• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Variasi Jumlah Dan Jenis Air Pencuci Terhadap Soda Loss Dan % Solid Pada Proses Washing Pulp Di Pt.Toba Pulp Lestari Tbk Porsea

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Variasi Jumlah Dan Jenis Air Pencuci Terhadap Soda Loss Dan % Solid Pada Proses Washing Pulp Di Pt.Toba Pulp Lestari Tbk Porsea"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

WASHING PULP

DI PT. TOBA PULP LESTARI. Tbk PORSEA

KARYA ILMIAH

IAN PUTRA K

052 409 005

PROGRAM STUDI DIPLOMA-3 KIMIA INDUSTRI

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

DI PT. TOBA PULP LESTARI. Tbk PORSEA

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh Ahli Madya

IAN PUTRA K

052409005

PROGRAM STUDI DIPLOMA-3 KIMIA INDUSTRI

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

Judul : PENGARUH VARIASI JUMLAH DAN JENIS

AIR PENCUCI TERHADAP SODA LOSS DAN

% SOLID PADA PROSES WASHING PULP DI

PT. TOBA PULP LESTARI. Tbk. PORSEA

Kategori : KARYA ILMIAH

Nama : IAN PUTRA. K

Nomor Induk Mahasiswa : 052409005

Program Studi : DIPLOMA – III KIMIA INDUSTRI

Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (

FMIPA ) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

DISETUJUI di,

Departemen Kimia FMIPA USU

Ketua,

( Dr. RUMONDANG BULAN, MS )

NIP 131 459 466

(4)

PENGARUH VARIASI JUMLAH DAN JENIS AIR PENCUCI TERHADAP SODA LOSS DAN % SOLID PADA PROSES WASHING PULP DI PT. TOBA PULP LESTARI. Tbk. PORSEA

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa Karya Ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing – masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juli 2008

(5)

PENGHARGAAN

Dengan mengucapakan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat dan kasihNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini yang berjudul “ Pengaruh

Variasi Jumlah Dan Jenis Air Pencuci Terhadap Soda Loss Dan % Solid Pada Proses Washing Pulp Di PT. Toba Pulp Lestari. Tbk Porsea”. Karya Ilmiah ini dimaksudkan untuk

melengkapi salah satu tugas akhir yang merupakan syarat memperoleh gelar Ahli Madya pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Jurusan Kimia Industri D3 USU

Medan.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih yang

sebesar m- besarnya kepada :

1. Ibu DR.RUMONDANG BULAN, MS selaku dosen pembimbing dan Ketua Jurusan yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta membimbing semasa kuliah dan membantu saya dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.

2. Teristimewa kepada kedua orang tua serta keluarga saya yang telah banyak memberikan dukungan moril, doa, serta material sepenuhnya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan kuliah dan karya ilmiah ini, serta kepada mama saya yang juga telah banyak membantu saya selama masa – masa kuliah yang pernah saya lalui.

3. Buat sahabat saya, osbal, boy,yang telah membantu serta memberi masukan sama saya dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, dan teman – teman saya terutama sri, vordinan, sudirman, bona, dll termaksud seluruh anak KIN’ 05 yang selama masa kuliah telah menemani saya.

4. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada orang yang selalui saya sayangi dan spesial, Elisa Putri Karolina yang telah memberi semangat serta doa sehingga saya dapat menyelesaikan karya ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa cara penulisan Karya Ilmiah ini serta isinya

masih jauh dari sempurna. Penulis dalam hal ini dengan kerendahan hati sangat

mengharapkan masukan berupa kritikan maupun saran dari pembaca yang bersifat

(6)

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih yang tidak ternilai kepada

semua pihak yang telah banyak membantu demi selesainya karya ilmiah ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih membalas budi baik yang mereka berikan.

Harapan penulis semoga tulisan ini akan bermanfaat bagi kita semua.

Medan. Juli

2008

Penulis

Ian

(7)

ABSTRAK

Kayu merupakan bahan baku untuk pembuatan kertas. Jenis kayu yang

diolah adalah pinus merkusi dan eukalyptus, sebab mempunyai serat – serat yang

panjang dan cocok untuk pembuatan kertas. Dalam proses pembuatan pulp kraft,

menggunakan bahan pemasak caustik soda dan natrium sulfat dengan

perbandingan 4:1 terhadap serpihan kayu. Soda loss dan % solid diperoleh dari

bagian pemasakan pulp. Telah dilakukan pengamatan tentang persentase soda loss

dan % solid di pabrik kertas kraft ini dengan persentase soda loss kira – kira 7 – 9

kg/ton pulp dan % solid 16 – 19 kg/ton pulp. Perhitungan dan pengamatan

berdasarkan data yang diperoleh dari Lapangan

(8)

THE EFFECT OF VARIETY OF AMOUNT AND THE KIND OF

WASHING WATER TO SODA LOSS AND % SOLID ON PULP

WASHING PROCESS AT PT. TOBA PULP LESTARI. Tbk PORSEA

ABSTRACT

Wood is a raw material of paper. The wood species that will be processed is mercusi pine and eucalyptus, because it has log fibrous and it is suitable for paper making. In the process of pulp kraft used cooking material are NaOH and Na2S in 4 : 1 to the wood chip. Soda loss and % solid

(9)
(10)
(11)

DAFTAR PUSTAKA

36

LAMPIRAN

37

DAFTAR TABEL

(12)

Tabel 4.1. Data Pengamatan soda loss dan % solid di lapangan 30

Tabel 4.2. Data Perhitungan untuk soda loss dan % solid 31

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Bangsa Indonesia yang kaya akan berbagai sumber daya alam merupakan modal

yang utama di dalam pembangunan negara dan bangsa. Kekayaan berupa hutan

telah dimanfaatkan sebaiknya. Ini terbukti dibidang industri telah dimanfaatkan

pohon – pohon kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas. Kayu merupakan

bahan baku pembuatan kertas yang mengandung senyawa – senyawa yang terdiri

dari selulosa, hemiselulosa, zat ekstraktif dan mineral. Jenis kayu yang diolah

dalam pembuatan kertas kraft adalah pinus merkusi dan eukalyptus karena

mempunyai serat yang panjang. Pinus merkusi tumbuh di daerah tropis dengan

penyebaran alami sampai selatan khatulistiwa, dari Assam melalui Tibet, Birma,

Laos, dan Philiphina.

Bahan baku yang diolah menjadi kertas sebelumnya di proses menjadi

(13)

disebut pulp. Pulp adalah bahan setengah jadi kertas yang siap diolah menjadi

kertas. Pulp diperoleh dari bermacam – macam jenis kayu yang berserat panjang

maupun yang berserat pendek seperti pinus misalnya jerami padi, bambu, ampas

tebu dan tumbuhan lainnya yang mengandung serat. Komposisi utama dari pulp

yaitu selulosa, hemiselulosa, dan sedikit lignin. Mutu pulp tergantung pada tinggi

rendahnya kandungan selulosa, lignin merupakan kotoran pada proses pembuatan

pulp yang harus dihilangkan.

Bubur pulp yang telah dimasak pada unit digester, kemudian disaring dan

dicuci (dibersihkan) dengan menggunakan air. Air berfungsi untuk

menghilangkan lindi hitam (black liquor) yang dapat mengotori produk akhir dari

pulp.

Pada pencucian di washing plant dihasilkan lindi hitam yang menghasilkan

bahan kimia cairan pamasak dan bahan padat terlarut yaitu komponen pengikat

serat kayu yang berupa senyawa karbon dan lindi hitam yang dapat dimanfaatkan

sebagai bahan bakar di recovery boiler yang akan menghasilkan lelehan ( smelt )

hijau dan dapat diolah kembali dengan menambah zat kapur sehingga diperoleh

lindi putih kembali.

Antara 98 dan 99 % dari bahan kimia yang dipakai keluar dari bubur pulp

yang dicuci tersebut. Kandungan soda pada bubur pulp maksimal kira – kira 10

kg/ton dari pulp kering., dan soda itu begitu kuat terikat dalam bubur pulp.

Sodium dan black liquor tersebut akan meninggalkan sistem pencucian ( bersama

bubur pulp ) dalam bentuk sodium lignates. Sebenarnya hanya relatif sedikit

(14)

1.2. Permasalahan

Salah satu bagian yang penting pada proses pembuatan pulp adalah

proses pencucian (Washing). Proses pencucian bubur pulp dilakukan setelah

melewati proses Digester. Pada proses washing akan dilakukan pencucian untuk

menghilangkan Soda Loss dan untuk mengetahui % solid yang terkandung dalam

pulp tersebut serta berapa banyak air yang digunakan dan jenis air yang

digunakan. Dimana Soda Loss merupakan suatu zat sodium yang akan dapat

mempengaruhi kualitas dari pulp. Soda Loss tersebut dapat merusak kualitas dari

pulp tersebut pada proses pembuatan selanjutnya. Berdasarkan permasalahan di

atas maka saya membuat judul untuk karya ilmiah ini adalah “ PENGARUH

VARIASI JUMLAH DAN JENIS AIR PENCUCI TERHADAP SODA LOSS

DAN % SOLID PADA PROSES WASHING PULP “

1.3. Tujuan

- Untuk mengetahui berapa banyak air pencuci yang digunakan serta jenis

yang dipakai pada proses washing.

- Untuk mengetahui kadar soda yang hilang pada tahap pencucian pada

proses pembuatan pulp.

- Untuk mengetahui % solid yang hilang pada tahap pencucian pada proses

pembuatan pulp.

1.4. Manfaat

Manfaatnya adalah dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan

(15)

sodanya dan juga % solid terlalu tinggi maka keputihan pulp yang dihasilkan akan

semakin rendah.maka mutu pulp yang dihasilkan tidak bagus karena kadar

ligninnya sedikit. Soda yang hilang juga akan sangat berpengaruh untuk

menentukan kadar Na2SO4 yang akan ditambahkan pada proses berikutnya.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Umum.

Kayu merupakan bahan mentah yang sangat tua. Beribu – ribu tahun

yang lalu, ketika hutan lebat menutupi kawasan yang luas di permukaan bumi,

orang – orang primitif menggunakan kayu untuk bahan bakar dan perkakas.

Karena kayu merupakan bahan alami, berfungsi sebagai penguat batang, cabang

dan akar dari pohon atau tanaman lainnya, ia akan kembali pada daur ulang alami

setelah menuaikan fungsinya dan terdegradasi menjadi unsur – unsur dasarnya.

Hal ini menerangkan, mengapa sangat sedikit bukti awal penggunaan kayu yang

dapat bertahan, meskipun sejumlah anak panah, lembing dan perkakas hingga

berumur 3.000.000 tahun masih awet pada kondisi tertentu dalam paya – paya dan

rawa – rawa.

Selama periode prasejarah dan sesudahnya kayu tidak hanya digunakan

untuk bahan bangunan tetapi juga semakin penting sebagai bahan mentah kimia

untuk pembuatan arang (digunakan dalam peleburan besi), ter dan getah

(16)

(digunakan dalam pembuatan gelas dan sebagai bahan pemucat kain dan tekstil

kapas)

Namun di sisi lain kayu merupakan bahan dasar yang modern. Kubah –

kubah kayu yang besar dan perabot rumah yang indah membuktikan kegunaan

dan keindahannya. Bahkan dalam bentuk alih seperti kayu lapis, papan partikel

dan papan serat, kayu telah menjadi bahan bangunan yang berharga. Di samping

itu, kayu merupakan bahan dasar pulp dan kertas, serat, film, aditif, dan banyak

produk – produk lain.

Dalam proses produksinya industri pulp and paper membutuhkan air

dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini dapat mengancam kelestarian habitat di

sekitarnya karena mengurangi tingkat ketersediaan air bagi kehidupan hewan air.

Pulp dibuat secara mekanis maupun kimia dengan memisahkan serat kayu atau

selulosa dari bahan lain. Dalam proses kraft pulping, larutan campuran antara

sodium hidroksida dan sodium sulfida digunakan untuk melarutkan bahan tidak

berserat. Pulp kemudian diputihkan untuk menghasilkan kertas yang putih.

Beberapa zat kimia digunakan dalam proses pemutihan (bleaching) antara lain gas

klorin, sodium hidroksida, kalsium hipoklorit, klorin dioksida, hidrogen peroksida

dan sodium peroksida. Setelah penambahan filter dan pewarna, bubur kertas

dibuat menjadi kertas

Air adalah unsur alami semua bagian suatu pohon yang hidup. Dalam

bagian xilem, air umumnya berjumlah lebih daripada separuh berat total : artinya,

berat air dalam kayu segar umumnya sama atau lebih besar daripada berat bahan

kayu kering. Apabila pohon mati atau suatu kayu glondong diolah menjadi kayu

(17)

udara sekitarnya. Jika pengeringan terus berlangsung cukup lama, dimensi dan

sifat – sifat kayu akan mulai mengalami perubahan.

Sejumlah air akan tetap tinggal di dalam struktur dinding – dinding sel

bahkan setelah kayu diolah menjadi kayu gergajian, finir, partikel, atau produk

serat. Sifat – sifat fisik dan mekaniknya ketahanan terhadap penghancuran

biologis, dan kestabilan dimensi produk akan dipengaruhi oleh jumlah air yang

ada dan fluktuasinya dengan waktu.

2.1.1. Kandungan air kayu

Kandungan air kayu segar adalah penting karena hubungannya yang

langsung dengan berat kayu glondong dan papan gergajian segar. Karenanya, hal

ini merupakan perhatian bagi mereka yang merancang peralatan permanenan dan

angkutan atau membeli kayu atas dasar berat.

Apabila berat segar harus digunakan sebagai dasar pembelian kayu

glondong atau kayu pulp, sebaiknya dilakukan penelitian di tempat tentang

kandungan air segar

Sepanjang menyangkut komponen – komponen kimia kayu, maka perlu

dibedakan antara komponen – komponen makromolekul utama dinding sel

selulosa, poliosa, dan lignin, yang terdapat pada semua kayu dan komponen –

komponen minor dengan berat molekul kecil, yang biasanya lebih berkaitan

dengan jenis kayu tertentu dalam jenis dan jumlahnya. Perbandingan dan

komposisi kimia lignin dan poliosa berbeda pada kayu lunak dan kayu keras,

(18)

Komponen kimia pulp adalah selulosa 45%, hemiselulosa 10%, lignin

35%, zat ekstraktif 10%. Selulosa adalah suatu polimer yang terdiri glukosa dalam

bentuk piranosa yang berhubungan satu sama lain. Rumus molekulnya adalah

C6H10O5 dengan berat molekulnya lebih dari 250. Selulosa tidak dapat larut dalam

air, asam encer dan alkali encer pada suhu kamar.

Komponen utama lain setelah selulosa didalam pulp adalah hemiselulosa.

Hemiselulosa terdapat bersama – sama selulosa dalam jaringan tanaman.

Hemiselulosa di dalam pulp mempunyai peranan yang penting terutama dalam hal

daya ikat. Hemiselulosa dapat dipisahkan dari selulosa, karena dapat larut dalam

alkali encer dan air panas.

Berdasarkan kandungan selulosanya kayu dapat dibagi menjadi dua jenis

yaitu :kayu keras dan kayu lunak.

Pada umumnya kayu lunak menghasilkan pulp yang lebih kuat dari pada

kayu keras. Ini disebabkan serat kayu lunak lebih panjang dan fleksibel

dibandingkan dengan serat kayu keras.

Pada kondisi reaksi yang sama kayu lunak biasanya memberi tingkat

kecerahan yang lebih rendah dibanding dengan kayu keras. Kertas dari kayu keras

mempunyai kualitas cetak yang lebih baik membentuk permukaan kertas yang

lebih halus karena seratnya lebih halus.

2.1.2. Analisis kayu

Analisis kayu mencakup penentuan komposisi kayu maupun isolasi,

pemurnian, dan karakterisasi konstituen kayu. Karena kayu adalah bahan alam,

(19)

senyawa – senyawa yang berkaitan dengan kayu. Kesukaran utama dalam

menganalisa kayu pada umumnya tidak terletak pada jumlah komponen, yang

kadang – kadang sangat berbeda dalam komposisi dan sifat – sifat kimia tetapi

terletak pada kenyataan bahwa ada hubungan ultrastruktur dan kimia antara

makromolekul dinding sel.

Analisis kayu dapat dilakukan dengan cara yang sangat berbeda, misal

hanya menentukan komponen dinding sel utama, seperti polisakarida

(holoselulosa) dan lignin disamping ekstraktif dan abu.

Kualitas pulp yang dihasilkan terutama dipengaruhi oleh :

1. Kadar selulosa

2. Ukuran serat

3. Kemudahan serat diputihkan

Kualitas pulp tergantung dari pada bahan baku dan proses pembuatannya.

Salah satu proses yang terpenting dalam pembuatan pulp yaitu pencucian dengan

menggunakan air.

Ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan

kualitas pulp dalam pembuatan pulp dengan menggunakan proses industri adalah :

1. meningkatkan rendemen pulp.

2. mengurangi kebutuhan energi.

3. mengurangi jumlah bahan kimia yang dibutuhkan untuk pembuatan

pulp dan pengelantangan, termaksud peningkatan proses pemulihan

bahan – bahan kimia.

(20)

5. pengembangan proses pembuatan pulp bebas belerang dan serangkaian

pengelantangan yang bebas klor.

6. fleksibilitas tinggi mengenai rendemen, kualitas dan kemungkinan

pengelantangan pulp.

7. kondisi – kondisi proses yang memungkinkan penyiapan hasil samping

pembuatan pulp.

8. unit – unit produksi lebih kecil yang menguntungkan yang

membutuhkan biaya lebih rendah untuk mendirikan pabrik – pabrik

baru dan menurunkan kebutuhan bahan baku.

2.2. Komposisi Kimia Dari Kayu

Secara kimia, kayu terdiri dari empat komponen yaitu : selulosa,

hemiselulosa, lignin, dan zat ekstraktif. Keempat komponen ini sangat

mempengaruhi kualitas pulp dan kertas yang dihasilkan.

1. Selulosa

Selulosa adalah komponen utama dari kayu dan merupakan polisakarida

linier dengan rantai yang cukup panjang yang terdiri dari glukosa – glukosa yang

kemudian berhubungan satu sama lain.

Selulosa merupakan komponen kayu yang terbesar, yang dalam kayu

lunak dan kayu keras jumlahnya mencapai hampir setengahnya. Selulosa

merupakan polimer linier dengan berat molekul tinggi yang tersusun seluruhnya

atas – D – glukosa. Karena sifat – sifat kimia dan fisikanya maupun struktur

(21)

utama dinding sel tumbuhan dan selulosa merupakan struktur dasar sel – sel

tanaman, oleh karena itu merupakan bahan alam yang paling penting yang dibuat

oleh organisme hidup. Di dalam kayu, selulosa tidak hanya disertai dengan

poliosa dan lignin tetapi juga terikat erat dengannya, dan pemisahannya

memerlukan perlakuan kimia yang intensif. Selulosa merupakan bahan dasar dari

banyak produk teknologi dan karena itu diisolasi terutama dari kayu dengan

proses pembuatan pulp dalam skala besar.

2. Hemiselulosa

Hemiselulosa adalah polimer yang baik dibentuk dari monosakarida.

Berbeda dengan selulosa, dimana hemiselulosa mempunyai lima jenis polimer

yang berkadar monosakarida berbeda yaitu : glukosa, galaktosa, sitosa, dan

arabinosa.

Jenis kayu yang berbeda mempunyai komposisi hemiselulosa yang

berbeda. Kayu keras lebih banyak mengandung silosa, sedangkan kayu lunak

lebih banyak mempunyai glukosa.

Rantai hemiselulosa lebih pendek dari pada rantai selulosa. Hemiselulosa

adalah polimer bercabang atau tidak linier. Selama pembuatau pulp, hemiselulosa

bereaksi lebih cepat dengan larutan pemasak dibandingkan dengan selulosa.

Hemiselulosa bersifat hidrofil (mudah menyerap air) yang mengakibatkan

strukturnya jadi kurang teratur. Kadar hemiselulosa dalam pulp jauh lebih kecil

dibandingkan dengan serat asal, karena selama pemasakan hemiselulosa bereaksi

(22)

3. Lignin

Lignin merupakan polimer yang kompleks yang tersusun dari unit – unit

phenylpropana, amorf, bersifat aromatis dengan density 1,3 dengan indeks bias

1,6. Berat molekul 1500 – 2000 yang bervariasi dengan jenis kayu. Kadar lignin

dalam kayu 20% - 30% . Struktur molekul lignin belum dapat diketahui, karena

metoda isolasi untuk lignin dapat mengakibatkan perubahan struktur. Lignin

merupakan bagian yang tidak diinginkan dalam pulp, sehingga harus dihilangkan

atau diputihkan sesuai dengan mutu pulp yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh

lignin mempunyai sifat menolak air (hidrofobik) dan kaku sehingga kandungan

lignin dalam pulp akan menyulitkan penggilingan. Lignin banyak di jumpai pada

tumbuh – tumbuhan sebagai zat perekat yang berhubungan dengan kekakuan

kayu.

Penentuan kandungan lignin adalah penting untuk analisis kayu maupun

untuk karakterisasi pulp. Metoda – metoda penentuan lignin secara kuantitatif

dapat dibagi sebagai berikut :

− metoda langsung, yaitu lignin ditentukan sebagai sisa

− metoda tidak langsung, yaitu di mana kandungan lignin :

- dihitung sesudah penentuan polisakarida

- ditentukan dengan metoda – metoda spektofotometri

- merupakan hasil reaksi lignin dengan kemikalia pengoksida

4.Zat Ekstraktif

Istilah ekstraktif kayu meliputi sejumlah besar senyawa yang berbeda yang

(23)

Dalam arti yang sempit ekstraktif merupakan senyawa – senyawa yang larut

dalam pelarut organik Ekstraktif, meliputi hormon tumbuhan, resin, asam lemak

dan unsur lain. Komponen ini sangat beracun bagi kehidupan perairan dan

mencapai jumlah toksik akut dalam fluen industri kertas

Ekstraktif terdiri atas jumlah yang sangat besar dari senyawa – senyawa

tunggal tipe hidrofil maupun tiofil. Ekstraktif dapat dipandang sebagai konstituen

kayu yang tidak struktural, hampir seluruhnya terbentuk dari senyawa – senyawa

ekstrakulikuler dan berat molekul rendah.

Ekstraktif – ekstraktif menempati tempat – tempat morfologi tertentu di

dalam struktur kayu. Sebagai contoh, asam – asam resin yang terdapat dalam

saluran resin, sedangkan lemak dan lilin terdapat dalam sel – sel parenkim jari –

jari

2.3. Metode Pembuatan Pulp

Pulp adalah produk utama kayu, terutama digunakan untuk pembuatan

kertas, tetapi ia juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa, seprti sutera

rayon dan selofan.

Tujuan pembuatan pulp adalah untuk memisahkan serat – serat selulosa

dari komponen – komponen yang lain yang terdapat dalam bahan berserat menjadi

individu – individu serat

Pulp adalah sisa hasil pembuburan bahan tumbuh – tumbuhan yang

komponen utamanya terdiri dari selulosa dalam bentuk serat. Bahan ini dapat

(24)

1. Secara Mekanis

Pulp dapat di buat dari kayu dengan pengolahan secara mekanis tanpa

perlakuan kimia. Proses ini memiliki keunggulan antara lain memberikan hasil

yang lebih tinggi tetapi itu membutuhkan energi yang lebih besar. Pulp – pulp

mekanik lebih banyak diproduksi dari kayu – kayu yang lunak. Pada proses ini

kandungan lignin dan zat – zat lain masih tinggi.

2. Secara Semi Kimia

Pembuatan pulp secara semikimia merupakan proses dua tahap yaitu:

Tahap pertama serpihan kayu diolah dengan bahan kimia yang tidak terlalu

banyak untuk memutus ikatan interseluler dengan menghilangkan sebagian

hemiselulosa dan lignin, selanjutnya mengalami pelakuan mekanis untuk

memisahkan serat – seratnya. Cara pembuatan pulp secara semikimia dilakukan

untuk mendapatkan hasil pulp yang lebih baik, disamping untuk mempertahankan

keunggulan sifat pulp yang akan diperoleh dengan cara mekanis.

Hasil dan kualitas pulp yang diperoleh dengan cara semi kimia terletak

diantara hasil pulp yang diperoleh dengan cara kimia maupun mekanis. Cara semi

kimia ini lebih sesuai untuk bahan baku jenis kayu keras. Hasil pulp yang

diperoleh sekitar 60 – 70% dan berat kering bahan baku.

3. Secara Kimia

Pembuatan pulp secara kimia adalah proses pembuatan pulp dengan

menggunakan bahan kimia sebagai bahan utama untuk melarutkan bagian –

(25)

dapat dihilangkan. Pulp yang telah dihasilkan akan mudah untuk diputihkan dan

pada umumnya dilakukan untuk menghasilkan jenis kertas tertentu seperti tissue,

kertas cetak dan lain – lain. Hampir semua produksi pulp kimia di dunia saat ini

masih didasarkan pada proses – proses sulfit dan sulfat, yang terakhir yang paling

banyak.

Ada tiga macam pembuatan pulp secara kimia, yaitu :

a. Proses Sulfit

Pembuatan pulp secara proses sulfit akan menggunakan larutan garam

seperti Kalsium sulfit, Magnesium sulfit, Natrium sulfit dan Amonium sulfit

sebagai larutan pemasak. Tahap – tahap yang dilakukan pada proses ini adalah

tahap pemasakan, dimana akan terjadi proses pemutusan rantai antara lignin dan

selulosa. Tahap pencucian, dimana terjadi proses pencucian larutan pemasak yang

dibawa dari proses pemasakan. Tahap bleaching, dimana terjadi proses pemutihan

bubur, untuk meningkatkan kemurnian dari bubur pulp dan tahap penyaringan

adalah untuk membentuk bubur pulp menjadi lembaran.

Dengan proses sulfit maka bahan baku dapat diputihkan dengan lebih

mudah sehingga akan dihasilkan kertas yang bewarna lebih putih dibandingkan

dengan proses kraft.

b. Proses Soda

Proses soda menggunakan larutan NaOH sebagai bahan kimia yang aktif,

dimana larutan NaOH akan berfungsi untuk melarutkan lignin, karbohidrat, asam

– asam organik, resin, dan lain – lain, sehingga selulosa akan terlepas dari

(26)

pendek seperti merang, jerami dan lain – lain. Selama proses ini tidak

menggunakan proses sulfur, sehingga polusinya tidak akan terlalu besar dan perlu

pembuatan kembali bahan kimia dari buangannya. Pulp yang telah dihasilkan dari

proses ini akan kurang kuat, ukurannya pendek dan akan memiliki warna yamg

coklat tetapi mudah diputihkan. Lama proses pemasakannya akan sama dengan

proses sulfit

c. Proses Sulfat

Proses sulfat juga dikenal dengan nama proses kraft. Dalam pemasakan

kayu pada proses sulfat (kraft), digunakan larutan pemasak alkali yaitu NaOH,

Na2S, dan Na2CO3, selama pemasakan berat larutan pemasak akan hilang dan

akan digantikan oleh larutan Na2SO4. Kombinasi penggunaan larutan pemasak ini

menghasilkan sifat pulp yang berbeda dari proses sulfit dan proses soda. Setelah

terjadi pemasakan akan terjadi pelepasan serat – serat kayu. Serat – serat kayu dan

kotoran – kotoran serta komponen lainnya akan dipisahkan dengan melakukan

proses pencucian dan penyaringan. Cairan pemasak yang bebas dari serat yang

lazim disebut dengan black liquor (lindi hitam), dipekatkan dengan melakukan

penguapan dan dibakar pada unit pengambilan bahan kimia, yang diperoleh

kembali akan digunakan lagi sebagai cairan pamasak.

Proses pembuatan pulp kraft dan pulp yang dihasilkan dipengaruhi oleh

beberapa parameter :

1. bahan baku (spesies dan kualitas kayu)

2. nisbah lindi pemasak terhadap kayu

3. waktu dan suhu pemasakan

(27)

5. komposisi bahan kimia pemasak

2.4. Pencucian

Proses pembuatan pulp secara kimia yang dipilih oleh PT. Toba Pulp

Lestari adalah proses Alkali Sulphate atau kraft yang berarti mempergunakan

NaOH dan Na2S yang disebut dengan lindi putih (White Liquor) sebagai zat kimia

pemasak. Bahan dasar mentah yang dipergunakan adalah eukalyptus.

Salah satu bagian penting dalam proses pembuatan pulp ialah proses

pencucian (washing). Proses pencucian dilakukan setelah melewati proses

pemasakan (digester). Pada proses pencucian tahap IV akan diperiksa kadar soda

yang tertinggal di dalam pulp dengan parameter Soda Loss. Dimana kadar soda

yang layak pada pulp agar produksi pulp layak unrtuk diperdagangkan biasanya

maksimal 7 kg/ton pulp. Soda ini akan sangat mempengaruhi terhadap kualitas,

keputihan dari pulp yang dihasilkan.

Pencucian pulp secara efisien sangat penting dilakukan untuk

memastikan kebutuhan maksimal zat kimia dalam proses pulping dan mengurangi

jumlah limbah organik yang terbawa oleh pulp dalam proses pemutihan. Pulp

yang kurang tercuci membutuhkan dosis zat pemutih yang lebih besar.

Pencucian pulp dilakukan mengikuti masing-masing proses untuk

menghilangkan materi yang tidak diinginkan dalam pulp. Hasil samping berupa

black liquor, debu, lignin, dan pemutih dihilangkan setelah tiap tahapan proses

selesai. Efisiensi pencucian diukur berdasarkan tingkat kebersihan bubur kertas

dan jumlah air yang digunakan untuk mencapai tingkat kebersihan tersebut.

(28)

1. Untuk membersihkan (memurnikan) bubur pulp dari lindi

pemasakannya.

2. Untuk menghemat bahan – bahan kimia pemasak agar dapat dipakai

kembali

3. Untuk mengumpulkan bahan – bahan yang tidak larut yang tidak dapat

dipakai kembali sebagai bahan bakar.

4. Untuk memisahkan serat – serat selulosa dari komponen – komponen

lain yang terdapat dalam bahan – bahan berserat selulosa menjadi

individu serat.

Sifat dari kualitas air yang dipakai untuk proses pencucian adalah :

1. Bebas dari mikroorganisme

2. Tidak berwarna

3. Tidak mengandung toxic

Bubur pulp yang telah dimasak pada unit digester, kemudian disaring dan

dicuci (dibersihkan) dengan menggunakan air. Air berfungsi untuk

menghilangkan lindi hitam (black liquor) yang dapat mengotori produk akhir dari

pulp.

Pada pencucian di washing plant dihasilkan lindi hitam yang menghasilkan

bahan kimia cairan pamasak dan bahan padat terlarut yaitu komponen pengikat

serat kayu yang berupa senyawa karbon dan lindi hitam yang dapat dimanfaatkan

sebagai bahan bakar di recovery boiler yang akan menghasilkan lelehan ( smelt )

hijau dan dapat diolah kembali dengan menambah zat kapur sehingga diperoleh

(29)

Menurut W.B Kenneth pencucian bubur pulp dilakukan untuk

mendapatkan jumlah maksimum bahan – bahan kimia yang digunakan ketika

memasak dengan pengenceran yang minimum. Hal ini menyangkut penghematan

biaya dan memperkecil pencemaran

Pencucian bubur pulp pada mulanya dilakukan dalam sebuah tangki yang

disebut dengan ‘Diffuser’ (menyebar). Dari percobaan yang telah dilakukan,

proses ini sangat lambat dan tidak efisien, dan cenderung menyebabkan masih

terlalu banyak lindi hitam yang akan tersisa ( pencucian kurang bersih ).

Kemudian ditemukanlah suatu alat disebut ‘ rotary vacum cylinder ‘

(vacum silinder putar) yang berhasil menggantikan alat Diffuser dan tidak terlalu

banyak memerlukan tenaga dan ruangan tapi angka produksinya lebih besar,

sekaligus dapat dilakukan pencucian yang cukup efisien. Hal ini merupakan faktor

yang utama yang mendorong penggunaan alat vacum washer tersebut. Alat ini

biasanya dilengkapi dengan empat alat pencuci vacum yang dialiri dengan air

pencuci.

Tejadinya pembusaan dari lindi akan mempengaruhi jumlah tahap –

tahapnya, misalnya lindi yang tidak terlalu banyak berbusa seperti yang dari kayu

keras dapat dihilangkan dengan tiga tahap. Untuk kecepatan dan juga efisiensi

yang sama akan diperlukan empat tahap untuk kayu pinus dengan kandungan

sabun dan pembusaan yang cukup tinggi.

Antara 98 dan 99 % dari bahan kimia yang dipakai keluar dari bubur pulp

yang dicuci tersebut. Kandungan soda pada bubur pulp maksimal kira – kira 10

kg/ton dari pulp kering., dan soda itu begitu kuat terikat dalam bubur pulp.

(30)

bubur pulp ) dalam bentuk sodium lignates. Sebenarnya hanya relatif sedikit

Na2SO4 yang masih terkandung dalam lindi hitam tersebut.

Filtrat dari lindi hitam sebagian besar akan disalurkan kedalam alat

penguapan (evaporator). Bilamana pencucian bubur pulp akan dilakukan secara

kontinu (terus menerus), maka filtrat pertama ini akan dipakai untuk mencuci

bubur pulp sebelum dipompakan ke evaporator untuk penguapan.

Lindi hitam encer akan mengandung serat ( fiber ) yang jumlahnya

berbeda – beda, bergantung pada kondisi alat penyaring pada digester. Bubur pulp

ini akan memberi pengaruh buruk pada alat penguapan lindi hitam itu, dimana

akan cenderung menumpuk dan mengurangi kapasitas pemanasan. Oleh karena

hal penyaringan lindi hitam itu sering dilakukan untuk memperkecil jumlah serat

– serat yang akan terbawa ke evaporator ataupun tower oksidasi lindi hitam.

2.5. Variabel Operasi

Faktor – faktor yang mempengaruhi proses pencucian adalah sebagai

berikut :

1.Faktor Pengencer

Aliran air pencuci merupakan faktor yang paling penting yang

mempengaruhi kehilangan yang terjadi saat pencucian. Dengan aliran air yang

lambat, kehilangan yang terjadi saat pencucian bubur pulp tersebut akan lebih

kecil, maka untuk mengatasi keadaan tersebut dapat dicapai dengan cara

meningkatkan aliran air pencuci. Ini dapat terlihat pada gambar yang

(31)

dan factor pengencer (dilution faktor yang dinyatakan sebagai jumlah air pencuci

tiap ton pulp pengencer lindi hitam dari tanki blow, berhubungan dengan faktor

pengencer).

Bilamana faktor pengencer ditambah, maka hasil yang diperoleh akan

berkurang dan pada suatu titik akan tidak ekonomis dengan mempergunakan lebih

banyak air pencuci karena tingginya biaya untuk evaporasi. Pada prakteknya,

faktor pengencer itu dapat dikontrol dengan menjaga agar konsentrasi lindi hitam

encer padatan tetap konstan.

Variabel – variabel faktor pengencer bergantung pada :

1. Kemampuan suatu operator ataupun automatik sistem kendali untuk tetap

mengikuti variasi tingkat produksinya.

2. Kestabilan operasi tingkat produksinya.

Menurut O. Korhonen (1979), peningkatan pengontrolan faktor

pengencer dapat dicapai dengan jalan menentukan filtrat lindi atau padatan. Ada

juga perlunya menentukan sistem kendali automatik yang baik secara kontinu

mendapat hasil dari perbaikan konsentrasi lindi hitam encer atau konduktiviti

filtrat tahap akhir, karena jarang dihasilkan faktor pengencer yang konstan.

2. Temperatur Air Pencuci.

Temperatur air pencuci (wash water) sangat mempengaruhi keadaan

pencucian yang dikehendaki. Pencucian (washing) akan kurang baik hasilnya jika

pada temperatur yang dingin. Akan baik jika beberapa derajat dibawah titik didih

(32)

Hasil – hasil yang ditemukan pada temperatur 700C, dimana pada temperatur

tersebut air pencuci dapat melarutkan secara baik padatan yang harus dihilangkan

dari bubur pulp dan hemiselulosa menjadi lembut. Ini akan menghasilkan struktur

serat yang lebih terbuka dan memungkinkan perbaikan flow air pencuci.

Jika pada temperatur air yang lebih tinggi akan mengakibatkan terlalu

tingginya evolusi uap dari lindi hitam. Temperatur air pencuci yang optimum di

PT. Toba Pulp Lestari ialah 700C. Temperatur air pencuci dipertahankan 700C

untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pembiasan, oleh karena hal ini akan

sangat mengurangi kesempurnaan pencucian.

3. Distribusi flow air pencuci (shower flow distribution).

Pemanfaatan flow air pencuci akan bergantung pada struktur pipa air

pencuci dan distribusi flow air pencuci sering terjadi penyumbatan di beberapa

pabrik, dan program pembersihan secara teratur paling penting untuk mencegah

hal tersebut. Pendistribusian flow air pencuci diantara pipa – pipa seharusnya

dipertahankan tetap merata dan perbandingan optimum antara air yang dipakai

dengan bubur pulp yang dihasilkan.

Air pencuci yang dipakai untuk bubur pulp pada alat pencuci tetap

dipartahankan pada kecepatan rendah yaitu dengan menggunakan multiple

showers yang dilakukan karena

1. Untuk menyempurnakan pendistribusian air pencuci keseluruh bubur pulp.

2. Untuk mengurangi atau memperkecil generasi busa (foam).

Busa ini akan menimbulkan efek yang buruk terhadap efisiensi

(33)

pencuci melalui bubur pulp itu, tetapi juga menghasilkan lebih banyak gumpalan

yang terbawa ke dalam washer selanjutnya. Bahan kimia yang dipakai untuk

mengurangi busa pada beberapa washer tersebut, bilamana melebihi kapasitas.

4. Konsistensi bubur pulp.

Konsistensi yang rendah dapat meningkatkan (memperbaiki) penyebaran

pencucian atau pembentukan sheet pulp. Tetapi juga memperbanyak blow back

dan memerlukan putaran drum yang tinggi serta kapasitas pompa resirklulasi lindi

(liquor) yang juga harus tinggi. Konsistensi harus ditingkatkan sesuai dengan

putaran drumnya. Karena adanya saling ketergantungan konsistensi bubur pulp

akan disesuaikan dengan mengatur posisi katub pengencernya. Suatu tabel dapat

menentukan faktor pengencer untuk mendapatkan kosistensi yang dikehendaki.

5. Level (Pulp Washing Rate)

Dengan level yang telah ditetapkan akan dapat mengurangi kesulitan

ketersumbatan dan dapat dijaga untuk tetap konstan dengan mengatur jumlah

aliran pengencer ataupun putaran drum. Level yang beroperasi dengan baik adalah

yang mendekati batas tertinggi dan ini akan mempermudah mencapai putaran

(34)

BAB 3

MATERI DAN METODOLOGI

3.1. Materi

3.1.1. Peralatan yang digunakan :

1. Radiscreen

2. Raditrim

3. Vacumwasher

4. Blower for washer hood ventilation

5. Liquo r filter

6. Foam breakers

7. Blower for air doctor

8. Primary pressure screen

9. Swing screen

10.Secondary pressure screen

11.Tertiary pressure screen

12.Screw press

13.Filtrate tank

14.Washing shower

15.Face wire

3.1.2. Bahan – bahan

(35)

2. Air pencuci.

3.2. Metodologi Percobaan

Prosedur Kerja

3.2.1. Operasi di Area Washing/Pencucian

− Dari 2 tangki blow hasil dari pemasakan di digester, pulp

penyimpanan diencerkan kira – kira 3,0 – 3,5 % kekentalannya lalu

dipompakan ke area washing

− Dibagian bawah tangki blow di encerkan dengan memakai pompa

yaitu pompa liquor 421 PC 301 lokasi di area washing. Aliran pulp

stock datang dari tangki blow disetel dengan dua aliran katub kontrol

FIC – 171 & FIC – 172

− Pulp stock di masukkan ke radiscreen, di pipa mau masuk ke

radiscreen diencerkan oleh katub kontrol FIC – 213 sampai kira –

kira 2% kekentalannya

− Pulp yang diterima dari radiscreen pergi ke washer # 1 vat dan serat

kasar dan mata kayu pergi ke raditrim

− Mata kayu di pisahkan lagi dari raditrim dan dikirim ke screew press

# 1 dan yang diterima dari raditrim pergi ke washer # 1 vat

− Kekentalan dari tangki blow “A” dan “B” di jaga pada 3,5% - 4,0%

kekentalan oleh alat pengukur NIC – 169 % NIC – 170

− Dari radiscreen pulp yang diterima ke washer # 1 diencerkan

menjadi 1,0% - 1,5% kekentalannya oleh katub kontrol FIC – 038

(36)

− Serat kasar dan mata kayu diolah kembali di raditrim yang mana

dipisahkan antara mata kayu dan material yang besar lainnya.

− Pulp yang diterima dari raditrim di pompakan kembali ke pipa stock

yang ke washer # 1

− Pulp stock yang masuk ke washer # 1, setelah keluar dari washer

kira – kira ketebalannya 12% - 14% kekentalannya oleh vacuum

washer dan untuk mencuci pulp tersebut diambil dari lindi hitam dari

tangki filtrate # 2 melalui pompa 421PC – 035 dan aliran lindi hitam

tersebut dikontrol oleh FIC – 042

− Pulp stock yang tebal tersebut masuk ke Hi – speed repulper dan low

speed repulper dan diencerkan menjadi 1,0% - 1,5 % kekentalannya

dengan katub HIV – 041 dan pulp stock tersebut masuk ke washer #

2

− Stock pulp di washer # 2 vat kembali dicuci oleh lindi hitam yang

kadarnya lebih rendah dari tangki filtrate # 3 melalui pompa 421 PC

306 aliran tersebut dikontrol oleh FIC – 046 dan ketebalan pulp

tersebut kira – kira 12% - 14% kekentalan

− Pulp stock yang tebal dari washer # 2 di masukkan ke sebuah

repulper A – 110 & A – 111 dan pulp tersebut di encerkan oleh lindi

hitam dari tangki filtrate # 3 melalui pompa 421 PC – 304 dan katub

HIV – 045, dimana stock pulp tersebut dicuci dan di tebalkan

kembali di washer # 3 . untuk mencucinya digunakan lindi hitam

yang berkadar rendah dari tangki filtrate # 4 melalui pompa 421 PC

(37)

− Stock pulp masuk ke sebuah repulper conveyor dimana stock pulp

tersebut di encerkan dengan lindi hitam dari tangki filtrate # 4 dan

dikontrol oleh FIC – 050 dan masuk ke sebuah tangki yang disebut

wash stock tank pada kekentalan kira – kira 4% - 5%

− Dimana sebelum masuk ke washer # 4 harus melewati operasi

screening

3.2.2. Operasi di Area Screening

− Operasi screening menggunakan tiga tahap, tahap pertama

mempunyai satu delta screen F – 101 dan satu screen periflow 1100

F – 102 dan sebuah swing screen F – 103 yang mana dapat

dipergunakan sebagai primary screen atau secondary screen

− Dari tangki penyimpanan pulp dari pencucian dipompakan dengan

pompa 421 PC – 401

− Kekentalan pulp yang dipompakan di kontrol kira – kira 4% - 5%

kekentalannya dengan alat pengontrol yaitu kontroller NIC – 052

− Ke primary screen / screen tahap pertama , pulp stock tersebut

dipompakan lagi dengan pompa 421 PC – 402 dicampur bersamaan

dengan lindi hitam yang datang dari dilution tank, agar stock pulp

yang masuk ke screen tahap pertama kekentalannya kira – kira 1%

− Jumlah reject yang diambil dari screen tahap pertama dapat distel /

dikontrol menggunakan alat yang disebut controller FIC – 057 , FIC

(38)

− Kapasitas screen dapat dikontrol dengan alat yaitu differential

controller / alat pengontorl perbedaan tekanan PDIC – 056, PDIC –

059, PDIC – 087

− Dilusi / pengencer yang ke screen tahap pertama alat yang

digunakan yaitu flow controller / aliran yang dikontrol FIC – 055,

FIC – 058.

− Reject / serat kasar dari screen tahap pertama di pompakan ke screen

tahap kedua dengan memakai pompa 421 PC – 403, pada waktu

dipompakan ditambahkan lindi hitam yang diambil dari tangki T –

117.

− Pulp yang diterima dari secondary stage / tahap kedua di kembalikan

lagi ke inlet / yang mau masuk ke pompa 421 PC – 402 melalui

sebuah alat pengontrol PIDC – 056.

− Aliran reject / serat kasar dari screen tahap kedua dikontrol dengan

menggunakan alat FIC – 066 dan dipompakan ke tahap ketiga yaitu

screen F – 195 melalui pompa 421 PC – 404.

− Dilusi / pengencer screen tahap kedua dikontrol dengan alat yaitu

controller FIC – 064.

Screen tahap ketiga mempunyai alat pengontrol sebagai berikut :

Alat pengontrol perbedaan tekanan PDIC – 069.

Alat pengontrol serat kasar FIC – 070.

Alat pengontrol aliran pengencer FIC – 068.

− Pulp yang diterima dari screen tahap ketiga dikembalikan ke yang

(39)

− Reject / serat kasar dari screen tahap ketiga dimasukkan ke tangki

screw press dan bersamaan dengan alat serat kasar dari radistrim lalu

di pompakan ke screw press # 2

− Accept / yang diterima dari screw press # 2 dikembalikan ke yang

mau masuk / inlet screen tahap ketiga.

− Kalau ada yang diperlukan yaitu screen tahap pertama, screen tahap

kedua, screen tahap ketiga dapat dipisahkan melalui penutupan katub

yang dioperasikan secara manual.

− Stock pulp yang diterima di screen tahap pertama diencerkan sampai

1,0% - 1,5% dengan menambahkan keenceran melalui alat yaitu

controller FIC – 067, sebelum masuk ke washer # 4. pulp stock akan

menjadi 12% - 14% ketebalannya sesudah melewati washer / alat

pencuci

− Air panas atau air kondensasi dari evaporator yang dipakai untuk

mencuci pulp yang terakhir di washer # 4 dengan menggunakan alat

yaitu flow controller valve / katub pengontrol aliran FIC – 083 dan

FIC – 078

− Washer wire / saringan washer terus menerus dicuci dengan sebuah

pompa wire cleaning 421 PC – 408

− Setelah dicuci pulp yang sudah bersih dan kekentalannya 12% - 14%

terus menerus masuk ke screw conveyor

− Pulp stock dari screw conveyor dimasukkan ke sebuah tangki feed T

(40)

tangki yang disebut unbleach high density tower melalui pompa MC

421 PC – 107

− Ketinggian tangki feed akan dikontrol dengan alat yang disebut

controller LIC – 080 , katub pengencer yang menambahkan air ke

tangki feed juga dikontrol dengan alat yaitu HIV – 081 dan HIV –

082 agar ketinggian tangki feed dapat dijaga. pompa vacuum 421 PC

– 108 tujuannya adalah untuk mengambil udara atau gas – gas dari

pulp stock yang ada di tangki feed melalui alat pengontrol yaitu

(41)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Hasil dari pengamatan soda loss dan % solid di lapangan terdapat pada

tabel 4.1 dibawah ini.

(42)

4.2.Perhitungan

1. Kadar soda loss yang hilang untuk kadar soda loss 8,0 kg/ton :

Soda loss yang hilang =

Soda loss tersisa

Volume air pencuci + produksi bubur pulp

(43)

Jadi, kadar soda loss yang hilang untuk 8,0 kg/ ton adalah = 255,78

kg/ton. Dan untuk mencari kadar soda loss yang lain dapat dicari dengan

menggunakan perhitungan seperti diatas.

2.Kadar % solid yang hilang untuk kadar % solid 17,80 % :

% Solid yang hilang = 100 % - % solid tersisa

= 100 % - 17,8 %

= 82,2 %

Jadi, kadar % solid yang hilang untuk 17,80 % adalah = 82,2 %. Dan untuk

mencari kadar % solid yang lain dapat dicari dengan menggunakan perhitungan

seperti diatas, hasilnya terdapat pada table 4.2 dibawah ini.

(44)

NO Washing

prod

Volume air pencuci

Soda Loss

( kg/ton )

% solid

( % )

1 312.59 1733.06 255.78 82,2

2 424.71 1626.88 256.4 83

3 13.93 84.19 12.74 82.6

4 257.89 1150.69 185.3 83

5 434.52 1616.81 273.51 81.9

6 439.57 1993.95 311.9 81.7

7 463.44 2196.06 340.96 81.4

8 507.08 2204.76 352.18 80.7

9 430.31 2092.63 331.96 79.4

10 495.26 1797.85 272.9 79.1

11 364.19 1657.88 280.84 79.1

12 393.34 1534.55 271.53 81.9

(45)

4.3. Pembahasan

Soda loss adalah banyaknya zat sodium yang terbawa keluar system

dalam bubur pulp, yang tersisa pada proses pemasakan (cooking) sedangkan %

solid adalah banyaknya padatan yang terlarut dalam black liquor dari bubur pulp.

Dimana soda loss yang terkandung di air pencuci akan melalui tahap

Recaustizing yaitu penarikan kembali soda dalam bentuk NaOH yang dihasilkan

dari penambahan Ca(OH)2. NaOH yang dihasilkan ini akan digunakan kembali

pada proses pemasakan sebagai larutan pemasak ( white liquor ), sedangkan %

solid atau padatan yang didapat bisa berupa mata kayu yang tidak masak (reject),

pasir dan batu yang terbawa dari chip file pada proses pemasakan.

Dengan melakukan pengujian sampel di laboratorium, maka soda loss

yang terkandung pada bubur pulp dapat diketahui dan kebutuhan air pencuci dapat

ditentukan.Kandungan soda loss yang ada pada bubur pulp secara normal kira –

kira 7 – 9 kg/ton dan % solid yang dikirim ke evaporator 16 – 19 kg/ton

selebihnya dibuang keluar.Apabila kandungan soda masih terlalu tinggi maka

penyiraman bubur pulp dengan air pencuci akan semakin ditingkatkan, dan

sebaliknya.

Dari hasil pengamatan dilapangan kandungan soda loss yang

diperoleh adalah 7,1 – 8,4 kg/ton dan % solid yang diperolah sekitar 17,00 – 20,90

% pulp. Maka, soda loss dan % solid yang normal pada umumnya adalah 7 kg/ton

dan 16%, sehingga jumlah air pencuci yang dibutuhkan untuk membersihkan

bubur pulp tersebut akan tergantung dari kandungan soda loss dan % solid yang

masih terdapat pada bubur pulp tersebut.maka akan semakin banyak pula air

(46)

selanjutnya untuk pemutihan (bleaching) supaya mendapatkan bubur pulp yang

sesuai dengan keinginan konsumen.

Proses pembuatan pulp kraft dan pulp yang dihasilkan dipengaruhi oleh

beberapa parameter :

1. bahan baku (spesies dan kualitas kayu)

2. nisbah lindi pemasak terhadap kayu

3. waktu dan suhu pemasakan

4. banyaknya dan konsentrasi bahan kimia pemasak

5. komposisi bahan kimia pemasak

Pencucian pulp dilakukan mengikuti masing-masing proses untuk

menghilangkan materi yang tidak diinginkan dalam pulp. Hasil samping

berupa black liquor, debu, lignin, dan pemutih dihilangkan setelah tiap

tahapan proses selesai. Efisiensi pencucian diukur berdasarkan tingkat

kebersihan bubur kertas dan jumlah air yang digunakan untuk mencapai

tingkat kebersihan tersebut.

Tujuan dari pencucian bubur pulp adalah :

1. Untuk membersihkan (memurnikan) bubur pulp dari lindi

pemasakannya.

2. Untuk menghemat bahan – bahan kimia pemasak agar dapat dipakai

kembali

3. Untuk mengumpulkan bahan – bahan yang tidak larut yang tidak dapat

(47)

4. Untuk memisahkan serat – serat selulosa dari komponen – komponen

lain yang terdapat dalam bahan – bahan berserat selulosa menjadi

(48)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

1. Banyaknya jumlah air pencuci yang digunakan dalam pencucian

bubur plup tergantung dari banyaknya pulp yang masuk dan juga

kadar soda loss yang terkandung pada bubur pulp. Semakin besar

kadar soda loss yang terkandung dalam pulp maka semakin banyak

pula air pencuci yang digunakan untuk mencuci bubur pulp tersebut,

dan sebaliknya. Dan jenis air pencuci yang dipakai adalah Hot Water

dan Condensate.

2. Semakin tinggi berat jenis pada lindi hitam, maka akan semakin

tinggi pula nilai persen dari % solidnya

3. Sebaiknya soda loss yang terdapat pada bubur pulp harus seminimal

mungkin, karena jika terlalu besar maka derajat keputihan dari pulp

(49)

4.2. Saran

1. Pada proses pencucian bubur pulp kita harus memperhatikan keadaan

lingkungan sekitarnya jangan sampai terjadi pencemaran, karena

bahan – bahan yang digunakan seperti bahan kimia pemasak tersebut

dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

2. Lindi hitam yang tersisa pada bubur pulp diusahakan sekecil

mungkin, karena akan menimbulkan kesulitan pada saat proses

(50)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2002.Washing Plant.Training and Development Centre. Porsea : PT.

TOBA PULP LESTARI,Tbk PORSEA

Fengel.D. dan Wegner.G.1995. Kimia Kayu, Ultrastruktur Reaksi. Gadjah

Mada.University Press. Yokyakarta

Haygren.Jhon G. Hasil Hutan Dan Ilmu Kayu. Gadjah Mada University Press.

Yokyakarta

http:// One . Indoskripsi . Com ./ clik/1576/0. Diakses tanggal 30 April 2008

Sjostrom. Eero.1995. Kimia Kayu . Edisi 2 . Gadjah Mada University Press .

Gambar

Tabel 4.2. Data Perhitungan untuk soda loss dan % solid                        31
Tabel 4.2. Data Perhitungan untuk soda loss dan % solid

Referensi

Dokumen terkait

Tahap delignifikasi , proses pemutihan tahap pertama yaitu menghilangkan menguraikan sebagian kandungan lignin yang terdapat dalam unbleached pulp dengan menggunakan bahan kimia

Pemutihan bubur dilakukan 4 tahap dengan bahan kimia khlorin dioksida,. ekstraksi caustik soda dan delignifikasi bantuan oksigen serta hidrogen

Setelah itu, mengamati proses pembuatan pulp dan membuat daftar proses permesinan pada pulp tersebut kemudian membuat daftar rotating equipment yang merupakan Salah satu

Untuk mengetahui pengaruh dari besarnya sulphidity yang terkandung di dalam white liquor terhadap kandungan lignin yang masih terdapat dalam pulp yang dihasilkan yang ditandai

PENGARUH TOTAL SOLID DAN TOTAL ALKALI AKTIF PADA BLACK LIQOUR (LINDI HITAM) TERHADAP KUALITAS PULP YANG DIHASILKAN

Setelah itu, mengamati proses pembuatan pulp dan membuat daftar proses permesinan pada pulp tersebut kemudian membuat daftar rotating equipment yang merupakan Salah satu

Setelah itu, mengamati proses pembuatan pulp dan membuat daftar proses permesinan pada pulp tersebut kemudian membuat daftar rotating equipment yang merupakan Salah satu

Selanjutnya dicuci dan disaring untuk memisahkan cairan kimia dari kandungan lignin dari untuk memisahkan cairan kimia dari kandungan lignin dari pulp pulpnya, kemudiannya, kemudian