Pendayagunaan Dana Zakat Untuk Program Taman Anak Sholeh (Tas) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (Lazim) Jakarta

109 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TAMAN ANAK SHOLEH (TAS) LEMBAGA AMIL ZAKAT

INSAN MULIA (LAZIM) JAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan

Mencapai Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

ENENG HERAWATI NIM 109053000058

KONSENTRASI MANAJEMEN ZISWAF JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(2)

TAMAN ANAK SHOLEH (TAS) LEMBAGA AMIL ZAKAT

INSAN MULIA (LAZIM) JAKARTA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan

Mencapai Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh:

Eneng Herawati

NIM: 109053000058

Di Bawah Bimbingan

Drs. Hasanudin Ibnu Hibban, MA

NIP: 196606051994031005

KONSENTRASI MANAJEMEN ZISWAF

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan karya asli saya sendiri yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana I (SI) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini, saya telah cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan jiplakan dari orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bekasi,01 Mei 2013

(4)

Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa 28 Mei 2013 skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Ilmu Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada Konsentrasi Manajemen ZISWAF Jurusan Manajemen Dakwah.

Jakarta 28 Mei 2013 Sidang Munaqosah

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,

Drs. H. Mahmud Jalal, M.A H. Mulkanasir, BA., S.Pd, M.M NIP.195204221981031002 NIP.195501011983021001

Anggota,

Penguji I Penguji II

Drs. H. Mahmud Jalal, M.A Drs. Cecep Castrawijaya, M.A., M.M NIP.195204221981031002 NIP.196708181998031002

Pembimbing,

(5)

i

Pendayagunaan Dana Zakat Untuk Program Taman Anak Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan sumberdaya manusia, jenis pendidikan secara umum ada du yaitu pendidikan formal dan nonformal. Pendayagunaan dana zakat untuk pendidikan nonformal seperti program Taman Anak Sholeh (TAS) akan memberikan manfaat yang besar bagi mustahik yang membutuhkan. Jika manajemen pendayagunaannya sesuai dengan kebutuhan.

Tujuan penelitian ini ingin mengetahui bagaimana manajemen pendayagunaan dana zakat untuk program Taman Anak Sholeh (TAS) serta kontribusi Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta terhadap program tersebut. Penelitian ini menggunkan metode kualitatif deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan laporan penelitian akan bersifat kutipan-kutipan atau member gambaran penyajian laporan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi.

Hasil dari penelitian pendayagunaan dana zakat untuk program TAS LAZIM Jakarta ditinjau dari manajemen pendayaguaan dana zakat masih belum bisa dikatakan berhasil karena beberapa faktor, diantaranya minimnya dana yang disalurkan untuk program TAS. Sebagai contoh kontribusinya berupa bantuan SPP gratis untuk 30 orang peserta didik, bantuan gaji guru atau relawan sebesar Rp.600.000 untuk empat orang perbulannya selain itu mereka juga mendapat training, bantuan sarana prasarana diawal program sebesar Rp.3.000.000 untuk membeli karpet, meja lipat, buku-buku, juz ama, Iqro, Al-Quran, perlengkapan alat tulis, buku pemantau kegiatan dan lain sebagainya. Total bantuan perbulannya kurang lebih Rp.1.000.000 untuk operasional. Sedangkan jika diakumulasikan dana yang sudah didistribusikan LAZIM untuk Program TAS kurang lebih sekitar Rp.40.000.000.

(6)

ii Bismillahirrahmanirrohim

Puji syukur alhamdulilah kami panjatkan ke haribaan Allah SWT Tuhan Penguasa Alam Semesta, dan dengan limpahan rahmat dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Rasulullah SAW yang telah menyelamatkan kita semua dari dunia kegelapan menuju dunia yang terang yakni Din Al-Islam.

Penyusunan sekripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas akhir perkuliahan sebagai wujud dari partisipasi serta persiapan penulis dalam mengembangkan diri untuk mengaktualisasikan ilmu pengetahuan yang telah penulis peroleh selama menimba ilmu pengetahuan dibangku perkuliahan sehingga diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan juga pada masyarakat umumnya.

(7)

iii

Kakak tercinta Deden Mulyana tidak lupa sang Adik Rena Restiana. 2. DR. Arief Subhan MA, selaku Dekan Fak. Ilmu Dakwah dan Komunikasi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Drs. Cecep Castrawijaya MA, selaku Ketua Jurusan Manajemen Dakwah 4. H. Mulkanasir B.A, S.Pd, M.M, selaku sekretaris Jurusan Manajemen

Dakwah

5. Drs. Hasanudin Ibnu Hibban, MA, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan perhatian bimbingan serta pengarahan, sehingga sekripsi ini bisa cepat terselesaikan.

6. Ketua penguji beserta anggota penguji yang telah menguji dan memberikan pengarahan perbaikan untuk skripsi ini.

7. Segenap pengurus LAZIM Jakarta, yang telah membantu penulis, khususnya direktur LAZIM Bapak Nurohman beserta Ibu Rini selaku Pembimbing untuk Program Taman Anak Sholeh.

8. Seluruh staf Perpustakaan Utama dan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, yang telah membantu dalam menyediakan sumber-sumber pustaka selama penulis merampungkan skripsi ini.

9. Teman-teman MD dan MHU yang selalu memberikan semangat dan motivasi.

(8)

iv

terdapat kelemahan dan kekurangan, karena kesempurnaannya hanya milik Allah SWT.

Bekasi, 01 Mei 2013

(9)

v

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 4

D. Tinjauan Pustaka ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 6

F. Sistematika Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENDAYAGUNAAN DANA ZAKAT DAN PENDIDIKAN A. Aspek Fiqh Pendayagunaan Zakat untuk Bidang Pendidikan 1. Pengertian ... 11

2. Dalil AL-Quran dan Hadits tentang Pendayagunaan Zakat ... 12

3. Sumber Dana Zakat ... 15

4. Pandangan Imam Madzhab dan Ulama Kontemporer tentang Pendayagunaan Zakat ... 22

B. Aspek Manajemen Pendayagunaan Zakat 1. Pengertian ... 30

2. Kegiatan Manajemen... 34

a. Perencanaan... 34

b. Pengorganisasian ... 37

c. Pelaksanaan ... 38

(10)

vi

2. Unsur-unsur Pendidikan ... 42

3. Pemberdayaan Bidang Pendidikan ... 47

BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG PROGRAM TAMAN ANAK SHOLEH (TAS) A. Sejarah Berdirinya Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakrta dan Program Taman Anak Sholeh (TAS) ... 48

B. Visi dan Misi Program Taman Anak Sholeh (TAS) ... 52

C. Struktur Organisasi Program Taman Anak Sholeh (TAS) ... 53

BAB IV ANALISIS PENDAYAGUNAAN DANA ZAKAT PADA BIDANG PENDIDIKAN A. Manajemen Pendayagunaan Dana Zakat untuk Program Taman Anak Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakrta ... 53

1. Perencanaan ... 54

2. Pengorganisasian ... 56

3. Pelaksanaan ... 58

4. Controling dan Evaluasi ... 62

B. Kontribusi Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakrta terhadap Program Taman Anak Sholeh (TAS) 1. Bantuan Biaya SPP... 62

2. Bantuan Sarana dan Prasarana ... 64

3. Bantuan Gaji Guru ... 66

4. Pelatihan untuk Guru……… 67

(11)

vii

B. Saran ... 72

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Zakat dan pendayagunaannya membutuhkan manajemen yang baik, agar bukan hanya bernilai ibadah tapi juga bisa memberikan manfaat yang optimal untuk mustahiq. Ajaran zakat pada masa-masa perkembangan Islam bukan hanya merupakan perwujudan dari ketaatan perintah Allah dan Rosulnya sekaligus menjadi kekuatan sosial yang berfungsi memperkokoh bangunan kebersamaan diantara sesama umat muslim. Jika pada masa Nabi zakat diperuntukkan bagi fakir miskin, yatim piatu, termasuk janda-janda sholihah yang ditinggal suaminya karena gugur di medan perang. Sejalan dengan berkemkembangnya masyarakat muslim dari waktu ke waktu, pelaksanaan ajaran zakatpun menghadapi permasalahan yang tidak ada pada masa Nabi dan para sahabatnya. Seorang pemikir Islam kontemporer, Yusuf Qardawi, merumuskan berbagai rumusan fiqhyah dalam zakat. Berbagai telaah menyebutkan bahwa untuk memelihara tujuan disyariatkannya zakat diperlukan ijtihad-ijtihad sosial yang memberikan efek produktif bagi kemaslahatan umat.1 Dengan alasan tersebut pendayagunaan sekarang ini memfokuskan pada lima program utama yaitu program ekonomi, program sosial, program kesehatan, program dakwah dan program pendidikan, kelima program tersebut memang penting untuk kemaslahatan umat islam.

Pendayagunaan dana zakat selama ini lebih cenderung dialokasikan pada program ekonomi, program sosial, program kesehatan, dan program dakwah.

1Dikutip dari Kata Pengantar Penasehat Syari’ah Baitul Maal Pupuk Kujang KH. DR.

(13)

Sedangkan pendidikan yang merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari proses kehidupan seolah dipandang “sebelah mata” karena pendayagunaan zakat

melalui program pendidikan tidak bisa secara instan merubah mustahiq menjadi muzakki. Padahal pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam

menunjang kehidupan bangsa dimasa depan, melalui pendidikan manusia sebagai subjek pembangunan dapat dididik, dibina, dan dikembangkan potensi-potensinya, bahkan dari usia dini sekalipun. Intinya pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberlangsungan dan kesejahteraan manusia.

Pendayagunaan dana zakat untuk program pendidikan secara umum terbagi dua yaitu pendidikan yang bersifat formal dan nonformal. Formal, bentuk pendayagunaannya seperti beasiswa, renovasi bangunan sekolah TK, SD, SMP sampai SMA, ada juga yang melengkapi sarana prasarana mengajar dan lain sebagainya. Nonformal, membuat perpustakaan umum, mendirikan sekolah agama untuk melengkapi pendidikan formal, menggaji guru honorer, dan lain sebagainya.

Pendidikan merupakan sebuah proses transformasi masyarakat dari kebodohan menuju kecerdasan. Pendidikan adalah proses perubahan masyarakat dari ketidakmampuan menjadi keahlian. Sekaligus pendidikan adalah sarana mengubah kemalasan menjadi kesadaran oleh karena itu pendidikan menjadi fondasi yang penting dalam perubahan masyarakat menuju kesejahteraan. Sehingga pendidikan harus mendapatkan prioritas yang tinggi dalam pembangunan.2

Selain itu, dengan pendidikan diharapkan mampu menciptakan sumber

2

(14)

daya manusia yang berkualitas dan berwawasan serta membentuk peradaban manusia yang bermartabat dan juga baik (sholeh). Namun pendidikan di Indonesia sekarang ini seolah tidak pernah surut dari permasalahan seperti minimnya biaya, sarana prasarana dan lain-lain.

Adanya pendayagunaan dana zakat diharapkan mampu meminimalisir permasalahan pendidikan tersebut. Agar pendayagunaan ini sesuai dengan harapan maka harus ada sebuah lembaga amil zakat yang peduli terhadap pendayagunaan yang bersifat pemberdayaan, khususnya pemberdayaan dana zakat pada sektor pendidikan dengan tidak melupakan aspek fiqh dan manajemen pendayagunaan zakat agar sesuai dengan syariat Islam.

Di antara salah satu Lembaga Amil Zakat yang melakukan gebrakan baru dalam mengembangkan pemberdayaan zakat dalam rangka memberdayakan mustahiq adalah Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta. Keunikan dari LAZIM adalah pendayagunaannya yang fokus pada pendayagunaan yang bersifat kreatif (empowering atau pemberdayaan masyarakat).

(15)

B. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah

a. Pembatasan Masalah

Agar dalam pembahasan ini tidak terlalu meluas dan keluar dari tema persoalan, maka dalam hal ini peneliti membatasi pada bahasan Dana Zakat dan Program Pendidikan.

b. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka perumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimana manajemen pendayagunaan dana zakat untuk program Taman Anak Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta? 2. Apa saja kontribusi yang dilakukan Lembaga Amil Zakat Insan Mulia

(LAZIM) Jakarta untuk program Taman Anak Sholeh (TAS)?

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

a. Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisa bagaimana manajemen pendayagunaan dana zakat untuk program Taman Anak Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta

2. Untuk mengetahui apa saja kontribusi yang dilakukan Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta untuk program Taman Anak Sholeh (TAS)

b. Manfaat Penelitian

(16)

1. Kegunaan Teoritis.

Secara teoritis diharapkan sebagai bentuk dalam mengembangkan konsep dalam pendayagunaan zakat yang baik dan efektif sesuai dengan makna diperintahkan zakat.

Selain itu bisa dijadikan sebagai literatur dan rujukan terutama yang berkaitan dengan masalah pendayagunaan zakat dan memberikan pemahaman bagi pihak akademisi khususnya Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk melakukan kajian mendalam mengenai pengelolaan zakat untuk pendidikan khususnya mahasiswa jurusan manajemen dakwah konsentrasi manajemen ZISWAF.

2. Kegunaan Praktis

Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi lembaga amil zakat yang diteliti dan pedoman bagi Lembaga Amil Zakat yang lain dalam pelaksanaan pendayagunaan zakat dengan baik dan efektif melalui sebuah program, serta sebagai sumbangan positif bagi lembaga yang lain dalam hal pemahaman tentang pendayagunaan zakat dan sebagai sumbangan positif bagi dunia akademisi untuk menambah wawasan di bidang hazanah keilmuan tentang pendayagunaan zakat.

D. Tinjauan Pustaka

Ada penelitian terdahulu yang pembahasannya hampir mirip dengan yang ditulis oleh penulis. Adapun penelitian tersebut diantaranya:

(17)

bagaimana pendayagunaan dana zakat dalam pendidikan untuk anak-anak pemulung yang berada di Bantar Gebang Bekasi.

Karya milik Nurul Fajriyah dengan judul “ Pola Pendayagunaan Dana Zakat

pada Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) Kota Tangerang Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan". Berisi tentang pola pendayagunaan atau pendistribusian dalam upaya peningkatan pendidikan kota Tangerang serta faktor penghambat dan pendukung dalam pendayagunaan dana zakat di BAZDA kota Tangerang.

Persamaan penulisan skripsi ini dengan karya di atas terletak pada pendayagunaan dana zakat untuk sektor pendidikan, sedangkan perbedaannya terletak pada subjek dan objek penelitiannya. Dimana subjeknya adalah Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta sedangkan objeknya adalah pendayagunaan dana zakat untuk program Taman Anak Soleh (TAS).

E. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian sosiologis atau empiris dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, berikut beberapa prosedur pendekatan kualitatif yang akan digunakan dalam penelitian ini, diantaranya:

1. Sumber Data

Yang dijadikan sumber data oleh peneliti yaitu:

(18)

sekretariat atau pengurus Lembaga Amil Jakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta.

b. Data dari narasumber yakni, narasumber biasa diambil dari masyarakat umum yang dianggap mampu dan memahami terhadap masalah yang diajukan seperti para muzakki atau para pegawai di LAZIM Jakarta yang menjadi donatur merangkap amil dan narasumber utama Ketua LAZIM serta tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat.

2. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah: a. Pengamatan langsung atau dengan melakukan observasi dilokasi

Lembaga Amil Jakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta.

b. Peneliti melakukan beberapa wawancara dengan pengurus LAZIM, dan beberapa mustahiq yang telah menjadi objek dari program taman anak soleh.

c. Peneliti juga mengumpulkan data menggunakan dokumentasi dari majalah Islam, buku bulletin, dokumen dari pengurus LAZIM Jakarta beserta gambar dan foto-foto.

3. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Maka yang peneliti akan lakukan yakni:

(19)

b. Peneliti melakukan wawancara dengan pengurus LAZIM dan beberapa muzakki yang telah memberikan dananya.

c. Peneliti membaca dari berbagai majalah islam, bulletin LAZIM Jakarta, dokumen dari pengurus LAZIM, gambar dan foto.

4. Metode Analisa

Proses analisa diawali dengan membaca kembali keseluruhan data yang telah diperoleh baik melalui wawancara dan pengamatan maupun dari dokumen, gambar, dan foto-foto. Selanjutnya peneliti mengkategorikan data yang telah diperoleh berdasarkan pendekatan yang digunakan, selanjutnya data yang diperoleh di klasifikasikan kembali apakah data yang didapat berhubungan dengan judul.

Setelah melakukan tahap pengkategorian dan klasifikasi maka data tersebut dibandingkan dengan melihat pada pendekatan yang digunakan. Karena peneliti menggunakan pendekatan kualitatif maka metode analisanya adalah analisa kualitatif atau deskriptif analisis yaitu peneliti mencoba mendeskripsikan perilaku perubahan dengan menggunakan beberapa teori.

5. Objek dan Subjek Penelitian

(20)

orang tua siswa untuk Program Taman Anak Sholeh (TAS) Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta yang terletak di Jl. Bangka IV No. 28C Pela Mampang, Jakarta Selatan 12720. Alamat Web,

www.lazim.jakarta@yahoo.co.id

F. Sistematika Penelitian

Untuk mempermudah pengkajian, penulisan pemahaman dan penyusunan skripsi ini, maka penulis membuat sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab, dengan susunan sebagai berikut:

Bab IPendahuluan, dalam bab ini penulis menerangkan secara garis besar mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab II Tinjauan teoritis, pada bab ini membahas mengenai pengertian pendayagunaan, sifat pendayagunaan dan sumber dana zakat serta yang berkaitan dengan manajemen juga fiqh pendayagunaan zakat, dan pendidikan disertai unsur-unsur pendidikan.

Bab III Gambaran umum dalam bab ini penulis menerangkan tentang profil Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta dan program Taman Anak Sholeh (TAS), visi misi, struktur organisasi program Taman Anak Sholeh (TAS).

(21)

Bab V Penutup, menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran yang menjadi penutup dari pembahasan skripsi ini.3

3

(22)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENDAYAGUNAAN DANA

ZAKAT DAN PENDIDIKAN

A. Aspek Fiqh Pendayagunaan Zakat Pada Bidang Pendidikan

1. Pengertian

a. Pengertian Aspek

Dalam bahasa aspek bermakna tanda atau sudut pandangan atau pemunculan, atau penginterpretasian gagasan, masalah, situasi dan sebagainya.

b. Pengertian Fiqh

Menurut bahasa artinya faham, sedangkan menurut istilah fiqh merupakan salah satu bidang ilmu dalam syariat islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi,sesame manusia atau dengan Tuhannya. c. Pengertian pendayagunaan

Sesuai kutipan pemakalah dari www.artikata.com bahwa pendayagunaan bermakna pengusahaan agar mampu mendatangkan hasil dan manfaat.

d. Pengertian Zakat

(23)

harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak” disamping berarti “mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri” 4

e. Aspek Fiqh berarti pandangan ilmu hukum islam terhadap sesuatu. f. Pendayagunaan Zakat berarti mengusahakan zakat agar mampu

mendatangkan hasil yang lebih manfaat.

g. Pendidikan adalah usaha yang disengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangan mecapai kedewasaan

h. Aspek Fiqh Pendayagunaan Zakat berarti pandangan ilmu fiqh tentang pendayagunaan atau pemanfaatan dana zakat untuk bidang pendidikan. 2.Dalil Al-Quran dan Hadits tentang Pendayagunan Zakat

Al-Quran Surat At-Taubah:60

Artinya:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

4

Fahrudin, Fiqih dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h. 13

(24)

Al-Quran Surat At-Taubah ayat 103

Artinya:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Adapun dalil dari As-Sunnah atau Hadits adalah sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam sebuah haditsnya :

(25)

Dari Salim bin Abdullah bin 'Umar dari bapaknya ( Umar bin Khatab ) mudah-mudahan Allah meridhoi mereka, bahwasanya Rasulullah pernah memberikan Umar bin Khatab suatu pemberian, lalu Umar berkata " berikanlah kepada orang yang lebih fakir dari saya, lalau Nabi bersabda "Ambilah dahulu, setelah itu milikilah ( kembangkanlah ) dan sedekahkan kepada orang lain dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini sedang engkau tidak membutukannya dan bukan engkau minta, maka ambilah. Dan mana-mana yang tidak demikian maka janganlah engkau turutkan nafsumu. HR Muslim.

Dalam ayat dan hadits diatas jelaslah bahwa zakat itu diberikan dan diambil dari orang-orang tertentu untuk diberikan kepada orang-orang tertentu. Yakni dalam surat at-taubah:60 dijelaskan tentang siapa sajakah yang berhak menerima zakat.

Arah dan kebijaksanaan pendayagunaan dana zakat yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan usaha pemerintah dalam rangka memanfaatkan hasil pengumpulan zakat kepada sasaran dalam pengertian yang lebih luas sesuai cita dan rasa secara tepat guna, efektif manfaatnya dengan sistem distribusi yang serba guna tentunya yang produktif, sesuai dengan pesan dan kesan syariat serta tujuan sosial yang ekonomis dari zakat.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kita jadikan dasar pemikiran tentang pendayagunaan zakat bahwa :

a. Allah tidak menetapkan perbandingan yang tetap antara bagian masing-masing delapan pokok alokasi ( asnaf )

(26)

c. Allah tidak menetapkan harus dibagikan dengan segera setelah masa pungutan zakat, dan tidak ada ketentuan bahwa semua hasil pungutan zakat (baik sedikit maupun banyak) harus tetap dibagikan semuanya. d. Allah tidak menetapkan bahwa yang diserah terimakan itu berupa in

cash (uang tunai) atau in kind (bermacam-macam hasil alam)

3. Sumber Dana Zakat

Menurut Al-Qur’an, yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah harta bernada atau kekayaan (QS. 9:103). Jenis-jenis kekayaan tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Emas dan Perak

Semua ulama sepakat bahwa emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya (QS. 9:34). Mengenai nisab emas ada tiga pendapat ulama. Pertama, umumnya ulama termasuk Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam

(27)

sependapat bahwa nisabnya 200 dirham atau sekitar 672 gram. Kadar zakat dan haulnya sama dengan emas.5

b) Hewan Ternak

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa jenis hewan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah unta, lembu/sapi/kerbau, dan kambing. Kuda yang dipelihara untuk piaraan, pengangkutan, dan perang tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan kuda yang diperdagangkan dan diternakkan wajib dikeluarkan zakatnya karena mempunyai sifat berkembang. Hewan ternak lainnya yang juga wajib dikeluarkan zakatnya adalah ayam, unggas, bebek, dan binatang lain sejenisnya. Haul dari hewan ternak tersebut adalah satu tahun.

Mengenai nisab unta yang jumlahnya lebih dari l20 ekor, ada dua pendapat. Pertama, setiap bertambah 40 ekor unta, zakatnya 1 ekor binti labun (unta betina yang berumur 2 tahun lebih), dan setiap bertambah 50 ekor unta, zakatnya 1 ekor hiqqah (unta betina yang berumur 3 tahun lebih). Maka apabila seseorang memiliki 130 ekor unta, ia dikenakan zakat sebanyak 1 ekor hiqqah dan 2 ekor bintilabun. Pendapat ini didukung oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan para pengikut mereka. Dasar hukum yang digunakan ialah risalah

zakat yang diperintahkan Rasulullah SAW dan dilaksanakan oleh Khalifah Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab. Hadis ini menjelaskan sabda Nabi SAW yang artinya: ” Adapun jika lebih dari 120 ekor, maka pada tiap -tiap 40 ekor dikenakan seekor unta binti labun, dan pada tiap-tiap 50 ekor dikenakan seekor unta hiqqah.”

5

(28)

Kedua, fukaha (ahli fikih) Kufah, yaitu Abu Hanifah dan para pengikutnya serta as-Sauri, berpendapat bahwa apabila jumlah unta lebih dari 120 ekor, maka ketentuannya kembali kepada semula, yaitu pada tiap-tiap 5 ekor unta dikenakan zakat seekor kambing. Maka apabila seseorang memiliki unta sebanyak 125 ekor, zakatnya ialah 2 ekor hiqqah dan seekor kambing. Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Amr bin Hazm, yang artinya: “Jika unta lebih dari 120 ekor,

maka zakatnya dimulai dengan memakai ketentuan semula.” Jumhur

(mayoritas) fukaha lebih menguatkan pendapat pertama karena hadisnya lebih sahih.

Adapun tentang jenis kambing yang dikeluarkan untuk zakat, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik berpendapat bahwa jenis kambing yang dizakatkan adalah jenis kambing yang terbanyak bilangannya. Jika sama banyaknya, petugas zakat boleh memilih. Hal ini sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sementara Imam Syafi’i berpendapat bahwa

petugas zakat mengambil yang pertengahan dan bermacam-macam jenis. Namun ada ulama yang menetapkan untuk tidak mengambil kambing jantan, kambing.yang buta sebelah, dan kambing tua sebagai zakat.

c) Harta Perdagangan.

Para ulama sepakat bahwa harta perdagangan wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisab dan haulnya. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,

(29)

Nisab harta perdagangan sama dengan nisab emas dan perak. Sedangkan haulnya satu tahun dan kadar zakatnya 2,5% atau 1/40 dari harga barang dagangannya.

d) Hasil Tanaman dan Buah-Buahan

Gandum, padi, kurma, dan anggur kering wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisabnya pada waktu memanen. Hal ini didasarkan pada hadis yang artinya: “Bahwa Rasulullah SAW mengutus mereka ke Yaman untuk mengajari manusia soal agama. Maka mereka dipersilakan untuk tidak memungut zakat kecuali dari yang empat macam ini: gandum, sya’ir (gandum), kurma dan anggur kering” (HR. Daruqutni, al-Hakim,

at-Tabrani, dan al-Baihaki yang mengatakan bahwa periwayatnya dapat dipercaya dan badis ini hadis muttasil).

Adapun nisab hasil tanaman adalab lima wasaq (652,8/653 kg). Sedangkan kadar pungutan zakatnya adalab 10% apabila tanaman itu disiram air bujan dan 5% jika tanaman itu disiram dengan mempergunakan alat. Sedangkan tanaman yang kadang-kadang disiram dengan menggunakan alat dan kadang-kadang disiram air hujan dengan perbandingan yang sama, maka zakatnya 7,5%. Mengenai basil pertanian ini, zakatnya dikeluarkan di saat memanen hasil tanaman atau buah-buahan.

Di Indonesia, disepakati bahwa semua hasil tumbuh-tumbuhan yang bernilai ekonomis wajib dikeluarkan zakatnya. Hasil tanaman dan buah-buahan yang wajib dikeluarkan zakatnya antara lain adalah:

(30)

2. Umbi-umbian dan sayur-sayuran, seperti ubi, kentang, ubi kayu, ubi jalar, bengkuang, bawang, cabe, petai, kol, dan bayam.

3. Buah-buahan, seperti kelapa, pisang, durian, rambutan, duku, salak, apel, jeruk, pepaya, alpukat, mentimun, pala, lada, dan pinang.

4. Tanaman hias, seperti anggrek dan segala jenis bunga.

5. Tanaman keras, seperti karet, kelapa sawit, cengkih, kopi, kayu cendana, kayu jati, dan kayu manis.

6. Rumput-rumputan, seperti serai (minyak serai) dan bambu. 7. Daun- daunan, seperti teh dan tembakau.

e) Harta Rikaz dan Ma’din

Harta Rikaz adalah harta-harta yang terpendam atau tersimpan. Termasuk ke dalam harta Rikaz ini antara lain berbagai macam harta benda yang disimpan oleh orang-orang terdahulu di dalam tanah, seperti emas, perak, tembaga, dan pundi-pundi berharga. Adapun ma’dinadalah pemberian bumi yang terbentuk dari benda lain tetapi berharga, seperti emas, perak, timah, besi, intan, batu permata, akik, batu bara, dan minyak bumi. Orang yang menemukan benda- benda ini diwajibkan mengeluarkan zakatnya 1/5 bagian. Zakat Rikaz wajib tanpa syarat nisab (ukuran jumlah) dan tanpa haul (ukuran waktu). Dalam harta ma’din, meskipun waktu satu tahun penuh (haul)

(31)

f) Hasil Laut

Jumhur ulama berpendapat bahwa hasil laut, baik berupa mutiara, merjan (manik-manik), zabarjad (kristal untuk batu permata) maupun ikan, ikan paus, dan lain-lainnya, tidak wajib dizakati. Namun Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) berpendapat bahwa hasil laut wajib dikeluarkan zakatnya apabila sampai satu nisab. Pendapat terakhir ini nampaknya sangat sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang ini karena hasil ikan yang telah digarap oleh perusahaan-perusahaan besar dengan peralatan modern menghasilkan uang yang sangat banyak. Nisab ikan senilai 200 dirham (672 gram perak). Mengenai zakat hasil laut ini memang tidak ada landasannya yang tegas, sehingga di antara para ulama sendiri terjadi perbedaan pendapat. Namun jika dilihat dari surah al-Baqarah ayat 267, jelas bahwa setiap usaha yang menghasilkan uang dan memenuhi syarat, baik nisab maupun haulnya, wajib dikeluarkan zakatnya. Adapun waktu mengeluarkan zakatnya sama seperti tanaman, yaitu di saat hasil itu diperoleh.

g) Harta Profesi

Zakat harta profesi termasuk dalam kelompok zakat mal, yaitu al-mal al-mustafad (kekayaan yang diperoleh oleh seorang muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan syariat agama). Adapun profesi yang dimaksud antara lain dokter, insinyur, dan pengacara. Para ulama sepakat bahwa harta pendapatan wajib dikeluarkan zakatnya apabila mencapai batas nisab. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, dengan kadar zakat 2,5%.

(32)

zakatnya apabila mencapai masa setahun penuh, kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis. Untuk itu harta penghasilan dikeluarkan pada permulaan tahun dengan syarat sudah mencapai batas nisab. Tetapi Imam Malik berpendapat bahwa harta penghasilan tidak dikeluarkan zakatnya sampai satu tahun penuh, baik harta tersebut sejenis dengan harta pemiliknya atau tidak sejenis. Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat

bahwa harta penghasilan itu dikeluarkan zakatnya bila mencapai waktu satu tahun meskipun ia memiliki harta sejenis yang sudah cukup nisab.

h) Investasi

(33)

modalnya, dengan kadar zakat 10% dari hasil bersih apabila hasil bersih setelah biaya-biaya dikeluarkan dapat diketahui. Tetapi apabila hasil bersih tidak bisa diketahui, maka zakat dikenakan berdasarkan seluruh hasil dengan kadar zakat sebesar 5%. Adapun nisabnya sama dengan nisab uang, yakni 96 gram emas.

4.Pandangan Imam Madzhab dan Ulama Kontemporer tentang

pendayagunaan zakat

Para Ulama telah Ijma' bahwa kedelapan asnaf tersebut adalah para mustahiq zakat, walaupun dalam pendistribusiannya sebagian ulama ada yang

berpendapat harus dibagikan secara merata seperti Imam Syafi'i namun sebagian ulama lain berpendapat bahwa zakat tidak harus diberikan kepada semua asnaf tersebut. Khalifah Umar bin Khatab pada masa pemerintahannya tidak memberikan zakat kepada muallaf, dan hal ini tidak dipermasalahkan oleh sahabat Nabi lainnya sehingga menjadi ijma'.

Dalam perkembangannya para mustahiq zakat tersebut mengalami beberapa perubahan dan pengembangan pemikiran. Sjechul Hadi Permono memberikan beberapa pengembangan dari para mustahiq zakat, beliau menukil pendapat dari Shawki Isma’il Shehatah yang menyatakan bahwa

(34)

untuk asnaf ini bisa dipindahkan kepada para tawanan perang Muslim atau juga untuk membantu Negara muslim yang ingin lepas dari perbudakan dan penjajahan Negara lain, hal ini tentu sesuai dengan makna riqab yang menghilangkan segala bentuk perbudakan. Sementara makna fi sabilillahdikembangkan oleh Sahri Muhammad dengan jalan iman dan ilmu/teknologi yaitu jalan untuk kemaslahatan agama dan masyarakat umum. Demikian juga mustahiq-mustahiq zakat yang lain, walaupun jumlahnya tetap delapan asnaf namun interpretasinya semakin berkembang.

Begitulah dengan berubahnya waktu ternyata alokasi bagi para mustahiq zakat berkembang, namun hal ini tidaklah mengurangi manfaat dari zakat bahkan akan semakin terasa manfaatnya ketika kita bisa memberdayakannya.

Adapun pola penyaluran harta zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dapat digunakan dengan dua cara yaitu :

a. Zakat Konsumtif

(35)

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.

Ayat di atas menceritakan tentang orang-orang miskin yang tidak suka meminta-minta kepada manusia, kepada mereka diberikan zakat untuk kebutuhan mereka dalam bentuk zakat konsumtif.

b. Zakat Produktif

Adapun zakat produktif adalah zakat yang diberikan kepada fakir miskin berupa modal usaha atau yang lainnya yang digunakan untuk usaha produktif yang mana hal ini akan meningkatkan taraf hidupnya, dengan harapan seorang mustahiq akan bisa menjadi muzakki jika dapat menggunakan harta zakat tersebut untuk usahanya. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Nabi, dimana beliau memberikan harta zakat untuk digunakan shahabatnya sebagai modal usaha. Hal ini seperti yang disebutkan oleh Didin Hafidhuddin yang berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yaitu ketika Rasulullah memberikan uang zakat kepada Umar bin Al-Khatab yang bertindak sebagai amil zakat seraya bersabda :

(36)

ambilah. Dan mana-mana yang tidak demikian maka janganlah engkau turutkan nafsumu. HR Muslim”.6

Kalimat هلَوَمَتَف (fatamawalhu) berarti mengembangkan dan mengusahakannya sehingga dapat diberdayakan, hal ini sebagai satu indikasi bahwa harta zakat dapat digunakan untuk hal-hal selain kebutuhan konsumtif, semisal usaha yang dapat menghasilkan keuntungan. Hadits lain berkenaan dengan zakat yang didistribusikan untuk usaha produktif adalah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, katanya :

Bahwasanya Rasulallah tidak pernah menolak jika diminta sesuatu atas nama Islam, maka Anas berkata "Suatu ketika datanglah seorang lelaki dan meminta sesuatu pada beliau, maka beliau memerintahkan untuk memberikan kepadanya domba (kambing) yang jumlahnya sangat banyak yang terletak antara dua gunung dari harta shadaqah, lalu laki-laki itu kembali kepada kaumnya seraya berkata " Wahai kaumku masuklah kalian ke dalam Islam, sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian yang dia tidak takut jadi kekurangan !" HR. Ahmad dengan sanad shahih.

Pemberian kambing kepada muallafah qulubuhum di atas adalah sebagai bukti bahwa harta zakat dapat disalurkan dalam bentuk modal usaha.

Pendistribusian zakat secara produktif juga telah menjadi pendapat ulama sejak dahulu. Masjfuk Zuhdi mengatakan bahwa Khalifah Umar bin Al-Khatab selalu memberikan kepada fakir miskin bantuan keuangan dari zakat yang bukan sekadar untuk memenuhi perutnya berupa sedikit uang

6

(37)

atau makanan, melainkan sejumlah modal berupa ternak unta dan lain-lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Demikian juga seperti yang dikutip oleh Sjechul Hadi Permono yang menukil pendapat Asy-Syairozi yang mengatakan bahwa seorang fakir yang mampu tenaganya diberi alat kerja, yang mengerti dagang diberi modal dagang, selanjutnya An-Nawawi dalam syarah Al-Muhazzab merinci bahwa tukang jual roti, tukang jual minyak wangi, penjahit, tukang kayu, penatu dan lain sebagainya diberi uang untuk membeli alat-alat yang sesuai, ahli jual beli diberi zakat untuk membeli barang-barang dagangan yang hasilnya cukup buat sumber penghidupan tetap.

Pendapat Ibnu Qudamah seperti yang dinukil oleh Yusuf Qaradhawi mengatakan “Sesungguhnya tujuan zakat adalah untuk

memberikan kecukupan kepada fakir miskin….” Hal ini juga seperti

dikutip oleh Masjfuk Zuhdi yang membawakan pendapat Asy-Syafi’i, An -Nawawi, Ahmad bin Hambal serta Al-Qasim bin Salam dalam kitabnya Al-Amwal, mereka berpendapat bahwa fakir miskin hendaknya diberi dana yang cukup dari zakat sehingga ia terlepas dari kemiskinan dan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya secara mandiri.

Secara umum tidak ada perbedaan pendapat para ulama mengenai dibolehkannya penyaluran zakat secara produktif. Karena hal ini hanyalah masalah tekhnis untuk menuju tujuan inti dari zakat yaitu mengentaskan kemiskinan golongan fakir dan miskin.

(38)

keyakinan, dan sikap hidup yang berujung pada kualitas hidup. Singkatnya performance lahir dan batin manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang didekatnya.

Sebegitu pentingnya pendidikan bagi manusia, pada awalnya, baik pendidikan pada tingkat keluarga maupun di luar keluarga, dapat diakses dengan gratis. Barulah setelah pendidikan utamanya di luar keluarga mengalami perkembangan pesat dalam bentuk pelaksanaannya, menjadi kebutuhan primer yang beribiaya. Akibatnya, sebagian orang mampu mengakses dengan baik, tetapi sebagian lain kebutuhan primernya itu tak terpenuhi.

Harta zakat sebagai alat bantu pengentasan masalah sosial, telah ditetapkan untuk didistriusikan kepada delapan asnaf yang sudah diuraikan di atas, diantara delapan asnaf yang diantaranya adalah fakir miskin, yaitu dua kelompok manusia yang berciri khusus tidak mampu memenuhi keutuhan dasarnya, baik sebagai makhluk hidup yang berarti perlu pangan dan kesehatan, sebagai makhluk sosial butuh sandang, pangan, papan dan pasangan (zawj/zawjah), serta sebagai khalifah Allah yang harus bermodal pendidikan. Atas dasar itu penyaluran dana zakat dalam sektor pendidikan adalah sangat beralasan secara syar’i. Secara rinci alasan tersebut dapat

disusun sebagai berikut:

(39)

2) Bila demi kebutuhan fisik guna keberlangsungan hidup layak dalam kehidupan duniawi sesaat berupa pangan, sandang, dan papan saja zakat dapat diberikan, apalagi secara qiyas awlawi terkait dengan pendidikan yang membawa kepada kemaslahatan ukrawi yang tiada batasnya, maka lebih layak disalurkan.

3) Secara manusiawi akar masalah kemiskinan adalah pada minimnya pendidikan, sehingga seseorang tidak mampu mengetahui potensi dirinya, mengembangkannya, dan apalagi memanfaatkannya. Begitu pula, akibat minimnya pendidikan ia juga tidak mampu mengeksplorasi potensi lingkungannya, tetumbuhan, hewan, tanah, air, dan kekayaan yang dikandungnya.7

Memang perlu ditegaskan bahwa maksud dari pengalokasian zakat dalam sektor pendidikan, penggunaannya dalam bentuk:

1) Membiayai orang miskin untuk mendapat pendidikan, misalnya menyantuninya untuk membayar biaya sekolah. Pada masa dahulu ulama telah perhatian dalam hal ini walaupun dalam bentuk sedikit berbeda. Mereka mengatakan bahwa bila orang miskin gara-gara tidak dapat bekerja karena siuk mendalami ilmu syariat, maka halal baginya menerima dana zakat. Menurut mereka alasannya adalah karena mereka sibuk melakukan sesuatu yang bersifat fardu kifayah yang manfaatnya bersifat umum bagi masyarakat luas.

2) Mendirikan sekolah dan memenuhi kebutuhan operasionalnya, dalam rangka membendung dan melawan hegemoni pendidikan kapitalis,

7

(40)

komunis, sekuler, dan sebagainya memuju kepada pendidikan Islam yang murni. Yang demikian berarti zakat tersebut dialokasikan atas nama sabilillah.

Salah satu fungsi zakat adalah fungsi sosial sebagai sarana saling berhubungan sesama manusia terutama antara orang kaya dan orang miskin, karena dana zakat dapat di manfaatkan secara kreatif untuk mengatasi kemiskinan yang merupakan masalah sosial yang selalu ada dalam kehidupan masyarakat8

Dalam Al-Qur’an dijelaskan ada delapan asnaf yang berhak menerima zakat yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah dan ibnussabil. Sedangkan infak dan shadaqah dapat merupakan sebagian dari harta yang dikeluarkan untuk kebaikan, baik yang ditentukan penggunaannya maupun tidak. Kami berpendapat bahwa pembagian dana ZIS tidak harus sama rata untuk masing-masing asnaf tersebut melainkan perlu berdasarkan keperluan. Dengan demikian pendayagunaan dana zakat untuk sektor pendidikan dibolehkan selama yang menjadi objeknya tidak keluar dari delapan asnaf yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Pendayagunaan dana zakat pada sektor pendidikan boleh untuk semua unsur pendidikan (guru, murid, sarana prasarana, biaya dan lain-lain) maupun salah satu dari unsur pendidikan. Contohnya untuk membiayai SSP saja yang diwujudkan melalui beasiswa.

8

(41)

B. Aspek Manajemen Pendayagunaan Zakat

1. Pengertian

a. Pengertian Aspek

Dalam bahasa aspek bermakna tanda atau sudut pandangan atau pemunculan, atau penginterpretasian gagasan, masalah, situasi dan sebagainya.

b. Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno yaitu ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Definisi manajemen yg dikemukakan oleh McHugh, manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatanberupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya.9

Daft mendefinisikan manajemen sebagai pencapaian tujuan organoisasi dengan cara yang efektif dan efisien lewat perencanaan, pengorgansasian, pengarahan, dan pengawasan sumberdaya organisasi.

Mary Parker Follet yang dikutip oleh Handoko, manajemen merupakan seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan.10

9

Erni Tisnawati dkk., Pengantar Manajemen, Jakarta: Prenada media Group, 2005. h.6 10

(42)

Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung dua pengertian yaitu : 1. Manajemen sebagai suatu proses

2. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa manajemen pada dasarnya merupakan seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. Dalam peneyelesaian akan sesuatu tersebut, terdapat tiga faktor yang terlibat:

1. Adanya pengguanaan sumber daya organisasi, baik sumber daya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Atau sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya keuangan, serta informasi.

2. Adanya proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan.

3. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan.

Dari gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi.

(43)

dan pengendalian (P4) sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dalam arti sempit manajemen merujuk kepada suatu bidang, contohnya manajemen zakat. Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendaliannya berhubungan dengan zakat.11

Dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah seni untuk mengatur organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian (P4) sumber daya organisasi yang dilakukan oleh manajer atau pemimpin.

c. Pengertian Pendayagunaan Zakat

Zakat menurut bahasa arab artinya tumbuh, tambah, berkah, suci. Menurut istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.

Pembicaraan tentang pendayagunaan zakat, berarti membicarakan usaha atau kegiatan yang saling berkaitan dalam menciptakan tujuan tertentu dari penggunaan hasil zakat secara baik, tepat dan terarah sesuai dengan tujuan zakat itu disyariatkan oleh Al-qur’an dan Sunnah serta yang dicontohkn oleh para fuqoha.

Jika berbicara tentang kemashlahatan, senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan umat. Dimana saat ini permasalahan yang dihadapi lebih banyak dan beragam.Untuk penentuan tingkat kemaslahatan, biasa dikenal dengan adanya skala

11

(44)

prioritas. Metode prioritas ini dapat di pakai sebagai alat yang efektif untuk melaksanakan fungsi alokasi dan distribusi dalam kebijaksanaan pendayagunaan zakat.

Maka dapat disimpulkan bahwa pendayagunaan Zakat adalah bagaimana cara atau usaha dalam mendatangkan hasil dan manfaat zakat yang lebih besar serta lebih baik agar tercapai kemaslahatan bagi umat muslim.

d. Aspek Manajemen Pendayagunaan Zakat

Sudut pandang manajemen terhadap pengaturan dan pengelolaan zakat melalui proses perencanaan pengorganisasian pengarahan dan pengawasan sumberdaya organisasi/lembaga zakat dengan cara yang efektif dan efisien agar mendatangkan hasil dan manfaat zakat yang lebih besar serta lebih baik sehingga tercapai kemaslahatan bagi umat islam sesuai dengan tujuan zakat yang telah disyariatkan.

2. Kegiatan Manajemen

Kegiatan manajemen secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.

a. Perencanaan

(45)

kegiatan yang diputuskan akan dilasanakan, serta periode sekarang pada saat rencana dibuat. 12

Beberapa aspek yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berikut: 1) Hasil yang ingin dicapai

2) Yang akan melakukan 3) Waktu dan skala prioritas 4) Dana (kapital)13

Pada dasarnya manajemen merupakan suatu rangkaian cara beraktivitas. Bagi seorang muslim manajemen bisa menjadi wahana amal kebajikan. Manajemen menumbuhkan kesadaran untuk mengaplikasikan cara-cara bekerja dengan landasan ajaran Islam. Manajemen Islam memang tidak bebas nilai. Kaidah halal dan thayyib menjadi nilai utama organisasi. Hal ini berlaku dari awal pengambilan keputusan, perencanaan hingga aplikasi dan evaluasinya yang tetap melandaskan pada nilai-nilai halal dan thayyib.14

Menyusun visi misi adalah langkah awal dalam perencanaan, dari visi misi akan dilahirkan program-program unggulan untuk mengimplementasikan pengelolaan zakat. Dari sejumlah program yang dicanangkan Badan/Lembaga Pengelola Zakat dapat dikelompokkan

12

T. Hani Handoko, Manajemen, Edisi Kedua, EPFE Yogyakarta, Cet. XIV, 1999, hlm. 78

13

Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Praktek, Gema Insani Press, Jakarta, 2003, h. 78

14

(46)

menjadi empat program besar (grand programme), yaitu program ekonomi, program social, program pendidikan, dan program dakwah.15

1. Program Ekonomi

Program pemberdayaan ekonomi melalui pendayagunaan dana zakat yang dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat (LAZ) dapat menjawab dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi olehh masyarakat. Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang sudah ada programnya berorientasi pada pemberdayaan ekonomi mencakup antara lain: a) Pengembangan potensi agribisnis termasuk industry rakyat

berbasis kekuatan lokal.

b) Pengembangan lembaga keuangan berbasis ekonomi syari’ah. c) Pemberdayaan masyarakat petani dan pengrajin

d) Pemberdayaan keuangan mikro dan usaha riil berupa industri beras, air minum, peternakan, pertanian, dan tanamn keras.

e) Pemberdayaan ekonomi melalui usaha kecil dengan program pendampingan dan bimbingan.

f) Pemberdayaan ekonomi umat melalui program pelatihan kewirausahaan.

2. Program Sosial

Masalah sosial merupakan yang melekat pada setiap masyarakat sehingga perlu mendapat perhatian. Program sosial yang mendapat perhatian Lembaga Amil Zakat (LAZ) antara lain:

15

(47)

a) Penyelamatan kemanusiaan melalui bantuan kesehatan pengungsi, sembako dan pakaian layak.

b) Menyediakan dana santunan layanan sosial.

c) Aksi pelayanan sosial dan kesehatan di daera-daerah minus.

d) Bantuan darurat untuk daerah bencana dan kerusuhan berupa pengiriman tim medis dan obat-obatan.

e) Pembinaan anak jalanan lewat rumah singgah dan khitanan massal 3. Program Pendidikan

Pendidikan adalah jalan untuk mencapai hari esok yang lebih baik. Diantara program pendidikan yang dilaksanakan oleh Lembaga Amil Zakat adalah:

1) Mengembangkan potensi mustaik dari segi pendidikan untuk percepatan peningkatan kualitas sumber daya umat.

2) Menyediakan bantuan beasiswa dan rehabilitasi sekolah serta menyediakan pendidikan alternatif bagi pengungsi.

3) Peduli pendidikan dasar (paket cerdas) dan program orang tua

asuh.

4) Menyediakan media informasi sebagai sarana pendidikan umat. 5) Mengelola perpustakaan dan menyalurkan buku-buku agama. 6) Santunan anak yatim, beasiswa dhuafa dan anak jalanan. 7) Pelatihan manajemen dan teknologi tepat guna.

4. Program Dakwah

(48)

berkaitan dengan program dakwah ini adalah: a) Bantuan Sembako kepada para muallaf .

b) Pembinaan mental dan rehabilitasi tempat ibadah. c) Program klub keluarga sakinah.

d) Pelatihan dan kursus bagi para da’i ke daerah-daerah terpencil dan tranmigrasi.

e) Pembinaan majlis ta’lim. b. Pengorganisasian

Menurut Terry (1986) sebagaimana dikutip Ahmad Ibrahim Abu Sinn mengatakan bahwa istilah pengorganisasian merupakan sebuah entitas yang menunjukkan sebagai bagian-bagian yang terintegrasi sedemikian rupa, sehingga hubungan mereka satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka terhadap keseluruhan. Lebih jauh, istilah ini diartikan sebagai tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antar individu, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien, sehingga memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam lingkungan tertentu guna mencapai tujuan dan sasaran tertentu.16 Dalam pandangan Islam, organisasi bukan semata-mata wadah melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan dengan baik dan rapi. Organisasi lebih menekankan pengaturan mekanisme kerja. Oleh karena itu, maka dalam organisasi ada koordinasi serta wewenang dan

16

(49)

tanggung jawab. Koordonasi merupakan upaya penyatuan sikap dan langkah dalam pencapaian tujuan.

Secara garis besar pengorganisasian yang berkaitan dengan zakat meliputi:

a) Pengorganisasian struktur organisasi zakat Badan/Lembaga Amil Zakat.

b) Pengorganisasian mustahiq.

c) Pengorganisasian pendayagunaan zakat.

c. Pelaksanaan

1. Pelaksanaan dalam penghimpunan zakat

Pengumpulan zakat dilakukan oleh Badan/Lembaga Amil Zakat dengan cara menerima atau mengambil dari muzakki atas pemberitahuan muzakki. Badan/Lembaga Amil Zakat dapat bekerja sama dengan Bank dalam pengumpulan zakat. Badan/Lembaga Amil Zakat dapat menerima harta selain zakat, seperti infaq, shadaqah, hibah, wasiat dan kaffarat.

Dalam Buku Manajemen Pengelolaan Zakat Departemen Agama disebutkan ada tiga strategi dalam pengumpulan zakat, yaitu:

a) Pembentukan unit pengumpulan zakat. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengumpulan zakat, baik kemudahan bagi lembaga pengelola maupun kemudahan bagi para muzakki untuk membayar zakatnya.

(50)

dapat membuat kounter atau loket tempat pembayaran zakat di kantor atau secretariat lembaga yang bersangkutan.

c) Pembukaan rekening Bank. Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa dalam membuka rekenig harus dipisahkan antara masing-masing rekening sehingga dengan demikian akan memudahkan para muzakki dalam pengiriman zakatnya.

2. Pelaksanaan dalam Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat Semangat yang dibawa perintah zakat adalah perubahan kondisi seseorang dari mustahiq menjadi muzakki. Bertambahnya muzakki akan mengurangi beban kemiskinan yang ada di masyarakat. Namun keterbatasan dana zakat yang berhasil dihimpun sangat terbatas. Hal ini menuntut adanya pengaturan yang baik sehingga potensi umat dapat dimanfaatkan secara optimal. Lembaga-lembaga pengelola zakat dituntut merancang program yang baik, selain itu lembaga pengelola zakat perlu melakukan skala prioritas program.

d. Pengawasan

Pengawasan didefinisikan sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Ini berkenaan dengan cara-cara membuat kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Pengertian ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara perencanaan dengan pengawasan.17 Oleh karena itu, pengawasan mempunyai peranan atau kedudukan yang

17

(51)

sangat penting dalam manajemen, karena mempunyai fungsi untuk menguji apakah pelaksanaan kerja itu teratur, tertib, terarah atau tidak.

Dalam Islam, pengawasan (control) paling tidak terbagi menjadi dua, yaitu: Pertama, kontrol yang berasal dari diri sendiri yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepahda Allah SWT. Kedua, kontrol dari luar, pengawasan ini dilakukan dari luar diri

sendiri. Sistem pengawasan ini dapat terdiri atas mekanisme pengawasan dari pimpinan yang berkaitan. Dalam lembaga zakat biasanya ada Dewan Syariah.

C. Pemberdayaan Bidang Pendidikan

1. Pengertian

Kata pemberdayaan adalah terjemahan dari istilah bahasa inggris yaitu empowerment. Pemberdayaan berasal dari kata dasar power berarti kemampuan berbuat, mencapai, melakukan atau memungkinkan. Awalan em berasal dari bahasa latin atau yunani, yang berarti di dalamnya, karena itu pemberdayaan dapat berarti kekuatan dalam diri manusia, suatu sumber kreatifitas.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata pemberdayaan diterjemahkan sebagai upaya pendayagunaan, pemanfaatan yang sebaik-baiknya dan hasil yang memuaskan.18 Istilah pemberdayaan diartikan sebagai upaya memperluas horizon pilihan bagi masyarakat, dalam upaya pendayagunaan potensi, pemanfaatan yang sebaik-baiknya dengan hasil yang

18

(52)

memuaskan. Ini berarti masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, dapat dikatakan masyarakat yang berdaya adalah yang dapat memilih dan mempunyai

Pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.

Pendidikan adalah serangkaian proses yang dengannya seorang atau anak dapat mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai atau berguna di masyarakat.

Beberapa ahli mengartikan bahwa pendidikan adalah sebagai berikut: a. Langaveld: mendidik adalah mempengaruhi anak dalam

membimbingnya agar menjadi dewasa. Usaha membimbing haruslah usaha yang disadari dan dilaksanakan dengan sengaja. Oleh karena itu, pendidikan hanya terdapat dalam pergaulan yang disengaja antara orang dewasa dengan anak yang diarahkan kepada tujuan pendidikan. b. SA. Branata, dkk: pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara yang tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan. 19

Pemberdayaan bidang pendidikan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat agar dapat mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai atau berguna di masyarakat.

19

(53)

2. Unsur-unsur pendidikan

a. Guru atau pendidik

Guru adalah suatu jabatan professional yang memiliki peranan dan kompetensi professional.20 Ada juga mengartikan guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.21

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum guru adalah orang melakukan pekerjaan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan secara sempit guru adalah orang sudah menempuh pendidikan guru di universitas tertentu karena merupakan jabatan professional.

b. Siswa atau peserta didik

Peserta didik atau siswa adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapannya. Siswa bukanlah benda yang bersifat statis. Namun mereka adalah individu yang dinamis yang memiliki karakteristik tertentu pada setiap tahap perkembangannya.22 Siswa juga dapat diartikan organisme yang unik. Siswa bukanlah benda mati, akan

20Prof. DR. Oemar Hamalik “Pendidikan Guru, Berdasarkan Kompetensi” J

akarta PT Bumi Aksara, 2009. h.8

21DR. Hj. Rugayah, M.Pd. dan Dra. Atiek Sismiati “Profesi Kependidikan”

Bogor: Ghalia Indonesia, 2011. h.6

22Dr Wina Sanjaya, M.Pd. “Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran” Jakarta:

(54)

tetapi makhluk hidup yang sedang dalam perkembangan yang memiliki kemampuan yang berbeda, Ia adalah insan yang aktif, kreatif, dan dinamis untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini menggambarkan bahwa peserta didik bukanlah objek yang harus dijejali dengan informasi, akan tetapi mereka adalah subjek yang memiliki potensi dan proses pembelajaran seharusnya diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar agar siswa dapat mngembangkan seluruh potensi yang dimilikinya.

c. Materi atau kurikulum

Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab 1 pasal 1 bagian ketentuan umum No. 19 tertulis, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan.23

Beberapa tafsiran dari kurikulum:

1) Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran 2) Kurikulum sebagai rencana pembelajaran 3) Kurikulum sebagai pengalaman belajar d. Sarana prasarana

Menurut Tholib Kasan sarana pendidikan adalah alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya: ruang, buku, perpustakaan, dan sebagainya.24

Himpunan sarana pendidikan dikelompokkan dalam: 1. Sarana tenaga pengajar

23

UU RI No.20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan PP RI No.47 tahun 2008, h.4

24

(55)

2. Sarana fisik

3. Sarana administrasi, dan 4. Waktu

Prasarana pendidikan merupakan semua komponen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses belajar mengajar. Sebagai contoh jalan menuju tempat belajar, halaman, tata tertib, dan sebagainya.25

Menurut Tholib Kasan prasarana secara etimologi berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan. Prasarana pendidikan misalnya lokasi/tempat, bangunan, dan sebagainya.26

e. Metode atau cara pembelajaran

Model pembelajaran yang masih berlaku dan sangat banyak dipergunakan oleh guru adalah model pembelajaran konvensional. Pendekatan konvensional merupakan pendekatan pembelajaran yang lazim digunakan oleh para guru di mana ia mengajar. Beberapa metode yang biasa digunakan dalam pendekatan konvensional antara lain, metode ceramah, metode diskusi, metode Tanya jawab, metode latihan, metode pemberian tugas, metode demontrasi, metode permainan, dll.

Di era modern ini model pembelajaran banyak mengalami modifikasi sehingga bermunculan banyak model pembelajaran, salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif.27

Trianto dalam bukunya mengatakan bahwa ada perbedaan antara pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran konvensional yaitu:

25

Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang, Administrasi Pendidikan,(Malang:IKIP Malang, 1989), h. 135

26

Tholib Kasan, Teori dan Aplikasi Administrasi (Jakarta: Studia Press, 2000), h. 91

27

(56)

Tabel 1

TIPE PEMBELAJARAN

Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran Konvensional Adanya saling ketergantungan positif,

saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.

Guru sering membiasakan adanya siswa yang mndominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.

Adanya akuntabilitas individual yang mengukur pengawasan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

Akuntabilitas individual sering dibiarkan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok.

Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

(57)

f. Biaya pendidikan

Biaya pendidikan merupakan salah satu komponen masukan instrumental (instrumental input) yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan baik formal maupu non formal. Dalam setiap upaya pencapaian tujuan pendidikan, biaya pendidikan memiliki peranan yang sangat menentukan. Hampir tidak ada upaya pendidikan yang dapat mengabaikan peranan biaya. Sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa biaya proses pendidikan tidak akan berjalan. Biaya (cost) dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan baik dalam bentuk uang maupun barang dan tenaga. Dalam pengertian ini, misalnya iuran siswa adalah jelas merupakan biaya, tetapi sarana fisik buku sekolah dan guru juga adalah biaya. Bagaimana biaya itu direncanakan, diperoleh, dialokasikan dan dikelola merupakan persoalan pembiayaan dan pendanaan pendidikan (educational finance).28 Pembiayaan pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan pengeluaran yang harus dikeluarkan seorang siswa sebelum mengikuti proses pendidikan.

3. Pemberdayaan Bidang Penddikan

Bentuk dari pemberdayaan bidang pendidikan diantanya:

1) Menyediakan bantuan beasiswa dan rehabilitasi sekolah serta menyediakan pendidikan alternatif bagi pengungsi.

2) Peduli pendidikan dasar (paket cerdas) dan program orang tuaasuh.

3) Menyediakan media informasi sebagai sarana pendidikan umat.

28

(58)

4) Mengelola perpustakaan dan menyalurkan buku-buku agama.

5) Santunan anak yatim, beasiswa dhuafa dan anak jalanan.

6) Pelatihan manajemen dan teknologi tepat guna.

(59)

BAB III

GAMBARAN UMUM TENTANG PROGRAM TAMAN

SHOLEH (TAS)

A. Sejarah Berdirinya Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta

dan Program Taman Anak Sholeh

Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta sebagai lembaga non profit non government organization didirikan atas kepedulian para pendirinya, yang sebagian besar merupakan professional muslim yang aktif menyalurkan, infaq maupun sedekahnya ke lembaga penghimpun dana. LAZIM Jakarta didirikan pada tahun 2009 bulan juni. Lembaga ini adalah sebuah lembaga amil pengelola zakat, infaq, dan shadaqah yang diniatkan untuk dijadikan sebagai wadah bagi professional muslim untuk menyumbangkan ilmunya untuk kepentingan umat.29

Krisis multidimensional telah banyak menimbulkan penderitaan bagi bangsa kita. Berapa banyak anak-anak yatim, anak-anak putus sekolah, anak-anak jalanan dan anak-anak dhuafa menanti uluran tangan dan perhatian. Ditambah lagi kenaikan bahan dasar pangan, sandang dan lain-lain, menambah beban hidup mereka yang taraf hidupnya masih lemah.

Di sisi lain, banyak dari orang-orang yang diberikan kemampuan (aghniya) masih enggan dan sulit menyalurkan dana mereka, bahkan ada yang belum terketuk hatinya untuk peduli kepada mereka yang lemah (dhu’afa).

29

(60)

Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta adalah lembaga amil zakat tingkat provinsi untuk wilayah daerah khusus ibu kota Jakarta yang menangani urusan sosial, kemanusiaan, agama, pendidikan, pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan ekonomi kaum dhuafa dan memfasilitasi serta berperan aktif membantu korban bencana alam dan musibah lainnya dengan melaksanakan kegiatan penerimaan, pengelolaan dan penyaluran zakat, infaq, shadaqah, wakaf dan dana-dana sosial lainnya.

Lembaga Amil Zakat Insan Mulia (LAZIM) Jakarta mempunyai salah satu program yaitu program Taman Anak Sholeh (TAS). Sebagai pendayagunaan dalam bidang pendidikan. Sejarah berdirinya program TAS berawal dari gagasan ummi Rini sebagai istri dari direktur LAZIM yaitu Bapak Nurohman. Tempat pelaksanaan program Taman Anak Sholeh (TAS) terletak di rumah Bapak Nurohman Pela Mampang Jakarta Selatan, dimana disekitarnya banyak tinggal dhuafa yang berprofesi sebagai karyawan, buruh, dan wiraswasta. Profesi mereka

belum mampu membiayai pendidikan agama yang berbiaya.

Figur

gambar, dan
gambar, dan . View in document p.19
Tabel 1
Tabel 1 . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...