• Tidak ada hasil yang ditemukan

Infestasi Onchocerca gibsoni pada Sapi Potong di Rumah Potong Hewan Kota Madya Bogor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Infestasi Onchocerca gibsoni pada Sapi Potong di Rumah Potong Hewan Kota Madya Bogor"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

PADA SAP I POTONG DI RUMAH POTONG HEWAN

KO,TA MADYA BOGOR

-S K R I P -S I

oleh

NUR HIDAYAT

B 20.0835

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

NUR HIDi'cYAT. Infestasi Onchocerca gibsoni peda Sapi Potong

di Rumah Potong Hewan Kotamadya Bogor (Di b?wah bimbingan

SANUBARI ATMOWISAsrRO).

Infestasi Onchocerca gibsoni terjadi p'3da sapi flan Zebu

dan menimbulkan bungkuIbungkul pada intermuskuler dada,

sub-cutan dada, ー・イュャセ。。ョ@ eksternal dari persendian

femoro-tibi-ale, daerah superfisial dari

M.

Pectoralis superfisialis

serta pac.a perb8tas2n de.erah leher dan dade.

SikIus cacing ini diawali dengan keluarnye larva dari

cacing betina, kemudian menembus bungkul, ikut aliran darah

dan limfe, Hisapan vektor akan memindahkan mikrofilaria

ke-dalam tubuh vektor hingge mencapai stadium infektif. Pada

stadium tersebut larva mengadekan migrasi kemulut vektor

dan siap untu.1;: di tularkan kembali melalui gigi tan, kemudian

didepositkan ke dalam kulit host. Melalui aliran darah dan

limfe larva mengembars. dan menempati jaringan ikat.

Vektor penyaki t adalah Culicoides pungens , Simulium avidum

Simulium mansoni, Simulim ochraceum dan secara laboratories

dapat ditularkan oleh Forcinomyia (Lasiohelea)

townsvillen-sis.

Prevalensi 」ZZZセL」ゥョァ@ ini cul<up 「・イカRLイセLS@ si. Faktor-faktor

yang mempengaruhi prevelensi tersebut adalah musim

pemoto-ngan, lokasi asal hewan, sex, LLTllUr, dan b"ngsa sapi.

Prevalensi caeing di Australiii pada tahun 1949, mu1ai

10%-100%, sedang tahun 1978 antano 18% sampai 96);. Sedang di

(4)

Penelitian yang dilakukan di RPH Kotamadya Bogor,

me-nggunakan 70 ekor sapi Ongole. Pemeriksaan dilakuken

de-ngen cara inspeksi, pelpasi dan insisi pada temuat yang di

duga sebagei tempat predileksi cacing tersebut.

Basil peneli tian menunjukkan be.hwa pre'!:) lensi caeing

ini eukup rendah dan predileksi utama pc:da bagian intermus

(5)

PADA SAPI POTONG DI RUMAH POTONG REvlA.N KOTA MADYA HOGOR

Oleh

llJUR RIDA YAT.

H20. 0835

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar DOKTER HEWAN

pada

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERtlli HEWAN INSTITUT PERTA.NIAN BOGOR

(6)

INSTITUT PERTANI.!ili BOGOR

FAKULTAS KEDOKTERP-.N HEI'IAN

JUDUL SKRIPSI : INFESTASI Onchocerca gibsoni

PlillA SAPI POTONG DI RlITllAH POTONG HEWAN

KOTA MADYA BOGOR

NAMA M.4HASISWA

·

·

N U R HIDAYAT

NONOR POKOK

·

·

B20. 0835

Disetujui

Bogar,

,th-

,y- -

1988

Drh. セNANGャャjbari@ ATHOI'IISASTRO

(7)

Penu1is di1ehirken pede tengge1 9 Desember 1964 di kセ@

cematan Besuki Kabupaten Situbondo Jawa Timur, merupakan

anak ke dua dari tiga bersaudara dari Ramanda t-1ohammad

Ha-fid dan lbunda Siti t-1ariyah.

Pada tahun 1977 ia 1u1us dari SON Besuki II Kecamatan

Besuki Kabupaten Si tubondo, kemudian melanjutkan ke St·1PN I

Situbondo dan 1u1us pade tehun 1980. Tahun 1980 masuk ke

SMJ,N II Malang Kota Madya Ma1ang sampai tahun 1983.

Pada tahun 1983 diterima di Institut Pertanian Bogor

melalui Proyek Perintis I dan tahun 1984 terdaftar sebagai

mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Gelar

(8)

KATA PENGANTAR

Fuji ウセオイ@ penulis panjatkan ke hadirat Allah swt,

atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat

un-tuk memperoleh gelar dokter hewan pada Fakultas Kedokteran

Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis

sam-paikan kepada Bapak Drh. Sanubari Atmowisastro, staf ー・ョァセ@

jar 1aboratorium He1mintho1ogi Jurusan Pasarito1ogi dan

Pa-to1ogi, yang membimbing dan mengarahkan penu1is mu1ai dari

persiapan hingga terselesainya skripsi ini. Ucapan terima

kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas

Pe-ternakan Kota Madya Bogor beserta staf, yang.turut membantu

se1ama penelitian berlangsung.

Penu1is menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih

jauh dari sempurna, karena itu sega1a kritik dan saran

un-tuk perbaikan se1anjutnya sangat diharapkan.

Walaupun. demikian penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.

Bogor, Maret 1988

(9)

Halaman

KA'l'A PENGid\iTAR

...

ix

DAFTAR lSI

...

x

DAFTAR GAMBAR

...

xi

DAFTAR TABEL

...

xii

I. PENDAHULUAN

..

... ..

1

A. Latar Belakang Penelitia!l ..

... ..

1

B. Tujuan Penelitian

..

....

"

... ..

2

c.

Kegunaan Penelitian

..

.. ..

..

.. .. .. ..

..

..

..

..

..

.. ..

.. .. ..

.. .. .. ..

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

..

.. .. .. .. .. ..

.. .. .. ..

.. ..

..

.. .. .. .. ..

..

.. ..

..

.. .. ..

..

..

..

3

Klasifikasi

...

3

B. Morfologi dan Siklus Hidup

..

... ..

4

c.

Prevalensi Onchocerca gibsoni

..

... ..

5

D. Epidemiologi Infestasi Q. gibsoni

.. ... ..

6

E.

Bungkul Q. gibsoni

..

... ..

8

III. BAKf\.N DAN METODE

..

... ,.

... ..

12

Tempat dan Waktu Penelitian

...

12

B. Materi dan Cara Penelitian

..

... .. 12

IV. ..

... ..

18

v.

keウョQpulNセNn@ D.;N SARAN

..

... .

21
(10)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Speculum ...

2. Cacing jant2n

...

"

... ..

.3. Telur yang belum mat2ng hingga telur ber12rva

dengan pembesaran 400x ... ..

4. Telur berlarv2 dengan pembesaran 100x

...

5. Indulc cacing yang bunting, dengan telur berlarva di

25 25

26 26

dalam uterusnya ... "... 27

6.

7.

8.

Nikrofilaria deng2n pembesaran lOOx

Nikrofilaria dengan pembesaran 400x

Kutikula dengan garis transversal

..

..

.. .. .. .. .. .. ..

.. ..

..

..

..

..

... ..

..

... ..

27 28 28

9. Bagian anterior cacing betina dengan pembesaran

200x ... 29

10. Bagian anterior c2cing betina dengan pembesaran

(11)

No. Ha1aman

Teks

1. Bentuk, Konsistensi, Ukuran dan Lokasi Bungku1

Onchocerca gi bsoni . . . • . . . 14

2. Ukuran Te1ur Cacing yang tidak Ber1arva ••..••••• 15

3.

4.

Ukuran Te1ur Cacing Ber1arva Panjang Larva (l4ikrofi1aria)

. .

. .

. .

. . .

.

.

.

.

.

. .

. .

.

.

.

.

.

. . .

.

. .

. .

. .

.

. . .

.

16

(12)

BAJa; I. PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang

Onchocerciasis pada sapi dan zebu yang disebabkan oleh

cacing Onchocerca gibsoni, merupakan penyakit parasiter

yang ditandai dengan terbentuknya bungkul pada jaringan

ikat dan jaringan dibawah kulit. Penyakit ini oleh banyak

kalangan kurang diperhatikan karena gejala klinis pada

he-wan yang terinfestasi hampir tidak ada, serta kerugian

eko-nomi yang ditimbulkan oleh cacing ini masih dalam

peneliti-an. Selain itu cacing tersebut tidak bersifat zoonosis.

Pada suatu peternakan sapi potong yang menjual hasil

produksinya dalam bentuk daging, serta perusahaan yang

da-lam proses produksinya mengikutsertakan daging, baik dada-lam

bentuk setengah jadi atau dalam bentuk jadi, kehadiran ー。イセ@

sit ini perlu mendapat perhatian, karena adanya

bungkul-bungkul cacing dapat menyebabkan dibuangnya sebagian

jari-ngan yang terinfestasi parasit ini. Daging yang mengandung

cacing tidak layak untuk dikonsumsi, walaupun cacing ini ti

dak bersifat zoonosis, kecuali bila dilakukan pembuangan

terhadap bungkul-bungkul cacing tersebut.

Di beberapa negara rnaju terutama di Australia, perhati

an terhadap penyakit ini semakin hari sernakin besar, karena

Australia merupakan negara pengekspor daging·ke berbagai ne

gara besar di dunia terrnasuk Amerika Serikat.

Informasi tentang cacing IDnchocerca gibsoni di negara

(13)

Berdasarkan kenyataan terse but dan juga atas anjuran dosen

pembimbing, timbul suatu pemikiran untuk meneliti

infesta-si cacing

Q.

gibsoni pada sapi potong di Indonesia

khusus-nya di Rumah Potong Hewan Kota Madya Bogor.

B. Tujuan Peneli tian

1. Untuk menghitung secara nyata prevalensi cacing

Onchocerca gibsoni di daerah Bogor, khususnya di

Rumah Potong Rewan Kota Madya Bogor.

2. Untuk mengetahui kondisi bungkul cacing Onchocerca

gibsoni •

3.

Untuk memperoleh data anatomi cacing Onchocerca

gibsoni, larva beserta telurnya.

C. Kegunaan Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini

adalah :

1. Memberikan data yang nyata dan otentik mengenai

prevalensi cacing Onchocerca gibsoni di Rumah

Po-tong Hewan Kota Madya Bogor.

2. Data-data tersebut diharapkan bermanfaat bagi

pe-rusahaan sapi potnng dan pepe-rusahaan dimana daging

terse but diolah menjadi bahan jadi atau bahan

se-tengah jadi.

3. Memberikan informasi kepada para peneliti sebagai

acuan dalam melakukan penelitian dimasa yang akan

(14)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi

Dalam perkembangannye nematoda dibagi due berdasarkan

pemi1ikan phasmid. Chitwood dan Chitwood (1973) membagi

nematoda menjadi dua kelompok yakni Phasmida dan Aphasmida

(Soulsby,1982). Namun sistem klasifikasi yang demikian

ini sudah jarang dipakai secara umum.

Klasifikasi menurut yamaguti (1961), Chitwood (1969),

dan Anderson et a1. (1974) adalah sebagai berikut (Soulsby,

1982) :

Filum Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Subkelas : Secernentea

Ordo : Spirurida

Superfamili Filaroidea

Famili : Onchocercidae

Genus Onchocerca

Spesies Onchocerca gibsoni

Dahulu spesies ini mempunyai banyak sinonim, sebelum

digunakan nama yang sekarang sebagaimana yang ditemukan

oleh Cleland dan Johnston (1910). Nama-nama yang pernah

digunakan pad a cacing ini antara lain, Filaria lienalis,

Stiles (1892); Spiroptera reticu1ata , Park (1892);

Strongylus SD, Bancroft (1893); sーゥイッーエ・イ。セL@ Cleland

(1907); Filaria gibsoni • Cleland et Johnston (1910);

(15)

gibsoni, Cleland (1910) dalam Reinecke (1983).

B. Morfologi dan Siklus hidup

Soulsby (1982) dan Seddon (1967) mengatakan bahwa

ca-cing Onchocerca gibsoni pertama kali ditemukan oleh Cleland

dan Johnston pada tahun 1910. Cacing ini menyerang sapi

dan zebu yang tersebar di daerah Australia, India,

Srilang-ka, Malaysia dan sekitarnya, Nigeria, Amerika Serikat dan

Afrika Selatan.

Cacing ini merupakan cacing nematoda dari famili Oncho

cercidae dan genus Onchocerca. Sebagaimana cacing lainnya

dalam famili tersebut, caeing ini mempunyai bentuk tubuh

yang panjang dan gilig. Cacing jantan panjang antara 30

53 mm dan cacing betina panjangnya adalah 140 - 190 mm,

te-tapi cacing betina ada yang dapat mencapai panjang 500 rom

atau lebih (Seddon, 1967; Brandy セ@ セ@ 1968; Miller,

1952). Caeing ini mempunyai kutikula dengan garis-garis

transversal, sayap-sayap lateral yang kecil dan 6-9 papil

pada masing-masing sisinya. Speculum tidak sarna besarnya,

berukuran 120-220 mikron dan 47-94 mikron, sedang

mikrofi-laria berukuran RセPMSUP@ mikron dengan lebar 3-4 mikron

(Lapage, 1956). Mikrofilaria tidak mempunyai sarung atau

selubung. Nenurut Nitisuwirjo, et al (1980), cacing ini

bersiiat ovovivipar, artinya caeing ini menghasilkan

(16)

5

Siklus hidup cacing ini diawali dengan keluarnya

lar-va dari bungkul dan ikut aliran limfe host. Hisapan

vek-tor cacing akan memindahkan larva kedalam tubuh vekvek-tor

sampai mencapai larva stadium infektif. Pada stadium

ter-sebut larva mengadakan migrasi ke bagian mulut vektor dan

siap untuk ditularkan kembali melalui gigitan. kemudian

didepositkan di dalam kulit. Melalui aliran limfe larva

mengadakan migrasi ke tempat predileksi, dimana mereka

menempati jaringan ikat atau di dalam sarang cacing yang

sudah ada (Blood

£i

al., 1981).

Vektor penyakit ini adalah Culicoides pungens (Libby,

1975; Soulsby, 1965; Seddon, 1967; Hall, 1977; Dunn,

1978; Smith セ@ al., 1972), Simulium avidum. Simulium

marr-セL@ Simulium ochraceum (Reinecke, 1983) dan secara

labo-ratories larva cacing ini dapat ditularkan oleh

ForciDo-セ@ townsvillensis (Ottley et セ@ 1980). Selain itu

in-festasi parasit ini secara laboratories dapat ditularkan

dengan injeksi mikrofilaria ke dalam ali ran limfe host

(Beveridge et al., 1980).

C. Prevalensi Onchocerca gibsoni

Prevalensi cacing ini sangat bervariasi.

Seddon (1967) mengatakan bahvla prevalensi Onchocerciasis

di Australia berkisar antara 10% - 100%. Pad a pemeriksaan

yang dilakukan pada bulan agustus 1949 terhadap sapi

po-tong di berbagai Rumah Potong Hewan di berbagai negara

ba-gian di Australia menunjukkan keanekaragaman prevalensi

(17)

Prevale·nsi di negara bagian New South Wales berkisar

antara 10 - 75%, di Northern Territory mencapai 40% sedang

di Queensland berkisar antara 11 - 100%. Ladds et al.

(1979) mengatakan bahwa p evalensi cacing ini terhadap

sa-pi potong yang diperiksa pada bulan April 1977 sampai

bu-lan April 1978 (kecua1i bubu-lan Desember sampai bubu-lan

Pebru-ari) bervariasi dari tiap daerah. Prevalensi di Northern

Territory XXセ「L@ di Central Australia 74%, di North Western

Queensland 96%, North Eastern Queensland 91%, Queensland

85%, Kimberleys 87%, Southern Queensland 74%, Central New

South Wales 18%. lfoldsworth セ@ a1. (1985) mengatakan

bah-wa prevalensi rata-rata di.Australia 「・イォゥセ。イ@ 90%, sedang

Soulsby (1974) mengatakan bahwa prevalensi cacing ini umum

nya rendah, yakni berkisar antara 10 - 20%. Dan

prevalen-si di Townsvillenprevalen-sis rata-rata adalah 92% (Beveridge セ@

a1. , 1980).

D. Epidemio1ogi Infestasi Onchocerca gibsoni

Onchocerciasis yang disebabkan oleh cacing Onchocerca

gibsoni terjadi pada sapi dan zebu, ditemukan pertama kali

oieh Cleland dan Johnston pada tahun 1910.

Infestasi caeing ini pada tiap-tiap bangsa sapi

ber-beda, demikian pula.pada tiap-tiap musim, tiap-tiap daerah.

Ladds et a1., (1979) mengatakan bahwa perbedaan infestasi

caeing pada sapi tergantung pada lokasi dimana sapi

bera-sal, musim saat pemotongan, umur hewan, bangsa dan jenis

(18)

7

derajat infestasi, tetapi juga mempengaruhi jumlah bungkul

tiap 「セァゥ。ョ@ dada, ketebalan bungkul, berat bungkul dan

perubahan patologi anatomi yang ada pada bungkul.

Perbedaan daerah asal hewan mempengaruhi infestasi 」セ@

cing rata-rata untuk tiap hewan. Distribusi infestasi teL

sebut bervariasi antar negara bagian di Australia, mulai

dari 18% infestasi dengan 0,4 bungkul tiap bagian dada

pa-da negara bagian New South Wales, sampai 96% infestasi

de-ngan rata-rata 3,6 bungkul untuk tiap bagian dada pada

ne-gara bagian North Western Queesland. Persentase infestasi

tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah bungkul untuk

tiap bagian dada. Selain itu umur dan besar bungkul

ter-tinggi di Central Australia dan terendah di Northern Terri

tory dan North Eastern Queensland.

Perbedaan musim mempengaruhi infestasi rata-rata tiap

hewan dan jumlah bungkul pada tiap bagian dada. Infestasi

dan jumlah bungkul terendah ditemukan pada waktu antara

musim gugur dan musim dingin, musim semi serta meninggi ーセ@

da musim panas.

Bangsa sa pi mempengaruhi derajat konsistensi 「オョFセオャ@

dan berat bungkul. Pada ketiga jenis sapi yang pernah

di-teli ti, bungkul yang terdapat pada sapi Brahman mempu11Y2i

konsistensi dan berat yang lebih tinggi dari pada sapi Bri

tish dan sa pi Eastar, sedeng persentase infestesi pada

ke-tiga jenis sepi ini tidak berbeda.

Pada umumnya pada umur sapi yang lebih tua prevalensi

(19)

セdエオォ@ tiap bagian dada, serta kekerasan bungkul, karena ュセ@

kin tua sapi dan umur bungkul, makin banyak terjadi proses

degenerasi dan pengapuran.

E. Bungkul Onchocerca gibsoni

Studi tentang infestasi cacing ini pada umumnya

dila-kukan berhubungan dengan ciri セセ。ウ@ bungkul, musim saat

di-potong, bangsa sapi, jenis kelamin dan umur sapi yang dip£

tong.

Pada mU1anya mikrofi1aria yang masuk da1am tubuh host

mengembara dalam aliran 1imfe, kemudian sampai pada tempat

predileksi dan beristirahat sehingga akan terbentuk

bung-kul-bungkul (Lapage, 1956), Pernbentukan bungkul tersebut

sebagai reaksi tubuh terhadap adanya toxin yang dihasilkan

oleh cacing tersebut sebagai hasi1 sekresinya (Parkinson,

1947).

Noharned (193l) yang dikutip dalarn Soulsby (1965)

rne-ngatakan bahwa pada awal terbentuknY2 bungkul, kepala

ca-cing terikat dan dikelilingi oleh tenunan fibrosa dan

ber-turut-turut pad a bagian tubuh yang lain rnengalarni proses

yang sama, bersarnaan dengan kejadian itu cacing akan

meng-gu1ung. Da1am perneriksaan patologi anatomi akan tampak

bshHa cacing terletak dida12.rn tero,"ongan yang ada di dalam

bungkul tersebut (Blood, 1981). Pada tiap tahap ー・イォ・イョ「。セ@

ngan bungkul, ketebalan tenunan fibrosa dan ォ・ォ・イ。ウ。イセケ。@

(20)

fibrosa yang mengelilinginya serta makin keras kapsul dan

bungkul tersebut.

Bungkul-bungkul ters ebut umumnya mempunyai ukuran

9

2 - 3,5 em, tetapi pernah pula ditemukan bungkul yang

mem-punyai ukuran 11 x 8 em, sedang bungkul yang memmem-punyai

be-sar lebih kecil dari biji kacang jarang ditemukan (Seddon,

1967).

Bungkul cacing dapat ditemul<:an di jaringan ikat di

daerah intermuscular dari otot-otot dada, bagian lateral

dari persendian femoro-tibiale, di sekitar musculus

Pecto-ralis superfisialis (Seddon, 1967; Kral, 1953; Drabble,

1965; Thornton, 1957; Hunggerford, 1975; Blood, 1981).

Selain itu bungkul tersebut dapat pula ditemukan pada

per-batasan antara bagian dada dan leher (Ladds et al •• 1979;

Nitisuwirjo et al •• 1980). Umumnya bungkul tersebut

dite-mukan di daerah dada, tepatnya di daerah segitiga antara

tu13ng rusuk 4 dan 6 dengan cartilago costae (Seddon, 1967;

Ladds et セ@ 1979; Thornton, 1957; Hunggerford, 1975).

Bentuk-bentuk bungkul ada yangbulat, lonjong dan pipih.

Bungku1 yang berbentuk bulat dan lonjong umumnya ditemukan

di jaringan ikst, tetapi dape.t pula di temukan bungkul yang

berbentu.l< pipih bila bungkul terse but tergencet oleh dua

musculus yang berdempetan. Bungkul yang berbentuk pipih

umumnya ditemukan di 「。セ。ィ@ kulit (Hunggerford, 1975).

Thornton (1957) mengatak,m b2.hw2. pad a stadium awa1 P.§.

rubahan pato1ogi dari bungkul tersebut adalah terdapatnya

(21)

caseosa dan akhirnya menjadi bentuk yang mirip dengan

le-sio tuberculose. Pada stadium akhir parasit tersebut

ter-bungkus oleh suatu bentukan yang berwarna kuning sebesar

telur burung merpati atau lebih besar lagi dan bagian

lu-arnya ditutupi oleh jaringan fibrosa yang berwarna putih

dan pad a tengah-tengahnya terdiri dari jaringan yang lunak

seperti bunga karang yang satu atau dua ekor cacing

teri-kat di dalamnya. Akhirnya bungkul dan cacing mengalami

proses degenerasi dan calsifikasi (Lapage, 1956).

Peruba-han istimewa yang terjadi pada bungkul adalah intranoduler

pigmentasi, calsifikasi intranoduler dan necrose central.

Perubahan-perubahan tersebut lebihmenyolok pad a bungkul

yang mengandung cacing yang mati dan juga lebih besar

hu-bungannya pad a cacing yang bunting daripada yang tidak

bunting.

Jenis kelamin cacing yang ada di dalam bungkul bisa

bervariasi dan kombinasi jenis kelamin memoengaruhi keteba

.

-Ian kapsul serta ada tidaknya mikrofilaria. Pad a bungkul

yang mengandung cacing dengan jenis kelamin jantan dan

be-tina mempunyai kapsul yang lebih tebal dari pada bungkul

yang hanya mengandung Cilcing betina saja (Seddon, 1967).

Ladds セ@ a1. (1979) mengata.kan bahwa cacing yeng ada. di de

lam bungkul ada yang jantan dan betina, ada yang betina sa

ja, tetapi tidak ー・イョセセ@ ditemukan suatu bungkul yang

me-ngandung cacing jantan saja, dan mikrofilaria dapat

dite-mukan apabila cacing dalam bungkul tersebut adalah jantan

(22)

11

Nitisuwirjo et a1. (1980) mengatakan bahwa distribusi

mikrofi1aria di dalam bungkul berhubungan dengan ketebalan

kapsul. l'Iikrofilaria dapat ditemukan pada eksudat fibrin2

sa, intra uterine, stroma bungkul dan kapsula fibrosa,

te-tapi terbanyak ditemukan di dalam intra uterine. Sedang

dalam tubuh host mikrofilaria dapat ditemukan di seluruh

pembuluh limfe host, termasuk di dalam scrotum, dan jarang

、ゥエ・ュオセ。ョ@ di dalam pembuluh darah dan organ internal

(Akusu et al., 1983; Blood セ@ el., 1981).

Kehadiran bungkul tersebut di dalam tubuh host akan

menyebabkan kerugian dengan dibuangnya sebagian jaringan

yang terinfestasi (Seddon, 1967), dan akan merusak dari

(23)

T.empat dan Waktu Peneli Han

Penelitian dilakukan di Rumah Potong H:=wan (RPH) Kota

Madya Bogor dan Laboratorium Belminthologi Fakultas

Kedok-teran Bewan Institut Pertanian Bogor selama satu bulan,

yakni mulai tanggal 1 Pebruari 1988 sampai dengan tanggal

29 Pebruari 1988.

B. Materi dan Cara Penelitian

Cara mendiagnose adanya cacing Onchocerca gibsoni pada

penelitian ini yakni dengan menemukan bungkul-bungkul

(sa-rang) cacing pada tempat-tempat predileksi cacing ini.

Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sa pi potong Ongole sebanyak 70 ekor yang dipilih secara

acak sederhana. Pemeriksaan ante mortem dilekuken dengan

melakukan inspeksi dan palpasi pada tempat-tempat

predilek-si. Pemeriksaan post mortem dilakw,an dengan cara

melaku-kan palpasi dan penyayatan ditempat-tempat predileksi untuk

menemukan bungkul-bungkul cacing tersebut. Bungkul-bungkul

yang ada dimasukkan kedalam formalin 10% dan diperiksa di

laboratorium Belminthologi Fakultas Kedokteran Bewan IPB.

,Pemeriksaan terhadap bungkul cacing meliputi pemeriksaan

keadaan luar bungkul dan keadaan dalam bungkul, termasuk

pemeriksaan terhadap cacing itu sendiri. Pemeriksaan

ca-cing dari sarangnya umumnya sulit dilakukan dan kalaupun

(24)

ャセ@

Pemeriksaan keadaan luar bungkul meliputi pemeriksaan

konsistensi, diameter dan keadaan tenunan fibrosa.

Peme-riksaan terhadap ャ。セャ。@ dan telur cacing dilakukan terhadap

eksudat fibrinosa yang ada dalam bungkul エ・イウ・lセエ@ dan kalau

perlu pemeriksaan terhadap telur yang berlarva dilakukan

(25)

No.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9,

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Tabe1 1. Bentuk, konsistensi, ukuran dan lokasi bungku1 Onchocerca gibsoni

Bentuk bungkul Konsistensi Diameter bungkul lokasi

Bulat Lunak

0,5

em Dada

Bulat Lunak

0,7

em

"

Bulat Lunak

0,7

em

"

Pipih Lunak

0,9

em

Bulat Lunak

1

em Dada

Jaulat Lunak

1

em

"

Oval Keras

1,5

em

"

Oval Keras

1.5

em Subcutis

Oval Keras

1,5

em Dada

Pipih Ker"'s

1,7

em

"

Bulat . Keras

1,8

em

"

Bulat Keras

1,9

em

"

Pipih Keras

1,9

em Subcutis

Pipih Keras

1,9

em

"

Pipih Keras

2,0

em Dada
(26)

No.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Tabel 2. Ukuran telur cacing yang tidak berlarva

Panjang Lebar No. Panjang Lebar

(mikron) (mikron) (mikron) (mikron)

30,6

18,36

14.

33,66

18,36

30,6

12,24

15.

33,66

18,36

33,36

18,36

16.

39,78

18,36

27,54

12,24

17.

33,66

12,24

33,66

18,36

18.

33,66

15,3

39,78

21,42

19.

30,6

18,36

39,78

21,42

20.

39,78

15,3

36,72

15,3

21.

33,66

18,36

24,48

12,24

22.

33,66

15,3

30,6

15,3

23.

33,66

15,3

33,66

15,3

24.

37,72

15,3

30,6

15,3

25.

36,72

15,3

30,6

15,3

(27)

Tabe1 3. Ukuran te1ur cacing ber1arva

No. ー。ョェ。ョセ@

Lebar

No.

Panjang

Lebar

(mikrom

(mikron)

(mikron)

(mikron)

1.

45,9

30,6

20.

42,84

27,54

2.

39,78

27,54

2l.

39,78

27,54

3.

39,78

30,6

22.

42,84

30,6

4.

42,84

30,6

23.

42,84

30,6

5.

39,78

30,6

24.

39,78

27,54

6.

39,78

27,54

25.

36,72

27,54

7.

45,9

27,54

26.

45,9

27,54

8.

39,78

24,48

27.

45,9

33,66

9.

45,9

27,54

28.

39,78

30,6

10.

39,78

27,54

29.

42,84

30,6

11.

45,9

30,6

30.

45,9

27,54

12.

42,84

30,6

31.

45,9

30,6

13.

39,78

27,54

32.

48,96

30,6

14.

39,78

27,54

33.

39,78

27,54

15.

36,72

27,54

34.

42,84

27,54

16.

42,84

30,6

35.

48,96

30,6

17.

45,9

30,6

36.

52,02

30,6

18.

45,9

30,6

37.

42,84

30,6

(28)

17

Tabel 4. Panjang larva

No. Panjang No. Panjarh.

(mikron) Cmikron.)

1.

262,5

18.

232,22

2.

262,5

19.

218,56

3.

245,88

20,

273,2

4.

280

2I.

286,86

5.

245,88

22.

259,54

6.

245,88

23.

300,52

7.

259,54

24.

273,2

8.

232,22

25.

286,86

9.

273,2

26.

286,86

10.

232,2

27.

300,52

II.

300,52

28.

273,2

12.

259,54

29.

273,2

13.

245,88

30.

259,54

14.

232,22

3I.

273,2

15.

245,88

32.

273,2

16.

232,22

33.

300,52

(29)

Studi tentang infestasi Onchocerca gibsoni pada sapi

potong Ongoleyang dilakukan di Rumah Potong Bewan Kota

Madya Bogor memberikan iformasi yang penting tentang

ca-cing tersebut di Indonesia. Walaupun peneli tian RPH

menggunakan metode yang praktis untuk dapat mendeteksi 。、セ@

nya bungkul cacing, namun metode tersebut dapat digunakan

untuk kondisi RPH di Indonesia.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa intensitas infes

tasi umumnya rendah, karena dari 70 ekor sapi Ongole yang

dipotong, prevalensinya hanya 12,86% dengan rata-rata 0,23

bungkul tiap bagian dada. Rendahnya prevalensi ini selain

karena memang derajat infestasinya rendah, mungkin pula

faktor metode yang digunakan untuk menemUkan bungkul pada

sapi masih kurang tepat. Berbeda dengan metode yang

dila-kukan selama penelitian, metode yang dikembangkan di

Aus-tralia adalah dengan cara mengadakan inspeksi secara kasar

terhadap sapi yang akan disembelih, memberi tanda terhadap

sapi yang telah disembelih, yang sebelumnya diberi

tanda-tanda tertentu, kemudian mengadakan pemeriksaan di ruang

pernisahan antara tulang dan daging. Perneriksaan dilakukan

pada daerah dada dimana seringkali bungkul-:bungkul

ditemu-kan dibawah tulang rusuk, terutama pada daerah segitiga an

tara tulang rusuk 4 sarnpai 6 dengan cartilago costae.

Metode yang demikian itu sangat tidak mungkin dilakukan di

(30)

19

antara tulang rusuk dengan daging yang resmi dikerjakan

oleh pegawai Rurneh Potong Hewan setempc1t. Kesuli tan ini

merupakan kendala untuk menemukan bungkul-bungkul eaeing

seeara tepat.

Bungkul-bungkul eaeing yang diteliti urnurnnya mempunyai

ukuran yang eukup keeil, diameternya adalah

1,42

±

0,54

dengan selang antara

0,5

sampai

2,2

ern (tabell).

Diameter bungkul yang keeil mungkin karena urnur bungkul

yang masih muda atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi

besar tidaknya bungkul. Umumnya makin tua urnur bungkul,

makin besar diameter bungkul yang ada dalam tubuh host,

apalagi bila didalam 「オョFセオャ@ mengandung eaeing jantan dan

betina. Bungkul-bungkul yang pernah diteliti oleh ahli

mempunyai diameter rata-rata 2 -

3,5

em, sedang bungkul

yang mempunyai ukuran lebih keeil dari biji kaeang jarang

ditemukan.

Lokasi bungkul yang ditemukan selama penelitian

menun-jukkan bahwa 75% bungkul ditemukan pada bagian dada inter

museuler dan sisanya pada bagian dada subeutan (tabel

1).

Hila metode yang digunakan dengan mengadakan pemisahan

tu-lang dan daging, mungkin perbandingan itu akan berubah.

Sedang dengan inspeksi dan palpasi pada daerah predileksi

lainnya seperti pada bagian lat9.ral dar.i persendian femoro

tibiale dan bagian lateral dari M. Pectoralis Superfisialis

serta pad a batas antara daerah dada dan leher belurn

ditemu-kan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa predileksi utama

(31)

sUbeutan

Pada umumnya konsistensi bungkul yang didapatkan sela-ma penelitian adalah keras (67%) sedang sisanya lunak

(ta-bell). Hal ini karena pada bungkul tersebut sudah berja-lan proses perkapuran yang dimulai dengan degenerasi dari eaeing tersebut. Sedang sisanya mungkin belum mengalami proses degenerasi dan perkapuran.

Gaeing iIii merupakan eaeing yang mempunyai telur yang mengandung larva di dalamnya. Diduga proses ini diawali dengan terbentuknya telur yang belum matang, kemudian sedi-kit demi sedisedi-kit berkembang hingga terbentuknya larva dida-lam tersebut (gambar 2). Pada telur yang tidak mengandung larva panjangnya 24,48-39,78 mikron dengan lebar ャRセRQLLM

21,42 mikron (tabel 2), dan ukuran telur yang berlarv" an-tara 39,72 - 52,02 mikron dan lebarnya 24,48 - 33,66 mikTon

(32)

BA.B V. KESIl'JPULAN DAN SARAN

Pada peneli tian yang dilakukan di RPH Kota Madya Bogor

mengungkapkan sedikit data tentang eaeing ini, baik

preva-lensi maupun data anatomi. Prevapreva-lensi eacing ini pada sapi

Ongole rendah, yakni 12,86% dengan satu ekor dapat

mengan-dung 0,23 bungkul. Bungkul-bungkul tersebut urnu=ya di

te-mukan di daerah dada pada bagian intermuseuler dan

sebagi-an kecil ditemuksebagi-an didaerah subcutsebagi-an.

Perkembangan mikrofilaria, dimulai terbentuknya telur

hingga terbentuknya telur berlarva didalam uteru5 induk.

hYJlirnya larva dikeluarkan dari telur dan berkurnpul

dilam bungkul dan kemudian menerobos bungkul ikut ali ran

da-rah dan limfe. Dalam aliran dada-rah dan limfe, rnikrofilaria

s·iap untuk di tularkan kembali oleh vektor eaeing ini,

yak-ni Simulium 212. dan Culieoides 212.. Didal:om tubuh nyamuk

mikrofilaria berkembang menjadi stadium infektif.

Oleh karena terjadi perkembangan telur dari bentuk

yang belurn matang hingga telur yang mengandung larva,

ma-ka ukuran telur tersebut berbeda, dan telur yang

mengan-dung larva mempunyai ukuran yang lebih besar.

vlalaupun bungkul-bungkul harus dibuang dari jaringan

namun sampai saat ini para peneliti mengatakan bahwa

ca-eing ini tidak bersifat zoonosis. Alasan pembuangan

ha-nya berdasarkan pertimbangan estetika makanan. Gejala

kli-nis yang di timbulkan oleh caeing ini hanya terlihatnya

(33)

Kcrenc metode yang digunckcn mcsih scngat sederhanc,

dan informasi tentang cacing ini di Indonesic masih

sedi-kit, maka diharcpkan dikembangkan suatu metode yang

prak-tis dan efisien untuk menemukcn bungkul cacing ini yang

cocok dengan kondisi RPH di Indonesia. Selain itu

diha-rapkan adanya penelitian yang mengungkapkan tentang

geja-18 klinis hewan tersebut, pengBruh infestasi cacing

terse-but terhadap pertumbuhcn be rat badan, prevalensi ycng

ber-hubungan dengan batas daerah (lokasi), sex, umur, musim

(34)

DAFTAR PUST.i'.KA

Akusu, M.O; Ikede, B.O;

Onchocerciasis in a nary Journal, 139 :

Akpodge, J.U. 1983. Scrotal Bull in Nigeria. British Veteri-220 - 221.

Beveridge, I; Kummerow, EL; Wilkinson, P. 1980.

Expe-rimental Infection of Laboratory Rodents and Calves 'vi th I'likrofi13ria of Onchocerca gi bsoni • Tropenmedi-zin und Parasitologie, 31 : 82 - 8b.

Beveridge, I; kセュ・イッキL@

EL;

Wilkinson,

P.

1980.

Obser-vations on Onchocerca gibsoni and Nodule Development in Naturally Infected Cattle in Australia. Tropenme-dizin und Parasitologie, 31 : 75 - 81.

Blood, D.C; Radostits, O.M. 1981. Veterin5ry Medicine.

5th. Ed. Bailliere Tindall, P.796 - 797.

Brandy, Paul J; Migaki,

セャ・。エ@ Hygiene. 3th. phia, P.148 - 149.

George; Taylor, Kenneth E. 1968.

Ed. Lea and Febiger.

Philadel-Cheng, Thomas C. 1978. General Parasitology. 2th. Ed.

Academic Press. New York, p.667.

Drabble, J. 1965. Text Book of Meat Inspection. 9th.

Ed. Halstad Press. Sydney. P.377 --378.

Dunn, Angus M. 1978. Veterinary Helminthology. 2th.

Ed. William Heinemann Medical Books LTD. London,

P.79 - 80.

Hall, HTB. 1977.

the Tropics. Diseases and Parasites of Livestock in Longman Group LTD. London, P.59 - 61.

Holdsworth, P.A; Moorhouse, D.E. ni in the Brisket of Cattle. Journal, 62 : 26 - 27.

1985. Onchocerca

gibso-Australian Veterinary

Hunggerford, T.G. 1975. Diseases of Livestock. 8th.

Ed. Mc. Graw

961. - Hill Books Company. Sydney, P.960

-Kral, Frank and Benjamin J. Novak. 1953.

matology. J.B. Lippincott Company.

P.242 - 243.

(35)

ca gibsoni Infection in Cattle. Austrelia Veterinary JOurnal, 55 : 455 - 462.

Lapage, Geoffrey. 1956. Monnigs Veterinary Helminthology and Entomology. 4th. Ed. Bailliere Tindall and Cox. London, P.279 - 281.

Libby, James A. 1975. セャ・Rエ@ Hygiene. 4t.h. Ed. Lee and Febiger. Philadelphia, P.I08 - 109.

セャゥャャ・イL@ A.R.

biger. Philadelphia, P.92 - 93. 1952. Meat Hygiene. 2th. Ed.

Lea and

Fe-Nitisuwirjo, S; Ladds, P.W. 1980. A Quantitative Histo-pathological Study of Onchocerca gibsoni Nodules in Cattle. Tropenmedizin und Perasitologie, 31 : 467 -474.

Ottley, M.L; Moorhouse, D.E. 1980. Laboretory Transmis-sion of Onchocerca gibsoni by Forcipomvia (Lasiohelea)

エッセセウカゥャャ・ョウゥウN@ Australia Veterinary Journal, 56 :

559 - 560.

Parkinson, G.S; Shaw, Kathlee M. 1947. A Synopsis of Hy-giene. J. and A Churchill LTD. London, P.419 - 420. Reinecke, RK. 1983. Veterinary Helminthology. Butterworth

Publishers PTY LTD. Durben/Pretoria, P.3l3 - 315. Seddon, HR. 1967. Helmith Infestations. 2th. Ed.

Com-monwealth of Australia Departement of Health. Austra-lia, P.198 - 203.

Smith, Hiltonatmore; Jones, Thomas Carlyle; Hunt, Ronald duncan. 1972. Pathology. 4th. Ed. Lea and Febi-ger, P.778, 1034.

Soulsby, E.J.L. 1965. Text Book of Veterinary Clinical Parasitology. Volume I Helminths. Black Well Sci. Pub. Oxford, P.759 - 761.

Soul!;lby, E.J.J.. 1982. Helminths, ArthrOPods .and Protozoa' of Domesticated Animal. 7th. Ed. Bailliere Tindall. London, P.323 - 324.

Soulsby, E.J.L. 1974. Parasitic Zoonosis Clinical and Experimental Studies. Academic Press. New York, P.288 - 289.

(36)
(37)

Gambar 1. Speculum

(38)

Ganbar Telur yang belum ffiatan,s hingga berlarv8 d eng8D

pembesaran L,OOx

(39)

Gs.mbar 5. Incluk yang bunting, dengan telur berL:rvo

di ds.lam uter';snys..

(40)

GBmbBr 7. MikrofilBriB dengan pem'::1esaran 400x

GBmbar 8. Kutikula dengBn garis transversal

, ,

, ,,:..

Lセ@

セB@ ... MLMLHBセM

.

.

-"-セ@

.

" セ@

(41)

Gambar 9. B&gian anterior cacing dengan pembesaran 200x

(42)

INFESTASI

Onchocerca gibsoni

PADA SAP I POTONG DI RUMAH POTONG HEWAN

KO,TA MADYA BOGOR

-S K R I P -S I

oleh

NUR HIDAYAT

B 20.0835

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(43)
(44)

RINGlQl.SAN

NUR HIDi'cYAT. Infestasi Onchocerca gibsoni peda Sapi Potong

di Rumah Potong Hewan Kotamadya Bogor (Di b?wah bimbingan

SANUBARI ATMOWISAsrRO).

Infestasi Onchocerca gibsoni terjadi p'3da sapi flan Zebu

dan menimbulkan bungkuIbungkul pada intermuskuler dada,

sub-cutan dada, ー・イュャセ。。ョ@ eksternal dari persendian

femoro-tibi-ale, daerah superfisial dari

M.

Pectoralis superfisialis

serta pac.a perb8tas2n de.erah leher dan dade.

SikIus cacing ini diawali dengan keluarnye larva dari

cacing betina, kemudian menembus bungkul, ikut aliran darah

dan limfe, Hisapan vektor akan memindahkan mikrofilaria

ke-dalam tubuh vektor hingge mencapai stadium infektif. Pada

stadium tersebut larva mengadekan migrasi kemulut vektor

dan siap untu.1;: di tularkan kembali melalui gigi tan, kemudian

didepositkan ke dalam kulit host. Melalui aliran darah dan

limfe larva mengembars. dan menempati jaringan ikat.

Vektor penyaki t adalah Culicoides pungens , Simulium avidum

Simulium mansoni, Simulim ochraceum dan secara laboratories

dapat ditularkan oleh Forcinomyia (Lasiohelea)

townsvillen-sis.

Prevalensi 」ZZZセL」ゥョァ@ ini cul<up 「・イカRLイセLS@ si. Faktor-faktor

yang mempengaruhi prevelensi tersebut adalah musim

pemoto-ngan, lokasi asal hewan, sex, LLTllUr, dan b"ngsa sapi.

Prevalensi caeing di Australiii pada tahun 1949, mu1ai

10%-100%, sedang tahun 1978 antano 18% sampai 96);. Sedang di

(45)

nggunakan 70 ekor sapi Ongole. Pemeriksaan dilakuken

de-ngen cara inspeksi, pelpasi dan insisi pada temuat yang di

duga sebagei tempat predileksi cacing tersebut.

Basil peneli tian menunjukkan be.hwa pre'!:) lensi caeing

ini eukup rendah dan predileksi utama pc:da bagian intermus

(46)

INFESTASI Onchocerca gibsoni

PADA SAPI POTONG DI RUMAH POTONG REvlA.N KOTA MADYA HOGOR

Oleh

llJUR RIDA YAT.

H20. 0835

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar DOKTER HEWAN

pada

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERtlli HEWAN INSTITUT PERTA.NIAN BOGOR

(47)

FAKULTAS KEDOKTERP-.N HEI'IAN

JUDUL SKRIPSI : INFESTASI Onchocerca gibsoni

PlillA SAPI POTONG DI RlITllAH POTONG HEWAN

KOTA MADYA BOGOR

NAMA M.4HASISWA

·

·

N U R HIDAYAT

NONOR POKOK

·

·

B20. 0835

Disetujui

Bogar,

,th-

,y- -

1988

Drh. セNANGャャjbari@ ATHOI'IISASTRO

(48)

RlWAYAT HIDUP

Penu1is di1ehirken pede tengge1 9 Desember 1964 di kセ@

cematan Besuki Kabupaten Situbondo Jawa Timur, merupakan

anak ke dua dari tiga bersaudara dari Ramanda t-1ohammad

Ha-fid dan lbunda Siti t-1ariyah.

Pada tahun 1977 ia 1u1us dari SON Besuki II Kecamatan

Besuki Kabupaten Si tubondo, kemudian melanjutkan ke St·1PN I

Situbondo dan 1u1us pade tehun 1980. Tahun 1980 masuk ke

SMJ,N II Malang Kota Madya Ma1ang sampai tahun 1983.

Pada tahun 1983 diterima di Institut Pertanian Bogor

melalui Proyek Perintis I dan tahun 1984 terdaftar sebagai

mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Gelar

(49)

Fuji ウセオイ@ penulis panjatkan ke hadirat Allah swt, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat

un-tuk memperoleh gelar dokter hewan pada Fakultas Kedokteran

Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis

sam-paikan kepada Bapak Drh. Sanubari Atmowisastro, staf ー・ョァセ@

jar 1aboratorium He1mintho1ogi Jurusan Pasarito1ogi dan

Pa-to1ogi, yang membimbing dan mengarahkan penu1is mu1ai dari

persiapan hingga terselesainya skripsi ini. Ucapan terima

kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas

Pe-ternakan Kota Madya Bogor beserta staf, yang.turut membantu

se1ama penelitian berlangsung.

Penu1is menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih

jauh dari sempurna, karena itu sega1a kritik dan saran

un-tuk perbaikan se1anjutnya sangat diharapkan.

Walaupun. demikian penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.

Bogor, Maret 1988

(50)

DAFTAR lSI

Halaman

KA'l'A PENGid\iTAR

...

ix

DAFTAR lSI

...

x

DAFTAR GAMBAR

...

xi

DAFTAR TABEL

...

xii

I. PENDAHULUAN

..

... ..

1

A. Latar Belakang Penelitia!l ..

... ..

1

B. Tujuan Penelitian

..

....

"

... ..

2

c.

Kegunaan Penelitian

..

.. ..

..

.. .. .. ..

..

..

..

..

..

.. ..

.. .. ..

.. .. .. ..

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

..

.. .. .. .. .. ..

.. .. .. ..

.. ..

..

.. .. .. .. ..

..

.. ..

..

.. .. ..

..

..

..

3

Klasifikasi

...

3

B. Morfologi dan Siklus Hidup

..

... ..

4

c.

Prevalensi Onchocerca gibsoni

..

... ..

5

D. Epidemiologi Infestasi Q. gibsoni

.. ... ..

6

E.

Bungkul Q. gibsoni

..

... ..

8

III. BAKf\.N DAN METODE

..

... ,.

... ..

12

Tempat dan Waktu Penelitian

...

12

B. Materi dan Cara Penelitian

..

... .. 12

IV. ..

... ..

18

v.

keウョQpulNセNn@ D.;N SARAN

..

... .

21
(51)

No. Halaman

1. Speculum ...

2. Cacing jant2n

...

"

... ..

.3. Telur yang belum mat2ng hingga telur ber12rva

dengan pembesaran 400x ... ..

4. Telur berlarv2 dengan pembesaran 100x

...

5. Indulc cacing yang bunting, dengan telur berlarva di

25 25

26 26

dalam uterusnya ... "... 27

6.

7.

8.

Nikrofilaria deng2n pembesaran lOOx

Nikrofilaria dengan pembesaran 400x

Kutikula dengan garis transversal

..

..

.. .. .. .. .. .. ..

.. ..

..

..

..

..

... ..

..

... ..

27 28 28

9. Bagian anterior cacing betina dengan pembesaran

200x ... 29

10. Bagian anterior c2cing betina dengan pembesaran

Gambar

Tabel  2.  Ukuran  telur  cacing  yang  tidak  berlarva
Tabel  4.  Panjang  larva
Gambar  1.  Speculum
Gambar  9.  B&amp;gian  anterior  cacing  dengan  pembesaran  200x

Referensi

Dokumen terkait

berkat dan rahmat- Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Profil Umur, Jenis Kelamin, Berat Badan dan Jejas Eksternal pada Kulit Sapi Bali yang disembelih di

Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, jika dilihat dari alur distribusi daging RPH dalam hasil penelitian menunjukan faktor yang mempengaruhi penyediaan daging sapi di

Hasil pengamatan 25 sampel feses dari 25 ekor sapi dengan masing-masing tiga kali ulangan, ditemukan tiga jenis telur cacing parasit pada Rumah Potong Hewan Medan

Menjawab permasalahan ke-2, yaitu perhitungan besarnya persentase margin, biaya dan keuntungan parsial dan total pada berbagai pemasaran ternak sapi potong

Uji t menunjukkan bahwa pada sebagian besar komponen nonkarkas antara sapi Jantan dan betina tidak berbeda nyata, kecuali kepala dan kulit pada sapi Jawa jantan lebih tinggi

Hal ini sesuai dengan pendapat Hafid (2011) yang menyatakan bahwa indikator produksi daging dari seekor sapi pedaging dapat diukur dari berat dan presentase karkas

Kadar ammonia pada air limbah RPH sapi dan ayam menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu yaitu sebesar 28,44 mg/l Hasil penelitian ini lebih tinggi dari penelitian

Hasil positif pada uji Methyl Red MR Berdasarkan hasil pengujian terhadap sampel daging sapi pada media EMBA yang menunjukan ciri koloni berwarna hijau metalik dengan titik hitam pada