LAMPIRAN Daftar Pertanyaan Kuesioner:
Jenis Kelamin : Umur : Pendidikan : Pekerjaan :
1. Kapankah anda pergi menunaikan ibadah haji?
... 2. Dengan siapa anda pergi menunaikan ibadah haji?
... 3. Program haji apa yang anda gunakan? Reguler atau ONH Plus?
... 4. Berapa lama anda menunggu untuk menunaikan ibadah haji?
... 5. Apakah anda mengalami kesulitan saat melakukan perjalanan haji?
a. Iya b. Tidak
6. Jika iya, kesulitan apa yang anda alami?
... ... ... 7. Apa motivasi anda pergi haji?
... ... 8. Apakah anda pernah mempelajari bahasa arab?
a. Pernah b. Tidak Pernah
9. Jika pernah, kapan?
a. SD/MI c. SMA/MA
b. SMP/MTs d. Perguruan Tinggi 10.Apakah anda mampu berbahasa Arab?
a. Mampu c. Tidak Mampu b. Sedikit
▸ Baca selengkapnya: cara nak pupuk bahasa dan kesusasteraan
(2)a. Paham c. Tidak Paham b. Sedikit
12.Apakah anda berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dengan orang-orang Arab?
a. Iya b. Tidak
13.Jika tidak, kenapa?
a. Tidak Mampu b. Takut Salah 14.Apakah anda mampu membaca tulisan Arab?
a. Mampu c. Tidak Mampu
b. Sedikit
15.Bagaimana anda berkomunikasi dengan orang sekitar?
a. Menggunakan bahasa Isyarat c. Menggunakan bahasa Indonesia b. Menggunakan bahasa Arab d. A dan C
16.Apakah anda pernah tersesat saat melakukan perjalanan haji? a. Pernah b. Tidak Pernah
17.Jika pernah, kenapa?
Karena ... 18.Apakah bahasa Arab itu penting dalam melaksanakan ibadah haji?
a. Penting b. Tidak Penting
19.Jelaskan kepentingan bahasa Arab dalam pelaksanaan ibadah haji?
... ... 20.Jelaskan bahasa apa yang anda gunakan di bandara?
... ... ... 21.Jelaskan bahasa apa yang anda gunakan di pemondokan?
... ... ... 23.Jelaskan bahasa apa yang anda gunakan di pasar?
... ... ... 24.Apa fungsi bahasa Arab untuk anda di tanah suci?
Daftar Nama Informan / Jamaah Haji Kecamatan Medan Area
NO NAMA P/W U ALAMAT PEND PEKERJ.
1 Ahmad Suar P 51 Jl. AR Hakim G. Kolam No. 17 SLTA Swasta
2 Anis W 63 Jl. Puri G. Sahabat No. 16 SMP IRT
3 Asneli W 53 Jl. Utama No. 43 SLTA IRT
4 Asniar W 60 Jl. Utama G. Tengah I No. 8 SD IRT
5 Asrial P 54 Jl. Utama No. 43 SM BUMD
6 Astuti W 53 Jl. Ismailiyah No. 56 SLTA TNI/POL
7 Azhar Anwar P 62 Jl. Seto No. 63 SLTA BUMD
8 Darmawati W 62 Jl. MA Selatan G. Islam No. 791 SLTA IRT
9 Erlina W 54 Jl. Seto No. 63 SLTA IRT
10 Fitri Ani W 54 Jl. Bromo Lr. Azizah No. 49 C SLTA IRT 11 Hafni Susanti Spd W 50 Jl. Laksana G. Bunga No. 1 S1 PNS
12 Helmi, Dra W 52 Jl. Bromo No. 90 S1 IRT
13 Idaliana Daiwany W 57 Jl. Halat No. 165 SLTA IRT 14 Irina Asiani W 56 Jl. AR Hakim G. Kolam No. 67 SLTA IRT
15 Mawarni W 61 Jl. Puri G. Nangka No. 15 SLTA IRT
16 Murnila W 58 Jl. Amaliun G. Tengah No. 201 A SLTA IRT 17 Nilawati W 52 Jl. Puri G. Wasono No. 12 SLTA IRT 18 Nurhayati W 62 Jl.Amaliun G.Sofyan Tanoer No.2 SD Swasta
19 Tumiam W 64 Jl. Puri G. Seri No. 18 SD IRT
20 Tuty Nursehan W 59 Jl. MA Selatan G. Ganefo No. 390 SLTA IRT
22 Yuli Jenny SP W 49 Jl. Puri G. Penghulu No. 73-2 S1 Swasta 23 Yuliehanna H.,
S.Ag
W 41 Jl. Sutrisno G. Berlian No. 6 S1 PNS
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Djamalul. 1996. Komunikasi dan Bahasa Dakwah. Jakarta: Gema Insani Press.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Metoddelogi Penelitian. Yogyakarta: Bina Aksara. ________________ . 1992. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Agama, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada Perguruan Tinggi
Agama Islam IAIN, Jakarta: 1976.
Djajasudarma, Hj. T. Fatimah. 2006. Metode Linguistik: Ancangan Metode
Penelitian dan Kajian. Bandung: PT. Refika Aditama.
Gayo,H.M. Iwan. 2012. Buku Pintar Haji & Umrah. Bintaro: pustaka Warga Negara.
Haris, Drs. Abdul. 2003. Bahasa Arab untuk Jama’ah Haji Indonesia. Malang: Bayumedia Publishing.
Hidayatullah, Moch. Syarif. 2012. Cakrawala Linguistik Arab. Tangerang Selatan: Al-Kitabah.
Josep R. Tarigan dan M. Suparmoko. 2000. Metode Pengumpulan Data. Yogyakarta: BPFE.
Karim, Asar Abdul. 2008. Bahasa Arab Untuk Semua. Malaysia: Universiti Malaysia Pahang.
Lubis, M. Husnan. 2008. Pengantar Ilmu Penterjemahan. Medan: Bartong Jaya. Lungan, Richard. 2006. Aplikasi Statistika dan Hitung Peluang. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Marzuki, 2000. Metodologi Riset. Yogyakarta: BPFE-UII
Muflihah, 2007. Percakapan Bahasa Arab-Inggris-Indonesia Untuk Haji dan
Umrah. Keisant Blanc.
Mulyana, Dedy. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Said, H.A. Fuad. 1984. Pengantar Sastra Arab. Medan: Pustaka Babussalam. Shally Rahmawati, dkk. 2014. “Makalah Bahasa Indonesia: Sejarah, Kedudukan,
Sirojuddin Ar., Drs. D. 1994. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
________ . 2008. Metode Penelitian Bisnis. Bandung:Pusat Bahasa Depdiknas. ________ . 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Internet:
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1Metode Penelitian
Fungsi penelitian adalah mencari penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan yang ada.Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb.); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan mencapai tujuan yang ditentukan. Penelitian adalah suatu proses pengumpulan dan analisis atau pengolahan data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Metode penelitian merupakan alat, prosedur, dan teknik yang dipilih dalam melaksankan penelitian (dalam mengumpulkan data) (Djajasudarma, 2006: 1 dan 4)
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan peninjauan langsung ke objek penelitian. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yaitu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Data merupakan jamak dari “datum” yang berasal dari bahasa latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Data merupakan keterangan-keterangan atau fakta-fakta yang dikumpulkan dari suatu populasi atau bagian populasi yang akan digunakan untuk menerangkan ciri-ciri populasi yang bersangkutan. (Lungan, 2006:13)
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data jamaah haji yang diperoleh dari Departemen Agama kota Medan kecamatan Medan Area tahun 2013. Ada 25 orang jamaah haji yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini.
a. Mendata jamaah haji Kecamatan Medan Area tahun 2013 melalui Departemen Agama.
b. Membuat daftar kuesioner yang akan diberikan kepada jamaah haji.
c. Mengunjungi setiap rumah jamaah haji yang akan diteliti oleh penulis.
d. Mengumpulkan semua hasil kuesioner yang telah diperoleh. e. Menganalisis data yang telah diperoleh.
f. Menyusun hasil penelitian secara sistematis yang akan disajikan dalam bentuk skripsi.
3.2Lokasi Penelitian dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan untuk jamaah haji di Kecamatan Medan Area tahun 2013, dan waktu penelitian ini dilakukan selama 6 bulan.
3.3Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2008:115), “Populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu, ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”. Dalam penelitian ini populasinya adalah Jamaah Haji (Kecamatan Medan Area Tahun 2013) yang berjumlah 151 orang.
umur 15 s/d 64 tahun, dengan sebab-sebab mereka lebih memahami bahasa Arab untuk berkomunikasi di tanah suci.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan peneliti adalah teknik
purposive sampling (judgement sampling). Menurut Sugiyono (2001: 61)
sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik, ciri, kriteria) sampel. Sampel diambil berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Kriteria sampel yang telah ditentukan peneliti seperti, yang berusia produktif yakni umur 15 s/d 64 tahun. Alasan peneliti mengambil sampel yang berusia 15 s/d 64 tahun karena pada usia itu, para jamaah haji akan mudah diteliti dan ditanyai mengenai haji dan komunikasi yang pernah mereka lakukan. Jamaah haji yang berusia produktif (15 s/d 64 tahun) ada 121 orang, dan yang berusia tidak produktif (64 tahun ke atas) ada 30 orang. Alasan peneliti mengambil 25 orang yang berusia produktif karena mereka mudah untuk berkomunikasi, memiliki alamat rumah yang jelas, dan yang mau diteliti.
3.4 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah sumber subjek dari mana data dapat diperoleh. Sumber data terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Data sekunder, adalah data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau dari sumber yang sudah ada. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang dipublikasikan atau yang tidak dipublikasikan. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh peneliti dari buku-buku, jurnal, laporan penelitian, dan sebagainya yang mengenai bahasa Arab bagi jamaah haji.
individual atau kelompok, hasil observasi suatu benda, kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil kuesioner yang peneliti peroleh dari jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013.
3.5Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan memberikan kuesioner tenteng kepentingan bahasa Arab kepada jamaah haji kota Medan kecamatan Medan Area tahun 2013. Para jamaah haji diminta untuk mengisi kuesioner yang berbentuk pilihan berganda dan penjelasan. Contoh tabel percakapan, peneliti merujuk kepada buku “Bahasa Arab untuk Jamaah Haji Indonesia” (Drs. Abdul Haris: 2003).
Kuesioner menurut Sugiyono (2008:199) adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Menurut Arikunto (2006: 151), kuesioner adalah pernyataan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang ia ketahui. Jadi, kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberikan tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan peneliti.
Menurut Arikunto (2006: 224), kuesioner terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
Dipandang dari cara menjawab:
a. Kuesioner terbuka adalah memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimat sendiri.
b. Kuesioner tertutup adalah sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.
a. Kuesioner langsung adalah responden menjawab tentang dirinya sendiri.
b. Kuesioner tidak langsung adalah responden menjawab tentang orang lain.
Dipandang dari bentuknya:
a. Kuesioner pilihan ganda sama dengan kuesioner tertutup. b. Kuesioner lisan sama dengan kuesioner terbuka.
c. Check list yaitu sebuah daftar dan responden tinggal membutuhkan
tanda check pada kolom yang sesuai.
d. Rating scale (skala bertingkat) yaitu sebuah pertanyaan yang diikuti
oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner langsung yang terbuka karena responden memberikan tanda pada salah satu jawaban yang benar dan juga memberikan jawaban sesuai dengan yang diinginkan oleh responden.
Observasi menurut Sugiyono (2012:145) adalah teknik pengumpulan yang mempunyai ciri spesifik berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam, dan responden yang diamati tidak terlalu besar. Menurut Basrowi (2012), observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara diteliti serta pencatatan secara sistematis. Jadi, observasi adalah teknik pengamatan yang berkenaan dengan suatu fenomena dan responden yang diteliti dan dicatat secara sistematis.
Observasi terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
Dilihat dari keterlibatan subjek terhadap objek yang sedang diobservasi terbagi menjadi tiga, yakni:
atau tidak dibuat – buat. Disisi lain, observasi partisipan mengandung kelemahan, terutama berkaitan dengan kecermatan dalam melakukan pengamatan dan pencatatan, sebab ketika observer terlibat langsung dalam aktifitas yang sedang dilakukan observee, sangat mungkin observer tidak bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail.
b. Observasi non-partisipan, yaitu bila observer tidak secara langsung atau tidak berpartisipasi dalam aktifitas yang sedang dilakukan oleh observee.Observasi non – partisipan ini memiliki kelebihan, yaitu observer bisa melakukan pengamatan dan pencatatan secara detail dan cermat terhadap segala aktivitas yang dilakukan observee. Disisi lain, bentuk ini juga memiliki kelemahan yaitu bila observee mengetahui bahwa mereka sedang diobeservasi, maka perilakunya biasanya buat – buat atau tidak wajar. Akibatnya, observer tidak mendapatkan data yang asli.
c. Observasi kuasi-partisipan, yaitu bila observer terlibat pada sebagian kegiatan yang sedang dilakukan oleh observee, sementara pada sebagian kegiatan lain observer tidak melibatkan diri. Bentuk ini merupakan jalan tengah untuk mengatasi kelemahan kedua bentuk observasi di atas, dan sekaligus memanfaatkan kelebihan dari kedua bentuk tersebut.
Dilihat dari segi situasi lingkungan dimana subjek diobservasi, Gall dkk (2003 : 254) membedakan observasi menjadi dua, yaitu :
a. Observasi Naturalistik, jika observasi dilakukan secara alamiah atau dalam kondisi apa adanya.
b. Observasi Eksperimental, jika observasi itu dilakukan terhadap subjek dalam suasana eksperimen atau kondisi yang diciptakan.
a. Observasi Naturalistik, yaitu ketika sesorang ingin mengobservasi subjek (observee) dalam kondisi alami atau natural.
b. Metode Survei, yaitu ketika seseorang mensurvai (mengobservasi) contoh-contoh tertentu dari perilaku individu yang ingin kita nilai. c. Eksperimentasi, yaitu ketika sesorang tidak hanya mengobservasi
tetapi memaksakan kondisi-kondisi spesifik terhadap subjek yang diobservasi.
Berdasarkan pada tujuan dan lapangannya, Hanna Djumhana (1983 : 205) mengelompokkan observasi menjadi, yaitu :
a. Finding Observasi, yaitu kegiatan observasi untuk tujuan penjajagan.
Dalam melakukan observasi ini observer belum mengetahui dengan jelas apa yang harus diobservasi, ia hanya mengetahui bahwa ia akan mengahadapi suatu situasi saja. Selama berhadapan dengan situasi itu, ia bersikap menjajagi saja, kemudian ia mengamati berbagai variabel yang mungkin dapat dijadikan bahan untuk menyusun observasi yang lebih terarah.
b. Direct Observation, yaitu observasi yang menggunakan “daftar isi”
sebagai pedomannya. Daftar ini bisa berupa checklist kategori tingkah laku yang diobservasi. Pada umumnya pembuatan daftar isian ini didasarkan pada data yang diperoleh dari finding observation dan atau penjabaran dari konsep dalam teori yang dipandang sudah mapan.
Berdasarkan pada tingkat kesempurnaannya dan pelatihan yang disyaratkan, Gibson & Mitchell (1995 : 261), mengklasifikasikan observasi sebagai berikut :
a. Level pertama, observasi informasi kasual (casual information
observation ). Observasi jenis ini banyak dilakukan dalam kehidupan
observasi yang tidak terencana yang memberikan kesan – kesan kasual yang terjadi sehari –hari oleh orang – orang di dekat kita. Tidak ada pelatihan atau instrumentasi yang diharapkan atau disyaratkan.
b. Level kedua, observasi terstruktur (guided observation). Terencana, diarahkan pada sebuah maksud atau tujuan. Observasi pada tingkat ini biasanya difasilitasi oleh instrumen yang sederhana seperti cheklist dan skala penilaian. Beberapa training juga diperlukan. c. Level ketiga, level klinis. Observasi, selalu diperpanjang, dan sering
dengan kondisi – kondisi yang terkontrol. Teknik – teknik dan instrumen – instrumen yang digunakan direncanakan dengan baik, dan digunakan melalui pelatihan secara khusus, biasanya diberikan pada level doktoral.
Teknik yang peneliti gunakan adalah teknik observasi non partisipan yaitu observasi yang dilakukan dimana peneliti tidak menyatu dengan yang diteliti, peneliti hanya sekedar sebagai pengamat.
3.6Teknik Analisis Data
Teknik analisa data adalah teknik yang paling penting dan menentukan dalam suatu penelitian. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan tujuan menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Selain itu data dimanfaatkan agar dapat dipakai untuk menjawab masalah yang diajukan dalam penelitian.
Menurut Nana dan Ibrahim (1989 : 126) bahwa data kualitatif dapat langsung disusun dan di tafsirkan untuk menyusun kesimpulan penelitian melalui kategorisasi data kualitatif berdasarkan masalah dan tujuan penelitian.
pengumpulan data peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data, kemudian data tersebut dikumpulkan berupa field notes/catatan dilapangan yang terdiri dari berbagai deskripsi dan refleksi. Kemudian peneliti menyusun peristiwa tersebut reduksi data dan diteruskan dengan penyusunan sajian data yaitu berupa cerita sistematis yang didukung dengan perabot seperti, printer dan dokumen yang lainnya. Miles dan huberman (1984 : 11) menerangkan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak adanya data yang diperoleh lagi atau tidak adanya informasi baru. Dan analisis data dilakukan dengan metode interaktif dari Miles dan Huberman.
Setelah data berhasil dikumpulkan, data diklasifikasikan ke dalam tabel-tabel penggunaan bahasa berdasarkan hasil dari data yang telah diperoleh. Data yang ada di tabel tersebut, kemudian dihitung persentasenya dengan rumus
n = jumlah jawaban responden
Σn = jumlah keseluruhan responden
Data yang sudah diklasifikasikan tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan data-data ke dalam penjelasan tertulis. Sementara itu, untuk data kualitatif, analisis juga dilakukan secara deskriptif berdasarkan hasil terjemahan dari responden.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penggunaan Bahasa Arab Bagi Jamaah Haji Indonesia
Data yang disajikan pada bagian ini adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013.
Berdasarkan hasil kuesioner maka peneliti telah memperoleh hasilnya bahwa jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 kesulitan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan sulit memahami bahasa Arab karena pendidikan dan pengetahuan yang kurang tentang bahasa Arab yang menyebabkan jamaah haji tersesat saat melakukan perjalanan haji. Adapun hasil penelitian yang ditemukan sebagai berikut:
Jamaah haji yang dijadikan sampel sebanyak 25 orang. Mereka pergi haji menggunakan program reguler. Motivasi mereka berangkat haji karena mereka ingin menunaikan ibadah dan kewajiban bagi setiap muslim atau muslimah yang mampu dari segi rohani maupun jasmani. Dari 25 sampel terdapat 22 orang yang pernah mempelajari bahasa Arab dengan rincian 18 orang (72%) mempelajari bahasa Arab saat SD (Sekolah Dasar) atau MI (Madrasah Ibtidaiyah), dan 4 orang (16%) mempelajari bahasa Arab saat SMP (Sekolah Menengah Pertama) atau MTs (Madrasah Tsanawiyah), dan terdapat 3 orang (12%) yang tidak mempelajari bahasa Arab.
4.1.1 Penggunaan Bahasa Arab di Bandara
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari data jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 bahwasanya para jamaah haji yang menggunakan bahasa Arab ada 4 orang (16%), bahasa Inggris ada 1 orang (4%), dan bahasa isyarat ada 20 orang (80%).
Tabel 4.1
BAHASA
BA BI B. ING B. IS
16% - 4% 80%
Diagram 4.1
Persentase Penggunaan Bahasa di Bandara
Dari penjelasan di atas, ada 4 orang yang menggunakan bahasa Arab. 4 orang tersebut menggunakan bahasa Arab karena mereka mampu berbahasa Arab dan paham mengenai bahasa Arab. Ada juga 1 orang yang menggunakan bahasa Inggris karena beliau tidak mampu berbahasa Arab. Dan ada 20 orang yang menggunakan bahasa isyarat karena mereka tidak mampu menggunakan bahasa Arab dan juga mereka telah mempunyai ketua kelompok yang mampu berbahasa Arab.
16%
0 4%
80%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
BA BI B. ING B. IS
BAHASA
4.1.2 Penggunaan Bahasa Arab di Hotel
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari data jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 bahwa semua sampel yakni 25 orang (100%)yang menggunakan bahasa Indonesia saat berada di pemondokan atau hotel karena orang-orang sekitar mereka adalah orang Indonesia.
Tabel 4.2
Penggunaan Bahasa di Hotel BAHASA
BA BI B. ING B. IS
- 100% - -
Diagram 4.2
Persentase Penggunaan Bahasa di Hotel
0%
100%
0% 0%
0% 20% 40% 60% 80% 100% 120%
BA BI B. ING B. IS
BAHASA
4.1.3 Penggunaan Bahasa Arab di Masjid
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari data jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 bahwasanya jamaah haji yang menggunakan bahasa Arab ada 4 orang (16%) karena mereka mampu menggunakan bahasa Arab dan selebihnya yaitu 21 orang (84%) menggunakan bahasa isyarat karena mereka ada yang tidak dan kurang mampu untuk berbahasa Arab dengan masyarakat sekitar.
Tabel 4.3
Penggunaan Bahasa di Masjid BAHASA
BA BI B. ING B. IS
16% - - 84%
Diagram 4.3
Persentase Penggunaan Bahasa di Masjid
16%
0% 0%
84%
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90%
BA BI B. ING B.IS
BAHASA
4.1.4 Penggunaan Bahasa Arab di Pasar
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari data jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 bahwasanya 4 orang (16%) menggunakan bahasa Arab, 8 orang jamaah haji (32%) menggunakan bahasa Indonesia karena pedagang yang mereka temui saat berbelanja adalah pedagang dari Indonesia, 2 orang (8%) menggunakan bahasa Inggris, dan 11 orang (44%) menggunakan bahasa isyarat.
Tabel 4.4
Penggunaan Bahasa di Pasar BAHASA
BA BI B. ING B. IS
16% 32% 8% 44%
Diagram 4.4
Persentase Penggunaan Bahasa di Pasar
16%
32%
8%
44%
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% 45% 50%
BA BI B. ING B. IS
BAHASA
4.2 Bahasa Arab yang Digunakan Jamaah Haji Indonesia
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwasanya bahasa Arab yang digunakan jamaah haji saat berkomunikasi adalah bahasa Arab fusha karena masyarakat di tanah suci berkomunikasi dengan mereka menggunakan bahasa Arab fusha.
Berikut adalah tingkat kepentingan bahasa Arab bagi jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area:
Tabel 4.5
Kepentingan bahasa Arab
No. Nama Penting / Tidak Penting
1 Ahmad Suar Penting
2 Anis Penting
3 Asneli Penting
4 Asniar Penting
5 Asrial Penting
6 Astuti Penting
7 Azhar Anwar Penting
8 Darmawati Penting
9 Erlina Penting
10 Fitri Ani Penting
11 Hafni Susanti, Spd Penting
12 Helmi, Dra Penting
13 Idaliana Daiwany Tidak Penting
15 Mawarni Penting
16 Murnila Tidak Penting
17 Nilawati Penting
18 Nurhayati Penting
19 Tumiam Penting
20 Tuty Nursehan Penting
21 Warni Koto Penting
22 Yuli Jenny SP Penting
23 Yuliehanna H., S.Ag Penting
24 Yulmi Penting
25 Zuraida Penting
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa dari 25 orang sampel hanya 2 orang (8%) yang menyatakan bahwa bahasa Arab tidak penting karena pada dasarnya mereka telah mempunyai ketua kelompok yang mampu berbahasa Arab dan menurut mereka bahasa Arab bukanlah bahasa yang mereka gunakan dalam keseharian mereka dan 23 orang (92%) menyatakan bahasa Arab penting karena jika mereka mampu berbahasa Arab maka itu akan mempermudah mereka nantinya untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang ada di sana. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwasanya bahasa Arab memiliki peranan yang penting bagi jamaah haji. Jika jamaah haji mengetahui bahasa Arab maka mereka akan mudah dan lancar untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar.
Tabel 4.6
Tingkat kepentingan bahasa Arab
Bahasa Penting Tidak Penting
Bahasa Arab merupakan alat komunikasi bagi jamaah haji di tanah suci, dari bentuk-bentuk komunikasi yang telah dijelaskan di atas, para jamaah haji menggunakan komuikasi lisan dan tertulis yang menggunakan alat-alat tertentu, seperti gelang, kartu nama, dan lain-lain. Komunikasi yang digunakan jamaah haji bersifat nonverbal dan proses komunikasinya secara primer.
Berdasarkan hasil dari data yang telah peneliti kumpulkan dapat disimpulkan bahwa jamaah haji kota Medan Kecamatan Medan Area tahun 2013 tidak bisa menggunakan bahasa Arab karena dilihat dari pendidikan para jamaah haji bahwasanya mereka mempelajari bahasa Arab hanya saat di SD dan ada juga yang tidak pernah mempelajari bahasa Arab. Para jamaah haji kesulitan menggunakan bahasa Arab dikarenakan pendidikan mereka tentang bahasa Arab yang rendah dan minimnya pengetahuan mereka mengenai bahasa Arab. Dan hanya 4 orang (16%) yang mampu membaca tulisan Arab, 16 orang (64%) yang kurang mampu membaca tulisan Arab, dan 5 orang (20%) yang tidak mampu membaca tulisan Arab.
Tabel 4.7
Tingkat kemampuan membaca tulisan Arab jamaah haji Indonesia Tingkat Kemampuan
Mampu Kurang Mampu Tidak Mampu
16% 64% 20%
4.3 Tempat Penggunaan Bahasa Arab Bagi Jamaah Haji Indonesia
(16%) yang menggunakan bahasa Arab, dan di pasar ada 4 orang (16%) yang menggunakan bahasa Arab.
Tabel 4.5
Tempat Penggunaan Bahasa Arab
TEMPAT
BANDARA HOTEL MASJID PASAR
16% 0% 16% 16%
Diagram 4.5
Persentase Tempat Penggunaan Bahasa Arab 16%
0%
16% 16%
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% 18%
BANDARA HOTEL MASJID PASAR
TEMPAT
BAB V PENUTUP
Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dan saran-saran yang berkenaan dengan seputar “Penggunaan Bahasa Arab bagi Jamaah Haji Kota Medan (Studi Kasus Kecamatan Medan Area)”. Untuk lebih jelasnya akan peneliti sajikan kesimpulan dan saran-saran tersebut sebagai berikut:
5.1Kesimpulan
Haji merupakan salah satu rukun Islam yang setiap muslim yang memiliki kemampuan wajib melakukannya sekali dalam hidupnya. Ibadah haji adalah ibadah yang telah diatur segala sesuatunya dalam ajaran Islam sesuai tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah serta sumber-sumber hukum Islam yang lain.
Berdasarkan hasil pengolahan data pada bab sebelumnya, peneliti menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan jamaah haji untuk berkomunikasi adalah bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa isyarat. Jamaah haji menggunakan bahasa Arab di bandara, masjid, dan pasar. Jamaah haji yang menggunakan bahasa Arab di bandara sebanyak 4 orang (16%), di masjid sebanyak 4 orang (16%), di pasar sebanyak 4 orang (16%).Jamaah haji juga menyatakan bahwasanya bahasa Arab sangat penting untuk berkomunikasi saat di tanah suci karena jika bisa menggunakan bahasa Arab itu akan mempermudah jamaah haji untuk berkomunikasi dengan masyarkat di sekitar.
5.2Saran
Setelah memaparkan hasil kesimpulan dan temuan penelitian ini pada bagian akhir ini, sudah seharusnya peneliti juga mengemukakan saran yang mudah-mudahan dapat menjadi masukan, yaitu:
a. Peneliti mengharapkan sebaiknya ada kebijakan dari pemerintah untuk para jamaah haji dengan menyediakan sarana mempelajari bahasa Arab yang diperlukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1Kajian Terdahulu
Sebelum peneliti menyusun skripsi ini lebih lanjut maka terlebih dahulu peneliti menelusuri skripsi yang ada di Kantor Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan perpustakaan digital universitas-universitas di Indonesia. Maksud pengkajian ini adalah bahwa data yang akan diteliti tidak sama dengan skripsi sebelumnya.
Adapun penelitian tentang bahasa Arab bagi jamaah haji belum pernah dilakukan di Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Akan tetapi, sudah pernah dilakukan di Universitas yang lain, yakni:
a. Khoirul Muttaqin (2008) dengan judul Strategi Komunikasi Dalam
Bimbingan Ibadah Haji di KBIH Bina Umat Kota Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga: Yogyakarta. Penelitian tersebut membahas tentang
strategi komunikasi yang digunakan KBIH Bina Umat kota Yogyakarta dalam bimbingan ibadah haji. Hasil dari penelitian tersebut adalah bentuk komunikasi yang dilakukan oleh KBIH Bina Umat kota Yogyakarta dalam bimbingan ibadah haji, metode yang digunakan oleh KBIH Bina Umat kota Yogyakarta, media komunikasi dan effek komunikasi dalam bimbingan ibadah haji di KBIH Bina Umat kota Yogyakarta.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian saya adalah:
- Kedua peneliti sama-sama meneliti tentang bahasa komunikasi.
- Teori yang digunakan kedua peneliti mengenai komunikasi.
Perbedaannya adalah:
- Lokasi penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di kota Medan sedangkan penelitian sebelumnya dilaksanakan di kota Yogyakarta.
b. Sakhiyah Marhamah (2010) dengan judul Pemakaian Bahasa pada
Siswa SMA Garut 1. Penelitian tersebut mengenai pemakaian bahasa
pada siswa SMA Garut 1 yang merupakan bilingual. Hasil penelitian tersebut menunjukkan pemakaian bahasa siswa SMA Garut 1 dipengaruhi oleh situasi, partisipan, dan topik pembicaraan. Selain itu, perbedaan gender, tingkat kelas di sekolah, dan pemerolehan bahasa pertama juga mempengaruhi pemakaian bahasa mereka.
1) Hukum Ibadah Haji
Ibadah haji diwajibkan Allah kepada kaum Muslimin yang telah mencukupi syarat-syaratnya. Menunaikan ibadah haji diwajibkan hanya sekali seumur hidup. Selanjutnya yang kedua kali dan seterusnya hukumnya sunat.
2) Syarat, Rukun, dan Wajib Haji
Syarat supaya dapat melakukan ibadah haji adalah: a) Islam
b) Baligh (dewasa) c) Aqil (berakal sehat) d) Merdeka (bukan budak)
e) Istita’ah (mampu), maksud mampu disini yakni mampu dalam segala hal, seperti dalam hal biaya, kesehatan, keamanan, dan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan.
Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dilakukan, yakni sebagai berikut:
a) Ihram
c) Tawaf Ifadah
d) Sa’i (lari antara Safa dan Marwah) e) Cukur
f) Tertib
Jika salah satu rukunnya ditinggalkan, maka hajinya tidak sah.
Wajib haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dilakukan dalam melaksanakan ibadah haji, yakni sebagai berikut:
a) Ihram dari Miqat
b) Melontar jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah c) Mabit di Muzdalifah
d) Mabit di Mina
e) Tawaf Wada’ bagi yang akan meninggalkan Makkah.
Jika salah satu wajib haji ditinggalkan, maka hajinya tetap sah tetapi harus membayar dam (denda).
3) Macam-Macam Haji
Ibadah haji terdiri dari tiga macam, yakni:
a) Haji Ifrād, yaitu membedakan haji dan umrah; ibadah haji dan umrah masing-masing dikerjakan tersendiri. Cara pelaksanaan haji ifrad adalah:
• Ihram dari miqat untuk haji
• Ihram lagi dari miqat untuk umrah serta melaksanakan seluruh pekerjaan umrah.
Semua ini dikerjakan setelah menyelesaikan semua pekerjaan haji dan masih dalam bulan haji.
b) Haji Tamattu’ (bersenang-senang), yaitu melakukan umrah terlebih dahulu pada bulan-bulan haji dan setelah selesai baru melakukan haji. Cara pelaksanaannya adalah:
• Melaksanakan haji setelah menyelesaikan semua pekerjaan umrah, keduanya dikerjakan pada musim haji tahun yang bersangkutan juga.
Orang yang mengerjakan haji dengan cara tamattu’ wajib membayar hadyu atau dam (denda), yakni dengan menyembelih seekor kambing.
c) Haji Qirān (bersama-sama), yaitu melaksanakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan. Cara pelaksanaannya adalah:
• Melakukan ihram dari miqat dengan niat untuk haji serta umrah sekaligus
• Melakukan semua pekerjaan haji.
Dengan cara ini, berarti seluruh pekerjaan umrahnya sudah tercakup dalam pekerjaan haji.
2.2Landasan Teori
Pada dasarnya dalam melakukan sebuah penelitian, peneliti harus memiliki teori yang digunakan sebagai alat dalam menyelesaikan suatu penelitian. Menurut Hedriksen (1992), teori adalah suatu susunan hipotesis, konsep, dan prinsip pragmatis yang membentuk kerangka umum referensi untuk suatu bidang yang dipertanyakan. Menurut Kerlinger (1973), teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena. Jadi, menurut saya teori adalah suatu konsep yang membentuk kerangka umum dari suatu fenomena. Teori yang akan menentukan hasil dari suatu penelitian dan memudahkan dalam menyelesaikannya sehingga hasil penelitian sesuai dengan yang diharapkan.
ditunjukkan melalui isyarat paralinguistis, penanda social dalam wicara, etnisitas, kedwibahasaan dan pemerolehan bahasa ke dua, dan banyak lagi.
Kedudukan dan Fungsi Bahasa Arab bagi jamaah haji Indonesia sampai saat ini,bahasa Arab mempunyai dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa agama untuk bahasa ibadah, dan sebagai bahasa komunikasi bagi jamaah haji.
Fungsi utama bahasa, adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi (fungsi informatif). Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan, karena bahasa juga berfungsi :
1) untuk tujuan praktis: mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari.
2) untuk tujuan artistik: manusia mengolah dan menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
3) sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
4) untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki latar belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat, serta perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Berikut ini adalah contoh percakapan bahasa Arab: a) Bandara
Tabel 2.1
Contoh percakapan bahasa Arab di bandara
Saya dari Indonesia. anā min indūnisiyā
ﺎﻴﺴﻧﻭﺪﻧﺇ ﻦﻣ ﺎﻧﺃ
ﺏ
Mana paspor anda? ayna jawāzus safarik?
؟ﻙﺮﻔﺳ ﺯﺍﻮﺟ ﻦﻳﺃ
ﺍ
Ini paspor saya. hażā jawazus safarī
ﻱﺮﻔﺳ ﺯﺍﻮﺟ ﺍﺬﻫ
ﺏ
Mana visanya? ayna ta’syīrah ad
-dukhūl?
ﺓﺮﻴﺷﺄﺗ ﻦﻳﺃ
؟ﻝﻮﺧﺪﻟﺍ
ﺍ
Ini visanya. hażā jawazus safarī
ﻝﻮﺧﺪﻟﺍ ﺓﺮﻴﺷﺄﺗ ﻩﺬﻫ
ﺏ
Apakah anda membawa surat kesehatan?
hal ma’aka syahādatun
ṣiḥḥiyyah?
ﺓﺩﺎﻬﺷ ﻚﻌﻣ ﻞﻫ
؟ﺔﻴﺤﺻ
ﺍ
Ya. na’am
ﻢﻌﻧ
ﺏ
Mana? ayna hiya?
؟ﻲﻫ ﻦﻳﺃ
ﺍ
Ini surat kesehatannya. hażihi syahādatun ṣiḥḥiyyah
ﺔﻴﺤﺻ ﺓﺩﺎﻬﺷ ﻩﺬﻫ
ﺏ
Silakan kesana untuk pemeriksaan koper.
iżhab hunāka litaftīsyi
al-ḥaqā’ib
ﺶﻴﺘﻔﺘﻟ ﻙﺎﻨﻫ ﺐﻫﺫﺇ
ﺐﺋﺎﻘﺤﻟﺍ
ﺍ
Silakan ke ruang tunggu. iżhab ilā gurfatul -intiẓār?
ﺔﻓﺮﻏ ﻰﻟﺇ ﺐﻫﺫﺇ
؟ﺭﺎﻈﺘﻧﻹﺍ
ﺍ
Dimana ruang tunggu? ayna gurfatul-intiẓār
ﺭﺎﻈﺘﻧﻹﺍ ﺔﻓﺮﻏ ﻦﻳﺃ
ﺏ
Di sana, di pojok. hunāka fī az-zāwiyyah
ﺔﻳﻭﺍﺰﻟﺍ ﻲﻓ ﻙﺎﻨﻫ
ﺍ
[image:34.595.107.515.114.284.2]b) Hotel
Tabel 2.2
Contoh percakapan bahasa Arab di hotel
Saya ketua rombongan. anā ra’īsul-majmū’ah
ﺲﻴﺋﺭ ﺎﻧﺃ
ﺔﻋﻮﻤﺠﻤﻟﺍ
ﺍ
Selamat datang, saya pemilik hotel
ahlān wa sahlān, anā
ṣāḥibul-funduq
ﺎﻧﺃ ،ﻼﻬﺳ ﻭ ﻼﻫﺃ
ﻕﺪﻨﻔﻟﺍ ﺐﺣﺎﺻ
ﺏ
Permisi, dimanakah kamar rombongan kloter 20?
lau samaḥta, ayna al-gurafu limajmu’ah ar-rihlati raqmi al-‘isyrīn?
ﻦﻳﺃ ،ﺖﺤﻤﺳﻮﻟ
ﺔﻋﻮﻤﺠﻤﻟ ﻑﺮﻐﻟﺍ
ﻢﻗﺭ ﺔﻠﺣﺮﻟﺍ
؟ﻦﻳﺮﺸﻌﻟﺍ
ﺍ
Di lantai tiga dan empat. fī aṭ-ṭābiqiṡ-ṡāliṡi waṭ
-ṭābiqi ar-rābi’i
ﺚﻟﺎﺜﻟﺍ ﻖﺑ ﺎﻄﻟﺍ ﻲﻓ
Berapa kamar? kam gurfah?
؟ﺔﻓﺮﻏ ﻢﻛ
ﺍ
10 kamar, setiap kamar untuk lima orang.
‘asyru guraf, likulli gurfatin khamsah
asykhāṣ
ﻞﻜﻟ ،ﻑﺮﻏ ﺮﺸﻋ
ﺔﺴﻤﺧ ﺔﻓﺮﻏ
ﺹﺎﺨﺷﺃ
ﺏ
Apa kamarnya ber AC? hal fī al-gurfati mukayyifu al-hawā’?
ﺔﻓﺮﻐﻟﺍ ﻲﻓ ﻞﻫ
؟ءﺍﻮﻬﻟﺍ ﻒﻴﻜﻣ
ﺍ
Ya. na’am
ﻢﻌﻧ
ﺏ
Mana kunci-kunci kamarnya?
ayna mafātīḥul-guraf?
؟ﻑﺮﻐﻟﺍ ﺢﻴﺗﺎﻔﻣ ﻦﻳﺃ
ﺍ
Ini dia. hażihi hiya
ﻲﻫ ﻩﺬﻫ
ﺏ
Di mana kamar mandi? ayna al-ḥamām?
؟ﻡﺎﻤﺤﻟﺍ ﻦﻳﺃ
ﺍ
Di samping lift. Di setiap lantai ada dua kamar mandi, didalamnya ada air hangat dan dingin.
huwa jāniba al-miṣ’adi.
Fī kulli ṭābiqin
ḥammāmāni, fīhā
mā’un bāridun
.
ﺪﻌﺼﻤﻟﺍ ﺐﻧﺎﺟ ﻮﻫ
ﻖﺑﺎﻁ ﻞﻛ ﻲﻓ
ءﺎﻣ ﺎﻬﻴﻓ ،ﻥﺎﻣﺎﻤﺣ
ﺩﺭﺎﺑ ءﺎﻣ ﻭ ﻦﺧﺎﺳ
ﺏ
Berhadapan dengan kamar mandi.
huwa muqābilal
-ḥammām
ﻡﺎﻤﺤﻟﺍ ﻞﺑﺎﻘﻣ ﻮﻫ
ﺏ
Apakah masjidil haram jauh dari sini?
hal masjidil-ḥaramu
ba’īdun min hunā?
ﻡﺮﺤﻟﺍ ﺪﺠﺴﻣ ﻞﻫ
؟ﺎﻨﻫ ﻦﻣ ﺪﻴﻌﺑ
ﺍ
Ya, akan tetapi tidak terlalu jauh. na’am, lakinlaysa ba’īdān jiddān
ﺪﻴﻌﺑ ﺲﻴﻟ ﻦﻜﻟ ،ﻢﻌﻧ
ﺍﺪﺟ
ﺏ
Apakah ada jalan yang terdekat ke Masjidil Haram?
hal yūjadu ṭarīqun
aqrabu ilā al-ḥaram?
ﻖﻳﺮﻁ ﺪﺟﻮﻳ ﻞﻫ
؟ﻡﺮﺤﻟﺍ ﻰﻟﺇ ﺏﺮﻗﺃ
ﺍ
Ya, ambil jalan ini dengan lurus, dan di samping jalan beloklah ke kanan.
na’am, khuż hażā aṭ
-ṭarīqa ‘alā ṭūl, wa fī
taqāṭ’i aṭ-ṭuruqi iżhab
ilāl-yamīn
[image:36.595.105.519.110.639.2]ﺍﺬﻫ ﺬﺧ ،ﻢﻌﻧ
ﻰﻠﻋ ﻖﻳﺮﻄﻟﺍ
ﻊﻁﺎﻘﺗ ﻲﻓﻭ ،ﻝﻮﻁ
ﻰﻟﺇ ﺐﻫﺫﺍ ﻕﺮﻄﻟﺍ
.
ﻦﻴﻤﻴﻟﺍ
ﺏ
c) Masjid Tabel 2.3Contoh percakapan bahasa Arab di masjid Apakah waktu shalat telah
tiba?
؟ﺓﻼﺼﻟﺍ
Ya, waktu shalat telah tiba. na’am, ḥāna waqtuṣ
-ṣalāh
ﺖﻗﻭ ﻥﺎﺣ ،ﻢﻌﻧ
ﺓﻼﺼﻟﺍ
ﺏ
Apakah anda sudah shalat? hal ṣalayta?
؟ﺖﻴﻠﺻ ﻞﻫ
ﺍ
Belum, saya belum shalat. lā, lam uṣalli
ﻞﺻﺃ ﻢﻟ ،ﻻ
ﺏ
Apakah anda akan shalat berjamaah di masjid?
hal satuṣalli jama’atan
fīl-masjid?
ﺔﻋﺎﻤﺟ ﻲﻠﺼﺘﺳ ﻞﻫ
؟ﺪﺠﺴﻤﻟﺍ ﻲﻓ
ﺍ
Ya, saya akan shalat berjamaah.
na’am, sauṣallī jama’atan
ﻲﻠﺻﺄﺳ ،ﻢﻌﻧ
ﺔﻋﺎﻤﺟ
ﺏ
Apakah shalat telah dimulai?
hal budiatiṣ-ṣalāh?
؟ﺓﻼﺼﻟﺍ ﺖﺋﺪﺑ ﻞﻫ
ﺍ
Belum, shalat belum dimulai.
lā, lam tubda’ aṣ-ṣalah
ﺓﻼﺼﻟﺍ ﺃﺪﺒﺗ ﻢﻟ ،ﻻ
ﺏ
Apakah anda telah berwudhu?
hal tawaḍḍa’ta?
؟ﺕﺄﺿﻮﺗ ﻞﻫ
ﺍ
Ya, saya telah berwudhu. na’am, tawaḍḍa’tu
ﺕﺄﺿﻮﺗ ،ﻢﻌﻧ
ﺏ
Di manakah tempat wudhu? ainal-maiḍa’?
؟ءﺎﻀﻴﻤﻟﺍ ﻦﻳﺃ
ﺍ
Apakah ada kamar mandinya?
hal yūjad ḥammāmun
hunāka?
ﻡﺎﻤﺣ ﺪﺟﻮﻳ ﻞﻫ
؟ﻙﺎﻨﻫ
ﺍ
Ada, ada juga toilet. na’am, wa każalika
[image:38.595.106.517.114.263.2]dauratul-miyāh
ﺓﺭﻭﺩ ﻚﻟﺬﻛ ﻭ ،ﻢﻌﻧ
ﻩﺎﻴﻤﻟﺍ
ﺏ
d) Pasar Tabel 2.4Contoh percakapan bahasa Arab di pasar Apa yang dapat saya bantu,
bu?
ayyu khidmatin yā
sayyidati?
ﺎﻳ ﺔﻣﺪﺧ ﻱﺃ
؟ﻲﺗﺪﻴﺳ
ﺍ
Apakah anda punya deterjen?
hal ‘indaka ṣābūnul
-gasīl?
ﻥﻮﺑﺎﺻ ﻙﺪﻨﻋ ﻞﻫ
؟ﻞﻴﺴﻐﻟﺍ
ﺏ
Ya, apa anda mau? na’am, hal turīdīn?
؟ﻦﻳﺪﻳﺮﺗ ﻞﻫ ،ﻢﻌﻧ
ﺍ
Ya, beri saya sekilo. na’am, a’ṭinī kīlū
ﻮﻠﻴﻛ ﻲﻨﻄﻋﺃ ،ﻢﻌﻧ
ﺏ
Apakah anda ingin yang lain?
hal turīdīn syaian
ākhar?
ﺎﺌﻴﺷ ﻦﻳﺪﻳﺮﺗ ﻞﻫ
؟ﺮﺧﺁ
ﺍ
Ya, berikan saya sabun dan pasta gigi.
na’am, a’ṭinī ṣābūnun
wa ma’jūnal-asnān
ﻲﻨﻄﻋﺃ ،ﻢﻌﻧ
ﻥﺎﻨﺳﻷﺍ
Apakah anda ingin sikat gigi?
hal turīdīn fursyatal
-insān?
ﺔﺷﺮﻓ ﻦﻳﺪﻳﺮﺗ ﻞﻫ
؟ﻥﺎﻨﺳﻷﺍ
ﺍ
Ya, berikan saya satu. na’am, a’ṭinī wāḥid
ﺪﺣﺍﻭ ﻲﻨﻄﻋﺃ ،ﻢﻌﻧ
ﺏ
Apakah anda ingin yang lainnya?
hal turīdīn syaian
ākhar?
ﺎﺌﻴﺷ ﻦﻳﺪﻳﺮﺗ ﻞﻫ
؟ﺮﺧﺁ
ﺍ
Ya, berikan saya garam, sekaleng sarden, dan sekilo gula.
na’am, a’ṭinī milḥān wa ‘ulbatan
minas-sayyaridīn wa kīlū
minas-sukkar
ﺎﺤﻠﻣ ﻲﻨﻄﻋﺃ ،ﻢﻌﻧ
ﻦﻣ ﺔﺒﻠﻋﻭ
ﻮﻠﻴﻛ ﻭ ﻦﻳﺩﺭﺎﺴﻟﺍ
ﺮﻜﺴﻟﺍ ﻦﻣ
ﺏ
Apakah anda ingin susu? hal turīdīn al-ḥalīb?
ﻦﻳﺪﻳﺮﺗ ﻞﻫ
؟ﺐﻴﻠﺤﻟﺍ
ﺍ
Ya, berikan saya satu kaleng, dan berikan juga sekaleng kecil kopi dan sekaleng sedang teh. Berapa harga seluruhnya?
na’am, a’ṭinī ‘ulbatan
wāḥidatan, a’ṭinī ayḍān ‘ulbatan ṣagīratan minal-qahwati wa ulbatan mutawasiṭatan minasy-syāyi. Bikam al
؟ﻊﻴﻤﺠﻟﺍ ﻢﻜﺑ
.
ﻱﺎﺸﻟﺍ
7 real. sab’ah riyālātin
ﺕﻻﺎﻳﺭ ﺔﻌﺒﺳ
ﺍ
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yakni teori Elemen Komunikasi atau unsur-unsur yang membentuk komunikasi yang diasaskan oleh Joseph Dominick. Menurut Joseph Dominick (2002), setiap peristiwa komunikasi akan melibatkan elemen komunikasi, yang meliputi: sumber, enkoding, pesan, dekoding, penerima.
Komunikasi secara etimologis berasal dari bahasa latin
Communicate dengan kata dasar Communis yang berarti sama maksudnya
adalah bahwa orang yang menyampaikan dan orang yang menerima mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang disampaikan. (Djamalul Abidin, 1996:16).
Pengertian komunikasi secara terminologis, adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. (Onong Uchjana Effendy, 1993:4)
Berikut ini adalah elemen-elemen komunikasi menurut Joseph Dominick(2002):
a. Sumber atau pengirim pesan sering pula disebut dengan komunikator. Komunikator bisa jadi adalah individu, kelompok atau bahkan organisasi. Fungsi komunikator ialah pengutaraan pikiran dan perasaannya dalam bentuk pesan untuk membuat komuikan menjadi tahu atau berubah sikap, pendapat, atau perilakunya.
b. Enkoding adalah proses yang tejadi di otak untuk menghasilkan pesan. Enkoding juga dapat diatikan sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran dan ide-idenya ke dalam suatu bentuk yang dapat diterima oleh indra pihak penerima. Enkoding dalm proses komunikasi dapat berlangsung satu kali, namun dapat terjadi beberapa kali.
c. Pesan adalah hasil dari proses enkoding yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra. Pesan yang disampaikan manusia dapat berbentuk sederhana, namun bisa memberikan pengaruh yang cukup efektif. Pesan merupakan simbol verbal dan atau non verbal yang mewakili perasaaan, nilai, gagasan, atau maksud sumber.
d. Dekoding adalah kegiatan untuk menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat simbol verbal dan atau nonverbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat dipahami.
e. Penerima atau receiver adalah sasaran atau target dari pesan. Penerima juga disebut dengan komunikan. Penerima dapat berupa satu individu, satu kelompok, lembaga, atau bahkan suatu kumpulan besar. Penerima pesan dapat ditentukan oleh sumber, atau juga tidak dapat ditentukan oleh sumber.
Dalam melakukan komunikasi, ada proses komunikasi. Proses komunikasi terbagi menjadi dua, yaitu:
a) Proses komunikasi secara primer, yaitu proses penyampaian pesan pada orang lain dengan memakai lambang (simbol) sebagai media. Contohnya: bahasa, isyarat, gambar, dan warna yang secara langsung dapat “menerjemahkan” pikiran komunikator kepada komunikan. b) Proses komunikasi secara sekunder, yaitu proses penyampaian pesan
Berkomunikasi, bahasa merupakan alat yang penting bagi setiap orang. Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain. Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain.
Bahasa dapat dimaknai sebagai suatu sistem tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar manusia. Bahasa mencakup komunikasi non verbal dan komunikasi verbal serta dapat dipelajari secara teratur tergantung pada kematangan serta kesempatan belajar yang dimiliki seseorang, demikian juga bahasa merupakan landasan seseorang untuk mempelajari hal-hal lain.
Sifat-sifat komunikasi, antara lain:
a) Verbal, kegiatan komunikasi yang menggunakan lambang bahasa sebagai media komunikasi. Lambang bahasa dibagi menjadi dua, yaitu: bahasa lisan dan bahasa tulisan.
b) Nonverbal, yaitu komunikator menggunakan isyarat badan atau gambar sebagai media komunikasi.
Bentuk-bentuk komunikasi, antara lain:
a. Komunikasi antarpribadi, adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal.
Komunikasi antarpribadi melibatkan sejumlah orang yang relatif kecil, berlangsung dengan jarak fisik yang dekat, bertatap muka, memungkinkan jumlah maksimum daluran indrawi, dam memungkinkan umpan balik segera.
Sebagai komunikasi yang paling dan sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap muka ini membuat manusia lebih akrab dengan sesamanya.
b. Komunikasi kelompok, adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.
Komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi yang dilakukan kelompok kecil. Komunikasi kelompok dengan sendirinya juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
c. Komunikasi publik, adalah komunikasi antara seorang pembicara dengan sejumlah besar orang, yang tidak bisa dikenal satu per satu. Komunikasi demikian juga disebut pidato, ceramah, kuliah(umum).
Ciri-ciri komunikasi publik adalah:
1) Terjadi di tempat umum, misalnya di auditorium, kelas, tempat ibadah, atau tempat lainnya yang dihadiri sejumlah orang besar. 2) Merupakan peristiwa sosial yang talah direncanakan alih-alih
peristiwa relatif informal. 3) Terdapat agenda
4) Beberapa orang ditunjuk untuk menjalankan fungsi-fungsi khusus.
Komunikasi publik sering bertujuan memberikan penerangan meghibur, memberikan penghormatan, atau membujuk.
lebih banyak komunikator daripada kominikasi publik namun lebih sedikit komunikator daripada komunikasi massa.
e. Komunikasi lisan dan tertulis, adalah komunikasi bisa disampaikan melalui alat-alat seperti memo, surat, laporan, catatan, dan surat kabar. Komunikasi tulisan mempunyai manfaat dalam hal penyediaan laporan atau dokumen untuk kepentingan di waktu mendatang.
Penyampaian pesan melalui komunikasi lisan dan tertulis dirasa cukup efisien dengan maksud dan alasan tertentu. Banyak faktor yang menentukan pada saat melancarakan komunikasi, yaitu: perkembangan waktu, biaya, kecepatan preferansi pribadi, keterampilan berkomunikasi individual sumber-sumber daya yang tersedia dan pertimbangan lain menjadi kriteria pengambilan keputusan.
Jamaah haji juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa agama dan bahasa perdagangan. Bahasa agama adalah ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelmpok sosial. Para jamaah haji menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa agama disaat mereka melakukan tata cara haji, sholat, dan berdo’a.
Bahasa perdagangan adalah ragam bahasa yang lazim digunakan dalam dunia perdagangan. Jamaah haji juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa perdagangan ketika mereka di tanah suci. Ketika jamaah haji berbelanja, maka tidak sedikit dari mereka yang menggunakan bahasa Arab untuk berbicara dengan penjual di sana.
Faktor-faktor yang mempengaruhi untuk mempelajari bahasa: a. Faktor budaya
Bahasa merupakan sarana komunikasi budaya yang penting karena menggambarkan kebudayaan pemakai bahasa tersebut dan membudayakannya melalui penggunaannya. (Kurniawan, 2003)
Budaya adalah pikiran, akal budi, yang didalamnya juga termasuk adat istiadat(KBBI,2005:169). Budaya dapat diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari pikiran atau pemikiran. Oleh karena itu, bahasa dan pikiran memiliki hubungan timbal balik yang dapat dipahami bahwa pikiran disini dimaksudkan sebagai sebuah perwujudan kebudayaan.
Dalam interaksi antara penutur dan lawan tutur timbullah beberapa perilaku berdasarkan pemikiran masing-masing sehingga lahirlah kebiasaan atau budaya. Budaya dan kebiasaan akan berbeda tergantung siapa dan dimana bahasa atau pengguna bahasa itu berada.
Orang-orang Arab memiliki pola komunikasi pada umumnya termasuk salah satu tipe komunikasi yang amat ekspresif yang memadukan bahasa verbal dengan non-verbal lainnya guna meyakinkan lawan bicaranya. Meskipun warga di Arab umumnya beragama Islam, ini tidak berarti bahwa cara dan etika mereka dalam berkomunikasi selali santun seperti diajarkan Al-qur’an dan Sunnah. Sebagian dari cara mereka berkomunikasi bersifat kultural semata-mata. Jadi, ini sangat penting untuk dipahami oleh orang-orang yang akan berkunjung ke Mekkah baik untuk menunaikan ibadah umrah maupun haji.
Gaya komunikasi orang Arab, seperti gaya komunikasi orang-orang timur tengah lainnya yang berbicara langsung dan lugas. Umumnya orang Arab suka berbicara berlebihan dan banyak basa-basi.
b. Faktor sosial
Bangsa Arab mempunyai kekuasaan perekonomian dengan melakukan perniagaan dan perdagangan baik lewat daratan maupun perairan. Perdagangan yang bangsa Arab lakukan tidak lepas dari bahasa sebagai alat untuk menyatakan maksud mereka sehingga terjadilah komunikasi antar bangsa.
c. Faktor agama
Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang paling sering digunakan. Dengan bahasa kita bisa mempelajari sesuatu. Demikian pula dalam mempelajari agama. Diketahui apa itu agama, seluk beluk agama, aturan agama dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama dapat kita pelajari dengan menggunakan bahasa. Hubungan antara agama dan bahasa adalah dengan bahasa kita dapat memahami agama, atau agama tidak dapat dipahami tanpa adanya bahasa.
Bahasa Arab merupakan bahasa persatuan umat Islam, sebagai bahasa Al-qur’an telah dapat membuktikan berbagai macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia. Bahasa Arab juga mempunyai kedudukan dan kepentingan untuk mengembangkan dan menyiarkan agama melalui bahasa.
d. Faktor politik
Bahasa merupakan kekuasaan dan sangat berperan dalam mencapai tujuan nasional maupun internasional suatu bangsa (Kurniawan,2003). Dalam perpolitikan, tokoh-tokoh politik mempergunakan dan mendayagunakan bahasa bukan saja untuk menyatakan ide, pendapat, atau pikirannya, tetapi juga menyembunyikan pikirannya yang mengandung kepentingan-kepentingan yang harus dipertahankan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Ibadah Haji sebagai rukun Islam yang kelima mulai diwajibkan Allah SWT pada tahun 4 Hijri (625 M). Allah menetapkan bahwa syari`at haji dari Nabi Ibrahim a.s. wajib dilaksanakan umat Islam dengan turunnya ayat Al-Qur’an:
/ wa lillāhi ‘alān-nāsi ḥijjul-baiti minas-taṭā’a ilaihi sabīlān wa man kafara fainnal-lāha ganiyyul-‘ālamīna / “Dan kewajiban kepada Allah atas manusia untuk berhaji ke Baitullah, bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana. Barangsiapa yang ingkar akan kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari seluruh alam” (Ali Imran: 97).
Ayat ini menegaskan bahwa ibadah haji diwajibkan “bagi mereka yang mampu melakukan perjalanan ke sana”
ًﻼْﻴِﺒَﺳ ِﻪْﻴَﻟِﺇ َﻉﺎَﻄَﺘْﺳﺍ ِﻦَﻣ
(manistaṭā`a ilayhi sabīla), yaitu mampu dalam hal fisik (sehat), finansial (mempunyai biaya), dansekuriti (amantiadagangguan).
07 Oktober 2014).
Wajib dalam pengertian hukum Islam adalah sesuatu yang mesti dilaksanakan dan tidak boleh ditinggalkan, dan yang melaksanakan mendapat pahala dan yang meninggalkan mendapat dosa.
tidak lagi merupakan kewajiban, hukumnya bisa sunnah, dalam artian jika dilakukan berpahala dan jika tidak dilakukan tidak apa-apa.
Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti Qaṣd, yakni
tujuan, maksud, dan menyengaja.Ibadah haji adalah yang wajib dilakukan oleh umat Islam yang mampu atau kuasa untuk melaksanakannya baik secara ekonomi, fisik, psikologis, keamanan, perizinan, dan lain-lain.
Haji adalah ibadah yang diwajibkan hanya kepada muslim yang mampu sekali dalam seumur hidupnya. Seorang yang tidak mampu tidak akan dikenakan sanksi atau tuntutan apapun apabila ia tidak melaksanakan ibadah haji tersebut.
Umat Islam di Indonesia mulai menunaikan ibadah haji tidak diketahui secara pasti, tapi menurut literatur sejarah telah dimulai sejak Islam masuk ke Indonesia sekitar abad 12 M, yang dilaksanakan secara perorangan dan kelompok dalam jumlahyang kecil serta belum dilaksanakan secara massal. Sejak berdirinya kerajaan Islam di Indonesia, perjalanan haji mulai dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya dan semakin meningkat jumlahnya.
Pada masa penjajahan Belanda, penyelenggaraan ibadah haji dilakukan untuk menarik hati rakyat sehingga mengesankan bahwa Pemerintah Hindia Belanda tidak menghalangi umat Islam melaksanakan ibadah haji meskipun dengan keterbatasan fasilitas. Pengangkutan haji dilakukan dengan menggunakan kapal dagang yang biasa digunakan untuk mengangkut barang dagangan ataupun ternak.Faktor yang dominan dalam masalah perjalanan haji pada masa penjajahan ini, yaitu keamanan di perjalanan dan fasilitas angkutan jamaah haji masih sangat minim.
Jamaah haji Indonesia sekarang ini warga negara Indonesia yang beragama Islam dan telah mendaftarkan diri untuk menunaikan ibadah haji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Jamaah haji pergi menuju Mekkah dengan hanya berbekal barang-barang terbatas. Di tanah air, masing-masing mereka memiliki keluarga, rumah, kendaraan, kebun, ladang dan sebagainya. Ketika pergi haji, semua itu mereka tinggalkan. Mereka pergi dengan hanya berbekal beberapa helai pakaian dan keperluan tertentu. Pada waktu memakai kain ihram, jamaah haji hanya memakai dua helai kain putih sebagai penutup badan dan pelindung pada waktu panas dan dingin. Mereka dilarang memakai pakaian berjahit dan tidak melihat yang kaya atau miskin, jenderal maupun presiden, mereka tetap memakai pakaian yang sama.
Pada saat di tanah suci, jamaah haji menggunakan bahasa untuk beribadah maupun berkomunikasi.
Menurut Ibn Khaldun dalam buku Al-Tsubaiti (2010:3), bahasa adalah
ِﻩِﺩْﻮُﺼْﻘَﻣ ْﻦَﻋ َﻢﱢﻠَﻜَﺘُﻤﻟَﺍ ﺓَﺭﺎَﺒِﻋ
“ibārah al-mutakallim ‘an maqṣūdihi” (ekspresidari penutur atas apa yang diinginkannya).Pada tahun 1945-sekarang bahasa mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Lingua franca b. Bahasa pergaulan c. Bahasa surat-menyurat d. Bahasa perdagangan e. Bahasa agama f. Bahasa sastra g. Bahasa kebudayaan h. Bahasa kepemerintahan i. Bahasa politik
j. Bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi k. Bahasa pendidikan
n. Bahasa komunikasi o. Bahasa pembangunan p. Bahasa dokumentasi q. Bahasa pertemuan ilmiah
Bahasa Arab (
ﺔﻴﺑﺮﻌﻟﺍ ﺔﻐﻠﻟﺍ
/ al-lugah al-‘Arabiyyah), atau secara ringkasﻲﺑﺮﻋ
/‘Arabī/ adalah salah satu bahasarumpun lainnya dalam rumpun bahasa Semit. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa peribadatan dalam agam oleh memiliki banyak variasi (dialek), beberapa dialeknya bahkan tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Bahasa Arab modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam
Bahasa Arab merupakan bahasa yang terkaya dari bahasa-bahasa lainnya, hingga dapat melayani kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan di segala bidang, kesusasteraan, dan kesenian. Di PBB pada masa ini bahasa Arab dianggap sebagai bahasa resmi di samping bahasa-bahasa lainnya, seperti: Inggris, Cina, Perancis, Spanyol, dan Rusia. Bahasa Arab sudah banyak digunakan dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa dan Komisi-Komisi Khusus.
Bahasa Arab adalah alat komunikasi utama bagi bangsa-bangsa Timur Tengah dan Afrika Utara.Bahasa Arab adalah alat komunikasi yang digunakan oleh orang Arab berupa simbol bunyi yang mempunyai makna yang bersifat arbitrer.
Bahasa Arab bukan saja sebagai bahasa resmi di negara Timur Tengah dan Afrika Utara dan tidak pula untuk kepentingan agama saja, akan tetapi karena keberadaannya semakin terlihat di dunia Internasional maka semakin berkembang pula fungsi dan peranannya.
Peranan bahasa Arab bagi orang Indonesia diiringi dengan berkembangnya agama Islam di Indonesia. Pada awalnya, bahasa Arab hanya merupakan bahasa ibadah saja. Akan tetapi, bahasa ini kemudian digunakan sebagai alat komunikasi bagi jamaah haji di tanah suci.
Pendataan jamaah haji dilakukan secara nasional, provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Indonesia mempunyai 33 provinsi, salah satunya adalah provinsi Sumatera Utara.
Sumatera Utara adalah sebuah
Kota Medan adalah merupakan kota terbesar di luar Pul di Indonesia setela kecamatan.
Jamaah haji mendaftar haji melalui kecamatan masing-masing menurut tempat tinggal mereka.
Kota Medan mempunyai 21 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan Medan Area.
Kecamatan Medan Area terletak di wilayah Tenggara Kota Medan dengan batas-batas sebagai berikut :
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota • Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Denai • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota • Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Perjuangan
Kecamatan Medan Area dengan luas wilayahnya 7,75 KM² Di Kecamatan Medan Area penduduknya berjumlah 96.544 Jiwa.
Alasan ilmiah peneliti memilih judul penelitian ini dilaksanakan ialah: a. Bahasa Arab sebagai media komunikasi bagi jamaah haji.
b. Bahasa Arab sebagai bahasa agama bagi jamaah haji dalam beribadah.
c. Bahasa Arab sebagai bahasa perdagangan ketika jamaah haji berbelanja kebutuhan di tanah suci dan berkomunikasi di bandara, hotel, masjid, dan pasar.
Peneliti telah menemui secara langsung beberapa jamaah haji yang berada di Kecamatan Medan Area. Hasilnya memperlihatkan bahwasanya banyak jamaah haji yang tidak paham dengan bahasa Arab, akibatnya mereka tersesat dan tidak bisa pulang ke maktab.
yang berusia produktif. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membuat suatu kajian bahasa Arab apa yang diperlukan jamaah haji dan bersifat praktis.
1.2Rumusan Masalah
Pengalaman jamaah haji tahun 2013 banyak yang tersesat, tidak bisa pulang ke hotel disebabkan tidak bisa berkomunikasi, oleh karena itu masalah dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimanakah penggunaan bahasa Arab bagi jamaah haji Indonesia? b. Bahasa Arab apa yang digunakan jamaah haji?
c. Dimana sajakah penggunaan bahasa Arab? 1.3Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk:
a. Mengetahui penggunaan bahasa Arab bagi jamaah haji Indonesia. b. Mengetahui bahasa Arab apa yang digunakan jamaah haji. c. Mengetahui dimana saja penggunaan bahasa Arab.
1.4Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Dapat membekalkan bahasa Arab yang diperlukan jamaah haji Indonesia untuk tahun-tahun yang datang.
2. Menjadi bahan bacaan masyarakat dan menambah khasanah ilmu pengetahuan salah satunya di Departemen Sastra Arab FIB USU. 3. Menambah pemahaman dan pengetahuan bagi setiap pembaca dan
ABSTRAK
Khairunnisa. 2016. Penggunaan Bahasa Arab Bagi Jamaah Haji Kota Medan (Studi Kasus Kecamatan Medan Area Tahun 2013). Departemen Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa penting bahasa Arab bagi jamaah haji.
PENGGUNAAN BAHASA ARAB BAGI JAMAAH HAJIKOTA
MEDAN
(STUDI KASUS KECAMATAN MEDAN AREA)
SKRIPSI SARJANA DISUSUN
KHAIRUNNISA
110704033
DEPARTEMEN SASTRA ARAB
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENGGUNAAN BAHASA ARAB BAGI JAMAAH HAJI KOTA
MEDAN (STUDI KASUS KECAMATAN MEDAN AREA)
SKRIPSI SARJANA
O
L
E
H
Khairunnisa
110704033
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Dra. Pujiati, M.Soc., Sc. Ph.D
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
DEPARTEMEN SASTRA ARAB
MEDAN
2016
Disetujui oleh:
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PROGRAM STUDI SASTRA ARAB
Ketua, Sekretaris,
Dra. Pujiati, M.Soc., Sc, Ph.D. Dra. Fauziah, M.A.
PENGESAHAN: Diterima oleh:
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian SARJANA SASTRA dalam Ilmu Bahasa Arab pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan
Tempat : Departemen Sastra Arab Tanggal : 26 April 2016
Hari : Selasa Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,
Dr. Syahron Lubis, M.A. NIP. 19511013 197603 1 001 Panitia Ujian
No. Nama Tanda Tangan
1. Dra. Pujiati, M.Soc., Sc. Ph.D (……….)
2. Dra. Fauziah, M.A (……….)
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan sumbernya.
Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.
Medan, 2016
KATA PENGANTAR
ﲓﺣﺮﻟا ﻦﲪﺮﻟا ﷲ ﻢﺴ�
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan para syuhada yang telah menyampaikan risalah kebenaran dan membawa umatnya dari masa kegelapan ke masa penerangan, sehingga syafaatnya selalu diharapkan oleh setiap umatnya di akhir zaman.
Sebagai tugas akhir yang harus segera diselesaikan yaitu melakukan penelitian dan penulisan skripsi, karena penyusunan skripsi atau penyusunan karya ilmiah ini merupakan suatu tanggungjawab bagi seorang mahasiswa dalam menyelesaikan studinya, terkhususnya dalam bidalng ilmu yang dipelajarinya. Oleh karena itu, penelitian ini dibuat untuk memenuhi syarat tersebut dan dalam rangka memenuhi syarat tersebut, peneliti berusaha menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan mengangkat dan menetapkan satu judul “Penggunaan Bahasa Arab Bagi Jamaah Haji Kota Medan (Studi Kasus Kecamatan Medan Area Tahun 2013)”.
Selama penyusunan skripsi ini peneliti menemui beberapa kendala, diantaranya sulitnya mendapatkan literatur yang sesuai sebagai sumber referensi dan keterbatasan kemampuan peneliti dalam menggali informasi yang dibahas. Namun, kendala itu masih bisa diatasi karena adanya usaha, doa dan bantuan dari berbagai pihak dan terkhususnya ridho Allah SWT sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Medan, 2016 Peneliti
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu peneliti dalam penyusunan skripsi ini baik bantuan berupa moril maupun materil. Rangkaian terima kasih peneliti sampaikan kepada:
1. Bapak Dr.Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara beserta pembantu Dekan I, II dan III yang telah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama perkuliahan.
2. Ibu Dra. Pujiati, M.Soc.Sc., Ph.D selaku Ketua Program Studi Sastra Arab dan Ibu Dra. Fauziah, M.Ag selaku Sekertaris Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Dra. Pujiati, M.Soc.Sc., Ph.D sebagai Dosen Pembimbing I dan Bapak Drs. Mahmud Khudri, M. Hum sebagai Dosen Pembimbing II yang telah berkenan meluangkan waktu guna memberikan bimbingan dan arahan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Para staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara khususnya Program Studi Sastra Arab yang telah banyak menyumbangkan segenap ilmunya dan motivasinya kepada peneliti, terkhususnya kepada Bapak Prof. M. Husnan Lubis, M.A., Ph.D selaku Dosen Pembimbing Akademik.
5. Ucapan terima kasih yang teristimewa kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Alinis dan Ibunda Salminawati yang dengan penuh kesabaran telah mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayangnya serta doa yang tiada hentinya terpanjatkan hingga saat ini masih memberikan semangat serta doron