BIODIVERSITAS BAMBU DI SUMATERA UTARA
BAGIAN TIMUR
TESIS
Oleh
ANDINI SAPUTRI
117030014/BIO
PROGRAM MAGISTER BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2013
BIODIVERSITAS BAMBU DI SUMATERA UTARA
BAGIAN TIMUR
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sain dalam Program Studi Biologi pada Program Pascasarjana
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Oleh
ANDINI SAPUTRI
117030014/BIO
PROGRAM MAGISTER BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
PENGESAHAN TESIS
Judul Tesis : BIODIVERSITAS BAMBU DI
SUMATERA UTARA BAGIAN TIMUR
Nama Mahasiswa : ANDINI SAPUTRI
Nomor Induk Mahasiswa : 117030014
Program Studi : Magister Biologi
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara
Menyetujui Komisi Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
(Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc.,Ph.D.) NIP. 19590815 198601 1 002
(Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS.) NIP. 19621214 199103 2 001
Ketua Program Studi Dekan
( (Prof. Dr. Syafruddin Ilyas, M. Biomed.)
NIP. 19660209 199003 1 003
Dr. Sutarman, M.Sc.) NIP. 19631026 199103 1 001
Telah diuji pada : Tanggal 24 Juli 2013
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc., Ph.D. Anggota : 1. Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS.
PERNYATAAN ORISIONALITAS
“BIODIVERSITAS BAMBU DI SUMATERA UTARA BAGIAN TIMUR”
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Magister Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara adalah benar hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain pada tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiyah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, Juli 2013
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai sivitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Andini Saputri
NIM : 117030014
Program Studi : Magister Biologi Jenis Karya Ilmiah : Tesis
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-Exclusive Royalty Free Right) atas Tesis saya yang berjudul :
“Biodiversitas Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalty Non-Eksklusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media,
memformat, mengelola dalam bentuk data-base, merawat dan mempublikasikan Tesis saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemegang dan pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.
Medan, Juli 2013
Andini Saputri NIM.117030014
ABSTRAK
Studi Biodiversitas Bambu di Sumatra Utara Bagian Timur telah dilaksanakan pada bulan November 2012 – Maret 2013. Penentuan lokasi penelitian dengan menggunakan metode purposiv sampling, pengamatan penelitian meliputi eksplorasi
dan karakterisasi morfologi dengan menggunakan teknik eksplorasi. Hasil dari eksplorasi dan karakterisasi morfologi ditemuka n 15 jenis bambu yang
tersebar pada 8 Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara Bagian Timur yaitu
Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Bambusa glaucescens, Bambusa glaucophylla, Bambusa multiplex, Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, Gigantochloa atter, Gigantochloa achmadii,
Gigantochloa pruriens, Gigantochloa robusta, Schizotachyum bracycladum, Schizotachyum zollingeri, Schizotachyum sp dan Thyrsostachys siamensis. Biodiversitas tertinggi adalah Kabupaten Deli Serang sebanyak 13 jenis dan biodiversitas terendah adalah Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu Utara masing-masing sebanyak 4 jenis. Habitat bambu liar adalah hutan sekunder (4 jenis), lahan terbuka (11 jenis), pinggir sungai (11 jenis) dan lereng (3 jenis) sedangkan habitat bambu budidaya adalah pekarangan masyarakat (5 jenis) dan kebun masyarakat (5 jenis). Analisis kekerabatan berdasarkan ciri morfologi tersebut memperlihatkan jenis-jenis bambu terbagi kedalam 3 kelompok dengan kemirian morfologi berkisar antara 40 % - 80%.
BIODIVERSITY BAMBOO IN THE EAST AREA OF NORTH SUMATRA
ABSTRACT
The biodiversity of bamboo in east area of North Sumatra has been studied from Novemver 2012 antill March 2013. The research area was determined purposively, observationally including exploration and morphological characterization using exploration techniques. The results of that study showed from 15 species of bamboos found in 8 districts and cities in east area of North Sumatra i.e. Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Bambusa glaucescens, Bambusa glaucophylla, Bambusa multiplex, Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, Gigantochloa atter, Gigantochloa achmadii, Gigantochloa pruriens, Gigantochloa robusta, Schizotachyum bracycladum, Schizotachyum zollingeri, Schizotachyum sp and Thyrsostachys siamensis. The highest biodiversity of bamboos are in Deli Serdang districts (13 spesies) and the lowerst are in Asahan and Labuhan Batu districts (4 spesies). The wild bamboo forest habitat are secondary (4 spesies), open land (11 species), a river (11 species) and slope (3 spesies), however cultivating bamboo habitat ther are 5 spesies in the yard (5 species) and community gardens (5 spesies). The kinship analysis based on morphological characteristics they show the kinds of bamboo are divided into 3 groups with similarity of morphology ranged from 40% to 80%.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian dengan judul Biodiversitas Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur. Penelitian ini diajukan dalam rangka memenuhi Kurikulum Program Magister Biologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Untuk menyelesaikan penelitian ini banyak pihak yang telah membantu saya hingga penelitian ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Sutarman, M.Sc., selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Ilyas, M. Biomed., selaku Ketua Program Studi Magister Biologi, serta Dr. Sucu Rahayu, MSi., selaku Sekretaris S2 & S3 Program Studi Magister Biologi
4. Bapak Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc., Ph.D dan Ibu Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS. selaku dosen Pembimbing I dan Pembimbing II, yang telah banyak memberikan bimbingan, motivasi, arahan dan waktunya kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
5. Ibu Dr. Nursahara Pasaribu, MSc. dan Bapak Dr. T. Alief Aththorik, S.Si., M.Si. selaku dosen Penguji yang telah memberikan saran dan
masukannya untuk kesempurnaan tesis ini.
6. Beasiswa Unggulan DIKNAS, terimakasih atas beasiswa yang telah
diberikan, sehingga penulis dapat melaksanakan perkuliahan dan penelitian ini dengan baik.
7. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Biologi Magister SPs USU,
Terimakasih untuk ilmu yang diberikan.
8. Papa dan Mama tercinta Edi Saputra dan Lilis Suryani, atas segala doa, dukungan, perhatian serta kasih sayang yang tidak terhingga yang telah diberikan kepada penulis sampai dengan saat ini.
9. Adik-adik tersayang, Adinda Pelangi Saputri dan Dimas Wahyu Cahyo Saputra, atas perhatian, kasih sayang, perhatian serta dukungan kepada penulis dalam suka maupun duka sampai dengan saat ini, serta kepada Hijar Windro S., atas perhatian dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
10.Bapak Drs. Chairuddin , MSc dan Bapak Dr. Delvian, MSc., selaku sekretaris S2 & S3 PSL SPs USU dan Maya Afriani, SH., MH., atas dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
12.Adik-adik di Laboraturium Taksonomi Tumbuhan Putri, Jhon yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan spesimen tumbuhan.
13.Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
14.Melalui kesempatan ini, saya sampaikan semoga Allah SWT selalu
memberikan pahala, nikmat dan limpahan rahmat yang tiada tara.
Penulis menyadari tesis ini masih banyak memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan penulis semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga
Medan, Juli 2013 Penulis
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
Nama : Andini Saputri
Tempat dan tanggal lahir : Pancur Batu, 25 Maret 1987
Alamat Rumah : Jalan Persatuan No. 25 Tuntungan II,
Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Medan
Kode Pos : 20353
Telpon/Faks/Hp : 082370707986
e-mail : [email protected]
Instansi tempat kerja : Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam
dan Lingkungan (PSL) SPs USU
Alamat Kantor : Jalan Prof. Maas Kampus USU Padang Bulan
Medan. Kode Pos : 20155
Telpon/Faks/Hp : 061-8217346
e-mail : [email protected]
DATA PENDIDIKAN
SD : Swasta Bakhti, Pancur Batu Tamat : 1999
SMP : Swasta Galih Agung, Lau Bakeri Tamat : 2002
SMA : Swasta Galih Agung, Lau Bakeri Tamat : 2005
Strata - 1 : Departemen Biologi FMIPA USU Tamat : 2009
DAFTAR ISI
2.2. Struktur Bambu dan Perawakannya 5
2.2.1. Akar Rimpang 5
2.2.2. Rebung 6
2.2.3. Buluh 6
2.2.4. Pelepah Buluh 8
2.2.5. Percabangan 9
2.2.6. Helaian Daun dan Pelepah Daun 9
2.2.7. Perbungaan 10
2.6. Penelitian Terdahulu 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Deskripsi Area 15
3.1.1. Letak dan Luas Kawasan Sumatera Utara Bagian Timur
15
3.1.2.Topografi 15
3.1.3. Iklim 16
3.1.5. Vegetasi 16
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian 16
3.3. Alat dan Bahan Penelitian 17
3.4. Metode Penelitian 17
3.4.1. Lapangan 17
3.5. Analisis Data 20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Biodiversitas Bambu Di Sumatera Utara Bagian Timur
21
4.2. Habitat Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur 26
4.3. Pemanfaatan Bambu 31
4.4. Ciri-Ciri Morfologi Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
33
4.5 Analisis Kemiripan Morfologi Bambu
menggunakan NTSys
34
4.6. Kunci Identifikasi Jenis-Jenis Bambu untuk
Tingkat Marga di Sumatera Utara Bagian Timur
36
4.6.1. Kunci Determinasi Bambu Tingkat Marga 36
4.6.2. Kunci Determinasi Bambu Tingkat Jenis 37
4.7 Deskripsi Jenis-Jenis Bambu 38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 53
5.2 Saran 54
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar Judul Halaman
2.1 Akar Rimpang 5
2.2 Morfologi Buluh Bambu 7
2.3 Bagian-Bagian Pelepah Buluh 8
2.4 Bentuk Percabangan 9
4.1 Peta Sebaran Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur 25
4.2 Phenogram Jenis-Jenis Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
36
4.3 Bambusa blumeana 38
4.4 Bambusa glaucescens 39
4.5 Bambusa glaucophylla 40
4.6 Bambusa multiplex 41
4.7 Bambusa vulgaris 42
4.8 Dendrocalamus asper 43
4.9 Gigantochloa achmadii 44
4.10 Gigantochloa atroviolacea 45
4.11 Gigantochloa atter 46
4.12 Gigantochloa pruriens 47
4.13 Gigantochloa robusta 48
4.14 Schizostachyum bracycladum 49
4.15 Schizostachyum zollingeri 50
4.16 Schizostachyum sp 51
DAFTAR TABEL
Nomor
Tabel Judul Halaman
4.1 Biodiversitas Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur 21
4.2 Habitat Bambu Di Sumatera Utara Bagian Timur 26
4.3 Karakteristik Fisik Dan Kimia Tanah Tempat Tumbuh
Bambu
29
4.4 Data Faktor Fisik Lingkungan Tempat Tumbuh Bambu 30
4.5 Pemanfaatan Jenis-Jenis Bambu Oleh Masyarakat
Di Sumatera Utara Bagian Timur.
31
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Lampiran Judul Halaman
1 Peta Penyebaran Bambu pada 8 Kabupaten dan Kota
di Sumatera Utara Bagian Timur.
55
2a Hasil Identifikasi Tumbuhan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia Pusat Penelitian Biologi
59
2b Hasil Identifikasi Tumbuhan Herbarium Medanense
(MEDA) Universitas Sumatera Utara
60
3 Hasil Analisis Tanah 61
4 Kode Ciri Morfologi Bambu 62
5 Data Wawancara 64
6 Foto-Foto Penelitian 65
ABSTRAK
Studi Biodiversitas Bambu di Sumatra Utara Bagian Timur telah dilaksanakan pada bulan November 2012 – Maret 2013. Penentuan lokasi penelitian dengan menggunakan metode purposiv sampling, pengamatan penelitian meliputi eksplorasi
dan karakterisasi morfologi dengan menggunakan teknik eksplorasi. Hasil dari eksplorasi dan karakterisasi morfologi ditemuka n 15 jenis bambu yang
tersebar pada 8 Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara Bagian Timur yaitu
Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Bambusa glaucescens, Bambusa glaucophylla, Bambusa multiplex, Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, Gigantochloa atter, Gigantochloa achmadii,
Gigantochloa pruriens, Gigantochloa robusta, Schizotachyum bracycladum, Schizotachyum zollingeri, Schizotachyum sp dan Thyrsostachys siamensis. Biodiversitas tertinggi adalah Kabupaten Deli Serang sebanyak 13 jenis dan biodiversitas terendah adalah Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu Utara masing-masing sebanyak 4 jenis. Habitat bambu liar adalah hutan sekunder (4 jenis), lahan terbuka (11 jenis), pinggir sungai (11 jenis) dan lereng (3 jenis) sedangkan habitat bambu budidaya adalah pekarangan masyarakat (5 jenis) dan kebun masyarakat (5 jenis). Analisis kekerabatan berdasarkan ciri morfologi tersebut memperlihatkan jenis-jenis bambu terbagi kedalam 3 kelompok dengan kemirian morfologi berkisar antara 40 % - 80%.
BIODIVERSITY BAMBOO IN THE EAST AREA OF NORTH SUMATRA
ABSTRACT
The biodiversity of bamboo in east area of North Sumatra has been studied from Novemver 2012 antill March 2013. The research area was determined purposively, observationally including exploration and morphological characterization using exploration techniques. The results of that study showed from 15 species of bamboos found in 8 districts and cities in east area of North Sumatra i.e. Bambusa blumeana, Bambusa vulgaris, Bambusa glaucescens, Bambusa glaucophylla, Bambusa multiplex, Dendrocalamus asper, Gigantochloa atroviolacea, Gigantochloa atter, Gigantochloa achmadii, Gigantochloa pruriens, Gigantochloa robusta, Schizotachyum bracycladum, Schizotachyum zollingeri, Schizotachyum sp and Thyrsostachys siamensis. The highest biodiversity of bamboos are in Deli Serdang districts (13 spesies) and the lowerst are in Asahan and Labuhan Batu districts (4 spesies). The wild bamboo forest habitat are secondary (4 spesies), open land (11 species), a river (11 species) and slope (3 spesies), however cultivating bamboo habitat ther are 5 spesies in the yard (5 species) and community gardens (5 spesies). The kinship analysis based on morphological characteristics they show the kinds of bamboo are divided into 3 groups with similarity of morphology ranged from 40% to 80%.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bambu merupakan sekelompok tumbuhan yang dicirikan oleh buluh yang
berkayu, mempunyai ruas-ruas dan buku-buku serta termasuk dalam kelompok rumput-rumputan (Poaceae), anak suku Bambusoidae (Frelly, 1984). Menurut Heyne (1987) bambu merupakan nama kumpulan bagi rumput-rumputan
berbentuk pohon kayu atau perdu dengan buluh-buluh yang biasanya tegak,
terkadang merambat dan bercabang-cabang. Buluh-buluhnya timbul dari buku-buku rimpang yang menjulur, dimana rimpang-rimpang tersebut tumbuh
bercabang-cabang.
Bambu dapat dijumpai mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 0 sampai 2.000 m dpl, serta mempunyai karakter tumbuh sangat variatif dan bisa tumbuh pada tanah yang bervariasi seperti tanah tandus, tanah becek, tanah kering, tanah datar, hingga tanah miring (jurang). Tempat tumbuh yang disukai bambu adalah lahan yang terbuka dan terkena matahari langsung (Widjaja, et. al. 2004). Selanjutnya Berlin dan Rahayu (1995) menyatakan lingkungan yang sesuai dengan tanaman bambu adalah tanah dengan pH 3,5 – 6,5, curah hujan minimum 1.020 mm per tahun, kelembaban udara minimum 80% dan suhu sekitar 8,8 – 360C.
perabotan, industri kertas serta keperluan lainnya. Rebung bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang tergolong dalam jenis sayur-sayuran. Heyne (1987) mengatakan bambu tidak memiliki kedudukan yang penting sebagai tumbuhan pangan, namun dapat dimakan sebagai sayur maupun acar. Bambu muda memiliki kandungan gizi diantaranya protein (2,5%), lemak (0,2%), serat (9,1%), glukosa (2,0%), kalsium (28%), Vitamin A, B1, B2 dan C (10%).
Secara ekologi bambu dapat berperan dalam penahan erosi, membantu
penyaringan limbah merkuri serta sumber penyedia air tanah. Menurut Berlian dan Rahayu (1995) akar tanaman bambu dapat berfungsi sebagai
penahan erosi. Bambu yang banyak tumbuh di pinggir sungai dan jurang berperan penting dalam mempertahankan kelestarian tempat tersebut. Akar tanaman bambu juga dapat berperan dalam menangani limbah beracun akibat keracunan merkuri. Akar tanaman bambu menyaring air yang terkena limbah merkuri melalui serabut-serabut akarnya. Akar bambu juga dapat melakukan penampungan mata air sehingga bermanfaat sebagai sumber penyedia air sumur.
Propinsi Sumatera Utara Bagian Timur merupakan wilayah yang memiliki perkembangan yang pesat di Sumatera Utara, hal ini disebabkan infrastruktur yang lengkap sehingga memberikan kecenderungan peningkatan perkembangan penduduk. Tingginya peningkatan perkembangan penduduk berdampak pada konversi lahan dan eksploitasi bambu dari alam untuk kepentingan ekonomi sehingga memperburuk keberadaan bambu di alam. Hingga saat ini informasi ilmiah tentang biodiversitas dan daerah sebaran bambu di Sumatera Utara Bagian Timur belum mencukupi. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian biodiversitas dan daerah sebaran bambu di Sumatera Utara Bagian Timur.
1.2. Permasalahan
1. Bagaimana biodiversitas dan distribusi bambu di Sumatera Utara Bagian Timur?
2. Bagaimana hubungan kemiripan jenis-jenis bambu di Sumatera Utara Bagian Timur berdasarkan ciri morfologi?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui biodiversitas dan distribusi bambu di Sumatera Utara Bagian Timur.
2. Untuk mengetahui hubungan kemiripan jenis-jenis bambu di Sumatera Utara Bagian Timur berdasarkan ciri morfologi.
1.4. Manfaat Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bambu
Bambu merupakan kumpulan rumput-rumputan berbentuk pohon atau perdu
yang melurus dengan buluh yang biasanya tegak, terkadang memanjat dan bercabang-cabang. Tanaman bambu mempunyai buluh beruas-ruas dan tiap ruas
dihubungkan oleh buku-buku. Buluh muncul dari buku-buku rimpang yang menjulur (Widjaja, 2003). Selanjutnya Gerbon dan Abbas (2009) menyatakan bambu termasuk jenis tanaman rumput-rumputan dari Famili Poaceae, Subfamili Bambusoidea. Bambu tumbuh menyerupai pohon berkayu, buluhnya berbentuk buluh berongga dengan cabang-cabang (ranting) dan daun buluh yang menonjol.
Bambu merupakan jenis tumbuhan yang cepat tumbuh dan dapat mencapai ketinggian maksimum 15 sampai 30 meter dalam waktu 2 sampai 4 bulan dengan rata-rata pertumbuhan harian sekitar 20 cm sampai dengan 100 cm dan diameter 5-15 cm (Liese, 1987). Selanjutnya Widjaja (2001) menambahkan bambu
mempunyai karakter tumbuh yang menakjubkan yaitu membentuk rumpun. Rumpun terbentuk dari tumbuhnya tunas-tunas muda (rimpang) secara simpodial
atau monopodial. Simpodial berarti tumbuhnya tunas memendek di kanan kiri induk sedangkan monopodial adalah tumbuhnya tunas memanjang ke suatu arah dan membentuk rumpun baru.
Bambu juga memiliki karakter tumbuh sangat variatif dan bisa tumbuh pada tanah yang bervariasi seperti tanah tandus, tanah becek, tanah kering, tanah datar hingga tanah miring (jurang). Di tanah yang miring (jurang) bambu dapat tumbuh dengan subur karena rumpunnya mampu menahan bungga tanah (humus) yang hanyut (Widjaja, et. al., 2004).
2.2 Struktur Bambu dan Perawakannya
Akar rimpang terdapat di bawah tanah dan membentuk sistem percabangan yang dapat dipakai untuk membedakan kelompok bambu. Terdapat dua macam sistem percabangan akar rimpang (Gambar 2.1) yaitu pakimorf dicirikan oleh akar rimpangnya yang simpodial dan leptomorf dicirikan oleh akar rimpangnya yang monopodial (Widjaja, 2001).
Gambar 2.1. Akar Rimpang; a) Simpodial (Pakimorf), b) Monopodial
(Leptomorf) (Widjaja, 2001).
Selanjutnya Widjaja (2003) menyatakan bahwa di Indonesia jenis-jenis bambu asli umumnya mempunyai sistem perakaran simpodial yang dicirikan oleh ruasnya yang pendek dengan leher yang pendek. Setiap akar rimpang mempunyai kuncup yang akan berkembang dan tumbuh menjadi akar rimpang baru. Akar rimpang yang baru ini kemudian akan berkembang membentuk rebung dan kemudian menjadi buluh. Akar monopodial memiliki bentuk yang bervariasi, misalnya pada marga Dinoclhoa dan Meloccana memiliki akar rimpang yang lehernya panjang tetapi ruasnya pendek, tanpa kuncup, sehingga buluh tampak agak berjauhan dan tidak menggerombol.
Karakter rimpang dapat digunakan untuk membedakan marga bambu. Tipe rimpang simpodial membentuk rumpun yang rapat dengan arah tumbuh
rimpang yang tidak teratur, sedangkan rimpang monopodial membentuk rumpun yang tidak rapat karena rimpang tumbuh ke arah samping atau horizontal (Widjaja, 2001).
2.2.2 Rebung
menunjukkan warna ciri yang khas pada ujungnya dan bulu-bulu yang terdapat pada pelepahnya. Bulu pelepah rebung umumnya hitam, tetapi ada juga yang berwarna coklat atau putih dan beberapa bulu dapat menyebabkan kulit menjadi sangat gatal sedangkan yang lain tidak. Pada beberapa bambu rebungnya tertutup oleh lilin putih (misalnya Dinochloa scandes) sementara itu pada Dendrocalamus asper rebungnya tertutup oleh bulu coklat seperti beludru. Sebaliknya pada jenis Gigantochloa balui tertutup bulu putih. Rebung selalu ditutupi oleh pelepah buluh
yang juga tumbuh memanjang mengikuti perpanjangan ruasnya (Widjaja, 2003).
2.2.3 Buluh
Buluh berkembang dari rebung, tumbuh sangat cepat dan mencapai tinggi maksimum dalam beberapa minggu. Beberapa jenis mempunyai ruas panjang, seperti Schizostachyum irate, S. sillicatum dan yang lain memiliki ruas pendek misalnya Bambusa vulgaris, B. blumeana, Melocanna baccifera, Phyllostachys aurea dan P. nigra. Selain berbeda dalam panjang buluhnya beberapa jenis tertentu
mempunyai diameter buluh yang berbeda. Jenis Dendrocalamus mempunyai diameter buluh tebesar diikuti oleh jenis-jenis dari marga Gigantochloa dan Bambusa. Setiap bambu memiliki panjang buku yang berbeda (Widjaja, 2001).
Widjaja (2001) menambahkan buluh bambu terdiri atas ruas-ruas yang terdiri
dari cincin kelopak dan rongga, pada beberapa ruas terdapat mata tunas (Gambar 2.2). Buluh bambu umumnya tegak, namun ada beberapa yang tumbuhnya
merambat seperti Dinochloa dan ada juga yang tumbuhnya tidak beraturan seperti Nastus. Buluh memiliki pelepah yang merupakan hasil modifikasi daun yang
Gambar 2.2. Morfologi Buluh Bambu (Widjaja, 2001).
Buluh bambu terdiri atas 3 bagian yaitu kulit, bagian empulur dan kayu. Kulit bambu merupakan bagian terluar dari penampang melintang dinding buluh,
empulur merupakan bagian buluh yang berdekatan dengan rongga bambu yang tidak mengandung ikatan vaskular, sedangkan bagian kayu pada bambu merupakan bagian diantara kulit dan empulur (Heyne, 1987).
2.2.4 Pelepah Buluh
Pelepah buluh sangat penting fungsinya yaitu menutupi buluh ketika muda. Saat buluh tumbuh dewasa dan tinggi pada beberapa jenis bambu pelepahnya luruh tetapi jenis lain pelepahnya tetap menempel. Pelepah buluh merupakan hasil modifikasi daun yang menempel pada setiap ruas, yang terdiri atas daun pelepah buluh, cuping pelepah buluh dan ligula. Daun pelepah buluh terdapat pada bagian atas pelepah, sedangkang cuping pelepah buluh dan ligulanya terdapat pada sambungan antara pelepah dan daun pelepah buluh (Gambar 2.3). Daun pelepah buluh pada beberapa jenis bambu tampak tegak, seperti jenis S. brachycladum dan B. vulgaris, tetapi umumnya tumbuh menyebar, menyandak atau
tidak tampak. Cuping pelepah buluh dan ligula merupakan ciri penting yang dapat digunakan untuk membedakan jenis bambu (Widjaja, 2001).
Gambar 2.3. Bagian-Bagian Pelepah Buluh; a) Cuping pelepah buluh, b) Daun pelepah buluh, c) Bulu kejur, d) Ligula (Widjaja, 2001).
2.2.5 Percabangan
Percabangan pada umumnya terdapat di atas buku-buku. Cabang dapat
digunakan sebagai ciri penting untuk membedakan marga bambu. Pada marga Bambusa, Dendrocalamus dan Gigantochloa sistem percabangan
memiliki satu cabang yang lebih besar daripada cabang lainnya yang lebih kecil. Buluh Dinochloa biasanya mempunyai cabang yang dorman dan akan sebesar buluh induknya, terutama ketika buluh utamanya terpotong. Jenis-jenis dari marga
Schizostachyum mempunyai cabang yang sama besar (Gambar 2.4). Cabang lateral bambu yang tumbuh pada buluh utama, biasanya berkembang ketika
buluh mencapai tinggi maksimum. Pada beberapa marga, cabang muncul tepat di atas tanah misalnya pada Bambusa dan menjadi rumpun pada sekitar dasar rumpun dengan duri atau tanpa duri. Duri merupakan anak dari cabang aksilar (cabang yang tumbuh pada buluh lateral) yang melengkung dan berujung lancip (Widjaja, 2001).
a b
Gambar 2.4 Bentuk Percabangan Bambu; a) Bambusa, b) Schizostachyum (Widjaja, 2001).
2.2.6 Helaian Daun dan Pelepah Daun
Helaian daun bambu mempunyai urat daun yang sejajar seperti rumput dan setiap daun mempunyai tulang daun utama yang menonjol. Helaian daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun yang mungkin panjang atau pendek. Pelepah dilengkapi dengan cuping pelepah daun dan juga ligula. Cuping pelepah daun mungkin besar tetapi bisa juga keil atau tidak tampak dan pada beberapa jenis bambu ada yang bercuping besar dan melipat keluar. Pada beberapa jenis bambu cuping daunnya mempunyai bulu kejur panjang, tetapi ada juga yang gundul. Ligula pada beberapa jenis mungkun panjang atau tanpa bulu kejur. Ligula kadang mempunyai pinggir yang menggerigi tidak teratur, menggerigi menggergaji atau rata (Widjaja, 2001).
2.2.7 Perbungaan
Pada kebanyakan rumpun bambu, sangat jarang sekali ditemukan rumpun bambu yang memiliki bunga atau buah. Menurut Heyne (1987), bambu jarang sekali berbunga, sehingga dengan mengetahui karakter vegetatif dapat dikenal marga maupun jenis bambu. Pada kebanyakan forma bambu, ditemukan rumpun bambu yang beberapa buluhnya ataupun segenap buluh-buluhnya itu sekaligus kehilangan daun dan berbunga. Selanjutnya buluh-buluh tersebut akan mati. Sangat jarang terjadi pembungaan, namun setelah terjadi pembungaan serempak pada buluh-buluhnya tersebut maka rimpangnya pada beberapa waktu hanya menghasilkan buluh-buluh lemah (ramping) dan butuh waktu yang lama untuk dapat tumbuh normal kembali. Namun pada beberapa jenis bambu setelah terjadi pembungaan maka rimpang-rimpang tersebut akan mati.
2.3 Ekologi Bambu 2.3.1 Iklim
dapat mencapai ketinggian 2000 m dpl. Walaupun demikian, tidak semua jenis
bambu dapat tumbuh dengan baik pada semua ketinggian tempat (Berlin dan Rahayu, 1995). Lingkungan yang sesuai dengan tanaman bambu adalah
yang suhu sekitar 8,8 - 360 C. Beberapa jenis bambu dapat tumbuh pada daerah dengan suhu antara 400C - 500C, dibeberapa tempat dapat bertahan pada daerah bersalju atau memiliki temperatur yang membekukan. Suhu udara juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Sedangkan jumlah curah hujan serta variasi masa-masa kering merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan bambu.
Tanaman bambu dapat tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan 1.289 – 6.630 mm, curah hujan minimal 1.020 mm dan kelembaban minimal 80% (Sutiyono, et.al., 1989).
2.3.2 Tanah
Pertumbuhan setiap tanaman tidak terlepas dari pengaruh kondisi lingkungannya. Dengan demikian perlu diperhatikan faktor-faktor yang bekaitan dengan syarat tumbuh tanaman bambu. Faktor lingkungan tersebut meliputi jenis iklim dan jenis tanah. Bambu dapat tumbuh pada tanah yang bereaksi masam
dengan pH 3,5, dan umumnya menghendaki tanah dengan pH 5,0 - 6,5. Pada tanah yang subur tanaman bambu akan tumbuh dengan baik karena kebutuhan
makanan bagi tanaman tersebut akan terpenuhi (Berlin dan Rahayu, 1995).
2.4 Sebaran Bambu
Tanaman bambu termasuk ke dalam famili Poaceae, ordo Poales dan kelas
Monokotil. Di dunia diketahui ada 1500 jenis bambu yang berasal dari 75 marga
(Sharma, 1980). Diantara hutan bambu di dunia, benua Asia mempunyai area yang
terluas, dengan luas hutan bambu di Asia Tenggara lebih dari 10.000 Ha
(ITTO, 1994).
Menurut Widjaja, et.al. (2004) diperkirakan ada 154 jenis bambu di Indonesia, jenis-jenis tersebut termasuk diantaranya 23 jenis yang berasal dari luar
negeri (introduksi) dan sudah lama dibudidayakan di Indonesia. Dari 117 jenis bambu asli Indonesia yang terdiri atas 12 marga, umumnya tumbuh tersebar luas baik ditanam maupun tumbuh liar di hutan primer dan sekunder. Dari 12 marga yang ada, marga Bambusa, Dendrocalamus, Giganthocloa dan Schizotachyum merupakan marga yang umumnya ditanam penduduk di pedesaan atau tumbuh di hutan sekunder. Sedangkan marga Dinochloa, Fibribambusa, Nastus, Neololeba, Parabambusa, Pinga, Recemobambos dan Sphaerobambos tumbuh tersebar di hutan
2.5 Pemanfaatan
Menurut Berlin dan Rahayu (1995) bambu merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Semua bagian tanaman mulai dari akar, buluh, daun dan rebung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan:
a) Akar tanaman bambu dapat berfungsi sebagai penahan erosi yang berfungsi untuk mencegah bahaya banjir. Bambu banyak tumbuh atau ditanam di pinggir sungai atau di tepi jurang, sehingga dinilai mempunyai arti yang sangat penting dalam pelestarian lingkungan hidup. Akar tanaman bambu juga dapat berfungsi sebagai penyaring limbah beracun merkuri. Akar tanaman bambu menyaring air yang terkena limbah merkuri tersebut melalui serabut-serabut akarnya.
b) Buluh bambu adalah bagian yang paling banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Di Indonesia sekitar 80% buluh bambu dimanfaatkan untuk bidang konstruksi dan selebihnya dimanfaatkan dalam bentuk lain seperti kerajinan, furniture, chopstick, industri pulp dan kertas serta keperluan lainnya (Berlin dan Rahayu, 1995).
Selanjutnya Idris et. al. (1994) menambahkan buluh bambu dapat dimanfaatkan untuk komponen bangunan rumah, sebagai komponen konstruksi jembatan dan pipa saluran air. Pada bangunan sederhana bambu dapat digunakan sebagai lantai, ting, dinding, atap maupun langit-langit. Pemanfaatan bambu dapat berupa bambu utuh berbentuk bulat atau dianyam untuk bahan dinding dan langit-langit.
c) Daun bambu dapat digunakan untuk pembungkus makanan rinan seperti wajik. Dalam pengobatan tradisional, daun bambu dapat dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengobati demam/panas pada anak-anak karena daun bambu bersifat menurunkan panas.
temen (G.c robusta Kurz.) adalah rebung yang rasanya paling manis dan memiliki tekstur yang paling halus.
Berlin dan Rahayu (1995) tamanan bambu banyak pula yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias, mulai dari jenis bambu kecil hingga bambu besar yang banyak ditanam sebagai tanaman pagar di pekarangan. Saat ini bambu hias banyak dicari konsumen, alasannya adalah penampilan tanaman bambu yang unik dan menawan sehingga bambu banyak ditanam sebagai elemen taman yang bergaya Jepang.
Menurut Herawati et. al. (2011) bambu banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan secara luas karena memiliki buluh yang kuat, lentur, lurus dan ringan sehingga mudah diolah untuk berbagai produk. Dalam kehidupan moderen bambu dapat dimanfaatkan mulai dari akar hingga daun. Bambu dapat digunakan sebagai bahan bangunan rumah, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran air, alat musik, peralatan rumah tangga (furniture), kerajinan tangan (handycraft), sumpit (choptick), tusuk gigi, juga sebagai pengemas makanan, bahkan bambu muda dapat dijadikan sebagai bahan makanan (rebung).
2.6 Penelitian Terdahulu
Jenis-jenis bambu yang ditemukan di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat adalah sebanyak 4 marga, 19 jenis diantaranya yaitu : treng betung (Dendrocalamus asper), treng tali, treng tali gading (Gigantochloa apus), treng galah (G. atter), treng aur hijau, treng aur gading besar, treng aur gading kecil (Bambusa vulgaris), treng borek/tutul (B. maculata), treng greng (B. blumeana),
treng botol (B. ventricosa), treng cina hijau (B. multiplex), treng cina gading (B. multiplex), treng putih (B. albustiata), treng tamlang hijau (Schizostachyum brachyladum), treng tamblang gading (S. brachyladum), treng Jakarta
(Thyrsostachy siamensis) 3 marga dari treng luh besar dan kecil (Shizostachyyum spp.) (Widjaja, et. al. 2004).
Menurut Widjaja dan Karsono (2003) menyatakan keanekaragaman jenis bambu di Pulau Sumba yaitu terdapat 8 marga diantaranya Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochoa, Nastus, Phyllostachys dan
Schizostachyum dengan jumlah jenis sebanyak 10 jenis. Dari keseluruhan jenis
bambu yang diketemukan di Pulau Sumba, jenis Dinochloa kostermansiana merupakan data tambahan sedangkan jenis Dinochloa sp. adalah jenis baru yang ditemukan di Pulau Sumba. Selanjutnya menurut Irwan, et. al. (2006) menambahkan keanekaragaman jenis bambu di Kabupaten Sumedang Jawa Barat adalah 16 jenis dan 2 varietas bambu yang termasuk ke dalam 6 marga, yaitu Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa, Phyllostachys, Schizostachyum dan
Thyrsostachys.
Menurut LBN-LIPI (1999) Sumatera Utara memiliki keanekaragaman bambu sebanyak 12 jenis yaitu B. vulgaris, D. asper, G. achmadii, G. hasscariana, G. pruriens, G. waryi, G. robusta, S. brachycaladum, S. blumei, S.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Deskripsi Area
3.1.1 Letak dan Luas Kawasan Sumatera Utara Bagian Timur
Secara geografis Propinsi Sumatera Utara bagian Timur terbentang mulai dari bagian Utara Kabupaten Langkat (03014’ LU-04013’ LU dan 97050’ BT-98014’ BT) sampai bagian Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara (010 58’ LU-020 50’ LU dan 990 25’ BT-1000 05’ BT) yang terdiri atas Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Asahan, Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Luas daratan Propinsi Sumatera Utara bagian Timur adalah 24.921,99 Km2 atau 34,77% dari luas wilayah Sumatera Utara. Batas-batas wilayah Propinsi Sumatera Utara bagian Timur meliputi, sebelah Utara berbatasan dengan Propinsi Nangro Aceh Darussalam, sebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi Riau dan Propinsi Sumatera Barat, sebelah Barat berbatasan dengan Samudra Hindia dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Malaka (KLH, 2008).
3.1.2 Topografi
3.1.3 Iklim
Iklim di Sumatera Utara bagian Timur termasuk iklim tropis yang dipenuhi oleh Angin Passat dan Angin Muson. Kelembaban udara rata-rata 78-91
%, curah hujan 800 – 4000 mm/tahun dan penyinaran matahari 43% (BPS-SU, 2011).
3.1.4 Vegetasi
Vegetasi yang umum ditemukan di Sumatera Utara yaitu dari Family Poaceae, Arecaceae, Araceae, Balsaminaceae, Dipterocarpaceae, Fagaceae,
Myrtaceae, Nepenthaceae, Orchidaceae, Theaceae dan Zingiberaceae.
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian
Pengkoleksian spesimen dari berbagai wilayah di Provinsi Sumatera Utara bagian Timur dilaksanakan pada bulan November 2012–Maret 2013, diantaranya adalah Kota Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Seluruh lokasi penelitian pada umumnya memiliki habitat berupa hutan sekunder, lahan terbuka, sekitar aliran sungai, lereng, lembah, pekarangan masyarakat dan kebun masyarakat .
3.3 Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera digital, meteran kain, GPS (Global Positioning System), termometer air raksa, hygrometer, soil termometer, lux meter, alat tulis, buku identifikasi, peta Sumatera Utara, pisau, gunting tanaman, sasak kayu, plastik koleksi, label spesimen, lakban dan spidol permanen. Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% dan spesimen bambu.
3.4 Metode Penelitian
3.4.1 Lapangan
Sebelum pegambilan data lapangan, terlebih dahulu dilakukan survei pendahuluan untuk mengetahui keberadaan jenis bambu di lokasi penelitian. Pengumpulan data-data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode eksplorasi, dengan cara kerja sebagai berikut :
a. Penentuan daerah untuk pengambilan sampel ditentukan dengan melakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui diversitas bambu di Sumatera Utara bagian Timur.
b. Melakukan pencatatan diversitas bambu yang terdapat pada lokasi pengamatan. c. Melakukan pencatatan ciri tumbuhan yang hilang atau yang tidak diamati
setelah di herbarium (warna pelepah buluh, warna buluh, warna daun, warna rebung, warna bulu kejur dan warna bunga).
d. Melakukan pencatatan keterangan lapangan yang penting (habitat tempat tumbuh) serta sifat morfologi (sistem percabangan, sistem akar rimpang dan posisi daun pelepah buluh).
e. Melakukan pengamatan keadaan ekologi tiap jenis bambu pada lokasi
penelitian (pencatatan sifat fisik, kimia lingkungan meliputi suhu udara dengan Termometer Air Raksa, kelembaban udara dengan hygrometer, suhu tanah dengan soil termometer dan intensitas cahaya dengan lux meter).
f. Melakukan pengkoleksian di lapangan pada tiap jenis bambu untuk keperluan identifikasi lanjutan serta pembuatan spesimen.
Spesimen dari setiap lokasi pengamatan dikoleksi setelah terlebih dahulu diberi label gantung. Kemudian dilakukan pengawetan spesimen yaitu spesimen disusun dan dibungkus dengan kertas koran kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik serta diberi alkohol 70%. Udara dalam kantong plastik dikeluarkan dan kantong plastik ditutup dengan lakban. Selanjutnya dibawa ke
laboratorium Taksonomi Tumbuhan untuk dikeringkan dan di identifikasi di Herbarium MEDA Universitas Sumatera Utara. Sedangkan untuk spesimen yang
tidak dapat diidentifikasi di Herbarium MEDA, identifikasi dilakukan di Herbarium Bogoriense Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor.
Untuk mengetahui pemanfaatan jenis-jenis bambu oleh masyarakat di Sumatera Utara bagian Timur dilakukan wawancara dengan masyarakat di setiap lokasi penelitian. Wawancara dilakukan pada 5 sampai 7 responden di lokasi ditemukannya bambu.
3.4.2 Laboraturium
Spesimen bambu yang berasal dari lapangan kemudian di bawa ke laboratorium. Bambu yang telah dikoleksi dibuka kembali dan disusun sedemikian rupa untuk dikeringkan dalam oven pengeringan dengan temperatur + 600C sampai kering (biasanya selama 3 hari). Spesimen yang telah benar-benar kering diidentifikasi di Herbarium MEDANENSE (MEDA) Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan buku identifikasi antara lain :
a. “ The Bamboos of The Malay Peninsula ” (Holttuum, 1958). b. “ The Books of Bamboo” (Farrelly, 1984).
c. “ Plant Resources of South-East Asia Bamboos ” (Dransfield and Widjaja, 1995). d. “ The Taxa in Indonesian Bamboos ” (Widjaja, 1997).
e. “ Identikit Jenis-Jenis Bambu di Jawa ” (Widjaya, 2001).
f. “ Identikit Jenis-Jenis Bambu di Kepulauan Sunda Kecil” (Widjaya, 2001). g. “ Identikit Bambu di Bali ” (Widjaya, 2005).
a) Rimpang : tipe monopodial atau simpodial.
b) Rebung : bentuk rebung, warna pelepah rebung, warna bulu pada pelepah, bentuk cuping pelepah rebung dan pinggiran daun pelepah rebung.
c) Buluh : tipe buluh, tinggi buluh, warna buluh (tua dan muda). Tekstur permukaan buluh (tua dan muda), panjang ruas buluh, diameter buluh,
ketebalan dinding buluh dan karakter buku.
d) Percabangan, meliputi : jarak percabangan dari tanah, jumlah percabangan, tipe cabang dan ujung percabangan.
e) Pelepah buluh, meliputi : luruh/tidaknya pelepah buluh, panjang pelepah buluh, permukaan abaksial dan adaksial pelepah, warna pelepah, bentuk cuping pelepah, lipatan ujung cuping pelepah buluh, ada atau tidaknya bulu kejur pada cuping pelepah buluh, tinggi ligula, pinggiran ligula, ada tidaknya ligula pada ligula, posisi daun pelepah buluh, tinggi daun pelepah dan pangkal daun pelepah buluh.
3.5 Analisis Data
Berdasarkan data-data hasil penelitian yang diperoleh, kemudian dilakukan berbagai analisis sebagai berikut :
3.5.1 Analisis Jenis-Jenis Bambu Berdasarkan Kemiripan Morfologi
Seluruh ciri morfologi (buluh, daun, percabangan dan rebung) diantara bambu dianalisis menggunakan NTSYS ver. 2.02 (Rohlf, 2000).
3.5.2 Analisis Tanah
Analisis tanah dilakukan di Laboraturium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Analisis akan dilakukan untuk mengetahui sifat fisik tanah (tekstur) dan kandungan unsur hara makro (C-org, N, P, K).
3.5.3 Sebaran Bambu
Untuk mengetahui peta penyebaran bambu di Sumatera Utara bagian Timur digunakan Sofwer Arcview 3.3.
3.5.4. Pemanfaatan Bambu
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Biodiversitas Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
Hasil penelitian menemukan 5 genus dan 15 jenis bambu yang tersebar pada 8 Kabupaten di Sumatera Utara Bagian Timur (Gambar 4.1). Jumlah ini lebih banyak bila dibandingkan dengan penelitian sejenis yang pernah dilakukan, diantaranya : Widjaja dan Karsono (2005) menemukan 10 jenis bambu di Pulau Sumba, Peneng, et. al., (2005) menemukan 13 jenis bambu di Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat dan Widjaya (2001) menemukan 14 jenis bambu di Kepulauan Sunda Kecil.
Tabel 4.1. Biodiversitas Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
No Genus Jenis Lokasi Ket
Keterangan : 1 Kota Tanjung Balai 7 Kabupaten Deli Serdang
2 Kabupaten Asahan 8 Kabupaten Labuhan Batu Utara 3 Kabupaten Simalungun √ = Ditemukan
4 Kabupaten Batu Bara - = Tidak ditemukan 5 Kabupaten Serdang Bedagai W = Wild (Liar)
Tabel 4.1 menunjukkan biodiversitas bambu tertinggi di Sumatera Utara Bagian Timur adalah Kabupaten Deli Serdang dan diikuti oleh Kabupaten Langkat. Kabupaten Deli Derdang ditemukan 13 jenis bambu yaitu Bambusa blumeana, B.
vulgaris, B. glaucescens, B. multiplex, Dendrocalamus asper,
Gigantochloa atroviolacea, G. achmadii, G. pruriens, G. atter, G. robusta,
Schizotachyum bracycladum, S. zollingeri dan Thyrsostachys siamensis. Kabupaten
Langkat ditemukan 7 jenis bambu diantaranya B. vulgaris, D. asper, G. pruriens, G. atter, G. achmadii, G. robusta dan S. bracycaladum.
Tingginya biodiversitas bambu di Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat karena masih banyaknya daerah dengan ekosistem alami seperti hutan sekunder, sungai, lembah dan perbukitan yang merupakan habitat alami bambu. Menurut Widjaja et. al. (1994), bambu memiliki sifat adaptasi yang tinggi dan mampu tumbuh pada daerah datar, lembah, perbukitan dan dataran tinggi. Sebagian besar bambu tumbuh baik pada daerah yang relatif basah, suhu tinggi serta mengandung lapisan humus yang tebal.
Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat memiliki curah hujan yang
cukup tinggi yaitu 2.205 - 6.250 mm per tahun (BPS-SU, 2011). Menurut Berlin dan Rahayu (1995) taman bambu termasuk tanaman yang banyak
membutuhkan air, semakin banyak curah hujan pada suatu daerah maka semakin banyak pula ditemukannya bambu.
Biodiversitas bambu terendah di Sumatera Utara Bagian Timur adalah Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu Utara. Kabupaten Asahan
ditemukan 4 jenis bambu yaitu B. blumeana, B. vulgaris, D. asper dan S. brachycaladum. Kabupaten Labuhan Batu Utara ditemukan 4 jenis bambu
Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu Utara memiliki banyak ekosistem yang telah terganggu seperti konversi lahan (pembukaan hutan menjadi perkebunan sawit dan karet) yang menyebabkan hilangnya habitat alami bambu. Terganggunya ekosistem alami pada Kabupaten Asahan dan Kabupaten Langkat menyebabkan rendanya biodiversitas bambu pada kedua lokasi tersebut.
Menurut Indriyanto (2006) tumbuhan menyukai kondisi lingkungan tertentu, sehingga kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan jenis tumbuhan tersebut akan akan sangat mempengaruhi keberadaan jenis tersebut. Anwar et. al., (1984) efek gangguan terhadap ekosistem hutan yang terganggu adalah terbentuknya habitat yang relatif terbuka, panas dan sederhana (keanekaragaman tumbuhan rendah, serta pemiskinan tanah yang sementara atau tetap. Pada habitat yang terbuka hampir semua curah hujan mencapai permukaan tanah, namun dalam waktu yang relatif singkat karena hanya sedikit yang menjadi air tanah.
D. asper dan B. vulgaris dapat ditemukan pada 8 Kabupaten di Sumatera
Utara Bagian Timur. Distribusi bambu sangat banyak dipengaruhi oleh aktivitas
manusia karena dinilai memiliki banyak manfaat, serta kemampuan adaptasi jenis bambu pada saat perbanyakan. Semakin mudah suatu jenis bambu untuk diperbanyak (stek) oleh masyarakat maka kecendrungan masyarakat dalam menanam bambu tersebut akan semakin tinggi.
D. asper banyak ditanam dan tumbuh liar di hutan-hutan (Holltum, 1958). D. asper memiliki rebung yang manis, buluh tebal, lurus dan kuat.
D. asper banyak ditemukan tumbuh pada hutan-hutan sekunder maupun lahan-lahan
terbuka (Heyne, 1984). Menurut Aziz (1997) D. asper dan B. vulgaris termasuk jenis bambu yang sangat mudah di perbanyak dengan stek buluh. Tingkat keberhasilan stek buluh D. asper dan B. vulgaris sangat tinggi bila dibandingkan dengan jenis lain. Sujarwo, et., al. (2010) D. asper dan B. vulgaris merupakan jenis bambu yang sangat banyak ditanam di Bali, jenis - jenis bambu ini selain banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan perabotan juga berpotensi sebagai obat yaitu mengobati luka lambung (mag kronis) serta mengobati penyakit kuning dan liver.
B. glaucescens, B. galaucophylla dan T. siamensis hanya ditemukan sebagai
tanaman budidaya yang banyak tumbuh pada pekarangan masyarakat. Menurut Widjaja (2001) B. glaucescens, B. galaucophylla dan T. siamensis banyak
ditanam di kebun-kebun kota dan pekarangan sebagai tanaman hias atau tanaman pagar. Widjaya, et. al. (2004) B. glaucescens, B. galaucophylla dan T. siamensis adalah jenis bambu yang berasal dari luar negeri (introduksi) dan sudah
4.2 Habitat Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
Sebaran Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur berdasarkan habitat tempat tumbuh dapat dilihat pada Tabel 4.2. Habitat tumbuh bambu liar di lokasi pengamatan berupa hutan sekunder, lahan terbuka, pinggir sungai dan lereng. Sedangkan habitat tumbuh bambu budidaya berupa pekarangan masyarakat dan kebun masyarakat.
Tabel 4.2. Habitat Bambu Di Sumatera Utara Bagian Timur
No Genus Jenis
PM : Pekarangan Masyarakat KM : Kebun Masyarakat
Tabel 4.2. menunjukkan sebagian besar jenis-jenis bambu liar memiliki
habitat tumbuh berupa lahan terbuka dan pinggir sungai masing-masing 11 jenis. Menurut Berlian dan Rahayu (1995) tempat yang disukai bambu adalah lahan
terbuka dan pinggir sungai. Pada lahan yang terbuka sinar matahari dapat langsung memasuki celah-celah rumpun bambu sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung baik. Widjaja dan Karsono (2003) menyatakan pada umumnya bambu tumbuh di daerah yang terbuka atau pinggir hutan dan pinggir sungai, karena bambu menyukai daerah yang lembab dengan intensitas cahaya yang tinggi.
biasanya menanam bambu di pekarangan rumah mereka sebagai tanaman hias atau sebagai pembatas pagar. Untuk jenis-jenis bambu komersial penduduk menanam bambu dalam skala besar di kebun-kebun milik masyarakat.
Jenis-jenis bambu yang memiliki sebaran yang luas berdasarkan habitat tempat tumbuh adalah B. vulgaris, D. asper, G. pruriens dan S. brachycaladum. Umumnya kedua jenis ini ditanam penduduk di pedesaan (lahan terbuka dan
pekarangan) atau tumbuh liar di hutan sekunder ataupun di pinggir sungai. Menurut Widjaya et. al., (2004) Marga Bambusa, Dendrocalamus dan Gigantochloa merupakan marga yang memiliki penyebaran yang sangat luas,
hal ini karena umumnya kedua jenis ini memiliki banyak manfaat ekonomi sehingga ditanam penduduk di pekarangan dan kebun masyarakat atau tumbuh liar di hutan sekunder ataupun di pinggir sungai.
B. vulgaris memiliki sebaran habitat yang luas pada lokasi penelitian yaitu
hutan sekunder, lahan terbuka, pinggir sungai dan pekarangan masyarakat. B. vulgaris tumbuh pada tekstur tanah pasir berlempung (PL) sampai lempung
berpasir (LP), C-organik 0.90 -7.00 %, N-total 0.07 – 0.50 %, P-bray2 6.40 – 56.93 % dan K-tukar 0.322 – 0.697 % dan pH tanah 6 (Tabel 4.3). Suhu udara 25-320C, suhu tanah 26 0C, kelembaban udara 85-89,9% dan intensitas
cahaya 8.400 Lux (Tabel 4.4).
Widajaja (2001) menyatakan B. vulgaris tumbuh di daerah kering atau
lembap serta dapat tumbuh pada daerah yang tergenang air. Selanjutnya Berlin dan Rahayu (1995) menyatakan B. vulgaris dapat tumbuh baik
pada tanah kering. Jenis bambu ini banyak ditanam dihalaman rumah karena warna buluhnya cukup menarik sebagai tanaman hias.
D. asper memiliki sebaran habitat yaitu hutan sekunder, lahan terbuka,
tanah 22-25 0C, kelembaban udara 85-87% dan intensitas cahaya 9200 Lux (Tabel 4.4).
Widjaya (2001) D. asper adalah jenis bambu dengan sebaran yang luas serta banyak ditanam di Asia Tropika, memiliki habitat berupa lahan terbuka, pinggir sungai dan hutan sekunder. D. asper tumbuh baik pada tanah subur yang lembap dan basah, tetapi juga mampu tumbuh di daerah kering (kurang berair) pada dataran rendah. Heyne (1984) menyatakan, untuk pertumbuhan yang baik D. asper membutuhkan kesuburan tanah yang tinggi. Berlin dan Rahayu (1995)
menyatakan D. asper dapat ditemui di dataran rendah sampai ketinggian 2000 m dpl. D. asper banyak dibudidayakan karena memiliki sifat buluh yang keras dan baik untuk bahan bangunan karena seratnya yang besar serta ruasnya yang panjang.
G. pruriens memiliki sebaran habitat berupa hutan sekunder, lahan terbuka,
pinggir sungai dan kebun masyarakat. Pada lokasi penelitian jenis ini tumbuh pada
tekstur tanah pasir berlempung (PL), C-organik 0.90 -7.00 %, N-total 0.10 – 0.50 %, P-bray2 6.40 – 13.99 % dan K-tukar 0.322 – 0.342 % dan pH tanah 5.9 (Tabel 4.3). Suhu udara 28-290C, suhu tanah 24 0C, kelembaban
udara 89 - 87% dan intensitas cahaya 8400 Lux (Tabel 4.4). Widjaya (2001) G. pruriens tumbuh baik pada tanah yang lembap di sepanjang sungai dan juga di
daerah kering, namun dapat juga tumbuh pada tanah yang asam. Menurut Berlin dan Rahayu (1995) G. pruriens memiliki batang yang lurus, kuat dan ringan sehingga banyak masyarakat yang memanfaatkannya sebagai anyaman, kerajinan, konstruksi bangunan dan dinding tepas.
S. brachycaladum memiliki sebaran habitat berupa lahan terbuka, pinggir
sungai, lereng dan kebun masyarakat. Pada lokasi penelitian jenis ini tumbuh pada
tanah pasir berlempung (PL) sampai lempung berpasir (LP), C-organik 1.40 -7.00 %, N-total 0.80 – 7.00 %, P-bray2 0.70 – 0.50 % dan K-tukar
6.40-56.932 % dan pH tanah 6 (Tabel 4.3). Suhu udara 28-320C, suhu tanah 20-250C, kelembaban udara 85 - 89% dan intensitas cahaya 9.200-10200 Lux (Tabel 4.4).
dataran tinggi. Berlin dan Rahayu (1995) menyatakan bambu dapat tumbuh pada lereng dan jurang karena akar tanaman bambu dapat menahan humus serta dapat menyimpan air tanah dengan baik. Widjaja (2001) penduduk banyak menanam S. bracycaladum karena digunakan sebagai tempat/wadah makanan tradisional
(lemang), kerajinan (keranjang).
Tabel 4. 3. Karakteristik Fisik Dan Kimia Tanah Tempat Tumbuh Bambu
No
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa karakteristik fisik dan kimia tanah tempat tumbuh bambu di Sumatera Utara Bagian Timur yaitu tekstur tanah lempung berpasir sampai pasir berlempung, pH tanah 5 -6,5, C-org 0.80 – 7.00%, N-tot 0.07 – 0.90 %, P-Bray2 0.07 – 95,48% dan K-tukar 0.029 – 0.697 %. Menurut Heyne (1987) untuk perkembangan yang baik, tumbuhan bambu membutuhkan kesuburan tanah yang tinggi. Berlian (1995) menyatakan bambu dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah, tanah kering sampai tanah becek dan dari tanah subur sampai tanah tandus. Bambu tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH 5,0 – 6,5.
Tabel 4.4. Karakteristik Faktor Fisik Lingkungan Tempat Tumbuh Bambu
No Genus Jenis SU (0C) ST (0C) KU (%) IC (Lux)
6 Dendrocalamus Dendrocalamus asper. 25-32 22-25 85-87 9200
7 Gigantochloa Gigantochloa atroviolacea. 28 24 89 7900
10 Gigantochloa pruriens. 28-29 24 89-87 8400
11 Gigantochloa robusta. 27-32 20-25 85-87 9200
12 Schizostachyum Schizostachyum bracycladum 28-32 22-25 89 9200-10200
13 Schizostachyum zolingeri. 27-32 22-25 85-89 9200-10200
14 Schizostachyum sp. 24 25 85 8400
15 Thyrsostachys Thyrsostachys siamensis. 25-28 22-24 85-87 9200-10200
Keterangan : SU = Suhu Udara
ST = Suhu Tanah KU = Kelembaban Udara
IC = Intensitas Cahaya
4.3 Pemanfaatan Bambu
Bambu merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan. Semua bagian tanaman mulai dari akar, buluh, daun dan rebung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan (Berlin dan Rahayu, 1995). Pemanfaatan bambu di Sumatera Utara Bagian Timur tidak begitu tinggi, karena budaya masyarakat yang berbeda. Bagian-bagian tanaman bambu yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Sumatera Utara Bagian Timur adalah buluh, rebung dan daun. Bagian buluh adalah bagian yang paling banyak digunakan, selanjunya rebung dan daun (Tabel 4.5). Menurut Departemen Kehutanan (2004) adalah bagian yang paling banyak digunakan untuk dapat dibuat berbagai macam barang untuk keperluan sehari-hari. Tabel 4.5. Pemanfaatan Jenis-Jenis Bambu Oleh Masyarakat Di Sumatera Utara Bagian Timur.
Anyaman/kerajinan Buluh √ -
Pulp dan kertas Buluh √ -
Gelas Buluh √ -
2 Bambusa glaucescens
Bambu pagar Tanaman hias - √ -
Tiang pancing Buluh √ -
3 Bambusa glaucophylla Bambu putih Tanaman hias Anyaman Kerajinan
- Buluh
√ √ - -
4 Bambusa vulgaris Bambu
kuning
5 Bambusa multiplex Bambu
pancing
Anyaman/kerajinan Buluh √ -
Kentongan Buluh √ -
7 Gigantochloa
atroviolacea Bambu hitam Anyaman/Kerajinan Buluh √ -
Alat Musik Buluh √ -
9 Gigantochloa achmadii - Anyaman/kerajinan Buluh √ -
Anyaman/kerajinan Buluh √ - 11 Gigantochloa robusta Bambu
mayam
Dari Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jenis bambu yang paling banyak kegunaannya adalah D. asper (sayur, obat, pemikul beban, komponen bangunan, anyaman/kerajinan tangan dan tepas). Sedangkan jenis bambu yang memiliki manfaat paling sedikit adalah B. glaucophylla dan T. siamensis yaitu sebagai tanaman hias.
Alasan peruntukan berdasarkan bagian tanaman yang digunakan dari jenis-jenis bambu tersebut terkait dengan sifatnya masing-masing. Menurut Duryatmo (2000) bambu betung memiliki serat yang besar, ruasnya panjang, sifatnya keras dan dinding batangnya relatif tebal, ruasnya panjang sehingga baik digunakan sebagai bahan bangunan (konstruksi). Selain itu rebung bambu betung juga dikonsumsi sebagai sayuran karena rasanya yang enak. Menurut Sujarwo, et., al. (2010). D. asper memiliki banyak manfaat diantaranya berpotensi sebagai obat.
Rebungnya berfungsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Widjaja (2001) B. glaucophylla dan T. siamensis biasanya tumbuh pada pekarangan
4.4. Ciri –Ciri Morfologi Bambu Di Sumatera Utara Bagian Timur
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, terdapat beberapa ciri-ciri morfologi yang dapat digunakan dalam pengelompokkan jenis-jenis bambu di Sumatera Utara bagian Timur. Semua karakter morfologi berjumlah 49 karakter. Karakter morfologi berupa rumpun, rebung (buluh muda), buluh, percabangan, pelepah buluh dan daun (Tabel 4.6).
Tabel 4.6. Karakter Morfologi
No Ciri Kode ciri
1 Rumpun (0) < 30 buluh, (1) > 30 buluh
2 Rebung mengerucut (0) absent, (1) present
3 Rebung ramping (0) absent, (1) present
12 Buluh muda berlilin (0) absent, (1) present
13 Buluh muda berbulu kejur (0) absent, (1) present
14 Buluh tua licin (0) absent, (1) present
15 Buluh tua berbulu kejur (0) absent, (1) present
16 Buluh berduri (0) absent, (1) present
17 Buluh cerah (0) absent, (1) present
18 Buluh kusam (0) absent, (1) present
19 Akar napas (0) absent, (1) present
20 Percabangan homogen (0) absent, (1) present
21 Percabangan heterogen (0) absent, (1) present
22 Tinggi cabang (0) < 1m , (1) > 1 m
Pelepah mudah luruh (0) absent, (1) present
26 Pelepah jarang luruh (0) absent, (1) present
27 Permukaan pelepah licin (0) absent, (1) present
30 Bulu pelepah buluh kusam (0) absent, (1) present
31 Ujung pelepah berduri (0) absent, (1) present
32 Daun pelepah tegak (0) absent, (1) present
33 Daun pelepah berkeluk balik (0) absent, (1) present
34 Panjang aurikel (0) < 4 mm, (1) > 4 mm
35 Bulu kejur aurikel (0) absent, (1) present
36 Aurikel seperti bingkai (0) absent, (1) present
37 Aurikel membulat (0) absent, (1) present
38 Ligula mengoyak (0) absent, (1) present
39 Ligula mengerigi (0) absent, (1) present
40 Ligula rata (0) absent, (1) present
41 Panjang ligula (0) < 1 mm, (1) > 1 mm
42 Bulu kejur ligula (0) absent, (1) present
43 Panjang daun (0) < 10 cm, (1) > 10 cm
44 Lebar daun (0) < 3 cm, (1) > 3 cm
45 Permukaan atas daun licin (0) absent, (1) present 46 Permukaan atas daun berbulu (0) absent, (1) present 47 Permukaan bawah daun licin (0) absent, (1) present 48 Permukaan bawah daun berbulu (0) absent, (1) present
4.5. Analisis Kemiripan Morfologi Bambu Menggunakan NTSys
Berdasarkan ciri morfologi dari semua jenis bambu di Sumatera Utara Bagian Timur kemudian dianalisis menggunakan Program NTSYs ver 2.02. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pembagian kelompok berdasarkan ciri-ciri yang ada. Pada Phenogram jenis-jenis bambu (Gambar 4.2.) dapat dilihat bahwa jenis-jenis bambu yang ditemukan terbagi atas dua kelompok besar
yang kemudian dibali lagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil. Berdasarkan perbedaan 48 karakter morfologi dengan tingkat kemiripan morfologi
Kelompok pertama adalah T. siamensis. T. siamensis terpisah dari genus Bambusa, Giganthochloa dan Schizostachyum karena adanya perbedaan pada warna
rebung, warna bulu permukaan buluh, bentuk aurikel, permukaan bawah daun dan duri pada ujung pelepah.
Kelompok kedua terdiri atas 9 jenis yang terbagi menjadi dua subkelompok yaitu kelompok E dan F dengan kisaran kemiripan 54 % - 80 %. Subkelompok E terbagi menjadi dua subkelompok yaitu kelompok J dan kelompok I. Kelompok J adalah S. brachycladum. Kelompok I terdiri atas S. zollingeri dan Schizostachyum sp. S. brachycladum memisah dari S. zollingeri dan Schizostachyum
sp. karena adanya perbedaan warna rebung, warna bulu pelepah buluh, bentuk daun
pelepah buluh dan bentuk ligula.
Kelompok F terdiri atas 6 jenis yang terbagi menjadi dua subkelompok yaitu kelompok H dan G. Kelompok H adalah D. asper. Kelompok G terdiri atas dua
subkelompok yaitu kelompok K dan kelompok L. Kelompok L terbagi lagi menjadi dua subkelompok yaitu kelompok R dan kelompok Q. Subkelompok Q terdiri atas dua jenis yaitu G. pruriens dan G. atter. Subkelompok R
adalah G. achmadii. D. asper. memisah dari G. atter, G. robusta, G. pruriens, G. achmadii dan G. atroviolacea karena adanya perbedaan pada tebal
buluh, lebar pelepah buluh, bentuk daun pelepah dan panjang daun.
Kelompok III terdiri dari 5 jenis bambu yang terbagi menjadi dua subkelompok yaitu kelompok M dan kelompok N dengan kisaran kemiripan antara 62 % – 80 %. Subkelompok M terdiri dari dua jenis yaitu B. vulgaris dan B. blumeana. Subkelompok N terdiri atas dua subkelompok yaitu kelompok P dan
kelompok O. Kelompok P adalah B.glaucessens dan B. multiplex. kelompok O adalah B. glaucophylla. B. glaucophylla memisah dari B.glaucenses dan B. multiplex karena adanya perbedaan pada tinggi tanaman, tebal buluh, buluh berduri,
Gambar 4.2. Phenogram Jenis-Jenis Bambu di Sumatera Utara Bagian Timur
4.6. Kunci Determinasi
4.6.1. Kunci Determinasi Bambu Tingkat Marga
4.6.2. Kunci Determinasi Tingkat Jenis
4.7. Deskripsi Jenis-Jenis Bambu
1). Bambusa blumeana J. A. & J. H. Schult.
Rumpun jarang (< 30 buluh). Rebung mengerucut, hijau kekuningan, tertutup bulu hitam. Buluh tinggi mencapai 23 m, diameter 10-20 cm, panjang ruas 25-30 cm, tebal 10 mm – 3 cm. Buluh muda hijau, tertutup lapisan lilin putih. Buluh tua hijau mengkilap dan berduri. Percabangan heterogen, 1 m di atas permukaan tanah. Pelepah buluh panjang 10-15 cm, lebar 15 cm, mudah luruh, tertutup bulu coklat hingga hitam. Daun pelepah buluh tegak. Aurikel tinggi 5 mm - 1 cm, bulu kejur panjang mencapai 10 mm, seperti bingkai melebar. Ligula tinggi 2-7 mm, bulu kejur panjang 5-6 mm, berbentuk rata. Daun panjang 10-15 cm, lebar 2-5 cm, berwarna hijau, permukaan bawah berbulu, permukaan atas licin.
Spesimen : AS 024 dan AS 028 MEDA – USU
Nama daerah : Bambu Duri
Distribusi : Kabupaten Asahan, Kabupaten Simalungun dan
Kabupaten Deli Serdang
Habitat : Lahan terbuka dan pinggir sungai. Pada lokasi penelitian jenis ini ditemukan pada ketinggian 82 - 101 m dpl.
Gambar 4.3. Morfologi Bambusa blumeana. (a) Perawakan;
(b) Rebung (Buluh Muda); (c) Percabangan Heterogen; (d) Aurikel.
a
b c
2). Bambusa glaucescens (Willd.) Sieb. ex Munro.
Rumpun sangat rapat (> 30 buluh). Rebung ramping, hijau, tertutup bulu hitam. Buluh tinggi hingga 3 m, panjang ruas 10-20 cm, diameter 4-7 cm, tebalnya 6,7-10 mm. Buluh muda hijau kekuningan, tertutup lapisan lilin putih. Buluh tua hijau tua, licin. Percabangan heterogen, 0,5 m di atas permukaan tanah. Pelepah buluh panjang 5 cm, lebar 2, mudah luruh, pangkal berbulu jarang berwarna coklat. Daun pelepah buluh tegak. Aurikel tinggi 0,5 mm, membulat dan sangat kecil, gundul. Ligula tinggi 0,5 mm, rata, gundul. Daun panjang 6-8 cm, lebar 2 cm, hijau, permukaan bawah berbulu, permukaan atas licin.
Spesimen : AS 016, 17 Desember 2012 MEDA – USU
Nama daerah : Bambu Pagar
Distribusi : Kabupaten Deli Serdang
Habitat : Pekarangan masyarakat. Pada lokasi penelitian jenis ini
ditemukan pada ketinggian 90 m dpl.
Gambar 4.4. Morfologi Bambusa glaucescens. (a) Perawakan;
(b) Percabangan Heterogen; (c) Rebung (Buluh Muda); (d) Pelepah Buluh
3). Bambusa glaucophylla Widjaja.
Rumpun jarang (< 30 buluh). Rebung mengerucut, hijau, tertutup bulu hitam tersebar. Buluh tinggi mencapai 1-1,5 m, panjang ruas 15-25 cm, diameter 4-7 cm, tebal 5-8 mm. Buluh muda hijau, tertutup lapisan lilin putih. Buluh tua hijau, tertutup bulu coklat hingga hitam, tersebar. Percabangan heterogen, 1 m diatas permukaan tanah. Pelepah buluh panjang 5-6 cm, lebar 2 cm, mudah luruh, tertutup bulu coklat hingga hitam. Daun pelepah buluh tegak. Aurikel tinggi 2 mm, membulat dengan ujung sedikit melengkung keluar, gundul. Ligula tinggi 1-2 mm, rata, gundul. Daun panjang 6-9 cm, lebar 2 cm, hijau dengan garis-garis putih sejajar tulang daun, permukaan bawah berbulu, permukaan atas licin.
Spesimen : AS 023, 17 Desember 2012 MEDA – USU
Nama daerah : Bambu Putih
Distribusi : Kabupaten Batu Bara
Habitat : Pekarangan masyarakat. Pada lokasi penelitian jenis ini
ditemukan pada ketinggian 11 m dpl.
Gambar 4.5. Morfologi Bambusa glaucophylla. (a) Rebung (Buluh Muda); (b) Daun; (c) Aurikel.
b