UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STRATA I MEDAN
ANALISIS PEMBENTUKAN DISONANSI KOGNITI KONSUMEN
PEMILIK PONSEL BLACKBERRY PADA MAHASISWA
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
SKRIPSI
OLEH:
TOMMY JOGI PANDAPOTAN SINABARIBA 060502113
MANAJEMEN
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Universitas Sumatera Utara Medan
ABSTRAK
Tommy Jogi Pandapotan Sinabariba (2010). Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik ponsel Blackberry pada Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. (Dibimbing oleh Bapak Prof Dr Paham Ginting SE, Msi. Ibu Prof Dr Ritha F Dalimunthe, SE, Msi selaku Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Penguji Bapak prof Dr Amrin Fauzi SE, Msi , Msi dan Ibu Dr Endang Sulistya Rini, SE, Msi).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Nokia berkamera pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Nomensen Medan dan juga untuk mengetahui faktor-faktor utama yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry pada Mahasiswa Fakulatas Hukum Universitas Sumatera Utara. Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) memiliki tiga dimensi yaitu, emosional
(emotional), kebijaksanaan pembelian (wisdom of purchase), perhatian setelah transaksi
(concern over the deal). Emosional (emotional) ditinjau dari putus asa, menyesal, kecewa dengan diri anda sendiri, takut, hampa, marah, cemas atau khawatir, telah membuat sesuatu yang salah, kesal atau jengkel, frustasi, sakit hati, depresi, marah dengan diri sendiri, muak dan mendapat masalah. Kebijaksanaan pembelian (wisdom of purchase) ditinjau dari sangat membutuhkan ponsel Blackberry, perlu membeli ponsel Blackberry, telah membuat pilihan yang tepat, telah melakukan hal yang tepat untuk membeli ponsel Blackberry, sedangkan perhatian setelah transaksi (concern over the deal) ditinjau dari tidak merasa telah melakukan suatu ketololan, tenaga penjual tidak membuat mereka bingung, merasa nyaman dengan persetujuan yang telah dibuat. Faktor-faktor itulah yang membentuk Disonansi Kognitif.
Hasil analisa faktor memunculkan lima faktor utama pembentuk disonansi yaitu: tiga faktor yang paling mampu membentuk Emosional (Emotional) adalah 3 faktor, yaitu Faktor KEPUTUSAN TEPAT, faktor 2 HARAPAN TEPAT, faktor 3 PERASAAN TEPAT, satu faktor yang paling mampu membentuk Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase) adalah faktor 4 KEPUTUSAN TEPAT. Satu faktor yang paling mampu membentuk Perhatian setelah Transaksi (Concern Over the Deal) adalah faktor 5 PERSETUJUAN TEPAT.
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur saya sampaikan kepada Allah yang berkuasa atas khalik langit dan bumi sebab atas kuasa dan penyertaanNya lah skripsi ini dapat saya selesaikan. Ada banyak pihak yang telah membantu saya dalam penulisan skripsi ini, pada saat ini saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Drs. John Tafbu Ritonga, M.ec selaku dekan fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ritha F. Dalimunthe, SE, M.Si selaku ketua departemen Manajemen Fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dra. Nisrul Irawaty, MBA selaku sekretaris departemen Manajemen.
4. Bapak Prof. Dr. Paham Ginting, SE, Msi, selaku dosen pembimbing saya atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan kepada saya.
5. Bapak prof. Dr. Amrin Fauzi, SE, Msi selaku dosen Penguji I yang telah memberikan masukan dan saran atas penulisan skripsi saya.
6. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, SE, M.Si selaku dosen Penguji II yang telah memberikan masukan dan saran atas penulisan skripsi saya.
7. Ibu Dra. Marhayanie Msi selaku dosen wali saya selama menjalani kegiatan akademik. 8. Seluruh staf pegawai di fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara yang telah
membantu saya dalam menyelesaikan kegitan akademik.
9. Kepada Bapa dan Mama buat cinta dan kasih sayang yang diberikan, serta selalu memberi dukungan bagi penulis.
10.Buat rekan-rekan Manajemen ’06 semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. 11.Kepada seluruh Staff dan Pegawai CV. Mitra Prima Lestari yang telah membantu penulis
12.Semua Pihak yang belum saya sebutkan satu persatu pada kesempatan ini karena keterbatasan saya, saya ucapkan terimakasih untuks etiap hal yang telah Anda berikan.
Skripsi ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan masukan berupa kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata saya ucapkan tetaplah belajar untuk mencapai hidup yang lebih bermakna.
Medan, Juni 2010
Penulis
DAFTAR ISI
A. Latar Belakang Penelitian ……….... 1
B. Perumusan masalah ...………... 5
F. METODE PENELITIAN………. 8
1. Batasan Operasional………. 8
2. Definisi Operasional Variabel……… 9
3. Skala Pengukuran Variabel………. 11
4. Waktu dan Lokasi Penelitian……… 12
5. Populasi dan Sampel………. 12
6. Jenis dan Sumber Data……….. 14
7. Teknik Pengumpulan Data……… 14
8. Uji Validitas dan Reliabilitas………. 15
9. Teknik Analisis Data………. 16
BAB II URAIAN TEORETIS……….. 19
A. Penelitian Terdahulu ...………... 19
B. Produk ... 21
C. Prilaku Konsumn... 24
D. Buying Behaviour ... 24
E. Dissonance Cognitive ... 26
F. Dimensi Dissonance Cognitive ... 28
G. Postpurchase Dissonance... 39
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Defenisi Operasional Variabel ... 10
Tabel 1.2 Instrumen Skala Likert ... 12
Tabel 4.1 Uji Validitas ... 40
Tabel 4.2 Validitas Instrumen II ... 42
Tabel 4.3 Uji Validitas II ... 44
Tabel 4.4 Reliability Statistic ... 44
Tabel 4.5 Reliability Instrumen ... 45
Tabel 4.6 Karakteristik menurut Jenis Kelamin ... 46
Tabel 4.7 Karakteristik berdasarkan Tipe blackberry ... 47
Tabel 4.8 Distribusi Pendapat Sampel terhadap Variabel Emosional .. 48
Tabel 4.9 Distribusi Pendapat Sampel terhadap Variabel Kebijakan Pembelian ... 53
Tabel 4.10 Distribusi Pendapat Sampel terhadap Variabel Perhatian setelah Transaksi ... 55
Tabel 4.11 KMO and Bartlett’s Test ... 59
Tabel 4.12 Anti-images matrics ... 60
Tabel 4.13 Total Variance Explained ... 62
Tabel 4.14 Component Matrix(a) ... 63
Tabel 4.15 Rotated Component Matix(a) ... 65
Tabel 4.16 Component transformation matrix ... 67
Tabel 4.17 KMO and bartlett’s test ... 68
Tabel 4.18 Anti-images Matrics ... 68
Tabel 4.19 Total VarianceExplained ... 69
Tabel 4.20 KMO and bartlett’s Test ... 70
Tabel 4.21 Anti-images matrics ... 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual ... 6
Gambar 3.1 Logo Blackberry ... 33
Gambar 3.2 Blackberry Onyx ... 33
Gambar 3.3 Blackberry Gemini ... 34
Gambar 3.4 Blackberry javelin ... 35
Gambar 3.5 Blackberry Storm ... 36
Gambar 3.6 Blackberry Bold 9000 ... 37
ABSTRAK
Tommy Jogi Pandapotan Sinabariba (2010). Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik ponsel Blackberry pada Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. (Dibimbing oleh Bapak Prof Dr Paham Ginting SE, Msi. Ibu Prof Dr Ritha F Dalimunthe, SE, Msi selaku Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Penguji Bapak prof Dr Amrin Fauzi SE, Msi , Msi dan Ibu Dr Endang Sulistya Rini, SE, Msi).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Nokia berkamera pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Nomensen Medan dan juga untuk mengetahui faktor-faktor utama yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry pada Mahasiswa Fakulatas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance) memiliki tiga dimensi yaitu, emosional
(emotional), kebijaksanaan pembelian (wisdom of purchase), perhatian setelah transaksi
(concern over the deal). Emosional (emotional) ditinjau dari putus asa, menyesal, kecewa dengan diri anda sendiri, takut, hampa, marah, cemas atau khawatir, telah membuat sesuatu yang salah, kesal atau jengkel, frustasi, sakit hati, depresi, marah dengan diri sendiri, muak dan mendapat masalah. Kebijaksanaan pembelian (wisdom of purchase) ditinjau dari sangat membutuhkan ponsel Blackberry, perlu membeli ponsel Blackberry, telah membuat pilihan yang tepat, telah melakukan hal yang tepat untuk membeli ponsel Blackberry, sedangkan perhatian setelah transaksi (concern over the deal) ditinjau dari tidak merasa telah melakukan suatu ketololan, tenaga penjual tidak membuat mereka bingung, merasa nyaman dengan persetujuan yang telah dibuat. Faktor-faktor itulah yang membentuk Disonansi Kognitif.
Hasil analisa faktor memunculkan lima faktor utama pembentuk disonansi yaitu: tiga faktor yang paling mampu membentuk Emosional (Emotional) adalah 3 faktor, yaitu Faktor KEPUTUSAN TEPAT, faktor 2 HARAPAN TEPAT, faktor 3 PERASAAN TEPAT, satu faktor yang paling mampu membentuk Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase) adalah faktor 4 KEPUTUSAN TEPAT. Satu faktor yang paling mampu membentuk Perhatian setelah Transaksi (Concern Over the Deal) adalah faktor 5 PERSETUJUAN TEPAT.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sarana komunikasi telah menjadi bagian yang penting dari kehidupan manusia pada
zaman modern seperti sekarang ini,. Hal ini dikarenakan komunikasi merupakan sarana
utama bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk bertukar informasi dari satu pihak ke
pihak lainnya. Seiring dengan perkembangan teknologi di segala bidang saat ini,
perkembangan sarana komunikasi pun telah berlangsung dengan cepat. Mulai dari sarana
komunikasi yang sangat sederhana sebelum tahun 1990 sampai sarana komunikasi yang
mewah yang banyak dijumpai diabad 21 ini. Banyaknya jenis dan jumlah sarana komunikasi
telah banyak mengalami perkembangan yang pesat. Salah satu dari sarana komunikasi yang
mengalami perkembangan pesat adalah telepon seluler (ponsel).
Ponsel merupakan salah satu bentuk sarana komunikasi yang sudah banyak dimiliki
oleh masyarakat dan sudah menjadi kebutuhan yang sangat bagi manusia karena pada saat
sekarang ini,ponsel merupakan jembatan komunikasi dalam bertukar informasi antara satu
dengan yang lainnya. Pada umumnya masyarakat membeli ponsel untuk menikmati fitur
telepon dan pesan singkat untuk bertukar informasi. Namun, selain itu pemilik ponsel juga
ingin menikmati fitur yang lain, seperti: kamera, mp3, video player, dan Internet yang kita
ketahui sebagai salah satu fitur yang sangat diminati oleh konsumen karena kita bisa
mendapatkan informasi serta berkomunikasi dengan menggunakan internet.Ponsel juga dapat
memberikan kepuasan tersendiri bagi seseorang, selain itu dengan kita memiliki ponsel maka
dapat meningkatkan prestise.
Banyak pilihan produk yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Masing-masing perusahaan berusaha untuk mendiferensiasikan produknya supaya
dan minat konsumen untuk melakukan pembelian. Hal itu telah menimbulkan persaingan
antar perusahaan karena masing-masing perusahaan berusaha untuk mempertahankan pangsa
pasarnya atau bahkan memperluas pangsa pasarnya dan memperoleh keuntungan maksimal.
Produk yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan kepada para konsumen begitu
variasi, maka konsumen akan lebih selektif dalam menyeleksi produk-produk yang
ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan, supaya produk yang dibelinya sesuai dengan
kebutuhannya. Masing–masing perusahaan berusaha untuk mendifferensiasikan produknya
supaya mempunyai keunikan dan karakteristik yang unik, sehingga dapat menimbulkan daya
tarik dan minat konsumen untuk melakukan pembelian. Hal itu telah menimbulkan
persaingan antara perusahaan telekomunikasi karena masing–masing perusahaan berusaha
untuk mempertahankan pangsa pasarnya atau bahkan memperluas pangsa pasarnya dan
memperoleh keuntungan maksimal. Sebagai contoh produsen ponsel asal Canada,
Perusahaan Research in Motion(RIM) yang memproduksi ponsel Blackberry, melanjutkan
dominasi di pasar ponsel dengan keunikannya dalam keunggulan komunikasi.
Blackberry sebagai ponsel yang sangat fenomenal, juga berhasil menguasai pangsa
pasar ponsel dengan penjualan ponsel blackberry tumbuh mencapai 494% di Indonesia
(www.detik.com). Ponsel Blackberry menyediakan fitur yang canggih pada produk yaitu fitur
internet dan BlackBerry juga menyediakan software Messenger built-in sehingga
memungkinkan penggunanya bisa menggunakannya sepuasnya, dengan tarif flat, sehingga
lebih irit daripada menelepon secara langsung dan fitur lainnya. Satu faktor yang
mengendalikan kesuksesan BlackBerry di Indonesia selain biaya yang rendah juga kecanduan
berkirim pesan dan posting Facebook (www.vivanews.com). Hal ini merupakan salah satu
fitur yang paling digemari oleh masyarakat khususnya anak-anak muda pada saat sekarang,
Blackberry memang digemari oleh masyrakat di Indonesia karena kelebihan produk
tersebut dan tampilan yang unik. Tetapi Blackberry juga memiliki kelemahan pada
produknya. Banyak konsumen ponsel blackberry yang sudah merasakan kekurangan tersebut
setelah memiliki ponsel blackberry sebagai contoh Blackberry Strom, menurut analisis dari
The New York Times, untuk BlackBerry edisi Storm, memiliki beberapa kelemahan, yakni
konsep touchscreen yang bermaksud menyamai touchscreen iPhone. Pada blackberry tipe
Bold juga memiliki kelemahan yaitu kondisi baterai yang kurang bagus dan cepat timbul
panas pada keyboard dan kelemahan lainnya. Banyak konsumen yang mengeluh akan
kekurangan dari ponsel Blackberry tersebut.
Blackberry juga memiliki berbagai informasi baik informasi yang positif maupun
negatif mengenai ponsel merek Blackberry, hal ini akan membuat konsumen merasa
dihadapkan pada suatu kondisi yang membingungkan, dimana kepercayaan mereka tidak
“sejalan bersama”. Pada awalnya,mereka terpengaruh oleh kelebihan dari produk tersebut
tanpa mengetahui kekurangannya. Hal inilah yang akan mengakibatkan timbulnya disonansi
pada konsumen.
Menurut Kotler dan Amstrong (2003:228): disonansi kognitif adalah
ketidak-nyamanan pembeli karena konflik setelah pembelian. Kondisi disonansi kognitif pembeli
dapat diukur dengan tiga dimensi yaitu emosional, kebijaksanaan pembelian dan perhatian
setelah transaksi. Seorang konsumen akan mengalami disonansi kognitif pasca melakukan
pembelian suatu produk, terutama produk mahal seperti ponsel Blackberry .
Konsumen pasti dapat merasakan terjadinya disonansi kognitif atau tidak setelah
melakukan pembelian produk ponsel Blackberry. Untuk mengetahui hal tersebut maka
penulis melakukan penelitian terlebih dahulu. Dari hasil penelitian pendahuluan yang penulis
mengalami disonansi kognitif walaupun tingkatnya rendah. Disonansi kognitif tersebut terjadi
karena pemilik/konsumen tersebut mendapatkan kekurangan yang terdapat pada ponsel
Blackberry. Hal inilah yang menimbulkan disonansi kognitif
Dari fenomena di atas, penulis akan meneliti tentang “Analisis Disonansi Konsumen
Pemilik Ponsel Blackberry Pada Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
“Faktor-faktor apa saja yang membentuk Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel
Blackberry pada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara?”
C. Kerangka Konseptual dan Hipotesis
1. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian
ditujukan, dimana hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang secara logis
diterangkan, dikembangkan, dan dieborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi
melalui proses wawancara, observasi, dan survei literatur (Kuncoro, 2003:4).
Penelitian 22 item yang didesain oleh Sweeney, Hausknecht, dan Soutar
(2000:369-385) menyatakan bahwa Disonansi Koginitif (Cognitive Dissonance) dapat diukur dengan
tiga dimensi yaitu: Emosional (Emotional), Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase),
Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over the Deal). Maka dalam kerangka penelitian ini
dikemukakan variabel yang akan diteliti yaitu: Emosional (Emotional), Kebijakan Pembelian
Emosional (Emotional) adalah ketidaknyamanan psikologis yang dialami seseorang
terhadap keputusan pembelian. Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase) adalah
ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah transaksi pembelian, dimana mereka
bertanya-tanya apakah mereka sangat membutuhkan produk tersebut atau apakah mereka
telah memilih produk yang sesuai. Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over the Deal)
adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah transaksi pembelian dimana mereka
bertanya-tanya apakah mereka telah dipengaruhi oleh tenaga penjual yang bertentangan
dengan kemauan atau kepercayaan mereka. Dimensi ini menghasilkan 22 item yang dapat
digunakan untuk mengukur Disonansi Kognitif (CognitiveDissonance).
Sumber.Sweeny, Hausknecht, dan Soutar (2000)(diolah)
Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance)
1. Emosional
2. Kebijaksanaan Pembelian 3. Perhatian Setelah Transaksi
Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Penelitian
Kerangka konseptual diatas menjelaskan bahwa Emosional (Emotional),
Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase), Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over
the Deal) berpengaruh terhadap pembentukan Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance).
2. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara atas rumusan masalah, yang
kebenarannya akan diuji dalam pengujian hipotesis (Sugiono, 2003:306). Berdasarkan
perumusan masalah diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah: “Faktor- faktor yang
mempunyai pengaruh terhadap pembentukan Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang membentuk Disonansi Kognitif
Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry Pada Mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas
Sumatera Utara
b. Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor utama yang membentuk Disonansi Kognitif
Konsumen Pemilik Ponsel Ponsel Blackberry Pada Mahasiswa Fakultas Hukum
Univesitas Sumatera Utara
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Perusahaan
Sebagai sumbangan informasi dan pengetahuan agar dapat meningkatkan penjualan
dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelanggannya.
b. Bagi Departemen Manajemen FE USU
Menambah koleksi skripsi di perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara.
c. Bagi Penulis
Untuk memperdalam pengetahuan di bidang manajemen pemasaran mengenai
perubahan sikap konsumen pasca pembelian.
d. Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan perbandingan dalam melakukan
E. Metode Penelitian
1. Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini, sebagai berikut:
a. Ponsel yang diteliti adalah merek Blackberry minimal 2 bulan memakai.
b. Variabel independen yaitu variabel Emosional (Emotional), Kebijaksanaan Pembelian
(Wisdom of Purchase), Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over the Deal).
c. Responden dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas hukum Universitas
Sumatera Utara.
2. Definisi Operasional Variabel
Penguraian definisi operasional varibel-variabel yang akan diteliti merupakan suatu
cara untuk mempermudah pengukuran variabel penelitian. Selain itu juga memberi
batasan-batasan pada obyek yang akan diteliti.
a. Emosional (Emotional)
Emosional adalah ketidaknyamanan psikologis yang dialami seseorang terhadap
keputusan pembelian.Dengan kata lain emosional dapat terbentuk melalui situasi
psikologis yang konsumen alami ketika dia mempertanyakan apakah tindakan yang
dilakukan denagan membeli suatu produk telah tepat.
b. Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase)
Kebijaksanaan pembelian adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah
melakukan pembelian,dimana mereka bertanya-tanya apakah mereka sangat
membutuhkan produk tersebut atau apakah mereka telah memilih produk yang sesuai.
Dalam hal ini konsumen mulai mempertanyakan apakah dia telah membeli suatu
c. Perhatian Setelah Transaksi (Concern Over theDeal)
Perhatian setelah transaksi adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah
transaksi pembelian dimana mereka bertanya-tanya apakah mereka telah dipengaruhi
oleh tenaga penjual yang bertentangan dengan kemauan atau kepercayaan mereka.
Perhatian setelah transaksi berkaitan dengan kekecewaan konsumen dimana pada
kondisi ini konsumen cenderung kurang yakin dengan keputusan yang telah dibuatnya
oleh dirinya sendiri.
Pada Tabel 1.1 berikut,menggambarkan definisi operasional variabel yang akan
digunakan dalam penelitian.
Variabel Definisi Variabel Indikator Alat
Variabel Definifi Variabel Indikator Alat
Ukur butuh atau telah sesuai membeli suatu produk
4.telah melakukan hal yang tidak tepat untuk membeli
Ukur
Sumber.Sweeny, Hausknecht, dan Soutar (2003)(diolah)
3. Pengukuran Variabel
Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah faktor Emosional (Emotional),
Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase), dan Perhatian Setelah Transaksi (Concern
Over the Deal). Menurut Sugiono(2006:84), skala pengukuran merupakan kesepakatan yang
digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam satu
alat ukur,sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan
data kuantitatif. Ketiga variabel tersebut diukur dengan Skala Likert yaitu digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial (Sugiono, 2006:104). Peneliti memberikan lima alternatif jawaban kepada responden
dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5 untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian,
Tabel 1.2
Instrumen Skala Likert
No. Alternatif Jawaban Skor
1. Sangat Setuju (SS) 5
2. Setuju (S) 4
3. Kurang Setuju (KS) 3
4. Tidak Setuju (TS) 2
5. Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sumber: Sugiono (2006:105)
Pada penelitian ini, responden diharuskan memilih salah satu dari sejumlah alternatif
jawaban yang tersedia, kemudian masing-masing jawaban diberi skor tertentu(5,4,3,2,1).
Skor jawaban dari responden dijumlahkan dan merupakan total skor. Total skor inilah yang
ditafsir sebagai posisi responden dalam Skala Likert.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dimulai dari bulan Mei 2010 – Juli 2010. Tempat penelitian adalah Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara, jl.Universitas Kampus Universitas Sumatera
Utara.Medan.
5. Populasi dan Sampel
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek,
atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajari suatu objek penelitian (Kuncoro, 2003 :
103). Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakulytas Hukum Universitas
Sumatera Utara yang memiliki ponsel Blackberry yang jumlahnya tidak diketahui sehingga
(Zα) 2 (p)(q) n = ——————
d2
Keterangan:
n = Jumlah sampel
Zα = Nilai standard normal yang besarnya tergantung α,
bila α = 0,05 → z = 1,67
bila α = 0,01 → z = 1,96
p = Estimator proporsi populasi
q = 1 – p
d = Penyimpangan yang di tolerir
Untuk memperoleh n (jumlah sampel) yang besar dan nilai p belum diketahui, maka dapat
digunakan p = 0,5. Dengan demikian, jumlah sampel yang mewakili populasi dalam
penelitian ini adalah:
2
Metode penelitian sampel menggunakan Metode Aksidental sampling, yaitu penentuan
sampel berdasarkan kebetulan, artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan
peneliti dapat digunakan sebagai sample, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu
cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2005 : 77) dan memenuhi kriteria yang telah
6. Jenis dan sumber Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu:
a.Data Primer menurut Kuncoro (20003: 136) adalah data yang dikumpulkan dari
sumber-sumber asli. Dalam penelitian ini, data primer diperoleh dari hasil kuesioner penelitian
Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry pada
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
b.Data sekunder menurut Kuncoro (2003:136) adalah data yang telah dikumpulkan oleh
pihak lain. Data sekunder ini diperoleh melalui studi pustaka, internet, majalah, dan
tabloid.
7. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ialah:
a. Daftar Pertanyaan (Questionaire)
Menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden terpilih tentang bagaimana pengaruh
faktor Emotional, Wisdom of Purchase, dan Concern Over the Deal berpengaruh terhadap
pembentukan Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry pada Mahasiswa
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
b. Wawancara (Interview)
Wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhak dan berwenang.
c. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dibuat untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan
bermacam-macam buku yang memberikan landasan bagi perumusan hipotesis,
penyusunan kuesioner, dan pembahasan teoritis. Peneliti juga menyertakan informasi
yang didapat melalui artikel yang relevan dari jurnal-jurnal ilmiah dan buku-buku lain
8. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan oleh peneliti untuk menguji apakah suatu
kuesioner layak digunakan sebagai instrumen penelitian. Validitas menunjukkan seberapa
nyata suatu pengujian mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas berhubungan dengan
ketepatan alat ukur melakukan tugasnya mencapai sasarannya. Pengukuran dikatakan valid
jika mengukur tujuannya dengan nyata atau benar. Reliabilitas menunjukkan akurasi dan
konsistensi dari pengukurannya. Dikatakan konsisten jika beberapa pengukuran terhadap
subjek yang sama diperoleh hasil yang berbeda (Jogiyanto,2004). Adapun tempat untuk
menguji validitas dan reliabilitas tersebut adalah di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera
Utara Medan yang jumlahnya 30 0rang. Uji validitas dan reliabilitas ini menggunakan alat
bantu SPSS versi 15.0 for windows.
a. Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 15.0, dengan
kriteria sebagai berikut
Jika r hitung > r tabel maka pertanyaan tersebut valid
Jika r hitung < r tabel maka pertanyaan tersebut tidak valid
b. Uji Reliabilitas
Uji ini dilakukan setelah uji validitas dan yang diuji merupakan pertanyaan yang sudah
valid. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
Jika ralpha > rtabel, maka kuesioner reliabel
Jika ralpha < rtabel, maka kuesioner tidak reliabel
9. Teknik Analisis Data
Analisis deskriptif adalah salah satu dari metode analisis, dengan cara data disusun dan
dikelompokkan, kemudian dianalisis sehingga diperoleh gambaran tentang masalah yang
dihadapi dan untuk menjelaskan hasil perhitungan.
b. Analisis Faktor
Analisis faktor digunakan untuk mereduksi faktor sehingga didapat faktor-faktor utama
yang membentuk Disonansi Kognitif Konsumen Pemilik Ponsel Blackberry Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian ini, analisis faktor menggunakan
bantuan aplikasi software SPSS 15.0 for WindowsEvaluation Version.
Proses dasar dari analisis faktor, adalah:
1. Menentukan variabel yang akan dianalisis. Dalam penelitian ini, variabel yang akan
dianalisis adalah variabel Emosional (Emotional) yang terdiri dari 15 faktor yaitu
telah membuat sesuatu yang salah (1), merasa putus asa (2), merasa menyesal (3),
merasa kecewa dengan diri sendiri (4), merasa takut(5), merasa hampa (6), merasa
marah (7), merasa cemas atau khawatir (8), merasa kesal atau jengkel (9), merasa
frustrasi (10), merasa sakit hati (11), merasa depresi (12), merasa marah dengan diri
sendiri (13), merasa muak (14), mendapat masalah (15). Variabel Kebijaksanaan
Pembelian (Wisdom of Purchase) terdiri dari 4 faktor yaitu merasa bahwa telah
melakukan hal yang tepat untuk membeli ponsel Blackberry (16), merasa bahwa
sangat membutuhkan ponsel Blackberry (17), merasa bahwa seharusnya tidak perlu
membeli suatu apapun (18), dan merasa bahwa telah membuat pilihan yang tepat (19).
Variabel Perhatian setelah Transaksi (Concern Over the Deal) terdiri dari 3 faktor
yaitu terkejut bahwa telah melakukan kesalahan dengan persetujuan yang dibuat (20),
telah melakukan suatu ketololan (21), terkejut bahwa tenaga penjual telah membuat
2. Menguji variabel-variabel yang telah ditentukan dengan menggunakan metode
Bartlett test of sphercity serta pengukuran MSA (Measure of Sampling Adequacy).
Hipotesis untuk signifikansi adalah:
Ho = Sampel (variabel) belum memadai untuk dianalisis lebih lanjut
Hi = Sampel (variabel) sudah memadai untuk dianalisis lebih lanjut
Kriteria dengan melihat probabilitas (signifikan):
Angka Sig.>0,05 maka Ho diterima
Angka Sig,<0,05 maka Ho ditolak
Angka MSA berkisar antara 0 sampai 1, dengan kriteria:
MSA-1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain
MSA>0,5, variabel masih bisa diprediksi dan bisa dianalis lebih lanjut
MSA<0,5, variabel tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisis lebih lanjut, atau
dikeluarkan variabel lainnya.
Dasar MSA ini akan digunakan untuk menganalisis setiap variabel.
3. Hasil Anti Image Matrics perlu diperhatikan, khususnya pada angka korelasi yang
bertanda a (arah diagonal dari kiri atas ke kanan bawah). Dengan kriteria angka MSA
seperti dibahas di atas, maka apabila terlihat MSA variabel tidak memenuhi batas 0,5
maka variabel tersebut dikeluarkan kemudian pengujian diulang lagi. Misal ada lebih
dari satu variabel yang mempunyai MSA di bawah 0,5 maka yang dikeluarkan adalah
variabel dengan MSA terkecil, dan tentunya proses pengujian tetap diulang.
4. Melakukan proses inti pada analisis faktor, yakni factoring atau melakukan ekstraksi
terhadap sekumpulan variabel yang ada, sehingga terbentuk satu atau lebih faktor.
Banyak metode untuk melakukan proses ekstraksi, namun metode yang digunakan
pada penelitian ini adalah metode yang paling populer digunakan yaitu Principal
5. Interpretasi atas faktor yang telah terbentuk, khususnya memberi nama atas faktor
yang terbentuk tersebut yang dianggap bisa mewakili variabel-variabel anggota faktor
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Jurnal penelitian dengan judul “Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif Konsumen
Pemilik Mobil Toyota Avanza” dilakukan oleh Edwin Japarianto(2006), staf pengajar
Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Petra, Surabaya. Penelitian ini mencoba untuk melihat
pembentukan Disonansi Kognitif konsumen pada saat mereka memutuskan untuk membeli
mobil Toyota Avanza. Disonansi kognitif memiliki tiga demensi yaitu, emotional, wisdom of
purchase, concern over thedeal. Emotional ditinjau dari putus asa, menyesal, kecewa dengan
diri anda sendiri, takut, hampa, marah dengan diri sendiri, muak dan mendapat masalah.
Wisdom of purchase ditinjau dari sangat membutuhkan mobil merek Toyota Avanza, perlu
membeli mobil merek Toyota Avanza, telah membuat pilihan yang tepat, telah melakukan hal
yang tepat untuk membeli mobil merek Toyota Avanza, sedangkan concern over the deal
ditinjau dari tidak merasa telah melakukan suatu ketololan, Tenaga Penjual tidak membuat
mereka bingung, merasa nyaman dengan persetujuan yang telah dibuat. Menggunakan
Analisis faktor hasil penelitian memunculkan 3 faktor utama pembentuk disonansi yaitu:
pilihan tepat, keputusan tepat, persetujuan tepat.
Manalu (2008) dengan judul penelitian “Analisis Pembentukan Disonansi Kognitif
(Cognitive Dissonance) Konsumen Pemilik Ponsel Nokia berkamera pada Mahasiswa
Fakultas Ekonomi Universitas Nomensen Medan”. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor-faktor yang membentuk Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance)
Konsumen Pemilik Ponsel Nokia berkamera pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas
Nomensen Medan dan juga untuk mengetahui faktor-faktor utama yang membentuk
Pada penelitian ini data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner yang
pengukurannya menggunakan skala likert dan diolah secara deskriptif dan statistik melalui
analisis faktor yang menggunakan SPSS versi 14 for windows.
Hasil analisa faktor memunculkan lima faktor utama pembentuk disonansi yaitu: tiga
faktor yang paling mampu membentuk Emosional (Emotional) adalah 3 faktor, yaitu Faktor
keputusan tepat , faktor 2 harapan tepat, faktor 3 perasaan tepat, satu faktor yang paling
mampu membentuk Kebijaksanaan Pembelian (Wisdom of Purchase) adalah faktor 4
keputusan tepat. Satu faktor yang paling mampu membentuk Perhatian setelah Transaksi
(Concern Over the Deal) adalah faktor 5 persetujuan tepat.
Nasution (2008) dengan judul penelitian “ Analisis pembentukan Disonansi Kognitif
Konsumen Pemilik Mobli Isuzu Panther pada PT Isuindomas Putra Medan”. Tjuan Penelitian
ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk disonansi kognitif konsumen
pemilik mobil Isuzu Panther pada PT Isuindomas putra dan juga untuk mengetahui
faktor-faktor utama yang membentuk disonansi kognitif konsumen pemilik mobil Isuzu Panther
pada PT Isuindomas Putra.
Pada penelitian ini data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner yang
pengukurannya menggunakan skala Likert dan diolah secara deskriptif dan statistik melalui
analisis faktor yang menggunakan SPSS versi 14 for windows.
Berdasarkan hasil penelitian melalui analisis faktor diketahui bahwa ke-22 faktor dari
dimensi emosional,kebijaksanaan pembelian dan perhatian setelah transaksi mempunyai
pengaruh negatif terhadap pembentukan disonansi kognitif konsumen pemilik mobil Isuzu
Panther pada PT isuindomas Putra Medan atau dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif
konsumen pemilik mobil Isuzu Panther rendah.Sedangkan dari 22 faktor dapat direduksi
menjadi 5 faktor utama yaitu pilihan tepat,harapan tepat,perasaan tepat,keputusan tepat,dan
B. Produk
Menurut Kotler (2003: 9), produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan
kepada pasar yang bertujuan untuk memuaskan suatu kebutuhan dan keinginan.
1. Atribut Produk
Menurut Kotler (2003:127) “Atribut produk adalah unsur-unsur yang melekat pada
sebuah produk berwujud maupun produk tidak berwujud. Atribut produk berwujud antara
lain meliputi: desain, warna, ukuran, kemasan, dan sebagainya. Sedangkan atribut produk
yang tidak berwujud antara lain meliputi: harga, jasa, atau layanan dan kualitas.”
2. Pengembangan Produk
Pengertian pengembangan produk oleh Radio Sunu (1990: 31): “Usaha peningkatan
penjualan dengan cara mengembangkan produk yang lebih baik untuk pasar yang
dikuasai sekarang melalui usaha”:
a. Mengembangkan fitur baru pada produk melalui usaha adaptasi, modifikasi,
memperbesar atau memperkecil kombinasi fitur produk.
b. Membuat produk dengan kualitas yang berbeda-beda.
c. Menambah produk dengan model dan ukuran lain.
3. Diferensiasi Produk
Diferensiasi adalah aktivitas untuk mendesain produk agar memiliki ciri khas yang
membedakannya dengan produk pesaing. Dalam pemasaran, diferensiasi produk adalah
kegiatan memodifikasi produk agar menjadi lebiha menarik. Diferensiasi ini memerlukan
penelitian pasar yang cukup serius agar dapat benar-benar berbeda maka diperlukan
pengetahuan tentang produk pesaing. Diferensiasi produk biasanya hanya mengubah
sedikit karakter produk, antara lain kemasan atau tema promosi tanpa mengubah
Tujuan dari strategi diferensiasi adalah mengembangkan positioning yang tepat sesuai
keinginan konsumen potensial yang ingin dituju. Jika pasar melihat perbedaan produk anda
dengan produk pesaing, anda akan lebih mudah mengembangkan marketing mix untuk
produk tersebut.
Diferensiasi produk yang berhasil adalah diferensiasi yang mempu mengalihkan basis
persaingan dari harga ke faktor lain, seperti karakteristik produk, strategi distribusi atau
variabel-variabel promotif lainnya. Kelemahan dari diferensiasi adalah perlunya biaya
produksi tambahan dan iklan besar-besaran (Http://kopisusu.wordpress.com).
Menurut Kotler (2003:60) cara melakukan diferensiasi adalah sebagai berikut:
b. Produk (fitur, performa, kesesuaian, daya tahan, keandalan, kemapuan untuk diperbaiki,
gaya, desain).
c. Jasa (pengiriman, pemasangan, pelatihan bagi pelanggan, konsultasi, perbaikan).
d. Tenaga kerja (kompensasi, keramahan, kredibiklitasm keandalan, kecepatan, dan
kemampuan dalam memberikan respon, skill dalam berkomunikasi).
e. Citra (simbol, media tertulis dan audio/video, suasana, peristiiwa).
Mowen dan Michael (2002:55), mengatakan bahwa diferensiasi produk (product
differentiation) adalah proses memanioulasi bauran pemasaran untuk menempatkan sebuah
merek, sehingga pera konsumen dapat merasakan perbedaan yang berarti antara merek
tersebut dengan merek pesaing.
4. Macam-macam Diferensiasi
Menurut Kotler (2003: 329-332), diferensiasi produk dapat dibedakan menjadi:
a. Bentuk
b. Keistimewaan
d. Mutu Kesesuaian
e. Daya Tahan
f. Keandalan
g. Mudah Diperbaiki
h. Gaya
i. Rancangan
C. Perilaku Konsumen
Menurut Nugroho (2003:3): “Perilaku Konsumen adalah tindakan yang langsung
terlibat dalam mendapatkan,mengkonsumsi,dan menghabiskan produk atau jasa,termasuk
proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini.”
Menurut American Marketing Association “Perilaku konsumen merupakan interaksi
dinamis antara afeksi dan kognitif,perilaku,dan lingkungannya dimana manusia melakukan
kegiatan pertukaran dalam hidup mereka.” Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku
konsumen dalam memilih maupun membeli suatu produk pasti melalui proses yang cukup
rumit.Dikatakan rumit karena banyak variasai produk dan infromasi baik positif dan negatih
suatu produk.
D. Buying Behavior
Menurut Kotler (2003: 201) definisi dari Buying Behavior adalah sebagai berikut: “A
Significant differences between brand few differences between brand”.
Kotler membagi Buying Behavior kedalam empat tipe sebagai berikut:
Complex Buying Behavior memerlukan keterlibatan yang tinggi dalam pembelian dengan
berusaha menyadari perbedaan-perbedaan yang jelas di antara merek-merek yang ada.
Biasanya konsumen tidak tahu terlalu banyak tentang kategori produk dan harus berusaha
untuk mengetahuinya. Sehingga pemasar harus menyusun strategi untuk memberikan
informasi kepada konsumen tentang atribut produk, kepentingannya, tentang merek
perusahaan, dan atribut penting lainnya.
2. Dissonance Reducing Buying Behavior
Dissonance reducing buying behavior mempunyai ketrlibatan yang tinggi dan konsumen
menyadari hanya terdapat sedikit perbedaan di antara berbagai merek. Pembeli biasanya
mempunyai respon terhadap harga atau yang memberikan kenyamamanan. Konsumen
akan memperhatikan informasi yang mempengaruhi keputusan pembelian mereka.
3. Habitual Buying Behavior
Dalam Habitual buying behavior, konsumen membeli suatu produk berdasarkan
kebiasaan, bukan berdasarkan kesetiaan terhadap merek. Pemasar dapat membuat
keterlibatan antara produk dan konsumennya, misalnya dengan menciptakan produk yang
melibatkan situasi atau emosi personal melalui iklan. Misalnya dengan memberi
tambahan vitamin pada minuman, dan sebagainya.
4. Variety Seeking Buying Behavior
Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, namun masih terdapat perbedaan merek
yang jelas. Perilaku demikian biasanya terjadi pada produk-produk yang sering dibeli,
D. Cognitive Dissonance
Menurut Salomon (2001:42), Teori Disonansi Kognitif adalah salah satu dari
pendekatan terhadap tingkah laku yang paling penting berdasarkan pada prinsip konsistensi.
Menurut Salomon, Teori Disonansi Kognitif mengemukakan bahwa orang termotivasi untuk
mengurangi keadaan negatif dengan cara membuat keadaan sesuai satu dengan yang lainnya.
Elemen kognitif adalah sesuatu yang dipercayai oleh seseorang bisa berupa dirinya sendiri,
tingkah lakunya, atau juga pengamatan terhadap sekelilingnya. Pengurangan disonansi dapat
timbul baik dengan menghilangkan, menambah, atau mengganti elemen-elemen kognitif.
Cognitive dissonance dideskriipsikan sebagai suatu kondisi yang membingungkan,
yang terjadi pada seseorang ketika kepercayaan mereka tidak sejalan bersama. Kondisi ini
mendorong mereka untuk merubah pikiran, persaan, dan tindakan mereka agar sesuai dengan
pembaharuan. Disonansi dirasakan ketika seseorang berkomitmen pada dirinya sendiri dalam
melakukan suatu tindakan yang tidak kosisten dengan perilaku dan kepercayaan mereka ayng
lainnya (East, 2001: 178).
Menurut Festinger, Cognitive Dissonance Theory dibentuk dalam dua konsep yaitu:
1. Seseorang lebih suka untuk konsekuen dengan cognitions mereka dan tidak suka menjadi
tidak konsisten dalam pemikiran, kepercayaan, emosi, nilai, dan sikap.
2. Disonansi terbentuk dari ketidaksesuaian psychological, lebih dari ketidaksesuaian akan
meningkatkan disonansi yang lebih tinggi.
Disonansi adalah konsep psycological yang mendorong seseorang untuk melakukan
tindakan dan mengharapkan dampak yang bisa diukur. Adanya informasi baik informasi yang
positif maupun negatif akan membuat konsumen merasa dihadapkan pada suatu kondisi yang
membingungkan, dimana kepercayaan mereka tidak sejalan bersama. Hal inilah yang akan
Biasanya, pembeli akan mengalami kecemasan purna beli pada setiap pembelian yang
dilakukan kecuali pembelian yang sudah rutin. Leon Festinger memberi nama keadaan cemas
ini sebagai disonansi kognitif. Dia berteori bahwa manusia berusaha ciptakan harmoni di
dalam dan ketaatan asas (consistency) dalam kognisinya (pengetahuan, sikap, keyakinan,
nilai-nilai). Setiap penyimpangan dlam kognisi-kognisi ini disebut disonansi.
Disonansi kognitif purna beli terjadi karena setiap alternatif yang dihadapi oleh
konsumen mempunyai kelebihan dan kekurangan. Biasanya setelah keputusan beli dibuat,
masalah yang dihadapi konsumen adalah alternatif yang dipilih memperulihatkan kekurangan
sedangkan alternatif yang ditolak justru menunjukkan beberapa faktor yang menarik. Artinya,
aspek-aspek negative dari barang yang terpilih dengan aspek-aspek positif dari produk yang
ditolak menimbulkan disonansi kognitif bagi pembeli.
Festinger kemudian mengembangkan beberapa hipotesa tentang intersitas dari
disonansi kognitif. Disonansi meningkat bila:
a. nilai uang dari pembelian meningkat
b. daya tarik relatif (relative attractiveness) dari alternatif yang tak dipilih meningkat
c. nilai penting relatif dari keputusan meningkat (membeli sebuah rumah atau mobil lebih
banyak menimbulkan disonansi dibandingkan hanya membeli sebuah permen).
Beberapa kesimpulan umum yang berguna dapat dikembangkan dari teori ini.
Misalnya, segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh penjual dlam periklanan mereka atau
penjualan ke perorangan yang bertujuan untuk meyakinkan pembeli dengan menekankan
aspek-aspek yang menarik dari sebuah produk akan mengurangi disonansi. Pengurangan ini
akan menguntungkan konsumen dan menambah kemungkinan untuk terjadinya pembelian
ulang, (William,2001:166-167).
Penelitian 22 item yang didesain oleh Sweeney, Hausknecht dan Soutar
(2000:369-385) menyatakan bahwa Cognitive Dissonance dapat diukur dengan tiga dimensi yaitu:
Emotional, Wisdom of Purchase, dan Concern Over the Deal. Emotional adalah
ketidaknyamanan psikologis yang dialami seseorang terhadap keputusan pembelian. Wisdom
of purchase adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah transaksi pembelian,
dimana mereka bertanya-tanya apakah mereka telah memilih produk yang sesuai. Concern
Over the Deal adalah ketidaknyamanan yang dialami seseorang setelah transaksi pembelian,
dimana mereka bertanya apakah mereka telah dipengaruhi oleh tenaga penjual yang
bertentangan dengan kemauan atau kepercayaan mereka. Dimensi ini menghasilkan 22 item
yang dapat digunakan untuk mengukur Cognitive Dissonance. Tiga dimensi dari 22 item
tersebut bukan hal yang baru untuk mengukur Cognitive Dissonance karena sudah digunakan
Soutar dan Sweeney (2000:227-247) untuk mengukur Cognitive Dissonance pada penelitian
sebelumnya.
2. Postpurchase Dissonance
Berdasarkan Teori Cognitive Dissonance, ketidaksenangan atau ketidaksesuaian
muncul ketika seseorang konsumen memegang pemikiran yang bertentangan mengenai suatu
kpercayaan atau suatu sikap. Contohnya: ketika konsumen telah membuat suatu komitmen
memberi uang muka atau memesan sebuah produk, terutama sekali untuk produk yang mahal
seperti kendaraan bermotor atau komputer. Mereka sering mulai merasa disonansi kognitif
ketika mereka berpikir tentang keunikannya, kualitas positif dari merek yang tidak dipilih.
Dissonansi kognitif yang timbul setelah terjadinya pembelian disebut Postpurchase
Dissonance. Dimana pada postpurchase dissonance, konsumen memiliki perasaan yang tidak
dengan merubah sikap mereka agar sesuai dengan perilaku mereka (Schiffman dan Kanuk,
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Blackberry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh perusahaan Kanada,
Research In Motion (RIM). Didirikan oleh seorang imigran Yunani di kota Waterloo,
Kanada.
A. Sejarah RIM (Research In Motion)
Kisah sukses Research In Motion Ltd, berawal dari seorang pemuda Yunani bernama
Mike Lazardis, yang pada tahun 1967 berimigrasi dari Turki ke Kanada untuk mewujudkan
mimpi dan merubah nasibnya. Ia sempat kuliah di Universitas Waterloo, mendalami Teknik
Elektro, namun karena sesuatu hal ia dikeluarkan.
Pada tahun 1984, dengan modal pinjaman dari teman dan keluarganya, Lazarsis dan
dua temannya mendirikan RIM di Waterloo, Ontario Kanada. Kontrak kerja pertamanya
datang dari General Motor Kanada untuk mengerjakan otomatisasi industri. Pada tahun
pertamanya, dari berbagai kontrak kerja, RIM berhasil mendapatkan penghasilan $1 juta
dengan karyawan sekitar 12 orang.
Pada tahun 1987, RIM menerima kontrak dari Roger Cantel Mobile Comminications,
operator pager dan telepon seluler. Dalam kontraknya, RIM bertugas mencari tahu potensi
dari sistim jaringan digital nirkabel baru yang di kenalkan Ericsson. RIM berhasil membuat
modem radio nirkabel berukuran mini pada tahun 1990. Modem buatan RIM banyak dipakai
oleh perusahaan untuk berbagai produk dari komputer sampai mesin penjual otomatis.
Pada tahun 1991 RIM mengembangkan software untuk mendukung sistim e-mail
nirkabel. RIM bekerja sama dengan dua perusahaan besar seperti Ericsson, dan Anterior
Technologi bertugas menyediakan gateway untuk sistim e-mail sementara RIM akan
meyediakan aplikasi pemograman. Kerjasama tiga pihak ini berhasil menciptakan sistim
e-mail nirkabel dengan konektivitas tak terputus.
Pada tahun 1996, RIM dalam mengembangkan bisnis perangkat e-mail nirkabel
mengenalkan pager yg di beri nama Inter@ctive pager. Saat diluncurkan ke publik tahun
1997, Inter@ctive pager yang dijual seharga $675 menjadi produk yang sangat populer dan
digemari.
Pada tahun 1998 RIM mendapat banyak kontrak untuk membuat Inter@ctive pager
bagi banyak perusahaan besar seperti IBM, Panasonic Corp, Mobile Integrated Technologies,
dan Telxon Corp. Akhhir 1998 RIM mengenalkan versi upgrade dari Inter@ctive pager yang
lebih hebat, kecil, murah dan punya daya tahan lebih lama.
Setelah dua produk Inter@ctive pager sukses di pasaran, akhirnya pada tahun 1999,
RIM memutuskan untuk fokus di perangkat e-mail koorporat dengan mengenalkan produk
barunya, yaitu BlackBerry.Sejak saat itu BlackBerry terus berkembang baik dari sisi
perangkatnya yang makin canggih, solusi layanan, serta perusahaan hardware dan software
yang mendukungnya.
B. Profil Blackberry
BlackBerry ingin dinamakan pocket link sebuah nama yang fungsional tapi
membosankan, kemudian juga hampir dinamakan Strawberry, karena mirip dengan buah
strawberry, tapi terkesan terlalu jinak, Sehingga dinamakan Blackberry, nama yang akrab tapi
cerdas.
Blackberry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004
oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub. Perusahaan Starhub merupakan
pengejewantahan dari RIM yang merupakan rekan utama Blackberry. Di Indonesia, Starhub
operator Indosat. Indosat menyediakan layanan Blackberry Internet Service dan Blackberry
Enterprise Server.
Pasar Blackberry kemudian diramaikan oleh dua operator besar lainnya di tanah air
yakni Excelkom dan Telkomsel. Excelkom menyediakan dua pilihan layanan yaitu
Blackberry Internet Service dan Blackberry Enterprise Server+ (BES+).
BES+ adalah layanan gabungan dari BES dan BIS, ditujukan bagi pelanggan
korporasi sehingga pelanggan dapat menerima dan mengirim email kantor yang berbasis
Microsoft Exchange, Novel Wise, Lotus Domino dan 10 akun e-mail berbasis POP3/IMAP
melalui telepon genggam. Sementara, operator Telkomsel hanya menyediakan Blackberry
sebagai bagian dari layanan korporasi dengan Blackberry Enterprise Server.
Layanan Blackberry hanya bisa diakses melalui smartphone Blackberry saja. Tetapi
seiring dengan berjalannya waktu, ketiga operator ini telah menyediakan fasilitas Blackberry
Connect yang memungkinkan Blackberry Internet Solution diakses melalui smartphone jenis
lain seperti Nokia (N-9500, N-9300, N-9300i, E61), Sony Ericsson P910i, M600i, Palm Treo,
Dopod, dan lainnya.
C. Logo Blackberry
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
D. Jenis-jenis Blackberry
1. BlackBerry Bold 9700 (ONYX)
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.2 Blackberry Onyx
BlackBerry Bold 9700 ONYX Bold II memiliki design yang lebih manis dan lebih
slim ketimbang Bold pertama 9000, designnya lebih mendekati Javelin. Namun memiliki
kemampuan yang oke dengan kecepatan internet wireless 3,6 Mbps HSDPA di jaringan 3G.
Sehingga download data dan browsing aplikasi semakin lebih cepat. Perbedaan yang utama
selain design, di Bold pertama adalah sistem navigasinya, Onyx tidak lagi menggunakan
trackball, tetapi mengandalkan touch-sensitive optical trackpad serta Full QWERTY
keyboard. Ini sama dengan BlackBerry Gemini. Dengan design lebih ramping dan elegan,
serta memiliki kemampuan internet wireless yang kenceng, maka diperkirakan Bold 2 ini
akan mendapatkan pangsa pasar yang lebih maksimal ketimbang Bold 9000, dan desingnya
2. Blackberry Gemini
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.3 Blackberry Gemini
Blackberry Gemini atau yang lebih dikenal dengan nama Blackberry 9300 merupakan
smartphone terbaru yang akan dirilis. Dari segi tampilan ponsel smartphone ini begitu
nampak sama dengan versi Blackberry 8900 Curve, tapi tentunya ada perbedaan dari kedua
ponsel smartphone tersebut, karena BlackBerry Gemini 9300 dibekali dengan layar yang
lebih besar dan telah mendukung fasilitas 3G.
3. Blackberry Javelin
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.4 Blackberry Javelin
Berita terbaru Blackberry kali ini mengangkat informasi tentang Javelin. Secara
membedakan, layarnya jauh lebih lebar dan lega (480 x 360 pixel), tentunya untuk menyaingi
ponsel lain yang memang menawarkan keindahan display yang memanjakan mata. Selain
layar, Javelin sepertinya akan menggunakan prosesor baru, tidak lagi Intel Xscale. Prosesor
bernama ArgonV ini belum kami dapatkan informasi lebih lanjut, apakah juga produk Intel
atau bukan. Fitur lain cukup standar untuk Blackberry. Sayangnya ponsel ini tidak
mengakomodasi keunggulan konektivitas 3G atau HSDPA. Mungkin orang di Amerika
Serikat dan Kanada sudah cukup puas berinternet menggunakan koneksi WiFi yang lebih
handal.
4. Blackberry Storm
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.5 Blackberry Storm
kebanyakan ponsel cerdas dengan fitur layar sentuh, tampilan depan BlackBerry
Storm ini dipenuhi oleh layar LCD-nya yang memiliki luas 3,25 inci. Layar ini ditempatkan
tepat di tengah tampilan depan smartphone ini dengan speaker dan beberapa tombol berada
di bagian atas dan bawah dari layar ini.
BlackBerry Storm ini memiliki layar LCD-nya. Meski lebih kecil dari ukuran layar
iPhone, namun layar Storm ini memiliki resolusi yang lebih tinggi. Dengan resolusi 480 x
terlihat jernih dengan warna-warna yang terlihat 'hidup'. Yang lebih menarik lagi adalah
kemampuan multi-touch screen ini melakukan highlight atau hover tanpa harus memilih
menu tersebut. Artinya untuk memilih aplikasi dari menu Anda harus benar-benar menekan
icon tersebut layaknya Anda menekan tombol. Ini sangat berguna saat Anda harus mengakses
situs dengan tombol navigasi yang saling berdekatan.
5. Blackberry Bold
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.6 Blackberry Bold 9000
BlackBerry Bold 9000 merupakan penyempurnaan dari versi Blackberry sebelumnya
yaitu curve. Hadir dengan dimensi 114 mm x 66 mm x 15 mm, Blackberry Bold 9000
didesain kokoh dan elegan, disesuaikan dengan pasar produknya yaitu kalangan korporat dan
eksekutif muda.
fitur unggulan Blackberry yang unggul yaitu push e-mail, kini Blackberry Bold 9000
juga dilengkapi dengan fitur pencari sinyal wi-fi yang memungkinkannya untuk dapat
satu keunggulan dari Blackberry Bold 9000 dibandingkan handset Blackberry yang satu
generasi dengannya yaitu Blackberry Storm.
6. Blackberry Tour
Sumber: www.mobile88.co.id(20Mei,2010)
Gambar 3.7 Blackberry Tour
Research In Motion (RIM) mengungkap jajaran Blackberry terbarunya dengan nama
Blackberry Tour. Handset terbaru RIM ini ditujukan untuk memenangkan pangsa pasar di
segmen eksekutif maupun konsumen mainstream. BlackBerry Tour diklaim sebagai
persilangan dari Blackberry Curve yang populer di kalangan konsumen umum dengan
BlackBerry Bold yang menyasar pasar korporat. Secara fisik bentuk Tour tidak berbeda
drastis dengan handset BlackBerry lainnya, dengan bentuk candy bar dan juga keberadaan
keyboard QWERTY. Namun Balsillie mengklaim produk BlackBerry Tour adalah langkah
besar bagi RIM. RIM menyebut Tour sebagai 'ponsel dunia' karena handset itu bisa dengan
mudahnya mengakses layanan data dan suara pada jaringan yang berada di luar negara
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Analisis data pada penelitian ini mengunakan uji validitas dan reliabilitas,analisis
deskriptif dan analisis faktor. Uji Validitas dan relibilitas dalam penelitian ini digunakan
untuk melihat apakah angket yang disebarkan layak dilakukan sebagai instrumen penelitian,
jika instrumen tersebut valid dan reliabel maka instrumen penelitian tersebut layak untuk
diukur. Metode analisis deskriptif dalam penelitian ini merupakan uraian atau penjelasan dari
hasil pengumpulan data primer berupa angket yang telah diisi oleh responden. Sedangkan
metode analisis faktor digunakan untuk mereduksi faktor-faktor sehingga masing-masing
variabel dapat diwakili oleh beberapa faktor saja. Berikut ini adalah analisis dan evaluasi data
penelitian menggunakan uji validitas dan reliabilitas,analisis deskriptif dan analisis faktor.
A. Uji Validitas dan Reliabilitas
Kualitas hasil penelitian yang baik sudah semestinya diperoleh jika rangkaian
penelitian dilakukan dengan baik. Perencanaan yang matang mutlak dengan alat penelitian
seperti daftar pertanyaan yang digunakan harus dalam kondisi baik. Valid artinya data-data
yang diperoleh dengan penggunaan instrumen penelitian dapat menjawab tujuan penelitian.
Reliabel artinya data yang diperoleh konsisten atau stabil. Agar data yang diperoleh valid dan
reliabel maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas.Untuk melakukan uji validitas dan
reliabilitas dilakukan terhadap 30 orang sampel.
1. Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan SPSS 15.0 for windows dengan
a. Jika rhitung positif dan rhitung > rtabel maka butir pernyataan tersebut valid.
b. Jika rhitung negative atau rhitung < rtabel maka butir pernyataan tersebut tidak valid.
c. rhitung dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation.
Tabel 4.1
Uji Validitas
Item-Total Statistic
VAR00001 43,9333 151,237 ,428 ,945
VAR00002 44,3000 146,493 ,796 ,939
VAR00003 44,4000 147,214 ,786 ,939
VAR00004 44,4667 150,740 ,608 ,942
VAR00005 44,3000 152,355 ,525 ,943
VAR00006 44,5667 156,392 ,500 ,943
VAR00007 44,2667 147,720 ,713 ,940
VAR00008 44,2667 150,823 ,589 ,942
VAR00009 43,6000 139,214 ,732 ,940
VAR00010 44,1333 147,223 ,683 ,940
VAR00011 44,2667 151,582 ,585 ,942
VAR00012 44,5333 149,982 ,766 ,940
VAR00013 44,5333 152,257 ,625 ,942
VAR00014 44,1333 142,395 ,783 ,939
VAR00015 43,5667 142,944 ,673 ,941
VAR00016 44,0000 146,759 ,776 ,939
VAR00017 44,0667 152,202 ,459 ,944
VAR00018 44,1000 150,714 ,682 ,941
VAR00019 44,1667 149,454 ,652 ,941
VAR00020 44,2667 150,271 ,657 ,941
VAR00021 44,4667 153,982 ,602 ,942
VAR00022 43,9667 147,895 ,675 ,941
Sumber: Hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS versi 15.0, 2010)
Penyebaran kuisioner khusus dalam uji validitas dan reliabilitas diberikan kepada 30
orang diluar responden penelitian. Nilai tabel r dengan ketentuan df = jumlah kasus = 30 dan
tingkat signifikansi sebesar 5%, angka yang diperoleh = 0,361.:
Corrected item total correlation menunjukkan korelasi antara skor item dengan skor
total item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrumen. Untuk mengetahui
yang merupakan nilai rhitung dibandingkan dengan rtabel. Adapun pada α = 0,05 dengan derajat
bebas df = 30, sehingga r (0,05;30), diperoleh rtabel adalah 0,361.
Interpretasi item total statistic adalah:
1. Scale mean if item deleted menerangkan nilai rata-rata total jika variabel tersebut
dihapus, misalnya jika pernyataan (item) 2 dihapus maka rata-rata variabel sebesar 54,3 ;
jika pernyataan (item) 3 dihapus maka rata-rata variabel bernilai 54,2 dan seterusnya.
2. Scale variance if item deleted menerangkan besarnya variance total jika variabel (butir)
tersebut dihapus. Misalnya item 2 dihapus maka besarnya adalah 24.7 sedangkan jika
variabel (butir) item 3 dihapus adalah 26,8 dan seterusnya.
3. Corrected item-total correlation merupakan korelasi antar skor item dengan skor total
item yang dapat digunakan untuk menguji validitas instrumen. Nilai pada kolom
Corrected Item-Total Correlation merupakan nilai rhitung yang akan dibandingkan dengan
rtabel untuk mengetahui validitas pada setiap butir pernyataan. Jumlah kasus adalah 30;
nilai tabel r dengan tingkat signifikansi sebesar 5% adalah 0,361.
Tabel 4.2
R tabel Keputusan
14 0,783 0,361 Valid
15 0,673 0,361 Valid
16 0,776 0,361 Valid
17 0,456 0,361 Valid
18 0,682 0,361 Valid
19 0,652 0,361 Valid
20 0,657 0,361 Valid
21 0,602 0,361 Valid
22 0,675 0,361 Valid
Sumber: Hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS versi 15.0, 2010)
Ketentuan untuk pengambilan keputusan:
1. Jika rhitung > rtable, maka pertanyaan dinyatakan valid.
2. Jika rhitung < rtable, maka pertanyaan dinyatakan tidak valid.
3. rhitung dapat dilihat pada kolom Corrected Item-Total Correlation.
Penulis melakukan pengujian validitas terhadap seluruh pernyataan telah valid yaitu
nilai Corrected item total correlation seluruhnya telah bernilai lebih besar dari 0,361. Maka
seluruh pernyataan dalam penelitian dinyatakan valid.
1. Uji Reliabilitas
Reliabilitas diartikan sebagai keterpercayaan, keterandalan atau konsistensi. Hasil
suatu pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran
terhadap subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, artinya mempunyai konsistensi
pengukuran yang baik, dan suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan SPSS 15 for windows dengan kriteria
sebagai berikut :
a. Jika ralpha positif atau lebih besar dari rtabel maka dinyatakan reliabel.
Hasil pengolahan dari uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.3
Tabel 4.3
Uji Validitas
Item-Total Statistic
Telah salah 43,9333 151,237 ,428 ,945
Putus asa 44,3000 146,493 ,796 ,939
Menyesal 44,4000 147,214 ,786 ,939
Kecewa 44,4667 150,740 ,608 ,942
Takut 44,3000 152,355 ,525 ,943
Hampa 44,5667 156,392 ,500 ,943
Marah1 44,2667 147,720 ,713 ,940
Cemas 44,2667 150,823 ,589 ,942
Kesal 43,6000 139,214 ,732 ,940
Frustrasi 44,1333 147,223 ,683 ,940
Sakit hati 44,2667 151,582 ,585 ,942
Depresi 44,5333 149,982 ,766 ,940
Marah 2 44,5333 152,257 ,625 ,942
Muak 44,1333 142,395 ,783 ,939
Masalah 43,5667 142,944 ,673 ,941
Melakukan hal yang
tidak tepat 44,0000 146,759 ,776 ,939
Merasa tidak
membutuhkan 44,0667 152,202 ,459 ,944
Merasa tidak perlu 44,1000 150,714 ,682 ,941
Merasa pilahan tidak
tepat 44,1667 149,454 ,652 ,941
Persetujuan yang salah 44,2667 150,271 ,657 ,941
Melakukan ketololan 44,4667 153,982 ,602 ,942
Merasa bingung 43,9667 147,895 ,675 ,941
Sumber: Hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS versi 15.0, 2010)
Tabel 4.3. memperlihatkan bahwa semua variabel reliabel karena nilai Cronbach’s Alpha
diatas 0,361.
Tabel 4.4 Reliability Statistic
Cronbach's Alpha N of Items
.944 22
Dari Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa nilai ralpha sebesar 0,944 dan rtabel sebesar 0,80.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ralpha positif dan lebih besar dari rtabel (0,944 > 0,80)
maka kuisioner tersebut dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk penelitian.
Tabel 4.5
Sumber: Hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS versi 15.0, 2010)
Ketentuan untuk pengambilan keputusan yaitu menurut Kuncoro, (2008:40)
menyatakan instrumen dapat dikatakan reliabel (andal) bila memiliki nilai Cronbach Alpha >
0,80. Tabel 4.6 dapat dilihat nilai Cronbach Alpha > 0,80. maka setiap variabel dinyatakan
B.Analisis Deskriptif
1. Deskriptif Responden
Metode ini merupakan suatu metode analisis dimana data yang dikumpulkan
pertama disusun, diklasifikasikan dan dianalisis sehingga akan memberikan gambaran yang
jelas mengenai masalah yang sedang diteliti. Analisis deskriptif dalam penelitian ini
merupakan uraian atau penjelasan dari hasil pengumpulan data primer berupa kuesioner yang
telah diisi oleh responden penelitian. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini diukur
dalam Skala Likert untuk mengetahui 22 item yang membentuk disonansi kognitif konsumen
pemilik ponsel Blackberry pada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Responden penelitian adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Gambaran karakteristik sampel dalam penelitian ini dapat dilihat dari uraian
sebagai berikut:
a. Karakteristik Sampel berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.6 memberikan gambaran mengenai Jenis Kelamin sampel berdasarkan
hasil penelitian melalui kuesioner.
Tabel 4.6
Karakteristik Sampel berdasarkan jenis Kelamin
Karakteristik Jumlah
Responden % Total (%)
Laki-laki 30 30%
Jenis Kelamin
Perempuan 66 70% 100%
Sumber: hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS 15.0, 2010)
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat disimpulkan bahwa yang menjadi responden dalam
penelitian ini yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 30 orang dengan persentase sebesar
30% dan responden perempuan sebanyak 66 orang dengan persentase sebesar 70%. Hal ini
b. Karakteristik Sampel Berdasarkan Tipe Blackberry
Tabel 4.7
Karakteristik Sampel Berdasarkan Tipe Blackberry
Karakteristik Jumlah Responden % Total (%) Curve 23 24%
Sumber: Hasil pengolahan data primer (Kuesioner, SPSS 15.0, 2010)
Berdasarkan Tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa responden dalam penelitian ini yang
memakai ponsel Blackberry dengan tipe Curve sebanyak 24 orang. Responden yang memakai
ponsel Blackberry dengan tipe Bold sebanyak 29 orang. Responden yang memakai ponsel
Blackberry dengan tipe Onyx sebanyak 25 orang. Responden yang memakai ponsel
Blackberry dengan tipe Javelin sebanyak 14 orang. Responden yang memakai ponsel
Blackberry dengan tipe Tour sebanyak 5 orang.
2. Deskriptif Variabel
a. Variabel Emosional
Emosional adalah ketidaknyamanan psikologis yang dialami seseorang terhadap
keputusan pembelian. Indikatornya yaitu setelah melakukan pembelian konsumen
merasakan: telah melakukan sesuatu yang salah (1), putus asa (2),menyesal (3), kecewa
dengan diri sendiri (4), takut (5), hampa (6), marah (7),cemas (8),kesal (9),frustasi (10), sakit
hati (11), depresi (12), marah dengan diri sendiri (13), muak (14), dan mendapat masalah
(15). Tanggapan dari konsumen pemilik ponsel Blackberry
Tabel 4.8