• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan pendidikan agama dalam keluarga terhadap sikap keagamaan siswa di SMPI YAPKUM Meruyung, Limo, Depok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan pendidikan agama dalam keluarga terhadap sikap keagamaan siswa di SMPI YAPKUM Meruyung, Limo, Depok"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

MERUYUNG, LIMO, DEPOK

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh

Ayu Puspita Sari NIM. 1810011000060

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

i

dalam Keluarga Terhadap Sikap Keagamaan Siswa di SMP Islam Yapkum Meruyung, Limo – Depok.

Berdasarkan masalah mengenai pentingnya pendidikan Agama dalam keluarga, yang mana bisa berhubungan dengan sikap keagamaan pada seorang anak, maka penulisan ingin mengetahui lebih lanjut tentang Hubungan Pendidikan Agama dalam keluarga terhadap sikap keagamaan siswa di SMPI Yapkum, Limo, Depok.

Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui pendidikan agama dalam keluarga, (2) untuk mengetahui sikap keagamaan pada siswa di SMPI Yapkum Meruyung, Limo – Depok, (3) untuk mengetahui hubungan pendidikan agama islam dalam keluarga terhadap sikap keagamaan siswa di SMPI Yapkum Meruyung, Limo – Depok.

Metode yang digunakan adalah menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriftif analisis yang ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui penelitian lapangan (field research), yaitu menghimpun data dan fakta dari objek yang diteliti. Sampel penelitian berjumlah 50 siswa berasal dari kelas VII (tujuh). Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan bentuk alternatif jawaban SL (selalu) SR (sering) KD (kadang-kadang) TP (tidak pernah). Jumlah quesioner 30 soal.

(8)

ii

Alhamdulillah puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.

Karena dengan inayah, rahmat dan karunia Allah SWT, penulis skripsi ini dapat

diselesaikan. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad saw

sebagai revolusioner dunia dan pembawa risalah serta kepada keluarga, dan para

sahabatnya, mudah-mudahan kita semua akan mendapatkan syafa`at `udzma di yaumil kiamat kelak Amin.

Pada dasarnya dalam proses penulisan skripsi ini, penulis banyak sekali

mendapati kesulitan. Akan tetapi, dengan adanya bantuan dan partisipasi dari

berbagai pihak Alhamdulillah penulisan skripsi ini masih banyak sekali

kekurangan sehingga saran serta kritik dengan kerendahan hati penulis terima

dengan sehingga skripsi dapat lebih sempurna lagi.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih

kepada berbagai pihak dan instansi lainnya yang telah membimbing penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini antara lain kepada :

1. Dra. Nurlena Rifa’i, M.A. Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Abdul Majid Khon, M.Ag selaku Ketua Jurusan PAI Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan.

3. Marhamah Saleh, Lc., M.A selaku Sekretaris Jurusan PAI Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan.

4. Drs. Ahmad Basuni, M.A selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah sabar

membimbing, memberikan saran, arahan, motivasi dan telah meluangkan

waktu, tenaga dan pikiran di sela-sela kesibukannya.

5. Kepada Ibu Dra. Juriyatul Fitriyah selaku Kepala Sekolah SMPI Yapkum

Meruyung Limo – Depok. Serta seluruh dewan guru, staf karyawan dan siswa

siswi kelas VII yang telah berpartisipasi dan memberikan kontribusinya dalam

memperoleh informasi, dan meluangkan waktunya kepada penulis hingga

(9)

iii banyak suamiku buat semuanya.

7. Ibu mertua (Elem), semua kakak dan adik iparyang selalu memberikan

motivasi dan do`a hingga terselesaikannya skripsi ini.

8. Bang Barry yang sudah meluangkan waktu sudah mau menemani dan

membantu dalam pembuatan skripsi ini sampai selesai.

9. Ayahanda Ahmad Albar dan ibunda Nani yang selalu memberikan kasih

sayang, do`a dan motivasi hingga terselesainya skripsi ini. Ananda mungkin

tidak mampu membalasnya. Serta adaik-adiku Putri Rosalina dan Triana

Pujiati.

10.Teman-teman seperjuangan jurusan PAIkelas C angkatan 2010 dan yang tidak

dapat penulis sebutkan. Yang telah menemani perjalanan dalam

menyelesaikan setiap mata kuliah, selalu memberikan motivasi, hingga

selesainya skripsi ini. Mudah-mudahan tali silaturahim selalu terjaga diantara

kita.

Akhirnya penulis menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.

Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi siapa saja yang

membacanya untuk menambahkan ilmu pengetahuan. Amin ya Robbal `alamin.

Jakarta, 24 September 2014

(10)

iv

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 3

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Deskripsi Teoretik ... 5

1. Pendidikan Agama dalam Keluarga ... 5

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 5

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 6

2. Pengertian Keluarga ... 7

3. Fungsi Keluarga ... 10

a. Pengertian Sikap... 11

b. Pengertian Agama, Beragama, dan Keagamaan 12 c. Terbentuknya sikap keberagamaan ... 16

B. Kerangka Berfikir... 20

C. Hasil Penelitian yang Relevan ... 21

(11)

v

C. Variabel Penelitian ... 23

D. Populasi dan Sampel ... 23

E. Teknik pengumpulan Data ... 24

F.Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data ... 24

G. Instrumen Penelitian ... 27

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Keadaan Sekolah ... 29

a. Profil Sekolah ... 29

b. Fisi dan Misi Sekolah ... 30

c. Sejarah Singkat Sekolah ... 31

d. Keadaan Guru... 31

e. Keadaan Siswa ... 32

f. Keadaan Sarana dan Prasarana... 33

g. Struktur Organisasi... 34

h. Deskripsi Data ... 35

B. Analisis Data ... 50

C. Interpretasi Data ... 53

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(12)

vi

2. Tabel 3.2 Klasifikasi tabel angket ... 25

3. Tabel 3.3 Tabel Interpretasi nilai “r” product moment ... 26

4. Tabel 3.4 Kisi-kisi Instrumen penelitian ... 27

5. Tabel 4.1 Keadaan guru SMP Islam Yapkum ... 31

6. Tabel 4.2 Keadaan siswa SMP Islam Yaplum T.P 2013-2014 ... 32

7. Tabel 4.3 Keadaan sarana sarana dan prasarana diSMPI Yapkum ... 33

8. Tabel 4.4 Apakah orang tua mengajarkan Sholat 5 waktu ... 35

9. Tabel 4.5 Apakah di rumah orang tua membiasakan Sholat berjamaah... 36

10.Tabel 4.6 Apakah orang tua setiap hari membangunkan pagi dan menyuruh anda untuk sholat subuh ... 36

11.Tabel 4.7 Apakah orang tua mengajarkan ngaji dan Membaca Al-qur’an ... 37

12.Tabel 4.8 Apakah orang tua menyuruh anda puasa Jika bulan ramadhan ... 37

13.Tabel 4.9 Apakah orang tua mengenalkan anda nama Para Nabi dan Malaikat... 38

14.Tabel 4.10 Apakah orang tua mengiatkan anda untuk Berdoa kalau mau tidur ... 38

15.Tabel 4.11 Apakah orang tua menyuruh anda berdoa Ketika mau makan ... 39

16.Tabel 4.12 Apakah orang tua mengajarkan anda untuk Mengucap salam jika bertamu kerumah orang ... 39

17.Tabel 4.13 Apakah orang tua mengajak anda untuk Menghadiri kegiatan hari besar Islam ... 40

[image:12.595.113.508.143.739.2]
(13)

vii

20.Tabel 4.16 Apakah orang tua menyuruh anda untuk

Menutup aurat dan berpakaian sopan ... 41

21.Tabel 4.17 Apakah orang tua menemani anda belajar

di rumah setiap hari... 42

22.Tabel 4.18 Apakah di dalam keluarga anda di ajarkan

untuk menghormati orang yang lebih tua dan

menyayangi yang lebih muda ... 42

23.Tabel 4.19 Jika mau pergi anda mengucap salam... 43

24.Tabel 4.20 Jika pergi dan pulang sekolah anda

Mencium tangan orang tua ... 43

25.Tabel 4.21 Jika bertemu guru di jalan, anda memberi

Salam dan mencium tanganya ... 44

26.Tabel 4.22 Dalam mengerjakan sholat anda setiap hari

Tepat pada waktunya ... 44

27.Tabel 4.23 Jika berbicara anda dengan bahasa yang

Sopan pada orang tua ... 45

28.Tabel 4.24 Jika selesai sholat anda mendo’akan kedua

Orang tua... 45

29.Tabel 4.25 Jika selesai sholat anda menyempatkan

Waktu untuk membaca Al Qur’an ... 46

30.Tabel 4.26 Jika melakukan kesalahan anda mau

Meminta maaf ... 46

31.Tabel 4.27 Jika guru sedang menjelaskan pelajaran anda

Mendengarkan dengan baik ... 47

32.Tabel 4.28 Setiap hari anda belajar dan mengerjakan

PR di rumah ... 47

33.Tabel 4.29 Jika anda ada sisa uang jajan lalu di tabung ... 48

34.Tabel 4.30 Jika sedang libur sekolah anda mau

(14)

viii

36.Tabel 4.32 Jika sedang di nasehati orang tua anda

Mendengarkan dengan baik ... 49

37.Tabel 4.33 Jika sedang ulangan anda tidak menyontek ... 50

(15)

ix 2. Bimbingan Skripsi

3. Permohonan Izin Penelitian

4. Permohanan Izin Observasi

5. Surat Keterngan Kepala Sekolah SMPI Yapkum Merunyung, Limo – Depok

6. Angket Penelitian Tentang Pendidikan Agama Dalam Keluarga

7. Angket Penelitian Tentang Sikap Keagamaan Siswa

8. Tabel Keadaan Guru SMPI Yapkum Meruyung, Limo – Depok

9. Tabel Keadaan Siswa SMPI Yapkum Meruyung, Limo – Depok

10.Tabel Saran dan Prasarana SMPI Yapkum Meruyung, Limo – Depok

11.Daftar Uji Referensi

(16)

A. Latar Belakang

Dalam keluarga orang tua mempunyai peranan yang sangat penting,

bukan hanya sebagai pendidik dan pembimbing saja tapi juga sebagai pembina

kesiapan anak dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu orang tua

harus mampu menjadi tauladan bagi putra dan putrinya. Menurut Zakiyah

Daradjat bahwa; pembentukan sikap, pembinaan moral dan pribadi pada

umumnya, terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Pendidik atau pembina pertama

dalam keluarga adalah orang tua dan kemudian jika di sekolah adalah guru.

Semua pengalaman yang di lalui oleh anak waktu kecilnya, akan merupakan unsur

penting dalam pribadinya.1

Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Sebelum

anak itu mengenal lingkungan luar, dalam masalah ini keluarga yang dimaksud

adalah keluarga inti, yang terdiri dari ayah, ibu, kaka, dan adik. Oleh karena itu

ayah dan ibu adalah sebagai orang tua, yang mana peran orang tua adalah sebagai

pendidik, pembimbing, dan pembina anak pertama yang akan mempengaruhi dan

menentukan pembentukan sikap serta kesiapan anak dalam melaksanakan

ajaran-ajaran Islam. Jadi keluarga dalam hal ini adalah orang tua yang mempunyai

pengaruh terhadap sikap keagamaan pada anak-anaknya.

Oleh karena itu sangatlah penting bagi orang tua dalam memberikan

pendidikan agama sebagai pembinaan kesiapan anak dalam melaksanakan ajaran

Islam, melalui aktivitas keagamaan yang tercermin dalam keluarga, karena semua

ini akan lebih mudah untuk lebih mengerti, memahami serta menirunya. Dimana

dengan sikap dan aktivitas keagamaan itu dapat memberikan tauladan yang nyata

bagi anak, dan ketauladanan orang tua yang tercermin di dalam keluarga dan

kehidupan sehari-hari lebih baik dari daripada sekedar pemberian informasi dalam

penanaman nilai-nilai keagamaan. Sangatlah penting bagi orang tua untuk

senantiasa menciptakan suasana keagamaan dalam keluarga. Karena dengan

1 Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama. Bulan Bintang. Jakarta, 2003 hal. 67

(17)

adanya suasana keagamaan dalam keluarga, akan menjadikan hubungan yang

dinamis, dan harmonis antara orang tua untuk mengarahkan serta membina sikap

keagamaan pada anak.2

Bagi orang tua pengetahuan saja tidak cukup, akan tetapi harus disertai

dengan penerapannya. Keluarga merupakan lembaga pendidikan non formal

pertama yang banyak memberi pengajaran agama pada anak. Karena disitulah

tahap awal proses pendidikan dan perkembangan anak dimulai.

Pendidikan agama pada keluarga antara lain anak dibiasakan patuh,

berbudi luhir, disiplin, pandai menempatkan diri sebagai hamba Allah diantaranya

dengan rajin ke masjid sholat berjamaah, sholat lima waktu dan membaca Al-qur’an.

Mendidik anak memang tidaklah mudah sehingga orang tua ketika

mendidik harus mengetahui metode yang sesuai dengan pertumbuhan dan

perkembangan anak. Kurangnya pendidikan agama yang dimiliki oleh orang tua

sehingga pendidikan agama yang diberikan kepada anakpun tidak maksimal.

Selain itu pula kegiatan yang mencerminkan nilai agama pun tidak dibiasakan,

sehingga pengaruh lingkungan dapat merubah sikap keagamaan pada anak.

Dengan ini sudah jelas, bahwa lingkungan keluarga mempunyai peranan

dan pengaruh yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak

terhadap sikap keagamaan pada anak-anak, dalam hal ini keluarga yang dimaksud

adalah keluarga inti yaitu orang tua, yang mempunyai hubungan terhadap

pembentukan sikap keagamaan pada nak, untuk membentuk kepribadian anak

menjadi muslim dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku yang sesuai

dengan ajaran Islam.

Karena pendidikan agama diterima oleh anak dilingkungan keluarga

maka sikap keagamaan yang pertama dibentuk oleh lingkungan keluarga.

Melihat pentingnya pendidikan agama dalam keluarga, maka penulis

ingin mengetahui lebih lanjut tentang hubungan pendidikan agama dalam

keluarga terhadap sikap keagamaan siswa SMP Islam Yapkum Meruyung, Limo

(18)

Depok, dengan judul “Hubungan Pendidikan Agama dalam Keluarga Terhadap Sikap Keagamaan Siswa SMP Islam Yapkum di Meruyung, Limo Depok.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka

terdapat beberapa masalah, diantaranya yaitu :

1. Kurangnya perananan dan ketauladanan orang tua di dalam keluarga.

2. Tidak adanya aktifitas keagamaan yang tercermin dalam keluarga.

3. Kurangnya pendidikan agama dalam keluarga sehingga mempengaruhi

sikap keagamaan pada anak.

C. Batasan Masalahdan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Dan permasalahan-permasalahan yang tercantum pada Identifikasi

masalah, penulis melihat perlu melakukan pembatasan masalah, hal ini

dilakukan agar permasalahan penelitian tidak menimbulkan kerancuan,

maka masalah penelitian menjadi sebagai berikut :

a. Yang dimaksud dengan pendidikan agama di dalam keluarga

adalah interaksi yang teratur dan diarahkan untuk membimbing

jasmani dan rohani anak dengan ajaran Islam, yang berlangsung di

lingkungan keluarga.

b. Yang dimaksud sikapkeagamaan adalah Sikap keagamaan

merupakan suatu keadaan yang ada dalam diriseseorang yang

mendorongnya bertingkah laku sesuai dengan kadarketaatannya

pada agama.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada identifikasi masalah diatas maka penulis

merumuskan masalah sebagai berikut :

Bagaimanakah hubungan pendidikan agama dalam keluarga terhadap

sikap keagamaan pada siswa di SMP Islam Yapkum Meruyung, Limo

(19)

3. Pertanyaan Penelitian :

a. Bagaimana pendidikan agama di dalam keluarga pada siswa SMP

Islam Yapkum Meruyung, Limo Depok ?

b. Bagaimanakah sikap keagamaan pada anak SMP Islam Yapkum

Meruyung, Limo Depok ?

c. Bagamanakah hubungan pendidikan agama terhadap sikap

keagamaan siswa di SMP Islam Yapkum Meruyung, Limo Depok

?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui pendidikan agama dalam keluarga.

2. Untuk mengetahui sikap keagamaan pada siswa di SMP Islam Yapkum

Meruyung, Limo Depok.

3. Untuk mengetahui hubungan pendidikan agama dalam keluarga terhadap

sikap siswa di SMP Islam Yapkum Meruyung, Limo Depok.

Adapun manfaat dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Dapat merubah dan meningkatkan sikap ke agamaan pada siswa.

2. Memberikan masukan kepada orang tua dan guru agar selalu

membiasakan aktifitas keagamaan di lingkungan rumah atau sekolah.

3. Dengan adanya penelitian ini kita semua,terutama saya sebagai penulis,

bisa mengetahui, dan mengambil pelajaran bahwa pentingnya pendidikan

agama dalam keluarga, karena dapat berpengaruh terhadap sikap

(20)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Deskripsi Teoritik

1. Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Ahmad tafsir mendifinisikan pendidikan sebagai pengembangan

pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud

pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri,

pendidikan oleh lingkungan dan pendidikan oleh orang lain (Guru) semua

aspek mencakup jasmani,akal dan hati.3

Pengertian pendidikan dari segi bahasa yang di miliki islam

ternyata jauh lebih beragam, di bandingkan dari segi bahasa di luar islam.

Hal ini menunjukan keseriusan dan kecermatan ajaran islam dalam

membina potensi manusia secara detail, juga menjukan tanggung jawab

yang besar, yaitu dalam melakukan pendidikan tidak boleh mengabaikan

pengembangan seluruh potensi manusia.

Pengertian pendidikan dari segi istilah dalam islam tampak masih

di pengaruhi oleh kepentingan masyarakat dari pada kepentingan individu.

Nilai-nilai, ajaran dan norma yang ada di masyarakat harus di tanamkan di

kedalam diri manusia.4

Pendidikan islam dapat di definisikan sebagai usaha sadar untuk

membimbing atau memimpin pertumbuhan dan perkembangan si terdidik

berdasarkan ajaran islam kearah terbentuknya kepribadian yang utama.5 Menurut Zakiyah Daradzat, pendidikan agama Islam adalah suatu

usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat

memahami ajaran Islam secara menyeluruh lalu menghayati tujuan, yang

pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai

pandangan hidup.6 Tayar Yusuf mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar generasi muda agar kelak menjadi manusia bertaqwa

3 Ahmad,Tafsir Ilmu Pendidikan dalam perspektif islam (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010) Hal 26

4 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Kencana, 2010) hal. 35

5 Alisuf Sabri. Ilmu Pendidikan (Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1999) hal. 103 6 Zakiyah Daradzat. Ilmu Jiwa Agama (Jakarta : Bulan Bintang, 2003) hal. 124

(21)

kepada Allah Swt. Sedangkan menurut Ahmad TafsirPendidikan Agama

Islam adalah bimbingan yang di berikan seseorang kepada seseorang agar

ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.Dengan

demikian pendidikan agama Islam dalam keluarga merupakan bimbingan

yang di berikan orang tua kepada anak agar ia berkembang secara

maksimal sesuai dengan ajaran Islam.7

Dari pengertian diatas, maka dapat digaris bawahi bahwa

Pendidikan Agama dalam keluarga mengandung dua hal penting yang

harus dilakukan, yaitu memberikan bimbingan kepada anak dan hasil

bimbingan mengarah kepada kesesuaian dengan ajaran agama islam.

Adapula pengertian pendidikan Agama Islam adalah usaha

mengubah tingkah laku individu yang dilandasi oleh nilai-nilai Islami

dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatan dan

kehidupan dalam alam sekitar melalui proses pendidikan yang mengarah

kepada pembentukan akhlak atau kepribadian.8 b. Tujuan Pendidikan Agama

Tujuan pendidikan Agama adalah membentuk kepribadian muslim

atau isnsan kamil dengan takwa yaitu terbentuknya pribadi yang beriman,

berakhlak, berilmu dan berketerampilan yang senantiasa berupaya

mewujudkan dirinya dengan baik secara maksimal guna memperoleh

kesempurnaan hidup karena di dorong oleh sikap ketakwaan dan

penyerahan dirinya kepada Allah SWT agar memperoleh ridho-Nya.

Secara umum Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk

meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan

peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim

yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhal mulia dalam

kehidupan pribadi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedangkan menurut Ibnu Taimiyah bahwa tujuan pendidikan

Islam itu ialah:

7 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010) hal. 24

(22)

1.) Pembinaan pribadi muslim yang mampu berfikir, merasa dan

berbuat sebagaimana yang diperintahkan oleh ajaran Islam

terutama dalam menanamkan akhlak seperti bersikap benar

dalam aspek kehidupan.

2.) Mewujudkan masyarakat Islam yang mampu mengatur

hubungan sosial sejalan dengan syariat Islam dalam hal ini

mampu menciptakan kultur yang Islami karena ikatan aqidah

Islam.

3.) Mendawakan ajaran Islam sebagai tatanan universal dalam

pergaulan hidup.

Perumusan tujuan pendidikan ini menjadi penting jadinya bagi

proses pendidikan, karena dengan adanya tujuan yang jelas dan tepat maka

arah proses itu akan jelas dan tepat pula. Tujuan pendidikan Islam dengan

jelas mengarah kepada terbentuknya Islam kamil yang berkepribadian

muslim, merupakan perwujudan manusia seutuhnya takqa, cerdas, baik

budi pekertinya, terapil berguna bagi diri sendiri, agama, keluarga

masyarakat dan negara.

2. Pengertian keluarga

Dalam undang-undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003

tentang sistem pendidikan Nasional pasal 27, keluarga merupakan

pendidikan informal. Hal ini mengandung arti bahwasanya pendidikan

dalam kelurga merupakan salah satu kegiatan pendidikan yang penting.

Keluarga sebagai prantara sosial pertama dan utamamempunyai

arti paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilaikehidupan

yang di butuhkan anggotanya dalam mencari makna kehidupannya. Dari

sana mereka dapat mempelajari sifat-sifat mulia, kesetiaan dan kasih

sayang. Dari seorang Ayah dan Ibu terpupuk sifat keuletan, keberanian

sekaligus tempat berlindung, bertanya dan mengarahkan bagi

anak-anaknya.9 Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya menjadi orang yang berkembang secara sempurna. Mereka ingin anak yang dilahirkan

kelak menjadi anak yang sehat, kuat, berketerampilan, cerdas dan beriman

yaitu beriman secara Islam.

(23)

Untuk mencapai tujuan itu, orang tualah yang menjadi pendidk

pertama dan utama. Sedangkan yang menjadi posisi peserta didik tentulah

sianak. Sebenarnya semua anggota keluarga adalah peserta didik juga,

tetapi dilihat dari segi pendidikan anak dalam keluarga yang menjadi

siterdidik adalah anak.10

Dalam menanamkan nilai-nilai keimanan pada diri anak dilakukan

orang tua sedini mungkin, sebagai orang tua harus terus berupaya

mengajarkan nilai-nilai keimanan kepada anak tentunya dengan cara yang

baik lembut dan kasih sayang, selain itu juga harus memahami tingkat usia

mereka menanamkan nilai-nilai keimanan kepada anak harus dengan

kesabaran, ketelatenan apabila anak belum mengerti hendaklah

mengulanginya pada waktu berikutnya sampai anak mengerti dan

mengaflikasikan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana keluarga yang aman dan bahagia adalah wadah yang baik

dan subur bagi pertumbuhan jiwa anak yang lahir yang lahir dan

dibesarkan dalam keluarga itu. Semua pengalaman yang dilalui si anak

sejak lahirnya itu merupakan pendidikan agama, yang diterimanya secara

tidak langsung, baik melalui penglihatan, pendengaran dan perlakukan

yang diterimanya. Kalau anak sering menyaksikan kedua orang tuanya

sembahyang, berdoa, berpuasa dan tekun menjalan ibadah, maka apa yang

dilihatnya itu merupakan pengalaman yang akan menjadi bagian dari

pribadinya, serta akan masuklah unsur agama dalam pembinaan

pribadinya. Demikian pulalah dengan pengalaman melalui pendengaran

dan perlakukan orang tua yang mencerminkan ajaran agama.

Adapun Keluarga ini adalah keluarga menurut Pure Family Sistem

(sistem keluarga pokok), yang terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak. Bukan

keluarga menurut Ekstended Family sistem, yang terdiri dari Bapak, Ibu,

anak, mertua, keponakan, dan sebagainya, seperti yang terdapat di

kalangan bangsa Indonesia.11

(24)

Dengan penjelasan diatas maka anggota keluarga yang paling

berperan dalam mendidk anak, biasa disebut dengan istilah orang tua.

Karena dia awal adanya keluarga dan orang tua adalah orang pertama yang

bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di dalam keluarga.12 Dalam Firman Allah yang berkenan dengan Amanat-Nya yang

berupa anak adalah bahwa setiap orang tua muslim wajib mengasuh dan

mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar agar mereka tidak menjadi

anak yang lemah iman dan lemah kehidupan duniawi.

Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 9 :











Artinya : “Dan Hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Olehsebabitu, hendaklahmerekabertakwakepada Allah danhendaklahmerekamengucapkanperkataan yang

benar”.(9)13

Islam memandang keluarga bukan hanya sebagai persekutuan

hidup terkecil saja, melainkan lebih dari itu, yakni sebagai lembagahidup

manusia yang memberi peluang kepada anggotanya untuk hidup bahagia

atau celaka dunia dan akhirat. Oleh karena itu sangatlah penting bagi

keluarga untuk melaksanakan fungsinya sebagai badan pendidikan

terutama yang berkenaan dengan nilai-nilai Islam.

Allah berfirman dalam surat At-tahrim :6





















12 M. Alisuf sabri, Op.cit, hal : 16

(25)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ayat al-qur’an tersebut mengandung perintah agar kita orang tua

mukmin menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Orang tua memiliki

peranan penting dalam rangka pendidikan Islam terhadap anak-anaknya.

Jika di tinjau dari segi pendidikan, berarti kita diperintahkan mendidik diri

dan keluarga supaya memiliki jiwa yang mampu menahan perbuatan yang

akan menjerumuskan kedalam jalan kesesatan, perbuatan yang menarik

dalam sikap durhaka kepada Allah swt. Yang bisa mengakibatkan siksa di

Neraka.

Sudah jelaslah bahwa pendidikan yang diberikan orang tuadidalam

keluarga sangatlahberpengaruh bagi anak sehingga jika pendidikan

tersebut tidak baik, maka haslnya akan tidak baik juga. Namun jika orang

tua berusaha dan mendidik anak-anaknya dengan baik maka hasilnya akan

baik pula bagi anak-anak.

3. Fungsi Keluarga

Kelaurga mempunyai tugas yang fundamental dalam upaya

mempersiapkan anak bagi peranannya pada masa akan datang, dalam

lingkungan keluarga ini sudah mulai ditanamkan dasar-dasar perilaku,

sikap hidup dan kebiasaan lainnya.

Dengan demikian diciptakan lingkungan keluarga yang kondusip

bagi perkembangan anak.

Fungsi keluarga yang utama adalah mendidik anak-anaknya, tanpa

pendidikan dan bimbingan anak tidak akan menjadi anggota masyarakat

yang dapat menjalankan kewajiban dalam kehidupan bersama. Karena

bagaimanapun anak berakar dari dalam diri orang tuanya sedangkan orang

tua merupakan faktor pendidik bagi anak dan memainkan peranan

(26)

2. Sikap Keagamaan

a. Pengertian sikap

Mengawali pembahasan mengenai sikap keagamaan, maka

terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai sikap itu sendiri. Dalam

pengertian umum sikap dipandang sebagai seperangkat reaksi afektif

terhadap objek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman, dan

penghayatan individu. Dengan demikian sikap terbentuk dari hasil belajar

dan pengalaman seseorang dan bukan sebagai pengaruh faktor bawaan

(faktor Intern) seseorang, serta bertanggung kepada objek tertentu.14

Sikap didefinisikan sebagai berikut :sikap adalah perilaku, gerak

dan gerik,atau perbuatan yang berdasarkan pada pendirian (pendapat atau

keyakinan).15

Menurut M. Ngalim Purwanto, sikap atau yang dalam bahasa

Inggris disebut atitudeadalah suatu cara bereaksi terhadap suatu

perangsang, suatu kecendrungan untuk bereaksi dengan cara tertentu

terhadap suatu perangsang atau situasi yang terjadi.16

Dr. Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Agama menyatakan

bahwa :

17

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa sikap

merupakan suatu pendirian dari seseorang untuk menerima dan menolak

tentangsuatu hal atau jugasesuatu yang dilakukan seseorang, untuk

melakukan atau tidak melakukan sesuatu merupakan hasil proses berfikir.

Sikap timbul karena adanya sikap stimulus, terbentuknya suatu

sikap itu banyak dipengaruhi perangsang oleh lingkungan sosial dan

kebudayaanmisalnya:keluarga,norma, golongan agama dan adat istiadat.

Dalam hal ini keluarga mempunyai peranan yang besardalam

14Jalaluddin,Psikologi Agama (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada., 2006) hal : 243 15Jalaluddin, Loc.cit hal : 244

16 .M. Ngalim Purwanto..Psikologi Pendidikan (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.1990) cet.5 hal.141

(27)

pembentukan sikap putra- putrinya. Sebab keluargalah sebagaikelompok

primer bagi anakyangmerupakan pengaruh yang paling dominan.

Sikap seseorang tak selalu tetap, ia dapat berkembang manakala

mendapatpengaruh baik daridalam atau dari luaryang bersifat positif dan

negatif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap :

1.) Faktor Intern : faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri.

2.) Faktor Ekstern: faktor yangterdapat diluar pribadi manusia. Faktur ini

berupa interaksi sosial diluar kelompok, misalnya : Interaksi antar

manusia yang bisa melalui alat komunikasi seperti : Surat kabar, radio,

televisi dan lain sebagainya.

b. Pengertian agama, beragama dan keagamaan

Menurut etimologi kata agama berarti percaya atau

kepercayaansedangkan menurut terminologi pendapat Quraish Shihab

bahwa agama adalah sebagai hubungan antara mahluk dan

khaliknya.Hubungan ini terwujud dalam sikap batinya serta tampak dalam

ibadahnya yang dilakukanya dan tercermin pula dalam sikap kesehariannya.”18

Secara istilah agama berarti peraturan Allah yang diturunkannya

kepada manusia dengan perantara Rasul-Nya untuk jadi pedoman bagi

manusia dalam melaksanakan kehidupan dan penghidupan mereka

didalam segala aspeknya agar mereka mencapai kejayaan hidup didunia

dan diakhirat.19

Sedangkan kata “ beragama dan keagamaan” adalah memeluk agama, menganut beribadah atau taat kepada agama atau lebih konkritnya

kata beragama atau keagamaan diartikan sebagai memeluk atau taat

(28)

menjalankan ajaran agama yang dianut.20 Jadi dapat diketahui bahwa keagamaan merupakan sikap yang kuat dalam memeluk dan menjalankan

ajaran agama serta sebagai cerminan diri nyata atas ketaatanya terhadap

ajaranagama yang dianutnya.

Menurut Dr. Jalaluddintentang sikap keberagamaan yaitu

merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seeorang yang mendorong

untuk bertingkahlaku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama,

sikap keberagamaan tersebut boleh adanya konsisten antara kepercayaan

terhadap agama sebagai unsur efektif dan prilaku terhadap agama sebagai unsur konatif.”

Dari beberapayang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan sikap

keberagamaan adalah suatu keadaan diri seseorang dimana setiap

melakukan aktifitasnya selalu bertautan dengan agamanya, dan

mempraktekan setiapajaran agamanya atasdasar iman yang ada dalam

batinnya.

Dari segi konteks keberagamaan dalam agama islam menurut

Yusuf Al Qardhowy memiliki dimensi-dimensi atau pokok-pokok islam

secara garis besar dibagi 3 yaitu : Aqidah, Ibadah atau praktek agama atau

syarifah dan akhlak.

1. Aqidah

Secara etimologi atau kepercayaan” sedangkan secara terminologi disamakan dengan keimanan yang menunjukan pada seberapa tingkat

keyakinan seseorang terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya yang

bersifat fundamental dan dogmatif.

2. Ibadah atau praktek agama (Syari’ah)

Merupakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung

seorang muslim dengan khaliknya dan sesama manusia. Yang

menunjukkan seberapa patuh tingkat ketaatan seseorang muslim dalam

mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan yang diperintahkan

(29)

dan diaqnjurkan, baik yang menyangkut ibadah dalam arti khusus

maupun dalam arti luas yang merupakan media komunikasi langsung

dan intergral serta sarana konsultan antara kholik dan makhluknya

ibadah juga merupakan perwujudan dan sikap keberagamaan

seseorang dalam kehidupan.

3. Akhlak

Kata “Akhlak secara etimologi adalah tabiat, budi pekerti,kebiasaan atau adat, keperwiraan, kesatriaan,kejantanan dan kemarahan”.21 sedangkan menurut imam Ghozali yang merupakan definisi secara terminology adalah “ sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang dengan gampang dan mudah,

tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.22

Dalam penjelasan Yusuf Al Qardhowy diatas yang merupakan

pokok-pokok islam yang dapat dijadikan ruang lingkup dari sikap

keberagamaanadalah :

1. Aspek Akidah. Ruang lingkup aqidah merupakan hal yang paling

mendasar dari diri sesesorang di karenakan dengan aqidahlah

seseorang memiliki pondasi atas sikap keberagamaan. Aqidah juga

merupakan alasan utama seseorang dapat berprilaku sebagai hamba

yang percaya atas kekeuasaan TuhanNya. Aqidah berkaitan dengan

iman dan taqwa, hal itulah yang melahirkan keyakinan-keyakinan atas

setiap yang ada pada dirinya merupakan pemberian dari TuhanNya dan

ia mengetahui akan kembali kepada TuhanNya.

Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah

sebagai Tuhan yang wajib disembah, ucapan dengan lisan dalam

bentuk dua kalimat sahadat, dan perbuatan dengan anal soleh. Akidah

dalam Islam mengandung arti bahwa dari seorang mukmin tidak ada

rasa dalam hati, atau ucapan dimulut atau perbuatan melainkan secara

keseluruhannya mengambarkan iman kepada Allah yakni tidak adak

21 Muhamad Alim, Pendidikan Agama Islam : upaya pembentukan pemikiran dan kepribadian muslim (Bandung : Rosda Karya, 2011) hal : 124

(30)

niat, ucapan perbuatan dalam diri seseorang mukmin kecuali yang

sejalan dengan kehendak Alllah SWT. Akidah dalam Islam selanjutnya

berpengaruh dalam segala aktivitas yang dilakukan manusia, sehingga

berbagai aktivitas tersebut bernilai ibadah.

Pada umumnya pembahasan mengenai akidah ialah mengenai hukum

iman yang enam yaitu iman kepada Allah, kepada

malaikat-malaika-Nya, kepada kitab-kitab-malaikat-malaika-Nya, kepada hari akhir dan kepada qodha dan

qadar.

2. Aspek Syari’ah, ruang lingkup syariah merupakan realisasi atas

aqidah, iman yang tertanam dalam dirinya ia berusaha melakukan

setiap kewajiban yang diperintahkan sang kholik. Semua itu berkaitan

dengan praktek ibadah seprti sholat lima waktu, sholat sunnah

contohnya sholat dhuha, tahajud, membayar zakat, dll. Aspek syariah

sangat berkaitan dengan rukun iman.

Kehidupan manusia di dunia merupakan anugerah dari Allah SWT

dengan segala pemberiannya atas segala kenikmatan yang bira

dirasakan oleh diri manusia. Akan tetapi manusia sering kali lupa

terhadap siapa yang sebenarnya telah memberikan semua kenikmatan,

untuk itulah manusia harus memperoleh bimbingan berupa peraturan

dan ketentuan dari Allah, sehingga manusia selamat dan bahagia dunia

dan akhirat. Hidup yang dibimbing syariah (aturan Allah) akan

melahirkan kedadaran untuk berprilaku yang sejalan dengan ketentuan

dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang terdapat di dalam Al-qur’an

dan Al-hadits.

3. Aspek ahklak, ruang lingkup ahklak berkaitan dengan perilaku dirinya

sebagai muslim yang taat dalam menjalankan kehidupannya

sehari-hari yang semua itu sesuai dengan ajaran agama Islam.

Ruang lingkup ajaran akhlak adalah sama dengan ruang lingkup ajaran

Islam itu sendiri, khsuusnya yang berkaitan dengan pola hubungan,

(31)

terhadap Allah, hingga kepada sesama amkhluk (manusia, binatang,

tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa).

Dalam perkembangan selanjutnya akhlak tumbuh menjadi suatu ilmu

yang berdiri sendiri yaitu ilmu yang memiliki ruang lingkup

pembahasan, tujuan, rujukan, aliran dan para tokoh yang

mengembangkannya

Hal ini disebabkan ia memiliki kesadaran yang terdapat dalam jiwanya

tentang ajaran agamayang sesungguhnya, juga setiap ajaran agamanya

itu telah meresap dalam dirinya dan hatinya sehingga lahirnya sikap

yang mulai, dan dalam berperilaku sehari-hari dapat mencerminkan

sikap keberagamaan seperti : mudah menolong, jujur, tidak sombong,

pemaaf dan sebagainya.

c. Terbentuknya sikap keberagamaan

Pembentukan sikap keberagamaan seseorang dapat dilakukan

dengan melalui 5 pendekatan yaitu:

1.) Pendekatan Rasional

Adalah usaha memberikan peranan pada rasio (akal) peserta didik

dalam memahami dan membedakan berbagai bahan ajar dalam standar

materi serta kerkaitannyadengan perilaku yang buruk dalam

kehidupan duniawi.23

Pendekatan rasional mempergunakan rasio (akal) dalam memahami

dan menerima kebesaran dan kekuasaan Allah. Manusia adalah

makhluk ciptaan Allah yang diciptakannya dengan sempurna dan

berbeda dengan ciptaannya yang lain. Perbedaan manusia dengan

makhluk lain terletak pada akal, manusia mempunyai akal sedangkan

yang lainnya binatang dan sejenisnya tidak mempunyai akal.

Dengan kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana

perbuatan baik dan mana perbuatan buruk, serta dengan akal pula

manusia dapat membuktikan dan membenarkan adanya Allah SWT,

maha pencipta di atas segala sesuatu di dunia ini.

(32)

2.) Pendekatan Emosional

Adalah upaya untuk menggugah perasaan emosipeserta didik dalam

menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran islam dan serta

merasakan mana yang baik dan buruk.24

Nilai perasaan pada diri manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan

diri terhadap keadaan di sekitarnya. Persaaan seiman dan seagama

menjadi tali pengikat dalam kehidupan sosial keagamaan bagi setiap

orang beragama, karena ia menyadari suatu kewajiban yang

dibebankan oleh hukum agama yang dianutnya.

Emosi berperan dalam pembentukan karakter seseorang, justru itulah

pendekatan emosional dijadikan salah satu pendekatan dalam

pendidikan Islam, metode mengajar yang digunakan dalam

pendekatan perasaan adalah metide ceramah, sosio drama dan

bercerita (kisah).

3.) Pendekatan keteladanan

Pendekatan keteladanan adalah menjadikan figur guru agama dan non

agama dan seluruh warga sekolah sebagai cerminan manusia yang

berkepribadian agama. Keteladanan dalam pendidikan amat penting

dan lebih efektif apalagi dalam usaha pembentukan sikap keagamaan,

seorang anak akan lebih memahami atau mengerti bila ada seseorang

yang dapat ditirunya.

Keteladanan pada orang tua atau pada guru merupakan kunci

keberasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual

dan sosial anak karena orang tua atau guru adalah fikur terbaik dalam

pandangan anak yang akan dijadikannya sebagai teladan dalam

mengidentifikasikan diri dalam segala aspek kehidupannya, dalam jiwa

dan perasaannya tercermin dalam ucapan dan perbuatannya.

Kecenderungan manusia untuk belajar lewat peniruan menyebabkan

keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pendidikan

Rosululloh SAW merupakan suri tauladan yang baik bagi umat Islam.

(33)

Keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya

akhlak pada anak, jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak

mulia berani dan menjauhkan diri dari perbuatan yang bertentangan

dengan agama maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk

dalam akhlak mulia, keberaniaan dan dalam sikap yang menjauhkan

diri dari hal yang bertentangan dengan agama. Tetapi jika pendidik itu

bohong, hianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina maka sianak akan

tumbuh dalam hal kebohongan, hianat, kikir, penakut dan hina

4.) Pendekatan Kebiasaan

Pembiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis

tanpa direncanakan terlebih dahulu dan berlaku begitu saja tanpa

dipikirkan lagi. Berasal dari pembiasaan itulah anak dapat

membiasakan dirinya menuruti dan patuh kepada aturan-aturan yang

berlaku ditengah kehidupan masyarakat.

Sangat penting menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik pada awal

kehidupan anak seperti membiasakannya sholat 5 waktu, berpuasa,

suka menolong orang yang dalam kesusahan dan membantu pakir

miskin. Agama Islam sangat mempentingkan pendidikan kebiasaan,

karena dengan pembiasaan itulah diharapkan seorang anak dapat

mengamalkan agamanya secara berkelanjutan.

5.) Pendekatan Pengalaman

Adalah pemberian pengalaman keagamaan kepada seseorang anak atau

peserta didik dalam rangka penanaman nilai-nilai keagamaan baik

secara indifidual maupun kelompok.

Betapa tingginya nilai suatu pengalaman maka disadari akan

pentingnya pengalaman bagi perkembangan jiwa seorang anak

sehingga dijadikannya pengalaman itu sebagai suatu pendekatan. Maka jadilah “pendekatan pengalaman” sebagai fase yang baru dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan. Belajar dari pengalaman lebih baik

(34)

sekali. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman yang

sifatnya mendidik.

Sehubungan dengan pembentukan sikap, Ibu Zakiyah Drajat mengemukakan bahwa “hendaknya setiap pendidik menyadari bahwa pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasan-pembiasaan dan

latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya.

Karna pembiasaan dan latihan tersebut akan membentuk sikap tertentu

terhadap anak, yang lambat laun sikap itu akan bertambah jelas dan kuat,

karena telah masuk bagian dari pribadinya.25

Para ahli didik melihat adanya peran sentral para orangtua sebagai

pemberi dasar jiwa keagamaan itu. Pengenalan agama kepada anak sejak

usia dini bagaimanapun akan berpengaruh dalam membentuk kesadaran

dan pengalaman agama pada diri anak. Karena Rosul menempatkan peran

orangtua pada posisi sebagai penentu bagi pembentukan sikap dan pola

tingkah laku keagamaan seorang anak. Pernyataan tersebut melukiskan

bagaimana fungsi peran ibu bapak dalam keluarga terhadap pembentukan

jiwa keagamaan pada diri anak.

Menurut Rosul Allah SAW, fungsi dan peran orangtua bahkan

mampu untuk membentuk arah keyakinan anak-anak mereka, menurut

beliau, setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk

beragama, namun bentuk keyakinan yang akan di anut anak sepenuhnya

tergantung dari bimbingan, pemeliharaan dan pengaruh orangtua atau

keluarga mereka

B. Kerangka Berpikir

Pendidikan agama islam dalam keluarga merupakan bimbingan yang

diberikan orangtua kepada anak agar ia berkembang secara maksimal sesuai

dengan ajaran agama islam. Keluarga adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang

dimiliki oleh manusia sebagai mahluk sosial yang memiliki tempat tinggal dan

(35)

ditandai oleh kerjasama, ekonomi, berkembang, mendidik, melindungi, merawat

dan sebagainya.

Keluarga sebagai pranata sosial pertama dan utama mempunyai arti

paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-nilai kehidupan yang

dibutuhkan anggotanya. Terbentuknya suatu sikap itu banyak di pengaruhi oleh

lingkungan sosial dan kebudayaan, misal : Keluarga, norma, golongan agama dan

adat istiadat. Dalam hal ini keluarga mempunyai peranan penting dalam

pembentukan sikap putra - putrinya, karena keluarga merupakan pengaruh yang

paling dominan yang harus memberi pendidikan agama. Bentuk keyakinan agama

yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari bimbingan pendidikan,

pemeliharaan dan pengaruh kedua orangtua mereka.

Pendidikan Islam dalam keluarga dianggap menjadi suatu yang harus

karena berawal dari sinilah anak dapat memulai kehidupan beragamanya hingga ia

dewasa, bagaimanapun dalam pendidikan agama Islam terdapat aturan dan

hukum-hukum yang telah tercantum dalam al-Qur’an dan sunah yang sudah

menjadi tuntunan hidup seorang muslim.

Peran keluarga dalam pendidikan agama adalah untuk menumbuhkan

sikap keagamaan pada anak itu dengan baik, jika pendidikan agama itu dilakukan

dengan baik maka sikap keagamaan pada anakpun akan dilakukan dengan baik,

namun jika tidak dilakukan dengan baik maka sikap keagamaan pada anak tidak

akan tumbuh dengan baik.

Berdasarkan uraian diatas diduga bahwa terdapat hubungan pendidikan

agama dalam keluarga terhadap pembentukan sikap keagamaan pada anak.

C. Hasil Penelitian yang Relevan

Berikut penulis menyajikan beberapa penelitian yang terdahulu,

menyangkut dengan hubungan pendidikan dalam keluarga terhadap sikap

keagamaan. Penelitian-penelitian tersebut digunakan sebagai acuan dan referensi

untuk dipahami penulis.

Hasil penelitian yang relefan dengan penelitian ini adalah :

1. Syamsul Fuad dalam skripsinya “Peran Orang Tua Dalam

(36)

lingkungan Rt. 001/003 Meruyung Kecamatan. Limo Kota. Depok

Tahun 2013” dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsul

dilingkungan Rt. 001/003 Kelurahan Maruyung Kecamatan Limo Kota

Depok. Melalui wawancara observasi dan penyebaran angket dengan

menggunakan metode deskriptif analisis dapat diketahui bahwa

peranan orang tua dalam menanamkan sikap keberagamaan anak usia

SD masih sangat rendah hal tersebut disebabkan karena kurangnya

kesadaran orang tua akan pentingnya menanamkan sikap keagamaan

anak sejak dini serta kurangntya keteladanan atau contoh yang

diberikan orang tua kepada anak-anaknya terutama dalam aspek

ibadah.

2. Darmawan, dalam skripsinya “peran pendidikan Islam dalam keluarga

untuk menumbuhkan kepribadian anak usia 6-12 tahun“ di SMPI

Yapkum Meruyung – Depok Tahun 2013. Hasil dalam penulisan

skirpsi ini adalah kedudukan keluarga dalam pendidikan anak adalah

penentu atau peletak dasar kepribadian anak, pendidikan yang

dilakukan oleh orang tua melalui proses pengajaran pembinaan

pelatihan, penanaman, nilai-nilai agama, pengasuhan tanggung jawab

untuk diarahkan kepada suatu arah dan kebiasaan yang baik dan mulia,

baik jasmani maupun rohani secara terus menrus dan bertahap. Adapun

peran pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian anak yaitu

ditentukan dalam aspek keimanan, ibadah dan akhlak yang

diaplikasikan dalam bentuk keteladanan yang dilakukan oleh orang tua

dari keteladanan ini anak memahami bahwa pelaksanaan ajaran agama

harus benar-benar dilaksanakan.

3. Rainah dalam skripsinya, “peran pendidikan agama dalam keluarga

sebagai upaya awal dalam pembentukan kepribadian anak di SMP

Muhamadiyah parakan Kota Tanggerang Selatan” pada Tahun 2012

dari hasil penelitian menggunakan metode diskriptip analisis, hasil

penelitian menunjukkan bahwa tingkat sikap yang baik serta eksistensi

(37)

hanya hasil dari perhatian orang tua dalam keluarga saja melainkan

juga dipengaruhi ol;eh faktor lingkungan rumah, sekolah termasuk di

dalamnya pendidikan keluarga, masyarakat, agama dan adat.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pengajuan teoritis dan kerangka berfikir yang telah

dikemukakan diatas, maka hipotesis yang diajukan ialah :

Ho : Tidak terdapat hubungan pendidikan agama dalam keluarga dengan

sikap keagamaan pada siswa Kelas VII SMP Islam Yapkum.

Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan pendidikan

Agama dalam keluarga terhadap sikap keagamaan siswa Kelas VII

(38)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP I Yapkum Meruyung, yang berlokasi

di Jl. H. Usman No. 27 Meruyung Limo – Depok, yang dilaksanakan pada tanggal

12 s/d 16Mei 2014.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan menggunakan metode

deskriptif analisis yang ditunjang oleh data-data yang diperoleh melalui penelitian

lapangan (field research), yaitu menghimpun data dan fakta dari objek yang diteliti. Dengan menyebarkan angket kepada rseponden ditempat penelitian yang

telah ditentukan

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel pendidikan

agama dalam keluarga merupakan variabel X sebagai variabel bebas dan variabel

sikap keagamaan siswa merupakan variabel Y sebagai variabel terikat.

D. Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh sumber data yang memungkinkan memberikan

informasi yang berguna bagi masalah penelitian. Populasi yang akan menjadi

penelitian disini yaitu keseluruhan kelas VII SMP Islam Yapkum Meruyung Limo

Depok.

Sampel penelitian adalah sebagian populasi agar cukup mewakili sifat

dan karakter yang sama sehingga betul-betul mewakili populasinya. Seluruh siswa

di SMPI Yapkum berjumlah 245 siswa. Yang diambil dan dijadikan sampel

peneliti yaitu siswa kelas VII, yang diambil dan dijadikan sampel hanya 50 siswa.

(39)

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi. Pengamatan yang dilakukan secara langsung dan pencatatan

sistematis terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan data-data

mengenai gambaran umum dan fenomena yang tampak pada.26 siswa SMP Islam Yapkum Meruyung Limo Depok. Secara garis besar pedoman

observasi yang akan di gunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Sikap keagamaan yang tampak pada siswa SMPI Yapkum

Meruyung-Depok.

b. Bentuk kegiatan yang ada di dalam sekolah.

2. Interview (Wawancara). Pengambilan data dengan menggunakan sebuah

dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi

dari yang diwawancarai melalui pedoman wawancara.27 Wawancara ini di tunjukan guru PAI di sekolah dan kepada beberapa orang tua atau keluarga

di lingkungan rumah.

3. Angket. Pengambilan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan untuk

dijawab oleh sampel yang telah ditentukan,28 yaitu siswa kelas 1 SMP Islam Yapkum Meruyung Limo Depok.

4. Dokumentasi. Merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen

bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari

seseorang. Dokumen yang di dapat selama penelitian ialah berbentuk foto

dan catatan-catatan yang berhubungan dengan fokus penelitian. Dengan

ini penulis dapat mengambil data sekolah meskipun peristiwanya telah

berlalu.

F. Teknik Pengolahan Data Dan Analisis Data

1. Teknik Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul diolah terlebih dahulu melalui

langkah-langkah sebagai berikut :

26

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 1997), cet-10, hal. 85

27

Ibid., 86

28

(40)

a. Editing. Yaitu memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh responden. Tujuannya untuk merapihkan data agar bersih dan rapih

sehingga dapat mengadakan pengolahan lebih lanjut.29

b. Scoring.Yaitu pemberian scor terhadap butir-butir pertanyaan yang terdapat dalam angket, dengan memperhatikan jenis data yang ada,

sehingga tidak terjadi kesalahan terhadap butir pertanyaan yang tidak

layak diberi scor.

c. Tabulating. Bertujuan untuk mendapatkan gambaran frekuensi dalam setiap item yang penulis kemukakan. Untuk itu dibuatlah tabel yang

mempunyai kolom setiap bagian angket, sehingga terlihat jawaban

yang satu dengan yang lain.

Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul dengan lengkap tahap berikutnya adalah tahap

analisis data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan tabel dan

menggunakan teknik deskriptif prosentase sebagai berikut :30

P : Persentase

F : Frekuensi

N : Number of Case (banyaknya responden)

Kemudian teknik analisa selanjutnya adalah dengan skoring untuk

menentukan skor masing-masing responden. Semua pertanyaan dan

pernyataan setiap itemnya dengan bobot nilai untuk setiap jawaban

sebagai berikut :

29

Ibid., 205 30

(41)

Tabel 1

Skor Item Alternatif Jawaban Responden

Positif (+) Negatif (N)

Jawaban Skor Jawaban Skor

Selalu 4 Selalu 1

Sering 3 Sering 2

Kadang-kadang 2 Kadang-kadang 3

Tidap pernah 1 Tidap pernah 4

Kemudian dengan melihat rata-rata skor jawaban siswa dengan

[image:41.595.120.516.139.602.2]

klasifikasi sebagai berikut :

Tabel 2

Klasifikasi Skor Angket

Klasifikasi Ket. Jumlah Skor Jawaban

25-50 Renda

51-75 Sedang

76-100 Tinggi

Dalam penelitian ini rumus yang digunakan adalah korelasi product

moment, secara operasional analisis data tersebut dilakukan melalui tahap:

1. Mencari angka korelasi dengan rumus :

r

xy =

∑ ∑ ∑ √ ∑ ∑ ∑ ∑

Dengan ketentuan sebagai berikut :

X : Adalah angket penggunaan alat komunikasi handphone

Y : Adalah angket akhlak siswa

: Adalah angket indeks korelasi “r” product moment ∑ : Jumlah seluruh skor X

∑ : Jumlah seluruh skor Y

(42)

N : Number of case31

2. Memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” product

moment.

a. Interpretasi kasar atau sederhana, yaitu dengan mencocokkan perhitungan dengan angka indeks korelasi “r” produst moment, seperti dibawah ini :

[image:42.595.119.520.104.599.2]

Tabel 3

Tabel Interpretasi Nilai “r”

“r” disini adalah tanda untuk rumus Product Moment Besarnya “r”

Product Moment Interpretasi

0,00-0,20 Antara variabel X dan Y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi tersebut diabaikan atau dianggap tidak ada hubungan antara variabel X dan Y

0,20-0,40 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah

0,40-0,70 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup

0,70-0,90 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi

0,90-1,00 Antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang kuat atau sangat tinggi32

b. Interpretasi menggunakan tabel nilai “r” product moment (rt),

dengan terlebih dahulu mencari derajat besarnya (db) atau degrees

of freedom (df) yang rumusnya adalah :

Df : Degress of freedom

N : Number of case

nr : Banyaknya variabel33

Dengan perolehannya df atau db maka dapat dicari besarnya “r” yang tercantum dalam tabel nilai “r” product moment taraf signifikan 5% jika rO sama dengan atau lebih besar daripada rt maka Ha disetujui atau terbukti kebenarannya. Jika sebaliknya maka Ho tidak disetujui atau tidak terbukti

kebenarannya.

31 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), cet. 12. H. 193

(43)

3.) Instrumen Penelitian

Menurut Ronny Kountur, instrumen penelitian adalah alat yang

dipakai untuk mengumpulkan data melalui pedoman tertulis tentang

wawancara, pengamatan atau daftar pertanyaan yang disiapkan untuk

mendapatkan informasi dari responden.34

Adapun kisi-kisi instrumen dalam penyususnan angket (daftar

[image:43.595.92.535.150.653.2]

pertanyaan) tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen

No Variabel Indikator Butir

Soal Jumlah 1 Pendidikan Agama dalam Keluarga

Pendidikanibadahsholat, puasa, mengucapsalam, berdoa, baca al-qur`an, danmenutupaurat

1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 13 9

Mengenalkannabi, malaikatdanharibesar Islam 6, 10 2 Pendidikanuntuktidakborosdanmenyuruhmenabung 11,

12 2

Menyayangi yang lebihmudadanmenghargai yang lebihtua

15 1

Mau menemanibelajar 14 1

2 Sikap Keagamaan Siswa Sikapterhadapperintah Allah dalammelaksanakanibadah 1, 7, 4 3

Sikapterhadapdirisendiri 11,

15, 10

3

Sikapterhadap orang tua 2, 5,

6, 12, 13, 14

6

Sikapterhadap guru 3, 9 2

Sikapterhadap orang lain 8 1

(44)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Keadaan Sekolah

1. Profil SMP ISLAM YAPKUM Meruyung Limo – Depok

a. Nama Sekolah : SMP Islam Yapkum

b. Alamat Jalan : Jl. H. Usman No. 27

Desa / Kelurahan : Meruyung

Kecamatan : Limo

Kota : Depok

Provinsi : Jawa Barat

Telpon / HP : 021 - 7531638

c. Nama Yayasan : Yayasan Pendidikan Kesejahteraan Ummat

( YAPKUM )

Alamat Yayasan : Jl. Raya Meruyung No. 31 Komplek

Masjid Jami Al-Muthmainnah

d. NNS / NSM / NDS : 202020506184

e. Jenjang Akreditasi : Teraktreditasi B

f. Tahun didirikan : 1979

g. Tahun Beropersi : 1979

h. Kepemilikan Tanah : Yayasan

a. Status tanah : Sertifikat Hak Milik (SHM)

b. Luas tanah : 1325 m2

i. Status Bangunan : Yayasan

a. Luas seluruh bangunan : 811,12 m2

j. No Rekening Sekolah : 0003986802100 Bank Jabar Banten

Cabang Depok

k. Jumlah Siswa : 245 Siswa

(45)

b. Visi dan Misi SMP ISLAM YAPKUM 1. Visi

Dengan disiplin menciptakan lulusan yang berilmu amaliyah dan

beramal Ilmiyah Selaras dan Tatanan Iman.

2. Misi

a.) Meningkatkan semangat berdisiplin untuk memberdayakan seklah

secara optimal sehingga tercipta kondisi sekolah yang memiliki karak

teristik dan berwibawa.

b.) Menciptakan Lingkungan sekolah yang kondisif untuk pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar.

c.) Meningkatkan kerja warga sekolah melalui Inovasi dan kreatifitas

dalam Invut dan proses pembelajaran serta memiliki komitmen,

pemahaman, dan kemampuan dalam melaksanakan tugas.

d.) Menjujung tinggi nilai. Nilai Agama, sehingga nuansa Agama terasa

dan di laksanakan oleh seluruh sekolah sesuai dengan nilai-nilai yang

berlaku.

e.) Dukungan Masyarakat terhadap Program. Program sekolah yang di

buktikan dengan tingkat partisipasi yang tinggi dari orang tua dan

pihak lain terhadap sekolah.

3. Tujuan

Membentuk siswa berkepribadian baik sesuai dengan nilai – nilai

Islam, menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kebugaran

Fisik dan kesehatan mental, mampu berkomunikasi secara baik dan

lancar, serta memiliki sifat kepemimpinan dan keahlian hidup.

4. Motto

Beriman – Berakhlak, Berilmu, Beramal (4 B)

5. Karakter SMPI YAPKUM

a. Sederhana

b. Membaca al-qur’an

(46)

d. Keprajuritan

e. Akhlaq mulia

c. Sejarah Singkat SMPI YAPKUM

SMP Islam Yapkum di diririkan pada tahun 1979, gagasan berdirinya

sekolah tersebut di awali pada tokoh masyarakat dan alim ulama stempat yang

bergabung dalam jamaah Majlis Taklim masjid Jami al-muthmainnah

Meruyung kecamatan sawangan kabupaten Bogor.

Timbulnya gagasan tersebut karena saat itu di wilayah Kecamatan

Limo (sekarang) dan sekitarnya belum ada sekolah SMP atau yang sederajat

baik Negara maupun swasta.

[image:46.595.114.516.211.747.2]

d. Keadaan guru di SMP Islam Yapkum

Tabel 1

Keadaan guru SMP Islam Yapkum

No Nama Lengkap Mata Pelajaran Pendidikan

Terakhir

1. Abd. Wahab. S. Ag S1

2. Dra. Juhriyatul Fitriyah PAI S2

3. Syamsul Fuad, S, Ag PAI S1

4. A. Jazuli Taufik PKN S1

5. Maryanah - S1

6. Marja B. Indonesia S1

7. Tati Alawiyah B. Inggris S1

8. Esih Ayuningsih B. Inggris S1

9. Assah Lani IPA S1

10. Aida Fitri IPS S1

11. Sarmadih IPS S1

(47)

13. Sri Wahyuni Matematika S1

14. Sri Yaniati SBK S1

15. A. Amarullah Penjaskes S1

16. St. Juhariyah Keterampilan S1

17. Wahrudi Keterampilan S1

18. Wandi Supriyadi TIK S1

19. Abd. Majid TIK S1

20. Dwi doto TIK S1

21. Nia Kusnaniyah B. Sunda S1

22. Sanusi PLH S1

23. Esti Sumiyati B. Arab S1

24. Wahyudin H Sirah Nabawi S1

25. Mutiara Sita BP S1

26. H. Matroji Sofyan - S1

[image:47.595.115.520.110.603.2]

e. Keadaan siswa SMPI YAPKUM Tabel 2

Keadaan siswa SMPI Yapkum T.P 2013 – 2014

Kelas Jumlah Siswa

Kelas VII 113

Kelas VIII 60

Kelas IX 72

Jumlah 245

f. Keadaan sarana prasarana di SMPI YAPKUM Taebel 3

Keadaan sarana prasarana di SMPI Yapkum

(48)

Ruang kepala sekolah 1 Ruang

Ruang guru 1 Ruang

Ruang kelas 7 Ruang

Ruang perpustakaan 1 Ruang

Ryang LAB IPA 1 Ruang

Ruang Keterampilan 1 Ruang

Lab Bahasa 1 Ruang

Lab Komputer 1 Ruang

Ruang serbaguna 1 Ruang

Ruang TU dan Bendahara 1 Ruang

(49)

STRUKTUR ORGANISASI SMP ISLAM YAPKUM

Komite Sekolah H. Masturi

Kepala Sekolah Dra. Juhriyatul

Kasubag Tata Usaha Dede Kurniasih

PKS Sarana dan Prasarana

PKS Humas

1. Amarullah. A, S.Pd

PKS Kurikulum Wahyudin Halilintar,

PKS Kesiswaan Tati Alawiyah, S.Pd

Laborat Assahlani, S.Si

Pustakaan Essy Ayuningsih, BP / BK

(50)

h. Deskripsi Data

Salah satu teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini

adalah dengan menggunakana angket yang disebarkan kepada responden yang

telah di pilih secara acak sebagai sampel. Kemudian data yang di proleh di

olah dalam bentuk tabel distribusi Frekuensi yang di lengkapi dengan

persentase dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan : P = Persentase

F = Frekuensi

N = Number of cases

Hasil angket kemudian di masukan kedalam tabulasi, yang merupakan

proses data-data Instrumen pengumpulan data (Angket) menjadi tabel-tabel

angka dalam persentase yang dapat di lihat tabel-tabel berikut :

[image:50.595.116.510.181.598.2]

a. Pendidikan Agama dalam Keluarga Tabel 4

Apakah orang tua mengajarkan sho

Gambar

Tabel Interpretasi nilai “r” product moment ...................
Tabel 2 Klasifikasi Skor Angket
Tabel InteTabel 3 rpretasi Nilai “r”
Tabel 4 Kisi-kisi Instrumen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai sumbangan referensi mengenai pembahasan hubungan pengetahuan dan sikap keluarga terhadap peran keluarga dalam perawatan anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus,

Dengan penerapan cara-cara tersebut, dimana peneliti ingin membandingkan basil belajar agama Islam dengan melihat pada sikap siswa terhadap ajaran agama dan hasil

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan dan pendapatan berpengaruh secara positif terhadap sikap keluarga dalam pengelolaan sampah rumah tangga

Dari keterangan tersebut, maka penulis menarik kesimpulan bahwa suasana pembelajaran pendidikan agama islam dalam sikap beragama siswa di Madrasah Aliyah Darunnajah

Skripsi dengan judul "Pengaruh Efektifitas Pendidikan Agama Islam Terhadap Sikap Keagamaan Jama'ah Putri di Majelis Ta’lim Darul Aitam Desa Wonodadi Kecamatan Wonodadi

Pengaruh Pendidikan Agama dalam Keluarga Terhhadap Kedisiplinan Melakukan Sholat .... Pengaruh Pendidikan Agama dalam Keluarga Terhadap Kedisiplinan

Terkadang lebih disebabkan sikap dan perilaku pemuka agama yang tidak terbuka terhadap agama lain, dalam pengertian pemahaman keagamaan yang salah, atau bisa saja

Pertanyaan mendasar dalam menggali informasi tentang pola pendidikan dalam keluarga jika dikaitkan dengan sikap keagamaan dan toleransi adalah, apakah keluarga muslim Desa