• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis struktur, kinerja, dan perilaku industry rokok kretek dan industri rokok putih di Indonesia selama periode 1991-2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis struktur, kinerja, dan perilaku industry rokok kretek dan industri rokok putih di Indonesia selama periode 1991-2008"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRUKTUR, KINERJA, DAN PERILAKU INDUSTRI

ROKOK KRETEK DAN INDUSTRI ROKOK PUTIH

DI INDONESIA SELAMA PERIODE 1991-2008

OLEH :

GUSTYANITA PRATIWI H14070039

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(2)

RINGKASAN

GUSTYANITA PRATIWI. Analisis Struktur, Kinerja, dan Perilaku Industri Rokok Kretek dan Industri Rokok Putih di Indonesia Selama Periode 1991-2008 (dibimbing oleh LUKYTAWATI ANGGRAENI).

Industri Hasil Tembakau (IHT) dinilai sebagai industri yang mampu menunjang sektor perekonomian Indonesia. Penerimaan cukai hasil tembakau terbukti efektif untuk meningkatkan penerimaan negara, sehingga industri ini masih tetap dipertahankan. Perkembangan yang terjadi selama kurun waktu 1991-2008, mengindikasikan adanya perubahan pada struktur, kinerja, dan perilaku dari industri rokok, baik industri rokok kretek maupun industri rokok putih. Pertumbuhan jumlah perusahaan yang cukup besar pada industri rokok kretek diduga akan berdampak terhadap struktur industrinya. Pada industri rokok putih, pertumbuhan jumlah perusahaan memang tidak sebesar pada industri rokok kretek. Namun demikian, analisis pada industri ini tetap penting, mengingat belum banyak penelitian yang membahas tentang industri rokok putih. Perubahan struktur tersebut, pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana kinerja dan perilaku yang ada pada kedua industri.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara industri rokok kretek dengan industri rokok putih di Indonesia selama periode 1991-2008. Perbedaan yang dianalisis mencakup struktur, kinerja, dan perilaku di kedua industri. Selain itu akan dianalisis faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kinerja. Perbedaan struktur, kinerja, dan perilaku kedua industri akan dianalisis menggunakan Metode SCP. Pendekatan ini terdiri dari tiga analisis utama yaitu analisis struktur, analisis kinerja, dan analisis perilaku. Analisis struktur diproksi melalui indikator CR4 serta hambatan masuk. Kinerja industri diukur dengan Pendekatan Price Cost Margin (PCM). Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dianalisis dengan Metode Ordinary Least Square (OLS).

Hasil analisis struktur, didapatkan bahwa tingkat konsentrasi industri rokok kretek berubah dari oligopoli ketat (84,29 persen) menuju ke oligopoli sedang (52,65 persen). Industri rokok putih masih bertahan pada tingkat oligopoli ketat, dengan rata-rata nilai CR4 sebesar 94,75 persen. Rata-rata nilai MES yang mencerminkan hambatan masuk pada industri rokok putih lebih tinggi (95,17 persen) daripada industri rokok kretek (72,17 persen). Analisis regresi pada industri rokok kretek menunjukkan bahwa variabel Growth dan X-Eff signifikan positif, sedangkan variabel jumlah perusahaan signifikan negatif terhadap PCM. Pada industri rokok putih, variabel yang signifikan terhadap PCM adalah X-eff dengan nilai sebesar 0,002426. Adapun analisis perilaku antara kedua industri tidak terlepas dari peraturan pemerintah terutama dalam hal penetapan harga jual. Perilaku yang terkait dengan strategi promosi meskipun meningkatkan biaya promosi, tetap dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar yang besar.

(3)

GUSTYANITA PRATIWI. Analysis Structure, Performance, and Conduct of Clove Cigarette Industry and White Cigarettes industry During the Period 1991-2008 (guided by LUKYTAWATI ANGGRAENI).

Tobacco Products Industry (IHT) is rated as the industry capable of supporting Indonesia's economy sector. Tobacco excise receipts proved effective for increasing state revenues, so the industry is still maintained. Developments that occurred during the period 1991-2008, indicating a change in the structure, performance, and conduct of the tobacco industry, both clove cigarettes industries and white cigarette industries. Growth of a sizeable number of firms in the clove cigarette industries is expected to affect the structure of industry. In white cigarette industry, growth in number of firms is not as big as clove cigarettes industry. However, the analysis in this industry is still important, considering the many studies that discuss the white cigarette industry. Changes in the structure, will ultimately affect how the performance and conduct, that exist in both industries.

This study aims to analyze the difference between clove cigarette industry with a white cigarette industry in Indonesia during the period 1991-2008. Differences analyzed include the structure, performance, and conduct in both of industries. Additionally, it will analyze any factors that could affect performance. Differences of structure, performance, and behavior will be analyzed using SCP Method. This approach consists of three main analysis of the structural analysis, performance analysis, and conduct analysis. Analysis of the structure is measured through CR4 indicators and barriers to entry. Industry performance is measured by Price Cost Margin (PCM). Factors affecting the performance was analyzed by method of Ordinary Least Square (OLS).

(4)

   

ANALISIS STRUKTUR, KINERJA, DAN PERILAKU

INDUSTRI ROKOK KRETEK DAN INDUSTRI ROKOK

PUTIH DI INDONESIA SELAMA PERIODE 1991-2008

Oleh

GUSTYANITA PRATIWI H14070039

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

(5)

   

Kretek dan Industri Rokok Putih di Indonesia Selama Periode 1991-2008

Nama Mahasiswa : Gustyanita Pratiwi NIM : H14070039

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Lukytawati Anggraeni, SP. M.Si NIP.1997 1213 2005012002

Mengetahui,

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi

Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec NIP. 1964 1022 19890310003

(6)

   

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, Juli 2011

(7)

   

Penulis bernama Gustyanita Pratiwi, lahir pada tanggal 5 September 1989 di Kebumen, Jawa Tengah. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, pasangan Drs.Tri Hardi Agus Mulyanto dan Titik Nurjayati, S.Pt. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Negeri 1 Bagung pada tahun 2001. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Prembun, lulus pada tahun 2004. Penulis selanjutnya diterima di SMA Negeri 1 Prembun, dan lulus tahun 2007.

(8)

   

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Alloh SWT, karena atas rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul : “Analisis Struktur, Kinerja, dan Perilaku Industri Rokok Kretek dan Industri Rokok Putih di Indonesia Selama Periode 1991-2008”. Industri rokok merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian negara. Perubahan yang terjadi selama 18 tahun terakhir, telah mengindikasikan banyak perubahan dalam hal struktur, kinerja maupun perilaku antara industri rokok kretek maupun industri rokok putih. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk menganalisis bagaimana struktur, kinerja, maupun perilaku kedua industri tersebut. Di samping itu, skipsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Departemen Ilmu Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Lukytawati Anggraeni, SP. M.Si, yang telah membimbing penyusunan skripsi ini, baik secara teknis maupun teoretis, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

2. Tanti Novianti, M.Si, selaku Dosen Penguji Utama atas kritik, saran yang membangun, serta kesediaannya menjadi dosen penguji.

3. Widyastutik, M.Si, selaku Dosen Penguji Komisi Pendidikan yang telah bersedia memberikan saran dan tatacara penulisan skripsi yang baik.

4. Badan Pusat Statisik yang telah memberikan data penunjang analisis Struktur, Kinerja, dan Perilaku Industri Rokok Kretek dan Industri Rokok Putih di Indonesia Selama Periode 1991-2008.

5. Bapak Drs. Tri Hardi Agus Mulyanto, Ibu Titik Nurjayati, S.Pt, Gustitia Putri Perdana, Gustitiara An Nissa, serta seluruh keluarga atas doa dan dukungannya kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

(9)

   

pihak lain yang membutuhkan.

Bogor, Juli 2011

(10)

 

2.2. Pendekatan Structur Conduct Performance (SCP) ... 1

2.2.1. Struktur Pasar ... 11

2.2.2. Kinerja Pasar ... 1

2.2.3. Perilaku Pasar ... 15

2.3. Penelitian Terdahulu ... 15

2.4. Kerangka Pemikiran ... 18

III. METODE PENELITIAN ... 2

3.1. Jenis dan Sumber Data ... 21

3.2. Metode Analisis Data ... 2

3.2.1. Analisis Struktur ... 21

3.2.2. Analisis Kinerja ... 22

3.2.3. Analsis Perilaku ... 24

3.3. Hubungan Faktor-faktor yang Mempengaruhi kinerja ... 24

. Uji Statistika dan Ekonometrika ... 25

3.4.1. Uji R-Squared (R2) ... 26

(11)

 

5.4.8. Hubungan Faktor-faktor yang Mempengaruhi

3.4.3. Uji t ... 2

3.4.4. Uji Normalitas ... 27

3.4.5. Uji Autokorelasi ... 2

3.4.6. Uji Multikolinearitas ... 28

3.4.7. Uji Heteroskedastisitas... 28

IV. GAMBARAN UMUM INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA... 30

4.1. Pengertian Industri Rokok ... 3

4.2. Perkembangan Industri Rokok di Indonesia ... 32

4.3. Penyerapan Tenaga Kerja ... 3

4.4. Produsen Besar dalam Industri Rokok ... 36

4.4.1. Produsen Rokok Kretek ... 36

4.4.2. Produsen Rokok Putih... 39

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43

. Analisis Struktur Industri Rokok di Indonesia ... 43

5.1.1. Analisis Konsentrasi ... 43

5.1.2. Analisis Hambatan Masuk Industri ... 45

5.2. Analisis Kinerja Industri Rokok di Indonesia ... 4

5.2.1. Analisis Price Cost Margin (PCM) ... 48

5.2.2. Analisis Efisiensi Internal (X-eff) ... 51

5.3. Analisis Perilaku Industri Rokok di Indonesia ... 53

5.3.1. Strategi Harga ... 53

5.3.2. Strategi Promosi ... 55

5.4. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja ... 60

5.4.1. Uji R-Squared (R2) ... 60

5.4.2. Uji F ... 60

5.4.3. Uji t ... 61

5.4.4. Uji Normalitas ... 61

5.4.5. Uji Multikolinearitas ... 62

5.4.6. Uji Autokorelasi ... 63

(12)

   

VI. KE

(13)

 

ipe Pasar dan Kondisi Utamanya ... 13

4.1. Perkembangan Output Rokok Nasional, Tahun 1991-2008 ... 3

4.2. Jumlah Tenaga Kerja Industri Rokok, Tahun 1991-2008 ... 35

5.1. CR4 Industri Rokok di Indonesia, Tahun 1991-2008 ... 44

ES Industri Rokok di Indonesia, Tahun 1991-2008 ... 47

5.3. PCM Industri Rokok Kretek, Tahun 1991-2008 ... 50

CM Industri Rokok Putih, Tahun 1991-2008 ... 51

5.5. Perbandingan HJE dan HTP Industri Rokok, Tahun 2008 ... 54

olongan Pengusaha Pabrik Hasil Tembakau ... 55

5.7. Belanja Iklan Rokok di Seluruh Media Massa, Tahun 2009 ... 56

elanja Iklan Per Sektor, Tahun 2009 ... 57

5.9. Even dengan Sponsor Utama Produsen Rokok, Tahun 2004-2008 ... 58

atriks Korelasi pada Industri Rokok Kretek ... 63

5.11. Matriks Korelasi pada Industri Rokok Putih ... 63

asil Uji Autokorelasi pada Industri Rokok Kretek ... 63

5.13. Hasil Uji Autokorelasi pada Industri Rokok Putih ... 64

asil Uji Heteroskedastisitas pada Industri Rokok Kretek ... 64

(14)

   

omor

.1. Hubungan Struktur-Perilaku-Kinerja ... 10

.2. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 19

.1. Pohon Industri Berbasis Tembakau ... 32

.1. Grafik Hasil Uji Normalitas pada Industri Rokok Kretek ... 62

.2. Grafik Hasil Uji Normalitas pada Industri Rokok Putih ... 62

DAFTAR GAMBAR

Halaman N

(15)

   

Halaman Nomor

1. PDB Indonesia Terhadap Harga Konstan 2000 ... 72

2. Efisiensi Internal (X-eff) Industri Rokok Kretek ... 73

3. Efisiensi Internal (X-eff) Industri Rokok Putih ... 74

4. Hubungan Struktur dan Kinerja Industri Rokok Kretek ... 75

5. Hubungan Struktur dan Kinerja Industri Rokok Putih ... 76

6. Hasil Uji Regresi pada Industri Rokok Kretek ... 77

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indikator kemajuan suatu negara dapat dilihat dari perkembangan sektor

industrinya. Semakin maju suatu negara, maka peranan dari sektor industrinya

akan semakin besar. Berdasarkan data BPS tahun 2001-2008, peranan sektor

industri pengolahan di Indonesia telah mencapai 27,58 persen terhadap PDB

nasional (Lampiran 1). Nilai ini merupakan pencapaian kontribusi tertinggi yang

didapat setelah sebelumnya dikuasai oleh sektor pertanian. Perekonomian negara

yang lambat laun menuju ke arah industrialisasi menjadikan Indonesia semakin

berpotensi untuk maju. Dari sinilah sektor industri kemudian dijadikan sektor

pemimpin dalam pembangunan ekonomi nasional. Salah satu sektor industri yang

kemudian berpotensi dalam hal ini adalah Industri Hasil Tembakau (IHT).

Menurut Roadmap Industri Pengolahan Tembakau (2009), IHT mempunyai peran penting dalam menggerakkan sektor perekonomian nasional

melalui sektor pajak. Sektor pajak dalam industri ini ditetapkan dalam bentuk

cukai hasil tembakau. Berdasarkan Tabel 1.1., penerimaan cukai hasil tembakau

di Indonesia ternyata meningkat sebesar 29 kali lipat dari Rp. 1,7 Trilyun (1991)

menjadi Rp. 49,9 Trilyun (2008). Peningkatan ini sengaja ditetapkan pemerintah

dalam rangka memperbesar kas negara, sehingga roda perekonomian tetap

berjalan. Pada saat penerimaan negara meningkat, maka upaya ini dinilai efektif,

(17)

 

Tabel 1.1. Penerimaan Cukai Hasil Tembakau, Tahun 1991-2008

Tahun

Sumber : Nota Keuangan (1991-2008) dan Bea Cukai (2009)

IHT sendiri sebenarnya dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu industri

rokok kretek dan industri rokok putih. Industri ini tidak hanya berperan sebagai

penunjang ekonomi bagi daerah-daerah penghasil tembakau, namun juga sebagai

penyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Pada saat krisis ekonomi sekalipun,

IHT mampu bertahan dengan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

seperti yang dilakukan oleh industri-industri lain. Peningkatan penyerapan tenaga

kerja terus terjadi, hingga pada tahun 2008 telah terjadi penyerapan sebanyak

469.868 orang pada industri rokok kretek, sedangkan pada industri rokok putih

(18)

3  

       

Selain sebagai penyedia lapangan usaha, industri rokok juga mengalami

peningkatan tren dari segi jumlah perusahaan. Peningkatan ini terutama terjadi

pada industri rokok kretek. Berdasarkan Tabel 1.2., jumlah perusahaan dalam

industri rokok kretek, meningkat sebesar 1,72 kali lipat, dari 137 unit (1991)

menjadi 236 unit (2008). Peningkatan ini cukup tinggi, karena pangsa pasar rokok

nasional pada dasarnya dikuasai oleh rokok kretek, yaitu sebesar 93 persen1.

Rokok kretek ini lebih diminati oleh pasar dalam negeri karena ciri khasnya yang

tidak ditemukan dalam rokok lain. Rokok kretek merupakan rokok asli Indonesia,

dengan bahan baku utama selain tembakau yaitu cengkeh. Aroma cengkeh yang

harum akhirnya menciptakan satu alternatif produk tersendiri, yang ternyata

memang sesuai dengan selera orang Indonesia.

Berbeda dengan industri rokok kretek, peningkatan jumlah perusahaan

dengan jumlah yang sangat sedikit terjadi pada industri rokok putih. Kondisi ini

terjadi di beberapa titik tahun, dimana industri rokok putih sempat mengalami

stagnasi dari 1997-2000. Selama kurun waktu empat tahun, industri ini hanya

memiliki 10 unit perusahaan. Penurunan jumlah perusahaan bahkan sempat

terjadi, meski kemudian kembali meningkat pada tahun 2008 menjadi 13 unit. Hal

ini kemudian mengindikasikan terjadinya perubahan dari struktur industri itu

sendiri, sehingga akan berdampak pada perolehan tingkat keuntungan yang

didapat.

  1

(19)

 

Tabel 1.2. Jumlah Perusahaan Rokok di Indonesia, Tahun 1991-2008

Tahun

Sumber : BPS (1991-2008)

Penelitian ini akan membahas tentang struktur, perilaku, dan kinerja

industri rokok di Indonesia. Penelitian ini sangat penting dalam rangka

mengidentifikasi keadaan industri rokok, terutama perbandingan antara industri

rokok kretek dan industri rokok putih di Indonesia. Struktur pasar yang terjadi

dalam industri rokok perlu diperhatikan agar tidak terjadi persaingan usaha yang

tidak sehat. Struktur sendiri merupakan acuan mendasar dalam memproyeksikan

perilaku dan kinerja industri. Analisis perilaku juga penting untuk mengetahui

perkembangan strategi-strategi apa saja yang diterapkan produsen guna mencapai

(20)

5  

1.2. Rumusan Masalah

Kajian tentang industri rokok selalu menarik untuk dianalisis lebih

mendalam. Perkembangan industri ini dapat dikatakan meningkat secara

signifikan selama 1991-2008. Jumlah perusahaan rokok yang keluar masuk pasar

setiap tahunnya tidak menunjukkan fluktuasi yang berarti, kecuali pada tahun

2006. Pertumbuhan pada tahun tersebut mencapai persentase yang cukup tinggi,

baik pada industri rokok kretek (58,10 %) maupun industri rokok putih (85,71 %).

Hal ini diduga karena hambatan masuk bagi perusahaan-perusahaan baru semakin

berkurang. Pada saat kondisi ini berlangsung, maka masalah utamanya terletak

pada perolehan keuntungan yang semakin berkurang. Artinya, dari sisi produsen,

tingkat keuntungan antara produsen lama maupun produsen baru akan mengalami

perubahan. Semakin tinggi tingkat persaingan dalam industri, maka semakin

memberikan ancaman bagi produsen yang tidak dapat bersaing dalam industri

tersebut untuk keluar dalam pasar. Apabila hal tersebut terjadi, maka tingkat

keuntungan yang diperoleh akan menurun. Secara umum, kondisi ini akan

menggambarkan bagaimana perubahan tingkat struktur dari industri itu sendiri.

Menurut Bain dalam Sumarno dan Kuncoro (2002), struktur industri rokok

kretek di Indonesia pada tahun 1998 adalah oligopoli ketat. Empat perusahaan

terbesar menguasai pangsa pasar dengan nilai CR4 sebesar 68 persen. Pada tahun

tersebut, terjadi penurunan konsentrasi industri yang disebabkan oleh dua hal.

Pertama, bertambahnya perusahaan akan menyebabkan CR4 berkurang, sehingga

hambatan masuk bagi perusahaan baru ikut berkurang. Kedua, tahun 1998

(21)

 

Bagaim

Bagaim

Fa

Pertumbuhan yang cukup pesat, terutama pada industri rokok kretek

antara tahun 2005-2008, cukup mempengaruhi tingkat konsentrasinya. Kondisi ini

mengekspektasikan bahwa struktur industri rokok tersebut mulai berubah. Dengan

kata lain apakah strukur tersebut masih bertahan pada tingkat oligopoli ketat, atau

mulai berubah menjadi oligopoli longgar. Sementara itu, pada industri rokok putih

belum diketahui bagaimana strukturnya. Hal ini terjadi karena selama ini jarang

sekali terdapat penelitian yang membahas tentang industri rokok putih.

Banyaknya perusahaan yang masuk ke dalam industri menyebabkan

tingkat persaingan semakin ketat. Perilaku suatu perusahaan tentulah sangat

menentukan bertahan tidaknya perusahaan tersebut dalam industri. Perilaku ini

merupakan kumpulan dari strategi perusahaan yang mencakup strategi penetapan

harga maupun promosi. Selain sebagai antisipasi dalam upaya pertahanan, strategi

yang terangkum dalam perilaku merupakan upaya untuk memperluas pasar.

Adapun kinerja sangat berkaitan dengan struktur dan perilaku dari industri itu

sendiri. Struktur, perilaku, dan kinerja industri rokok kemudian menjadi penting

untuk dianalisis, sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini ditekankan pada:

1. ana struktur industri rokok kretek dan industri rokok putih di Indonesia

selama periode 1991-2008 ?

2. ana perilaku industri rokok kretek dan industri rokok putih di

Indonesia selama periode 1991-2008 ?

3. ktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi industri rokok kretek dan

(22)

7

nelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

a. Pem an yang terkait

ndonesia, terkait dengan perilaku dan

an masukan

i tempat untuk pengaplikasian ilmu

1.5. Ruang Lingkup

nelitian ini meliputi, struktur, perilaku, dan kinerja dari

industri rokok di Indonesia. Adapun objek penelitiannya hanya mencakup industri

1.3. Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya, maka

tujuan dari penelitian ini adalah:

a. engidentifikasi struktur industri rokok kretek dan industri rokok putih di

Indonesia selama periode 1991-2008.

b. engidentifikasi perilaku industri rokok kretek dan industri rokok putih di

Indonesia selama periode 1991-2008.

c. engidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dari industri rokok

kretek dan industri rokok putih di Indonesia selama periode 1991-2008.

Hasil dari pe

erintah selaku regulator dalam penetapan berbagai kebijak

dengan industri rokok di Indonesia.

b. Para pelaku industri rokok di I

kinerjanya dalam aktivitas produksi yang semakin berdaya saing.

c. Bagi pembaca diharapkan dapat menjadi sumber informasi d

dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

d. Bagi penulis diharapkan dapat menjad

pengetahuan selama menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor.

(23)

 

rokok kretek dan industri rokok putih. Variabel yang digunakan merupakan

variabel yang dapat menjelaskan faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi

kinerja. Kinerja industri rokok sendiri diwakili oleh Variabel Price Cost Margin

(PCM). Sedangkan variabel yang diduga dapat mempengaruhi kinerja terdiri dari

tingkat pertumbuhan nilai output (Growth), jumlah perusahaan (Usaha), dan efisiensi internal (X-eff). Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Ekonomi Industri

Ekonomi industri merupakan cabang ilmu yang khusus mempelajari

perilaku-perilaku perusahaan dalam industri (Teguh, 2006). Perilaku industri tentu

sangat berhubungan erat dengan tujuan-tujuan industri. Setiap keputusan bisnis

yang diambil oleh produsen akan sejalan dengan tujuan ekonomi yang telah

ditentukan sebelumnya. Tujuan tersebut tercermin dalam bentuk keuntungan yang

didapat dalam jangka panjang (Kuncoro, 2007).

Tiap-tiap industri dalam perekonomian memiliki perilaku yang

berbeda-beda. Ada industri yang memiliki tipe oligopoli, ada pula yang tidak memiliki tipe

demikian. Perekonomian yang serba tidak pasti menjadikan industri-industri

tersebut mampu bertahan dengan segala strategi yang telah diperhitungkan. Di sisi

lain terdapat pula industri-industri yang cukup rentan terhadap gejala

perekonomian yang ada. Hal-hal seperti inilah yang kemudian dirangkum dalam

ilmu ekonomi industri.

Pengertian lain tentang ekonomi industri dikemukakan Jaya (2001).

Ekonomi industri didefinisikan sebagai pengorganisasian pasar untuk mengetahui

cara kerja dari industri itu sendiri. Secara relatif, pengorganisasian pasar

diperlukan untuk mengidentifikasi aspek-asek seperti, struktur, perilaku dan

kinerja pasar. Kajian mengenai struktur, perilaku dan kinerja suatu industri

menjadi penting untuk dipelajari. Hal ini tidak terlepas dari semakin tingginya

(25)

10   

Ketika konsentrasi oligopoli berada pada tingkat yang sangat ketat, maka barrier to entry juga akan semakin besar. Persaingan menjadi tidak sehat, dan perusahaan besar akan cenderung melakukan tekanan-tekanan pada perusahaan lainnya

2.2. Pendekatan Structure-Conduct-Performance (SCP)

Teori ekonomi industri selalu menekankan pada studi empiris dari

faktor-faktor yang mempengaruhi struktur, kinerja, dan perilaku pasar. Semuanya itu

bertujuan untuk mencapai tingkat efisiensi baik di tingkat perusahaan, industri,

maupun perekonomian secara luas (Jaya, 2001).

Struktur (Structure) Jumlah penjual dan pembeli Skala pembeli, Kondisi biaya, diferensiasi produk, Hambatan masuk, Integrasi vertikal, Integrasi horizontal,Konglomerasi

Tingkat kerjasama

Kinerja (Performance) Efisiensi Strategi harga

Strategi produk

Sumber : dimodifikasi dari Scherer dalam Kuncoro (2007)

Gambar 1.1. Hubungan Struktur-Perilaku-Kinerja

(26)

11   

     

Gambar 1.1., menunjukkan adanya keterkaitan antara struktur, perilaku,

maupun kinerja dari suatu industri. Kinerja (performance) dalam suatu industri dipengaruhi oleh perilaku (conduct), dari para penjual dan pembeli dalam industri. Perilaku ini mencakup perilaku harga, persaingan nonharga (produk, promosi, dan

inovasi), serta kerja sama antar perusahaan. Perilaku perusahaan tergantung dari

struktur (structure) pasar yang relevan.

Struktur dapat dilihat dari jumlah penjual dan jumlah pembeli, skala

pembeli, tingkat diferensiasi produk, hambatan masuk, struktur biaya, integrasi

vertikal, integrasi horizontal, maupun konglomerasinya. Analisis organisasi

industri dengan pendekatan SCP dimulai dengan cara menelaah terlebih dahulu

struktur terhadap kinerja, baru setelah itu mengamati bagaimana perilaku

industrinya (Kuncoro, 2007).

2.2.1. Struktur Pasar

Menurut Teguh (2006), struktur pasar menunjukkan karakteristik pasar,

seperti jumlah pembeli dan penjual, keadaan produk, pengetahuan penjual dan

pembeli, serta keadaan hambatan masuk pasarnya. Perbedaan pada

elemen-elemen tersebut akan membedakan cara masing-masing pelaku pasar dalam

berperilaku. Perbedaan berperilaku ini akhirnya akan menentukan perbedaan

kinerja pada pasar itu sendiri.

Jumlah penjual dalam pasar akan mempengaruhi harga jual yang berlaku

dan output yang terdapat dalam pasar. Pasar yang memiliki struktur oligopoli

ditandai dengan adanya sejumlah produsen yang menguasai pasar namun dalam

(27)

12   

     

skala besar dan menguasai keadaan pasar. Di sisi lain, terdapat pula

produsen-produsen dengan skala kecil sehingga hanya mampu memproduksi output dalam

jumlah kecil. Produsen-produsen ini pada akhirnya hanya memiliki andil yang

kecil dalam industri.

Menurut Teguh (2006), produk-produk yang dihasilkan industri oligopolis,

dapat bersifat homogen, dan dapat pula bersifat heterogen. Perbedaan penampilan

produk yang dihasilkan oleh produsen akan turut menentukan perbedaan perilaku

bersaing dalam pasar. Produsen yang menghasilkan output yang berbeda corak

pada akhirnya akan memiliki wilayah pasar tersendiri, sehingga output mereka

menjadi dominan dibandingkan dengan pesaing-pesaing lainnya. Sejumlah

perusahaan kemudian menerapkan strategi-strategi bisnis yang jitu agar tetap

masuk menjadi bagian yang dominan dalam pasar.

Menurut Jaya (2001), struktur pasar lebih mengacu pada organisasi pasar

yang dapat mempengaruhi persaingan dan tingkat harga, baik barang maupun

jasa. Struktur pasar dalam konteks ini menunjukkan atribut pasar yang

mempengaruhi sifat persaingan. Beberapa elemen penting untuk mengukur

struktur pasar diantaranya tingkat konsentrasi dan hambatan masuk pasar.

a. Konsentrasi Pasar

Tingkat konsentrasi industri merupakan salah satu variabel penting dalam

struktur pasar. Konsentrasi menurut Jaya (2001), dapat diartikan sebagai

kombinasi pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan oligopolis yang terdapat

hubungan saling ketergantungan di dalamnya. Konsentrasi juga menunjukan

(28)

13   

     

perusahaan terbesar. Semakin besar pangsa pasar yang dikuasai oleh perusahaan

relatif terhadap pangsa pasar total, maka semakin tinggi nilai konsentrasinya.

Tabel 2.1. Tipe Pasar dan Kondisi Utamanya

Tipe Pasar Kondisi Utama

Monopoli Murni Perusahaan menguasai 100 persen pangsa pasar. Perusahaan yang dominan Perusahaan minimal menguasai 50 persen sampai

dengan 100 persen pangsa pasar tanpa pesaing yang kuat.

Oligopoli Ketat Penggabungan empat perusahaan terkemuka yang memiliki pangsa pasar 60 persen sampai dengan 100 persen.

Oligopoli Sedang Penggabungan empat perusahaan terkemuka yang memiliki pangsa pasar 40 persen sampai dengan 60 persen.

Oligopoli Longgar Penggabungan empat perusahaan terkemuka yang memiliki pangsa pasar di bawah 40 persen.

Persaingan Monopolistik Banyak pesaing yang efektif dan tidak ada satupun yang memiliki pangsa pasar lebih dari 10 persen. Persaingan Murni Terdapat lebih dari 50 pesaing dan tidak ada

satupun yang memiliki pangsa pasar berarti. Sumber : Jaya ( 2001)

Tingginya konsentrasi pasar menunjukkan bahwa pasar tersebut memiliki

kecenderungan ke arah monopoli atau oligopoli. Pembangunan industri di

Indonesia saat ini lebih difokuskan pada konsentrasi modal, sehingga mendorong

terbentuknya struktur pasar oligopoli. Pertumbuhan sektor industri oligopoli

relatif lebih tinggi karena penggunaan teknologi produksi yang relatif padat modal

dengan tingkat keterampilan yang relatif lebih tinggi (Kuncoro, 2007).

b. Hambatan Masuk Pasar

Hambatan masuk pasar terjadi sebagai akibat dari ketatnya persaingan

dalam industri. Menurut Teguh (2006), hambatan masuk terdiri dari hambatan

alamiah dan hambatan artifisial. Hambatan alamiah merupakan hambatan yang

(29)

14   

     

entry bagi pesaing potensial yang diperoleh secara alamiah, seperti unggul dalam kepemilikan modal, efisien dalam berproduksi, serta kemampuan manajemen

bisnis yang unggul.

Hambatan artifisial dapat berupa keunggulan yang dimiliki perusahaan

karena proses ditunjuk pemerintah, dan kolusi formal. Perusahaan dominan dapat

menaikkan atau menurunkan harga jual pasar agar calon pesaing tidak tertarik

memasuki pasar. Perusahaan dengan biaya produksi lebih rendah dapat

menghalangi calon pesaing dengan cara mengenakan harga jual sampai kepada

batas biaya marginal. Adanya hambatan yang demikian menyebabkan calon

pesaing tidak tertarik memasuki pasar, sehingga perusahaan mapan menjadi

dominan dalam pasar.

Oligopolis mapan juga dapat menerapkan kolusi dalam bentuk asosiasi

yang bersifat legal. Wadah-wadah kolusi tersebut akan memberikan kekuatan

ekstra bagi perusahaan-perusahaan dalam persekutuan guna merintangi calon

pesaing masuk ke dalam pasar. Pesaing potensial, sengaja dibiarkan masuk ke

dalam pasar, untuk menciptakan situasi aman bagi penguasa pasar. Hal ini

dimaksudkan agar perusahaan-perusahaan tersebut terhindar dari tuduhan

mengeksploitasi konsumen sehingga pada akhirnya masih dapat mencapai

keuntungan super normal dalam pasar. Namun demikian, jika kehadiran pesaing

dirasa berbahaya, maka pihak-pihak yang berada dalam ikatan kolusi dapat

menurunkan harga secara bersama sehingga tidak menarik perhatian pesaing

(30)

15   

     

2.2.2. Kinerja Pasar

Kinerja pasar menurut Teguh (2006), merupakan hasil kerja atau prestasi

yang muncul sebagai reaksi akibat terjadinya tindakan-tindakan para pesaing

pasar yang menjalankan strategi perusahaannya guna bersaing dan menguasai

pasar. Kinerja dapat diukur melalui berbagai bentuk pencapaian yang diraih

perusahaan, beberapa diantaranya adalah keuntungan dan efisiensi.

Struktur industri yang berbeda-beda ditandai oleh keuntungan yang

diterima setiap perusahaan dalam industri yang berbeda-beda pula. Industri yang

berstruktur pasar persaingan sempurna, akan mendapatkan keuntungan normal.

Produsen pada umumnya akan berproduksi pada saat harga sama dengan biaya

marginal dan biaya rata-rata. Sebaliknya, pasar yang berstruktur

oligopoli/monopoli akan berproduksi pada saat tingkat harga melebihi biaya

rata-rata yang sedang menurun sehingga keuntungan yang didapat bersifat super normal profit.

Menurut Teguh (2006), struktur pasar yang bersifat oligopoli/ monopoli

pada umumnya berproduksi pada situasi penerimaan marginal sama dengan biaya

marginal. Oligopolis/monopolis tersebut akan berproduksi pada saat kapasitas

produksi yang rendah sehingga mendapat keuntungan super normal.

2.2.3. Perilaku Pasar

Perilaku pasar menurut Kuncoro (2007), diartikan sebagai pola tanggapan

yang dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuannya dalam lingkup persaingan

industri. Aksi reaksi antar satu perusahaan terhadap perusahaan lainnya diterapkan

(31)

16   

     

Perilaku pasar digunakan untuk menentukan segala sesuatu yang berkaitan

dengan kegiatan operasional perusahaan. Strategi pasar jenis ini dilakukan oleh

pelaku pasar beserta pesaing-pesaingnya. Masing-masing tindakan yang

dijalankan oleh perusahaan dalam industri memiliki ciri khas tersendiri sebagai

langkah untuk melakukan penetrasi pasar (Teguh, 2006). Perilaku setiap

perusahaan akan sulit diperkirakan untuk kondisi pasar oligopoli. Tindakan yang

dilakukan seringkali harus mengantisipasi tindakan dari pesaing-pesaing terdekat.

2.3. Penelitian Terdahulu

Penelitian dengan pendekatan Struktur, Perilaku dan Kinerja (SCP), telah

banyak diterapkan di berbagai industri seperti industri minuman ringan

(Sunengcih, 2009), industri pertambangan non-migas (Fathan, 2010), serta

industri pengolahan dan pengawetan daging (Panaadhy, 2010). Mengacu pada

konteks yang sama, penelitian ini juga menggunakan SCP sebagai alat

analisisnya. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis struktur, perilaku, dan

kinerja industri rokok dengan acuan dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang

SCP industri rokok.

Sumarno dan Kuncoro (2002), menganalisis hubungan antara struktur dan

kinerja industri rokok kretek di Indonesia periode 1996-1999. Penelitian ini

menggunakan indikator CR4 dan jumlah perusahaan sebagai ukuran dari struktur,

sedangkan keuntungan sebagai indikator dari kinerja. Hasil analisis yang didapat

yaitu, keuntungan tiap perusahaan mempunyai korelasi yang positif dengan

indikator turunnya nilai CR4. Sedangkan keuntungan tiap perusahaan mempunyai

(32)

17   

     

rokok kretek di Indonesia secara total pada tahun 1999 mengalami kenaikan

sebesar 4,1 persen bila dibandingkan dengan keuntungan per output pada tahun

1996. Keuntungan per output yang meningkat seiring dengan bertambahnya

jumlah perusahaan inilah yang menyebabkan keuntungan tiap perusahaan

menurun.

Muslim dan Wardhani (2008), menganalisis tentang hubungan struktur dan

kinerja industri rokok kretek dengan menggunakan tiga variabel. Variabel tersebut

terdiri dari CR4 dan MES (Minimum Efficiency of Scale) sebagai indikator struktur, sedangkan PCM (Price Cost Margin) sebagai indikator kinerja.

Hasil penelitian yang didapatkan yaitu variabel CR4 signifikan positif

terhadap PCM. Konsentrasi yang meningkat akan mempengaruhi peningkatan

PCM atau sebaliknya. Hasil lainnya yaitu, variabel MES signifikan negatif

terhadap PCM. Semakin tinggi hambatan masuk pasar maka semakin menurun

nilai PCM, atau sebaliknya. MES bernilai signifikan negatif karena pada industri

rokok kretek, orientasinya lebih mengacu pada produk efisiensi. Produk efisiensi

diukur berdasarkan peningkatan produktivitas tenaga kerja dalam menghasilkan

rokok kretek. Hal ini dilakukan karena industri rokok kretek lebih bersifat padat

karya dibandingkan dengan orientasinya terhadap teknologi.

Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya

terletak pada kelengkapan aspek yang menjadi dasar analisisnya. Penelitian

sebelumnya (Sumarno dan Kuncoro, 2002) dan (Muslim dan Wardhani, 2008)

hanya menganalisis hubungan antara struktur dan kinerja dari industri rokok

(33)

18   

     

tingkat oligopoli ketat. Hal tersebut wajar, mengingat peningkatan jumlah

perusahaan tidak terlalu besar, pada tahun-tahun sebelumnya yaitu 1996-1999,

dan 2001-2005.

Penelitian ini akan menganalisis tidak hanya terkait SCP pada industri

rokok kretek, namun juga pada industri rokok putih. Tahun analisis yang

digunakan dimulai dari tahun 1991 hingga tahun 2008. Hal ini dilakukan sebagai

tindak lanjut dari penelitian sebelumnya, mengingat setelah tahun 2005, banyak

perusahaan baru yang masuk dalam industri. Kondisi ini kemudian memunculkan

suatu indikasi baru tentang adanya perubahan tingkat konsentrasi dari industri itu

sendiri. Perubahan tersebut diduga akan berpengaruh terhadap kinerja industri.

Pembahasan dalam penelitian ini juga akan dilengkapi dengan satu analisis

tambahan yang tidak didapatkan dalam penelitian sebelumnya. Analisis tersebut

berupa analisis perilaku dari masing-masing industri. Analisis perilaku ini muncul

setelah analisis struktur dan kinerja industri tersebut diketahui.

2.4. Kerangka Pemikiran

Tujuan utama ekonomi industri menurut Jaya (2001), adalah

mengembangkan suatu alat untuk menganalisis organisasi pasar dan dampaknya

terhadap kinerja ekonomi. Konsep Struktur, Kinerja, dan Perilaku (SCP)

menjelaskan tentang bagaimana perusahaan akan berperilaku (conduct) dalam menghadapi struktur pasar tertentu, dimana dari perilaku tersebut akan tercipta

suatu kinerja (performance).

Penelitian ini akan membahas tentang struktur, perilaku, dan kinerja dari

(34)

19   

     

Penelitian ini penting karena perubahan yang terjadi hampir di setiap tahunnya,

mengindikasikan pula terjadinya perubahan pada struktur, perilaku, maupun

kinerja dari kedua industri.

Industri Rokok di Indonesia (1991-2008)  

Gambar 1.2. Kerangka Pemikiran Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran yang terdapat dalam Gambar 1.2.,

analisis dimulai secara deskriptif tentang bagaimana kondisi dari struktur, kinerja,

dan perilaku dari kedua industri. Struktur akan dianalisis melalui konsentrasi rasio

empat perusahaan terbesar (CR4) dan hambatan masuk pasar (MES). Adapun

kinerja akan dijelaskan melalui Analisis Price Cost Margin (PCM).

Setelah mengetahui tentang bagaimana struktur, kinerja, dan perilaku dari

kedua industri, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis faktor-faktor apa

saja yang mempengaruhi kinerja dari industri rokok tersebut. PCM yang

mencerminkan tingkat keuntungan dari industri akan dilihat keterkaitannya

Struktur Industri Rokok Putih Industri Rokok Kretek

Hubungan SCP

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Industri Rokok Indonesia

Analisis Regresi dengan Metode OLS

(35)

20   

     

dengan variabel-variabel yang terdiri dari tingkat pertumbuhan nilai output

(Growth), jumlah perusahaan (Usaha) serta efisiensi internal (X-eff). PCM ditetapkan sebagai variabel dependen, sedangkan variabel-variabel lainnya yaitu

Growth, jumlah perusahaan, dan X-eff ditetapkan sebagai variabel independen. Adapun perilaku akan dianalisis berdasarkan strategi harga dan promosi dari

kedua industri.

(36)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Sumber data utama berasal dari Statistik Industri Besar dan Sedang dalam bentuk

buku, Ditjen Bea Cukai, jurnal-jurnal ilmiah, serta literatur-literatur terkait. Data

yang digunakan adalah data time series dari tahun 1991-2008. Data-data yang

diambil dalam penelitian ini terdiri dari: (1) jumlah perusahaan; (2) PCM; (3)

CR4; (4) MES; (5) PCM; serta (6) X-eff. Pengolahan data dilakukan dengan

menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan Eviews 6.

3.2. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua

pendekatan. Pertama, pendekatan deskriptif dengan SCP untuk menganalisis

struktur, perilaku, dan kinerja industri rokok. Kedua adalah pendekatan kuantitatif

dengan menggunakan salah satu model ekonometrika, yaitu Ordinary Least

Square (OLS). Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dari industri rokok kretek maupun industri rokok putih.

3.2.1. Analisis Struktur

Struktur industri di Indonesia dicirikan dengan tingginya tingkat

konsentrasi pada beberapa perusahaan (oligopolistik). Struktur industri juga

menunjukkan atribut pasar yang mempengaruhi persaingan dalam industri.

(37)

22   

MES O O

Ukuran tersebut dapat diketahui melalui analisis konsentrasi rasio dari perusahaan

terbesar serta hambatan masuk pasarnya (Kuncoro, 2007).

a. Konsentrasi Pasar

Indikator konsentrasi yang umumnya digunakan adalah metode CR4. CR4

merupakan persentase pangsa perusahaan relatif terhadap pangsa total industri.

Struktur oligopoli memiliki 3 tingkatan yaitu: (1) oligopoli ketat, yaitu jika empat

perusahaan terbesar memiliki pangsa pasar 60 persen sampai dengan 100 persen;

(2) oligopoli sedang, yaitu jika empat perusahaan terbesar memiliki pangsa pasar

40 persen sampai dengan 60 persen: (3) oligopoli longgar, yaitu jika empat

perusahaan terbesar memiliki pangsa pasar di bawah 40 persen (Jaya, 2001).

b. Hambatan Masuk Industri

Selain menggunakan ukuran konsentrasi, struktur industri juga dapat

diidentifikasi melalui hambatan masuk pasarnya. Alat analisis yang digunakan

dalam hal ini adalah Minimum Efficiency Scale (MES). Nilai MES didapatkan dari

hasil pembagian antara output perusahaan terbesar dengan total output industrinya

(Muslim dan Wardhani, 2008).

x % ... (3.1)

3.2.2. Analisis Kinerja

PCM diidentifikasikan sebagai persentase keuntungan dari kelebihan

penerimaan atas biaya langsung. Semakin tinggi nilai tambah, maka efisiensi

kinerja industri semakin meningkat sehingga keuntungan yang didapat akan

(38)

23   

PCM = % ... (3.2)

Efisiensi internal (X-eff) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

suatu industri untuk menekan biaya produksi (Putri, 2004). Secara umum, nilai

efisiensi internal adalah antara 0-100 persen. Namun demikian, terdapat beberapa

kasus yang menyebabkan efisiensi dapat mencapai angka di atas 100 persen. Hal

ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti sifat dari industri itu sendiri.

Industri yang bersifat mass production merupakan industri yang

berorientasi terhadap keberadaan tenaga kerja dalam proses produksinya. Industri

ini cenderung bersifat padat karya dan menggunakan sistem jasa upah daripada

jasa bulanan. Artinya, upah yang akan diberikan tergantung dari seberapa banyak

tenaga kerja tersebut dapat menghasilkan barang. Industri yang bersifat mass

production memiliki kecenderungan nilai tambah yang sangat besar. Hal ini terjadi karena nilai output yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan nilai

inputnya. Efisiensi internal didapatkan dengan cara membagi nilai tambah dengan

nilai input suatu industri (Jaya, 2001).

X-eff = % ... (3.3)

Variabel lain yang digunakan adalah pertumbuhan nilai output (Growth).

Growth ditentukan dengan cara membagi selisih antara nilai output pada tahun ke-1 dengan nilai output pada tahun sebelumnya (Sunengcih, 2009).

(39)

24   

3.2.3. Analisis Perilaku

Perilaku industri rokok dalam penelitian ini akan dianalisis secara

deskriptif. Analisis tersebut lebih ditekankan pada strategi apa saja yang

digunakan industri rokok untuk mendapatkan pangsa pasarnya. Adapun

strategi-strategi tersebut terdiri dari strategi-strategi harga dan strategi-strategi promosi.

a. Strategi Harga

Setiap perusahaan dalam lingkup industri tentu memiliki strategi yang

berbeda dalam hal penetapan harga. Struktur pasar yang memiliki kecenderungan

oligopoli, akan menciptakan perilaku saling ketergantungan antara perusahaan

yang kurang mendominasi terhadap perusahaan lain yang lebih mendominasi

(Kuncoro, 2007). Kesepakatan dalam hal penetapan harga terkadang dipengaruhi

pula oleh kebijakan pemerintah, seperti halnya dalam industri rokok.

b. Strategi Promosi

Promosi digunakan sebagai salah satu upaya perusahaan untuk

meningkatkan penjualan. Setiap perusahaan akan mengalokasikan anggaran yang

berbeda-beda untuk mempromosikan produknya. Hal demikian sangat terkait

dengan ukuran dari perusahaan dalam industri (Kuncoro, 2007). Semakin besar

ukuran suatu perusahaan, maka kemampuan untuk mengalokasikan dana untuk

promosi akan semakin besar pula. Tingkat kreativitas dan inovasi pun akan sangat

menentukan, sehingga produk dapat diterima masyarakat.

3.3. Hubungan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja

(40)

25   

PCM β β Growth β Usaha β Xeff U

β

β ,β β ,β β

prinsipnya tidak boleh menyimpang dari asumsi BLUE (Best, Linear, Unbiased, terdiri atas variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen yang

digunakan adalah PCM. Sementara variabel independennya meliputi pertumbuhan

nilai output (Growth), jumlah perusahaan (Usaha), dan efisisensi internal (Xeff).

Model persamaan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Sunengcih (2009) dalam menganalisis SCP

Industri Minuman Ringan di Indonesia, serta Pannaadhy (2010) dalam

menganalisis SCP Industri Pengolahan dan Pengawetan Daging di Indonesia.

Adapun model tersebut dapat ditulis dalam persamaan berikut :

Keterangan :

t : tahun ke-t

PCM : proksi keuntungan perusahaan (%)

Growth : pertumbuhan output (%) Usaha : jumlah perusahaan (unit)

Xeff : efisiensi internal (%)

U : galat

: intersep (β )

: koefisien kemiringan parsial (β )

3.4. Uji Statistika dan Ekonometrika

Metode Ordinary Least Square (OLS) merupakan salah satu metode pendugaan parameter dalam model regresi. Terdapat sejumlah asumsi tertentu

(41)

26   

3.4.1. Uji R-Squared (R2)

ntuk mengukur tingkat keberhasilan model regresi

dalam

ika R2 bernilai 0 maka tidak ada

3.4.2. Uji F

ji F, Probability F-statistic digunakan untuk mengetahui besarnya

pengar

ang signifikan

tu variabel independen yang signifikan dan Estimator). Artinya, setiap model yang dibuat harus terbebas dari penyimpangan asumsi seperti masalah normalitas, autokorelasi, multikolinearitas,

serta heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi masalah tersebut maka diperlukan

sejumlah uji asumsi klasik dimulai dari Uji R-Squared (R2), Uji F, Uji t, Uji

Normalitas, Uji Autokorelasi, Uji Multikolinearitas serta Uji Heteroskedastisitas

(Gujarati, 2006).

Uji ini digunakan u

memprediksi nilai keragaman yang dapat dijelaskan oleh variabel

independen terhadap variabel dependennya. Nilai R2 memiliki dua sifat, yaitu:

1. R2 memiliki besaran yang selalu positif,

2. R2 dengan nilai 0 ≤ R2 ≤ 1. Artinya, j

hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Sedangkan

apabila R2 bernilai satu, maka terdapat kecocokan yang sempurna antara

variabel dependen dengan variabel independen (Gujarati, 2006).

Pada U

uh secara keseluruhan dari variabel independen terhadap variabel

dependen. Hipotesis untuk melakukan Uji F-statistik adalah:

H0 : semua β = 0, artinya tidak ada variabel independen y

terhadap variabel dependen.

(42)

27   

tistic kurang dari taraf nyata, maka

kesimp d

bility t-statistik menunjukkan besarnya pengaruh nyata untuk masing

igunakan karena data yang digunakan kurang dari 30

observa

, maka residualnya terhadap variabel dependen.

Apabila Probability F-sta

ulannya a alah tolak H0. Artinya, minimal ada satu variabel independen

yang signifikan terhadap variabel dependennya. Namun sebaliknya, jika

Probability F-statistic lebih besar dari taraf nyata, maka harus terima H0, yang berarti tidak ada variabel independen yang signifikan terhadap variabel

dependennya (Gujarati, 2006).

3.4.3. Uji t Proba

-masing variabel. Apabila Probability t-statistik untuk masing-masing

variabel independen bernilai lebih kecil dari taraf nyata, maka dapat disimpulkan

variabel independen tersebut signifikan. Begitupula sebaliknya, jika Probability

t-statistik lebih besar dari taraf nyata yang digunakan, maka variabel independen

tersebut tidak signifikan terhadap variabel dependen (Gujarati, 2006).

3.4.4. Uji Normalitas Uji normalitas d

si. Uji ini digunakan untuk mendeteksi apakah residualnya terdistribusi

normal dengan membandingkan nilai Jarque Bera (JB) terhadap taraf nyata yang

digunakan (Gujarati, 2006). Ketentuan dari uji ini meliputi:

1. Jika probabilitas JB > taraf nyata yang digunakan

(43)

28   

2. Jika diperoleh nilai probabilitas JB < taraf nyata yang digunakan, maka

residualnya tidak terdistribusi normal.

3.4.5. Uji Autokorelasi

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu,

berkaitan satu sama lain. Masalah autokorelasi sering terjadi pada data time series.

Hal ini disebabkan karena error pada satu variabel akan mempengaruhi error pada

variabel yang sama pada periode berikutnya (Gujarati, 2006). Pengujian

autokorelasi dapat diketahui dengan menggunakan Breusch-godfrey serial

Correllation LM test. Hasil kesimpulannya dapat diketahui melalui nilai Probability Obs*R-squared.

Adapun kriteria uji yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Jika nilai Probability Obs*R-squared lebih kecil dari taraf nyata yang

digunakan, maka terjadi autokorelasi di dalam model persamaan.

2. Jika nilai Probability Obs*R-squared ternyata lebih besar dari taraf nyata yang

digunakan, maka tidak terjadi autokorelasi di dalam model persamaan.

3.4.6. Uji Multikolinearitas

Uji ini diidentifikasi untuk melihat korelasi yang kuat antara variabel

independen terhadap variabel dependennya. Multikolinearitas dapat menyebabkan

koefisien variabel independen cenderung tidak signifikan terhadap variabel

dependen. Uji ini dilakukan dengan melihat koefisien korelasi antar variabel

(44)

29   

antar variabel yang lebih besar dari │0,8│ maka dapat disimpulkan terjadi

multikolinearitas pada model persamaan yang digunakan (Gujarati, 2006).

3.4.7. Uji Heteroskedastisitas

Suatu persamaan fungsi dapat dikatakan baik apabila tidak memenuhi

asumsi heteroskedastisitas (Gujarati, 2006). Gejala adanya Heteroskedastisitas

dapat ditunjukkan oleh Probability Obs*R-squared pada Uji Heteoskedastisitas.

Kriteria uji yang digunakan meliputi :

1. Jika nilai Probability Obs*R-squared lebih kecil dari taraf nyata, maka

persamaan mengalami heteroskedastisitas.

2. Jika nilai Probability Obs*R-squared ternyata lebih besar dari taraf nyata,

(45)

IV. GAMBARAN UMUM INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA

4.1. Pengertian Industri Rokok

Industri merupakan suatu aktivitas ekonomi yang memanfaatkan peluang

bisnis untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang. Analisis industri diarahkan

untuk meramalkan perilaku para pesaing, baik itu pemain lama maupun pemain

baru. Analisis industri juga diarahkan untuk mengetahui sejauh mana

perkembangan produk, penerapan teknologi baru, serta pengaruh pembangunan

terhadap industri yang berhubungan (Kuncoro, 2007).

Industri rokok merupakan kumpulan dari sentra-sentra produksi rokok.

Industri ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu industri rokok kretek dan

industri rokok putih. Perbedaan kedua industri ini terletak pada jenis produk rokok

yang ditawarkan2.

Rokok kretek dan rokok putih merupakan dua produk yang sangat

berbeda. Kedua rokok ini dibedakan berdasarkan cara pembuatannya. Rokok

kretek adalah rokok yang cara pembuatannya menggunakan tembakau rakyat,

cengkeh, saus dan bumbu rokok lainnya. Berdasarkan Gambar 4.1., tanaman

tembakau pada awalnya terdiri dari batang, daun, dan bunga. Setelah tanaman

berumur, daun secara bertahap dipetik mulai dari bawah, tengah, hingga atas.

Proses ini memerlukan ketelitian yang cukup tinggi, baik dari segi aroma, rasa,

maupun ciri-ciri fisiknya. Daun tembakau yang sudah kering, kemudian diolah

dalam proses yang cukup panjang. Proses tersebut dimulai dari pemisahan daun

       2

(46)

31   

       

dari batang-batangnya, pembersihan terhadap benda-benda asing, perajangan,

serta pengemasan untuk disimpan dalam gudang dengan suhu dan kelembaban

tertentu. Selanjutnya daun tembakau diproses menjadi produk rokok kretek.

Komposisi lain dari rokok kretek adalah cengkeh, saus, serta bumbu rokok

lainnya. Cengkeh (Eugenia caryophyllus) merupakan satu bahan baku utama yang membedakan antara rokok kretek dengan rokok putih. Cengkeh dengan kualitas

tinggi harus melalui proses pembersihan, perajangan, dan pengeringan terlebih

dahulu sebelum disimpan dalam tempat penyimpanan khusus. Bahan lain yang

juga berpengaruh terhadap rasa rokok adalah filter dan kertas sigaret (ambri). Bahan filter ini cukup sulit didapat, sehingga masih harus diimpor3.

Adapun bahan baku utama rokok putih adalah Tembakau Virginia.

Kebutuhan tembakau jenis ini masih terkendala oleh suplai impor. Volume impor

dalam lima tahun terakhir berkembang relatif kecil, namun masih lebih besar

dibandingkan dengan volume ekspornya. Rata-rata impornya mencapai volume

sebesar 42,95 ton per tahun4. Mengacu pada permasalahan ini, Badan Urusan

Tembakau kemudian membiayai penyelenggaraan kebun-kebun yang

menghasilkan benih tembakau pilihan untuk disebarkan ke seluruh petani

tembakau di Indonesia. Biaya tersebut diusahakan hingga mencapai 15 Ha per

kebunnya. Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi Tembakau

Virginia yang berkualitas untuk keperluan dalam industri rokok putih.

  3

PT. Gudang Garam Tbk. 2002. “Bahan Baku dan Proses Pembuatan Rokok Kretek”. http://www.gudanggaramtbk.com. [ 5 Mei 2011].

4

(47)

32   

Hal lain yang membedakan antara rokok kretek dengan rokok putih adalah

pada penambahan bahan lain berupa cengkeh. Pada pembuatan rokok putih,

prosesnya tidak melibatkan penambahan bahan baku cengkeh, seperti yang

terjadi pada pembuatan rokok kretek. Secara singkat, pohon industri tanaman

tembakau dapat digambarkan sebagai berikut:

 

  Sumber : Roadmap Industri Pengolahan Tembakau (2009)

Gambar 4.1. Pohon Industri Berbasis Tembakau

4.2. Perkembangan Industri Rokok di Indonesia

Industri rokok dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu industri rokok

kretek dan industri rokok putih. Selama periode 1991-2008, perkembangan output

keduanya memiliki tren yang cukup berbeda. Rokok kretek memiliki tren yang

(48)

33   

Tabel 4.1. Perkembangan Output Rokok Nasional, Tahun 1991-2008

Tahun Output Rokok Kretek (Milyar batang)

Growth

(%)

Output Rokok Putih (Milyar batang)

Sumber : Ditjen Bea Cukai (2009)

Berdasarkan Tabel 4.1., perkembangan output rokok kretek meningkat

secara signifikan sebesar 2,18 kali lipatnya, dari -3,60 persen (1991) menjadi 7,87

persen (2008). Krisis ekonomi memang sempat menurunkan produksi rokok

kretek sebesar -0,51 persen dari 197 Milyar batang (1997) menjadi 196 Milyar

batang (1998). Namun demikian, produksi kembali meningkat pada tahun 2000

sebesar 206 Milyar batang. Awal tahun 2001, produksi rokok kretek mengalami

fluktuasi hingga tahun 2006. Menurut Indocommercial (2006), selama tujuh bulan

pertama di tahun 2006, penjualan rokok mengalami penurunan sebesar 4,4 persen

(49)

34   

kembali di tahun 2007 sebesar 6,40 persen dan mencapai puncaknya di tahun

2008 sebesar 7,87 persen.

Sementara itu, produksi rokok putih terlihat terus mengalami penurunan

terhitung sejak tahun 1999. Menurut Indocommercial (2006), penurunan produksi

rokok putih tidak hanya dialami oleh produsen rokok berskala kecil, tetapi juga

produsen rokok berskala multinasional. Produsen rokok putih terbesar yaitu

Phillip Morris dan PT. BAT Indonesia pun mengalami penurunan produksi sejak

beberapa tahun terakhir. Secara keseluruhan, produksi rokok putih pada tahun

2004, tercatat hanya sebesar 18,7 Milyar batang, jauh mengalami penurunan jika

dibandingkan pada tahun 1999 yang sempat memproduksi sebesar 30,3 Milyar

batang. Namun demikian, pertumbuhan kembali positif hingga tahun 2008, yaitu

sebesar 6,25 persen. Angka tersebut dinilai memiliki selisih yang cukup jauh

sebesar 11,67 persen, dibandingkan dengan angka pertumbuhan yang dicapai pada

tahun 1991.

Adapun rata-rata produksi rokok kretek ternyata meningkat menjadi 3,22

persen per tahun, yaitu dari 139 Milyar batang pada tahun 1997 menjadi 233

Milyar batang pada tahun 2008. Sementara itu, rata-rata produksi pada rokok

putih justru menunjukkan adanya tren yang menurun sebesar 0,66 persen.

Penurunan tersebut terjadi dari 20,4 Milyar batang di tahun 1991, menjadi 17

Milyar batang saja pada tahun 2008.

4.3. Penyerapan Tenaga Kerja

Sejak 1991-2008, telah terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja pada

(50)

35   

penyerapan tenaga kerja pada industri rokok kretek jauh lebih besar dibandingkan

dengan penyerapan tenaga kerja pada industri rokok putih. Hal ini disebabkan

oleh jumlah perusahaan rokok kretek yang lebih banyak dibandingkan dengan

perusahaan rokok putih. Penyerapan tenaga kerja industri rokok kretek tercatat

sebesar 3,08 persen (1997), meningkat terus hingga mencapai 0,95 persen (2002),

kemudian sempat mengalami pertumbuhan negatif sebesar -0,34 persen (2003)

dan -5,87 persen (2004). Penyerapan tenaga kerja dengan nilai tertinggi dicapai

pada tahun 2008 dengan pertumbuhan sebesar 68,80 persen. Hal ini terjadi karena

rentang penambahan jumlah perusahaan pada tahun tersebut mencapai 1,68 kali

lipat dari tahun sebelumnya.

Tabel 4.2. Jumlah Tenaga Kerja Industri Rokok, Tahun 1991-2008

Tahun

2006 261.257 14,23 2.994 1,35

2007 278.353 6,54 2.907 -2,91

2008 469.868 68,80 4.258 46,47

(51)

36   

Berbeda dengan industri rokok kretek, industri pesaingnya yaitu rokok

putih ternyata lebih banyak mengalami pertumbuhan negatif di beberapa titik

tahun. Industri ini hanya mengalami pertumbuhan positif sebesar 9,81 persen

(2001), 1,35 persen (2006), dan 46,47 persen (2008). Penyerapan tenaga kerja

tertinggi juga terjadi di tahun 2008 yaitu sebesar 46,4 persen. Hal ini terjadi

karena peningkatan jumlah perusahaan antara tahun 2007 ke tahun 2008

meningkat sebesar 1,46 kali lipatnya, sehingga secara otomatis akan

meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

4.4. Produsen Besar dalam Industri Rokok

Industri rokok terus mengalami perkembangan selama periode 1991-2008.

Baik industri rokok kretek maupun industri rokok putih, keduanya mampu

bertahan dalam setiap kondisi ekonomi yang ada. Kedua industri ini, meskipun

tidak meningkat dalam jumlah yang besar, namun menunjukkan tren yang naik di

akhir tahun analisis. Kedua industri ini terutama dikuasai oleh

perusahaan-perusahaan skala besar yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

4.4.1. Produsen Rokok Kretek a. PT. Gudang Garam Tbk

PT. Gudang Garam didirikan pada tanggal 26 Juni 1958 oleh Surya

Wonowidjojo. Usaha ini dimulai dari sebuah industri rumah tangga di Kediri.

Produksi pertamanya, berupa Sigaret Kretek Klobot (SKL) dan Sigaret Kretek

Tangan (SKT), dengan hasil produksi sebesar 50 juta batang pada tahun 1958.

(52)

37   

       

menjadi Perseroan Terbatas (PT) tahun 1971. Pada tahun tersebut perusahaan ini

sudah mendapatkan fasilitas dari PMDN.

PT. Gudang Garam semakin berkembang, baik dari segi kualitas, produksi,

menejemen, maupun teknologi. Pada tahun 1979 perusahaan ini mulai

memproduksi Sigaret Kretek Mesin (SKM). Produksi sigaret kretek mesin ini

tidak mengubah sifat PT. Gudang Garam sebagai perusahaan yang menganut

sistem padat karya, bahkan semakin memperluas kesempatan kerja5.

Merek-merek terkenal dari perusahaan ini diantaranya GG Merah King

Size, GG Djaja, Taman Sriwedari Lurik, Taman Sriwedari Biru Lurik, GG Special

de Luxe, GG Tanda Mata, GG Filter International Merah, GG Filter International

Coklat, serta GG Filter Surya. PT Gudang Garam Tbk kemudian memproduksi

dan memasarkan produk barunya, yaitu: Gudang Garam Surya Signature Series.

Produk ini dikeluarkan setelah perusahaan mengadakan pemantauan dan riset

pasar dengan seksama pada tahun 2002.

b. PT. H.M. Sampoerna Tbk

PT. H.M. Sampoerna didirikan oleh Liem Seeng Tee pada tahun 1913.

Perusahaan rokok ini berawal dari sebuah industri rumah tangga yang berada di

Surabaya. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pertama yang

memproduksi dan memasarkan rokok kretek maupun rokok putih di Indonesia.

Awal tahun 1930-an, Liem Seeng Tee mengganti nama perusahaannya

menjadi Sampoerna, yang berarti “kesempurnaan”. Sampoerna berkembang pesat

dan menjadi perseroan publik pada tahun 1990 dengan struktur usaha modern.

  5

(53)

38   

       

Sampoerna kemudian berhasil memperkuat posisinya sebagai salah satu

perusahaan terkemuka di Indonesia. Keberhasilan Sampoerna menarik perhatian

Philip Morris International untuk mengakuisisi kepemilikan sahamnya6.

Keduanya kemudian memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan rokok di

Indonesia, yang terdiri dari sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, dan rokok

putih. Rokok kretek menguasai sekitar 92 persen pasar rokok di Indonesia.

Merek-merek yang dihasilkan keduanya antara lain: Dji Sam Soe, A Mild,

Sampoerna Kretek(sebelumnya disebut Sampoerna A Hijau), danU Mild.

c. PT. Djarum

PT. Djarum didirikan oleh Oei Wie Gwan di Kudus pada tahun 1951.

Produk pertamanya berupa Sigaret Kretek Tangan (SKT), baru setelah itu disusul

dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM)7.

Pada tahun 1985 dan 1986, PT. Djarum pernah menduduki tempat teratas

dalam memproduksi rokok kretek di Indonesia. Produk-produk Djarum yang

terkenal diantaranya Djarum Super, Djarum Super CS, Djarum Super Mezzo,

Djarum Coklat, Djarum Coklat Extra, Djarum Istimewa, Djarum 76, Djarum

Black, Djarum Black Slimz, Djarum Black Menthol, Djarum Black Cappucino,

Djarum Black Tea, Djarum Vanilla, L.A Lights, serta L.A Menthol Lights.

d. PT. Bentoel

PT. Bentoel didirikan oleh Ong Hok Liong sebagai industri rumahan

dengan nama “Strootjes Fabriek Ong Hok Liong” pada tahun 1930. Industri

  6

Sampoerna. 2005. “Sejarah Perusahaan”. http://www.sampoernatbk.com. [5 Mei 2011]. 7

(54)

39   

       

rumahan tersebut berubah nama menjadi N.V Pertjetakan Hien An pada tahun

1951. Bentoel merupakan produsen rokok pertama yang memproduksi Sigaret

Kretek Mesin (SKM) berfilter di Indonesia pada akhir tahun 60-an. Bentoel juga

merupakan produsen pertama yang menggunakan plastik sebagai pembungkus

kemasan sehingga menjadi acuan bagi produsen-produsen rokok lainnya.

Produk-produk Bentoel terbagi menjadi dua jenis, yaitu produk lokal dan

produk internasional. Produk-produk dengan merek lokal diantaranya terdiri dari

Star Mild, NeO Mild, Club Mild, U nO Mild, X Mild, Sejati, Bintang Buana,

Joged, Rawit, Prinsip, Country, Tali Jagat, Ardath, serta Bentoel Biru Slim.

Sejak menjalin kerja sama dengan Philip Morris pada tahun 1984, Bentoel

mendapatkan hak eksklusif untuk memproduksi rokok Marlboro dan menjadi

distributor tunggal dari semua produk Philip Morris Indonesia. Pemberian hak

eksklusif tersebut berakhir pada tahun 1998 sedangkan kerja sama distribusi baru

berakhir pada tahun 20058. Di samping itu, merek-merek lain Bentoel, yang

merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan asing meliputi Dunhill, Lucky

Strike, serta Pall Mall.

4.4.2. Produsen Rokok Putih a. PT. BAT Indonesia Tbk

BAT International merupakan perusahaan rokok yang berpusat di London.

Perusahaan ini telah beroperasi sejak 1902 atau lebih dari 100 tahun. Perusahaan

ini menanamkan investasinya di Indonesia pada tahun 1917 di Cirebon.

  8

(55)

40   

PT. Philip

       

BAT Indonesia telah melakukan akuisisi terhadap banyak perusahaan

diantaranya PT. Rothmans of Pall Indonesia, PT. Java Tobacco dan beberapa

perusahaan lainnya. Perusahaan ini juga melakukan akuisisi terhadap Bentoel

sejak 17 Juni 2009. Proses transformasi ini selanjutnya menggabungkan BAT

Indonesia dan Bentoel Group menjadi satu kesatuan di Indonesia. Bentoel Group

kemudian resmi menjadi anggota British American Tobacco International pada tanggal 1 Januari 20109. Produk Rokok yang dihasilkan oleh perusahaan ini

diantaranya Dunhill, Ardath, Pall Mall, Kansas, Lucky Strike, serta Rothmans.

b. Morris Indonesia Tbk (PMI)

Philip Morris Indonesia merupakan anak perusahaan Philip Morris

Internasional yang berpusat di Amerika Serikat. Philip Morris beroperasi dengan

cara mengakuisisi perusahaan rokok besar di Indonesia. Pada tanggal 12 Maret

2005, PMI membeli 40 persen saham PT. H.M. Sampoerna melalui pembelian

saham publik. Pada saat itu, harga yang dikenakan per sahamnya mencapai Rp.

10.600 sehingga nilai total yang didapatkan melebihi Rp. 47 Trilyun. Hal tersebut

merupakan satu-satunya peristiwa akuisisi yang memiliki nilai tertinggi di

Indonesia. Perkembangan yang terjadi selanjutnya adalah kepemilikan sahamnya

saat ini, sudah mencapai 98,04 persen di PT. H.M. Sampoerna10.

Adapun alasan-alasan PMI melakukan akuisisi, yaitu untuk:

1. Meningkatkan kekuatan pasar, dimana dengan mengakuisisi HMS yang

merupakan produsen besar di Indonesia, akan memberikan nilai lebih dan

membuat PMI semakin menguasai pasar rokok global.  

9

BAT. 2010. “BAT 1st Half Profit Up 5 pct”. http: //guliat.ecnext.com. [29 April 2011]. 10

(56)

41   

PT. Rothm

2. Menghindari biaya dari pengembangan produk baru. PMI dapat langsung

memiliki manajemen, pabrik, jalur distribusi, pemasok dan sumber daya

manusia yang berkompeten dari perusahaan yang telah diakuisisi.

3. Meningkatkan kecepatan memasuki pasar dan melewati barriers to entry. PMI yang sudah memiliki akses menuju pasar, akan mendapatkan kemudahan baik

dari segi perijinan, regulasi, serta brand equity. PMI tinggal meneruskan yang sudah ada sebelumnya dari perusahaan yang telah diakuisisi.

Adapun merek-merek yang dihasilkan perusahaan ini terdiri dari merek

lokal dan merek internasional. Merek lokal yang paling dikenal adalah Sampoerna

Hijau dan Dji Sam Soe. Sementara itu merek internasionalnya adalah Marlboro.

c. an of Pall Mall Indonesia (RPMI)

Perusahaan ini didirikan pada tanggal 13 Juni 1931 dengan nama “NV. Tot

Exploitatie Van Cigaretten Fabrieken Faroka”. Pendirinya adalah NV. Tabacofina

dari Belgia. Semasa pendudukan Jepang, sekitar tahun 1942-1945, Faroka berada

di bawah kekuasaan Jepang. Menjelang tahun 1949, NV. Tabacofina kembali

mengelola perusahaan ini. Pada tanggal 12 Februari 1958, perusahaan ini berganti

nama menjadi PT. Faroka SA dengan saham tetap NV. Tabacofina.

Berdasarkan Ketetapan Presiden No.6 tahun 1965, terhitung sejak tanggal

13 Mei 1965 perusahaan dikuasai oleh pemerintah RI. Pada tanggal 7 Maret 1986,

NV. Tabacofina-Belgia menjual sahamnya di PT. Faroka SA kepada Rothmans of

Pall Mall (Australia) Limited. Tanggal 28 April 1986 telah terjadi perubahan

Gambar

Gambar 1.1. Hubungan Struktur-Perilaku-Kinerja
Tabel 2.1. Tipe Pasar dan Kondisi Utamanya
Gambar 1.2. Kerangka Pemikiran Penelitian
Gambar 4.1. Pohon Industri Berbasis Tembakau
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga variabel yang digunakan dalam menganalisis hubungan struktur pasar dan kinerja pada industri sepeda motor adalah PCM, kemudian faktor lain yang dapat mempengaruhi

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri Karet Remah ( Crumb Rubber ) di Indonesia adalah benar karya

Struktur, Perilaku dan Kinerja, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan Diversifikasi Kredit terhadap Profitabilitas (ROA) Industri Perbankan d i Indonesia”. Berdasarkan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa industri semen di Indonesia memiliki struktur oligopoli dimana perilaku industri jauh dari

Penelitian ini akan menganalisis pengaruh struktur pasar terhadap perilaku dan selanjutnya menganalisis perilaku terhadap kinerja perbankan syariah di Indonesia,

Penelitian yang diberi judul &#34;Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Industri Industri Kelapa Sawit di Malaysia dan Implikasinya bagi Pengembangan Industri Kelapa

Perilaku perusahaan ataupun pihak terkait di dalam industri sepeda motor, dapat dilihat dari analisis hubungan antara struktur pasar dengan kinerja. Beberapa elemen dalam

Hasil pendugaan menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan erat antara struktur, perilaku dan kinerja industri pakan ternak ayam dimana masuknya pesaing baru ke dalam industri