• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Hybrid Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Sidikalang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Kekasaran Permukaan Resin Komposit Hybrid Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Sidikalang"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

KEKASARAN PERMUKAAN RESIN KOMPOSIT

HYBRID

SETELAH PERENDAMAN DALAM LARUTAN KOPI

SIDIKALANG

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

TEBAMBIGAI A/P MOHANNA NIM : 110600219

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UINVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Tahun 2015

Tebambigai Mohanna

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Hybrid Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Sidikalang.

xi + 39 halaman

Resin komposit merupakan tumpatan sewarna gigi yang digunakan untuk menggantikan struktur gigi yang hilang dan memodifikasi warna gigi dan kontur sehingga meningkatkan estetika wajah. Sifat permukaan resin komposit, terutama kekasaran sangat dipengaruhi oleh jenis asam yang terkandung dan juga potensi asam dalam minuman. Larutan kopi Sidikalang merupakan minuman yang bersifat asam karena mengandung kadar kafein dan asam klorogenik tinggi dan kadar lemak yang rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman dalam minuman yang bersifat asam terhadap kekasaran resin komposit

(3)

dan setelah perendaman bagi setiap kelompok kemudian dengan uji ANOVA satu arah umtuk mengetahui perubahan antara ketiga kelompok perlakuan. Hasil analisis uji t-paired menunjukkan perbedaan nilai yang signifikan sebelum dan setelah perendaman yaitu p=0,001 pada kelompok 2 jam dan nilai p=0,000 pada kelompok 4 dan 6 jam dimana nilai tersebut p˂0,05 . Hasil analisis uji Anova one way

menunjukkan perbedaan nilai yang signifikan yaitu p=0,000 (p˂0,05) dan antara ketiga kelompok terjadi perubahan kekasaran permukaan yaitu pada kelompok perendaman 2 jam sebesar 0,0073 µm, kelompok perendaman 4 jam sebesar 0,019 µm dan kelompok perendaman 6 jam sebesar 0,041 µm. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat peningkatan kekasaran permukaan resin komposit hybrid yang signifikan pada semua kelompok perendaman sebelum dan setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi

Medan, 03 Juni 2015 Pembimbing : Tanda tangan

(5)

TIM PENGUJI SKRIPSI

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji

Pada tanggal 03 Juni 2015

TIM PENGUJI

(6)

iv

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka skripsi ini telah disusun dalam rangka memenuhi kewajiban penulis diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada:

1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D, Sp.Ort selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Lasminda Syafiar, drg., M.Kes selaku ketua Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Rusfian, drg., M.Kes selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah begitu banyak meluangkan waktu, tenaga dan fikiran untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

4. Seluruh staf di Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara drg. Lasminda Syafiar.,M.Kes, drg. Rusfian.,M.Kes, drg. Sumadhi S.,PhD, drg. Astrid Yudhit., M.Si, drg. Kholidina Imanda Harahap, MDSc, drg. Ika Devi Adiana dan drg. Sefty Aryani Harahap yang telah memberikan masukan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Astrid Yudhit, drg., M.Si selaku dosen pembimbing akademik penulis, yang telah membina dan mengarahkan penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

6. Seluruh Staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan masukan yang berharga dan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(7)

v

8. Maya Fitria, SKM, M.Kes selaku dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat yang telah membantu mengolah data spss dalam penelitian ini.

9. Kedua orang tua yang tercinta, yaitu ayahanda R.Mohanna dan Ibunda P.Lachmy atas segala cinta kasih, doa, dukungan, semangat, dan motivasi yang tiada henti-henti diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan skripsi ini dan penulis mengharapakn saran dan kritik yang membangun untuk menghasilkan karya yang jauh lebih baik di kemudian hari.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan masyarakat.

Medan, 03 Juni 2015 Penulis,

(8)

vi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... iv

BAB 2 TINJUAN PUSTAKA 2.1.Resin Komposit ... 4

2.1.1 Komposisi Resin Komposit ... 4

2.1.1.1 Matriks Resin ... 4

2.1.1.2 Partikel Bahan Pengisi (Filler ... 5

2.1.1.3 Bahan Coupling ... 5

2.1.1.4 Fotoinisiator dan Aktivator ... 6

2.1.1.5 Penghambat (Inhibitor ... 6

2.1.1.6 Modifier Optic ... 6

2.1.2 Klasifikasi resin komposit ... 7

2.1.2.1 Resin komposit berdasarkan ukuran partikel filler ... 7

2.1.2.2 Klasifikasi resin komposit berdasarkan viskositas ... 8

2.1.2.3 Klasifikasi resin komposit berdasarkan polimerisasi ... 9

(9)

vii

2.1.3.1 Kekerasan permukaan ... 10

2.1.3.2 Kekasaran permukaan ... 10

2.1.3.4Kepadatan ... 10

2.1.3.4 Kekuatan ... 11

2.2. Kopi ... 11

2.2 Metode pengukuran kekasaran permukaan ... 12

2.2 Kerangka Teori ... 14

2.3 Kerangka Konsep ... 15

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1.Jenis Penelitian ... 16

3.2.Desain Penelitian ... 16

3.3.Tempat dan Waktu Penelitian ... 16

3.3.1 Tempat Penelitian ... 16

3.3.2 Waktu Penelitian ... 16

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 18

3.6.Kriteria Sampel ... 18

3.6.1 Kriteria Inklusi ... 18

3.6.2 Kriteria Eksklusi ... 18

3.7.Definisi Operasional ... 18

3.8.Alat dan Bahan Penelitian ... 19

3.8.1 Alat Peneletian ... 19

3.8.2 Bahan Penelitian ... 24

3.9.Prosedur Penelitian ... 25

3.9.1 Pembuatan Sampel Penelitian... 25

3.9.2 Pengukuran Kekasaran Permukaan Sampel Sebelum Perendaman ... 26

3.9.3 Perendaman dalam Larutan Kopi dan Pengukuran Kekasaran Sampel Setelah Perendaman ... 27

3.10. Analisis Data ... 28

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS PENELITIAN 4.1. Hasil Penelitian ... 29

(10)

viii

BAB 5 PEMBAHASAN ... 34 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ... 36 6.2. Saran ... 36 DAFTAR PUSTAKA ... 37

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi Resin Komposit... 8

2. Kekuatan Resin Komposit ... 11

3. Komposisi Kopi Arabika dan Kopi Robusta ... 12

4. Bahan dan Komposisi Bahan Penelitian ... 24

5. Hasil pengukuran kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan sesudah perendaman dalam larutan kopi sidikalang ... 29

6. Perbedaan kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman 2, 4 dan 6 jam ... 30

7. Hasil uji t-paired kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi Sidikalang ... 31

8. Hasil Anova one way kekasaran permukaan resin komposit hybrid setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang ... 32

(12)

x

22. Perendaman sampel dalam larutan kopi ... 28

(13)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Alur Penelitian

2. Output uji normalitas data kekasaran permukaan resin komposit hybrid

sebelum setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

3. Output uji t-paired data kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum-setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

4. Output uji ANOVA kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum-setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

5. Hasil pengukuran kekasaran permukaan resin komposit hybrid

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Resin komposit dikembangkan pada akhir 1950-an dan awal 1960-an oleh Bowen. Hal ini pada dasarnya adalah resin yang telah diperkuat dengan menambahkan partikel silika.1 Resin komposit digunakan untuk menggantikan struktur gigi yang hilang dan memodifikasi warna gigi dan kontur sehingga meningkatkan estetika wajah.2

Kemajuan besar terjadi ketika Bowen mengembangkan suatu jenis resin komposit baru yaitu, bisfenol A-glisidil metakrilat (bis-GMA), suatu resin dimetakrilat, dan penggunaan silane yang dapat berikatan kimia dengan resin untuk melapisi bahan pengisi. Pengembangan sifat mekanis dan ikatan bahan pengisi dengan matriks menghasilkan bahan restorasi yang jelas lebih unggul dibandingkan resin akrilik tanpa bahan pengisi.3

Pengembangan resin komposit menghasilkan sifat mekanik yang lebih tinggi, koefisien ekspansi termal yang rendah, perubahan dimensi yang lebih rendah, dan resistensi yang lebih tinggi untuk memakai.2 Resin komposit telah digunakan untuk aplikasi kedokteran gigi lainnya seperti bahan penutup groove dan fisura, juga sebagai bahan bonding dentin dan semen perekat untuk restorasi cekat.3

Resin komposit memiliki beberapa sifat fisik dan mekanik. Sifat fisiknya antara lain polymerization shrinkage, konduktivitas termal, penyerapan air, kelarutan dan kekasaran. Sifat mekaniknya antara lain kepadatan, kekuatan dan kekerasan permukaan.4

(15)

Kopi merupakan minumam masyarakat umum. Lebih dari 4 trilliun cangkir kopi dikonsumsi setiap tahunnya. Konsumsi kopi di Indonesia adalah sekitar 2,045 ribu bag dan didominasi oleh kopi Robusta. Indonesia memiliki beberapa macam kopi khas daerah seperti kopi Toraja, kopi Java, kopi Sidikalang dan kopi Mandailing. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia selama delapan tahun meningkat dengan laju (4,73 persen per tahun) dan konsumsi per kapita menunjukkan pertumbahan sebesar 3,24 persen.6

Dalam kondisi asam semua bahan restoratif gigi telah menunjukkan degradasi dari waktu ke waktu.7 Penelitian Cresus dkk (2011) menunjukkan bahwa ada perubahan dalam kekasaran permukaan resin komposit ketika berada dalam kopi. Kopi menyebabkan perubahan warna yang dan juga dapat meningkatkan kekasaran permukaan pada sesuatu material karena kopi memiliki pH asam sekitar 5,01.8 Selain itu, penelitian Sarveshwar Reddy dkk (2013) telah menganalisis pengaruh tiga jenis minuman (cola, kopi, teh) pada kekasaran permukaan tiga jenis resin komposit. Hasilnya adalah resin komposit hybrid menunjukkan lebih kasar pada permukaannya dari microhybrid dan komposit nanofilled. 9

(16)

1.2. Perumusan Masalah

Apakah ada pengaruh waktu perendaman dalam larutan kopi sidikalang selama 2, 4, 6 jam terhadap kekasaran permukaan resin komposit hybrid.

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman dalam larutan kopi sidikalang selama 2, 4, 6 jam terhadap kekasaran resin komposit hybrid.

1.4. Hipotesis Penelitian

Tidak ada pengaruh waktu perendaman dalam larutan kopi sidikalang terhadap kekasaran permukaan resin komposit hybrid .

1.5. Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perubahan kekasaran permukaan resin komposit hybrid yang direndam dalam larutan kopi sidikalang.

2. Sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dan dokter gigi mengenai bahan restorasi resin komposit.

3. Sebagai tambahan dan pengetahuan bagi peneliti, dokter gigi dan masyarakat mengenai pengaruh kopi terhadap bahan tambalan (restorasi) gigi.

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resin Komposit

Perkembangan resin komposit sebagai bahan restorasi dimulai dari akhir tahun 1950-an dan awal 1960, ketika Bowen memulai percobaan untuk memperkuat resin epoksi dengan partikel bahan pengisi. Kelemahan resin epoksi, seperti lamanya pengerasan dan kecenderungan berubah warna, mendorong Bowen mengkombinasikan keunggulan epoksi dan akrilat. Percobaan ini menghasilkan pengembangan molekul bis-GMA yang memenuhi persyaratan matriks resin suatu komposit gigi.3

2.1.1 Komposisi Resin Komposit

Resin komposit mengandung sejumlah komponen. Kandungan utamanya adalah matriks resin, bahan pengisi anorganik dan bahan coupling. Terdapat pula bahan aktivator-inisiator untuk polimerisasi resin, bahan tambalan lain untuk meningkatkan stabilitas warna dan bahan inhibitor seperti hydroquinone untuk mencegah polimerisasi dini, dan pigmen untuk memperoleh warna yang cocok dengan struktur gigi.3

2.1.1.1 Matriks Resin

(18)

methacrylate (MMA), ethylene glycol dimethacrylate (EDMA) dan triethylene glycol dimethacrylate (TEGDMA).10

Gambar 1. Struktur kimia Bis-GMA, UEDMA, dan TEGDMA3

2.1.1.2 Partikel Bahan Pengisi (Filler)

Partikel pengisi umumnya berupa quartz atau kaca dengan ukuran partikel berkisar antara 0,1-100 µm ataupun silika dengan ukuran + 0,04 µm. Keuntungan dimasukkannya bahan pengisi ke dalam matriks resin antara lain untuk mengurangi pengerutan dan koefisien termal ekspansi, meningkatkan sifat mekanis dari resin itu sendiri, dan menentukan aspek estetis dari resin komposit seperti warna, translusensi, dan fluorosensi. Selain itu dapat pula dimasukkan logam berat seperti barium dan strontium yang akan memberikan radiopasitas pada komposit.3,10

2.1.1.3 Bahan Coupling

(19)

antara keduanya diperoleh dengan adanya bahan coupling. Aplikasi bahan coupling

yang tepat dapat meningkatkan sifat mekanis dan fisik serta memberikan kestabilan hidrolitik dengan mencegah air menembus sepanjang perlekatan bahan pengisi dan resin.3

Bahan coupling ini merupakan bahan silane dan salah satu yang paling sering digunakan adalah y-methacryloxypropyltriethoxysilane atau disingkat dengan y-MPTS. Ikatan yang kuat antara bahan pengisi dengan matriks resin penting didapatkan agar penyaluran tekanan antara bahan pengisi dan matriks resin efisien sehingga kemungkinan fraktur dan keausan restorasi dapat dihindari.10

2.1.1.4 Fotoinisiator dan aktivator

Fotoinisiator dan aktivator berfungsi untuk menginduksi terjadinya light curing. Fotoinisiator yang umumnya digunakan adalah camphoroquinone. Inisiator ini berada dalam pasta sebesar 0,2% berat atau kurang. Activator amine yang cocok untuk berinteraksi dengan camphoroquinone adalah dimetilaminoetil metakrilat. Aktivator ini terdapat dalam pasta sebesar 0,15% berat.3

2.1.1.5 Penghambat (Inhibitor)

Untuk meminimalkan atau mencegah polimerisasi spontan dari monomer, bahan penghambat ditambahkan pada resin komposit. Bahan penghambat yang umum dipakai adalah butylated hydroxytoluane dengan konsentrasi 0,01%.3

2.1.1.6 Modifier optic

(20)

2.1.2 Klasifikasi resin komposit

2.1.2.1 Resin komposit berdasarkan ukuran partikel filler

a. Resin komposit tradisional

Resin komposit tradisional juga disebut resin komposit konvensional atau resin komposit berbahan pengisi makro, disebut demikian karena ukuran partikel bahan pengisi besar. Resin komposit tradisional memiliki ukuran filler relatif besar, sekitar 8-12µm. Bahan ini mempunyai permukaan yang kasar dan cenderung berubah warna.3-4

b. Resin komposit berbahan pengisi partikel kecil

Resin komposit pengisi partikel kecil mempunyai ukuran filler 1-5 µm. Resin komposit tipe ini mempunyai sifat fisik dan mekanis paling unggul, namun permukaannya tidak sehalus resin komposit berbahan pengisi mikro.2-4

c. Resin komposit berbahan pengisi mikro

Resin komposit mikro mempunyai ukuran filler 0,004-0,4 µm. Resin komposit tipe ini memiliki permukaan akhir yang halus, namun seringkali terjadi pecah pada tepi tambalan akibat tidak terikatnya bahan pengisi prapolimerisasi.2-4

d. Resin komposit hybrid

Kebanyakan terdiri atas silika koloidal dan partikel kaca yang dihaluskan. Ukuran partikel kaca rata-rata 0,6-1µm. Sifat fisik dan mekanis sistem ini umunya berkisar antara resin komposit tradisional dan berbahan pengisi partikel kecil. Resin komposit ini mempunyai kehalusan permukaan dan kekuatan yang baik.2-4

Katagori terbaru dari resin komposit adalah golongan hybrid. Bahan-bahan ini dikembangkan untuk mendapatkan permukaan yang lebih halus dibanding resin komposit partikel kecil, tetapi dengan mempertahankan sifat-sifat resin komposit yang lain. Resin komposit hybrid dikatakan mempunyai permukaan lebih halus dan estetis yang kompetitif dibanding komposit pasi-mikro untuk tambalan gigi anterior.15

(21)

berukuran 0,6-1,0 µm sebesar 75-80% berat. Sifat fisik dan mekanis resin komposit ini terletak di antara resin komposit konvensional dan resin komposit mikrofiller.3

Karena kehalusan permukaan dan memiliki kekuatan yang cukup baik, resin komposit hybrid banyak digunakan untuk restorasi anterior, termasuk tambalan kelas IV. Resin komposit hybrid juga banyak dipakai sebagai restorasi pada daerah yang menerima tekanan pengunyahan yang besar seperti pada regio posterior.3 Klasifikasi resin komposit berdasarkan rata-rata ukuran partikel dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Resin Komposit3

Klasifikasi Resin Komposit

Kategori ukuran partikel (µm)

Resin komposit tradisional 8-12 Resin komposit berbahan pengisi partikel kecil 1-5 Resin komposit berbahan pengisi mikro 0,04-0,4

Resin komposit hybrid 0,6-1,0

2.1.2.2 Klasifikasi resin komposit berdasarkan viskositas

a. Resin komposit packable

Resin komposit packable dikenal juga sebagai resin komposit condensable. Resin ini mengandung muatan filler sebanyak 66-70% volume. Komposisi filler yang tinggi menyebabkan peningkatan viskositas resin komposit sehingga resin komposit

packable menjadi kental dan sulit mengisi celah kavitas yang kecil.2,11

Packability bahan-bahan ini membuat lebih mudah untuk menggunakan teknik kondensasi amalgam di restorasi oklusal posterior. Resin komposit packable

memiliki keuntungan dari kemudahan kemasan, kemudahan mendirikan area kontak yang baik, dan kemudahan membentuk anatomi oklusal.12

b. Resin komposit flowable

(22)

dengan mudah mengisi atau menutup kavitas kecil.2,11 Manfaat utama dari resin komposit flowable adalah kemudahan adaptasi untuk preparasi.12

2.1.2.3 Klasifikasi resin komposit berdasarkan polimerisasi

a. Resin komposit diaktivasi kimia

Resin komposit ini dipasarkan dalam bentuk dua pasta. Salah-satu pasta berisi inisiator benzoyl peroxide dan pasta yang lainnya berisi aktivator tertiary amine. Jika kedua bahan dicampur, amine akan beraksi dengan benzoyl peroxide dan membentuk radikal bebas sehingga mekanisme pengerasan dimulai.3

b. Resin komposit diaktivasi oleh sinar

Resin komposit yang dipolimerisasi dengan sinar dipasarkan dalam bentuk pasta dan dimasukkan dalam sebuah tube. Sistem pembentuk radikal bebas yang terdiri atas molekul-molekul fotoionisator dan activator amine terdapat dalam pasta tersebut. Bila tidak disinari, maka kedua komponen tersebut tidak akan bereaksi. Sebaliknya, sinar dengan panjang gelombang yang tepat (460-485nm) dapat merangsang fotoionisator bereaksi dengan amine dan membentuk radikal bebas yang memulai proses polimerisasi.3

c.Resin komposit dual-cured

(23)

2.1.3 Sifat-sifat Resin Komposit

Sifat resin komposit dipengaruhi oleh jumlah partikel bahan pengisi, jenis partikel bahan pengisi, efisiensi proses berikatannya partikel bahan pengisi dengan matriks resin, dan tingkat porositas dari material itu sendiri.10

2.1.3.1 Kekerasan permukaan

Kekerasan dapat didefinisikan sebagai ketahanan suatu bahan terhadap deformasi dari tekanan yang diberikan padanya.3

2.1.3.2 Kekasaran permukaan

Kekasaran permukaan resin komposit ditentukan oleh ukuran, kekerasan dan jumlah partikel filler, yang juga mempengaruhi sifat mekanik bahan. Parameter luas kekasaran permukaan (Sa) atau umumnya dikenal sebagai parameter rata-rata kekasaran permukaan (Ra) adalah parameter umum digunakan untuk pengukuran kekasaran permukaan yang datar. Kekasaran permukaan (Ra) adalah salah satu faktor penyebab untuk perubahan warna eksterior dan berkaitan erat dengan jenis resin komposit. Struktur dan karakteristik partikel pengisi dalam resin komposit memiliki dampak langsung pada kekasaran.13

2.1.3.3 Kepadatan

Kepadatan resin komposit bergantung pada jenis resin komposit berdasarkan bahan pengisinya. Kepadatan partikel bahan pengisi ini menentukan ketahanan resin komposit terhadap fraktur. Semakin banyak jumlah partikel bahan pengisi maka resin komposit tersebut semakin tahan terhadap fraktur.11, 14

2.1.3.4 Kekuatan

(24)

Tabel 2. Kekuatan Resin Komposit3

Resin Komposit

Sifat Resin Komposit Resin Komposit Resin Komposit Tradisional Mikrofiller Hybrid Kekuatan Kompresi 250-300 MPa 250-350 MPa 300-350 MPa (compressive strength)

Kekuatan Tarik 50-65 MPa 30-50 MPa 70-90 MPa (tensile strength)

Kekuatan Elastik 8-15 MPa 3-6MPa 7-12MPa (flexural strength)

2.2 Kopi

Kopi merupakan salah satu minuman yang paling digemari oleh masyarakat. Kopi bersifat asam dan tingkat keasaman dalam kopi dipengaruhi oleh tahap pembakaran kopi, tipe alat pembakar kopi, dan juga metode penyeduhan kopi.16

Ada 3 kelompok asam di dalam kopi yaitu asam alipatik (aliphatic acid), asam klorogenik (chlorogenic acid) dan asam karboksilat (phenolic acid/ alicyclic carboxylic). 16

(25)

Tabel 3. Komposisi Kopi Arabika dan Kopi Robusta17

Menurut Maier dan Rivera (2006), asam fosfat berpengaruh dalam tingkat keasaman kopi, tetapi sampai sekarang masih belum ditemukan asam jenis apakah yang memberikan pengaruh besar dalam tingkat keasaman kopi. Asam sitrat (citric acid), asam malat (malic acid) dan asam asetat (acetic acid) juga memegang peranan yang cukup penting dalam mempengaruhi tingkat keasaman kopi karena jumlahnya yang banyak serta memiliki derajat keasaman (pKa) yang rendah. Suhu yang tepat untuk memyeduh kopi adalah , antara 91˚C dan 100˚C yaitu air mendidih. Air yang kurang dari 91˚C tidak akan menyeduh kopi dengan sepenuhnya. Suhu yang cocok untuk minum kopi adalah antara 50˚C - 55˚C. 16

2.3 Metode pengukuran kekasaran permukaan

Kekasaran permukaan dapat diukur dengan dua metode yaitu, tanpa sentuhan (non-contact method) dan metode sentuhan (contact method). Metode tanpa sentuhan bisa menggunakan alat seperti interferometry, confocal microscopy, mikroskop electron, Atomic Force Microscope (AFM), mikrograf mikroskop dan

photogrammetry. Sedangkan metode sentuhan dilakukan dengan menarik suatu stilus pengukuran sepanjang permukaan. Alat untuk metode sentuhan ini disebut

(26)

Gambar 2. Profilometer

Pengukuran Kekasaran permukaan (Roughness average/ Ra) diukur dengan menggunakan surface profilometer (gambar 2). Profilometer memiliki diamond stylus dengan radius ujung 10±2,5 µm, sudut ujung 90±10 derajat dan bergerak pada 2mm/detik dengan kekuatan 1,5gf atau 15mN. Spesimen ditempatkan dalam alat penjepit (clamp) dan stylus diposisikan pada permukaan spesimen dan dijalankan 2mm/detik. Pengukuran pertama diberikan dalam µm dan dua pengukuran tambahan dilakukan dengan memutar disk ke arah 45˚ dan 55˚ untuk setiap spesimen. Pembacaan dicatat pada surfcorder. Nilai rata-rata dicatat dari ketiga nilai kekasaran permukaan spesimen dan diambil sebagai nilai kekasaran permukaan (Ra). Pengukuran kekasaran permukaan dilakukan sebelum dan sesudah perendaman.13

(27)

2.4 Kerangka Teori

Resin Komposit

 Matriks resin

 Bahan Pengisi Filler

 Coupling Agent

 Fotoionisator dan Aktivator

 Penghambat

 Modifier Optik

Komposisi

Klasifikasi resin komposit

Makro Filler

Berdasarkan Pengisi Kecil

Ukuran Filler Mikro Filler

Hybrid

Packable

Berdasarkan Viskositas

Flowable

Kimia Berdasarkan Aktivasi Sinar

(28)

2.5 Kerangka Konsep

Resin Komposit Hybrid

Sifat Mekanik

Sifat Fisik

Kekasaran

Permukaan

Larutan Kopi

Waktu

perendaman

(29)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis Penelitian adalah eksperimental laboratoris.

3.2 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah Pretest dan Posttest Group Design.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

3.3.1 Tempat Penelitian

a) Departemen Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi USU untuk pembuatan sampel penelitian.

b) Laboratorium Mesin Politeknik USU Medan untuk pengukuran kekasaran permukaan sampel sebelum dan setelah perendaman.

3.3.2 Waktu Penelitian

September 2014 – Juni 2015

3.4 Sampel Penelitian

3.4.1 Sampel penelitian

Resin Komposit Hybrid berbentuk tablet dengan tebal 2mm dan diameter 8mm.8

3.4.2 Besar Sampel

(30)

Keterangan:

t : jumlah perlakuan r : jumlah ulangan

Dalam penelitian ini, akan diberikan perlakuan pada resin komposit hybrid

dengan melakukan perendaman pada kopi hitam selama 2 jam, 4 jam, dan 6 jam jadi t=3. Berdasarkan rumus diatas, maka jumlah sampel (n) setiap kelompok dapat ditentukan sebagai berikut:

(3-1)(r-1) ≥15 2(r-1)≥15 (r-1)≥7,5 r≥8,5

Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebesar 10 buah untuk setiap perlakuan.

3.5 Variabel Penelitian

3.5.1 Variabel Bebas

Waktu perendaman bahan resin komposit hybrid dalam larutan kopi.

3.5.2 Variabel Terikat

Kekasaran permukaan bahan resin komposit hybrid

3.5.3 Variabel Terkendali

1.Ukuran sampel resin komposit hybrid dengan tebal 2mm, diameter 8mm 2. Lama penyinaran resin komposit hybrid 40 detik

3. Jarak penyinaran 1mm 4. Arah sinar tegak lurus

5. Volume larutan kopi sebesar 300ml 6. Suhu larutan kopi adalah 55˚c 7. Jenis kopi robusta

(31)

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali

Suhu pada pembuatan sampel

3.6 Kriteria Sampel

3.6.1 Kriteria Inklusi

1. Sampel dengan permukaan yang rata 2. Sampel dengan bentuk bulat

3.6.2 Kriteria Eksklusi

1. Sampel yang poreus 2. Sampel yang rusak

3.7 Definisi Operasional

1. Resin komposit hybrid adalah jenis resin komposit yang mempunyai dua macam partikel bahan pengisi dengan ukuran partikel sebesar 0,6-1,0 µm.

2. Kekasaran permukaan adalah karakteristik suatu permukaan benda yang bergelombang (tidak teratur), satuannya µm, yang diukur dengan menggunakan alat profilometer.

3. Larutan kopi Sidikalang merupakan jenis kopi Robusta yang dibuat dengan 90 gram bubuk kopi sidikalang yang dilarutkan dengan 900 ml air panas (100˚C) . Kopi ini mengandung kadar kafein lebih tinggi, kadar lemak yang lebih rendah dan kadar asam klorogenik yang lebih tinggi daripada kopi Arabika yang tidak ditambahkan krim.

(32)

3.8 Alat dan Bahan Penelitian

3.8.1 Alat Penelitian

1. Cetakan sampel dengan diameter 8mm dan tebal 2mm

Gambar 3. Master cast

2. Instrumen plastis (Caredent U.K)

Gambar 4. Instrumen plastis

3. Pinset (DENTICA)

Gambar 5. Pinset

4. Kertas tisu

(33)

5. Object glass dengan tebal 1mm

Gambar 7. Object glass

6. Cellophan strip

Gambar 8. Cellophan strip

7. Light curing unit dengan blue visible light (LY-A180)

(34)

8. Gelas ukur ( 100ml IWAKICTE33)

Gambar 10. Gelas ukur

9. Tempat perendaman sampel

Gambar 11. Wadah kaca

10. Profilometer (Mitutoyo SJ-201, Japan)

(35)

11. Penimbang digital (ACIS)

Gambar 13. Penimbang digital

12. Waterbath (Schutzort DIN 40050-IP, Germany)

Gambar 14. Waterbath

13. Kertas pH indicator (SUNCARE USA Technology)

(36)

14. Thermometer

Gambar16. Thermometer

15. Stopwatch (EXCELSIOR PARK SWISS MADE)

(37)

3.8.2 Bahan Penelitian

Tabel 4. Bahan dan komposisi bahan penelitian

No Bahan Merek Komposisi Produksi Kadarluarsa

1 Resin

(38)

3.9 Prosedur Penelitian

3.9.1 Pembuatan Sampel Penelitian

1. Cetakan sampel yang berdiameter 8 mm dan tebal 2 mm diletakkan

cellophane strip pada bagian dasarnya tepat dibagian bawah mould.8

2. Resin komposit hybrid dimasukkan ke dalam mould kemudian dibagian atasnya diletakkan cellophane strip dan ditutup dengan satu buah object glass dengan tebal 1 mm sebagai jarak penyinaran.8

3. Resin komposit disinari dengan light curing unit pada tiga titik yaitu pada pinggir kiri, bagian tengah, dan pinggir kanan selama 40 detik, dengan jarak 1 mm pada permukaan atasnya agar resin komposit terpolimerisasi secara sempurna.

(a) (b) (c )

(d) (e)

Gambar 19. Pembuatan sampel penelitian (a) Peletakan cellophane strip (b) Peletakan bahan resin komposit hybrid (c) Peletakan cellophane strip di atas resin komposit

hybrid (d) Peletakan object glass (e) Resin komposit disinari

4. Setelah mengeras, sampel dikeluarkan dari cetakan, dan bagian bawah sampel diberi nomor dengan menggunakan spidol.

(39)

3.9.2 Pengukuran Kekasaran Permukaan Sampel Sebelum Perendaman

Sebelum sampel direndam dalam larutan kopi, sampel diukur kekasaran permukaannya dengan alat profilometer dengan suatu mikrometer dengan cara:18-19

1. Setiap sampel dibuat 3 titik pengukuran (± 1mm dari tepi sampel) dengan menggunakan spidol.

2. Sampel diletakkan di bidang datar dalam alat penjepit, dan meletakkan

stylus pada titik pertama di permukaan sampel .

3. Alat diaktifkan dan dijalankan 2mm/detik. Stylus bergerak menelusuri satu garis lurus (horizontal ) sepanjang permukaan sampai ± 1mm dari tepi sampel. Pengukuran pertama diberikan dalam unit µm.

Gambar 20. Skema daerah yang akan diukur

4. Pengukuran kedua dan ketiga dilakukan dengan memutar sampel ke arah 45˚ dan 55˚. Pembacaan dicatat pada surfcorder. Pengukuran dilakukan tiga kali pada masing-masing titik yang telah ditandai sebelumnya.

(40)

Gambar 21. Sampel diukur kekasaran permukaannya dengan alat

profilometer

3.9.3 Perendaman dalam Larutan Kopi dan Pengukuran

Kekasaran Sampel Setelah Perendaman

1. Larutan kopi dibuat dengan cara sebanyak 90 gram bubuk kopi diseduh dengan 900 ml air panas (100˚C) . Suhu air ditentukan 100˚C dengan menggunakan termometer.8

2. Tiga wadah yang berbeda dilabel sebagai kelompok I, kelompok II dan kelompok III dan diisikan dengan larutan kopi sebanyak 300ml ke dalam setiap wadah, kemudian pH larutan kopi diukur dengan menggunakan kertas pH indikator. pH larutan kopi adalah 5. Semua wadah disimpan dalam waterbath untuk dipertahankan pada suhu 55˚C.8

3. Setelah suhu larutan kopi menjadi 55˚C sampel yang telah dibagi menjadi 3 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 10 sampel. Sampel ditandai pada bagian bawahnya dan kemudian direndam dalam wadah masing-masing. Ketiga wadah disimpan dalam waterbath selama 2 jam untuk kelompok I, 4 jam untuk kelompok II dan 6 jam untuk kelompok III.

4. Setelah itu, sampel diambil dengan pinset dan dikeringkan dengan kertas tisu.

5. Kemudian, sampel pada kelompok I diukur kekasaran permukaannya dengan menggunakan profilometer dan dicatat hasilnya.

(41)

7. Setelah diperoleh hasil kekasaran permukaan pada kelompok I, II dan III dilakukan analisa pada data yang kita peroleh.

(a) (b)

(c ) (d)

Gambar 22. Perendaman sampel dalam larutan kopi (a) Wadah kelompok I, kelompok II dan kelompok III diisikan dengan larutan kopi sebanyak 300ml (b) pH larutan kopi diukur menggunakan kertas pH indikator (c) wadah disimpan dalam

waterbath selama 2 jam untuk kelompok I, 4 jam untuk kelompok II dan 6 jam untuk kelompok III pada suhu 55˚ C (d) sampel diambil dengan pinset dan dikeringkan dengan kertas tisu

3.10 Analisis Data

(42)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

Besar sampel pada penelitian ini sebanyak 10 buah untuk masing-masing kelompok perlakuan dan setiap sampel dilakukan 3 kali pengukuran yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kekasaran permukaan pada seluruh sampel resin komposit hybrid sebelum dan setelah dilakukan perendaman dalam larutan kopi sidikalang dapat dilihat di tabel 5.

Tabel 5. Hasil pengukuran kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi sidikalang.

Sampel

0.23040 0.23770 0.25440 0.27340 0.25890 0.29990

(43)

4.2 Analisis Hasil Penelitian

Nilai rerata perubahan kekasaran sampel sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi sidikalang dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Perbedaan kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman 2, 4 dan 6 jam

(44)

Pada penelitian ini untuk mengetahui apakah ada perubahan kekasaran permukaan sebelum dan setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang digunakan uji t-paired. Terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data yaitu dengan Shapiro-wilk

dan pada lampiran 2 terlihat bahwa data berdistribusi normal setelah diuji normalitas. Hasil uji t-paired dapat dilihat pada table 7.

Tabel 7. Hasil uji t-paired kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi sidikalang

Sebelum-Mean Difference ± SD (µm)

Sig.(2-tailed)

2 jam 10 0,23040 ± 0,23770 ± 0,030277 0,031990

0,007300 ± 0,004423 0,001*

4jam 10 0,25440 ± 0,27340 ± 0,028636 0,028941

0,019000 ± 0,007379 0,000*

6jam 10 0,25890 ± 0,29990 ± 0,029719 0,027851

0,041000 ± 0,005676 0,000*

Keterangan : * menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan kekasaran permukaan resin komposit hybrid yang signifikan setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang pada semua kelompok waktu perendaman dengan p=0,001 (p≤0,05) pada kelompok sebelum-setelah perendaman selama 2 jam sedangkan p=0,000 (p≤0,05) pada kelompok sebelum-setelah perendaman selama 4 jam dan 6 jam.

(45)

Tabel 8. Hasil Anova one way kekasaran permukaan resin komposit hybrid setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

ANOVA

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan kekasaran permukaan yang signifikan pada resin komposit hybrid yang telah direndam selama 2 jam, 4 jam dan 6 jam dalam larutan kopi sidikalang.

Tabel 9. Analisis statistik Post hoc Multiple Comparison LSD antara kelompok perendaman

Kelompok Perlakuan Mean Difference (I-J) P

I-II -0,0117 0,000*

I-III -0,0337 0,000*

II-III -0,022 0.000*

Keterangan:

I : kelompok perendaman 2 jam II : kelompok perendaman 4 jam III : kelompok perendaman 6 jm

: menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan

(46)
(47)

BAB 5

PEMBAHASAN

Hasil pengukuran kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi sidikalang selama 2 jam, 4 jam dan 6 jam dapat dilihat di tabel 5. Pada tabel 6 hasil uji t-paired menunjukkan adanya peningkatan kekasaran permukaann yang signifikan sebelum dan setelah dilakukan perendaman selama 2 jam, 4 jam dam 6 jam dalam larutan kopi sidikalang dengan nilai p≤0,05 dan pada tabel 7 hasil uji Anova one way menunjukkan adanya perbedaan kekasaran permukaan resin komposit hybrid yang signifikan pada setiap kelompok perendaman dengan nilai p≤0,05.

Hasil dari penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Cresus (2011) menyatakan adanya peningkatan kekasaran permukaan resin komposit setelah direndam dalam larutan kopi dan mimunam kola yang asam (pH 5,01 dan 2,7) selama 15 hari.8 Sarveshwar Reddy (2013) telah menyatakan adanya peningkatan kekasaran permukaan resin komposit setelah direndam dalam kola, larutan kopi dan the selama 1, 15 dan 30 hari.9 Fransisconi (2008) juga menyatakan terdapat peningkatan kekasaran permukaan pada beberapa bahan restorasi (resin komposit dan GIC) dan pada enamel gigi setelah direndam 5 menit dalam minuman kola dengan pH 2,6 dan saliva buatan selama 7 hari.7 Ketiga penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ada kaitan erat antara kenaikan kekasaran permukaan dengan lamanya perendaman, dimana kekasaran permukaan akan semakin bertambah seiring dengan bertambah lamanya waktu perendaman.

(48)

setelah perendaman berada disekitar 0,2µ m yang masih bisa dikategorikan memiliki permukaan yang halus dan cukup baik.

Peningkatan kekasaran permukaan disebabkan oleh beberapa faktor seperti pH media perendaman, konsentrasi asam, peristiwa hidrolisis, sifat penyerapan air dan kelarutan dari bahan resin komposit serta dampak erosif asam yang terkandung dalam larutan kopi.7,22,23 Penyerapan air oleh resin komposit akan memyebabkan peristiwa hidrolisis yang dapat merusak ikatan antara matriks dan filler sehingga monomer yang tidak terikat akan dilarutkan oleh pelarut. Kelarutan yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan.2,3 Larutan kopi dengan pH yang rendah memiliki banyak ion H+ di dalamnya. Ion-ion H+ yang berasal dari asam dalam larutan kopi ini akan berdifusi ke dalam matriks dan berikatan dengan ion negatif di dalam matriks. Ion-ion H+ ini akan menyebabkan adanya ion yang bebas terdorong keluar dan terlepas dari ikatan matriks. Terlepasnya ion-ion dalam matriks menyebabkan ikatan kimia yang tidak stabil sehingga menyebabkan terlarutnya matriks yang akan meningkatkan kekasaran permukaan resin komposit.7,22,23

(49)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini:

1. Terdapat perbedaan kekasaran permukaan yang signifikan pada resin komposit hybrid pada setiap kelompok sebelum dan setelah perendaman dalam larutan kopi sidikalang selama 2, 4 dan 6 jam.

2. Terdapat perbedaan kekasaran permukaan resin komposit hybrid yang signifikan pada setiap kelompok perendaman setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang selama 2, 4 dan 6 jam.

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan:

1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal untuk penelitian lebih lanjut.

2. Diharapkan penelitian lebih lanjut dapat meneliti perubahan kekasaran resin komposit hybrid pada media perendaman lain yang tidak bersifat asam maupun sifat fisik dan mekanis resin komposit hybrid lainnya.

(50)

DAFTAR PUSTAKA

1. Manappallil JJ, Shetty VS. Basic Dental Materials. 2nd ed. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd, 1998: 146.

2. Powers JM, Sakaguchi RL. Craigg’s Restorative dental material. 12th ed. London: Mosby Inc, 2006: 190-203.

3. Anusavice KJ. Philips’ Science of Dental Materials. 11th ed. California: Elsevier, 2008: 401-26.

4. Hatrick CD, Eakle WS, Bird WF. Dental materials. 2nd ed. Missouri St. Louis: Saunders Elsevier, 2011: 50-3.

5. Susanto AA.Effects of materials thickness and length of light exposure on the surface hardness light-cured composite resins. Dent J 2005; 38: 32-5.

6. Wahyudian, Sumarwan U, Hartoyo. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi kopi dan analisis pemetaan beberapa merek kopi dan implikasinya pada pemasaran kopi. J Manaj & Agri 2004; 1(1): 55-68.

7. Francisconi LF, Honorio HM, Rios D, Magalhaes AC, Machado MAAM, Buzalaf MAR. Effect of erosive pH cycling in different restorative materials and on enamel restorated with these materials. Operative dent 2008; 33(2): 203-8.

8. Gouvea CVD, Bedran LM, Faria MA, Ferreira NC. Surface roughness and translucency of resin composites after immersion in coffee and soft drink. Acta Odontol, Latinoam 2011; 24(1): 3-7.

9. Reddy PS, Tejaswi KLS, Shetty S, Annapoorna BM, Pujari SC, Thippeswamy HM. Effects of commonly consumed beverages on surface roughness and color stability nano, microhybrids and hybrid composite Resins: An in vitro Study. J Contemp Dent Pract 2013; 14(4): 718-23.

10. Van Noort R. Introduction to dental materials. 3rd ed. London: Mosby Elsvier, 2007: 99-101.

(51)

12.Albers HF. Tooth coloured restoratives principles and techniques. 9th ed. London: BC Decker Inc, 2002: 111-24.

13.Yin CS, Boon LT, Lin SL. Effect of whitening toothpastes on surface roughness of composite resins. J Malaysian Dent 2009; 30(1): 43-6.

14.McCabe JL, Walls AWG. Applied dental materials. 9th Edition. Oxford: Blackwell Publishing Itd, 2008: 198-200.

15.Baum L, Phillips RW, Lund MR. Ilmu konservasi gigi. Edisi ke-3. Alih bahasa. Tarigan R. Jakarta: EGC, 1997: 262

16.Griffin MJ. Coffee chemistry : coffee acidity. ( 15 September, 2014). 17.Najiyati IS, Danarti I. Kopi budidaya dan penanganan lepas panen. Edisi ke-7.

Jakarta : Penebar Swadaya, 1997: 15-29.

18.Ibrahem RA. The effect of microwave disinfection on surface roughness and hardness of hot, cold acrylic resin and soft liner in different conditions. J Bagh College Dent 2010; 22(4): 36-40.

19.Abuzar MA, Bellur S, Duong N, Kim BB, Lu P, Palfreyman N, et al. Evaluating surface roughness of a polyamide denture base material in comparison with poly (methyl methacrylate). J Oral Sc 2010; 52(4): 577-81.

20.Hanafiah KA. Percobaan teori dan aplikasi. Edisi ke-3. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003: 96-103.

21.Momesso MGC, da Silva RC, Imaparato JCP. “In vitro” surface roughness of different glass ionomer cements indicated for ART restorations. Braz J Oral Sci 2010; 9(2): 77-80.

22.Penazzo C, Geunka R. Surface roughness and color change of a composite influence of beverages and brushing. Dent Mater J 2012; 31(4): 689-696.

(52)

Lampiran 1. Alur Penelitian

Sampel resin komposit yang dibuat dengan menggunakan master cast

dengan diameter 8mm dan tebal 2mm

Disinar selama 40 detik dengan jarak 1mm antara ujung alat sinar dengan sampel resin komposit

Kelompok I dengan sampel sebanyak 10 buah dilakukan

pengukuran kekasaran permukaan dengan

menggunakan alat profilometer

Kelompok II dengan sampel sebanyak 10 buah dilakukan

pengukuran kekasaran permukaan dengan

menggunakan alat profilometer

Kelompok III dengan sampel sebanyak 10 buah dilakukan

pengukuran kekasaran permukaan dengan

menggunakan alat profilometer

Sampel direndam dalam kopi sidikalang 300ml selama 2

jam di dalam waterbath

dengan temperatur 55˚c

Sampel direndam dalam kopi sidikalang 300ml selama 4

jam di dalam waterbath

dengan temperatur 55˚c

Sampel direndam dalam kopi sidikalang 300ml selama 6

jam di dalam waterbath

dengan temperatur 55˚c

Sampel dikeluarkan, dicuci, dikeringkan di atas kertas tisu

dan dilakukan pengukuran kekasaran permukaan dengan

profilometer

Data dianalisis dengan uji t-paired untuk mengetahui apakah ada

perubahan kekasaran sebelum dan setelah perendaman bagi setiap

kelompok kemudian dengan uji ANOVA satu arah umtuk

mengetahui perubahan antara ketiga kelompok perlakuan yaitu perendaman selama 2,4 dan 6 jam.

Data Data Data

Sampel dikeluarkan, dicuci, dikeringkan di atas kertas tisu

dan dilakukan pengukuran kekasaran permukaan dengan

profilometer

Sampel dikeluarkan, dicuci, dikeringkan di atas kertas tisu

(53)

Lampiran 2. Output uji normalitas data kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.

sebelum1 .195 10 .200* .911 10 .290

sesudah_1 .150 10 .200* .945 10 .613

sebelum_2 .264 10 .047 .860 10 .076

sesudah_2 .251 10 .075 .849 10 .056

Sebelum_3 .225 10 .161 .918 10 .344

Sesudah_3 .241 10 .102 .936 10 .514

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.

(54)

Lampiran 3. Output uji t-paired data kekasaran permukaan resin komposit hybrid sebelum-setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

(55)
(56)
(57)

Lampiran 4. Output uji ANOVA kekasaran permukaan resin komposit

hybrid sebelum-setelah direndam dalam larutan kopi sidikalang

Oneway

Descriptives

selisih

N Mean

Std.

Deviation Std. Error

95% Confidence

Test of Homogeneity of Variances

(58)

Post Hoc Tests

Multiple Comparisons

selisih1 LSD

(I) kelompok

(J) kelompok

Mean Difference

(I-J) Std. Error Sig.

95% Confidence Interval

Lower Bound Upper Bound

(59)

Lampiran 5. Hasil pengukuran kekasaran permukaan resin komposit

hybrid

pada perendaman dalam larutan kopi sidikalang selama

1.Kelompok I (2 jam)

Sebelum Perendaman Setelah Perendaman

I II III Mean I II III Mean

I : pengukuran pertama II : pengukuran kedua III : pengukuran ketiga

1.Kelompok II (4 jam)

Sebelum Perendaman Setelah Perendaman

(60)

I : pengukuran pertama II : pengukuran kedua III : pengukuran ketiga

1.Kelompok III (6 jam)

Sebelum Perendaman Setelah Perendaman

I II III Mean I II III Mean

0.25 0.27 0.24 0.253 0.29 0.31 0.28 0.293 0.31 0.34 0.31 0.320 0.34 0.37 0.34 0.350 0.27 0.24 0.25 0.253 0.31 0.28 0.29 0.293 0.23 0.24 0.21 0.227 0.27 0.28 0.25 0.267 0.26 0.27 0.24 0.257 0.30 0.31 0.28 0.297 0.27 0.30 0.28 0.283 0.32 0.35 0.33 0.333 0.22 0.23 0.22 0.223 0.26 0.27 0.26 0.263 0.28 0.30 0.27 0.283 0.32 0.34 0.31 0.323 0.26 0.27 0.24 0.257 0.30 0.31 0.28 0.297 0.23 0.24 0.23 0.233 0.28 0.29 0.28 0.283 Keterangan :

(61)

Gambar

Gambar
Gambar 1. Struktur kimia Bis-GMA, UEDMA, dan TEGDMA3
Tabel 1. Klasifikasi Resin Komposit3
Tabel 2. Kekuatan Resin Komposit3
+7

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Di samping itu, dukungan dan penerimaan dari orangtua dan anggota keluarga yang lain akan memberikan ‘energi’ dan kepercayaan dalam diri anak berkebutuhan khusus untuk lebih

pertamanan Kota Bogor, sehingga dalam analisisi tersebut tidak terdapat angka koefisien korelasi, karena pembagian kerja itu sudah ada ketika seorang pegawai telah

Berdasarkan deskripsi dan analisis data serta pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dengan menyertakan kemampuan awal siswa, pada pembelajaran

Pemberi layanan kesehatan, dalam hal ini puskesmas, seharusnya dapat berperan lebih aktif dan lebih optimal, di samping memberi pelayanan kuratif sekaligus sebagai

Analisis dokumen merupakan kegiatan menganalisis seluruh dokumen dasar yang digunakan dan mengalir pada sebuah sistem informasi yang sedang berjalan. Adapun jenis-jenis

Hasil uji analisis Spearman Rank didapatkan nilai p-value = 0,001 lebih kecil dari α = 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu nifas

Berdasarkan paparan data maka dapat disimpulkan bahwa guru PAI dalam melakukan proses komunikasi guru menjelaskan pelajaran dalam pembelajaran PAI: