STABILITAS DIMENSI HASIL CETAKAN DARI
BAHAN CETAK ELASTOMER SETELAH DIRENDAM
KEDALAM LARUTAN DAUN SIRIH 25%
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Oleh:
Ahmad Affandi
NIM : 050600161
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan Di hadapan tim penguji skripsi
Medan, 07 September 2009
Pembimbing Tanda Tangan
Lasminda Syafiar,drg., M.Kes ………
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji Pada tanggal 07September 2009
TIM PENGUJI
KETUA : Lasminda Syafiar,drg., M.Kes Anggota : 1. Sumadhi S,drg,. Ph D
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan karunian-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi di
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat penghargaan serta
bimbingan dari pelbagai pihak sehingga skripsi ini dapat disusun dengan baik,
untuk itu dengan kerendahan hati, tulus penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Hj. Lasminda Syafiar, drg., M.Kes selaku Ketua Departemen Ilmu
Material dan Teknologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera
Utara serta sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan
waktu untuk membimbing, membantu dan memberikan arahan kepada
penulis dalam menyelesaiakan skripsi ini.
2. Seluruh Staf Pengajar Departemen Ilmu Material dan Teknologi Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan
masukan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaiakan skripsi ini.
3. Saidina Hamzah Daliemunthe,drg.,Sp.Perio selaku dosen wali yang selalu
membimbing saya selama saya belajar di FKG USU
4. Ayahanda dan ibunda tercinta, Suwarno Usman,Dr.,MKT dan Dra.Tuty
Wuryaningsih, berkat kasih sayang dan doa yang tiada putus- putusnya
selama ini sehingga mengahantarkan penulis kejenjang sarjana. Semoga
gelar Sarjana Kedokteran Gigi yang penulis peroleh bisa membahagiakan
ayahanda dan ibunda, serta kakanda,abanganda dan adinda Tity
wulandari,Dr, Harry sundoro,Dr dan Nurul Utami yang telah memberikan
5. Saudara saudara ku yang tak mungkin di sebutkan semua yang telah
membantu mendoakan agar skripsi ini selesai
6. Yati Roesnawi, drg dan keluarga yang telah memberikan motivasi kepada
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
7. Kekasih ku tercinta Risya Dini Marsa yang telah memberikan ku motivasi,
dorongan, serta semangat yang tinggi untuk menyelesakan skripsi ini.
8. Teman teman-terbaikku Irvan, Dyan, Aswan, TM, Topik, Adi, Seli, Amy,
Tiwi, Ijan, Surya, Azree, Putra, Daniel, Ain, Shaz, Wandi, Chandra, Tito,
Tuiq, Mango, Kiki, Rony, Andri, Muhammad Rahim dan Sheri atas
dorongan dan motivasi yang telah diberikan. Serta teman teman angkatan
2003 sampai 2007 dan seluruh pegawai Departemen Ilmu Material dan
Teknologi, pegawai perpustakaan, pegawai ruang baca dan seluruh pihak
yang membantu penulis.
Penulis menyadari bahwa penulis skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran demi kesempurnaan
skripsi ini. Kiranya skripsi ini dapat memberikan menfaat bagi perkembangan
Ilmu Kedokteran Gigi. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan tersebut
dengan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Medan, 07 September 2009
Penulis
AHMAD AFFANDI
DAFTAR ISI
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA PENELITIAN………… 12
3.1 Kerangka Konsep………. 12
3.2 Hipotesa Penelitian……….. 13
BAB IV METODE PENELITIAN………... 14
4.1 Jenis Penelitian………. 14
7.1 Kesimpulan... 28
7.2 Saran... 28
DAFTAR PUSTAKA... 29
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Hasil pengukuran pada pucak die……… 21
Tabel 2 Hasil uji statistik perubahan dimensi antara die hasil pengisian
cetakan tanpa perendaman hasil cetakan dalam larutan desinfektan
(0 menit) dengan die hasil pengisian cetakan setelah perendaman
hasil cetakan selama 10,20,30,40, dan 50 menit dalam larutan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Alat alat yang dipakai………... 17
Gambar 2 Bahan-bahan yang dipakai……….. 18
DAFTAR GRAFIK
Halaman
Garfik 1 Perbedaan rata-rata hasil pengukuran pada puncak die……….. 22
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Seiring dengan kemajuan IPTEK dan kesadaran pasien, timbul tuntutan
akan peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang canggih,prima,dan memenuhi
syarat kesehatan yang andal. Tindakan didalam kamar praktek gigi dan
penggunaan instrumentasi dokter gigi sangat memungkinkan terjadinya infeksi
silang, baik kepada dokter gigi sendiri, asisten, keluarga, atau ke pasien lainnya.
Dalam prosedur kerjanya, dokter gigi selalu menggunakan instrumen yang
berkontak dengan cairan mulut, darah.1
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat yang ditunjang dengan
majunya teknologi informasi di negara berkembang, sering para dokter gigi
dihadapkan kepada pertanyaan yang berkisar kepada kebersihan alat/instrumen
yang digunakan. Hal ini disebabkan banyaknya penyakit berbahaya yang dapat
ditularkan melalui alat/instrumen,seperti Acquired immune deficiency syndrome
(AIDS) atau hepatitis B.1
Pada dasarnya dalam lingkungan kerja dokter gigi banyak kuman dan
bakteri patogen yang dapat menimbulkan kontaminasi silang terhadap dokter gigi
dan laboran. Seperti diketahui akhir akhir ini banyak perhatian diberikan baik
pada media massa maupun kepada paramedis,usaha usaha untuk mencegah
terjadinya hepatitis B,AIDS dan juga herpes simplek yang dapat bermula di ruang
praktek dokter gigi.2
Salah satu pekerjaan di bidang kedokteran gigi yang dapat menyebabkan
karena itu, perlu untuk merendam hasil cetakan rahang dalam larutan
antiseptik,segera setelah cetakan di keluarkan dari mulut. Ketepatan hasil suatu
bahan cetak merupakan faktor yang sangat penting dalam pembuatan gigi tiruan.2
Kontaminasi instrumen bisa terjadi akibat kontak langsung dengan cairan
mulut, darah, setelah pencetakan terdapat cairan mulut atau saliva pada hasil
cetakan yang dapat mengkontaminasi pada dokter gigi serta laboran. Untuk itu
harus di upayakan dengan pencucian hasil cetakan dengan air serta merendam
hasil cetakan kedalam disinfekstan.1
Durr dan Novak dan Motegi menyatakan untuk menghindari terjadinya
kontaminasi silang maka sebaiknya cetakan setelah dikeluarkan dari mulut
direndam dalam larutan antiseptik selama 10 menit. Suatu usaha untuk
memajukan obat tradisional banyak dilakukan penelitian tentang khasiat daun
sirih. Disebutkan oleh Eykinan bahwa yang memberikan bau khusus pada daun
sirih adalah khavikol, dimana bahan ini mempunyai khasiat bakterisid lima kali
lebih kuat daripada phenol biasa. Dalam penelitian Soepartinah disebutkan bahwa
air sirih 25% yang diolah dengan cara direbus menyebabkan tidak tumbuhnya
bakteri.2
Siswomiharjo W (1994) menyatakan bahwa perubahan dimensi hasil
cetakan dari bahan alginate yang telah direndam dalam larutan desinfeksi air sirih
25%, glutaraldehyde 2% dan sodium hyprochlorite 1% berbeda sangat bermakna
(p<0,01),dan perendaman dalam air sirih 25% memberikan perubahan dimensi
yang paling kecil yaitu sebesar 0,01%. Perubahan dimensi bahan cetak alginate
setelah direndam 10 menit dalam larutan disinfektan, yaitu sebesar 0,02% dengan
glutaraldehyde 2%;0,06% dengan hypochlorite 1%;dan 0,01% dengan air sirih
Menurut penelitian dari Sjoekoer dkk bahwa infusum sirih dapat
menghambat pertumbuhan E.Coli , Staphylococus koagulase positif, Salmonela
typhosa, bahkan Pseudomonas aeruginosa yang kerap kali resisten terhadap
antibiotik.3
Menurut Mc Cabe dan Storer (1980),salah satu faktor penyebab perubahan
dimensi hasil cetakan adalah ketebalan bahan cetak. Selain itu penyebab
perubahan dimensi model kerja dapat pula berasal dari gips keras. Menurut
spesifikasi ADA No.25 perubahan dimensi yang terdapat pada gips keras,karena
terjadinya setting expansion, maksimal yang dapat diterima adalah 0,2%.4
Untuk pencetakan tumpatan tuang, mahkota, gigi tiruan jembatan atau gigi
tiruan penuh lepasan biasanya digunakan bahan cetak elastomer, karena bahan
cetak tersebut dapat menghasilkan ketepatan yang lebih baik dibandingkan
dengan bahan cetak hidrokoloid (Lacy,1981). Pada saaat ini yang tersedia di
Indonesia adalah bahan cetak elastomer jenis polieter dan silikon4.
Menurut Craig dan Peyton (1980), perubahan dimensi dan deformasi
permanen atau perubahan bentuk pada bahan cetak silikon addition type lebih
kecil dibandingkan dengan condensation type. Perubahan dimensi selama 24 jam
kurang dari 0,05%. Hal ini ternyata merupakan perubahan dimensi yang terkecil
dibandingkan dengan semua bahan cetak elastomer yang lain. Waktu pengerjaan
dari bahan cetak silikon addition type relatif lebih pendek dan fleksibilitasnya
lebih rendah dibandingkan dengan bahan cetak elastomer yang lain4.
Addition cured silicone dan polyether impresion materials sangat mungkin
mendapatkan keakuratan cetakan yang diinginkan. Akhir akhir ini banyak
penelitian yang difokuskan untuk improvisasi karakteristik penanganan, stabilitas
Salah satu cara untuk mengeliminasi bakteri dilakukan perendaman
cetakan atau penyemprotan cetakan daengan desinfektan. Cara efektif untuk
mengdisinfeksi bahan cetakan tersebut adalah dengan cara merendam didalam
larutan disinfeksi selama 30 menit. Disinfeksi hasil cetakan dapat juga dilakukan
dengan menggunakan spray disinfeksi5.
American Dental Association menganjurkan perendaman selama 30 menit
dalam larutan disinfektan glutaraldehyde bagi bahan cetak silicone yang
polisulfida kondensasi dan addition cured untuk bahan irreversibel hydrokoloid
dan polyeter digunakan chlorine compound spray5.
Sebagian besar penelitian tentang ekstrak tanaman daun sirih telah
membuktikan efek antibakterialnya terhadap streptokokus mutans . Efek anti
bakterialnya berpengaruh untuk mengurangi pertumbuhan bakteri tersebut. Razak
dan Rahim mengatakan bahwa ekstrak dari daun sirih secara tidak langsung
menghambat perlekatan dari streptokokus mutans dengan membuat lingkungan
jadi tidak kondusif bagi streptokokus mutans untuk melekat.6
1.2Perumusan Masalah
Dari uraian di atas timbul permasalahan apakah perendaman hasil cetakan dari
bahan cetak elastomer dalam larutan sirih 25% akan mempengaruhi stabilitas
dimensi pada hasil cetakan bila dibandingkan dengan hasil cetakan dari bahan
cetak elastomer yang segera diisi gips stone.
1.3Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk melihat ada atau tidaknya perubahan
direndam dengan campuran larutan daun sirih 25% dengan variasi perendaman
10,20,30,40 dan 50 menit.
1.4 Manfaat Penelitian
Dapat diketahui ada tidaknya perubahan dimensi hasil cetakan yang diisi
gips stone setelah hasil cetakan direndam dalam campuran larutan daun sirih 25%
selama 10,20,30,40, dan 50 menit.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam pembuatan gigi tiruan diperlukan bahan cetak yang berfungsi untuk
mendapatkan cetakan negatif dari gigi dan jaringan sekitarnya. Bahan cetak
menurut Combe (1992) dibagi menjadi kelompok nonelastik dan elastik. Bahan
Untuk pencetakan tumpatan tuang, mahkota, gigi tiruan jembatan atau gigi
tiruan penuh lepasan biasanya digunakan bahan cetak elastomer, karena bahan
cetak tersebut dapat menghasilkan ketepatan yang lebih baik dibandingkan
dengan bahan cetak hidrokoloid (Lacy,1981). 4
Untuk menghasilkan cetakan yang akurat,bahan yang digunakan untuk
membuat tiruan dari jaringan intraoral dan ekstraoral harus memenuhi kriteria
berikut. Pertama, bahan tersebut harus cukup air untuk beradaptasi dengan
jaringan mulut serta cukup kental untuk tetap berada dalam sendok cetak yang
menghantar bahan cetak ke mulut. Kedua, selama di mulut,bahan tersebut harus
berubah (mengeras) menjadi benda padat menyerupai karet dalam waktu tertentu;
idealnya waktu pengerasan total harus kurang dari 7 menit. Akhirnya, cetakan
yang mengeras harus tidak berubah atau robek ketika dikeluarkan dari mulut, dan
dimensi bahan harus tetap stabil sehingga bahan cor dapat dituang.7
Terdapat sekelompok bahan cetak elastik menyerupai karet yang dikenal
sebagai elastomer. Bahan ini dikelompokkan sebagai karet sintetik; bahan tersebut
dikembangkan untuk meniru karet alam ketika bahan tersebut menjadi sulit
diperoleh selama Perang Dunia kedua. Awalnya disebut bahan cetak karet, bahan
sintetik tersebut akhir-akhir ini disebut sebagai elastomer atau bahan cetak
elastomerik. ADA spesifikasi No.19 menyebut bahan ini sebagai bahan cetak
elastomerik tanpa air untuk kedokteran gigi.7
Suatu bahan elastomer terdiri atas molekul atau polimer besar yang diikat
oleh sejumlah kecil ikatan. Ikatan silang tersebut mengikat rantai polimer yang
melingkar pada titik tertentu membentuk jalinan 3 dimensi yang sering disebut
sebagai gel. Pada keadaan ideal, peregangan menyebabkan rantai polimer
semula; yaitu rantai kembali melingkar pada keadaan berikat ketika diangkat.
Banyaknya ikatan silang menentukan kelakuan dan sifat elastis bahan tersebut.7
Bahan menyerupai karet sintetik, pertama kali dibuat dari suatu proses
yang disebut vulkanisasi atau curing. Vulkanisasi adalah suatu proses ikatan
silang yang melibatkan gugus sulfur merkaptan, komponen yang memberikan
karakteristik aroma bahan cetak polisulfit. Bahan elastomerik di kedokteran gigi
yang pertama, polisulfida, sering kali dihubungkan dengan (1) jenis bahan,yaitu
bahan cetak berbasis karet;(2) istilah proses,yaitu bahan cetak vulkanisasi;(3)
kimia,yaitu bahan cetak mercaptan,atau (4) nama salah satu pabrik pembuat
pertama, seperti Thiokol Corporation.7
Terdapat 4 jenis elastomer di kedokteran gigi yang digunakan sebagai
bahan cetak : polisulfida,silikon polimerisasi kondensasi, silikon polimerisasi
tambahan dan polieter. Masing masing bahan tersebut dapat mencetak struktur
rongga mulut dengan cukup akurat untuk digunakan dalam pembuatan restorasi
protesa cekat atau lepasan. Kebanyakan bahan cetak elastomer adalah sistem 2
komponen yang di kemas dalam bentuk pasta. Kedua pasta yang berbeda
dikeluarkan dengan panjang yang sama pada kertas pengaduk dan diaduk dengan
spatula sampai berbentuk warna homogen. Pengerasan terjadi melalui suatu
kombinasi perpanjangan rantai polimerisasi atau ikatan silang,atau keduanya baik
dengan reaksi kondensasi maupun reaksi tambahan.7
Pilihan suatu bahan cetak karet ditentukan oleh karakteristik tertentu yang
disukai oleh operator. Umumnya, bahan silikon dan polieter memiliki keunggulan
dalam warna dengan sedikit atau tanpa bau. Bahan tersebut juga lebih bersih. Di
dari sudut pandang lamanya penyimpanan. Cetakan dengan keakuratan yang sama
diperoleh dengan semua bahan elastomer jika digunakan teknik yang tepat.7
Bahan cetak ideal dapat mencetak struktur rongga mulut secara akurat,di
keluarkan dari mulut tanpa distorsi, dan dimensinya tetap stabil selama proses
laboraturium atau ketika diisi stone. Begitu dikeluarkan dari dalam mulut, cetakan
harus mempertahankan keakuratan dimensinya. Juga beberapa prosedur disinfeksi
dapat mengubah bahan cetak, sehingga mempengaruhi keakuratan hasil cor yang
didapat.7
Bahan cetak silikon dengan reaksi tambahan seringkali disebut bahan
cetak polyvinylsiloxane atau vinyl polysiloxane. Vinyl polysiloxane encer dan
agak kental dikemas dalam 2 pasta, sementara bahan putty dikemas dalam 2 tube
yang terdiri atas bahan basis dengan kekentalan tinggi dan bahan katalis. Karena
baik basis dan katalis mengandung bahan yang serupa, kedua bahan ini memiliki
kekentalan yang hampir sama. Jadi, bahan tersebut lebih mudah diaduk
dibandingkan dengan silikon kondensasi.7
Vinyl polysiloxane juga dapat disimpan dalam lemari es sebelum
digunakan. Pendinginan ini memiliki sedikit pengaruh pada kekentalan.
Kemudahan dan kecepatan pemindahan bahan kedalam mulut telah menciptakan
tuntutan terhadap bahan dengan waktu pengerasan yang lebih pendek.7
Bahan cetak vinyl polysiloxane merupakan bahan bersifat elastik paling
ideal selama ini. Distorsi ketika mengeluarkan melalui underkut umumnya tidak
terjadi, karena bahan ini mempunyai nilai regangan dalam tarikan terendah
(distorsi permanen). 7
Bahan cetak Vinyl polysiloxane adalah paling stabil dimensinya
samping yang menyebabkan pengerutan bahan. Perubahan dimensi umumnya
berasal dari pengerutan thermal begitu bahan mendingin dari temperatur mulut ke
temperatur ruangan. Suatu penelitian menunjukan bahwa cetakan yang diisi antara
24 jam dan 1 minggu kemudian memiliki keakuratan yang sama seperti cetakan
yang diisi segera, dengan ansumsi tidak ada masalah dengan hidrogen
gelembung.7
Bahan cetak vinyl polysiloxane mudah didisinfeksi dengan merendam
pada larutan hipoklorit 10% atau glutaraldehid 2%. Umumnya,perendaman 10-15
menit sudah cukup. Satu kerugian dari perendaman yang lebih lama adalah
komponen permukaan, yang membuat bahan lebih hidrofilik dan lebih mudah
diisi dengan stone, cendrung megelupas selama proses disinfeksi. Hasil akhirnya
adalah bahwa bahan hidrofilik menjadi hidrofobik.7
Nama betel dari bahasa Portugis-betle, berasal sebelumnya dari bahasa
Malayalam di negri Malabar yang disebut vettila. Dalam bahasa Hindia lebih
dikenali pan atau paan dan dalam bahasa sunskrit pula disebut sebagai tambula.
Dalam bahasa Sinala Sri Langka disebut bulat. Sedangkan dalam Bahasa Thai
pula disebut sebagai plu. Tanaman ini sudah dikenal sejak tahun 600 SM sebagai
antiseptik yang mampu membunuh kuman. 8
Di dalam daun sirih terkandung minyak atrisi yakni fenol betel dan
kavikol yang menimbulkan aroma yang harum. Dua bahan ini bisa berfungsi
sebagai antiseptik alami karena mengandung komponen fenol alami. Rasa sirih itu
sendiri disebabkan oleh kandungan fenol dan bahan bahan terpene yang
menyebabkan daun tersebut pedas. Bahan bahan yang terdapat dalam daun sirih
Dental stone sebagai bahan pengisi disebut juga sebagai autoclaved
hemihydrate atau alpha hemihydrate. Dental stone ini berwarna putih dan tidak
dapat dibedakan dengan jenis plaster yang juga berwarna putih, sehingga untuk
dapat membedakannya, pada dental stone biasanya di tambahkan zat pewarna
yang tidak mempengaruhi sifat sifat dari bahan tersebut. Bentuk kristalnya lebih
padat dari model plaster, prismatik, dan tidak memerlukan penambahan air yang
banyak bila dibandingkan dengan beta hemihydrate, sehingga dental stone ini
lebih kuat dan lebih keras dibandingkan dengan beta hemihydrate atau model
plaster. Produk yang dihasilkan ini lebih kuat dan lebih keras dibandingkan
dengan hasil dari plaster of paris. Alasan utama dari perbedaan ini adalah bahwa
bubuk alpha hemihydrate membutuhkan lebih sedikit air daripada beta
hemihydrat. Juga dikarenakan oleh perbedaan ukuran kristal, luas permukaan, dan
permukaan kisi dan kristal. Dental stone pada kedokteran gigi digunakan sebagai
bahan pembuat model die, juga sebagai binder bagi bahan investment yang sesuai
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESA PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
PENCETAKAN
Hasil cetakan segera diisi gips
stone tanpa perendaman ke
dalam larutan disinfektan
Hasil cetakan dengan
3.2 Hipotesa Penelitian
Hipotesa penelitian ini adanya perbedaan terhadap stabilitas dimensi hasil
cetakan yang segera diisi gips stone dengan hasil cetakan yang diisi gips stone
setelah perendaman hasil cetakan ke dalam larutan daun sirih 25% selama
10,20,30,40,dan 50 menit
• Pengisian hasil cetakan dengan gips stone setelah perendaman, hasil cetakan dalam larutan desinfektan selama 10,20,30,40 dan 50 menit
Model Die
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian : Eksperimental Laboraturium
4.2. Desain Penelitian : Posttest Only Control Group Desain
4.3 Tempat Penelitian : Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Material
Dan Teknologi Fakultas Kedokteran Gigi USU Medan
4.4. Populasi,sampel, dan besar sampel
4.4.1 Populasi : Model / die dari gips stone yang merupakan
hasil pengisian cetakan dengan bahan cetak
elastomer
4.4.2 Sampel : Die hasil cetakan dari bahan cetak elastomer
cetakan dari bahan cetak elastomer yang
direndam dalam larutan daun sirih 25% dengan
variasi waktu perendaman berbeda, lalu diisi
dengan gips stone
4.4.3 Besar Sampel : Sampel yang dibuat sebesar 10 buah untuk
setiap perlakuan
4.5 Varibel Penelitian
4.5.1 Varaiabel Bebas
1. Die dari gips stone hasil pengisian cetakan setelah hasil cetakan
direndam dalam larutan daun sirih 25% dalam waktu yang berbeda.
2. Die dari gips stone hasil cetakan segera setelah dilakukan
pencetakan
4.5.2 Variabel Tergantung
1. Lamanya perendaman hasil cetakan
2. Jenis larutan desinfeksi yang digunakan untuk perendaman hasil
cetakan
4.5.3 Variabel Terkendali
1. Ratio gips stone dan air
2. Cara pengisian bahan cetak
3. Larutan daun sirih 25%
4. Ratio base pasta dan accelelator
4.5.4 Variabel Tidak Terkendali
1. Besarnya tekanan selama pencetakan
3. Kecepatan pengadukan bahan cetak elastomer
4. Melepaskan cetakan dari die
5. Defenisi Operasional
5.1 Stabilitas dimensi adalah kemampuan ukuran untuk atau ruang
lingkup untuk tetap bertahan terhadap lingkungan
5.2 Desinfektan merupakan zat yang berkhasiat mencegah terjadinya
infeksi dengan membunuh bentuk vegetatif kuman-kuman yang berada
diluar tubuh.
5.3 Grup kontrol merupakan grup placebo ( tanpa perlakuan
perendaman hasil cetakan dalam larutan disinfektan).
Variabel Bebas
• Lamanya perendaman hasil
cetakan
• Jenis larutan desinfektan yang digunakan untuk perendaman hasil cetakan
Variabel Tidak Terkendali
• Besarnya tekanan selama pencetakan
• Arah tekanan selama pencetakan
• Kecepatan pengadukan bahan cetak elastomer
• Melepaskan cetakan dari die
Variabel Tergantung
• Die dari gips stone hasil pengisian cetakan setelah
perendaman hasil cetakan
dalam larutan desinfektan
larutan daun sirih 25%
• Die dari gips stone hasil pengisian cetakan segera
setelah dilakukan pencetakan
Variabel Terkendali
• Ratio gips stone dan air
• Cara pengisian bahan cetak
• Larutan daun sirih 25%
• Ratio base pasta dan accelelator
• Bahan cetak elatomer
5.4 Batas toleransi klinik merupakan batas perubahan dimensi yang
terjadi pada bahan cetak setelah perlakuan yang masih diterima dalam
penggunaan klinik.
6. Alat dan Bahan Penelitian
6.1 Alat Penelitian
Alat yang digunakan adalah :
- Sendok cetak partial
- Vibrator
- Rubber bowl dan spatula
- Master die
- Kaliper
- Kaca pengaduk
A B
C D
B. Kaliper C. Master die
D. Kaca pengaduk dan lecron 6.2 Bahan Penelitian
Bahan penelitian yang digunakan adalah
- Bahan cetak elastomer Exaflex-Hidrophilic vinyl poltsiloxane
- Aquades
- Gips Stone
- Larutan Daun sirih 25%
A B
C
Gambar 2. Bahan bahan yang dipakai : A. Daun sirih
B. Bahan cetak elastomer Exaflex-Hidrophilic vinyl poltsiloxane C. Dental stone
7. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Cara kerja :Daun srirh 500 gram dipotong potong kemudian direbus
ke dalam 1 L air hingga mendidih. Setelah dingin, air yang tersaring
adalah 50%. Pengenceran air sirih 50% dengan aquades ( 1:1) yang
akan menghasilkan air sirih 25%.
2. Dibuat 10 buah sampel sebagai kontrol yaitu hasil cetakan bahan
cetak elastomer yang langsung diisi gips stone
Cara kerja :
Bahan cetak katalis dan base dengan ratio 1:1 di aduk secara
membolak balik lipatan diatas glass plate ,setelah bahan cetak
tercampur homogen,diletakkan pada sendok cetak partial. Kemudian
dilakukan pencetakan pada master die sebagai model. Setelah bahan
cetak mengeras, cetakan dilepas dari model segera diisi dengan bahan
pengisi yaitu gips stone dengan P/W ratio 1:1 dengan menggunakan
alat vibrator.
3. Dibuat 10 sampel seperti cara diatas, tetapi hasil cetakan tidak
segera diisi namun direndam selama 10 menit dalam larutan
disinfektan daun sirih 25% sebelum diisi gips stone.
4. Dibuat 10 sampel seperti cara diatas, tetapi hasil cetakan tidak
segera diisi namun direndam selama 20 menit dalam larutan
disinfektan daun sirih 25% sebelum diisi gips stone.
5. Dibuat 10 sampel seperti cara diatas, tetapi hasil cetakan tidak
segera diisi namun direndam selama 30 menit dalam larutan
6. Dibuat 10 sampel seperti cara diatas, tetapi hasil cetakan tidak
segera diisi namun direndam selama 40 menit dalam larutan
disinfektan daun sirih 25% sebelum diisi gips stone.
7. Dibuat 10 sampel seperti cara diatas, tetapi hasil cetakan tidak
segera diisi namun direndam selama 50 menit dalam larutan
disinfektan daun sirih 25% sebelum diisi gips stone.
8. Setelah diperoleh model, dilakukan pengukuran dengan
menggunakan kaliper pada puncak die.
8. Analisa Data
Untuk membedakan pengukuran model die hasil cetakan yang segera
diisi dengan hasil cetakan yang direndam dalam larutan disinfektan daun sirih
25% dengan variasi perendaman 10,20,30,40 dan 50 menit, maka dilakukan uji
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN ANALISI HASILPENELITIAN
5.1 Hasil Penelitian
Besar sampel pada penelitian ini 10 buah untuk setiap perlakuan. Hasil
pengukuran pada seluruh die dapat dilihat pada table 1.
Tabel 1.Hasil Pengukuran Pada Puncak die
0menit
Dengan uji ANOVA satu arah dengan tingkat kemaknaan ( = 0,05).
Diperoleh hasil hasil yang tertera pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Uji Statistik Perubahan Stabilitas Dimensi Antara Die Hasil
Cetakan Dalam Larutan Desinfektan (0 menit) Dengan Die Hasil
Pengisian Cetakan Setelah Perendaman Hasil Cetakan Selama
10,20,30,40, dan 50 menit Dalam Laruta Desinfektan
Waktu dalam menit N Mean + SD Mean Difference (I-J) Sig
Keterangan : *terdapat perbedaan yang bermakna
Perbedaan rata rata hasil pengukuran pada puncak die pada masing masing
waktu yang berbeda dapat dilihat pada grafik 1
waktu (menit)
BAB 6
PEMBAHASAN
Dari data yang terkumpul diketahui bahwa rata rata perubahan dimensi
terbesar adalah hasil cetakan yang direndam selama 50 menit dan yang terkecil
yang direndam selama 10 dan 30 menit (Tabel 2). Dari pengukuran puncak die
hasil cetakan dimana hasil cetakan direndam dalam larutan desinfektan
menunjukan ada perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada perendaman
10,20,30,40 dan 50 menit. Berarti jenis larutan desinfektan yang digunakan sangat
berpengaruh terhadap perubahan dimensi bahan cetakan.
Perbedaan rata rata diameter hasil pengukuran pada puncak die (grafik
1), yaitu 0,6010 pada 0 menit 0,6110 pada perendaman 10 menit , 0,6130 pada
perendaman 20 menit, 0,6110 pada perendaman 30 menit, 0,6130 pada
perendaman 40 menit, dan 0,6240 pada perendaman 50 menit.
Terjadi perubahan rata-rata perbedaan dimensi antara die kontrol dengan
die hasil perendaman selama 10 menit (tabel 1). Pada perbandingan waktu ini
diperoleh signifikasi sebesar 0,011 (p<0,05) yang artinya terjadi perubahan
stabilitas dimensi pada gips stone hasil pengisian cetakan dalam larutan disinfeksi
yaitu sebesar -0,01000.
Terjadi perubahan rata-rata perbedaan dimensi yang sama antara die
kontrol dengan die hasil perendaman selama 20 menit dan 40 menit (tabel 1).
Pada perbandingan waktu ini diperoleh signifikasi sebesar 0,003 (p<0,05) yang
artinya terjadi perubahan stabilitas dimensi pada gips stone hasil pengisian
Terjadi perubahan rata-rata perbedaan dimensi yang bermakna antara
die kontrol dengan die hasil perendaman selama 30 menit (tabel 1). Pada
perbandingan waktu ini diperoleh signifikasi sebesar 0,003 (p<0,05) yang artinya
adanya perubahan stabilitas dimensi pada gips stone hasil pengisian cetakan
dalam larutan disinfeksi.
Terdapat rata-rata perbedaan dimensi antara die kontrol dengan die hasil
perendaman selama 50 menit (tabel 1). Pada perbandingan waktu ini diperoleh
signifikasi sebesar 0,000 (p<0,05) yang artinya terjadi perubahan stabilitas
dimensi yang bermakna pada gips stone hasil pengisian cetakan dalam larutan
disinfeksi yaitu sebesar -0,02300.
Siswomiharjo W (1994) menyatakan bahwa perubahan dimensi hasil
cetakan dari bahan alginate yang telah direndam dalam larutan desinfeksi air sirih
25%, glutaraldehyde 2% dan sodium hyprochlorite 1% berbeda sangat bermakna
(p<0,01),dan perendaman dalam air sirih 25% memberikan perubahan dimensi
yang paling kecil yaitu sebesar 0,01%. Pada bahan cetak bahan cetak elastomer
Exaflex-Hidrophilic terdapat rata rata perbedaan dimensi antara die control
dengan die hasil perendaman 10,20,30,40 dan 50 menit (tabel 1). Pada setiap
perbandingan waktu di peroleh signifikasi yang hasilnya p<0,05 yang artinya
terjadi perubahan stabilitas dimensi pada gips stone hasil pengisian cetakan
setelah perendaman hasil cetakan dalam larutan disinfektan. 6
Stabilitas dimensi die hasil pengisian cetakan sedikit mengalami
perubahan dibandingkan kontrol pada perendaman hasil cetakan mulai dari 10
menit ( mean difference = -0,01000 ; p=0,011), sampai perendaman selama 50
menit ( mean difference = -0,02300; p=0,000). Terjadi penurunan perbandingan di
menit perendaman hasil cetakan yang direndam ke dalam larutan daun sirih 25%
mengalami peubahan dimensi yang bermakna.
Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan hasil penelitian ini
berbeda dengan penelitian penelitian sebelumnya. Perbedaan ini mungkin
berhubungan dengan larutan desinfektan yang digunakan. Dalam hal komposisi
larutan desinfektan kandungan fenol dalam larutan desinfektan tersebut dapat
menguap sehingga berpengaruh terhadap zat antiseptik ini. Temperatur ruangan
tempat penelitian yang tidak mampu dikendalikan ketika melakukan pencetakan
dan perendaman juga mungkin menyebabkan perubahan larutan desinfektan yang
digunakan.
Menurut Craig dan Peyton (1980), perubahan dimensi dan deformasi
permanen atau perubahan bentuk tetap pada bahan cetak silikon addition type
lebih kecil dibandingkan dengan condensation type. Perubahan dimensi selama 24
jam kurang dari 0,05%. Hal ini ternyata merupakan perubahan dimensi yang
terkecil dibandingkan dengan semua bahan cetak elastomer yang lain. Waktu
pengerjaan dari bahan cetak silikon addition type relatif lebih pendek dan
fleksibilitasnya lebih rendah dibandingkan dengan bahan cetak elastomer yang
lain4.
Motegi menyebutkan bahwa direndamnya hasil cetakan larutan antiseptik
hanya akan terjadi perubahan dimensi sekitar 0-0,2%,yang mana hal ini masih
dalam batas toleransi klinik. Sesuai dengan hal tersebut, hasil penelitian dengan
perendaman hasil cetakan dalam larutan desinfektan daun sirih 25% ini juga
didapatkan adanya perubahan stabilitas dimensi pada gips stone hasil pengisian
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Terjadinya perubahan dimensi hasil cetakan dengan memakai bahan
cetak elastomer yang bermakna (p<0,05) antara die hasil perendaman cetakan
dalam larutan desinfektan daun sirih 25% pada perendaman selama
10,20,30,40 dan 50 menit dengan die hasil cetakan yang segera diisi (tanpa
perendaman).
7.2 Saran
1. Diharapkan hasil penelitian ini sebagai data awal untuk penelitian lebih
lanjut
2. Diharapkan penelitian lanjutan yang lebih jauh dan mendalam untuk
mengetahui lebih pasti penyebab perubahan stabilitas dimensi bahan cetak
pada saat perendaman dalam larutan desinfektan.
3. Perlu penelitian lebih lanjut terhadap kelompok populasi yang lebih luas,
agar didapatkan tingkat validitas yang tinggi, sehingga perubahan dimensi
hasil cetakan pada bahan cetak elastomer yang di rendam pada larutan
DAFTAR PUSTAKA
1. Iskandar B, Yuliarsi Y. Mencegah terjadinya infeksi silang dalam praktek
dokter gigi. Majalah Kedokteran Gigi FKG Usakti 1993; 2 : 725-31
2. Siswomihardjo W. Perubahan dimensi cetakan alginate setelah direndam
dalam air sirih 25%. Jurnal Kedokteran Gigi Indonesia 1994; 43(1):69-71.
3. Intan N. Dekok (air rebusan) Daun Sirih (Piper Betle Linn) Mampu
menghambat pertumbuhan Candida Albicans.Jombang 2008;1-2
4. Devi R. Pengaruh Variasi ketebalan Beberapa Jenis Bahan Cetak
Elastomer Terhadap Ketepatan Model Kerja Yang Dihasilkan. Majalah
Kedokteran Gigi Surabaya 1994;1: 21-32
5. Richard VN. Introduction to Dental Materials 3rd ed. London:Mosby
Elsevier.2007,196-207
6. T.Nalina and Z.H.A. Rahim.The crude aqueous of ppiper betle L. and its
Antibacterial effect towards Streptococus mutans.Malaysia.American
Journal of Biotechnology and Biochemistry 3 University of Malaya 2007:
10-15
7. Anusavice KJ. Philips’ Science of Dental Material. 10th ed. Alih
bahasa.Budiman J.A dan Purwoko S.Jakarta.EGC.2004: 93-148
8. Heyne, K., Tumbuhan berguna Indonesia jilid II, Dept. Kehutanan,Jakarta
2008(950):347-349
9. Phillips RW. Science of Dental Materials. 8th ed. Philadelphia: WB
Saunders Company, 1982: 80-3, 126-36
10. Skinner EW, Phillips RW. The Science of Dental Materials. 5th ed.
Lampiran 1 skema alur penelitian
Hasil Cetakan Bahan Cetak Elastomer
Lampiran 2 Data hasil pengukuran pada puncak die
0menit (kontrol)
10menit (perendam
an)
20menit (perendam
an)
30menit (perendam
an)
40menit (perendam
an)
50menit (perendam
an)
0,60 0,61 0,61 0,62 0,62 0,62
0,60 0,61 0,61 0,61 0,62 0,62
0,60 0,60 0,60 0,60 0,61 0,63
0,59 0,60 0,63 0,62 0,62 0,63
0,61 0,62 0,63 0,61 0,62 0,62
0,60 0,62 0,61 0,60 0,61 0,63
0,62 0,60 0,62 0,62 0,60 0,63
0,60 0,62 0,61 0,61 0,61 0,61
0,61 0,61 0,61 0,61 0,61 0,63
Lampiran 3 Hasil uji statistik pengukuran diameter pada puncak gips stone
hasil pengisian cetakan setelah perendaman hasil cetakan dalamlarutan
disinfektan dan tanpa perendaman dalam larutan desinfektan
diameter die
N Mean Std. Deviation Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Minimum Maximum
Lower Bound Upper Bound
0 10 .6010 .01101 .00348 .5931 .6089 .58 .62
Test of Homogeneity of Variances
(I) waktu
Lower Bound Upper Bound