SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS
“COMME UN CHEF “ DALAM BAHASA INDONESIA
TESIS
Oleh:
WAHYUNI SA’DAH
127009021
PROGRAM STUDI LINGUISTIK
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS
“COMME UN CHEF “ DALAM BAHASA INDONESIA
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Linguistik Pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
OLEH
WAHYUNI SA’DAH
127009021
PROGRAM STUDI LINGUISTIK
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF”DALAM BAHASA INDONESIA
Nama Mahasiswa : Wahyuni Sa’dah Nomor Pokok : 127009021 Program Studi : Ilmu Linguistik
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Dr. Roswita Silalahi, M. Hum.) (Dr. Mahriyuni. M. Hum. Ketua Anggota
)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph. D) (Dr. Syahron Lubis, M. A.)
Telah diuji pada
Tanggal : 21 Agustus 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Roswita Silalahi, M. Hum.
Anggota : 1. Dr. Mahriyuni, M. Hum.
2. Dr. Syahron Lubis, M. A.
3. Dr. Nurlela, M. Hum.
PERNYATAAN
Judul Tesis
SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF” DALAM BAHASA INDONESIA
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat
untuk memperoleh gelar Magister Linguistik pada Program Studi Linguistik
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil
karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu
dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan
sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian
disertasi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam
bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik
yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Medan, Agustus 2014
Penulis,
SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF” DALAM BAHASA INDONESIA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang metode dan pergeseran (Shifts) yang terjadi dalam penerjemahan ujaran pada film berbahasa Prancis
"Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia dengan sumber data berupa film
Prancis "Comme un Chef" yang berdurasi 1 jam 25 menit dengan jumlah 1555 ujaran dan 7387 kata. Seluruh ujaran tersebut dijadikan sebagai data dan diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ke delapan jenis metode penerjemahan yang dikemukakan Newmark, digunakan pada subtitle film tersebut, dengan rincian sebagai berikut, metode penerjemahan
harafiah (literal translation) sebanyak 487 kali pemunculan (31,321%),
selanjutnya metode penerjemahan bebas (free translation) dengan frekuensi 260 kali (16,72%), kemudian penerjemahan komunikaitf (communicative translation) yakni dengan frekuensi 347 kali (32,21%), kemudian metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) 183 kali (11,76%), metode penerjemahan penerjemahan semantik (semantic translation) sebanyak 127 kali (8,16%), metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation) sebanyak 41 kali (2,63%), metode
penerjemahan setia (faithful translation) sebanyak 37 (2,37%) dan metode
penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dengan 1 kali pemunculan
(0,06%), dapat diketahui juga bahwa terdapat 72 ujaran (4,63%) yang tidak diterjemahkan. Penggunaan metode penerjemahan yang seluruhnya efektif adalah
metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) dan metode
penerjemahan idiomatik (idiomatic translation). Pada penerjemahan ujaran pada subtitle film tersebut ditemukan 13 jenis pergeseran kelas kata (category shifts), yang terdiri dari, pergeseran kata kerja menjadi kata benda (KB) sebanyak 17 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata benda (SB) berjumlah 7 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata kerja (SK) 6 kali, pergeseran kata benda menjadi preposisi (BP) 2 kali, pergeseran kata benda menjadi kata keterangan (BKet) 5 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata keterangan (SKet), pergeseran kata keterangan menjadi kata kerja (KetK), pergeseran kata keterangan menjadi kata benda (KetB), pergeseran kata penghubung menjadi kata keterangan (CnjKet), pergeseran preposisi menjadi kata benda (PB) masing- masing 1 kali, pergeseran kata benda menjadi kata kerja (BK) sebanyak 13 kali, pergeseran kata benda menjadi kata sifat (BS) 2 kali, dan pergeseran kata kerja menjadi kata sifat (KS) 12 kali. Pergeseran tingkatan (level shift) yang terjadi pada film sebanyak 11 jenis yakni, pergeseran kata kerja dari kala kini menjadi akan datang (KN) 8 kali, pergeseran kata benda tunggal menjadi kata benda jamak (TJ) 1 kali, pergesaran kala nanti menjadi kala kini (NK) 5 kali, pergeseran kalimat yang bermodalitas menjadi kalimat tidak modalitas (MN) 3 kali, pergeseran pola kalimat pasif menjadi kalimat aktif (AP) 9 kali, pergeseran kala kini menjadi kala lampau (KL) 1 kali, pergeseran dari kata benda jamak menjadi kata benda tunggal (JT) 19 kali, pergeseran modus kata kerja (M) 26 kali, pergeseran bentuk ujaran (U) 6 kali, pergeseran kala lampau menjadi kala kini (LK) sebanyak 43 kali, dan pergeseran kalimat aktif menjadi kalimat pasif (PA) 1 kali.
FRENCH FILM SUBTITLE “COMME UN CHEF” IN INDONESIAN ABSTRACT
This study aims to assess and to explain the methods and the shifts in translation that occur in French film subtitle "Comme un Chef". The source of data is the French film "Comme un Chef" which lasted for 1 hour and 25 minutes with 1555 utterances. Entire utterance is used as the data. Data were processed by using the descriptive methods.
Based on the analysis, it is concluded that eight translation methods proposed by Newmark were found in French film subtitle "Comme un Chef". The distribution of the eight translation methods types is: the literal translation with 487 times appearances (31.321%), the free translation with 260 times (16.72%), the communicative translation with 347 times (32.21%), then the word-for-word translation with 183 times (11.76%), the semantic translation with 127 times (8.16%), the adaptation translation with 41 times (2.63%), the faithful translation with 3 times (2.37%) and the idiomatic translation with 1 time (0.06%). The effective translation methods are the word-for-word translation and the idiomatic translation. Based on the analysis, the researcher found 13 category shifts and 11 level shifts. The category shifts are: the Shifting of the verb to the noun (KB) 17 times, the shifting of the adjective to the noun (SB) 7 times, the shifting of the adjective to the verb (SK) 6 times, the shifting of the noun to the preposition (BP) 2 times, the shifting of the nouns to the adverbs (BKet) 5 times, the shifting of the adjectives to the adverbs (sketch), the shifting of the adverb to the verb (KetK), the shifting of the noun to the adverb (KetB), the shifting of the conjunctive to the adverb (CnjKet), the shifting of the preposition to the noun (PB) with 1 times, the shifting of the noun to the verb (LB) 13 times, the shifting of noun to the adjective (BS) 2 times, and the
Keywords: subtitle, film, methods, effective, shifts, and translation.
KATA PENGANTAR
Penulis Mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-NYA kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Selama menulis tesis ini, penulis banyak memperolah bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K),
selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Syahron Lubis, M. A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Sumatera Utara dan Dosen Penguji.
4. Ibu Prof. Dr. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., selaku Ketua Program Studi
Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.
5. Ibu Dr. Nurlela,M. Hum., selaku Sekretaris Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara dan Penguji.
6. Ibu Dra. Hayati Chalil, M. Hum. Selaku Koordinator Konsentrasi Terjemahan
Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.
7. Ibu Dr. Roswita Silalahi, M. Hum., selaku Ketua Komisi Pembimbingan.
8. Ibu Dr. Mahriyuni, M. Hum., selaku Anggota Komisi Pembimbing.
9. Ibu Dr. Evi Eviyanti, M. Pd. selaku Penguji.
10.Seluruh dosen yang mengajar di Program Studi Linguistik Sekolah
Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Meskipun demikian, harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah memberkahi. Amin.
Medan, Agustus 2014
RIWAYAT HIDUP
1. Nama Lengkap : Wahyuni Sa’dah
DATA PRIBADI
2. Umur : 29 Tahun
3. Agama : Islam
4. Kewarganegaraan : Indonesia
5. KTP Nomor : 1271186812843334
6. Alamat : Jl. Gurilla Gang Pairan No. 2 B Medan
7. Kelurahan : Sei Kera Hilir I
8. Kecamatan : Medan Perjuangan
1. Tamatan : SD 1996 IJAZAH TAHUN 1996
PENDIDIKAN FORMAL
2. Tamatan : SMP 1999 IJAZAH TAHUN 1999
3. Tamatan : SMA 2002 IJAZAH TAHUN 2002
4. Tamatan : S1 2007 IJAZAH TAHUN 2007
5. Tamatan : S2 2012 IJAZAH TAHUN …….
PENGALAMAN BEKERJA
Dari Tahun : 2007 s/d Sekarang di UNIMED
Dari Tahun : 2007 s/d Sekarang di SMK CIPTA KARYA
DAFTAR ISI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS ... 16
DAFTAR TABEL
No. Judul Hal.
3.1 Analisis Metode dan Pergeseran Penerjemahan pada Subtitle
Film Berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia ... 57 4.1 Sebaran penggunaan Metode Penerjemahan pada Subtitle Film Prancis
“Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 62 4.2 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan yang Efektif pada Subtitle Film Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 65
4.3 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Kata demi Kata (word-for
Word Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 68 4.4 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Harafiah (Literal
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 82 4.5 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Setia (Faithful
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 92
4.6 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Semantik (Semantic
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 99
4.7 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Adaptasi (Adaptation
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 104
4.8 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Bebas (Free
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 106 4.9 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 112
4.10 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Komunikatif (Communicative
Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis
“Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 113
4.11 Jumlah Kata yang Dijadikan Objek Kajian Penelitian pada Ujaran
Pemeran Film Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 124 4.4 Sebaran Pergeseran Kelas Kata (ClassShifts) pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 125 4.5 Sebaran Pergeseran Kata Benda pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 127 4.6 Sebaran Pergeseran Kata Kerja pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 130 4.7 Sebaran Pergeseran Kata Keterangan pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 133 4.8 Sebaran Pergeseran Kata Sifat pada Subtitle Film
4.9 Sebaran Pergeseran Preposisi pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 135 4.10 Sebaran Pergeseran Kata Penghubung pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 136 4.11 Sebaran Pergeseran Tingkatan (LevelShifts) pada Subtitle Film
Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 137 5.1 Sebaran Pendidikan Karakter yang terdapat pada Ujaran Film
DAFTAR SINGKATAN
Adj. : Adjectif (Adjektiva) Adv. : Adverbe (Adverbia) Art. : Article (Kata sandang) Cnj. : Conjonction (Konjungsi)
COD. : Complément d’Objet Indirect (Pronomina) Nom : Nom (Kata Benda)
DAFTAR SIMBOL
BK : Pergeseran kata benda ke kata kerja. KB : Pergeseran kata kerja ke kata benda. SB : Pergeseran kata sifat ke kata benda. BS : Pergeseran kata benda ke kata sifat. SK : Pergeseran kata sifat ke kata kerja. KS : Pergeseran kata kerja ke kata sifat. KKet : Pergeseran kata kerja ke kata keterangan. KetK : Pergeseran kata keterangan ke kata kerja.
TJ : Pergeseran kata benda tunggal ke kata benda jamak. LK : Pergeseran kala verba dari waktu lampau ke kini. KL : Pergeseran kala verba dari waktu kini ke lampau.
M : Pergeseran modus verba.
KketB : Pergeseram Kata keterangan ke kata benda. PA : Pergeseran kalimat pasif ke kalimat aktif AP : Pergeseran kalimat aktif ke kalimat pasif
U : Fungsi Ujar
DAFTAR BAGAN
No. Judul Hal
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Hal
SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF” DALAM BAHASA INDONESIA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang metode dan pergeseran (Shifts) yang terjadi dalam penerjemahan ujaran pada film berbahasa Prancis
"Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia dengan sumber data berupa film
Prancis "Comme un Chef" yang berdurasi 1 jam 25 menit dengan jumlah 1555 ujaran dan 7387 kata. Seluruh ujaran tersebut dijadikan sebagai data dan diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ke delapan jenis metode penerjemahan yang dikemukakan Newmark, digunakan pada subtitle film tersebut, dengan rincian sebagai berikut, metode penerjemahan
harafiah (literal translation) sebanyak 487 kali pemunculan (31,321%),
selanjutnya metode penerjemahan bebas (free translation) dengan frekuensi 260 kali (16,72%), kemudian penerjemahan komunikaitf (communicative translation) yakni dengan frekuensi 347 kali (32,21%), kemudian metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) 183 kali (11,76%), metode penerjemahan penerjemahan semantik (semantic translation) sebanyak 127 kali (8,16%), metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation) sebanyak 41 kali (2,63%), metode
penerjemahan setia (faithful translation) sebanyak 37 (2,37%) dan metode
penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dengan 1 kali pemunculan
(0,06%), dapat diketahui juga bahwa terdapat 72 ujaran (4,63%) yang tidak diterjemahkan. Penggunaan metode penerjemahan yang seluruhnya efektif adalah
metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) dan metode
penerjemahan idiomatik (idiomatic translation). Pada penerjemahan ujaran pada subtitle film tersebut ditemukan 13 jenis pergeseran kelas kata (category shifts), yang terdiri dari, pergeseran kata kerja menjadi kata benda (KB) sebanyak 17 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata benda (SB) berjumlah 7 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata kerja (SK) 6 kali, pergeseran kata benda menjadi preposisi (BP) 2 kali, pergeseran kata benda menjadi kata keterangan (BKet) 5 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata keterangan (SKet), pergeseran kata keterangan menjadi kata kerja (KetK), pergeseran kata keterangan menjadi kata benda (KetB), pergeseran kata penghubung menjadi kata keterangan (CnjKet), pergeseran preposisi menjadi kata benda (PB) masing- masing 1 kali, pergeseran kata benda menjadi kata kerja (BK) sebanyak 13 kali, pergeseran kata benda menjadi kata sifat (BS) 2 kali, dan pergeseran kata kerja menjadi kata sifat (KS) 12 kali. Pergeseran tingkatan (level shift) yang terjadi pada film sebanyak 11 jenis yakni, pergeseran kata kerja dari kala kini menjadi akan datang (KN) 8 kali, pergeseran kata benda tunggal menjadi kata benda jamak (TJ) 1 kali, pergesaran kala nanti menjadi kala kini (NK) 5 kali, pergeseran kalimat yang bermodalitas menjadi kalimat tidak modalitas (MN) 3 kali, pergeseran pola kalimat pasif menjadi kalimat aktif (AP) 9 kali, pergeseran kala kini menjadi kala lampau (KL) 1 kali, pergeseran dari kata benda jamak menjadi kata benda tunggal (JT) 19 kali, pergeseran modus kata kerja (M) 26 kali, pergeseran bentuk ujaran (U) 6 kali, pergeseran kala lampau menjadi kala kini (LK) sebanyak 43 kali, dan pergeseran kalimat aktif menjadi kalimat pasif (PA) 1 kali.
FRENCH FILM SUBTITLE “COMME UN CHEF” IN INDONESIAN ABSTRACT
This study aims to assess and to explain the methods and the shifts in translation that occur in French film subtitle "Comme un Chef". The source of data is the French film "Comme un Chef" which lasted for 1 hour and 25 minutes with 1555 utterances. Entire utterance is used as the data. Data were processed by using the descriptive methods.
Based on the analysis, it is concluded that eight translation methods proposed by Newmark were found in French film subtitle "Comme un Chef". The distribution of the eight translation methods types is: the literal translation with 487 times appearances (31.321%), the free translation with 260 times (16.72%), the communicative translation with 347 times (32.21%), then the word-for-word translation with 183 times (11.76%), the semantic translation with 127 times (8.16%), the adaptation translation with 41 times (2.63%), the faithful translation with 3 times (2.37%) and the idiomatic translation with 1 time (0.06%). The effective translation methods are the word-for-word translation and the idiomatic translation. Based on the analysis, the researcher found 13 category shifts and 11 level shifts. The category shifts are: the Shifting of the verb to the noun (KB) 17 times, the shifting of the adjective to the noun (SB) 7 times, the shifting of the adjective to the verb (SK) 6 times, the shifting of the noun to the preposition (BP) 2 times, the shifting of the nouns to the adverbs (BKet) 5 times, the shifting of the adjectives to the adverbs (sketch), the shifting of the adverb to the verb (KetK), the shifting of the noun to the adverb (KetB), the shifting of the conjunctive to the adverb (CnjKet), the shifting of the preposition to the noun (PB) with 1 times, the shifting of the noun to the verb (LB) 13 times, the shifting of noun to the adjective (BS) 2 times, and the
Keywords: subtitle, film, methods, effective, shifts, and translation.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Perkembangan kehidupan manusia dari waktu ke waktu terjadi berkat
adanya penyebaran informasi, dari satu tempat ke tempat lainnya. Penyebaran
informasi tersebut pada umumnya melalui majalah, surat kabar, buku, radio,
televisi, internet maupun film.
Film merupakan salah satu media penyebaran informasi yang
perkembangannya sulit dihambat. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain: (1) film merupakan salah satu bentuk hiburan yang digemari banyak
orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa; (2) pada film terdapat
tokoh-tokoh yang sebagian besar memiliki keunikan tersendiri dengan daya tarik yang
berbeda-beda pula; (3) film merupakan sarana hiburan yang mudah sekali diakses
tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak, misalnya melalui program unduh
gratis di internet, acara-acara film di televisi atau di bioskop maupun dengan
pembelian DVD.
Setiap film mengandung suatu cerita. Cerita tersebut pada umumnya
berasal dari kisah fiktif, namun tidak sedikit juga yang berdasarkan kisah nyata.
Cerita pada film merupakan buah karya seorang sutradara, yang dipresentasikan
oleh para tokoh. Tokoh-tokoh tersebut memerankan karakter sesuai dengan alur
cerita. Melalui cerita film tersebut, penonton dapat melihat sikap, cara berbicara,
budaya yang dimiliki oleh daerah dimana film tersebut diproduksi. Hal tersebut
selaras dengan pendapat Hoed (2006:11) yang menyatakan bahwa:
“Di samping dampak visual, film memberikan dampak verbal melalui bahasa yang prosesnya lambat, seperti halnya dampak melalui bacaan. Akan tetapi dampak verbal dari film dapat bertahan lama karena yang ditangkap adalah bahasa dengan konsep-konsep di dalamnya yang dipadu dengan tayangan gambar. Melalui bahasanya penonton dapat lebih mengerti tema film dan moral yang tersimpan dalam film tersebut. Penontonpun dapat melihat tingkah laku tokoh-tokoh dalam film dan pakaian serta adat kebiasaannya.”
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa, melalui film dapat
diperoleh informasi secara kontekstual, nyata dan jelas bagaimana bahasa
digunakan dengan oleh penutur aslinya, karena film merupakan refleksi dan
representasi dari masyarakat, bahasa dan budaya asli film itu tersebut.
Pada saat sekarang ini, banyak sekali film yang diproduksi oleh satu
negara, namun ditayangkan bukan hanya di negara tempat produksinya tetapi juga
di negara yang berbeda. Ketika film asing tersebut ditayangkan bukan di negara
tempat produksinya, maka naskah cerita film tersebut akan diterjemahkan.
Penerjemahan cerita film tersebut, dapat berupa penerjemahan lisan maupun
tulisan. Hoed (2006:107-108) menyatakan bahwa: “penerjemahan teks lisan
dalam dialog sebuah film terbagi atas dua jenis yakni penerjemahan teks lisan
dialog film dalam bentuk sulih suara (dubbing) atau penerjemahan teks lisan film
dalam bentuk teks tulisan (subtitling).”
Film merupakan salah satu dokumen audio-visual yang bersifat resmi
karena melalui proses sensor yang dilakukan oleh lembaga resmi bernama badan
sensor film dan pada umumnya ditujukan bagi khalayak ramai. Seperti yang
tercantum dalam UU No. 02 Tahun 2009 dalam Trianton tentang perfilman pasal
media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan
atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.” Film merupakan salah satu media
komunikasi yang banyak mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakat.
Film juga dapat menjadi acuan atau pedoman gaya hidup masyarakat pada saat
sekarang ini. Hoed (2006:101) menyatakan bahwa: “Film Asing di Indonesia
cenderung sering menjadi acuan moderenisasi”. Trianton (2013:ix) menambahkan
bahwa: “Film merupakan karya sinematografi yang dapat berfungsi sebagai alat
culture education atau pendidikan budaya.”
Berdasarkan pendapat ahli tersebut terlihat jelas bahwa penerjemahan teks
lisan film yang dilakukan, khususnya di Indonesia, harus benar-benar memilah
unsur budaya yang dapat ditampilkan dan tidak ditampilkan pada subtitle. Hal
tersebut karena, ditemukannya perbedaan budaya yang ditampilkan pada sebuah
film, dapat menimbulkan efek negatif bagi penonton film dengan budaya yang
berbeda pula. Maksudnya adalah, budaya yang tidak tabu dalam budaya bahasa
sumber, merupakan hal yang tabu dalam budaya bahasa sasaran. Masalah
perbedaan budaya tersebut menjadi penting, karena film pada umumnya menjadi
salah satu acuan gaya hidup, dan sarana penyebaran informasi serta budaya.
Contoh nyata pengaruh film sebagai acuan gaya hidup dapat dilihat dalam
kehidupan masyarakat Indonesia misalnya: pada zaman dahulu sekitar era tahun
60-an dan 70-an para remaja belum mengenal gaya potongan rambut demimor,
namun ketika film berjudul “Ghost” yang diperankan oleh Demi Moore, dimana
potongan rambutnya begitu pendek, banyak orang yang mengganti model rambut
mereka menjadi seperti potongan rambut pemeran film perempuan dalam film
Contoh lain, ketika film berbahasa Prancis Taxi 3 diluncurkan, pada film
tersebut penonton dapat melihat begitu banyak mobil-mobil sport atau mewah
yang dilengkapi mesin berteknologi canggih. Bagi masyarakat kelas atas,
memiliki mobil seperti yang ditampilkan dalam film tersebut memiliki nilai
prestise tersendiri. Sehingga banyak masyarakat kelas atas pada saat itu cenderung
ingin memiliki dan akhirnya membeli mobil sport dengan harga fantastis.
Film Prancis merupakan salah satu jenis film yang berpengaruh besar
dalam perkembangan perfilman dunia. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui
keberhasilan film-film Prancis dan sineas-sineasnya dalam berbagai penghargaan
kelas dunia seperti Festival Film de Cannes¸ Oscar Awards, Festival du Film
Américains, dsb.
Penyebaran film Prancis, sudah sejak lama sampai di Indonesia. Beberapa
film Prancis terkenal yang sudah pernah ditayangkan di Indonesia yakni: Taxi 1, 2
dan 3, Plan Parfait, Intouchable, Le guetteur, Mobius, Zarafa, L’amour et
Turbulance, L’écume du Jour dan "Comme un Chef".
"Comme un Chef" merupakan salah satu film yang sangat populer di
Prancis. Film ini telah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Pada film ini juga
banyak ditemukan pesan pendidikan karakter seperti: kerja keras, idealisme, jujur,
bertanggung jawab, cerdas, sabar, dan kesetiakawanan. Namun, ketika peneliti
menonton film tersebut dengan subtitle berbahasa Indonesia, peneliti menemukan
hal-hal yang ganjil dan tidak sesuai dengan pesan moral yang dikandung oleh film
tersebut. Keganjilan tersebut berupa kalimat yang dianggap kurang berterima baik
dari aspek budaya atau aspek kebahasaan dalam bahasa sasarannya, yakni bahasa
Misalnya:
Tsu.: Bocuse, je
Nom pron. verbe m’ en tape.
Bocuse, saya ku nya memukul.
Tsa. : Bocuse bisa meniup keluar dari pantatnya.
(Comme un Chef : 00:03:26,088 --> 00:03:28,397)
Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa subtitle pada kalimat "Bocuse, je
m’en tape" menjadi "Bocuse bisa meniup keluar dari pantatnya". Penerjemahan
ini tampak sukar untuk dipahami, karena orang Indonesia tidak mengenal siapa
tokoh Bocuse tersebut. Kemudian kata "pantat" juga terasa tabu dan berbenturan
dengan budaya Indonesia. Karena, kata tersebut merupakan ungkapan yang sering
disebutkan untuk menghardik atau menghina orang lain.
Dari terjemahan di atas peneliti menganggap penerjemah subtitle itu
menggunakan metode penerjemahan bebas (free translation) dimana teks dalam
bahasa sumber diterjemahkan secara bebas ‘je m’en tape’ ini pada dasarnya
berasal dari subjek ‘Je’ (saya) dan verba ‘s’en taper’ (memukul/ acuh/ mengejek/
tidak tertarik). Dalam penerjemahan tersebut terlihat jelas bahwa tata bahasa
Prancis yakni subjek "je" dan verba pronominal (dalam hal ini, verba yang
bermakna bahwa pelaku dan objek kata kerjanya adalah sama) "s’en taper" sama
sekali tidak tampak dalam teks sasaran yakni menjadi "bisa meniup keluar dari
pantatnya". Mengapa kalimat ini diterjemahkan demikian karena pada saat itu
pemilik restoran sedang marah terhadap Jacky Bonnot dan menganggap
kemampuan Jacky Bonnot tidak sebanding dengan kemampuan Bocuse yang
merupakan juru masak yang sangat terkenal dan handal, karena Jacky Bonnot
Bocuse. Kemudian Jacky Bonnot juga telah mengecewakan pelanggan restoran
tersebut dengan cara mengganti menu yang dipesannya dengan menu yang dipilih
oleh sang koki. Penggantian menu tersebut terjadi karena Jakcy Bonnot merasa
menu yang dipilih oleh pelanggan tersebut tidak berkualitas dan tidak sesuai
dengan jenis anggur yang diminumnya. Dalam budaya Prancis anggur putih
diminum jika mengkonsumsi daging yang berwarna putih misalnya daging ikan
atau unggas dan anggur merah jika mengkonsumsi daging yang berwarna merah
misalnya daging sapi, babi, domba, kambing dsb. Menurut peneliti kalimat
tersebut sebaiknya diterjemahkan menjadi Bocuse, aku tidak perduli, karena
sebenarnya kata kerja s’en taper juga masih memiliki arti lain yakni tidak menarik
namun untuk tetap menjaga unsur sintaksis yang terdapat dalam bahasa sasaran
maka subjek je yang sepadan dengan kata aku dalam bahasa Indonesia masih
dapat dipertahankan.
Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa dalam penerjemahan
subtitle "Comme un Chef" tersebut masih terdapat hal yang tidak jelas, kemudian
tabu, dan bahkan tidak berterima dalam bahasa Indonesia. Ketidakberterimaan
tersebut pada hakekatnya disebabkan oleh ketidaktepatan metode penerjemahan
yang digunakan oleh penerjemah. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Machali
(2009:78): “metode penerjemahan berkenaan dengan rencana dalam pelaksanaan
penerjemahan yang meliputi 3 tahap yaitu analisis, pengalihan, dan penyerasian
dimana ketiga tahapan tersebut harus dilalui oleh seorang penerjemah”. Jika
ketiga hal tersebut dilalui dengan baik maka tidak akan muncul terjemahan yang
" Thereby, the quality of a text can be assessed by two features: 1) Its inteligibility (the translation is understandable) and 2) its fidelity (the message transmitted by the translation corresponds exactly to the original message).”
Yang artinya adalah kualitas terjemahan dapat dinilai melalui dua hal yaitu mudah
dipahami dan pesan yang disampaikan benar sesuai dengan pesan yang
terkandung dalam bahasa sumber dengan tetap menghormati budaya sasaran.
Selain contoh di atas, pada subtitle film tersebut juga ditemukan
istilah-istilah kulinari dan nama masakan dalam bahasa Prancis yang terkadang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia namun tidak sedikit yang tetap ditulis
dalam bahasa Prancis dalam versi terjemahan berbahasa Indonesia dari teks cerita
film “Comme un Chef “ tersebut.
Misalnya :
Tsu: “La blanquette pour la 11.
Art. nom pré. Art. Adj. de quantité. " Itu blanquette untuk sebuah 11
Tsa: “Blanquette untuk 11”.
(Comme un Chef: 00:02:17,140 --> 00:02:18,774)
Pada teks di atas dapat diketahui bahwa metode penerjemahan yang
digunakan adalah metode harafiah (literal traslation) dimana kata "la blanquette"
dipadankan dengan "Blanquette" kata "pour" diterjemahkan dengan "untuk"
dalam bahasa Indonesia dan "11" dengan "11". Metode Penerjemahan harafiah
(literal traslation) juga dibuktikan melalui tata urutan kata yang sama sekali tidak
mengalami perubahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Machali (2009:78) yakni: "
Metode penerjemahan harafiah (literal translation) adalah « …jenis ini biasanya
Tsa langsung diletakkan di bawah versi Tsu, kata-kata dalam Tsu biasanya
apa adanya". Jika dianalisis lebih jauh Blanquette adalah salah satu makanan
Prancis yang sangat terkenal yakni berupa daging (unggas, sapi muda, atau ikan,
domba) yang direbus dengan menggunakan krim putih dan telur. Jenis masakan
ini masih dapat dipadankan dengan daging gulai putih (daging gulai kurma), yang
memang masih ada dalam jenis masakan indonesia. Hal tersebut dapat dipadankan
karena untuk blanquette dan memasak daging dalam tradisi kulinari indonesia
tradisional tidak pernah menggunakan krim tetapi pada umumnya menggunakan
santan, dalam hal ini santan dapat dipadankan dengan krim.
Berdasarkan pengalaman pribadi peneliti yang pernah tinggal selama 1
bulan di Prancis dalam rangka mengikuti pelatihan bagi pengajar bahasa Prancis
bagi penutur Asing (Fle), peneliti pernah mencicipi hidangan Blanquette tersebut,
dan telah membuktikan bahwa cita rasa masakan Blanquette tersebut sama dengan
cita rasa hidangan daging gulai putih atau sering disebut dengan daging gulai
kurma.
Berdasarkan fakta tersebut belum dapat diketahui mengapa penerjemah
teks lisan pada film "Comme un Chef" tersebut masih tetap menggunakan bahasa
aslinya, padahal sebenarnya nama jenis masakan tersebut dapat dipadankan
dengan salah satu masakan Indonesia. Jika penerjemah tetap menggunakan kata
"Blanquette" pada terjemahannya, dapat diketahui bahwa kata "Blanquette" itu
akan mengaburkan pemahaman penonton terhadap pesan yang dikandung oleh
bahasa sumbernya, karena penonton hanya akan mengetahui bahwa itu nama
makanan namun tidak mengetahui makanan apa. Hal ini bertentangan dengan
teori yang diutarakan oleh Dolet dalam Munday (2001:26) yakni: "La manière de
l’auteur afin d’éviter l’obscurité." Yang artinya penerjemah harus memahami
betul makna yang dimaksudkan oleh penulis, dan oleh sebab itu dia harus
menghindari kerancuan atau ketidakjelasan dalam terjemahannya. Sementara
penggunaan kata "Blanquette" tersebut sama sekali tidak jelas bagi penonton yang
dalam hal ini berbahasa Indonesia. Hal tersebut yang menjadi pertanyaan bagi
peneliti mengapa metode penerjemahan harafiah (literal translation) digunakan
oleh penerjemah, padahal metode tersebut merupakan metode yang berbasis pada
teks sumber dan biasanya tidak lazim digunakan.
Dari segi pergeseran (shifts) tidak ditemukan karena seluruh unsur kata
dan tata bahasa dalam kalimat ini tidak mengalami pergeseran.
Contoh lain :
Tsu.: "Dans ce cas, on va se replier vers l' entrecôte -frites
Pré. Adj. nom Pron. Verbe verbe pré. Art. Nom compose. ."
Dalam ini hal, kita pergi melipat kearah itu steak -kentang goreng
Tsa.: “Dalam hal ini, steak dan kentang goreng akan menjadi lebih baik.”
(Comme un Chef: 00:02:58,530 --> 00:03:02,980)
Metode penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan teks di atas
adalah metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation). Penggunaan
metode tersebut dapat dilihat dari penerjemahan yang mengacu pada makna dan
budaya yang dimaksudkan oleh teks sumber yang dipadankan ke dalam teks
bahasa sasaran dengan mempertimbangkan keberterimaan dan kelaziman dalam
teks sasaran. Maksud keberterimaan dan kelaziman dalam hal ini adalah makna
kata kerja “va se plier” itu sebenarnya mengandung makna “cocok” atau sesuai
karena konteks kalimat pada teks ini adalah pelanggan memadukan menu yang
menu steak dan kentang goreng. Kemudian proses adaptasi juga terlihat melalui
pemadanan frasa “l'entrecôte-frites” dengan steak dan kentang goreng yang
memang masih terdapat dalam ranah kulinari Indonesia modern. Kemudian
penghilangan kata “vers” dan kata sandang “l’’ juga merupakan bukti penerapan
metode adaptasi dalam penerjemahan subtitle film ini.
Dianalisis dari segi pergeseran (shifts), dapat diketahui bahwa pada
penerjemahan subtitle film berbahasa Prancis di atas terjadi pergeseran kelas kata
yakni kata kerja “va” (future proche) bergeser menjadi “akan” yang merupakan
adverbia dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya kata “se plier” diterjemahkan
menjadi “lebih baik” yakni merupakan adjektiva dalam bahasa Indonesia.
Seluruh keganjilan dan ketidakkonsistenan penerjemah dalam
menerjemahkan dialog film berbahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia tidak
akan terjadi jika penerjemahan menggunakan metode penerjemahan dan
pergeseran penerjemahan (shifts) yang tepat. Oleh sebab itu, peneliti menganggap
bahwa penelitian tentang metode dan pergeseran penerjemahan pada film
“Comme Un Chef” tersebut penting untuk dilakukan.
1.2 Perumusan Masalah
Pada umumnya penelitian dilakukan karena adanya kesenjangan antara
harapan dengan kenyataan, yang akan ditemukan penyelesaiannya. Masalah
tersebut penting untuk dirumuskan agar penelitian yang dilakukan terarah, ilmiah
dan sistematis, sehingga dapat diketahui mana masalah yang harus dipecahkan
terlebih dahulu dan mana yang akan diselesaikan berikutnya. Oleh sebab itu
1. Metode penerjemahan apa saja yang ditemukan pada subtitle film
berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?
2. Metode penerjemahan apa saja yang efektif pada subtitle film berbahasa
Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?
3. Pergeseran penerjemahan apa saja (shifts) yang terjadi pada subtitle film
berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang telah
dirumuskan dalam sub-bab sebelumnya. Tujuan penelitian ini terdiri atas :
1. Menjelaskan metode penerjemahan yang ditemukan pada subtitle film
berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.
2. Menjelaskan metode penerjemahan yang efektif, pada subtitle film
berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.
3. Menjelaskan pergeseran (shifts) penerjemahan yang terjadi pada subtitle
filmberbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini diselesaikan, maka hasil penelitian tersebut memberikan
manfaat baik secara teoretis maupun praktis. Manfaat teoretis merupakan manfaat
yang dapat memperkaya kajian penerjemahan. Sedangkan manfaat praktis adalah
manfaat yang dapat disaksikan langsung secara kasat mata karena dapat
digunakan secara langsung oleh khalayak pembaca penelitian ini. Adapun manfaat
1.4.1 Manfaat Teoretis
1. Sebagai pedoman bagi penerjemah pemula khususnya mengenai
metode dalam penerjemahan ujaran dari bahasa Prancis ke dalam
bahasa Indonesia.
2. Sebagai acuan atau pedoman bagi penerjemah pemula khususnya
mengenai pergeseran (shifts) dalam penerjemahan kata, atau frasa dari
bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.
3. Sebagai pedoman bagi penerjemah khsususnya pada penerjemahan
teks kulinari dalam bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.
4. Menambah referensi penerjemahan teks kulinari dalam bahasa Prancis
ke dalam bahasa Indonesia.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Sarana promosi kebudayaan Prancis yang tercermin melalui kehidupan
masayarakat Prancis yang ditampilkan dalam bentuk film yang dalam
hal ini menyangkut gastronomi/kulinari Prancis.
2. Mempresentasikan metode penerjemahan secara lebih fokus, teknis
dan praktis bagi para pembelajar atau penerjemah pemula, dalam
menerjemahkan ujaran berbahasa Prancis ke dalam teks tulis bahasa
Indonesia.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Sebuah penelitian yang baik, harus memiliki ruang lingkup yang jelas.
Ruang lingkup merupakan batasan kajian dan objek dari sebuah penelitian. Ruang
Chef" dalam bahasa Indonesia yang terdiri atas 1555 ujaran dengan durasi film
selama 1 jam 25 menit karya Daniel Cohen dengan pemutaran perdana pada
tanggal 7 Maret 2012. Proses pengumpulan, penganalisisan dan pengolahan data
berbasis pada produk terjemahan.
Objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah metode penerjemahan
menurut teori Newmark (1988), serta pergeseran (shifts) yang terdapat pada
subtitle film berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia
berdasarkan teori Catford (1965).
Dari beberapa teori tentang metode penerjemahan, teori yang
dikemukakan oleh Newmark, merupakan teori yang dianggap paling lengkap dan
dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Untuk mengkaji pergeseran
(shifts) dalam penerjemahan, peneliti menggunakan teori Catford, karena teori
tersebut mendeskripsikan dengan lugas, lengkap dan luas tentang pergerseran
tingkatan maupun kelas kata yang terjadi dalam penerjemahan bahasa Prancis ke
dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya.
1.6 Klarifikasi Makna Istilah
Setelah menjelaskan ruang lingkup penelitian pada bagian sebelumnya,
langkah selanjutnya adalah klarifikasi makna istilah. Hal ini disebabkan karena
ragam makna yang dikandung oleh setiap istilah bervariasi. Variasi tersebut
menyebabkan terjadinya pemahaman yang beragam pula, walaupun dari satu
istilah yang sama. Atas dasar tersebut peneliti mengklarifikasikan setiap istilah
dalam penelitian ini, agar setiap istilah yang dimaksudkan menjadi jelas, utuh dan
1. Subtitle adalah teks yang merupakan hasil terjemahan dialog sebuah film, teks
terjemahan tersebut ditayangkan secara bersamaan sesuai dengan urutan
kejadian dan gambar dalam film, yang lazimnya diletakkan di bagian bawah
layar, Hoed (2006:107-108).
2. Film adalah media komunal, perpaduan dari berbagai teknologi dan
unsur-unsur kesenian baik secara rupa, teater, sastra, arsitektur dan musik. Film
merupakan perpaduan dari perkemabangan teknologi fotografi dan rekaman
suara, Trianton (2013:2)
3. Teks sumber dan teks sasaran; teks sumber adalah teks awal berupa kata,
frasa, atau kalimat yang memiliki makna kontekstual yang akan diterjemahkan
ke dalam bahasa lain (bahasa sasaran), artinya teks akan diterjemahkan,
sementara teks sasaran adalah teks berupa kata, frasa atau kalimat yang
memiliki makna kontekstual yang sepadan dan merupakan hasil terjemahan
dari bahasa, (Baker: 20-26)
4. Penerjemahan adalah pengkonstruksian ulang kalimat dari bahasa sumber ke
dalam bahasa sasaran dengan menggunakan padanan kata yang dianggap
paling lazim dan berterima dengan bahasa sasaran agar penerjemahan
sempurna dalam segala aspek baik aspek sintaksis, semantik, gaya bahasa dan
pragmatik, Nida &Taber (1982).
5. Metode penerjemahan adalah cara yang digunakan penerjemah dalam
menerjemahkan kalimat secara utuh, dan bukan cara yang digunakan
penerjemahan dalam menerjemahkan kata atau frasa yang menyusun suatu
dan bukan secara mikro atau pada satuan kata atau frasa yang terdapat dalam
satu kalimat, Newmark (1988).
6. Pergeseran (Shifts) dalam hal ini terbagi atas dua jenis yakni, yaitu
pergeseran tingkatan (level shifts) dan pergeseran kelas kata (category shifts),
(Catford 1965).
7. Efektif dalam penelitian ini bermakna bahwa metode penerjemahan yang
digunakan oleh penerjemah tepat guna dalam memadankan makna yang
dikandung oleh bahasa sumber dengan bahasa sasaran serta pemahaman yang
sama baik pada penonton film dalam bahasa sumber maupun bahasa sasaran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS
2.1 Tinjauan Pustaka
Kerangka teoretis merupakan kajian tentang referensi teoritis dan pendapat
para ahli yang dijadikan dasar ilmiah dalam sebuah penelitian. Dalam kerangka
teoretis juga dibahas tentang teori yang dianut dan dijadikan alat untuk
menganalisis data dalam penelitian ini. Oleh sebab itu dalam bab II ini, peneliti
akan menyajikan kajian tentang teori-teori para ahli yang digunakan dalam
penelitian ini.
2.2 Teori tentang Penerjemahan
Dalam dunia penerjemahan terdapat 3 istilah yang tidak dapat dipisahkan
keberadaanya antara satu dengan yang lain. Istilah tersebut adalah, penerjemahan,
penerjemah dan terjemahan. Ketiga istilah tersebut akan secara otomatis muncul
jika salah satu di antaranya muncul. Hal tersebut selaras dengan pendapat Machali
(2009:7): Penerjemahan berasal dari kata terjemah yang jika kata tersebut muncul
maka kata penerjemah, terjemahan dan penerjemahan akan secara bersamaan
muncul. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini akan dijelaskan ketiga istilah
2.2.1 Penerjemahan
Penerjemahan, penerjemah dan terjemahan itu, pada hakekatnya berasal
dari satu kata dasar verba yakni “terjemah”. Seperti yang tercantumkan dalam
buku Livre Blanc de la Traduction yang tercantum pada situs :
" Traduction vient du verbe traduire consiste à faire passer un texte ou un discours d'une langue à une autre. Autrement dit, pour traduire un texte, deux éléments sont indispensables : la parfaite compréhension du texte source, et la connaissance de la formulation équivalente dans la langue cible, qui doit être la langue maternelle du traducteur – car la règle d’or en traduction est que l’on ne traduit que vers sa langue maternelle."
Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa, penerjemahan berasal dari
kata kerja menerjemahkan, yang terdiri atas kegiatan memadankan suatu teks dari
satu bahasa ke dalam bahasa lainnya. Dengan kata lain dalam melakukan
penerjemahan setidaknya harus ada dua unsur penting yaitu; kesempurnaan
pemahaman isi dari teks sumber, dan pengetahuan tentang reformulasi kalimat
yang sepadan baik isi maupun tata bahasa ke dalam bahasa sasaran yang
sebaiknya merupakan bahasa ibu penerjemah karena itu akan menjadikan
terjemahan lazim, berterima dan akurat.
Hal ini selaras dengan pendapat Larrousse (2014:789):
"Traduction est une action de
langue, une énonciation dans une autre langue (ou langue cible) de ce qui a été énoncé dans une langue (la langue source), en conservant les équivalences sémantiques et stylistiques.
Yang artinya adalah penerjemahan itu adalah suatu aksi dari kata "terjemah",
dimana suatu kalimat ditransposisikan ke dalam bahasa lain, yang maksudnya
adalah sebuah pernyataan dalam satu bahasa yang disebut bahasa sumber
menjaga bentuk makna dan gaya bahasa sumbernya. Dalam bahasa Prancis teks
atau bahasa sumber disebut dengan "la langue source" dan teks atau bahasa
sasaran disebut "la langue cible". Rochard (2014 :13) juga menyatakan hal yang
hampir sama dengan Larrousse yakni:
"La traduction est donc bien un exercice de compréhension et de
réexpression d’un discours. Cet exercice suppose la mobilisation de connaissances linguistiques et thématiques, mais alors que la compréhension peut être relativement passive, la réexpression nécessite une maîtrise active des discours équivalents (modalités d’expression de la langue d’arrivée, adaptation à la terminologie et à la phraséologie du domaine de travail). C’est la raison pour laquelle on traduit généralement vers sa langue maternelle."
Artinya, penerjemahan adalah kegiatan pemahaman dan penuangan
kembali ekspresi dalam bahasa sasaran. Kegiatan tersebut membutuhkan
pemahaman yang baik mengenai aspek linguistik dan tema teks yang akan
diterjemahkan, namun pemahaman tersebut merupakan hal yang mungkin saja
bersifat pasif, tetapi hal yang terpenting adalah ketika menuangkan kembali
makna yang dikandung bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran penerjemah harus
memiliki kemampuan aktif untuk dapat diaplikasikan dalam menemukan dan
melakukan pemadanan antara kedua bahasa tersebut (penggunaan modalitas,
adaptasi yang tepat pada penggunaan istilah dan perumusan kata dalam kalimat).
Hal inilah yang menyebabkan bahwa seorang penerjemah harus melakukan
penerjemahan ke dalam bahasa ibunya.
Pendapat berikutnya, dinyatakan oleh ahli penerjemah yang sangat populer
yakni Newmark (1988:30) menyatakan bahwa: “Translation is rendering the
meaning of the text into another language in the way that the author intended the
text.” Penerjemahan makna suatu teks ke dalam bahasa lain sesuai dengan
Berkaitan dengan hal ini Nida & Taber (1982:17) juga menyatakan bahwa:
“Penerjemahan merupakan penuangan kembali makna kalimat ke dalam bahasa
sasaran dengan menggunakan padanan kata yang dirasakan paling berterima dan
lazim dengan bahasa sumber agar hasil terjemahan tersebut sempurna, baik dari
aspek sintaksis, semantik, gaya bahasa dan pragmatik.”
Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas dapat diketahui bahwa
penerjemahan adalah proses pemadanan makna kata, frasa, klausa atau kalimat
dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan menggunakan gaya bahasa,
unsur sintaksis, dan pragmatik yang disampaikan secara natural, baik, benar dan
berterima dalam bahasa sasaran.
2.2.2 Jenis-jenis penerjemahan
Jenis-jenis penerjemahan yang dikemukakan oleh Jakobson dalam
Munday (2001:5): Penerjemahan terdiri atas 3 kategori yaitu: penerjemahan
intralingual, interlingual, dan intersemiotika. Penerjemahan intralingual adalah
penerjemahan bahasa verbal yang diterjemahkan dengan bahasa verbal dalam
bahasa yang sama. Misalnya kata “observer” (mengamati) dalam bahasa Prancis
kemudian diterjemahkan menjadi “regarder avec l’intention” masih dalam bahasa
yang sama yakni bahasa Prancis yang artinya menjadi melihat sesuatu dengan
perhatian penuh. Penerjemahan jenis yang kedua yaitu penerjemahan interlingual
yang merupakan penerjemahan satu kata, frasa, kalimat atau teks dari bahasa
sumber ke dalam bahasa sasaran yakni antara dua atau lebih bahasa yang berbeda
Tsu. : "Tu fais pas chier à la décoration Pron. Verbe Adv. Verbe Inf. Pré Art. Nom ." Tsa1. : "Lupakan dekorasi."
Tsa2. : “Forget the decoration.”
(Comme un Chef: 00:02:24,429 --> 00:02:27,922 )
Pada contoh di atas, teks sumbernya adalah bahasa Prancis yang kemudian
diterjemahkan ke dalam dua bahasa sasaran yang berbeda yakni bahasa Indonesia
dan bahasa Inggris. Contoh penerjemahan yang dicantumkan pada contoh di atas,
merupakan jenis penerjemahan interlingual, yakni, teks yang berasal dari satu
bahasa sumber diterjemahkan ke dalam bahasa lain yang merupakan bahasa dari
negara yang berbeda dengan negara asal bahasa sumbernya yang dalam hal ini
adalah negara Indonesia dan Inggris.
Selanjutnya penerjemahan jenis yang ketiga adalah penerjemahan
intersemiotika yaitu penerjemahan yang berasal dari bahasa non-verbal seperti,
warna, gambar, simbol, suara yang bukan berasal dari manusia, atau mimik dan
sebagainya. Misalnya: bunga mawar merah biasanya melambang tanda cinta,
bendera merah, kuning atau putih biasanya melambangkan kematian. Suara
burung gagak biasanya melambangkan akan adanya berita kemalangan dsb.
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa jenis
penerjemahan itu muncul karena tahapan bagaimana perwujudan proses
penerjemahan itu direalisasikan, dan bukan hanya pada bahasa verbal saja tetapi
juga pada bahasa non-verbal. Hal ini karena pada hakekatnya bahasa itu bukan
hanya yang diucapkan atau yang dituliskan tetapi juga yang disimbolkan melalui
Hal ini selaras dengan pendapat Delatour et Jennepin (2000) : “La langue
se divise en 4 grandes parties, la langue orale, langue écrite, langue gestuelle et
langue symbolique." Yang maksudnya adalah bahasa itu dibagi dalam 4 kategori
yaitu bahasa lisan, tulisan bahasa tubuh dan bahasa simbol.
2.2.3 Prasyarat seorang Penerjemah
Seorang penerjemah sebaiknya merupakan sosok yang memiliki
pengetahuan linguistik, dan budaya yang hampir sempurna dalam dua bahasa
yang diterjemahkannya, dan syarat berikutnya adalah penerjemah merupakan
sosok yang berwawasan luas dan mengetahui kaedah-kaedah penulisan dalam
bahasa yang digelutinya. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Dubois
dalam www.a4traduction.com (2014 :1):
“Les traducteurs sont des professionnels diplômés, spécialisés dans une ou plusieurs disciplines d’un domaine (par exemple, un traducteur médical peut être uniquement spécialisé en cardiologie).
Yang artinya adalah penerjemah adalah merupakan seorang yang profesional, ahli
dalam sebuah atau beberapa bidang ilmu misalnya penerjemah dalam bidang
kesehatan bahkan sebaiknya juga mengambil spesialis misalnya khusus
penerjemah teks kesehatan yang berhubungan dengan jantung misalnya. Ibrahim
dalam kuliah umum tentang Types & Processes of Interpreting menyatakan
bahwa (2012:4): “Translators need to be familiar with the rules of written
language and be competent writers in the target language”. Artinya adalah
seorang penerjemah harus memahami dengan baik tatacara dan sistematika
Dari uraian di atas, dapat diperoleh intisari bahwa prasyarat seorang
penerjemah itu terdiri atas tiga aspek utama yakni seorang ahli yang memiliki
kemampuan dan pengetahuan yang mendalam baik pada bidang kebahasaan,
budaya, dan keterampilan dalam menulis dalam bahasa yang diterjemahkannya.
2.2.4 Budaya dan Penerjemahan
Menurut Bell (2012:4): ”Translation is a multilevel; linguistic, cognitive,
social and cultural.” Maksudnya adalah penerjemahan itu meliputi segala aspek
kebahasaan, kognitif, kehidupan sosial dan kultural. Hal tersebut disampaikan
oleh Bell pada saat kuliah umum di Pascasarjana Program Studi Linguistik
tanggal 5 oktober 2012 dalam bentuk power point. Jika pendapat ini dijabarkan
maka dapat dijelaskan bahwa dalam penerjemahan, keempat aspek tersebut saling
terikat antara yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan bahwa
penerjemahan itu melibatkan unsur yang disebut bahasa dan bahasa berkembang
sesuai dengan kehidupan dan perkembangan budaya dimana bahasa itu berada.
Menurut Newmark (1988:95): penerjemahan yang menyangkut gejala
kebudayaan dapat dikategorikan berdasarkan hal-hal berikut ini:
a. Ekologi misalnya: ‘causse’ yang berarti dataran tinggi batu kapur di
selatan Prancis.
b. Benda-benda budaya:
- Makanan : ‘kolak’, ‘rendang’, ‘blanquette’ (makanan
khas Prancis sejenis makanan daging yang
- Pakaian : ‘gerita’, ‘blangkon’ ‘saroel’ (celana khas
Prancis)…
- Transportasi : ‘rakit’, ‘getek’, ‘sado’, dan ‘becak’
c. Sosial budaya : Mémé (nenek), opung boru, ‘meresek’,
‘intox’ (April mop), dsb.
Lebih lanjut akan diberikan contoh ilustrasi berikut ini. Misalnya, untuk
mengatakan “topi”, pada masyarakat Eropa khususnya memiliki beberapa kata
untuk menyebutkan jenis-jenis “topi”. Prancis yang merupakan salah satu negara
di benua Eropa yang mengenal 4 musim. Pada umumnya di setiap musim tersebut
terdapat perbedaan cuaca yang sangat ekstrim, sehingga, untuk mengatakan topi
saja dikenal beberapa istilah yakni: “une toque”, “un bonnet”, un “chapeau”,
“une casquette”. Keempat jenis topi ini digunakan dalam suasana yang berbeda.
Contoh lain yaitu, untuk mengatakan baju hangat, dalam bahasa Prancis baju
hangat diucapkan dengan beberapa istilah, misalnya: “un pull", "un blouson”, "un
impermeable", dan "un anorak", dan yang lebih kompleksnya lagi, untuk “un
pull” masih dapat dibagi ke dalam beberapa jenis yaitu "un pull over en V", "un
pull ras du coup", et "un pull col rolé". Perbedaan jenis pakaian yang hanya
dipadankan dengan satu kata dalam bahasa Indonesia ini, dikarenakan perbedaan
musim antara Indonesia dan Prancis. "Un bonnet" atau "un toque", serta "un
anorak" dan "un pull" biasanya hanya dikenakan pada musim dingin (salju).
Sementara dalam budaya Indonesia tidak terdapat musim salju sehingga untuk
mengatakan “une toque”, “un bonnet”, “un chapeau”, “une casquette”, cukup
dengan satu kata saja yaitu topi, dan begitu juga dengan baju hangat tadi. Jika
sama yakni misalnya untuk mengatakan kata "saya" dapat diungkapkan dengan
"aku", "hamba", dan "daku" sementara dalam bahasa Prancis kata tersebut hanya
dinyatakan dengan satu kata yaitu "Je". Hal ini disebabkan oleh keberadaan
bahasa daerah yang memang cukup variatif dan kaya di Indonesia namun dalam
bahasa Prancis tidak demikian adanya (Gregoire:1998).
2.3 Teori tentang Metode Penerjemahan
Terdapat beberapa pendapat ahli tentang metode penerjemahan. Menurut
Dryden (2001:25) dalam Munday metode penerjemahan dibagi dalam tiga
kategori yaitu:
“He reduces all translation to three categories:
1. ‘Metaphrase’: word-by-word and line by line translation, which corresponds to literal translation;
2. Paraphrase, translation with latituted, where the author is kept in view by the translator, so as never to be lost, but his words are not so strictly followed as his sense; this involves changing whole phrases and more or less corresponds to faithful or senes-for-sense translation. 3. ‘Imitation’: ‘Forsaking’ both words and sense; this corresponds to
Cowley’s very free translation and is more or less adaptation.”
Maksud dari teori tersebut adalah pengklasifikasian seluruh metode penerjemahan
dibagi ke dalam 3 kategori yaitu: ‘metafrasa’ yakni penerjemahan kata-demi-kata,
baris per baris yang menyerupai penerjemahan harafiah yang dalam hal ini kata,
atau kalimat dalam bahasa sasaran yang diterjemahkan hanya dengan
memindahkan kata tersebut ke dalam bahasa sasaran. Kemudian penerjemahan
metode yang kedua yakni parafrasa penerjemahan yang bebas, dimana maksud
penulis dalam bahasa sumber tetap dipegang teguh oleh penerjemah, reformulasi
kalimatnya tidak persis sama atau dapat berubah bentuk namun makna yang
dengan bahasa sumber. Dan metode yang ketiga yakni penerjemahan imitasi
proses penerjemahan dengan adaptasi artinya teks dalam bahasa sumber
diterjemahkan sedemikian rupa ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan jenis
tersebut hampir menyerupai penerjemahan adaptasi.
Selanjutnya adalah metode penerjemahan menurut Thrasher (1998:3).
Thrasher menyatakan bahwa ada 4 jenis metode penerjemahan. Keempat metode
penerjemahan tersebut adalah penerjemahan harafiah atau sangat harafiah (literal
or highly literal translation), pemadanan bentuk, orientasi bentuk dan modifikasi
harafiah (
Dalam penelitian ini, teori yang dijadikan alat untuk menganalisis data
adalah teori dari pakar penerjemahan terkemuka yaitu Newmark. Teori metode
penerjemahan menurut Newmark merupakan hal yang tidak asing bagi pembelajar
bidang penerjemahan, namun berdasarkan hasil pencarian data dan kajian pustaka Formal Equivalence, Form-Oriented or Modified Literal), pemadanan
fungsi kata, orientasi konteks, idiomatik atau pemadanan dinamis (Functional
Equivalence, Context-Oriented, Idiomatic or Dynamic Equivalence) serta jenis
keempat adalah (paraphrase or unduly Free). Dari keempat jenis metode
penerjemahan yang diutarakan oleh Thrasher tersebut, dapat diketahui bahwa ahli
tersebut mencampur baur beberapa jenis metode penerjemahan ke dalam satu
jenis metode penerjemahan. Proses pemahaman terhadap teori tersebut sudah
dilakukan namun peneliti menganggap bahwa keempat jenis metode
penerjemahan tersebut sulit untuk dipahami apa lagi untuk diaplikasikan dalam
analisis serta tidak representatif, sehingga tidak dapat menjawab seluruh
permasalahan metode penerjemahan yang dikemukakan pada latar belakang
yang dilakukan peneliti sampai tanggal 14 Januari 2014 belum ada penelitian
yang mengaplikasikan metode tersebut khususnya dalam penelitian subtitle film
berbahasa Prancis dalam bahasa Indonesia. Teori Newmark tersebut dianggap
paling lengkap, praktis dan dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
Oleh sebab itu dalam penelitian ini, digunakan teori Peter Newmark karena
dianggap paling representatif, sesuai dan tepat untuk menganalisis data dalam
yang terdapat pada subtitle film berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam
bahasa Indonesia. Menurut Newmark (1988:41-42), metode penerjemahan terdiri
dari 8 jenis. Kedelapan jenis metode tersebut adalah penerjemahan kata demi kata
(word-for-word translation), penerjemahan harafiah (literal translation),
penerjemahan setia (faithful translation), penerjemahan semantik (semantic
translation), penerjemahan adaptasi (adaptation translation), penerjemahan bebas
(free translation), penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dan
penerjemahan komunikatif (communicative translation).
2.3.1 Penerjemahan Kata demi Kata (Word-for-word Translation)
Penerjemahan kata demi kata (Word-for-word translation), yakni
penerjemahan yang dilakukan dengan cara menerjemahkan setiap kata yang
terdapat dalam teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Unsur linguistik
seperti tata bahasa, makna kata masih diterjemahkan apa adanya. Pada
penerjemahan jenis tersebut belum terdapat pemadanan budaya. (Machali,
Contoh:
Tsa.: Segera, segera kau akan lihat.
(Comme un Chef : 00:04:34,728 --> 00:04:49,401)
Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa teks sumber diterjemahkan apa
adanya sesuai dengan aspek bahasa dan urutan kata dalam teks sumbernya. Pada
penerjemahan tersebut tidak ditemukan adanya perubahan sintaksis atau kultural.
Teks bahasa sumber benar-benar hanya melalui proses pemadanan kata saja.
(Hoed, 2006:56).
2.3.2 Penerjemahan Harafiah (Literal Translation)
Penerjemahan harafiah yakni: penerjemahan yang dilakukan dengan
tahapan menerjemahkan setiap kata dalam teks sumber ke dalam teks sasaran
namun sudah dilakukan perubahan pada struktur tata bahasanya. Dalam metode
ini penerjemahan kata-kata dalam bahasa sumber diganti secara langsung ke
dalam bahasa sasaran dan sudah mengikuti tata bahasa dalam bahasa sasaran.
(Machali, 2009:78)
Tsa. : Saya merasa tidak ada emosi.
Pada teks bahasa sumber ditemukan metode penerjemahan harafiah karena
seluruh kata yang terdapat pada teks sumber hanya dialihkan begitu saja ke dalam
bahasa sasaran tanpa adanya penyelarasan konteks di mana teks itu terjadi. Dalam
hal ini dapat diketahui bahwa penerjemahan ini adalah penerjemahan harafiah
dimana pemdanan kata secara leksikal dan gramatikal benar-benar hanya
mengalihkan setiap kata yang terdapat pada bahasa sumber ke dalam bahasa
sasarannya.
2.3.3 Penerjemahan Setia (Faithful Translation)
Penerjemahan setia (faithful translation), dalam metode ini, penerjemahan
benar-benar mengacu pada bentuk dan isi teks sumber, setiap kata dan stuktur
kalimat yang menyusun teks sumber tetap dipertahankan, namun penerjemahan
katanya sudah mempertimbangkan aspek makna. Penerjemahan ini pada
umumnya terdapat dalam penerjemahan teks puisi, hukum atau ilmiah yakni
dengan cara tetap mempertahankan istilah atau bentuk dalam teks sumbernya.
(Hoed, 2006:57)
Contoh:
Tsu.: Donne- moi de la vanille Verbe Pron.Ton Art. Part. Nom .
Berikan aku beberapa vanila
Tsa. : Berikan aku vanilanya.
(Comme un Chef : 00.07.021- 00.07.044)
Pada bagian ini diceritakan bahwa chef Alexandre sedang dalam proses
penemuan resep terbaiknya. Kemudian dia meminta pada asistennya untuk
yakni kata "donne" yang merupakan mode imperatif. Dalam bahasa Prancis mode
impératif adalah salah satu modus verba yang digunakan untuk menyatakan
perintah atau larangan. Modus verba tersebut ternyata dipadankan juga dengan
kalimat perintah dalam bahasa sasarannya, selain itu, susunan kata dan bentuknya
juga tetap mengikuti bentuk dan susunan dari bahasa sumber, sehingga dapat
dipastikan bahwa metode penerjemahan pada subtitle tersebut adalah metode
penerjemahan setia (faithful translation).
2.3.4 Penerjemahan Semantik (Semantic Translation)
Penerjemahan Semantik (semantic translation) adalah metode penerjemahan
pada umumnya dapat ditandai melalui pemadanan kata-kata kunci dan makna
penting yang dikandung oleh teks sumber yang diterjemahkan ke dalam teks
sasaran. Pada penerjemahan ini tata bahasa sumber sudah disesuaikan dengan tata
bahasa sasaran sehingga bahasanya terasa alamiah dalam bahasa sasaran karena
tidak ada lagi penggunaan kata-kata yang tidak lazim atau ganjil, namun unsur
budaya belum betul-betul diperhatikan dalam penerjemahan jenis ini. Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Machali, 2009 :79: bahwa biasanya jenis penerjemahan
ini dapat ditemukan pada penerjemahan idiom dalam bahasa sumber namun
menjadi kalimat yang bukan idiom dalam bahasa sasaran.
Contoh:
Tsu.: Les auditeurs baîllent comme une
Art. Nom Verbe adverbe Art. Nom carpe.
Itu pendengar menguap seperti sebuah ikan kerapu.
Tsa. : Pendengar bosan dan mengantuk.