TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA
INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS
KESEPADANAN TERJEMAHAN
TESIS
oleh
YUNIE AMALIA RAKHMYTA
097009020/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA
INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS
KESEPADANAN TERJEMAHAN
TESIS
oleh
YUNIE AMALIA RAKHMYTA
097009020/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA
INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS
KESEPADANAN TERJEMAHAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora
pada Program Studi Linguistik
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
YUNIE AMALIA RAKHMYTA
097009020/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM : SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN
Nama Mahasiswi : Yunie Amalia Rakhmyta Nomor`Induk : 097009020
Prodi : Linguistik
Konsentrasi : Terjemahan
Menyetujui Komisi Pembimbing
Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D
Ketua Anggota
Dra. Hayati Chalil, M.Hum
Ketua Program Studi Direktur
Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D
Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE
Telah diuji pada
Tanggal 07 Januari 2012
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D
Anggota : 1. Dra. Hayati Chalil, M.Hum
2. Dr. Roswita Silalahi, M. Hum
TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN
Oleh : Yunie Amalia Rakhmyta 097009020
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi penerjemahan, strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris pada terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis isi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 bait pantun cinta dalam dua bahasa yang berbeda, pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, atau kalimat yang terdapat dalam 10 bait pantun Melayu dan terjemahannya. Analisis data dilakukan dalam empat bagian, yaitu strategi struktural, strategi semantis, strategi pola pemindahan rima, strategi pola pemindahan metris. Dari hasil temuan menunjukkan penggunaan strategi struktural penambahan paling banyak digunakan oleh Katharine Sim (57,27%), pengurangan (2,73%), dan transposisi (40%). Strategi semantis yang digunakan Katharine Sim adalah pungutan (4,44%), padanan budaya 33,33%, analisis komponensial (20%), penyusutan (0%), perluasan (2,22%), penambahan (4,44%), penghapusan (11,11%), dan modulasi (24,44%). Katharine Sim tidak memperhatikan pola rima dalam terjemahannya. Hanya 20% (baris 1 dan 3) dan 0% (baris 2 dan 4) yang mengikuti pola rima a-b-a-b yang 100% dalam BS. Katharine Sim memperhatikan pola metris dalam menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Jumlah suku kata rata-rata dalam pantun BS adalah 9, sedangkan dalam terjemahannya rata-rata 8 suku kata. Di satu sisi, pola pemindahan metris masih mencerminkan bentuk pantun asli, tetapi di sisi lain, karena adanya pemadanan struktur dan pemindahan pola rima yang tidak mengikuti pola rima a-b-a-b, hasil terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim kehilangan “jiwa” nya dalam merasakan makna pantun. Kata kunci : strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, pola
The Translation of Pantun Melayu into English by Katharine Sim: An Analysis of Translation Equivalence
Abstract
The objective of this study is to find out the strategies used by Katharine Sim in translating pantun Melayu into English. This study uses descriptive qualitative research method. Data are taken from 10 verses of pantun Melayu in Katharine Sim’s book ‘Flowers of the Sun’ The analysis is divided into four parts, namely structural strategy, semantical strategy, strategy of transferring rhyme-pattern and strategy of transferring metrical-pattern. The findings show that Katharine Sim uses additional structural strategy (57,27%), substraction strategy (2,73%), and transposition strategy (40%). In semantical strategy Katharine Sim uses borrowing strategy (4,44%), cultural equivalent strategy (33,33%), componential analysis strategy (20%), reduction strategy (0%), expansion strategy ( 2,22% ), additional strategy (4,44%), deletion strategy (11,11%), and modulation strategy (24,44%). She does not pay attention on the rhyme of the pantun in her translation, only 20% of the translation pays attention on the rhyme of the target text. However,she pays attention on the metrical pattern of the pantun: there are 8 syllabbles (average) in each line of the BT, while in BS there are 9 syllables (average).
Key-words: : structural strategy, semantical strategy, transferring rhyme strategy,
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, penulis:
Nama : Yunie Amalia Rakhmyta
NIM : 097009020
Prodi : Linguistik
Judul Karya Ilmiah : Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh
Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan.
Menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah hasil pekerjaan penulis sendiri dan
sepanjang pengetahuan penulis tidak berisi materi yang ditulis oleh orang lain sebagai
persyaratan penyelesaian studi di perguruan tinggi ini atau di perguruan tinggi lain
kecuali pada bagian tertentu yang penulis ambil sebagai acuan dengan mengikuti tata
cara dan etika penulisan karya ilmiah yang lazim.
Apabila ternyata terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya
menjadi tanggung jawab penulis.
Medan, Desember 2011 Penulis,
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
berkat dan rahmat-Nya sehingga tesis ini dapat selesai dengan baik. Tesis yang
berjudul “Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh Katharine Sim:
Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan”, merupakan tugas akhir untuk memperoleh
gelar Magister Humaniora.
Tesis dengan judul “Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh
Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan”, merupakan penelitian
yang menganalisis kesepadanan hasil terjemahan pantun Melayu yang diterjemahkan
oleh penutur non-Melayu bernama Katharine Sim ke dalam bahasa Inggris.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun
secara praktis. Dengan demikian upaya pengkajian dan pengembangan penelitian
dibidang penerjemahan, khususnya kajian penerjemahan karya sastra dapat
dilanjutkan.
Dalam rangka pendalaman dan pengembangan kajian ini di masa yang akan
datang, saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk melaksanakan
penelitian-penelitian terkait.
Medan, Januari 2012 Penulis,
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
tesis ini. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa umat ke jalan yang diridhoi Allah.
Tesis ini tidak akan pernah selesai tanpa dukungan moral dan spiritual dari
berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D selaku pembimbing I dan Ketua Program
Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan memberi dukungan dalam proses dan
penyelesaian penulisan tesis ini.
Dra. Hayati Chalil, M.Hum selaku pembimbing II yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan memberi masukan yang menyeluruh
sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Ayahanda dan ibunda tercinta, Nirfan Jaya dan Ernawaty, yang telah
mengasuh, membesarkan, mendidik, mendukung dan mendoakan penulis selama
masa kuliah sampai penyelesaian tesis ini.
Seluruh staf pengajar di program studi Linguistik Sekolah Pascasarjana
berguna baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan secara umum maupun yang
menyangkut terjemahan.
Seluruh staf adminstrasi di lingkungan Program Studi Linguistik Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah membantu kelancaran proses
administrasi perkuliahan, ujian, dan penulisan tesis ini.
Seorang teman istimewa yang telah meluangkan waktu, memberi dukungan,
sumbangan pemikiran dan do’a bagi penulis dalam merampungkan tesis ini.
Semua teman sejawat yang dengan antusias telah memberikan dukungan dan
sumbangan pemikiran selama masa perkuliahan dan guna kesempurnaan tesis ini.
Seluruh keluarga dan seluruh teman penulis yang senantiasa memberi
dukungan, nasihat dan do’a sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan
menyelesaikan tesis ini.
Semoga Allah SWT membalas segala budi baik yang telah diberikan dengan
balasan yang berganda. Amin ya Robbal ‘alamin.
Medan, Desember 2011 Penulis,
RIWAYAT HIDUP
BIODATA
Nama : Yunie Amalia Rakhmyta
Tempat Tgl Lahir : Takengon, 01 Juni 1984
NIM : 097009020
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Abdul Hakim, Komplek Setia Budi Lestari
No. 4-A
Pekerjaan : Tenaga Pengajar
PENDIDIKAN FORMAL
1. SD : SDN 1 Takengon, lulus tahun 1996
2. SLTP : SLTPN 1 Takengon, lulus tahun 1999
3. SMU : SMAN 1 Banda Aceh, lulus tahun 2002
4. Perguruan Tinggi : Jurusan Sastra Inggris Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), tahun 2002-2003
Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Medan (UNIMED), lulus tahun 2008
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
LEMBAR PERNYATAAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
UCAPAN TERIMA KASIH ... x
RIWAYAT HIDUP ... xii
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ... xv
DAFTAR TABEL ... xvii
Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Batasan Penelitian ... 7
1.6 Klarifikasi Istilah ... 7
Bab II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Terjemahan dan Penerjemahan ... 10
2.2 Kesepadanan Terjemahan ... 11
2.3 Pantun ... 13
2.4 Strategi Penerjemahan ... 16
2.4.1 Strategi Struktural ... 19
2.4.2 Strategi Semantis ... 21
2.5 Penerjemahan Pantun ... 29
2.6 Katharine Sim ... 33
3.2 Sumber Data ... 35
3.3 Metodologi Analisis Data ... 36
3.3.1 Strategi struktural ... 36
3.3.2 Strategi semantis ... 37
3.3.3 Strategi pemindahan pola rima ... 38
3.3.4 Strategi pemindahan pola metris ... 39
Bab IV ANALISIS DATA, TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Data ... 41
4.1.1 Strategi Struktural ... 41
4.1.2 Strategi Semantis ... 47
4.1.3 Strategi Pemindahan Pola Rima ... 58
4.1.4 Strategi Pemindahan Pola Metris ... 61
4.2 Temuan ... 66
4.2.1 Strategi Struktural ... 66
4.2.2 Strategi Semantis ... 69
4.2.3 Strategi Memindahkan Pola Rima ... 75
4.2.4 Strategi Memindahkan Pola Metris ... 75
4.3 Pembahasan ... 76
4.3.1 Strategi Struktural ... 76
4.3.2 Strategi Semantis ... 81
4.3.3 Strategi Memindahkan Pola Rima ... 87
4.3.4 Strategi Memindahkan Pola Metris ... 88
Bab V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 90
5.2 Saran ... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 93
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
1. Daftar Singkatan
P : Pantun
BS : Bahasa Sumber
BT : Bahasa Target
B : Baris
Pg : Pungutan
PB : Padanan Budaya
AK : Analisis Komponensial
Pt : Penambahan
Ph : Penghapusan
M : Modulasi
AV : Auxiliary Verb
Tobe : To be
Prep : Preposition
Pro (S) : Pronoun sebagai subjek
V as (P) : Verb sebagai predikat
Pro (O) : Pronoun sebagai objek
T : Total
2. Daftar Lambang:
: Jika memenuhi kriteria
: Menjadi
: Data
(+): Penambahan
(-) : Pengurangan
(t) : Transposisi
-s : Akhiran –s pada kata kerja
T (1): Jumlah strategi struktural penambahan
T (2): Jumlah strategi struktural
T (3): Jumlah strategi semantis
DAFTAR TABEL
No Judul ... Halaman
1 Frekuensi Strategi Struktural yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 66
2 Frekuensi Strategi Penambahan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 67
3 Frekuensi Strategi Pengurangan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 68
4 Frekuensi Strategi Transposisi yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 68
5 Frekuensi Strategi Semantis yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 69
6 Frekuensi Strategi Pungutan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 70
7 Frekuensi Strategi Padanan Budaya yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 70
8 Frekuensi Strategi Analisis Komponensial yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 71
9 Frekuensi Strategi Perluasan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 71
10 Frekuensi Strategi Penambahan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 72
11 Frekuensi Strategi Penghapusan yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 72
12 Frekuensi Strategi Modulasi yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 73
13 Frekuensi Strategi Struktural dan Strategi Semantis yang Digunakan
14 Frekuensi Pemindahan Pola Rima yang Digunakan
Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 75
15 Frekuensi Pemindahan Pola Metris yang Digunakan
TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN
Oleh : Yunie Amalia Rakhmyta 097009020
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi penerjemahan, strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris pada terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis isi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 bait pantun cinta dalam dua bahasa yang berbeda, pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, atau kalimat yang terdapat dalam 10 bait pantun Melayu dan terjemahannya. Analisis data dilakukan dalam empat bagian, yaitu strategi struktural, strategi semantis, strategi pola pemindahan rima, strategi pola pemindahan metris. Dari hasil temuan menunjukkan penggunaan strategi struktural penambahan paling banyak digunakan oleh Katharine Sim (57,27%), pengurangan (2,73%), dan transposisi (40%). Strategi semantis yang digunakan Katharine Sim adalah pungutan (4,44%), padanan budaya 33,33%, analisis komponensial (20%), penyusutan (0%), perluasan (2,22%), penambahan (4,44%), penghapusan (11,11%), dan modulasi (24,44%). Katharine Sim tidak memperhatikan pola rima dalam terjemahannya. Hanya 20% (baris 1 dan 3) dan 0% (baris 2 dan 4) yang mengikuti pola rima a-b-a-b yang 100% dalam BS. Katharine Sim memperhatikan pola metris dalam menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Jumlah suku kata rata-rata dalam pantun BS adalah 9, sedangkan dalam terjemahannya rata-rata 8 suku kata. Di satu sisi, pola pemindahan metris masih mencerminkan bentuk pantun asli, tetapi di sisi lain, karena adanya pemadanan struktur dan pemindahan pola rima yang tidak mengikuti pola rima a-b-a-b, hasil terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim kehilangan “jiwa” nya dalam merasakan makna pantun. Kata kunci : strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, pola
The Translation of Pantun Melayu into English by Katharine Sim: An Analysis of Translation Equivalence
Abstract
The objective of this study is to find out the strategies used by Katharine Sim in translating pantun Melayu into English. This study uses descriptive qualitative research method. Data are taken from 10 verses of pantun Melayu in Katharine Sim’s book ‘Flowers of the Sun’ The analysis is divided into four parts, namely structural strategy, semantical strategy, strategy of transferring rhyme-pattern and strategy of transferring metrical-pattern. The findings show that Katharine Sim uses additional structural strategy (57,27%), substraction strategy (2,73%), and transposition strategy (40%). In semantical strategy Katharine Sim uses borrowing strategy (4,44%), cultural equivalent strategy (33,33%), componential analysis strategy (20%), reduction strategy (0%), expansion strategy ( 2,22% ), additional strategy (4,44%), deletion strategy (11,11%), and modulation strategy (24,44%). She does not pay attention on the rhyme of the pantun in her translation, only 20% of the translation pays attention on the rhyme of the target text. However,she pays attention on the metrical pattern of the pantun: there are 8 syllabbles (average) in each line of the BT, while in BS there are 9 syllables (average).
Key-words: : structural strategy, semantical strategy, transferring rhyme strategy,
Bab I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Penerjemahan teks, buku-buku dan informasi lain ke dalam bahasa Inggris
telah dilakukan oleh praktisi atau pakar-pakar terjemahan untuk penyebaran informasi
dari satu bahasa ke dalam bahasa lain. Namun, dibanding genre yang lain,
penerjemahan karya sastra merupakan kerja yang paling sulit bagi para penerjemah,
khususnya puisi yang memiliki nilai-nilai estetika dan ekspresif.
Pantun termasuk dalam karya sastra lisan yang penerjemahannya ke dalam
bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, berkembang sangat lambat. Bahkan ada yang
berpendapat bahwa pantun mustahil dapat diterjemahkan. Namun, diantara pro dan
kontra tentang penerjemahan pantun, sejak abad ke-19, penerjemahan pantun ke
dalam bahasa Inggris telah dilakukan oleh praktisi penerjemahan.
Penerjemahan pantun ke dalam bahasa Inggris merupakan jembatan yang
menghubungkan pembaca bahasa target (BT) yang tidak menguasai bahasa sumber
(BS), namun dapat menikmati pantun dalam BT. Nababan (1997:39) mengungkapkan
bahwa ada empat kendala utama yang dihadapi oleh penerjemah dalam
menerjemahkan teks, kendala itu adalah:
1. Sistem BS dan BT berbeda.
lagi menjadi tugas yang sulit untuk dilakukan. Pembahasan mengenai konsep
kesepadanan akan menjadi persoalan yang sepele. Kenyataannya, setiap bahasa
mempunyai sistem yang berbeda-beda.
2. Kompleksitas semantik dan stilistik.
Bidang semantik merupakan bidang yang sangat luas cakupannya dan cenderung
bersifat subjektif, karena kesubjektifannya hubungan makna suatu kata sangat erat
kaitannya dengan budaya pemakai bahasa tersebut. Selama suatu kata BS
menyangkut sesuatu yang juga terdapat dalam budaya BT, kesulitan dalam
pencarian padanan sedikit banyak bisa dikurangi. Kenyataan menunjukkan bahwa
ada kata dalam BS yang tidak terdapat dalam konteks BT. Disamping
kompleksitas semantik, kompleksitas stilistik juga merupakan salah satu faktor
penyebab sulitnya penerjemahan dilakukan. Teks sastra seperti pantun
diungkapkan dengan gaya yang berbeda dari gaya teks ilmiah. Karena budaya BS
dan budaya BT berbeda, maka gaya bahasa yang digunakan oleh kedua bahasa
tersebut juga berbeda.
3. Tingkat kemampuan penerjemah
Jika tingkat kesukaran sebuah teks dikaitkan dengan tingkat kemampuan
penerjemah, sebuah teks dianggap mudah untuk diterjemahkan apabila tingkat
kemampuan penerjemahnya sudah sangat baik. Namun, apabila kemampuan
penerjemah rendah dalam memahami bahasa teks yang diterjemahkan, maka teks
oleh karenanya tingkat kemampuan penerjemah menjadi salah satu faktor penentu
dalam proses penerjemahan.
4. Tingkat kualitas teks BS.
Rendahnya kualitas teks BS menyebabkan pesan yang sebenarnya terkandung
dalam BS sulit ditangkap atau dipahami. Sehingga akan muncul kesulitan dalam
proses penerjemahannya.
Dengan kata lain, jika konteks yang diterjemahkan merujuk ke sesuatu yang
tidak dikenal dalam budaya BT, maka tugas penerjemah menjadi lebih berat karena
harus menemukan padanan dalam BT (Nababan, 60: 1997).
Masalah kesepadanan merupakan bagian inti dari teori dan praktek
penerjemahan karena proses penerjemahan selalu melibatkan pencarian padanan.
(Barnstone, 1993 dalam Nababan, 62:1997). Analisis kesepadanan terjemahan
merupakan suatu analisis yang menggiring kepada konteks keterjemahan dan
ketakterjemahan. Konteks keterjemahan pada umumnya tidak menimbulkan masalah
dalam penerjemahan, sebaliknya konteks ketakterjemahan menimbulkan
permasalahan karena penerjemah harus menemukan padanan yang sesuai dalam BT
(Nababan, 62:1997). Menurut Baker (1992: 21), kesulitan yang timbul dalam
menemukan padanan disebabkan oleh 2 hal yakni :
1. Konsep khusus budaya
Kata BS diterjemahkan ke dalam konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam
budaya BT. Konsep ini dapat berkaitan dengan teks keagamaan, kesusasteraan,
yang erat kaitannya dengan adat istiadat di Melayu tetapi tidak dikenal dalam
budaya Inggris.
2. Kata BS yang tidak tersedia dalam BT
Kata BS diterjemahkan ke dalam suatu konsep yang dikenal dalam BT tetapi BT
tidak mempunyai padanan satu-satu untuk mengungkapkannya. Misalnya kata
“hamburger” dalam bahasa Inggris yang sudah dikenal dalam masyarakat
Indonesia, tetapi bahasa Indonesia tidak mempunyai padanan satu-satu untuk
mengungkapkan konsep yang dikandung oleh jenis makanan tersebut.
Oleh sebab itu, diperlukan strategi-strategi tertentu yang harus digunakan penerjemah
untuk menemukan efek padan dalam suatu hasil terjemahan.
Strategi penerjemahan merupakan bagian dari proses penerjemahan yang
diterapkan pada saat proses penerjemahan berlangsung, baik pada tahap analisis teks
BS maupun pada tahap pengalihan pesan (Silalahi, 2009: 29). Suryawinata dan
Hariyanto (2003:67) mengklasifikasikan strategi penerjemahan menjadi dua jenis
yaitu strategi struktural dan strategi semantis. Strategi struktural mengacu kepada
bentuk atau struktur bahasa, sedangkan strategi semantis mengacu pada makna atau
pesan bahasa. Berlatar dari hal tersebut, penelitian ini mencoba untuk
mendeskripsikan strategi yang digunakan seorang penerjemah asal Inggris Katharine
Sim, yang telah menerjemahkan pantun dari bahasa Melayu ke dalam bahasa Inggris.
Menurut Shunmugam (2007: 23), pada akhir abad ke-20 telah terdapat
beberapa kajian yang menyentuh terjemahan puisi termasuk pantun, seperti yang
Katharina Reiss (1971 dalam Dagut 1976), Menachem Dagut (1976) dan Jean-Vina
serta Jean Paul Darblenet (1995). Dagut memberikan sumbangan terbesar dalam
kegiatan ini. Dari kajian-kajian tersebut terdapat tiga pandangan utama yang muncul,
yaitu: 1). metafora tidak mungkin diterjemahkan 2). metafora dapat diterjemahkan
secara harfiah dan 3). ada metafora yang bisa diterjemahkan dan ada pula yang tidak
dapat diterjemahkan. Pendapat yang ketiga adalah pandangan yang paling mendekati
kenyataan. Bukan hanya Dagut, pendapat ini juga didukung oleh ahli bahasa seperti
Ian Mason, Peter Newmark dan Raymond van den Broeck.
Di dalam analisis pantun, permasalahan strategi yang digunakan penerjemah
tidak sesederhana atau terbatas hanya dalam menerjemahkan pantun secara umum,
tetapi juga strategi dalam menerjemahkan pola rima pantun dan menerjemahkan pola
metris pantun, hal ini amat penting dilakukan mengingat pantun merupakan warisan
khasanah budaya yang memiliki karakteristik visual tertentu yaitu bersajak a-b-a-b
atau a-a-a-a dan terdiri dari 8/10-12 suku kata tiap barisnya (Kristantohadi, 2010:15).
Pantun Melayu mulai dikenal oleh masyarakat non-Melayu melalui
terjemahan yang dilakukan (terutama ke dalam bahasa Inggris) sejak akhir abad ke-19
oleh non-penutur asli bahasa Melayu. Diantara karya-karya tersebut Katharine Sim
merupakan penerjemah pantun yang terkenal. Dalam buku kumpulan pantunnya
Flowers Of The Sun (1957) terdapat 150 pantun Melayu yang telah diterjemahkan ke
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merasa perlu untuk
menganalisis karya Katharine Sim untuk mendeskripsikan bagaimana strategi yang
digunakannya dalam menerjemahkan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris.
1.2Rumusan Masalah
Penelitian ini akan mengkaji strategi yang digunakan Katharine Sim dalam
menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Secara spesifik rumusan masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan pantun ke
dalam bahasa Inggris?
2. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola rima
pantun ke dalam bahasa Inggris?
3. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola metris
pantun ke dalam bahasa Inggris?
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan
pantun ke dalam bahasa Inggris.
2. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola
rima pantun ke dalam bahasa Inggris.
3. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi para penerjemah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan
untuk meningkatkan mutu terjemahan karya sastra.
2. Bagi para peneliti di bidang terjemahan, hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai masukan dalam menentukan arah penelitian selanjutnya, khususnya
penelitian mengenai evaluasi penerjemahan karya sastra dan pantun.
3. Bagi para pembaca (target-readers), hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman
untuk lebih memahami hasil terjemahan.
1.5Batasan Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada produk atau hasil karya terjemahan. Objek
kajian adalah strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah (Katharine Sim),
strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris. Satuan
terjemahan yang dikaji adalah kata, frase, dan kalimat yang terdapat dalam 10 pantun
Melayu dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, pernyataan
tentang strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah, strategi pola pemindahan
rima dan pola pemindahan metris disimpulkan berdasarkan analisis terhadap produk.
1.6Klarifikasi Istilah
Satu istilah mungkin saja memiliki lebih dari satu pengertian, maka untuk
menghindari kekeliruan pada istilah yang digunakan diperlukan klarifikasi.
Istilah-istilah yang perlu diklarifikasi dalam tulisan ini yaitu: terjemahan, bahasa sumber,
penerjemah, strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, dan pola
pemindahan metris. Klarifikasinya sebagai berikut:
1. Terjemahan dalam penelitian ini merupakan suatu produk dari proses
penerjemahan dari BS (bahasa Melayu) ke dalam BT (bahasa Inggris).
2. Bahasa sumber (BS) adalah bahasa yang digunakan pada teks asal yang
diterjemahkan. Dalam penelitian ini BS adalah bahasa Melayu.
3. Bahasa target (BT) adalah bahasa yang digunakan pada teks hasil yang
diterjemahkan. Dalam penelitian ini BT adalah bahasa Inggris.
4. Kesepadanan dalam penelitian ini merupakan suatu padanan yang menunjukkan
seberapa dekat teks BS dengan teks BT. Padanan adalah suatu bentuk dalam BT
dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk teks BS (Machali,
2000:106).
5. Metode penerjemahan merupakan cara proses penerjemahan yang dilakukan
dalam kaitannya dengan tujuan penerjemah. Metode penerjemahan adalah pilihan
global yang mempengaruhi keseluruhan teks (Molina & Albir dalam Silalahi,
2009:11).
6. Strategi yang digunakan penerjemah
Strategi yang digunakan penerjemah mengacu kepada cara penerjemah
(Katharine Sim) dalam mengatasi masalah ketidaksepadanan, baik yang
7. Strategi struktural
Strategi struktural mengacu pada strategi penerjemahan yang berkenaan dengan
struktur kalimat. Strategi struktural ini bersifat wajib dilakukan karena jika tidak
hasil terjemahannya akan tidak berterima secara struktural di dalam BT
(Suryawinata & Hariyanto, 2003:67).
8. Strategi semantis
Strategi semantis mengacu pada strategi penerjemahan yang langsung terkait
dengan makna kata atau kalimat yang sedang diterjemahkan. Strategi ini
dilakukan dengan pertimbangan makna. Strategi ini ada yang diterapkan pada
tataran kata, frase maupun kalimat (Suryawinata dan Hariyanto 2003:72).
9. Pola pemindahan rima
Pola pemindahan rima mengacu pada strategi penerjemah dalam memindahkan
pola rima (sajak) pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris yang dilihat dari ciri
visualnya, yaitu selayaknya pantun bersajak paralel a-b-a-b (Kristantohadi,
2010:15).
10. Pola pemindahan metris
Pola pemindahan metris mengacu pada strategi yang digunakan penerjemah
dalam memindahkan pola metris (suku kata) pantun Melayu ke dalam bahasa
Inggris dilihat dari ciri visualnya, yaitu selayaknya metris pantun berkisar
antara 8/10-12 suku kata dalam setiap baris pantun (Kristantohadi, 2010:15).
Bab II
KAJIAN PUSTAKA
2.1Terjemahan dan Penerjemahan
Menurut Bell (1991:13) terdapat tiga 3 makna kata terjemahan. Yang pertama
terjemahan mengacu kepada proses menerjemahkan (kegiatan menerjemahkan).
Kedua, mengacu pada hasil dari proses penerjemahan. Ketiga, konsep abstrak yang
menekankan pada keduanya, baik proses menerjemahkan maupun hasil dari proses
penerjemahan.
Nida (1982:12) menyatakan bahwa menerjemahkan artinya menghasilkan
pesan yang paling dekat, sepadan dan wajar dari BS ke BT, baik dalam hal makna
maupun gaya. Teks yang diterjemahkan dapat terdiri dari kata, rangkaian kata (frase),
kalimat, paragraf, dan sebagainya.
Newmark (1988:5) memaparkan bahwa terjemahan adalah pengalihan pesan
tulis dari teks BS ke teks BT. Kewajaran dalam penerjemahan berkaitan erat dan
dapat dicapai dengan penguasaan seorang penerjemah terhadap BS dan BT yaitu
dalam hal penguasaan gramatikal dan kosakata bahasa.
Proses penerjemahan merujuk pada linguistic operation yang dilakukan oleh
penerjemah dalam mengalihkan pesan teks BS ke BT dan diwujudkan dalam tiga
tahapan: 1). analisis teks bahasa sumber, 2). pengalihan pesan, 3). penyusunan
dihadapkan pada komunikasi (baik lisan maupun tulisan) dengan dua bahasa, dan ia
tidak bisa akses ke dalam salah satu bahasa tersebut maka ia akan membutuhkan
penerjemah atau interpreter.
Banyak perbedaan definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Namun pada
dasarnya semua menyatakan hal yang sama yaitu bahwa penerjemahan adalah suatu
upaya untuk mengalihkan pesan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain.
Sebagaimana dinyatakan oleh Nida dan Taber (1982:12), bahwa penerjemahan
adalah menciptakan kembali makna dalam BT, padanan alami yang paling
mendekati pesan dalam BS, baik dalam makna maupun dalam gaya. Dalam
melakukan aktifitas penerjemahan akan terjadi proses penerjemahan. Jadi proses
penerjemahan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang penerjemah
dalam memproses pengalihan informasi dari BS ke dalam BT. Menurut Dubois
dalam Roger T. Bell (1993:5) penerjemahan adalah penyampaian pesan bahasa
sumber ke dalam bahasa yang berbeda (bahasa target) dengan tetap menjaga
nilai-nilai semantis dan gaya padanan bahasa sumber.
2.2 Kesepadanan Terjemahan
“Padanan adalah suatu bentuk dalam bahasa target dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk teks bahasa sumber. Masalah kesepadanan bukanlah identik dengan kesamaan karena perdebatan mengenai konsep tersebut lebih banyak terkait dengan penerjemahan karya sastra yang melihat kesepadanan sebagai tuntutan untuk menghasilkan
Jika konsep yang diterjemahkan merujuk ke sesuatu yang tidak dikenal dalam
budaya target, maka tugas penerjemah menjadi lebih berat. Dalam situasi yang
demikian, Larson (1984: 163) mengungkapkan:
“Penerjemah tidak hanya harus mencari cara terbaik untuk merujuk ke sesuatu yang sudah merupakan bagian dari pengalaman pembaca sasaran, tetapi juga harus mencari cara terbaik untuk mengungkapkan konsep yang sama sekali baru kepada penutur bahasa penerima.”
Pada dasarnya, mayoritas penerjemah berpendapat bahwa menerjemahkan
karya sastra lebih sulit daripada menerjemahkan teks jenis lain (Newmark, 1988:70).
Beberapa ahli bahasa seperti Newmark (1988), Nida (1982) berpendapat bahwa ini
adalah karena fakta bahwa teks-teks sastra mengandung kata-kata dan struktur yang
spesifik. Struktur ini memberikan nilai khusus untuk teks-teks sastra yang membuat
terjemahan menjadi sangat sulit. Masalah tersebut muncul karena dalam
penerjemahan teks sastra terpaku pada menemukan padanan leksikal dan struktur
sintaksis yang setara (Newmark:1988:70). Pilihan-pilihan yang dibuat oleh para
penerjemah seperti keputusan apakah akan mempertahankan gaya bahasa dari teks
BS atau apakah akan menciptakan gaya baru pada BT menjadi isu penting dalam
menerjemahan karya sastra khususnya pantun. Hal ini disebabkan oleh kenyataan
bahwa pantun erat kaitannya dengan unsur kultur dan estetis dimana secara jelas
penggunaan kata dan strukturnya berbeda. Akibatnya di satu sisi menerjemahkan
kata dan struktur dari satu bahasa ke bahasa lain dianggap sudah cukup, namun di
sehingga penerjemahannya pun tidak dapat dilakukan sesederhana menerjemahkan
teks secara umum.
2.3 Pantun
Pantun merupakan salah satu genre puisi Melayu tradisional. Pantun
merupakan salah satu jenis puisi lama dalam beberapa bahasa Nusantara, terutama
bahasa Melayu (Abror, 2009:77). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Indonesia (Melayu). Semua bentuk pantun terdiri atas sampiran dan isi. Sampiran
adalah dua baris pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna), dan biasanya tak
punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua baris
terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Tiap bait
biasanya terdiri dari empat baris yang berpola rima a-b-a-b.
Kristantohadi (2010:15) mengulas pengertian pantun sebagai berikut:
Pantun adalah jenis puisi lama yang dilisankan dan biasanya memakai lagu. Berdasarkan bentuknya, pantun terdiri dari empat baris (4-5 kata atau 8-10/12 suku kata), bersajak ab-ab (boleh sajak paruh atau penuh), tiap-tiap baris terbagi dalam irama pantun yang beraturan. Baris 1 dan 2 dinamakan sampiran yang diangkat dari kekayaan alam seperti binatang dan tumbuhan.Sedangkan isi pantun langsung berkenaan dengan hal yang dimaksud terhadap pendengarnya”.
Pantun merupakan sastra lisan asli Melayu Nusantara (Kalimantan, Sulawesi, Riau,
Sumatera Timur) dan Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei) yang telah
berkembang dan dipelihara oleh masyarakat pendukungnya. Tengku Lah Husny
meliputi wilayah Sumatera Utara bagian Timur yaitu daerah Aceh Timur, Langkat,
Deli Serdang, Asahan, dan Labuhan Batu. Pada masa lalu, pantun digunakan untuk
mendekatkan diri satu sama lain, mengecoh, menyindir atau memberi nasihat untuk
mengekspresikan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, dan sebagainya. Pantun
masih hidup dan berkembang dalam upacara-upacara adat, terutama di Indonesia
dan Malaysia.
Menurut Harun Mat Piah (1989:5-7 dalam Abd. Rachman Abror 2009: 80)
ciri-ciri pantun adalah:
1. diciptakan dan disebarkan secara lisan dan bersifat kolektif dan fungsional, yaitu
tanpa dicantumkan pengarangnya dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.
2. bentuknya terikat oleh konvensi-konvensi tertentu yang seterusnya memberikan
bentuk dan struktur pada puisinya.
3. bersifat fungsional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pantun
untuk kegiatan seni yang berunsur hiburan dan ritual.
4. puisi tradisional berhubungan erat dengan magis dalam maksud dan pengertian
yang luas.
5. sebagai bahan yang berunsur magis dan ritual, puisi dianggap suci.
6. puisi Melayu tradisional juga mengandung unsur musik.
7. bahasanya padat, mengandung unsur lambang, imaji, kias, dan
perbandingan-perbandingan lain yang tepat dengan maksud dan fungsinya.
Perpuisian Melayu tradisional sebagian besar tidak bernama (anonim) dan
kehalusan jiwa para penggubahnya, dan keterbukaan orang Melayu terhadap dunia
luar (Shafie Abu bakar, 1997:17 dalam Abd Rachman Abror, 2009: 81).
Sebagai salah satu jenis puisi Melayu tradisional, secara umum terdapat dua
aspek penting dari pantun, yaitu aspek luar dan aspek dalam (Mat Piah, 1989:123-124
dalam Abd Rachman Abror 2009:82):
1. Aspek luar adalah struktur dan seluruh ciri visual yang dapat dilihat dan didengar,
yaitu:
a. terdiri dari rangkap-rangkap yang bersaingan. Setiap rangkap terjadi dari
garis-garis yang sejajar dan berpasangan, tetapi umumnya empat baris.
b. setiap baris mengandung empat kata dasar. Jadi, unit yang penting ialah
perkataan, sedangkan suku kata merupakan aspek sampingan.
c. adanya klimaks, yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau
perkataan pada bait isi.
d. setiap stanza terbagi pada dua unit, yaitu sampiran dan isi pada setiap baitnya.
e. adanya skema rima yang tetap, yaitu rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi
a-a-a-a. Selain rima, asonansi juga merupakan aspek yang dominan dalam
pembentukan sebuah pantun.
f. setiap bait pantun dalam semua bentuknya mengandung satu pikiran yang
bulat dan lengkap.
2. Aspek dalam adalah unsur-unsur yang dapat dirasakan secara subjektif menurut
a. penggunaan lambang-lambang tertentu menurut anggapan dan sudut pandang
masyarakat.
b. adanya relasi makna antara pasangan sampiran dan pasangan isi, juga ada
hubungan konkret atau abstrak atau melalui lambang-lambang.
Berikut adalah contoh pantun tradisional Melayu
Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya?
Apa guna bermain mata
Kalau tidak dengan sungguhnya?
Maksud dan isi dari pantun di atas terkandung dalam dua baris terakhir. Dua baris
pertama hanya bertindak sebagai “indikator” atau “awal”. Peran paling penting dari
indikator ini adalah untuk menjalankan fungsi rima.
2.4 Strategi Penerjemahan
Strategi penejemahan dimaknai sebagai tuntunan teknis untuk
menerjemahkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat, dengan kata lain strategi
penerjemahan adalah taktik penerjemah untuk menerjemahkan kata atau kelompok
kata, atau mungkin kalimat penuh bila kalimat tersebut tidak bisa di pecah lagi
menjadi unit yang lebih kecil untuk diterjemahkan (Suryawinata & Hariyanto,
2003:67). Sementara itu, Silalahi (2009: 29) menguraikan bahwa strategi
penerjemahan diterapkan pada saat proses penerjemahan berlangsung, baik pada
tahap analisis teks BS maupun pada tahap pengalihan pesan. Oleh sebab itu, strategi
dengan dipecahkannya permasalahan atau disadarinya bahwa masalah tersebut tidak
dapat dipecahkan.
Ada beberapa teori mengenai strategi penerjemahan yang dikemukakan oleh
pakar bahasa, antara lain:
Newmark (1988: 81-93) menawarkan strategi penerjemahan secara
semantis, yaitu pentransferan, naturalisasi, padanan budaya, padanan fungsi,
padanan deskriptif, sinonim, terjemahan langsung, transposisi, modulasi, terjemahan
resmi, kompensasi, reduksi dan ekspansi, parafrasa, pencatatan, dan penambahan.
Strategi penerjemahan yang dipaparkan oleh Newmark tersebut dapat menjadi
acuan bagi penerjemah untuk konsep-konsep yang tidak dikenal dalam bahasa
penerima. Strategi ini bersifat umum. Artinya, belum dimaksudkan untuk jenis teks
tertentu.
Menurut Baker (1992: 26-38) strategi penerjemahan untuk kata atau
ungkapan yang tidak memiliki padanan dalam BT meliputi:
1. Penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih umum.
Strategi ini adalah strategi yang paling umum yang dipakai oleh penerjemah
untuk mencari padanan dari berbagai macam kata yang tidak memiliki padanan
langsung.
2. Penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih netral.
Strategi ini digunakan untuk mengurangi kesan negatif yang ditimbulkan oleh
kata dalam BS yang dikarenakan oleh makna yang dimiliki oleh kata dalam BS
3. Penerjemahan dengan menggunakan pengganti kebudayaan.
Strategi penerjemahan ini adalah dengan mengganti konsep kebudayaan pada BS
dengan konsep kebudayaan BT yang setidaknya memiliki makna yang
menyerupai dalam BS tersebut.
4. Penerjemahan dengan menggunakan kata serapan atau kata serapan yang disertai
dengan penjelasan.
Strategi ini sering digunakan dalam menerjemahkan kata yang berhubungan
dengan kebudayaan, konsep modern dan kata yang tidak jelas maknanya.
5. Penerjemahan dengan parafrase.
Strategi ini digunakan ketika konsep yang diungkapkan dalam BS memiliki
makna kamus dalam BT tetapi memiliki bentuk yang berbeda, dan frekuensi
kemunculan kata tersebut lebih sering dalam BS. Penerjemahan dengan parafrase
ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan kata-kata yang
berbeda atau menggunakan kalimat untuk mengungkapkan makna kata yang
terdapat dalam BS.
Berikut ini adalah strategi penerjemahan yang dibagi menjadi dua jenis
utama menurut Suryawinata dan Hariyanto (2003:.67). Pertama adalah strategi
struktural yang berkenaan dengan struktur kalimat. Strategi struktural ini bersifat
wajib dilakukan karena jika tidak hasil terjemahannya akan tidak berterima secara
struktural di dalam BT. Strategi yang kedua adalah strategi semantis yang langsung
2.4.1 Strategi Struktural
Menurut Suryawinata dan Hariyanto (2003:70) terdapat tiga strategi dasar
yang berkenaan dengan masalah struktur, yaitu penambahan, pengurangan, dan
transposisi.
1. Penambahan
Penambahan atau addition adalah penambahan kata atau elemen struktural di
dalam BT karena struktur BT mengharuskan begitu. Penambahan ini merupakan
suatu keharusan bukan pilihan.
Contoh:
BS : Saya Guru
BT : I am a teacher
Dari contoh di atas, kata am, dan a harus ditambahkan demi keberterimaan
struktur BT.
Contoh lainnya adalah:
BS : Saya tidak suka nasi goreng.
BT : I do not like fried rice.
Dalam contoh di atas kata do juga harus ditambahkan karena alasan yang sama,
yakni keberterimaan struktur BT.
2. Pengurangan
Pengurangan atau substraction adalah pengurangan elemen struktural di dalam
BT. Seperti halnya penambahan, pengurangan ini merupakan keharusan bukan
Contoh:
BS : Mereka saling menyalahkan satu sama lain.
BT : They blame each other.
Dari contoh di atas elemen struktural yaitu “saling” dikurangkan dalam BT.
Contoh lain:
BS : Saya membelikan dua buah buku untuknya.
BT : I bought two books for him.
Dari contoh di atas kata “buah” dikurangi dalam BT demi keberterimaan struktur
BT.
3. Transposisi
Strategi penerjemahan ini digunakan untuk menerjemahkan kata, frase, klausa
atau kalimat. Transposisi dapat dianggap sebagai keharusan atau sebagai pilihan.
Transposisi menjadi keharusan apabila tanpa strategi ini makna BS tidak
tersampaikan. Transposisi menjadi pilihan apabila dilakukan karena alasan gaya
bahasa saja. Artinya, tanpa transposisi pun makna BS sudah bisa diterima oleh
pembaca teks BT. Dengan strategi ini penerjemah mengubah struktur asli BS di
dalam kalimat BT untuk mencapai efek yang padan. Pengubahan ini bisa berupa
pengubahan bentuk jamak ke bentuk tunggal, posisi kata sifat, bahkan
pengubahan struktur kalimat secara keseluruhan (Newmark, 1988: 85).
Pemisahan satu kalimat BS menjadi dua kalimat BT atau lebih, pengubahan letak
tunggal atau sebaliknya, atau penggabungan dua atau lebih kalimat BS menjadi
satu kalimat BT juga termasuk dalam strategi transposisi ini.
Contoh:
BS : “Alat musik bisa dibagi menjadi dua kelompok dasar”.
BT : Musical instruments can be divided into two basic groups.
Dari contoh diatas, letak kata sifat di dalam dua frase nomina “alat musik” dan
“dua kelompok dasar” di ubah letaknya, hal ini karena untuk banyak hal, bahasa
Indonesia mempunyai hukum D-M (diterangkan-menerangkan), jadi letak kata
sifat tersebut harus diubah. Dalam bahasa Inggris kata sifat berfungsi sebagai
unsur “menerangkan” harus berada di depan yang “diterangkan”. Pengubahan itu
bisa digambarkan sebagai berikut:
Alat musik : Musical instruments
Dua kelompok dasar : Two basic groups :
Selain pengubahan letak kata sifat seperti di atas, dari contoh tersebut juga
terdapat pengubahan dari bentuk kata tunggal menjadi jamak. Kata “alat”
(tunggal) diterjemahkan menjadi instruments (jamak). Demikian juga dengan kata
“kelompok”(tunggal) diterjemahkan menjadi groups (jamak).
2.4.2 Strategi Semantis
Strategi semantis adalah strategi penerjemahan yang dilakukan dengan
pertimbangan makna. Strategi ini ada yang diterapkan pada tataran kata, frase
maupun kalimat. Suryawinata dan Hariyanto (2003:72-75) mengklasifikasikan
1. Pungutan
Pungutan atau borrowing adalah strategi penerjemahan yang membawa langsung
kata BS ke dalam teks BT. Penerjemah sekedar memungut kata BS yang ada.
Salah satu alasan digunakannya strategi ini adalah untuk menunjukkan
penghargaan terhadap kata-kata tersebut. Alasan lain adalah belum ditemuinya
padanan di dalam BT. Pungutan bisa mencakup transliterasi dan naturalisasi.
Transliterasi adalah strategi yang mempertahankan kata-kata BS tersebut secara
utuh baik bunyi maupun tulisannya. Sedangkan dengan naturalisasi kata-kata BS
tersebut ucapan dan penulisannya disesuaikan dengan aturan BT. Naturalisasi ini
juga sering disebut dengan adaptasi.
Contoh :
BS : mall
Transliterasi : mall (bunyi)
Naturalisasi dalam BT : mal (bunyi dan tulisan)
Strategi pungutan ini biasanya digunakan untuk kata-kata atau frase-frase yang
berhubungan dengan nama orang, nama tempat, gelar lembaga, atau istilah-istilah
yang belum ada dalam BT.
2. Padanan Budaya
Dengan strategi padanan budaya atau Cultural Equivalent ini penerjemah
menggunakan kata khas dalam BT untuk mengganti kata khas dalam BS. Hal
utama yang perlu diperhatikan adalah kata khas budaya diganti dengan kata yang
bahasa lain kemungkinan besar berbeda, maka kemungkinan besar strategi ini
tidak bisa menjaga ketepatan makna. Meskipun begitu strategi ini bisa membuat
kalimat dalam BT menjadi mulus dan enak dibaca.
Contoh:
BS : Jaksa Agung
BT : Attorney General
Di dalam bahasa Inggris “Jaksa Agung” diterjemahkan menjadi Attorney General
(bukan Great Attorney). Hal ini dikarenakan jabatan”Jaksa Agung” di Inggris
dinamakan Attorney General.
3. Analisisis Komponensial
Menurut Larson (1984: 96), penerjemah tidak hanya berurusan dengan
konsep dalam satu sistem bahasa, tetapi juga konsep dalam sistem
dari dua bahasa. Karena setiap bahasa menggambarkan suatu daerah tertentu,
realitas atau pengalaman yang berbeda, penerjemah harus seakurat mungkin
memeriksa setiap kata dalam kedua sistem bahasa untuk menemukan kata atau
frase yang paling akurat dalam BT. Menurut Newmark (1988: 90) "satu-satunya
tujuan analisis komponensial dalam penerjemahan adalah untuk mencapai akurasi
terbesar dengan BT”. Dengan strategi analisis komponensial sebuah kata BS
diterjemahkan ke dalam BT dengan cara merinci komponen-komponen makna
kata BS tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak adanya padanan satu-satu di BT,
Contoh:
BS : “Gadis itu menari dengan luwesnya”
BT : The girl is dancing with great fluidity and grace.
Dengan strategi ini, “luwes” bisa diterjemahkan menjadi “bergerak dengan halus
dan anggun” atau dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan move with great
fluidity and grace.
4. Penyusutan
Strategi ini mengacu pada penyusutan komponen kata BS setelah diterjemahkan ke
dalam BT untuk menghasilkan makna yang relevan. Strategi penyusutan ini harus
menghormati prinsip relevansi, yaitu, penerjemah harus memastikan bahwa tidak
ada informasi penting yang terdapat dalam terjemahan
Contoh:
(Newmark, 1988:90)
BS : “Dia belajar ilmu politik di Universitas tersebut”.
BT : “ He studiespolitics in the University”
Dari contoh diatas
Contoh:
penerjemah menyusutkan jumlah komponen kata BS “ilmu
politik” menjadi “politics” di dalam BT demi mempertimbangkan prinsip
relevansi makna.
BS : automobile
BT : “mobil”
Dari contoh di atas kata automobile dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi
menjadi “mobil” saja. Dalam kedua bahasa tersebut, baik bahasa Inggris maupun
bahasa Indonesia, kata automobile dan “mobil” mengacu pada makna yang sama.
5. Perluasan
Perluasan adalah lawan penyusutan. Perluasan mengacu pada hal dimana
penerjemah memperbanyak jumlah kata BS dalam BT untuk mendapatkan makna
yang paling tepat.
Contoh:
BS : Whale
BT : “ikan paus”
Kata whale diterjemahkan menjadi “ikan paus”, elemen “ikan” ditambahkan
karena jika diterjemahkan “paus” saja maknanya akan kurang baik di dalam
bahasa Indonesia, karena “paus” berarti pemimpin umat Katolik sedunia, atau “the
pope” dalam bahasa Inggris.
Selanjutnya, strategi perluasan juga terjadi ketika penerjemah mencoba untuk
bergerak dari implisit menjadi eksplisit.
Contoh:
BS : “the child cries for the toy”
BT : “anak itu menangis untuk mendapatkan mainan”
“The child cries for the toy” kurang tepat bila diterjemahkan menjadi "anak itu
menangis untuk mainan”, karena kata “untuk” pada kalimat di atas tidak
menyampaikan makna yang tepat dan dapat membingungkan pembaca. Jadi
tersebut, yang bermakna (agar/supaya mendapatkan). Maka terjemahannya
menjadi lebih baik jika, “anak itu menangis untuk mendapatkan mainan”.
6. Penambahan
Berbeda dengan penambahan pada strategi struktural, penambahan ini dilakukan
karena pertimbangan kejelasan makna. Penerjemah memasukkan informasi
tambahan di dalam teks terjemahannya karena penerjemah berpendapat bahwa
pembaca memang memerlukannya. Menurut Newmark (1988: 91-92) informasi
tambahan ini bisa diletakkan di dalam teks, di bagian bawah halaman (berupa
catatan kaki), atau di bagian akhir dari teks.
Prosedur ini biasanya digunakan untuk membantu menerjemahkan kata-kata yang
berhubungan dengan budaya, teknis, atau ilmu-ilmu lainnya.
Contoh:
BS : The skin, which is hard and scaly, is greyish in color, thus
helping to camouflage it from predators when underwater.
BT :“Kulitnya, yang keras dan bersisik, berwarna abu-abu. Dengan
demikian, kulit ini membantunya berkamuflase, menyesuaikan diri
dengan keadaan lingkungan untuk menyelamatkan diri dari predator,
hewan pemangsa, jika berada di dalam air”.
Dari contoh di atas, camouflage dan predator dipungut ke dalam BT. Selain itu,
informasi tambahan tentang masing-masing istilah ilmu biologi ini juga diberikan.
“hewan pemangsa”. Penambahan dimaksudkan untuk pertimbangan stilistika atau
kelancaran kalimat BT.
7. Penghapusan
Penghapusan atau omission berarti penghapusan kata atau bagian teks BS di dalam
teks BT. Penghapusan dapat berarti tidak diterjemahkannya kata atau bagian teks
BS ke dalam BT. Pertimbangannya adalah kata atau bagian teks BS tersebut tidak
begitu penting bagi keseluruhan teks BT atau bisa saja agak sulit untuk
diterjemahkan. Jadi, mungkin saja penerjemah berpikir, daripada harus
menerjemahkan kata atau bagian teks BS dengan konsekuensi pembaca BT
bingung, maka lebih baik bagi penerjemah untuk menghilangkan saja bagian itu
karena perbedaan maknanya tidak signifikan.
Contoh:
BS : “Sama dengan raden ayu ibunya,” katanya berbisik.
BT : Just like her mother, she whispered
Secara makna, dalam contoh di atas terlihat penerjemah memilih untuk tidak
menerjemahkan frase “raden ayu”, tetapi hanya menerjemahkan “ibunya” menjadi
her mother. Hal ini dilakukan karena mungkin saja penerjemah menganggap
bahwa “raden ayu” tidak memiliki fungsi yang signifikan dalam kalimat BS dan
lebih mudah difahami dalam BT.
8. Modulasi
Modulasi adalah strategi untuk menerjemahkan frase, klausa, atau kalimat dimana
(Newmark, 1988:88). Strategi ini digunakan jika penerjemahan kata-kata dengan
makna literal tidak menghasilkan terjemahan yang wajar atau luwes.
Contoh:
BS : I get my hair cut.
BT : “Rambutku di potong”
Dari contoh di atas, penerjemah memandang persoalannya dari objeknya, yaitu
“rambut”, bukan dari segi pelaku “I”. Cara pandang ini merupakan suatu
keharusan karena struktur BT memang menghendaki begitu. (Contoh kalimat ini
bisa juga disebut transposisi, karena struktur kalimat aktif diubah menjadi pasif).
BS : Anthropologist have reacted to the diversity of cultural
arrangements in two ways.
BT : “Terhadap keragaman pengaturan budaya, reaksi antropolog dapat
dibedakan menjadi dua corak”.
Pada contoh terjemahan di atas terjadi keduanya, modulasi dan transposisi.
Modulasi yang terjadi pada terjemahan di atas terdapat pada frase “dapat
dibedakan menjadi” yang dalam BS ini hanya tersirat. Salah satu ciri modulasi
yaitu apa yang tersirat dalam BS menjadi tersurat dalam BT. Transposisi pada
terjemahan kalimat di atas yaitu pemilihan gaya penerjemahan. Biasanya seorang
penerjemah akan menerjemahkan mulai dari subjek kalimat, yaitu
“anthropologists”. Akan tetapi, dari contoh di atas penerjemah memulai dari frase
Strategi struktural dan strategi semantis sebenarnya secara bersama-sama
digunakan penerjemah. Penerjemah selayaknya menggunakan strategi tertentu di
dalam proses penerjemahannya. Strategi-strategi ini digunakan secara berkombinasi
di dalam proses penerjemahan (Suryawinata & Hariyanto, 2003:76).
2.5 Penerjemahan Pantun
Penerjemahan karya sastra khususnya pantun tidak sama dengan
penerjemahan teks pada umumnya, karena bukan hanya makna yang akan
dipindahkan dari BS ke BT, tetapi juga harus mempertimbangkan sisi estetika yang
menjadi ciri khas sebuah pantun. Menurut Andre Lavefere dalam Basnett-McGuire
dalam Suryawinata dan Hariyanto dalam Kusmawarti (2007:27-28), penerjemahan
puisi termasuk pantun dapat dilakukan dengan tujuh metode yaitu:
1. Penerjemahan fonemik
Penerjemahan fonemik adalah penerjemahan dengan menciptakan bunyi yang
sama antara puisi BS dan BT sekaligus memindahkan makna. Sayangnya,
penggunaan metode ini biasanya menghasilkan bunyi yang canggung dan kadang
menghilangkan beberapa bagian makna asli.
2. Penerjemahan literal
Penerjemahan literal adalah penerjemahan kata demi kata. Metode ini tidak akan
mampu memindahkan makna asli, karena frase dan struktur kalimat cenderung
3. Penerjemahan metris
Penerjemahan metris adalah penerjemahan yang menekankan agar menghasilkan
metris yang sama antara puisi asli dan puisi BT. Setiap bahasa memiliki sistem
penekanan dan ejaan masing-masing. Karena itu metode ini akan menghasilkan
hasil terjemahan yang tidak sesuai secara makna dan struktur.
4. Penerjemahan bait ke prosa
Penerjemahan bait ke prosa adalah penerjemahan makna ke BT dalam bentuk
prosa. Kelemahan dari metode ini adalah hilangnya sisi keindahan dari puisi asli.
5. Penerjemahan rima/sajak
Penerjemahan rima adalah penerjemahan yang menekankan pada pemindahan
rima puisi asli ke BT. Hasil terjemahannya akan sesuai secara fisik tetapi
cenderung tidak sesuai secara makna.
6. Penerjemahan bait secara bebas
Penerjemahan bait secara bebas adalah penerjemahan dengan memindahkan
makna puisi asli dengan menggunakan padanan yang akurat dan memiliki nilai
sastra dalam BT. Penggunaan metode ini cenderung mengabaikan rima dan
metris puisi asli. Hasil terjemahannya akan berbeda secara fisik, tetapi secara
semantik sama.
7. Penerjemahan Interpretasi
Penerjemahan interpretasi adalah menerjemahkan dengan cara interpretasi pribadi
penerjemah. Ada dua jenis interpretasi; yang pertama adalah ‘versi’ dan yang
semantik sama dengan puisi asli, tetapi secara fisik sangat berbeda. Sedangkan
terjemahan imitasi menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi susunan, topik,
dan starting point sama dengan puisi asli.
Penerjemahan literal, metris, dan rima menekankan pada bentuk atau struktur
poetik dari sebuah puisi, sedangkan penerjemahan fonemik, penerjemahan bait ke
prosa, penerjemahan bait secara bebas, dan penerjemahan interpretasi menekankan
pada makna yang akan dipindahkan dari BS ke BT. Semua metode di atas hanya
menekankan pada satu atau beberapa komponen poetik.
Aristotle dalam Shunmugam (2007:22) mengasumsikan bahwa bahasa puisi
(termasuk pantun) adalah “penyimpangan” dari bahasa biasa. Meskipun ini tidak
sepenuhnya benar, namun seringkali penciptaan bahasa puisi mengabaikan
norma-norma semantik dan sintaktik untuk menghasilkan efek tertentu pada sebuah karya
puisi. Suatu “penyimpangan” linguistik tidak terjadi secara acak dalam suatu karya
sastra, tidak berdiri sendiri, tetapi berpola dengan gejala linguistik yang lain dalam
membentuk suatu kesatuan yang utuh. “Penyimpangan” tersebut tidak dapat
dipahami secara terpisah, tetapi dapat dipahami hubungannya dengan sistem bahasa
yang bersangkutan. “Penyimpangan” itu harus dilihat dalam konteks BS.
Menerjemahkan puisi tidaklah mudah, mengingat struktur puisi yang unik dan tidak
sama dengan karya sastra jenis lain. Penerjemahan puisi bukan hanya menyangkut
kesepadanan kata, tetapi juga berkaitan dengan unsur budaya dan jiwa yang terdapat
Tradisi berpantun telah tersebar luas di dalam masyarakat Melayu tradisional.
Begitu luasnya penggunaan pantun dalam masyarakat Melayu sehingga pantun telah
membentuk sebagian dari bahasa sehari-hari masyarakat Melayu (Shunmugam, 2007:
26). Pantun dapat dikategorikan sesuai penggunaannya seperti pantun kanak-kanak,
dewasa dan orangtua yang secara langsung terpecah lagi menjadi kategori-kategori
tertentu seperti pantun mengejek, pantun nasihat, pantun pendidikan dan lain-lain.
Pantun memiliki nilai khasanah budaya yang cukup besar pengaruhnya dalam
masyarakat Melayu. Pantun sebagai khasanah tradisi lisan mempunyai peran
sosio-budaya dalam masyarakat Melayu. Dalam Kristantohadi (2010:15), pantun harus
memenuhi format struktural yaitu baris pantun harus berpola rima dalam posisi kata
terakhir. Setiap baris terdiri dari antara 8 sampai 12 suku kata, biasanya yang terbaik
adalah 9 suku kata.
Pantun telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sejak abad ke-19,
terutama oleh non-penutur asli bahasa Melayu. Yang paling utama dalam
penerjemahan pantun adalah kontribusinya terhadap penyebaran pantun kepada
pembaca non-Melayu. Di bawah ini adalah sebait pantun Melayu dan terjemahannya
dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim:
Sirih kuning dalam lalang Golden fair in the long grass Jatuh sehelai ditepuk hujan One blade falls, struck down by rain
2.6 Katharine Sim
Katharine Sim (1913-tak diketahui) adalah wanita berkebangsaan Inggris
yang berminat besar dalam bahasa dan budaya Melayu. Ia tinggal di Singapura
bersama suaminya; seorang pegawai negeri sipil yang juga berkebangsaan Inggris.
Sim tinggal cukup lama di Malaysia dan Singapura sehingga ia memiliki dasar yang
kuat dalam menerjemahkan pantun Melayu Malaysia ke dalam bahasa Inggris.
Beberapa karyanya yang terkenal:
1. (1947)
2. (Jan 1, 1955)
3. (1957)
4. (1957 , revisi Des 31, 1987)
5. Malayan Landscape (Hardcover - 1957)
6. Black Rice (1959)
7. (1959)
8. (1961)
9. Costumes of Malaya (1963)
10.(1969)
11.(Paperback - Jun 2001)
12.(Paperback - 1981)
Sim menginjakkan kakinya pertama kali di semenanjung Malaysia setibanya
dari Inggris sebagai memsahib muda mendampingi suaminya Stuart Sim, seorang
pegawai negeri sipil di kantor bea cukai Parit Buntar, Perak, Penang. Dari sinilah
kecintaan Sim terhadap kebudayaan Melayu mulai dituangkan ke dalam tulisan.
Sebagai seniman profesional, Sim juga menuangkan inspirasinya terhadap Melayu di
atas kanvas. Sim mengakui bahwa selama periode lima tahun terakhir sebelum
dirinya dan sang suami akan meninggalkan Malaya pada tahun 1960 karena pensiun
bawah nama samaran Melayu untuk koran lokal Inggris. Semua usahanya itu sangat
membuka wawasan dan menambah pengalaman, ungkap Sim. (Shunmugam
Bab III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode
deskriptif kualitatif menurut Bungin (2007:5) adalah upaya memecahkan masalah
berdasarkan pengalaman peneliti dan objek penelitiannya. Metode kualitatif
mencakup tahapan berpikir kritis ilmiah melalui pengamatan di lapangan,
menentukan metode dan teori serta menganalisis data. Peneliti kualitatif memberikan
informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Penelitian ini terfokus pada analisis isi yaitu meneliti strategi penerjemah dalam
menerjemahkan pantun, memindahkan pola rima pantun dan memindahkan pola
metris pantun ke dalam BT. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
metode komparatif, yaitu membandingkan naskah sumber dengan naskah target.
3.2.Sumber Data
Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 pantun
cinta (setiap pantun terdiri dari empat baris) dalam dua bahasa yang berbeda, pantun
Melayu dan terjemahannya dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim dalam buku
Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup kata, frase, dan kalimat
yang terdapat dalam 10 pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris
oleh Katharine Sim.
3.3 Metodologi Analisis Data
Untuk menjawab rumusan masalah pertama, yaitu bagaimana strategi yang
digunakan Katharine Sim dalam menerjemahkan pantun, penelitian ini akan
menggunakan klasifikasi strategi penerjemahan yang dikemukakan oleh Suryawinata
dan Hariyanto (2003 : 67). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
3.3.1 Strategi Struktural
1. Peneliti membaca dan memahami pantun Melayu dalam BS.
2. Peneliti membaca dan memahami versi terjemahannya.
3. Peneliti memeriksa teks pantun asli dan terjemahannya baris demi baris.
P 1 B 1 Dari mana punai melayang?
From whence do the pigeons fly? (+do; +the; t punai =
pigeons)
B 2 Dari paya turun ke padi
From the swamp to the padi (+ the; + the)
B 3 Dari mana datang sayang?
From whence comes this love ? (+s; + this)
B 4 Dari mata turun ke hati
From the eyes down to the heart (+the; t mata= eyes;
+the)
4. Peneliti mengkategorisasikan strategi yang digunakan penerjemah dalam
menerjemahkan pantun BS ke BT dengan menggunakan klasifikasi strategi
Baris
5. Peneliti menghitung frekuensi strategi struktural yang digunakan penerjemah
pada setiap pantun.
6. Peneliti menyimpulkan frekuensi strategi struktural yang digunakan penerjemah
pada setiap pantun.
3.3.2 Strategi Semantis
1. Peneliti membaca dan memahami pantun Melayu dalam BS.
2. Peneliti membaca dan memahami versi terjemahannya.
3. Peneliti memeriksa teks pantun asli dan terjemahannya baris demi baris.
P 1 B.1 Dari mana punai melayang?
From whence do the pigeons fly? (PBpunai = pigeons)
B 2 Dari paya turun ke padi
From the swamp to the padi (Ph turun; Pg Padi =padi)
B 3 Dari mana datang sayang?
From whence comes this love ?
B 4 Dari mata turun ke hati
From the eyes down to the heart
4. Peneliti mengkategorisasikan strategi yang digunakan penerjemah dalam
menerjemahkan pantun BS ke BT dengan menggunakan klasifikasi strategi