Tanggung Jawah Hukum Perusahaan Patungan (Joint Venture Company) dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

121 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

Tabel I. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014

Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup Untuk Penanaman Modal

NO BIDANG BIDANG USAHA

1 Pertanian Budidaya Ganja

2 Kehutanan 1. Penangkapan Spesies ikan yang tercantum

2. Pemanfaatan (pengambilan) koral/karang dari alam untuk bahan bagunan/kapur/kalsium dan perhiasan, serta koral hidup atau mati dari alam

3 Perindustrian 1. Industri kimia yang dapat merusak lingkungan:

- Industri pembuat Chlor Alkali dengan proses

2. Industri bahan kimia yang terdaftar dalam daftar -1 konvensi senjata kimia dalam lampiran Undang-undang Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pengunaan Bahan Kimia Sebagai Senjata Kimia

3. Industri minuman mengandung alkohol : - Minuman keras

- Anggur

- Minuman mengandung malt

4 Perhubungan 1. Penyelenggaraan dan pengoperasian terminal penumpang angkutan Darat.

2. Penyelenggaraan dan pengoperasian penimbangan kendaraan bermotor.

3. Telekomunikasi/sarana bantuan navigasi pelayaran. 4. Penyelenggaraan pelayanan navigasi penerbangan 5. Penyelenggaraan pengujian tipe kendaraan

bermotor. 5 Komunikasi

dan

informatika

Manajemen dan penyelenggaraan stasiun monitoring spectrum frekuensi

Radio dan orbit satelit 6 Pendidikan dan

kebudayaan

1. Museum pemerintah

(2)

Tabel II. Daftar Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan

a. Bidang Kehutanan

No Bidang Usaha Uraian Persyaratan

Keterangan

1 Penangkapan dan peredaran dan

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penanaman 5 Industirian primer

pengelolaan rotan 6 Pengusahaan

perburuan

Maksimal 49 %

7 Pengusahaan rotan 8 Pengusahaan

pariwisata alam berupa

pengusahaan

(3)

sarana, kegiatan

1 Usaha pembibitan tanaman pokok

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penana-man modal dari ASEAN 2 Usaha budidaya

tanaman pangan yang kurang dari 25 Ha: 3 Usaha perkebunan

(4)

- Pekebunan tebu 4 Industri pengolahan

(5)

c. Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral

No Bidang Usaha Uraian Persyaratan

Keterangan

1 Jasa konstruksi migas:

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penana-man modal dari ASEAN

2 Jasa survei: 4 Pembangkit tenaga

listrik:

- Pembangkit listrik

(6)

> 10MW swasta selama masa konsesi) 5 Pembangunan dan

pemasangan

6 Pemeriksaan dan pengujian instalansi listrik

-

7 Industri penghasil biomassa untuk

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

(7)

2 Industri kerajinan

3 Industri jasa pemeliharaan dan perbaikan sepeda motor

4 Industri makanan olahan

5 Industri

pengolahan susu bubuk dan susu kental manis

6 Industri rokok Rekomendasi dari Kementrian Perindustrian 7 Industri barang

dari tanah liat

- Izin operasional dari BOTASU - Rekomendasi

dari Kementrian Perindustrian 9 Industri peleburan

(8)

e. Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

No Bidang Usaha Uraian

Persyaratan

Keterangan

1 Biro perjalanan wisata

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penana-man modal dari ASEAN 2 - Restoran

4 Usaha rekreasi, seni dan hiburan

(9)

f. Bidang Kelautan dan Perikanan

No Bidang Usaha Uraian Persyaratan

Keterangan

1 Perikanan tangkap dengan

mengguna-c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penana-man modal dari ASEAN 2 Usaha pengolahan 3 Pembesaran ikan:

- Ikan laut - Ikan air payau - Ikan air tawar 4 Pembenihan ikan 5 Usaha Pengolahan

hasil perikanan 6 Usaha pemasaran,

distribusi,

perdagangan besar, dan ekspor hasil perikanan

(10)

g. Bidang Pekerjaan Umum

No Bidang Usaha Uraian Persyaratan

Keterangan

1 Jasa konstruksi yang menggunakan

a. Dicadangkan untuk usaha mikro,kecil,menegah,

koperasi b. Kemitraan

c. Kepemilikan modal asing d. Lokasi tertentu

i. Persyaratan kepemilikan modal asing/bagi penana-man modal dari ASEAN 2 Pengusahaan air

minum

Maksimal 95%

3 Pengusahaan jalan tol

Maksimal 95%

4 Jasa bisnis/jasa konsultasi konstruksi 5 Pengelolaan dan

pembuangan sampah yang tidak berbahaya

(11)

100

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Dirdjosisworo, Soedjona. Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman modal di Indonesia. Bandung: CV.Mandar Maju. 1999.

Erwin, Muhammad. Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. 2008.

Ginting, Budiman. Hukum Investasi Perlindungan Hukum Pemegang Saham Minoritas DalamPerusahaan Penanaman Modal Asing. Medan: Pustaka Bangsa Press. 2007.

Hardjasoemantri, Koesnadi. Hukum Tata Lingkungan. Jogjakarta: Gadjah Mada UniversityPress. 2002.

Harjono, Dhaniswara. Hukum Penanaman Modal Tinjauan Terhadap Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2007.

Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup. Jakarta: Sinar Grafika. 2013.

Husni, Sukandi. Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. 2009.

Kairupan, David. Aspek Hukum Penanaman Modal Asing di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2013.

Kansil, C.S.T. Hukum Perusahaan di Indonesia. Jakarta: PT.Pradnya Paramita. 1995.

Mott, Graha. Menilai dan Merencanakan Penanaman Modal. Jakarta: PT.Pustaka BinamasPressindo. 1985.

Nasution, Asmin. Transparansi Penanaman Modal di Indonesia. Medan: Pustaka Press. 2008.

Radjagukguk, Erman. Hukum Investasi di Indonesia.Jakarta: Universitas Indonesia. 2005.

Rahmadi, Takdir. Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2011.

(12)

Siahaan, N.H.T. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembagunan. Jakarta: Erlangga. 2004.

Sinulingga, Sukaria. Analisi Llingkungan Usaha. Medan: USU Press. 2010.

Sembiring, Sentosa. Hukum Investasi. Bandung: CV. Nuansa Aulia. 2010.

Siregar, Mahmul. Perdagangan International dan Penanaman Modal Studi Kesiapan Indonesia dalam Perjanjian Investasi Multilateral. Medan. 2005.

Sunggono, Bambang. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1997.

Supramono, Gatot. Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Indonesia. Jakarta: PT. RinekaCipta. 2013.

Supriadi. Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika. 2008.

Susanto, A.B. Reputation Driven Corporate Social Responsibility Pendekatan StrategiManagement dalam CSR. Jakarta: Erlangga. 2009.

Syahrin, Alvi. Ketentuan Pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang UUPPLH.Jakarta: Sinar Grafika. 2013.

Topan, Muhammad. Kejahatan Korporasi di Bidang Lingkungan Hidup. Bandung: Nusa Media. 2009.

Untung, Hendrik Budi.Hukum Investasi. Jakarta: Sinar Grafika. 2010.

Widjaja, Gunawan dan Yeremia Ardi Pratama. Resiko Hukum dan Bisnis Perusahaan Tanpa CSR.Jakarta: Forum Sahabat. 2008.

B. Peraturan

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan LingkunganHidup.

Republik Indonesia Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di BidangPenanaman Modal.

Republik Indonesia. Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dalam Bidang Penanaman Modal.

(13)

102

Republik Indonesia. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 12 Tahun 2009tentang Pedoman danTata Cara Permohonan Penanaman Modal.

C. Website

Angelina Sinaga. http:// Wordpress.com/../Penanaman Modal Asing.html (diakses tanggal 20Oktober 2015).

tanggal 22 Oktober 2015).

D. Jurnal

(14)

BAB III

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

A. Pengertian Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup merupakan sebagai suatu sumber daya yang sangat

penting dan dapat dijadikan sebagai suatu aset untukmenyejahterakan kehidupan

masyarakat disekitarnya. Sesuai dengan bunyi Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang

menyatakan bahwa, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya

dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kekayaan akan

sumber daya lingkungan itu dapat digunakan untuk berbagai macam

peruntukannya dan fungsinya tanpa menimbulkan gangguan bahkan kerusakaan

akan fungsi sumber daya tersebut.

Lingkungan hidup diIndonesiasebagai konsep ekologi, yang

pengertiannya dibakukan dalam Pasal 1 angka1UUPPLH sebagai

berikut“Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua termasuk benda,

daya, keadaan, dan mahkluk hidup, mempengaruhi alam itu sendiri,

kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup

lainnya.”

Kesejahteraaan rakyat dapat tersebut dapat terwujud melalui hukum

lingkungan merupakan salah satu instrument administrasi negara dalam

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hukum lingkungan menjadi

perdoman dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

tersebut.Upaya atas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan

(15)

55

dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup dapat

tetap menjadi sumber penunjang bagi rakyat serta mahkluk hidupyang lain.51

Menurut Ketentuan Umum Pasal 1 angka 2 UUPPLH, perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang

dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya

pencemaraan dan/ atau kerusakaan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,

pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan pengerakan

hukum.52

Pengelolaan lingkungan hidup selama ini hanya cenderung hanya pada

pemanfaatan lingkungan hidup sebagai objek pembagunan, sehingga pada

UUPPLH perlu penambahan kata ”perlindungan” yang diharapkan dapat

memberikan keseimbangan dalam rangka upaya untuk mempertahankan fungsi

lingkungan hidup sebagai sebuah ekosistem. Pengelolaan lingkungan hidup

berarti manajemen terhadap lingkungan hidup atau lingkungan dapat dikelola

dengan melakukan pendekatan manajemen. Pendekatan manajemen lingkungan

mengutamakan kemampuan manusia didalam mengelola lingkungan, sehingga

pandangan yang lazim disebut dengan “ ramah lingkungan”. Ramah lingkungan

menurut Otto Soemarwoto, haruslah juga bersifat mendukung pembagunan

ekonomi.53

Pendapat dari hal diatas memberikan suatu makna bahwa dalam

perlindunggan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memiliki suatu

kesimbangan antara semua pemilik kepentingan ekonomi dan penjagaan

51 Alvi syahrin, Ketentuan Pidana Dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Jakarta: PT. Sofmedia, 2011), hlm. 1.

52 Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hlm.44. 53

(16)

terhadap kelestarian lingkungan hidup. Karena pada dasarnya terdapat

sinkronisasi antara pertumbuhan ekonomi disuatu negara dengan keutuhaan akan

kelestarian terhadap lingkungan disekitarnya. Dari sinilah peran serta fungsi

pemerintah harus mampu menjadi suatu tonggak yang kuat untuk menjaga

lingkungannya tersebut. Karena dapat dilihat pada akhir-akhir ini justru

pemerintah lah dan kalangan swasta yang dipandang sebagai pihak yang lebih

mengutamakan kepentingan ekonominya sendiri tanpa mengutamakan

kepentingan pelestarian lingkungan.

Tindakan atas suatu kepedulian atau partisipasi atas perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup dapat dikaji dari peraturan-peraturan hukum yang

dijadikan sebagai batasan atas segala tindakan yang dilakukan oleh para pihak

yang memiliki kepentingan ekonomi terhadap lingkungan sekitarnya. Karena

pada akhirnya jika peraturan yang dijadikan sebagai payung hukum dapat

dijalankaan dengan baik oleh para pihak yang memiliki berbagai kepentingan

maka pertumbuhan ekonomi disuatu negara juga akan mengalami progress yang

baik pula tanpa merusak lingkungan alam sekitar terlebih lagi tanpa merusak

kehidupan masyarakat dan alamnya.

Pasal 2 UUPPLH menentukan bahwa perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup dilaksanakan atas asas-asas sebagai berikut54

1. Asas tanggung jawab negara, maksudnya pertama negara menjamin

pemanfaatan sumber data alam akan memberikan manfaat yang

sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa

kini maupun generasi yang akan datang. Kedua, negara menjamin baik :

54

(17)

57

warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Ketiga negara

mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang

menimbulkan adanyan pencemaraan dan / atau kerusakaan lingkungan

hidup.

2. Asas kelestarian dan keberlanjutan adalah bahwa setiap orang memikul

kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan

terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya

pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan

hidup.

3. Asas keserasian dan keseimbangan adalah pemanfaatan lingkungan

hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi,

sosial, budaya, dan perlindungan, serta pelestarian ekosistem.

4. Asas keterpaduan adalah: bahwa perlindungan dan penggelolaan

lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau

menyinergikan berbagai kompenen terkait.

5 Asas manfaat adalah bahwa segala usaha dan/ atau kegiatan pembagunan

yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan

lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat

manusia selaras dengan lingkungannya.

6 Asas kehati-hatian adalah bahwa ketidakpastian mengenai dampak suatu

usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasaan penguasaan ilmu

pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alas an untuk menunda

langkah-langkah meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap

(18)

7. Asas keadilan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga

negara, baik lintas daerah, lintas generasi, maupun lintas gender.

8. Asas ekoregion bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

harus memperhatikan karateristik sumber daya alam, ekosistem, kondisi

geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan lokal.

9. Asas keanekaragaman hayati adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk

mempertahankan keberadaan, keberagamaan, dan keberlanjutan sumber

daya alam hayati yang terdiri atas sumber daya alam nabati dan sumber

daya alam hewani yang bersama dengan unsur non-hayati disekitarnya

secara keseluruhan untuk membentuk suatu ekosistem.

10.Asas pencemar membayar adalah bahwa setiap penanggung jawab yang

usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaraan dan/ atau

kerusakaan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan

lingkungan.

11.Asas partisipatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong untuk

dapat berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan

pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara

langsung maupun tidak langsung.

12.Asas kearifan lokal adalah bahwa dalam perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku

(19)

59

13.Asas tata kelola pemerintah yang baik adalah bahwa perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi,

transparansi, akuntabilitas, efesiensi, dan keadilan.

14.Asas otonomi daerah adalah bahwa pemerintah dan pemerintah daerah

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dibidang

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan

kekhususan dan keragamaan daerah dalam bingkai Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

B. Dasar Hukum Perlindungan Dan Penglolaan Lingkungan Hidup

Kekayaan atas suatu negara dapat diukur dari sumber daya alam yang

dimiliki oleh suatu negara yang berlimpah-limpah dan ditata kelola dengan baik

karena dari sumber daya alam tersebut akan memberikan banyak manfaat bagi

manusia dan akan terciptanya kesejahteraan masyarakatnya.Untuk

mempertahankan kemakmuraan atas sumber daya alam suatu negara diperlukan

tindakan dan antisipasi dari masyarakat tersebut yang notabennya sebagai

penikmat dari hasil sumber daya alam yang dimiliki.

Tujuan lingkungan hidup yang terdapat pada UUPPLH adalah adanya

kata-kata pembangunan berwawasan lingkungan. Maksud pembangunan

berwawasan lingkungan adalah melaksanakan pembangunan dengan

memperhatikan kepentingan lingkungan atau dengan kata lain pembangunan

tanpa merusak lingkungan, sehingga akan berguna bagi generasi kini dan

generasi mendatang. Pembangunan adalah upaya-upaya untuk memperoleh

(20)

dimanapun berada khusunya dinegara-negara berkembang, pembangunan

merupakan pilihan penting dilakukan guna terciptanya kesejahteraan

penduduknya. Namun demikian, setiap pembangunan tidak terlepas dari adanya

dampak yang merugikan terutama kepada lingkungan.55

Lingkungan menjadi semakin rusak berupa adanya pencemaran dan

kerusakan sumber-sumber hayati seperti penipisan cadangan hutan

(deforestization). Punahnya bermacam-macam biota, baik spesies hewan maupun

tumbuh-tumbuhan. Selain itu terjadi pula berbagai penakit sebagai akibat dari

pencemaran akibat aktifitas kegiatan industri.56

Antisipasi atas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat

dilihat dari ketentuan-ketentuan dari berbagai bentuk peraturan

perundang-undangan yang sekaligus juga menjadi dasar hukum atas perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup dalam suatu negara. Undang-Undang Nomor 4

Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan

Hidup(selanjutnya disingkat dengan UULH 1982) memang peraturan tersebut

tidak berlaku lagi karena telah digantikan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun

1997 dan kemudian UU No. 23 Tahun 1997 (UULH 1997) juga dinyatakan tidak

berlaku lagi oleh UU No 32 tahun 2009 tentang UUPPLH .

Maka untuk mempertahankan

ketersediaan sumber daya alam tersebut perlu dilakukan perlindungan atas

lingkungan hidup tersebut dan dilakukan secara terus-menerus dengan

melakukan pengelolaan atas lingkungan hidup tersebut .

57

55

N.H.T.Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 18.

56Ibid.,hlm. 19.

57 Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo

(21)

61

Perkembangan terbaru adalah pemerintah mengundangkan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang UUPPLH (LN Tahun 2009 No. 140)

yang menggantikan UULH 1997. Berbeda dari dua undang-undang

pendahulunnya hanya menggunakan istilah pengelolaan lingkungan hidup pada

penamaanya, UU Nomor 32 Tahun 2009 diberi nama Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup agar lebih memberikan makna tentang

pentingnya lingkungan hidup untuk memperoleh perlindungan58

Dasar hukum atas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tidak

hanya terdapat dalam UUPPLH melainkan diatur dalam peraturan lainnya seperti

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006 tentang

Jenis Usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, Peraturan

Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2010 tentang Upaya

Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup dan

Surat Pernyataan Kesaggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan

Hidup.

.

59

58Ibid., hlm. 53.

Pasal 3 UUPPLH memuat beberapa tujuan perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup, yaitu

1. melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

2. menjamin kesehatan dan keselamatan kehidupan manusia;

3. menjamin kelangsungan kehidupan mahkluk hidup dan kelestarian

ekosistem;

4. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;

5. mencapai keserasian, keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup;

59

(22)

6. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa

yang akan datang;

7. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup

sebagai bagian dari hak asasi manusia;

8 mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;

9. mewujudkan pembagunan berkelanjutan;

10. mengantisipasi isu lingkungan global.

Tujuan dari dibentuknya peraturan mengenai pegelolaan lingkungan hidup

adalah sebagai berikut :60

60

Takdir Rahmadi, Op.Cit., hlm.55.

1. tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan

hidup sebagai tujuan membangun manusia Indonesia seutuhnya;

2. terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana;

3. terwujudnya manusia Indonesia sebagai Pembina lingkungan hidup;

4. terlaksananya pembagunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan

generasi sekarang dan mendatang;

5. terlindunginya negara terhadap dampak kegiatan diluar wilayah negara

yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Pemaparan atas tujuan dari ketiga undang-undang tentang perlindungan

dan pengelolaan lingkungan hidup diatas dapat lah kita simpulkan bahwa hampir

tidak ada perbedaan yang mencolok antara undang-undang tersebut yang

menjadi dasar rumusan atas dasar hukum perlindungan dan pengelolaan

(23)

63

C. Instrument Pengelolaan Lingkungan Hidup

1. Peran Masyarakat atas Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Upaya yang dapat dilakukan dalam melakukan bentuk dari pengelolaan

lingkungan hidup dimana salah satunya adalah Rencana perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup (selanjutnya disingkat dengan RRPLH). RRPLH

ini merupakan suatu susunan mengenai perncanaan-perencanaan dalam bentuk

tertulis yang didalam perencanaan tersebut mengantisipasi bahkan

menyelesaikan kasus-kasus permasalahan mengenai permasalahan lingkungan

hidup serta mengkaji tentang upaya-upaya perlindungan yang dilakukan serta

pengelolaanya yang kaitannya dengan lingkungan hidup.

Berkaitan dengan lingkungan hidup yang dimana masyarakat selaku

subjek dari lingkungan hidup itu sendiri memiliki peran yang sangat penting atas

kelangsungan hidup. UUPPLH telah memberikan peran kepada manusia untuk

memberikan perannya dalam pengelolaan lingkungan. Tindakan atas ikut

sertanya masyarakat dalam menjaga pengelolaan lingkungan hidup

diwilayahnya.Dengan adanya pengaturan yang tegas dalam Pasal 6 UUPPLH di

atas memberikan suatu keharusan bagi semua pelaku kepentingan dalam

melakukan usaha atau parapelaku ekonomi yang mendirikan perusahaanya

dinegara ini wajib untuk meberikan data-data atas perusahaan yang lengkap serta

memberikan informasi atas kegiatan yang dilakukannya selama dinegara

Indonesia tersebut.

Bentuk perlindungan atas lingkungan hidup yang dilakukan masyarakat

selaku masyarakat tersebut sebagai subjek dari lingkungan hidup itu sendiri

(24)

pengelolaan lingkungan hidup yang diatur dalam UUPPLH menyatakan

bahwa:61

Upaya yang dapat dijadikan sebagai bentuk perlindungan dan

pengelolaan atas lingkungan hidup suatu negara yaitu dengan menentukan atau

menetapkan baku mutu lingkungan hidup. Dengan melihat banyaknya aktivitas

yang dilakukan baik oleh para pelaku kegitan perusahaan-perusahaan yang

didirikan dinegara ini yang mana proses berjalannya kegiatan perusahaan a. Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama seluas-luasnya untuk

berperan aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

b. Peran masyarakat berupa:

1) Pengawasan sosial;

2) Pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan

3) Penyampaian informasi dan/atau laporan.

c. Peran masyarakat dilakukan untuk:

1) Meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan

lingkungan hidup.

2) Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan;

3) Menumbuh kembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;

4) Menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk

melakukan pengawasan sosial;dan

5) Mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka

pelestarian fungsi lingkungan hidup.

2. Baku Mutu Lingkungan Hidup (Environmental Quality Standard)

61 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Dan Perlindungan

(25)

65

tersebut serta aktifitas yang dilakukannya tidaklah menutup

kemungkinan-kemungkinan terjadinya perusakaan lingkungan hidup yang dapat terjadi yang

pada akhirnya akan merugikan banyak pihak.

Terdapat suatu hubungan yang sinkron atas pembangunan yang hendak

dicapai dengan lingkungan hidup. Dimana tidak dapat dipungkri Indonesia yang

sampai saat ini masih membutuhkan pembangunan ekonomi guna

menyejahterakan masyarakatnya namun disisi lain negara maupun pemerintah

serta pihak-pihak lainnya juga harus mampu menjaga kelestarian lingkungan

hidup dinegaranya. Untuk itu timbul lah suatu pola pemikiran untuk membuat

suatu standar yang dapat dijadikan sebagai patokan besar untuk menentukan

apakah suatu aktivitas pembangunan termasuk dalam kategori pencemaraan atau

perusakaan lingkungan yang saat ini sangat familiar disebut sebagai baku mutu

lingkungan hidup.

Menelusuri seberapa pentingnya penetapan baku mutu lingkungan

diIndonesia, telah diangkat kepermukaan oleh Mochtar Kusumaatmadja

sebagaimana yang dikutip oleh M. Daud Silalahi, bahwa gagasan tentang

pentingnya menetapkan suatu patokan atau baku mutu lingkungan hidup

diIndonesia untuk pertama kalinya dikemukaan oleh Mochtar Kusumaatmadja

pada seminar nasional tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembagunan

antara lain sebagai berikut:

” mengingat bahwa negara kita sebagaimana juga kebanyakan negara

yang sedang berkembang, memiliki toleransi yang lebih besar terhadap

pencemaran lingkungan, suatu cara yang baik untuk mengkonkretkan atau

(26)

lingkungan dalam rencana-rencana pembangunan adalah menetapkan atau

merumuskan ukuran-ukuran minimum yang bertalian dengan lingkungan

(minimum environment standards) untuk setiap sektor kehidupan dan usaha

pembangunan kita. Selain untuk tujuan pengintegrasian faktor Membantu orang

untuk memikirkan distribusi yang lebih merata dari hasil guna pembangunan dan

tidak terlalu terpesona oleh sasaran pertumbungan GNP, dalam arti

aggregate-growth, minimum environmental standards itu diharapkan mempunyai efek

sebagai “ pedoman” bagi usaha nasional secara menyeluruh.62

Dasar dari fungsi atau kegunaaan dari baku mutu lingkungan tersebut :63

Ketentuan tentang AMDAL ini merupakan sebuah ketentuam yang

sangat penting dalam UULH, khususnya dalam melakukan penerapa asas

pembagunan yang berkelanjutan (suistainabledevelopment).Ketentuan ini

tercantum didalam Pasal 18 UULH mengenai dampak lingkungan bagi usaha a. sebagai alat evaluasi bagi badan-badan yang berwenang atas mutu

lingkungan suatu daerah atau kompartemen,

b. berguna sebagai alat penataan Hukum Administratif bagi pihak-pihak

yang berkaitan dengan Pengelolaan Lingkungan Hidup, seperti

perusahaan dan Industri,

c dapat berguna bagi pelaksana Analisis Dampak Lingkungan (selanjutnya

disingkat dengan AMDAL) yang merupakan konsep pengedalian

lingkungan sejak dini (preventive).

3. Analisis mengenai dampak lingkungan

62Syamsul Arifin, Hukum Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia (Jakarta: PT Soft Media, 2012), hlm. 78

63

(27)

67

dan/atau kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting

terhadap lingkungan.

Kegiatan proyek pembangunan dalam negara perusahaan-perusahaan

tersebut dalam melaksanakan proyek pembangunannya harus memiliki AMDAL.

AMDAL merupakan bentuk dari salah satu uji dari kelayakan atas lingkungan

yang mana diitujukan untuk memperoleh suatu izin atas berlangsungnya

pembagunan proyek atas suatu perusahaan yang mendirikan perusahaannya

diIndonesia

Proyek yang hendak dibuat sangatlah dibutuhkan karena hal tersebut

akan menjadi sebuah gambaran yang kompleks atas perkiraan atau

dugaan-dugaan yang akan muncul atas dampak dibangunya proyek tersebut dalam suatu

wilayah dan dampak tersebut sangat lah berkaitan dengan lingkungan hidup atas

masyarakat sekitar. Karena atas dilakukannya analisi atas proyek tersebut akan

berkaitan secara relatif terhadap besar kecilnya atas rencana kegiatan yang dibuat

atau mungkin dimana kegitan itu telah berjalan , juga akan terlihat hasil guna dan

daya guna bila rencana kegitan tersebut terlaksana. Mengenai pembentukan

proyek-proyek tersebut juga akan berkaitan dengan keuntungan yang diperoleh

yang mana ditujukan untuk melaksanakan pembangunan ekonomi Indonesia dan

juga dampak negatif ataupun kerugian yang diderita berupa terjadinya

kerusakaan lingkungan hidup.

Dampak lingkungan ditimbulkan sebagai akibat dari kegiatan yang

sedang/sudah berjalan sangat berpengaruh pada kelangsungan kehidupan,

mengapa demikian, karena pada dasarnya kehidupan itu sangat ditentukan oleh

(28)

lingkungantersebut. Untuk menjaga dan menghindari timbulnya dampak

lingkungan maka setiap kegiatan perlu dilakukan evaluasi.

4. Perizinan lingkungan

Setiap orang yang akan melakukan setiap usaha yang ada diwilayah

Indonesia atau kegiatan yang didasari adanya wajib AMDAL dalam rangka

melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus melakukan

izin lingkungan. Mengenai perizinan lingkungan diatur dalam Pasal 36 UUPPLH

yang menyatakan bahwa :

a. Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal wajib pula

memiliki izin lingkungan,

b. Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan

berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 31 ,

c. Izin lingkungan sebagaimana yang dimaksud dalam pada ayat (1) wajib

mencantumkan persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan

lingkungan hidup,

d. Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, guberbur, atau bupati/walikota

sesuai dengan kewenangannya.

Izin lingkungan merupakan instrumen hukum administrasi yang dapat

digunakan oleh pejabat pemerintah yang berwenang untuk mengatur cara-cara

pengusaha menjalankan usahanya. Dalam sebuah izin pejabat yang berwenang

menuangkan syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan berpa perintah-perintah

ataupun larangan-larangan yang wajib dipatuhi oleh perusahaan. Dengan

(29)

69

sudah dikaitkan dengan subjek hukum tertentu. Perizinan memiliki fungsi

preventif dalam arti instrumen untuk pencegahan terjadinya masalah-masalah

akibat kegiatan usaha.64

d. Penyelenggaraan izin lingkungan merupakan upaya pelestarian fungsi

lingkungan hidup. Pengelolaan sumber daya lingkungan hidup

memperhitungkan kemampuan daya tamping dan daya dukung

lingkungan hidup itu sendiri. Di sisi lain, penyelengaaran izin lingkungan

justru dianggap mempersulit aktifitas investasi diIndonesia. Izin

lingkungan merupaka suatu hambatan bagi pengusaha melakukan

aktifitas sementara oleh beberapa instansi pemerintah, izin lingkungan

hidup dianggap pemyelengaraan kewenangan untuk mendapatkan

pemasukan pendapatan bagi keuangan negara, sehingga pembentukan

UUPPLH yang mengintegrasikan beberapa izin lingkungan menjadi satu Pemohon izin lingkungan yang telah mendapat izin lingkungan, maka

para pemegang izin lingkungan tersebut memiliki beberapa kewajiban:

a. Menaati persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam izin lingkungan

tersebut.

b. Membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan terhadap persyaratan

dan kewajiban dalam izin lingkungan kepada menteri, gubernur, atau

bupati/walikota, dan

c. Menyediakan dana penjamin untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

64

(30)

sistem izin lingkungan terpadu memunculkan pertentangan antara

institusi di pemerintahan.65

Ketentuan dalam UUPPLH mengamanatkan peraturan pemerintah

tentang adanya suatu ketentuan mengenai izin lingkungan. Pada tahun 2010,

Kementrian Lingkungan Hidup menyusun adanya sebuah rancangan peraturan

pemerintah mengenai izin lingkungan seperti diamanatkan dalam UUPPLH. Izin

lingkungan sebagai syarat pemberian izin usaha atau kegiatan dan bukan

merupakan suatu ancamn bagi para pembisinis maupun bagi para pelaku

investasi, namun ditujukan untuk memberikan suatu kepastian hukum bagi para

perusahaan yang ada diwilayah Negara Republik Indonesia.66

65Helmi, Op.Cit., hlm. 199. 66

Takdir Rahmadi, Op.Cit., hlm. 110.

Pengertian perizinan lingkungan tidak hanya izin-izin yang diatur dalam

peraturan perundang-undangan lingkungan, tetapi juga diatur dalam peraturan

perundang-undangan sektoral dan peraturan daerah sepanjang izin-izin berfungsi

sebagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup.

5.Audit Lingkungan

Audit lingkungan merupakan salah satu dari banyaknya instrument

hukum yang dapat dijadikan sebagai alat yang efektif dan efisien untuk

mengurangi terjadinya kerusakan dan pencemaraan lingkungan hidup.

Pemberlakukan audit lingkungan ditujukan kepada perusahaan-perusahaan yang

melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi. Audit lingkungan yang ditujukan kepada

perusahaan memiliki alasan yang kuat karena pada dasarnya terjadinya

perusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi mayoritas hal itu disebabkan

(31)

71

Alasan yang lebih mendasar dibutuhkanya audit lingkungan tersebut

karena adanya upaya pemerintah dalam meningkatkan upaya pembangunan yang

dimana seiring terjadinya proses peningkatan upaya tersebut akan meningkat

pula dampak-dampak atas lingkungan hidup. Keadan ini semakin mendorong

diperlukan audit lingkungan sebagai upaya pengendalian dampak lingkungan

agar resiko atas pembangunan ekonomi tersebut yang memiliki dampak atas

lingkungan hidup dapat ditekan seminimal mungkin .

Akibat dari pemanfaatan sumber daya alam yang tidak bijaksana serta

bertanggung jawab maka akan terjadi kerusakaan dalam lingkungan hidup

tersebut.diIndonesia penerapan audit lingkungan mula-mula diatur dalam

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep 42/MenLH/11/94

tentang pedoman umum pelaksanaan audit lingkungan, dimana defenisi dari

audit lingkungan menurut Kep Men LH No. 42/11/94 adalah suatu alat

manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik,terdokumentasi, periodik

dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi, sistematis manajemen

dan peralatan dengan tujuan memafasilitasi kontrol manajemen terhadap

pelaksanaan upaya pengelolaan lingkungan dan pengkajian penataan terhadap

peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan.67

Bentuk dari perbuatan seseorang yang merugikan orang lain ialah

pencemaran lingkungan yang dalam istilah lain disebut juga sebagai kerusakan

D Tanggung Jawab atas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

67

(32)

lingkungan jadi pencemaran lingkungan atau perusakan lingkungan, maupun apa

saja yang dikategorikan merugikan orang/pihak dalam kepentingan lingkungan

hidupnya, termasuk sebagai perbuatan melawan hukum (onrechmatigedaad).68

Pada UUPPLH menetapkan beberapa kewajiban-kewajiban yang harus

dipatuhi oleh setiap pemilik usaha atas segala kegiatan usahannya yang memiliki

dampak atas lingkungan hidup:

Terjadinya kerusakaan lingkungan yang terjadi pada suatu negara akibat

dari berbagai kegiatan yang dilakukan atas lingkungan tersebut dapat diterapkan

tanggung jawab mutlak atau disebut (strict liability). Dimana pengertian dari

asas tanggung jawab mutlak atau strict liability yaitu adanya suatu proses dan

sifat dari suatu kegiatan yang masih didalam batas-batas kelaziman atau masih

bersifat normal atau telah berada diluar batas-batas kelaziman. Sehingga dalam

hal dilakukannya penerapan tanggung jawab mutlak tersebut sangat lah

bergantung atas kegiatan yang dilakukan.

69

2 Penanggung jawab usaha dan/atau dapat dibebaskan dari kewajiban

membayar ganti kerugian sebagaimana yang dimaksudkan dalam ayat (1) 1 Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan usaha dan kegiatannya

menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, yang

menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan/atau menghasilkan limbah

bahan beracun, bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang

ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan

seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan

hidup

68 N.H.T.Siahaan, Op.Cit., hlm. 307.

69Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

(33)

73

jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau

perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan dibawah ini:

a. adanya bencana alam atau peperangan; atau

b. adanya keadaan terpaksa diluar kemampuan manusia;

c. adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya

pencemarasan dan/atau perusakaan lingkungan hidup.

3 Terjadinya kerugian yang disebabkan ooleh pihak ketiga sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) huruf c, pihak ketiga bertanggung jawab membayar

ganti rugi’’.

Pengertian terhadap ketentuan dalam Pasal 35 UUPPLH diatas

menyatakan bahwa asas tanggung jawab mutlak tersebut kesalahan yang dibuat

tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggungat sebagai dasar pembayaran ganti

kerugian. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan terhadap

perbuatan melanggar hukum pada umumnya, dan besarnya jumlah nilai ganti

kerugian yang dibebankan atas perbuatan pencemaran atau perusakan lingkungan

hidup menurut pasal diatas ditetapkan sampai batas tertentu.70

Asas tanggung jawab mutlak yang mengakibatkan adanya bentuk ganti

kerugian ketentuan yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum atas penerapan

tanggung jawab mutlak yaitu Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

menyatakan bahwa: “ Tiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa

kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang kena salahnya

menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”. Prinsip yang digunakan

dalam pasal diatas adalah: liability based on fault dengan beban pembuktian

(34)

yang memberatkan penderita. Ia baru akan memperoleh ganti kerugian bila ia

berhasil membuktikan adanya unsure kesalahan pada pihak tergugat. Kesalahan

disini merupakan unsur yang menentukan pertanggungjawaban, yang berarti bila

tidak terbukti adanya kesalahan, tidak ada kewajiban member ganti kerugian.71

James E.Krier mengemukakan bahwa doktrin tanggung jawab mutlak

dapat merupakan bantuan yang sangat besar dalam peradilan mengenai

kasus-kasus lingkungan, karena banyak kegiatan-kegiatan yang menurut pengalaman

menimbulkan kerugianterhadap lingkungan merupakan tindakan-tindakan yang

berbahaya, untuk mana dapat diberlakukan ketentuan tangggung jawab tanpa

kesalahan.

Penerapan atas asas tanggung jawab mutlak berbeda dengan penerapan

Pasal 1365 KUHPdt yang mana harus menunjukan adanya unsur kesalahan atau

pelanggaran yang telah dibuat sedangkan dalam konsep tanggung jawab mutlak

diartikan sebagai suatu bentuk kewajiban yang bersifat mutlak sebagai akibat

dari adanya suatu konsekuensi atas terjadinya suatu kerusakan dimana tidak

adanya suatu persyaratan tentang perlu adanya kesalahan.

72

Salah satu ketentuan lainnya yang menjadi hal penting atas penerapan

asas tanggung jawab mutlak yaitu beban pembuktian sehingga jika terjadinya

suatu sengketa yang berkaitan dengan lingkungan seseorang wajib bertanggung

jawab atas perbuatan yang dibuatnya dan membayar kerugian yang ditimbulkan

kecuali ia dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah sehingga bebas dari

tuntutan.

71 Koesjono Soemantri, Op.Cit., hlm. 390.

72 Muhamad Erwin, Hukum Lingkungan dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan

(35)

BAB IV

TANGGUNG JAWAB HUKUM PERUSAHAAN PATUNGAN (JOINT

VENTURE COMPANY) DALAM PERLINDUNGAN DAN

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP.

A. Tanggung Jawab Administrasi Perusahaan Patungan (Joint Venture

Company) dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Banyaknya kasus mengenai permasalahan lingkungan saat ini yang mulai

bermunculan seiring dengan maraknya aktivitas masyarakat itu sendiri seperti

dalam bidang industri, bisnis agrikultur (pertanian, perkebunan, perikanan),

agrofrestry (bisnis komoditi kehutanan), properti, konstruksi, dan sebagainya.

Kasus-kasus lingkungan,tidak hanya terjadi antara pelaku usaha dengan pihak

masyarakat, tetapi juga antara sesama pelaku usaha dalam hal ini interaksi usaha

yang berakses lingkungan dan sumber daya, antara pelaku usaha dengan

pemerintah/pengelola kebijakan, dan antara masyarakat dengan pemerintah pula.

Bahkan antara sesama masyarakat sendiri bisa terjadi sengketa menyangkut

lingkungan.73

Lingkungan hidup saat ini menjadi sebuah aset bagi suatu negara dalam

melaksanakan pembagunan. Oleh karena itu, sangat wajar kalau pemerintah

melakukan perlindungan terhadapnya. Sebab kalau terjadi perusakan atau

pencemaran lingkungan hidup, maka pemerintah dapat mengambil

langkah-langkah pencegahan dan tindakan represif. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan

tersedianya 3 wadah atau sarana yang dijadikan dalam menuntut pelanggaran

terhadap lingkungan hidup, yaitu sarana hukum administrasi, sarana hukum

73

(36)

perdata,dan sarana hukum pidana. Ketiga sarana hukum ini memegang peranan

yang sangat penting dalam penegakan hukum lingkungan hidup.74

Dampak atas kerusakan lingkungan hidup dapat bersifat tidak terpulihkan

(irreversible), maka dari itu sebaiknya pengelolaan lingkungan hidup itu

seharusnya lebih ditekankan kepada upaya yang bersifat pencegahaan

dibandingkan pemulihan. Kajian dari hukum lingkungan itu sendiri memiliki

fungsi yang sangat penting karena salah satu dari bidang hukum lingkungan , Menyelesaikan sengketa yang muncul dalam cakupan lingkungan hidup

para pihak yang terkait memiliki berbagai pilihan dalam menyelesaikan masalah

lingkungan hidup tersebut yakni dapat melalui jalur pengadilan atau disebut

sebagai jalur litigasi, dan dapat pula dengan melalui jalur luar pengadilan yang

sifatnya alternatif atau sering disebut sebagai penyelesaian sengketa alternatif.

Namun terdapat beberapa pengecualian dimana para pihak tidak dapat

menyelesaikan sengekta tersebut melalui jalur non-litigasi jika hal-hal tersebut

menyangkut tindakan kriminal(environmental crime),karena jikalau tindakan

atas kerusakaan lingkungan hidup tersebut telah mencakup unsur tindakan

criminal maka harus diselesaikan oleh jalur pengadilan.

Pelaksanaan terhadap penegakan hukum lingkungan dapat diartikan

sebagai penggunaan atau penerapan instrumen-instrumen serta sanksi-sanksi

dalam lapangan hukum administrasi dengan dasar sebagai suatu alat pemaksa

bagi setiap subjek hukum untuk mematuhi setiap aturan yang telah dibuat dan

akan dikenakan sanksi-sanksi jika subjek hukum itu sendiri melanggar aturan

yang telah dibuat.

74

(37)

77

yaitu hukum lingkungan administrasi memiliki fungsi preventif atau

pencegahaan serta fungsi korektif terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak

memenuhi ketentuan persyaratan-persyaratan.75

Sanksi yang dapat dikenakan atas perusahaan patungan (joint venture

company) tersebut terdiri atas terguran tertulis yang diberikan kepada perusahaan

patungan tersebut, paksaan pemerintah dalam bentuk tindakan pencegahaan dan

penghentian pelanggaran yang dilakukan perusahaan patungan tersebut (joint

venture company) misalnya perusahaan patungan yang sedang beroperasi

tersebut sedang melakukan pembangunan tempat usaha tanpa mengatur tempat

pembuangan limbah perusahaan patungan tersebut maka pejabat yang berwenang

setelah melalui pemeriksaaan mengetahui bahwa perusahaan patungan tersebut

tidak memiliki izin pembuangan limbah perusahaan patungan tersebut, maka

dapat melakukan tindakan paksa atas perusahaan patungan (joint venture

company) guna menghentikan mesin peralatan yang digunakan oleh kegiatan

usahanya sampai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan patungan itu

memenuhi ketentuan ketentuan hukum administrasi, pembekuan izin lingkungan

atas perusahaan patungan (joint venture company) tersebut,dan sangsi Perusahaan patungan atau joint venture company yang aktivitas atas

berjalanya perusahaan patungan tersebut menimbulkan dampak-dampak yang

merugikan bagi negara dalam UUPPLH diatur ketentuan tentang sangsi

administrasi yang dikenakan atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan

perusahan patungan(joint venture company) tersebut.

75

(38)

adminitrasi yang terakhir yaitu pencabutan izin lingkungan perusahaan

tersebut.76

Tindakan paksaan yang dapat dilakukan pemerintah atas aturan yang

tidak dipatuhi oleh pemilik usaha juga diatur dalam UUPPLH , tindakan paksaan

tersebut meliputi77

76 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 76.

77Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 80. :

1. penghentian sementara kegiatan produksi;

2 pemindahan sarana produksi;

3. penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;

4. pembongkaran;

5. penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan

pelanggaran;

6. penghentian sementara seluruh kegiatan atau

7. tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan

memulihkan fungsi lingkungan hidup.

Pengenaan paksaan pemerintah dapat dijatuhkan tanpa didahului teguran

apabila pelanggaran yang dilakukan menimbulkan :

1. ancaman yang sangat serius bagi manusia dan lingkungan hidup;

2. dampak yang lebih besar dan lebih luas jika tidak segera dihentikan

pencemaran dan/atau perusakannya;dan/atau

3. kerugian yang lebih besar bagi lingkungan hidup jika tidak segera dihentikan

(39)

79

Terkait tindakan paksa pemerintah atas perusahaan patungan (joint

venture company) tersebut dapat dilaksanakan secara langsung tanpa adanya

terguran terlebih dahulu yang diberikan pemerintah kepada perusahaan patungan

(joint venture company) tersebut, hal ini dikarenakan kerugian yang dibuat oleh

perusahaan patungan (joint venture company) tersebut menimbulkan dampak

yang besar dan kerusakaan lingkungan yang sangat serius.

Contoh kasus terkait perusahaan patungan yang dilakukan oleh Australia

dengan Indonesia dalam bidang pertambangan batu bara di Kalimantan selatan,

dimana perusahaan besar pertambangan tersebut mendapat sanksi administrasi

dari pemerintah namun awalnya perusahaan pertambangan tersebut mendapat

peringatan keras dan bila terulang kasus pencemaran lagi maka akan berhadapan

dengan hukum. Akibat tercemarnya Sungai Balangan, ikan-ikan budidaya oleh

masyarakat Kabupaten Balangan mati dan menimbulkan kerugian materi

mencapai miliaran rupiah, dimana kerugian yang diderita masyarakat sampai 2.7

miliyar. Pembekuan izin serta pencabutan izin usaha atas perusahaan patungan

(joint venture company) merupakan jalan terakhir yang dapat diambil oleh

pemerintah atas dilakukannya penegakan hukum adiministrasi dalam

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup jika perusahaan patungan

tersebut tidak melaksanakan semua ketentuan yang disyaratkan.

Subjek hukum yang bersengketa didalam persoalan mengenai lingkungan

hidup yaitu perusahaan-perusahaan dalam hal ini perusahan patungan (joint

venture company)ataupun yang dapat berbentuk perseorangan ataupun subjek

hukum lain yaitu badan hukum serta pejabat pemerintah yang member keputusan

(40)

sengketa karena dikeluarkanya putusan terkait pemberian izin lingkungan yang

diberikan oleh pejabat yang berwenang tersebut.

B Tanggung Jawab Perdata Perusahaan Penanaman Modal Patungan (Joint Venture Company) dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Menyelesaikan sengketa lingkungan hidup dalam ruang lingkup tanggung

jawab perdata para pihak yang terkait baik itu individu maupun perusahaan dapat

mengambil jalur melalui pengadilan ataupun disebut jalur litigasi atau sebaliknya

melalui jalur diluar pengadilan atau non-litigasi. Namun jika jalur yang ditempuh

diluar pengadilan tersebut tidak mencapai kata sepakat atau tidak berhasil maka

oleh salah satu pihak yang tidak mencapai kata sepakat tersebut dapat

membawanya melalui jalur litigasi.

Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui pengadilan bermula dari

adanya gugatan dari masyarakat atas kerugian yang dirasakan atas berdirinya

perusahaan patungan tersebut (joint venture company) di sekitar lingkungan

masyarakat tersebut. UUPPLH menyediakan dua bentuk tuntutan yang dapat

diajukan oleh masyarakat atau pihak yang merasa dirugikan yaitu meminta ganti

kerugian dan meminta perusahaan patungan tersebut melakukan tindakan

tertentu, sebagaimana yang dalam Pasal 87 ayat (1) UUPPLH. Agar pihak

perusahaan dijatuhi hukuman seperti yang dituntut oleh masyarakat, maka harus

ditentukan terlebih dahulu,bahwa tergugat benar-benar dapat dituntut

bertanggung jawab atas kerugian yang timbul tersebut. Di dalam ilmu hukum

terdapat dua jenis tanggungan gugat, yaitu tanggung gugat berdasarkan

(41)

81

kesalahan (liability without fault) atau yang sering juga disebut dengan strict

liability.78

Tanggung gugat berdasarkan kesalahan yang dilakukan oleh perusahaan

patungan (joint venture company) didasarkan atas akibat atau dampak dari

aktivitas-aktivitas perusahaan patungan terhadap lingkungan hidup masyarakat

sekitar, sedangkan tanggung gugat tanpa kesalahan yaitu kegiatan-kegiatan yang

“ menggunakan bahan-bahan berbahaya dan beracun atau menghasilkan dan/atau

mengelola limbah bahan berbahaya dan beracun dan/ atau yang menimbulkan

ancaman serius terhadap lingkungan hidup.79

Rumusan atas ketentuan di atas secara jelas telah menunjukan

unsur-unsurnya menunjuk kepada hal atau syarat yang khusus yang mengandung unsur,

yaitu

Pasal 88 UUPPLH menyatakan bahwa “ setiap otang yang tindakannya,

usahanya, dan/atau kegiatanya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau

mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius terhadap

lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa

perlu pembuktian unsur kesalahan.

80

78

Takdir Rahmadi, Op.Cit., hlm. 268-269. 79Ibid., hlm. 270.

80

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 88.

:

1. setiap orang (perseorangan atau badan usaha), dalam hal ini dikaitkan

kedalam perusahaan patungan (joint venture company) selaku pihak yang

aktivitas atas perusahaannya menimbulkan kerusakan bagi lingkungan hidup

(42)

2. adanya suatu tindakan, usaha atau kegiatan dari perusahaan patungan (joint

venture company ) yang menimbulkan dampak yang buruk.

3. Menggunakan B3.

4. Perusahaan patungan tersebut (joint venture company)menghasilkandan/

atau mengelola limbah B3,

5. aktivitas perusahaan patungan tersebut menimbulkan ancaman yang serius

terhadap lingkungan hidup yang berada disekitar tempat perusahaan itu

berdiri.

6. Tanggung jawab timbul secara mutlak atas kerugian yang terjadi.

Dasar dari prinsip pertanggung jawaban perdata terhadap kerusakan

lingkungan hidup dibebankan kepada perusahaan patungan tersebut karena

sebagian besar kerusakan lingkungan hidup disebabkan ulah dari perusahaan

patungan (joint venture company) itu sendiri dalam menjalankan kegiatan

usahanya. Tujuannya agar jangan sampai sistem bisnis lebih mengutamakan

perolehaan keuntungan yang besar tanpa memperdulikan lingkungan hidup itu

sendiri sehingga akan mengalahkan sistem lingkungan dengan asas keserasian

dan keseimbangan bertujuan untuk menjamin keselamatan, kesehatan, dan

kehidupan manusia demi melindungi wilayah negara Indonesia.81

Pemaparan tentang adanya prinsip pertanggung jawaban perdata

ditegaskan dalam Pasal 87 UUPPLH pada ayat (1) “ setiap penanggung jawab

usaha dan/ atau kegiatan yang melakukan perbuatan melanggar hukum berupa

pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian

81Gatoto Supramono, Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Indonesia (Jakarta:

(43)

83

pada orang lain atau lingkungan hidup wajib melakukan pembayaran ganti rugi

dan/atau melakukan tindakan tertentu’’.

Tanggung gugat berdasarkan kesalahan ditemukan dalam rumusan Pasal

1365 KUHPerdata. Bahwa ketentuan dalam Pasal 1365 KUHPerdata ini

menganut tanggung gugat berdasarkan kesalahan dapat dilihat unsur-unsur

rumusan pasal tersebut, yaitu :

1. perbuatan perusahan patungan (joint venture company) tersebut harus

bersifat melawan hukum;

2. tindakan perusahaan tersebut harus termasuk dalam kategori perbuatan yang

salah ;

3. adanya kerugian yang dirasakan oleh salah satu pihak atau masyarakat

akibat dari perbuatan perusahaan tersebut atau pihak lain;

4. adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan perusahaan tersebut dengan

kerugian yang dihasilkan oleh perusahaan patungan tersebut .

Ketentuan yang tercantum dalam Pasal 87 UUPPLH pada ayat (1)

tersebut sejalan pula dengan ketentuan pada Pasal 1365 KUHPdt yang berbunyi

sebagai berikut“Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian

kepada orang lain, mewajibkan orang tersebut karena salahnya menerbitkan

kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Pengertian dalam tindakan perbuatan melawan hukum terdapat dalam

beberapa makna, yaitu:

1. berlawanan atautidak sesuai dengan ketentuan hukum si pelaku tersebut,

2. melanggar hak-hak milik orang lain,

(44)

4. memiliki pertentangan dengan asas-asas kepatutan.

Mengenai kerugian yang ditimbulkan maka para pihak yang merasakan

dampak kerugian tersebut harus dapat membuktikan unsur hubungan sebab

akibat antara perbuatan dengan kerugian yang dialami penderita. Misalnya kasus

pencemaran lingkungan hidup, maka si penggungat harus dapat membuktikan

bahwa kerugian yang dideritanya disebabkan oleh karena aktivitas pabrik atau

industri dari perusahaan patungan (joint venture company).Pembuktian hal ini

sangat sulit karena kompleknya sifat-sifat zat kimiawi dan reaksinya satu sama

lain maupun reaksinya dengan komponen abiotik dan biotik didalam suatu

ekosistem yang pada akhirnya berpengaruh pada kesehatan masyarakat disekitar

pabrik perusahaan tersebut.82

Penyelesaian sengketa lingkungan yang bersifat perdata, tetap mengacu

kepada sistem pembuktian yang terdapat dalam Hukum Acara Perdata. Oleh

karena itu,untuk membuktikan apakah telah terjadi tindakan pelanggaran hukum

terhadap lingkungan tersebut, titik tumpuannya terletak pada unsur-unsur yang

terdapat pada Pasal 1365 KUHPdt . Cakupan pada unsurnya terdapat pada Pasal

1365 BW, yaitu (a) unsur kesalahan; (b) unsur hubungan kausal.83

Penerapan tanggung jawab pidana kepada pelaku pencemar dan perusak

dari lingkungan hidup merupakan ultimum remedium atau upaya hukum terakhir

C. Tanggung Jawab Pidana Perusahaan Penanaman Modal Patungan (Joint Venture Company) dalam Perlindungan dan Penggelolaan Lingkungan Hidup

82

Takdir Rahmadi, Op.Cit., hlm. 270.

83

(45)

85

yang diambil karena upaya-upaya hukum lainnya tidak memberikan efek jera

kepada para pelaku. Sehingga tanggung jawab hukum pidana itu bukan

merupakan suatu upaya pencegahan ataupun upaya pemulihan lingkungan hidup,

melainkan suatu efek penjera kepada para pelaku. yang mungkin saat ini masih

dapat dikatakan sebagai dampak sanksi yang cukup efektif.

Pengaturan atas penerapan tanggung jawab pidana lingkungan hidup

dalam ketentuan perundang-undangan tidak lain karena maraknya permasalahan

dibidang lingkungan hidup. Dimana pihak-pihak yang menjadi korban

(victim)dari perusahaan patungan (joint venture company)dari kejahatan pidana

dibidang lingkungan hidup tersebut pastinya sangat membutuhkan adanya

perlindungan dari kerugian yang dideritanya.

Tindak pidana yang dilakukan oleh perusahaan patungan (joint venture

company) atau korporasi diatur dalam Pasal 98 dan 99 UUPPLH. Berdasarkan

kriteria yang dapat dikatakan bahwa tindak pidana tersebut merupakan tindak

pidana yang dilakukan oleh perusahaan patungan di bidang lingkungan hidup

(environmental corporate crime) adalah sebagai berikut:84

84 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang UUPPLH, Pasal 117.

1. Tindak pidana yang dilakukan oleh atau atas nama perusahaan joint venture

company tersebut. Sanksi pidana yang dijatuhkan selain kepada perusahaan

tersebut, juga kepada mereka yang memberi perintah melakukan tindak

pidana, atau yang bertindak sebagai pemimpin atas perusahaan patungan

tersebut (joint venture company) atau kedua-duanya. Menurut Pasal 117

(46)

2. Tindak pidana yang dilakukan atas nama perusahaan patungan (joint venture

company) dan dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja

maupun berdasarkan hubungan lain, yang bertindak dalam perusahaan

patungan (joint venture company) tersebut.

Rumusan tentang pertanggung jawaban pidana korporasi sebagai subjek

hukum pidana diatur dalam Pasal 47 sampai 53 rancangan KUHP(RKUHP).

Sedangkan rumusan tentang tindak pidana lingkungan hidup diatur dalam pasal

384-389 RKUHP. Pasal 47 RKUHP menyatakan secara tegas bahwa “ Korporasi

merupakan subjek tindak pidana”. Adanya ketentuan yang menyatakan secara

tegas bahwa “ korporasi merupakan subjek tindak pidana”, menunjukkan adanya

jangkauan pertanggung jawaban pidana korporasi dan telah menunjukan adanya

akses perlindungan terhadap korban kejahatan korporasi untuk memperoleh

keadilan, yakni penerapan perlindungan hak-hak korban kejahatan sebagai akibat

dari terlanggarnya hak asasi yang bersangkutan.85

Perusahaan patungan (joint venture company) dapat dipertanggung

jawabkan secara pidana harus dikaitkan dengan strict liability, karena suatu

perusahaan patungan sulit dilihat dari hal “mampu bertanggung jawab” atau

melihat perusahaan patungan (joint venture company) melakukan tindak pidana

dengan kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian, sehingga lebih baik melihat

perusahaan patungan yang telah melakukan tindak pidana maka hukuman pidana

merupakan suatu konsekuensi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan strict

liability adalah suatu bentuk pertanggungjawaban tanpa kesalahan (liability

without fault), yang dalam hal ini pembuat sudah dapat dipidana jika telah

85 Muhammad Topan, Kejahatan Korporasi di Bidang Lingkungan Hidup (Bandung:

(47)

87

melakukan perbuatan yang dilarang sebagaimana yang telah dirumuskan dalam

undang-undang.

Terdapat 2 macam tindak pidana yang diperkenalkan dalam UUPPLH,

yaitu delik materil (generic crimes) dan delik formil (specific crimes). Generic

Crimes merupakan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan pencemaran

atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh perusahaan patungan

(joint venture company) tersebut, sehingga akibat dari kerusakan lingkungan

tersebut masyarakat menjadi resah karena alam lingkunganya menjadi rusak dan

tercemar ,dan tentunya perbuatan perusahaan tersebut relatiif berat. Generic

crime yang dilakukan secara sengaja diancam pidana penjara paling lama 10

tahun dan denda setinggi-tingginya Rp.500.000.000,00. Jika perbuatan seperti itu

menimbulkan kematian, ancaman hukumannya adalah 15 tahun penjara dan

denda sebesar Rp.750.000.000,00. Untuk generic crimes yang dilakukan karena

kelalaian, ancaman hukumanya adalah tiga tahun penjara dan denda

setinggi-tingginya Rp.100.000.000,00. Apabila perbuatan ini menimbukan kematian,

pelakunya dapat diancam pidana penjara selama-lamanya 5 tahun dan denda

setinggi-tingginya Rp.150.000.000,00.86

Delik formil (specific crimes) diartikan sebagai perbuatan atau tindakan

membuang limbah di atas baku mutu lingkungan yang telah ditentukan itu bukan

telah berakibat tercemar atau rusaknya lingkungan. Hanya saja perusahaan

patungan (joint venture company)sebagai pelaklu telah melanggar ketentuan

hukum administrasi (ketentuan pembuangan limbah atas berdirinya perusahaan

tersebut). Tentunya perbuatan perusahaan patungan (joint venture company)

86 Sukandi Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika,

(48)

bukan termasuk kategori perbuatan yang relatif berat, belum berakibat berat bagi

lingkungan hidup masyarakat sekitar. Oleh karena itu delik formil dikenal juga

dengan sebutan Admininstrative Dependent Crimes(ADC). Specific crime diatur

dalam Pasal 43 dan 44. Specific crimes yang dilakukan secara sengaja diancam

pidana penjara selama-lamanya 6 tahun dan denda maksimum sebesar

Rp.300.000.000,00.Specific crimes yang dilakukan karena kelalaian diancam

pidana penjara paling lama 3 tahun dan denda terti nggi sebesar

Rp.100.000.000,00. Delik formil (specific crimes) yang terdapat dalam Pasal 43

dan 44 UUPLH kedua pasal tersebut menginsyaratkan adanya pelanggaran”

aturan-aturan hukum administrasi” seperti halnya pelanggaran terhadap izin87

Tindak pidana yang dilakukan oleh perusahaan patungan (joint venture

company) maka ancaman ketentuan hukuman pidanya ditambah sepertiga.

Disamping adanya pidana denda maka korporasi tersebut yang melakukan tindak

pidana bisa dijatuhkan hukuman pokok berupa denda dan hukuman tambahan

lainnya berupa tindakan tata tertib terhadap perusahaan patungan (joint venture

company) sebagai berikut:

.

88

87Ibid., hlm. 123.

88

Ibid, hlm. 124.

1. Perampasan keuntungan perusahaan patungan(joint venture company)yang

diperoleh dari tindak pidana tersebut (fruit of crime);

2. penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan patungan (joint venture

company ) tersebut;

3. perbaikan akibat tindak pidana;

4. mewajibkan untuk mengerjakan apa yang dilakukan tanpa hak;

(49)

89

6. menempatkan perusahaan patungan (joint venture company) dibawah

pengampuan paling lama 3 tahun.

Secara tegas UUPPLH telah meletakkan pertanggung jawaban pidana

kepada pimpinan atau pengurus perusahaan patungan (joint venture company)

atau korporasi dapat dikenai pertanggung jawaban pidana. UULH 1997 hanya

menggunakan istilah “yang memberi perintah” atau yang “bertindak sebagai

pemimpin” dalam tindak pidana. Dalam UUPPLH pertanggung jawaban pidana

pimpinan perusahaan patungan (joint venture company) dirumuskan dalam Pasal

116 hingga Pasal 119. Namun UUPPLH telah mengadopsi pertanggung jawaban

badan usaha (corporate liability). Pasal 116 UUPPLH memuat kriteria bagi

lahirnya pertanggungjawaban badan usahaatau siapa-siapa saja yang harus

bertanggung jawab.

D Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Penanaman Modal Patungan (Joint

Venture Company) Terhadap Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup

Perusahaan yang berkedudukan diwilayah Indonesia baik yang berbentuk

perusahaan patungan maupun bentuk-bentuk perusahaan lainnya yang

notabennya perusahaan berbadan hukum PT memiliki sebuah bentuk kewajiban

untuk mampu melaksanakan adanya tanggung jawab sosial bagi masyarakat serta

yang berkaitan dengan lingkungan hidup dimana perusahaan tersebut berdiri.

Bentuk dari tanggung jawab sosial perusahaan atau yang disebut dengan

corporate social responsibility (CSR) merupakan suatu upaya yang baik agar

(50)

dilakukan perusahaan tersebut dengan masyarakat sekitar yang tinggal didaerah

tersebut.

Pengertian dari tanggung jawab sosial perusahaan joint venture company

ternyata terus-menerus semakin luas. Tanggung jawab sosial perusahaan joint

venture company meliputi harapan ekonomik, legal, etik dan kedermawanan

masyarakat dari perusahaan joint venture company pada suatu titik tertentu.

Beberapa ilmuan telah memperkenalkan pengertian kinerja sosial perusahaan

atau corporate social performance yang dimaksud untuk mencakup bakuan yang

luas untuk tanggung jawab perusahaan joint venture company. Kinerja sosial

perusahaan didefenisikan sebagai susunan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial

perusahaan joint venture company. Kinerja perusahaan joint venture company

tidak dinilai hanya berdasarkan penerimaannya terhadap gagasan tanggung

jawab sosial melainkan berdasarkan kinerjannya yang menyeluruh dalam

mencari kebutuhan masyarakat, melaksanakan proyek-proyek membantu

pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini, dan menilai dampak-dampak

proyek-proyek tersebut.89

Corporate social responsibility (CSR) memiliki arah yang timbal balik

antara kegiatan perusahaan joint venture companytersebut dengan lingkungan

hidup masyarakat sekitar sehingga jika perusahaan tersebut benar-benar

melakukan tanggung jawab sosialnya maka akan menghasilkan manfaat yang

baik buat kedua belah pihak baik untuk perusahaanjoint venture companytersebut

maupun untuk masyarakat setempat. Karena jika terciptanya suatu lingkungan

hidup yang baik maka hal tersebut sebagai penunjang agar keberlangsungan

89

Figur

Tabel II.  Daftar Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan
Tabel II Daftar Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan . View in document p.2

Referensi

Memperbarui...