingkan dalam upaya menciptakan keberlanjutan program pengelolaan
sampah yang terpadu. Selain itu, untuk mengolah sampah tersebut dibutuhkan
sejumlah tenaga kerja sehingga nantinya keberadaan program pengolahan sampah
akan membuka lapangan kerja khususnya bagi warga di sekitar lokasi pengolahan.
Oleh karenanya, dengan melihat potensi tersebut, Pemkot Depok telah
menetapkan pengelolaan persampahan menjadi salah satu program utama dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang diajukan pada
tahun 2006.3 Predikat sebagai salah satu kota metropolitan terkotor dalam Penilaian Adipura tahun 2005, menjadikan Pemkot Depok berupaya serius untuk
segera menangani masalah pengelolaan sampah di wilayah Depok. Pertimbangan
lainnya adalah kondisi pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
sampah Kota Depok yaitu TPA Cipayung yang mulai mendapat protes warga
sekitarnya sehingga perlu diambil tindakan agar volume sampah yang dibuang ke
TPA tidak terus menumpuk dan pengelolaannya lebih ramah lingkungan.
Implementasi pengelolaan dan pengolahan sampah yang dicanangkan
Pemkot Depok dilakukan dengan menggulirkan program Sistem Pengolahan dan
Pengelolaan Sampah Terpadu (SIPESAT). Program alternatif ini dilaksanakan
untuk mengatasi masalah persampahan yang ada di wilayah Depok dengan kerja
3
sama antara pemerintah kota, swasta, dan masyarakat yang sistem pengolahannya
dilakukan di setiap lingkungan. Salah satu pendekatan program SIPESAT dalam
mereduksi volume sampah adalah dengan membangun Unit Pengolahan Sampah
(UPS) yang merupakan upaya mengubah paradigma pengelolaan sampah yang
lama, yaitu kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-olah-manfaat. Pilot Project UPS yang berada di RW 11 Kelurahan Tugu kini sudah beroperasi selama hampir
dua tahun dan telah mempekerjakan sekitar 14 orang. Oleh karena itu, manfaat
dari pelaksanaan program UPS, baik dari segi ekonomi maupun sosial, menjadi
hal yang menarik untuk diteliti.
1.2 Perumusan Masalah
Menurut Soemarwoto (2004), di dalam alam, sering juga dengan bantuan
manusia, terdapat mekanisme untuk membersihkan sampah. Apabila kepadatan
penduduk tinggi, kemampuan alam untuk mengolah sampah dan membersihkan
lingkungan tidak lagi seimbang dengan jumlah sampah yang terproduksi sehingga
terjadilah penumpukan sampah. Pencemaran paling utama di Indonesia adalah
pencemaran oleh limbah domestik oleh karena luasnya daerah pencemaran dan
besarnya jumlah korban. Oleh karenanya penanggulangannya harus diberi
prioritas utama.
Berkurangnya kemampuan alam dalam mengolah sampah akibatnya
besarnya jumlah sampah yang dihasilkan warga tersebutlah yang menjadi pokok
permasalahan pengelolaan sampah dewasa ini. Proses pembangunan yang cepat
prasarana pengolahan mengakibatkan munculnya konflik antara TPA dan
masyarakat sekitar seperti kasus Pemprov Jakarta (TPA Bantar Gebang),
Surabaya (TPA Seputih), dan Bandung (TPA Leuwigajah).
Sistem pengumpulan sampah yang tidak tuntas, kurangnya alat angkut
sampah dan fasilitas pendukung lainnya serta terbatasnya kapasitas TPA menjadi
masalah yang umum dijumpai (Pramono, n.d.). Permasalahan sampah bukan
hanya masalah yang bersifat teknis namun juga menyangkut aspek lainnya seperti
aspek sosial-budaya. Pandangan masyarakat di negara-negara berkembang
khususnya masih menganggap sampah sebagai barang yang tidak bernilai sama
sekali (Pramono, n.d.). Pandangan tersebut mempengaruhi masyarakat dalam cara
membuang sampah sehingga tidak ada upaya masyarakat untuk memisahkan
antara sampah organik dan non-organik.
Berdasarkan penelitian BPPT, komponen sampah yang mempunyai nilai
tinggi untuk dimanfaatkan kembali adalah sampah kertas, logam dan gelas
(Oswari et al., 2006). Selanjutnya dinyatakan, program daur ulang di Indonesia
yang telah dilaksanakan sejak tahun 1986, pelaksanaannya baru mencapai 1,8
persen. Fakta tersebut menunjukkan ketidakpedulian masyarakat pada masalah
sampah akan menyulitkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan
proses daur-ulang sehingga potensi ekonomi sampah daur-ulang banyak yang
terabaikan dan hanya menambah volume timbunan sampah di TPA.
Kerugian-kerugian akibat mengabaikan masalah pengelolaan sampah
tersebut telah dirasakan secara langsung oleh Pemkot maupun masyarakat Depok
khususnya masyarakat yang berada di sekitar TPA Cipayung, Depok. Berdasarkan
jika timbulan sampah yang dihasilkan warga Depok sebesar 0,00265 ltr/org/hari,
maka total timbulan sampah yang dihasilkan 3.764 m3/hari dengan jumlah penduduk 1.420.480 jiwa, sedangkan sampah yang terangkut sebanyak 1281
m3/hari dan sampah yang tidak terangkut sebanyak 2.483 m3/hari. Hingga awal tahun 2008, Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) hanya memiliki
truk pengangkut sampah sebanyak 52 kendaraan,4 sehingga pelayanan pengangkutan sampah belum optimal dan volume sampah di TPA akan terus
bertambah apabila tidak dilakukan tindakan.
Selain itu, predikat Depok sebagai Kota terkotor juga menimbulkan citra
buruk bagi Pemkot Depok dan memacu aparat pemerintah untuk lebih serius
dalam menangani masalah kebersihan kota. Bagi masyarakat sekitar TPA
Cipayung, dampak langsung yang dirasakan adalah masalah timbunan sampah
yang terus meningkat akibat sistem pengolahan sampah yang buruk hingga
menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan.
Oleh karena itu, Pemkot Depok mencanangkan program Sistem
Pengelolaan Sampah Terpadu (SIPESAT) yang dimulai dengan pelaksanaanpilot project-nya di RW 11 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis Depok. Inti dari SIPESAT adalah pendekatan pengelolaan sampah dengan skala kawasan melalui
pembangunan dan pengoperasian Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang
Pengolahan Sampah (UPS) karena pertimbangan spesifikasi ruang lingkup
pelaksanaan program dan pertimbangan lainnya.
Rangkaian pengolahan sampah UPS diawali dari pengumpulan sampah
tiap rumah secara individual (door to door) maupun komunal oleh warga masyarakat, pemulung, dan petugas UPS. Bagi pemulung, apabila bersedia
menjadi tenaga kerja di UPS maka akan direkrut dan diupah secara rutin,
sedangkan apabila tidak bersedia, maka masih tetap bisa menjadi pemulung, tetapi
tidak diperkenankan untuk mengambil bahan daur ulang atau hasil pilahan
sampah di dalam UPS.
Sebagaimana yang disampaikan Walikota Depok, untuk manfaat ekonomi,
selain manfaat langsung berupa produk olahan sampah bernilai ekonomi,
SIPESAT juga diharapkan memberikan manfaat secara tidak langsung, antara lain
mengurangi ketergantungan pada TPA secara bertahap karena sampah diolah
langsung pada sumbernya, mampu melibatkan masyarakat menjadi tenaga kerja
UPS, mengurangi biaya pengolahan dan pengelolaan sampah kota, meningkatnya
peran aktif masyarakat dalam mengolah sampah, serta meningkatnya kesadaran
masyarakat tentang manfaat daur ulang.5
Sejalan dengan konsep pengelolaan sampah terpadu Kota Depok yang
terdiri dari tiga pendekatan yaitu pendekatan skala TPA, skala kawasan (UPS),
dan skala rumah tangga, maka peran masyarakat juga amat penting dalam
implementasi program di lapangan. Peran serta masyarakat dibutuhkan dalam
mengolah sampah rumah tangga secara mandiri serta melaksanakan pengelolaan
UPS di wilayah masing-masing. Dorongan untuk melakukan kegiatan pengolahan
5
dan pengelolaan sampah pada masyarakat didasarkan pada incentive mechanism principle yaitu masyarakat yang terlibat akan mendapatkan insentif dari aktivitas tersebut. Apakah keberadaan UPS menimbulkan insentif kepada masyarakat untuk
menangani sampah dengan cara berbeda dan mendapatkan respons positif dari
masyarakat merupakan hal yang menarik untuk dikaji.
Masalah teknis lain yang sering muncul dalam penanganan sampah kota
selain terbatasnya fasilitas adalah masalah biaya operasional yang tinggi dan
semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan. Sebagai akibat biaya
operasional yang tinggi, kebanyakan kota-kota di Indonesia hanya mampu
mengumpulkan dan membuang sekitar 60 persen dari seluruh produksi
sampahnya (Danielet al. dalam Tiwowet al., 2003). Masalah biaya tersebut juga terjadi pada pengelolaan SIPESAT. Harga satu unit UPS Rp 600 juta, sedangkan
biaya operasional per tahun Rp 290 juta sehingga dibutuhkan dana Rp 890 juta
dengan kapasitas satu unit UPS 30 m3per hari.
Pembiayaan SIPESAT berasal dari APBD Depok dengan melibatkan
swadaya masyarakat. Sebelum tahun 2009, ditargetkan pembiayaan SIPESAT dari
pendanaan APBD dapat membiayai 55 unit. UPS RW 11 sebagai objek penelitian
merupakanpilot project program SIPESAT yang mulai dipersiapkan sejak tahun 2006 dan berhasil beroperasi hingga saat ini (Juni 2008). Sejak beberapa bulan
terakhir (Februari/Maret 2008), timbul pro dan kontra di masyarakat sekitar UPS
RW 11 tentang dampak yang ditimbulkan UPS. Hal tersebut terutama disebabkan
timbulnya bau yang tidak sedap dari lokasi UPS. Selain permasalahan tersebut,
pemasaran yang jelas sehingga hasil penjualannya belum mampu memberikan
dana yang siginifikan bagi pelaksanaan operasional UPS.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang dirumuskan dalam
penelitian ini adalah :
1. Seberapa besar manfaat ekonomi sampah domestik Kota Depok yang dapat
dihasilkan UPS jika mendapat penanganan lebih lanjut?
2. Bagaimana perbandingan manfaat dan biaya pengelolaan sampah Kota Depok
sistem UPS, serta bagaimana perbandingan biayanya dengan biaya sistem
pengelolaan sampah tanpa UPS?
3. Bagaimana dampak sosial yang dirasakan masyarakat atas keberadaan UPS?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai manfaat
ekonomi-sosial yang ditimbulkan oleh adanya UPS. Tujuan umum tersebut
dicapai melalui tujuan-tujuan khusus, yaitu sebagai berikut :
1. Mengestimasi nilai ekonomi sampah domestik Kota Depok yang dapat
dihasilkan UPS jika sampah-sampah tersebut mendapat penanganan lebih lanjut
yaitu melalui pemilahan sampah dan pengomposan sampah organik.
2. Membandingkan manfaat dan biaya pengelolaan sampah Kota Depok sistem
UPS, serta memperbandingkan biayanya dengan biaya sistem pengelolaan
sampah tanpa UPS.
3. Mengevaluasi dampak sosial keberadaan UPS, yang bersifat positif maupun
negatif, berdasarkan persepsi warga sekitar, jumlah tenaga kerja yang dapat
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah khasanah ilmu
pengetahuan dan sumber rujukan studi mengenai sistem pengolahan dan
pengelolaan sampah perkotaan khususnya dari sudut pandang ekonomi. Di
samping itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan wacana dan
rekomendasi mengenai pentingnya masalah pengolahan sampah yang terkait erat
dengan kelestarian kesehatan dan lingkungan serta pembangunan berwawasan
lingkungan kepada para pelaku industri, pemerintah daerah, serta masyarakat luas.
Permasalahan sampah harus ditangani dengan pendekatan yang terpadu karena
tidak hanya menyangkut masalah teknis namun juga sosial-budaya. Terakhir,
dapat berguna bagi peneliti sebagai media pembelajaran dan penerapan ilmu yang
didapat selama masa perkuliahan.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Sistem UPS dilakukan dengan pendekatan skala kawasan yang merupakan
upaya mengubah paradigma pengelolaan sampah yang lama, yaitu
kumpul-angkut-buang menjadi kumpul-olah-manfaat. Penelitian ini tidak meneliti
kelayakan dan manfaat dari seluruh pendekatan pengelolaan sampah Kota Depok
(pendekatan TPA dan masyarakat), namun fokus pada pendekatan skala UPS.
Segi ekonomi yang diteliti tidak termasuk dampak ekonomi pencemaran
lingkungan, kerusakan lingkungan, dan estimasi harga sampah olahan (valuasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teoritis
2.1.1Economy Of Waste Management
Proses produksi dan konsumsi tidak hanya menghasilkan keuntungan dan
kepuasan kepada pengguna, namun juga menghasilkan menghasilkan residual atau
limbah yang menyebabkan terjadinya eksternalitas negatif. Salah satu
eksternalitas negatif tersebut berasal dari sampah domestik. Municipal Solid Waste (MSW) atau juga dikenal dengan limbah domestik atau limbah rumah tangga merupakan limbah yang dihasilkan dalam sebuah komunitas (wilayah)
yang berasal dari berbagai sumber, bukan hanya dihasilkan oleh konsumen
individu ataupun satu rumah tangga saja. Sampah domestik berasal dari kawasan
pemukiman, kawasan komersial, institusi, industri, dan proyek pemerintah
(Pitchel, 2005). Pengelolaan limbah padatan (sampah) domestik/rumah tangga
atau yang dikenal dengan istilah Municipal Solid Waste Management (MSWM) merupakan tanggung jawab utama pemerintah daerah. MSWM meliputi fungsi
pengumpulan, pemindahan, pemeliharaan, daur-ulang, pemulihan sumber daya,
dan pembuangan sampah rumah tangga (Pagiola et al., 2002).
Beban biaya yang ditanggung oleh pemerintah daerah dalam mengelola
sampah domestik cukup berat. Pemerintah daerah di negara berkembang
mengalokasikan anggaran pengelolaan sampahnya terutama pada proses layanan
pengumpulan dan pengangkutan (Pagiola et al., 2002). Biaya operasional yang
tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan juga menjadi
menjadi hal yang penting dalam suatu pengelolaan sampah domestik. Efisiensi
ekonomi adalah suatu kriteria yang dapat diterapkan pada beberapa tingkatan
input untuk mencerminkan suatu tingkatan output tertentu.
Dalam kajian ekonomi kesejahteraan, terdapat konsep tentang bagaimana
suatu aktivitas ekonomi (distribusi, konsumsi dan produksi) mampu memberikan
kesejahteraan secara komprehensif bagi setiap entitas yang terlibat dalam aktivitas
tersebut. Konsep yang dimaksud adalah kondisi Pareto Optimal, suatu kondisi yang menunjukkan keadaan di mana satu aktivitas ekonomi tidak mampu lagi
memberikan kenaikan kesejahteraan (better off) bagi satu pelaku ekonomi tanpa menyebabkan penurunan kesejahteraan (worse off) pelaku ekonomi lain. Tingkat kesejahteraan tertinggi tercapai jika tidak terjadi kondisi suatu kegiatan ekonomi
yang bersifat better off bagi satu pelaku ekonomi tetapi berimplikasi worse off bagi pelaku ekonomi lain.
Fenomena better off dan worse off bisa terjadi karena aktivitas ekonomi menghasilkan dua eksternalitas. Eksternalitas yang bermanfaat seperti output,
lapangan kerja, pendapatan tetapi juga eksternalitas yang merugikan seperti
limbah. Oleh karena itu, dalam perspektif ekonomi lingkungan, suatu aktivitas
ekonomi agar tetap bisa mendekati kondisi pareto optimal haruslah : 1) eksternalitas yang memberikan manfaat (positif) lebih tinggi dibandingkan
eksternalitas yang merugikan (negatif), dan 2) Jika eksternalitas negatif lebih
tinggi dibanding eksternalitas positifnya, maka pelaku ekonomi penghasil
eksternalitas negatif tersebut harus memberikan kompensasi terhadap kelebihan
2.1.2 Definisi, Penggolongan, dan Komponen Sampah
Hadiwiyoto (1983) menjelaskan ciri-ciri sampah sebagai berikut :
1. Sampah adalah bahan sisa, baik bahan-bahan yang sudah tidak digunakan lagi
(barang bekas) maupun bahan yang sudah diambil bagian utamanya.
2. Dari segi sosial ekonomi, sampah adalah bahan yang sudah tidak ada harganya.
3. Dari segi lingkungan, sampah adalah bahan buangan yang tidak berguna dan
banyak menimbulkan masalah pencemaran dan gangguan pada kelestarian
lingkungan.
Sedangkan menurut Anwar (1990) dalam Djuwendah (1998), sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang
dibuang yang umumnya berasal dari kegiatan manusia dan bersifat padat.
Penggolongan sampah menurut Hadiwiyoto (1983) dapat didasarkan atas
beberapa kriteria. Penggolongan sampah tersebut adalah :
(1) Penggolongan sampah berdasarkan asalnya, yaitu sampah hasil kegiatan
rumah tangga, sampah hasil kegiatan industri/pabrik, sampah hasil kegiatan
pertanian, sampah hasil kegiatan perdagangan (misalnya sampah pasar),
sampah hasil kegiatan pembangunan, serta sampah jalan raya.
(2) Penggolongan sampah berdasarkan komposisinya
- Sampah yang seragam, misalnya sampah dari kegiatan industri ataupun
perkantoran yang terdiri atas kertas, karton, dan kertas karbon.
- Sampah yang tidak seragam (campuran), misalnya sampah yang berasal dari
pasar atau sampah dari tempat-tempat umum.
(3) Penggolongan sampah berdasarkan bentuknya
- Sampah berbentuk cairan (termasuk bubur), misalnya bekas air pencuci,
bahan cairan yang tumpah, dan limbah industri,
- Sampah berbentuk gas, misalnya karbondioksida, amonia, dan gas lainnya.
(4) Penggolongan sampah berdasarkan lokasinya
- Sampah kota (urban), yaitu sampah yang terkumpul di kota-kota besar,
- Sampah daerah, yaitu sampah yang terkumpul di daerah-daerah di luar
perkotaan, misalnya di desa, di pantai, dan lain-lain.
(5) Penggolongan sampah berdasarkan proses terjadinya
- Sampah alami, ialah sampah yang terjadinya karena proses alami, misalnya
rontoknya dedaunan di pekarangan rumah,
- Sampah non-alami, ialah sampah yang terjadi karena kegiatan manusia.
(6) Penggolongan sampah berdasarkan sifatnya
- Sampah organik, yaitu terdiri atas daun-daunan, kayu, kertas, karton, tulang,
sisa-sisa makanan ternak, sayur, buah. Sampah organik adalah sampah yang
mengandung senyawa-senyawa organik dan karenanya bahan-bahan ini
mudah terdegradasi oleh mikroba,
- Sampah anorganik, yang terdiri dari kaleng, plastik, besi, dan logam-logam
lainnya, gelas, mika, atau bahan-bahan yang tidak tersusun oleh
senyawa-senyawa organik. Sampah ini tidak dapat terdegradasi oleh mikrobia.
(7) Penggolongan sampah berdasarkan jenisnya
yaitu sampah makanan (sisa-sisa makanan termasuk makanan ternak), sampah
kebun/pekarangan, sampah kertas, sampah plastik, karet, dan kulit, sampah
Bahan buangan padat terdiri dari berbagai macam komponen baik yang
bersifat organik maupun yang anorganik (Wardhana, 2001). Susunan komponen
pencemar daratan yang berasal dari bahan buangan atau limbah kota besar di
negara industri dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komponen Pencemar Daratan
Komponen Prosentase (%)
Kertas 41
Limbah bahan makanan 21
Gelas 12
Logam (besi) 10
Plastik 5
Kayu 5
Karet dan kulit 3
Kain (serat tekstil) 2
Logam lainnya (alumunium) 1
Sumber : Wardhana (2001).
2.1.3 Pengolahan Sampah
Menurut Hadiwiyoto (1983), penanganan sampah ialah perlakuan terhadap
sampah untuk memperkecil atau menghilangkan masalah-masalah yang dalam
kaitannya dengan lingkungan dapat ditimbulkan. Oleh karena itu, penanganan
sampah dapat berbentuk semata-mata membuang sampah atau mengembalikan
(recycling) sampah menjadi bahan-bahan yang bermanfaat. Penanganan sampah meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
Pengumpulan Sampah
Sampah yang akan dibuang atau dimanfaatkan harus dikumpulkan terlebih
dahulu dari berbagai tempat asalnya dengan menggunakan kendaraan-kendaraan
pengangkut, misalnya truk, gerobak sampah, kereta dorong, sampah-sampah
Pemisahan
Maksud pemisahan ialah memisahkan jenis-jenis sampah antara sampah
organik dengan sampah anorganik. Apabila sampah akan dibuang dengan
ditimbun (urug), maka pemisahan ini tidak begitu perlu dikerjakan. Apabila akan dilakukan pembakaran, maka pemisahan tersebut sangat perlu dikerjakan, terlebih
bila pembakaran dikerjakan pada suatu instalasi. Pemisahan sampah hendaknya
dikerjakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama terlebih dahulu dipisahkan antara
sampah organik dan sampah anorganik. Kemudian pada tahap kedua
sampah-sampah tersebut dipisahkan lagi berdasarkan jenisnya menurut keperluan.
Pembakaran (Insinerasi)
Pembakaran sampah dapat dikerjakan pada suatu tempat, misalnya ladang
atau tanah lapang yang jauh dari segala kegiatan agar tidak mengganggu. Namun
demikian pembakaran tersebut sukar dikendalikan. Pembakaran yang paling baik
dikerjakan pada suatu instalasi pembakaran karena dapat diatur prosesnya
sehingga tidak mengganggu lingkungan, namun memerlukan biaya operasi yang
mahal. Instalasi pembakaran sampah disebut insinerator, sedangkan proses pembakarannya disebutinsinerasi.
Pemanfaatan sampah sangat membantu untuk mengurangi jumlah sampah
yang berada di lingkungan, dengan memanfaatkan sampah berarti memberikan
nilai tambah pada sampah yang semula tidak mempunyai nilai ekonomi menjadi
bahan yang mempunyai nilai ekonomi. Penanganan dalam bentuk lainnya dapat
Tabel 3. Limbah Padat dan Pemanfaatannya Kembali
Limbah Pemanfaatannya Kembali (Daur ulang)
Kertas 1. Dibuat bubur pulp untuk bahan kertas,cardboard, dan produk-produk kertas lainnya,
2. Dihancurkan untuk dipakai sebagai bahan pengisi, bahan isolasi, 3. Diinsenerasi sebagai penghasil panas.
Bahan organik
1. Dibuat kompos untuk pupuk tanaman, 2. Diinsenerasi sebagai penghasil panas. Tekstil/pakai
an (bekas)
1. Dihancurkan untuk dipakai sebagai bahan pengisi, bahan isolasi, 2. Diinsenerasi sebagai penghasil panas,
3. Disumbangkan kepada yang memerlukan. Gelas 1. Dibersihkan dan dipakai lagi (botol),
2. Dihancurkan untuk digunakan lagi sebagai bahan pembuat gelas baru, 3. Dihancurkan dan dicampur aspal untuk pengerasan jalan,
4. Dihancurkan dan dicampur pasir dan batu untuk pembuatan bata semen.
Logam 1. Dicor untuk pembuatan logam baru yang digunakan untuk berbagai macam keperluan,
2. Langsung digunakan lagi bila keadaannya masih baik dan memungkinkan.
Karet, Kulit, dan Plastik
1. Dihancurkan untuk dipakai sebagai bahan pengisi, isolasi, 2. Diinsenerasi sebagai penghasil panas.
Sumber : Wardhana (2001)
Setelah sampah mengalami proses penanganan khususnya ketika
dimanfaatkan kembali, maka yang tersisa kemudian adalah limbah (residu) yang
sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali. Limbah tersebut kemudian dibuang ke
suatu tempat penampungan sampah akhir. Menurut Suryanto dalam Yudiyanto (1988), pembuangan akhir sampah adalah suatu upaya untuk memusnahkan
sampah di tempat tertentu yang disebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Beberapa metode pengolahan sampah dalam pembuangan akhir di TPA, yaitu :
a) Open Dumping
Metode ini merupakan cara pembuangan akhir yang sederhana karena
b) Controlled Landfill
Metode ini merupakan peralihan antara teknikOpen DumpingdanSanitary Landfill. Pada metode ini sampah ditimbun dan diratakan. Pipa-pipa ditanam pada dasar lahan untuk mengalirkan air lindi dan ditanam secara vertikal untuk
mengeluarkan gas-gas metan ke udara. Setelah timbunan sampah penuh dilakukan
penutupan terhadap hamparan sampah tersebut dengan tanah dan dipadatkan.
c) Sanitary Landfill
TeknikSanitary Landfill adalah cara penimbunan sampah padat pada suatu hamparan lahan dengan memperhatikan keamanan lingkungan karena telah ada
perlakuan terhadap sampah. Pada teknik ini, sampah dihamparkan hingga
mencapai ketebalan tertentu lalu dipadatkan, kemudian dilapisi tanah dan
dipadatkan kembali. Di atas lapisan tanah penutup tadi dapat dihamparkan lagi
sampah yang kemudian ditimbun lagi dengan tanah. Demikian seterusnya
berselang-seling antara lapisan tanah dan sampah.
2.1.4 Pengelolaan Sampah
Limbah domestik, termasuk didalamnya barang-barang yang tahan lama
(contohnya peralatan rumah tangga), barang-barang cepat rusak (contohnya koran
dan kertas kantor), kemasan dan wadah benda, sisa-sisa makanan, sampah
pekarangan, dan aneka sampah anorganik lainnya, memiliki kecenderungan
heterogenitas yang tinggi (Pitchel, 2005). Pengelolaan limbah padatan (sampah)
domestik/rumah tangga (MSWM) merupakan tanggung jawab pemerintah daerah.
Metode pengumpulan yang tidak efektif, minimnya jangkauan pelayanan
sistem pengumpulan sampah, dan cara pembuangan sampah yang tidak layak
merupakan masalah penting pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat
di negara berkembang. Situasi tersebut terutama disebabkan oleh masalah
pengelolaan keuangan. Pengelolaan sampah membutuhkan sumber dana yang kuat
sementara tingkat pengembalian biaya (cost recovery) amat rendah. Konsekuensi utama dari kendala keuangan tersebut adalah minimnya jangkauan/cakupan sistem
pengumpulan sampah, yang terutama akan berdampak pada masyarakat ataupun
sektor kecil di wilayah tersebut.
Sebagian besar sistem MSWM mempunyai tiga komponen dasar, yaitu :
1. Pengumpulan dan Pengangkutan
yaitu proses mengumpulkan dan memindahkan sampah domestik ke tempat
pembuangan yang sesuai dengan standar lingkungan, mencegah timbulnya bau
yang tidak sedap dan berkurangnya keindahan lingkungan.
2. Pemrosesan/Pengolahan
yaitu mengubah karakteristik fisik sampah domestik melalui proses daur-ulang,
pengomposan, pembakaran, ataupun pemadatan untuk mengurangi gangguan
terhadap lingkungan atau bahkan menangkap peluang ekonomi pemanfaatan
sampah-sampah tersebut sehingga mempunyai nilai tambah.
3. Pembuangan
yaitu proses memisahkan residu dari sampah yang tertinggal setelah
perlakuan-perlakuan sebelumnya. Secara umum penerapan teknologi pengolahan sampah
Sumber : www.geocities.com/persampahan/0-waste.doc. ”Penerapan KonsepZero Waste dalam Pengelolaan Sampah Perkotaan”. (diunduh 15 April 2008)
Gambar 1. Diagram Penerapan Teknologi Pengolahan Sampah Perkotaan dan Pemanfaatannya
Pengelolaan sampah domestik di negara berkembang menunjukkan tiga
karakteristik penting. Pertama, cenderung bersifat padat karya (labour intensive), sebagian karena biaya tenaga kerja yang murah. Kedua, proses daur-ulang
semakin dikenal luas sehingga di banyak negara berkembang tidak ditemui
kesulitan dalam pengumpulan dan penjualan sampah yang masih dapat
didaur-ulang. Ketiga, MSWM di negara berkembang cenderung inefisien. Inefisiensi
tersebut terutama pada teknis pengumpulan sampah yang masih sering tercecer
dan tidak dapat menjangkau seluruh permintaan pelayanan, sehingga mengganggu
kebersihan dan keindahan lingkungan.
Pemerintah daerah di negara berkembang mengalokasikan anggaran
pengelolaan sampahnya khususnya pada proses layanan pengumpulan dan
pengangkutan. Pengumpulan dan pengangkutan sampah dapat menghabiskan 70
persen dari keseluruhan biaya yang 80 persennya merupakan biaya tenaga kerja
(Pagiola et al., 2002). Pembuangan akhir menghabiskan biaya yang lebih sedikit
karena biasanya hanya dilakukan dengan teknikopen dumping. Menurut Bartone
et al. (1990), keuntungan dari pengelolaan sampah domestik yang efektif dan
efisien adalah :
1. Perbaikan dalam kesehatan orang dewasa dan penurunan angka kematian anak.
2. Perbaikan kualitas air.
3. Perbaikan kualitas udara. Polusi udara secara luas timbul salah satunya melalui
sistem tempat pembuangan dan pembakaran sampah terbuka yang tidak efektif.
4. Meningkatkan produktivitas masyarakat kota karena tingginya tingkat absen
5. Menunjang pembangunan ekonomi, karena minimnya sarana dan pelayanan
pembuangan limbah publik ataupun privat dapat menghambat pembangunan
industri.
2.2 Pengelolaan Sampah : Kasus Pengelolaan Sampah di DKI Jakarta
Menurut Ismail, ed. (2001), untuk mengatasi dampak negatif yang
ditimbulkan dari pengelolaan sampah yang tidak benar, maka sejak tahun 1971,
Pemda DKI telah mengeluarkan berbagai peraturan yang dikaitkan dengan
masalah perlimbahan, salah satunya adalah Keputusan Gubernur KDKI Jakarta
No. 1543 tahun 1996 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemungutan Retribusi
Kebersihan DKI Jakarta. Kegiatan pengelolaan sampah dapat diklasifikasikan
mulai pada tingkat pengumpulan, pengangkutan ke stasiun antara (transfer station) dan pembuangan akhir/pemusnahan.
Dalam pelaksanaan operasionalnya, pengelolaan sampah DKI Jakarta
sebelum tahun 2000 ditangani oleh Dinas Kebersihan bekerjasama dengan tiga
instansi, yaitu Dinas Pekerjaan Umum yang bertugas melaksanakan penanganan
kebersihan di saluran-saluran/kali, Dinas Pertamanan yang menangani kebersihan
di jalur hijau dan taman-taman, dan Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya
melaksanakan penanganan kebersihan di pasar-pasar.
Oleh karena kinerja pengelolaan sampah yang dilakukan oleh banyak
instansi kurang efektif, maka sejak tahun 2000, Dinas Kebersihan telah
mengusulkan kepada Gubernur DKI Jakarta agar pengelolaan sampah, baik
melalui tiga tahap. Pertama, penyapuan sampah oleh Dinas Kebersihan dilakukan
dengan dua cara yaitu cara konvensional dan cara mekanik, yaitu dengan street sweeper. Cara tersebut dilakukan hanya pada kawasan-kawasan tertentu seperti jalan protokol dan jalan lingkungan/ekonomi yang dilihat dari segi fungsinya
memerlukan penyapuan. Kedua, pengumpulan sampah yang dimaksudkan agar
sampah tidak berceceran kemana-mana dan pengumpulan sampah ini merupakan
tanggung jawab setiap warga/individu masyarakat. Ketiga, pengangkutan sampah
yang merupakan kegiatan lanjutan dari proses pemgumpulan sampah yang
dilakukan oleh Dinas Kebersihan.
Pengangkutan sampah dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan
secara langsung (door to door) dan tidak langsung. Pengangkutan secara langsung yaitu pengangkutan yang dilayani secara langsung dari sumbernya yaitu dari
rumah ke rumah, yang kemudian dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sementara itu, pengangkutan secara tidak langsung dari rumah ke rumah
dilakukan dengan swadaya masyarakat untuk diangkut ke Tempat Pembuangan
Sementara (TPS) kemudian petugas kebersihan akan membawanya ke TPA.
Selanjutnya sampah tersebut diangkut dengan kendaraan truk sampah terbuka,
compactor, hydraulic container, tipper, dan crane ke TPA. Untuk sampah yang berasal dari taman, pasar, dan kali atau saluran, pengangkutannya menjadi
tanggung jawab Dinas Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum, dan PD Pasar Jaya.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) DKI Jakarta sejak tahun 1986 adalah
TPA Bantargebang yang lokasinya berada di wilayah Bekasi Barat seluas 108
Dinas Kebersihan telah membebaskan lahan seluas lebih kurang 95 Ha untuk TPA
yang terletak di Ciangir, Tangerang, Jawa Barat. TPA tersebut dalam
pengelolaannya masih menggunakan sistemsanitary landfill atau sistem lain yang efisien dan efektif.
Pada tahun 2008, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui
Dinas Kebersihan DKI berencana antara lain membangun tempat pengolahan
sampah dengan modelIntermediate Treatment Facility (ITF). ITF akan dibangun di empat lokasi dan diperkirakan masing-masing ITF akan mampu menampung
dan mengolah sampah sebanyak 1.000 ton per hari sehingga diharapkan akan
mengurangi volume sampah di Bantar Gebang. Dinas Kebersihan DKI Jakarta
juga merencanakan untuk mengubah Stasiun Pengolahan Antara (SPA) sampah di
DKI menjadi Pusat Pengolahan Sampah Terpadu yang menggunakan teknologi
tinggi sehingga sampah dapat dijadikan pupuk kompos sekaligus energi listrik.
Pengolahan sampah yang dilakukan oleh swasta tersebut diharapkan dapat
berkapasitas 1.500 ton per hari atau mengolah seperempat dari total sampah di
Jakarta yakni 6.000 ton per hari.4
2.3 Penelitian Terdahulu
Syafrizal (2005) model teknologi pengolahan sampah di wilayah perkotaan
(studi kasus Kota Bandar Lampung) tujuan penelitian menganalisis besarnya nilai
retribusi kebersihan yang bersedia dibayarkan masyarakat Kota Bandar Lampung,
menganalisis kelayakan pengolahan sampah Kota Bandar Lampung ditinjau dari