UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN
ANALISIS PENGARUH GIRO TERHADAP PERTUMBUHAN BANK SUMUT KCP MARENDAL
TUGAS AKHIR Diajukan Oleh : Debby andriani
122101206
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Drogram Diploma III
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadiran Allah SWT berkat kasih
dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir penulis yang berjudul
“Analisis Pengaruh Giro Terhadap Pertumbuhan Bank Sumut KCP Marendal”. Yang mana tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah guna memenuhi salah satu syarat utuk menyelesaikan pendidikan program Diploma III
pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan
ini penulis ingin mengucapkan terimaka kasih kepada :
1. Mama dan Ayah yang selalu memberikan do’a dan motivasi kepada penulis.
2. Nenek dan Kakek yang selalu memberikan do’a dan motivasi kepada penulis.
3. Bapak Prof.Dr.Azhar Maksum,SE,Mec,Ac,Ak. selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Drs. Yeni Absah,SE,M.Si selaku Ketua Program Studi Jurusan D-III
Manajemen KeuanganFakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
Utara.
5. Bapak Drs. Liasta Ginting,M.Si selaku dosen pembimbing yang telah
membimbing penulis dengan sabar hingga tugas akhir ini dapat terselesaikan.
6. Seluruh Dosen / Staff pengajar serta Pegawai di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan
kepada penulis.
7. Untuk orang – orang tersayang, Kakak Retno Ari Suci Pratiwi terimakasih
Muhammad Fadly Syahri yang selalu menghibur penulis selama proses
pembuatan tugas akhir ini.
8. Untuk sahabat – sahabat tercinta, Sri Destuty Sitorus dan Devi Azmi yang
selalu membuat penulis emosi dengan kebisingan dan pertanyaan-pertanyaan
aneh mereka. Tetapi mereka juga yang banyak membantu dan memberi
dukungan kepada penulis dalam pembuatan tugas akhir ini.
9. Untuk teman – teman seluruh jurusan D-III Manajemen Keuangan stambuk
12 khususnya Grup D, yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu per
satu. Terimakasih untung suka duka yang telah kita lewati selama ini.
Dengan terselesaikannya tugas akhir ini, penulis menyadari bahwa dari
apa yang sudah penulis tuliskan dalam tugas akhir ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, dengan segala kerendahan hati
penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dan bermanfaat demi
kesempurnaan tugas akhir ini.
Medan, Juni 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR TABEL ... vi
LAMPIRAN ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan Penelitian ... 2
D. Manfaat Penelitian ... 2
BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah PT. Bank Sumut ... 4
B. Sruktur Organisasi dan Uraian Tugas ... 5
C. Uraian Tugas ... 6
D. Kinerja Terkini ... 17
BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Giro ... 19
B. Manfaat Giro ... 23
C. Sumber Pendanaan Bank ... 25
C.1. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri (Dana Pihak Ke-1) ... 25
C.2. Dana yang bersumber dari lembaga lainnya (Dana Pihak Ke-2) ... 27
C.3.Dana yang berasal dari masyarakat (Dana Pihak Ke-3) ... 29
D. Analisis Pengaruh Giro Terhadap Pertumbuhan Bank Sumut KCP Marendal ... 31
D.1. Fungsi Giro dalam Masyarakat ... 31
D.2. Fungsi Giro dalam Perbankan ... 33
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 37 B. Saran ... 39
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 ... 5
DAFTAR TABEL
Halaman TABEL 3.1 ... 33
TABEL 3.2 ... 34
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi suatu Negara diperlukan pengelolaan
perekonomian yang terarah dan terpadu serta bermanfaat bagi peningkatan
kesejahteraan masayrakat. Lembaga-lembaga keunganbekerja sama dalam
mengelola dan menggerakkan semua potensi ekonomi agar berdaya dan berhasil
guna secara optimal. Lembaga keuangan, khususnya lembaga Perbankan
mempunyai peranan yang amat strategis dalam menggerakkan roda perekonomian
suatu negara.Karena peranannya yang penting pada kesejahteraan Negara dan laju
pertumbuhan perekonomian negara, sektor perbankan mendapatkan perhatian
yang sangat besar dari pemerintah. Salah satu kebijakan perbankan dalam
mendukung laju pertumbuhan perekonomian adalah menghimpun seperti dana
masyarakat yang dapat dicapai melalui sektor simpanan yang berupa tabungan,
giro, dan deposito.
Jenis simpanan tabungan dan deposito sangat dikenal oleh masyarakat
sehingga dibandingkan dengan jenis simpanan giro, tabungan dan deposito sangat
digemari masyarakat dalam melakukan simpanan pada suatu bank.Selain itu
memang giro memiliki bunga simpanan yang terkecil dibandingkan jenis
simpanan lainnya sehingga tidak banyak masyarakat yang memilih jenis simpanan
tidak mempermasalahkan bunga yang terbilang kecil tersebut, mereka hanya
membutuhkan jasa-jasa yang diberikan oleh simpanan giro tersebut.Seperti yang
diketahui, tidak ada batasan dalam penarikan uang menggunakan simpanan giro
ini, sehingga para nasabah dapat melakukan transaksi kapan pun dan dimana pun.
Hal ini tentu saja akan mempermudah pengusaha dalam menjalankan bisnisnya.
Karenanya, giro memiliki kontribusi terkecil dalam meningkatkan sumber
dana bank bila dibandingkan dengan jenis simpanan tabungan dan deposito.Oleh
karena itu, peneliti tertarik dan terdorong untuk mengangkat masalah diatas
menjadi suatu tulisan dari tugas akhir yang berjudul: ”Analisis Pengaruh Giro Terhadap Pertumbuhan Bank Sumut KCP Marendal”.
B.Rumusan Masalah
1. Apakah giro berpengaruh terhadap pertumbuhan Bank Sumut KCP
Marendal ?
2. Bagaimana pengaruh giro terhadap pertumbuhan Bank Sumut KCP
Marendal ?
C.Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui apakah giro berpengaruh terhadap pertumbuhan Bank
Sumut KCP Marendal
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh giro terhadap pertumbuhan Bank
Sumut KCP Marendal
D.Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis, penulisan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk
Universitas Sumatera Utara, dan sekaligus bisa menambah wawasan
penulis.
2. Bagi lembaga pendidikan, penulisan tugas akhir ini akan bermanfaat atau
berguna sebagai bahan masukan bagi penulis lain yang ingin mengetahui
BAB II
PROFIL PERUSAHAAN
A.Sejarah PT. Bank Sumut
Bank pembangunan Daerah Sumatera Utara didirikan pada tanggal 4
November1961 dengan Akte Notaris Rusli Nomor 22 dalam bentuk Perseroan
Terbatas dengan call name BPDSU. Pada tahun 1962 berdasarkan
Undang-Undang Nomor 13 tahun1962 tentang ketentuan pokok Bank Pembangunan
Daerah Tingkat l Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 1965. Modal dasar pada saat itu
sebesar Rp. 100 juta dan sahamnya dimiliki oleh pemerintah Daerah Tingkat II se-
Sumatera Utara.
Pada tanggal 16 April 1999, berdasarkan peraturan Daearah Tingkat I
Sumatera Utara No.2 Tahun 1999, bentuk badan dirubah kembali menjadi
perseroan terbatas dengan call name Bank Sumut. Perubahan tersebut dituangkan
dalam Akte Pendirian Alina Hanum Nasution SH, dan telah mendapat pengesahan
dari mentri Kehakiman Republik Indonesia dibawah Nomor C-8224 HT.01.01 TH
99, serta diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 tanggal
6 juli 1999. Modal dasar pada saat itu ditetapkan sebesar Rp.400 miliar.Dan
karena pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan bank, maka pada tanggal
PT. Bank Sumut merupakan bank non devisa yang kantor pusatnya di jalan
Imam Bonjol No. 18 Medan. Dalam tahun 2006, Bank telah menambah I kantor
cabang pembantu, 4 kantor kas, 9 unit ATM dan 12 kantor kas yang mengalami
peningkatan status menjadi kantor cabang sedangkan kas mobil dan payment
point tidak berubah sehingga per 31 Desember 2006, Bank telah memiliki 20
kantor cabang konvensional, 21 kantor cabang pembantu, 30 kantor kas, 15 kas
mobil, I payment point, dan 29 unit ATM. Dalam tahun 2004, Bank membuka
Unit Usaha Syariah yang telah mendapatkan izin dari Bank Indonesia Cabang
Medan dengan suratnya No. 6/ 142/ DPIP/ Prz/ Mdn tanggal 18 Oktober 2004.
Dalam tahun 2006, Bank juga menambah I cabang pembantu syariah sehingga per
31 Desember 2007, Bank telah memiliki 3 cabang syariah, 20 cabang
konvensional, serta 60 kantor cabang. Jumlah karyawan Bank pada tanggal 31
Desember 2006 adalah 2995 masing-masing berjumlah 1.218 dan 1.044 orang.
B.Struktur Organisasi dan Uraian Tugas
1. Struktur Organisasi Kantor Cabang Pembantu Kelas III
Pemimpin Cabang Pembantu
Wakil Pemimpin Cabang Pembantu
Pelaksana Teller/Overbook
Pelaksana :
- Verifikasi - Administrasi - Transfer Kliring Kedit
- Analis Kredit - PelayananNasabah - Akuntansi IT & - Umum
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Kantor Cabang
2. Struktur Organisasi PT Bank Sumut KCP Marendal
Pelaksana pelaksana
Gambar 2.3
Struktur Organisasi PT Bank Sumut KCP Marendal Sumber Gambar : PT Bank Sumut KCP Marendal
C. Uraian Tugas
1. Tugas Pemimpin Cabang Pembantu Kelas III
1. Memimpin, mengkordinir, mengarahkan, membimbing, mengawasi dan
mengendalikan serta mengevaluasi :
a. Kegiatan menghimpun dana, penyaluran kredit, pemasaran jasa-jasa
bank dan pemasaran layanan syariah sesuai rencana kerja bank
b. Kegiatan administrasi kredit, pengelolaan likuiditas penyelesaian
kredit non lancar, pembuatan laporan dan kearsipan sesuai ketentuan
yang berlaku.
c. Kepatuhan pejabat dan pegawai terhadap pelaksanaan Standar
Operasional Prosedur dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
d. Pelaksanaan tata kelola perusahaan (GCG) oleh pejabat dan pegawai
dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
e. Pelaksanaan standar Pelayanan Bank Sumut oleh pejabat dan
pegawai dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
f. Penggunaan teknologi informasi oleh pejabat dan pegawai
dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
2. Mengajukan rencana anggaran, investasi, inventaris Kantor Cabang
Pembantu untuk dituangkan ke dalam Rencana Kerja Anggaran Tahunan
Bank.
3. Menyusun program Kerja Kantor Cabang Pembantu sehubunbgan dengan
upaya pencapaian target rencana kerja dan melakukan pemantauan serta
4. Memindak lanjuti hasil temuan dan atau rekomendasi dari kontrol
intern/Satuan pemeriksaan Internal (SPI)/ Pemeriksa Ekternal serta
melaporkan tindak lanjut temuan kepada pemimpin Cabang Induk.
5. Memeriksa setiap proses pengambilan keputusan dan memastikan
risiko-risiko yang diambil atas setiap keputusan dalam batas toleransi yang tidak
merugikan Bank baik saat ini maupun masa yang akan datang.
6. Meminimalisir setiap potensi risiko yang mungkin terjadi pada setiap
kegiatan Kantor Cabang kepada Direksi.
7. Melaporkan setiap risiko yang berpotensi terjadi atas setiap kegiatan
Kantor Cabang Kepala direksi.
8. Memantau dan memastikan serta melaporkan setiap transaksi yang
dikategorikan transaksi keuangan tunai ( cash transaction ) dan transaksi
keuangan mencurigakan ( suspecious transaction)
9. Melakukan evaluasi atas kinerja Kantor Cabang pembantu.
10.Mengelola dana pemerintah Daerah ( untuk Kantor Cabang pembantu
yang ada rekening kas daerah ) dan menjaga agar tidak beralih ke Bank
lain.
11.Mengelola dan mengamankan kunci penyimpanan uang dan surat berharga
/ surat baraang agunan kredit.
12.Menghadiri dan memberikan pendapat dalam rapat kelompok
pemutus kredit atas permohonan kredit yabg diajukannya.
13.Mengadakan rapat yang bersifat koordinasi, bimbingan, pengarahan,
secara periodik dalam rangka peningkatan kinerja, pengetahuan dan
pelayanan.
14.Memberikan saran dan atau pertimbangan kepada Pemimpin Cabang
tentang langkah- langkah yang perlu diambil dibidang tugasnya.
15.Melakukan koordinasi kerja dengan unit kerja di akntor cabang induk
maupun unit kerja pihak lain berkaitan pelaksanaan fungsi kantor cabang
pembantu.
16.Mewakili Pemimpin Cabang induk dalam mengadakan hubungan/
kerjasama dengan pihak lain berkaitan pelaksanaan fungsi kantor cabang
pembantu.
17.Membuat laporan terkait operasional Bank sesuai ketentuan yang berlaku.
18.Melaksanakan tugas lainnya sesuai fungsi dan aktivitas kantor cabang.
2. Tugas Wakil pemimpin Cabang Pembantu Kelas III
1. Membantu Pemimpin Cabang Pembantu dalam :
a. Kegiatan penghimpunan dana, penyaluaran kredit, pemasaran
jasa-jasa Bank dan pemasaran layanan syariah sesuai rencana kerja
Bank
b. Kegiatan administarsi kredit, pengelolaan likuiditas, penyelesaian
kredit non lancar, pembuatan laporan dan kearsipan sesuai
ketentuan yang berlaku.
c. Memantau kepatuhan pegawai melaksanaan Standar Operasional
d. Memantau pelaksanaan tata kelola perusahaan (GCG) oleh pegawai
dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
e. Memantau pelaksanaan Standar Pelayanan Bank Sumut oleh
pegawai di lingkungan Kantor dilingkungan Kantor Cabang
Pembantu.
f. Memantau penggunaan teknologi informasi oleh pegawai
dilingkungan Kantor Cabang Pembantu.
g. Melaksanakan Program Kerja Kantor Cabang pembantu sehubungan
dengan upaya pencapaian target rencana kerja dan melakukan
pemantauan serta mengevaluasi pelaksanaanya.
h. Memindak lanjuti hasil temuan dan atau rekomendasi dari kontrol
Intern/ satuan pemeriksa internal (SPI) / pemeriksa Ekternal serta
melaporkan tindak lanjut temuan kepada peamimpin Cabang
Pembantu.
i. Meminimalisir setiap potensi risiko yang mungkin terjadi pada setiap
kegiatan operasional, kredit, likuiditas, pasar dan risiko lainnya.
j. Melaporkan setiap risiko yang berpotensi terjadi atas setiap kegiatan
Kantor Cabang pembantu kepada Pemimpin Cabang Induk.
k. Memantau dan memastikan serta melaporkan setiaptransaksi yang
di katagorikan transaksi keuangan tunai ( transaction cash) dan
transaksi keuangan mencurigakan ( suspecious transaction).
2. Memeriksa kebenaran posting transaksi yang di input ke komputer sesuai
3. Menyesuaikan cetakan Hasil Rekapitulasi Mutasi Harian Kas dengan
penerimaan setoran/pembayaran tunai oleh teller.
4. Memeriksa kebenaraan, kelengkapan dan pencatatan dokumen transaksi
pengiriman uang, pembebanan biaya, test key dan mesyahkanya.
5. Menerima dan memeriksa bukti/ advice / informasi sehubungan dengan
transfer/ inkaso/ LLG.
6. Memeriksa kebenaran bukti-bukti penerimaan dan pembayaran berkenaan
dengan rekening- rekening nasabah.
7. Memeriksa warkat-warkat yang akan dikliringkan dan Daftar Warkat
Kliring .
8. Mengadministrasikan daftar warkat-warkat yang akan dikliringkan dan
daftar warkat- warkat pemindahbukuan.
9. Memeriksa surat keterangan penolakan warkat kliring.
10.Memeriksa dan mengawasi pembukuan warkat- warkat kliring ke
komputer.
11.Mengadministrasikan pembukuan dan penutupan rekening serta membuat
dan memelihara Buku Register Nasabah dan Daftar Hitam (black list)
12.Mengawasi dan memeriksa tindak lanjut surat- surat masuk dan keluar ,
baik dari ekstern maupun intern.
13.Memeriksa Nota selisih / Rekonsiliasi dan menyelesaikan transaksi yang
belum dilakukan.
15.Mencetak rekap mutasi gabungan, posisi Neraca dan Laba Rugi beserta
lampirannya serta mencocokannya dengan Neraca.
16.Melakukan proses tutup harian transaksi dan mencetak rekap lampiran
serta mencocokannya dengan Neraca.
17.Melakukan kontrol rincian lampiran pos buku besar terhadap Neraca.
18.Mencetak rekening giro/ kredit, sub-sub rekening untuk keperluan laporan,
pengarsipan dan lainnya.
19.Mengkoordinir pembuatan perhitungan ongkos yang masih harus dibayar
pada akhir tahunbuku.
20.Mengatur pengadaan dan penyediaan alat tulis kantor dan barang-barang
cetakan, materai dan alat-alat logistik yang diperlukan untuk operasional
Bank serta manata usahakannya dengan baik.
21.Mengawasi dan mengatur tata ruang, perawatan, perawatan, kebersihan
gedung/ inventaris dan keamanan kantor.
22.Mengatur pemakaian kendaraan dinas serta mengawasi kegiatan keluar
dan masuk, izin mempersiapkan pengajian, upah, cuti, pinjaman, angsuran
dan lain-lain keperluan pegawai.
23.Mengatur penyelidikan nota- nota dan dokumen serta menatausahakannya
penyimpanannya.
24.Menata dan mengarsipkan file yang berhubungan dengan biodata pegawai
25.Melakukan administarasi dan pemdistribusian surat menyurat dan
mengawasi, memeliharaserta mengatur ruang arsip Kantor Cabang
Pembantu.
26.Menata usahakan peraturan Bank Sumut , Surat Keputusan, Surat Edaran,
Surat Intruksi danNota Dinas Direksi serta peraturan lainnya.
27.Memantau dan melaksanakan pengiriman surat melalui tromol, pos
maupun pengantar surat.
28.Membuat Daftar Aktiva Tetap dan Inventaris serta mengirim laporannya
ke Kantor Cabang Induk.
29.Menerima, menyimpan dan menata usahakan seluruh dokumen dan
surat-surat barang agunan yang berkenaan dengan pencairan kredit.
30.Melakukan pengikatan asuransi barang agunan yang wajib di
pertanggungjawabkan.
31.Membuat dan memeriksa kebenaran isi persetujuan membuka kredit /
perjanjian lainnya yang dibuat Notaris, yang berkenaan dengsn pencairan
kredit.
32.Membuat berita Acara dan surat-surat yang berkaitan dengan
pengembalian agunan.
33.Membuat nota-nota pembebanan yang berkaitan dengan pencairan kredit.
34.Melayani penjualan blanko Cek dan blanko Giro serta membebankan
biaya yang berkenaan dengan hal tersebut serta biaya-biaya lainnya yang
35.Membentuk Referensi Bank, Bank Garansi, Giro Blokir dan sejenisnya
sesuai ketentuan yang berlaku.
36.Memeriksa kebenaran perhitungan dan nota pembayaran bunga deposito,
sertifikat deposito, tabungan dan jasa giro yang akan dibayarkan serta
memeriksa kebenaran pembukuannya.
37.Memeriksa perhitungan PPh bunga jasa giro,PPh bunga deposito dan PPh
bunga tabungan.
38.Memeriksa kebenaran perhitungan penutupan buku kas dan perincian kas
serta mencocokkannya dengan jumlah uang yang kluis.
39.Menjaga dan memelihara agar uang yang ada di khas sanacukup untuk
operasi sehari-hari.
40.Memelihara persediaan kas pada tingkat yang efisien sehingga likuiditas
tidak terganggu dan dapat mengoptimumkan rentabilitas.
41.Memastikan agar jumlah dan tunai yang dikuasai para Teller masih dalam
batas yang diizinkan oleah ketentuan yang berlaku.
42.Menghadiri rapat yang bersifat koordinasi, bimbingan, pengarahan,
transfer of knowledge dan atau sosialisasi ketentuan maupun produk baru
secara periodik dalam rangka peningkatan kinerja, pengetahuan dan
pelayanan.
43.Memberikan saran atau pertimbangan kepada Pemimpin Cabang pembantu
tentang langkah-langkah yang perlu diambil dibidang tugasnya.
44.Melakukan koordinasi kerja dengan unit kerja di kantor cabang induk
45.Mewakili Bank dalam mengadakan hubungan / kerjasama dengan pihak
lain berkaitan pelaksanaan fungsi kantor cabang pembantu.
46.Membuat lapran terkait operasional Bank sesuai ketentuan yang berlaku.
47.Melaksanakan tugas lainnya sesuai fungsi dan aktifitas kantor cabang.
3. Tugas Seksi Pemasaran
1. Melakukantransaksi/retaksasi
sertapemeriksaanataslaporantransaksi/retaksasi barang
agunanyangdilakukanolehpetugastransaksi.
2. Memeriksakembalikeabsenandankelengkapandokumen-dokumen yang
berhubungandenganpermohonankredit.
3. Memeriksaanalisapermohonankredityangdilakukanolehanlisakredit.
4. Mengajukanmemorandum
kepadaPimpinanCabang/WakilPimpinanuntuk mengajukan
daftarkomitepemutuskredit.
5. Menelitilaporanhasilpemantauanusahadebiturdanmengantisipasi tindak
lanjutnya.
6. Melakukanpemeliharaanatasperformanceportofolioyang
direalisir(sandi1dan sandi2).
7. Mengatur penataandan pengarsipan surat-surat masuk dan keluar,
serta berkas/nota yangberhubungandenganseksipemasaran.
8. Mempersiapkannilaipengajuanpermohonanizinmemberikankreditkekant
pusatapabilajumlahplafondkreditmelebihiwewenangpemimpincabangse
telah mendapatpersetujuankomitepemutuskredit.
9. Membuatsuratpanggilan/teguranperingatankepadadebituryangmenungg
ak pelunasanataupembayaran
angsuranpokokdanbungakreditdanmelakukan penagihanlangsung.
10.MempergunakanseluruhmenuOLIB’Syangterdapatpadafungsipemasara
n kredit.
4. Tugas Customer Service (CS)
1. Melayaninasabahdalammembuattabungan.
2. Mengarahkannasabahdalammengisiformulirpembukaanrekening.
3. Merekapformulirpembukaanrekening.
4. MemberinformasidanmenjualprodukBankSUMUT.
5. Menjagahubungandengannasabah.
5. Tugas Teller
Tugassebagaitelleradalahmelayanimitra/nasabahdalam halsetoran
simpanan, penarikan simpanan, pembayaran angsuran dan pemidah- bukuan.
6. Tugas Operasional
1. Melakukan tutupbukuharitransaksidanmencetakrekaplampiranserta
2. Mencetakrekeninggirokreditdanseluruhdatayangdibutuhkanuntukkeperl
uan laporan,pengarsipandanlainnyasertamendistribusikannya
keseluruhunityang memerlukan.
3. Mengkordinirpembukuanperhitunganongkosyangmasihharusdibayarpad
a akhirtahunbuku.
4. Menyusunlaporan-laporan harian,mingguan,bulanan,dantahunanuntuk
kepentinganinterndaneksteren.
5.
MengaturpengadaandanpenyediaanATK,BBC,materaidanalat-alatligistik
yangdiperlukanuntukoperasionalbanksertamenatausahanyadenganbaik.
6. Mengaturpemakaiankendaraandinasuntukkeperluanantarcabang.
7. Mengawasikegiatankeluardanmasukizin,untukmempersiapkan
pengajian,upah, cuti, pinjaman, angsuran
danlain-lainkeperluanpegawaikantorcabang.
8. Mengatur penjilidan nota-nota dan dokumen serta menata usahakan
penyimpanan.
9. Menata dan
mengarsipkanfile-fileyangberhubungandenganbiodatakaryawan
dilingkungankantorcabang.
D. Kinerja Terkini
Adapun kinerja usaha yang dilakukan dari PT. Bank SUMUT KCP
Marendal bila dilihat dari struktur organisasinya sudah cukup baik.Struktur
wewenang dan tanggung jawab dari masing-masing karyawan
perusahaan.Bankjugasudahbaikdalam halpelayananterhadapnasabahyakni
dalammemberikanprodukdanasepertisimpanangiro,tabungandanlain-lain serta
jasa-jasa bank lainnya. Sehubungan dengan itu, PT. Bank SUMUT KCP
Marendal dalam melakukanaktivitasoperasiperusahaanyaknidari
penyalurankreditsudahbaik.Halinidapatdilihatdaribanyaknyajeniskredit yang
diberikan bank kepada masyarakatatau nasabah.Pelaksanaan pemberian kredit
yang adaselamainiberjalandenganbaik
karenabankselamainiberusahauntukmenyalurkankreditkepadamasyarakat
ataunasabahyangmembutuhkankredit tersebut.Bankjugatidakmembeda- bedakan
setiap nasabah yang datang. Sehingga bank dalam menyalurkan
kreditnyaselalubertindaksesuaidenganperaturanataupunketentuan-ketentuan yang
berlaku yang ada di bank tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan
pemberiankredittidakbolehterlepasdaritujuanperbankandalam pelaksanaan
pembangunannasionaldalam rangkameningkatkanpemerataanpertumbuhan
ekonomi dan stabilitas nasional ke arahpeningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Dapat dikatakan bahwa hal ini telah dicapai PT. Bank SUMUT KCP
Marendal dimanabankselalu berusaha menyalurkan kreditnya
kepadamasyarakatyangmembutuhkan bantuan kredit dengan tidak membeda-
bedakan antara pemohon, pengusaha perusahaan besar atau pengusaha mikro
dalam memberikankreditnya,selamamasihsesuaidenganpersayaratanyang berlaku
BAB III
A.Pengertian Giro
Menurut M. Bahsan, S.H.,S.E dalam bukunya yang berjudul Giro dan
Bilyet Giro Perbankan Indonesia, Giro adalah salah satu produk usaha bank dalam
rangka kegiatannya menerima penyimpanan dana dari masyarakat dan pada saat
ini hanya boleh dilakukan oleh Bank Umum.
Menurut Drs. O.P. Simonangkir dalam bukunya yang berjudul Lembaga
Keuangan Bank dan Nonbank, Giro adalah simpanan pihak ketiga kepada bank
yang penarikannya dapat dilakukan dengan menggunakan cek, kartu ATM, surat
perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan, antara lain bilyet
giro.
Menurut Y.Sri Susilo, Sigit Triandaru, dan A. Totok Budi Santoso dalam
buku yang berjudul Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Giro adalah simpanan
yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menerbitkan cek untuk
penarikan tunai atau bilyet giro untuk pemindahbukuan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Giro adalah simpanan
pihak ketiga pada bank yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan
menggunakan cek, bilyet giro, dan surat perintah pembayaran lainnya atau dengan
cara pemindahbukuan. Berdasarkan pengertian giro tersebut di atas, dapat
diperhatikan beberapa ciri yang melekat pada giro sehingga dapat dibandingkan
dengan bentuk simpanan lainnya. Ciri – ciri tersebut yaitu :
Bank umum dapat melakukan penghimpunan dana dari
masyarakat melalui berbagai cara, antara lain dalam bentuk simpanan
atau pinjaman. Giro, sesuai dengan sifat transaksinya yang berkaitan
dengan penyimpanan dana, digolongkan sebagai salah satu bentuk
simpanan. Simpanan yang berbentuk giro hanya terdapat pada Bank
Umum dan ditatausahakannya dalam rekening yang disebut rekening
giro. Rekening tersebut dibuka oleh bank untuk dan dengan nama
nasabah pemilik dana. UU perbankan Indonesia 1992 / 1998 melarang
Bank Perkreditan Rakyat menerima simpanan yang berbentuk giro.
Sesuai dengan unsure perjanjian penyimpanan dana yang
terdapat dalam pengertian simpanan, untuk penyelenggaraan giro harus
disertai dengan pembuatan perjanjian penyimpanan dana antara Bank
Umum dengan nasabah penyimpanan yang lazim disebut Perjanjian
Pembukaan Rekening Giro.
2. Penarikan Dana Giro Setiap Saat
Dana yang disimpan dalam bentuk giro dapat ditarik setiap saat
oleh pemiliknya dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam
ketentuan peraturan perundang – undangan, Perjanjian Pembukaan
Rekening Giro, dan peraturan intern masing – masing Bank Umum.
Nasabah penyimpan dapat melakukan penarikan dana yang tersimpan
dalam rekening gironya setiap saat dan Bank Umum yang
bersangkutan akan menyetujui sepanjang persyaratannya telah
giro yang dapat dilakukan pada setiap saat tersebut akan memberikan
kemudahan kepada pihak – pihak yang berkepentingan terutama bagi
nasabah penyimpan yang ingin menyelesaikan kewajiban
pembayarannya kepada pihak lain. Sebagaimana diketahui kegiatan
transaksi pembayaran di antara anggota masyarakat dapat terjadi setiap
saat dan tidak harus selalu diselesaikan melalui penyerahan sejumlah
uang secara fisik karena berbagai pertimbangan karena berbagai
pertimbangan dari pihak – pihak yang bertransaksi.Di antara anggota
masyarakat memanfaatkan fasilitas giro adalah terutama para pihak di
lingkungan dunia usaha.Giro merupakan sarana yang paling sesuai
untuk menampung kepentingan pengelolaan dananya, terutama yang
berkaitan dengan penyelesaian transaksi pembayaran yang mungkin
terjadi setiap saat.
3. Cek dan Bilyet Giro sebagai Sarana Penarikan
Kecuali dalam hal – hal tertentu, penarikan dana giro pada
prinsipnya hanya menggunakan cek dan bilyet giro. Kedua warkat
(dokumen) ini diatur oleh peraturan perundang – undangan yang
berbeda dan berlaku mengikat seluruh anggota masyarakat.Cek dan
bilyet giro disebut sebagai warkat perbankan yang dapat digunakan
oleh anggota masyarakat untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban
pembayaran melalui rekening giro pada bank.Sehubungan dengan itu,
Cek adalah surat perintah pembayaran dan bilyet giro adalah
surat perintah pemindahbukuan dana. Kedua warkat tersebut berkaitan
dengan penyelesaian suatu kewajiban pembayaran melalui rekening
giro yang ada pada Bank Umum sehingga sering disebut sebagai
warkat pembayaran giral.Akan tetapi, dalam hal ini kiranya perlu
diperhatikan mengenai fungsinya sebagai warkat pembayaran giral
karena terdapatnya kemungkinan penolakan penerimaannya oleh pihak
– pihak tertentu.Penolakan yang demikian perlu dipahami mengingat
kedudukannya yang berbeda dengan uang rupiah sebagai alat
pembayaran.Walaupun cek dan bilyet giro masing – masing diatur oleh
peraturan perundang – undangan yang berlaku, tetapi tidak ditetapkan
sebagai alat pembayaran yang sah. Sementara itu, uang rupiah, sesuai
dengan ketentuan UU Bank Indonesia 199 / 2004, ditetapkan sebagai
alat pembayaran yang sah di wilayah Indonesia, dan setiap orang wajib
menerimanya dalam hal dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban
yang mempunyai tujuan pembayaran yang sah di wilayah Indonesia,
dan setiap orang wajib menerimanya dalam hal dimaksudkan untuk
memenuhi kewajiban yang mempunyai tujuan pembayaran. Penolakan
terhadap penerimaan uang rupiah sebagai alat pembayaran di wilayah
Republik Indonesia dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan undang
– undang tersebut di atas.
4. Sarana Penarikan Berupa Perintah Pembayaran Lainnya atau
Sebagaimana yang disebutkan dalam pengertian giro, sarana
perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan dapat
berupa surat permohonan atau surat perintah nasabah kepada banknya.
Kedua jenis surat tersebut merupakan sarana untuk melakukan
penarikan dana giro, terutama untuk giro valuta asing. Cek dan bilyet
giro tidak dapat digunakan untuk penarikan dana giro valuta asing.
Tindakan pelaksanaan dari penerimaan surat perintah
pemindahbukuan dan surat perintah pembayaran biasanya berupa
pembuatan warkat lain oleh Bank Umum. Warkat tersebut berupa nota
debet dan nota kredit sesuai dengan ketentuan intern masing – masing
Bank Umum. Dalam praktik perbankan, biasanya kepada nasabah
diminta untuk mengisi warkat (slip) penarikan di samping surat
tersebut di atas.
Dalam pelaksanaannya, giro ditatausahakan oleh bank dalam suatu
rekening yang disebut ‘rekening koran’. Jenis rekening giro ini dapat berupa:
a. Rekening atas nama perorangan,
b. Rekening atas nama suatu badan usaha/lembaga, dan
c. Rekening bersama/gabungan.
Menurut Riyadi (2004: 63), jenis sumber dana ini merupakan dana yang paling
murah bagi bank, tetapi kemurahannya sifatnya juga sangat fluktuatif, karena pada
umumnya lembaga/perusahaan atau perorangan yang menyimpan uangnya dalam bentuk rekening giro hanya untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan
berjaga-jaga adalah yang paling banyak mewarnai alasan penguasaan uang tunai.
Bagi pengusaha (kecil, menengah, maupun besar) dan kaum menengah ke atas,
mempunyai rekening giro pada bank merupakan kebutuhan mutlak
demikelancaran pembayaran dalam berbagai urusan bisnisnya.
B.Manfaat Giro
Ada beberapa manfaat giro yang dapat diperoleh. Manfaat yang dimaksud kurang
lebihnya adalah:
a. Bagi Bank :
• Merupakan sumber pendanaan bank
• Merupakan sumber pendapatan bank dari penggunaan jasa
perbankan yangmerupakan aktfitas penggunaan jasa giro (fee
based income)
b. Bagi Nasabah
• Memberikan sarana layanan tambahan yang mempercepat dan
mempermudah nasabah melakukan pembayaran tagihan jasa
yang mereka pergunakan.
• Nasabah Bank dapat dengan mudah melakukan pembayaran
tagihan, baik melalui jaringan ATM maupun melalui mesin
EDC yang tersedia di kantor- kantor Bank.
• Nasabah bank lain dapat memanfaatkan jasa layanan Bill
Payment melalui mesin ATM bank sendiri dan mesin EDC
• Dapatmelakukanpembayaran:
PembayaranlistrikPLN
Pembayaran Telkom(telepon/fax/Flexipascabayar/Internet
Speedy)
Pembayaran kartu Kredit (Citibank / Standard
Chartered / HSBC)
Pembayarantiketpesawat dan keretaapi
Pembayaranzakat
PembayaranPBB
PembayaranPDAM
Dll.
C.Sumber Pendanaan Bank
C.1. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri (Dana Pihak Ke-1)
Dana sendiri lazim disebut pula dengan dana pihak kesatu yang berasal
dari pemegang saham atau pemilik. Pada dasarnya setiap bank akan selalu
berusaha untuk meningkatkan jumlah dana sendiri, selain untuk memenuhi
kewajiban menyediakan modal minimum (CAR=Capital Adequacy Ratio) juga
untuk memperkuat kemampuan ekspansi dan bersaing. Kemampuan setiap bank
untuk meningkatkan modal akan tercermin dari besarnya CAR bank tersebut. Hal
ini merupakan salah satu ukuran tingkat kemampuan dan kesehatan suatu bank,
yang akhirnya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank
(baik di dalam maupun di luar negeri). Secara garis besar dapat disimpulkan
1. Setoran modal dari pemegang saham
Setoran modal dari pemegang saham yaitu merupakan modal dari
para pemegang saham lama atau pemgang saham yang baru.Modal yang
disetor oleh para pemegang saham, sumber utama dari modal perusahaan
adalah saham.Dana yang disetor secara efektif oleh para pemegang saham
pada waktu bank berdiri. Pada umumnya modal setoran pertama dari
pemilik bank sebagian digunakan untuk sarana perkantoran, pengadaan
peralatan kantor dan promosi untuk menarik minat masyarakat.
2. Tambahan Modal Disetor
Tambahan modal disetor merupakan tambahan modal bagi bank
yang biasanya berbentuk agio, disagio, dan modal sumbangan.Agio saham
yaitu nilai selisih jumlah uang yang dibayarkan oleh pemegang saham
baru dibandingkan dengan nilai nominal saham.
3. Cadangan- Cadangan bank
Maksudnya cadangan laba, yaitu merupakan laba yang setiap tahun
di cadangkan oleh bank dan sementara waktu belum digunakan. Cadangan
laba yaitu sebagian dari laba bank yang disisihkan dalam bentuk cadangan
modal dan cadangan lainnya yang akan dipergunakan untuk menutupi
timbulnya resiko di kemudian hari. Cadangan ini dapat diperbesar apabila
bagian untuk cadangan tersebut ditingkatkan atau bank mampu
meningkatkan labanya.
Laba merupakan milik pemegang saham, yang keputusan
penggunaannya merupakan hak sepenuhnya pemegang saham melalui
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).Laba bank yang belum di bagi,
merupakan laba tahun berjalan tapi belum dibagikan kepada para
pemegang saham.
Semakin besar modal yang dimiliki oleh suatu bank, berarti
kepercayaan masyarakat bertambah baik dan bank tersebut akan diakui
oleh bank-bank lain baik di dalam maupun di luar negeri sebagai bank
yang posisinya kuat. Dana yang bersumber dari bank itu sendiri sumber
dana ini merupakan sumber dana dari modal sendiri. Keuntungan dari
sumber dana sendiri adalah tidak perlu membayar bunga yang relatif lebih
besar daripada jika meminjam ke lembaga lain.
C.2. Dana yang bersumber dari lembaga lainnya (Dana Pihak Ke-2)
Sumber dana yang ketiga ini merupakan tambahan jika bank mengalami
kesulitan dalam pencarian sumber dana pertama dan kedua di atas. Pencarian dari
sumberd ana ini relaitif labih mahal dan sifatnya hanya semntara waktu saja.
Kemudian dana yang diperoleh dari sumber ini digunakan untuk membiayai atau
membayar transaksi-transaksi tertentu. Perolehan dana dari sumber ini antara lain
dapat diperoleh dari :
1. Kredit likuiditas dari Bank Indonesia, merupakan kredit yang diberikan bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditasnya.
Kredit likuiditas ini juga diberikan kepada pembiayaan sektor-sektor
2. Pinjaman antar bank (interbank call money), pinjaman ini ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan menutup kliring (karena kalah kliring) atau
dapat juga untuk memenuhi kebutuhan pemenuhan saldo Giro Wajib
Minimum (GMW) di Bank Indonesia. Jangka waktu pinjaman ini
umumnya relative sangan singkat (overnight call money) dengan
menggunakan instrumen sertifikat deposito, promes, dan Surat Berharga
Pasar Uang (SBPU).
3. Repurchase Agreement atau disebut dengan “Rps atau “Repos”adalah penjualan surat berharga sesuai dengan waktu yang diperjanjikan dengan
harga yang ditetapkan di muka. Instrument yang digunakan Repos antara
lain Wesel dan promes yang akan jatuh tempo. Repuchase
Agreement merupakan salah satu alternative bank untuk memenuhi
kebutuhan dananya. Biasanya Repos merupakan sumber dana untuk
memenuhi kebutuhan likuiditas atau kebutuhan jangka pendek bank.
4. Fasilitas diskonto adalah penyediaan dana jangka pendek oleh Bank Indonesia dengan cara pembelian promes yang diterbitkan oleh bank-bank
atas dasar diskonto. Fasilitas diskonto merupakan upaya terakhir bagi bank
dan merupakan bantuan Bank Sentral sebagai Lender of The Last Report.
5. Pinjaman dari bank-bank luar negeri. Pinjaman yang lazimnya berbentuk pinjaman jangka menengah-panjang, offshore Loan dan
pinjaman ini sebelumnya harus mendapat persetujuan dari Bank Indonesia
6. Pinjaman dari Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB). Pinjaman ini lazimnya berupa surat berharga yang dapat diperjualbelikan seperti
sertifikat bank dan atau deposit on call dengan waktu pendek dan dapat
diperpanjang kembali.
7. Surat berharga pasar uang (SBPU).Dalam hal ini pihak perbankan menerbitkan SBPU kemudian diperjualkan kepada pihak yang berminat,
baik perusahaan keuangan maupun nonkeuangan
8. Obligasi (Bond) dan saham. Obligasi adalah bukti utang yang dijamin dengan agunan harta kekayaan dan atau pihak ketiga dari penanggung
yang menanggung janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta
pelunasan pokok pinjaman yang dilakukan pada tanggal jatuh tempo,
sekurangnya tiga tahun sejak tanggal emisi. Saham adalah bukti
pernyataan modal dalam pemilikan suatu perusahaan terbatas. Dengan
penjualan saham tersebut, dana sendiri (yang berasal dari agio saham)
akan menjadi lebih besar yang pada gilirannya akan meningkat
kemampuan bank dalam menjalan usahanya.
C.3. Dana yang berasal dari masyarakat (Dana Pihak Ke-3)
Adapun dana masyarakat adalah dana-dana yang berasal dari masyarakat,
baik perorangan maupun badan usaha, yang diperoleh dari bank dengan
menggunakan berbagai instrumen produk simpanan yang dimiliki oleh bank.
Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi
operasinya dari sumber dana ini. Pencarian dana dari sumber ini relatif paling
mudah jika dibandingkan dengan sumber lainnya dan pencarian dana dari sumber
dana ini paling dominan, asalkan bank dapat memberikan bunga dan fasilitas
menarik lainnya. Dana-dana yang dihimpun dari masyarakat ternyata merupakan
sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (bisa mencapai 80% –
90% dari seluruh dana yang dikelola oleh bank). Akan tetapi pencarian sumber
dana dari sumber ini relatif lebih mahal jika dibandingkan dari dana sendiri.
Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan
tiga macam jenis simpanan (rekening). Masing-masing jenis simpanan memiliki
keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam menyiasati pemilihan
sumber dana. Sumber dana yang dimaksud adalah:
1. Giro (demand deposit)
Giro adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukannya dapat
dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana
perintah bayar lainnya, atau dengan pemindahbukuan. Suatu cek diberikan
kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang menyimpannya di bank
mereka, sedangkan giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke
banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak
penerima, langsung ke akun mereka. Dimana simpanan giro merupakan
dana murah bagi bank karena bunga atau balas jasa yang dibayar paling
murah jika dibandingkan simpanan tabungan dan simpanan deposito. Giro
menggunakan cek, bilyet giro, sarana pembayaran lainnya atau dengan
cara pemindahbukuan, definisi ini dijelaskan dalam undang-undang
perbankkan nomor 10 tahun 1998.
2. Tabungan (saving deposit)
Pengertian tabungan menurut undang-undang perbankan nomor 10
tahun 1998 adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan
menurut syaratsyarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik
dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan
itu.
Tabungan ini dikatakan pula dana yang sensitive atau peka
terhadap perubahan sehingga disebut pula sebagai dana yang labil yang
sewaktu-waktu dapat ditarik atau disetor oleh nasabah, meskipun frekuensi
pengambilannya relative rendah bila dibandingkan dengan giro. Akibatnya
adalah dana tabungan ini dapat mengendap di bank dalam waktu relative
lebih lama dari dana giro. Simpanan tabungan adalah sebagian pendapatan
masyarakat yang tidak dibelanjakan disimpan sebagai cadangan guna
berjaga-jaga dalam jangka pendek.Mengenai syarat administrasi, besarnya
bunga dan setoran awal simpanan tabungan disetiap bank menjadi
berbeda, sesuai dengan prosedur masing-masing bank dan perjanjian
kesepakatan antara pihak bank dan nasabah.
Jangka waktu simpanan deposito lebih lama bila dibandingkan
dengan simpanan giro ataupun simpanan tabungan, serta tidak dapat
diambil setiap waktu.Menurut Undang-Undang No.10 tahun 1998 deposito
adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu
tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan bank.
D. Analisis Pengaruh Giro terhadap Pertumbuhan Bank Sumut KCP Marendal
D.1. Fungsi Giro dalam Masyarakat
Setiap anggota masyarakat mempunyai berbagai kepentingan dan memerlukan
dukungan pihak lain untuk mencapainya. Bagi masyarakat pemilik dana yang
berkepentingan dengan penyimpanan dan pengelolaan dananya, akan memerlukan
fasilitas dan jasa yang disediakan oleh bank. Salah satu jasa perbankan yang
berkaitan dengan penyimpanan dana adalah berupa giro yang dikelola oleh Bank
Umum. Giro adalah salah satu bentuk simpanan yang memberikan berbagai
manfaat kepada pemilik dana. Berbagai ketentuan tentang penggunaan giro
umumnya sangat mendukung kepentingan keuangan pihak – pihak yang
bertransaksi di masyarakat, terutama yang berasal dari lingkungan
usaha.Penyelesaian suatu transaksi pembayaran menjadi lebih mudah melalui giro,
penatausahaan keuangan nasabah penyimpan akan menjadi lebih baik melalui
pengelolaan giro yang dilakukan oleh Bank Umum. Pelayanan yang diberikan
bank akan membantu nasabah dalam mengelola keuangannya. Dengan demikian,
giro merupakan produk bank yang cukup berperanan dalam kegiatan keuangan
masyarakat.
Giro merupakan salah satu sumber modal utama bagi bank yang berasal dari
pihak ketiga atau dari masyarakat selain tabungan dan deposito. Sehingga apabila
masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan simpanan giro ini maka bank akan
mendapatkan tambahan modal untuk menjalankan kegiatannya. Modal sangat
berpengaruh besar bagi kegiatan bank, seperti yang kita ketahui kegiatan bank
adalah menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kembali pada masyarakat dalam bentuk kredit. Tanpa adanya
modal maka bank tidak dapat menjalankan perannya sebagai penyalur dana
kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, dengan adanya modal maka
bank dapat menyediakan uang bagi nasabah yang sewaktu – waktu ingin menarik
uangnya baik melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri) maupun melalui teller. Hal
ini tentu akan memengaruhi pertumbuhan Bank itu sendiri, baik dari sisi
kepercayaan masyarakat maupun dari sisi pendapatan bank.
Tabel 3.1
Simpanan Giro dan Modal PT Bank Sumut KCP Marendal
Tahun Giro Modal
2011 Rp. 3.648.355.007,50 Rp. 42.804.310.722,25
2012 Rp. 3.946.525.838,23 Rp. 58.174.384.091,28
2013 Rp. 4.405.804.843,00 Rp. 75.040.229.6678,19
Bila dilihat dari tabel di atas maka dapat dilakukan analisis bahwa pada
tahun 2011 pada total simpanan giro sebesar Rp. 3.648.355.007,50, modal yang
didapat hanya sebesar Rp. 42.804.310.722,25, dibandingkan dengan tahun 2012
pada total simpanan giro yang meningkat dari tahun 2011 yaitu sebesar Rp.
3.946.525.838,23 maka modal yang didapat juga meningkat menjadi Rp.
58.174.384.091,28. Begitu juga di tahun 2013 dimana total simpanan giro paling
besar dibandingkan tahun – tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp.
4.405.804.843,00maka modal yang didapat oleh Bank Sumut KCP Marendal juga
meningkata menjadi Rp. 75.040.229.6678,19.
D.2. Fungsi Giro dalam Perbankan
Dari sisi perbankan, giro merupakan salah satu sumber dana bagi Bank
Umum untuk menjaga kelangsungan kegitannya sebagai suatu badan usaha. Dana
yang dihimpun bank dari masyarakat, antara lain melalui giro, akan disalurkannya
kembali sesuai dengan usahanya, terutama dalam bentuk pemberian kredit kepada
pihak – pihak yang memerlukan pinjaman dana dan usaha perbankan lainnya.
Pihak – pihak yang memerlukan dana dalam rangka suatu pembiayaan akan dapat
yang sehat diharapkan akan mendorong kegiatan perekonomian masyarakat.
Sejauh mana fungsi giro sebagai salah satu sumber dana bagi Bank Umum
kiranya dapat diperhatikan dari kegiatan penghimpunan dana yang telah
dilaksanakan oleh Bank Umum.
Semakin banyak dana yang disalurkan melalui kredit maka pendapatan
bagi Bank akan semakin besar juga. Karena Bank mendapat bunga dari setiap
[image:44.595.143.498.581.696.2]kredit yang diberikannya.
Tabel 3.2
Simpanan Giro dan Pendapatan Bunga PT Bank Sumut KCP Marendal
Periode Tahun 2011 s/d 2013
Tahun Giro Pendapatan Bunga
2011 Rp. 3.648.355.007,50 Rp. 5.991.905.630,47
2012 Rp. 3.946.525.838,23 Rp. 7.210.588.421,34
Dari tabel di atas dapat dilakukan analisis bahwa jumlah simpanan giro
terkecil adalah pada tahun 2011 yaitu Rp. 3.648.355.007,50, dengan kondisi
tersebut maka akan berpengaruh pada pendapatan bunga yang diterima oleh Bank
Sumut KCP Marendal. Pada tahun 2011 pendapatan bunga yang diterima hanya
sebesar Rp. 5.991.905.630,47, berbeda dengan tahun berikutnya yaitu tahun 2012,
dimana simpanan giro mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya menjadi
Rp. 3.946.525.838,23, maka pada tahun tersebut pendapatan bunga juga
meningkat menjadi Rp. 7.210.588.421,34. Dan pendapatan bunga terbesar adalah
pada tahun 2013 yaitu sebesar Rp. 8.049.179.143,98 hal ini dikarenakan simpanan
giro juga meningkat dari tahun 2012 menjadi Rp. 4.405.804.843,00.
D.3. Fungsi Giro dalam Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Giro sesuai dengan pengelolaannya sebagai produk perbankan merupakan
salah satu penunjang tercapainya kelancaran lalu lintas pembayaran terutama
sepanjang berkaitan dengan warkat pembayaran dan kliring
antarbank.Perhitungan pembayaran antarbank dalam rangka penyelesaian kliring
dilaksanakan melalui rekening – rekening giro yang dikelola oleh Bank Umum
yang bersangkutan. Melalui kliring anatarbank dan rekening giro pada Bank
Umum, terjadi perpindahan dana masyarakat secara cepat dan aman guna
mendukung kegiatan perekonomian.
Adapun mengenai warkat yang dikliringkan selama ini diketahui sebagian
besar berupa bilyet giro dan cek yang penggunannya selalu berhubungan dengan
peranan giro serta penggunaan cek dan bilyet giro dalam penyelenggaraan sistem
pembayaran yang mendukung tercapainya lalu lintas pembayaran yang lancar dan
aman.Dalam hal ini pihak Bank akan mendapatkan fee atas jasanya dalam
melakukan perpindahan dana antarbank secara cepat dan aman yang tentu akan
[image:46.595.152.497.357.477.2]menambah pendapatan bagi pihak Bank itu sendiri.
Tabel 3.3
Simpanan Giro dan Pendapatan Komisi PT Bank Sumut KCP Marendal
Periode Tahun 2011 s/d 2013
Tahun Giro Pendapatan Komisi
2011 Rp. 3.648.355.007,50 Rp. 1.633.421,00
2012 Rp. 3.946.525.838,23 Rp. 5.929.085,00
2013 Rp. 4.405.804.843,00 Rp. 9.030.560,00
Dari tabel di atas dapat dilakukan analisis bahwa jumlah simpanan giro
terkecil adalah pada tahun 2011 yaitu Rp. 3.648.355.007,50, dengan kondisi
tersebut maka akan berpengaruh pada pendapatan komisi yang diterima oleh Bank
Sumut KCP Marendal. Pada tahun 2011 pendapatan bunga yang diterima hanya
sebesar Rp. 1.633.421,00, berbeda dengan tahun berikutnya yaitu tahun 2012,
dimana simpanan giro mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya menjadi
Rp. 3.946.525.838,23, maka pada tahun tersebut pendapatan komisi Bank Sumut
KCP Marendal juga meningkat menjadi Rp. 5.929.085,00. Dan pendapatan komisi
dikarenakan simpanan giro juga meningkat dari tahun 2012 menjadi Rp.
4.405.804.843,00.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
PT. Bank Sumut KCP Marendal merupakan bank yang usaha pokonya
adalah menghimpun dan menggalang dana masyarakat baik dalam bentuk
yang membutuhkan melalui kredit. Dari data yang diperoleh dari pengamatan baik
secara langsung maupun tidak langsung serta mengenai uraian – uraian teori
maupun data keuangan dengan tinjauan dalam mencari pengaruh giro terhadap
pertumbuhan Bank Sumut KCP Marendal, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Dalam kurun waktu tiga tahun yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 jumlah
Simpanan Giro pada Bank Sumut KCP Marendal mengalami peningkatan
yaitu dari yang awalnya sebesar Rp. 3.648.355.007,50 meningkat menjadi
Rp. 3.946.525.838,23 di tahun 2012, dan mengalami peningkatan kembali
pada tahun 2013 menjadi Rp. 4.405.804.843,00.
2. Walaupun simpanan giro mengalami peningkatan,akan tetapi
peningkatannya tidak terlalu besar dalam kurun waktu 2 tahun dari tahun
2011 ke tahun 2012 Bank Sumut KCP Marendal hanya dapat
meningkatkan jumlah simpanan giro sebesar Rp. 298.170.830,73 saja.
Dari tahun 2012 ke tahun 2013 Bank hanya dapat meningkatkan jumlah
simpanan giro sebesar Rp. 459.279.004,77, bukan nominal yang besar bila
dilihat dari segi perbankan.
3. Seiring dengan peningkatan jumlah simpanan giro pada Bank Sumut KCP
Marendal dalam kurun waktu tiga tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013 maka modal yang didapatkan oleh Bank juga ikut
meningkat dari yang awalnya sebesar Rp. 42.804.310.722,25 meningkat
menjadi Rp.58.174.384.091,28 di tahun 2012, dan mengalami peningkatan
4. Seiring dengan peningkatan jumlah simpanan giro pada Bank Sumut KCP
Marendal dalam kurun waktu tiga tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013 maka pendapatan bunga yang didapatkan oleh Bank
juga ikut meningkat dari yang awalnya sebesar Rp. 5.991.905.630,47
meningkat menjadi Rp. 7.210.588.421,34 di tahun 2012, dan mengalami
peningkatan kembali pada tahun 2013 menjadi Rp. 8.049.179.143,98
5. Seiring dengan peningkatan jumlah simpanan giro pada Bank Sumut KCP
Marendal dalam kurun waktu tiga tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai
dengan tahun 2013 maka pendapatan komisi yang didapatkan oleh Bank
juga ikut meningkat dari yang awalnya sebesar Rp. 1.633.421,00
meningkat menjadi Rp. 5.929.085,00 di tahun 2012, dan mengalami
peningkatan kembali pada tahun 2013 menjadi Rp. 9.030.560,00.
6. Simpanan Giro sangat memengaruhi pertumbuhan Bank Sumut KCP
Marendal. Hal ini terlihat dari pengaruhnya yang sangat besar terhadap
besarnya modal, pendapatan bunga, dan pendapatan komisi yang mampu
diperoleh oleh Bank Sumut KCP Marendal.
B.SARAN
Berdasarkan kesimpulan tersebut yang diambil setelah menganalisa dan
mengevaluasi, peneliti mencoba memberikan saran yang kiranya dapat menambah
manfaat dalam penulisan tugas akhir ini.
1. Dilihat dari jumlah peningkatan simpanan giro pada Bank Sumut KCP
Marendal yang tidak terlalu besar, hendaknya Bank Sumut KCP
masyarakat agar lebih tertarik terhadap giro sehingga setiap tahunnya
jumlah peningkatan giro dapat mencapai nominal yang lebih besar.
2. Hendaknya Bank Sumut KCP Marendal dapat lebih memperhatikan dan
menjaga tingkat pertumbuhan giro setiap tahunnya sehingga Bank akan
mendapatkan lebih banyak lagi modal, pendapatan bunga, dan
pendapatan komisi.
3. Dilihat dari segi pendapatan komisi, hendaknya Bank Sumut KCP
Marendal dapat melakukan inovasi - inovasi baru agar masyarakat tertarik
melakukan pembayaran dan transaksi kliring di Bank Sumut KCP
DAFTAR PUSTAKA
Bahsan,M,2005.Giro dan Bilyet Giro Perbankan Indonesia.Raja Grafido Persada. Jakarta.
Kasmir,SE,MM,2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.Raja Grafindo Persada. Jakarta