• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sulfida Dan Sianida Pada Air Badan Air

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Sulfida Dan Sianida Pada Air Badan Air"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

ANAL

ISIS SUL

P

AN

UN

LFIDA DA

T

A

N

ROGRAM

ALIS FA

FAK

NIVERSIT

AN SIAN

TUGAS A

OLEH

ANISA RA

NIM 1024

M STUDI

ARMASI D

KULTAS F

TAS SUM

MEDA

2013

NIDA

PAD

AKHIR

H:

AHMI

410050

I DIPLOM

DAN MA

FARMAS

MATERA

AN

3

DA AIR B

MA III

AKANAN

SI

UTARA

(2)

AN

Diajuka

NALISIS SU

an Untuk M Pada Progr

LEM

ULFIDA D

Memenuhi Sa ram Studi D

Unive

A

N

Meda Disetu Dosen Drs. A NIP 1 Disah Dekan Prof. NIP 1

KA

MBAR PEN

DAN SIANI

TUGAS A

alah Satu Sy Diploma III A

Fakultas Fa ersitas Sum

Oleh

ANISA RA

NIM 1024

an, Mei 2 ujui Oleh: n Pembimb Agusmal D 1954060819 hkan Oleh: n, Dr. Sumad 1953112819 ATA PENG GESAHAN IDA PADA KHIR yarat Memp Analis Farm armasi matera Utara :

AHMI

410050

2013 bing, alimunthe, 983031005 dio Hadisah 983031002 GANTAR N

A AIR BAD

peroleh Gela masi dan Ma

a

,M.S.,Apt.

hputra, Ap

DAN AIR

ar Ahli Mad akanan

pt.

(3)

Bismillahirrahmanirrahim,

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Adapun judul Tugas Akhir ini adalah “Analisis Sulfida dan Sianida Pada Air Badan Air” yang dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Diploma III Analisis Farmasi dan Makanan Fakultas Farmasi Sumatera Utara.

Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik dan pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada berbagai pihak antara lain:

1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App.Sc., Apt., selaku Ketua Program Studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan.

(4)

4. Bapak Erlan Aritonang, S.Si., M.Si., beserta seluruh Staf dan Pegawai Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit (BTKLPP) Kelas 1 Medan.

5. Bapak Drs. Maralaut Batubara, M.Phill., Apt., sebagai Dosen Penasehat Akademis yang telah memberikan nasehat dan pengarahan kepada penulis dalam hal Akademis setiap semester.

6. Dosen dan Pegawai Fakultas Farmasi Program Diploma III Analis Farmasi dan Makanan yang berupaya mendukung kemajuan mahasiswa.

7. Seluruh pegawai Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas 1 Medan yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran kepada penulis dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan. 8. Staf pegawai Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit

(BTKLPP) Kelas 1 Medan, khususnya pada staf laboratorium kimia dan laboratorium biologi yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran kepada penulis dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangan.

9. Sahabat – sahabat penulis yang telah memberikan semangat, keceriaan, saling bertukar pikiran dan dukungan dalam suka dan duka, khususnya buat Fatimah Arinawati, Sari Sellyni dan Dwi Pertiwi.

(5)

Terakhir dan teristimewa, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Syah Minan Situmorang dan Ibunda Nur aini Marbun yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayang dan cinta dari kecil hingga saat ini memberikan motivasi dan restu serta materi yang tak ternilai harganya dengan apapun.

Penulis menyadari bahwa sepenuhnya isi dari Tugas Akhir ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan serta masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan Tugas Akhir ini dan demi peningkatan mutu penulisan Tugas Akhir di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis sangat berharap semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang memerlukan. Amin.

Medan, Mei 2013

Penulis,

(6)

Abstrak

Air adalah materi yang essensial bagi kehidupan manusia, akan tetapi air juga dapat menjadi malapetaka antara lain sebagai pembawa mikroorganisme patogen maupun zat zat yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3). Tujuan penulisan tugas akhir ini untuk mengetahui apakah air badan air (sungai) yang dianalisis memenuhi sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan PP No.82 tanggal 14 Desember 2001.

Sulfida (S2-) merupakan senyawa yang menimbulkan rasa dan bau, bersifat korosif dan iritant. Dan Sianida (CN)- merupakan senyawa sian (Cn) yang sudah lama terkenal sebagai racun. Analisis sulfida (S2-) dilakukan dengan menggunakan alat spektofotometer UV-vis DR 2800 (HACH). Sedangkan analisis Sianida (CN)- dilakukan dengan menggunakan alat spektofotometer NOVA 60. Dan penelitian ini dilakukan dilaboratorium BTKLPP kelas 1 Medan.

Hasil analisis kadar logam sulfida dalam air badan air diperoleh 0,002 mg/l dan 0,001 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemeritah No. 82 tanggal 14 Desember 2001 tentang batasan maksimum cemaran sulfida dalam air badan air, maka kadar sulfida pada air badan air masih memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan yaitu 0,002 mg/l. Dan hasil analisis kadar sianida dalam air badan air diperoleh 0,003 mg/l dan 0,002 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemeritah No. 82 tangga 14 Desember 2001 tentang batasan maksimum cemaran sianida dalam air badan air, maka kadar sianida pada air badan air masih memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan yaitu 0,02 mg/l.

Kata kunci: Air, Sulfida (S2-), Sianida (CN)-, Air Badan Air

(7)

Abstract

Water is the essential material for human life, but water can also be a catastrophe, among others, as a carrier of pathogenic microorganisms or substances which belongs to a class of substances hazardous and toxic (B3). The purpose of writing this thesis to determine whether the water body of water (river) meets analyzed in accordance with the quality standards set PP No.82 dated December 14, 2001.

Sulfide (S2-) are compounds that cause taste and odor, are corrosive and iritant. And cyanide (CN) - a compound cyan (Cn) which has long been known as a poison. Analysis of sulfide (S2-) were performed using an UV-vis spectrophotometer DR 2800 (HACH). While the analysis of cyanide (CN) - performed by using a NOVA 60 spectrophotometer. And laboratory research conducted BTKLPP class 1 field.

Results of analysis of metal sulfide levels in the water body of water obtained 0.002 mg / l and 0.001 mg / l. Under Regulation No. pemeritah. 82 dated December 14, 2001 concerning the maximum limits sulfide contamination in water bodies of water, the levels of sulfide in the water body of water still meets the requirements of quality standards that have been established which is 0.002 mg / l. And the analysis of cyanide levels in water bodies of water obtained 0.003 mg / l and 0.002 mg / l. Under Regulation No. pemeritah. 82 stairs December 14, 2001 on the maximum limit of cyanide contamination of water bodies in the water, the water levels of cyanide in water bodies still meet the requirements of quality standards that have been established which is 0.02 mg/ l.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Manfaat ... 3

1.2.1 Tujuan ... 3

1.2.2 Manfaat ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Air ... 5

2.2 Sulfida (S2-) dan Sianida (CN)- ... 6

2.2.1 Sulfida (S2-) ... 6

2.2.2 Sianida (CN)- ... 7

2.3 Pencemaran Sulfida (S2-) dan Sianida (CN)- ... 8

2.3.1 Pencemaran Sulfida (S2-)... 8

(9)

2.4 Air Badan Air ... 9

2.4.1 Sungai ... 10

2.4.2 Danau ... 10

2.4.3 Air Tanah ... 11

2.5 Macam-macam Air Badan Air ... 12

2.6 Pencemaran Air ... 13

2.7 Spektrofotometer ... 15

2.7.1 Analisa Spektrofotometer ... 16

BAB III METODE PENGUJIAN ... 17

3.1 Tempat ... 17

3.2 Sampel, Alat, dan Bahan ... 17

3.2.1 Sampel ... 17

3.2.2 Alat ... 18

3.2.3 Bahan ... 18

3.3 Prosedur ... 18

3.3.1 Prosedur Sulfida (S2-) ... 18

3.3.2 Prosedur Sianida (CN)- ... 19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 21

4.1 Sulfida (S2-) ... 21

4.2 Sianida (CN)- ... 21

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 22

5.1 Kesimpulan ... 22

(10)
(11)

DAFTAR TABEL

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 DATA ANALISA ... 26 Lampiran 2 TABEL BAKU MUTU AIR BADAN AIR ... 27 Lampiran 3 GAMBAR ALAT ... 29  

(13)

Abstrak

Air adalah materi yang essensial bagi kehidupan manusia, akan tetapi air juga dapat menjadi malapetaka antara lain sebagai pembawa mikroorganisme patogen maupun zat zat yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3). Tujuan penulisan tugas akhir ini untuk mengetahui apakah air badan air (sungai) yang dianalisis memenuhi sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan PP No.82 tanggal 14 Desember 2001.

Sulfida (S2-) merupakan senyawa yang menimbulkan rasa dan bau, bersifat korosif dan iritant. Dan Sianida (CN)- merupakan senyawa sian (Cn) yang sudah lama terkenal sebagai racun. Analisis sulfida (S2-) dilakukan dengan menggunakan alat spektofotometer UV-vis DR 2800 (HACH). Sedangkan analisis Sianida (CN)- dilakukan dengan menggunakan alat spektofotometer NOVA 60. Dan penelitian ini dilakukan dilaboratorium BTKLPP kelas 1 Medan.

Hasil analisis kadar logam sulfida dalam air badan air diperoleh 0,002 mg/l dan 0,001 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemeritah No. 82 tanggal 14 Desember 2001 tentang batasan maksimum cemaran sulfida dalam air badan air, maka kadar sulfida pada air badan air masih memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan yaitu 0,002 mg/l. Dan hasil analisis kadar sianida dalam air badan air diperoleh 0,003 mg/l dan 0,002 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemeritah No. 82 tangga 14 Desember 2001 tentang batasan maksimum cemaran sianida dalam air badan air, maka kadar sianida pada air badan air masih memenuhi persyaratan baku mutu yang telah ditetapkan yaitu 0,02 mg/l.

Kata kunci: Air, Sulfida (S2-), Sianida (CN)-, Air Badan Air

(14)

Abstract

Water is the essential material for human life, but water can also be a catastrophe, among others, as a carrier of pathogenic microorganisms or substances which belongs to a class of substances hazardous and toxic (B3). The purpose of writing this thesis to determine whether the water body of water (river) meets analyzed in accordance with the quality standards set PP No.82 dated December 14, 2001.

Sulfide (S2-) are compounds that cause taste and odor, are corrosive and iritant. And cyanide (CN) - a compound cyan (Cn) which has long been known as a poison. Analysis of sulfide (S2-) were performed using an UV-vis spectrophotometer DR 2800 (HACH). While the analysis of cyanide (CN) - performed by using a NOVA 60 spectrophotometer. And laboratory research conducted BTKLPP class 1 field.

Results of analysis of metal sulfide levels in the water body of water obtained 0.002 mg / l and 0.001 mg / l. Under Regulation No. pemeritah. 82 dated December 14, 2001 concerning the maximum limits sulfide contamination in water bodies of water, the levels of sulfide in the water body of water still meets the requirements of quality standards that have been established which is 0.002 mg / l. And the analysis of cyanide levels in water bodies of water obtained 0.003 mg / l and 0.002 mg / l. Under Regulation No. pemeritah. 82 stairs December 14, 2001 on the maximum limit of cyanide contamination of water bodies in the water, the water levels of cyanide in water bodies still meet the requirements of quality standards that have been established which is 0.02 mg/ l.

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan, terutama penyakit perut. Seperti kita ketahui bahwa penyakit perut adalah penyakit yang

paling banyak terjadi di Indonesia. Air adalah salah satu di antara pembawa penyakit

yang berasal dari tinja untuk sampai kepada manusia. Air yang menjadi konsumsi

manusia baik berupa minuman maupun makanan tidak menyebabkan penyakit atau

pembawa bibit penyakit. Oleh sebab itu mutlak diperlukan pengolahan air untuk

mencegah terjadinya kontak antara kotoran sebagai sumber penyakit dengan air sebagai

sumber kebutuhan manusia. Air dapat berasal dari sumber air, jaringan transmisi atau

distribusi air (Sutrisno, 2004).

Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kualitas dan kuantitas air. Kuantitas air yang sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan yang terus menerus meningkat. Kualitas air untuk keperluan domestik juga menurun. Penyebab turunnya kualitas air antara lain adalah karena adanya kegiatan industri, domestik. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan,dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara seksama (Effendi, 2003).

(16)

terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar. Air permukaan dan air sumur pada umumnya mengandung bahan– bahan metal, seperti Na, Mg, Ca, dan Fe. Air yang mengandung komponen tersebut dalam jumlah tinggi disebut air sadah. Adanya benda–benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya secara normal disebut dengan pencemaran air. Karena kebutuhan makhluk hidup akan air sangat bervariasi, maka batas pencemaran untuk berbagai jenis air juga berbeda (Kristanto, 2002).

Sungai merupakan lingkungan perairan yang sering digunakan manusia untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai tempat untuk membuang hasil sampingan, sehingga secara tidak langsung dapat masuk ke perairan laut. Wilayah perairan laut merupakan zona terdepan yang bertindak sebagai penerima dampak/tekanan dari berbagai aktifitas manusia, baik aktifitas di darat maupun di perairan laut, semuanya itu dapat mempengaruhi kualitas perairan (Hutabarat dan Stewart, 1984).

(17)

Sianida adalah senyawa sianida (CN)- yang dikenal sebagai racun yang mudah terbakar Sudarmadji dkk. (1976). Sianida mempunyai berat molekul 27,06 nilai terhirup dapat menyebabkan pingsan dan bahkan kematian. Sianida terbentuk dari reaksi antara nitrogen (N) dan karbon (C) pada temperatur tinggi (Sudarmadji, 1976).

Dari hal-hal yang disebutkan diatas, Penulis merasa tertarik untuk memeriksa kadar cemaran sulfida dan sianida dalam sampel yang diambil dari beberapa sungai di Sumatera Utara.

1.2Tujuan dan Manfaat

1.2.1 Tujuan

1. Untuk mengetahui dan menetapkan kadar cemaran Sulfida (S2-) dan Sianida (CN)- dalam sampel air badan air, yaitu beberapa sungai di daerah Sumatera Utara.

(18)

1.2.2 Manfaat

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air

Air adalah materi yang essensial bagi kehidupan manusia, akan tetapi air juga dapat menjadi malapetaka antara lain sebagai pembawa mikroorganisme patogen maupun zat-zat yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3). Hal ini disebakan antara lain adalah sebagai akibat dari semakin luas dan semakin kompleks masalah dalam pencemaran air. Ini brerlaku terutama untuk negara berpenduduk sangat padat dengan kemajuan industri yang juga semakin pesat, termasuk Indonesia .

Air juga merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup, karena selama hidupnya mereka memerlukan air. Semakin pesat laju pertumbuhan penduduk maka makin meningkat jumlah penduduk, maka semakin naik pula laju pemanfaatan sumber-sumber air (Wardhana, 2004).

Menurut peraturan pemerintah sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk, dan muara. Pengertian mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(20)

2.2 Sulfida dan Sianida

2.2.1 Sulfida (S2-)

Sulfida adalah suatu bentuk ion dari sulfur dimana satu ion sulfur tersebut membutuhkan 2 elektron lagi pada kulit terluarnya untuk mencapai kestabilannya, karena membutuhkan 2 ion lagi maka dilambangkan S2-.

Senyawa sulfida menimbulkan rasa dan bau, bersifat korosif dan iritan. Dalam dosis tinggi dapat merusak sistem saraf pusat. Keracunan biasanya jarang sekali terjadi karena zat ini berbau busuk. Bila orang sempat menjauh, maka tidak akan keracunan tetapi apabila sulfida ini berbentuk gas yang menjalar cepat, sehingga tidak sempat melarikan diri, maka orang dapat menderita keracunan akut yang mematikan dalam waktu singkat karena asphyxia.

Hidrogen Sulfida terbentuk dari proses penguraian bahan-bahan organis oleh bakteri. Maka dari itu H2S terdapat dalam minyak dan gas bumi, selokan, air yang tergenang. Misalnya rawa-rawa dan juga terbentuk pada proses-proses industri maupun proses biologi.

(21)

2.2.2 Sianida (CN)

-Sianida (CN)- merupakan senyawa non-logam. Biasanya, senyawa ini dihasilkan dalam pemrosesan logam. Sianida tersebar luas di perairan dan berada dalam bentuk senyawa yang lebih kecil atau disebut juga ion sianida (CN)-, hydrogen sianida (HCN), dan metalosianida. Keberadaan sianida sangat dipengaruhi oleh pH, suhu, oksigen terlarut, dan keberadaan ion lain. Pada pH yang lebih kecil dari 8, sianida dianggap lebih toksik bagi makhluk hidup. Sianida bersifat biodegradable atau mudah berikatan dengan ion logam, misalnya tembaga (Cu2+) dan besi (Fe2+). Sianida dalam bentuk ion mudah diserap oleh bahan-bahan yang mudah melarutkan sesuatu (seperti air).

Sianida (CN)- merupakan senyawa sian (Cn) yang sudah lama terkenal sebagai racun. Di dalam tubuh akan menghambat pernapasan jaringan, sehingga terjadi asphyxia, orang merasa seperti tercekik dan cepat di ikuti oleh kematiian. Keracunan kronis menimbulkan malaise, dan iritasi. Sianida ini didapatkan secara alamiah diberbagai tumbuhan. Apabila terdapat didalam air minum, maka untuk menghilangkannya diperlukan pengolahan khusus.

(22)

apnea yang dalam jangka waktu 5-8 menit akan mengakibatkan aktifitas otot jantung terhambat karena hipoksia dan berakhir dengan kematian. Dalam konsentrasi rendah, efek dari sianida baru muncul sekitar 15-30 menit kemudian, sehingga masih bisa diselamatkan dengan pemberian antidotum (Soemirat, 2005).

2.3 Pencemaran Sulfida dan Sianida

2.3.1 Pencemaran Sulfida (S2-)

Pencemaran sulfida terjadi apabila terpapar pada udara bebas akan teroksidasi, terlarutkan oleh air permukaan atau air tanah membentuk air asam. Air asam akan melarutkan logam yang terlewati sehingga menghasilkan bahan beracun berbahaya yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama air permukaan dan air tanah.

Aliran air asam apabila memasuki badan air akan menyebabkan turunnya pH, sehingga menjadi lingkungan yang tidak layak untuk dihuni oleh ikan dan sejenisnya. Sedangkan apabila mengenai tumbuhan akan menyebabkan mati atau tumbuh kerdil (Wikipedia, 2013).

2.3.2 Pencemaran Sianida (CN)

-Sianida selain berdada di dalam air, juga berasal dari lingkungan dan berasal dari buangan pertambangan yang menggunakan sianida dalam proses produksinya.

(23)

Tingkat racun dari sianida di dalam air tergantung dari konsentrasi sianida. bahan berbahaya dan beracun dalam konsentrasi tertentu bila termakan manusia dapat membahayakan kesehatan bahkan mengancam kehidupan (Gintings, 1995).

Sianida dalam bentuk HCN merupakan zat yang beracun. HCN banyak ditemukan dalam lingkungan industri dan dalam proses pertambangan sianida yang dihasilkan dapat berupa ion sianida (CN) dalam larutan “licing”. Ion sianida CN mempunyai kemampuan menghambat kerja enzim dalam tubuh yang peka terhadap sianida. Enzim sitokrom oksidase sangat peka terhadap sianida (Anonimus, 1994).

Dampak akumulasi sianida di dalam tubuh manusia, yaitu :

Air Badan Air Menghambat pertukaran oksigen dalam tubuh, mengganggu fungsi hati, menyebabkan pengeroposan tulang atau osteoporosis.

2.4Air Badan Air

(24)

2.4.1 Sungai

Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

Aliran sungai diklafikasikan dalam empat tahapan, yaitu stadium lahir, muda, dewasa dan umur tua. Pada stadium lahir sungai belum tereroris, air tanah berperan penting pada stadium ini sehingga pada musin kemarau sungai muda masih didukung oleh aliran air tanah tetapi aliran sungai berjalan secara kontinu. Sungai stadium dewasa, air sungai yang umumnya bersih dan lebih dalam dibandngkan sungai muda sedangkan sungai tua lebih dalam lagi hampir mencapai tingkat dasar geologinya (Wasilah, 2002).

2.4.2 Danau

Danau merupakan suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu danau ke danau lainnya, serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi. Danau mempunyai cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas.

(25)

jernih, kurang mengandung zat hara akibatnya kurang produaktif untuk aktifitas biologis. Danau eutropik lebih banyak mengandung zat hara sehingga airnya agak keruh dan lebih dapat menunjang kehidupan aquatik. Danau ini umumnya relatif lebih tua dibanding oligotropik. Danau yang umurnya lebih tua diklafikasikan sebagai danau Dystropik. Danau ini dangkal, dipenuhi dengan tumbuhan air dan biasanya airnya berwarna serta mempunyai pH yang rendah (Wasilah, 2002).

2.4.3 Air Tanah

Air tanah ialah air yang melekat pada butir-butir tanah, dan air yang tergenang di atas lapisan tanah yang terdiri dari batu, tanah lempung yang amat halus atau padat yang sukar ditembus air.

Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa air tanah adalah air yang tersimpan dalam ruang antar butir tanah yang dibatasi oleh formasi geologi dan struktur batuan yang sukar ditembus air. Lapisan dimana air tanah dapat dengan mudah melaluinya disebut lapisan permeabel seperti lapisan pasir atau lapisan krikil. Lapisan impermeabel terbagi atas dua jenis yakni lapisan yang kebal air (aquifuge) seperti lapisan batuan (rock) dan lapisan kedap air (aquiclude) seperti lapisan lempung atau lapisan silt.

(26)

bahan yang jenuh di bawah muka air tanah. Dua persen sisanya adalah lengas tanah pada mintakat tidak jenuh di atas muka air tanah (Seyhan, 1997).

2.5 Macam-macam Air Badan Air

1. Badan air golongan A, yaitu badan air yang airnya digunakan sebagai air minum tanpa pengolahan yang berarti.

2. Badan air golongan B, yaitu badan air yang airnya dapat digunakan sebagai air baku untuk diolah sebagai air minum dan dapat digunakan untuk keperluan lain, tetapi tidak memenuhi golongan A.

3. Badan air golongan C, yaitu badan air yang airnya digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan, dan dapat digunakan untuk keperluan lain, tetapi tidak memenuhi golongan A dan B.

4. Badan air golongan D, yaitu badan air yang airnya digunakan untuk keperluan pertanian dan keperluan lain, tetapi tidak memenuhi golongan A, B dan C.

5. Badan air golongan E, Yaitu badan air yang tidak memenuhi kualitas air golongan A, B, C dan D.

2.6 Pencemaran Air

Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya (Mulia, 2005).

(27)

Dengan menurunnya atau punahnya organisme tersebut maka sistem ekologi perairan dapat terganggu. Sistem ekologi perairan (ekosistem) mempunyai kemampuan untuk memurnikan kembali lingkungan yang telah tercemar sejauh beban pencemaran masih berada dalam batas daya dukung lingkungan yang bersangkutan. Apabila beban pencemaran melebihi daya dukung lingkungannya maka kemampuan itu tidak dapat dipergunakan lagi. Pencemaran air selain menyebabkan dampak lingkungan yang buruk dapat menurunkan keanekaragaman dan mengganggu estetika juga berdampak negatif bagi kesehatan makhluk hidup, karena di dalam air yang tercemar selain mengandung mikroorganisme patogen, juga mengandung banyak komponen beracun (Nugroho, 2006).

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, Pencemaran air adalah masuknya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi.

Air diperlukan dalam aktivitas organisme mulai dari kebutuhan konsumsi makhluk hidup (termasuk manusia), untuk industri dan sebagainya. Karena begitu banyaknya kegiatan manusia yang melibatkan air akan dapat mengakibatkan pencemaran air (Situmorang, 2007).

(28)

kegiatan industri dan teknologi itu dalam jumlah yang cukup besar, maka perlu dipikirkan dari mana air tersebut di peroleh. Pengambilan air dari sumber air tidak boleh mengganggu keseimbangan air lingkungan (Wardhana, 2001).

Menurut Abdullah (1989), ada tiga penyebab utama tercemarnya suatu perairan yaitu:

1. Peningkatan konsumsi atau pengguaan air sehubungan dengan perekonomian dan taraf hidup masyarakat.

2. Terjadinya perpindahan dan pertambahan penduduk di sekitar daerah industri.

3. Kurangnya kesadaran sosial dan rendahnya pendapatan untuk memperbaiki lingkungan hidup.

2.7 Spektrofotometer

(29)

Pada fotometer filter, tidak mungkin diperoleh panjang gelombang yang benar-benar monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm. Sedangkan pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spectrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sample dan blanko ataupun pembanding (Underwood, 1980).

2.7.1 Analisa Spektrofotometer

(30)

BAB III

METODE PENGUJIAN

3.1 Tempat

Analisis Sulfida (S2-) dan Sianida (CN)- dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit (BTKL PP) Kelas 1 Medan yang bertempat di Jln. Wahid Hasyim No. 15 Medan.

3.2 Sampel, Alat, dan Bahan

3.2.1 Sampel

- Sulfida (S2-)

Air Badan Air dengan nomor 561/K/ABA/02/2013 yaitu air sungai Denai perumahan setia jati.

Air Badan Air dengan nomor 202/K/ABA/02/2013 yaitu air sungai Tandok Kec. Muara Sipongi

- Sianida (CN)

-Air Badan -Air dengan nomor 357/K/ABA/02/2013 yaitu air sungai Aek Botung.

Air Badan Air dengan nomor 359/K/ABA/02/2013 yaitu air sungai Batang Gadis Hilir.

3.2.2 Alat

- Sulfida (S2-)

Bola karet, erlenmeyer, kuvet 586 mm-cell, spektofotometer UV-vis DR 2800 (HACH), volume 10 ml.

(31)

-Kuvet 50 mm-cell,pH meter, tabung reaksi, spektofotometer NOVA 60.

3.2.3 Bahan

- Sulfida (S2-)

Air suling, Sampel 561/K/ABA/02/2013, sulfide 1 reagen, sulfide 2 reagen.

- Sianida (CN)

-Sampel 357/K/ABA/02/2013, reagen CN-3, reagen CN-4. 3.3 Prosedur Analisis

3.3.1 Sulfida (S2-)

A. Pembuatan blanko

1. Dipipet 10 ml air suling.

2. Dimasukkan kedalam erlenmeyer.

3. Ditambahkan 1 ml sulfide 1 reagent dan 1ml sulfide 2 reagent.

4. Dihomogenkan.

B. Pembuatan sampel

1. Dipipet 10 ml sampel.

2. Dimasukkan kedalam erlenmeyer.

3. Ditambahkan 1 ml sulfide 1 reagent dan 1 ml sulfide 2 reagent.

(32)

5. Didiamkan sampel dan blanko selama 3 menit

6. Dipilih STORED PROGRAM pada spektrofotometer untuk analisa sulfida ( urutan 690).

7. Dimasukkan blanko kedalam kuvet.

8. Dimasukkan kuvet kedalam ruang sel pada spektrofotometer, ditutup dan ditekan tombol ZERO. 9. Dikeluarkan kuvet yang berisi blanko diganti dengan

kuvet yang telah diisi dengan sampel.

10.Ditutup dan dibaca konsentrasi sulfida yang terbaca dilayar spektrofotometer

3.3.2 Sianida (CN)

-1. Cek pH sampel berkisar antara 4,5 – 8 dengan penambahan basa NaOH atau penambahan asam H2SO4.

2. Ambil 5 ml sampel, masukkan ke dalam tabung.

3. Tambahkan 1 micro spoon hijau reagent CN-3, homogenkan. 4. Tambahkan 1 micro spoon biru reagent CN-4 dan homogenkan. 5. Diamkan selama 10 menit.

6. Masukkan auto selektor kedalam spektrometer dengan kode 09701 untuk parameter sianida.

7. Masukkan sampel kedalam kuvet.

(33)

10.Tekan tombol ENTER.

(34)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 SULFIDA (S2-)

Pada analisis Sulfida digunakan alat Spektofotometer UV-vis DR 2800 (HACH). Dari hasil analisis pada sampel nomor 561/K/ABA/02/2013 hasilnya diperoleh 0,0002 mg/l, dan sampel nomor 202/K/ABA/02/2013 hasilnya diperoleh 0,001 mg/l, di mana baku mutu sulfida dalam air badan air menurut Peraturan Pemerintah No.82 tanggal 14 Desember 2001 adalah 0,002 mg/l. Dari data di atas dinyatakan bahwa kadar sulfida pada air badan air memenuhi syarat karena masih berada pada baku mutu yang telah ditetapkan.

4.2 SIANIDA (CN)

(35)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisis yang dilakukan, maka dapat disimpulkan kadar sulfida pada air badan air memenuhi syarat karena masih berada pada baku mutu sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No.82 tanggal 14 Desember 2001 dan kadar sianida pada air badan air memenuhi syarat karena masih berada pada baku mutu sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No.82 tanggal 14 Desember 2001.

5.2 Saran

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, C. (1989). Evaluasi Kualitas Fisika, Kimia dan Biologi Air Sungai. Pekanbaru: Pusat Penelitian Universitas Riau. Halaman 23

Anonimus. (1999). Kursus Singkat Analisis Pencemaran Lingkungan Laut. Staf Akademik PTN-INTIM. Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang

Anonimus. (1994). Kursus Analisis Limbah Industri Angkatan Ke II Staf Akademik PTN Indonesia Bagian Timur. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Universitas Hasanuddin. Ujung Pandang

Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.Halaman 11, 106-109

Gintings, S. (1995). Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Halaman 27

Khopkar, S.M. (2003). Kimia Analitis. Jakarta : UI-Press. Halaman 419

Kristanto, P. (2002). Ekologi Industri. Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta. Halaman 72-73, 76

Hutabarat, S, dan Stewart, E.M. (1984). Pengantar Oceanografi. UI Press. Jakarta. Halaman 14

Mulia, R. (2005). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Halaman 46, 68-72

Nugroho, A. (2006). Bioindikator Kualitas Air. Jakarta: Universitas Trisakti. Halaman 10-13

(37)

Seyhan, E. (1997). Dasar-dasar Hidrologi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Halaman 25

Situmorang, M. (2007). Kimia Lingkungan. Medan: Universitas Negeri Medan. Halaman 36, 47

Slamet, S. J. (1994). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. . Halaman 46

Soemirat,S.J. (2005). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 47

Sudarmadji, S, Haryono, B, dan Suhardi. (1976). Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty. Halaman 36

Sutrisno. T. (2002). Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Halaman 18-19, 36-37

Underwood, A.L. (1992). Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Hal 66-69

Wardhana, W.A. (2001). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi Offset. Hal 19, 71-169

Wikipedia. (2013). Pencemaran Sulfida. Di ambil dari :

http://www.google.co.id/2013/Pencemaran Sulfida. Tgl: 2 Mei 2013  

 

(38)
[image:38.595.97.585.166.305.2]

Lampiran 1

Tabel. Data Analisa NO Parameter Satuan Baku

Mutu

Hasil Analisa Metode/Alat

561/K/ABA/02/2013

357/K/ABA/02/2013

202/K/ABA/02/2013

359/K/ABA/02/2013

(39)

Lampiran 2

[image:39.595.114.515.277.734.2]

AIR BADAN AIR KELAS I

Tabel Baku Mutu Air Badan Air

Peraturan Pemerintah NO.82 tanggal 14 Desember 2001

NO PARAMETER BAKU MUTU SATUAN

1 Fe 0,3 mg/l

2 Mn 0,1 mg/l

3 Zn 0,05 mg/l

4 Cd 0,01 mg/l

5 Pb 0,03 mg/l

6 Hg 0,001 mg/l

7 As 0,05 mg/l

8 Se 0,01 mg/l

9 Ba 1 mg/l

10 Cu 0,02 mg/l

11 Co 0,2 mg/l

12 Boron 1 -

13 NITRIT 0,06 mg/l

SS14 FLUORIDA 0,5 mg/l

(40)

16 COD 10 mg/l

17 Zat organic - mg/l

18 Phospat 0,2 mg/l

19 TSS 50 mg/l

20 SIANIDA 0,02 mg/l

21 pH 6 s/d 9 -

22 NITRAT 10 mg/l

23 Amoniak 0,5 mg/l

24 Cl bebas 0,03 mg/l

25 SUHU Deviasi 3 oC

26 KLORIDA 600 mg/l

27 KROMIUM VAL 6 0,05 mg/l

28 SULFAT 400 mg/l

29 Kesadahan 500 mg/l

(41)
[image:41.595.325.505.140.336.2]

Lampiran

[image:41.595.114.288.430.644.2]

Gambar 1

Gambar 3 DR

n 3

. Spektrofot

. Spektrofot R 2800 (HA

tometer NO

tometer UV ACH)

OVA

V-Vis

Gambar 2

Gambar

Tabel. Data Analisa
Tabel Baku Mutu Air Badan Air
Gambar 3. Spektrofottometer UVV-Vis

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar nitrat dan nitrit yang terkandung pada air sungai Deli memenuhi baku mutu atau tidak.. Analisis kadar nitrat dan

Apakah kandungan kadar mineral kalsium, kalium, dan, magnesium pada beberapa jenis air minum isi ulang di kota Medan memenuhi persyaratan kesehatan Baku Mutu Air Minum

Florindo Makmur, PT.Sari Tani Sumatra masih memenuhi syarat baku mutu air limbah industri pengolahan tepung tapioka menurut KEP-51/MENLH/10/1995 lampiran B VIII, sementara nilai

Florindo Makmur, PT.Sari Tani Sumatra masih memenuhi syarat baku mutu air limbah industri pengolahan tepung tapioka menurut KEP-51/MENLH/10/1995 lampiran B VIII, sementara nilai

Untuk menambah pengetahuan khususnya mengenai tentang kualitas air minum yang baik dari kadar logam sulfat dan sulfida sesuai persyaratan yang telah di tetapkan oleh

Baku mutu air limbah merupakan standar yang digunakan untuk mengukur kadar maksimum jumlah parameter tertentu di dalam air limbah sebelum dibuang ke badan air. Baku

Adapun judul Tugas Akhir ini adalah “ Analisis Zat Warna dan Kadar Sianida pada Air Bersih Menggunakan Metode Spektrofotometri ” disusun sebagai salah satu syarat untuk

Keputusan Menteri Negara Lingkungan HidupNo.51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut.KLH.. Bahaya Kimia: Sampling & Pengukuran kontaminan kimia