PADA SAP I POTONG DI RUMAH POTONG HEWAN
KO,TA MADYA BOGOR
-S K R I P -S I
oleh
NUR HIDAYAT
B 20.0835
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
NUR HIDi'cYAT. Infestasi Onchocerca gibsoni peda Sapi Potong
di Rumah Potong Hewan Kotamadya Bogor (Di b?wah bimbingan
SANUBARI ATMOWISAsrRO).
Infestasi Onchocerca gibsoni terjadi p'3da sapi flan Zebu
dan menimbulkan bungkuIbungkul pada intermuskuler dada,
sub-cutan dada, ー・イュャセ。。ョ@ eksternal dari persendian
femoro-tibi-ale, daerah superfisial dari
M.
Pectoralis superfisialisserta pac.a perb8tas2n de.erah leher dan dade.
SikIus cacing ini diawali dengan keluarnye larva dari
cacing betina, kemudian menembus bungkul, ikut aliran darah
dan limfe, Hisapan vektor akan memindahkan mikrofilaria
ke-dalam tubuh vektor hingge mencapai stadium infektif. Pada
stadium tersebut larva mengadekan migrasi kemulut vektor
dan siap untu.1;: di tularkan kembali melalui gigi tan, kemudian
didepositkan ke dalam kulit host. Melalui aliran darah dan
limfe larva mengembars. dan menempati jaringan ikat.
Vektor penyaki t adalah Culicoides pungens , Simulium avidum
Simulium mansoni, Simulim ochraceum dan secara laboratories
dapat ditularkan oleh Forcinomyia (Lasiohelea)
townsvillen-sis.
Prevalensi 」ZZZセL」ゥョァ@ ini cul<up 「・イカRLイセLS@ si. Faktor-faktor
yang mempengaruhi prevelensi tersebut adalah musim
pemoto-ngan, lokasi asal hewan, sex, LLTllUr, dan b"ngsa sapi.
Prevalensi caeing di Australiii pada tahun 1949, mu1ai
10%-100%, sedang tahun 1978 antano 18% sampai 96);. Sedang di
Penelitian yang dilakukan di RPH Kotamadya Bogor,
me-nggunakan 70 ekor sapi Ongole. Pemeriksaan dilakuken
de-ngen cara inspeksi, pelpasi dan insisi pada temuat yang di
duga sebagei tempat predileksi cacing tersebut.
Basil peneli tian menunjukkan be.hwa pre'!:) lensi caeing
ini eukup rendah dan predileksi utama pc:da bagian intermus
PADA SAPI POTONG DI RUMAH POTONG REvlA.N KOTA MADYA HOGOR
Oleh
llJUR RIDA YAT.
H20. 0835
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar DOKTER HEWAN
pada
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERtlli HEWAN INSTITUT PERTA.NIAN BOGOR
INSTITUT PERTANI.!ili BOGOR
FAKULTAS KEDOKTERP-.N HEI'IAN
JUDUL SKRIPSI : INFESTASI Onchocerca gibsoni
PlillA SAPI POTONG DI RlITllAH POTONG HEWAN
KOTA MADYA BOGOR
NAMA M.4HASISWA
·
·
N U R HIDAYATNONOR POKOK
·
·
B20. 0835Disetujui
Bogar,
,th-
,y- -
1988Drh. セNANGャャjbari@ ATHOI'IISASTRO
Penu1is di1ehirken pede tengge1 9 Desember 1964 di kセ@
cematan Besuki Kabupaten Situbondo Jawa Timur, merupakan
anak ke dua dari tiga bersaudara dari Ramanda t-1ohammad
Ha-fid dan lbunda Siti t-1ariyah.
Pada tahun 1977 ia 1u1us dari SON Besuki II Kecamatan
Besuki Kabupaten Si tubondo, kemudian melanjutkan ke St·1PN I
Situbondo dan 1u1us pade tehun 1980. Tahun 1980 masuk ke
SMJ,N II Malang Kota Madya Ma1ang sampai tahun 1983.
Pada tahun 1983 diterima di Institut Pertanian Bogor
melalui Proyek Perintis I dan tahun 1984 terdaftar sebagai
mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Gelar
KATA PENGANTAR
Fuji ウセオイ@ penulis panjatkan ke hadirat Allah swt,
atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat
un-tuk memperoleh gelar dokter hewan pada Fakultas Kedokteran
Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis
sam-paikan kepada Bapak Drh. Sanubari Atmowisastro, staf ー・ョァセ@
jar 1aboratorium He1mintho1ogi Jurusan Pasarito1ogi dan
Pa-to1ogi, yang membimbing dan mengarahkan penu1is mu1ai dari
persiapan hingga terselesainya skripsi ini. Ucapan terima
kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas
Pe-ternakan Kota Madya Bogor beserta staf, yang.turut membantu
se1ama penelitian berlangsung.
Penu1is menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih
jauh dari sempurna, karena itu sega1a kritik dan saran
un-tuk perbaikan se1anjutnya sangat diharapkan.
Walaupun. demikian penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.
Bogor, Maret 1988
Halaman
KA'l'A PENGid\iTAR
...
ixDAFTAR lSI
...
xDAFTAR GAMBAR
...
xiDAFTAR TABEL
...
xiiI. PENDAHULUAN
..
... ..
1A. Latar Belakang Penelitia!l ..
... ..
1B. Tujuan Penelitian
..
....
"... ..
2c.
Kegunaan Penelitian..
.. ....
.. .. .. ..
....
....
.... ..
.. .. .... .. .. ..
2II. TINJAUAN PUSTAKA
..
.. .. .. .. .. ..
.. .. .. ..
.. ..
..
.. .. .. .. ..
.... ..
..
.. .. ..
..
..
..
3Klasifikasi
...
3B. Morfologi dan Siklus Hidup
..
... ..
4c.
Prevalensi Onchocerca gibsoni..
... ..
5D. Epidemiologi Infestasi Q. gibsoni
.. ... ..
6E.
Bungkul Q. gibsoni..
... ..
8III. BAKf\.N DAN METODE
..
... ,.... ..
12Tempat dan Waktu Penelitian
...
12B. Materi dan Cara Penelitian
..
... .. 12IV. ..
... ..
18v.
keウョQpulNセNn@ D.;N SARAN..
... .
21DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Speculum ...
2. Cacing jant2n
...
"... ..
.3. Telur yang belum mat2ng hingga telur ber12rva
dengan pembesaran 400x ... ..
4. Telur berlarv2 dengan pembesaran 100x
...
5. Indulc cacing yang bunting, dengan telur berlarva di
25 25
26 26
dalam uterusnya ... "... 27
6.
7.
8.
Nikrofilaria deng2n pembesaran lOOx
Nikrofilaria dengan pembesaran 400x
Kutikula dengan garis transversal
..
..
.. .. .. .. .. .. .... ..
....
....
... ..
..
... ..
27 28 289. Bagian anterior cacing betina dengan pembesaran
200x ... 29
10. Bagian anterior c2cing betina dengan pembesaran
No. Ha1aman
Teks
1. Bentuk, Konsistensi, Ukuran dan Lokasi Bungku1
Onchocerca gi bsoni . . . • . . . 14
2. Ukuran Te1ur Cacing yang tidak Ber1arva ••..••••• 15
3.
4.
Ukuran Te1ur Cacing Ber1arva Panjang Larva (l4ikrofi1aria)
. .
. .
. .
. . .
.
.
.
.
.
. .
. .
.
.
.
.
.
. . .
.
. .
. .
. .
.
. . .
.
16
BAJa; I. PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang
Onchocerciasis pada sapi dan zebu yang disebabkan oleh
cacing Onchocerca gibsoni, merupakan penyakit parasiter
yang ditandai dengan terbentuknya bungkul pada jaringan
ikat dan jaringan dibawah kulit. Penyakit ini oleh banyak
kalangan kurang diperhatikan karena gejala klinis pada
he-wan yang terinfestasi hampir tidak ada, serta kerugian
eko-nomi yang ditimbulkan oleh cacing ini masih dalam
peneliti-an. Selain itu cacing tersebut tidak bersifat zoonosis.
Pada suatu peternakan sapi potong yang menjual hasil
produksinya dalam bentuk daging, serta perusahaan yang
da-lam proses produksinya mengikutsertakan daging, baik dada-lam
bentuk setengah jadi atau dalam bentuk jadi, kehadiran ー。イセ@
sit ini perlu mendapat perhatian, karena adanya
bungkul-bungkul cacing dapat menyebabkan dibuangnya sebagian
jari-ngan yang terinfestasi parasit ini. Daging yang mengandung
cacing tidak layak untuk dikonsumsi, walaupun cacing ini ti
dak bersifat zoonosis, kecuali bila dilakukan pembuangan
terhadap bungkul-bungkul cacing tersebut.
Di beberapa negara rnaju terutama di Australia, perhati
an terhadap penyakit ini semakin hari sernakin besar, karena
Australia merupakan negara pengekspor daging·ke berbagai ne
gara besar di dunia terrnasuk Amerika Serikat.
Informasi tentang cacing IDnchocerca gibsoni di negara
Berdasarkan kenyataan terse but dan juga atas anjuran dosen
pembimbing, timbul suatu pemikiran untuk meneliti
infesta-si cacing
Q.
gibsoni pada sapi potong di Indonesiakhusus-nya di Rumah Potong Hewan Kota Madya Bogor.
B. Tujuan Peneli tian
1. Untuk menghitung secara nyata prevalensi cacing
Onchocerca gibsoni di daerah Bogor, khususnya di
Rumah Potong Rewan Kota Madya Bogor.
2. Untuk mengetahui kondisi bungkul cacing Onchocerca
gibsoni •
3.
Untuk memperoleh data anatomi cacing Onchocercagibsoni, larva beserta telurnya.
C. Kegunaan Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini
adalah :
1. Memberikan data yang nyata dan otentik mengenai
prevalensi cacing Onchocerca gibsoni di Rumah
Po-tong Hewan Kota Madya Bogor.
2. Data-data tersebut diharapkan bermanfaat bagi
pe-rusahaan sapi potnng dan pepe-rusahaan dimana daging
terse but diolah menjadi bahan jadi atau bahan
se-tengah jadi.
3. Memberikan informasi kepada para peneliti sebagai
acuan dalam melakukan penelitian dimasa yang akan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Dalam perkembangannye nematoda dibagi due berdasarkan
pemi1ikan phasmid. Chitwood dan Chitwood (1973) membagi
nematoda menjadi dua kelompok yakni Phasmida dan Aphasmida
(Soulsby,1982). Namun sistem klasifikasi yang demikian
ini sudah jarang dipakai secara umum.
Klasifikasi menurut yamaguti (1961), Chitwood (1969),
dan Anderson et a1. (1974) adalah sebagai berikut (Soulsby,
1982) :
Filum Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Subkelas : Secernentea
Ordo : Spirurida
Superfamili Filaroidea
Famili : Onchocercidae
Genus Onchocerca
Spesies Onchocerca gibsoni
Dahulu spesies ini mempunyai banyak sinonim, sebelum
digunakan nama yang sekarang sebagaimana yang ditemukan
oleh Cleland dan Johnston (1910). Nama-nama yang pernah
digunakan pad a cacing ini antara lain, Filaria lienalis,
Stiles (1892); Spiroptera reticu1ata , Park (1892);
Strongylus SD, Bancroft (1893); sーゥイッーエ・イ。セL@ Cleland
(1907); Filaria gibsoni • Cleland et Johnston (1910);
gibsoni, Cleland (1910) dalam Reinecke (1983).
B. Morfologi dan Siklus hidup
Soulsby (1982) dan Seddon (1967) mengatakan bahwa
ca-cing Onchocerca gibsoni pertama kali ditemukan oleh Cleland
dan Johnston pada tahun 1910. Cacing ini menyerang sapi
dan zebu yang tersebar di daerah Australia, India,
Srilang-ka, Malaysia dan sekitarnya, Nigeria, Amerika Serikat dan
Afrika Selatan.
Cacing ini merupakan cacing nematoda dari famili Oncho
cercidae dan genus Onchocerca. Sebagaimana cacing lainnya
dalam famili tersebut, caeing ini mempunyai bentuk tubuh
yang panjang dan gilig. Cacing jantan panjang antara 30
53 mm dan cacing betina panjangnya adalah 140 - 190 mm,
te-tapi cacing betina ada yang dapat mencapai panjang 500 rom
atau lebih (Seddon, 1967; Brandy セ@ セ@ 1968; Miller,
1952). Caeing ini mempunyai kutikula dengan garis-garis
transversal, sayap-sayap lateral yang kecil dan 6-9 papil
pada masing-masing sisinya. Speculum tidak sarna besarnya,
berukuran 120-220 mikron dan 47-94 mikron, sedang
mikrofi-laria berukuran RセPMSUP@ mikron dengan lebar 3-4 mikron
(Lapage, 1956). Mikrofilaria tidak mempunyai sarung atau
selubung. Nenurut Nitisuwirjo, et al (1980), cacing ini
bersiiat ovovivipar, artinya caeing ini menghasilkan
5
Siklus hidup cacing ini diawali dengan keluarnya
lar-va dari bungkul dan ikut aliran limfe host. Hisapan
vek-tor cacing akan memindahkan larva kedalam tubuh vekvek-tor
sampai mencapai larva stadium infektif. Pada stadium
ter-sebut larva mengadakan migrasi ke bagian mulut vektor dan
siap untuk ditularkan kembali melalui gigitan. kemudian
didepositkan di dalam kulit. Melalui aliran limfe larva
mengadakan migrasi ke tempat predileksi, dimana mereka
menempati jaringan ikat atau di dalam sarang cacing yang
sudah ada (Blood
£i
al., 1981).Vektor penyakit ini adalah Culicoides pungens (Libby,
1975; Soulsby, 1965; Seddon, 1967; Hall, 1977; Dunn,
1978; Smith セ@ al., 1972), Simulium avidum. Simulium
marr-セL@ Simulium ochraceum (Reinecke, 1983) dan secara
labo-ratories larva cacing ini dapat ditularkan oleh
ForciDo-セ@ townsvillensis (Ottley et セ@ 1980). Selain itu
in-festasi parasit ini secara laboratories dapat ditularkan
dengan injeksi mikrofilaria ke dalam ali ran limfe host
(Beveridge et al., 1980).
C. Prevalensi Onchocerca gibsoni
Prevalensi cacing ini sangat bervariasi.
Seddon (1967) mengatakan bahvla prevalensi Onchocerciasis
di Australia berkisar antara 10% - 100%. Pad a pemeriksaan
yang dilakukan pada bulan agustus 1949 terhadap sapi
po-tong di berbagai Rumah Potong Hewan di berbagai negara
ba-gian di Australia menunjukkan keanekaragaman prevalensi
Prevale·nsi di negara bagian New South Wales berkisar
antara 10 - 75%, di Northern Territory mencapai 40% sedang
di Queensland berkisar antara 11 - 100%. Ladds et al.
(1979) mengatakan bahwa p evalensi cacing ini terhadap
sa-pi potong yang diperiksa pada bulan April 1977 sampai
bu-lan April 1978 (kecua1i bubu-lan Desember sampai bubu-lan
Pebru-ari) bervariasi dari tiap daerah. Prevalensi di Northern
Territory XXセ「L@ di Central Australia 74%, di North Western
Queensland 96%, North Eastern Queensland 91%, Queensland
85%, Kimberleys 87%, Southern Queensland 74%, Central New
South Wales 18%. lfoldsworth セ@ a1. (1985) mengatakan
bah-wa prevalensi rata-rata di.Australia 「・イォゥセ。イ@ 90%, sedang
Soulsby (1974) mengatakan bahwa prevalensi cacing ini umum
nya rendah, yakni berkisar antara 10 - 20%. Dan
prevalen-si di Townsvillenprevalen-sis rata-rata adalah 92% (Beveridge セ@
a1. , 1980).
D. Epidemio1ogi Infestasi Onchocerca gibsoni
Onchocerciasis yang disebabkan oleh cacing Onchocerca
gibsoni terjadi pada sapi dan zebu, ditemukan pertama kali
oieh Cleland dan Johnston pada tahun 1910.
Infestasi caeing ini pada tiap-tiap bangsa sapi
ber-beda, demikian pula.pada tiap-tiap musim, tiap-tiap daerah.
Ladds et a1., (1979) mengatakan bahwa perbedaan infestasi
caeing pada sapi tergantung pada lokasi dimana sapi
bera-sal, musim saat pemotongan, umur hewan, bangsa dan jenis
7
derajat infestasi, tetapi juga mempengaruhi jumlah bungkul
tiap 「セァゥ。ョ@ dada, ketebalan bungkul, berat bungkul dan
perubahan patologi anatomi yang ada pada bungkul.
Perbedaan daerah asal hewan mempengaruhi infestasi 」セ@
cing rata-rata untuk tiap hewan. Distribusi infestasi teL
sebut bervariasi antar negara bagian di Australia, mulai
dari 18% infestasi dengan 0,4 bungkul tiap bagian dada
pa-da negara bagian New South Wales, sampai 96% infestasi
de-ngan rata-rata 3,6 bungkul untuk tiap bagian dada pada
ne-gara bagian North Western Queesland. Persentase infestasi
tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah bungkul untuk
tiap bagian dada. Selain itu umur dan besar bungkul
ter-tinggi di Central Australia dan terendah di Northern Terri
tory dan North Eastern Queensland.
Perbedaan musim mempengaruhi infestasi rata-rata tiap
hewan dan jumlah bungkul pada tiap bagian dada. Infestasi
dan jumlah bungkul terendah ditemukan pada waktu antara
musim gugur dan musim dingin, musim semi serta meninggi ーセ@
da musim panas.
Bangsa sa pi mempengaruhi derajat konsistensi 「オョFセオャ@
dan berat bungkul. Pada ketiga jenis sapi yang pernah
di-teli ti, bungkul yang terdapat pada sapi Brahman mempu11Y2i
konsistensi dan berat yang lebih tinggi dari pada sapi Bri
tish dan sa pi Eastar, sedeng persentase infestesi pada
ke-tiga jenis sepi ini tidak berbeda.
Pada umumnya pada umur sapi yang lebih tua prevalensi
セdエオォ@ tiap bagian dada, serta kekerasan bungkul, karena ュセ@
kin tua sapi dan umur bungkul, makin banyak terjadi proses
degenerasi dan pengapuran.
E. Bungkul Onchocerca gibsoni
Studi tentang infestasi cacing ini pada umumnya
dila-kukan berhubungan dengan ciri セセ。ウ@ bungkul, musim saat
di-potong, bangsa sapi, jenis kelamin dan umur sapi yang dip£
tong.
Pada mU1anya mikrofi1aria yang masuk da1am tubuh host
mengembara dalam aliran 1imfe, kemudian sampai pada tempat
predileksi dan beristirahat sehingga akan terbentuk
bung-kul-bungkul (Lapage, 1956), Pernbentukan bungkul tersebut
sebagai reaksi tubuh terhadap adanya toxin yang dihasilkan
oleh cacing tersebut sebagai hasi1 sekresinya (Parkinson,
1947).
Noharned (193l) yang dikutip dalarn Soulsby (1965)
rne-ngatakan bahwa pada awal terbentuknY2 bungkul, kepala
ca-cing terikat dan dikelilingi oleh tenunan fibrosa dan
ber-turut-turut pad a bagian tubuh yang lain rnengalarni proses
yang sama, bersarnaan dengan kejadian itu cacing akan
meng-gu1ung. Da1am perneriksaan patologi anatomi akan tampak
bshHa cacing terletak dida12.rn tero,"ongan yang ada di dalam
bungkul tersebut (Blood, 1981). Pada tiap tahap ー・イォ・イョ「。セ@
ngan bungkul, ketebalan tenunan fibrosa dan ォ・ォ・イ。ウ。イセケ。@
fibrosa yang mengelilinginya serta makin keras kapsul dan
bungkul tersebut.
Bungkul-bungkul ters ebut umumnya mempunyai ukuran
9
2 - 3,5 em, tetapi pernah pula ditemukan bungkul yang
mem-punyai ukuran 11 x 8 em, sedang bungkul yang memmem-punyai
be-sar lebih kecil dari biji kacang jarang ditemukan (Seddon,
1967).
Bungkul cacing dapat ditemul<:an di jaringan ikat di
daerah intermuscular dari otot-otot dada, bagian lateral
dari persendian femoro-tibiale, di sekitar musculus
Pecto-ralis superfisialis (Seddon, 1967; Kral, 1953; Drabble,
1965; Thornton, 1957; Hunggerford, 1975; Blood, 1981).
Selain itu bungkul tersebut dapat pula ditemukan pada
per-batasan antara bagian dada dan leher (Ladds et al •• 1979;
Nitisuwirjo et al •• 1980). Umumnya bungkul tersebut
dite-mukan di daerah dada, tepatnya di daerah segitiga antara
tu13ng rusuk 4 dan 6 dengan cartilago costae (Seddon, 1967;
Ladds et セ@ 1979; Thornton, 1957; Hunggerford, 1975).
Bentuk-bentuk bungkul ada yangbulat, lonjong dan pipih.
Bungku1 yang berbentuk bulat dan lonjong umumnya ditemukan
di jaringan ikst, tetapi dape.t pula di temukan bungkul yang
berbentu.l< pipih bila bungkul terse but tergencet oleh dua
musculus yang berdempetan. Bungkul yang berbentuk pipih
umumnya ditemukan di 「。セ。ィ@ kulit (Hunggerford, 1975).
Thornton (1957) mengatak,m b2.hw2. pad a stadium awa1 P.§.
rubahan pato1ogi dari bungkul tersebut adalah terdapatnya
caseosa dan akhirnya menjadi bentuk yang mirip dengan
le-sio tuberculose. Pada stadium akhir parasit tersebut
ter-bungkus oleh suatu bentukan yang berwarna kuning sebesar
telur burung merpati atau lebih besar lagi dan bagian
lu-arnya ditutupi oleh jaringan fibrosa yang berwarna putih
dan pad a tengah-tengahnya terdiri dari jaringan yang lunak
seperti bunga karang yang satu atau dua ekor cacing
teri-kat di dalamnya. Akhirnya bungkul dan cacing mengalami
proses degenerasi dan calsifikasi (Lapage, 1956).
Peruba-han istimewa yang terjadi pada bungkul adalah intranoduler
pigmentasi, calsifikasi intranoduler dan necrose central.
Perubahan-perubahan tersebut lebihmenyolok pad a bungkul
yang mengandung cacing yang mati dan juga lebih besar
hu-bungannya pad a cacing yang bunting daripada yang tidak
bunting.
Jenis kelamin cacing yang ada di dalam bungkul bisa
bervariasi dan kombinasi jenis kelamin memoengaruhi keteba
.
-Ian kapsul serta ada tidaknya mikrofilaria. Pad a bungkul
yang mengandung cacing dengan jenis kelamin jantan dan
be-tina mempunyai kapsul yang lebih tebal dari pada bungkul
yang hanya mengandung Cilcing betina saja (Seddon, 1967).
Ladds セ@ a1. (1979) mengata.kan bahwa cacing yeng ada. di de
lam bungkul ada yang jantan dan betina, ada yang betina sa
ja, tetapi tidak ー・イョセセ@ ditemukan suatu bungkul yang
me-ngandung cacing jantan saja, dan mikrofilaria dapat
dite-mukan apabila cacing dalam bungkul tersebut adalah jantan
11
Nitisuwirjo et a1. (1980) mengatakan bahwa distribusi
mikrofi1aria di dalam bungkul berhubungan dengan ketebalan
kapsul. l'Iikrofilaria dapat ditemukan pada eksudat fibrin2
sa, intra uterine, stroma bungkul dan kapsula fibrosa,
te-tapi terbanyak ditemukan di dalam intra uterine. Sedang
dalam tubuh host mikrofilaria dapat ditemukan di seluruh
pembuluh limfe host, termasuk di dalam scrotum, dan jarang
、ゥエ・ュオセ。ョ@ di dalam pembuluh darah dan organ internal
(Akusu et al., 1983; Blood セ@ el., 1981).
Kehadiran bungkul tersebut di dalam tubuh host akan
menyebabkan kerugian dengan dibuangnya sebagian jaringan
yang terinfestasi (Seddon, 1967), dan akan merusak dari
T.empat dan Waktu Peneli Han
Penelitian dilakukan di Rumah Potong H:=wan (RPH) Kota
Madya Bogor dan Laboratorium Belminthologi Fakultas
Kedok-teran Bewan Institut Pertanian Bogor selama satu bulan,
yakni mulai tanggal 1 Pebruari 1988 sampai dengan tanggal
29 Pebruari 1988.
B. Materi dan Cara Penelitian
Cara mendiagnose adanya cacing Onchocerca gibsoni pada
penelitian ini yakni dengan menemukan bungkul-bungkul
(sa-rang) cacing pada tempat-tempat predileksi cacing ini.
Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sa pi potong Ongole sebanyak 70 ekor yang dipilih secara
acak sederhana. Pemeriksaan ante mortem dilekuken dengan
melakukan inspeksi dan palpasi pada tempat-tempat
predilek-si. Pemeriksaan post mortem dilakw,an dengan cara
melaku-kan palpasi dan penyayatan ditempat-tempat predileksi untuk
menemukan bungkul-bungkul cacing tersebut. Bungkul-bungkul
yang ada dimasukkan kedalam formalin 10% dan diperiksa di
laboratorium Belminthologi Fakultas Kedokteran Bewan IPB.
,Pemeriksaan terhadap bungkul cacing meliputi pemeriksaan
keadaan luar bungkul dan keadaan dalam bungkul, termasuk
pemeriksaan terhadap cacing itu sendiri. Pemeriksaan
ca-cing dari sarangnya umumnya sulit dilakukan dan kalaupun
ャセ@
Pemeriksaan keadaan luar bungkul meliputi pemeriksaan
konsistensi, diameter dan keadaan tenunan fibrosa.
Peme-riksaan terhadap ャ。セャ。@ dan telur cacing dilakukan terhadap
eksudat fibrinosa yang ada dalam bungkul エ・イウ・lセエ@ dan kalau
perlu pemeriksaan terhadap telur yang berlarva dilakukan
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.7.
8.9,
10.
11.12.
13.
14.
15.
16.
Tabe1 1. Bentuk, konsistensi, ukuran dan lokasi bungku1 Onchocerca gibsoni
Bentuk bungkul Konsistensi Diameter bungkul lokasi
Bulat Lunak
0,5
em DadaBulat Lunak
0,7
em"
Bulat Lunak
0,7
em"
Pipih Lunak
0,9
emBulat Lunak
1
em DadaJaulat Lunak
1
em"
Oval Keras
1,5
em"
Oval Keras
1.5
em SubcutisOval Keras
1,5
em DadaPipih Ker"'s
1,7
em"
Bulat . Keras
1,8
em"
Bulat Keras
1,9
em"
Pipih Keras
1,9
em SubcutisPipih Keras
1,9
em"
Pipih Keras
2,0
em DadaNo.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.12.
13.
Tabel 2. Ukuran telur cacing yang tidak berlarva
Panjang Lebar No. Panjang Lebar
(mikron) (mikron) (mikron) (mikron)
30,6
18,36
14.
33,66
18,36
30,6
12,24
15.
33,66
18,36
33,36
18,36
16.
39,78
18,36
27,54
12,24
17.
33,66
12,24
33,66
18,36
18.
33,66
15,3
39,78
21,42
19.
30,6
18,36
39,78
21,42
20.
39,78
15,3
36,72
15,3
21.
33,66
18,36
24,48
12,24
22.
33,66
15,3
30,6
15,3
23.
33,66
15,3
33,66
15,3
24.
37,72
15,3
30,6
15,3
25.
36,72
15,3
30,6
15,3
Tabe1 3. Ukuran te1ur cacing ber1arva
No. ー。ョェ。ョセ@
Lebar
No.Panjang
Lebar
(mikrom
(mikron)
(mikron)
(mikron)
1.
45,9
30,6
20.
42,84
27,54
2.
39,78
27,54
2l.
39,78
27,54
3.
39,78
30,6
22.
42,84
30,6
4.
42,84
30,6
23.
42,84
30,6
5.
39,78
30,6
24.
39,78
27,54
6.
39,78
27,54
25.
36,72
27,54
7.
45,9
27,54
26.
45,9
27,54
8.
39,78
24,48
27.
45,9
33,66
9.
45,9
27,54
28.
39,78
30,6
10.
39,78
27,54
29.
42,84
30,6
11.
45,9
30,6
30.
45,9
27,54
12.
42,84
30,6
31.
45,9
30,6
13.
39,78
27,54
32.
48,96
30,6
14.
39,78
27,54
33.
39,78
27,54
15.
36,72
27,54
34.
42,84
27,54
16.
42,84
30,6
35.
48,96
30,6
17.
45,9
30,6
36.
52,02
30,6
18.
45,9
30,6
37.
42,84
30,6
17
Tabel 4. Panjang larva
No. Panjang No. Panjarh.
(mikron) Cmikron.)
1.
262,5
18.
232,22
2.
262,5
19.
218,56
3.
245,88
20,
273,2
4.
280
2I.
286,86
5.
245,88
22.
259,54
6.
245,88
23.
300,52
7.
259,54
24.
273,2
8.
232,22
25.
286,86
9.
273,2
26.
286,86
10.
232,2
27.
300,52
II.
300,52
28.
273,2
12.
259,54
29.
273,2
13.
245,88
30.
259,54
14.
232,22
3I.
273,2
15.
245,88
32.
273,2
16.
232,22
33.
300,52
Studi tentang infestasi Onchocerca gibsoni pada sapi
potong Ongoleyang dilakukan di Rumah Potong Bewan Kota
Madya Bogor memberikan iformasi yang penting tentang
ca-cing tersebut di Indonesia. Walaupun peneli tian RPH
menggunakan metode yang praktis untuk dapat mendeteksi 。、セ@
nya bungkul cacing, namun metode tersebut dapat digunakan
untuk kondisi RPH di Indonesia.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa intensitas infes
tasi umumnya rendah, karena dari 70 ekor sapi Ongole yang
dipotong, prevalensinya hanya 12,86% dengan rata-rata 0,23
bungkul tiap bagian dada. Rendahnya prevalensi ini selain
karena memang derajat infestasinya rendah, mungkin pula
faktor metode yang digunakan untuk menemUkan bungkul pada
sapi masih kurang tepat. Berbeda dengan metode yang
dila-kukan selama penelitian, metode yang dikembangkan di
Aus-tralia adalah dengan cara mengadakan inspeksi secara kasar
terhadap sapi yang akan disembelih, memberi tanda terhadap
sapi yang telah disembelih, yang sebelumnya diberi
tanda-tanda tertentu, kemudian mengadakan pemeriksaan di ruang
pernisahan antara tulang dan daging. Perneriksaan dilakukan
pada daerah dada dimana seringkali bungkul-:bungkul
ditemu-kan dibawah tulang rusuk, terutama pada daerah segitiga an
tara tulang rusuk 4 sarnpai 6 dengan cartilago costae.
Metode yang demikian itu sangat tidak mungkin dilakukan di
19
antara tulang rusuk dengan daging yang resmi dikerjakan
oleh pegawai Rurneh Potong Hewan setempc1t. Kesuli tan ini
merupakan kendala untuk menemukan bungkul-bungkul eaeing
seeara tepat.
Bungkul-bungkul eaeing yang diteliti urnurnnya mempunyai
ukuran yang eukup keeil, diameternya adalah
1,42
±
0,54
dengan selang antara
0,5
sampai2,2
ern (tabell).Diameter bungkul yang keeil mungkin karena urnur bungkul
yang masih muda atau faktor-faktor lain yang mempengaruhi
besar tidaknya bungkul. Umumnya makin tua urnur bungkul,
makin besar diameter bungkul yang ada dalam tubuh host,
apalagi bila didalam 「オョFセオャ@ mengandung eaeing jantan dan
betina. Bungkul-bungkul yang pernah diteliti oleh ahli
mempunyai diameter rata-rata 2 -
3,5
em, sedang bungkulyang mempunyai ukuran lebih keeil dari biji kaeang jarang
ditemukan.
Lokasi bungkul yang ditemukan selama penelitian
menun-jukkan bahwa 75% bungkul ditemukan pada bagian dada inter
museuler dan sisanya pada bagian dada subeutan (tabel
1).
Hila metode yang digunakan dengan mengadakan pemisahan
tu-lang dan daging, mungkin perbandingan itu akan berubah.
Sedang dengan inspeksi dan palpasi pada daerah predileksi
lainnya seperti pada bagian lat9.ral dar.i persendian femoro
tibiale dan bagian lateral dari M. Pectoralis Superfisialis
serta pad a batas antara daerah dada dan leher belurn
ditemu-kan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa predileksi utama
sUbeutan
Pada umumnya konsistensi bungkul yang didapatkan sela-ma penelitian adalah keras (67%) sedang sisanya lunak
(ta-bell). Hal ini karena pada bungkul tersebut sudah berja-lan proses perkapuran yang dimulai dengan degenerasi dari eaeing tersebut. Sedang sisanya mungkin belum mengalami proses degenerasi dan perkapuran.
Gaeing iIii merupakan eaeing yang mempunyai telur yang mengandung larva di dalamnya. Diduga proses ini diawali dengan terbentuknya telur yang belum matang, kemudian sedi-kit demi sedisedi-kit berkembang hingga terbentuknya larva dida-lam tersebut (gambar 2). Pada telur yang tidak mengandung larva panjangnya 24,48-39,78 mikron dengan lebar ャRセRQLLM
21,42 mikron (tabel 2), dan ukuran telur yang berlarv" an-tara 39,72 - 52,02 mikron dan lebarnya 24,48 - 33,66 mikTon
BA.B V. KESIl'JPULAN DAN SARAN
Pada peneli tian yang dilakukan di RPH Kota Madya Bogor
mengungkapkan sedikit data tentang eaeing ini, baik
preva-lensi maupun data anatomi. Prevapreva-lensi eacing ini pada sapi
Ongole rendah, yakni 12,86% dengan satu ekor dapat
mengan-dung 0,23 bungkul. Bungkul-bungkul tersebut urnu=ya di
te-mukan di daerah dada pada bagian intermuseuler dan
sebagi-an kecil ditemuksebagi-an didaerah subcutsebagi-an.
Perkembangan mikrofilaria, dimulai terbentuknya telur
hingga terbentuknya telur berlarva didalam uteru5 induk.
hYJlirnya larva dikeluarkan dari telur dan berkurnpul
dilam bungkul dan kemudian menerobos bungkul ikut ali ran
da-rah dan limfe. Dalam aliran dada-rah dan limfe, rnikrofilaria
s·iap untuk di tularkan kembali oleh vektor eaeing ini,
yak-ni Simulium 212. dan Culieoides 212.. Didal:om tubuh nyamuk
mikrofilaria berkembang menjadi stadium infektif.
Oleh karena terjadi perkembangan telur dari bentuk
yang belurn matang hingga telur yang mengandung larva,
ma-ka ukuran telur tersebut berbeda, dan telur yang
mengan-dung larva mempunyai ukuran yang lebih besar.
vlalaupun bungkul-bungkul harus dibuang dari jaringan
namun sampai saat ini para peneliti mengatakan bahwa
ca-eing ini tidak bersifat zoonosis. Alasan pembuangan
ha-nya berdasarkan pertimbangan estetika makanan. Gejala
kli-nis yang di timbulkan oleh caeing ini hanya terlihatnya
Kcrenc metode yang digunckcn mcsih scngat sederhanc,
dan informasi tentang cacing ini di Indonesic masih
sedi-kit, maka diharcpkan dikembangkan suatu metode yang
prak-tis dan efisien untuk menemukcn bungkul cacing ini yang
cocok dengan kondisi RPH di Indonesia. Selain itu
diha-rapkan adanya penelitian yang mengungkapkan tentang
geja-18 klinis hewan tersebut, pengBruh infestasi cacing
terse-but terhadap pertumbuhcn be rat badan, prevalensi ycng
ber-hubungan dengan batas daerah (lokasi), sex, umur, musim
DAFTAR PUST.i'.KA
Akusu, M.O; Ikede, B.O;
Onchocerciasis in a nary Journal, 139 :
Akpodge, J.U. 1983. Scrotal Bull in Nigeria. British Veteri-220 - 221.
Beveridge, I; Kummerow, EL; Wilkinson, P. 1980.
Expe-rimental Infection of Laboratory Rodents and Calves 'vi th I'likrofi13ria of Onchocerca gi bsoni • Tropenmedi-zin und Parasitologie, 31 : 82 - 8b.
Beveridge, I; kセュ・イッキL@
EL;
Wilkinson,P.
1980.Obser-vations on Onchocerca gibsoni and Nodule Development in Naturally Infected Cattle in Australia. Tropenme-dizin und Parasitologie, 31 : 75 - 81.
Blood, D.C; Radostits, O.M. 1981. Veterin5ry Medicine.
5th. Ed. Bailliere Tindall, P.796 - 797.
Brandy, Paul J; Migaki,
セャ・。エ@ Hygiene. 3th. phia, P.148 - 149.
George; Taylor, Kenneth E. 1968.
Ed. Lea and Febiger.
Philadel-Cheng, Thomas C. 1978. General Parasitology. 2th. Ed.
Academic Press. New York, p.667.
Drabble, J. 1965. Text Book of Meat Inspection. 9th.
Ed. Halstad Press. Sydney. P.377 --378.
Dunn, Angus M. 1978. Veterinary Helminthology. 2th.
Ed. William Heinemann Medical Books LTD. London,
P.79 - 80.
Hall, HTB. 1977.
the Tropics. Diseases and Parasites of Livestock in Longman Group LTD. London, P.59 - 61.
Holdsworth, P.A; Moorhouse, D.E. ni in the Brisket of Cattle. Journal, 62 : 26 - 27.
1985. Onchocerca
gibso-Australian Veterinary
Hunggerford, T.G. 1975. Diseases of Livestock. 8th.
Ed. Mc. Graw
961. - Hill Books Company. Sydney, P.960
-Kral, Frank and Benjamin J. Novak. 1953.
matology. J.B. Lippincott Company.
P.242 - 243.
ca gibsoni Infection in Cattle. Austrelia Veterinary JOurnal, 55 : 455 - 462.
Lapage, Geoffrey. 1956. Monnigs Veterinary Helminthology and Entomology. 4th. Ed. Bailliere Tindall and Cox. London, P.279 - 281.
Libby, James A. 1975. セャ・Rエ@ Hygiene. 4t.h. Ed. Lee and Febiger. Philadelphia, P.I08 - 109.
セャゥャャ・イL@ A.R.
biger. Philadelphia, P.92 - 93. 1952. Meat Hygiene. 2th. Ed.
Lea and
Fe-Nitisuwirjo, S; Ladds, P.W. 1980. A Quantitative Histo-pathological Study of Onchocerca gibsoni Nodules in Cattle. Tropenmedizin und Perasitologie, 31 : 467 -474.
Ottley, M.L; Moorhouse, D.E. 1980. Laboretory Transmis-sion of Onchocerca gibsoni by Forcipomvia (Lasiohelea)
エッセセウカゥャャ・ョウゥウN@ Australia Veterinary Journal, 56 :
559 - 560.
Parkinson, G.S; Shaw, Kathlee M. 1947. A Synopsis of Hy-giene. J. and A Churchill LTD. London, P.419 - 420. Reinecke, RK. 1983. Veterinary Helminthology. Butterworth
Publishers PTY LTD. Durben/Pretoria, P.3l3 - 315. Seddon, HR. 1967. Helmith Infestations. 2th. Ed.
Com-monwealth of Australia Departement of Health. Austra-lia, P.198 - 203.
Smith, Hiltonatmore; Jones, Thomas Carlyle; Hunt, Ronald duncan. 1972. Pathology. 4th. Ed. Lea and Febi-ger, P.778, 1034.
Soulsby, E.J.L. 1965. Text Book of Veterinary Clinical Parasitology. Volume I Helminths. Black Well Sci. Pub. Oxford, P.759 - 761.
Soul!;lby, E.J.J.. 1982. Helminths, ArthrOPods .and Protozoa' of Domesticated Animal. 7th. Ed. Bailliere Tindall. London, P.323 - 324.
Soulsby, E.J.L. 1974. Parasitic Zoonosis Clinical and Experimental Studies. Academic Press. New York, P.288 - 289.
Gambar 1. Speculum
Ganbar Telur yang belum ffiatan,s hingga berlarv8 d eng8D
pembesaran L,OOx
Gs.mbar 5. Incluk yang bunting, dengan telur berL:rvo
di ds.lam uter';snys..
GBmbBr 7. MikrofilBriB dengan pem'::1esaran 400x
GBmbar 8. Kutikula dengBn garis transversal
, ,
, ,,:..
Lセ@
セB@ ... MLMLHBセM
.
.
-"-セ@.
" セ@
Gambar 9. B&gian anterior cacing dengan pembesaran 200x
INFESTASI
Onchocerca gibsoni
PADA SAP I POTONG DI RUMAH POTONG HEWAN
KO,TA MADYA BOGOR
-S K R I P -S I
oleh
NUR HIDAYAT
B 20.0835
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
RINGlQl.SAN
NUR HIDi'cYAT. Infestasi Onchocerca gibsoni peda Sapi Potong
di Rumah Potong Hewan Kotamadya Bogor (Di b?wah bimbingan
SANUBARI ATMOWISAsrRO).
Infestasi Onchocerca gibsoni terjadi p'3da sapi flan Zebu
dan menimbulkan bungkuIbungkul pada intermuskuler dada,
sub-cutan dada, ー・イュャセ。。ョ@ eksternal dari persendian
femoro-tibi-ale, daerah superfisial dari
M.
Pectoralis superfisialisserta pac.a perb8tas2n de.erah leher dan dade.
SikIus cacing ini diawali dengan keluarnye larva dari
cacing betina, kemudian menembus bungkul, ikut aliran darah
dan limfe, Hisapan vektor akan memindahkan mikrofilaria
ke-dalam tubuh vektor hingge mencapai stadium infektif. Pada
stadium tersebut larva mengadekan migrasi kemulut vektor
dan siap untu.1;: di tularkan kembali melalui gigi tan, kemudian
didepositkan ke dalam kulit host. Melalui aliran darah dan
limfe larva mengembars. dan menempati jaringan ikat.
Vektor penyaki t adalah Culicoides pungens , Simulium avidum
Simulium mansoni, Simulim ochraceum dan secara laboratories
dapat ditularkan oleh Forcinomyia (Lasiohelea)
townsvillen-sis.
Prevalensi 」ZZZセL」ゥョァ@ ini cul<up 「・イカRLイセLS@ si. Faktor-faktor
yang mempengaruhi prevelensi tersebut adalah musim
pemoto-ngan, lokasi asal hewan, sex, LLTllUr, dan b"ngsa sapi.
Prevalensi caeing di Australiii pada tahun 1949, mu1ai
10%-100%, sedang tahun 1978 antano 18% sampai 96);. Sedang di
nggunakan 70 ekor sapi Ongole. Pemeriksaan dilakuken
de-ngen cara inspeksi, pelpasi dan insisi pada temuat yang di
duga sebagei tempat predileksi cacing tersebut.
Basil peneli tian menunjukkan be.hwa pre'!:) lensi caeing
ini eukup rendah dan predileksi utama pc:da bagian intermus
INFESTASI Onchocerca gibsoni
PADA SAPI POTONG DI RUMAH POTONG REvlA.N KOTA MADYA HOGOR
Oleh
llJUR RIDA YAT.
H20. 0835
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar DOKTER HEWAN
pada
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS KEDOKTERtlli HEWAN INSTITUT PERTA.NIAN BOGOR
FAKULTAS KEDOKTERP-.N HEI'IAN
JUDUL SKRIPSI : INFESTASI Onchocerca gibsoni
PlillA SAPI POTONG DI RlITllAH POTONG HEWAN
KOTA MADYA BOGOR
NAMA M.4HASISWA
·
·
N U R HIDAYATNONOR POKOK
·
·
B20. 0835Disetujui
Bogar,
,th-
,y- -
1988Drh. セNANGャャjbari@ ATHOI'IISASTRO
RlWAYAT HIDUP
Penu1is di1ehirken pede tengge1 9 Desember 1964 di kセ@
cematan Besuki Kabupaten Situbondo Jawa Timur, merupakan
anak ke dua dari tiga bersaudara dari Ramanda t-1ohammad
Ha-fid dan lbunda Siti t-1ariyah.
Pada tahun 1977 ia 1u1us dari SON Besuki II Kecamatan
Besuki Kabupaten Si tubondo, kemudian melanjutkan ke St·1PN I
Situbondo dan 1u1us pade tehun 1980. Tahun 1980 masuk ke
SMJ,N II Malang Kota Madya Ma1ang sampai tahun 1983.
Pada tahun 1983 diterima di Institut Pertanian Bogor
melalui Proyek Perintis I dan tahun 1984 terdaftar sebagai
mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Gelar
Fuji ウセオイ@ penulis panjatkan ke hadirat Allah swt, atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat
un-tuk memperoleh gelar dokter hewan pada Fakultas Kedokteran
Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis
sam-paikan kepada Bapak Drh. Sanubari Atmowisastro, staf ー・ョァセ@
jar 1aboratorium He1mintho1ogi Jurusan Pasarito1ogi dan
Pa-to1ogi, yang membimbing dan mengarahkan penu1is mu1ai dari
persiapan hingga terselesainya skripsi ini. Ucapan terima
kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas
Pe-ternakan Kota Madya Bogor beserta staf, yang.turut membantu
se1ama penelitian berlangsung.
Penu1is menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih
jauh dari sempurna, karena itu sega1a kritik dan saran
un-tuk perbaikan se1anjutnya sangat diharapkan.
Walaupun. demikian penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi yang memerlukannya. Amin.
Bogor, Maret 1988
DAFTAR lSI
Halaman
KA'l'A PENGid\iTAR
...
ixDAFTAR lSI
...
xDAFTAR GAMBAR
...
xiDAFTAR TABEL
...
xiiI. PENDAHULUAN
..
... ..
1A. Latar Belakang Penelitia!l ..
... ..
1B. Tujuan Penelitian
..
....
"... ..
2c.
Kegunaan Penelitian..
.. ....
.. .. .. ..
....
....
.... ..
.. .. .... .. .. ..
2II. TINJAUAN PUSTAKA
..
.. .. .. .. .. ..
.. .. .. ..
.. ..
..
.. .. .. .. ..
.... ..
..
.. .. ..
..
..
..
3Klasifikasi
...
3B. Morfologi dan Siklus Hidup
..
... ..
4c.
Prevalensi Onchocerca gibsoni..
... ..
5D. Epidemiologi Infestasi Q. gibsoni
.. ... ..
6E.
Bungkul Q. gibsoni..
... ..
8III. BAKf\.N DAN METODE
..
... ,.... ..
12Tempat dan Waktu Penelitian
...
12B. Materi dan Cara Penelitian
..
... .. 12IV. ..
... ..
18v.
keウョQpulNセNn@ D.;N SARAN..
... .
21No. Halaman
1. Speculum ...
2. Cacing jant2n
...
"... ..
.3. Telur yang belum mat2ng hingga telur ber12rva
dengan pembesaran 400x ... ..
4. Telur berlarv2 dengan pembesaran 100x
...
5. Indulc cacing yang bunting, dengan telur berlarva di
25 25
26 26
dalam uterusnya ... "... 27
6.
7.
8.
Nikrofilaria deng2n pembesaran lOOx
Nikrofilaria dengan pembesaran 400x
Kutikula dengan garis transversal
..
..
.. .. .. .. .. .. .... ..
....
....
... ..
..
... ..
27 28 289. Bagian anterior cacing betina dengan pembesaran
200x ... 29
10. Bagian anterior c2cing betina dengan pembesaran