PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE TERHADAP EARNING RESPONSE COEFFICIENT (STUDI
EMPIRIS PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA)
TESIS
Oleh
OK. SOFYAN HIDAYAT
067017039/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
S E K
O L A
H
P A
S C
A S A R JA N
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DISCLOSURE TERHADAP EARNING RESPONSE COEFFICIENT (STUDI
EMPIRIS PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Magister Akuntansi pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
Oleh
OK. SOFYAN HIDAYAT
067017039/Akt
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DISCLOSURE TERHADAP EARNING RESPONSE COEFFICIEN (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA)
Nama Mahasiswa : OK. Sofyan Hidayat
Nomor Pokok : 067017039
Program Studi : Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ak) Ketua
(Drs. Rasdianto, MA, Ak) Anggota
Ketua Program Studi
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS., MBA., Ak)
Direktur
(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)
Telah diuji pada
Tanggal : 7 September 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec., Ak
Anggota : 1. Drs. Rasdianto, MA., Ak
2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE., MAFIS., MBA., Ak
3. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., Ak
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain.
Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara
benar dan jelas dalam daftar pustaka.
Medan, September 2009 Yang membuat pernyataan
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk menguji secara empiris apakah pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh BETA dan Price to Book Value pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yakni 393 perusahaan dengan sampel yang ditentukan secara purposive yaitu perusahaan yang mengungkapkan laporan Corporate Social Responsibility dalam laporan keuangan selama tahun 2006 dan 2007. Hipotesis pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dengan BETA dan Price to Book Value sebagai variabel moderating diuji dengan menggunakan uji F dan Uji t.
Hasil penelitian secara simultan pengungkapan Corporate Social
Responsibility berpengaruh negatif terhadap Earning Response Coefficient secara signifikan dimoderasi oleh BETA dan Price to Book Value tetapi secara parsial uji t menunjukkan bahwa tidak terbukti pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh BETA dan tidak terbukti pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh Price to Book Value.
Kata Kunci: Corporate Social Responsibility, Earning Response Coefficient, BETA dan Price to Book Value.
ABSTRACT
The Purpose of the research to test the influence disclosure of Corporate Social Responsibility toward Earning Response Coefficient was moderated by BETA and Price to Book Value at the company listed on Indonesia Stock Exchange.
The population was all off the company listed on Indonesia Stock Excange about 393 companies. The sample was purposive sampling that disclouse Corporate Social Responsibility in the annual report for 2006 and 2007. The hypothesis was the influeance of corporate social responsibility disclouser to Earning Response Coefficient was moderate by BETA and Price to Book Value tested by F - test.
The result was Corporate Social Responsibility disclouser negativly effect to Earning Response Coefficient Significantly was moderate BETA and Price to Book Value.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas berkah dan karunia dari Allah SWT
yang telah memberikan karunia, rezeki dan petunjuk sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pengaruh Corporate Social Responsibility
Disclosure terhadap Earning Response Coefficient (Studi Empiris pada
Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”.
Penulisan tesis ini merupakan tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan
Program Magister Akuntansi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Tesis ini dapat selesai atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dan dalam
kesempatan ini penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H, Sp.A (K), selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec.Ac., selaku Dosen Pembimbing yang telah
banyak memberikan arahan, bimbingan, koreksi, dan saran kepada penulis dalam
proses penelitian sehingga selesainya tesis ini.
4. Bapak Drs. Rasdianto, MA., Ak sebagai Dosen Pembimbing yang telah
memberikan arahan, saran dan bimbingan sehingga selesainya tesis ini.
5. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, SE., MAFIS., MBA., Ak selaku Ketua Program
Magister Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, dan
bertindak sebagai Dosen Pembanding yang telah banyak membantu memberikan
kritik dan saran serta motivasi pada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
6. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si., selaku Sekretaris Program Studi Magister
sebagai Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan masukan dan saran
guna penyempurnaan tesis ini.
7. Bapak Drs. Syamsul Bahri TRB., MM., Ak, selaku Dosen Pembanding yang telah
banyak memberikan kritik dan saran guna perbaikan dalam penyelesaian tesis ini.
8. Ibu Erlina, SE., M.Si., Ph.D., Ak, yang telah banyak memberikan kritik, saran dan
masukan guna perbaikan tesis serta Bapak/Ibu para Staf Pengajar Program
Magister Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah
mencurahkan pengetahuannya kepada penulis serta seluruh staf akademik yang
telah memberikan bantuan kepada penulis selama mengikuti pendidikan.
9. Rekan-rekan angkatan 11 atas kekompakan dan dukungannya serta rekan-rekan
staf pengajar JA FE Unimed yang telah banyak memberikan dukungan moril
kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.
10.Kedua Orang tuaku Ayahanda H. OK. Usman (alm) dan ibunda Hj. Djadidah
yang menjadi inspirasi bagi penulis dalam menjalani pendidikan ini. Tak lupa
terutama kepada istri dan anakku tercinta, Etty Ramadhani Hasibuan, SE., Ak dan
OK. Muhammad Shaladin Al Kautsar atas kesabaran, doa, kekuatan dan kasih
sayang serta dorongan kepada penulis serta seluruh keluarga yang telah
membantu dalam penyelesaian tesis ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna
namun besar sekali harapan penulis tesis ini dapat bermanfaat bagi berbagai kalangan
yang menggunakannya.
Medan, September 2009
Penulis,
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : OK SOFYAN HIDAYAT
2. Tempat/Tanggal Lahir : Medan/19 Januari 1979
3. Agama : Islam
4. Pekerjaan : Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Medan
5. Alamat Kantor : Jl. Willem Iskandar Pasar V. Medan Estate
6. Alamat Rumah : Jl. Asrama Perumahan Bumi Asri Blok G No. 248
7. No Telepon : 08126584690
8. Pendidikan :
a. SD Swasta Pertiwi Medan, Lulus Tahun 1991
b. SMP Negeri IX Medan, Lulus Tahun 1994
c. SMU Negeri I Medan, Lulus Tahun 1997
d. Sarjana (S-1) Lulus Tahun 2002 pada Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
e. Pascasarjana (S-2) Lulus Tahun 2009 pada Program Studi Magister
DAFTAR ISI
2.1.1. Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility - CSR) ... 7
2.1.2. Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial ………. 9
2.1.3 Pengungkapan ……… 10
2.1.3.1. Definisi pengungkapan ………. 10
2.1.3.2. Tujuan pengungkapan ……….. 11
2.1.3.3. Luas pengungkapan ……….. 11
2.1.3.4. Kategori pengungkapan ……… 12
2.1.4. Pengungkapan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan. ……. 13
2.1.6. BETA ……… 16
2.1.7. Price to Book Value ……… 17
2.2. Review Peneliti Terdahulu ... 18
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS ... 23
3.1. Kerangka Konsep ... 23
4.4. Metode Pengumpulan Data ... 29
4.5. Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel ... 29
4.5.1. Klasifikasi Variabel ……….. 29
4.5.2. Operasionalisasi Variabel. ……… 29
4.6. Metode Analisis Data... 35
4.6.1. Perumusan Model ………. 35
4.6.2. Pengujian Kualitas Data ……… 36
4.6.3. Uji Asumsi Klasik ……… 36
4.6.3.1. Uji multikolinearitas ……… 36
4.6.3.2. Uji heteroskedastisitas……….. 37
4.6.3.3. Uji autokorelasi. ……….. 38
4.6.4. Pengujian Hipotesa ……….. 39
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……….. 41
5.1. Deskriptif Data ……….. 41
5.1.1. Nilai Cumulative Abnormal Return (CAR) ……….. 41
5.1.2. Perhitungan Nilai Unexpected Earning (UE) ……….. 43
5.1.3. Hasil Perhitungan CSR ………. 45
5.1.4. Perhitungan BETA ……… 47
5.1.6. Deskripsi Statistik ……… 51
5.2. Analisis Data ………. 52
5.2.1. Uji Normalitas Hipotesis I ……… 52
5.2.2. Uji Asumsi Klasik Hipotesis I ... 54
5.2.2.1. Uji multikolinearitas ……… 54
5.2.2.2. Uji heteroskedastisitas ………. 55
5.2.2.3. Uji autokorelasi ……… 57
5.2.3. Uji Normalitas Data Hipotesis II ……….. 57
5.2.4. Uji Asumsi Klasik Hipotesis II ………. 58
5.2.4.1. Uji multikolinearitas ……… 58
5.2.4.2. Uji heterokedastisitas ……… 59
5.2.4.3. Uji autokorelasi ……… 60
5.3. Hasil Analisis ... 60
5.3.1 Pengujian Hipotesis I ……… 60
5.3.2 Pengujian Hipotesis II ……….. 64
5.4. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 70
6.1. Kesimpulan ……… 70
6.2. Saran ……….. 71
6.2.1. Keterbatasan Penelitian ……… 71
6.2.2. Saran untuk Penelitian Selanjutnya ... 71
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Penelitian Terdahulu... 21
4.1 Definisi Operasional ... 34
5.1 Perhitungan Cumulative Abnormal Return (CAR)... 42
5.2 Perhitungan Unexpected Earning Perusahaan... 43
5.3 Hasil Perhitungan CSR Indeks Perusahaan... 46
5.4 Nilai BETA Perusahaan... 48
5.5 Nilai Price-Book-Value Perusahaan ... 50
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Tingkat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan ... 8
3.1 Kerangka Konseptual Teoritis ... 24
4.1 Ilustrasi Daerah Pengambilan Keputusan Tes Durbin-Watson ... 39
5.1 Scatterpot Uji Heteroskedastisitas ... 56
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Judul Halaman
I. Data... 75
II. Descriptive Statistics... 77
III. Uji Normalitas Hipotesis I... 78
IV. Uji Asumsi Klasik Hipotesis I... 79
V. Uji Normalitas Data Hipotesis II... 81
VI. Uji Asumsi Klasik Hipotesis II... 82
VII. Pengujian Hipotesis I... 84
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk menguji secara empiris apakah pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh BETA dan Price to Book Value pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yakni 393 perusahaan dengan sampel yang ditentukan secara purposive yaitu perusahaan yang mengungkapkan laporan Corporate Social Responsibility dalam laporan keuangan selama tahun 2006 dan 2007. Hipotesis pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dengan BETA dan Price to Book Value sebagai variabel moderating diuji dengan menggunakan uji F dan Uji t.
Hasil penelitian secara simultan pengungkapan Corporate Social
Responsibility berpengaruh negatif terhadap Earning Response Coefficient secara signifikan dimoderasi oleh BETA dan Price to Book Value tetapi secara parsial uji t menunjukkan bahwa tidak terbukti pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh BETA dan tidak terbukti pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Earning Response Coefficient dimoderasi oleh Price to Book Value.
Kata Kunci: Corporate Social Responsibility, Earning Response Coefficient, BETA dan Price to Book Value.
ABSTRACT
The Purpose of the research to test the influence disclosure of Corporate Social Responsibility toward Earning Response Coefficient was moderated by BETA and Price to Book Value at the company listed on Indonesia Stock Exchange.
The population was all off the company listed on Indonesia Stock Excange about 393 companies. The sample was purposive sampling that disclouse Corporate Social Responsibility in the annual report for 2006 and 2007. The hypothesis was the influeance of corporate social responsibility disclouser to Earning Response Coefficient was moderate by BETA and Price to Book Value tested by F - test.
The result was Corporate Social Responsibility disclouser negativly effect to Earning Response Coefficient Significantly was moderate BETA and Price to Book Value.
BAB I
PENDAHULUAN
1.6. Latar Belakang
Perusahaan sebagai lembaga yang berada dalam tatanan kemasyarakatan
dituntut untuk memberikan kontribusi sosial bagi lingkungannya. Hal ini didasarkan
kepada pendapat bahwa kegiatan perusahaan selain memberikan dampak positif juga
memberikan dampak negatif bagi lingkungannya, sehingga diperlukan sebuah
mekanisme untuk memberikan manfaat balik bagi lingkungan tempat perusahaan itu
beraktivitas. Pemahaman inilah yang mendasari adanya pertanggungjawaban sosial
perusahaan (Corporate Social Responsibility selanjutnya disingkat CSR). Berbagai
perusahaan telah melakukan CSR secara sukarela, namun wacana ini semakin
mengemuka ketika timbul desakan dari pemerintah untuk mengatur hal tersebut
dalam suatu undang-undang. Terlepas dari perlunya sebuah undang-undang untuk
mengatur hal tersebut pengungkapan CSR dalam laporan keuangan mengalami
peningkatan yang cukup pesat (Sayekti dan Wondabio, 2007).
Dalam era keterbukaan informasi dewasa ini, perusahaan harus dapat lebih
memberikan informasi kepada para stakeholder, seperti halnya informasi CSR yang
telah disinggung di atas. Banyak perusahaan yang memiliki kemajuan dalam
teknologi maupun ekonomi dikritik karena menciptakan permasalahan sosial. Sebagai
akibatnya citra perusahaan dapat mengalami kemunduran. Dalam jangka panjang hal
2007). Friedman (1962) dalam Sembiring (2003) menyatakan bahwa satu-satunya
tanggung jawab sosial bisnis adalah untuk memaksimalkan laba, tidak lagi diterima
secara universal.
Dalam perspektif ekonomi perusahaan akan mengungkapkan informasi jika
informasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pada pandangan yang sangat
tradisional informasi tersebut hanya terbatas pada laba, namun sesuai dengan uraian
di atas informasi mengenai CSR menjadi suatu informasi yang perlu diungkapkan
dalam laporan keuangan. Hal ini akan memberikan legitimasi sosial yang kuat untuk
meningkatkan nilai perusahaan jangka panjang.
Penelitian terhadap pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) termasuk
penelitian terhadap CSR sudah sering dilakukan tetapi hasil penelitian yang diperoleh
tidak memberikan kesimpulan yang konsisten. Sayekti dan Wondabio (2007) dalam
penelitiannya juga menyatakan bahwa jenis informasi CSR yang diungkapkan
semakin bervariasi. Informasi yang ada dalam laporan tahunan merupakan salah satu
media komunikasi antara perusahaan dan investor. Healy et al, (2001) dalam Sayekti
dan Wondabio (2007) menyatakan pengungkapan informasi dalam laporan tahunan
yang dilakukan oleh perusahaan dapat mengurangi asimetri informasi dan juga
mengurang agency problem. Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dapat
digambarkan sebagai pengungkapan informasi keuangan dan non-keuangan
berhubungan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan sosialnya, yang
dinyatakan dalam laporan tahunan perusahaan atau dalam laporan sosial yang
Seperti yang telah diungkapkan di atas laba akuntansi berhubungan sangat
erat dengan penilaian perusahaan yang dipresentasikan dengan harga saham. Hal ini
sesuai penelitian Ball dan Brown (1964) yang sering dijadikan rujukan penelitian
keuangan. Penelitian ini merupakan event study respon pasar terhadap penerbitan
laporan keuangan di mana informasi utamanya adalah laba. Penelitian dilakukan
dengan melihat pergerakan harga saham beberapa hari sebelum dan sesudah
penerbitan laporan keuangan. Hasil penelitian ini menunjukkan fluktuasi harga saham
yang berbeda antara hari di sekitar penerbitan laporan keuangan dengan hari-hari lain
sebelum periode tersebut. Fluktuasi ini merupakan representasi dari respon pasar
terhadap harga saham sebagai dasar dari pemahaman Earning Response Coefficient
(ERC). ERC didefinisikan sebagai variasi hubungan antara return saham dan laba
saham (Dewi, 2003). Nilai ERC ini mengalami penurunan seiring dengan penurunan
perhatian orang terhadap nilai laba dan semakin memperhatikan faktor-faktor lain
di luar laba termasuk CSR. Secara sederhana penurunan nilai ERC merupakan
peralihan perhatian investor dari angka laba kepada informasi lainnya.
Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa informasi mengenai laba
akuntansi direspon secara berbeda oleh pasar (Setiati, 2004). Kualitas laba
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang antara lain persistensi, pertumbuhan dan
prediktabilitas laba akuntansi, risiko beta, struktur modal, ukuran perusahaan, dan
pengaruh industri. Sayekti dan Wondabio (2007) meneliti perusahaan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia untuk menganalisis pengaruh pengungkapan informasi CSR
negatif terhadap ERC. Sebenarnya hasil ini telah diprediksi oleh Widyastuti (2002)
sesuai dengan hipotesa penelitian tersebut namun hasil penelitian empirisnya yang
justru menunjukkan pengaruh positif yang signifikan. Dalam penelitian ini peneliti
ingin melihat pengaruh pengungkapan CSR terhadap ERC dengan memasukkan
BETA dan price to book value (PBV) sebagai variabel moderasi. BETA yang
menurut penelitian sebelumnya berpengaruh negatif terhadap ERC dan PBV yang
menurut penelitian sebelumnya berpengaruh positif terhadap ERC, digunakan sebagai
variabel moderating dalam penelitian ini untuk melihat apakah variabel tersebut
mempengaruhi hubungan pengaruh CSR terhadap ERC.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul: “Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure terhadap
Earning Response Coefficient (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia)”.
1.7. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: Apakah Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR)
Disclosure terhadap Earning Response Coefficient (ERC) dimoderasi oleh BETA
1.8. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk membuktikan secara empiris pengaruh pengungkapan informasi Corporate
Social Responsibility (CSR) terhadap Earning Response Coefficient (ERC)
dimoderasi oleh BETA dan Price to Book Value (PBV).
1.9. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai
berikut:
1. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan wawasan dan
pengetahuan penulis khususnya mengenai pengaruh pengungkapan Corporate
Social Responsibility (CSR) terhadap Earning Response Coefficient (ERC).
2. Bagi kalangan akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dapat memberikan
kontribusi untuk kajian akademik apakah informasi Corporate Social
Responsibility (CSR) sudah waktunya diungkapkan dalam laporan tahunan
perusahaan atau tidak.
3. Bagi peneliti lanjutan, sebagai referensi dan sebagai bahan perbandingan
khususnya dalam mengembangkan penelitian fokus kajian yang sama.
1.10. Originalitas
Penelitian mengenai hubungan ERC dengan CSR masih sangat terbatas dan
lagi penelitian baik dengan perbedaan metode penelitian, perbedaan periode
penelitian maupun penyempurnaan dalam hal-hal lainnya. Penelitian ini mereplikasi
model penelitian Sayekti dan Wondabio (2007). Adapun perbedaan antara penelitian
ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada periode penelitian, di mana pada
penelitian Sayekti dan Wondabio (2007) periode yang digunakan adalah tahun 2005.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Landasan Teori
2.1.1. Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility -
CSR)
Kumalahadi (2000: 59) menyatakan pertanggungjawaban sosial bukan
merupakan fenomena yang baru, tetapi merupakan akibat dari semakin meningkatnya
isu lingkungan di akhir tahun 1980-an. Pertanggungjawaban sosial merupakan
manisfestasi kepedulian terhadap tanggung jawab sosial dari perusahaan. Sejarah
telah mencatat perkembangan hubungan organisasi dengan masyarakat yang
merupakan dasar pemikiran akuntansi untuk pertanggungjawaban sosial. Pada sisi
lain ikatan profesi belum menetapkan standar-standar yang berkaitan dengan
akuntansi pertanggungjawaban sosial. Namun demikian, akuntansi untuk
pertanggungjawaban sosial telah mengarah pada proses komunikasi pengaruh sosial
dan lingkungan kegiatan ekonomi organisasi kepada kelompok kepentingan tertentu
dalam masyarakat dan kepada masyarakat luas (Gray, et al dalam Kumalahadi, 2000:
59).
Akuntansi untuk pertanggungjawaban sosial merupakan perluasan
pertanggungjawaban organisasi (perusahaan) di luar batas-batas akuntansi keuangan
tradisional, yaitu menyediakan laporan keuangan tidak hanya kepada pemilik modal
perusahaan memiliki tanggung jawab yang yang lebih luas dan tidak sekedar mencari
uang untuk para pemegang saham.
Menurut Darwin (2004) dalam Hasibuan (2001) pertanggungjawaban sosial
perusahaan (Corporate Social Responsibility (CSR)) adalah mekanisme bagi suatu
organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan
sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi
tanggung jawab organisasi di bidang hukum. Dengan konsep ini, kendati secara
moral tujuan perusahaan untuk mengejar keuntungan adalah sesuatu yang baik, tetapi
tidak dengan sendirinya perusahaan dibenarkan untuk mencapai keuntungan itu
dengan mengorbankan kepentingan pihak-pihak lain.
Dauman dan Hargreaves (1992) dalam Hasibuan (2001) membagi areal
tanggung jawab perusahaan dalam tiga level yang digambarkan sebagai berikut:
Sumber: Dauman dan Hargreaves (1992, dalam Hasibuan (2001)
Gambar 2.1. Tingkat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Basic Responsibility
Organizational Responsibility
a. Basic Responsibility
Level ini menghubungkan tanggung jawab awal dari suatu perusahaan yang
muncul karena keberadaan perusahaan tersebut, seperti: membayar pajak, mematuhi
hukum, memenuhi standar pekerjaan dan memuaskan pemegang saham. Bila pada
level ini tanggung jawab tidak terpenuhi maka akan timbul dampak yang sangat
serius.
b. Organizational Responsibility
Level ini menunjukkan tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan stakeholder seperti pekerja, konsumen, pemegang saham dan
masyarakat sekitar.
c. Societal Responses
Level ini menjelaskan tahap ketika interaksi antara bisnis dan kekuatan lain
dalam masyarakat yang demikian kuat sehingga perusahaan dapat tumbuh dan
berkembang secara berkesinambungan, terlibat dengan apa yang terjadi dalam
lingkungannya secara keseluruhan.
2.1.3. Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial
Akuntansi adalah bahasa bisnis karena akuntansi memberikan informasi
mengenai suatu entitas. Akuntansi memungkinkan terjadi komunikasi antara
pihak-pihak yang berkepentingan dalam entitas tersebut. Pihak-pihak-pihak yang berkepentingan
(stakeholders) menggunakan laporan akuntansi sebagai sumber informasi utama
untuk pengambilan keputusan karena pihak-pihak yang berkepentingan juga
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dunia bisnis mempunyai hubungan erat
dengan akuntansi, sedangkan akuntansi mempunyai hubungan erat dengan
lingkungannya yang dapat menyebabkan nilai positif atau nilai negatif tergantung
pada individunya bagaimana cara menggunakan akuntansi tersebut. Jadi jelaslah
bahwa dunia bisnis merupakan lingkungan sosial yang membentuk akuntansi, dan
akuntansi tersebut dibentuk dan tergantung pada lingkungan sosialnya dari sebagian
berinteraksi sebagai faktor dan pembentukan lingkungan sosial yang berdampak dari
kegiatannya terhadap lingkungan sosial dan orang lain (Hidayat, 2002).
Tidak ada kesepakatan di antara para ahli mengenai definisi yang tepat untuk
menggambarkan akuntansi pertanggungjawaban sosial. Bahkan dalam penggunaan
istilah pun belum ada keseragaman. Sebagian menyebut akuntansi
pertanggung-jawaban sosial dan sebagian lagi menggunakan istilah akuntansi sosial.
2.1.4. Pengungkapan
2.1.3.5. Definisi pengungkapan
Menurut Hendriksen (1996) dalam Zuhroh dan Pande (2003) pengungkapan
(disclosure) didefinisikan sebagai penyediaan sejumlah informasi yang dibutuhkan
untuk pengoperasian secara optimal pasar modal efisien. Wolk dan Tearney (1980)
dalam Marwata (2000: 7) menyatakan ungkapan mencakup penyediaan informasi
yang diwajibkan oleh badan berwenang maupun yang secara sukarela dilakukan
perusahaan, yang berupa laporan keuangan, informasi tentang kejadian setelah
tanggal laporan, analisis manajemen atas operasi perusahaan yang akan datang,
tambahan yang mencakup ungkapan menurut segmen dan informasi lainnya di luar
harga perolehan.
2.1.3.6. Tujuan pengungkapan
Tujuan pengungkapan menurut Belkaoui (2000: 219) adalah:
1. Untuk menjelaskan item-item yang diakui dan untuk menyediakan ukuran
yang relevan bagi item-item tersebut, selain ukuran dalam laporan keuangan.
2. Untuk menjelaskan item-item yang belum diakui dan untuk menyediakan
ukuran yang bermanfaat bagi item-item tersebut.
3. Untuk menyediakan informasi untuk membantu investor dan kreditor dalam
menentukan resiko dan item-item yang potensial untuk diakui dan yang belum
diakui.
4. Untuk menyediakan informasi penting yang dapat digunakan oleh pengguna
laporan keuangan untuk membandingkan antarperusahaan dan antartahun.
5. Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar di masa
mendatang.
6. Untuk membantu investor dalam menetapkan return dan investasinya.
2.1.3.7. Luas pengungkapan
Keluasan pengungkapan adalah salah satu bentuk kualitas pengungkapan.
Hendriksen (1997: 204) menyatakan bahwa tingginya kualitas informasi akuntansi
sangat berkaitan dengan tingkat kelengkapan pengungkapan. Ada tiga konsep
mengenai luas pengungkapan yaitu adequate, fair dan full disclosure. Konsep yang
yaitu pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku, di mana
pada tingkat pengungkapan ini investor dapat menginterpretasikan angka-angka
dalam laporan keuangan dengan benar. Pengungkapan yang fair (fair disclosure)
mengandung sasaran etis dengan menyediakan informasi yang layak terhadap
pembaca (investor) potensial. Pengungkapan penuh (full disclosure) merupakan
pengungkapan atas semua informasi yang relevan.
Menurut Meek, Roberts dan Gray (1950) dalam Suripto (1998) ada dua jenis
pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan oleh standar.
Pertama adalah pengungkapan wajib (mandatory disclosure), yaitu pengungkapan
informasi yang diharuskan oleh peraturan yang berlaku. Jika perusahaan tidak
bersedia untuk mengungkap informasi secara sukarela, pengungkapan wajib akan
memaksa perusahaan untuk mengungkapkannya. Kedua adalah pengungkapan
sukarela (voluntary disclosure), merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan
untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan
untuk pembuatan keputusan oleh pemakai laporan tahunannya.
2.1.3.8. Kategori pengungkapan
Kategori pengungkapan yang dikembangkan dalam wacana akuntansi
pertanggungjawaban sosial adalah kategori yang terkait dengan stakeholders.
Menurut Hackston dan Milne (1996) dalam Sembiring (2003) kategori pengungkapan
pertanggungjawaban sosial dibagi menjadi tujuh kategori yang meliputi lingkungan,
energi, produk/konsumen, masyarakat, kesehatan dan keselamatan tenaga kerja,
pengungkapan (sub kategori). Setelah melakukan penyesuaian dengan kondisi
di Indonesia, 12 item dihapuskan sehingga tersisa 78 item pengungkapan.
2.1.8. Pengungkapan Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan
Guthrie dan Parker (1990) dalam Sayekti dan Wondabio (2007) menyatakan
pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan merupakan salah satu cara
perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi
perusahaan dari sisi ekonomi dan politis. Banyak teori yang menjelaskan mengapa
perusahaan cenderung untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan
aktivitasnya dan dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. Ada tiga teori
yang mendukung pengungkapan pertanggungjawaban sosial perusahaan, yaitu teori
agensi, teori legitimasi dan teori stakeholder (Sembiring, 2003: 2).
a. Agency Theory (Teori Agensi), menganalogikan manajemen sebagai agen dari
suatu principal, dan pada umumnya principal diartikan sebagai pemegang
saham atau traditional users lain. Namun pengertian principal tersebut meluas
menjadi seluruh interest group perusahaan yang bersangkutan. Teori ini
menjelaskan agen (manajemen) bekerja untuk stakeholder, dan salah satu
pekerjaan mereka adalah memberikan informasi yang terkait dengan usaha
yang dijalankan.
b. Legitimacy Theory (Teori Legitimasi), dengan melakukan social disclosure,
perusahaan merasa keberadaan dan aktivitasnya terlegitimasi. Dalam
aspek, yang dirasakan akan lebih berat dari sisi cost karena mereka melakukan
secara sukarela.
c. Stakeholders Theory (Teori Stakeholder), mengasumsikan bahwa eksistensi
perusahaan ditentukan oleh para stakeholders. Perusahaan berusaha mencari
pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi
perusahaannya. Semakin kuat posisi stakeholders, semakin besar pula
kecendrungan perusahaan mengadaptasi diri terhadap keinginan para
stakeholdersnya.
Deegan dan Blomquist (2001) dalam Sayekti dan Wondabio (2007)
menyatakan berbagai alasan perusahaan dalam melakukan pengungkapan informasi
CSR secara sukarela, diantaranya adalah karena untuk menaati peraturan yang ada,
untuk memperoleh keunggulan kompetitif melalui penerapan CSR, untuk memenuhi
ketentuan kontrak pinjaman dan untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, untuk
melegitimasi tindakan perusahaan, dan untuk menarik investor (Marwata, 1999)
pengungkapan sosial yang diungkapkan perusahaan merupakan informasi yang
sifatnya sukarela, karenanya perusahaan memiliki kebebasan untuk mengungkapkan
informasi yang tidak diharuskan oleh badan penyelenggara pasar modal. Keluasan
tersebut menyebabkan terjadinya keragaman dalam kualitas pengungkapan di antara
perusahaan publik.
2.1.9. Koefisien Respon Laba (Earning Response Coefficient (ERC))
Lev (1989) dalam Sayekti dan Wondabio (2007) menyatakan laba diyakini
(2007) menyatakan, laba merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan yang
mendapat banyak perhatian dan banyak penelitian yang membuktikan adanya
hubungan yang sangat erat antara laba dengan tingkat return saham perusahaan.
Besaran yang menunjukkan hubungan antara laba dan return saham ini yang disebut
dengan koefisien respon laba (Earning Response Coefficient- ERC), yang merupakan
besarnya koefisien slope dalam regresi yang menghubungkan laba sebagai salah satu
variabel bebas dan return saham sebagai variabel terikat.
Menurut Cho dan Jung (1991) dalam Suaryana (2005) ERC mengukur
pengaruh dari satu dolar laba kejutan terhadap return saham, dan diukur sebagai slope
dalam regresi return abnormal saham dan unexpected earnings. Penman (1992)
dalam Palupi (2007) mendeskripsikan koefisien respon laba sebagai koefisien respon
laba dalam regresi return terhadap laba. Lev (1989) dalam Sayekti dan Wondabio
(2007) menyatakan banyak model equity valuation yang hanya menggunakan
expected earnings sebagai variabel eksplanatori. Namun demikian, earning itu sendiri
memiliki keterbatasan yang mungkin dipengaruhi oleh asumsi perhitungan dan juga
kemungkinan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, sehingga
dibutuhkan informasi lain selain laba untuk memprediksi return saham perusahaan.
Menurut Scott (2007) dalam Sayekti dan Wondabio, (2007) Earning
Response Coefficient (ERC) merupakan koefisien yang mengukur respon abnormal
returns sekuritas terhadap unexpected accounting earnings perusahaan-perusahaan
yang menerbitkan sekuritas. Widiastuti, 2006 (dalam Sayekti dan Wondabio, 2007)
Coefficient (ERC) terhadap pengumuman laba dengan didasarkan pada premis bahwa
tingkat keinformasian laba (informativenes of earnings) akan semakin besar ketika
terdapat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan di masa datang. Scott (2000)
dalam Sayekti dan Wondabio (2007) menyatakan beberapa hal yang menyebabkan
respon pasar yang berbeda-beda terhadap laba, yaitu persistensi laba, beta, struktur
permodalan perusahaan, kualitas laba, peluang pertumbuhan (growth opportunities),
dan informasi harga (informativeness of price).
2.1.10.BETA
Sebelum melakukan investasi seorang investor pasti akan menghitung dahulu
tingkat pengembalian yang akan diterima berdasarkan tingkat risiko yang ada dalam
investasi tersebut. Setiap orang mempunyai definisi untuk risiko menurut pengertian
masing-masing. Menurut Jogiyanto (2003: 266) “Risiko merupakan penyimpangan
yang terjadi antara actual return dari yang telah diperkirakan sebelumnya yaitu imbal
hasil yang diharapkan sebelumnya (expected return). Jenis-jenis resiko pada
umumnya hanya dibagi menjadi dua yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis
(Tandelilin, 2003).
Risiko sistematis adalah risiko yang tidak bisa dihilangkan. Dengan kata lain
risiko yang pasti terjadi pada semua portofolio. Risiko sistematis biasanya terkait
dengan kondisi yang terjadi dengan kondisi yang terjadi di pasar secara umum,
misalnya perubahan dalam perekonomian secara makro, risiko tingkat bunga, risiko
politik, risiko inflasi, risiko nilai tukar dan risiko pasar. Beta adalah parameter yang
disimpulkan sebagai pengukur volatilitas suatu risiko sistematis pada sekuritas.
Sedangkan menurut Tandelilin (2001: 102) beta merupakan indeks risiko sistematis
suatu aktiva atau suatu portofolio aktiva.
Penelitian Collins dan Kothari (1989) dalam Palupi (2007) menunjukkan
bahwa risiko berhubungan secara negatif dengan koefisien respon laba. Palupi (2007)
menyatakan investor akan mengurangi tingkat risiko yang diterimanya dengan
mempertimbangkan risiko spesifik suatu perusahaan dalam keputusan investasinya.
Sensivitas investor terhadap informasi mengenai perusahaan beresiko kecil akan lebih
besar karena perusahaan dengan risiko kecil lebih dipercaya.
Menurut Scott (2000) dalam Sayekti dan Wondabio (2007) investor akan
menilai laba sekarang untuk memprediksi laba dan return di masa yang akan datang.
Jika future return tersebut semakin berisiko, maka reaksi investor terhadap
unexpected earnings perusahaan juga semakin rendah. Dengan kata lain jika beta
semakin tinggi, maka Earning Response Coefficient (ERC) akan semakin rendah.
2.1.11.Price to Book Value
Darmadji (2001: 141) Price to Book Value atau PBV menggambarkan
seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Price to Book
Value adalah rasio yang menunjukkan apakah harga saham (harga pasarnya)
diperdagangkan di atas atau di bawah nilai buku saham tersebut. Istilah teknisnya
apakah saham tersebut overvalued atau undervalued. Makin tinggi rasio ini berarti
pasar percaya akan prospek perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini Price to Book
Penelitian Collins dan Kothari (1989) dalam Palupi (2007) menyimpulkan bahwa
terdapat korelasi yang positif antara kesempatan bertumbuh dan koefisien respon
laba. Scott (2000) dalam Sayekti dan Wondabio (2007) menyatakan ERC akan lebih
tinggi untuk perusahaan yang memiliki growth opportunities. Foster (1986) dalam
Setiati (2004) menyatakan, perusahaan bertumbuh mempunyai aliran laba atau kas
masa depan yang dinilai sekarang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang
tidak bertumbuh. Hal ini menunjukkan bahwa investor yang melakukan investasi
pada perusahaan yang bertumbuh mendapatkan return lebih besar. Palupi, (2007)
menyatakan penilaian pasar (investor/pemegang saham) terhadap kemungkinan
bertumbuh suatu perusahaan nampak dari harga saham yang akan diperolehnya.
Pemegang saham akan memberi respon yang lebih besar kepada perusahaan dengan
kemungkinan bertumbuh lebih tinggi. Hal ini terjadi karena perusahaan yang
mempunyai kemungkinan bertumbuh lebih tinggi akan memberikan manfaat yang
lebih tinggi di masa depan investor.
2.4. Review Peneliti Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ERC
perusahaan sangat banyak dilakukan. Berbagai penelitian yang melihat faktor-faktor
yang mempengaruhi ERC dapat kita lihat dalam review terhadap penelitian-penelitian
terdahulu berikut.
Dalam penelitian yang dilakukan Palupi (2007), Koefisien respon laba
Sedangkan prediksi laba, kesempatan bertumbuh, ukuran perusahaan dan resiko
kegagalan memberikan pengaruh negatif. Penelitian ini menggunakan metode regresi
berganda.
Dalam penelitian yang dilakukan Suryana (2005), perbedaan koefisien respon
laba perusahaan yang membentuk komite audit dan perusahaan yang tidak
membentuk komite audit. Pengujian yang dilakukan menggunakan metode FSCM
dan CRSM menunjukkan hasil yang sama bahwa koefisien respon laba perusahaan
yang membentuk komite audit secara statistik lebih besar daripada perusahaan yang
tidak membentuk komite audit.
Dalam penelitian yang dilakukan Riyanto (2007), peneliti mengukur apakah
ukuran kantor akuntan publik sebagai proxy kualitas audit berpengaruh terhadap
koefisien respon laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran kantor akuntan
publik berpengaruh terhadap koefisien respon laba di mana kantor akuntan publik
besar memberikan keyakinan lebih kepada investor. Nilai koefisien respon laba
perusahaan yang diaudit kantor akuntan publik besar tidak berbeda secara signifikan
dengan nilai koefisien respon laba perusahaan yang diaudit oleh kantor akuntan
publik kecil.
Penelitian ini menggunakan metode uji beda dengan model regresi pooled
cross-section model (CRSM).
Penelitian yang dilakukan Suryana (2008) berikutnya coba melihat apakah
perusahaan yang menerapkan prinsip akuntansi konservatif memiliki daya prediksi
akuntansi konservatif. Dan hasil penelitian mendukung hipotesis penelitian tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode regresi berganda dena uji beda.
Penelitian terakhir yang menjadi acuan dalam penelitian ini ditulis oleh
Sayekti dan Wondobio (2007), menuliskan bahwa CSR disclosure berpengaruh
negatif terhadap ERC. Penelitian ini menggunakan model regresi ordinary least
square (OLS) cross sectional dengan memasukkan varibel control untuk mengontrol
variabel pencemar yakni BETA dan Price to Book Value. Penelitian yang akan
dilakukan mereplikasi penelitian ini dengan menggunakan data dari tahun yang
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.3. Kerangka Konsep
Kerangka konseptual merupakan penjelasan secara teoritis pertautan antara
variabel yang akan diteliti. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pengungkapan
informasi dalam laporan tahunan yang dilakukan oleh perusahaan diharapkan dapat
mengurangi asimetri informasi dan juga mengurangi agency problems, sehingga
investor diharapkan mempertimbangkan informasi CSR yang diungkapkan dalam
laporan tahunan perusahaan dan proses pengambilan keputusan investor tidak
semata-mata didasarkan pada informasi laba saja.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa laba diyakini sebagai
informasi utama yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan. Pada penelitian
ini digunakan koefisien respon laba (ERC) sebagai ukuran kualitas laba. Berbagai
penelitian telah menguji perbedaan ERC terhadap pengumuman laba dengan
didasarkan pada premis bahwa informativeness of earnings akan semakin besar ketika
terdapat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan di masa datang. Hal ini berarti
bahwa semakin tinggi ketidakpastian prospek perusahaan di masa datang, maka ERC
semakin tinggi. Hal ini secara nyata dapat dilihat bagi perusahaan yang relatif kurang
memiliki kepastian, maka respon investor yang digambarkan dengan pergerakan
harga saham akan tinggi (ERC tinggi). Pada sisi lain diharapkan jika tingkat
penurunan, sehingga ERC akan menurun. Salah satu informasi yang diungkapkan
tersebut adalah Corporate Social Responsibility (CSR).
Secara ringkas kerangka pemikiran teoritis dalam penelitian ini yang
menunjukkan hubungan antarvariabel dapat dilihat dalam Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Teoritis
Koefisien respon laba atau ERC didefinisikan sebagai ukuran atas tingkat
return abnormal saham dalam merespon komponen unexpected earnings. Respon
pasar dalam bentuk harga saham terhadap informasi akuntansi dapat diproksi dengan
CAR (Cummulative Abnormal Return). Sedangkan UE (Unexpected Earning)
merupakan proksi laba akuntansi yang menunjukkan hasil kinerja perusahaan selama
periode tertentu. Earning Response Coefficient (ERC) adalah variabel dependent
dalam penelitian ini merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi
Variabel Dependen
Earning Response Coefficient (ERC)
Variabel Independen
Corporate Social Resonsibility (CSR)
Disclosure
Variabel Moderating
Price to Book Value (PBV)
Variabel Moderating
harga saham yang (CAR) dan laba akuntansi (UE) sedangkan variabel independen
adalah corporate social responsibility (CSR).
CAR = a0 + b1 UE
ERC
Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi ERC meliputi persistensi laba akuntansi, pertumbuhan laba akuntansi,
prediktabilitas laba akuntansi, risiko beta, struktur modal, ukuran perusahaan dan
pengaruh industri (Setiati, 2004) serta pengungkapan informasi di dalam laporan
keuangan.
Informasi mengenai pertanggungjawaban sosial akan mempengaruhi ERC,
di mana semakin lengkap pertanggungjawaban sosial tersebut maka nilai ERC akan
semakin kecil. Variabel Corporate Social Responsibility Indeks (CSRI) akan
menurunkan nilai ERC. Secara matematis jika CSRI dimasukkan ke dalam regresi
sebagai variabel interaksi dengan UE maka nilai koefisien variabel tersebut mengecil,
yang berarti ERC menurun. Hasil regresi antara beberapa variabel termasuk regresi
antara CAR, UE, CSRI dalam memperoleh nilai ERC dapat mengalami nilai yang
kurang tepat karena dipengaruhi variabel lain sehingga diperlukan variabel
moderating untuk mempertinggi keakuratan hasil yang diperoleh. Variabel
moderating yang digunakan di dalam penelitian ini adalah Beta dan Price to Book
Value.
Beta mencerminkan risiko sistematis investor akan menilai laba sekarang
tersebut semakin berisiko, maka reaksi investor terhadap unexpected earnings
perusahaan juga semakin rendah. Beta diprediksi mempunyai pengaruh negatif.
Dalam penelitian ini digunakan rasio Price to Book Value untuk memproksi
growth opportunities. Perusahaan yang memiliki growth opportunities diharapkan
akan memberikan profitabilitas yang tinggi di masa datang, dan diharapkan laba lebih
persisten. PBV diprediksi akan mempunyai pengaruh positif terhadap ERC.
3.4. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teoritis, penelitian terdahulu dan kerangka konseptual
yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah:
H1 : Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) Disclosure terhadap Earning
Response Coefficient (ERC) dimoderasi oleh BETA.
H2 : Pengaruh Corporate Sosial Responsibility (CSR) Disclosure terhadap Earning
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.7. Jenis Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan dalam tahapan penelitian yang terstruktur
dengan melalui tahapan penelitian yang baik. Tahap awal dimulai dari populasi,
identifikasi variabel, definisi operasional, sumber dan teknik pengumpulan data serta
selanjutnya penentuan model analisis. Model analisis ini akan digunakan sebagai alat
dalam pengujian hipotesa yang diajukan dalam penelitian untuk menarik kesimpulan
penelitian.
Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis pengaruh corporate
social responsibility (CSR) berpengaruh terhadap Earning Response coefficient,
maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
penjelasan (explanotory research) yaitu memberikan penjelasan sebab akibat l atau
hubungan antara variabel-variabel serta untuk menganalisis pengaruh suatu variabel
terhadap variabel lainnya dan untuk menguji hubungan antarvariabel yang
dihipotesiskan.
4.8. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap seluruh
perusahaan manufaktur yang sudah go public dari tahun 2006 sampai 2007. Data
http://www.bapepam.go.id dan website perusahaan yang bersangkutan serta database
yang diperoleh terutama Indonesia Capital Market Directory (ICMD).
Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan November 2008 sampai bulan
Februari 2009, dimulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis data dan
penyusunan laporan.
4.9. Populasi dan Sampel
Populasi adalah kelompok keseluruhan orang, peristiwa atau sesuatu yang
ingin diselidiki oleh peneliti. Sedangkan sampel adalah beberapa anggota atau bagian
yang dipilih dari populasi (Sularso, 2003: 67).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan dan pengumpulan data sampel yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan purposive sampling, yaitu
pemilihan sampel berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (Indriantoro dan Supomo,
1993: 130).
Adapun kriteria-kriteria pengambilan sampel adalah:
1. Perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia dan menyajikan pengungkapan
pertanggungjawaban sosial dalam laporan tahunan tahun 2006 dan 2007.
2. Laporan tahunan dapat diperoleh/diakses dari internet.
4.10. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian lapangan ini dikumpulkan data sekunder yaitu laporan
keuangan tahunan perusahaan yang telah diaudit oleh auditor independent pada
seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sumber data tersebut
diperoleh dari Jakarta Stock Exchange, JSX Statistic, Capital Market Directory 2008,
www.yahoo-finance.com serta homepage setiap perusahaan yang terpilih sebagai
sampel.
4.11. Definisi Operasional dan Metode Pengukuran Variabel
4.5.3. Klasifikasi Variabel
Ada beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian ini, variabel yang
akan diuji adalah:
Yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel independen yaitu: Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure.
b. Variabel dependen yaitu: Earning Response Coefficient (ERC).
c. Variabel moderating yaitu: BETA dan Price to Book Value (PBV).
4.5.4. Operasionalisasi Variabel
a. Variabel Independen.
1. Corporate Social Responsibility (CSR) Disclosure
Pengungkapan informasi CSR adalah data kualitatif yang diungkapkan
perusahaan berkaitan dengan aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan.
analysis adalah suatu metoda pengumpulan data melalui teknik observasi dan analisis
terhadap isi atau pesan suatu dokumen untuk menghasilkan deskripsi yang objektif
dan sistematik, seperti kategori isi, telaah, pemberian kode berdasarkan karakteristik
kejadian atau transaksi yang terdapat dalam dokumen Supomo (1999, dalam
Nurdiono, 2007). Berdasarkan kode tersebut, skala kuantitatif dibuat untuk dapat
dianalisa lebih lanjut.
Instrumen pengukuran CSR yang digunakan dalam penelitian ini mengacu
pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring (2003), yang mengelompokkan
informasi CSR ke dalam kategori lingkungan, energi, tenaga kerja, produk,
keterlibatan masyarakat, dan umum. Total item CSR tergantung dari jenis industri
perusahaan. Pendekatan untuk menghitung CSR pada dasarnya menggunakan
pendekatan dikotomi yaitu setiap item CSR dalam instrumen penelitian diberi nilai 1
jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak diungkapkan Haniffa et al, 2005 (dalam
Sayekti dan Wondabio, 2007). Selanjutnya skor dari setiap item dijumlahkan untuk
memperoleh keseluruhan skor untuk setiap perusahaan. Rumus perhitungan CSR
adalah sebagai berikut. Haniffa et al, 2005 (dalam Sayekti dan Wondabio, 2007).
CSR =
CSR : Corporate Social Resonsibility Disclosure Index perusahaan j nj : Jumlah item untuk perusahaan j, nj 119
b. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah ERC (Earning Response
Coefficient). Earning Response Coefficient (ERC) merupakan koefisien yang
diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Untuk
mendapatkan nilai ERC maka terlebih dahulu dihitung nilai return ekspektasi. Return
ekspektasi dihitung dengan cara mengurangkan return sesungguhnya dengan return
ekspektasian sebagai berikut:
ARit = Rit – E[Rit]
Keterangan:
ARit = Return tidak normal sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
Rit = Return sesungguhnya sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
E[Rit] = Return ekspektasian sekuritas ke-i pada periode peristiwa ke-t
Kemudian dicari nilai CAR (Cummulative Abnormal Return). CAR dihitung
secara harian untuk periode 15 bulan, yaitu dari tanggal 1 Januari 2006 sampai 31
Maret 2007. Pengukuran abnormal return dalam penelitian ini menggunakan market
adjusted model yang mengasumsikan bahwa pengukuran expected return saham
perusahaan yang terbaik adalah return indeks pasar (Pincus, 1993 dalam Sayekti dan
Wondabio, 2007). Berikut adalah rumus untuk menghitung abnormal return:
Keterangan:
IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t-1
Selanjutnya perhitungan CAR untuk masing-masing perusahaan adalah
merupakan kumulasi abnormal return dari masing-masing perusahaan tersebut
selama periode 15 bulan.
Unexpected earnings (UE) atau laba kejutan adalah selisih antara laba
sesungguhnya dengan laba ekspektasian. Laba ekspektasian diestimasi dengan model
acak (random walk model). Model langkah acak mengestimasi laba periode berjalan
sama dengan laba periode sebelumnya (Suryana, 2005).
UEit =
Suryana, (2005) menyatakan koefisien respon laba diestimasi dengan model regresi
sebagai berikut:
Keterangan:
CAR = Return tidak normal perusahaan i yang disebabkan oleh peristiwa pengumuman laba.
UEit = Laba kejutan untuk perusahaan i pada pengumuman laba
Y1 = Koefisien respon laba (ERC)
åi = Komponen error dalam model atas perusahaan i
c. Variabel Moderating
Variabel Moderating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah
hubungan langsung antarvariabel independen dengan variabel dependen. Variabel
moderating yang digunakan dalam penelitian untuk melihat pengaruh
sesungguhnya dari variabel yang hendak diuji dalam penelitian.
1. Beta
Beta merupakan parameter yang digunakan dalam mengukur risiko sistematis.
Beta diperoleh dengan regresi sederhana dengan mengestimasi model pasar yang
menggunakan rumus CAPM (Fitria, 2004):
PBV =
No Variabel Simbol Definisi Operasional Pengukuran Skala
Earning Response
Coefficient ERC
Koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga
saham dan laba akuntansi. UE
Y sesungguhnya dengan laba ekspektasian. nilai 1 jika diungkapkan, dan nilai 0 jika tidak.
4.12. Metode Analisis Data
4.6.5. Perumusan Model
Untuk melihat pengaruh dari pengungkapan informasi corporate social
responsibility (CSR) terhadap Earning Response Coefficient (ERC) dimoderasi oleh
BETA dan Price to Book Value (PBV), maka variabel independen corporate social
responsibility (CSR) akan diinteraksikan dengan variabel moderating BETA dan
Price to Book Value (PBV) dalam persamaan regresi dengan model interaksi. Model
penelitian dalam penelitian ini terdiri dari dua model persamaan regresi dengan
menggunakan analisis linear berganda (Multiple Linear Regression Method).
UE = Unexpected earningss
CSR = Corporate social responsibility
PBV = Price to Book Value
CSR*PBV = Interaksi CSR dan PBV
4.6.6. Pengujian Kualitas Data
Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan model yang disampaikan
di atas, maka sesuai dengan syarat metode Ordinary Least Square (OLS), terlebih
dahulu akan dilakukan pengujian normalitas dan asumsi klasik yang menurut
Gujarati, alih bahasa Sumarno Zain (1995) akan meliputi pengujian multicollinearity,
heteroschedasticity, dan autocorrelation.
Asumsi distribusi normal diperiksa dengan menggunakan grafik Normal
Probability Plot atau Histogram. Jika data mengikuti garis normal pada grafik Normal
Probability Plot maka data diasumsikan berdistribusi normal. Cara lainnya adalah
Pengujian normalitas dilakukan dengan menggunakan pengujian
Kolmogorov-Smirnov. Pengujian dengan metode ini menyatakan jika nilai Kolmogorov-Smirnov
memiliki probabilitas lebih besar dari 0.05 (Santoso, 2005), maka variabel penelitian
tersebut dapat dinyatakan berdistribusi normal. Dalam penelitian ini cara yang
digunakan adalah pengujian Kolmogorov – Smirnov.
4.6.7. Uji Asumsi Klasik
4.6.7.1.Uji multikolinearitas
Multikolinearitas dapat timbul jika variabel bebas saling berkorelasi satu sama
lain, sehingga multikolinearitas hanya dapat terjadi pada regresi berganda. Hal ini
besar pada hasil regresi. Perubahan tanda koefisien regresi ini dapat mengakibatkan
kesalahan menafsirkan hubungan antara variabel sehingga keberadaan
multikolinearitas ini harus diuji (Levin, 1998) supaya dapat dijamin bahwa variabel
independen di dalam penelitian tidak saling berkorelasi. Pengujian dapat dilakukan
dengan Colinearity Diagnostic serta partial correlation. Indikator yang digunakan
adalah melihat nilai collinearity statistics, yaitu nilai variance inflation factor (VIF)
lebih besar dari 10 dan nilai tolerance lebih kecil dari 0,10.
4.6.7.2.Uji heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
varians dari variabel tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda
disebut heteroskedastisitas. Jika angka signifikan yang diperoleh dari persamaan
regresi yang baru lebih besar dari alpha 5%, maka dikatakan tidak terjadi
heteroskedastisitas. Sebaliknya jika angka signifikan yang diperoleh lebih kecil dari
alpha 5%, maka dapat dikatakan terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2005).
Cara pengujian lain adalah dengan membuat diagram plot dari variabel yang
digunakan dalam penelitian. Jika diagram plot yang dibentuk menunjukkan pola
tertentu maka dapat dikatakan model tersebut mengandung gejala heteroskedastisitas.
Dalam penelitian ini cara yang digunakan untuk menguji heteroskedastisitas adalah
4.6.7.3.Uji autokorelasi
Autokorelasi adalah suatu kondisi di mana variabel gangguan pada periode
tertentu berkorelasi dengan variabel gangguan pada periode lain. Hal ini berarti
bahwa variabel gangguan tidak random. Keadaan autokorelasi ini dapat disebabkan
oleh berbagai hal seperti kesalahan dalam menentukan model, penggunaan lag pada
model, tidak memasukkan variabel yang penting. Untuk pengujian ada tidaknya
autokorelasi ini, penulis menggunakan uji Durbin Watson. Mekanisme uji Durbin
Watson adalah sebagai berikut:
1. Melakukan regresi dengan Ordinary Least Square (OLS), kemudian kita
menyimpan residualnya.
2. Menghitung nilai d dengan rumus:
Apabila model menggunakan lag dari variabel dependen, maka test Durbin
Watson yang dilakukan adalah:
2t-1 = Varian variabel lag dari variabel dependen.
3. Dengan jumlah sampel tertentu dan jumlah variabel independen tertentu,
diperoleh nilai kritis dl dan du dalam tabel distribusi Durbin Watson untuk
berbagai nilai (diambil langsung dari tabel).
4. Hipotesis yang digunakan adalah:
H0 = Tidak ada autokorelasi baik positif maupun negatif
d < dl = Tolak H0 (ada korelasi positif)
d > 4 - dl = Tolak H0 (ada korelasi negatif)
du < d < 4- du = Terima H0 (Tidak ada autokorelasi)
dl d du = Tidak dapat ditarik kesimpulan
(4-du) d (4-dl) = Pengujian tidak dapat disimpulkan
Gambar 4.1. Ilustrasi Daerah Pengambilan Keputusan Tes Durbin-Watson (Gujarati, 2003)
4.6.8. Pengujian Hipotesa
Untuk menentukan keputusan menerima atau menolak hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji regresi F-Test. F-test untuk
menguji pengaruh simultan variabel independen serta variabel kontrol terhadap
4 - dL
variabel dependen. Hipotesis dalam penelitian ini diterima jika F-hitung > F-tabel,
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
5.3. Deskriptif Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari Bursa Effek Indonesia (www.idx.co.id). Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI. Sedangkan pengambilan sampel
dilakukan dengan menggunakan purposive sampling.
Sesuai dengan syarat pengambilan sampel bahwa perusahaan yang dijadikan
sampel perusahaan adalah perusahaan yang menyajikan laporan keuangan tahun 2006
dan 2007, dan menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan pengungkapan informasi
CSR, BETA, dan PBV. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka diperoleh
sampel penelitian sebanyak 41 perusahaan dari 393 perusahaan.
5.1.7. Nilai Cumulative Abnormal Return (CAR)
Hasil perhitungan Cumulative Abnormal Return (CAR) dari setiap perusahaan
yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat dilihat dari Tabel 5.1. Cumulative
Abnormal Return merupakan proksi dari market’s expected earnings. Perhitungan
Tabel 5.1 merupakan perhitungan return dengan jangka waktu 15 bulan untuk setiap
tahun, sehingga data yang dikumpulkan untuk penelitian ini adalah pada periode 02
Januari 2006 sampai 31 Maret 2008. Hal ini berdasarkan temuan Lev (1989) dalam
Sayekti dan Wondabio (2007) bahwa perhitungan Cumulative Abnormal Return yang
diketahui bahwa perusahaan yang memiliki nilai Cumulative Abnormal Return
tertinggi tahun 2006 adalah PT. Mitra Adi Perkasa (MITI) yakni 9,074 dan yang
nilainya terendah adalah PT. Astra Grapia (ASGR) -1,505 sedangkan untuk tahun
2007 yang memiliki nilai tertinggi adalah PT. Bank Bumi Putera Indonesia (BABP)
yakni 10,257 dan nilai terendah adalah PT. Astra Grapia (ASGR) yakni -1,068.
Tabel 5.1. Perhitungan Cumulative Abnormal Return (CAR)
CAR
5 BABP PT BANK BUMIPUTERA INDONESIA 8,489 10,257
6 BBCA PT BANK CENTRAL ASIA -0,035 -0,566
17 CMNP PT CITRA MARGA NUSAPHALA PERSADA 0,813 -0,769
18 DILD PT INTILAND DEVELOPMENT 0,121 1,135
PT JAKARTA INTERNASIONAL HOTEL &
DEVELOPMENT 0,000 0,090
24 JSPT PT JAKARTA SETIABUDI INTERNASIONAL 0,391 1,279
25 KIJA PT JABABEKA 0,382 -0,487
26 KREN PT KRESNA GRAHA SEKURINDO -0,190 0,702
27 LPGI PT LIPPO GENERAL INSURANCE 4,203 2,360
28 MAPI PT MITRA ADI PERKASA 9,075 -0,680