STUDI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA MANADO
DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK
INGERID LIDIA MONIAGA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juli 2008
ABSTRACT
INGERID LIDIA MONIAGA. Study of Green Open Space at Manado City using Dinamic Modelling. Under supervising of SETIA HADI and SITI NURISJAH.
The research aims to find out the required green open space for Manado city using
dynamic modelling. Analysing green open space of the city were based on topography as
representation of physical factors, Gross Domestic Regional Product (PDRB) as representation of economic aspects, and population number as representation of social
factors. Stella program release 8.0 was carried out to formulated and analyzed the
dynamic model.Secondary data was collected along with ground check.
Eventhough green open space covered 70%, the city still having environmental
problems especially flooding and landslide. The research find out that topography,
PDRB, and population number affect the required city green covered area. It also
concluded that spatial data are very useful and workable to estimate and decide the
requirement as well as the location of green covered area required by the city of Manado.
INGERID LIDIA MONIAGA. Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Dibimbing oleh SETIA HADI dan SITI NURISJAH.
Kota Manado adalah kota yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan udaranya yang sejuk dan juga berada di tepi pantai Laut Sulawesi atau Teluk Manado yang indah. Karakteristik lanskap alami Kota Manado terbentuk atas trimatra yakni
pantai, daratan dan perbukitan yang terbentang dengan jarak yang relatif sempit antara tiga matra tersebut. Lanskap Kota Manado yang indah dengan bentukan tiga matra ini ternyata memiliki kendala dalam pengembangan kota karena datarannya yang sempit dan rentan terhadap perubahan. Sementara lahan layak huni Kota Manado terbatas pada kelerengan dan topografi yang mudah berdampak pada resiko terjadinya banjir, longsor, dan erosi. Keterbatasan lahan daratan yang sempit telah menyebabkan pembangunan fisik Kota Manado menyebar ke arah lahan-lahan berbukit yang berfungsi lindung secara ekologis. Hal tersebut menyebabkan gangguan pada tiga matra pembentuk kota ini.
Penelitian ini bertujuan hendak menjaga lanskap Kota Manado baik laut, darat maupun perbukitan guna mencapai kelestarian dan keindahan Kota Manado yang berkelanjutan. Salah satu bentuk pendekatan yang akan dilakukan yakni dengan melakukan penelitian ruang terbuka hijau (RTH). RTH diasumsikan melindungi areal yang topografikal atau berbukit sehingga gangguan terhadap kerusakan kota dan penurunan kualitasnya dapat dikendalikan.
Kajian RTH pada penelitian ini terdiri atas aspek fisik dengan topografi sebagai peubah utama yang membentuk pola lanskap; aspek ekonomi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai peubah yang berperan penting pada penggunaan lahan ;
aspek sosial dengan jumlah penduduk sebagai peubah yang juga berperan pada pembentukan land use (penggunaan lahan). Ketiga parameter fisik, sosial, dan ekonomi dengan masing-masing peubah diolah dengan simulasi komputer yang menggunakan alat bantu software Stella versi 8.0 untuk mendapatkan nilai acuan besaran RTH.
Pengumpulan data dilakukan berdasarkan data sekunder yang kemudian diolah dalam pemodelan dinamik, dan data primer berupa ground cek lapangan dan wawancara
stakeholder. Konsep model pada penelitian ini mengacu pada penataan ruang dengan mengatur lahan sesuai kelayakan topografi yang merupakan karakteristik Kota Manado dengan pokok acuannya yakni RTH.
Luas RTH Kota Manado saat ini, secara total mencapai 70% dari luas wilayah kota. Walaupun telah memenuhi persyaratan persentase luas yang ditetapkan dalam UU No. 26 tahun 2007 dan Permendagri No 1. tahun 2007 tetapi Kota Manado masih mengalami masalah lingkungan terutama erosi, longsor, dan banjir. Hal ini terjadi karena konversi lahan perkotaan dari lahan bervegetasi atau RTH, menjadi lahan terbangun.
Dari hasil penelitian terhadap tiga peubah perubahan lahan untuk RTH, yaitu faktor-faktor fisik topografis, PDRB, dan jumlah penduduk, didapatkan bahwa ekonomi yang berkembang telah mempengaruhi jumlah penduduk (urbanisasi) yang kemudian berdampak pada penurunan RTH berupa konversi penggunaan lahan bervegetasi (pertanian) menjadi penggunaan lahan terbangun (pemukiman).
juga menjadi faktor penentu besaran tersebut. Dalam kasus kota Manado maka kondisi topografis, besaran PDRB, dan jumlah penduduk, diketahui mempengaruhi besaran tersebut. Dari sembilan kecamatan Kota Manado, maka kecamatan-kecamatan yang bertopografis >15% harus telah dialokasikan menjadi RTH.
© Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah ; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
STUDI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA MANADO
DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK
INGERID LIDIA MONIAGA
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Arsitektur Lanskap
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul Tesis : Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem
Dinamik
Nama : Ingerid Lidia Moniaga
N R P : A.352050021
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Setia Hadi, M.Sc. Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Arsitektur Lanskap
Dr. Ir. Nizar Nasrullah, M.Agr. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.
PRAKATA
Puji Syukur penulis panjatkan dan persembahkan kepada Allah Yang Kuasa,
atas karuniaNya yang dianugerahkan kepada penulis dalam berpikir sehingga dapat
menyelesaikan penelitian dengan judul Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Pelaksanaan penelitian dan penulisan hasil laporan tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan saran-saran dari berbagai pihak.
Oleh karena hal tersebut, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
antara lain kepada :
Dr. Ir. Setia Hadi, MSc selaku Ketua Komisi Pembimbing tesis, dan Dr. Ir. Siti
Nurisjah, MSLA selaku Anggota Komisi Pembimbing atas arahan, motivasi,
semangat, dan saran-saran yang telah diberikan. Teman-teman angkatan ke-7 pada
program S-2 Departemen Arsitektur Lanskap: Pak Kas, Pak Budi, Mba Dwi, dan
Dini, atas kebersamaan dan keterjalinan hubungan persaudaraan yang begitu erat.
Teman-teman Asrama Mahasiswa Sulut Cipunagara Bogor Baru 2 atas kekeluargaan
dan kebersamaan selama di asrama. Juga selama penyelesaian tulisan tesis penulis
dimudahkan atas kesediaan membantu memahami operasionalisasi program software
Stella 8.0 dari bapak Hatta dan keluarga. Pula kepada Ari Krisno yang telah
membantu penyelesaian analisis spasial. Pendidikan Tinggi atas bantuan Beasiswa
Program Pasca Sarjana yang diberikan selama dua tahun. Pemerintah Propinsi
Sulawesi Utara yang telah memberi kesempatan untuk menempati fasilitas daerah
selama berada di Bogor. Gubernur Sulut: Drs, S.H. Sarundayang, Bupati Minahasa
Induk: Bpk. Drs. Freeke Runtu, Bupati Minahasa Selatan: Bpk Drs. Ramoy
Luntungan, Bupati Minut: Ibu Vonny Panambunan, Walikota Bitung: Bpk Drs.
Hanny Sondakh, atas bantuan dana selama masa penelitian dan penyelesaian tesis.
Kedua orang tua Papa dan Mama, yang selalu mendoakan kelancaran dan proses
penyelesaian studi saya. Suami dan anakku tercinta, yang telah tulus mengijinkan
saya untuk sekian lama waktunya berpisah menempuh pendidikan dan yang selalu
mendoakan serta memotivasi saya setiap waktu. Dan pihak-pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu, terimalah ucapan terima kasih penulis. Allah Sumber
Penulis dilahirkan di Manado pada tanggal 18 September 1973 dari ayah Prof.
Piet Moniaga, SH dan ibu Saartje Rumimpunu. Penulis merupakan putri kedua dari dua
bersaudara.
Tahun 1991 penulis lulus dari SMA Frater Don Bosco Manado dan pada tahun
yang sama melanjutkan studi ke Universitas Sam Ratulangi Fakultas Teknik Sipil
Program Studi Arsitektur. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1 pada tahun
2000, pada tahun 2004 penulis menjadi Staf Pengajar pada Fakultas Teknik Jurusan
Arsitektur Universitas Sam Ratulangi Manado.
Pada tahun 2005 penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi Strata-2
di Sekolah Pascasarjana IPB, dengan program studi Arsitektur Lanskap dan mendapat
Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) diperoleh dari Departemen Pendidikan
Nasional.
DAFTAR ISI
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian RTH………...……...…... 7
2.2 RTH Perkotaan………...…... 16
2.3 Pendekatan Sistem Dinamik... 17
3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...………... 22
3.2 Metode Pengumpulan Data...………... 22
3.3 Metode Analisis...………... 23
3.4 Konstruksi Model... 24
3.5 Batasan dan Asumsi Model serta Skenario Model... 26
4 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografi dan Administrasi...……… ……... 28
4.2 Kondisi Biofisik………... 29
4.3 Pemerintahan………... 35
4.4 Kependudukan……….………... 36
4.5 Perekonomian………..………... 37
5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Kegiatan Kota Manado………... 38
5.2 Model RTH...……...………..………... 38
5.3 Simulasi Model Dinamis RTH Kota Manado... 43
Halaman
6 SIMPULAN DAN SARAN…... 99 6.1 Simpulan……… 6.2 Saran...
DAFTAR PUSTAKA……… 100
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Standar Perencanaan RTH di Lingkungan Permukiman Kota…………..………. 14
2 Standar Luas RTH untuk Umum………. 15
3 Data Penelitian dan Sumber Data……….. 23
4 Luas Wilayah Kota Manado Per Kecamatan………..…... 29
5 Kondisi Topografi Kota Manado... 30
6 Nilai Inisial RTH pada setiap Kecamatan di Kota Manado……….. 34
7 Luas dan Presentase Penggunaan Lahan di Kota Manado Tahun 2005………… 35
8 Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Manado………... 36
9 Jumlah Penduduk Kota Manado Tahun 2000 s/d 2003………... 36
10 Nilai Inisial Jumlah Penduduk per Wilayah Kecamatan yang digunakan... dalam model ... 48
11 Perubahan Total Penduduk Kota Manado Tahun 1996-2005………... 45
12 Kepadatan Penduduk Berdasarkan Luas Lahan Layak Mukim pada... Setiap Kecamatan Hasil Estimasi Model... 59
13 Kebutuhan Lahan Per Unit Permukiman di Setiap Kecamatan... 60
14 Luas Inisial RTH pada setiap Kecamatan di Kota Manado... 71
15 Perubahan Rasio RTH dengan Luas Total Lahan hasil Simulasi Tiga... Skenario... 80
16 Perubahan RTH dengan Luas Lahan Pemukiman Hasil Estimasi... Tiga Skenario... 80
17 Perubahan 4 komponen RTH : Luas Lahan Pemukiman setelah 20 tahun berdasarkan hasil estimasi pada ketiga skenario………....…... 82
18 Perubahan RTH Hutan Kota pada setiap Wilayah Kecamatan Hasil... Estimasi Tiga Skenario... 82
Halaman
20 Perubahan RTH Jalur Hijau Jalan pada setiap Wilayah Kecamatan Hasil... Estimasi Tiga Skenario... 83
21 Perubahan RTH Jalur Hijau Sungai pada setiap Wilayah Kecamatan... Hasil Estimasi 3 Skenario... 83
22 Rasio RTH Perkapita pada 9 Kecamatan Kota Manado... 84
23 Koefisien Peningkatan Sektor Penerimaan PDRB berdasarkan Pertambahan
Penduduk... 86
24 Rangkuman hasil simulasi, persentase, dan peningkatan per sektor PDRB... pada skenario satu... 91
25 Rasio RTH : Luas Lahan Sembilan Kecamatan di Kota Manado... hasil simulasi model skenario tiga... 93
26 Luas RTH Kota Manado hasil analisis GIS menggunakan peta... land cover dan land use tahun 2005... 94
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran………... 5
2 Peta Administrasi Kota Manado………... 6
3 Simpal Kausal Model RTH Kota Manado... 6
4 Kerangka Pendekatan Operasional Penelitian RTH Kota Manado…………... 26
5 Gunung Tertinggi di Kota Manado………... 30
6 Lanskap Kota Manado…...…... 31
7 Rataan Curah Hujan bulanan Periode 1985 – 2004 di Wilayah Kota... Manado... 32
8 Suhu Udara Kota Manado………... 33
9 Rataan Kecepatan Angin Kota Manado………... 33
10 Beberapa Bentuk RTH Kota Manado………... 34
11 Struktur Sub Model RTH………... 39
12 Struktur Sub Model Penduduk... 40
13 Struktur Sub Model Ekonomi... 41
14 Struktur Pembuatan Model RTH Kota Manado... 42
15 Perubahan Jumlah Penduduk, RTH, PDRB, Lahan Pemukiman dan Lahan... Pertanian berdasarkan hasil simulasi skenario bebas, agak konservatif,... Konservatif……….… 45
16 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget, Sario,…….…... Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken, Tuminting,……….…. Singkil, Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model skenario bebas... 49
17 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget, Sario,... Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil,.... Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model skenario agak konservatif... 50
18 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget,……….. Sario, Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken,……….. Tuminting, Singkil, Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model……….. skenario konservatif……….……. 51
Halaman 20 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah
Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah
Pengangguran pada skenario agak konservatif……...……….……….…. 54
21 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah……… Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah……….. Pengangguran pada skenario konservatif..………... 54
22 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…..
bebas……….. 54
23 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…..
Agak konservatif……… 56
24 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…………
Konservatif……… 57
25 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario bebas... 61
26 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario agak konservatif………... 62
27 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario konservatif………... 63
28 Kebutuhan Penggunaan Lahan untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit.. rumahtangga, dan pertambahan penduduk total Kota Manado berdasarkan ….... hasil simulasi skenario bebas.……… 64
29 Kebutuhan Penggunaan Lahan untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit.. rumah tangga, dan pertambahan penduduk total kota manado berdasarkan……. hasil simulasi skenario agak konservatif…….…….………... 64
30 Kebutuhan land use untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit rumah….… tangga, dan pertambahan penduduk total kota manado berdasarkan……….…… hasil simulasi skenario konservatif...……… 65
31 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario bebas... 67
Halaman 33 Luas Land Use Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20……...……
Tahun pada skenario bebas………... 69
34 Perubahan luas RTH Total Kota Manado berdasarkan hasil simulasi …………. pada tiga skenario ... 72
35 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,…. Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang………… (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada skenario bebas……… 73
36 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,.… Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang,……….. (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada Skenario agak konservatif…………... 74
37 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,…. Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang………… (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada Skenario konservatif... 75
38 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman pada... masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi skenario bebas... 77
39 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman... pada masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi hasil ... skenario agak konservatif………... 78
40 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman... pada masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi hasil... skenario konservatif………...……... 79
41 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah…………... Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...
Pengangguran pada skenario bebas………... 87
42 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah………. Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...
Pengangguran pada skenario agak konservatif………... 88
43 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah……….…… Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...
Pengangguran pada skenario konservatif...………... 89 44 Peta Arahan Kawasan Terbangun Kota Manado...……... 96
Halaman
1 Persamaan-persamaan Model RTH Kota Manado…….………... 102
2 Total RTH Kota Manado hasil Model Dinamik pada ketiga skenario……... 118
3 Empat Komponen RTH Kota Manado hasil Model Dinamik 20 tahun... 119
4 Perubahan luas RTH pada sembilan kecamatan hasil skenario tiga... 132
5 Rasio RTH berbanding Luas Lahan hasil Model Dinamik 20 tahun... 134
6 Rasio RTH berbanding Luas Lahan Pemukiman hasil Model Dinamik... 20 tahun hasil skenario 3... 136
7 Nilai PDRB Kota Manado Tahun 2000-2005... 138
DAFTAR ISTILAH
Ruang
Wadah yang meliputi ruang daratan, lautan dan udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan
serta memelihara kelangsungan hidupnya (UU No. 26 tahun 2007).
Ruang mempunyai arti yang penting bagi kehidupan manusia semua
kehidupan dan kegiatan manusia berkaitan dengan aspek ruang. Adanya
hubungan antara manusia dengan suatu obyek, baik secara visual maupun
melalui indra pendengar, indera pencium, ataupun perasa, akan selalu
menimbulkan kesan ruang (Hakim.R, 1991).
Ruang Terbuka
Suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga
lingkungan tersebut baik secara individu atau secara kelompok (Hakim R,
1991).
Ruang terbuka sebagai keseluruhan lansekap, perkerasan (jalan dan trotoar),
taman, dan tempat rekreasi di dalam kota (Shirvani, 1985 dalam Hakim R,
2003).
Ruang terbuka di dalam kota dapat berbentuk man made atau natural, yang terjadi akibat teknologi, koridor jalan, bangunan tunggal, bangunan majemuk,
atau hutan-hutan kota dan aliran sungai serta daerah alamiah lainnya yang
memang telah ada sebelumnya (Hakim, 2003).
Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka yang ditanami dengan tanaman, mulai dari yang bersifat alami
(rumput, jalur hijau, taman bermain dan taman lingkungan di daerah
pemukiman), (Nurisyah, 2005).
Ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan Hijau Pertamanan Kota,
Kawasan Hijau Hutan Kota, Kawasan Hijau Rekreasi Kota, Kawasan Hijau
Pemakaman, kawasana Hijau Pertanian, Kawasan Hijau Jalur Hijau, dan
Kawasan Hijau Pekarangan (Perda No.7 tahun 2002 Kota Surabaya).
Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK)
RTHK adalah ruang-ruang yang terdapat di dalam kota, baik berupa koridor/
jalur ataupun area / kawasan sebagai tempat pergerakan / penghubung, dan
tempat perhentian / tujuan, dimana unsur hijau (vegetasi) yang alami dan sifat
ruang terbuka lebih dominan (Hakim, 2003).
Lahan Layak Mukim
Batas kelayakan penggunaan lahan atau bagian dari sistem model yaitu kelayakan kemiringan yang mana kelayakan kemiringannya adalah 0 %
sampai 15% merupakan penggunaan lahan yang bisa dibangun, sedangkan
kemiringan > 15% merupakan penggunaan lahan yang tidak bisa dibangun.
Sistem
Himpunan atau kombinasi dari bagian-bagian yang membentuk sebuah
kesatuan yang kompleks.
Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian.
Hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen secara teratur.
Pendekatan Sistem
Proses berpikir menyeluruh dan terpadu yang mampu menyederhanakan
kerumitan tanpa kehilangan esensi atau unsur utama dari obyek yang menjadi
perhatian.
Metode ilmiah di dalam usaha memecahkan masalah atau menerapkan
”kebiasaan berpikir atau beranggapan bahwa ada banyak sebab terjadinya sesuatu” di dalam memandang atau menghadapi kesaling terhubungkannya
menyadari adanya kerumitan di dalam kebanyakan benda, sehingga terhindar
dari memandangnya sebagai sesuatu yang amat sederhana atau bahkan keliru.
Model
Suatu perwakilan atau penyederhanaan abstraksi dari sebuah obyek atau
situasi aktual.
Suatu penyederhanaan dari suatu realitas yang kompleks.
Representasi sistem dalam kehidupan nyata yang menjadi fokus perhatian dan
menjadi pokok permasalahan.
Model Dinamik
Kumpulan dari variabel-variabel yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya dalam suatu kurun waktu, setiap variabel berkorespondensi
dengan suatu besaran yang nyata atau besaran yang dibuat sendiri dan semua
variabel tersebut memiliki nilai numerik dan sudah merupakan bagian dari
dirinya. Pada waktu mensimulasikan model, variabel-variabel akan saling
dihubungkan membentuk suatu sistem yang dapat menirukan kondisi
sebenarnya.
Simulasi
Tiruan dari sistem nyata yang dikerjakan secara manual atau komputer, yang
kemudian diobservasi dan disimpulkan untuk mempelajari karakterisasi
sistem.
Suatu model sistem yang mana komponennya direpresentasikan oleh proses-proses aritmatika dan logika yang dijalankan komputer untuk memperkirakan
sifat-sifat dinamis sistem tersebut.
Proses perancangan model dari sistem nyata yang dilanjutkan dengan
pelaksanaan eksperimen terhadap model untuk mempelajari perilaku sistem
atau evaluasi strategi.
Stella
1.1. Latar Belakang
Kota Manado adalah kota yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan
udaranya yang sejuk dan juga berada di tepi pantai Laut Sulawesi atau Teluk Manado
yang indah. Pulau Bunaken yang terletak pada bagian barat kota merupakan bagian dari
wilayah kota yang memiliki taman laut dan menjadi aset yang tinggi nilainya bagi Kota
Manado.
Karakteristik lanskap alami Kota Manado terbentuk atas trimatra yakni pantai,
daratan dan perbukitan yang terbentang dengan jarak yang relatif sempit antara tiga matra tersebut. Wilayah Kota ini juga memiliki beberapa sungai yang mengalir dari
daerah perbukitan dan bermuara ke pantai Teluk Manado. Secara morfologis Kota
Manado juga terbentuk karena karakteristik alamnya dengan struktur lapisan tanah dan
batuan yang mudah tererosi ketika berubah fungsinya dari kondisi bervegetasi menjadi
tanpa vegetasi.
Lanskap Kota Manado yang indah dengan bentukan tiga matra ini ternyata
memiliki kendala dalam pengembangan kota karena datarannya yang sempit dan rentan
terhadap perubahan. Sementara lahan layak huni Kota Manado terbatas pada kelerengan
dan topografi yang mudah berdampak pada resiko terjadinya banjir, longsor, dan erosi.
Keterbatasan lahan daratan yang sempit telah menyebabkan pembangunan fisik Kota
Manado menyebar ke arah lahan-lahan berbukit yang berfungsi lindung secara ekologis.
Hal tersebut menyebabkan gangguan pada tiga matra pembentuk kota ini. Gangguan yang
terjadi pada matra darat akan berpengaruh pula pada matra laut yang mana terdapat aset
Nasional yaitu Taman Laut Bunaken.
Penelitian ini bertujuan hendak menjaga lanskap Kota Manado baik laut, darat
maupun perbukitan guna mencapai kelestarian dan keindahan Kota Manado yang
berkelanjutan. Salah satu bentuk pendekatan yang akan dilakukan yakni dengan
melakukan penelitian ruang terbuka hijau (RTH). RTH diasumsikan melindungi areal yang topografikal atau berbukit sehingga gangguan terhadap kerusakan kota dan
penurunan kualitasnya dapat dikendalikan. RTH merupakan salah satu bagian
2
mewujudkan tata Kota Manado yang indah, alami, berkarakteristik, dan juga
berkelanjutan.
Kajian RTH pada penelitian ini terdiri atas aspek fisik dengan topografi sebagai peubah utama yang membentuk pola lanskap; aspek ekonomi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai peubah yang berperan penting pada penggunaan lahan ;
aspek sosial dengan jumlah penduduk sebagai peubah yang juga berperan pada pembentukan land use (penggunaan lahan). Ketiga parameter (fisik, sosial, dan ekonomi) dengan masing-masing peubah diolah dengan simulasi komputer yang menggunakan alat
bantu software Stella versi 8.0 untuk mendapatkan nilai acuan besaran RTH.
1.2. Perumusan Permasalahan
Peningkatan aktivitas ekonomi di Kota Manado cenderung telah meningkatkan
konversi penggunaan lahan terutama konversi penggunaan lahan bervegetasi (pertanian)
menjadi penggunaan lahan non vegetasi (pemukiman, industri, dan infrastruktur).
Konversi lahan ini telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti banjir,
longsor, erosi, suhu yang meningkat, serta pencemaran. Permasalahan ini sangat terkait
dengan RTH. Padahal RTH harus terus dijaga dan dipertahankan sesuai fungsi ekologis.
Pokok yang terkait dengan peningkatan ekonomi, kualitas fisik dan pertambahan jumlah
penduduk adalah mempelajari kebutuhan ruang khususnya RTH dengan pendekatan
model sistem dinamik. Dengan adanya bentuk keterkaitan tersebut serta upaya untuk
memecahkan permasalahan yang ada, maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah ;
a. Berapa ketersediaan RTH yang dibutuhkan dan distribusinya pada tiap wilayah
kecamatan di Kota Manado saat ini?
b. Bagaimana bentuk pengelolaan tata ruang terutama RTH secara spasial sesuai
dengan lahan layak mukim dan hubungannya dengan distribusi penduduk dan
PDRB ?
1.3. Tujuan dan Manfaat
Penelitian bertujuan mengetahui ketersediaan RTH Kota Manado dengan cara
dengan faktor sosial, ekonomi, pemanfaatan lahan, jumlah serta distribusi. Secara khusus,
penelitian ini bertujuan untuk :
a. Menyusun dan mensimulasi model dinamis yang mengkaitkan faktor fisik, sosial,
ekonomi, dan ketersediaan RTH.
b. Menyusun arahan pengelolaan RTH yang berkelanjutan berdasarkan lahan layak
mukim.
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain : (1) memberikan
informasi yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengatur tata ruang dengan pokok
pertimbangan RTH dan pemukiman terkait dengan pertumbuhan penduduk ; (2)
mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperhatikan kualitas lingkungan
perkotaan.
1.4. Kerangka Pemikiran
Di beberapa kota dewasa ini RTH dianggap sebagai lahan tidak efisien, atau
sebagai tanah cadangan untuk membangun struktur kota. Hal ini terjadi karena tingginya
nilai tanah di daerah perkotaan, sehingga setiap bidang tanah di daerah perkotaan,
diupayakan seproduktif mungkin untuk mencapai optimalisasi ekonomi. Keadaan
demikian mengakibatkan fungsi-fungsi lahan yang dinilai kurang produktif, kurang
diperhitungkan keberadaannya sebagai suatu subsistem dalam sistem ruang perkotaan
secara keseluruhan, sehingga banyak lahan perkotaan yang telah ditetapkan sebagai RTH
berubah fungsinya menjadi penggunaan lain.
Di sisi lain kita ketahui bahwa cukup banyak manfaat yang diperoleh dari
keberadaan RTH yakni antara lain : keindahan dan kesejukan kota, suasana alami di
tengah hiruk pikuknya kota, terkendalinya polusi udara, bertambahnya persediaan air
tanah, tersedianya tempat rekreasi dan olahraga bagi warga kota, dan tempat
bersosialisasinya masyarakat perkotaan.
Dengan fungsi kota yang beranekaragam dan kepadatan yang semakin tinggi,
maka kualitas lingkungan kota menjadi amat rawan. Padahal kenyamanan kota yang
mendukung produktivitas dan fungsi kota tersebut amat ditentukan oleh kualitas
lingkungannya seperti temperatur dan kelembaban, kandungan debu dan bahan kimia di
4
Dalam hal ini RTH amat penting fungsinya untuk mengatur temperatur kota, mengatur
kandungan oksigen dan mengurangi karbon-dioksida, menjadi perangkap bahan
pencemar baik debu maupun gas, meningkatkan peresapan air, memberi bentuk visual
yang menarik dan sehat untuk rekreasi, menjadi habitat bagi semua mahluk hidup dan
meningkatkan keanekaragaman kehidupan di lingkungan kota.
Khusus Kota Manado yang memiliki karakteristik lanskap alami yang indah,
visualisasi yang menarik, namun juga rawan akan bahaya lingkungan (banjir, erosi,
longsor dan pencemaran) hendaknya dilestarikan dengan Sistem RTH Kota (Green Open Space System) yang tetap mempertimbangkan unsur-unsur bentang alam alami dan pengembangan sistem lingkungan buatan dalam sistem RTH. Keberadaan sistem ini
akan mengatur koordinasi antar instansi dan model yang ada, sehingga peran serta
masyarakat dapat pula dikembangkan. Model ini membutuhkan suatu studi yang tidak
sama pada setiap kota. Penelitian pemodelan ini diarahkan pada studi RTH di Kota
Manado dengan pendekatan sistem dinamik yakni suatu cara berpikir menyeluruh dari
kekompleksan yang terjadi dengan kajian aspek fisik,ekonomi, dan sosial. Ketiga aspek tersebut digunakan pada pembuatan model sistem dinamik dengan di dukung data
kuantitatif yang berubah menurut waktu dan yang nantinya akan menghasilkan
pendugaan ke masa depan mengenai kebutuhan RTH, dengan memperhatikan
pertambahan penduduk, peningkatan tingkat kesejahteraan ekonomi dan perbaikan
Gambar 1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran. Memodelkan RTH Kota Manado
dengan Pendekatan Sistem Dinamik
Manado dan Lanskap yang indah berkarakter
Rentan terhadap perubahan Mudah berdampak banjir,
erosi & longsor
Perlu perbaikan Tata Ruang Pertimbangan aspek fisik, sosial,
ekonomi ;
Pengembangan model RTH sesuai kebutuhan kota
Tata Ruang yang kurang baik
6
1.5. Lingkup dan Batasan Penelitian
Lingkup dari penelitian ini adalah wilayah administrasi Kota Manado dengan
sembilan kecamatan, diantaranya : Kecamatan Bunaken, Kecamatan Mapanget,
Kecamatan Tuminting, Kecamatan Singkil, Kecamatan Wenang, Kecamatan Tikala,
Kecamatan Sario, Kecamatan Wanea, Kecamatan Malalayang.
Sebagai acuan referensi digunakan Rencana Umum Tata Ruang Kota Manado
2006-2016.
Gambar 2 Peta Administrasi Kota Manado.
2.1. Pengertian RTH
Dari berbagai referensi pengertian tentang eksistensi nyata sehari-hari, maka
ruang terbuka hijau adalah : (1) suatu lapangan yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi
berkayu); (2) ”Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk,
dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat
tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan
tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain
yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan (Direktorat
Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, 2006).
Menurut Nurisjah (2005), ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka yang ditanami dengan tanaman, mulai dari yang bersifat alami (rumput, jalur hijau, taman
bermain dan taman lingkungan di daerah pemukiman). Sedangkan menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengartikan
Ruang Terbuka Hijau sebagai area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara
alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pakpahan (2006), menyatakan ruang terbuka hijau merupakan elemen fisik yang menyatupadukan tata bangunan dengan lingkungannya, termasuk mengisi ruang antar bangunan, agar dapat tercipta suatu
lingkungan binaan yang lebih fungsional, lebih berkualitas serta lebih layak dihuni dan
berjati diri. Adapun Fungsi RTH antara lain sebagai ;
2.1.1. Fungsi Ekologi
Secara ekologis fungsi RTH antara lain :
(1) Ameliorasi iklim; elemen dasar iklim antara lain penyinaran matahari, suhu udara,
aliran udara dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Beberapa
proses yang berkaitan dengan ameliorasi iklim yaitu :
8
Bersama vegetasi lain menguapkan uap air melalui proses evapotranspirasi, oleh
karena itu suhu dibawah tegakan pohon menjadi rendah dibandingkan diluar tegakan
pohon.
b. Pelindung terhadap angin; kecepatan angin dapat dikurangi 75-85% oleh kelompok vegetasi (windbreak) yang efektifitasnya tergantung dari tinggi pohon dan lebarnya
windbreak, perlindungan terbaik yang diberikan adalah sejauh 20 kali tinggi pohon. Jenis tanaman mengatur angin dengan menghalangi, menyalurkan, membelokkan dan
menyaring, pengaruhnya tergantung dari ukuran daun, jenis daun, kepadatan daun,
bentuk tajuk, ketahanan serta penempatan tanaman.
c. Curah hujan dan kelembaban; vegetasi dapat menahan butir-butir air hujan dengan intersepsi dan memperlambat kecepatan jatuhnya air hujan sehingga mengurangi
kekuatan hempasan butir-butir tanah, sehinggga daya infiltrasi tanah meningkat,
aliran permukaan berkurang dan erosi menjadi kecil.
(2) Konservasi tanah dan air; pada umumnya lahan di perkotaan banyak yang tidak
tertutup oleh vegetasi dan banyak dipergunakan sebagai lahan terbangun dan ditutup oleh
perkerasan, sehingga peresapan air ke dalam tanah menjadi terganggu. Salah satu fungsi
RTH di perkotaan adalah untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dengan
meningkatkan peresapan air melalui vegetasi dan disimpan di dalam tanah berupa air
tanah, kemudian dipergunakan kembali sehingga terjadi siklus hidrologi.
(3) Rekayasa lingkungan:
a. Pengendalian erosi dan aliran permukaan (erotion and surface flow). Penanaman vegetasi dan sistem perakaran dapat mengurangi aliran permukaan dan erosi.
b. Aliran bawah permukaan (sub surface flow); air yang masuk ke dalam lapisan tanah tidak dapat diserap oleh akar tanaman karena perkolasi (arus air vertikal atau mendekati vertikal di bawah lapisan tanah), akibat perkolasi nutrisi yang dibutuhkan
tanaman tidak bisa dijerap oleh akar tanaman, karena porositas yang tinggi.
jenis tanaman yang memenuhi kriteria ini adalah yang mempunyai daun banyak,
jumlah stomata banyak, serta jumlah luas permukaan daun yang tinggi.
d. Mengatasi intruisi air laut; kawasan yang terletak dekat dengan sungai atau laut dapat ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai daya tahan salinitas tinggi dan tahan
terhadap penggenangan.
e. Pengendalian air limbah; konsep yang dapat dikembangkan untuk menanggulangi air limbah telah banyak dilakukan dengan cara kimiawi, biologis, maupun melalui
penyaringan.
f. Pengelolaan sampah; tanaman dapat diarahkan sebagai upaya dalam pengelolaan sampah, berupa penyekat bau yang ditimbulkan oleh sampah, penyerap bau, sebagai
pelindung tanah hasil dari dekomposisi sampah, dan penyerap zat berbahaya yang
mungkin terkandung dalam sampah seperti logam berat, pestisida, serta bahan
beracun lainnya.
g. Penangkal kebisingan; suara bising umumnya adalah suara yang berlebihan sehingga tidak dapat diterima dengan wajar oleh telinga manusia.
h. Mengurangi pencemaran udara; polutan berupa gas atau partikel debu yang berasal dari industri antara lain karbon monoksida, dari kendaraan bermotor, atau dari rumah
tangga, partikel-partikel tersebut dapat dijebak oleh daun-daun, cabang dan ranting
melalui proses impaction yang berfungsi sebagai filter di udara.
i. Pengendalian cahaya yang menyilaukan; vegetasi dapat memperlunak cahaya yang menyilaukan baik primer (cahaya yang langsung dari matahari) maupun sekunder
(melalui pantulan dari benda-benda lain) tergantung dari ukuran dan kerapatannya.
(4) Habitat satwa; salah satu satwa yang umumnya terdapat pada kawasan RTH kota
adalah burung. Burung membutuhkan tanaman sebagai tempat bersarang atau mencari
makan, kawasan perkotaan merupakan potensi bagi pelestarian satwa burung, hal ini
disebabkan karena ekosistem perkotaan, ketersediaan tempat hinggap merupakan suatu
10
2.1.2. Fungsi Ekonomi
Salah satu peranan penting dari RTH yang mempunyai fungsi ekonomi adalah
dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat baik secara langsung dan tidak
langsung. Sumber daya alam sebagai aset kota dapat dijadikan paket ekowisata apabila
kawasan tersebut dikelola dengan baik, hutan kota sebagai hutan hujan tropis,
pemukiman masyarakat lokal tepi sungai sebagai water front city culture tourism, yang dapat memberikan pendapatan kepada daerah .
2.1.3. Fungsi Sosial
Salah satu fungsi sosial RTH adalah sebagai wadah pendidikan masyarakat
terhadap permasalahan lingkungan serta solusi pemecahannya melalui berbagai forum
yang berkaitan dengan isu konservasi lingkungan. Bentuk-bentuk RTH seperti lahan
pertanian, kehidupan tepi sungai merupakan salah satu kegiatan penting dalam rangka
pembangunan nilai-nilai sosial dan sumberdaya alam suatu kota. Selanjutnya Grey and
Denneke (1986) menyatakan bahwa RTH mempunyai peran dalam meningkatkan
interaksi sosial diantara warga kota.
2.1.4. Fungsi Budaya
Fungsi RTH dalam meningkatkan identitas lingkungan kota akan terwujud
apabila RTH yang dikembangkan mampu membangkitkan kesan yang mendalam bagi
warga kota akan ciri khas suatu kawasan atau unit administrasi tertentu (Nurisjah, 2006).
Manfaat RTH kota, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian besar
dihasilkan dari adanya fungsi ekologis. Penyeimbang antara lingkungan alam dengan
lingkungan buatan, yaitu sebagai ’penjaja’ fungsi kelestarian lingkungan pada media air,
tanah, dan udara serta konservasi sumber daya hayati flora dan fauna. Kondisi ’alami’ ini
dapat dipertimbangkan sebagai pembentuk berbagai faktor. Berlangsungnya fungsi
ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari akan membentuk
kota yang sehat dan manusiawi.
Manfaat tanaman adalah sebagai komponen sekaligus sumber kehidupan (biotik) dan produsen primer dalam rantai makanan bagi lingkungan dan dapat menjadi sumber
pendapatan. Proses fotosintesis, yang mana zat hijau (klorofil) yang banyak terdapat
karbohidrat, protein, lemak juga vitamin dan mineral, sangat berguna bagi kehidupan
manusia dan mahluk lain.
Tanaman adalah pabrik tanpa butuh bahan bakar fosil, bahkan tanaman adalah
sumber karbon, tidak membutuhkan energi listrik atau api untuk memasak makanannya
agar bisa terus tumbuh. Pabrik tersebut tidak mencemari media lingkungan, bahkan
membantu ’membersihkan’ media udara yang kotor serta ’menyegarkan’ udara. Akar
pohon berfungsi untuk menarik bahan baku dari dalam media tanah, antara lain berbagai
macam mineral yang larut dalam air. Zat-zat tersebut ’dimasak’ dalam ’pabrik’ berupa
daun, menghasilkan karbohidrat (tepung, gula, selulosa/serat), oksigen, yang seringkali
disimpan dalam gudang berbentuk buah dan biji sebagai agen pertumbuhan selanjutnya.
Manfaat bagi Kesehatan, tanaman sebagai penghasil oksigen (O2), terbesar dan
penyerap karbon dioksida (CO2) dan zat pencemar udara lain, khusus di siang hari,
merupakan pembersih udara yang sangat efektif melalui mekanisme penyerapan
(absorpsi) dan penjerapan (adsorpsi) dalam proses fisiologis, yang terjadi terutama pada
daun, dan permukaan tumbuhan (batang, bunga dan daun).
Pembuktian bahwa tumbuhan dapat efektif membentuk udara bersih dapat
dicermati dari hasil studi penelitian Bernatzky (Direktorat Jenderal Penataan Ruang)
menyatakan bahwa setiap satu ha RTH yang ditanami pepohonan, perdu, semak, dan
penutup tanah, dengan jumlah permukaan daun seluas lima ha, maka sekitar 900 Kg CO2,
akan dihisap dari udara dan melepaskan sekitar 600 Kg O2 dalam waktu 12 jam.
Hasil penelitian Hennebo (Direktorat Jenderal Penataan Ruang) menyimpulkan,
terjadinya pengendapan debu (aerosol) pada lahan terbuka, khusus pada hutan kota. Pengendapan debu dipengaruhi oleh jarak RTH terhadap sumber debu, jenis dan
konsentrasi debu, kondisi iklim, topografi, jenis, dan kelompok tanaman, serta struktur
arsitektural RTH.
Ameliorasi Iklim, dengan adanya RTH sebagai ’paru-paru’ kota, akan terbentuk iklim yang sejuk dan nyaman. Kenyamanan ini ditentukan oleh adanya saling keterkaitan
antara faktor-faktor suhu udara, kelembaban udara, cahaya, dan pergerakan angin.
Hasil penelitian di Jakarta, membuktikan bahwa suhu di sekitar kawasan RTH (di
bawah pohon teduh), dibanding dengan suhu di ’luarnya’, bisa mencapai perbedaan
12
2006). RTH membantu sirkulasi udara. Pada siang hari, dengan adanya RTH maka secara
alami udara panas akan terdorong ke atas dan sebaliknya pada malam hari udara dingin
akan turun di bawah tajuk pepohonan. Pohon adalah pelindung yang paling tepat dari
terik sinar matahari di samping sebagai penahan angin kencang, peredam kebisingan dan
bencana alam lain, termasuk erosi tanah. Bila terjadi tiupan angin kencang di ’atas’ kota
tanpa tanaman, maka polusi udara akan menyebar lebih luas dan kadarnya pun akan
semakin meningkat. RTH sebagai penjamin terjadinya keseimbangan alami, secara
ekologis dapat menampung kebutuhan hidup manusia itu sendiri, termasuk sebagai
habitat alami flora, fauna, dan mikroba yang diperlukan dalam siklus hidup manusia.
Manfaat Terkait Fungsi Ekonomi (Produktif), tanaman sebagai salah satu komponen hidup (biotik) di dunia sangat diperlukan manusia dan mahluk hidup lain.
Tanpa tanaman tidak akan ada kehidupan lain di dunia karena tanaman merupakan
’pabrik makanan’ (produsen primer) dalam siklus rantai makanan, sedang yang lain adalah konsumen. ’Pabrik makanan’ tersebut dibagi dalam tiga tingkat (trophic level), primer, sekunder, dan tersier, artinya hanya tumbuhan hijau (tanaman) yang dapat
membuat makanannya sendiri melalui proses fotosintesis yang terjadi pada bagian
tanaman yang mempunyai zat hijau daun (klorofil), dengan bantuan pusat energi (sinar
matahari).
Pada RTH , siklus-siklus kehidupan dapat dikatakan berlangsung dengan karakter
alami, yang mana fungsi pokoknya adalah menjadi unsur penyeimbang dalam lingkungan
binaan yang sehat, seharusnya ada tersebar merata di antara dominasi struktur fisik
bangunan dalam kawasan binaan secara proporsional. Sedang bentuk RTH itu sendiri
bisa memanjang, membulat, persegi empat maupun bulat atau bentuk-bentuk geografis
arsitektural, bahkan bentuknya bisa dikatakan tak perlu beraturan (alami) sesuai dengan
tujuan dan kondisi geografisnya.
RTH merupakan bagian Sistem Tata Ruang Kota, yaitu ruang terbuka (open space), yang mana berbagai fungsi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan perencanaan maupun perancangannya, yaitu : seperti untuk Taman Kota ( Urban Parks), konservasi
lahan (tanah, air dan sumberdaya alam lain) seperti Taman Hutan-Kota, serta tujuan
untuk mempertahankan estetika sesuai nilai budaya dalam sejarahnya. Dalam kelompok
pengaman fasilitas yang ada, seperti sarana penampung sampah padat sementara maupun
akhir (TPA/TPS), dan sebagainya.
Manfaat yang terkait Arsitektur, pertimbangan dari berbagai aspek, maka
hubungan antara arsitektur dan arsitektur lansekap secara alami bersifat sangat
’komplementer’ dan saling mendukung pada skala yang luas, sebab pada hakikatnya
kedua disiplin tersebut mempunyai dasar tujuan sama, yaitu berpikir, berkreasi, dan
berkarya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan habitat hidup yang sehat, serasi,
produktif, dan indah, sesuai dengan akar budaya bahkan falsafah kehidupan serta
pandangan masing-masing kelompok manusia pada era dan lokasi tertentu.
Arsitektur dan Arsitektur Lanskap, tentu mempunyai kesamaan tradisional dan
sejarahnya, baik dalam fungsi, bentuk maupun arti, dalam media maupun teknik-teknik
pelaksanaannya. Meski sebenarnya mudah dimengerti bahwa arsitektur lanskap tak selalu
harus ada struktur bangunannya. Yang jelas kedua profesi tersebut memiliki landasan
berpikir yang sama (common ground), yaitu ’menggubah ruang yang mempunyai lantai
dasar, atap dan ’dinding’ bagi kenyamanan hidup manusia’. Keduanya bisa saling
bersintesa maupun berintegrasi. Karenanya tidak mengherankan bila profesi arsitektur
sering melakukan pekerjaan arsitektur lansekap, dan sebaliknya hanya tentu saja
penekanan terutama pada struktur bangunan dan alamnya berbeda-beda.
Kebutuhan Luas RTH, penetapan berapa besar luasan yang harus disediakan untuk
menciptakan RTH di suatu wilayah dapat ditetapkan dalam suatu standar. Menurut Eckbo
(1964) untuk mengakomodasikan kebutuhan 100-300 orang diperlukan paling sedikit
40.000 m2 luasan RTH. Luasan ini didistribusikan menjadi :
a. Taman lingkungan ketetanggaan (neighbourhood parks) ≥ 4.000 m2 dengan jangkauan pelayanan 10-200 m.
b. Taman Lingkungan komunitas ≥ 100.000 m2 dengan jangkauan pelayanan 625 -
900 m.
c. Taman kota atau taman regional dengan luasan yang lebih besar dan berada di
14
Standar luasan RTH kota di Indonesia menurut Permendagri No. 1 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP), dihitung
berdasarkan persentase luas wilayah kota yaitu 20% dari luas kawasan Perkotaan harus
dihijaukan.
Berdasarkan Kepmen Pekerjaan Umum (PU) No.378/Kpts/1987 tentang Petunjuk
Perencanaan Kawasan Perumahan Kota yang mengatur standar perencanaan RTH di
lingkungan permukiman kota menyatakan bahwa kebutuhan kota terhadap taman kota,
hutan kota, jalur hijau, dan pemakaman dihitung berdasarkan kebutuhan masing-masing
penduduk (lihat Tabel 1).
Tabel 1 Standar Perencanaan RTH di Lingkungan Permukiman Kota
Unit
Standar luasan RTH lainnya diajukan oleh Simonds (1983) yang secara hirarki
mempertimbangkan kebutuhan dalam suatu wilayah (Tabel 2).
Tabel 2 Standar Luas RTH untuk Umum
Hirarki
Ketetanggaan 1.200 4.320 12.000 Lapangan bermain, areal rekreasi, taman
Komunitas 10.000 36.000 20.000 Lapangan bermain, Wilayah/Region 1.000.000 - 80.000 Ruang
terbuka
16
2.2. RTH Perkotaan
RTH Perkotaan, secara umum penataan ruang ditujukan untuk menghasilkan
suatu perencanaan tata ruang yang kita inginkan di masa yang akan datang. Pada
dasarnya perencanaan tata ruang perkotaan seyogyanya dimulai dengan mengidentifikasi
kawasan-kawasan yang secara alami harus diselamatkan (kawasan lindung) untuk
menjamin kelestarian fungsi lingkungan, dan kawasan-kawasan yang secara alami rentan
terhadap bencana ( prone to natural hazards) seperti gempa, longsor, banjir, maupun bencana alam lainnya. Kawasan-kawasan inilah yang harus dikembangkan sebagai ruang
terbuka, baik hijau maupun non-hijau. Dengan demikian keberadaan RTH dalam
perencanaan tata ruang menjadi sangat penting mengingat perencanaan tata ruang harus
dimulai dengan pertanyaan dimana kita tidak boleh membangun? Bukan sebaliknya. Dalam konsep perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, secara nyata
ditegaskan bahwa upaya pembangunan yang kita lakukan saat ini, sebaiknya dilakukan
dengan tidak mengabaikan hak-hak generasi mendatang dalam ikut menikmati
sumber-sumber daya yang ada, terutama sumber-sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan demikian
perencanaan tata ruang di perkotaan seyogyanya harus mengakomodasi
kepentingan-kepentingan ekonomi untuk menjamin produktivitas kota, kepentingan-kepentingan-kepentingan-kepentingan
sosial untuk mewadahi aktivitas masyarakat, serta kepentingan-kepentingan lingkungan
untuk menjamin keberlanjutan.
Agar keberadaan RTH di perkotaan dapat berfungsi secara efektif baik secara
ekologis maupun secara planologis, pengembangan RTH tersebut sebaiknya dilakukan
secara hierarki dan terpadu dengan sistem struktur ruang yang ada di perkotaan. Dengan
demikian keberadaan RTH bukan sekadar menjadi elemen pelengkap dalam perencanaan
suatu kota semata, melainkan merupakan pembentuk struktur ruang kota, sehingga kita
dapat mengidentifikasi hierarki struktur ruang kota melalui keberadaan komponen
pembentuk RTH yang ada.
RTH sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota, permasalahan degradasi lingkungan
hidup perkotaan digambarkan dari semakin mewabahnya penyakit-penyakit akibat
kualitas lingkungan yang semakin memburuk bahkan sulit diatasi, sebagai akibat tidak
limbah cair yang semakin menumpuk dan mengalir tidak terkendali yang menjadi wadah
yang subur bagi media pertumbuhan penyakit.
Berbagai kondisi lingkungan yang negatif tersebut, memacu kejadian kerusakan
lingkungan kota menjadi berantai dan kait mengkait. Pada kawasan permukiman kota tepi
air misalnya, masalah klasik adalah bencana banjir, pada kawasan pesisir terjadi
kerusakan dan pencemaran pantai. Adanya genangan air laut ke arah darat, seperti di
muara kali Semarang misalnya, tentunya membawa kerusakan akibat pengaruh air asin,
atau intruisi air laut yang mengisi kantong-kantong air tanah (aquifer). Pada kota-kota di
daerah lereng pegunungan terjadi tanah longsor dan juga banjir antara lain akibat kurang
atau tidak adanya tanaman yang bisa mengikat atau menahan air hujan yang
terakumulasi, terutama bila terjadi curah air hujan tinggi.
Upaya-upaya pelestarian fungsi lingkungan dengan menyisihkan sebagian ruang
kota, terutama di wilayah-wilayah yang rawan bencana, harus segera dilaksanakan.
Artinya ruang-ruang yang rawan tersebut bukan diproyeksikan untuk pemukiman, seperti
tepian badan air (sungai, danau/dam atau laut), atau mendirikan bangunan pada lereng
yang relatif curam. Ruang untuk menampung kegiatan konservasi lingkungan kota harus
dikaitkan dengan RTRWK dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR).
RTH baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan adalah ”sepenggal alam” yang
masih tersisa atau sengaja disisakan guna mengimbangi lingkungan buatan (kota) baik
yang sengaja dirancang dan direncanakan melalui kreativitas arsitektur lansekap maupun
karena ’warisan’ wajah alami yang sengaja dibiarkan sedemikian agar kita semua suatu
saat masih memperoleh kesempatan untuk dapat menikmatinya, langsung maupun tidak.
2.3. Pendekatan Sistem Dinamik
Sistem adalah keseluruhan inter-aksi antar unsur dari sebuah obyek dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan. Pengertian keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan atau susunan (aggregate), yaitu terletak pada kekuatan (power) yang dihasilkan oleh keseluruhan itu jauh lebih besar dari suatu penjumlahan atau
susunan. Pengertian inter-aksi adalah pengikat atau penghubung antar unsur, yang memberi bentuk/struktur kepada obyek, membedakan dengan obyek lain, dan
18
abstrak, yang menyusun obyek sistem. Unjuk kerja dari sistem ditentukan oleh fungsi
unsur. Gangguan salah satu fungsi unsur mempengaruhi unsur lain sehingga
mempengaruhi unjuk kerja sistem sebagai keseluruhan. Unsur yang menyusun sistem ini
disebut juga bagian sistem atau sub sistem.
Konsep pengertian sistem sebagai suatu metode dikenal dalam pengertian umum sebagai pendekatan sistem (system approach). Pada dasarnya pendekatan tersebut merupakan penerapan metode ilmiah di dalam usaha memecahkan masalah. Atau
menerapkan ”kebiasaaan berpikir atau beranggapan bahwa ada banyak sebab terjadinya sesuatu” di dalam memandang atau menghasilkan kesaling terhubungkannya sesuatu
benda, masalah, atau peristiwa. Jadi, pendekatan sistem berusaha menyadari adanya
kerumitan di dalam kebanyakan benda, sehingga terhindar dari memandangnya sebagai
sesuatu yang amat sederhana atau bahkan keliru.
Hal tersebut menunjukkan sifat berpikir secara sistem (system thinking) yang
bersegi banyak (multidimensi) dan pelik. Mempergunakan pendekatan sistem menuntut
pemahaman bahwa setiap benda atau sistem tersebut berada (menjadi bagian) dari sistem
yang lebih besar atau lebih luas, sehingga semua benda dengan sesuatu cara, saling
berkaitan. Semakin lama orang semakin menghendaki adanya hasil penerapan
pendekatan sistem tersebut yang lebih obyektif dan tepat. Keinginan tersebut terwujud
dalam bentuk berkembangnya teknik-teknik pemecahan masalah (problem solving) yang
tinggi (canggih, sophisticated), seperti penelitian operasi (operations research), analisa
statistika, model simulasi, dan sistem informasi yang mempergunakan komputer.
Berbagai macam hasil perkembangan tersebut ditujukan pada peningkatan mekanisme
kontrol sistem organisasi, yang dengan demikian memungkinkannya untuk
merencanakan dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan
secara efektif. Kebanyakan definisi tentang sistem lebih menunjuknya sebagai suatu
wujud benda, jarang yang mengenai sistem sebagai metode. Jadi lebih mendekati arti kata
systema dalam bahasa aslinya (Yunani) ”systema” yang mempunyai pengertian ; suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (Amirin, 1986). Jadi, dengan kata
Pendekatan Sistem, teori sistem menyatakan bahwa kesisteman adalah suatu metakonsep atau metadisiplin, formalitas dan proses dari keseluruhan disiplin ilmu dan
pengetahuan sosial dapat dipadukan dan berhasil (Suwarto, 2006). Karena sistem selalu
mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh, maka perlu suatu
kerangka fikir yang dikenal sebagai pendekatan sistem (system approach) dalam studi Ruang Terbuka Hijau di perkotaan.
Pendekatan sistem dalam studi RTH Kota Manado adalah cara penyelesaian
persoalan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah
kebutuhan-kebutuhan ruang sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem RTH
yang dianggap efektif. Dalam pendekatan sistem umumnya ditandai oleh dua hal, yaitu (1) mencari semua faktor penting yang ada dalam mendapatkan solusi yang baik untuk
menyelesaikan masalah dan (2) dibuat suatu model kuantitatif untuk membantu
keputusan secara rasional (Eriyatno, 2003). Pengambilan keputusan yang efektif dari
permasalahan kompleks di dunia nyata menyebabkan kita harus mengkaji permasalahan
secara holistik dengan menggunakan pendekatan sistem (Hartrisari, 2007). Dalam
pendekatan sistem, kita dapat menggunakan model sebagai alat untuk memahami proses dan memprediksi perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dalam ilmu sistem
pemahaman seperti itu dikenal dengan istilah mensimulasi perilkau sistem. Sistem dinamik merupakan metoda yang dapat menggambarkan proses, perilaku dan kompleksitas dalam sistem. Model yang berbasis sistem dinamik dapat digunakan untuk menunjang pengambilan keputusan dan bahkan kebijakan.
Pendekatan sistem dengan menggunakan komputer, bertujuan memudahkan penggunaan model dan teknik simulasi dalam sistem, terutama dalam menghadapi
masalah yang cukup luas dan kompleks yang mana banyak sekali peubah, data dan
interaksi-interaksi yang mempengaruhi, seperti halnya dalam penelitian studi RTH di
Kota Manado.
Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan
peubah-peubah yang penting dan tepat. Teknik kuantitatif seperti persamaan regresi dan
simulasi digunakan untuk mempelajari keterkaitan antar peubah dalam sebuah model
20
kekuatan yang lebih tinggi pada analisis dunia nyata. Pendekatan sistem dalam suatu lingkungan dinamik, adalah suatu proses berkesinambungan, mencakup penyesuaian dan
adaptasi melalui lintasan waktu.
Yang dimaksud adalah kondisi aktual atau sistem RTH yang ada di Kota Manado,
yang terdiri atas komponen aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas fisik. Proses
pembuatan model yang dibagi menjadi beberapa sub model bermaksud agar supaya lebih
fokus dalam pembuatannya.
Dalam melakukan pendekatan sistem bisa dengan menggunakan komputer atau
tanpa menggunakan komputer. Akan tetapi adanya fasilitas komputer memudahkan
penggunaan model dan teknik simulasi dalam sistem, terutama bila menghadapi masalah
yang cukup luas dan kompleks yang mana banyak sekali peubah, data dan
interaksi-interaksi yang saling mempengaruhi (Eriyatno,2003).
Sistem Dinamik, konsep dasar sistem dinamik mengenalkan secara sederhana elemen-elemen dasar yang menyusun sebuah sistem yang bersifat dinamis, yang
dilengkapi dengan langkah-langkah berpikir membangun model umum (generic model) mulai dari identifikasi gejala sampai menghasilkan struktur permasalahan untuk analisis
kebijakan. Dengan konstruksi berpikir sistem akan jelas ”dimana” batas hubungan antara sistem dengan lingkungan ; ”apa” komponen, unsur, dan cirinya, serta ”bagaimana”
interaksi keseluruhan di dalam dan ke luar sistem yang jadi perhatian.
Selanjutnya tentang pemodelan sistim dinamik dalam bentuk diagram komputer
dengan menggunakan bahasa perangkat lunak ”Stella version 8.0.” Penggunaan perangkat lunak komputer tersebut adalah sebagai ”alat” untuk memudahkan perumusan
interaksi dalam sistem yang rumit kedalam alur pemikiran yang konsisten agar dapat
disimulasikan. Analisis sistem dinamik yang dapat digunakan untuk menangani
kerumitan, perubahan, dan ketidakpastian dari sebuah sistem nyata, sehingga perlunya
pembelajaran tentang proses dinamis secara holistik dalam membawa kesadaran berpikir
sistemik yang kreatif dengan pandangan antisipatif kedepan.
Pemodelan dan Simulasi, model merupakan representasi sistem dalam kehidupan nyata yang menjadi fokus perhatian dan menjadi pokok permasalakan. Proses pembuatan
model dimulai dengan adanya permasalahan pada sistem nyata, yang dilihat oleh
pengetahuan dan pengalaman si pembuat model, sampai akhirnya tercipta suatu model.
Model selanjutnya akan diuji keabsahannya dengan menggunakan data sampel sehingga
dapat dihasilkan suatu model yang valid.
Pengembangan suatu model dapat dilakukan dengan menggunakan aturan-aturan
diantaranya, yaitu: (1) Elaborasi. Pengembangan model sebaiknya dimulai dari yang
paling sederhana kemudian bertahap dielaborasi menjadi model yang representatif.
Penyederhanaan permasalahan dapat dilakukan dengan menggunakan asumsi-asumsi
yang diperlukan, sesuai dengan tujuan pembuatan modelnya. (2) Analogi. Pengembangan
model dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan teori-teori yang sudah
dikenal luas. (3) Dinamis. Pengembangan model bukanlah suatu proses mekanis dan
linier sehingga dalam tahap pengembangannya mungkin saja terdapat proses
pengulangan.
Simulasi adalah tiruan dari sistem nyata yang dikerjakan secara manual atau
komputer, yang kemudian diobservasi dan disimpulkan untuk mempelajari karakterisasi
sistem (Suryani 2006). Simulasi didefinisikan sebagai sekumpulan metode dan aplikasi
untuk menirukan atau mempresentasikan perilaku dari suatu sistem nyata, yang biasanya
dilakukan pada komputer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu (Suryani, 2006).
Simulasi merupakan proses aplikasi membangun model dari sistem nyata atau usulan
sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk menjelaskan perilaku sistem,
mempelajari kinerja sistem, atau untuk membangun sistem baru sesuai dengan kinerja
yang diinginkan (Suryani, 2006).
Manfaat dari model simulasi yakni merupakan tool yang cukup fleksibel untuk memecahkan masalah yang sulit untuk dipecahkan dengan model matematis biasa. Model
simulasi sangat efektif digunakan untuk sistem yang relatif kompleks untuk pemecahan
analitis dari model tersebut. Penggunaan simulasi akan memberikan wawasan yang lebih
luas pada pihak manajemen dalam menyelesaikan suatu masalah. Simulasi model dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai skenario sebagai input. Berdasarkan variasi
output yang dihasilkan dapat dipilih alternatif terbaik dari berbagai skenario yang
merupakan input model tersebut. Dalam hal ini, model berfungsi sebagai alat bantu dalam
3 METODOLOGI
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Kota Manado, Sulawesi Utara yang terletak di antara
1o30’ – 1o40’ lintang utara ; 124o40’ – 126o 50’ bujur timur.
Waktu penelitian dilaksanakan selama empat belas bulan mulai bulan Maret
2007 sampai dengan bulan Mei 2008 yang terdiri atas dua tahap yaitu survey
lapangan untuk ground cek dan wawancara stakeholder (Maret 2007 sampai Juli 2007) serta konstruksi model dinamik (Agustus 2007 sampai Mei 2008).
3.2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan berdasarkan data sekunder yang kemudian
diolah dalam pemodelan dinamik, dan data primer berupa ground cek lapangan dan wawancara stakeholder. Data dan informasi yang dibutuhkan terbagi dalam tiga kategori : (1) data fisik , (2) data ekonomi, dan (3) data sosial. (Tabel 3).
Ketiga aspek yang terkait dengan RTH ini masing-masing memiliki peubah
yang berbeda-beda untuk diteliti. Untuk mencapai hasil yang terpadu pada
masing-masing peubah yang berbeda dilakukanlah pendekatan sistem dinamik. Pendekatan sistem dinamik adalah suatu metode pemodelan dengan simulasi komputer yang menggunakan alat bantu software Stella versi 8.0. Program Stella merupakan perangkat lunak yang berbasis flow chart. Dasar pemilihannya adalah merupakan paket yang handal, fleksibel dan mudah untuk membuat sistem permodelan dinamik
baik dalam prosesnya maupun dalam melakukan simulasi. Model simulasi tersebut
sangat efektif pula digunakan untuk sistem yang relatif kompleks guna pemecahan
analitis dari model. Selanjutnya dengan pendekatan sistem dinamik dapat dipahami
proses dan prediksi perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Konsep model pada penelitian ini mengacu pada penataan ruang dengan mengatur lahan sesuai kelayakan topografi yang merupakan karakteristik Kota
Manado dengan pokok acuannya yakni RTH. Dengan memperhitungkan jumlah
penduduk terkait penyediaan penggunaan lahan pemukiman serta RTH, maka hal
tersebut menjadi acuan yang digunakan dalam menata penggunaan lahan di Kota
Tabel 3 Data Penelitian dan Sumber Data
Nasional Provinsi Sulut,
Kotamadia Manado dan
Dinas Agribisnis Kota
Manado ; Badan
Badan Pusat Statistik
Kota Manado
Data Sosial - Jumlah Penduduk
- Jumlah Rumah Tangga
- Jumlah Angkatan Kerja
Badan Pusat Statistik
Kota Manado
3.3. Metode Analisis
Struktur Model RTH dengan pendekatan sistem dinamik pada penelitian ini
diartikan sebagai konstruksi model yang disusun berdasarkan pada parameter ekonomi, parameter sosial, dan parameter fisik. Kegiatan fisik merupakan kegiatan utama sebagai basis mendukung tata ruang untuk menentukan luas RTH. Sehingga
Tata Ruang akan merekomendasikan RTH yang berhubungan dengan kualitas fisik
dan lahan layak mukim . Lahan layak mukim yang dimaksud adalah batas kelayakan lahan atau bagian dari sistem model ini yakni kelayakan kemiringan yang mana
kelayakan kemiringan adalah 0-15%. Model pengaturan hasil terdiri dari tiga sub
model , antara sub model satu dengan sub model lainnya saling mempengaruhi. Sub
model fisik akan mempengaruhi sub model ekonomi dan sub model sosial.
24
Gambar 3 Simpal Kausal Model RTH Kota Manado.
3.4. Konstruksi Model
Konsep dasar model ini mengacu pada Penataan Ruang dengan mengatur
lahan sesuai kelayakan topografi (bergunung, berbukit, berombak, dan landai) yang