Analisis Perubahan Perolehan Suara Partai Politik pada Pemilu 2004 dan 2009

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERUBAHAN PEROLEHAN SUARA

PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2004 DAN 2009

MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakaan bahwa tesis Analisis Perubahan Perolehan Suara Partai Politik pada Pemilu 2004 dan 2009 adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Maret 2011

Mohammad Sutrisno Hardiono

(3)

Votes in General Election 2004 and 2009. Under Direction of HARI WIJAYANTO, ANANG KURNIA, and ANIK DJURAIDAH.

Base on the ideology, political parties can be grouped into three groups are Nationalist, Religious, and Mixture Political Party. The presence of new parties in each group changed political party votes in general election 2004 to 2009. It was caused by the change in political attitudes of voters. These factors which influenced were gender, residence area, beginner voter, level of educational background, religion (followers), rank of unemployment, percapita montly expenditure, number of poor people, gross regional domestic product, and human development index (region characteristics). The cluster, biplot, and canonical correlation analysis were used to describe the change result vote of three groups political party. The results of this research showed that the change of political party votes were classified into four clusters province. Moreover, the change of votes a political party has a relationship with moslem population percentage, urban population percentage, number of poor people, percapita montly expenditure, gross regional domestic product, and beginner voter percentage. The number of member cluster 1 and 4 was only 1 province were Nanggroe Aceh Darussalam and East Java. In both provinces, the Nationalist Political Party tends to be accepted as the party of their choice. In cluster 3, the number of members was 7 provinces which the people tend to choose the Mixture Political Party. While the cluster 2 has a lot of members (23 provinces) which people tend to choose the Nationalist and Religious Political Party. The results of canonical correlation in cluster 2 show that the change of political party on the Nationalist and Mixture Political Party has relationship with the region

characteristic on the percentage of the male population and the percentage of urban population. Beside that, the cluster 2 has many voter to choose the Nationalist and Mixture Political Party.

(4)

MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO. Analisis Perubahan Perolehan Suara Partai Politik pada Pemilu 2004 dan 2009. Dibimbing oleh HARI WIJAYANTO, ANANG KURNIA, dan ANIK DJURAIDAH.

Pemilihan umum legislatif dilaksanakan sebanyak 10 kali di Indonesia dari tahun 1955 sampai 2009. Menurut asas partai politik (parpol), parpol-parpol dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok parpol, yaitu Parpol Nasionalis, Parpol Agamis, dan Parpol Campuran. Parpol yang termasuk Parpol Nasionalis adalah Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia, Partai Peduli Rakyat Nasional, Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Barisan Nasional, Partai Kedaulatan, Partai Pemuda Indonesia, Partai Demokrasi Pembaruan, Partai Republika Nusantara, Partai Nasionalis Indonesia Marhaenisme, Partai Buruh Sosial Demokrat, Partai Merdeka, Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan, Partai Perjuangan Indonesia Baru, Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia, Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golongan Karya, Partai Patriot, Partai Persatuan Daerah, Partai Pelopor, Partai Karya Perjuangan, dan Partai Indonesia Sejahtera. Parpol-parpol yang tergolong Parpol Agamis adalah Partai Matahari Bangsa, Partai Bulan Bintang, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bintang Reformasi. Sedangkan parpol-parpol yang dapat dikelompokkan kedalam Parpol Campuran adalah Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Sarikat Indonesia.

Komposisi urutan perolehan suara partai politik sering kali berubah ubah seiring dengan perubahan perolehan suaranya. Perubahan perolehan suara parpol diakibatkan oleh perubahan sikap politik pemilih sehingga terjadi perpindahan pilihan parpol. Perpindahan pilihan parpol diduga oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya faktor jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, pemilih pemula, tingkat pendidikan, pemeluk agama, tingkat pengangguran, pengeluaran perkapita bulanan, jumlah penduduk miskin, PDRB, dan indeks pembangunan manusia (karakteristik daerah). Adapun karakteristik daerah yang digunakan di dalam penelitian ini adalah persentase penduduk laki-laki, persentase penduduk perkotaan, persentase pemilih pemula, persentase penduduk tidak tamat perguruan tinggi, persentase penduduk beragama Islam, persentase pengangguran terbuka, pengeluaran perkapita bulanan (x Rp.10.000,-), persentase penduduk miskin, produk domestik regional bruto (x Rp. 1.000.000,-), dan indeks pembangunan manusia. Untuk mengetahui lebih jauh pengaruh dari faktor-faktor tersebut terhadap perubahan perolehan suara partai politik maka perlu adanya suatu analisis statistik yang tepat. Untuk keperluan tersebut, penulis menggunakan analisis gerombol, biplot, dan korelasi kanonik.

(5)

perubahan perolehan suara tiga kelompok parpol (Parpol Nasionalis, Parpol Agamis, dan Parpol Campuran). Hasil yang diperoleh pada tahap ini adalah ketiga kelompok parpol mengalami perubahan perolehan suara. Kelompok Parpol Nasionalis mengalami kenaikan perolehan suara sedangkan kelompok Parpol Agamis dan Parpol Campuran mengalami penurunan perolehan suara.

Tahap kedua, penggerombolan provinsi-provinsi berdasarkan perubahan perolehan suara parpol dan mendiskripsikan karakteristiknya. Penggerombolan provinsi-provinsi tersebut menggunakan analisis gerombol kemudian hasil dari analisis gerombol didiskripsikan berdasarkan karakteristiknya. Pada tahap ini diperoleh hasil bahwa perpindahan pilihan parpol ada hubungannya dengan persentase penduduk beragama Islam, persentase penduduk kota, persentase penduduk miskin, pengeluaran perkapita bulanan, produk domestik regional bruto, dan persentase pemilih pemula. Selanjutnya karakteristik gerombol tersebut dianalisis dengan menggunakan biplot. Hasil dari analisis ini adalah provinsi NAD memiliki penduduk dengan pemeluk agama Islam, pemilih pemula, dan pengangguran terbuka yang relatif cukup besar. Pada provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua, penduduknya mempunyai tingkat kemiskinan dan tidak tamat perguruan tinggi yang relatif cukup tinggi. Sedangkan pada provinsi lainnya, penduduknya banyak tinggal di perkotaan dan mempunyai produk domestik regional bruto, pengeluaran perkapita bulanan, dan indeks pembangunan manusia yang relatif cukup tinggi.

Tahap terakhir adalah menganalisis hubungan kanonik antara perubahan perolehan suara parpol dengan karakteristik daerah. Menurut nasional (32 provinsi) pola hubungan kanoniknya adalah semakin tinggi karakteristik

daerah pada persentase penduduk laki-laki, persentase penduduk beragama Islam, dan indeks pembangunan manusia maka semakin tinggi pula perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran. Sedangkan jika dianalisis menurut gerombol maka gerombol 1, 3, dan 4 tidak bisa dianalisis menggunakan analisis korelasi kanonik karena banyaknya obyek kurang dari banyaknya peubah. Hanya pada gerombol 2 yang bisa dinalisis menggunakan analisis ini. Hasil yang diperoleh dari analisis pada gerombol 2 adalah semakin besar karakteristik daerah pada persentase penduduk laki-laki dan persentase penduduk perkotaan maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara parpol pada parpol nasionalis dan parpol campuran.

(6)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

PARTAI POLITIK PADA PEMILU 2004 DAN 2009

MOHAMMAD SUTRISNO HARDIONO

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Statistika Terapan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

(9)

NRP : G152080144

Program Studi : Statistika Terapan

Disetujui,

Komisi Pembimbing

Ketua

Dr. Ir. Hari Wijayanto, M.Si.

Anggota Dr. Anang Kurnia

Anggota

Dr. Ir. Anik Djuraidah, M.S.

Diketahui,

Ketua Program Studi Statistika Terapan

Dr. Ir. Anik Djuraidah, M.S.

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

(10)

(11)

karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Febuari 2010 ini ialah pemilu legislatif, dengan judul Analisis Perubahan Perolehan Suara Partai Politik pada Pemilu 2004 dan 2009.

Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak Dr. Ir. Hari Wijayanto, M.Si. selaku pembimbing I, bapak Dr. Anang Kurnia. selaku pembimbing II, dan ibu Dr. Ir. Anik Djuraidah, M.S. selaku pembimbing III atas bimbingan, saran, dan waktunya. Disamping itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Ir. I Made Sumertajaya, M.Si. selaku penguji tesis atas masukan dan saranya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada dosen-dosen statistika terutama bapak La Ode Abdulrahman, S.Si., M.Si. yang telah rela berkorban waktunya untuk berdiskusi dan memberikan arahan. Terima kasih kepada Departemen Agama Republik Indonesia (ibu Ida dan ibu Rini) atas dana beasiswa yang diberikan ke penulis.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada istri dan anak-anak, kedua orangtua, kedua mertua, dan seluruh keluarga atas do’a, dukungan dan kasih sayangnya. Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Statistika Terapan angkatan 2008, Statistika, dan Statistika Kelas Khusus atas bantuan dan kebersamaannya.

Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Bogor, Maret 2011

(12)

Penulis dilahirkan di Surabaya pada tanggal 15 Januari 1967 sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, anak dari pasangan bapak Djohar dan ibu Entjup Penulis menyelesaikan pendidikan SD di SDN III Keboledan Wanasari Brebes (1980), SLTP di SMPN III Brebes (1983), SLTA di SMAN 2 Brebes Jawa Tengah pada tahun 1986 dan melanjutkan perkuliahan SI di Universitas Tanjungpura Pontianak Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro. Selama menjadi mahasiswa SI, penulis pernah menjadi guru di MTs Al-Islamiyah Pontianak dengan bidang studi Fisika. Pada tahun 2008 penulis diterima kuliah di program studi Statistika Terapan Pascasarjana (S2) IPB, dengan beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia.

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN... xiv

PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined.

Latar Belakang ... Error! Bookmark not defined.

Tujuan ... Error! Bookmark not defined.

TINJAUAN PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Gerombol ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Biplot ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Korelasi Kanonik ... Error! Bookmark not defined.

METODOLOGI ... 9

Sumber Data... 9

Analisis ... Error! Bookmark not defined.

HASIL DAN PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined.

Deskripsi data ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Gerombol ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Biplot ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Korelasi Kanonik ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Korelasi Kanonik Menurut Nasional ... Error! Bookmark not defined.

Analisis Korelasi Kanonik Menurut Gerombol ... 21

KESIMPULAN DAN SARAN ... Error! Bookmark not defined.

Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined.

Saran ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined.

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1 Gerombol propinsi berdasarkan perubahan perolehan suara parpol . Error! Bookmark not defined.

Tabel 2 Rataan peubah perubahan perolehan suara parpol . Error! Bookmark not defined.

Tabel 3 Peubah karakteristik gerombol ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 4 Koordinat posisi obyek ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 5 Koordinat posisi peubah ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 6 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 7 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut nasional ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 8 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut nasional ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 9 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut nasional ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 10 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut gerombol 2 ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 11 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut gerombol 2 ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 12 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut

gerombol 2 ... Error! Bookmark not defined.

Tabel 13 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut gerombol 2 ... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009... Error! Bookmark not defined.

Gambar 2 Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 dan 2009... Error! Bookmark not defined.

Gambar 3 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut provinsi pada pemilu 2004 dan 2009... Error! Bookmark not defined.

(15)

Gambar 5 Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombolError! Bookmark not defined.

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Persentase perolehan suara parpol pemilu 2004 dan 2009 ... Error! Bookmark not defined.

Lampiran 2 Perubahan perolehan suara parpol ... Error! Bookmark not defined.

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemilihan umum (pemilu) legislatif sudah dilaksanakan sebanyak 10 kali

di Indonesia. Pelaksanaan pemilu tersebut yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977,

1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009. Banyaknya partai politik (parpol)

peserta pemilu 2004 adalah 24 parpol. Komposisi urutan parpol tujuh teratas

berdasarkan perolehan suara nasional adalah Partai Golkar (PG) 21,58%, Partai

Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 18,53%, Partai Kebangkitan Bangsa

(PKB) 8,15%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 7,45%, Partai Demokrat (PD)

7,45%, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 7,20%, dan Partai Amanat Nasional

(PAN) 6,41% (KPU 2004). Adapun pemilu 2009 diikuti 38 parpol peserta pemilu.

PD memperoleh suara tertinggi sebesar 20,85%, kemudian disusul oleh PG

14,45%, PDIP 14,03%, PKS 7,88%, PAN 6,01%, PPP 5,32%, dan PKB

4,94% (KPU 2009).

Menurut asas parpol, parpol-parpol dapat dikelompokkan ke dalam tiga

kelompok parpol (Ismail 2004). Ketiga kelompok tersebut adalah Parpol

Nasionalis (PN), Parpol Agamis (PA), dan Parpol Campuran (PC). PN adalah

parpol-parpol yang berasas nasionalis dalam menjalankan kinerjanya. Asas

yang digunakan untuk PA adalah Islam atau agama lain. Sedangkan PC

adalah parpol-parpol yang berbasis pemeluk agama tertentu namun

asasnya nasionalis.

Berdasarkan pada pemilu 2009, parpol-parpol yang termasuk PN adalah

Partai Hati Nurani Rakyat (PH), Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia

(PPPI), Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), Partai Gerakan Indonesia

Raya (P.Gerindra), Partai Barisan Nasional (PBN), Partai Kedaulatan (PK),

Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai

Republika Nusantara (PRN), Partai Nasionalis Indonesia Marhaenisme

(PNIM), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Merdeka (PM), Partai

Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), Partai Perjuangan Indonesia Baru

(PPIB), Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI), PD, Partai

Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Penegak Demokrasi

(17)

Partai Patriot (P.Patriot), Partai Persatuan Daerah (PPD), Partai Pelopor (PP),

Partai Karya Perjuangan (PKP), dan Partai Indonesia Sejahtera (PIS).

Parpol-parpol yang tergolong PA adalah Partai Matahari Bangsa (PMB),

Partai Bulan Bintang (PBB), PPP, Partai Kebangkitan Nasional Ulama

(PKNU), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), PKS, dan

Partai Bintang Reformasi (PBR). Sedangkan parpol-parpol yang dapat

dikelompokkan kedalam PC adalah PAN, PKB, Partai Kasih Demokrasi

Indonesia (PKDI), Partai Damai Sejahtera (PDS), dan Partai Sarikat Indonesia

(PSI) (Anonim 2008).

Di antara 38 parpol peserta pemilu 2009 diketahui terdapat 14 parpol

pendatang baru. Parpol-parpol baru yang termasuk kedalam PN adalah PH,

PPPI, PPRN, P. Gerindra, PBN, PK, PPI, PDP, PRN, PKP, PIS, PMB, PKNU,

dan PKDI. Sedangkan parpol-parpol pada kelompok PA adalah PMB dan

PKNU. Parpol lainnya yang ada pada PC adalah PKDI.

Kehadiran parpol-parpol baru tersebut, kemungkinan dapat merubah

komposisi perolehan suara parpol sehingga perolehan suaranya dapat

meningkat atau menurun. Perubahan tersebut dapat diakibatkan oleh

perubahan sikap politik pemilih. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan

sikap politik pemilih di antaranya faktor pendidikan, agama, jenis kelamin,

dan umur (karakteristik daerah). Dikarenakan keterbatasan biaya dan data,

penelitian tentang ini masih jarang dilakukan di Indonesia, padahal peta

politik sebuah parpol dapat diketahui melalui penelitian tersebut (LSI 2007).

Oleh karena itu penelitian perubahan perolehan suara parpol perlu dilakukan.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Mendeskripsikan perubahan perolehan suara tiga kelompok parpol (PN, PA,

dan PC).

2. Menggerombolkan provinsi-provinsi berdasarkan perubahan perolehan suara

parpol dan mendeskripsikan karakteristiknya.

3. Menganalisis adanya hubungan kanonik antara perubahan perolehan suara

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Gerombol

Analisis gerombol merupakan analisis statistika peubah ganda yang

digunakan untuk menggerombolkan n buah obyek. Obyek-obyek tersebut

mempunyai p buah peubah. Penggerombolannya berdasarkan kemiripan sifat yang

lebih besar pada obyek yang segerombol dibandingkan dengan obyek gerombol

lain. Banyaknya gerombol adalah kurang dari banyaknya obyek (Dillon

& Goldstein 1984).

Tahap awal dalam melakukan penggerombolan adalah menentukan ukuran

kemiripan antar obyek. Penentuan ukuran kemiripan antar obyek tergantung pada

skala pengukuran. Untuk data yang berskala pengukuran interval dan rasio dapat

digunakan ukuran jarak. Sedangkan untuk data yang berskala pengukuran nominal

dan ordinal dapat dipakai ukuran asosiasi. Ada banyak pengukuran jarak

diantaranya adalah jarak Euclid, city-block, dan Mahalanobis. Penggunaan jarak

Euclid dan city-block memiliki persyaratan bahwa peubahnya harus saling bebas

dan satuannya sama. Sedangkan jarak Mahalanobis tidak mensyaratkan apapun.

Pengukuran jarak yang paling terkenal yaitu jarak Euclid. Jarak antar obyek j dan

k pada jarak ini didefinisikan sebagai , dengan

merupakan data pada obyek ke-j peubah ke-i.

Tahap kedua dalam analisis gerombol adalah menentukan metode

penggerombolan. Metode ini terdiri dari dua macam, yaitu metode hirarki dan

metode non hirarki. Umumnya metode hirarki digunakan untuk obyek yang tidak

besar dan banyaknya gerombol yang diinginkan tidak diketahui. Metode hirarki

terbagi menjadi dua yaitu metode penggabungan (agglomerative) dan pemisahan

(divisive). Metode penggabungan, dimulai dengan asumsi bahwa setiap obyek

merupakan satu gerombol kemudian antar gerombol yang jaraknya berdekatan

bergabung menjadi satu gerombol. Proses penggabungan gerombol ini selalu

diikuti perbaikan matriks jarak. Metode yang paling banyak digunakan adalah

metode pautan tunggal (single linkage), metode pautan lengkap (complete

linkage), metode pautan rataan (average linkage), dan metode ward. Sedangkan

metode pemisahan pada awalnya semua obyek berada dalam satu gerombol

(19)

yang lain. Proses berlanjut sampai semua obyek masing-masing membentuk

satu gerombol.

Hasil analisis gerombol untuk metode hirarki disajikan dalam bentuk

dendogram. Adapun metode non hirarki digunakan apabila banyaknya obyek

relatif besar dan banyaknya gerombol yang diinginkan diketahui. Contoh dari

metode non hirarki adalah k-rataan.

Analisis Biplot

Pada tahun 1971, Gabriel memperkenalkan analisis biplot. Biplot merupakan

analisis eksplorasi data yang dapat digunakan untuk menggambarkan obyek dan

peubah ke dalam satu grafik. Dari grafik biplot dapat dilihat kedekatan antar

objek, kedekatan obyek dengan peubah, dan kedekatan antar peubah.

Analisis biplot diturunkan dari penguraian nilai singular atau singular value

decomposition (SVD) pada matriks data nXp. Matriks ini ditulis sebagai:

nXp = , dengan merupakan nilai pengamatan pada

merupakan matriks identitas berdimensi r.

Unsur-unsur diagonal matriks L disebut nilai singular dari matriks X.

Kolom-kolom matrisks A adalah vektor ciri dari X Xyang berpadanan dengan akar ciri λ.

Persamaan (1) dapat ditulis sebagai:

α

(20)

dengan 0 < α < 1. Misalkan ULα= G dan L1-α

Jika = 0 maka G = U dan H' = LA'. Sehingga obyek akan mengumpul dan

peubah akan menyebar menjauhi titik pusat koordinat biplot. Sedangkan jika nilai

α = 1 maka G = UL dan H' = A'. Keadaan tersebut akan mengakibatkan obyek akan menyebar dan peubah akan mengumpul di sekitar titik pusat koordinat

biplot. Untuk mengatasi hal itu, yang diambil sebesar 0,5 sehingga obyek dan

peubah disajikan dengan baik pada koordinat biplot.

A = H maka persamaan (2) dapat

dinyatakan sebagai X = GH, dengan G merupakan matriks koordinat obyek dan

H merupakan matriks koordinat peubah.

Pada persamaan X = GH, setiap elemen ke (i,j) unsur matriks X dapat

ditulis sebagai , dengan i = 1, 2, …, n dan j = 1, 2, …., p. Jika X

berpangkat dua maka vektor pengaruh baris dan vektor pengaruh lajur dapat

digambarkan dalam ruang berdimensi dua. Persentase keragaman matriks X yang

dapat dijelaskan oleh biplot adalah

,

dengan merupakan akar ciri terbesar pertama dari matriks X X, merupakan

akar ciri terbesar kedua dari matriks X X, dan merupakan akar ciri terbesar

ke-i dari matriks X X. Jika nilai semakin mendekati nilai satu maka biplot yang

diperoleh dan matriks pendekatan berpangkat dua akan memberikan penyajian

yang semakin baik mengenai informasi-informasi yang terdapat pada data yang

sebenarnya.

Analisis Korelasi Kanonik

Analisis korelasi kanonik digunakan untuk melihat keeratan hubungan linier

antara gugus peubah respon dengan gugus peubah bebas (Johnson & Wichern

2002). Pada analisis korelasi kanonik diuraikan struktur hubungan ke dalam gugus

peubah respon, maupun ke dalam gugus peubah bebas. Ide dari analisis ini adalah

mencari pasangan dari kombinasi linier pada peubah respon dan peubah bebas

yang memiliki korelasi terbesar. Selanjutnya pasangan dari kombinasi linier ini

disebut peubah kanonik dan korelasinya disebut korelasi kanonik.

Misalkan gugus peubah respon , , …, dinotasikan sebagai vektor

(21)

peubah X, dengan p ≤ q. Jika nilai harapan dan kovarian dari vektor peubah X

dan Y adalah sebagai berikut:

E(Y) = dengan Cov(Y) =

E(X) = dengan Cov(X) = ,

dan Cov(X,Y) = ,

maka kombinasi linier dari kedua gugus peubah kanonik dapat dituliskan sebagai

berikut:

Untuk menyatakan hubungan keeratan antar gugus peubah respon dan peubah

bebas maka nilai korelasi tersebut memiliki nilai maksimum.

b.

Korelasi kanonik diperoleh dengan menghitung:

Misalkan pasangan pertama dari peubah kanonik adalah kombinasi linear

dan yang memiliki ragam satu dan korelasi yang maksimum. Secara

matematis dinotasikan sebagai berikut :

W1 = a1t X dengan Var (W1) = 1, V1 = b1t Y dengan Var (V1) = 1, dan maksimum Corr (W1,V1) = ρ

Pasangan kedua adalah kombinasi linear dan yang memiliki ragam satu dan

korelasi maksimum kedua serta tidak berkorelasi dengan peubah kanonik yang

pertama. Oleh karena itu kombinasi tersebut membentuk persamaan

Sedangkan pasangan ke-k adalah kombinasi linear dan yang memiliki

(22)

kanonik 1, 2, … , k-1. Dari kombinasi tersebut diperoleh persamaan

Oleh karena itu vektor koefisien a dan b diperoleh sebagai berikut:

dan ,

… … …

dan .

Banyaknya peubah kanonik yang dipilih tergantung pada besarnya nilai

proporsi keragaman. Nilai ini menunjukkan baik tidaknya peubah kanonik yang

dipilih untuk menerangkan keragaman peubah asal. Semakin besar nilai proporsi

keragaman maka semakin baik peubah-peubah kanonik yang dipilih untuk

menerangkan keragaman peubah asal.

Hipotesis yang akan diuji pada analisis korelasi kanonik adalah

H0: ρ1 = ρ2=...= ρk = 0 (semua korelasi kanonik bernilai nol),

H1: ada ρi

-2 lnΛ = n ln = -n ln .

≠ 0 (paling sedikit ada satu korelasi kanonik yang tidak bernilai nol). Hipotesis nol ditolak jika nilai berikut besar:

Untuk kasus contoh besar maka ststistik uji ini diaproksimasi menyebar

khi-kuadrat dengan derajat bebas pq. Barlett menyarankan mengganti n dalam

statistik uji rasio kemungkinan dengan n – 1 - (p + q + 1) untuk mendekati

(23)

diperoleh statistik ujinya adalah B = -[n – 1 - (p + q + 1)] lnΛ, dengan

dan n adalah jumlah pengamatan. Kriteria keputusannya

adalah jika B > χ2α maka H0 ditolak pada taraf signifikansi α , dengan derajat bebas p x q. Sebaran χ2 dapat didekati dengan sebaran F. Sebaran F diperoleh melalui transformasi dari rasio dua peubah acak yang keduanya menyebar χ2. Misalkan dua buah peubah acak yang kontinu U dan V bebas stokastik dan

menyebar χ2

U ~ dan V ~ ,

dengan derajat bebas masing-masing dan atau dapat ditulis

sebagai:

kemudian F = disebut sebaran F dengan derajat bebas dan

(Mendenhall, Wackkerly, Scheaffer 1990) .

Karena , , , dan

maka F = .

Jika | maka ditolak pada taraf nyata (α) yang dipilih.

Penolakan H0 juga dapat dilakukan dengan melihat nilai-p. Jika nilai-p < α maka H0 ditolak.

Jika H0 ditolak pada uji di atas maka dilanjutkan dengan uji hipotesis

berikutnya, yaitu

H0 : ρi = 0 ,

H1 : ρi ≠ 0, untuk i = 1, 2, ..., k.

(24)

METODOLOGI

Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

1. Perolehan suara pemilu legislatif partai peserta pemilu tahun 2004

(KPU 2004).

2. Perolehan suara pemilu legislatif partai peserta pemilu tahun 2009

(KPU 2009).

3. Data karakteristik daerah (BPS 2009) yang meliputi peubah-peubah sebagai

berikut:

(persentase penduduk laki-laki), (persentase penduduk perkotaan),

(persentase pemilih pemula), (persentase penduduk tidak tamat

perguruan tinggi), (persentase penduduk beragama Islam), (persentase

pengangguran terbuka), (pengeluaran perkapita bulanan), (persentase

penduduk miskin), (produk domestik regional bruto), (indeks

pembangunan manusia).

Analisis

Analisis yang digunakan di dalam penelitian ini mengikuti tahapan sebagai

berikut:

1. Pendeskripsian data perolehan suara parpol pemilu 2004 dan 2009.

Pendeskripsian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kelompok parpol

dan partai-partai di dalam kelompok parpol yang diterima oleh masyarakat.

2. Menggerombolkan provinsi-provinsi berdasarkan peubah respon (perubahan

perolehan suara parpol) dengan menggunakan analisis gerombol. Selanjutnya

peubah bebas (karakteristik daerah) dirata-ratakan berdasarkan gerombol

yang telah terbentuk. Tujuan dari penggerombolan ini agar tergambarkan

kelompok parpol dan partai-partai di dalam kelompok parpol yang diterima

oleh masyarakat. Jarak antar gerombol diukur menggunakan jarak Euclid

dengan metode gerombol pautan rataan.

3. Mendeskripsikan rataan karakteristik gerombol dengan menggunakan analisis

(25)

obyek dengan peubah (karakteristik gerombol), dan antar peubah. Selanjutnya

hasil dari analisis ini dibandingkan dengan hasil analisis gerombol.

4. Mengkorelasikan gugus peubah respon (perubahan perolehan suara parpol)

dengan gugus peubah bebas (karakteristik daerah) agar diperoleh gambaran

adanya hubungan antar keduanya. Metode yang digunakan adalah analisis

(26)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi data

Berdasarkan bagian Latar Belakang di atas, pengelompokan parpol menurut

asas dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok parpol. Ketiga kelompok parpol

tersebut adalah parpol nasionalis (PN), parpol agamis (PA), dan parpol campuran

(PC). Perolehan suara tiga kelompok parpol (PN, PA, dan PC) secara nasional

disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004

dan 2009

Perolehan suara PN meningkat dari 61,68 % menjadi 70,06 %. Persentase

PA dan PC mengalami penurunan suara masing-masing sebesar 4,80 % dan 3,58

%. Peningkatan perolehan suara pada PN disebabkan oleh penurunan perolehan

suara PA dan PC. Oleh karena itu, hasil ini mengindikasikan masyarakat lebih

cenderung memilih PN daripada PA dan PC pada pemilu tahun 2009.

Profil ketiga kelompok parpol (PN, PA, dan PC) disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu

2004 dan 2009

0 20 40 60 80

P.Nasionalis P.Agamis P.Campuran

Su

ar

a (

%)

Parpol

2004

(27)

PA dan PC mempunyai kemiripan bentuk sedangkan PN mempunyai bentuk

tersendiri. Perolehan suara PA dan PC turun dari pemilu 2004 ke pemilu 2009,

sedangkan PN mengalami kenaikan perolehan suara dari pemilu 2004 ke pemilu

2009. Oleh karena itu ketiga kelompok parpol mengalami perubahan perolehan

suara.

Perolehan suara PN, PA, dan PC per-provinsi dapat dilihat pada Gambar 3.

(28)

Pada kelompok pertama yaitu PN, semua perolehan suaranya naik kecuali

di provinsi NTT dan Papua. Provinsi yang tertinggi kenaikan perolehan suaranya

adalah NAD. Oleh karena itu masyarakat NAD diindikasikan cenderung

menerima PN.

Pada provinsi Bali, perolehan suara PN tetap tinggi dari pemilu 2004

ke 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Bali cenderung loyal pada

PN. Pada Lampiran 1, perolehan suara PDIP di provinsi Bali terlihat turun cukup

tinggi (12,42%) namun perolehan suara PD naik cukup tinggi pula (11,18%).

Hal ini diindikasikan bahwa ada pemindahan pilihan partai dalam internal PN

yaitu dari PDIP ke PD.

Pada kelompok kedua yaitu PA, perolehan suaranya meningkat di provinsi

Jatim, Jateng, Bali, NTT, dan Papua. Partai lama yang mendominasi dalam

peningkatan perolehan suara pada PA di daerah tersebut adalah PKS. Sedangkan

partai-partai baru (PKNU dan PMB), perubahan perolehan suaranya

masing-masing kurang dari 1 %.

Adapun pada kelompok ketiga yaitu PC, perolehan suaranya meningkat

di provinsi Sulsel, Sultra, Maluku, dan Papua. Partai lama yang mendominasi

dalam peningkatan perolehan suara pada PC di daerah tersebut adalah PAN

(3,77 %). Sedangkan partai baru (PKDI) perubahan perolehan suaranya kurang

dari 1 %.

Penyebab menurunnya perolehan suara PA adalah suara PBB, PBR, PDS,

PPP, dan PNUI menurun walaupun PKS naik. Kemudian perolehan suara PC

menurun dikarenakan lebih banyak perolehan suara partai-partai yang turun dari

pada yang naik.

Analisis Gerombol

Selisih perolehan suara 3 kelompok parpol pemilu 2004 dengan 2009 setiap

provinsi digerombolkan dengan analisis gerombol. Nilai ini diartikan sebagai

perubahan perolehan suara parpol. Untuk mengukur kemiripan perubahan

perolehan suara parpol antar provinsi digunakan jarak Euclid. Sedangkan metode

yang digunakan di dalam penggerombolan di atas adalah pautan rataan. Metode

ini cenderung menghasilkan gerombol dengan keragaman yang kecil (Udiyani

(29)

Hasil penggabungan gerombol yang terbentuk dari metode ini disajikan

dalam dendogram. Dendogram tersebut dapat dilihat pada Gambar 4. Untuk

menentukan banyaknya gerombol dilakukan pemotongan pada dendogram.

Pemotongan dilakukan pada jarak antar gerombol yang terjauh yaitu

kira-kira antara 1.15 sampai dengan 1.5.

Gambar 4 Dendogram hasil analisis gerombol berdasarkan perubahan

perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009

Prosedur tersebut menghasilkan 3 gerombol dimana 2 gerombol mempunyai

anggota masing-masing 1 provinsi sementara itu gerombol lainnya mempunyai

anggota 30 provinsi. Sehingga pemotongan pada jarak tersebut tidak

menghasilkan gerombol dengan anggota yang seimbang. Selanjutnya pemotongan

dendogram pada jarak penggabungan berikutnya yaitu pada jarak 1 itu relatif

cukup seimbang dibandingkan dengan pemotongan di atas. Anggota

masing-masing gerombol disajikan pada Tabel 1.

Gerombol 1 dan 4 beranggotaan satu provinsi. Sedangkan Gerombol 2

memiliki anggota 23 provinsi dan gerombol 3 mempunyai anggota 7 provinsi.

Sedangkan gerombol 4 anggotanya adalah provinsi Jatim. Rataan perubahan

perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009 disajikan pada Tabel 2.

(30)

Tabel 1 Gerombol provinsi berdasarkan perubahan perolehan suara parpol

dari tahun 2004 ke 2009

Gerombol Provinsi

1 NAD.

2

Sumut, Jabar, Bengkulu, Sumsel, Kalteng, Kaltim, Banten, Kalsel, NTB, Sumbar, Malut, Babel, DKI, Kepri, DIY, Jateng, Sulut, Riau, Jambi, Kalbar, Lampung, Sultra, dan Maluku.

3 Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua.

4 Jatim.

Tabel 2 Rataan peubah perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004

ke 2009

Gerombol Perubahan perolehan suara parpol PN PA PC

1 28,31 -18,76 -9,56

2 9,90 -6,02 -3,89

3 -0,28 -0,28 0,42

4 14,34 4,34 -18,68

Secara umum, perubahan perolehan suara parpol dari tahun 2004 ke 2009

pada gerombol 1, 2, dan 4 cukup dinamis. Perubahan perolehan suara PN bernilai

positif. Oleh karena itu PN mengalami kenaikan perolehan suara dari pemilu 2004

ke 2009. Sedangkan perolehan suara PA dan PC menjadi turun, kecuali pada

gerombol 4 PA naik sekitar 4,34 %.

Perpindahan pilihan parpol dari PA dan PC ke PN terjadi pada gerombol

1. Gerombol ini memiliki satu anggota yaitu provinsi NAD. Pada provinsi NAD,

PN memiliki perubahan perolehan suara parpol yang tinggi. Hal ini

mengindikasikan bahwa masyarakat NAD cenderung menerima PN. Partai-partai

yang mendominasi pada PN adalah PD 34,75, kemudian disusul oleh P. Hanura

(2,41), P. Gerindra (2,02), dan PPRN (1,32 %).

Perpindahan pilihan parpol dari PA dan PC ke PN juga terjadi pada

gerombol 2. Perolehan suara PA dan PC berpindah ke PN. Semua provinsi

mengalami kenaikan perolehan suara parpol yang cukup tinggi pada PN dengan

rataan sebesar 9,90 %. Provinsi dengan kenaikan yang tertinggi adalah DKI

(16,90 %). Ini berarti bahwa masyarakat pada gerombol ini cukup tinggi

(31)

menonjol adalah PD (11,44 %) kemudian disusul oleh P. Gerindra (4,12 %),

P. Hanura (4,11 %), dan PPRN (1,50 %).

Perubahan perolehan suara parpol terlihat statis pada gerombol 3. Kekuatan

perubahannya agak berimbang di semua kelompok parpol. Hal ini sesuai dengan

yang disajikan pada Gambar 3. Ini berarti bahwa masyarakat di provinsi Bali,

Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel, NTT, dan Papua cenderung memiliki sikap

yang cukup loyal terhadap pilihan partainya.

Gerombol 4 memiliki satu anggota yaitu provinsi Jatim. Perpindahan pilihan

parpol terjadi pada PC ke PN dan PA. Pada gerombol ini, PN mengalami

kenaikan yang cukup tinggi sebesar 14,34 %. Sedangkan PA mengalami kenaikan

4,34 %. Partai yang menonjol pada gerombol 4 secara urutan tertinggi adalah

PD (13,06 %), PKNU (4,60 %), P. Gerindra (4,46 %), PKS (2,37 %), dan

P. Hanura (2,36 %).

Berdasarkan uraian di atas, kenaikan perolehan suara parpol terbesar terjadi

pada PN. Dominasi partai-partai pada PN adalah PD, P. Gerindra, dan P. Hanura.

Kenaikan perolehan suara parpol masing-masing partai tersebut secara nasional

adalah 13.40 %, 4,46 %, dan 3,77%. P. Gerindra dan P. Hanura tergolong dalam

partai Baru. Diindikasikan bahwa kedua parpol baru tersebut memperoleh

suaranya dari Partai Golkar. Hal ini dikarenakan perolehan suara Partai Golkar

turun sebesar 7,13 %. Indikasi ini diperkuat dengan adanya pimpinan puncak

kedua partai tersebut berasal dari pimpinan pusat PG (Sumarsono 2009).

Peubah bebas (karakteristik daerah) dirata-ratakan menurut penggerombolan

di atas. Hasil rataan tersebut dinamakan peubah karakteristik gerombol. Tabel 3

berisi tentang peubah karakteristik gerombol.

Tabel 3 Peubah karakteristik gerombol

Gerombol Peubah karakteristik gerombol

1 50 28,75 17,57 97,50 99,85 9,56 38,21 23,53 17,12 70,40

2 51 40,57 15,87 96,63 82,31 7,99 41,65 13,63 21,66 71,40

3 51 27,77 14,68 97,47 48,16 5,53 33,34 23,32 13,97 67,00

4 49 40,88 13,35 97,00 90,00 6,42 33,20 18,51 16,76 69,80

Gerombol 1 memiliki peubah yang menonjol pada dan . Dengan

(32)

persentase penduduk miskin yang tinggi. Peubah yang menonjol pada gerombol 2

yaitu , , dan . Oleh karena itu gerombol 2 memiliki penduduk

yang banyak tinggal di perkotaan dengan pengeluaran perkapita bulanan dan

PDRB yang cukup tinggi . Sedangkan gerombol 3 mempunyai peubah yang

menonjol pada . Itu berarti provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar, Sulsel,

NTT, dan Papua memiliki persentase penduduk miskin yang tinggi. Peubah

dan yang menonjol dan peubah yang kecil terdapat pada gerombol 4.

Dengan demikian Jatim adalah provinsi yang penduduknya banyak tinggal

diperkotaan dan persentase penduduk beragama Islam yang tinggi serta persentase

pemilih pemula yang rendah.

Berdasarkan Tabel 2 dan Tabel 3, perpindahan pilihan dari parpol agamis

dan parpol campuran ke parpol nasionalis yang cukup tinggi ada hubungannya

dengan persentase penduduk beragama Islam, persentase penduduk miskin,

pengeluaran perkapita bulanan, PDRB, dan persentase penduduk perkotaan yang

cukup tinggi pula. Sedangkan perpindahan pilihan dari parpol nasionalis dan

parpol agamis ke parpol campuran yang rendah ada hubungannya dengan

persentase penduduk miskin yang cukup tinggi. Adapun perpindahan pilihan dari

parpol campuran ke parpol nasionalis dan parpol agamis yang cukup tinggi ada

hubungannya dengan persentase penduduk perkotaan dan persentase penduduk

beragama Islam yang cukup tinggi, dan persentase pemilih pemula yang rendah.

Analisis Biplot

Karakteristik gerombol pada Tabel 3 dianalisis dengan menggunakan biplot.

Hasil analisis biplot berdasarkan karakteristik gerombol diperoleh akar ciri

sebagai berikut = 1589,84, = 205,86 , = 68,67 , dan = 0,63. Koordinat

posisi obyek dan peubah masing-masing disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4 Koordinat posisi obyek

Gerombol Dimensi 1 Dimensi 2

1 2,98 2,57

2 0,67 -2,49

3 -5,27 0,85

(33)

Tabel 5 Koordinat posisi peubah

Peubah Dimensi 1 Dimensi2

-0,16 -0,05

0,82 -2,89

0,18 0,40

-0,03 0,18

6,16 0,62

0,38 0,24

0,50 -0,56

-0,34 2,03

0,48 -0,95

0,44 -0,34

Keterangan: Dimensi 1 adalah sumbu utama pertama (sumbu horizontal) dan

dimensi 2 adalah sumbu utama kedua (sumbu vertikal).

Grafik biplot berdasarkan karakteristik gerombol disajikan pada Gambar 5.

Keragaman yang dapat dijelaskan dalam biplot sebesar 96,33 %. Sumbu utama

pertama memberikan kontribusi sebesar 85,13 % dari total keragaman yang dapat

diterangkan, sedangkan sumbu utama kedua memberikan kontribusi sebesar

11,20 %.

(34)

Berdasarkan titik koordinat obyek hasil biplot, gerombol 1 dicirikan oleh

, , dan . Oleh karena itu provinsi NAD memiliki penduduk dengan

pemeluk agama Islam, pemilih pemula, dan pengangguran terbuka relatif cukup

besar. Sedangkan gerombol 2 dan 4 dicirikan oleh , , , dan . Hal ini

menunjukkan bahwa penduduk pada provinsi-provinsi yang termasuk gerombol

ini banyak tinggal di perkotaan dan mempunyai produk domestik regional bruto,

pengeluaran perkapita bulanan, dan indeks pembangunan manusia yang relatif

cukup tinggi. Pada gerombol 3 yaitu provinsi Bali, Gorontalo, Sulteng, Irjabar,

Sulsel, NTT, dan Papua, penduduknya mempunyai tingkat kemiskinan ( ) dan

tidak tamat perguruan tinggi yang relatif cukup tinggi ( ).

Analisis Korelasi Kanonik

Analisis Korelasi Kanonik Menurut Nasional

Hasil analisis korelasi antara peubah respon (perubahan perolehan

suara parpol dari tahun 2004 ke 2009) dengan peubah bebas (karakteristik

daerah) menurut nasional (32 provinsi) disajikan pada Tabel 6. Perubahan

perolehan suara PN ( ) memiliki hubungan yang linier cukup erat dengan

persentase penduduk beragama Islam ( ). Sedangkan perubahan perolehan

suara PA ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase

pemilih pemula ( ) . Adapun perubahan perolehan suara PC ( ) memiliki

hubungan linier yang cukup erat dengan persentase penduduk perkotaan ( ).

Tabel 6 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional

Peubah

Uji hipotesis korelasi kanonik secara keseluruhan menghasilkan nilai statistik

uji Wilks’lambda sebesar 0,096 dengan nilai-p sebesar 0,0034. Apabila α yang

digunakan sebesar 0,05 maka nilai-p ini kurang dari nilai α. Hal ini berarti bahwa

ada korelasi kanonik yang signifikan. Dengan demikian korelasi kanonik yang

(35)

Selanjutnya uji sebagian dilakukan untuk memperoleh peubah kanonik yang

dapat diambil. Hasil uji ini disajikan pada Tabel 7. Korelasi kanonik dari gugus

peubah bebas dengan peubah respon menghasilkan 3 buah peubah kanonik yang

cukup tinggi yaitu, 0,85, 0,74, dan 0,72.

Tabel 7 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut nasional

Peubah

kanonik Korelasi Kanonik Proporsi Nilai-P

1 0,85 0,63 0,0034

2 0,74 0,29 0,1143

3 0,50 0,08 0,5425

Berdasarkan kontribusi keragaman yang dapat dijelaskan oleh peubah

kanonik pertama, kedua, dan ketiga masing-masing menjelaskan keragaman total

63 %, 29 %, dan 8 %. Oleh karena itu kontribusi keragaman yang cukup tinggi

adalah pada peubah kanonik yang pertama. Jika α diambil 0,05 maka korelasi

kanonik yang pertama berbeda nyata dengan nol. Dengan demikian korelasi

kanonik yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara gugus peubah

respon dengan peubah bebas adalah satu korelasi kanonik saja.

Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas pada 32 provinsi

disajikan pada Tabel 8. Peubah respon (Y) yang berhubungan cukup erat dengan

peubah kanonik bebas pertama ( ) adalah perubahan perolehan suara PN ( )

sebesar 0,61 dan perubahan perolehan suara PC ( ) sebesar -0,69 .

Tabel 8 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut nasional

Peubah Respon Peubah Kanonik Bebas

0.61 -0.14 -0.69

Korelasi peubah bebas (Y) dengan peubah kanonik respon pertama ( )

disajikan pada Tabel 9. Peubah bebas yang berhubungan cukup erat dengan

(36)

persentase penduduk beragama Islam ( ) sebesar 0,52, dan indeks pembangunan

manusia ( ) sebesar 0,53.

Tabel 9 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut

nasional

Peubah Bebas Peubah Kanonik respon

-0.57

Berdasarkan Tabel 8 dan Tabel 9, pola hubungan antar peubah respon

dengan peubah bebas menurut nasional adalah semakin tinggi karakteristik daerah

pada persentase penduduk laki-laki, persentase penduduk beragama Islam, dan

indeks pembangunan manusia maka diikuti pula dengan semakin besarnya

perubahan perolehan suara parpol pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran.

Analisis Korelasi Kanonik Menurut Gerombol

Korelasi kanonik antara peubah bebas (karakteristik daerah) dan peubah

respon (perubahan perolehan suara parpol) dianalisis berdasarkan tiap gerombol.

Banyaknya obyek pada gerombol 1, 3, dan 4 adalah kurang dari banyaknya

peubah. Oleh karena itu gerombol-gerombol tersebut tidak bisa dianalisis.

Gerombol yang dapat dianalis hanyalah gerombol 2.

Pada gerombol 2, hasil analisis korelasi antara peubah respon (perubahan

perolehan suara parpol) dengan peubah bebas (karakteristik daerah) disajikan

pada Tabel 10. Perubahan perolehan suara PN ( ) memiliki hubungan linier

yang cukup erat dengan persentase penduduk perkotaan ( ). Pada peubah respon

yang kedua yaitu perubahan perolehan suara PA ( ), tidak mempunyai hubungan

(37)

suara PC ( ) memiliki hubungan linier yang cukup erat dengan persentase

penduduk laki-laki ( ) dan persentase penduduk perkotaan ( ).

Tabel 10 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut

gerombol 2

Uji hipotesis korelasi kanonik secara keseluruhan menghasilkan nilai statistik

uji Wilks’lambda sebesar 0,042 dengan nilai-p sebesar 0,036. Apabila α yang

digunakan sebesar 0,05 maka nilai-p tersebut kurang dari nilai α. Hal ini berarti

bahwa ada korelasi kanonik yang signifikan. Dengan demikian korelasi kanonik

yang dapat diambil minimal satu buah.

Selanjutnya uji sebagian dilakukan untuk memperoleh peubah kanonik yang

dapat diambil. Hasil uji ini disajikan pada Tabel 11. Korelasi kanonik dari gugus

peubah bebas dengan peubah respon menghasilkan 2 peubah kanonik yang cukup

besar yaitu, 0,95 dan 0,72.

Tabel 11 Kontribusi keragaman peubah kanonik menurut gerombol 2

Peubah kanonik ke- Korelasi kanonik Proporsi Nilai-p

1 0.95 0.88 0.04

2 0.72 0.10 0.81

Berdasarkan kontribusi keragaman yang dapat dijelaskan oleh peubah

kanonik pertama dan kedua masing-masing menjelaskan keragaman total 88 %,

dan 10 %. Oleh karena itu kontribusi keragaman yang cukup tinggi adalah pada

peubah kanonik yang pertama. Jika α ditentukan sebesar 0,05 maka hanya peubah

kanonik pertama yang berbeda nyata dengan nol. Dengan demikian peubah

kanonik yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara gugus peubah

respon dengan peubah bebas adalah satu peubah kanonik saja.

Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas disajikan pada

(38)

kanonik bebas ( ) adalah perubahan perolehan suara PN sebesar 0,56 dan

perubahan perolehan suara PC sebesar 0,56. Hal ini berarti bahwa peubah

yang dapat diambil untuk mewakili gugus peubah respon adalah perubahan

perolehan suara PN dan perubahan perolehan suara PC.

Tabel 12 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut

gerombol 2

Peubah respon Peubah kanonik bebas

0.56 0.29 0.56

Korelasi peubah bebas dengan peubah kanonik peubah respon disajikan

pada Tabel 13. Peubah bebas yang berhubungan cukup erat dengan peubah

kanonik respon ( adalah sebesar -0,59 dan sebesar 0,68. Dengan

demikian peubah yang dapat mewakili gugus peubah bebas adalah persentase

penduduk laki-laki dan persentase penduduk perkotaan.

Tabel 13 Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut

gerombol 2

Peubah bebas Peubah kanonik respon

-0.59

Berdasarkan Tabel 12 dan Tabel 13, gerombol 2 mempunyai pola hubungan

antar peubah respon dengan peubah bebas yaitu semakin tinggi karakteristik

(39)

maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara parpol

pada Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran. Dengan demikian pola hubungan

korelasi kanonik menurut gerombol 2 dan keseluruhan provinsi memiliki

persamaan yaitu semakin tinggi karakteristik daerah pada persentase penduduk

laki-laki maka diikuti pula dengan semakin besarnya perubahan perolehan suara

(40)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil deskripsi data dan analisis gerombol disimpulkan bahwa ada

perubahan perolehan suara parpol pada pemilu 2004 dan 2009. Perubahan

perolehan suara parpol terjadi di semua kelompok parpol (Parpol Nasionalis,

Parpol Agamis, dan Parpol Campuran).

Pada Parpol Nasionalis, perolehan suaranya meningkat di setiap propinsi

kecuali NTT dan Papua. Partai lama yang memberikan perolehan suara terbesar

adalah Partai Demokrat. Sedangkan partai baru yang memperoleh simpati

masyarakat adalah Partai Hanura dan Partai Gerindra. Kedua partai ini

diindikasikan perolehan suaranya diperoleh dari Partai Golkar.

Sedangkan perolehan suara Parpol Agamis dan Campuran menurut nasional

mengalami penurunan. Meskipun demikian, perolehan suara Parpol Agamis

meningkat di sejumlah propinsi (Jatim, Jateng, Bali, NTT, dan Papua). Partai yang

mendominasi dalam peningkatan perolehan suara tersebut adalah PKS. Sedangkan

perolehan suara Parpol Campuran meningkat pada propinsi Sulsel, Sultra,

Maluku, dan Papua. Partai yang cenderung dipercaya oleh masyarakat pada

Parpol Campuran di daerah tersebut adalah PAN.

Secara umum, ada perpindahan pilihan parpol dari Parpol Agamis dan Parpol

Campuran ke Parpol Nasionalis. Perpindahan ini ada hubungannya dengan

persentase penduduk beragama Islam, persentase penduduk miskin, pengeluaran

perkapita bulanan, produk domestik regional bruto, persentase penduduk

perkotaan, dan persentase pemilih pemula.

Persamaan hasil analisis gerombol dan biplot adalah perubahan perolehan

suara ada hubungannya dengan persentase penduduk beragama Islam, persentase

penduduk perkotaan, produk domestik regional bruto, pengeluaran perkapita

bulanan, dan persentase penduduk miskin. Sedangkan persamaan hasil analisis

gerombol, biplot, dan korelasi kanonik menurut gerombol 2 adalah perubahan

perolehan suara Parpol Nasionalis dan Parpol Campuran berhubungan cukup erat

(41)

Saran

Di dalam penulisan ini, data yang digunakan berbasis data propinsi, sehingga

kesimpulannya masih bersifat umum. Untuk memperoleh kesimpulan yang lebih

(42)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Profil Partai Politik Peserta Pemilihan Umun 2009. Kompas 14 Juli 2008: 38-39.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Jakarta.

Dillon WR & Goldstein M. 1984. Multivariate Analysis Methods and Application. New York : John Willey and Sons Inc.

Gabriel KR. 1971. The Biplot Graphic Display of Matrices with Application to Principal Component Analysis. Biometrika, 58: 453-467.

Ismail. 2004. Pijar-Pijar Islam Pergumulan Kultur dan Struktur. Yogyakarta: Penerbit LESFI.

Johnson RA & Wichern DW. 2002. Applied Multivariate Statistical Analysis. New Jersey : Prentice Hall.

[KPU] Komisi Pemilihan Umum. 2004. Rekapitulasi Perolehan Suara Legislatif tahun 2004.

___________________________ 2009. Rekapitulasi Perolehan Suara Legislatif tahun 2009.

[LSI] Lingkaran Survey Indonesia. 2007. Preferensi dan Peta dan Dukungan Pemilih pada Partai Politik

Mendenhall W., Wackerly D.D., Scheaffer R.L. 1990. Mathematical Statistics with Applications. Boston: PWS-Kent Publishing Company.

Sumarsono. 2009. Evaluasi Penyebab Turunnya Suara Partai Golkar.

(43)
(44)

Lampiran 3 Peubah karakteristik daerah dan peubah perubahan perolehan suara parpol

x1=laki-laki(%), x2=penduduk kota(%), x3=pemilih pemula(%), x4=tdk tamat PT(%), x5=beragama Islam(%),

x6= pengangguran terbuka (%), x7= pengeluaran perkapita bulanan (xRp.10.000,-), x8 = penduduk miskin (%),

(45)

Votes in General Election 2004 and 2009. Under Direction of HARI WIJAYANTO, ANANG KURNIA, and ANIK DJURAIDAH.

Base on the ideology, political parties can be grouped into three groups are Nationalist, Religious, and Mixture Political Party. The presence of new parties in each group changed political party votes in general election 2004 to 2009. It was caused by the change in political attitudes of voters. These factors which influenced were gender, residence area, beginner voter, level of educational background, religion (followers), rank of unemployment, percapita montly expenditure, number of poor people, gross regional domestic product, and human development index (region characteristics). The cluster, biplot, and canonical correlation analysis were used to describe the change result vote of three groups political party. The results of this research showed that the change of political party votes were classified into four clusters province. Moreover, the change of votes a political party has a relationship with moslem population percentage, urban population percentage, number of poor people, percapita montly expenditure, gross regional domestic product, and beginner voter percentage. The number of member cluster 1 and 4 was only 1 province were Nanggroe Aceh Darussalam and East Java. In both provinces, the Nationalist Political Party tends to be accepted as the party of their choice. In cluster 3, the number of members was 7 provinces which the people tend to choose the Mixture Political Party. While the cluster 2 has a lot of members (23 provinces) which people tend to choose the Nationalist and Religious Political Party. The results of canonical correlation in cluster 2 show that the change of political party on the Nationalist and Mixture Political Party has relationship with the region

characteristic on the percentage of the male population and the percentage of urban population. Beside that, the cluster 2 has many voter to choose the Nationalist and Mixture Political Party.

(46)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemilihan umum (pemilu) legislatif sudah dilaksanakan sebanyak 10 kali

di Indonesia. Pelaksanaan pemilu tersebut yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977,

1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009. Banyaknya partai politik (parpol)

peserta pemilu 2004 adalah 24 parpol. Komposisi urutan parpol tujuh teratas

berdasarkan perolehan suara nasional adalah Partai Golkar (PG) 21,58%, Partai

Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 18,53%, Partai Kebangkitan Bangsa

(PKB) 8,15%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 7,45%, Partai Demokrat (PD)

7,45%, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 7,20%, dan Partai Amanat Nasional

(PAN) 6,41% (KPU 2004). Adapun pemilu 2009 diikuti 38 parpol peserta pemilu.

PD memperoleh suara tertinggi sebesar 20,85%, kemudian disusul oleh PG

14,45%, PDIP 14,03%, PKS 7,88%, PAN 6,01%, PPP 5,32%, dan PKB

4,94% (KPU 2009).

Menurut asas parpol, parpol-parpol dapat dikelompokkan ke dalam tiga

kelompok parpol (Ismail 2004). Ketiga kelompok tersebut adalah Parpol

Nasionalis (PN), Parpol Agamis (PA), dan Parpol Campuran (PC). PN adalah

parpol-parpol yang berasas nasionalis dalam menjalankan kinerjanya. Asas

yang digunakan untuk PA adalah Islam atau agama lain. Sedangkan PC

adalah parpol-parpol yang berbasis pemeluk agama tertentu namun

asasnya nasionalis.

Berdasarkan pada pemilu 2009, parpol-parpol yang termasuk PN adalah

Partai Hati Nurani Rakyat (PH), Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia

(PPPI), Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN), Partai Gerakan Indonesia

Raya (P.Gerindra), Partai Barisan Nasional (PBN), Partai Kedaulatan (PK),

Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Partai

Republika Nusantara (PRN), Partai Nasionalis Indonesia Marhaenisme

(PNIM), Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD), Partai Merdeka (PM), Partai

Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK), Partai Perjuangan Indonesia Baru

(PPIB), Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI), PD, Partai

Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Penegak Demokrasi

(47)

Partai Patriot (P.Patriot), Partai Persatuan Daerah (PPD), Partai Pelopor (PP),

Partai Karya Perjuangan (PKP), dan Partai Indonesia Sejahtera (PIS).

Parpol-parpol yang tergolong PA adalah Partai Matahari Bangsa (PMB),

Partai Bulan Bintang (PBB), PPP, Partai Kebangkitan Nasional Ulama

(PKNU), Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI), PKS, dan

Partai Bintang Reformasi (PBR). Sedangkan parpol-parpol yang dapat

dikelompokkan kedalam PC adalah PAN, PKB, Partai Kasih Demokrasi

Indonesia (PKDI), Partai Damai Sejahtera (PDS), dan Partai Sarikat Indonesia

(PSI) (Anonim 2008).

Di antara 38 parpol peserta pemilu 2009 diketahui terdapat 14 parpol

pendatang baru. Parpol-parpol baru yang termasuk kedalam PN adalah PH,

PPPI, PPRN, P. Gerindra, PBN, PK, PPI, PDP, PRN, PKP, PIS, PMB, PKNU,

dan PKDI. Sedangkan parpol-parpol pada kelompok PA adalah PMB dan

PKNU. Parpol lainnya yang ada pada PC adalah PKDI.

Kehadiran parpol-parpol baru tersebut, kemungkinan dapat merubah

komposisi perolehan suara parpol sehingga perolehan suaranya dapat

meningkat atau menurun. Perubahan tersebut dapat diakibatkan oleh

perubahan sikap politik pemilih. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan

sikap politik pemilih di antaranya faktor pendidikan, agama, jenis kelamin,

dan umur (karakteristik daerah). Dikarenakan keterbatasan biaya dan data,

penelitian tentang ini masih jarang dilakukan di Indonesia, padahal peta

politik sebuah parpol dapat diketahui melalui penelitian tersebut (LSI 2007).

Oleh karena itu penelitian perubahan perolehan suara parpol perlu dilakukan.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Mendeskripsikan perubahan perolehan suara tiga kelompok parpol (PN, PA,

dan PC).

2. Menggerombolkan provinsi-provinsi berdasarkan perubahan perolehan suara

parpol dan mendeskripsikan karakteristiknya.

3. Menganalisis adanya hubungan kanonik antara perubahan perolehan suara

(48)

TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Gerombol

Analisis gerombol merupakan analisis statistika peubah ganda yang

digunakan untuk menggerombolkan n buah obyek. Obyek-obyek tersebut

mempunyai p buah peubah. Penggerombolannya berdasarkan kemiripan sifat yang

lebih besar pada obyek yang segerombol dibandingkan dengan obyek gerombol

lain. Banyaknya gerombol adalah kurang dari banyaknya obyek (Dillon

& Goldstein 1984).

Tahap awal dalam melakukan penggerombolan adalah menentukan ukuran

kemiripan antar obyek. Penentuan ukuran kemiripan antar obyek tergantung pada

skala pengukuran. Untuk data yang berskala pengukuran interval dan rasio dapat

digunakan ukuran jarak. Sedangkan untuk data yang berskala pengukuran nominal

dan ordinal dapat dipakai ukuran asosiasi. Ada banyak pengukuran jarak

diantaranya adalah jarak Euclid, city-block, dan Mahalanobis. Penggunaan jarak

Euclid dan city-block memiliki persyaratan bahwa peubahnya harus saling bebas

dan satuannya sama. Sedangkan jarak Mahalanobis tidak mensyaratkan apapun.

Pengukuran jarak yang paling terkenal yaitu jarak Euclid. Jarak antar obyek j dan

k pada jarak ini didefinisikan sebagai , dengan

merupakan data pada obyek ke-j peubah ke-i.

Tahap kedua dalam analisis gerombol adalah menentukan metode

penggerombolan. Metode ini terdiri dari dua macam, yaitu metode hirarki dan

metode non hirarki. Umumnya metode hirarki digunakan untuk obyek yang tidak

besar dan banyaknya gerombol yang diinginkan tidak diketahui. Metode hirarki

terbagi menjadi dua yaitu metode penggabungan (agglomerative) dan pemisahan

(divisive). Metode penggabungan, dimulai dengan asumsi bahwa setiap obyek

merupakan satu gerombol kemudian antar gerombol yang jaraknya berdekatan

bergabung menjadi satu gerombol. Proses penggabungan gerombol ini selalu

diikuti perbaikan matriks jarak. Metode yang paling banyak digunakan adalah

metode pautan tunggal (single linkage), metode pautan lengkap (complete

linkage), metode pautan rataan (average linkage), dan metode ward. Sedangkan

metode pemisahan pada awalnya semua obyek berada dalam satu gerombol

(49)

yang lain. Proses berlanjut sampai semua obyek masing-masing membentuk

satu gerombol.

Hasil analisis gerombol untuk metode hirarki disajikan dalam bentuk

dendogram. Adapun metode non hirarki digunakan apabila banyaknya obyek

relatif besar dan banyaknya gerombol yang diinginkan diketahui. Contoh dari

metode non hirarki adalah k-rataan.

Analisis Biplot

Pada tahun 1971, Gabriel memperkenalkan analisis biplot. Biplot merupakan

analisis eksplorasi data yang dapat digunakan untuk menggambarkan obyek dan

peubah ke dalam satu grafik. Dari grafik biplot dapat dilihat kedekatan antar

objek, kedekatan obyek dengan peubah, dan kedekatan antar peubah.

Analisis biplot diturunkan dari penguraian nilai singular atau singular value

decomposition (SVD) pada matriks data nXp. Matriks ini ditulis sebagai:

nXp = , dengan merupakan nilai pengamatan pada

merupakan matriks identitas berdimensi r.

Unsur-unsur diagonal matriks L disebut nilai singular dari matriks X.

Kolom-kolom matrisks A adalah vektor ciri dari X Xyang berpadanan dengan akar ciri λ.

Persamaan (1) dapat ditulis sebagai:

α

(50)

dengan 0 < α < 1. Misalkan ULα= G dan L1-α

Jika = 0 maka G = U dan H' = LA'. Sehingga obyek akan mengumpul dan

peubah akan menyebar menjauhi titik pusat koordinat biplot. Sedangkan jika nilai

α = 1 maka G = UL dan H' = A'. Keadaan tersebut akan mengakibatkan obyek akan menyebar dan peubah akan mengumpul di sekitar titik pusat koordinat

biplot. Untuk mengatasi hal itu, yang diambil sebesar 0,5 sehingga obyek dan

peubah disajikan dengan baik pada koordinat biplot.

A = H maka persamaan (2) dapat

dinyatakan sebagai X = GH, dengan G merupakan matriks koordinat obyek dan

H merupakan matriks koordinat peubah.

Pada persamaan X = GH, setiap elemen ke (i,j) unsur matriks X dapat

ditulis sebagai , dengan i = 1, 2, …, n dan j = 1, 2, …., p. Jika X

berpangkat dua maka vektor pengaruh baris dan vektor pengaruh lajur dapat

digambarkan dalam ruang berdimensi dua. Persentase keragaman matriks X yang

dapat dijelaskan oleh biplot adalah

,

dengan merupakan akar ciri terbesar pertama dari matriks X X, merupakan

akar ciri terbesar kedua dari matriks X X, dan merupakan akar ciri terbesar

ke-i dari matriks X X. Jika nilai semakin mendekati nilai satu maka biplot yang

diperoleh dan matriks pendekatan berpangkat dua akan memberikan penyajian

yang semakin baik mengenai informasi-informasi yang terdapat pada data yang

sebenarnya.

Analisis Korelasi Kanonik

Analisis korelasi kanonik digunakan untuk melihat keeratan hubungan linier

antara gugus peubah respon dengan gugus peubah bebas (Johnson & Wichern

2002). Pada analisis korelasi kanonik diuraikan struktur hubungan ke dalam gugus

peubah respon, maupun ke dalam gugus peubah bebas. Ide dari analisis ini adalah

mencari pasangan dari kombinasi linier pada peubah respon dan peubah bebas

yang memiliki korelasi terbesar. Selanjutnya pasangan dari kombinasi linier ini

disebut peubah kanonik dan korelasinya disebut korelasi kanonik.

Misalkan gugus peubah respon , , …, dinotasikan sebagai vektor

(51)

peubah X, dengan p ≤ q. Jika nilai harapan dan kovarian dari vektor peubah X

dan Y adalah sebagai berikut:

E(Y) = dengan Cov(Y) =

E(X) = dengan Cov(X) = ,

dan Cov(X,Y) = ,

maka kombinasi linier dari kedua gugus peubah kanonik dapat dituliskan sebagai

berikut:

Untuk menyatakan hubungan keeratan antar gugus peubah respon dan peubah

bebas maka nilai korelasi tersebut memiliki nilai maksimum.

b.

Korelasi kanonik diperoleh dengan menghitung:

Misalkan pasangan pertama dari peubah kanonik adalah kombinasi linear

dan yang memiliki ragam satu dan korelasi yang maksimum. Secara

matematis dinotasikan sebagai berikut :

W1 = a1t X dengan Var (W1) = 1, V1 = b1t Y dengan Var (V1) = 1, dan maksimum Corr (W1,V1) = ρ

Pasangan kedua adalah kombinasi linear dan yang memiliki ragam satu dan

korelasi maksimum kedua serta tidak berkorelasi dengan peubah kanonik yang

pertama. Oleh karena itu kombinasi tersebut membentuk persamaan

Sedangkan pasangan ke-k adalah kombinasi linear dan yang memiliki

(52)

kanonik 1, 2, … , k-1. Dari kombinasi tersebut diperoleh persamaan

Oleh karena itu vektor koefisien a dan b diperoleh sebagai berikut:

dan ,

… … …

dan .

Banyaknya peubah kanonik yang dipilih tergantung pada besarnya nilai

proporsi keragaman. Nilai ini menunjukkan baik tidaknya peubah kanonik yang

dipilih untuk menerangkan keragaman peubah asal. Semakin besar nilai proporsi

keragaman maka semakin baik peubah-peubah kanonik yang dipilih untuk

menerangkan keragaman peubah asal.

Hipotesis yang akan diuji pada analisis korelasi kanonik adalah

H0: ρ1 = ρ2=...= ρk = 0 (semua korelasi kanonik bernilai nol),

H1: ada ρi

-2 lnΛ = n ln = -n ln .

≠ 0 (paling sedikit ada satu korelasi kanonik yang tidak bernilai nol). Hipotesis nol ditolak jika nilai berikut besar:

Untuk kasus contoh besar maka ststistik uji ini diaproksimasi menyebar

khi-kuadrat dengan derajat bebas pq. Barlett menyarankan mengganti n dalam

statistik uji rasio kemungkinan dengan n – 1 - (p + q + 1) untuk mendekati

Figur

Gambar 1  Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004

Gambar 1

Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 p.26
Gambar 2 Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut  nasional pada pemilu

Gambar 2

Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu p.26
Gambar 3 Perolehan  suara  PN, PA,  dan PC  menurut  provinsi  pada   pemilu

Gambar 3

Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut provinsi pada pemilu p.27
Gambar 4  Dendogram hasil  analisis gerombol  berdasarkan  perubahan

Gambar 4

Dendogram hasil analisis gerombol berdasarkan perubahan p.29
Tabel 5 Koordinat posisi peubah

Tabel 5

Koordinat posisi peubah p.33
Gambar 5 Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombo l

Gambar 5

Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombo l p.33
Tabel 6 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional

Tabel 6

Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional p.34
Tabel 12 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut gerombol 2

Tabel 12

Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut gerombol 2 p.38
Tabel 13  Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut

Tabel 13

Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut p.38
Gambar 1  Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004

Gambar 1

Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu 2004 p.56
Gambar 2 Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut  nasional pada pemilu

Gambar 2

Trend perolehan suara PN, PA, dan PC menurut nasional pada pemilu p.56
Gambar 3 Perolehan  suara  PN, PA,  dan PC  menurut  provinsi  pada   pemilu

Gambar 3

Perolehan suara PN, PA, dan PC menurut provinsi pada pemilu p.57
Gambar 4  Dendogram hasil  analisis gerombol  berdasarkan  perubahan

Gambar 4

Dendogram hasil analisis gerombol berdasarkan perubahan p.59
Gambar 5 Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombo l

Gambar 5

Penyajian biplot berdasarkan karakteristik gerombo l p.63
Tabel 5 Koordinat posisi peubah

Tabel 5

Koordinat posisi peubah p.63
Tabel 6 Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional

Tabel 6

Korelasi antara peubah respon dengan peubah bebas menurut nasional p.64
Tabel 12 Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut gerombol 2

Tabel 12

Korelasi peubah respon dengan peubah kanonik bebas menurut gerombol 2 p.68
Tabel 13  Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut

Tabel 13

Korelasi peubah bebas dengan fungsi kanonik peubah bebas menurut p.68

Referensi

Memperbarui...