Dampak reklamasi pantai utara jakarta terhadap perubahan sosial ekonomi masyarakat: tinjauan sosiologis masyarakat di sekitaran pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara

168 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SOSIOLOGIS MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE, KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh :

Ibnu Mustaqim (1110015000033)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

v

Sosiologis Masyarakat di Sekitaran Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara)

Salah satu bagian dari rencana reklamasi Pantai Utara Jakarta adalah pembagunan Pelabuhan Muara Angke yang berfungsi sebagai sarana transportasi massal untuk penyebrangan wisata menuju Kepulauan Seribu. Latar belakang pembangunan Pelabuhan Muara Angke karena tingginya animo masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung ke Kepulauan Seribu. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke, meniscayakan terjadinya perubahan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial ekonomi yang dialami oleh masyarakat sekitar. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Selain deskripsi berupa narasi logis, penelitian ini juga diperkuat dengan data-data kuantitatif, seperti persentase perubahan pendapatan dan pengeluaran.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa Perubahan dalam hal pendapatan rumah tangga, rata-rata responden mengalami penurunan yaitu pada kelompok pedagang dan pengolah kerang serta non perikanan, penurunan sebesar lebih dari 3 kali lipat (360%) dialami oleh nelayan dari pendapatan awal sebelum pembangunan pelabuhan. Kenaikan hanya terjadi pada kelompok pedagang dan pengolah ikan, yaitu sebesar 10% atau senilai Rp 1.166.667,00. Sedangkan, perubahan pengeluaran rumah tangga, kelompok pedagang dan pengolah ikan dan nelayan mengalami kenaikan, terutama pada kelompok nelayan dengan kenaikan sebesar 53%, penurunan dialami oleh kelompok pedagang dan pengolah kerang dan non perikanan dengan persentase penurunan masing-masing sebesar 6%.

(7)

vi

The development of Muara Angke port is a part of Jakarta Northern Coast reclamation’s planning. The port has function as the public transportation infrastructure. The thought of its development caused of the high demand of people visiting Kepulauan Seribu. The Muara Angke port is surely presenting social-economic changes. Therefore, this research purposed to analyze social economic changes that has happened. The methods of this research is quantitative-descriptive research.

Based on the result, the changes affected the income of the responden and there is some descending salary with the shell trader and processing, non-fishery sector, and the fisherman with the total reached 320%. The ascending salary only affected to fish trader, with total 10% (Rp 1.166.667,00). Whereas, outcome from fish trader and processing with fisherman increasing 53%. The outcome of shell trader and processing with non-fishery sector decreasing 6%.

(8)

vii

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Gusti Allah SWT yang telah mengatur dan menetapkan ketentuan hidup yang

harus dilalui oleh kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Hanya Dialah dengan segala

kekuasaan-Nya senantiasa memberikan Nikmat kepada semua Insan, sehingga

penulis dapat menyelesaikan dengan baik skripsi yang berjudul “Dampak Reklamasi Pantai Utara Jakarta Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat (Tinjauan Sosiologis Masyarakat di Sekitaran Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara)”. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, kepada para keluarga dan

Sahabat Rasul yang selalu konsisten dijalan dakwah, juga kepada kita umatnya

yang tetap komitmen dalam menegakkan hembusan nafas Islam sampai akhir

hayat.

Penulis sepenuh hati menyadari bahwa skripsi ini selesai bukan

merupakan hasil dari diri pribadi penulis sepenuhnya, namun berkat ridho Allah

SWT dan bantuan dari semua pihak yang turut berkontribusi dalam memberikan

bantuan berupa Doa, semangat, pengorbanan, moril ataupun materil, serta

keikhlasan dalam membimbing penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan baik

ini penulis meyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang

telah banyak membantu penulis. Dengan segala ketulusan hati, penulis ingin

mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Nurlena Rifa’i, Ph.D.

2. Dr. Iwan Purwanto, M. Pd sebagai ketua jurusan Pendidikan IPS yang

mengajarkan makna kesabaran serta seluruh dosen yang telah menjadi

fasilitator dalam memperoleh ilmu selama belajar di UIN Syarif

(9)

viii

4. Orang tua yang sangat penulis banggakan Bapak Slamet dan

Almarhumah Mama Isminingsih serta adik dan keluarga tercintaku,

Simbah, Pakde, Bude, Bulek, Paklek, Mas dan Mba yang telah

memberikan banyak motivasi, kasih sayang dan curahan perhatian

serta do’a yang selalu teriring setiap saat.

5. Bapak Khafidin sebagai ketua RW 011 dan Bapak Arfani sebagai

tokoh masyarakat setempat yang telah memberikan izin penelitian serta

kebutuhan informasi yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.

6. Teman-teman seperjuangan angkatan 2010 Pendidikan IPS

(SosioAntro10, Geografi2010 dan Reaksi2010). Khususnya

teman-teman SosioAntro10 yang telah banyak memberikan kesan serta nilai

tak terlupakan, senang rasanya bisa mengenal kalian semua.

7. Semua bagian dari keluarga kecilku, ATK Fams (Febrianto, Arif

Putranto, M. Rizki Awaluddin, Ardi Wahyudi, Aldian Kurnia P, Ipan

Sunarya, Arib Jaudi, Avin Reza F, Lukmanul Hakim, Faris Pradana,

Ardi M. Arsyad, Faishal Ramdhan, M. Riza Fahlevi, Farid Iqbal,

Tarmidzi Ubadilah, Choerul Imam, Fajri Shobari, Syarif, Aidil Jufri,

Bani Rohman, Fery, Udin, Syahbani), CRC 589, dan Castelow, bangga

bisa menjadi bagian dari kalian yang selalu mengedepankan

kekeluargaan dan saling support dalam segala hal.

8. Para Timses dan sahabatku, Om Djoko, Desstia, Dara, Ida, Komeng,

Cabi, Lita, Indri, Anto dan keluarga, Jali, Ita, Chaakimah, dkk. Semoga

ikatan ini senantiasa terjalin dengan baik.

9. Kepada semua pihak yang belum dapat penulis sebutkan satu persatu,

terima kasih atas doa dan bantuannya.

Jerih payah, perjuangan, pengorbanan, darah, keringat, air mata, serta

(10)

ix

Jakarta, 03 November 2014

(11)

x

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ... i

LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SIDANG ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

DAFTAR GRAFIK ... xviii

DAFTAR ISTILAH ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 11

E. Tujuan Penelitian ... 11

(12)

xi

C. Reklamasi ... 16

1. Pengertian Reklamasi Pantai ... 16

2. Tujuan Reklamasi ... 17

3. Dampak Reklamasi Pantai ... 18

D. Masyarakat ... 21

1. Pengertian Masyarakat Pesisir ... 21

2. Karakteristik Masyarakat Pesisir ... 22

E. Perubahan Sosial ... 24

1. Pengertian Perubahan Sosial ... 24

2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial ... 25

3. Strategi Adaptasi ... 29

F. Pendapatan Rumah Tangga ... 30

G. Pengeluaran Rumah Tanngga ... 31

H. Sikap ... 33

1. Pengertian Sikap ... 33

2. Komponen Sikap ... 33

3. Fungsi Sikap ... 34

I. Hasil Penelitian Relevan ... 35

J. Kerangka Berpikir ... 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 42

B. Metode Penelitian ... 42

C. Unit Analisis ... 44

D. Instrumen Penelitian ... 44

(13)

xii

F. Teknik Analisis Data ... 48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Daerah ... 51

1. Letak Daerah Penelitian ... 51

2. Kependudukan ... 51

B. Kondisi Sarana dan Prasarana ... 54

1. Peribadatan ... 54

2. Kesehatan ... 55

3. Pendidikan ... 56

C. Keadaan Umum Pelabuhan Muara Angke ... 57

1. Latar Belakang ... 57

2. Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara Angke ... 58

3. Sarana dan Prasarana ... 59

4. Akses Transportasi ... 61

D. Karakteristik Responden ... 62

1. Umur Responden ... 62

2. Jumlah Tanggungan Keluarga ... 63

3. Pengalaman Usaha ... 63

4. Riwayat Pendidikan ... 64

5. Kondisi dan Fasilitas Perumahan ... 65

E. Dampak Pelabuhan Muara Angke Terhadap Perubahan Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat ... 67

1. Keragaman Usaha (Mata Pencaharian) ... 67

2. Perubahan Pendapatan Rumah Tangga ... 69

3. Perubahan Pengeluaran Rumah Tangga ... 74

(14)

xiii

(15)

xiv

Tabel 3.1. Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut Badan

Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang dimodifikasi…….… 47

Tabel 3.2. Indikator Skor Pengukuran Sikap (Positif-Negatif)………….… 49

Tabel 4.1. Komposisi Penduduk Menurut Kewarganegaraan dan Jenis

Kelamin di Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan

Februari 2014……….………... 53

Tabel 4.2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Kelurahan

Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014………... 54

Tabel 4.3. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian

di Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014…... 55

Tabel 4.4. Jenis Tempat Peribadatan di Kelurahan Pluit dalam

Laporan Bulanan Februari 2014………... 56

Tabel 4.5. Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kelurahan Pluit dalam

Laporan Bulanan Februari 2014………... 57

Tabel 4.6. Jumlah Sarana dan Pendidikan Formal di Kelurahan Pluit dalam

Laporan Bulanan Februari 2014………... 58

Tabel 4.7. Daftar Prasarana Pelabuhan Muara Angke Tahun 2002 -2012.... 61

Tabel 4.8. Kelompok Umur Responden Tahun 2014………....….... 64

Tabel 4.9. Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2014………... 66

Tabel 4.10. Rata-rata Pendapatan Utama Responden Sebelum dan Sesudah

(16)

xv

Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014.... 75

Tabel 4.13. Rata-rata Perubahan Pendapatan Total Responden Sebelum dan

Sesudah Pembangunan Pelabuhan MuaraAngke Tahun 2014... 76

Tabel 4.14. Rata-rata Pengeluaran Pangan Responden Sebelum dan Sesudah

Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014……... 78

Tabel 4.15. Rata-rata Pengeluaran Non Pangan Responden Sebelum dan

Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014.... 79

Tabel 4.16. Rata-rata Pengeluaran Total Responden Sebelum dan Sesudah

Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014……... 80

Tabel 4.17. Rata-rata Perubahan Pengeluaran Total Responden Sebelum dan

Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke

Tahun 2014………...…... 81

Tabel 4.18. Sikap Responden atas Pembangunan Pelabuhan

Muara Angke………...….. 83

Tabel 4.19. Keuntungan yang Dirasakan Responden atas Pembangunan

Pelabuhan Muara Angke……….……....…...…... 84

Tabel 4.20. Kerugian yang Dirasakan Responden atas Pembangunan

(17)

xvi

1.1.Peta Rencana Pengembangan Kawasan Terbangun/Peta Rencana

Peruntukan Reklamasi Pantura Jakarta ... 6

(18)

xvii

Lampiran 1 : Karakteristik Responden (Umur, Jumlah Anggota Keluarga,

Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman Usaha) ... 87

Lampiran 2 : Kondisi Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 ... 88

Lampiran 3 : Fasilitas Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 ... 89

Lampiran 4 : Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang dimodifikasi ... 90

Lampiran 5 : Hasil Skor Sikap Responden Mengenai Kehadiran Pelabuhan Muara Angke ... 91

Lampiran 6 : Kuesioner Penelitian ... 92

Lampiran 7 : Pedoman Wawancara Tokoh Masyarakat ... 99

Lampiran 8 : Hasil Kuesioner Penelitian (Perwakilan Masing-masing Mata Pencaharian) ...101

Lampiran 9 : Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat ...126

Lampiran 10 : Dokumentasi Lapangan ...130

Lampiran 11 : Gambar Lokasi Penelitian ...134

(19)

xviii

Grafik 4.1. Rata-rata Total Pendapatan Responden Sebelum dan Sesudah

Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014………... 73

Grafik 4.2. Rata-rata Total Pengeluaran Responden Sebelum dan Sesudah

Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014…...…... 78

Grafik 4.3. Ketimpangan Pendapatan dan Pengeluaran Responden

Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara

(20)

xix

Abrasi : Pengikisan batu oleh air, es atau angin

Bauksit : Barang tambang campuran yang merupakan bahan

dasar aluminium

Biologis : Bersifat biologi (ilmu tentang makhluk hidup)

Biota : Keseluruhan flora dan fauna yang terdapat dalam

suatu daerah

Budidaya : Usaha menghasilkan sesuatu yang baik dan

menguntungkan

Coastal and engineering : Rekayasa daerah pantai

Common property resources : Sumber daya milik bersama

Degradasi : Penurunan kualitas atau mutu

Drainase : Pengeringan air yang tergenang di daerah tertentu

secara besar-besaran

Ekosistem : Kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan,

organisme dan non organisme lain serta proses

yang menghubungkannya dalam membentuk

keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.

Ekologi : Ilmu tentang lingkungan

Environmental services : Jasa-jasa lingkungan, seperti pariwisata dan

olahraga.

Erosi : Pengikisan / penipisan permukaan bumi oleh air

(21)

xx

bahan galian kalsium fosfat

Habitat : Tempat makhluk hidup

Hidraulik : Penggunaan air untuk menghasilkan tenaga

Hidrologi : Ilmu tentang air, sifat-sifat dan distribusinya

Konservasi : Perlindungan atas sesuatu dengan pemeliharaan

Lamun : Menggenangi (menutupi karang)

Mangan : Logam yang terdapat dalam tanah

Mangrove : Tanaman bakau

Mineral : Barang tambang

Moluska : Binatang triploblastik selomata tubuhnya tidak

beruas-ruas dan mempunyai cangkok (rumah),

seperti bekicot dan siput

Nelayan : Orang yg mata pencaharian utamanya dari usaha

menangkap ikan di laut

Non-renewable resources : Sumber daya tidak dapat pulih, seperti minyak

bumi, gas dan hasil tambang lainnya

Oseanografi : Ilmu tentang segala aspek yang berhubungan

dengan laut dan lautan

Overfishing : Kondisi tangkap lebih

Patron-klien : Pola hubungan yang bersifat vertikal antara

(22)

xxi

Reklamasi : Pekerjaan untuk mendapatkan bidang lahan

dengan luasan tertentu

Renewable resources : Sumber daya dapat pulih, seperti perikanan, hutan

mangrove dan terumbu karang

Sedimentasi : Pengendapan

Subsisten : Memenuhi kehidupan jangka pendek

Stakeholder : Pengampu kebijakan

Sumber daya hayati : Sumber daya kehidupan

Survival of the fittes : Kemampuan bertahan hidup

Sustainable capacity : Kapasitas berkelanjutan

Tangible : Hal yang nyata / dapat dihitung

(23)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai negara maritim mempunyai garis pantai terpanjang

keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia dengan panjang

garis pantai mencapai 95.181 km. Wilayah Laut dan pesisir Indonesia mencapai ¾

wilayah Indonesia (5,8 juta km2 dari 7.827.087 km2).1

Wilayah pesisir dan lautan

Indonesia yang kaya dan beragam sumber daya alamnya telah dimanfaatkan oleh

bangsa Indonesia sebagai salah satu sumber bahan makanan utama, khususnya

protein hewani, sejak berabad-abad lamanya. Selain menyediakan berbagai

sumber daya tersebut, wilayah pesisir dan lautan Indonesia juga memiliki fungsi

lain, seperti transportasi dan pelabuhan, kawasan industri, agribisnis dan agro

industri, rekreasi dan pariwisata, serta kawasan pemukiman dan tempat

pembuangan limbah.2 Hingga saat ini wilayah pesisir memiliki sumber daya dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Wilayah pesisir merupakan

salah satu sumber daya yang potensial di Indonesia. Wilayah pesisir memiliki

pengertian suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Potensi

pengembangan yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan secara garis besar

terdiri dari tiga kelompok yaitu:3 sumber daya dapat pulih (renewable resources) seperti perikanan, hutan mangrove dan terumbu karang, sumber daya tak dapat

pulih (non-renewable resources) seperti minyak bumi, gas dan hasil tambang

lainnya, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) seperti pariwisata dan

olahraga. Namun pemanfaatan saat ini terdapat kecendrungan yang mengancam

1

Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU

2

Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), (Jakarta : Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia, 2000) h. 1

3

Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), h. 10

(24)

kapasitas berkelanjutan (sustainable capacity) dari ekosistem tersebut, seperti

pencemaran perairan, kondisi tangkap lebih (overfishing), degradasi fisik habitat

pesisir utama (mangrove dan terumbu karang), dan abrasi pantai.4 Indonesia sebagai Negara kepulauan, menurut Supriharyono, diperkirakan 60% dari

penduduk Indonesia hidup dan tinggal di daerah pesisir. Sekitar 9.261 desa dari

64.439 desa yang ada di Indonesia dapat dikategorikan sebagai desa atau

permukiman pesisir. Mereka ini kebanyakan merupakan masyarakat tradisional

dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan yang relatif sangat

rendah. Sekitar 90% mereka hanya berpendidikan sampai sekolah dasar.5 Pembangunan kelautan selama tiga dasawarsa terakhir selalu diposisikan sebagai

sektor pinggiran dalam pembangunan sosial-ekonomi. Dengan posisi semacam ini

bidang kelautan yang didefinisikan sebagai sektor perikanan, pariwisata bahari,

pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan dan

jasa kelautan, bukan menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi

nasional. Kondisi ini menjadi ironis mengingat hampir 75% wilayah Indonesia

merupakan lautan dengan potensi yang sangat besar serta berada pada posisi

geopolitis yang penting, yakni antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindia yang

merupakan jalur vital perdagangan internasional.6

Terlebih lagi dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999

mengenai pengaturan pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang

pemerintah kabupaten dan kota, yang kemudian disempurnakan oleh

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yang memberi

kewenangan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam di kawasan pesisir dan

lautan sampai dengan 12 mil laut untuk provinsi dan 4 mil laut untuk

kabupaten/kota. Sudah seharusnya instansi terkait memahami bahwa sektor

kelautan dalam perspektif ekonomi tidak hanya sebatas kepentingan bisnis

kelautan saja, akan tetapi memandang sektor kelautan secara ekonomi politik

4

Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 194

5

Supriharyono, Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2000). h. 4

6

(25)

sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang mampu mewujudkan kesejahteraan bangsa.

Sehingga kebijaksanaan pembangunan kelautan tidak hanya di dasarkan pada

peningkatan output semata tanpa memberikan kontribusi maksimal bagi

kemakmuran bangsa dan mampu menjawab tuntutan pembangunan

berkelanjutan.7 Salah satu implikasi dari undang-undang tersebut yaitu munculnya program pemerintah daerah dengan mereklamasi kawasan pesisir Pantai atau juga

disebut reklamasi Pantai.

Seiring dengan perkembangan peradaban, masyarakat membutuhkan

lahan-lahan baru dalam kegiatan sosial ekonominya, sedangkan lahan yang ada di

daratan semakin terbatas. Dengan keadaan seperti ini masyarakat mulai

memanfatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan, sehingga muncul

permasalahan yang berkaitan dengan penyediaan lahan bagi aktivitas sosial dan

ekonomi masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan lahan,

menjadikan usaha mereklamasi pantai sebagai salah satu konsekuensi logis bagi

penyediaan lahan baru aktifitas sosial-ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, wajar saja jika belakangan ini usaha untuk mereklamasi

pantai semakin banyak bermunculan. Reklamasi pantai memiliki beberapa

pengertian. Dari segi bahasa kata reklamasi berasal dari bahasa Inggris yaitu

reclamation yang berarti pekerjaan memperoleh tanah. Jadi reklamasi pantai dapat

diartikan sebagai pekerjaan untuk mendapatkan bidang lahan dengan luasan

tertentu di daerah pesisir dan laut. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal

Penataan Ruang, Kementrian PU,8 Reklamasi lahan adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan

utama reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tidak berguna

menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan ini biasanya dimanfaatkan untuk

kawasan permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara,

perkotaan, pertanian, serta objek wisata. Pengertian ini diperkuat oleh

7

Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 198

8

(26)

undang nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau

kecil, mengungkapkan bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dalam

rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut

lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau

drainase. Namun, dalam realitanya, program reklamasi pantai yang banyak

dilaksanakan di Indonesia kurang memenuhi kriteria definisi tersebut. Terutama

mengenai kelestarian kawasan pesisir serta keberlangsungan sosial-ekonomi

masyarakat nelayan.

DKI Jakarta dengan desakan pertambahan penduduk yang pesat,

meningkatnya kebutuhan lahan, sulitnya proses pembebasan tanah guna

mendapatkan lahan bagi pengembangan kota Jakarta, telah mendorong

Pemerintah DKI Jakarta membuat kebijakan untuk mengembangkan wilayah utara

bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk

menopang keberlanjutan kota dan untuk mendorong Jakarta sejajar dengan

kota-kota besar di lingkungan dunia internasional.9 Kebijakan ini ditandai dengan munculnya program pemerintah daerah dengan mereklamasi wilayah Pantai Utara

Jakarta. Kebutuhan akan lahan ini akan meningkatkan harga tanah bahkan

melebihi biaya pembangunan. Penghasilan dari penjualan lahan baru ini adalah

sumber dana yang akhirnya digunakan untuk membiayai reklamasi pantai

sekaligus penyerasian dari wilayah.10

Rencana pengembangan reklamasi pantai di wilayah Pantai utara Jakarta

seluas 2.700 Ha merupakan upaya Pemerintah DKI Jakarta untuk meningkatkan

kualitas lingkungan Pantai Utara Jakarta dan mewujudkan kota pantai (waterfront

city) yang dapat berdiri sejajar dengan kota-kota pantai di Asia Pasifik seperti

Sidney, Singapura dan Hongkong serta dapat mewujudkan Jakarta sebagai kota

pantai yang berkelanjutan (sustainable) serta dapat berdiri sejajar dan bersaing

dengan kota-kota lain di dunia.

9

Sapto Supono, (Desertasi), Model Kebijakan Pengembangan Kawasan Pantai Utara Jakarta Secara Berkelanjutan,Desertasi pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 2009, tidak dipublikasikan.

10

(27)

Proyek pengembangan Pantai Utara Jakarta bukanlah gagasan baru yang

lahir setelah diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1995. Inti dari

proyek ini sudah disinggung sewaktu Profesor Ir. H. Van Breen meninjau masalah

banjir kota Jakarta ketika masih menyandang nama Batavia.11 Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1995 telah memberikan kewenangan dan tanggung jawab

kepada Gubernur DKI Jakarta untuk menyelenggarakan reklamasi kawasan

Pantura Jakarta, yang ditindaklanjuti oleh Perda DKI No. 8 Tahun 1995 tentang

Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Kawasan Pantura Jakarta.

Sementara itu Perda DKI Jakarta No. 6 Tahun 1999 tentang RTRW Jakarta 2010

dan Pergub No. 121 Tahun 2012 juga ikut memberikan panduan kebijakan

terhadap penyelenggaraan reklamasi Kawasan Pantura Jakarta.12

Reklamasi pantai utara akan menimbun laut Teluk Jakarta seluas 2.700 ha.

Batas wilayah reklamasi yaitu dari batas wilayah Tangerang sampai dengan

Bekasi yang dibagi menjadi tiga kawasan yaitu zona barat (west zone), zona

tengah (central zone), dan zona timur (east zone) dengan uraian sebagai berikut :13 1. Zona Barat, termasuk daerah proyek Pantai Mutiara dan proyek Pantai

Hijau di daerah Pluit serta wilayah Pelabuhan Muara Angke dan daerah

proyek Pantai Indah Kapuk, dimana yang merupakan daerah reklamasi

adalah daerah laut seluas kira-kira 1000 ha (kira-kira 6,5 km x 1,5 km).

2. Zona Tengah, meliputi wilayah Muara Baru dan wilayah Sunda Kelapa,

begitu pula daerah Kota, Ancol Barat dan Ancol Timur hingga pada batas

daerah Pelabuhan Tanjung Priok, dimana yang merupakan daerah

reklamasi adalah daerah laut seluas kira-kira 1400 ha (kira-kira 8 km x 1,7

km).

3. Zona Timur, yang meliputi wilayah Pelabuhan Tanjung Priok ke Timur

termasuk daerah Marunda dengan luas daerah laut yang akan direklamasi

kurang lebih 300 ha (kira-kira 3 km x 1 km).

11

A.R. Soehoed, Proyek PANTURA Transformasi dari Ibukota Propinsi ke Ibukota Negara : Persiapan-persiapan Bagi Proyek Multifungsi, (Jakarta : Djambatan, 2004), h. 25

12 Badan Pelaksana Reklamasi Pantai Utara Jakarta, “Rencana Kawasan Reklamasi

Pantai Utara Jakarta”, 2008, (http://panturajakarta.blogspot.com/)

13

(28)

Gambar 1.1. Peta Pengembangan Kawasan Terbangun/Peta Peruntukan Reklamasi Pantura Jakarta

Dalam Pergub No. 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan

Reklamasi Pantai Utara Jakarta, diungkapkan bahwa Sub-Kawasan Barat akan

proyeksikan sebagai kawasan perumahan horizontal dan vertikal, kegiatan

pariwisata dan kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa secara terbatas, dalam

hal kegiatan pariwisata pemerintah telah membangun Pelabuhan Muara Angke

sebagai sarana transportasi massal untuk penyebrangan wisata menuju Kepulauan

Seribu. Salah satu latar belakang pembangunan Pelabuhan Muara Angke adalah

karena tingginya animo masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung ke

Kepulauan Seribu, disamping itu pembangunan Pelabuhan Muara Angke ini juga

merupakan solusi bagi pemenuhan kebutuhan wisata yang efektif dan efisien

masyarakat urban.

Pelabuhan Muara Angke dibangun sejak tahun 2004 dan memiliki luas 3,4

hektar, biaya untuk membangun pelabuhan ini menelan biaya sekitar Rp 130

miliar. Pelabuhan ini utamanya difungsikan untuk mempermudah akses

masyarakat atau wisatawan yang ingin berkunjung ke Kepulauan Seribu. Menurut

informasi narasumber sebelum dibangun menjadi pelabuhan, kawasan ini awalnya

merupakan rawa dan tambak yang dikelola oleh sebagain warga sekitar, yang

(29)

pengurukan sebidang lahan atau disebut juga reklamasi.14 Dengan pembangunan pelabuhan ini meniscayakan terjadinya suatu dampak serta perubahan

sosial-ekonomi masyarakat, proses perubahan sosial terjadi karena manusia adalah

makhluk yang berpikir dan bekerja, manusia juga selalu mempertahankan

kehidupannya serta memperbaiki nasibnya.15 Disamping itu, perubahan sosial juga terjadi karena keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan

sekelilingnya yang terus berubah baik dalam aspek sosial-budaya maupun aspek

ekologis. Dengan berubahnya kondisi fisik suatu wilayah yang diakibatkan oleh

pembangunan, masyarakat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan

yang telah berubah (baru), terutama dalam hal aktivitas sosial-ekonomi

masyarakat, seperti penyesuaian antara pendapatan dengan pengeluaran rumah

tangga, peralihan matapencaharian, serta strategi-strategi adaptasi untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, begitu juga dengan penyesuaian sikap

masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang baru tersebut.

Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh dengan

mengadakan penelitian mengenai perubahan sosial-ekonomi masyarakat di sekitar

pelabuhan Muara Angke. Dengan demikian, maka penelitian ini diberi judul

“Dampak Reklamasi Pantai Utara Jakarta Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat (Tinjauan Sosiologis Masyarakat di Sekitaran Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara)”.

B. Identifikasi Masalah

Jika diamati secara seksama, persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir

dan lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh

faktor-faktor kompleks yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor-faktor tersebut dapat

dikategorikan kedalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah

14

Wawancara dengan pengolah ikan, Bapak Kapidun (80 Tahun), Sabtu 12 Juli 2014, Pukul 12.25 WIB, di halaman rumah.

15

(30)

faktor yang berkaitan dengan kondisi internal sumber daya masyarakat pesisir dan

nelayan, seperti : 16

1. Rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya, teknologi dan manajemen

usaha,

2. Pola usaha tradisional dan subsisten (hanya cukup memenuhi kehidupan

jangka pendek),

3. Keterbatasan kemampuan modal usaha,

4. Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan.

Sedangkan Faktor eksternal, yaitu : 17

1. Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada

produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, bersifat sektoral,

parsial dan kurang memihak nelayan tradisional,

2. Belum kondusifnya kebijakan ekonomi makro (political economy), suku

bunga yang masih tinggi serta belum adanya program kredit lunak yang

diperuntukan bagi sektor kelautan.

3. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah

darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, eksploitasi dan

perusakan terumbu karang, serta penggunaan peralatatan tangkap yang

tidak ramah lingkungan,

4. Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai disertai

implementasinya yang lemah, dan birokrasi yang beretos kerja rendah

serta sarat KKN,

5. Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan

mempertahankan sistem pemasaran yang mengutungkan pedagang

perantara dan pengusaha,

16

Wahyuningsih Darajati (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas), “Strategi

Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu dan Berkelanjutan”, Makalah Sosialisasi Nasional MFCDP, 22 September 2004

17 Wahyuningsih Darajati (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas), “Strategi

(31)

6. Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan

sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan

kemakmuran bangsa.

Dengan adanya pembangunan kawasan komersial jelas akan

mendatangkan banyak keuntungan ekonomi bagi wilayah tersebut. Alasan

utamanya adalah bahwa semakin banyak kawasan komersial yang dibangun maka

akan menambah pendapatan asli daerah (PAD), kawasan komersil dalam hal ini

yaitu hasil dari reklamasi pantai. Reklamasi pantai telah memberikan keuntungan

dan dapat membantu kota dalam rangka penyediaan lahan untuk berbagai

keperluan (pengembangan kawasan), penataan daerah pantai, pengembangan

wisata bahari, dan lain-lain. Namun bagaimanapun juga reklamasi merupakan

bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap keseimbangan lingkungan

alamiah pantai yang akan melahirkan perubahan ekosistem seperti perubahan pola

arus, erosi dan sedimentasi pantai, dan berpotensi menimbulkan gangguan pada

lingkungan. Tidak hanya itu, kehadiran reklamasi juga dapat berdampak pada

aspek sosial masyarakat, khususnya untuk aspek-aspek sosial yang nyata, seperti

kependudukan, tingkat pendidikan, mata pencaharian, pendapatan dan

pengeluaran rumah tangga. Mata pencaharian sebagai petani tambak, nelayan dan

buruh misalnya, dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi hasil tangkapan

dan berimbas pada penurunan pendapatan mereka.

C. Pembatasan Masalah

Ruang lingkup penelitian ini hanya difokuskan pada zona barat saja, yaitu

perkampungan nelayan Muara Angke, lokasi ini merupakan salah satu wilayah

yang merasakan dampak reklamasi Pantai Utara Jakarta, hasil reklamasi yang

terlihat yaitu seperti reklamasi di bagian timur kawasan hunian mewah Pantai

Mutiara, reklamasi di bagian barat Pantai Indah Kapuk serta dibangunnya

pelabuhan Muara Angke sebagai akses penyebrangan masyarakat umum, karena

(32)

intensitasnya sudah terlalu padat. Kehadiran reklamasi ini niscaya berpengaruh

terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Muara Angke.

Kondisi masyarakat di kawasan perkampungan nelayan Muara Angke

tidak jauh berbeda dengan kondisi masyarakat pesisir lainnya dimana kebanyakan

masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya seperti

pedagang dan pengolah hasil laut. Sebagian besar nelayan yang ada di Muara

Angke merupakan pendatang dari luar wilayah DKI Jakarta seperti dari

Indramayu, Cirebon, Serang dan Tegal. Demikian pula para pedagang ikan dan

kerang merupakan pendatang yang umumnya sudah berdagang di Muara Angke

lebih dari lima tahun.

Permasalahan disini akan difokuskan pada aspek perubahan

sosial-ekonomi masyarakat pesisir akibat pembangunan pelabuhan Muara Angke yang

merupakan salah satu bagian dari kebijakan reklamasi Pantai Utara Jakarta,

dampak sosial-ekonomi mulai muncul ketika terdapat aktivitas : proyek, program

atau kebijaksanaan yang akan diterapkan pada suatu masyarakat. Bentuk

intervensi ini mempengaruhi keseimbangan pada suatu sistem (masyarakat).

Pengaruh yang ditimbulkan bisa bersifat positif, ataupun negatif. Perubahan yang

dimaksud adalah beralihnya keadaan sosial-ekonomi masyarakat ketika sebelum

adanya reklamasi hingga setelah reklamasi. Kemudian yang dimaksud dengan

masyarakat pada penelitian ini adalah masyarakat pesisir yang mencari nafkah di

sekitar wilayah penelitian, antara lain nelayan, pedagang dan pengolah ikan,

pedagang dan pengolah kerang, dan mata pencaharian non perikanan. Sedangkan,

aspek sosial-ekonomi difokuskan pada aspek-aspek yang dapat diukur (tangible),

seperti pengalaman usaha, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, kondisi

dan fasilitas perumahan, mata pencaharian, pendapatan rumah tangga dan

(33)

D. Rumusan Masalah

Reklamasi yang tidak memperhatikan pedoman perencanaan tata ruang

kawasan reklamasi pantai dapat mengakibatkan degradasi lingkungan pesisir, hal

ini sangat berpengaruh terhadap hilangnya potensi sumber daya hayati pesisir

terutama beberapa biota laut yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat

setempat, begitu juga pada aspek sosial-ekonomi masyarakat, bagi mereka yang

tidak memiliki keterampilan selain melaut, mereka tidak memiliki alternatif usaha

lain selain menjadi buruh nelayan, dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi

hasil tangkapan dan berimbas pada penurunan pendapatan mereka. Oleh karena

itu, perlu suatu perencanaan pembangunan yang terpadu, yang tidak hanya

berorientasi pada aspek lingkungan saja tetapi juga aspek sosial-ekonomi

masyarakat, sehingga dampak sosial-ekonomi masyarakat juga dapat diprediksi

dan diantisipasi oleh pemerintah selaku pengampu kebijakan.

Dengan demikian maka muncul rumusan masalah, Bagaimanakah dampak

pembangunan pelabuhan Muara Angke terhadap perubahan sosial-ekonomi

masyarakat perkampungan nelayan Muara Angke ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini

adalah untuk mengetahui dan menganalisis perubahan sosial-ekonomi masyarakat

perkampungan nelayan Muara Angke akibat pembangunan pelabuhan Muara

Angke.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Dalam hal ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

(34)

para praktisi pengembangan masyarakat, khususnya yang membidangi ilmu

sosial.

Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan bahan

masukan bagi universitas yang membidangi ilmu sosial, khususnya jurusan

pendidikan ilmu pengetahuan sosial (sosiologi, geografi dan ekonomi), dalam

rangka menciptakan program pendidikan, kurikulum, serta network untuk

pendidikan.

Bagi pengampu kebijakan (stakeholder) dan lembaga swadaya masyarakat

(LSM), hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan alternatif dalam

menentukan kebijakan yang meminimumkan dampak sosial, ekonomi dan

lingkungan dalam membuat dan menjalankan suatu kebijakan pembangunan.

Kemudian bagi masyarakat yang bersangkutan, hasil penelitian ini berguna dalam

merencanakan strategi untuk meningkatkan status sosial-ekonomi mereka dan

bertahan hidup terhadap perubahan lingkungannya. Dengan adanya penelitian ini,

diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai apa itu

(35)

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Potensi Sosial, Ekonomi dan Budaya Wilayah Pesisir

Potensi ekonomi dalam bentuk produk barang dan jasa di kawasan pesisir,

pantai dan pulau-pulau kecil meliputi :

1. Sumber daya diperbaharui (renewable resources) termasuk ikan, udang,

moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, hutan mangrove, hewan

karang, lamun, dan biota laut lainnya.

2. Sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources)

seperti minyak bumi dan gas, bauksit, timah, bijih besi, mangan, fosfor,

dan mineral lainnya.

3. Energi kelautan seperti : energi gelombang, pasang surut, angin dan OTEC

(Ocean Thermal Energy Conversion)

4. Jasa-jasa lingkungan (environmental services) termasuk tempat-tempat

(habitat) yang indah dan menyejukkan untuk lokasi pariwisata dan

rekreasi, sarana transportasi dan komunikasi, pengatur iklim, penampung

limbah, dan kawasan pemukiman serta industri.

Sejauh ini pemanfaatan sumber daya yang berada di pesisir, pantai dan

pulau-pulau kecil ini masih jauh dari optimal. Hal ini terlihat dari sumbangan

ekonomi bidang kelautan terhadap PDB (Product Domestic Bruto) nasional yang

hanya mencapai sekitar 12,4 % (Rp. 56 Trilyun) pada tahun 1997. Kontribusi

tersebut berasal dari tujuh sektor ekonomi kelautan yakni : perikanan

(penangkapan dan budidaya), pertambangan dan energi, bangunan kelautan,

industri maritim, pariwisata dan jasa kelautan.

Kawasan pesisir sarat dengan masalah-masalah sosial-ekonomi dan

budaya yang memiliki implikasi terhadap pengelolaan wilayah pesisir. Masalah

(36)

yang sangat menonjol yaitu bahwa kawasan pesisir umumnya memiliki status

sebagai sumber daya milik bersama (common property resources) akibatnya

pemanfaatan sumber daya kawasan pesisir menjadi tidak bisa dikontrol karena

tidak ada keputusan kolektif. Kelebihan pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya

terjadi dimana-mana yang akhirnya membuat sumber daya rusak dan memberikan

produktivitas, hasil, dan pendapatan yang rendah. Gejala ini disebut dengan

tragedi milik bersama (Tragedy of The Common).18

B. Penataan Ruang

Dalam melaksanakan konsep pengembangan suatu wilayah, tentunya

harus melalui proses perencanaan tata ruang wilayah yang matang, yakni

perencanaan yang komprehensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, dan

budaya demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, seperti pemanfaatan

ruangan untuk kawasan peruntukan pemukiman harus sesuai dengan daya dukung

tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan aman

dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi

pengembangan masyarakat sekitar, dengan tetap memperhatikan kelestarian

fungsi ekologi. Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan pemukiman

harus didukung oleh ketersediaan fasilitas fisik atau utilitas umum (kemudahan

akses transportasi, pasar, pusat perdangangan dan jasa, perkantoran, sarana air

bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase) dan fasilitas sosial

(kesehatan, pendidikan dan agama).

Mengikuti UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tujuan

kebijakan penataan ruang wilayah pesisir dan lautan dirumuskan sebagai berikut

:19

18

Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), (Jakarta : Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia, 2000), h. 10

19

(37)

1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang (sumber daya dan jasa lingkungan)

2. Terselenggaranya pengaturan pemanfatan ruang kawasan lindung dan

budidaya wilayah pesisir dan kelautan

3. Tercapainya pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan kelautan yang

berkualitas

Tujuan-tujuan tersebut secara tidak langsung mensyaratkan adanya zoning

dalam pemanfaatan ruang. Dengan kata lain pembangunan yang dialokasikan

melalui zoning pada setiap wilayah harus disesuaikan dengan daya dukung

lingkungan dan secara ekonomis menguntungkan.

Secara konsepsional, dalam suatu wilayah dimana pembangunan

dialokasikan, setidaknya terdapat tiga zona yaitu :20

1. Zona Preservasi, yaitu suatu wilayah yang mengandung atribut ekologis

dan biologis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup ekosistem dan

seluruh komponennya, meliputi biota (organisme) termasuk kehidupan

manusia, spesies langka atau endemik, habitat dan berpijah, berbagai biota

laut, ikan, dan biota laut lainnya, dan sumber air tawar. Di dalam zona ini

tidak diperkenankan kegiatan pemanfaatan atau pembangunan, kecuali

untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.

2. Zona Konservasi, yaitu wilayah yang diperbolehkan adannya kegiatan

pembangunan, tetapi dengan intensitas yang terbatas dan sangat terkendali,

misalnya wisata bahari, perikanan tangkap dan budi daya yang ramah

lingkungan (responsible fisheries) dan pengusahaan hutan mangrove

secara lestari. Zona konservasi bersama preservasi berfungsi memelihara

berbagai proses penunjang kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur

hara; membersihkan limbah secara alamiah; dan sumber keanekaragaman

hayati (bio diversity). Luas kedua zona ini yang optimal dalam suatu

wilayah, tergantung pada kondisi alamnya, seyogyanya berkisar antara 30

sampai 50 persen dari luas wilayah.

20

(38)

3. Zona pemanfaatan, yaitu wilayah yang karena sifat biologis dan

ekologisnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pembangunan

yang lebih intensif, antara lain seperti industri, pertambangan dan

pemukiman. Namun kegiatan-kegiatan pembangunan dalam zona

pemanfaatan hendaknya harmonis mengikuti karakteristik ekologis.

C. Reklamasi

Untuk memahami suatu permasalahan menegenai reklamasi, perlu kiranya

melakukan suatu pendekatan terhadap masalah, pendekatan ini dapat diperoleh

melalui pemahaman menegenai definisi, tujuan, serta dampak dari reklamasi.

1. Pengertian Reklamasi Pantai

Istilah “reklamasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengurukan (tanah), atau juga usaha memperluas pertanian (tanah)

atau dengan memanfaatkan daerah yang sebelumnya tidak bermanfaat menjadi

bermanfaat. Sedangkan mereklamasi berarti membuka tanah untuk digarap.21 Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementrian PU,22 Reklamasi lahan adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau

bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan utama reklamasi adalah

menjadikan kawasan berair yang rusak atau tidak berguna menjadi lebih baik

dan bermanfaat. Kawasan ini biasanya dimanfaatkan untuk kawasan

permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara, perkotaan,

pertanian, serta objek wisata.

Dalam Undang-undang nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan

wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, mengungkapkan bahwa reklamasi

adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber

21

Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 1188

22

(39)

daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan

cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Pengertian ini sejalan

dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 40/PRT/M/2007 mengenai

Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai.

Dengan demikian, reklamasi adalah usaha pembentukan lahan baru

dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase dalam rangka

meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan

dan sosial ekonomi. Sedangkan reklamasi pantai dapat diartikan sebagai usaha

pembentukan lahan baru baik yang menyatu dengan wilayah pantai ataupun

yang terpisah dari pantai dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau

drainase dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang

ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi.

2. Tujuan Reklamasi

Tujuan reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau

tidak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan baru tersebut,

biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis dan

pertokoan, pertanian, serta objek wisata.23 Khususnya pada Kota Jakarta, tujuan utama reklamsi Pantai Utara Jakarta yaitu untuk menekan laju

pertumbuhan, dimana tempat yang baru tersebut akan dijadikan pemukiman

yang mampu menampung sekitar 1,5 juta penduduk Jakarta.24

Reklamasi pantai merupakan salah satu langkah pemekaran kota.

Reklamasi dilakukan oleh negara atau kota-kota besar yang laju pertumbuhan

dan kebutuhan lahannya meningkat demikian pesat tetapi mengalami kendala

dengan semakin menyempitnya lahan daratan (keterbatasan lahan). Dengan

23 Modul Terapan, Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai

(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 44/PRT/M/2007), Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum. h. 16.

24

(40)

kondisi tersebut, pemekaran kota ke arah daratan sudah tidak memungkinkan

lagi, sehingga diperlukan daratan baru. Selain reklamasi, alternatif lain dari

kebutuhan lahan adalah pemekaran ke arah vertikal dengan membangun

gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah susun.25

3. Dampak Reklamasi Pantai

Sebagai proses perubahan yang terencana, jelas bahwa masalah sosial

yang timbul bukan merupakan hal yang ikut direncanakan. Oleh sebab itu,

maka lebih tepat disebut sebagai efek sampingan atau dampak dari proses

pembangunan masyarakat. Mengingat bahwa gejala sosial merupakan

fenomena yang saling terkait, maka tidak mengherankan jika perubahan yang

terjadi pada salah satu atau beberapa aspek, yang dikehendaki atau tidak

dikehendaki, dapat menghasilkan terjadinya perubahan pada aspek yang lain.

Terjadinya dampak yang tidak dikehendaki itulah yang kemudian

dikategorikan sebagai masalah sosial.26

Perubahan pantai dan dampak akibat adanya reklamasi tidak hanya

bersifat lokal, tetapi meluas. Reklamasi memiliki dampak positif maupun

negatif bagi masyarakat dan ekosistem pesisir dan laut. Dampak ini pun

mempunyai sifat jangka pendek dan jangka panjang yang dipengaruhi oleh

kondisi ekosistem dan masyarakat disekitar.27

a. Dampak positif

Secara umum dampak positif dari kegiatan reklamasi sesuai

dengan tujuan diadakannya reklamsi, seperti menghidupkan kembali

25 Modul Terapan, Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai

(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 44/PRT/M/2007), h. 16-17.

26

Soetomo, Masalah Sosial dan Pembangunan, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1995), h. 165.

27

(41)

transportasi air, membuka peluang pembangunan wilayah pesisir,

meningkatkan pariwisata bahari, serta meningkatkan pendapatan daerah.

Kegiatan reklamasi antara lain tentunya pada peningkatan kualitas

dan nilai ekonomi kawasan pesisir, mengurangi lahan yang dianggap

kurang produktif, penambahan wilayah, perlindungan pantai dari erosi,

peningkatan kondisi habitat perairan, perbaikan rejim hidraulik kawasan

pantai, dan penyerapan tenaga kerja

Reklamasi banyak memberikan keuntungan dalam

mengembangkan wilayah. Praktek ini memberikan pilihan penyediaan

lahan untuk pemekaran wilayah, penataan daerah pantai, menciptakan

alternatif kegiatan dan pengembangan wisata bahari. Pulau hasil reklamasi

dapat menahan gelombang pasang yang mengikis pantai, Selain itu juga

dapat menjadi semacam bendungan untuk menahan banjir rob di daratan.

b. Dampak negatif

Namun perlu diingat pula, reklamasi merupakan hasil campur

tangan manusia terhadap alam, sehingga memungkinkan semua kegiatan

ini juga membawa dampak buruk. Diantara dampak negatif reklamasi

pantai pada lingkungan meliputi dampak fisik seperti perubahan

hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi, peningkatan kekeruhan,

pencemaran laut, perubahan rejin air tanah, peningkatan potensi banjir dan

penggenangan di wilayah pesisir. Sedangkan, dampak biologis berupa

terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun,

estuaria dan penurunan keanekaragaman hayati.

Adanya kegiatan ini, wilayah pantai yang semula merupakan ruang

publik bagi masyarakat akan hilang atau berkurang karena dimanfaatkan

untuk kegiatan privat. Keanekaragaman biota laut juga akan berkurang,

(42)

ekosistem yang sudah ada. Sistem hidrologi gelombang air laut yang jatuh

ke pantai akan berubah dari alaminya. Berubahnya alur air akan

mengakibatkan daerah di luar reklamasi akan mendapat limpahan air yang

banyak sehingga kemungkinan akan terjadi abrasi, tergerus atau

mengakibatkan terjadinya banjir atau rob.

Disamping itu, reklamasi pantai juga berdampak pada aspek

sosial-ekonomi masyarakat, kegiatan masyarakat di wilayah pantai sebagian

besar adalah petani tambak, nelayan dan buruh, sehingga adanya reklamasi

akan mempengaruhi hasil tangkapan dan berimbas pada penurunan

pendapatan mereka.

Kondisi ekosistem di wilayah pantai yang kaya akan

keanekaragaman hayati sangat mendukung fungsi pantai sebagai

penyangga daratan. Ekosistem perairan pantai sangat rentan terhadap

perubahan sehingga apabila terjadi perubahan baik secara alami maupun

rekayasa akan mengakibatkan berubahnya keseimbangan ekosistem.

Terganggunya ekosistem perairan pantai dalam waktu yang lama, pasti

memberikan kerusakan ekosistem wilayah pantai, kondisi ini

menyebabkan kerusakan pantai. Untuk reklamasi biasanya memerlukan

material urugan yang cukup besar yang tidak dapat diperoleh dari sekitar

pantai, sehingga harus didatangkan dari wilayah lain yang memerlukan

jasa angkutan. Pengangkutan ini berakibat pada padatnya lalu lintas,

penurunan kualitas udara, debu, bising yang akan mengganggu kesehatan

masyarakat.

Sehingga untuk meminimalkan dampak fisik, ekologis, sosial

ekonomi dan budaya negatif serta mengoptimalkan dampak positif, maka

kegiatan reklamasi harus dilakukan secara hati-hati dan berdasar pada

pedoman yang ada dengan melibatkan stakeholder. Pada dasarnya,

(43)

yaitu memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dengan

orientasi jangka panjang.

D. Masyarakat

1. Pengertian Masyarakat Pesisir

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, masyarakat diartikan sebagai

sekumpulan orang yang hidup bersama pada suatu tempat atau wilayah

dengan ikatan aturan tertentu dan kesamaan tertentu.28 Auguste Comte dalam Abdulsyani mengatakan bahwa masyarakat merupakan kelompok-kelompok

makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut

hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangan yang

tersendiri.29

Definisi wilayah pesisir Menurut Dahuri dalam Syamsir Salam, hingga

saat ini belum ada definisi yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan

umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara

daratan dan lautan.30 Dengan kata lain wilayah pesisir berarti tanah dasar berpasir dipantai ditepi laut.

Masyarakat pesisir adalah kelompok orang yang bermukim di wilayah

pesisir, mempunyai mata pencaharian dari sumber daya alam dan jasa-jasa

lingkungan pesisir dan laut, misalnya nelayan, pembudidaya ikan, pedagang,

pengelola ikan, pemilik atau pekerja perusahaan perhubungan laut, pemilik

atau pekerja pertambangan dan energi di wilayah pesisir, pemilik atau pekerja

industri maritim, misalnya galangan kapal dan coastal and engineering.

28 Kamus Besar Bahasa Indonesia

, (Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 924

29

Abdulsyani, SOSIOLOGI : Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2012), h. 31

30

(44)

Berdasarkan definisi di atas, maka masyarakat pesisir diartikan sebagai

sekumpulan orang yang bertempat tinggal di tepi pantai dan memiliki mata

pencaharian yang berasal dari sumber daya laut dan pantai tersebut.

2. Karakteristik Masyarakat Pesisir

Sifat dan karakteristik masyarakat pesisir sangat dipengaruhi oleh jenis

kegiatan mereka, seperti usaha perikanan tangkap, usaha perikanan tambak,

dan usaha pengolahan hasil perikanan yang memang dominan dilakukan oleh

mereka. Karena sifat dari usaha-usaha mereka sangat dipengaruhi oleh

faktor-faktor lingkungan, musim dan pasar, maka karakteristik masyarakat pesisir

juga terpengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

Secara struktural, masyarakat nelayan dan kegiatan ekonomi

perikanannya, seperti yang digambarkan Firth memiliki kemiripan dengan

sistem ekonomi petani. Walaupun karakteristik aktivitas produksi nelayan dan

petani berbeda, tetapi dalam beberapa hal terdapat kesamaan yang bersifat

umum, seperti kerentanan secara ekonomi terhadap timbulnya ketidakpastian

yang berkaitan dengan musim-musim produksi.31 Karakteristik ini menjadi karakteristik yang paling mencolok di kalangan masyarakat pesisir, terutama

bagi para nelayan kecil. Pada musim penangkapan para nelayan sangat sibuk

melaut. Sebaliknya, pada musim paceklik kegiatan melaut menjadi berkurang

sehingga banyak nelayan yang terpaksa menganggur.

Kondisi ini mempunyai implikasi besar pula terhadap kondisi

sosial-ekonomi masyarakat pantai secara umum dan kaum nelayan khususnya.

Kondisi di atas turut pula mendorong munculnya pola hubungan

tertentu yang sangat umum dijumpai dikalangan nelayan dan juga petani

tambak, yakni pola hubungan yang bersifat vertikal, yang terwujud dalam

31

(45)

hubungan patron-klien. Menurut Scott dalam Kusnadi menyatakan bahwa

hubungan patron-klien merupakan kasus hubungan antara dua orang yang

sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, dimana seseorang yang

kedudukan sosialnya (patron) lebih tinggi menggunakan pengaruh dan sumber

daya yang dimilikinya untuk memberikan perlindungan atau keuntungan, atau

keduanya kepada orang yang kedudukannya (client) lebih rendah.32 Karena keadaan ekonomi yang buruk, maka para nelayan kecil, buruh nelayan, petani

tambak kecil, dan buruh tambak seringkali terpaksa meminjam uang dan

barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari dari para juragan atau para

pedangang pengumpul. Konsekuensinya, para peminjam tersebut menjadi

terikat dengan pihak juragan atau pedagang. Keterkaitan tersebut antara lain

berupa keharusan menjual produknya kepada pedagang atau juragan tersebut.

Pola hubungan yang tidak simetris ini tentu saja sangat mudah menjadi alat

mendominasi dan eksploitasi.

Aturan-aturan yang digunakan umumnya timbul dan berakar dari

permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Aturan-aturan

dan kebijakan ini kemudian ditetapkan, dan dikukuhkan sebagai hukum adat

yang disepakati bersama. Dalam penerapannya, aturan-aturan tersebut juga

langsung diaplikasikan, diawasi dan dievaluasi sendiri oleh masyarakat.

Sistem pengelolaan di atas dapat berjalan dengan baik di dalam

struktur masyarakat yang masih sederhana dan belum banyak dimasuki oleh

pihak luar. Hal ini dikarenakan baik budaya, tatanan hidup dan kegiatan

masyarakat relatif homogen dan masing-masing individu merasa mempunyai

kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan

mengawasi hukum yang sudah disepakati bersama.33

32

Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, (Bandung : Humaniora Utama Press, 2000), h. 18

33

(46)

E. Perubahan Sosial

1. Pengertian Perubahan Sosial

Kata lain dari perubahan adalah transformasi. Transformasi berasal

dari bahasa Inggris transformation yang berarti perubahan bentuk atau

penggantian rupa.34 Kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia dengan kata transformasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, transformasi berarti

perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya).35 Perubahan sosial merupakan segala transformasi pada individu, kelompok, masyarakat, dan

lembaga-lembaga sosial yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di

dalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompok dalam

masyarakat.36

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam

hidupnya akan mengalami perubahan baik sosial ataupun ekonomi. Adanya

perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu

perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang

kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang

lampau. Perubahan sosial ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat

merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap

masyarakat akan mengalami perubahan-perubahan dalam setiap aspek

kehidupan.

William F. Ogburn mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan

sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan yang materiil ataupun immaterial

dengan menekankan bahwa pengaruh yang besar dari unsur-unsur immareriil.

Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan yang

terjadi dalam fungsi dan struktur masyarakat. Perubahan sosial dikatakannya

34

(47)

sebagai perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap

keseimbangan hubungan sosial tersebut.

Sementara itu Selo Soemardjan mengungkapkan bahwa perubahan

sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan

di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di

dalam nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola perilaku diantara kelompok dalam

masyarakat.37

Dari beragam definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan

sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur sosial atau organisasi

sosial masyarakat, yang memengaruhi sistem sosial masyarakat secara

keseluruhan.

2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial

Pada dasarnya, perubahan sosial terjadi oleh karena anggota

masyarakat pada waktu tertentu merasa tidak puas lagi terhadap keadaan

hidupnya yang lama. Norma-norma dan lembaga sosial atau sarana

penghidupan yang lama dianggap tidak memadai lagi untuk memenuhi

kebutuhan hidup yang baru.38

Untuk mempelajari perubahan sosial masyarakat, perlu diketahui

sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih

mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin

dikarenakan adanya suatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan

masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat

mengadakan perubahan karena terpaksa demi untuk menyesuaikan suatu

37

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2009), h. 262-263.

38

(48)

faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih

dahulu.39

Proses perubahan sosial terjadi karena manusia adalah makhluk yang

berpikir dan bekerja, manusia juga selalu mempertahankan kehidupannya serta

memperbaiki nasibnya. Disamping itu, perubahan sosial juga terjadi karena

keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya

ataupun disebabkan oleh faktor ekologis.40

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ada sumber sebab-sebab yang

terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar.41 Sebab-sebab yang bersumber dari dalam masyarakat itu sendiri, antara lain

sebagai berikut :

a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Pertambahan penduduk yang sangat pesat di pulau Jawa

menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama

pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

Berkurang dan bertambahnya penduduk disebabkan berpindahnya

penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain. Perpindahan

penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya, dalam bidang pembagian

kerja dan stratifikasi sosial, yang memengaruhi lembaga-lembaga

kemasyarakatan.

b. Penemuan-penemuan Baru

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi

dalam jangka waktu tidak terlalu lama disebut dengan inovasi atau

39

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2009), h. 275.

40

Phill Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina Cipta, 1977), h. 188.

41

(49)

innovation. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur

kebudayaan baru yang tersebar keseluruh bagian masyarakat dan cara-cara

unsur kebudayaan baru diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai oleh

masyarakat.

Menurut Koentjraningrat dalam Abdulsyani, faktor-faktor yang

mendorong individu untuk mencari penemuan baru adalah sebagai berikut

:42

1. Kesadaran dari orang perorangan akan kekurangan dalam

kebudayaannya.

2. Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan.

3. Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

c. Pertentangan (conflict) Masyarakat

Pertentangan-pertentangan yang ada di dalam masyarakat yang

terjadi antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan

kelompok. Umumnya masyarakat tradisional Indonesia bersifat kolektif.

Segala kegiatan di dasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan

individu walaupun diakui, tetapi mempunyai fungsi sosial sering timbul

pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan

kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan

sosial.

Suatu perubahan sosial dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang

berasal dari luar masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut :

a. Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada di Sekitar Manusia

42

Figur

Tabel 4.11.
Tabel 4 11 . View in document p.16
Grafik 4.1.
Grafik 4 1 . View in document p.19
Gambar 1.1.
Gambar 1 1 . View in document p.28
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
Gambar 2 1 Kerangka Berpikir . View in document p.63
Tabel 3.1. Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut  Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang   dimodifikasi
Tabel 3 1 Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang dimodifikasi . View in document p.71
Tabel 3.2.
Tabel 3 2 . View in document p.72
Tabel 4.1.
Tabel 4 1 . View in document p.74
Tabel 4.2.
Tabel 4 2 . View in document p.75
Tabel 4.3.
Tabel 4 3 . View in document p.76
Tabel 4.4.
Tabel 4 4 . View in document p.77
Tabel 4.6.
Tabel 4 6 . View in document p.78
Tabel 4.7. Daftar Prasarana Pelabuhan Muara Angke Tahun 2002 -2012
Tabel 4 7 Daftar Prasarana Pelabuhan Muara Angke Tahun 2002 2012 . View in document p.81
Tabel 4.8. Kelompok Umur Responden Tahun 2014
Tabel 4 8 Kelompok Umur Responden Tahun 2014 . View in document p.84
Tabel 4.8. menggambarkan bahwa sebagian responden berada pada
Tabel 4 8 menggambarkan bahwa sebagian responden berada pada . View in document p.85
Tabel 4.9. Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2014
Tabel 4 9 Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2014 . View in document p.86
Tabel 4.10.
Tabel 4 10 . View in document p.92
Tabel 4.11.
Tabel 4 11 . View in document p.93
Tabel 4.12.
Tabel 4 12 . View in document p.95
Tabel 4.13.
Tabel 4 13 . View in document p.96
Tabel 4.14.
Tabel 4 14 . View in document p.97
Tabel 4.15. Rata-rata Pengeluaran Non Pangan Responden   Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara  Angke Tahun 2014
Tabel 4 15 Rata rata Pengeluaran Non Pangan Responden Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014 . View in document p.99
Tabel 4.16.
Tabel 4 16 . View in document p.100
Tabel 4.17.
Tabel 4 17 . View in document p.101
Tabel 4.18.
Tabel 4 18 . View in document p.104
Tabel 4.20.
Tabel 4 20 . View in document p.105

Referensi

Memperbarui...