ANALISIS PERBEDAAN ORIENTASI PERTUMBUHAN PADA
USAHA KECIL DI BOGOR
NAWAZILAH DIATMOKO SEPUTRA
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANEJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Perbedaan Orientasi Pertumbuhan pada Usaha Kecil di Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2013
ABSTRAK
NAWAZILAH DIATMOKO SEPUTRA. Analisis Perbedaan Orientasi Pertumbuhan pada Usaha Kecil di Bogor. Dibimbing oleh AMZUL RIFIN.
Usaha kecil menjadi bagian penting dari sistem perekonomian nasional, tetapi cukup banyak usahanya tidak bertahan lama karena kurang baiknya manajemen dari
owner-manager usaha tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian mengenai pertumbuhan usaha kecil agar owner-manager dapat fokus terhadap faktor-faktor pertumbuhan usaha kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan yang kurang berorientasi pertumbuhan serta faktor kunci manajerial yang memengaruhi usaha kecil pada sektor agribisnis yang berorientasikan pertumbuhan berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil. Wawancara langsung dilakukan kepada owner-manager usaha kecil di wilayah Bogor dengan metode purposive sampling,
sedangkan metode analisis diskriminan digunakan untuk mengidentifikasi pembeda usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan, serta analisis diskriminan stepwise digunakan untuk mencari faktor kunci atau pemilihan terbaik sebagai pembeda kedua grup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan yaitu misi, visi strategis, jaminan pasokan sumberdaya, pengembangan komitmen pada pelanggan, kualitas, kemampuan memimpin perubahan, dan pengambilan tindakan. Sementara faktor misi merupakan faktor kunci manajerial usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan.
Kata kunci : diskriminan, kewirausahaan, owner-manager, pertumbuhan usaha kecil
ABSTRACT
NAWAZILAH DIATMOKO SEPUTRA. Analysis of Differences in Orientation to Small Business Growth in Bogor. Supervised by Amzul Rifin.
Small business has an important role in national’s economy system. On the other
side, some of the small businesses did not exist for a long term because of the owner-manager lack of management ability. Therefore, research regarding small business growth is needed so the owner-manager can focused on the factors that influence the growth of small business. This research is aimed to identify the differencing factors between the growth oriented and the less growth oriented small business, and the small business managerial key factors on agribusiness sector which is growth oriented based on six key dimensions of small business high performance. Direct interview was conducted to the owner-manager of small businesses in Bogor, with purposive sampling method. Discriminant analysis method is used to identify the difference between of growth oriented and less growth oriented small business, meanwhile stepwise discriminant analysis is used to find the difference key factor between the two groups. The result showed that there were seven differentiating factors between the growth oriented and less growth oriented small business, which are mission, vision, strategies, resource supply assurance, customer commitment development, quality, alteration leadership ability, and execution. Meanwhile the small business managerial key factors which is growth oriented is the mission factor.
ANALISIS PERBEDAAN ORIENTASI PERTUMBUHAN PADA
USAHA KECIL DI BOGOR
NAWAZILAH DIATMOKO SEPUTRA
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANEJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Perbedaan Orientasi Pertumbuhan pada Usaha Kecil di Bogor
Nama : Nawazilah Diatmoko Seputra NIM : H34090120
Disetujui oleh
Dr Amzul Rifin SP, MA Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2013 sampai Juli 2013 ini ialah kewirausahaan, dengan judul Analisis Perbedaan Orientasi Pertumbuhan pada Usaha Kecil di Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Amzul Rifin SP, MA selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan arahan kepada penulis selama penyelesaian skripsi ini. Terima kasih juga kepada Ir Burhanuddin, MM dan Ir Juniar Atmakusuma, MS selaku dosen penguji skripsi atas kritik dan saran yang diberikan kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Yusalina selaku wali akademik yang senantiasa mengarahkan dan membimbing penulis selama menjalani perkuliahan. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada pihak Dekranasda Kota Bogor dan Incubie IPB yang telah membantu penulis selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayahanda Sukidi, S.Sos dan ibunda Kholilah, kakak Khodifika Aditiawarman Lilhasbi dan adik Afriazi Atmaza, serta seluruh keluarga, atas segala motivasi, doa dan kasih sayangnya. Terima kasih juga penulis ucapan kepada Hardiyanti Nurillah, S.Si yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan bantuan dalam banyak hal. Terakhir penulis sampaikan salam semangat dan terima kasih atas segala dukungan dan bantuan dari rekan-rekan Agribisnis 46, Alumni SMAN 1 Ciputat di IPB atas kebersamaan dan kerjasamanya selama penulis kuliah di Departemen Agribisnis.
Semoga skripsi ini bermanfaat.
Bogor, Oktober 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN x
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 6
Ruang Lingkup Penelitian 6
TINJAUAN PUSTAKA 6
Penelitian Terdahulu 6
Keterkaitan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang akan Dilakukan 9
KERANGKA PEMIKIRAN 10
Kerangka Pemikiran Teoritis 10
Kerangka Pemikiran Operasional 18
METODE PENELITIAN 20
Lokasi dan Waktu Penelitian 20
Jenis dan Sumber Data 20
Metode Penentuan Responden 20
Metode Pengumpulan Data 21
Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 21
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 25
Karakteristik Wilayah 25
Karakteristik Usaha Kecil Sektor Pengolahan Agribisnis di Wilayah Bogor 26
HASIL DAN PEMBAHASAN 27
Uji Validitas dan Realibilitas Kuesioner 27
Pengelompokkan Owner-manager Berdasarkan Orientasi Pertumbuhan Usaha
Kecil 27
Karakteristik Responden/Owner-manager 29
Karakteristik Usaha Kecil 32
Faktor-faktor Pembeda Usaha Kecil Berorientasi Pertumbuhan dan Kurang
Berorientasi Pertumbuhan 35
Faktor Kunci Manajerial Usaha Kecil yang Berorientasi Pertumbuhan 40
SIMPULAN DAN SARAN 44
Simpulan 44
Saran 45
DAFTAR PUSTAKA 45
LAMPIRAN 48
DAFTAR TABEL
1 Jumlah usaha UMKM dan besar tahun 2005-2012 di Indonesia (unit) 2 2 Banyaknya usaha kecil menurut provinsi di Pulau Jawa (unit) 4
3 Penelitian terdahulu 7
4 Sifat-sifat penting wirausaha 13
5 Dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil 16 6 Sebaran contoh berdasarkan penilaian terhadap usaha 28 7 Pengelompokkan owner-manager berdasarkan orientasi pertumbuhan
usaha kecil 29
8 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin 29
9 Sebaran contoh berdasarkan usia 30
10 Sebaran contoh berdasarkan status pernikahan 30 11 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan 31
12 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan lain 31
13 Sebaran contoh berdasarkan jenis usaha agribisnis 32
14 Sebaran contoh berdasarkan lama usaha 33
15 Sebaran contoh berdasarkan omset usaha 33
16 Sebaran contoh berdasarkan jumlah karyawan 34
17 Sebaran contoh berdasarkan motivasi usaha 34
18 Signifikansi atribut-atribut terhadap usaha kecil yang berorientasi
pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan 35 19 Signifikansi atribut-atribut terhadap usaha kecil yang berorientasi
pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan (lanjutan) 36
20 Hasil ketepatan prediksi model diskriminan 41
DAFTAR GAMBAR
1 Sistem agribisnis (Saragih 2001a) 15
2 Kerangka operasional 19
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil uji validasi pertanyaan kuesioner 48
2 Hasil uji realibilitas pertanyaan kuesioner 49
3 Analysis case processing summary 49
4 Test of equality of group means 50
5 Descriptive statistics 51
6 Variables not in the analysis 52
7 Wilks's lambda 53
8 Canocinal discriminant function coefficients 53
9 Function at group centroids 53
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor agribisnis merupakan sektor pertanian dalam artian luas yang mencakup pertanian (dalam arti sempit), perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan (Firdaus 2008). Sektor agribisnis menjadi pilihan bagi penduduk Indonesia untuk mengembangkan usaha karena peluang untuk berkembang masih terbuka lebar seiring dengan kebutuhan masyarakat akan komoditas-komoditas yang dihasilkan pada sektor ini. Agribisnis dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, penyedia lapangan pekerjaan, mengembangkan pembangunan daerah, sumber devisa yang besar (Saragih 2010).
Menurut Saragih (2001a), menguasai mata rantai ekonomi memberikan nilai tambah terbesar, dan sektor agribisnis merupakan sektor ekonomi yang melibatkan dan menghidupi sebagian besar rakyat indonesia. Oleh karena itu, dengan memperkuat ekonomi rakyat, maka akan mampu merebut nilai tambah yang besar. Usaha kecil merupakan salah satu faktor penunjang pertumbuhan ekonomi rakyat, sehingga usaha kecil dapat dikatakan identik dengan usaha pada sektor agribisnis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar jumlah penduduknya berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik disektor tradisional maupun modern (Partomo 2004). Selain itu, dengan usaha kecil ini, pengangguran akibat angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia kerja menjadi berkurang. Menurut Saragih (2010) pengembangan agribisnis berskala kecil sangat mudah diarahkan untuk bersahabat dengan lingkungan, disamping mereka tidak perlu tergantung terlalu banyak pada sumber daya alam yang bersifat ekstraktif, juga limbah usaha mereka bisa ditekan dan dikendalikan pada tingkat minimal. Saat ini, Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah sedang berupaya memajukan usaha-usaha kecil di Indonesia untuk meningkatkan perekonomian Indonesia dengan mengadakan program-program yang bertujuan agar rakyat yang belum mendapatkan pekerjaan dapat membuka usaha sendiri sehingga mengurangi angka pengangguran di Indonesia.
Usaha kecil disini mengacu pada usaha yang dikategorikan dalam undang undang nomor 20 tahun 2008, meliputi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Peran usaha kecil dalam perekonomian Indonesia dilihat berdasarkan kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi diberbagai sektor, penyedia lapangan kerja yang terbesar, pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat, penciptaan pasar baru dan sumber inovasi, serta sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor1.Pengembangan usaha kecil pada saat ini sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat agar dapat berkembang lebih kompetitif bersama pelaku ekonomi lainnya. Pengembangan usaha kecil melalui pendekatan pemberdayaan usaha, perlu memperhatikan aspek sosial dan budaya di masing-masing daerah, mengingat usaha kecil dan menengah pada umumnya tumbuh dari masyarakat secara langsung.
1
Negara Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 237 juta jiwa2. Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang berprofesi sebagai wirausaha yang memiliki usaha baik kecil atau besar. Dewasa ini semakin banyak masyarakat yang mencoba masuk ke dunia usaha, baik mikro, kecil maupun menengah. Niat masyarakat Indonesia memasuki dunia usaha pada umumnya didorong oleh kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya mampu menciptakan lapangan kerja, baik bagi mereka yang saat ini siap memasuki dunia kerja, maupun angkatan kerja baru, yakni mereka yang baru lulus dari pendidikan atau yang disebabkan oleh berbagai sebab terpaksa meninggalkan dunia pendidikan. Hal ini dapat kita lihat berdasarkan banyaknya pengangguran yang ada di Indonesia yang cukup banyak setiap tahunnya.
Pada saat krisis moneter terjadi tahun 1998, setelah itu jumlah usaha kecil (UMKM) di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2005, UMKM sebanyak 47,01 juta unit, kemudian tahun 2006 sebanyak 49,02 juta unit dan terus meningkat hingga tahun 2012 sebanyak 56,5 juta unit. Sedangkan pada usaha besar, meski sempat mengalami penurunan dari tahun 2005 sebanyak 5.022 unit hingga 2007sebanyak 4.463 unit, tetapi perlahan mengalami peningkatan hingga tahun 2012 sebanyak 4.968 unit.
Tabel 1 Jumlah usaha UMKM dan besar tahun 2005-2012 di Indonesia (unit)
Tahun UMKM Usaha besar
2005 47 017 062 5 022
2006 49 021 803 4 577
2007 50 145 800 4 463
2008 51 409 612 4 650
2009 52 764 603 4 677
2010 53 823 732 4 838
2011* 55 206 444 4 952
2012** 56 534 592 4 968
Sumber : Kementerian Koperasi dan UKM RI (2013) *) angka sementara
**)angka sangat sementara
Berdasarkan Tabel 1, berjuta-juta usaha kecil atau UMKM di Indonesia, sebagian besar dikelola oleh satu atau dua orang yang bisa disebut owner-manager (pendiri/pemilik sebagai manajer) dan memiliki karyawan atau tenaga pembantu yang tidak tetap dan jumlah yang sedikit, yang bisa bekerja sebagai apa saja, apakah sebagai tenaga penjualan atau pembukuan, tukang bungkus, kurir, tukang tagih, pembantu produksi, dan lain lain. Owner-manager belum banyak dikenal di Indonesia, tetapi lebih sering dikenal sebagai pengusaha. Pengusaha lebih identik dengan wirausahawan sedangkan owner-manager merupakan pemilik perusahaan yang juga bertindak sebagai manajer, juga dapat dikatakan sebagai tahap dimana orang yang sebelum menjadi seorang wirausahawan.
2
Owner-manager tidak selalu identik dengan manajer professional. Apa yang dilakukan owner-manager berbeda dengan apa yang dilakukan manajer professional. Pada perusahaan besar dan mapan antara fungsi dan tugas manajer telah dipilah pilah sedemikian rupa sesuai strategi dan struktur organisasi (Nitisusastro 2009). Pada usaha kecil, dimana seluruh sumber daya masih sangat terbatas, fungsi dan tugas seorang manajer berbaur menjadi satu. Hal ini disebabkan pada usaha kecil selain belum diperlukan manajer yang jumlahnya banyak, juga adanya kendala keterbatasan. Manajer pada usaha kecil juga harus menghadapi seluruh persoalan yang ada dalam perusahaan. Dia merupakan orang yang memilki kreativitas, melakukan inovasi, dan berani mengambil risiko pribadi dalam rangka memenuhi ambisinya, yaitu menjadi wirausaha (Longenecker et al. 2001). Menurut Firdaus (2008), faktor yang paling menentukan dan dapat menyebabkan kegagalan bisnis adalah manajemen yang tidak efektif. Konsep para manajer tentang peranan manajemen, tentang manajer itu sendiri dan hal-hal yang mereka lakukan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukkan efektif tidaknya para manajer dalam mengemban peranannya.
Pada usaha kecil, owner-manager di Indonesia memilki praktik-praktik manajemen yang beragam. Dalam hal pertumbuhan usaha, terdapat owner-manager yang usaha kecilnya lebih berorientasi pada pertumbuhan dan kurang berorientasi pada pertumbuhan (Mazzarol et al. 2009). Orientasi pertumbuhan yang dimaksud disini adalah usaha kecil yang tumbuh untuk lebih mengembangkan usaha kecilnya. Owner-manager yang ingin tetap berusaha dalam skala kecil dan mendukung gaya hidupnya sebagai bisnis kecil merupakan seorang pemilik usaha kecil yang biasa, sedangkan owner-manager yang ingin usaha kecilnya untuk tumbuh, berkembang, dan membangun merupakan seorang wirausaha (Griffin 2003). Berdasarkan pernyataan tersebut seorang owner-manager belum menjadi wirausahawan apabila usaha kecilnya tidak berorientasikan pada pertumbuhan. Dalam membedakan usaha kecil berorientasi pertumbuhan dan usaha kecil kurang berorientasi pertumbuhan dapat dikelompokkan melalui beberapa indikator. Menurut Sutrisno et al. (2010), secara umum profit/keuntungan merupakan indikator pertumbuhan usaha kecil. Namun, menurut Weinzimmer et al. (1998) dalam Mazzarol et al. (2009) masih terdapat beberapa indikator pengukuran pertumbuhan, dengan berbagai ukuran yang digunakan seperti penjualan, karyawan, pangsa pasar, laba atas investasi, laba per saham omset tahunan dan aset. Pengelompokkan orientasi pertumbuhan usaha kecil digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pembeda dari usaha kecil berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan.
penyediaan bahan baku hingga pegolahan dan pemasaran. Melihat hal diatas, penelitian ini akan mengidentifikasi faktor-faktor pembeda usaha kecil berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuan pada sektor agribisnis khususnya sektor industri pengolahannya di wilayah Bogor, dengan berdasarkan praktek-praktek manajemen pada setiap owner-manager usaha kecil tersebut.
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki usaha kecil terbanyak di Indonesia. Berdasarkan Tabel 2, meski mengalami penurunan dari tahun sebelumnya Provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama yang memiliki usaha kecil paling banyak di Pulau Jawa diatas Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada sektor agribisnis, setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat tidak ada jumlah usaha yang dominan. Jumlah usaha setiap sektor agribisnis, yaitu pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan tersebar dalam setiap Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat3. Bogor (kabupaten/kota) menjadi salah satu wilayah yang memiliki usaha kecil di sektor agribisnis yang cukup banyak. Tercatat berdasarkan data BPS Kota Bogor tahun 2011, potensi industri agro dan hasil hutan berupa makanan, minuman, serta kayu olahan dan rotan sekitar 1 750 unit usaha. Meskipun jumlahnya yang masih belum terlalu banyak tetapi usaha pada sektor agribisnis menjadi menjadi salah satu sektor ekonomi andalan di Bogor. Sehingga menjadi daerah yang patut untuk diteliti dalam mengkaji pertumbuhan pada usaha kecil.
Tabel 2 Banyaknya usaha kecil menurut provinsi di Pulau Jawa (unit)
Pulau/Provinsi 1999 2000 2002 2003 2004 2006 Jakarta 675 923 719 941 1 057 765 893 623 1 053 427 1 124 675 Jawa Barat 3 035 152 2 969 114 3 059 558 3 216 567 2 908 228 4 206 411 Jawa Tengah 2 781 586 2 893 016 3 351 931 3 080 105 3 508 577 3 686 106 Yogyakarta 354 285 366 855 509 176 469 898 409 814 402 496 Jawa Timur 3 012 492 3 199 556 3 118 640 3 272 845 3 551 777 4 203 251 Sumber : Badan Pusat Statistik (2007)
Perumusan Masalah
Negara Indonesia memiliki potensi yang besar pada sektor agribisnis. Dengan keragaman produk pertanian dan sumberdaya yang berlimpah baik perairan/perikanan, hewan ternak maupun kehutanan menjadikan sektor ini baik untuk lebih dikembangkan. Usaha kecil merupakan salah satu pilihan dalam pengembangan pada sektor agribisnis tersebut. Setiap tahunnya jumah usaha kecil di Indonesia mengalami peningkatan. Sepintas hal tersebut memberikan harapan pada perekonomian di Indonesia. Namun, pada umumnya usaha kecil (UMKM) yang memiliki jumlah lebih banyak dari usaha besar banyak yang tidak bertahan lama dan bahkan tidak banyak yang mengalami kesuksesan. Banyak hal yang membuat usaha tersebut tidak bertahan lama seperti yang dijelaskan oleh Zimmerer (2008) terdapat kesalahan fatal wirausahawan, antara lain
3
ketidakmampuan manajemen, kurang pengalaman, pengendalian keuangan buruk, lemahnya usaha pemasaran, kegagalan mengembangkan perencanaan strategis, pertumbuhan tak terkendali, lokasi yg buruk, pengendalian persediaan yang tidak tepat, dan penetapan harga tidak tepat. Tetapi disamping itu, ada juga beberapa perusahaan kecil yang tumbuh menjadi perusahaan besar seperti Nyonya Meneeer, Gudang Garam, Bakrie Brothers dan beberapa perusahaan lainnya. Kegagalan merupakan hal yang sering terjadi dalam menjalankan usaha kecil. Tetapi, untuk menghindari kegagalan tersebut sebaiknya seorang owner-manager harus memiliki rencana strategis agar usaha yang dijalankannya tidak mengalami kegagalan seperti yang terjadi pada kebanyakan usaha kecil, sehingga usaha tersebut dapat tumbuh menjadi perusahan besar.
Pada usaha kecil, terdapat owner-manager yang usaha kecilnya lebih beorientasikan pertumbuhan agar pendapatannya terus meningkat dan juga terdapat owner-manager yang kurang berorientasikan pertumbuhan pada usaha kecilnya dan sudah puas dengan keuntungan yang didapat atau tidak ingin mengambil risiko untuk menumbuhkan usaha kecilnya. Seseorang yang mengelola pertumbuhan pada suatu usaha, maka juga harus mengelola risiko (Fox 1996). Owner-manager yang lebih berorientasi pada pertumbuhan merupakan orang yang menjadi seorang wirausaha. Perbedaan orientasi pertumbuhan dapat dikelompokkan melalui beberapa indikator. Secara umum profit/keuntungan merupakan indikator pertumbuhan usaha kecil (Sutrisno et al. 2010). Pengelompokkan orientasi pertumbuhan usaha kecil digunakan untuk mencari faktor-faktor pembeda dari usaha kecil berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan. Pada penelitian ini, penilaian terhadap usaha dari keuntungannya menjadi indikator dalam membedakan usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan. Sehingga orientasi pertumbuhan disini merupakan usaha kecil yang lebih berorientasi pada keuntungan yang diperoleh. Tetapi peneliti menyadari terdapat indikator lainnya. Pada Mazzarol et al. (2009), terdapat atribut-atribut dalam strategi praktik manajemen suatu usaha berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil. Atribut-atribut tersebut dapat digunakan sebagai faktor-faktor yang membedakan usaha kecil berorientasi pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan.
Berdasarkan hal tersebut, permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah
1. Apakah faktor-faktor yang menjadi pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dapat dikaji adalah
1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil.
2. Mengidentifikasi faktor kunci manajerial yang memengaruhi usaha kecil pada sektor pengolahan agribisnis yang berorientasikan pertumbuhan.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini bagi owner-manager adalah mengetahui faktor-faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan pada sektor agribisnis. Bagi perguruan tinggi kajian analisis perbedaan orientasi pertumbuhan pada usaha kecil sebagai kajian dan referensi akademik. Bagi penulis kajian mengenai analisis perbedaan orientasi pertumbuhan usaha kecil merupakan tambahan pengetahuan, pengalaman, wawasan, dan sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diterima sejak kuliah dalam mengamati gejala yang terjadi dalam masyarakat.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Bogor, dan lebih berorientasikan kepada usaha kecil agribisnis pada subsistem offarm, lebih tepatnya pada sektor pengolahannya sehingga memiliki batasan untuk mengidentifikasi perilaku owner-manager pada usaha kecil sektor agribisnis. Model yang dibangun dalam skripsi ini adalah terkait faktor-faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan pada sektor agribisnis berdasarkan dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Tabel 3 Penelitian terdahulu
No Peneliti Judul penelitian Alat analisis Hasil penelitian 1. Tim Mazzarol, menumbuhkan usaha kecilnya harus menentukan harga diatas rata-rata pasar, membangun pengambilan tindakan pada kondisi tertentu dan membangun sikap dan keyakinan terhadap perubahan-perubahan yang
Pertumbuhan usaha pengrajin gerabah dan keramik di Kasongan, Bantul dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh ukuran usaha dalam hal ini jumlah tenaga kerja, umur unit usaha atau lamanya unit usaha telah beroperasi, legalitas badan/unit usaha, fasilitas kredit perbankan yang diperoleh unit/badan usaha, dan kegiatan internasionalisasi badan/unit usaha dengan melakukan aktivitas ekspor hasil produksinya. usaha industri kecil melalui kemampuan usaha dengan lebih mendahulukan meningkatkan sikap, kecerdasan emosional, keterampilan, dan pengetahuan para pengusaha industri kecil dalam melakukan usahanya dan juga motivasi usaha dengan lebih mendahulukan meningkatkan harapan, motivasi dan insentif
Atribut yang memengaruhi perilaku loyalitas konsumen adalah kecepatan penyajian serta tata letak meja dan kursi.
pasar, pengambilan tindakan dan membangun sikap dan keyakinan terhadap perubahan-perubahan merupakan hasil penelitian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa owner-manager pada usaha kecil harus berfokus pada ketiga faktor tersebut dalam menjalankan usahanya agar usaha kecilnya dapat bertumbuh dan berkembang.
Penelitian yang dilakukan Purnama dan Suyanto (2010) tentang motivasi dan kemampuan usaha dalam meningkatkan keberhasilan usaha industri kecil menunjukkan bahwa dalam pengaruhnya terhadap keberhasilan usaha industri kecil, variabel kemampuan usaha (pengetahuan, sikap, keterampilan dan kematangan emosional) lebih dominan pengaruhnya terhadap keberhasilan usaha industri kecil dibandingkan dengan motivasi usaha (motif, harapan, dan insentif). Untuk itu perlu meningkatkan keberhasilan usaha industri kecil melalui kemampuan usaha dengan lebih mendahulukan meningkatkan sikap, kecerdasan emosional, keterampilan, dan pengetahuan para pengusaha industri kecil dalam melakukan usahanya dan juga motivasi usaha dengan lebih mendahulukan meningkatkan harapan, motivasi dan insentif. Dalam penelitian ini digunakan analisis faktor dan regresi dengan model Structural Equation Modelling.
Penelitian Handrimurtjahyo et al. (2007) mengenai faktor-faktor penentu pertumbuhan usaha industri kecil yang dilakukan kepada pengrajin gerabah keramik di Kasongan, Bantul menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tersebut dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh ukuran usaha dalam hal ini jumlah tenaga kerja, umur unit usaha atau lamanya unit usaha telah beroperasi, legalitas badan/unit usaha, fasilitas kredit perbankan yang diperoleh unit/badan usaha, dan kegiatan internasionalisasi badan/unit usaha dengan melakukan aktivitas ekspor hasil produksinya. Hal ini diperlukan dalam penelitian untuk menentukan karakteristik usaha. Jumlah tenaga kerja/karyawan dan lama unit usaha diperlukan dalam mengidentifikasi karakteristik usaha karena kedua hal tersebut berpengaruh positif terhadap pertumbuhan usaha, selain itu termasuk hal yang paling memungkinkan dalam keterkaitan pada penelitian.
Penelitian Sutrisno et al. (2010) tentang pengaruh process improvement terhadap kinerja UKM yang dilakukan di Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa process improvement yang terjadi pada perusahaan berpengaruh pada pertumbuhan usaha. Process improvement berperan penting dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan perusahaan. Process improvement bisa menciptakan efisiensi pengggunaan sumberdaya dan menciptakan kurva pembelajaran. Tujuan akhir yang dicapai pada penelitian ini yaitu adanya peningkatan kinerja organisasi. Hasil penelitian ini adalah process improvement berpengaruh pada pertumbuhan perusahaan, selain itu inovasi yang dilakukan perusahaan akan mendorong terciptanya process improvement dalam manajemen perusahaan, dan ukuran perusahaan juga berpengaruh pada process improvement.
kecepatan penyajian serta tata letak meja dan kursi. Berdasarkan hal tersebut, untuk meningkatkan jumlah konsumen yang loyal, pihak manajemen dapat meninkatkan kinerja kedua atribut tersebut. Dengan meningkatkan kinerja atribut kecepatan serta tata letak meja dan kursi diharapkan dapat meningkatkan penilaian konsumen terhadap kedua atribut tersebut.
Penelitian Alhasanah (2011) mengenai analisis diskriminan faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi berzakat berinfak dan pemilihan tempat membayar zakat menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh para wajib zakat. Sebelumnya dilakukan pengelompokkan responden berdasarkan partisipasi zakat antara responden yang membayar zakat dan tidak membayar zakat. Kemudian analisis diskriminan digunakan untuk mengetahui faktor-faktor (variabel-varabel) dalam membedakan responden yang membayar zakat dan tidak membyar zakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor keimanan, penghargaan, organisasi, althurism (kepekaan sosial), dan pendapatan merupakan faktor-faktor pembeda responden yang membayar zakat dan tidak membayar zakat.
Pada penelitian Sajiwa (2007) tentang analisis perilaku konsumen serta faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan produk crepe juga menggunakan alat analisis berupa analisis diskriminan. Analisis diskriminan tersebut digunakan untuk menentukan faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan produk crepe pada
konsumen D’Crepes dan Crepe Co. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh
tiga variabel atau faktor yang menjadi pembeda antara kedua konsumen tersebut, yaitu kerenyahan, lokasi outlet dan ketersediaan fasilitas untuk makan ditempat. Perhatian masing-masing perusahaan terhadap ketiga variabel tersebut dapat merubah persepsi konsumen ke arah yang lebih positif, sehingga pada akhirnya tujuan dari masing-masing perusahaan dapat tercapai.
Keterkaitan Penelitian Terdahulu dengan Penelitian yang akan Dilakukan
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang dimodifikasi dari beberapa penelitian terdahulu mengenai pertumbuhan usaha kecil. Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu diatas, peneliti dapat menentukan atribut-atribut berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil dalam penelitian Mazzarol et al. (2009) yaitu, fokus dan arah strategis perusahaan, pemasaran dan orientasi pelanggan, jaringan strategis atau kemitraan, nilai-nilai dan budaya organisasi perusahaan, jaminan kualitas, dan kontrol perusahaan dan sistem pelaporan. Sedangkan pada penelitian terdahulu mengenai pertumbuhan usaha diperlukan untuk mengetahui faktor-faktor lain dalam menentukan pertumbuhan dan keberhasilan pada sebuah perusahaan. Penelitian Handrimurtjahyo et al. (2007) jumlah tenaga kerja/karyawan dan lama unit usaha diperlukan dalam mengidentifikasi karakteristik usaha karena kedua hal tersebut berpengaruh positif terhadap pertumbuhan usaha, selain itu hal tersebut merupakan hal yang paling memungkinkan dalam keterkaitan pada penelitian.
acuan lain alat analisis yang digunakan peneliti. Analisis diskriminan pada penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan owner-manager pada usaha kecil berorientasi pertumbuhan dan kurang berorientasi pertumbuhan.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Pengertian Usaha Kecil (UMKM)
Pengertian usaha kecil belum didefinisikan secara baik dan setiap orang memberikan pengertian tersendiri sesuai pengetahuan yang dimiliki. Pengertian diberikan oleh Committe For Econimic Development dalam Alma (2010), yang menggunakan ciri-ciri sebuah usaha kecil ialah :
1. Manajemennya dilakukan secara bebas, biasanya pemilik langsung menjadi manajer.
2. Modal berasal dari pemilik atau kelompoknya.
3. Daerah operasinya bersifat lokal, dan si pemilik bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi bisnis.
4. Dalam hal usaha industri ukuran besar atau kecil itu sangat relatif. Suatu bisnis dikatakan kecil jika dibandingkan dengan bisnis sejenis.
Undang-undang nomor 20 tahun 2008 mendefinisikan pengertian usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Usaha mikro merupakan usaha produktif milik perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50 000 000.00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300 000 000.00 (tiga ratus juta rupiah).
Selain itu, usaha kecil merupakan usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan oleh perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50 000 000.00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500 000 000.00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300 000 000.00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2 500 000 000.00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
000.00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50 000 000 000.00 (lima puluh milyar rupiah).
Pada Organisation for Economic Co’operation and Development (2004) dalam Mazzarol et al. (2009) karakteristik usaha dapat dilihat berdasarkan jumlah karyawan pada usaha tersebut. Parameter jumlah karyawan yang dimaksud yaitu, usaha mikro memiliki kurang dari lima orang karyawan, usaha kecil memiliki lima sampai dengan 19 orang karyawan, sedangkan usaha menengah memiliki 20 hingga 200 orang karyawan. Parameter tersebut berdasarkan parameter dari luar Indonesia, di Indonesia menjelaskan karakteristik usaha kecil tersebut berdasarkan omset usaha yang tercantum dalam undang-undang nomor 20 tahun 2008. Selain itu, pada BPS dalam Hubeis (2009) kategori usaha kecil berdasarkan jumlah pekerja/karyawan adalah antara 5 – 19 orang.
Menurut Griffin (2003) terdapat alasan-alasan suatu usaha kecil mengalami kegagalan dan keberhasilan. Empat faktor umum yang mempengaruhi kegagalan bisnis kecil itu adalah manajerial yang tidak kompeten, kurang memberi perhatian, sistem kotrol yang lemah, dan kuarangnya modal. Sedangkan faktor yang mempengaruhi keberhasilan bisnis kecil yaitu kerja keras, dorongan, dedikasi, permintaan pasar akan produk atau layanan jasa yang dsediakan, manajerial yang baik, dan keberuntungan.
Menurut Nitisusastro (2009) usaha kecil dengan karakteristik skalanya yang serba terbatas memiliki sejumlah kekuatan dan kelemahan. Kekuatan usaha kecil yang dimaksud adalah usaha kecil dapat mengembangkan kreativitas usaha baru, melakukan inovasi, bergantungnya usaha besar terhadap usaha kecil, dan daya tahan usaha kecil pasca krisis tahun 1989. Adapun kelemahan yang dimiliki usaha kecil, yaitu lemahnya keterampilan manajemen, tingkat kegagalan yang cukup tinggi, dan keterbatasan sumber daya.
Pengertian Owner-manager
Owner-manager bisa disebut sebagai pemilik dari usaha kecil yang berfungsi juga sebagai pengelola usaha kecil tersebut. Owner-manager dapat dikatakan sebagai seseorang yang mendirikan atau mengakuisisi sebuah perusahaan kecil untuk tujuan pribadi dan untuk siapa perusahaan biasanya sumber utama pendapatan mereka. Dalam kebanyakan kasus perusahaan tidak terlepas dari owner-manager (Carland et al. 1984).
Keterampilan yang diperlukan untuk mengambil keuntungan dari kondisi pasar saat ini adalah keterampilan kewirausahaan, kreativitas dan kemampuan untuk mengintegrasikan informasi dengan cepat, keterampilan pengambilan keputusan, kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan, dan kemauan dan keinginan untuk berurusan dengan keserakahan, kebodohan dan penipuan kolusi. Untuk memulai usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan, keterampilan ini harus dipegang oleh owner-manager (Fox 1996). Owner-manager menjadi orang yang berperan penting dalam tumbuh atau tidaknya suatu usaha kecil. Apabila kesalahan dibuat oleh owner-manager, maka akibat yang diterima juga akan diperoleh owner-manager tersebut. Sehingga dibutuhkan owner-manager yang bersungguh-sungguh dalam menumbuhkan usaha kecilnya.
timbul, terkadang melibatkan kesulitan mereka dalam mencocokkan ke dalam peran organisasi yang konvensional.
Seorang owner-manager berbeda dengan seorang wirausahawan. Seorang owner-manager belum tentu menjadi wirausahawan, tetapi wirausahawan sudah pasti owner-manager. Dapat dikatakan seperti itu karena seorang wirausahawan merupakan seorang owner-manager yang ingin usaha kecilnya tumbuh dan berkembang, sedangkan owner-manager yang biasa merupakan seorang yang ingin berusaha tetap pada skala kecil (Griffin 2002). Mungkin seorang owner-manager yang biasa tidak ingin mengambil risiko dan sudah merasa nyaman dan puas dengan gaya hidupnya sebagai usaha kecil.
Pengertian Wirausaha dan Kewirausahaan
Menurut Zimmerer (2008), seorang wirausaha (entrepreneur) adalah seseorang yang menciptakan bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang signifikan dan menggabungkan sumber-sumber daya yang diperlukan sehingga sumber daya itu bisa dikapitalisasikan.
Kasmir (2006) dalam Karim (2012) menyatakan bahwa wirausaha (entrepreuneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko dalam berbagai kesempatan. Berani mengambil risiko yang dimaksud disini yaitu mengambil risiko untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya. Seorang wirausaha berfokus pada keuntungan dan pertumbuhan, dan menggunakan inovasi dan manajemen strategis untuk mencapai pertumbuhan melalui diferensiasi (Carland et al. 1984).
Menurut Nitisusastro (2009) seorang wirausaha merupakan seseorang yang telah memutuskan untuk menjadi pelaku usaha meskipun dalam skala kecil. Dan sebagai seorang wirausahawan maka ia perlu mengembangkan jiwa kewirausahaan. Menurutnya juga kewirausahaan adalah kemampuan yang didalamnya mengandung unsur-unsur bakat (talents), ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sejumlah bakat yang dimakud, antara lain,
a. Kemauan dan rasa percaya diri
Mereka mempunyai keyakinan dan kepercayaan bahwa dengan tekad dan kemauan yang tinggi akan mampu mengatasi semua permasalahan dilapang. Mereka sangat yakin bahwa segala sesuatu tugas dan pekerjaan dapat diselesaikan secara tuntas sesuai dengan rencana dan dorongan nurani. Rasa percaya diri yang besar juga memberikan motivasi bahwa sesuatu yang dikerjakan harus berhasil.
b. Berani mengambil risiko
Setiap usaha baik baru maupun lama akan selalu berhadapan dengan risiko. Berbagai kejadian yang merugikan sebagai dampak dari timbulnya risiko telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada manusia. Dalam konteks inilah seorang wirausahawan memiliki sikap berani mengambil keputusan, artinya segala tindakan akan dan atau tidak akan diambil telah memperhitungkan benar dampaknya.
c. Pekerja keras
mereka yang latar belakangnya biasa-biasa saja, tetapi mampu mengembangkan usahanya dan sukses.
d. Fokus pada sasaran
Seorang wirausahawan selalu fokus sasaran. Segenap perhatian dicurahkan kepada tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Fokus pada sasaran artinya tidak berpaling kepada yang lain selama sasaran yang dituju belum berhasil dicapai. Mungkin selama proses berlangsung jalan yang ditempuh bisa berubah, namun sasaran tetap konsisten seperti rencana.
e. Berani mengambil tanggung jawab
Seorang wirausaha masa depannya mengandung ketidakpastian. Artinya apabila usahanya tidak berhasil maka ia tidak menerima penghasilan, bahkan dalam kondisi ketidakpastian inilah pelaku usaha memikul tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan seorang pegawai. Guna menghindari hal yang tidak diinginkan dimaksud pelaku usaha dipacu untuk selalu berfikir dan bekerja keras agar kepastian tentang masa depannya dapat dipertahankan dan jika mungkin ditingkatkan menjadi lebih baik.
f. Inovasi
Inovasi pada dasarnya merupakan bakat khusus yang muncul dari seseorang wirausahawan. Wirausahawan cenderung menciptakan dan menangani sesuatu yang sesuatu yang tidak dikenal orang sebelumnya. Satu saat mereka memasukan ide lama kedalam pola baru.
Menurut Hubeis (2009) kewirausahaan menentukan pertumbuhan atau keberhasilan (laba) usaha kecil. Adapun sifat-sifat penting wirausaha yang dijelaskan dalam Tabel 3, antara lain memiliki mimpi, ketegasan, pelaku, ketepatan hati, dedikasi, kesetiaan, terperinci, nasib, uang, dan distribusi. Wirausahawan dicirikan dari kemampuan memanfaatkan,mengatur, mengarahkan sumberdaya, tenaga kerja, alat produksi untuk menciptaan sesuatu produk, dan selanjutnya dapat dijual untuk mendapatkan sumber penghasilan bagi kelangsungan hidupnya.
Tabel 4 Sifat-sifat penting wirausaha
Atribut Keterangan
Dream (mimpi) Memiliki visi masa depan dan kemampuan mencapai visi tersebut (percaya diri)
Decisiveness (ketegasan) Tidak menangguhkan waktu dan membuat keputusan cepat
Doers (pelaku) Melaksanakan secepat mungkin Detemination (ketepatan hati) Komitmen total dan pantang menyerah Dedication (dedikasi) Berdedikasi total dan pantang menyerah Devotion (kesetiaan) Mencintai apa yang dikerjakan
Details (terperinci) Menguasai rincian yang bersifat kritis Destiny (nasib) Bertanggung jawab atas nasib sendiri
Dollars (uang) Kaya bukan motivator utama, tetapi uang lebih berarti sebagai ukuran kesuksesan
Distribute (distribusi) Mendistribusikan kepemilikan usahanya kepada karyawan kunci yang merupakan faktor penting bagi kesuksesannya.
Usaha Kecil Berorientasi Pertumbuhan
Jumlah perusahaan di Indonesia sangat banyak, terutama kategori usaha mikro, kecil, dan menengah, dalam penelitian ini dikategorikan sebagai usaha kecil. Usaha kecil telah menjadi bagian penting dari sistem perekonomian nasional, yaitu mempercepat pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui misi penyediaan lapangan usaha dan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta ikut berperan dalam meningkatkan perolehan devisa dan memperkokoh struktur ekonomi nasional (Hubeis 2009).
Menurut Tambunan (2009) jika diklasifikasikan menurut skala, perkembangan usaha berlangsung melewati tiga tahap. Tahap pertama yaitu usaha mikro, yaitu tahap awal pembangunan industri. Dalam tahap ini, terdapat banyak kegiatan usaha yang erat kaitannya dengan produksi di sektor pertanian, baik dalam bentuk menyuplai berbagai input ke pertanian, maupun mengolah output pertanian. Dalam tahap kedua, di wilayah-wilayah yang lebih berkembang dengan pendapatan per kapita lebih tinggi, usaha kecil dan menengah (UKM) termasuk dalam tahap ini. Sedangkan pada tahap terakhir, yaitu tahap ketiga yang disebut juga sebagai usaha besar. Pada usaha ini pemakaian skala ekonomi dalam produksi, manajemen, pemasaran dan distribusi yang lebih baik dan terkoordinasi merupakan insentif utama bagi usaha-usaha untuk berkembang menjadi lebih besar. Namun dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut tidak terlepas dari orang yang menjalankan kegiatan tersebut. Menurut Storey (1994) dalam Mazzarol et al. (2009) karakteristik owner-manager dibutuhkan untuk dipahami ketika mempertimbangkan pertumbuhan pada usaha kecil, selain itu karakteristik dan sifat perencanaan strategis perusahaan, serta proses manajemen juga penting. Owner-manager memiliki peranan penting dalam menjalankan kegiatan usaha agar usaha tersebut dapat berkembang. Menurut Mazzarol et al. (2009) faktor-faktor yang menentukan kapasitas sebuah perusahaan kecil untuk tumbuh adalah kompetensi owner-manager, orientasi kewirausahaan dan keterampilan perencanaan strategis, serta seberapa baik mengelola sumber daya yang tersedia untuk usaha kecil tersebut.
Dalam Hubeis (2009) terdapat prospek usaha kecil pada konteks jangka pendek dan menengah. Pada pengembangan usaha prospektif jangka pendek (≤5 tahun) adalah produk berbasis pada pertanian dan perikanan (sektor pertanian) dengan cara memberdayakan daerah setempat yang memiliki potensi bisnis berbasis sumberdaya lokal dan memanfaatkan juga memberdayakan potensi yang dimiliki oleh pelaku usaha yang bersangkutan. Sedangkan pada pengembangan usaha prospektif jangka menengah (10-15 tahun) salah satunya adalah produk yang berasal dari industri pengolahan (agroindustri). Dalam hal ini, dengan megukur kemampuan manajemen sendiri merupakan hal yang utama sehingga dapat mengantisipasi ketidakseimbangan, perluasan usaha berikutnya dan risiko kegagalan. Sehingga owner-manager dibutuhkan untuk menentukan pengembangan usaha prospektif dalam jangka pendek atau jangka menengah.
Usaha Sektor Industri Pengolahan Agribisnis
terkait, tergantung dan berhubungan satu sama lain. Empat subsistem itu adalah subsistem hulu, onfarm, subsistem hilir, dan subsistem penunjang. Yang dijelaskan sebagai berikut
a. Subsistem hulu merupakan subsistem yang menyediakan pengadaan dan penyaluran sarana produksi pertanian, seperti bibit, pupuk, pestisida, alat-alat pertanian, dan mesin pertanian.
b. Subsistem onfarm (usahatani) merupakan kegiatan budidaya yang meghasilkan berbagai produk pertanian seperti bahan pangan, hasil perkebunan, perikanan, peternakan, dan lain lain.
c. Subsistem hilir merupakan kegiatan-kegiatan seperti pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyaluran berbagai produk pertanian yang dihasilkan usahatani atau hasil olahannya ke konsumen.
d. Subsistem penunjang merupakan kegiatan dari lembaga-lembaga atau institusi dalam menunjang terjadinya kegiatan-kegiatan pada subsistem hulu, onfarm dan hilir.
Gambar 1 Sistem agribisnis (Saragih 2001a)
Usaha pada sektor pengolahan agribisnis termasuk ke dalam agroindustri. Menurut Saragih (2001a) agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung meliputi hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan memasarkan produk akhir ke agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku lain diluar komoditas pertanian beserta yang memasarkan dan memperdagangkannnya. Berdasarkan hal tersebut agroindustri mempunyai hubungan keterkaitan dengan subsistem onfarm pada sistem agribisnis. Sebagai suatu subsistem dalam sistem agribisnis, agroindustri memilki potensi yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta mempercepat pembangunan daerah. Oleh karena itu, dengan mengembangkan usaha kecil pada bidang pengolahan atau dalam hal ini agroindustri dapat meningkatkan hasil-hasil pertanian (onfarm) yang selama ini masih kurang berkembang dan sedikit ditemui, juga meningkatkan perekonomian nasional Indonesia. Saragih (2001a) menyatakan untuk mengembangkan sektor agribisnis yang modern dan berdaya saing, agroindustri menjadi penentu kegiatan pada subsistem usahatani dan selanjutnya akan menentukan subsistem agribisnis hulu.
Dimensi Kunci untuk Kinerja Tinggi pada Usaha Kecil
Tabel 5 Dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil
No. Dimensi Atribut
Jaminan pasokan yang konsisten pada sumber daya 2 Pemasaran dan orientasi
pelanggan
Pengembangan komitmen pelanggan Strategi jaringan untuk keuntungan bisnis
Mencari dan memecahkan masalah pada pelanggan Kepuasan pada pelanggan
Pengembangan pasar
3 Jaringan strategis atau kemitraan Strategi kemitraan dengan orang yang berkepentingan Kebutuhan pelanggan
Karyawan yang berkomitmen dan loyal Strategi kemitraan dengan pemasok utama Jaringan dukungan pada pihak ketiga 4 Nilai-nilai dan budaya organisasi
perusahaan
Satu set nilai-nilai pribadi dan bisnis untuk memandu tindakan Pengembangan dan pengelolaan citra perusahaan
5 Jaminan kualitas Kualitas sebagai sumber keunggulan kompetitif Kemampuan memimpin perubahan
Kemampuan untuk menetapkan harga dari harga rata-rata pasar 6 Kontrol perusahaan dan sistem
Pengembangan usaha kecil merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan perekonomian nasional, oleh karena itu untuk mengetahui kinerja tinggi pada usaha kecil digunakan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil (Mazzarol et.al 2009) yang terdapat dalam kerangka kerja yang telah dikembangkan dari Hall (1992) . Enam dimensi kunci tersebut yang menjadi atribut-atribut dalam penelitian ini, yaitu
a. Fokus dan arah strategis perusahaan
Pada dimensi yang pertama ini terdiri dari lima atribut yaitu misi yang terdefinisi, memiliki visi strategis yang jelas, keterampilan, peluang dan ancaman di masa depan, dan jaminan pasokan sumber daya kunci yang konsisten. Seorang wirausahawan harus fokus pada sasaran. Sasaran tersebut dibuat pada saat membuat perencanaan srategis perusahaan, sasaran yang ingin usahanya bertahan hidup serta mampu tumbuh, berkembang, dan bermanfaat bagi lingkungannya.
b. Pemasaran dan orientasi pelanggan
Dimensi yang kedua memiliki lima atribut yang mempertanyakan tentang pemasaran dan pelanggan, antara lain pengembangan komitmen pelanggan, penggunaan jaringan strategis untuk keuntungan bisnis, pemecahan masalah pelanggan, kepuasan pelanggan, dan pengembangan pasar. Mengetahui dan memahami pelanggan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap wirausahawan. Karena tujuan mengetahui dan memahami pelanggan atau calon pelanggan agar kita bisa menangkap apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan.
c. Jaringan strategis atau kemitraan
Dimensi ketiga menjelaskan kepada struktur dan peran kemitraan strategis. Dimensi ini juga memiliki lima atribut, yaitu strategi kemitraan dengan orang yang berkepentingan, kebutuhan pelanggan, komitmen dan loyalitas karyawan, kemitraan jaringan dengan pihak ketiga. Strategi jaringan atau kemitraan sangat penting dilakukan oleh wirausahawan, karena dengan memperluas jaringan perusahaan dapat menambah mitra usaha dan dapat berbagi ilmu untuk keuntungan bisnis.
d. Nilai-nilai dan budaya organisasi perusahaan
Dimensi keempat ini terdiri dari atribut-atribut tentang nilai-nilai dan budaya organisasi perusahaan, yaitu satu set nilai-nilai pribadi dan bisnis untuk memandu tindakan, serta pengembangan dan pengelolaan citra perusahaan. Seorang wirausahawan harus memiliki nilai-nilai dan budaya organisasi pada perusahaannya, karena apabila menganggap usahanya sudah tiba waktunya untuk tumbuh maka perusahaan tersebut membutuhkan sikap yang lebih profesional. Proses, prosedur, dan semua yang lainnya mulai muncul. Sehingga nilai-nilai dan budaya organisasi perlu dimiliki dan diterapkan oleh wirausahawan yang bersangkutan pada sebuah perusahaannya.
e. Jaminan kualitas
f. Kontrol perusahaan dan sistem pelaporan
Dimensi keenam memiliki lima atribut tentang kontrol perusahaan dan sistem pelaporan, antara lain kritis terhadap informasi, penggunaan sistem teknologi informasi, pengendalian manajemen keuangan dan sistem, indikator kinerja, dan pengambilan tindakan jika diperlukan. Informasi dan manajemen sangat penting dalam menjalankan usaha, dan apabila owner-manager dapat mengendalikan informasi dan manajemen perusahaan maka perusahaan tersebut tidak sulit untuk mencapai kesuksesan.
Kerangka Pemikiran Operasional
Penelitian ini dimulai dari usaha pada sektor agribisnis yang memiliki banyak potensi dan kontribusi untuk negara, khususnya sektor industri pengolahan agribisnis. Pengembangan usaha pada sektor agribisnis lebih tepatnya usaha kecil di sektor agribisnis menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kembali bisnis pada sektor agribisnis, karena setiap tahun banyaknya usaha kecil semakin meningkat. Namun, permasalahan umum yang terdapat pada usaha kecil, yaitu meski semakin banyaknya usaha kecil setiap tahunnya tetapi tidak sedikit juga usaha kecil yang mengalami kegagalan ditengah jalan atau usaha kecil tersebut tidak tumbuh sampai usaha yang besar atau tidak mengalami pertumbuhan. Agar usaha kecil lebih pada berorientasi pada pertumbuhan, peran owner-manager sangat diperlukan untuk menentukan berhasil atau gagalnya usaha kecil tersebut. Karena owner-manager merupakan orang yang mengendalikan segala kegiatan usaha kecil tersebut baik pada keuangan, produksi, penyediaan bahan baku, kemitraan, pemasaran, perencanaan strategi, dll.
yang kurang berorientasi pertumbuhaan berdasarkan praktik-praktik manajemen pada owner-manager di wilayah Bogor.
Alat analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis diskriminan. Analisis diskriminan digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pembeda pada owner-manager yang usaha kecilnya lebih berorientasi pada pertumbuhan dan yang kurang berorientasi pada pertumbuhan. Setelah itu, dapat diidentifikasi faktor-faktor manajerial kunci yang berhubungan dengan pertumbuhan usaha kecil yang merupakan pemilihan terbaik dari atribut-atribut pembeda sebelumnya. Kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada gambar 2.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai analisis diskriminan antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan pada sektor agribisnis dilaksanakan di wilayah Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah Bogor merupakan salah satu wilayah yang memiliki usaha kecil di sektor pertanian, perikanan, kehutanan dan peternakan khususnya sektor industri pengolahan yang cukup banyak. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama dua bulan (Mei-Juli 2013) untuk pengumpulan dan analisis data.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder sebagai dasar penelitian. Data primer diperoleh melalui data langsung yang didapat dari sumber informasi melalui observasi, diskusi, wawancara yang berpedoman pada kuisioner yang disesuaikan untuk menjawab faktor-faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan. Data sekunder merupakan data yang diambil berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan UMKM, artikel, jurnal, internet dan hasil penelitian sebelumnya yang dapat menjadi acuan dalam penelitian ini.
Metode Penentuan Responden
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara melalui wawancara dan penyebaran kuesioner pada saat penelitian, meliputi pengisian kuesioner yang dilakukan sendiri oleh peneliti. Pengisian kuesioner dilakukan kepada owner-manager usaha kecil pada sektor agribisnis khususnya pengolahan di wilayah Bogor. Kuesioner yang diberikan kepada responden berisikan pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup berupa pertanyaan yang alternatif jawabannya telah disediakan sehingga responden hanya memilih salah satu atau beberapa alternatif jawaban yang menurut responden paling sesuai (lampiran 1). Kuesioner yang diberikan berisi tentang pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan praktik-praktik manajemen secara umum yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Kuesioner dikembangkan berdasarkan kerangka kerja oleh Hall (1992) dalam Mazzarol et al. (2009). Kerangka kerja ini memiliki enam dimensi kunci yang umum untuk usaha kecil kinerja tinggi pada penelitiannya yang dijadikan sebagai atribut-atribut dalam faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan.
Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif untuk menganalisis faktor-faktor pembeda antara usaha kecil yang berorientasi pertumbuhan dengan usaha kecil yang kurang berorientasi pertumbuhan. Analisis kuantitatif pada penelitian ini menggunakan alat bantu software SPSS 18.0. Software ini digunakan untuk analisis diskriminan. Dengan software tersebut memudahkan peneliti dalam mengolah data pada penelitian ini agar mendapatkan hasil yang diharapkan.
Uji Validitas dan Realibilitas Kuesioner
Atribut-atribut dalam kuesioner yang akan dipertanyakan kepada responden terlebih dahulu dilakukan pengujian berupa uji validitas dan uji reliabilitas. Menurut Suliyanto (2005), pada umumnya uji validitas dan reliabilitas ini dilakukan terhadap minimal 30 responden diluar 45 responden yang dibutuhkan dalam penelitian.
Uji Validitas
Uji Reliabilitas
Reliabilitas (keandalan) merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner (Nugroho 2005). Sama halnya dengan uji validitas, uji reliabilitas juga dilakukan dengan menggunakan software SPSS 18.0. Reliabilitas suatu variabel dapat dilihat pada hasil output SPSS pada tabel dengan judul Reliability Coefficients. Menilai reliabel atau tidaknya masing-masing variabel (atribut) dapat dilihat dari nilai Alpha. Indikator reliabilitas variabel-variabel (atribut-atribut) adalah sebagai berikut (Nugroho 2005) :
1. Alpha 0.00-0.20 = tidak reliabel 2. Alpha 0.21-0.50 = kurang reliabel 3. Alpha 0.51- 0.60 = cukup reliabel 4. Alpha 0.61-0.80 = reliabel
5. Alpha 0.81-1.00 = sangat reliabel
Jika tidak reliabel, maka variabel (atribut) yang memiliki nilai Alpha if Item Deleted terbesar harus dihilangkan dan tidak ditanyakan kepada responden pada saat pengambilan data dalam penelitian. Dari semua atribut yang telah dinyatakan valid kemudian diuji reliabilitasnya.
Analisis Diskriminan
Analisis diskriminan adalah salah satu teknik statistik yang bisa digunakan pada hubungan dependensi. Lebih spesifik lagi, analisis diskriminan digunakan pada kasus dimana variabel respon berupa data kualitatif dan variabel penjelas berupa data kuantitatif. Analisis diskriminan bertujuan untuk mengklasifikasikan suatu individu atau observasi ke dalam kelompok yang saling bebas (mutually exclusive/disjoint) dan menyeluruh (exhaustive) berdasarkan sejumlah variabel penjelas.
Pada penelitian ini variabel dependennya berupa dua kategori, yaitu owner-manager yang usaha kecilnya lebih berorientasikan pertumbuhan dan owner-manager yang usaha kecilnya kurang berorientasikan pertumbuhan. Sedangkan variabel independennya berupa atribut-atribut berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil (Mazzarol et al. 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan owner-manager pada usaha kecil yang lebih berorientasi pada pertumbuhan dan owner-manager yang usaha kecilnya kurang berorientasi pada pertumbuhan. Sebelumnya dibedakan terlebih dahulu owner-manager pada usaha kecil yang lebih berorientasi pada pertumbuhan dan owner-manager yang usaha kecilnya kurang berorientasi pada pertumbuhan, dalam penelitian ini penilaian owner-manager terhadap usahanya digunakan sebagai pembeda kedua grup tersebut. Dengan sifat khas (variabel) berdasarkan pada dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil. Dimensi tersebut yaitu, fokus dan arah strategis perusahaan, pemasaran dan orientasi pelanggan, jaringan strategis atau kemitraan, nilai-nilai dan budaya organisasi perusahaan, jaminan kualitas, dan kontrol perusahaan dan sistem pelaporan.
kelompok dikenal dengan group dan sifat khas dikenal dengan variabel pembeda (discriminating variables). Antara kelompok dan variabel pembeda tersebut kemudian dibuat suatu hubungan fungsional yang disebut dengan fungsi diskriminan (Mattjik dan Sumertajaya 2011).
Penelitian ini menggunakan metode analisis diskriminan bertahap (stepwise discriminant), dimana variabel independen dimasukkan ke dalam model secara bertahap berdasarkan kemampuan variabel independen tersebut dalam melakukan diskriminasi antar grup. Metode ini cocok digunakan jika banyak variabel independen yang dilibatkan dan peneliti ingin menyederhanakan model dengan memilih variabel independen terbaik untuk dimasukkan ke dalam model (Malhotra 2005). Model diskriminan yang terbentuk dari metode analisis diskriminan bertahap ini sama baiknya, bahkan terkadang lebih baik, dibandingkan model yang berisi keseluruhan variabel independen yang digunakan dalam penelitian (Hair et al. 1998)
Prosedur pemilihan variabel independen terbaik dilakukan dalam beberapa tahap dengan berdasarkan atas nilai Mahalanobis Distance (Min D square) terbesar dengan nilai Sig. of F to Enter kurang dari 0,05. Apabila kedua kriteria tersebut terpenuhi, maka variabel independen yang bersangkutan dapat dimasukkan ke dalam model. Jika kedua kriteria tersebut tidak terpenuhi proses dihentikan.
Model diskriminan yang terbentuk dapat dikatakan mampu membedakan kedua group secara nyata jika angka Chi square tinggi dengan tingkat signifikansi kurang dari atau sama dengan 0,05. Makin besar nilai Chi square dan makin rendah nilai signifikansi, mengindikasikan bahwa kedua group secara nyata berbeda.
Analisis ini didasarkan atas fungsi diskrimanan yang mempunyai bentuk umum (Supranto 2004):
Keterangan :
Di = nilai (skor) diskriminan dari responden (objek) ke-i. i = 1, 2, ..., n. D merupakan variabel tak bebas. Xij= variabel (atribut) independen ke-j dari responden ke-i.
bj = koefisien atau timbangan diskriminan dari variabel atau atribut ke-j.
Koefisien fungsi diskriminan bj diperkirakan sedemikian rupa sehingga kelompok (kategori) mempunyai nilai fungsi diskriminan (skor) yang sangat berbeda. Jika ada kelompok A dan kelompok B, nilai skor diskriminan dari kelompok A sangat berbeda dengan kelompok B. Tiap-tiap koefisien menggambarkan kontribusi relatif dari variabel independen yang bersangkutan terhadap model diskriminan yang dibentuk. Variabel independen dengan koefisien yang lebih besar memberikan kontribusi yang lebih baik sebagai prediktor (pembeda) dibandingkan variabel independen yang memiliki koefisien yang lebih kecil (Malhotra 2005).
grup tidak sama, sehingga untuk mendapatkan cutting Z score diperoleh melalui rumus yang dikemukakan oleh Hair et al. (1998) yakni :
Dimana :
Zcu = Angka kritis (cutting Z score) Na = Jumlah anggota grup a
Nb = Jumlah anggota grup b Za = Centroids grup a Zb = Centroids grup b
Tahap akhir adalah mengidentifikasi ketepatan prediksi dari model diskriminan, yakni dengan cara menjumlahkan kasus yang secara tepat diprediksi oleh model, kemudian dibagi jumlah kasus secar keseluruhan. Menurut Hair et al. (1998) batas minimal ketepatan prediksi untuk model diskriminan yang tidak sama ukuran grupnya diperoleh dengan rumus :
Cpro = p2+(1 – p2)
Dimana :
Cpro = batas minimal ketepatan prediksi p = proporsi dari grup 1
(1 - p) = proporsi dari grup 2
Jika model diskriminan dengan ukuran grup yang tidak sama sekali memiliki ketepatan prediksi diatas nilai Cpro, maka ketepatan prediksi model tersebut termasuk kategori ketepatan klasifikasi tinggi.
Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, skor penilaian owner-manager terhadap atribut-atribut yang berdasarkan enam dimensi kunci untuk kinerja tinggi pada usaha kecil masih berupa data ordinal, sedangkan syarat variabel independen untuk analisis diskriminan adala minimal interval. Oleh karena itu, harus diubah terlebih dahulu data ordinal tersebut menjadi data interval dengan metode successive interval.
Definisi Operasional
Usaha kecil adalah usaha yang termasuk dalam usaha mikro, kecil, dan menengah yang sesuai dengan kriteria pada undang-undang nomor 20 tahun 2008.
Owner-manager adalah pemilik pada usaha kecil yang berfungsi juga sebagai manajer yang mengelola usaha tersebut.
Orientasi pertumbuhan adalah usaha kecil yang ingin lebih mengembangkan usahanya tersebut menjadi usaha yang lebih besar.
Fokus dan arah strategis perusahaan adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi fokus dan arah strategis perusahaan, seperti memiliki visi dan misi, peluang dan ancaman, keterrampilan.
Pemasaran dan orientasi pemasaran adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi pelanggan dan pasar.
Jaringan strategis atau kemitraan adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi kemitraan dengan pihak lain.
Nilai-nilai dan budaya organisasi perusahaan adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi nilai-nilai dan budaya pada perusahaannya.
Jaminan kualitas adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi jaminam kualitas yang dimiliki perusahaannya.
Kontrol perusahaan dan sistem pelaporan adalah perencanaan strategi owner-manager dalam mengidentifikasi pengelolaan usaha dan informasi-informasi yang ada pada saat ini.
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Karakteristik Wilayah
Wilayah Bogor yang terdiri dari kabupaten dan kota merupakan wilayah yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Bogor merupakan daerah yang luas mengelilingi seluruh bagian dari wilayah Kota Bogor. Kabupaten Bogor memiliki luas sebesar 298.838.304 ha dan Kota Bogor memiliki luas sebesar 118.50 km2, dihuni lebih dari 820.707 jiwa. Secara geografis, Kota Bogor terletak
diantara 106 derajat 43’30’’BT-106 derajat 51’00’’BT dan 30’30’’ LS - 6 derajat
41’00’’ LS. Kota Bogor memiliki ketinggian rata-rata minimal 190 meter dan maksimal 350 meter diatas permukaan laut. Jarak Kota Bogor dengan ibukota Jakarta kurang lebih 60 KM. Batas wilayah Kota Bogor dikelilingi sebagian wilayah Kabupaten Bogor, yaitu
1. Utara :berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Bojonggede, dan Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor
2. Timur :berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor
3. Selatan :berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor
4. Barat :berbatasan dengan Kecamatan Kemang dan Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor
Kabupaten Bogor memiliki jumlah penduduk lebih dari 4.453.927 jiwa. Jumlah penduduk Kabupaten Bogor tercatat sebagai jumlah penduduk terbesar diantara kabupaten lain di Jawa Barat. Batas wilayah Kabupateb Bogor sebagai berikut :
1. Utara :berbatasan dengan Kabupaten Tangerang, Kabupaten/Kota Bekasi dan Kota Depok.