• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA MANADO

DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK

INGERID LIDIA MONIAGA

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2008

(3)

ABSTRACT

INGERID LIDIA MONIAGA. Study of Green Open Space at Manado City using Dinamic Modelling. Under supervising of SETIA HADI and SITI NURISJAH.

The research aims to find out the required green open space for Manado city using

dynamic modelling. Analysing green open space of the city were based on topography as

representation of physical factors, Gross Domestic Regional Product (PDRB) as representation of economic aspects, and population number as representation of social

factors. Stella program release 8.0 was carried out to formulated and analyzed the

dynamic model.Secondary data was collected along with ground check.

Eventhough green open space covered 70%, the city still having environmental

problems especially flooding and landslide. The research find out that topography,

PDRB, and population number affect the required city green covered area. It also

concluded that spatial data are very useful and workable to estimate and decide the

requirement as well as the location of green covered area required by the city of Manado.

(4)

INGERID LIDIA MONIAGA. Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Dibimbing oleh SETIA HADI dan SITI NURISJAH.

Kota Manado adalah kota yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan udaranya yang sejuk dan juga berada di tepi pantai Laut Sulawesi atau Teluk Manado yang indah. Karakteristik lanskap alami Kota Manado terbentuk atas trimatra yakni

pantai, daratan dan perbukitan yang terbentang dengan jarak yang relatif sempit antara tiga matra tersebut. Lanskap Kota Manado yang indah dengan bentukan tiga matra ini ternyata memiliki kendala dalam pengembangan kota karena datarannya yang sempit dan rentan terhadap perubahan. Sementara lahan layak huni Kota Manado terbatas pada kelerengan dan topografi yang mudah berdampak pada resiko terjadinya banjir, longsor, dan erosi. Keterbatasan lahan daratan yang sempit telah menyebabkan pembangunan fisik Kota Manado menyebar ke arah lahan-lahan berbukit yang berfungsi lindung secara ekologis. Hal tersebut menyebabkan gangguan pada tiga matra pembentuk kota ini.

Penelitian ini bertujuan hendak menjaga lanskap Kota Manado baik laut, darat maupun perbukitan guna mencapai kelestarian dan keindahan Kota Manado yang berkelanjutan. Salah satu bentuk pendekatan yang akan dilakukan yakni dengan melakukan penelitian ruang terbuka hijau (RTH). RTH diasumsikan melindungi areal yang topografikal atau berbukit sehingga gangguan terhadap kerusakan kota dan penurunan kualitasnya dapat dikendalikan.

Kajian RTH pada penelitian ini terdiri atas aspek fisik dengan topografi sebagai peubah utama yang membentuk pola lanskap; aspek ekonomi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai peubah yang berperan penting pada penggunaan lahan ;

aspek sosial dengan jumlah penduduk sebagai peubah yang juga berperan pada pembentukan land use (penggunaan lahan). Ketiga parameter fisik, sosial, dan ekonomi dengan masing-masing peubah diolah dengan simulasi komputer yang menggunakan alat bantu software Stella versi 8.0 untuk mendapatkan nilai acuan besaran RTH.

Pengumpulan data dilakukan berdasarkan data sekunder yang kemudian diolah dalam pemodelan dinamik, dan data primer berupa ground cek lapangan dan wawancara

stakeholder. Konsep model pada penelitian ini mengacu pada penataan ruang dengan mengatur lahan sesuai kelayakan topografi yang merupakan karakteristik Kota Manado dengan pokok acuannya yakni RTH.

Luas RTH Kota Manado saat ini, secara total mencapai 70% dari luas wilayah kota. Walaupun telah memenuhi persyaratan persentase luas yang ditetapkan dalam UU No. 26 tahun 2007 dan Permendagri No 1. tahun 2007 tetapi Kota Manado masih mengalami masalah lingkungan terutama erosi, longsor, dan banjir. Hal ini terjadi karena konversi lahan perkotaan dari lahan bervegetasi atau RTH, menjadi lahan terbangun.

Dari hasil penelitian terhadap tiga peubah perubahan lahan untuk RTH, yaitu faktor-faktor fisik topografis, PDRB, dan jumlah penduduk, didapatkan bahwa ekonomi yang berkembang telah mempengaruhi jumlah penduduk (urbanisasi) yang kemudian berdampak pada penurunan RTH berupa konversi penggunaan lahan bervegetasi (pertanian) menjadi penggunaan lahan terbangun (pemukiman).

(5)

juga menjadi faktor penentu besaran tersebut. Dalam kasus kota Manado maka kondisi topografis, besaran PDRB, dan jumlah penduduk, diketahui mempengaruhi besaran tersebut. Dari sembilan kecamatan Kota Manado, maka kecamatan-kecamatan yang bertopografis >15% harus telah dialokasikan menjadi RTH.

(6)

© Hak cipta milik IPB, tahun 2008 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah ; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

STUDI RUANG TERBUKA HIJAU KOTA MANADO

DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK

INGERID LIDIA MONIAGA

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Arsitektur Lanskap

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem

Dinamik

Nama : Ingerid Lidia Moniaga

N R P : A.352050021

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Setia Hadi, M.Sc. Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Arsitektur Lanskap

Dr. Ir. Nizar Nasrullah, M.Agr. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

(10)
(11)

PRAKATA

Puji Syukur penulis panjatkan dan persembahkan kepada Allah Yang Kuasa,

atas karuniaNya yang dianugerahkan kepada penulis dalam berpikir sehingga dapat

menyelesaikan penelitian dengan judul Studi Ruang Terbuka Hijau Kota Manado dengan Pendekatan Sistem Dinamik. Pelaksanaan penelitian dan penulisan hasil laporan tidak terlepas dari bimbingan, bantuan dan saran-saran dari berbagai pihak.

Oleh karena hal tersebut, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya

antara lain kepada :

Dr. Ir. Setia Hadi, MSc selaku Ketua Komisi Pembimbing tesis, dan Dr. Ir. Siti

Nurisjah, MSLA selaku Anggota Komisi Pembimbing atas arahan, motivasi,

semangat, dan saran-saran yang telah diberikan. Teman-teman angkatan ke-7 pada

program S-2 Departemen Arsitektur Lanskap: Pak Kas, Pak Budi, Mba Dwi, dan

Dini, atas kebersamaan dan keterjalinan hubungan persaudaraan yang begitu erat.

Teman-teman Asrama Mahasiswa Sulut Cipunagara Bogor Baru 2 atas kekeluargaan

dan kebersamaan selama di asrama. Juga selama penyelesaian tulisan tesis penulis

dimudahkan atas kesediaan membantu memahami operasionalisasi program software

Stella 8.0 dari bapak Hatta dan keluarga. Pula kepada Ari Krisno yang telah

membantu penyelesaian analisis spasial. Pendidikan Tinggi atas bantuan Beasiswa

Program Pasca Sarjana yang diberikan selama dua tahun. Pemerintah Propinsi

Sulawesi Utara yang telah memberi kesempatan untuk menempati fasilitas daerah

selama berada di Bogor. Gubernur Sulut: Drs, S.H. Sarundayang, Bupati Minahasa

Induk: Bpk. Drs. Freeke Runtu, Bupati Minahasa Selatan: Bpk Drs. Ramoy

Luntungan, Bupati Minut: Ibu Vonny Panambunan, Walikota Bitung: Bpk Drs.

Hanny Sondakh, atas bantuan dana selama masa penelitian dan penyelesaian tesis.

Kedua orang tua Papa dan Mama, yang selalu mendoakan kelancaran dan proses

penyelesaian studi saya. Suami dan anakku tercinta, yang telah tulus mengijinkan

saya untuk sekian lama waktunya berpisah menempuh pendidikan dan yang selalu

mendoakan serta memotivasi saya setiap waktu. Dan pihak-pihak yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu, terimalah ucapan terima kasih penulis. Allah Sumber

(12)

Penulis dilahirkan di Manado pada tanggal 18 September 1973 dari ayah Prof.

Piet Moniaga, SH dan ibu Saartje Rumimpunu. Penulis merupakan putri kedua dari dua

bersaudara.

Tahun 1991 penulis lulus dari SMA Frater Don Bosco Manado dan pada tahun

yang sama melanjutkan studi ke Universitas Sam Ratulangi Fakultas Teknik Sipil

Program Studi Arsitektur. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan Strata-1 pada tahun

2000, pada tahun 2004 penulis menjadi Staf Pengajar pada Fakultas Teknik Jurusan

Arsitektur Universitas Sam Ratulangi Manado.

Pada tahun 2005 penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi Strata-2

di Sekolah Pascasarjana IPB, dengan program studi Arsitektur Lanskap dan mendapat

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) diperoleh dari Departemen Pendidikan

Nasional.

(13)

DAFTAR ISI

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian RTH………...……...…... 7

2.2 RTH Perkotaan………...…... 16

2.3 Pendekatan Sistem Dinamik... 17

3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian...………... 22

3.2 Metode Pengumpulan Data...………... 22

3.3 Metode Analisis...………... 23

3.4 Konstruksi Model... 24

3.5 Batasan dan Asumsi Model serta Skenario Model... 26

4 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografi dan Administrasi...……… ……... 28

4.2 Kondisi Biofisik………... 29

4.3 Pemerintahan………... 35

4.4 Kependudukan……….………... 36

4.5 Perekonomian………..………... 37

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Kegiatan Kota Manado………... 38

5.2 Model RTH...……...………..………... 38

5.3 Simulasi Model Dinamis RTH Kota Manado... 43

(14)

Halaman

6 SIMPULAN DAN SARAN…... 99 6.1 Simpulan……… 6.2 Saran...

DAFTAR PUSTAKA……… 100

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Standar Perencanaan RTH di Lingkungan Permukiman Kota…………..………. 14

2 Standar Luas RTH untuk Umum………. 15

3 Data Penelitian dan Sumber Data……….. 23

4 Luas Wilayah Kota Manado Per Kecamatan………..…... 29

5 Kondisi Topografi Kota Manado... 30

6 Nilai Inisial RTH pada setiap Kecamatan di Kota Manado……….. 34

7 Luas dan Presentase Penggunaan Lahan di Kota Manado Tahun 2005………… 35

8 Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Manado………... 36

9 Jumlah Penduduk Kota Manado Tahun 2000 s/d 2003………... 36

10 Nilai Inisial Jumlah Penduduk per Wilayah Kecamatan yang digunakan... dalam model ... 48

11 Perubahan Total Penduduk Kota Manado Tahun 1996-2005………... 45

12 Kepadatan Penduduk Berdasarkan Luas Lahan Layak Mukim pada... Setiap Kecamatan Hasil Estimasi Model... 59

13 Kebutuhan Lahan Per Unit Permukiman di Setiap Kecamatan... 60

14 Luas Inisial RTH pada setiap Kecamatan di Kota Manado... 71

15 Perubahan Rasio RTH dengan Luas Total Lahan hasil Simulasi Tiga... Skenario... 80

16 Perubahan RTH dengan Luas Lahan Pemukiman Hasil Estimasi... Tiga Skenario... 80

17 Perubahan 4 komponen RTH : Luas Lahan Pemukiman setelah 20 tahun berdasarkan hasil estimasi pada ketiga skenario………....…... 82

18 Perubahan RTH Hutan Kota pada setiap Wilayah Kecamatan Hasil... Estimasi Tiga Skenario... 82

(16)

Halaman

20 Perubahan RTH Jalur Hijau Jalan pada setiap Wilayah Kecamatan Hasil... Estimasi Tiga Skenario... 83

21 Perubahan RTH Jalur Hijau Sungai pada setiap Wilayah Kecamatan... Hasil Estimasi 3 Skenario... 83

22 Rasio RTH Perkapita pada 9 Kecamatan Kota Manado... 84

23 Koefisien Peningkatan Sektor Penerimaan PDRB berdasarkan Pertambahan

Penduduk... 86

24 Rangkuman hasil simulasi, persentase, dan peningkatan per sektor PDRB... pada skenario satu... 91

25 Rasio RTH : Luas Lahan Sembilan Kecamatan di Kota Manado... hasil simulasi model skenario tiga... 93

26 Luas RTH Kota Manado hasil analisis GIS menggunakan peta... land cover dan land use tahun 2005... 94

(17)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran………... 5

2 Peta Administrasi Kota Manado………... 6

3 Simpal Kausal Model RTH Kota Manado... 6

4 Kerangka Pendekatan Operasional Penelitian RTH Kota Manado…………... 26

5 Gunung Tertinggi di Kota Manado………... 30

6 Lanskap Kota Manado…...…... 31

7 Rataan Curah Hujan bulanan Periode 1985 – 2004 di Wilayah Kota... Manado... 32

8 Suhu Udara Kota Manado………... 33

9 Rataan Kecepatan Angin Kota Manado………... 33

10 Beberapa Bentuk RTH Kota Manado………... 34

11 Struktur Sub Model RTH………... 39

12 Struktur Sub Model Penduduk... 40

13 Struktur Sub Model Ekonomi... 41

14 Struktur Pembuatan Model RTH Kota Manado... 42

15 Perubahan Jumlah Penduduk, RTH, PDRB, Lahan Pemukiman dan Lahan... Pertanian berdasarkan hasil simulasi skenario bebas, agak konservatif,... Konservatif……….… 45

16 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget, Sario,…….…... Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken, Tuminting,……….…. Singkil, Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model skenario bebas... 49

17 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget, Sario,... Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil,.... Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model skenario agak konservatif... 50

18 Prediksi jumlah populasi penduduk pada kecamatan Mapanget,……….. Sario, Malalayang, Wanea, Tikala (a) dan kecamatan Bunaken,……….. Tuminting, Singkil, Wenang (b) berdasarkan hasil simulasi model……….. skenario konservatif……….……. 51

(18)

Halaman 20 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah

Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah

Pengangguran pada skenario agak konservatif……...……….……….…. 54

21 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah……… Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah……….. Pengangguran pada skenario konservatif..………... 54

22 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…..

bebas……….. 54

23 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…..

Agak konservatif……… 56

24 Kepadatan Penduduk Luas Lahan Pemukiman di 9 kecamatan pada skenario…………

Konservatif……… 57

25 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario bebas... 61

26 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario agak konservatif………... 62

27 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario konservatif………... 63

28 Kebutuhan Penggunaan Lahan untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit.. rumahtangga, dan pertambahan penduduk total Kota Manado berdasarkan ….... hasil simulasi skenario bebas.……… 64

29 Kebutuhan Penggunaan Lahan untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit.. rumah tangga, dan pertambahan penduduk total kota manado berdasarkan……. hasil simulasi skenario agak konservatif…….…….………... 64

30 Kebutuhan land use untuk pemukiman, kebutuhan land use per unit rumah….… tangga, dan pertambahan penduduk total kota manado berdasarkan……….…… hasil simulasi skenario konservatif...……… 65

31 Luas Penggunaan Lahan Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20... tahun pada skenario bebas... 67

(19)

Halaman 33 Luas Land Use Pertanian di 9 kecamatan Hasil simulasi selama 20……...……

Tahun pada skenario bebas………... 69

34 Perubahan luas RTH Total Kota Manado berdasarkan hasil simulasi …………. pada tiga skenario ... 72

35 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,…. Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang………… (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada skenario bebas……… 73

36 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,.… Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang,……….. (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada Skenario agak konservatif…………... 74

37 Luas RTH Taman Kota di kecamatan Mapanget, Sario, Malalayang, Wanea,…. Tikala (a), dan kecamatan Bunaken, Tuminting, Singkil, dan Wenang………… (b). Hasil simulasi selama 20 tahun pada Skenario konservatif... 75

38 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman pada... masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi skenario bebas... 77

39 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman... pada masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi hasil ... skenario agak konservatif………... 78

40 Perubahan Rasio 4 komponen RTH terhadap luas lahan pemukiman... pada masing-masing kecamatan berdasarkan hasil simulasi hasil... skenario konservatif………...……... 79

41 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah…………... Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...

Pengangguran pada skenario bebas………... 87

42 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah………. Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...

Pengangguran pada skenario agak konservatif………... 88

43 Perubahan Jumlah angkatan kerja, Pertambahan Penduduk, Jumlah……….…… Rumah Tangga, Persentase Tenaga Kerja Terserap, dan Jumlah………...

Pengangguran pada skenario konservatif...………... 89 44 Peta Arahan Kawasan Terbangun Kota Manado...……... 96

(20)

Halaman

1 Persamaan-persamaan Model RTH Kota Manado…….………... 102

2 Total RTH Kota Manado hasil Model Dinamik pada ketiga skenario……... 118

3 Empat Komponen RTH Kota Manado hasil Model Dinamik 20 tahun... 119

4 Perubahan luas RTH pada sembilan kecamatan hasil skenario tiga... 132

5 Rasio RTH berbanding Luas Lahan hasil Model Dinamik 20 tahun... 134

6 Rasio RTH berbanding Luas Lahan Pemukiman hasil Model Dinamik... 20 tahun hasil skenario 3... 136

7 Nilai PDRB Kota Manado Tahun 2000-2005... 138

(21)

DAFTAR ISTILAH

Ruang

 Wadah yang meliputi ruang daratan, lautan dan udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan

serta memelihara kelangsungan hidupnya (UU No. 26 tahun 2007).

 Ruang mempunyai arti yang penting bagi kehidupan manusia semua

kehidupan dan kegiatan manusia berkaitan dengan aspek ruang. Adanya

hubungan antara manusia dengan suatu obyek, baik secara visual maupun

melalui indra pendengar, indera pencium, ataupun perasa, akan selalu

menimbulkan kesan ruang (Hakim.R, 1991).

Ruang Terbuka

 Suatu wadah yang dapat menampung kegiatan aktivitas tertentu dari warga

lingkungan tersebut baik secara individu atau secara kelompok (Hakim R,

1991).

 Ruang terbuka sebagai keseluruhan lansekap, perkerasan (jalan dan trotoar),

taman, dan tempat rekreasi di dalam kota (Shirvani, 1985 dalam Hakim R,

2003).

 Ruang terbuka di dalam kota dapat berbentuk man made atau natural, yang terjadi akibat teknologi, koridor jalan, bangunan tunggal, bangunan majemuk,

atau hutan-hutan kota dan aliran sungai serta daerah alamiah lainnya yang

memang telah ada sebelumnya (Hakim, 2003).

Ruang Terbuka Hijau

 Ruang terbuka yang ditanami dengan tanaman, mulai dari yang bersifat alami

(rumput, jalur hijau, taman bermain dan taman lingkungan di daerah

pemukiman), (Nurisyah, 2005).

(22)

 Ruang kota yang berfungsi sebagai kawasan Hijau Pertamanan Kota,

Kawasan Hijau Hutan Kota, Kawasan Hijau Rekreasi Kota, Kawasan Hijau

Pemakaman, kawasana Hijau Pertanian, Kawasan Hijau Jalur Hijau, dan

Kawasan Hijau Pekarangan (Perda No.7 tahun 2002 Kota Surabaya).

Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK)

 RTHK adalah ruang-ruang yang terdapat di dalam kota, baik berupa koridor/

jalur ataupun area / kawasan sebagai tempat pergerakan / penghubung, dan

tempat perhentian / tujuan, dimana unsur hijau (vegetasi) yang alami dan sifat

ruang terbuka lebih dominan (Hakim, 2003).

Lahan Layak Mukim

 Batas kelayakan penggunaan lahan atau bagian dari sistem model yaitu kelayakan kemiringan yang mana kelayakan kemiringannya adalah 0 %

sampai 15% merupakan penggunaan lahan yang bisa dibangun, sedangkan

kemiringan > 15% merupakan penggunaan lahan yang tidak bisa dibangun.

Sistem

 Himpunan atau kombinasi dari bagian-bagian yang membentuk sebuah

kesatuan yang kompleks.

 Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian.

 Hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen secara teratur.

Pendekatan Sistem

 Proses berpikir menyeluruh dan terpadu yang mampu menyederhanakan

kerumitan tanpa kehilangan esensi atau unsur utama dari obyek yang menjadi

perhatian.

 Metode ilmiah di dalam usaha memecahkan masalah atau menerapkan

”kebiasaan berpikir atau beranggapan bahwa ada banyak sebab terjadinya sesuatu” di dalam memandang atau menghadapi kesaling terhubungkannya

(23)

menyadari adanya kerumitan di dalam kebanyakan benda, sehingga terhindar

dari memandangnya sebagai sesuatu yang amat sederhana atau bahkan keliru.

Model

 Suatu perwakilan atau penyederhanaan abstraksi dari sebuah obyek atau

situasi aktual.

 Suatu penyederhanaan dari suatu realitas yang kompleks.

 Representasi sistem dalam kehidupan nyata yang menjadi fokus perhatian dan

menjadi pokok permasalahan.

Model Dinamik

 Kumpulan dari variabel-variabel yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya dalam suatu kurun waktu, setiap variabel berkorespondensi

dengan suatu besaran yang nyata atau besaran yang dibuat sendiri dan semua

variabel tersebut memiliki nilai numerik dan sudah merupakan bagian dari

dirinya. Pada waktu mensimulasikan model, variabel-variabel akan saling

dihubungkan membentuk suatu sistem yang dapat menirukan kondisi

sebenarnya.

Simulasi

 Tiruan dari sistem nyata yang dikerjakan secara manual atau komputer, yang

kemudian diobservasi dan disimpulkan untuk mempelajari karakterisasi

sistem.

 Suatu model sistem yang mana komponennya direpresentasikan oleh proses-proses aritmatika dan logika yang dijalankan komputer untuk memperkirakan

sifat-sifat dinamis sistem tersebut.

 Proses perancangan model dari sistem nyata yang dilanjutkan dengan

pelaksanaan eksperimen terhadap model untuk mempelajari perilaku sistem

atau evaluasi strategi.

Stella

(24)

1.1. Latar Belakang

Kota Manado adalah kota yang dikelilingi oleh wilayah pegunungan dengan

udaranya yang sejuk dan juga berada di tepi pantai Laut Sulawesi atau Teluk Manado

yang indah. Pulau Bunaken yang terletak pada bagian barat kota merupakan bagian dari

wilayah kota yang memiliki taman laut dan menjadi aset yang tinggi nilainya bagi Kota

Manado.

Karakteristik lanskap alami Kota Manado terbentuk atas trimatra yakni pantai,

daratan dan perbukitan yang terbentang dengan jarak yang relatif sempit antara tiga matra tersebut. Wilayah Kota ini juga memiliki beberapa sungai yang mengalir dari

daerah perbukitan dan bermuara ke pantai Teluk Manado. Secara morfologis Kota

Manado juga terbentuk karena karakteristik alamnya dengan struktur lapisan tanah dan

batuan yang mudah tererosi ketika berubah fungsinya dari kondisi bervegetasi menjadi

tanpa vegetasi.

Lanskap Kota Manado yang indah dengan bentukan tiga matra ini ternyata

memiliki kendala dalam pengembangan kota karena datarannya yang sempit dan rentan

terhadap perubahan. Sementara lahan layak huni Kota Manado terbatas pada kelerengan

dan topografi yang mudah berdampak pada resiko terjadinya banjir, longsor, dan erosi.

Keterbatasan lahan daratan yang sempit telah menyebabkan pembangunan fisik Kota

Manado menyebar ke arah lahan-lahan berbukit yang berfungsi lindung secara ekologis.

Hal tersebut menyebabkan gangguan pada tiga matra pembentuk kota ini. Gangguan yang

terjadi pada matra darat akan berpengaruh pula pada matra laut yang mana terdapat aset

Nasional yaitu Taman Laut Bunaken.

Penelitian ini bertujuan hendak menjaga lanskap Kota Manado baik laut, darat

maupun perbukitan guna mencapai kelestarian dan keindahan Kota Manado yang

berkelanjutan. Salah satu bentuk pendekatan yang akan dilakukan yakni dengan

melakukan penelitian ruang terbuka hijau (RTH). RTH diasumsikan melindungi areal yang topografikal atau berbukit sehingga gangguan terhadap kerusakan kota dan

penurunan kualitasnya dapat dikendalikan. RTH merupakan salah satu bagian

(25)

2

mewujudkan tata Kota Manado yang indah, alami, berkarakteristik, dan juga

berkelanjutan.

Kajian RTH pada penelitian ini terdiri atas aspek fisik dengan topografi sebagai peubah utama yang membentuk pola lanskap; aspek ekonomi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebagai peubah yang berperan penting pada penggunaan lahan ;

aspek sosial dengan jumlah penduduk sebagai peubah yang juga berperan pada pembentukan land use (penggunaan lahan). Ketiga parameter (fisik, sosial, dan ekonomi) dengan masing-masing peubah diolah dengan simulasi komputer yang menggunakan alat

bantu software Stella versi 8.0 untuk mendapatkan nilai acuan besaran RTH.

1.2. Perumusan Permasalahan

Peningkatan aktivitas ekonomi di Kota Manado cenderung telah meningkatkan

konversi penggunaan lahan terutama konversi penggunaan lahan bervegetasi (pertanian)

menjadi penggunaan lahan non vegetasi (pemukiman, industri, dan infrastruktur).

Konversi lahan ini telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti banjir,

longsor, erosi, suhu yang meningkat, serta pencemaran. Permasalahan ini sangat terkait

dengan RTH. Padahal RTH harus terus dijaga dan dipertahankan sesuai fungsi ekologis.

Pokok yang terkait dengan peningkatan ekonomi, kualitas fisik dan pertambahan jumlah

penduduk adalah mempelajari kebutuhan ruang khususnya RTH dengan pendekatan

model sistem dinamik. Dengan adanya bentuk keterkaitan tersebut serta upaya untuk

memecahkan permasalahan yang ada, maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah ;

a. Berapa ketersediaan RTH yang dibutuhkan dan distribusinya pada tiap wilayah

kecamatan di Kota Manado saat ini?

b. Bagaimana bentuk pengelolaan tata ruang terutama RTH secara spasial sesuai

dengan lahan layak mukim dan hubungannya dengan distribusi penduduk dan

PDRB ?

1.3. Tujuan dan Manfaat

Penelitian bertujuan mengetahui ketersediaan RTH Kota Manado dengan cara

(26)

dengan faktor sosial, ekonomi, pemanfaatan lahan, jumlah serta distribusi. Secara khusus,

penelitian ini bertujuan untuk :

a. Menyusun dan mensimulasi model dinamis yang mengkaitkan faktor fisik, sosial,

ekonomi, dan ketersediaan RTH.

b. Menyusun arahan pengelolaan RTH yang berkelanjutan berdasarkan lahan layak

mukim.

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain : (1) memberikan

informasi yang dapat menjadi pertimbangan dalam mengatur tata ruang dengan pokok

pertimbangan RTH dan pemukiman terkait dengan pertumbuhan penduduk ; (2)

mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperhatikan kualitas lingkungan

perkotaan.

1.4. Kerangka Pemikiran

Di beberapa kota dewasa ini RTH dianggap sebagai lahan tidak efisien, atau

sebagai tanah cadangan untuk membangun struktur kota. Hal ini terjadi karena tingginya

nilai tanah di daerah perkotaan, sehingga setiap bidang tanah di daerah perkotaan,

diupayakan seproduktif mungkin untuk mencapai optimalisasi ekonomi. Keadaan

demikian mengakibatkan fungsi-fungsi lahan yang dinilai kurang produktif, kurang

diperhitungkan keberadaannya sebagai suatu subsistem dalam sistem ruang perkotaan

secara keseluruhan, sehingga banyak lahan perkotaan yang telah ditetapkan sebagai RTH

berubah fungsinya menjadi penggunaan lain.

Di sisi lain kita ketahui bahwa cukup banyak manfaat yang diperoleh dari

keberadaan RTH yakni antara lain : keindahan dan kesejukan kota, suasana alami di

tengah hiruk pikuknya kota, terkendalinya polusi udara, bertambahnya persediaan air

tanah, tersedianya tempat rekreasi dan olahraga bagi warga kota, dan tempat

bersosialisasinya masyarakat perkotaan.

Dengan fungsi kota yang beranekaragam dan kepadatan yang semakin tinggi,

maka kualitas lingkungan kota menjadi amat rawan. Padahal kenyamanan kota yang

mendukung produktivitas dan fungsi kota tersebut amat ditentukan oleh kualitas

lingkungannya seperti temperatur dan kelembaban, kandungan debu dan bahan kimia di

(27)

4

Dalam hal ini RTH amat penting fungsinya untuk mengatur temperatur kota, mengatur

kandungan oksigen dan mengurangi karbon-dioksida, menjadi perangkap bahan

pencemar baik debu maupun gas, meningkatkan peresapan air, memberi bentuk visual

yang menarik dan sehat untuk rekreasi, menjadi habitat bagi semua mahluk hidup dan

meningkatkan keanekaragaman kehidupan di lingkungan kota.

Khusus Kota Manado yang memiliki karakteristik lanskap alami yang indah,

visualisasi yang menarik, namun juga rawan akan bahaya lingkungan (banjir, erosi,

longsor dan pencemaran) hendaknya dilestarikan dengan Sistem RTH Kota (Green Open Space System) yang tetap mempertimbangkan unsur-unsur bentang alam alami dan pengembangan sistem lingkungan buatan dalam sistem RTH. Keberadaan sistem ini

akan mengatur koordinasi antar instansi dan model yang ada, sehingga peran serta

masyarakat dapat pula dikembangkan. Model ini membutuhkan suatu studi yang tidak

sama pada setiap kota. Penelitian pemodelan ini diarahkan pada studi RTH di Kota

Manado dengan pendekatan sistem dinamik yakni suatu cara berpikir menyeluruh dari

kekompleksan yang terjadi dengan kajian aspek fisik,ekonomi, dan sosial. Ketiga aspek tersebut digunakan pada pembuatan model sistem dinamik dengan di dukung data

kuantitatif yang berubah menurut waktu dan yang nantinya akan menghasilkan

pendugaan ke masa depan mengenai kebutuhan RTH, dengan memperhatikan

pertambahan penduduk, peningkatan tingkat kesejahteraan ekonomi dan perbaikan

(28)

Gambar 1 Bagan Alir Kerangka Pemikiran. Memodelkan RTH Kota Manado

dengan Pendekatan Sistem Dinamik

Manado dan Lanskap yang indah berkarakter

Rentan terhadap perubahan Mudah berdampak banjir,

erosi & longsor

Perlu perbaikan Tata Ruang Pertimbangan aspek fisik, sosial,

ekonomi ;

Pengembangan model RTH sesuai kebutuhan kota

Tata Ruang yang kurang baik

(29)

6

1.5. Lingkup dan Batasan Penelitian

Lingkup dari penelitian ini adalah wilayah administrasi Kota Manado dengan

sembilan kecamatan, diantaranya : Kecamatan Bunaken, Kecamatan Mapanget,

Kecamatan Tuminting, Kecamatan Singkil, Kecamatan Wenang, Kecamatan Tikala,

Kecamatan Sario, Kecamatan Wanea, Kecamatan Malalayang.

Sebagai acuan referensi digunakan Rencana Umum Tata Ruang Kota Manado

2006-2016.

Gambar 2 Peta Administrasi Kota Manado.

(30)

2.1. Pengertian RTH

Dari berbagai referensi pengertian tentang eksistensi nyata sehari-hari, maka

ruang terbuka hijau adalah : (1) suatu lapangan yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi

berkayu); (2) ”Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk,

dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat

tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan

tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain

yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan (Direktorat

Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum, 2006).

Menurut Nurisjah (2005), ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka yang ditanami dengan tanaman, mulai dari yang bersifat alami (rumput, jalur hijau, taman

bermain dan taman lingkungan di daerah pemukiman). Sedangkan menurut

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengartikan

Ruang Terbuka Hijau sebagai area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang

penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara

alamiah maupun yang sengaja ditanam. Pakpahan (2006), menyatakan ruang terbuka hijau merupakan elemen fisik yang menyatupadukan tata bangunan dengan lingkungannya, termasuk mengisi ruang antar bangunan, agar dapat tercipta suatu

lingkungan binaan yang lebih fungsional, lebih berkualitas serta lebih layak dihuni dan

berjati diri. Adapun Fungsi RTH antara lain sebagai ;

2.1.1. Fungsi Ekologi

Secara ekologis fungsi RTH antara lain :

(1) Ameliorasi iklim; elemen dasar iklim antara lain penyinaran matahari, suhu udara,

aliran udara dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Beberapa

proses yang berkaitan dengan ameliorasi iklim yaitu :

(31)

8

Bersama vegetasi lain menguapkan uap air melalui proses evapotranspirasi, oleh

karena itu suhu dibawah tegakan pohon menjadi rendah dibandingkan diluar tegakan

pohon.

b. Pelindung terhadap angin; kecepatan angin dapat dikurangi 75-85% oleh kelompok vegetasi (windbreak) yang efektifitasnya tergantung dari tinggi pohon dan lebarnya

windbreak, perlindungan terbaik yang diberikan adalah sejauh 20 kali tinggi pohon. Jenis tanaman mengatur angin dengan menghalangi, menyalurkan, membelokkan dan

menyaring, pengaruhnya tergantung dari ukuran daun, jenis daun, kepadatan daun,

bentuk tajuk, ketahanan serta penempatan tanaman.

c. Curah hujan dan kelembaban; vegetasi dapat menahan butir-butir air hujan dengan intersepsi dan memperlambat kecepatan jatuhnya air hujan sehingga mengurangi

kekuatan hempasan butir-butir tanah, sehinggga daya infiltrasi tanah meningkat,

aliran permukaan berkurang dan erosi menjadi kecil.

(2) Konservasi tanah dan air; pada umumnya lahan di perkotaan banyak yang tidak

tertutup oleh vegetasi dan banyak dipergunakan sebagai lahan terbangun dan ditutup oleh

perkerasan, sehingga peresapan air ke dalam tanah menjadi terganggu. Salah satu fungsi

RTH di perkotaan adalah untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan dengan

meningkatkan peresapan air melalui vegetasi dan disimpan di dalam tanah berupa air

tanah, kemudian dipergunakan kembali sehingga terjadi siklus hidrologi.

(3) Rekayasa lingkungan:

a. Pengendalian erosi dan aliran permukaan (erotion and surface flow). Penanaman vegetasi dan sistem perakaran dapat mengurangi aliran permukaan dan erosi.

b. Aliran bawah permukaan (sub surface flow); air yang masuk ke dalam lapisan tanah tidak dapat diserap oleh akar tanaman karena perkolasi (arus air vertikal atau mendekati vertikal di bawah lapisan tanah), akibat perkolasi nutrisi yang dibutuhkan

tanaman tidak bisa dijerap oleh akar tanaman, karena porositas yang tinggi.

(32)

jenis tanaman yang memenuhi kriteria ini adalah yang mempunyai daun banyak,

jumlah stomata banyak, serta jumlah luas permukaan daun yang tinggi.

d. Mengatasi intruisi air laut; kawasan yang terletak dekat dengan sungai atau laut dapat ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai daya tahan salinitas tinggi dan tahan

terhadap penggenangan.

e. Pengendalian air limbah; konsep yang dapat dikembangkan untuk menanggulangi air limbah telah banyak dilakukan dengan cara kimiawi, biologis, maupun melalui

penyaringan.

f. Pengelolaan sampah; tanaman dapat diarahkan sebagai upaya dalam pengelolaan sampah, berupa penyekat bau yang ditimbulkan oleh sampah, penyerap bau, sebagai

pelindung tanah hasil dari dekomposisi sampah, dan penyerap zat berbahaya yang

mungkin terkandung dalam sampah seperti logam berat, pestisida, serta bahan

beracun lainnya.

g. Penangkal kebisingan; suara bising umumnya adalah suara yang berlebihan sehingga tidak dapat diterima dengan wajar oleh telinga manusia.

h. Mengurangi pencemaran udara; polutan berupa gas atau partikel debu yang berasal dari industri antara lain karbon monoksida, dari kendaraan bermotor, atau dari rumah

tangga, partikel-partikel tersebut dapat dijebak oleh daun-daun, cabang dan ranting

melalui proses impaction yang berfungsi sebagai filter di udara.

i. Pengendalian cahaya yang menyilaukan; vegetasi dapat memperlunak cahaya yang menyilaukan baik primer (cahaya yang langsung dari matahari) maupun sekunder

(melalui pantulan dari benda-benda lain) tergantung dari ukuran dan kerapatannya.

(4) Habitat satwa; salah satu satwa yang umumnya terdapat pada kawasan RTH kota

adalah burung. Burung membutuhkan tanaman sebagai tempat bersarang atau mencari

makan, kawasan perkotaan merupakan potensi bagi pelestarian satwa burung, hal ini

disebabkan karena ekosistem perkotaan, ketersediaan tempat hinggap merupakan suatu

(33)

10

2.1.2. Fungsi Ekonomi

Salah satu peranan penting dari RTH yang mempunyai fungsi ekonomi adalah

dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat baik secara langsung dan tidak

langsung. Sumber daya alam sebagai aset kota dapat dijadikan paket ekowisata apabila

kawasan tersebut dikelola dengan baik, hutan kota sebagai hutan hujan tropis,

pemukiman masyarakat lokal tepi sungai sebagai water front city culture tourism, yang dapat memberikan pendapatan kepada daerah .

2.1.3. Fungsi Sosial

Salah satu fungsi sosial RTH adalah sebagai wadah pendidikan masyarakat

terhadap permasalahan lingkungan serta solusi pemecahannya melalui berbagai forum

yang berkaitan dengan isu konservasi lingkungan. Bentuk-bentuk RTH seperti lahan

pertanian, kehidupan tepi sungai merupakan salah satu kegiatan penting dalam rangka

pembangunan nilai-nilai sosial dan sumberdaya alam suatu kota. Selanjutnya Grey and

Denneke (1986) menyatakan bahwa RTH mempunyai peran dalam meningkatkan

interaksi sosial diantara warga kota.

2.1.4. Fungsi Budaya

Fungsi RTH dalam meningkatkan identitas lingkungan kota akan terwujud

apabila RTH yang dikembangkan mampu membangkitkan kesan yang mendalam bagi

warga kota akan ciri khas suatu kawasan atau unit administrasi tertentu (Nurisjah, 2006).

Manfaat RTH kota, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian besar

dihasilkan dari adanya fungsi ekologis. Penyeimbang antara lingkungan alam dengan

lingkungan buatan, yaitu sebagai ’penjaja’ fungsi kelestarian lingkungan pada media air,

tanah, dan udara serta konservasi sumber daya hayati flora dan fauna. Kondisi ’alami’ ini

dapat dipertimbangkan sebagai pembentuk berbagai faktor. Berlangsungnya fungsi

ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari akan membentuk

kota yang sehat dan manusiawi.

Manfaat tanaman adalah sebagai komponen sekaligus sumber kehidupan (biotik) dan produsen primer dalam rantai makanan bagi lingkungan dan dapat menjadi sumber

pendapatan. Proses fotosintesis, yang mana zat hijau (klorofil) yang banyak terdapat

(34)

karbohidrat, protein, lemak juga vitamin dan mineral, sangat berguna bagi kehidupan

manusia dan mahluk lain.

Tanaman adalah pabrik tanpa butuh bahan bakar fosil, bahkan tanaman adalah

sumber karbon, tidak membutuhkan energi listrik atau api untuk memasak makanannya

agar bisa terus tumbuh. Pabrik tersebut tidak mencemari media lingkungan, bahkan

membantu ’membersihkan’ media udara yang kotor serta ’menyegarkan’ udara. Akar

pohon berfungsi untuk menarik bahan baku dari dalam media tanah, antara lain berbagai

macam mineral yang larut dalam air. Zat-zat tersebut ’dimasak’ dalam ’pabrik’ berupa

daun, menghasilkan karbohidrat (tepung, gula, selulosa/serat), oksigen, yang seringkali

disimpan dalam gudang berbentuk buah dan biji sebagai agen pertumbuhan selanjutnya.

Manfaat bagi Kesehatan, tanaman sebagai penghasil oksigen (O2), terbesar dan

penyerap karbon dioksida (CO2) dan zat pencemar udara lain, khusus di siang hari,

merupakan pembersih udara yang sangat efektif melalui mekanisme penyerapan

(absorpsi) dan penjerapan (adsorpsi) dalam proses fisiologis, yang terjadi terutama pada

daun, dan permukaan tumbuhan (batang, bunga dan daun).

Pembuktian bahwa tumbuhan dapat efektif membentuk udara bersih dapat

dicermati dari hasil studi penelitian Bernatzky (Direktorat Jenderal Penataan Ruang)

menyatakan bahwa setiap satu ha RTH yang ditanami pepohonan, perdu, semak, dan

penutup tanah, dengan jumlah permukaan daun seluas lima ha, maka sekitar 900 Kg CO2,

akan dihisap dari udara dan melepaskan sekitar 600 Kg O2 dalam waktu 12 jam.

Hasil penelitian Hennebo (Direktorat Jenderal Penataan Ruang) menyimpulkan,

terjadinya pengendapan debu (aerosol) pada lahan terbuka, khusus pada hutan kota. Pengendapan debu dipengaruhi oleh jarak RTH terhadap sumber debu, jenis dan

konsentrasi debu, kondisi iklim, topografi, jenis, dan kelompok tanaman, serta struktur

arsitektural RTH.

Ameliorasi Iklim, dengan adanya RTH sebagai ’paru-paru’ kota, akan terbentuk iklim yang sejuk dan nyaman. Kenyamanan ini ditentukan oleh adanya saling keterkaitan

antara faktor-faktor suhu udara, kelembaban udara, cahaya, dan pergerakan angin.

Hasil penelitian di Jakarta, membuktikan bahwa suhu di sekitar kawasan RTH (di

bawah pohon teduh), dibanding dengan suhu di ’luarnya’, bisa mencapai perbedaan

(35)

12

2006). RTH membantu sirkulasi udara. Pada siang hari, dengan adanya RTH maka secara

alami udara panas akan terdorong ke atas dan sebaliknya pada malam hari udara dingin

akan turun di bawah tajuk pepohonan. Pohon adalah pelindung yang paling tepat dari

terik sinar matahari di samping sebagai penahan angin kencang, peredam kebisingan dan

bencana alam lain, termasuk erosi tanah. Bila terjadi tiupan angin kencang di ’atas’ kota

tanpa tanaman, maka polusi udara akan menyebar lebih luas dan kadarnya pun akan

semakin meningkat. RTH sebagai penjamin terjadinya keseimbangan alami, secara

ekologis dapat menampung kebutuhan hidup manusia itu sendiri, termasuk sebagai

habitat alami flora, fauna, dan mikroba yang diperlukan dalam siklus hidup manusia.

Manfaat Terkait Fungsi Ekonomi (Produktif), tanaman sebagai salah satu komponen hidup (biotik) di dunia sangat diperlukan manusia dan mahluk hidup lain.

Tanpa tanaman tidak akan ada kehidupan lain di dunia karena tanaman merupakan

’pabrik makanan’ (produsen primer) dalam siklus rantai makanan, sedang yang lain adalah konsumen. ’Pabrik makanan’ tersebut dibagi dalam tiga tingkat (trophic level), primer, sekunder, dan tersier, artinya hanya tumbuhan hijau (tanaman) yang dapat

membuat makanannya sendiri melalui proses fotosintesis yang terjadi pada bagian

tanaman yang mempunyai zat hijau daun (klorofil), dengan bantuan pusat energi (sinar

matahari).

Pada RTH , siklus-siklus kehidupan dapat dikatakan berlangsung dengan karakter

alami, yang mana fungsi pokoknya adalah menjadi unsur penyeimbang dalam lingkungan

binaan yang sehat, seharusnya ada tersebar merata di antara dominasi struktur fisik

bangunan dalam kawasan binaan secara proporsional. Sedang bentuk RTH itu sendiri

bisa memanjang, membulat, persegi empat maupun bulat atau bentuk-bentuk geografis

arsitektural, bahkan bentuknya bisa dikatakan tak perlu beraturan (alami) sesuai dengan

tujuan dan kondisi geografisnya.

RTH merupakan bagian Sistem Tata Ruang Kota, yaitu ruang terbuka (open space), yang mana berbagai fungsi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan perencanaan maupun perancangannya, yaitu : seperti untuk Taman Kota ( Urban Parks), konservasi

lahan (tanah, air dan sumberdaya alam lain) seperti Taman Hutan-Kota, serta tujuan

untuk mempertahankan estetika sesuai nilai budaya dalam sejarahnya. Dalam kelompok

(36)

pengaman fasilitas yang ada, seperti sarana penampung sampah padat sementara maupun

akhir (TPA/TPS), dan sebagainya.

Manfaat yang terkait Arsitektur, pertimbangan dari berbagai aspek, maka

hubungan antara arsitektur dan arsitektur lansekap secara alami bersifat sangat

’komplementer’ dan saling mendukung pada skala yang luas, sebab pada hakikatnya

kedua disiplin tersebut mempunyai dasar tujuan sama, yaitu berpikir, berkreasi, dan

berkarya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan habitat hidup yang sehat, serasi,

produktif, dan indah, sesuai dengan akar budaya bahkan falsafah kehidupan serta

pandangan masing-masing kelompok manusia pada era dan lokasi tertentu.

Arsitektur dan Arsitektur Lanskap, tentu mempunyai kesamaan tradisional dan

sejarahnya, baik dalam fungsi, bentuk maupun arti, dalam media maupun teknik-teknik

pelaksanaannya. Meski sebenarnya mudah dimengerti bahwa arsitektur lanskap tak selalu

harus ada struktur bangunannya. Yang jelas kedua profesi tersebut memiliki landasan

berpikir yang sama (common ground), yaitu ’menggubah ruang yang mempunyai lantai

dasar, atap dan ’dinding’ bagi kenyamanan hidup manusia’. Keduanya bisa saling

bersintesa maupun berintegrasi. Karenanya tidak mengherankan bila profesi arsitektur

sering melakukan pekerjaan arsitektur lansekap, dan sebaliknya hanya tentu saja

penekanan terutama pada struktur bangunan dan alamnya berbeda-beda.

Kebutuhan Luas RTH, penetapan berapa besar luasan yang harus disediakan untuk

menciptakan RTH di suatu wilayah dapat ditetapkan dalam suatu standar. Menurut Eckbo

(1964) untuk mengakomodasikan kebutuhan 100-300 orang diperlukan paling sedikit

40.000 m2 luasan RTH. Luasan ini didistribusikan menjadi :

a. Taman lingkungan ketetanggaan (neighbourhood parks) ≥ 4.000 m2 dengan jangkauan pelayanan 10-200 m.

b. Taman Lingkungan komunitas ≥ 100.000 m2 dengan jangkauan pelayanan 625 -

900 m.

c. Taman kota atau taman regional dengan luasan yang lebih besar dan berada di

(37)

14

Standar luasan RTH kota di Indonesia menurut Permendagri No. 1 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP), dihitung

berdasarkan persentase luas wilayah kota yaitu 20% dari luas kawasan Perkotaan harus

dihijaukan.

Berdasarkan Kepmen Pekerjaan Umum (PU) No.378/Kpts/1987 tentang Petunjuk

Perencanaan Kawasan Perumahan Kota yang mengatur standar perencanaan RTH di

lingkungan permukiman kota menyatakan bahwa kebutuhan kota terhadap taman kota,

hutan kota, jalur hijau, dan pemakaman dihitung berdasarkan kebutuhan masing-masing

penduduk (lihat Tabel 1).

Tabel 1 Standar Perencanaan RTH di Lingkungan Permukiman Kota

Unit

(38)

Standar luasan RTH lainnya diajukan oleh Simonds (1983) yang secara hirarki

mempertimbangkan kebutuhan dalam suatu wilayah (Tabel 2).

Tabel 2 Standar Luas RTH untuk Umum

Hirarki

Ketetanggaan 1.200 4.320 12.000 Lapangan bermain, areal rekreasi, taman

Komunitas 10.000 36.000 20.000 Lapangan bermain, Wilayah/Region 1.000.000 - 80.000 Ruang

terbuka

(39)

16

2.2. RTH Perkotaan

RTH Perkotaan, secara umum penataan ruang ditujukan untuk menghasilkan

suatu perencanaan tata ruang yang kita inginkan di masa yang akan datang. Pada

dasarnya perencanaan tata ruang perkotaan seyogyanya dimulai dengan mengidentifikasi

kawasan-kawasan yang secara alami harus diselamatkan (kawasan lindung) untuk

menjamin kelestarian fungsi lingkungan, dan kawasan-kawasan yang secara alami rentan

terhadap bencana ( prone to natural hazards) seperti gempa, longsor, banjir, maupun bencana alam lainnya. Kawasan-kawasan inilah yang harus dikembangkan sebagai ruang

terbuka, baik hijau maupun non-hijau. Dengan demikian keberadaan RTH dalam

perencanaan tata ruang menjadi sangat penting mengingat perencanaan tata ruang harus

dimulai dengan pertanyaan dimana kita tidak boleh membangun? Bukan sebaliknya. Dalam konsep perencanaan pembangunan yang berkelanjutan, secara nyata

ditegaskan bahwa upaya pembangunan yang kita lakukan saat ini, sebaiknya dilakukan

dengan tidak mengabaikan hak-hak generasi mendatang dalam ikut menikmati

sumber-sumber daya yang ada, terutama sumber-sumberdaya alam dan lingkungan. Dengan demikian

perencanaan tata ruang di perkotaan seyogyanya harus mengakomodasi

kepentingan-kepentingan ekonomi untuk menjamin produktivitas kota, kepentingan-kepentingan-kepentingan-kepentingan

sosial untuk mewadahi aktivitas masyarakat, serta kepentingan-kepentingan lingkungan

untuk menjamin keberlanjutan.

Agar keberadaan RTH di perkotaan dapat berfungsi secara efektif baik secara

ekologis maupun secara planologis, pengembangan RTH tersebut sebaiknya dilakukan

secara hierarki dan terpadu dengan sistem struktur ruang yang ada di perkotaan. Dengan

demikian keberadaan RTH bukan sekadar menjadi elemen pelengkap dalam perencanaan

suatu kota semata, melainkan merupakan pembentuk struktur ruang kota, sehingga kita

dapat mengidentifikasi hierarki struktur ruang kota melalui keberadaan komponen

pembentuk RTH yang ada.

RTH sebagai Unsur Utama Tata Ruang Kota, permasalahan degradasi lingkungan

hidup perkotaan digambarkan dari semakin mewabahnya penyakit-penyakit akibat

kualitas lingkungan yang semakin memburuk bahkan sulit diatasi, sebagai akibat tidak

(40)

limbah cair yang semakin menumpuk dan mengalir tidak terkendali yang menjadi wadah

yang subur bagi media pertumbuhan penyakit.

Berbagai kondisi lingkungan yang negatif tersebut, memacu kejadian kerusakan

lingkungan kota menjadi berantai dan kait mengkait. Pada kawasan permukiman kota tepi

air misalnya, masalah klasik adalah bencana banjir, pada kawasan pesisir terjadi

kerusakan dan pencemaran pantai. Adanya genangan air laut ke arah darat, seperti di

muara kali Semarang misalnya, tentunya membawa kerusakan akibat pengaruh air asin,

atau intruisi air laut yang mengisi kantong-kantong air tanah (aquifer). Pada kota-kota di

daerah lereng pegunungan terjadi tanah longsor dan juga banjir antara lain akibat kurang

atau tidak adanya tanaman yang bisa mengikat atau menahan air hujan yang

terakumulasi, terutama bila terjadi curah air hujan tinggi.

Upaya-upaya pelestarian fungsi lingkungan dengan menyisihkan sebagian ruang

kota, terutama di wilayah-wilayah yang rawan bencana, harus segera dilaksanakan.

Artinya ruang-ruang yang rawan tersebut bukan diproyeksikan untuk pemukiman, seperti

tepian badan air (sungai, danau/dam atau laut), atau mendirikan bangunan pada lereng

yang relatif curam. Ruang untuk menampung kegiatan konservasi lingkungan kota harus

dikaitkan dengan RTRWK dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR).

RTH baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan adalah ”sepenggal alam” yang

masih tersisa atau sengaja disisakan guna mengimbangi lingkungan buatan (kota) baik

yang sengaja dirancang dan direncanakan melalui kreativitas arsitektur lansekap maupun

karena ’warisan’ wajah alami yang sengaja dibiarkan sedemikian agar kita semua suatu

saat masih memperoleh kesempatan untuk dapat menikmatinya, langsung maupun tidak.

2.3. Pendekatan Sistem Dinamik

Sistem adalah keseluruhan inter-aksi antar unsur dari sebuah obyek dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan. Pengertian keseluruhan adalah lebih dari sekedar penjumlahan atau susunan (aggregate), yaitu terletak pada kekuatan (power) yang dihasilkan oleh keseluruhan itu jauh lebih besar dari suatu penjumlahan atau

susunan. Pengertian inter-aksi adalah pengikat atau penghubung antar unsur, yang memberi bentuk/struktur kepada obyek, membedakan dengan obyek lain, dan

(41)

18

abstrak, yang menyusun obyek sistem. Unjuk kerja dari sistem ditentukan oleh fungsi

unsur. Gangguan salah satu fungsi unsur mempengaruhi unsur lain sehingga

mempengaruhi unjuk kerja sistem sebagai keseluruhan. Unsur yang menyusun sistem ini

disebut juga bagian sistem atau sub sistem.

Konsep pengertian sistem sebagai suatu metode dikenal dalam pengertian umum sebagai pendekatan sistem (system approach). Pada dasarnya pendekatan tersebut merupakan penerapan metode ilmiah di dalam usaha memecahkan masalah. Atau

menerapkan ”kebiasaaan berpikir atau beranggapan bahwa ada banyak sebab terjadinya sesuatu” di dalam memandang atau menghasilkan kesaling terhubungkannya sesuatu

benda, masalah, atau peristiwa. Jadi, pendekatan sistem berusaha menyadari adanya

kerumitan di dalam kebanyakan benda, sehingga terhindar dari memandangnya sebagai

sesuatu yang amat sederhana atau bahkan keliru.

Hal tersebut menunjukkan sifat berpikir secara sistem (system thinking) yang

bersegi banyak (multidimensi) dan pelik. Mempergunakan pendekatan sistem menuntut

pemahaman bahwa setiap benda atau sistem tersebut berada (menjadi bagian) dari sistem

yang lebih besar atau lebih luas, sehingga semua benda dengan sesuatu cara, saling

berkaitan. Semakin lama orang semakin menghendaki adanya hasil penerapan

pendekatan sistem tersebut yang lebih obyektif dan tepat. Keinginan tersebut terwujud

dalam bentuk berkembangnya teknik-teknik pemecahan masalah (problem solving) yang

tinggi (canggih, sophisticated), seperti penelitian operasi (operations research), analisa

statistika, model simulasi, dan sistem informasi yang mempergunakan komputer.

Berbagai macam hasil perkembangan tersebut ditujukan pada peningkatan mekanisme

kontrol sistem organisasi, yang dengan demikian memungkinkannya untuk

merencanakan dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan

secara efektif. Kebanyakan definisi tentang sistem lebih menunjuknya sebagai suatu

wujud benda, jarang yang mengenai sistem sebagai metode. Jadi lebih mendekati arti kata

systema dalam bahasa aslinya (Yunani) ”systema” yang mempunyai pengertian ; suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (Amirin, 1986). Jadi, dengan kata

(42)

Pendekatan Sistem, teori sistem menyatakan bahwa kesisteman adalah suatu metakonsep atau metadisiplin, formalitas dan proses dari keseluruhan disiplin ilmu dan

pengetahuan sosial dapat dipadukan dan berhasil (Suwarto, 2006). Karena sistem selalu

mencari keterpaduan antar bagian melalui pemahaman yang utuh, maka perlu suatu

kerangka fikir yang dikenal sebagai pendekatan sistem (system approach) dalam studi Ruang Terbuka Hijau di perkotaan.

Pendekatan sistem dalam studi RTH Kota Manado adalah cara penyelesaian

persoalan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah

kebutuhan-kebutuhan ruang sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem RTH

yang dianggap efektif. Dalam pendekatan sistem umumnya ditandai oleh dua hal, yaitu (1) mencari semua faktor penting yang ada dalam mendapatkan solusi yang baik untuk

menyelesaikan masalah dan (2) dibuat suatu model kuantitatif untuk membantu

keputusan secara rasional (Eriyatno, 2003). Pengambilan keputusan yang efektif dari

permasalahan kompleks di dunia nyata menyebabkan kita harus mengkaji permasalahan

secara holistik dengan menggunakan pendekatan sistem (Hartrisari, 2007). Dalam

pendekatan sistem, kita dapat menggunakan model sebagai alat untuk memahami proses dan memprediksi perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dalam ilmu sistem

pemahaman seperti itu dikenal dengan istilah mensimulasi perilkau sistem. Sistem dinamik merupakan metoda yang dapat menggambarkan proses, perilaku dan kompleksitas dalam sistem. Model yang berbasis sistem dinamik dapat digunakan untuk menunjang pengambilan keputusan dan bahkan kebijakan.

Pendekatan sistem dengan menggunakan komputer, bertujuan memudahkan penggunaan model dan teknik simulasi dalam sistem, terutama dalam menghadapi

masalah yang cukup luas dan kompleks yang mana banyak sekali peubah, data dan

interaksi-interaksi yang mempengaruhi, seperti halnya dalam penelitian studi RTH di

Kota Manado.

Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan

peubah-peubah yang penting dan tepat. Teknik kuantitatif seperti persamaan regresi dan

simulasi digunakan untuk mempelajari keterkaitan antar peubah dalam sebuah model

(43)

20

kekuatan yang lebih tinggi pada analisis dunia nyata. Pendekatan sistem dalam suatu lingkungan dinamik, adalah suatu proses berkesinambungan, mencakup penyesuaian dan

adaptasi melalui lintasan waktu.

Yang dimaksud adalah kondisi aktual atau sistem RTH yang ada di Kota Manado,

yang terdiri atas komponen aktivitas sosial, aktivitas ekonomi, dan aktivitas fisik. Proses

pembuatan model yang dibagi menjadi beberapa sub model bermaksud agar supaya lebih

fokus dalam pembuatannya.

Dalam melakukan pendekatan sistem bisa dengan menggunakan komputer atau

tanpa menggunakan komputer. Akan tetapi adanya fasilitas komputer memudahkan

penggunaan model dan teknik simulasi dalam sistem, terutama bila menghadapi masalah

yang cukup luas dan kompleks yang mana banyak sekali peubah, data dan

interaksi-interaksi yang saling mempengaruhi (Eriyatno,2003).

Sistem Dinamik, konsep dasar sistem dinamik mengenalkan secara sederhana elemen-elemen dasar yang menyusun sebuah sistem yang bersifat dinamis, yang

dilengkapi dengan langkah-langkah berpikir membangun model umum (generic model) mulai dari identifikasi gejala sampai menghasilkan struktur permasalahan untuk analisis

kebijakan. Dengan konstruksi berpikir sistem akan jelas ”dimana” batas hubungan antara sistem dengan lingkungan ; ”apa” komponen, unsur, dan cirinya, serta ”bagaimana”

interaksi keseluruhan di dalam dan ke luar sistem yang jadi perhatian.

Selanjutnya tentang pemodelan sistim dinamik dalam bentuk diagram komputer

dengan menggunakan bahasa perangkat lunak ”Stella version 8.0.” Penggunaan perangkat lunak komputer tersebut adalah sebagai ”alat” untuk memudahkan perumusan

interaksi dalam sistem yang rumit kedalam alur pemikiran yang konsisten agar dapat

disimulasikan. Analisis sistem dinamik yang dapat digunakan untuk menangani

kerumitan, perubahan, dan ketidakpastian dari sebuah sistem nyata, sehingga perlunya

pembelajaran tentang proses dinamis secara holistik dalam membawa kesadaran berpikir

sistemik yang kreatif dengan pandangan antisipatif kedepan.

Pemodelan dan Simulasi, model merupakan representasi sistem dalam kehidupan nyata yang menjadi fokus perhatian dan menjadi pokok permasalakan. Proses pembuatan

model dimulai dengan adanya permasalahan pada sistem nyata, yang dilihat oleh

(44)

pengetahuan dan pengalaman si pembuat model, sampai akhirnya tercipta suatu model.

Model selanjutnya akan diuji keabsahannya dengan menggunakan data sampel sehingga

dapat dihasilkan suatu model yang valid.

Pengembangan suatu model dapat dilakukan dengan menggunakan aturan-aturan

diantaranya, yaitu: (1) Elaborasi. Pengembangan model sebaiknya dimulai dari yang

paling sederhana kemudian bertahap dielaborasi menjadi model yang representatif.

Penyederhanaan permasalahan dapat dilakukan dengan menggunakan asumsi-asumsi

yang diperlukan, sesuai dengan tujuan pembuatan modelnya. (2) Analogi. Pengembangan

model dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan teori-teori yang sudah

dikenal luas. (3) Dinamis. Pengembangan model bukanlah suatu proses mekanis dan

linier sehingga dalam tahap pengembangannya mungkin saja terdapat proses

pengulangan.

Simulasi adalah tiruan dari sistem nyata yang dikerjakan secara manual atau

komputer, yang kemudian diobservasi dan disimpulkan untuk mempelajari karakterisasi

sistem (Suryani 2006). Simulasi didefinisikan sebagai sekumpulan metode dan aplikasi

untuk menirukan atau mempresentasikan perilaku dari suatu sistem nyata, yang biasanya

dilakukan pada komputer dengan menggunakan perangkat lunak tertentu (Suryani, 2006).

Simulasi merupakan proses aplikasi membangun model dari sistem nyata atau usulan

sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk menjelaskan perilaku sistem,

mempelajari kinerja sistem, atau untuk membangun sistem baru sesuai dengan kinerja

yang diinginkan (Suryani, 2006).

Manfaat dari model simulasi yakni merupakan tool yang cukup fleksibel untuk memecahkan masalah yang sulit untuk dipecahkan dengan model matematis biasa. Model

simulasi sangat efektif digunakan untuk sistem yang relatif kompleks untuk pemecahan

analitis dari model tersebut. Penggunaan simulasi akan memberikan wawasan yang lebih

luas pada pihak manajemen dalam menyelesaikan suatu masalah. Simulasi model dapat

dilakukan dengan menggunakan berbagai skenario sebagai input. Berdasarkan variasi

output yang dihasilkan dapat dipilih alternatif terbaik dari berbagai skenario yang

merupakan input model tersebut. Dalam hal ini, model berfungsi sebagai alat bantu dalam

(45)

3 METODOLOGI

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah Kota Manado, Sulawesi Utara yang terletak di antara

1o30’ – 1o40’ lintang utara ; 124o40’ – 126o 50’ bujur timur.

Waktu penelitian dilaksanakan selama empat belas bulan mulai bulan Maret

2007 sampai dengan bulan Mei 2008 yang terdiri atas dua tahap yaitu survey

lapangan untuk ground cek dan wawancara stakeholder (Maret 2007 sampai Juli 2007) serta konstruksi model dinamik (Agustus 2007 sampai Mei 2008).

3.2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan berdasarkan data sekunder yang kemudian

diolah dalam pemodelan dinamik, dan data primer berupa ground cek lapangan dan wawancara stakeholder. Data dan informasi yang dibutuhkan terbagi dalam tiga kategori : (1) data fisik , (2) data ekonomi, dan (3) data sosial. (Tabel 3).

Ketiga aspek yang terkait dengan RTH ini masing-masing memiliki peubah

yang berbeda-beda untuk diteliti. Untuk mencapai hasil yang terpadu pada

masing-masing peubah yang berbeda dilakukanlah pendekatan sistem dinamik. Pendekatan sistem dinamik adalah suatu metode pemodelan dengan simulasi komputer yang menggunakan alat bantu software Stella versi 8.0. Program Stella merupakan perangkat lunak yang berbasis flow chart. Dasar pemilihannya adalah merupakan paket yang handal, fleksibel dan mudah untuk membuat sistem permodelan dinamik

baik dalam prosesnya maupun dalam melakukan simulasi. Model simulasi tersebut

sangat efektif pula digunakan untuk sistem yang relatif kompleks guna pemecahan

analitis dari model. Selanjutnya dengan pendekatan sistem dinamik dapat dipahami

proses dan prediksi perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Konsep model pada penelitian ini mengacu pada penataan ruang dengan mengatur lahan sesuai kelayakan topografi yang merupakan karakteristik Kota

Manado dengan pokok acuannya yakni RTH. Dengan memperhitungkan jumlah

penduduk terkait penyediaan penggunaan lahan pemukiman serta RTH, maka hal

tersebut menjadi acuan yang digunakan dalam menata penggunaan lahan di Kota

(46)

Tabel 3 Data Penelitian dan Sumber Data

Nasional Provinsi Sulut,

Kotamadia Manado dan

Dinas Agribisnis Kota

Manado ; Badan

Badan Pusat Statistik

Kota Manado

Data Sosial - Jumlah Penduduk

- Jumlah Rumah Tangga

- Jumlah Angkatan Kerja

Badan Pusat Statistik

Kota Manado

3.3. Metode Analisis

Struktur Model RTH dengan pendekatan sistem dinamik pada penelitian ini

diartikan sebagai konstruksi model yang disusun berdasarkan pada parameter ekonomi, parameter sosial, dan parameter fisik. Kegiatan fisik merupakan kegiatan utama sebagai basis mendukung tata ruang untuk menentukan luas RTH. Sehingga

Tata Ruang akan merekomendasikan RTH yang berhubungan dengan kualitas fisik

dan lahan layak mukim . Lahan layak mukim yang dimaksud adalah batas kelayakan lahan atau bagian dari sistem model ini yakni kelayakan kemiringan yang mana

kelayakan kemiringan adalah 0-15%. Model pengaturan hasil terdiri dari tiga sub

model , antara sub model satu dengan sub model lainnya saling mempengaruhi. Sub

model fisik akan mempengaruhi sub model ekonomi dan sub model sosial.

(47)

24

Gambar 3 Simpal Kausal Model RTH Kota Manado.

3.4. Konstruksi Model

Konsep dasar model ini mengacu pada Penataan Ruang dengan mengatur

lahan sesuai kelayakan topografi (bergunung, berbukit, berombak, dan landai) yang

Gambar

Tabel 1  Standar Perencanaan RTH di Lingkungan Permukiman Kota
Tabel  2  Standar Luas RTH untuk Umum
Gambar 3  Simpal Kausal Model RTH Kota Manado.
Gambar 6  Lanskap Kota Manado.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Arahan pengembangan ruang terbuka hijau dilakukan pada masing-masing kelurahan di Kecamatan Lubuk Baja sesuai dengan stadar yang berlaku, yaitu sebesar 20% untuk publik,

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis Pendugaan Cadangan Karbon Pohon pada Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota di Kodya Jakarta Timur Menggunakan Citra Landsat adalah karya saya

Masyarakat kota, berkepentingan terhadap tersedianya ruang terbuka hijau dengan berbagai fungsi ekologisnyai. Masyarakat pendatang, yang cenderung memanfaatkan ruang terbuka

Suatu penelitian yang bertujuan memberikan arahan pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Khatulistiwa Pontianak telah dilakukan.. Penelitian terdiri dari 3 bagian

RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI INFRASTRUKTUR HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK KOTA STUDI KASUS : ALUN-ALUN WONOSOBO Adinda Septi Hendriania aProgram Studi Arsitektur Universitas Sains

Pelaksanaan ruang terbuka hijau dan mengetahui kecukupan ruang terbuka hijau dapat diperoleh dengan cara mendapatkan data dari peta rupa bumi Indonesia, Tutupan lahan kota Ambon,

Hal ini di karnakan adanya hamabatan dan permasalahan dalam perencanaan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau yaitu belum terpenuhinya jumla luas Ruang Terbuka Hijau, kurangnya anggaran dan

LEMBAR PENGESAHAN STUDIO TUGAS AKHIR ARSITEKTUR PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BEKASI DENGAN PENDEKATAN GREEN URBANISM Dipersiapkan dan disusun oleh : Gabriella Cintaka