Efektivitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui Pakan terhadap Kelangsungan Hidup Relatif Ikan Mas yang Diinfeksi Koi Herpesvirus

94 

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

SITI KHODIJAH. Efektivitas frekuensi pemberian vaksin DNA melalui pakan terhadap kelangsungan hidup relatif ikan mas yang diinfeksi koi herpesvirus. Dibimbing oleh Dr. Sri Nuryati dan Dr. Alimuddin.

Budidaya ikan mas saat ini terkendala oleh serangan penyakit koi herpesvirus (KHV). Penyakit KHV bersifat sangat ganas, cepat menular, dan dapat mematikan ikan mas dan ikan koi lebih dari 80% populasi. Oleh karena itu dibutuhkan metode pencegahan yang bersifat aman dan dapat diterapkan secara masal. Pada penelitian ini dilakukan vaksinasi DNA anti-KHV sebanyak 1 mL/ekor ikan melalui pakan buatan untuk menentukan frekuensi pemberian vaksin yang menghasilkan kelangsungan hidup tinggi pada ikan yang diinfeksi KHV. Terdapat lima perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu perlakuan A: vaksinasi satu kali seminggu, perlakuan B: vaksinasi dua kali seminggu, perlakuan C: vaksinasi tiga kali seminggu, kontrol positif: ikan tidak divaksin, dan diuji tantang KHV, dan kontrol negatif: ikan tidak divaksin dan diinjeksi dengan larutan bufer fosfat salin. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari secara satiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi tiga kali seminggu memberikan kelangsungan hidup relatif (84,6%) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan menghasilkan aktivitas fagositosis terbaik. Dengan demikian, vaksinasi melalui pakan efektif meningkatkan kelangsungan hidup ikan, dan metode ini dapat menjadi alternatif dalam mengendalikan infeksi KHV pada budidaya ikan mas dan ikan koi.

Kata kunci : ikan mas, vaksin, pakan buatan, koi herpesvirus, kelangsungan hidup relatif

ABSTRACT

SITI KHODIJAH. The effectiveness of DNA vaccine through frequencies to enhance the relative survival of common carp infected by koi herpesvirus Supervised by Dr. Sri nuryati and Dr. Alimuddin.

(2)

the highest relative percent survival (84.6%) and showed the best phagocytic activity compared with other treatments. Hence, vaccination via the feed can effectively increase the survival of fish, and this can be as an alternative method to control KHV infection in carp and koi culture.

(3)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha budidaya ikan mas saat ini terkendala oleh serangan penyakit viral, yaitu koi herpesvirus (KHV) yang dapat menyebabkan kematian masal pada ikan sehingga dapat menyebabkan gagal panen atau panen dini. Infeksi KHV terjadi pada saat musim hujan atau pada suhu dingin berkisar 17-24 oC. Karakter penyakit ini adalah sangat menular, menyerang semua stadia ikan mas, dan bersifat ganas sehingga dapat menyebabkan kematian massal hingga 80-100%. Menurut Hendrik et al. (2005), infeksi KHV ditandai dengan adanya bercak merah atau kerusakan pada insang serta kematian masal pada ikan yang terserang penyakit tersebut. Selain itu biasanya diikuti oleh infeksi sekunder berupa luka

atau bercak putih di permukaan tubuh yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan/atau Flexibacter columnaris (Mudjiutami et al., 2006). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit tersebut, di antaranya adalah vaksinasi dengan menggunakan vaksin DNA.

Vaksin DNA merupakan salah satu metode pencegahan penyakit melalui vaksinasi dengan prinsip kerja meningkatkan sistem kekebalan spesifik pada inang. Vaksin DNA diperkirakan menjadi vaksin pada masa yang akan datang karena memiliki beberapa keunggulan, yaitu mudah dikembangkan dan diproduksi, tidak menimbulkan infeksi, bersifat stabil sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan mampu mengaktivasi sistem kekebalan tubuh baik humoral maupun seluler (Lorenzen & Lapatra, 2005). Vaksin DNA cukup efektif mencegah penyakit viral haemorrhagic septicaemia virus (VHSV) pada ikan salmon (Lorenzen & Lapatra, 2005) dan KHV pada ikan mas (Nuryati, 2010) sehingga dapat menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.

(4)

melalui pakan buatan yang merujuk pada penelitian Yulianti (2011) diharapkan dapat menjadi salah satu pencegahan alternatif sehingga dapat menutupi kekurangan vaksin DNA tersebut. Frekuensi pemberian pakan mengandung vaksin yang optimum belum diketahui. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian efektivitas pemberian vaksin DNA melalui pakan dengan frekuensi berbeda dalam meningkatkan kelangsungan hidup relatif ikan mas yang terinfeksi KHV.

1.2 Tujuan

(5)

BAB II. BAHAN DAN METODE

2.1 Kultur Bakteri Pembawa Vaksin

Bakteri Escherichia coli pembawa vaksin DNA (Nuryati, 2010) dikultur dengan cara menginokulasi satu koloni bakteri media LB tripton dengan penambahan antibiotik ampisilin (konsentasi 100 µL/mL) sebanyak 1 µL/mL media. Metode kultur yang digunakan adalah metode gores kuadran untuk mendapatkan koloni tunggal. Biakan diinkubasi pada suhu 37oC selama 16 jam, kemudian digunakan untuk kultur cair dan sisanya disimpan pada suhu 4oC hingga akan digunakan kembali. Untuk perbanyakan plasmid, bakteri dikultur di media cair menggunakan thermo shaker dengan kecepatan 240 rpm selama 16 jam (Lampiran 2).

Bakteri dipanen dengan merujuk pada metode Yulianti (2011). Sebanyak 40 mL bakteri dituangkan secara parsial ke dalam masing-masing mikrotube

bervolume 1,5 mL, lalu disentrifugasi pada kecepatan 12.000 rpm dan suhu 4oC selama 30 detik. Pelet bakteri yang terbentuk dicuci dengan 1 mL phosphate buffered saline (PBS) sebanyak tiga kali. Setelah dicuci PBS, bakteri diinaktivasi dengan perlakuan panas pada suhu 80oC selama 5 menit, selanjutnya disentrifugasi, dan supertanan dibuang. Bakteri diresuspensi kembali dengan PBS sebanyak 1 mL (Lampiran 3).

2.2 Vaksinasi dan Uji Tantang

Dosis vaksin yang digunakan adalah 7,6 ng dengan kepadatan bakteri 108 cfu/mL (Yulianti, 2011). Bakteri yang mengandung vaksin DNA dicampurkan terlebih dahulu dengan kuning telur sebanyak 1-2% volume bakteri sebelum dicampurkan ke pakan dengan jumlah pakan sebanyak 5% dari biomasa ikan. Kuning telur berfungsi sebagai pengikat (binder). Kemudian pakan didiamkan pada suhu ruang sampai kering. Pencampuran pakan buatan dengan bakteri pembawa vaksin DNA dilakukan sesaat sebelum pemberian pakan perlakuan (Yulianti, 2011).

(6)

menggunakan metode PCR (polymerase chain reaction) (Zahro, 2010). Selain itu, ikan uji yang digunakan merupakan ikan sehat, tidak terserang bakteri dan penyakit. Untuk menguji ikan tidak terserang penyakit adalah dengan mengamati kondisi tubuh ikan, apakah ada kelainan atau jamur tertentu dan dilakukan juga adaptasi ikan pada suhu rendah (18 °C) selama dua minggu (seleksi suhu), setelah itu diamati apakah ada gejala klinis atau tanda-tanda ikan terserang penyakit atau ikan masih dalam kondisi normal. Ikan mas yang digunakan adalah ikan mas yang memiliki bobot 10,22±1,88 gram sebanyak 200 ekor. Ikan tersebut dipelihara di dalam 20 akuarium yang berukuran 45x40x35 cm3. Sebelum akuarium digunakan, dilakukan persiapan dengan cara dicuci menggunakan deterjen, kemudian dibilas dengan air dan setelah itu dikeringkan. Selanjutnya akuarium disemprot dengan menggunakan alkohol 70% dan dibiarkan kering di udara. Akuarium diisi air dengan ketinggian 30 cm.

Ikan ditebar dalam 20 akuarium masing-masing 10 ekor/akuarium. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan komersial dengan frekuensi 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore secara satiasi. Sebelum divaksin, ikan dipuasakan selama satu hari. Masa vaksinasi hanya dilakukan selama satu minggu, setelah itu dilakukan pemeliharaan selama 28 hari. Penelitian ini menggunakan lima kelompok perlakuan dengan masing-masing tiga kali ulangan dan satu ulangan dibuat

khusus untuk analisis indeks fagositosis.

Adapun rancangan perlakuan pada penelitian ini adalah setelah ikan diadaptasikan selama satu minggu, kemudian diberi perlakuan sebagai berikut: Perlakuan A :ikan diberi pakan mengandung vaksin dengan frekuensi

pemberian satu kali dalam seminggu dan diuji tantang dengan filtrat KHV

Perlakuan B :ikan diberi pakan mengandung vaksin dengan frekuensi pemberian dua kali dalam seminggu dan diuji tantang dengan filtrat KHV

(7)

Kontrol positif :ikan tanpa diberi pakan mengandung vaksin dan diuji tantang dengan filtrat KHV, dan

Kontrol negatif :ikan tanpa diberi pakan mengandung vaksin dan diinjeksi dengan PBS.

Setelah pemeliharaan 28 hari perlakuan A, B, C, dan kontrol positif diuji tantang dengan menyuntikkan filtrat KHV sebanyak 0,1 mL/ekor dengan konsentrasi 10-2 secara intramuskular. Masa uji tantang untuk melihat gejala klinis dan kelangsungan hidup ikan yang diberi vaksin DNA dilakukan selama 30 hari (Skema dan time line penelitian terlampir pada Lampiran 5).

2.3 Parameter Penelitian

2.3.1 Kelangsungan Hidup relatif (Relative Percent Survival/RPS)

Kematian ikan dicatat sebelum dan sesudah uji tantang untuk menghitung kelangsungan hidup relatif (Relative survival rate/RPS). RPS dihitung dengan menggunakan rumus :

RPS = [1-

Keterangan :

RPS : Relative percent survival (%)

Mn : Mortalitas pada perlakuan N (%) Mk : Mortalitas pada perlakuan kontrol (%)

2.3.2 Gejala Klinis

Pengamatan gejala klinis dilakukan setiap hari pada saat pemberian pakan selama masa vaksinasi dan pascauji-tantang. Pengamatan gejala klinis meliputi respons makan, tingkah laku ikan, dan kelainan kondisi fisik ikan.

2.3.3 Indeks Fagositosis

(8)

bervolume 1,5 mL, ditambahkan dengan 50 µL suspensi Staphylococcus aureus

dalam PBS (108 sel/mL), dihomogenkan dan diinkubasi dalam suhu ruang selama 20 menit. Setelah itu, sebanyak 50 µL dibuat sediaan ulas darah dan dikeringudarakan. Preparat difiksasi dengan metanol 96% selama 5 menit dan dikeringkan. Selanjutnya preparat direndam dalam pewarna Giemsa 70% selama 15 menit dan dicuci dengan air mengalir serta dikeringkan dengan tisu (Lampiran 6). Setelah itu diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 20x. Jumlah sel yang menujukkan proses fagostosis (sel darah putih yang sedang memfagosit Staphylococcus aureus) dihitung dari 100 sel fagosit yang teramati.

2.3.4 Pengamatan Histologis

Pengambilan sampel ikan mas dilakukan pada hari ke-6 pascainfeksi KHV sebanyak 1 ekor setiap perlakuan. Organ yang diambil untuk preparasi histologis adalah insang dan ginjal. Cara preparasi histologis adalah insang ikan mas difiksasi dengan menggunakan larutan Bouin’s selama 24 jam, kemudian diganti dengan alkohol sebagai tahap awal dari histopatologi. Preparasi meliputi fiksasi, dehidrasi, clearing, embedding, blocking, pemotongan serta pewarnaan Hematoksilin-Eosin (Lampiran 7). Preparat histologis diamati dengan mikroskop pada perbesaran 100x dan 200x.

Pengamatan histopatologi bertujuan untuk membuktikan bahwa ikan sakit disebabkan oleh serangan KHV. Hal ini ditinjau dari adanya gejala kelainan histopatologi (terjadinya hiperplasia, hipertropi, dan badan inklusi pada jaringan) ikan yang muncul setelah dilakukan uji tantang. Selain dengan cara tersebut, pembuktian serangan KHV juga dapat diketahui dengan melakukan uji PCR.

(9)

2.3.5 Kualitas Air

Pengukuran kualitas air dalam penelitian ini meliputi pengukuran suhu harian yang diamati pada pagi dan sore hari, dan pengukuran pH, DO (dissolve oxygen), dan NH3-N yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Pergantian air sebanyak 50% dilakukan satu kali per dua hari dan penyifonan dilakukan setiap hari, agar kualitas air tetap terjaga.

2. 5 Analisis Data

(10)

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Kelangsungan Hidup Relatif (Relative Percent Survival /RPS)

Pengamatan terhadap kelangsungan hidup ikan mas dilakukan pada saat vaksinasi dan pengamatan terhadap kelangsungan hidup relatif dilakukan pascauji-tantang hingga akhir penelitian. Selama vaksinasi, tidak terjadi kematian pada ikan sehingga nilai kelangsungan hidupnya 100% pada semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin yang diberikan melalui pakan pada ikan tidak mengganggu kesehatan ikan dan terjamin tingkat keamanannya (Ellis, 1988).

Respons tanggap kebal ikan yang telah divaksin dilakukan dengan menginjeksi filtrat KHV sebanyak 0,1 mL/ekor ikan secara intramuskular, sedangkan kontrol negatif diinjeksi dengan 0,1 mL/ekor ikan dengan larutan PBS.

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai kelangsungan hidup relatif yang bervariasi pada setiap perlakuan (data selengkapnya pada Lampiran 8 ). Kelangsungan hidup relatif terendah dimiliki oleh perlakuan A sebesar 23,33±13,32% dan kelangsungan hidup relatif tertinggi dimiliki oleh perlakuan C sebesar 84,60±13,32% (P<0,05).

Tabel 1. Kelangsungan hidup relatif (RPS) ikan mas yang diberi vaksin DNA anti-KHV dengan frekuensi pemberian pakan berbeda

No Perlakuan Mortalitas(%) RPS (%)

1 A 33,33 ± 5,77 23,07 ± 13,32a

2 B 20,00 ± 10,00 53,84 ± 23,07ab

3 C 6,67 ± 5,77 84,60 ± 13,32b

4 K 43,33 ± 5,77 -

Huruf superskrip di belakang nilai standar deviasi yang berbeda pada setiap baris menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05)

Keterangan :

(11)

Keteranga A : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV B : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV C : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV K- : tanpa vaksinasi dan injeksi dengan PBS (K-), dan

K+ : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 1. Pola kematian ikan mas selama uji tantang (30 hari) dengan KHV.

Gambar 1 menunjukkan pola kelangsungan hidup ikan mas selama uji tantang, dari hari pertama pascauji-tantang hingga hari ke-30. Kematian ikan mas diawali oleh perlakuan A pada hari ke-5 diikuti oleh kontrol positif, perlakuan B serta C pada hari ke-18. Puncak kematian terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang dengan jumlah 4 ekor dari perlakuan A, 4 ekor dari perlakuan B, 1 ekor dari perlakuan C, dan 7 ekor dari perlakuan kontrol positif sehingga total kematiannya sebesar 16 ekor ikan (Lampiran 8). Pada perlakuan kontrol negatif tidak terjadi kematian hingga akhir penelitian sehingga kelangsungan hidupnya 100%.

3.1.2 Gejala Klinis

(12)

normal pada tubuhnya. Gejala klinis yang pertama kali muncul adalah terjadinya penurunan nafsu makan pada ikan. Penurunan nafsu makan dilihat dari jumlah konsumsi pakan ikan pascauji-tantang (Lampiran 9). Jumlah konsumsi pakan ikan cenderung menurun dari hari pertama hingga hari ke-21 pascauji-tantang. Ikan yang pertama kali mengalami penurunan nafsu makan adalah ikan pada perlakuan B, kemudian kontrol positif, perlakuan A, dan perlakuan C. Penurunan jumlah konsumsi pakan terbesar terjadi pada perlakuan kontrol positif sebesar 45,91% Hal ini terjadi hingga hari ke-21 dan terjadi peningkatan nafsu makan kembali pada hari ke-22 hingga akhir penelitian.

Perubahan tingkah laku ikan muncul pada ikan yang sakit, yaitu berenang di permukaan, kadang bergerombol di sekitar aerasi dan diam di dasar akuarium. Perubahan tingkah laku ikan mulai muncul pada hari ke-6 pascauji-tantang. Ikan yang pertama mengalami perubahan tingkah laku adalah ikan pada perlakuan A dan B, kemudian disusul dengan perlakuan kontrol positif dan perlakuan C. Ikan yang sakit juga memiliki gerak reflek yang lambat dan respons gerak yang lemah. Pada hari ke-18, gerakan ikan sudah mencapai puncak kondisi terlemah yang kemudian terjadi kematian. Ikan yang berhasil melewati kondisi tersebut mampu bergerak dengan normal kembali setelah hari ke-21. Ikan yang sehat memiliki kondisi fisik yang normal baik sisik, sirip, maupun insangnya. Insang normal

berwarna merah cerah. Ikan yang terinfeksi KHV memiliki kondisi fisik yang tidak normal, yaitu terjadi perubahan warna kulit, kerusakan pada sirip ekor, dan nekrosis pada insang. Perbedaan ikan sakit dan ikan sehat disajikan dalam Gambar 2.

(13)

Gambar 2. Kondisi fisik ikan mas pascauji-tantang dengan filtrat KHV. Badan dan insang ikan sehat (a), badan dan insang ikan terinfek KHV (b).

Perubahan fisik ikan mulai terlihat pada hari ke-5 pascauji-tantang, yaitu nekrosis insang pada perlakuan B kemudian disusul oleh perlakuan A dan kontrol positif pada hari ke-8. Pada hari ke-10, nekrosis mencapai 80% bagian insang untuk perlakuan B namun sekitar 30% pada perlakuan yang lain. Bercak pada punggung dan kerusakan sirip ekor terjadi pada hari ke-12 disertai dengan kulit melepuh pada beberapa ekor ikan di akuarium perlakuan kontrol positif. Jumlah ikan yang mengalami kerusakan fisik semakin bertambah hingga mengalami puncak terparah pada hari ke-18 pascauji-tantang, ini terjadi pada perlakuan A, B, C, dan kontrol positif. Pada perlakuan B dan C telah mengalami penyembuhan

luka pada hari ke-21 pascauji-tantang. Pada hari yang sama, masih ditemukan ikan yang mengalami luka dengan jumlah yang cukup banyak pada perlakuan A dan kontrol positif.

a b

b

b a

(14)

 

Gambar 3. Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV; a) sisik terlepas, b) bercak merah, c) terjadi perubahan warna kulit, d) berenang di permukaan, e) kulit melepuh, f) sirip ekor geripis, g) mata cekung, h) kerusakan insang.

 

3.1.3. Indeks Fagositosis

Pengamatan indeks fagositosis dilakukan setiap seminggu sekali dari

mulai vaksinasi hingga minggu ketiga pascauji-tantang. Hasil pengamatan indeks fagositosis ditunjukkan pada Lampiran 10 dan Gambar 4.

(15)

Keterangan A : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV B : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV C : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV K- : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS, dan

K+ : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 4. Indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan pada saat pasca vaksinasi dan diuji tantang.

Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada perlakuan A, B, C, K-, dan K+. Pada pasca vaksinasi, nilai indeks fagositosis mengalami peningkatan pada masing-masing perlakuan hingga hari ke-21 pasca vaksinasi dan mengalami penurunan pada hari ke-28 sebelum uji tantang.

Kenaikan aktivitas fagositosis terjadi pada hampir seluruh perlakuan hingga hari ke-56 kecuali pada perlakuan B dan C yang mengalami penurunan sebesar 15% pada perlakuan B dan 12% pada C.

3.1.4 Histopatologi

(16)

KeteranganA : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS (K-)

B : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (A) C : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (B) D : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (C), dan E : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 5. Histopatologi ginjal ikan; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada semua Gambar=20 µm).

E Z

Y Y Z

C Y

Z

D Z

Y

(17)

Keterangan A : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS (K-)

B : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (A) C : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (B) D : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (C), dan E : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 6. Histopatologi insang ikan; X) hiperplasia; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada semua gambar =20 µm).

3.1.5 Kualitas Air

Parameter kualitas air yang paling berbengaruh dan merupakan faktor pemicu terhadap serangan KHV adalah suhu sehingga pengamatan terhadap parameter ini dilakukan setiap dua kali sehari, yaitu setiap pagi dan sore hari.

A B

X

Y Z

C

X

Y

D Z

Y

X

E X

Z

(18)

Parameter kualitas air lainnya yang diamati adalah pH, DO, dan NH3-N. Pengamatan terhadap parameter kualitas air tersebut dilakukan pada awal dan akhir penelitian saja. Data kisaran kualitas air disajikan dalam Tabel 2, sedangkan data pengamatan suhu harian disajikan dalam Lampiran 11.

Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air pemeliharaan ikan mas

Parameter kualitas air Suhu (°C) pH DO(mg/L)

NH3 -N(mg/L)

Kisaran 17-23,5 7,9-8,3 6,6-7,2 0,04-0,06

3.2 Pembahasan

Sakit pada ikan adalah suatu kondisi dimana ikan dalam keadaan tidak normal yang ditandai dengan penurunan nafsu makan, kelainan pada respons tubuh baik gerak, mata, ekor maupun pertahanan hingga menyebabkan kelainan pada kondisi fisik ikan. Berdasarkan pengamatan ikan yang sakit karena infeksi KHV menunjukkan gejala penurunan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus dan kekurangan energi. Ikan yang kekurangan energi akan mudah terinfeksi patogen lain atau infeksi sekunder seperti bakteri, fungi dan parasit (Mudjiutami

et al., 2006). Kondisi ini yang kemudian akan menyebabkan abnormalitas pada tubuh ikan.

Pengamatan terhadap kelangsungan hidup ikan dilakukan pada masa vaksinasi (7 hari), pasca vaksinasi (28 hari), dan pascauji-tantang (30 hari). Pasca vaksinasi dilakukan pemeliharaan selama 28 hari agar sistem imun ikan dapat terbentuk secara sempurna. Sistem imun yang sempurna menyebabkan ikan dapat memberikan respons tanggap kebal terhadap infeksi KHV. Pada penelitian ini,

vaksin diberikan secara oral yang dicampurkan ke dalam pakan ikan. Keuntungan pemberian vaksin secara oral adalah dapat digunakan secara massal, digunakan untuk berbagai ukuran ikan, dan tidak menimbulkan cekaman (Ellis, 1988). Hasil pengamatan selama 28 hari menunjukkan tidak terjadi gejala infeksi KHV dan tidak ditemukan adanya kematian pada msing-masing perlakuan sehingga pemberian vaksin melalui pakan ini dapat dikatakan aman bagi ikan.

(19)

diberikan. Pemberian vaksin satu kali dalam satu minggu untuk Perlakuan A, pemberian vaksin dua kali dalam satu minggu untuk perlakuan B, pemberian vaksin tiga kali dalam satu minggu untuk perlakuan C, dan kontrol tanpa pemberian vaksin.

Respons tanggap kebal ikan yang telah divaksin dilakukan dengan menginjeksi filtrat KHV dengan konsentrasi 10-2 sebanyak 0,1 mL tiap ekor ikan pada hari ke-29 pasca vaksinasi. Kematian ikan diawali oleh perlakuan A pada hari ke-5 dan diikuti oleh perlakuan B, C, dan kontrol positif pada hari ke-18 pascauji-tantang (Gambar 1). Kematian terbanyak terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang. Ini lebih lambat dari penelitian Hayati (2009) dan Zahro (2010) yang melaporkan bahwa kematian massal ikan yang terinfeksi KHV terjadi pada hari ke-9 dan ke-10 pascauji-tantang. Hal ini diduga karena sebelum hari ke-17 terjadi penurunan suhu air pada beberapa akuarium yang terletak tepat di bawah AC (air conditioner), yaitu mencapai 16,5°C sehingga dapat mengurangi tingkat virulensi virus terhadap inang (Lampiran 13). Pada hari ke-17 suhu ruangan dinaikkan menjadi 20°C. Pokorova et al. (2005) dalam ulasannya menguatkan bahwa KHV inaktif pada suhu di bawah 18°C dan di atas 24°C.

Kelangsungan hidup relatif ikan pada perlakuan A dengan frekuensi pemberian satu kali dalam satu minggu memiliki nilai yang sangat kecil sebesar

23,33%. Kelangsungan hidup relatif perlakuan A lebih rendah daripada B dan C diduga karena keberadaan vaksin pada pakan perlakuan yang diberikan tidak dapat membangkitkan respons imun pada ikan sehingga ikan tidak dapat melawan virus yang telah menginfeksinya. Yulianti (2011) menguatkan bahwa pemberian pakan bervaksin 2 kali dalam satu minggu menunjukkan persistensi yang lebih tinggi daripada pemberian pakan bervaksin satu kali dalam satu minggu sehingga pemberian pakan bervaksin dua kali satu dalam minggu dapat menginduksi respons imun ikan mas.

(20)

terhadap serangan antigen yang sama. Vaksinasi melalui pakan mampu diterima dan menunjukkan hasil yang baik. Hasil penelitian Miyazaki et al. (2008) tentang pemberian vaksin liposom melalui pakan buatan juga mampu meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas hingga 74% yang dipelihara selama 21 hari. Dengan demikian vaksinasi melalui pakan dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu efektif dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas dan dapat menjadi alternatif pengendalian infeksi pada ikan mas dan koi pada pembudidaya dalam skala massal.

Data yang mendukung kelangsungan hidup relatif ikan adalah gejala klinis yang timbul pascauji-tantang, indeks fagositosis, dan histopatologi pada insang dan ginjal ikan (Gambar 2, 3, 5, dan 6). Data tersebut berkaitan erat dengan nilai kelangsungan hidup relatif yang didapat selama penelitian (Tabel 1).

Perubahan fisik yang terjadi pada ikan yang terinfeksi KHV adalah pada bagian punggung terjadi bercak merah yang kemudian melepuh, beberapa sisik di sekitar anal terkelupas, pendarahan pada sirip pektoral, ventral dan anal, kerusakan pada sirip ekor, terjadi perubahan warna kulit menjadi kehitaman bergaris, dan kerusakan pada lamela insang. Perlakuan C menghasilkan ikan yang mengalami perubahan fisik dengan jumlah yang paling sedikit dibandingkan perlakuan A, B, dan kontrol positif. Beberapa penelitian terhadap ikan yang

diinfeksi KHV pun menunujukkan gejala klinis dan perubahan fisik yang sama. Hendrik et al. (2005) menyebutkan bahwa tanda-tanda ikan koi yang terinfeksi KHV adalah terjadi perubahan warna tubuh, nekrosis pada filamen insang, mata cekung, dan produksi lendir yang berlebih. Demikian juga disebutkan oleh Sunarto et al. (2005), ikan mas yang terinfeksi KHV menunjukkan gejala respons ikan yang lemah, lesu, kehilangan keseimbangan dan megap-megap, kulit melepuh, terjadi pendarahan pada operkulum, sirip, ekor dan perut, serta terjadi kerusakan pada filamen insang.

(21)

terutama suhu air (Tabel 2). Pada penelitian ini suhu air akuarium berkisar 17-23,5 °C. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Antychowicz et al. (2005) bahwa gejala-gejala serangan KHV di Polandia sering terjadi pada suhu berkisar 17-24 °C, namun tidak menunjukkan adanya kematian pada suhu 17 °C. Puncak gejala klinis terparah terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang. Nekrosis insang dan luka-luka pada kulit punggung ikan pada saat ini mengalami puncak terparah yang menuju pada banyaknya kematian ikan.

Indeks fagositosis merupakan ingesti bahan partikel terutama bakteri atau virus ke dalam sitoplasma sel darah. Pola peningkatan persentase indeks fagositosis menunjukkan adanya peningkatan total leukosit termasuk monosit yang dapat merangsang produksi limfosit (Amrullah, 2004).Pengamatan terhadap nilai indeks fagositosis dilakukan setiap seminggu sekali baik pada masa vaksinasi maupun pascauji-tantang. Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui kecenderungan aktivitas fagositosis pada saat pasca vaksinasi dan pascauji-tantang. Pada pasca vaksinasi nilai indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan hampir sama, mengalami peningkatan pada hari 21 dan mengalami penurunan pada hari ke-28. Indeks fagositosis perlakuan A dan kontrol positif memiliki kecenderungan peningkatan yang sama pascauji-tantang, yaitu terus mengalami kenaikan hingga hari ke-56. Hal ini sejalan dengan kelangsungan hidupnya yang masih mengalami

penurunan hingga memasuki minggu ke-3 pascauji-tantang (Gambar1). Berbeda dengan hal tersebut, perlakuan B dan perlakuan C mengalami penurunan pada hari ke-56 pascauji-tantang. Indeks fagositosis perlakuan B dan C berbanding terbalik dengan kelangsungan hidupnya yang cenderung mulai stabil pada minggu ke-3 hingga akhir penelitian (Gambar 1). Hal ini diduga karena adanya reaksi antibodi yang timbul akibat pemberian vaksin. Nuryati (2010) melaporkan hal yang sama, bahwa vaksinasi mampu membangkitkan kekebalan seluler maupun humoral, yaitu antibodi.

(22)

pada hari ke-56 mengalami penurunan, hal ini diduga karena adanya penyembuhan luka dan sudah tidak terjadi perluasan infeksi. Sebaliknya pada perlakuan A dan kontrol positif, pada hari ke-56 masih mengalami kenaikan aktifitas fagositosis. Hal ini berkorelasi dengan abnormalitas ikan yang masih terjadi hingga waktu tersebut. Berdasarkan pengamatan hingga hari ke-56, pada perlakuan A dan kontrol positif masih ditemukan ikan yang mengalami luka pada kulit punggung hingga akhirnya melepuh. Di samping itu ditemukan juga ikan yang mengalami pendarahan pada sirip anal dan pektoralnya.

Mekanisme fagositosis dibagi menjadi dua tahap, yaitu attactment phase, waktu terjadi peristiwa penempelan partikel oleh membran sel fagosit, dan

ingestion phase termasuk di sini destruksi dan intracelluler killing (Gambar 7) (Bellanti, 1978 dalam Ekandaru & Tjokronegoro, 1983). Secara terperinci fase-fase dalam mekanisme fagositosis adalah kemotaksis sel fagosit menuju daerah yang mengalami infeksi atau kerusakan, proses opsonisasi melalui aktivasi sistem komplemen, penempelan organisme di sel fagosit pada C3b pada Fc-reseptor

(Gambar 8), proses mengunyah dan vakuolisasi, perubahan metabolisme interseluler, degranulasi lisosom, dan proses mencerna serta intracellular killing.

(23)

Gambar 8. Skema Fc dan C3b-reseptor pada permukaan sel fagosit (Bellanti, 1978 dalam Ekandaru & Tjokronegoro, 1983).

Gambar 5 dan Gambar 6 menunjukkan histopalogi ginjal dan insang dari perlakuan A, B, C, kontrol positif dan kontrol negatif. Insang pada kontrol negatif tidak menunjukkan gejala infeksi KHV atau ginjal dan insang tersebut dalam kondisi normal. Namun pada perlauan A, B, C, dan kontrol positif ditemukan abnormalitas pada filamen insang seperti hiperplasia, hipertropi, dan ditemukannya badan inklusi yang mengindikasikan infeksi virus. Demikian juga dengan hipertropi dan badan inklusi yang ditemukan pada organ ginjal. Santika (2007) dan Giri (2008) menemukan hal yang sama pada preparat histologinya, ikan yang terinfeksi KHV ditemukan insang yang hipertropi, hiperplasia dan adanya badan inklusi di antara lamella insang. Menurut Sunarto et al. (2005) pembentukan badan inklusi merupakan kondisi hipertopi pada inti yang disebabkan oleh penumpukan virion-virion dalam inti sel.

(24)

perlakuan lainnya hal ini berbanding lurus dengan nilai RPS yang dihasilkan oleh perlakuan C, namun lebih tinggi dari perlakuan A, B, dan kontrol positif.

Parameter kualitas air yang diamati pada penelitian ini adalah suhu, pH, DO, dan NH3-N (Tabel 2 dan Lampiran 11). Berdasarkan parameter tersebut, yang paling berpengaruh terhadap serangan infeksi KHV adalah suhu sehingga pengamatannya dilakukan setiap hari. Nilai parameter kualitas air pada penelitian ini masih dalam kisaran yang masih dapat ditolerir oleh ikan (SNI, 1999) dan suhu air mampu meningkatkan virulensi KHV, yaitu oksigen terlarut, pH, NH3-N, dan suhu berturut-turut adalah 7,9-8,3 mg/L, 6,6-7,2, 0,04-0,06 mg/L, dan 17-23,5°C.

Usaha budidaya ikan tidak terlepas dari aspek eknomi yang harus benar-benar diperhitungkan untuk menghindari kerugian. Demikian juga dengan biaya pengadaan vaksin jika akan diterapkan pada pembudidaya. Berdasarkan perhitungan biaya perbanyakan vaksin (Lampiran14), untuk satu kali vaksinasi membutuhkan biaya pengadaan vaksin sebesar Rp.68,2/mL/ekor ikan, sehingga untuk dua kali vaksinasi membutuhkan 2 kali Rp. 68,2 atau sama dengan Rp. 136,6/ekor ikan dan untuk 3 kali vaksinasi membutuhkan biaya Rp. 204,6/ekor ikan. Penggunaan vaksin efektif dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan sehingga akan berbanding lurus dengan keuntungan yang didapat. Berdasarkan analisis usaha yang terlampir pada Lampiran 14, perlakuan C dengan

(25)

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Pemberian pakan bervaksin dengan frekuensi tiga kali dalam satu minggu efektif meningkatkan kelangsungan hidup relatif ikan mas yang diinfeksi KHV sebesar 84,6%. Vaksinasi melalui pakan dapat menjadi alternatif pengendalian infeksi KHV pada ikan mas dan koi.

4.2 Saran

(26)

EFEKTIVITAS FREKUENSI PEMBERIAN VAKSIN DNA MELALUI PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP RELATIF IKAN MAS

YANG DIINFEKSI KOI HERPESVIRUS

SITI KHODIJAH

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

(27)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyampaikan bahwa skripsi yang berjudul :

EFEKTIVITAS FREKUENSI PEMBERIAN VAKSIN DNA MELALUI PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP RELATIF IKAN MAS YANG DIINFEKSI KOI HERPESVIRUS

Adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Maret 2012

(28)

ABSTRAK

SITI KHODIJAH. Efektivitas frekuensi pemberian vaksin DNA melalui pakan terhadap kelangsungan hidup relatif ikan mas yang diinfeksi koi herpesvirus. Dibimbing oleh Dr. Sri Nuryati dan Dr. Alimuddin.

Budidaya ikan mas saat ini terkendala oleh serangan penyakit koi herpesvirus (KHV). Penyakit KHV bersifat sangat ganas, cepat menular, dan dapat mematikan ikan mas dan ikan koi lebih dari 80% populasi. Oleh karena itu dibutuhkan metode pencegahan yang bersifat aman dan dapat diterapkan secara masal. Pada penelitian ini dilakukan vaksinasi DNA anti-KHV sebanyak 1 mL/ekor ikan melalui pakan buatan untuk menentukan frekuensi pemberian vaksin yang menghasilkan kelangsungan hidup tinggi pada ikan yang diinfeksi KHV. Terdapat lima perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu perlakuan A: vaksinasi satu kali seminggu, perlakuan B: vaksinasi dua kali seminggu, perlakuan C: vaksinasi tiga kali seminggu, kontrol positif: ikan tidak divaksin, dan diuji tantang KHV, dan kontrol negatif: ikan tidak divaksin dan diinjeksi dengan larutan bufer fosfat salin. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari secara satiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi tiga kali seminggu memberikan kelangsungan hidup relatif (84,6%) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan menghasilkan aktivitas fagositosis terbaik. Dengan demikian, vaksinasi melalui pakan efektif meningkatkan kelangsungan hidup ikan, dan metode ini dapat menjadi alternatif dalam mengendalikan infeksi KHV pada budidaya ikan mas dan ikan koi.

Kata kunci : ikan mas, vaksin, pakan buatan, koi herpesvirus, kelangsungan hidup relatif

ABSTRACT

SITI KHODIJAH. The effectiveness of DNA vaccine through frequencies to enhance the relative survival of common carp infected by koi herpesvirus Supervised by Dr. Sri nuryati and Dr. Alimuddin.

(29)

the highest relative percent survival (84.6%) and showed the best phagocytic activity compared with other treatments. Hence, vaccination via the feed can effectively increase the survival of fish, and this can be as an alternative method to control KHV infection in carp and koi culture.

(30)

EFEKTIVITAS FREKUENSI PEMBERIAN VAKSIN DNA

MELALUI PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP

RELATIF IKAN MAS YANG DIINFEKSI KOI HERPESVIRUS

SITI KHODIJAH

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

pada Program Studi Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya

Departemen Budidaya Perairan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(31)

SKRIPSI

Judul Skripsi : Efektivitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui Pakan terhadap Kelangsungan Hidup Relatif Ikan Mas yang Diinfeksi Koi Herpesvirus

Nama Mahasiswa : Siti Khodijah Nomor Pokok : C14070089

Program Studi : Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya Departemen : Budidaya Perairan

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Sri Nuryati, S.Pi, M.Si Dr. Alimuddin,S.Pi, M.Sc

NIP : 197106061995122001 NIP:197001031995121001

Diketahui,

Ketua Departemen Budidaya Perairan

Dr. Ir. Odang Carman, M.Sc NIP : 19591222 198601 1 001

(32)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan pertolongan, kekuatan dan kesabaran untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul ” Efektivitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui Pakan terhadap Kelangsungan Hidup Relatif Ikan Mas yang Diinfeksi Koi Herpesvirus”

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini, di antaranya :

1. Bapak Karmibo dan Ibu Khasanah selaku orang tua tercinta, suami tersayang Rizki Abdillah S.Pi, adik, kakak, kakak dan adik ipar, serta keponakan semuanya atas kasih sayang, semangat, doa, pengorbanan yang telah diberikan,

2. Ibu Dr. Sri Nuryati sebagai Pembimbing I dan Bapak Dr. Alimuddin sebagai Pembimbing II, terima kasih atas bimbingannya selama menjalani penelitian, 3. Ibu Dr. Mia Setiawati selaku Dosen Penguji sekaligus Pembimbing

Akademik, atas saran dan masukannya,

4. Bapak Imron S.Pi, M.Si, PhD, bapak Didik Ariyanto S.Pi, Erma Hayuningtyas S.Pi, Narita Syawalia S.Pi, Nikmatullah, Diah Artati dan semua pihak di Loka Riset Pengembangan dan Teknologi Budidaya Air Tawar-Sukamandi, terima kasih atas bantuannya selama penelitian,

5. Keluarga Besar Dompet Duafa Republika, Keluarga Besar Beastudi Etos Bogor, Keluarga Besar Yayasan Karya Salemba Empat atas kekeluargaan dan dukungan moril yang selama ini telah diberikan,

6. Keluarga Besar Soka 15, Ibu Dr. Titik Sumarti Ir.MS dan Bapak Ir. Budi Mulyo Utomo M. Si, terima kasih atas bantuan yang diberikan, Bu Nah, sahabat ku Nini Sriani, Desi Agustiani, Sumi Arrofi S.Gz, dan Siska Oktavera, atas waktu yang telah diberikan untuk persahabatan kita,

(33)

Rahma Vida A, Muntamah, Ikbal Hadi, Ririn Nurul F, Trian Rizki, dan teman-teman di MST serta LKI atas bantuannya selama penelitian, Keluarga Besar BDP dari angkatan 43-46 khususnya keluarga besar Combat, dosen dan staf di BDP, semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Akhir kata, semoga karya ini dapat bermanfaat dan mendapat ridho dari Allah SWT.

Bogor, Maret 2012

(34)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cirebon pada tanggal 16 Juni 1987 dari pasangan bapak Karmibo dan Ibu Kasanah. Penulis merupakan anak ke-5 dari sembilan bersaudara. Pendidikan formal yang pernah dilalui oleh penulis adalah SDN I Trusmi Kulon, SMPN 5 Kota Cirebon, SMAN 2 Kota Cirebon dan lulus pada tahun 2007. Pada tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNPTN).

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam beberapa kegiatan mahasiswa seperti Ikatan Kekeluargaan Cirebon (IKC) sebagai ketua Divisi Kewirausahaan (2009) dan ketua Divisi Kekeluargaan (2010), Forum Kelurga Muslim – C Staf Syiar pada tahun 2008. Penulis juga pernah menjadi asisten mata kuliah Dasar-dasar akuakultur (2009/2010 dan 2010/2011), asisten mata kuliah Manajemen Kesehatan Akuatik (2010/2011), dan koordinator asisten mata kuliah Penyakit Organisme Akuakultur (2011/2012). Beasiswa yang pernah penulis peroleh adalah beastudi etos dari Lembaga Dompet Duafa Republika (2007-2009), Beasiswa dari Yayasan Karya Salemba Empat (2010/2011), beasiswa

kripsi khusus alumni Beastudi etos dari Lembaga Dompet Duafa Republika (2012). Prestasi yang pernah diperoleh oleh penulis adalah nominasi tiga besar penulisan essay tentang Lingkungan Hidup tingkat nasional, Temu Etos Nasional (2008) dan mendapat hibah dari DIKTI dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa kategori Gagasan Tertulis (PKM-GT) dengan judul “ Penerapan Apartemen Apung dalam Upaya Mengatasi Kepadatan Penduduk di DKI Jakarta” tahun 2011.

Penulis juga pernah magang di PT. Pinang Gading Shrimp Farm selama satu minggu dan praktik kerja lapang (PKL) selama satu bulan di Loka Riret Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perairan Air Tawar (LRPTBPAT) Subang, Jawa Barat. Tugas akhir di Institut Pertanian Bogor diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul “ Efektifitas Frekuensi Pemberian Vaksin DNA melalui

(35)
(36)

DAFTAR TABEL

No. Teks Halaman

(37)

DAFTAR GAMBAR

No. Teks Halaman

1. Pola kematian ikan mas selama uji tantang (30 hari) dengan KHV.. ... 9 2. Kondisi ikan mas Cyprinus carpio yang sehat dan yang sakit pascauji-

tantang ... 11 3. Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV; a) sisik terlepas, b) bercak

merah, c) terjadi perubahan warna kulit, d) berenang di permukaan, e) kulit melepuh, f) sirip ekor geripis, g) mata cekung, h) kerusakan insang.. ... 12 4. Indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan pada saat pasca

vaksinasi dan diuji tantang ... 13 5. Histopatologi ginjal ikan (Bar pada semua gambar=20 µm). ... 14 6. Histopatologi insang ikan (Bar pada semua gambar =20 µm). ... 15 7. Mekanisme fagositosis memperlihatkan proses ingesti dan mencerna

(Bellanti, 1978 dalam Ekandaru & Tjokronegoro, 1983) ... 20 8. Fc dan C3b-reseptor pada permukaan sel fagosit (Bellanti, 1978 dalam

(38)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Teks Halaman

1. Daftar alat dan bahan yang digunakan selama penelitian ... 26 2. Prosedur kultur bakteri pembawa vaksin ... 27 3. Prosedur pemanenan bakteri pembawa vaksin dan pencampuran ke

dalam pakan ... 27 4. Prosedur preparasi filtrat KHV ... 28 5. Skema dan time line penelitian ... 29 6. Prosedur pembuatan preparat ulasan indeks fagositosis ... 30 7. Prosedur histopatologi... 30 8. Kelangsungan hidup harian ikan mas pascauji-tantang filtrat KHV ... 31 9. Grafik jumlah konsumsi pakan ikan mas selama penelitian ... 32

(39)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha budidaya ikan mas saat ini terkendala oleh serangan penyakit viral, yaitu koi herpesvirus (KHV) yang dapat menyebabkan kematian masal pada ikan sehingga dapat menyebabkan gagal panen atau panen dini. Infeksi KHV terjadi pada saat musim hujan atau pada suhu dingin berkisar 17-24 oC. Karakter penyakit ini adalah sangat menular, menyerang semua stadia ikan mas, dan bersifat ganas sehingga dapat menyebabkan kematian massal hingga 80-100%. Menurut Hendrik et al. (2005), infeksi KHV ditandai dengan adanya bercak merah atau kerusakan pada insang serta kematian masal pada ikan yang terserang penyakit tersebut. Selain itu biasanya diikuti oleh infeksi sekunder berupa luka

atau bercak putih di permukaan tubuh yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan/atau Flexibacter columnaris (Mudjiutami et al., 2006). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit tersebut, di antaranya adalah vaksinasi dengan menggunakan vaksin DNA.

Vaksin DNA merupakan salah satu metode pencegahan penyakit melalui vaksinasi dengan prinsip kerja meningkatkan sistem kekebalan spesifik pada inang. Vaksin DNA diperkirakan menjadi vaksin pada masa yang akan datang karena memiliki beberapa keunggulan, yaitu mudah dikembangkan dan diproduksi, tidak menimbulkan infeksi, bersifat stabil sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan mampu mengaktivasi sistem kekebalan tubuh baik humoral maupun seluler (Lorenzen & Lapatra, 2005). Vaksin DNA cukup efektif mencegah penyakit viral haemorrhagic septicaemia virus (VHSV) pada ikan salmon (Lorenzen & Lapatra, 2005) dan KHV pada ikan mas (Nuryati, 2010) sehingga dapat menghasilkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.

(40)

melalui pakan buatan yang merujuk pada penelitian Yulianti (2011) diharapkan dapat menjadi salah satu pencegahan alternatif sehingga dapat menutupi kekurangan vaksin DNA tersebut. Frekuensi pemberian pakan mengandung vaksin yang optimum belum diketahui. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian efektivitas pemberian vaksin DNA melalui pakan dengan frekuensi berbeda dalam meningkatkan kelangsungan hidup relatif ikan mas yang terinfeksi KHV.

1.2 Tujuan

(41)

BAB II. BAHAN DAN METODE

2.1 Kultur Bakteri Pembawa Vaksin

Bakteri Escherichia coli pembawa vaksin DNA (Nuryati, 2010) dikultur dengan cara menginokulasi satu koloni bakteri media LB tripton dengan penambahan antibiotik ampisilin (konsentasi 100 µL/mL) sebanyak 1 µL/mL media. Metode kultur yang digunakan adalah metode gores kuadran untuk mendapatkan koloni tunggal. Biakan diinkubasi pada suhu 37oC selama 16 jam, kemudian digunakan untuk kultur cair dan sisanya disimpan pada suhu 4oC hingga akan digunakan kembali. Untuk perbanyakan plasmid, bakteri dikultur di media cair menggunakan thermo shaker dengan kecepatan 240 rpm selama 16 jam (Lampiran 2).

Bakteri dipanen dengan merujuk pada metode Yulianti (2011). Sebanyak 40 mL bakteri dituangkan secara parsial ke dalam masing-masing mikrotube

bervolume 1,5 mL, lalu disentrifugasi pada kecepatan 12.000 rpm dan suhu 4oC selama 30 detik. Pelet bakteri yang terbentuk dicuci dengan 1 mL phosphate buffered saline (PBS) sebanyak tiga kali. Setelah dicuci PBS, bakteri diinaktivasi dengan perlakuan panas pada suhu 80oC selama 5 menit, selanjutnya disentrifugasi, dan supertanan dibuang. Bakteri diresuspensi kembali dengan PBS sebanyak 1 mL (Lampiran 3).

2.2 Vaksinasi dan Uji Tantang

Dosis vaksin yang digunakan adalah 7,6 ng dengan kepadatan bakteri 108 cfu/mL (Yulianti, 2011). Bakteri yang mengandung vaksin DNA dicampurkan terlebih dahulu dengan kuning telur sebanyak 1-2% volume bakteri sebelum dicampurkan ke pakan dengan jumlah pakan sebanyak 5% dari biomasa ikan. Kuning telur berfungsi sebagai pengikat (binder). Kemudian pakan didiamkan pada suhu ruang sampai kering. Pencampuran pakan buatan dengan bakteri pembawa vaksin DNA dilakukan sesaat sebelum pemberian pakan perlakuan (Yulianti, 2011).

(42)

menggunakan metode PCR (polymerase chain reaction) (Zahro, 2010). Selain itu, ikan uji yang digunakan merupakan ikan sehat, tidak terserang bakteri dan penyakit. Untuk menguji ikan tidak terserang penyakit adalah dengan mengamati kondisi tubuh ikan, apakah ada kelainan atau jamur tertentu dan dilakukan juga adaptasi ikan pada suhu rendah (18 °C) selama dua minggu (seleksi suhu), setelah itu diamati apakah ada gejala klinis atau tanda-tanda ikan terserang penyakit atau ikan masih dalam kondisi normal. Ikan mas yang digunakan adalah ikan mas yang memiliki bobot 10,22±1,88 gram sebanyak 200 ekor. Ikan tersebut dipelihara di dalam 20 akuarium yang berukuran 45x40x35 cm3. Sebelum akuarium digunakan, dilakukan persiapan dengan cara dicuci menggunakan deterjen, kemudian dibilas dengan air dan setelah itu dikeringkan. Selanjutnya akuarium disemprot dengan menggunakan alkohol 70% dan dibiarkan kering di udara. Akuarium diisi air dengan ketinggian 30 cm.

Ikan ditebar dalam 20 akuarium masing-masing 10 ekor/akuarium. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi pakan komersial dengan frekuensi 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore secara satiasi. Sebelum divaksin, ikan dipuasakan selama satu hari. Masa vaksinasi hanya dilakukan selama satu minggu, setelah itu dilakukan pemeliharaan selama 28 hari. Penelitian ini menggunakan lima kelompok perlakuan dengan masing-masing tiga kali ulangan dan satu ulangan dibuat

khusus untuk analisis indeks fagositosis.

Adapun rancangan perlakuan pada penelitian ini adalah setelah ikan diadaptasikan selama satu minggu, kemudian diberi perlakuan sebagai berikut: Perlakuan A :ikan diberi pakan mengandung vaksin dengan frekuensi

pemberian satu kali dalam seminggu dan diuji tantang dengan filtrat KHV

Perlakuan B :ikan diberi pakan mengandung vaksin dengan frekuensi pemberian dua kali dalam seminggu dan diuji tantang dengan filtrat KHV

(43)

Kontrol positif :ikan tanpa diberi pakan mengandung vaksin dan diuji tantang dengan filtrat KHV, dan

Kontrol negatif :ikan tanpa diberi pakan mengandung vaksin dan diinjeksi dengan PBS.

Setelah pemeliharaan 28 hari perlakuan A, B, C, dan kontrol positif diuji tantang dengan menyuntikkan filtrat KHV sebanyak 0,1 mL/ekor dengan konsentrasi 10-2 secara intramuskular. Masa uji tantang untuk melihat gejala klinis dan kelangsungan hidup ikan yang diberi vaksin DNA dilakukan selama 30 hari (Skema dan time line penelitian terlampir pada Lampiran 5).

2.3 Parameter Penelitian

2.3.1 Kelangsungan Hidup relatif (Relative Percent Survival/RPS)

Kematian ikan dicatat sebelum dan sesudah uji tantang untuk menghitung kelangsungan hidup relatif (Relative survival rate/RPS). RPS dihitung dengan menggunakan rumus :

RPS = [1-

Keterangan :

RPS : Relative percent survival (%)

Mn : Mortalitas pada perlakuan N (%) Mk : Mortalitas pada perlakuan kontrol (%)

2.3.2 Gejala Klinis

Pengamatan gejala klinis dilakukan setiap hari pada saat pemberian pakan selama masa vaksinasi dan pascauji-tantang. Pengamatan gejala klinis meliputi respons makan, tingkah laku ikan, dan kelainan kondisi fisik ikan.

2.3.3 Indeks Fagositosis

(44)

bervolume 1,5 mL, ditambahkan dengan 50 µL suspensi Staphylococcus aureus

dalam PBS (108 sel/mL), dihomogenkan dan diinkubasi dalam suhu ruang selama 20 menit. Setelah itu, sebanyak 50 µL dibuat sediaan ulas darah dan dikeringudarakan. Preparat difiksasi dengan metanol 96% selama 5 menit dan dikeringkan. Selanjutnya preparat direndam dalam pewarna Giemsa 70% selama 15 menit dan dicuci dengan air mengalir serta dikeringkan dengan tisu (Lampiran 6). Setelah itu diamati dengan menggunakan mikroskop pada perbesaran 20x. Jumlah sel yang menujukkan proses fagostosis (sel darah putih yang sedang memfagosit Staphylococcus aureus) dihitung dari 100 sel fagosit yang teramati.

2.3.4 Pengamatan Histologis

Pengambilan sampel ikan mas dilakukan pada hari ke-6 pascainfeksi KHV sebanyak 1 ekor setiap perlakuan. Organ yang diambil untuk preparasi histologis adalah insang dan ginjal. Cara preparasi histologis adalah insang ikan mas difiksasi dengan menggunakan larutan Bouin’s selama 24 jam, kemudian diganti dengan alkohol sebagai tahap awal dari histopatologi. Preparasi meliputi fiksasi, dehidrasi, clearing, embedding, blocking, pemotongan serta pewarnaan Hematoksilin-Eosin (Lampiran 7). Preparat histologis diamati dengan mikroskop pada perbesaran 100x dan 200x.

Pengamatan histopatologi bertujuan untuk membuktikan bahwa ikan sakit disebabkan oleh serangan KHV. Hal ini ditinjau dari adanya gejala kelainan histopatologi (terjadinya hiperplasia, hipertropi, dan badan inklusi pada jaringan) ikan yang muncul setelah dilakukan uji tantang. Selain dengan cara tersebut, pembuktian serangan KHV juga dapat diketahui dengan melakukan uji PCR.

(45)

2.3.5 Kualitas Air

Pengukuran kualitas air dalam penelitian ini meliputi pengukuran suhu harian yang diamati pada pagi dan sore hari, dan pengukuran pH, DO (dissolve oxygen), dan NH3-N yang dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Pergantian air sebanyak 50% dilakukan satu kali per dua hari dan penyifonan dilakukan setiap hari, agar kualitas air tetap terjaga.

2. 5 Analisis Data

(46)

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

3.1.1 Kelangsungan Hidup Relatif (Relative Percent Survival /RPS)

Pengamatan terhadap kelangsungan hidup ikan mas dilakukan pada saat vaksinasi dan pengamatan terhadap kelangsungan hidup relatif dilakukan pascauji-tantang hingga akhir penelitian. Selama vaksinasi, tidak terjadi kematian pada ikan sehingga nilai kelangsungan hidupnya 100% pada semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin yang diberikan melalui pakan pada ikan tidak mengganggu kesehatan ikan dan terjamin tingkat keamanannya (Ellis, 1988).

Respons tanggap kebal ikan yang telah divaksin dilakukan dengan menginjeksi filtrat KHV sebanyak 0,1 mL/ekor ikan secara intramuskular, sedangkan kontrol negatif diinjeksi dengan 0,1 mL/ekor ikan dengan larutan PBS.

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai kelangsungan hidup relatif yang bervariasi pada setiap perlakuan (data selengkapnya pada Lampiran 8 ). Kelangsungan hidup relatif terendah dimiliki oleh perlakuan A sebesar 23,33±13,32% dan kelangsungan hidup relatif tertinggi dimiliki oleh perlakuan C sebesar 84,60±13,32% (P<0,05).

Tabel 1. Kelangsungan hidup relatif (RPS) ikan mas yang diberi vaksin DNA anti-KHV dengan frekuensi pemberian pakan berbeda

No Perlakuan Mortalitas(%) RPS (%)

1 A 33,33 ± 5,77 23,07 ± 13,32a

2 B 20,00 ± 10,00 53,84 ± 23,07ab

3 C 6,67 ± 5,77 84,60 ± 13,32b

4 K 43,33 ± 5,77 -

Huruf superskrip di belakang nilai standar deviasi yang berbeda pada setiap baris menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05)

Keterangan :

(47)

Keteranga A : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV B : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV C : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV K- : tanpa vaksinasi dan injeksi dengan PBS (K-), dan

K+ : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 1. Pola kematian ikan mas selama uji tantang (30 hari) dengan KHV.

Gambar 1 menunjukkan pola kelangsungan hidup ikan mas selama uji tantang, dari hari pertama pascauji-tantang hingga hari ke-30. Kematian ikan mas diawali oleh perlakuan A pada hari ke-5 diikuti oleh kontrol positif, perlakuan B serta C pada hari ke-18. Puncak kematian terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang dengan jumlah 4 ekor dari perlakuan A, 4 ekor dari perlakuan B, 1 ekor dari perlakuan C, dan 7 ekor dari perlakuan kontrol positif sehingga total kematiannya sebesar 16 ekor ikan (Lampiran 8). Pada perlakuan kontrol negatif tidak terjadi kematian hingga akhir penelitian sehingga kelangsungan hidupnya 100%.

3.1.2 Gejala Klinis

(48)

normal pada tubuhnya. Gejala klinis yang pertama kali muncul adalah terjadinya penurunan nafsu makan pada ikan. Penurunan nafsu makan dilihat dari jumlah konsumsi pakan ikan pascauji-tantang (Lampiran 9). Jumlah konsumsi pakan ikan cenderung menurun dari hari pertama hingga hari ke-21 pascauji-tantang. Ikan yang pertama kali mengalami penurunan nafsu makan adalah ikan pada perlakuan B, kemudian kontrol positif, perlakuan A, dan perlakuan C. Penurunan jumlah konsumsi pakan terbesar terjadi pada perlakuan kontrol positif sebesar 45,91% Hal ini terjadi hingga hari ke-21 dan terjadi peningkatan nafsu makan kembali pada hari ke-22 hingga akhir penelitian.

Perubahan tingkah laku ikan muncul pada ikan yang sakit, yaitu berenang di permukaan, kadang bergerombol di sekitar aerasi dan diam di dasar akuarium. Perubahan tingkah laku ikan mulai muncul pada hari ke-6 pascauji-tantang. Ikan yang pertama mengalami perubahan tingkah laku adalah ikan pada perlakuan A dan B, kemudian disusul dengan perlakuan kontrol positif dan perlakuan C. Ikan yang sakit juga memiliki gerak reflek yang lambat dan respons gerak yang lemah. Pada hari ke-18, gerakan ikan sudah mencapai puncak kondisi terlemah yang kemudian terjadi kematian. Ikan yang berhasil melewati kondisi tersebut mampu bergerak dengan normal kembali setelah hari ke-21. Ikan yang sehat memiliki kondisi fisik yang normal baik sisik, sirip, maupun insangnya. Insang normal

berwarna merah cerah. Ikan yang terinfeksi KHV memiliki kondisi fisik yang tidak normal, yaitu terjadi perubahan warna kulit, kerusakan pada sirip ekor, dan nekrosis pada insang. Perbedaan ikan sakit dan ikan sehat disajikan dalam Gambar 2.

(49)

Gambar 2. Kondisi fisik ikan mas pascauji-tantang dengan filtrat KHV. Badan dan insang ikan sehat (a), badan dan insang ikan terinfek KHV (b).

Perubahan fisik ikan mulai terlihat pada hari ke-5 pascauji-tantang, yaitu nekrosis insang pada perlakuan B kemudian disusul oleh perlakuan A dan kontrol positif pada hari ke-8. Pada hari ke-10, nekrosis mencapai 80% bagian insang untuk perlakuan B namun sekitar 30% pada perlakuan yang lain. Bercak pada punggung dan kerusakan sirip ekor terjadi pada hari ke-12 disertai dengan kulit melepuh pada beberapa ekor ikan di akuarium perlakuan kontrol positif. Jumlah ikan yang mengalami kerusakan fisik semakin bertambah hingga mengalami puncak terparah pada hari ke-18 pascauji-tantang, ini terjadi pada perlakuan A, B, C, dan kontrol positif. Pada perlakuan B dan C telah mengalami penyembuhan

luka pada hari ke-21 pascauji-tantang. Pada hari yang sama, masih ditemukan ikan yang mengalami luka dengan jumlah yang cukup banyak pada perlakuan A dan kontrol positif.

a b

b

b a

(50)

 

Gambar 3. Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV; a) sisik terlepas, b) bercak merah, c) terjadi perubahan warna kulit, d) berenang di permukaan, e) kulit melepuh, f) sirip ekor geripis, g) mata cekung, h) kerusakan insang.

 

3.1.3. Indeks Fagositosis

Pengamatan indeks fagositosis dilakukan setiap seminggu sekali dari

mulai vaksinasi hingga minggu ketiga pascauji-tantang. Hasil pengamatan indeks fagositosis ditunjukkan pada Lampiran 10 dan Gambar 4.

(51)

Keterangan A : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV B : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV C : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV K- : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS, dan

K+ : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 4. Indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan pada saat pasca vaksinasi dan diuji tantang.

Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada perlakuan A, B, C, K-, dan K+. Pada pasca vaksinasi, nilai indeks fagositosis mengalami peningkatan pada masing-masing perlakuan hingga hari ke-21 pasca vaksinasi dan mengalami penurunan pada hari ke-28 sebelum uji tantang.

Kenaikan aktivitas fagositosis terjadi pada hampir seluruh perlakuan hingga hari ke-56 kecuali pada perlakuan B dan C yang mengalami penurunan sebesar 15% pada perlakuan B dan 12% pada C.

3.1.4 Histopatologi

(52)

KeteranganA : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS (K-)

B : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (A) C : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (B) D : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (C), dan E : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 5. Histopatologi ginjal ikan; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada semua Gambar=20 µm).

E Z

Y Y Z

C Y

Z

D Z

Y

(53)

Keterangan A : tanpa vaksinasi dan ikan diinjeksi dengan PBS (K-)

B : vaksinasi sekali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (A) C : vaksinasi dua kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (B) D : vaksinasi tiga kali dalam satu minggu dan uji tantang dengan KHV (C), dan E : tanpa vaksinasi dan uji tantang dengan KHV (K+).

Gambar 6. Histopatologi insang ikan; X) hiperplasia; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada semua gambar =20 µm).

3.1.5 Kualitas Air

Parameter kualitas air yang paling berbengaruh dan merupakan faktor pemicu terhadap serangan KHV adalah suhu sehingga pengamatan terhadap parameter ini dilakukan setiap dua kali sehari, yaitu setiap pagi dan sore hari.

A B

X

Y Z

C

X

Y

D Z

Y

X

E X

Z

(54)

Parameter kualitas air lainnya yang diamati adalah pH, DO, dan NH3-N. Pengamatan terhadap parameter kualitas air tersebut dilakukan pada awal dan akhir penelitian saja. Data kisaran kualitas air disajikan dalam Tabel 2, sedangkan data pengamatan suhu harian disajikan dalam Lampiran 11.

Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air pemeliharaan ikan mas

Parameter kualitas air Suhu (°C) pH DO(mg/L)

NH3 -N(mg/L)

Kisaran 17-23,5 7,9-8,3 6,6-7,2 0,04-0,06

3.2 Pembahasan

Sakit pada ikan adalah suatu kondisi dimana ikan dalam keadaan tidak normal yang ditandai dengan penurunan nafsu makan, kelainan pada respons tubuh baik gerak, mata, ekor maupun pertahanan hingga menyebabkan kelainan pada kondisi fisik ikan. Berdasarkan pengamatan ikan yang sakit karena infeksi KHV menunjukkan gejala penurunan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus dan kekurangan energi. Ikan yang kekurangan energi akan mudah terinfeksi patogen lain atau infeksi sekunder seperti bakteri, fungi dan parasit (Mudjiutami

et al., 2006). Kondisi ini yang kemudian akan menyebabkan abnormalitas pada tubuh ikan.

Pengamatan terhadap kelangsungan hidup ikan dilakukan pada masa vaksinasi (7 hari), pasca vaksinasi (28 hari), dan pascauji-tantang (30 hari). Pasca vaksinasi dilakukan pemeliharaan selama 28 hari agar sistem imun ikan dapat terbentuk secara sempurna. Sistem imun yang sempurna menyebabkan ikan dapat memberikan respons tanggap kebal terhadap infeksi KHV. Pada penelitian ini,

vaksin diberikan secara oral yang dicampurkan ke dalam pakan ikan. Keuntungan pemberian vaksin secara oral adalah dapat digunakan secara massal, digunakan untuk berbagai ukuran ikan, dan tidak menimbulkan cekaman (Ellis, 1988). Hasil pengamatan selama 28 hari menunjukkan tidak terjadi gejala infeksi KHV dan tidak ditemukan adanya kematian pada msing-masing perlakuan sehingga pemberian vaksin melalui pakan ini dapat dikatakan aman bagi ikan.

(55)

diberikan. Pemberian vaksin satu kali dalam satu minggu untuk Perlakuan A, pemberian vaksin dua kali dalam satu minggu untuk perlakuan B, pemberian vaksin tiga kali dalam satu minggu untuk perlakuan C, dan kontrol tanpa pemberian vaksin.

Respons tanggap kebal ikan yang telah divaksin dilakukan dengan menginjeksi filtrat KHV dengan konsentrasi 10-2 sebanyak 0,1 mL tiap ekor ikan pada hari ke-29 pasca vaksinasi. Kematian ikan diawali oleh perlakuan A pada hari ke-5 dan diikuti oleh perlakuan B, C, dan kontrol positif pada hari ke-18 pascauji-tantang (Gambar 1). Kematian terbanyak terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang. Ini lebih lambat dari penelitian Hayati (2009) dan Zahro (2010) yang melaporkan bahwa kematian massal ikan yang terinfeksi KHV terjadi pada hari ke-9 dan ke-10 pascauji-tantang. Hal ini diduga karena sebelum hari ke-17 terjadi penurunan suhu air pada beberapa akuarium yang terletak tepat di bawah AC (air conditioner), yaitu mencapai 16,5°C sehingga dapat mengurangi tingkat virulensi virus terhadap inang (Lampiran 13). Pada hari ke-17 suhu ruangan dinaikkan menjadi 20°C. Pokorova et al. (2005) dalam ulasannya menguatkan bahwa KHV inaktif pada suhu di bawah 18°C dan di atas 24°C.

Kelangsungan hidup relatif ikan pada perlakuan A dengan frekuensi pemberian satu kali dalam satu minggu memiliki nilai yang sangat kecil sebesar

23,33%. Kelangsungan hidup relatif perlakuan A lebih rendah daripada B dan C diduga karena keberadaan vaksin pada pakan perlakuan yang diberikan tidak dapat membangkitkan respons imun pada ikan sehingga ikan tidak dapat melawan virus yang telah menginfeksinya. Yulianti (2011) menguatkan bahwa pemberian pakan bervaksin 2 kali dalam satu minggu menunjukkan persistensi yang lebih tinggi daripada pemberian pakan bervaksin satu kali dalam satu minggu sehingga pemberian pakan bervaksin dua kali satu dalam minggu dapat menginduksi respons imun ikan mas.

(56)

terhadap serangan antigen yang sama. Vaksinasi melalui pakan mampu diterima dan menunjukkan hasil yang baik. Hasil penelitian Miyazaki et al. (2008) tentang pemberian vaksin liposom melalui pakan buatan juga mampu meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas hingga 74% yang dipelihara selama 21 hari. Dengan demikian vaksinasi melalui pakan dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu efektif dalam meningkatkan kelangsungan hidup ikan mas dan dapat menjadi alternatif pengendalian infeksi pada ikan mas dan koi pada pembudidaya dalam skala massal.

Data yang mendukung kelangsungan hidup relatif ikan adalah gejala klinis yang timbul pascauji-tantang, indeks fagositosis, dan histopatologi pada insang dan ginjal ikan (Gambar 2, 3, 5, dan 6). Data tersebut berkaitan erat dengan nilai kelangsungan hidup relatif yang didapat selama penelitian (Tabel 1).

Perubahan fisik yang terjadi pada ikan yang terinfeksi KHV adalah pada bagian punggung terjadi bercak merah yang kemudian melepuh, beberapa sisik di sekitar anal terkelupas, pendarahan pada sirip pektoral, ventral dan anal, kerusakan pada sirip ekor, terjadi perubahan warna kulit menjadi kehitaman bergaris, dan kerusakan pada lamela insang. Perlakuan C menghasilkan ikan yang mengalami perubahan fisik dengan jumlah yang paling sedikit dibandingkan perlakuan A, B, dan kontrol positif. Beberapa penelitian terhadap ikan yang

diinfeksi KHV pun menunujukkan gejala klinis dan perubahan fisik yang sama. Hendrik et al. (2005) menyebutkan bahwa tanda-tanda ikan koi yang terinfeksi KHV adalah terjadi perubahan warna tubuh, nekrosis pada filamen insang, mata cekung, dan produksi lendir yang berlebih. Demikian juga disebutkan oleh Sunarto et al. (2005), ikan mas yang terinfeksi KHV menunjukkan gejala respons ikan yang lemah, lesu, kehilangan keseimbangan dan megap-megap, kulit melepuh, terjadi pendarahan pada operkulum, sirip, ekor dan perut, serta terjadi kerusakan pada filamen insang.

(57)

terutama suhu air (Tabel 2). Pada penelitian ini suhu air akuarium berkisar 17-23,5 °C. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Antychowicz et al. (2005) bahwa gejala-gejala serangan KHV di Polandia sering terjadi pada suhu berkisar 17-24 °C, namun tidak menunjukkan adanya kematian pada suhu 17 °C. Puncak gejala klinis terparah terjadi pada hari ke-18 pascauji-tantang. Nekrosis insang dan luka-luka pada kulit punggung ikan pada saat ini mengalami puncak terparah yang menuju pada banyaknya kematian ikan.

Indeks fagositosis merupakan ingesti bahan partikel terutama bakteri atau virus ke dalam sitoplasma sel darah. Pola peningkatan persentase indeks fagositosis menunjukkan adanya peningkatan total leukosit termasuk monosit yang dapat merangsang produksi limfosit (Amrullah, 2004).Pengamatan terhadap nilai indeks fagositosis dilakukan setiap seminggu sekali baik pada masa vaksinasi maupun pascauji-tantang. Berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui kecenderungan aktivitas fagositosis pada saat pasca vaksinasi dan pascauji-tantang. Pada pasca vaksinasi nilai indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan hampir sama, mengalami peningkatan pada hari 21 dan mengalami penurunan pada hari ke-28. Indeks fagositosis perlakuan A dan kontrol positif memiliki kecenderungan peningkatan yang sama pascauji-tantang, yaitu terus mengalami kenaikan hingga hari ke-56. Hal ini sejalan dengan kelangsungan hidupnya yang masih mengalami

penurunan hingga memasuki minggu ke-3 pascauji-tantang (Gambar1). Berbeda dengan hal tersebut, perlakuan B dan perlakuan C mengalami penurunan pada hari ke-56 pascauji-tantang. Indeks fagositosis perlakuan B dan C berbanding terbalik dengan kelangsungan hidupnya yang cenderung mulai stabil pada minggu ke-3 hingga akhir penelitian (Gambar 1). Hal ini diduga karena adanya reaksi antibodi yang timbul akibat pemberian vaksin. Nuryati (2010) melaporkan hal yang sama, bahwa vaksinasi mampu membangkitkan kekebalan seluler maupun humoral, yaitu antibodi.

(58)

pada hari ke-56 mengalami penurunan, hal ini diduga karena adanya penyembuhan luka dan sudah tidak terjadi perluasan infeksi. Sebaliknya pada perlakuan A dan kontrol positif, pada hari ke-56 masih mengalami kenaikan aktifitas fagositosis. Hal ini berkorelasi dengan abnormalitas ikan yang masih terjadi hingga waktu tersebut. Berdasarkan pengamatan hingga hari ke-56, pada perlakuan A dan kontrol positif masih ditemukan ikan yang mengalami luka pada kulit punggung hingga akhirnya melepuh. Di samping itu ditemukan juga ikan yang mengalami pendarahan pada sirip anal dan pektoralnya.

Mekanisme fagositosis dibagi menjadi dua tahap, yaitu attactment phase, waktu terjadi peristiwa penempelan partikel oleh membran sel fagosit, dan

ingestion phase termasuk di sini destruksi dan intracelluler killing (Gambar 7) (Bellanti, 1978 dalam Ekandaru & Tjokronegoro, 1983). Secara terperinci fase-fase dalam mekanisme fagositosis adalah kemotaksis sel fagosit menuju daerah yang mengalami infeksi atau kerusakan, proses opsonisasi melalui aktivasi sistem komplemen, penempelan organisme di sel fagosit pada C3b pada Fc-reseptor

(Gambar 8), proses mengunyah dan vakuolisasi, perubahan metabolisme interseluler, degranulasi lisosom, dan proses mencerna serta intracellular killing.

(59)

Gambar 8. Skema Fc dan C3b-reseptor pada permukaan sel fagosit (Bellanti, 1978 dalam Ekandaru & Tjokronegoro, 1983).

Gambar 5 dan Gambar 6 menunjukkan histopalogi ginjal dan insang dari perlakuan A, B, C, kontrol positif dan kontrol negatif. Insang pada kontrol negatif tidak menunjukkan gejala infeksi KHV atau ginjal dan insang tersebut dalam kondisi normal. Namun pada perlauan A, B, C, dan kontrol positif ditemukan abnormalitas pada filamen insang seperti hiperplasia, hipertropi, dan ditemukannya badan inklusi yang mengindikasikan infeksi virus. Demikian juga dengan hipertropi dan badan inklusi yang ditemukan pada organ ginjal. Santika (2007) dan Giri (2008) menemukan hal yang sama pada preparat histologinya, ikan yang terinfeksi KHV ditemukan insang yang hipertropi, hiperplasia dan adanya badan inklusi di antara lamella insang. Menurut Sunarto et al. (2005) pembentukan badan inklusi merupakan kondisi hipertopi pada inti yang disebabkan oleh penumpukan virion-virion dalam inti sel.

Figur

Gambar 1. Pola kematian ikan mas selama uji tantang (30 hari) dengan KHV.
Gambar 1 Pola kematian ikan mas selama uji tantang 30 hari dengan KHV . View in document p.11
Gambar 2. Kondisi fisik ikan mas pascauji-tantang dengan filtrat KHV. Badan
Gambar 2 Kondisi fisik ikan mas pascauji tantang dengan filtrat KHV Badan . View in document p.13
Gambar 3. Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV; a) sisik terlepas, b)  bercak
Gambar 3 Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV a sisik terlepas b bercak . View in document p.14
Gambar 4. Indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan pada saat pasca
Gambar 4 Indeks fagositosis pada masing masing perlakuan pada saat pasca . View in document p.15
Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada
Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada . View in document p.15
Gambar 5. Histopatologi ginjal ikan; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada
Gambar 5 Histopatologi ginjal ikan Y hipertropi Z badan inklusi Bar pada . View in document p.16
Gambar 6. Histopatologi  insang ikan; X) hiperplasia; Y) hipertropi; Z) badan
Gambar 6 Histopatologi insang ikan X hiperplasia Y hipertropi Z badan . View in document p.17
Gambar 1. Pola kematian ikan mas selama uji tantang (30 hari) dengan KHV.
Gambar 1 Pola kematian ikan mas selama uji tantang 30 hari dengan KHV . View in document p.47
Gambar 2. Kondisi fisik ikan mas pascauji-tantang dengan filtrat KHV. Badan
Gambar 2 Kondisi fisik ikan mas pascauji tantang dengan filtrat KHV Badan . View in document p.49
Gambar 3. Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV; a) sisik terlepas, b)  bercak
Gambar 3 Gejala klinis ikan yang terinfeksi KHV a sisik terlepas b bercak . View in document p.50
Gambar 4. Indeks fagositosis pada masing-masing perlakuan pada saat pasca
Gambar 4 Indeks fagositosis pada masing masing perlakuan pada saat pasca . View in document p.51
Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada
Gambar 4 menunjukkan aktivitas fagositosis sel darah putih pada . View in document p.51
Gambar 5. Histopatologi ginjal ikan; Y) hipertropi; Z) badan inklusi (Bar pada
Gambar 5 Histopatologi ginjal ikan Y hipertropi Z badan inklusi Bar pada . View in document p.52
Gambar 6. Histopatologi  insang ikan; X) hiperplasia; Y) hipertropi; Z) badan
Gambar 6 Histopatologi insang ikan X hiperplasia Y hipertropi Z badan . View in document p.53

Referensi

Memperbarui...