• Tidak ada hasil yang ditemukan

Subtitle Film Berbahasa Prancis “Comme Un Chef “ Dalam Bahasa Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Subtitle Film Berbahasa Prancis “Comme Un Chef “ Dalam Bahasa Indonesia"

Copied!
236
0
0

Teks penuh

(1)

SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS

“COMME UN CHEF “ DALAM BAHASA INDONESIA

TESIS

Oleh:

WAHYUNI SA’DAH

127009021

PROGRAM STUDI LINGUISTIK

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS

“COMME UN CHEF “ DALAM BAHASA INDONESIA

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Linguistik Pada Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara

OLEH

WAHYUNI SA’DAH

127009021

PROGRAM STUDI LINGUISTIK

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF”DALAM BAHASA INDONESIA

Nama Mahasiswa : Wahyuni Sa’dah Nomor Pokok : 127009021 Program Studi : Ilmu Linguistik

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Dr. Roswita Silalahi, M. Hum.) (Dr. Mahriyuni. M. Hum. Ketua Anggota

)

Ketua Program Studi, Dekan,

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph. D) (Dr. Syahron Lubis, M. A.)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 21 Agustus 2014

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Roswita Silalahi, M. Hum.

Anggota : 1. Dr. Mahriyuni, M. Hum.

2. Dr. Syahron Lubis, M. A.

3. Dr. Nurlela, M. Hum.

(5)

PERNYATAAN

Judul Tesis

SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF DALAM BAHASA INDONESIA

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat

untuk memperoleh gelar Magister Linguistik pada Program Studi Linguistik

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil

karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu

dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan

sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian

disertasi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam

bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik

yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan

perundangan yang berlaku.

Medan, Agustus 2014

Penulis,

(6)

SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF” DALAM BAHASA INDONESIA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang metode dan pergeseran (Shifts) yang terjadi dalam penerjemahan ujaran pada film berbahasa Prancis

"Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia dengan sumber data berupa film

Prancis "Comme un Chef" yang berdurasi 1 jam 25 menit dengan jumlah 1555 ujaran dan 7387 kata. Seluruh ujaran tersebut dijadikan sebagai data dan diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ke delapan jenis metode penerjemahan yang dikemukakan Newmark, digunakan pada subtitle film tersebut, dengan rincian sebagai berikut, metode penerjemahan

harafiah (literal translation) sebanyak 487 kali pemunculan (31,321%),

selanjutnya metode penerjemahan bebas (free translation) dengan frekuensi 260 kali (16,72%), kemudian penerjemahan komunikaitf (communicative translation) yakni dengan frekuensi 347 kali (32,21%), kemudian metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) 183 kali (11,76%), metode penerjemahan penerjemahan semantik (semantic translation) sebanyak 127 kali (8,16%), metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation) sebanyak 41 kali (2,63%), metode

penerjemahan setia (faithful translation) sebanyak 37 (2,37%) dan metode

penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dengan 1 kali pemunculan

(0,06%), dapat diketahui juga bahwa terdapat 72 ujaran (4,63%) yang tidak diterjemahkan. Penggunaan metode penerjemahan yang seluruhnya efektif adalah

metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) dan metode

penerjemahan idiomatik (idiomatic translation). Pada penerjemahan ujaran pada subtitle film tersebut ditemukan 13 jenis pergeseran kelas kata (category shifts), yang terdiri dari, pergeseran kata kerja menjadi kata benda (KB) sebanyak 17 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata benda (SB) berjumlah 7 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata kerja (SK) 6 kali, pergeseran kata benda menjadi preposisi (BP) 2 kali, pergeseran kata benda menjadi kata keterangan (BKet) 5 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata keterangan (SKet), pergeseran kata keterangan menjadi kata kerja (KetK), pergeseran kata keterangan menjadi kata benda (KetB), pergeseran kata penghubung menjadi kata keterangan (CnjKet), pergeseran preposisi menjadi kata benda (PB) masing- masing 1 kali, pergeseran kata benda menjadi kata kerja (BK) sebanyak 13 kali, pergeseran kata benda menjadi kata sifat (BS) 2 kali, dan pergeseran kata kerja menjadi kata sifat (KS) 12 kali. Pergeseran tingkatan (level shift) yang terjadi pada film sebanyak 11 jenis yakni, pergeseran kata kerja dari kala kini menjadi akan datang (KN) 8 kali, pergeseran kata benda tunggal menjadi kata benda jamak (TJ) 1 kali, pergesaran kala nanti menjadi kala kini (NK) 5 kali, pergeseran kalimat yang bermodalitas menjadi kalimat tidak modalitas (MN) 3 kali, pergeseran pola kalimat pasif menjadi kalimat aktif (AP) 9 kali, pergeseran kala kini menjadi kala lampau (KL) 1 kali, pergeseran dari kata benda jamak menjadi kata benda tunggal (JT) 19 kali, pergeseran modus kata kerja (M) 26 kali, pergeseran bentuk ujaran (U) 6 kali, pergeseran kala lampau menjadi kala kini (LK) sebanyak 43 kali, dan pergeseran kalimat aktif menjadi kalimat pasif (PA) 1 kali.

(7)

FRENCH FILM SUBTITLE “COMME UN CHEF” IN INDONESIAN ABSTRACT

This study aims to assess and to explain the methods and the shifts in translation that occur in French film subtitle "Comme un Chef". The source of data is the French film "Comme un Chef" which lasted for 1 hour and 25 minutes with 1555 utterances. Entire utterance is used as the data. Data were processed by using the descriptive methods.

Based on the analysis, it is concluded that eight translation methods proposed by Newmark were found in French film subtitle "Comme un Chef". The distribution of the eight translation methods types is: the literal translation with 487 times appearances (31.321%), the free translation with 260 times (16.72%), the communicative translation with 347 times (32.21%), then the word-for-word translation with 183 times (11.76%), the semantic translation with 127 times (8.16%), the adaptation translation with 41 times (2.63%), the faithful translation with 3 times (2.37%) and the idiomatic translation with 1 time (0.06%). The effective translation methods are the word-for-word translation and the idiomatic translation. Based on the analysis, the researcher found 13 category shifts and 11 level shifts. The category shifts are: the Shifting of the verb to the noun (KB) 17 times, the shifting of the adjective to the noun (SB) 7 times, the shifting of the adjective to the verb (SK) 6 times, the shifting of the noun to the preposition (BP) 2 times, the shifting of the nouns to the adverbs (BKet) 5 times, the shifting of the adjectives to the adverbs (sketch), the shifting of the adverb to the verb (KetK), the shifting of the noun to the adverb (KetB), the shifting of the conjunctive to the adverb (CnjKet), the shifting of the preposition to the noun (PB) with 1 times, the shifting of the noun to the verb (LB) 13 times, the shifting of noun to the adjective (BS) 2 times, and the

Keywords: subtitle, film, methods, effective, shifts, and translation.

(8)

KATA PENGANTAR

Penulis Mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-NYA kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Selama menulis tesis ini, penulis banyak memperolah bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc, (CTM), Sp.A(K),

selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Syahron Lubis, M. A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sumatera Utara dan Dosen Penguji.

4. Ibu Prof. Dr. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., selaku Ketua Program Studi

Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.

5. Ibu Dr. Nurlela,M. Hum., selaku Sekretaris Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara dan Penguji.

6. Ibu Dra. Hayati Chalil, M. Hum. Selaku Koordinator Konsentrasi Terjemahan

Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.

7. Ibu Dr. Roswita Silalahi, M. Hum., selaku Ketua Komisi Pembimbingan.

8. Ibu Dr. Mahriyuni, M. Hum., selaku Anggota Komisi Pembimbing.

9. Ibu Dr. Evi Eviyanti, M. Pd. selaku Penguji.

10.Seluruh dosen yang mengajar di Program Studi Linguistik Sekolah

Pascasarjana Univesitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Meskipun demikian, harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah memberkahi. Amin.

Medan, Agustus 2014

(9)

RIWAYAT HIDUP

1. Nama Lengkap : Wahyuni Sa’dah

DATA PRIBADI

2. Umur : 29 Tahun

3. Agama : Islam

4. Kewarganegaraan : Indonesia

5. KTP Nomor : 1271186812843334

6. Alamat : Jl. Gurilla Gang Pairan No. 2 B Medan

7. Kelurahan : Sei Kera Hilir I

8. Kecamatan : Medan Perjuangan

1. Tamatan : SD 1996 IJAZAH TAHUN 1996

PENDIDIKAN FORMAL

2. Tamatan : SMP 1999 IJAZAH TAHUN 1999

3. Tamatan : SMA 2002 IJAZAH TAHUN 2002

4. Tamatan : S1 2007 IJAZAH TAHUN 2007

5. Tamatan : S2 2012 IJAZAH TAHUN …….

PENGALAMAN BEKERJA

Dari Tahun : 2007 s/d Sekarang di UNIMED

Dari Tahun : 2007 s/d Sekarang di SMK CIPTA KARYA

(10)

DAFTAR ISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS ... 16

(11)
(12)

DAFTAR TABEL

No. Judul Hal.

3.1 Analisis Metode dan Pergeseran Penerjemahan pada Subtitle

Film Berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia ... 57 4.1 Sebaran penggunaan Metode Penerjemahan pada Subtitle Film Prancis

“Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 62 4.2 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan yang Efektif pada Subtitle Film Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 65

4.3 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Kata demi Kata (word-for

Word Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 68 4.4 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Harafiah (Literal

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 82 4.5 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Setia (Faithful

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 92

4.6 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Semantik (Semantic

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 99

4.7 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Adaptasi (Adaptation

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 104

4.8 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Bebas (Free

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 106 4.9 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 112

4.10 Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Komunikatif (Communicative

Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film Berbahasa Prancis

Comme un Chef” dalam Bahasa Indonesia ... 113

4.11 Jumlah Kata yang Dijadikan Objek Kajian Penelitian pada Ujaran

Pemeran Film Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 124 4.4 Sebaran Pergeseran Kelas Kata (ClassShifts) pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 125 4.5 Sebaran Pergeseran Kata Benda pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 127 4.6 Sebaran Pergeseran Kata Kerja pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 130 4.7 Sebaran Pergeseran Kata Keterangan pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 133 4.8 Sebaran Pergeseran Kata Sifat pada Subtitle Film

(13)

4.9 Sebaran Pergeseran Preposisi pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 135 4.10 Sebaran Pergeseran Kata Penghubung pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 136 4.11 Sebaran Pergeseran Tingkatan (LevelShifts) pada Subtitle Film

Berbahasa Prancis “Comme un Chef dalam Bahasa Indonesia ... 137 5.1 Sebaran Pendidikan Karakter yang terdapat pada Ujaran Film

(14)

DAFTAR SINGKATAN

Adj. : Adjectif (Adjektiva) Adv. : Adverbe (Adverbia) Art. : Article (Kata sandang) Cnj. : Conjonction (Konjungsi)

COD. : Complément d’Objet Indirect (Pronomina) Nom : Nom (Kata Benda)

(15)

DAFTAR SIMBOL

BK : Pergeseran kata benda ke kata kerja. KB : Pergeseran kata kerja ke kata benda. SB : Pergeseran kata sifat ke kata benda. BS : Pergeseran kata benda ke kata sifat. SK : Pergeseran kata sifat ke kata kerja. KS : Pergeseran kata kerja ke kata sifat. KKet : Pergeseran kata kerja ke kata keterangan. KetK : Pergeseran kata keterangan ke kata kerja.

TJ : Pergeseran kata benda tunggal ke kata benda jamak. LK : Pergeseran kala verba dari waktu lampau ke kini. KL : Pergeseran kala verba dari waktu kini ke lampau.

M : Pergeseran modus verba.

KketB : Pergeseram Kata keterangan ke kata benda. PA : Pergeseran kalimat pasif ke kalimat aktif AP : Pergeseran kalimat aktif ke kalimat pasif

U : Fungsi Ujar

(16)

DAFTAR BAGAN

No. Judul Hal

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Hal

(18)

SUBTITLE FILM BERBAHASA PRANCIS “COMME UN CHEF” DALAM BAHASA INDONESIA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang metode dan pergeseran (Shifts) yang terjadi dalam penerjemahan ujaran pada film berbahasa Prancis

"Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia dengan sumber data berupa film

Prancis "Comme un Chef" yang berdurasi 1 jam 25 menit dengan jumlah 1555 ujaran dan 7387 kata. Seluruh ujaran tersebut dijadikan sebagai data dan diolah dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, ke delapan jenis metode penerjemahan yang dikemukakan Newmark, digunakan pada subtitle film tersebut, dengan rincian sebagai berikut, metode penerjemahan

harafiah (literal translation) sebanyak 487 kali pemunculan (31,321%),

selanjutnya metode penerjemahan bebas (free translation) dengan frekuensi 260 kali (16,72%), kemudian penerjemahan komunikaitf (communicative translation) yakni dengan frekuensi 347 kali (32,21%), kemudian metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) 183 kali (11,76%), metode penerjemahan penerjemahan semantik (semantic translation) sebanyak 127 kali (8,16%), metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation) sebanyak 41 kali (2,63%), metode

penerjemahan setia (faithful translation) sebanyak 37 (2,37%) dan metode

penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dengan 1 kali pemunculan

(0,06%), dapat diketahui juga bahwa terdapat 72 ujaran (4,63%) yang tidak diterjemahkan. Penggunaan metode penerjemahan yang seluruhnya efektif adalah

metode penerjemahan kata demi kata (word-for-word translation) dan metode

penerjemahan idiomatik (idiomatic translation). Pada penerjemahan ujaran pada subtitle film tersebut ditemukan 13 jenis pergeseran kelas kata (category shifts), yang terdiri dari, pergeseran kata kerja menjadi kata benda (KB) sebanyak 17 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata benda (SB) berjumlah 7 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata kerja (SK) 6 kali, pergeseran kata benda menjadi preposisi (BP) 2 kali, pergeseran kata benda menjadi kata keterangan (BKet) 5 kali, pergeseran kata sifat menjadi kata keterangan (SKet), pergeseran kata keterangan menjadi kata kerja (KetK), pergeseran kata keterangan menjadi kata benda (KetB), pergeseran kata penghubung menjadi kata keterangan (CnjKet), pergeseran preposisi menjadi kata benda (PB) masing- masing 1 kali, pergeseran kata benda menjadi kata kerja (BK) sebanyak 13 kali, pergeseran kata benda menjadi kata sifat (BS) 2 kali, dan pergeseran kata kerja menjadi kata sifat (KS) 12 kali. Pergeseran tingkatan (level shift) yang terjadi pada film sebanyak 11 jenis yakni, pergeseran kata kerja dari kala kini menjadi akan datang (KN) 8 kali, pergeseran kata benda tunggal menjadi kata benda jamak (TJ) 1 kali, pergesaran kala nanti menjadi kala kini (NK) 5 kali, pergeseran kalimat yang bermodalitas menjadi kalimat tidak modalitas (MN) 3 kali, pergeseran pola kalimat pasif menjadi kalimat aktif (AP) 9 kali, pergeseran kala kini menjadi kala lampau (KL) 1 kali, pergeseran dari kata benda jamak menjadi kata benda tunggal (JT) 19 kali, pergeseran modus kata kerja (M) 26 kali, pergeseran bentuk ujaran (U) 6 kali, pergeseran kala lampau menjadi kala kini (LK) sebanyak 43 kali, dan pergeseran kalimat aktif menjadi kalimat pasif (PA) 1 kali.

(19)

FRENCH FILM SUBTITLE “COMME UN CHEF” IN INDONESIAN ABSTRACT

This study aims to assess and to explain the methods and the shifts in translation that occur in French film subtitle "Comme un Chef". The source of data is the French film "Comme un Chef" which lasted for 1 hour and 25 minutes with 1555 utterances. Entire utterance is used as the data. Data were processed by using the descriptive methods.

Based on the analysis, it is concluded that eight translation methods proposed by Newmark were found in French film subtitle "Comme un Chef". The distribution of the eight translation methods types is: the literal translation with 487 times appearances (31.321%), the free translation with 260 times (16.72%), the communicative translation with 347 times (32.21%), then the word-for-word translation with 183 times (11.76%), the semantic translation with 127 times (8.16%), the adaptation translation with 41 times (2.63%), the faithful translation with 3 times (2.37%) and the idiomatic translation with 1 time (0.06%). The effective translation methods are the word-for-word translation and the idiomatic translation. Based on the analysis, the researcher found 13 category shifts and 11 level shifts. The category shifts are: the Shifting of the verb to the noun (KB) 17 times, the shifting of the adjective to the noun (SB) 7 times, the shifting of the adjective to the verb (SK) 6 times, the shifting of the noun to the preposition (BP) 2 times, the shifting of the nouns to the adverbs (BKet) 5 times, the shifting of the adjectives to the adverbs (sketch), the shifting of the adverb to the verb (KetK), the shifting of the noun to the adverb (KetB), the shifting of the conjunctive to the adverb (CnjKet), the shifting of the preposition to the noun (PB) with 1 times, the shifting of the noun to the verb (LB) 13 times, the shifting of noun to the adjective (BS) 2 times, and the

Keywords: subtitle, film, methods, effective, shifts, and translation.

(20)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Perkembangan kehidupan manusia dari waktu ke waktu terjadi berkat

adanya penyebaran informasi, dari satu tempat ke tempat lainnya. Penyebaran

informasi tersebut pada umumnya melalui majalah, surat kabar, buku, radio,

televisi, internet maupun film.

Film merupakan salah satu media penyebaran informasi yang

perkembangannya sulit dihambat. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor

antara lain: (1) film merupakan salah satu bentuk hiburan yang digemari banyak

orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa; (2) pada film terdapat

tokoh-tokoh yang sebagian besar memiliki keunikan tersendiri dengan daya tarik yang

berbeda-beda pula; (3) film merupakan sarana hiburan yang mudah sekali diakses

tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak, misalnya melalui program unduh

gratis di internet, acara-acara film di televisi atau di bioskop maupun dengan

pembelian DVD.

Setiap film mengandung suatu cerita. Cerita tersebut pada umumnya

berasal dari kisah fiktif, namun tidak sedikit juga yang berdasarkan kisah nyata.

Cerita pada film merupakan buah karya seorang sutradara, yang dipresentasikan

oleh para tokoh. Tokoh-tokoh tersebut memerankan karakter sesuai dengan alur

cerita. Melalui cerita film tersebut, penonton dapat melihat sikap, cara berbicara,

(21)

budaya yang dimiliki oleh daerah dimana film tersebut diproduksi. Hal tersebut

selaras dengan pendapat Hoed (2006:11) yang menyatakan bahwa:

“Di samping dampak visual, film memberikan dampak verbal melalui bahasa yang prosesnya lambat, seperti halnya dampak melalui bacaan. Akan tetapi dampak verbal dari film dapat bertahan lama karena yang ditangkap adalah bahasa dengan konsep-konsep di dalamnya yang dipadu dengan tayangan gambar. Melalui bahasanya penonton dapat lebih mengerti tema film dan moral yang tersimpan dalam film tersebut. Penontonpun dapat melihat tingkah laku tokoh-tokoh dalam film dan pakaian serta adat kebiasaannya.”

Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa, melalui film dapat

diperoleh informasi secara kontekstual, nyata dan jelas bagaimana bahasa

digunakan dengan oleh penutur aslinya, karena film merupakan refleksi dan

representasi dari masyarakat, bahasa dan budaya asli film itu tersebut.

Pada saat sekarang ini, banyak sekali film yang diproduksi oleh satu

negara, namun ditayangkan bukan hanya di negara tempat produksinya tetapi juga

di negara yang berbeda. Ketika film asing tersebut ditayangkan bukan di negara

tempat produksinya, maka naskah cerita film tersebut akan diterjemahkan.

Penerjemahan cerita film tersebut, dapat berupa penerjemahan lisan maupun

tulisan. Hoed (2006:107-108) menyatakan bahwa: “penerjemahan teks lisan

dalam dialog sebuah film terbagi atas dua jenis yakni penerjemahan teks lisan

dialog film dalam bentuk sulih suara (dubbing) atau penerjemahan teks lisan film

dalam bentuk teks tulisan (subtitling).”

Film merupakan salah satu dokumen audio-visual yang bersifat resmi

karena melalui proses sensor yang dilakukan oleh lembaga resmi bernama badan

sensor film dan pada umumnya ditujukan bagi khalayak ramai. Seperti yang

tercantum dalam UU No. 02 Tahun 2009 dalam Trianton tentang perfilman pasal

(22)

media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan

atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.” Film merupakan salah satu media

komunikasi yang banyak mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakat.

Film juga dapat menjadi acuan atau pedoman gaya hidup masyarakat pada saat

sekarang ini. Hoed (2006:101) menyatakan bahwa: “Film Asing di Indonesia

cenderung sering menjadi acuan moderenisasi”. Trianton (2013:ix) menambahkan

bahwa: “Film merupakan karya sinematografi yang dapat berfungsi sebagai alat

culture education atau pendidikan budaya.”

Berdasarkan pendapat ahli tersebut terlihat jelas bahwa penerjemahan teks

lisan film yang dilakukan, khususnya di Indonesia, harus benar-benar memilah

unsur budaya yang dapat ditampilkan dan tidak ditampilkan pada subtitle. Hal

tersebut karena, ditemukannya perbedaan budaya yang ditampilkan pada sebuah

film, dapat menimbulkan efek negatif bagi penonton film dengan budaya yang

berbeda pula. Maksudnya adalah, budaya yang tidak tabu dalam budaya bahasa

sumber, merupakan hal yang tabu dalam budaya bahasa sasaran. Masalah

perbedaan budaya tersebut menjadi penting, karena film pada umumnya menjadi

salah satu acuan gaya hidup, dan sarana penyebaran informasi serta budaya.

Contoh nyata pengaruh film sebagai acuan gaya hidup dapat dilihat dalam

kehidupan masyarakat Indonesia misalnya: pada zaman dahulu sekitar era tahun

60-an dan 70-an para remaja belum mengenal gaya potongan rambut demimor,

namun ketika film berjudul “Ghost” yang diperankan oleh Demi Moore, dimana

potongan rambutnya begitu pendek, banyak orang yang mengganti model rambut

mereka menjadi seperti potongan rambut pemeran film perempuan dalam film

(23)

Contoh lain, ketika film berbahasa Prancis Taxi 3 diluncurkan, pada film

tersebut penonton dapat melihat begitu banyak mobil-mobil sport atau mewah

yang dilengkapi mesin berteknologi canggih. Bagi masyarakat kelas atas,

memiliki mobil seperti yang ditampilkan dalam film tersebut memiliki nilai

prestise tersendiri. Sehingga banyak masyarakat kelas atas pada saat itu cenderung

ingin memiliki dan akhirnya membeli mobil sport dengan harga fantastis.

Film Prancis merupakan salah satu jenis film yang berpengaruh besar

dalam perkembangan perfilman dunia. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui

keberhasilan film-film Prancis dan sineas-sineasnya dalam berbagai penghargaan

kelas dunia seperti Festival Film de Cannes¸ Oscar Awards, Festival du Film

Américains, dsb.

Penyebaran film Prancis, sudah sejak lama sampai di Indonesia. Beberapa

film Prancis terkenal yang sudah pernah ditayangkan di Indonesia yakni: Taxi 1, 2

dan 3, Plan Parfait, Intouchable, Le guetteur, Mobius, Zarafa, L’amour et

Turbulance, L’écume du Jour dan "Comme un Chef".

"Comme un Chef" merupakan salah satu film yang sangat populer di

Prancis. Film ini telah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Pada film ini juga

banyak ditemukan pesan pendidikan karakter seperti: kerja keras, idealisme, jujur,

bertanggung jawab, cerdas, sabar, dan kesetiakawanan. Namun, ketika peneliti

menonton film tersebut dengan subtitle berbahasa Indonesia, peneliti menemukan

hal-hal yang ganjil dan tidak sesuai dengan pesan moral yang dikandung oleh film

tersebut. Keganjilan tersebut berupa kalimat yang dianggap kurang berterima baik

dari aspek budaya atau aspek kebahasaan dalam bahasa sasarannya, yakni bahasa

(24)

Misalnya:

Tsu.: Bocuse, je

Nom pron. verbe m’ en tape.

Bocuse, saya ku nya memukul.

Tsa. : Bocuse bisa meniup keluar dari pantatnya.

(Comme un Chef : 00:03:26,088 --> 00:03:28,397)

Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa subtitle pada kalimat "Bocuse, je

m’en tape" menjadi "Bocuse bisa meniup keluar dari pantatnya". Penerjemahan

ini tampak sukar untuk dipahami, karena orang Indonesia tidak mengenal siapa

tokoh Bocuse tersebut. Kemudian kata "pantat" juga terasa tabu dan berbenturan

dengan budaya Indonesia. Karena, kata tersebut merupakan ungkapan yang sering

disebutkan untuk menghardik atau menghina orang lain.

Dari terjemahan di atas peneliti menganggap penerjemah subtitle itu

menggunakan metode penerjemahan bebas (free translation) dimana teks dalam

bahasa sumber diterjemahkan secara bebas ‘je m’en tape’ ini pada dasarnya

berasal dari subjek ‘Je’ (saya) dan verba ‘s’en taper’ (memukul/ acuh/ mengejek/

tidak tertarik). Dalam penerjemahan tersebut terlihat jelas bahwa tata bahasa

Prancis yakni subjek "je" dan verba pronominal (dalam hal ini, verba yang

bermakna bahwa pelaku dan objek kata kerjanya adalah sama) "s’en taper" sama

sekali tidak tampak dalam teks sasaran yakni menjadi "bisa meniup keluar dari

pantatnya". Mengapa kalimat ini diterjemahkan demikian karena pada saat itu

pemilik restoran sedang marah terhadap Jacky Bonnot dan menganggap

kemampuan Jacky Bonnot tidak sebanding dengan kemampuan Bocuse yang

merupakan juru masak yang sangat terkenal dan handal, karena Jacky Bonnot

(25)

Bocuse. Kemudian Jacky Bonnot juga telah mengecewakan pelanggan restoran

tersebut dengan cara mengganti menu yang dipesannya dengan menu yang dipilih

oleh sang koki. Penggantian menu tersebut terjadi karena Jakcy Bonnot merasa

menu yang dipilih oleh pelanggan tersebut tidak berkualitas dan tidak sesuai

dengan jenis anggur yang diminumnya. Dalam budaya Prancis anggur putih

diminum jika mengkonsumsi daging yang berwarna putih misalnya daging ikan

atau unggas dan anggur merah jika mengkonsumsi daging yang berwarna merah

misalnya daging sapi, babi, domba, kambing dsb. Menurut peneliti kalimat

tersebut sebaiknya diterjemahkan menjadi Bocuse, aku tidak perduli, karena

sebenarnya kata kerja s’en taper juga masih memiliki arti lain yakni tidak menarik

namun untuk tetap menjaga unsur sintaksis yang terdapat dalam bahasa sasaran

maka subjek je yang sepadan dengan kata aku dalam bahasa Indonesia masih

dapat dipertahankan.

Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa dalam penerjemahan

subtitle "Comme un Chef" tersebut masih terdapat hal yang tidak jelas, kemudian

tabu, dan bahkan tidak berterima dalam bahasa Indonesia. Ketidakberterimaan

tersebut pada hakekatnya disebabkan oleh ketidaktepatan metode penerjemahan

yang digunakan oleh penerjemah. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Machali

(2009:78): “metode penerjemahan berkenaan dengan rencana dalam pelaksanaan

penerjemahan yang meliputi 3 tahap yaitu analisis, pengalihan, dan penyerasian

dimana ketiga tahapan tersebut harus dilalui oleh seorang penerjemah”. Jika

ketiga hal tersebut dilalui dengan baik maka tidak akan muncul terjemahan yang

(26)

" Thereby, the quality of a text can be assessed by two features: 1) Its inteligibility (the translation is understandable) and 2) its fidelity (the message transmitted by the translation corresponds exactly to the original message).”

Yang artinya adalah kualitas terjemahan dapat dinilai melalui dua hal yaitu mudah

dipahami dan pesan yang disampaikan benar sesuai dengan pesan yang

terkandung dalam bahasa sumber dengan tetap menghormati budaya sasaran.

Selain contoh di atas, pada subtitle film tersebut juga ditemukan

istilah-istilah kulinari dan nama masakan dalam bahasa Prancis yang terkadang

diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia namun tidak sedikit yang tetap ditulis

dalam bahasa Prancis dalam versi terjemahan berbahasa Indonesia dari teks cerita

film “Comme un Chef “ tersebut.

Misalnya :

Tsu: “La blanquette pour la 11.

Art. nom pré. Art. Adj. de quantité. " Itu blanquette untuk sebuah 11

Tsa: “Blanquette untuk 11”.

(Comme un Chef: 00:02:17,140 --> 00:02:18,774)

Pada teks di atas dapat diketahui bahwa metode penerjemahan yang

digunakan adalah metode harafiah (literal traslation) dimana kata "la blanquette"

dipadankan dengan "Blanquette" kata "pour" diterjemahkan dengan "untuk"

dalam bahasa Indonesia dan "11" dengan "11". Metode Penerjemahan harafiah

(literal traslation) juga dibuktikan melalui tata urutan kata yang sama sekali tidak

mengalami perubahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Machali (2009:78) yakni: "

Metode penerjemahan harafiah (literal translation) adalah « …jenis ini biasanya

Tsa langsung diletakkan di bawah versi Tsu, kata-kata dalam Tsu biasanya

(27)

apa adanya". Jika dianalisis lebih jauh Blanquette adalah salah satu makanan

Prancis yang sangat terkenal yakni berupa daging (unggas, sapi muda, atau ikan,

domba) yang direbus dengan menggunakan krim putih dan telur. Jenis masakan

ini masih dapat dipadankan dengan daging gulai putih (daging gulai kurma), yang

memang masih ada dalam jenis masakan indonesia. Hal tersebut dapat dipadankan

karena untuk blanquette dan memasak daging dalam tradisi kulinari indonesia

tradisional tidak pernah menggunakan krim tetapi pada umumnya menggunakan

santan, dalam hal ini santan dapat dipadankan dengan krim.

Berdasarkan pengalaman pribadi peneliti yang pernah tinggal selama 1

bulan di Prancis dalam rangka mengikuti pelatihan bagi pengajar bahasa Prancis

bagi penutur Asing (Fle), peneliti pernah mencicipi hidangan Blanquette tersebut,

dan telah membuktikan bahwa cita rasa masakan Blanquette tersebut sama dengan

cita rasa hidangan daging gulai putih atau sering disebut dengan daging gulai

kurma.

Berdasarkan fakta tersebut belum dapat diketahui mengapa penerjemah

teks lisan pada film "Comme un Chef" tersebut masih tetap menggunakan bahasa

aslinya, padahal sebenarnya nama jenis masakan tersebut dapat dipadankan

dengan salah satu masakan Indonesia. Jika penerjemah tetap menggunakan kata

"Blanquette" pada terjemahannya, dapat diketahui bahwa kata "Blanquette" itu

akan mengaburkan pemahaman penonton terhadap pesan yang dikandung oleh

bahasa sumbernya, karena penonton hanya akan mengetahui bahwa itu nama

makanan namun tidak mengetahui makanan apa. Hal ini bertentangan dengan

teori yang diutarakan oleh Dolet dalam Munday (2001:26) yakni: "La manière de

(28)

l’auteur afin d’éviter l’obscurité." Yang artinya penerjemah harus memahami

betul makna yang dimaksudkan oleh penulis, dan oleh sebab itu dia harus

menghindari kerancuan atau ketidakjelasan dalam terjemahannya. Sementara

penggunaan kata "Blanquette" tersebut sama sekali tidak jelas bagi penonton yang

dalam hal ini berbahasa Indonesia. Hal tersebut yang menjadi pertanyaan bagi

peneliti mengapa metode penerjemahan harafiah (literal translation) digunakan

oleh penerjemah, padahal metode tersebut merupakan metode yang berbasis pada

teks sumber dan biasanya tidak lazim digunakan.

Dari segi pergeseran (shifts) tidak ditemukan karena seluruh unsur kata

dan tata bahasa dalam kalimat ini tidak mengalami pergeseran.

Contoh lain :

Tsu.: "Dans ce cas, on va se replier vers l' entrecôte -frites

Pré. Adj. nom Pron. Verbe verbe pré. Art. Nom compose. ."

Dalam ini hal, kita pergi melipat kearah itu steak -kentang goreng

Tsa.: “Dalam hal ini, steak dan kentang goreng akan menjadi lebih baik.”

(Comme un Chef: 00:02:58,530 --> 00:03:02,980)

Metode penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan teks di atas

adalah metode penerjemahan adaptasi (adaptation translation). Penggunaan

metode tersebut dapat dilihat dari penerjemahan yang mengacu pada makna dan

budaya yang dimaksudkan oleh teks sumber yang dipadankan ke dalam teks

bahasa sasaran dengan mempertimbangkan keberterimaan dan kelaziman dalam

teks sasaran. Maksud keberterimaan dan kelaziman dalam hal ini adalah makna

kata kerja “va se plier” itu sebenarnya mengandung makna “cocok” atau sesuai

karena konteks kalimat pada teks ini adalah pelanggan memadukan menu yang

(29)

menu steak dan kentang goreng. Kemudian proses adaptasi juga terlihat melalui

pemadanan frasa “l'entrecôte-frites” dengan steak dan kentang goreng yang

memang masih terdapat dalam ranah kulinari Indonesia modern. Kemudian

penghilangan kata “vers” dan kata sandang “l’’ juga merupakan bukti penerapan

metode adaptasi dalam penerjemahan subtitle film ini.

Dianalisis dari segi pergeseran (shifts), dapat diketahui bahwa pada

penerjemahan subtitle film berbahasa Prancis di atas terjadi pergeseran kelas kata

yakni kata kerja “va” (future proche) bergeser menjadi “akan” yang merupakan

adverbia dalam bahasa Indonesia. Selanjutnya kata “se plier” diterjemahkan

menjadi “lebih baik” yakni merupakan adjektiva dalam bahasa Indonesia.

Seluruh keganjilan dan ketidakkonsistenan penerjemah dalam

menerjemahkan dialog film berbahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia tidak

akan terjadi jika penerjemahan menggunakan metode penerjemahan dan

pergeseran penerjemahan (shifts) yang tepat. Oleh sebab itu, peneliti menganggap

bahwa penelitian tentang metode dan pergeseran penerjemahan pada film

Comme Un Chef” tersebut penting untuk dilakukan.

1.2 Perumusan Masalah

Pada umumnya penelitian dilakukan karena adanya kesenjangan antara

harapan dengan kenyataan, yang akan ditemukan penyelesaiannya. Masalah

tersebut penting untuk dirumuskan agar penelitian yang dilakukan terarah, ilmiah

dan sistematis, sehingga dapat diketahui mana masalah yang harus dipecahkan

terlebih dahulu dan mana yang akan diselesaikan berikutnya. Oleh sebab itu

(30)

1. Metode penerjemahan apa saja yang ditemukan pada subtitle film

berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?

2. Metode penerjemahan apa saja yang efektif pada subtitle film berbahasa

Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?

3. Pergeseran penerjemahan apa saja (shifts) yang terjadi pada subtitle film

berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam bahasa Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang telah

dirumuskan dalam sub-bab sebelumnya. Tujuan penelitian ini terdiri atas :

1. Menjelaskan metode penerjemahan yang ditemukan pada subtitle film

berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.

2. Menjelaskan metode penerjemahan yang efektif, pada subtitle film

berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.

3. Menjelaskan pergeseran (shifts) penerjemahan yang terjadi pada subtitle

filmberbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini diselesaikan, maka hasil penelitian tersebut memberikan

manfaat baik secara teoretis maupun praktis. Manfaat teoretis merupakan manfaat

yang dapat memperkaya kajian penerjemahan. Sedangkan manfaat praktis adalah

manfaat yang dapat disaksikan langsung secara kasat mata karena dapat

digunakan secara langsung oleh khalayak pembaca penelitian ini. Adapun manfaat

(31)

1.4.1 Manfaat Teoretis

1. Sebagai pedoman bagi penerjemah pemula khususnya mengenai

metode dalam penerjemahan ujaran dari bahasa Prancis ke dalam

bahasa Indonesia.

2. Sebagai acuan atau pedoman bagi penerjemah pemula khususnya

mengenai pergeseran (shifts) dalam penerjemahan kata, atau frasa dari

bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.

3. Sebagai pedoman bagi penerjemah khsususnya pada penerjemahan

teks kulinari dalam bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.

4. Menambah referensi penerjemahan teks kulinari dalam bahasa Prancis

ke dalam bahasa Indonesia.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Sarana promosi kebudayaan Prancis yang tercermin melalui kehidupan

masayarakat Prancis yang ditampilkan dalam bentuk film yang dalam

hal ini menyangkut gastronomi/kulinari Prancis.

2. Mempresentasikan metode penerjemahan secara lebih fokus, teknis

dan praktis bagi para pembelajar atau penerjemah pemula, dalam

menerjemahkan ujaran berbahasa Prancis ke dalam teks tulis bahasa

Indonesia.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Sebuah penelitian yang baik, harus memiliki ruang lingkup yang jelas.

Ruang lingkup merupakan batasan kajian dan objek dari sebuah penelitian. Ruang

(32)

Chef" dalam bahasa Indonesia yang terdiri atas 1555 ujaran dengan durasi film

selama 1 jam 25 menit karya Daniel Cohen dengan pemutaran perdana pada

tanggal 7 Maret 2012. Proses pengumpulan, penganalisisan dan pengolahan data

berbasis pada produk terjemahan.

Objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah metode penerjemahan

menurut teori Newmark (1988), serta pergeseran (shifts) yang terdapat pada

subtitle film berbahasa Prancis "Comme un Chef" dalam bahasa Indonesia

berdasarkan teori Catford (1965).

Dari beberapa teori tentang metode penerjemahan, teori yang

dikemukakan oleh Newmark, merupakan teori yang dianggap paling lengkap dan

dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Untuk mengkaji pergeseran

(shifts) dalam penerjemahan, peneliti menggunakan teori Catford, karena teori

tersebut mendeskripsikan dengan lugas, lengkap dan luas tentang pergerseran

tingkatan maupun kelas kata yang terjadi dalam penerjemahan bahasa Prancis ke

dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya.

1.6 Klarifikasi Makna Istilah

Setelah menjelaskan ruang lingkup penelitian pada bagian sebelumnya,

langkah selanjutnya adalah klarifikasi makna istilah. Hal ini disebabkan karena

ragam makna yang dikandung oleh setiap istilah bervariasi. Variasi tersebut

menyebabkan terjadinya pemahaman yang beragam pula, walaupun dari satu

istilah yang sama. Atas dasar tersebut peneliti mengklarifikasikan setiap istilah

dalam penelitian ini, agar setiap istilah yang dimaksudkan menjadi jelas, utuh dan

(33)

1. Subtitle adalah teks yang merupakan hasil terjemahan dialog sebuah film, teks

terjemahan tersebut ditayangkan secara bersamaan sesuai dengan urutan

kejadian dan gambar dalam film, yang lazimnya diletakkan di bagian bawah

layar, Hoed (2006:107-108).

2. Film adalah media komunal, perpaduan dari berbagai teknologi dan

unsur-unsur kesenian baik secara rupa, teater, sastra, arsitektur dan musik. Film

merupakan perpaduan dari perkemabangan teknologi fotografi dan rekaman

suara, Trianton (2013:2)

3. Teks sumber dan teks sasaran; teks sumber adalah teks awal berupa kata,

frasa, atau kalimat yang memiliki makna kontekstual yang akan diterjemahkan

ke dalam bahasa lain (bahasa sasaran), artinya teks akan diterjemahkan,

sementara teks sasaran adalah teks berupa kata, frasa atau kalimat yang

memiliki makna kontekstual yang sepadan dan merupakan hasil terjemahan

dari bahasa, (Baker: 20-26)

4. Penerjemahan adalah pengkonstruksian ulang kalimat dari bahasa sumber ke

dalam bahasa sasaran dengan menggunakan padanan kata yang dianggap

paling lazim dan berterima dengan bahasa sasaran agar penerjemahan

sempurna dalam segala aspek baik aspek sintaksis, semantik, gaya bahasa dan

pragmatik, Nida &Taber (1982).

5. Metode penerjemahan adalah cara yang digunakan penerjemah dalam

menerjemahkan kalimat secara utuh, dan bukan cara yang digunakan

penerjemahan dalam menerjemahkan kata atau frasa yang menyusun suatu

(34)

dan bukan secara mikro atau pada satuan kata atau frasa yang terdapat dalam

satu kalimat, Newmark (1988).

6. Pergeseran (Shifts) dalam hal ini terbagi atas dua jenis yakni, yaitu

pergeseran tingkatan (level shifts) dan pergeseran kelas kata (category shifts),

(Catford 1965).

7. Efektif dalam penelitian ini bermakna bahwa metode penerjemahan yang

digunakan oleh penerjemah tepat guna dalam memadankan makna yang

dikandung oleh bahasa sumber dengan bahasa sasaran serta pemahaman yang

sama baik pada penonton film dalam bahasa sumber maupun bahasa sasaran.

(35)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS

2.1 Tinjauan Pustaka

Kerangka teoretis merupakan kajian tentang referensi teoritis dan pendapat

para ahli yang dijadikan dasar ilmiah dalam sebuah penelitian. Dalam kerangka

teoretis juga dibahas tentang teori yang dianut dan dijadikan alat untuk

menganalisis data dalam penelitian ini. Oleh sebab itu dalam bab II ini, peneliti

akan menyajikan kajian tentang teori-teori para ahli yang digunakan dalam

penelitian ini.

2.2 Teori tentang Penerjemahan

Dalam dunia penerjemahan terdapat 3 istilah yang tidak dapat dipisahkan

keberadaanya antara satu dengan yang lain. Istilah tersebut adalah, penerjemahan,

penerjemah dan terjemahan. Ketiga istilah tersebut akan secara otomatis muncul

jika salah satu di antaranya muncul. Hal tersebut selaras dengan pendapat Machali

(2009:7): Penerjemahan berasal dari kata terjemah yang jika kata tersebut muncul

maka kata penerjemah, terjemahan dan penerjemahan akan secara bersamaan

muncul. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini akan dijelaskan ketiga istilah

(36)

2.2.1 Penerjemahan

Penerjemahan, penerjemah dan terjemahan itu, pada hakekatnya berasal

dari satu kata dasar verba yakni “terjemah”. Seperti yang tercantumkan dalam

buku Livre Blanc de la Traduction yang tercantum pada situs :

" Traduction vient du verbe traduire consiste à faire passer un texte ou un discours d'une langue à une autre. Autrement dit, pour traduire un texte, deux éléments sont indispensables : la parfaite compréhension du texte source, et la connaissance de la formulation équivalente dans la langue cible, qui doit être la langue maternelle du traducteur – car la règle d’or en traduction est que l’on ne traduit que vers sa langue maternelle."

Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa, penerjemahan berasal dari

kata kerja menerjemahkan, yang terdiri atas kegiatan memadankan suatu teks dari

satu bahasa ke dalam bahasa lainnya. Dengan kata lain dalam melakukan

penerjemahan setidaknya harus ada dua unsur penting yaitu; kesempurnaan

pemahaman isi dari teks sumber, dan pengetahuan tentang reformulasi kalimat

yang sepadan baik isi maupun tata bahasa ke dalam bahasa sasaran yang

sebaiknya merupakan bahasa ibu penerjemah karena itu akan menjadikan

terjemahan lazim, berterima dan akurat.

Hal ini selaras dengan pendapat Larrousse (2014:789):

"Traduction est une action de

langue, une énonciation dans une autre langue (ou langue cible) de ce qui a été énoncé dans une langue (la langue source), en conservant les équivalences sémantiques et stylistiques.

Yang artinya adalah penerjemahan itu adalah suatu aksi dari kata "terjemah",

dimana suatu kalimat ditransposisikan ke dalam bahasa lain, yang maksudnya

adalah sebuah pernyataan dalam satu bahasa yang disebut bahasa sumber

(37)

menjaga bentuk makna dan gaya bahasa sumbernya. Dalam bahasa Prancis teks

atau bahasa sumber disebut dengan "la langue source" dan teks atau bahasa

sasaran disebut "la langue cible". Rochard (2014 :13) juga menyatakan hal yang

hampir sama dengan Larrousse yakni:

"La traduction est donc bien un exercice de compréhension et de

réexpression d’un discours. Cet exercice suppose la mobilisation de connaissances linguistiques et thématiques, mais alors que la compréhension peut être relativement passive, la réexpression nécessite une maîtrise active des discours équivalents (modalités d’expression de la langue d’arrivée, adaptation à la terminologie et à la phraséologie du domaine de travail). C’est la raison pour laquelle on traduit généralement vers sa langue maternelle."

Artinya, penerjemahan adalah kegiatan pemahaman dan penuangan

kembali ekspresi dalam bahasa sasaran. Kegiatan tersebut membutuhkan

pemahaman yang baik mengenai aspek linguistik dan tema teks yang akan

diterjemahkan, namun pemahaman tersebut merupakan hal yang mungkin saja

bersifat pasif, tetapi hal yang terpenting adalah ketika menuangkan kembali

makna yang dikandung bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran penerjemah harus

memiliki kemampuan aktif untuk dapat diaplikasikan dalam menemukan dan

melakukan pemadanan antara kedua bahasa tersebut (penggunaan modalitas,

adaptasi yang tepat pada penggunaan istilah dan perumusan kata dalam kalimat).

Hal inilah yang menyebabkan bahwa seorang penerjemah harus melakukan

penerjemahan ke dalam bahasa ibunya.

Pendapat berikutnya, dinyatakan oleh ahli penerjemah yang sangat populer

yakni Newmark (1988:30) menyatakan bahwa: “Translation is rendering the

meaning of the text into another language in the way that the author intended the

text.” Penerjemahan makna suatu teks ke dalam bahasa lain sesuai dengan

(38)

Berkaitan dengan hal ini Nida & Taber (1982:17) juga menyatakan bahwa:

“Penerjemahan merupakan penuangan kembali makna kalimat ke dalam bahasa

sasaran dengan menggunakan padanan kata yang dirasakan paling berterima dan

lazim dengan bahasa sumber agar hasil terjemahan tersebut sempurna, baik dari

aspek sintaksis, semantik, gaya bahasa dan pragmatik.”

Berdasarkan pendapat-pendapat ahli di atas dapat diketahui bahwa

penerjemahan adalah proses pemadanan makna kata, frasa, klausa atau kalimat

dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dengan menggunakan gaya bahasa,

unsur sintaksis, dan pragmatik yang disampaikan secara natural, baik, benar dan

berterima dalam bahasa sasaran.

2.2.2 Jenis-jenis penerjemahan

Jenis-jenis penerjemahan yang dikemukakan oleh Jakobson dalam

Munday (2001:5): Penerjemahan terdiri atas 3 kategori yaitu: penerjemahan

intralingual, interlingual, dan intersemiotika. Penerjemahan intralingual adalah

penerjemahan bahasa verbal yang diterjemahkan dengan bahasa verbal dalam

bahasa yang sama. Misalnya kata “observer” (mengamati) dalam bahasa Prancis

kemudian diterjemahkan menjadi “regarder avec l’intention” masih dalam bahasa

yang sama yakni bahasa Prancis yang artinya menjadi melihat sesuatu dengan

perhatian penuh. Penerjemahan jenis yang kedua yaitu penerjemahan interlingual

yang merupakan penerjemahan satu kata, frasa, kalimat atau teks dari bahasa

sumber ke dalam bahasa sasaran yakni antara dua atau lebih bahasa yang berbeda

(39)

Tsu. : "Tu fais pas chier à la décoration Pron. Verbe Adv. Verbe Inf. Pré Art. Nom ." Tsa1. : "Lupakan dekorasi."

Tsa2. : “Forget the decoration.”

(Comme un Chef: 00:02:24,429 --> 00:02:27,922 )

Pada contoh di atas, teks sumbernya adalah bahasa Prancis yang kemudian

diterjemahkan ke dalam dua bahasa sasaran yang berbeda yakni bahasa Indonesia

dan bahasa Inggris. Contoh penerjemahan yang dicantumkan pada contoh di atas,

merupakan jenis penerjemahan interlingual, yakni, teks yang berasal dari satu

bahasa sumber diterjemahkan ke dalam bahasa lain yang merupakan bahasa dari

negara yang berbeda dengan negara asal bahasa sumbernya yang dalam hal ini

adalah negara Indonesia dan Inggris.

Selanjutnya penerjemahan jenis yang ketiga adalah penerjemahan

intersemiotika yaitu penerjemahan yang berasal dari bahasa non-verbal seperti,

warna, gambar, simbol, suara yang bukan berasal dari manusia, atau mimik dan

sebagainya. Misalnya: bunga mawar merah biasanya melambang tanda cinta,

bendera merah, kuning atau putih biasanya melambangkan kematian. Suara

burung gagak biasanya melambangkan akan adanya berita kemalangan dsb.

Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa jenis

penerjemahan itu muncul karena tahapan bagaimana perwujudan proses

penerjemahan itu direalisasikan, dan bukan hanya pada bahasa verbal saja tetapi

juga pada bahasa non-verbal. Hal ini karena pada hakekatnya bahasa itu bukan

hanya yang diucapkan atau yang dituliskan tetapi juga yang disimbolkan melalui

(40)

Hal ini selaras dengan pendapat Delatour et Jennepin (2000) : “La langue

se divise en 4 grandes parties, la langue orale, langue écrite, langue gestuelle et

langue symbolique." Yang maksudnya adalah bahasa itu dibagi dalam 4 kategori

yaitu bahasa lisan, tulisan bahasa tubuh dan bahasa simbol.

2.2.3 Prasyarat seorang Penerjemah

Seorang penerjemah sebaiknya merupakan sosok yang memiliki

pengetahuan linguistik, dan budaya yang hampir sempurna dalam dua bahasa

yang diterjemahkannya, dan syarat berikutnya adalah penerjemah merupakan

sosok yang berwawasan luas dan mengetahui kaedah-kaedah penulisan dalam

bahasa yang digelutinya. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Dubois

dalam www.a4traduction.com (2014 :1):

“Les traducteurs sont des professionnels diplômés, spécialisés dans une ou plusieurs disciplines d’un domaine (par exemple, un traducteur médical peut être uniquement spécialisé en cardiologie).

Yang artinya adalah penerjemah adalah merupakan seorang yang profesional, ahli

dalam sebuah atau beberapa bidang ilmu misalnya penerjemah dalam bidang

kesehatan bahkan sebaiknya juga mengambil spesialis misalnya khusus

penerjemah teks kesehatan yang berhubungan dengan jantung misalnya. Ibrahim

dalam kuliah umum tentang Types & Processes of Interpreting menyatakan

bahwa (2012:4): “Translators need to be familiar with the rules of written

language and be competent writers in the target language”. Artinya adalah

seorang penerjemah harus memahami dengan baik tatacara dan sistematika

(41)

Dari uraian di atas, dapat diperoleh intisari bahwa prasyarat seorang

penerjemah itu terdiri atas tiga aspek utama yakni seorang ahli yang memiliki

kemampuan dan pengetahuan yang mendalam baik pada bidang kebahasaan,

budaya, dan keterampilan dalam menulis dalam bahasa yang diterjemahkannya.

2.2.4 Budaya dan Penerjemahan

Menurut Bell (2012:4): ”Translation is a multilevel; linguistic, cognitive,

social and cultural.” Maksudnya adalah penerjemahan itu meliputi segala aspek

kebahasaan, kognitif, kehidupan sosial dan kultural. Hal tersebut disampaikan

oleh Bell pada saat kuliah umum di Pascasarjana Program Studi Linguistik

tanggal 5 oktober 2012 dalam bentuk power point. Jika pendapat ini dijabarkan

maka dapat dijelaskan bahwa dalam penerjemahan, keempat aspek tersebut saling

terikat antara yang satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan bahwa

penerjemahan itu melibatkan unsur yang disebut bahasa dan bahasa berkembang

sesuai dengan kehidupan dan perkembangan budaya dimana bahasa itu berada.

Menurut Newmark (1988:95): penerjemahan yang menyangkut gejala

kebudayaan dapat dikategorikan berdasarkan hal-hal berikut ini:

a. Ekologi misalnya: ‘causse’ yang berarti dataran tinggi batu kapur di

selatan Prancis.

b. Benda-benda budaya:

- Makanan : ‘kolak’, ‘rendang’, ‘blanquette’ (makanan

khas Prancis sejenis makanan daging yang

(42)

- Pakaian : ‘gerita’, ‘blangkon’ ‘saroel’ (celana khas

Prancis)…

- Transportasi : ‘rakit’, ‘getek’, ‘sado’, dan ‘becak’

c. Sosial budaya : Mémé (nenek), opung boru, ‘meresek’,

intox’ (April mop), dsb.

Lebih lanjut akan diberikan contoh ilustrasi berikut ini. Misalnya, untuk

mengatakan “topi, pada masyarakat Eropa khususnya memiliki beberapa kata

untuk menyebutkan jenis-jenis “topi”. Prancis yang merupakan salah satu negara

di benua Eropa yang mengenal 4 musim. Pada umumnya di setiap musim tersebut

terdapat perbedaan cuaca yang sangat ekstrim, sehingga, untuk mengatakan topi

saja dikenal beberapa istilah yakni: “une toque”, “un bonnet”, un “chapeau”,

“une casquette”. Keempat jenis topi ini digunakan dalam suasana yang berbeda.

Contoh lain yaitu, untuk mengatakan baju hangat, dalam bahasa Prancis baju

hangat diucapkan dengan beberapa istilah, misalnya: “un pull", "un blouson”, "un

impermeable", dan "un anorak", dan yang lebih kompleksnya lagi, untuk “un

pull” masih dapat dibagi ke dalam beberapa jenis yaitu "un pull over en V", "un

pull ras du coup", et "un pull col rolé". Perbedaan jenis pakaian yang hanya

dipadankan dengan satu kata dalam bahasa Indonesia ini, dikarenakan perbedaan

musim antara Indonesia dan Prancis. "Un bonnet" atau "un toque", serta "un

anorak" dan "un pull" biasanya hanya dikenakan pada musim dingin (salju).

Sementara dalam budaya Indonesia tidak terdapat musim salju sehingga untuk

mengatakan “une toque”, “un bonnet”, “un chapeau”, “une casquette”, cukup

dengan satu kata saja yaitu topi, dan begitu juga dengan baju hangat tadi. Jika

(43)

sama yakni misalnya untuk mengatakan kata "saya" dapat diungkapkan dengan

"aku", "hamba", dan "daku" sementara dalam bahasa Prancis kata tersebut hanya

dinyatakan dengan satu kata yaitu "Je". Hal ini disebabkan oleh keberadaan

bahasa daerah yang memang cukup variatif dan kaya di Indonesia namun dalam

bahasa Prancis tidak demikian adanya (Gregoire:1998).

2.3 Teori tentang Metode Penerjemahan

Terdapat beberapa pendapat ahli tentang metode penerjemahan. Menurut

Dryden (2001:25) dalam Munday metode penerjemahan dibagi dalam tiga

kategori yaitu:

“He reduces all translation to three categories:

1. ‘Metaphrase’: word-by-word and line by line translation, which corresponds to literal translation;

2. Paraphrase, translation with latituted, where the author is kept in view by the translator, so as never to be lost, but his words are not so strictly followed as his sense; this involves changing whole phrases and more or less corresponds to faithful or senes-for-sense translation. 3. ‘Imitation’: ‘Forsaking’ both words and sense; this corresponds to

Cowley’s very free translation and is more or less adaptation.”

Maksud dari teori tersebut adalah pengklasifikasian seluruh metode penerjemahan

dibagi ke dalam 3 kategori yaitu: ‘metafrasa’ yakni penerjemahan kata-demi-kata,

baris per baris yang menyerupai penerjemahan harafiah yang dalam hal ini kata,

atau kalimat dalam bahasa sasaran yang diterjemahkan hanya dengan

memindahkan kata tersebut ke dalam bahasa sasaran. Kemudian penerjemahan

metode yang kedua yakni parafrasa penerjemahan yang bebas, dimana maksud

penulis dalam bahasa sumber tetap dipegang teguh oleh penerjemah, reformulasi

kalimatnya tidak persis sama atau dapat berubah bentuk namun makna yang

(44)

dengan bahasa sumber. Dan metode yang ketiga yakni penerjemahan imitasi

proses penerjemahan dengan adaptasi artinya teks dalam bahasa sumber

diterjemahkan sedemikian rupa ke dalam bahasa sasaran. Penerjemahan jenis

tersebut hampir menyerupai penerjemahan adaptasi.

Selanjutnya adalah metode penerjemahan menurut Thrasher (1998:3).

Thrasher menyatakan bahwa ada 4 jenis metode penerjemahan. Keempat metode

penerjemahan tersebut adalah penerjemahan harafiah atau sangat harafiah (literal

or highly literal translation), pemadanan bentuk, orientasi bentuk dan modifikasi

harafiah (

Dalam penelitian ini, teori yang dijadikan alat untuk menganalisis data

adalah teori dari pakar penerjemahan terkemuka yaitu Newmark. Teori metode

penerjemahan menurut Newmark merupakan hal yang tidak asing bagi pembelajar

bidang penerjemahan, namun berdasarkan hasil pencarian data dan kajian pustaka Formal Equivalence, Form-Oriented or Modified Literal), pemadanan

fungsi kata, orientasi konteks, idiomatik atau pemadanan dinamis (Functional

Equivalence, Context-Oriented, Idiomatic or Dynamic Equivalence) serta jenis

keempat adalah (paraphrase or unduly Free). Dari keempat jenis metode

penerjemahan yang diutarakan oleh Thrasher tersebut, dapat diketahui bahwa ahli

tersebut mencampur baur beberapa jenis metode penerjemahan ke dalam satu

jenis metode penerjemahan. Proses pemahaman terhadap teori tersebut sudah

dilakukan namun peneliti menganggap bahwa keempat jenis metode

penerjemahan tersebut sulit untuk dipahami apa lagi untuk diaplikasikan dalam

analisis serta tidak representatif, sehingga tidak dapat menjawab seluruh

permasalahan metode penerjemahan yang dikemukakan pada latar belakang

(45)

yang dilakukan peneliti sampai tanggal 14 Januari 2014 belum ada penelitian

yang mengaplikasikan metode tersebut khususnya dalam penelitian subtitle film

berbahasa Prancis dalam bahasa Indonesia. Teori Newmark tersebut dianggap

paling lengkap, praktis dan dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

Oleh sebab itu dalam penelitian ini, digunakan teori Peter Newmark karena

dianggap paling representatif, sesuai dan tepat untuk menganalisis data dalam

yang terdapat pada subtitle film berbahasa Prancis “Comme un Chef” dalam

bahasa Indonesia. Menurut Newmark (1988:41-42), metode penerjemahan terdiri

dari 8 jenis. Kedelapan jenis metode tersebut adalah penerjemahan kata demi kata

(word-for-word translation), penerjemahan harafiah (literal translation),

penerjemahan setia (faithful translation), penerjemahan semantik (semantic

translation), penerjemahan adaptasi (adaptation translation), penerjemahan bebas

(free translation), penerjemahan idiomatik (idiomatic translation) dan

penerjemahan komunikatif (communicative translation).

2.3.1 Penerjemahan Kata demi Kata (Word-for-word Translation)

Penerjemahan kata demi kata (Word-for-word translation), yakni

penerjemahan yang dilakukan dengan cara menerjemahkan setiap kata yang

terdapat dalam teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Unsur linguistik

seperti tata bahasa, makna kata masih diterjemahkan apa adanya. Pada

penerjemahan jenis tersebut belum terdapat pemadanan budaya. (Machali,

(46)

Contoh:

Tsa.: Segera, segera kau akan lihat.

(Comme un Chef : 00:04:34,728 --> 00:04:49,401)

Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa teks sumber diterjemahkan apa

adanya sesuai dengan aspek bahasa dan urutan kata dalam teks sumbernya. Pada

penerjemahan tersebut tidak ditemukan adanya perubahan sintaksis atau kultural.

Teks bahasa sumber benar-benar hanya melalui proses pemadanan kata saja.

(Hoed, 2006:56).

2.3.2 Penerjemahan Harafiah (Literal Translation)

Penerjemahan harafiah yakni: penerjemahan yang dilakukan dengan

tahapan menerjemahkan setiap kata dalam teks sumber ke dalam teks sasaran

namun sudah dilakukan perubahan pada struktur tata bahasanya. Dalam metode

ini penerjemahan kata-kata dalam bahasa sumber diganti secara langsung ke

dalam bahasa sasaran dan sudah mengikuti tata bahasa dalam bahasa sasaran.

(Machali, 2009:78)

Tsa. : Saya merasa tidak ada emosi.

(47)

Pada teks bahasa sumber ditemukan metode penerjemahan harafiah karena

seluruh kata yang terdapat pada teks sumber hanya dialihkan begitu saja ke dalam

bahasa sasaran tanpa adanya penyelarasan konteks di mana teks itu terjadi. Dalam

hal ini dapat diketahui bahwa penerjemahan ini adalah penerjemahan harafiah

dimana pemdanan kata secara leksikal dan gramatikal benar-benar hanya

mengalihkan setiap kata yang terdapat pada bahasa sumber ke dalam bahasa

sasarannya.

2.3.3 Penerjemahan Setia (Faithful Translation)

Penerjemahan setia (faithful translation), dalam metode ini, penerjemahan

benar-benar mengacu pada bentuk dan isi teks sumber, setiap kata dan stuktur

kalimat yang menyusun teks sumber tetap dipertahankan, namun penerjemahan

katanya sudah mempertimbangkan aspek makna. Penerjemahan ini pada

umumnya terdapat dalam penerjemahan teks puisi, hukum atau ilmiah yakni

dengan cara tetap mempertahankan istilah atau bentuk dalam teks sumbernya.

(Hoed, 2006:57)

Contoh:

Tsu.: Donne- moi de la vanille Verbe Pron.Ton Art. Part. Nom .

Berikan aku beberapa vanila

Tsa. : Berikan aku vanilanya.

(Comme un Chef : 00.07.021- 00.07.044)

Pada bagian ini diceritakan bahwa chef Alexandre sedang dalam proses

penemuan resep terbaiknya. Kemudian dia meminta pada asistennya untuk

(48)

yakni kata "donne" yang merupakan mode imperatif. Dalam bahasa Prancis mode

impératif adalah salah satu modus verba yang digunakan untuk menyatakan

perintah atau larangan. Modus verba tersebut ternyata dipadankan juga dengan

kalimat perintah dalam bahasa sasarannya, selain itu, susunan kata dan bentuknya

juga tetap mengikuti bentuk dan susunan dari bahasa sumber, sehingga dapat

dipastikan bahwa metode penerjemahan pada subtitle tersebut adalah metode

penerjemahan setia (faithful translation).

2.3.4 Penerjemahan Semantik (Semantic Translation)

Penerjemahan Semantik (semantic translation) adalah metode penerjemahan

pada umumnya dapat ditandai melalui pemadanan kata-kata kunci dan makna

penting yang dikandung oleh teks sumber yang diterjemahkan ke dalam teks

sasaran. Pada penerjemahan ini tata bahasa sumber sudah disesuaikan dengan tata

bahasa sasaran sehingga bahasanya terasa alamiah dalam bahasa sasaran karena

tidak ada lagi penggunaan kata-kata yang tidak lazim atau ganjil, namun unsur

budaya belum betul-betul diperhatikan dalam penerjemahan jenis ini. Hal tersebut

sesuai dengan pernyataan Machali, 2009 :79: bahwa biasanya jenis penerjemahan

ini dapat ditemukan pada penerjemahan idiom dalam bahasa sumber namun

menjadi kalimat yang bukan idiom dalam bahasa sasaran.

Contoh:

Tsu.: Les auditeurs baîllent comme une

Art. Nom Verbe adverbe Art. Nom carpe.

Itu pendengar menguap seperti sebuah ikan kerapu.

Tsa. : Pendengar bosan dan mengantuk.

Gambar

Tabel 3.1
Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan pada Tabel 4.1 Subtitle Film Berbahasa
Tabel 4.2
Sebaran Penggunaan Metode Penerjemahan Kata demi kata (Tabel 4.3 Word-for-word Translation) yang Efektif dalam Subtitle Film
+7

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat teoretis yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman bagi seorang penerjemah mengenai teknik penerjemahan yang digunakan pada ujaran

Pergeseran Kategori ( Category shifts) adalah penerjemahan pada suatu kedudukan linguistik yang berbeda dalam teks sasaran, misalnya sebuah kata dalam bahasa sumber

Objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah metode penerjemahan menurut teori Newmark (1988), serta pergeseran (shifts) yang terdapat pada subtitle film berbahasa

Bentuk unit shift yang paling dominan pada subtitle film adalah bentuk tinggi ke rendah yakni frasa ke kata (down rank shift) sebanyak 13 data. Pergeseran itu terjadi

Berdasarkan hasil penelitian, pe- neliti menyarankan kepada penerjemah subtitle film ContraBand dan para penerjemah lainnya bahwa seorang penerjemah ketika

Penelitian ini berfokus pada pergeseran kategori yang terdapat pada takarir (subtitle) film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dari bahasa Indonesia ke bahasa Perancis

Kesalahan penggunaan kata ganti milik dalam kalimat bahasa Prancis terjadi pada penggunaan kata ganti yang tidak sesuai dengan benda yang digantikan- nya, misalnya mahasiswa

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis wordplay yang ada dalam film Spongebob Squarepants “Sponge Out Of Water”, teknik penerjemahan yang digunakan pembuat subtitle