• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA

INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS

KESEPADANAN TERJEMAHAN

TESIS

oleh

YUNIE AMALIA RAKHMYTA

097009020/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA

INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS

KESEPADANAN TERJEMAHAN

TESIS

oleh

YUNIE AMALIA RAKHMYTA

097009020/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA

INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS

KESEPADANAN TERJEMAHAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora

pada Program Studi Linguistik

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

YUNIE AMALIA RAKHMYTA

097009020/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(4)

Judul Tesis : TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM : SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN

Nama Mahasiswi : Yunie Amalia Rakhmyta Nomor`Induk : 097009020

Prodi : Linguistik

Konsentrasi : Terjemahan

Menyetujui Komisi Pembimbing

Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D

Ketua Anggota

Dra. Hayati Chalil, M.Hum

Ketua Program Studi Direktur

Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D

Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE

(5)

Telah diuji pada

Tanggal 07 Januari 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D

Anggota : 1. Dra. Hayati Chalil, M.Hum

2. Dr. Roswita Silalahi, M. Hum

(6)

TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN

Oleh : Yunie Amalia Rakhmyta 097009020

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi penerjemahan, strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris pada terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis isi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 bait pantun cinta dalam dua bahasa yang berbeda, pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, atau kalimat yang terdapat dalam 10 bait pantun Melayu dan terjemahannya. Analisis data dilakukan dalam empat bagian, yaitu strategi struktural, strategi semantis, strategi pola pemindahan rima, strategi pola pemindahan metris. Dari hasil temuan menunjukkan penggunaan strategi struktural penambahan paling banyak digunakan oleh Katharine Sim (57,27%), pengurangan (2,73%), dan transposisi (40%). Strategi semantis yang digunakan Katharine Sim adalah pungutan (4,44%), padanan budaya 33,33%, analisis komponensial (20%), penyusutan (0%), perluasan (2,22%), penambahan (4,44%), penghapusan (11,11%), dan modulasi (24,44%). Katharine Sim tidak memperhatikan pola rima dalam terjemahannya. Hanya 20% (baris 1 dan 3) dan 0% (baris 2 dan 4) yang mengikuti pola rima a-b-a-b yang 100% dalam BS. Katharine Sim memperhatikan pola metris dalam menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Jumlah suku kata rata-rata dalam pantun BS adalah 9, sedangkan dalam terjemahannya rata-rata 8 suku kata. Di satu sisi, pola pemindahan metris masih mencerminkan bentuk pantun asli, tetapi di sisi lain, karena adanya pemadanan struktur dan pemindahan pola rima yang tidak mengikuti pola rima a-b-a-b, hasil terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim kehilangan “jiwa” nya dalam merasakan makna pantun. Kata kunci : strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, pola

(7)

The Translation of Pantun Melayu into English by Katharine Sim: An Analysis of Translation Equivalence

Abstract

The objective of this study is to find out the strategies used by Katharine Sim in translating pantun Melayu into English. This study uses descriptive qualitative research method. Data are taken from 10 verses of pantun Melayu in Katharine Sim’s book ‘Flowers of the Sun’ The analysis is divided into four parts, namely structural strategy, semantical strategy, strategy of transferring rhyme-pattern and strategy of transferring metrical-pattern. The findings show that Katharine Sim uses additional structural strategy (57,27%), substraction strategy (2,73%), and transposition strategy (40%). In semantical strategy Katharine Sim uses borrowing strategy (4,44%), cultural equivalent strategy (33,33%), componential analysis strategy (20%), reduction strategy (0%), expansion strategy ( 2,22% ), additional strategy (4,44%), deletion strategy (11,11%), and modulation strategy (24,44%). She does not pay attention on the rhyme of the pantun in her translation, only 20% of the translation pays attention on the rhyme of the target text. However,she pays attention on the metrical pattern of the pantun: there are 8 syllabbles (average) in each line of the BT, while in BS there are 9 syllables (average).

Key-words: : structural strategy, semantical strategy, transferring rhyme strategy,

(8)

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, penulis:

Nama : Yunie Amalia Rakhmyta

NIM : 097009020

Prodi : Linguistik

Judul Karya Ilmiah : Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh

Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan.

Menyatakan bahwa karya ilmiah ini adalah hasil pekerjaan penulis sendiri dan

sepanjang pengetahuan penulis tidak berisi materi yang ditulis oleh orang lain sebagai

persyaratan penyelesaian studi di perguruan tinggi ini atau di perguruan tinggi lain

kecuali pada bagian tertentu yang penulis ambil sebagai acuan dengan mengikuti tata

cara dan etika penulisan karya ilmiah yang lazim.

Apabila ternyata terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya

menjadi tanggung jawab penulis.

Medan, Desember 2011 Penulis,

(9)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

berkat dan rahmat-Nya sehingga tesis ini dapat selesai dengan baik. Tesis yang

berjudul “Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh Katharine Sim:

Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan”, merupakan tugas akhir untuk memperoleh

gelar Magister Humaniora.

Tesis dengan judul “Terjemahan Pantun Melayu ke dalam Bahasa Inggris oleh

Katharine Sim: Suatu Analisis Kesepadanan Terjemahan”, merupakan penelitian

yang menganalisis kesepadanan hasil terjemahan pantun Melayu yang diterjemahkan

oleh penutur non-Melayu bernama Katharine Sim ke dalam bahasa Inggris.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun

secara praktis. Dengan demikian upaya pengkajian dan pengembangan penelitian

dibidang penerjemahan, khususnya kajian penerjemahan karya sastra dapat

dilanjutkan.

Dalam rangka pendalaman dan pengembangan kajian ini di masa yang akan

datang, saran yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk melaksanakan

penelitian-penelitian terkait.

Medan, Januari 2012 Penulis,

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji Syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan

rahmat, taufik dan hidayah-Nya bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

tesis ini. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang

telah membawa umat ke jalan yang diridhoi Allah.

Tesis ini tidak akan pernah selesai tanpa dukungan moral dan spiritual dari

berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan

terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D selaku pembimbing I dan Ketua Program

Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah

membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan memberi dukungan dalam proses dan

penyelesaian penulisan tesis ini.

Dra. Hayati Chalil, M.Hum selaku pembimbing II yang dengan sabar telah

membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan memberi masukan yang menyeluruh

sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Ayahanda dan ibunda tercinta, Nirfan Jaya dan Ernawaty, yang telah

mengasuh, membesarkan, mendidik, mendukung dan mendoakan penulis selama

masa kuliah sampai penyelesaian tesis ini.

Seluruh staf pengajar di program studi Linguistik Sekolah Pascasarjana

(11)

berguna baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan secara umum maupun yang

menyangkut terjemahan.

Seluruh staf adminstrasi di lingkungan Program Studi Linguistik Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah membantu kelancaran proses

administrasi perkuliahan, ujian, dan penulisan tesis ini.

Seorang teman istimewa yang telah meluangkan waktu, memberi dukungan,

sumbangan pemikiran dan do’a bagi penulis dalam merampungkan tesis ini.

Semua teman sejawat yang dengan antusias telah memberikan dukungan dan

sumbangan pemikiran selama masa perkuliahan dan guna kesempurnaan tesis ini.

Seluruh keluarga dan seluruh teman penulis yang senantiasa memberi

dukungan, nasihat dan do’a sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan

menyelesaikan tesis ini.

Semoga Allah SWT membalas segala budi baik yang telah diberikan dengan

balasan yang berganda. Amin ya Robbal ‘alamin.

Medan, Desember 2011 Penulis,

(12)

RIWAYAT HIDUP

BIODATA

Nama : Yunie Amalia Rakhmyta

Tempat Tgl Lahir : Takengon, 01 Juni 1984

NIM : 097009020

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Abdul Hakim, Komplek Setia Budi Lestari

No. 4-A

Pekerjaan : Tenaga Pengajar

Email

PENDIDIKAN FORMAL

1. SD : SDN 1 Takengon, lulus tahun 1996

2. SLTP : SLTPN 1 Takengon, lulus tahun 1999

3. SMU : SMAN 1 Banda Aceh, lulus tahun 2002

4. Perguruan Tinggi : Jurusan Sastra Inggris Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), tahun 2002-2003

Jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Medan (UNIMED), lulus tahun 2008

(13)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

LEMBAR PERNYATAAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

UCAPAN TERIMA KASIH ... x

RIWAYAT HIDUP ... xii

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ... xv

DAFTAR TABEL ... xvii

Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 6

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Batasan Penelitian ... 7

1.6 Klarifikasi Istilah ... 7

Bab II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Terjemahan dan Penerjemahan ... 10

2.2 Kesepadanan Terjemahan ... 11

2.3 Pantun ... 13

2.4 Strategi Penerjemahan ... 16

2.4.1 Strategi Struktural ... 19

2.4.2 Strategi Semantis ... 21

2.5 Penerjemahan Pantun ... 29

2.6 Katharine Sim ... 33

(14)

3.2 Sumber Data ... 35

3.3 Metodologi Analisis Data ... 36

3.3.1 Strategi struktural ... 36

3.3.2 Strategi semantis ... 37

3.3.3 Strategi pemindahan pola rima ... 38

3.3.4 Strategi pemindahan pola metris ... 39

Bab IV ANALISIS DATA, TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Data ... 41

4.1.1 Strategi Struktural ... 41

4.1.2 Strategi Semantis ... 47

4.1.3 Strategi Pemindahan Pola Rima ... 58

4.1.4 Strategi Pemindahan Pola Metris ... 61

4.2 Temuan ... 66

4.2.1 Strategi Struktural ... 66

4.2.2 Strategi Semantis ... 69

4.2.3 Strategi Memindahkan Pola Rima ... 75

4.2.4 Strategi Memindahkan Pola Metris ... 75

4.3 Pembahasan ... 76

4.3.1 Strategi Struktural ... 76

4.3.2 Strategi Semantis ... 81

4.3.3 Strategi Memindahkan Pola Rima ... 87

4.3.4 Strategi Memindahkan Pola Metris ... 88

Bab V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 90

5.2 Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 93

(15)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

1. Daftar Singkatan

P : Pantun

BS : Bahasa Sumber

BT : Bahasa Target

B : Baris

Pg : Pungutan

PB : Padanan Budaya

AK : Analisis Komponensial

Pt : Penambahan

Ph : Penghapusan

M : Modulasi

AV : Auxiliary Verb

Tobe : To be

Prep : Preposition

Pro (S) : Pronoun sebagai subjek

V as (P) : Verb sebagai predikat

Pro (O) : Pronoun sebagai objek

T : Total

2. Daftar Lambang:

 : Jika memenuhi kriteria

(16)

 : Menjadi

 : Data

(+): Penambahan

(-) : Pengurangan

(t) : Transposisi

-s : Akhiran –s pada kata kerja

T (1): Jumlah strategi struktural penambahan

T (2): Jumlah strategi struktural

T (3): Jumlah strategi semantis

(17)

DAFTAR TABEL

No Judul ... Halaman

1 Frekuensi Strategi Struktural yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 66

2 Frekuensi Strategi Penambahan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 67

3 Frekuensi Strategi Pengurangan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 68

4 Frekuensi Strategi Transposisi yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 68

5 Frekuensi Strategi Semantis yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 69

6 Frekuensi Strategi Pungutan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 70

7 Frekuensi Strategi Padanan Budaya yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 70

8 Frekuensi Strategi Analisis Komponensial yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 71

9 Frekuensi Strategi Perluasan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 71

10 Frekuensi Strategi Penambahan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 72

11 Frekuensi Strategi Penghapusan yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 72

12 Frekuensi Strategi Modulasi yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 73

13 Frekuensi Strategi Struktural dan Strategi Semantis yang Digunakan

(18)

14 Frekuensi Pemindahan Pola Rima yang Digunakan

Katharine Sim dalam Terjemahannya ... 75

15 Frekuensi Pemindahan Pola Metris yang Digunakan

(19)

TERJEMAHAN PANTUN MELAYU KE DALAM BAHASA INGGRIS OLEH KATHARINE SIM: SUATU ANALISIS KESEPADANAN TERJEMAHAN

Oleh : Yunie Amalia Rakhmyta 097009020

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi penerjemahan, strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris pada terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis isi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 bait pantun cinta dalam dua bahasa yang berbeda, pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, atau kalimat yang terdapat dalam 10 bait pantun Melayu dan terjemahannya. Analisis data dilakukan dalam empat bagian, yaitu strategi struktural, strategi semantis, strategi pola pemindahan rima, strategi pola pemindahan metris. Dari hasil temuan menunjukkan penggunaan strategi struktural penambahan paling banyak digunakan oleh Katharine Sim (57,27%), pengurangan (2,73%), dan transposisi (40%). Strategi semantis yang digunakan Katharine Sim adalah pungutan (4,44%), padanan budaya 33,33%, analisis komponensial (20%), penyusutan (0%), perluasan (2,22%), penambahan (4,44%), penghapusan (11,11%), dan modulasi (24,44%). Katharine Sim tidak memperhatikan pola rima dalam terjemahannya. Hanya 20% (baris 1 dan 3) dan 0% (baris 2 dan 4) yang mengikuti pola rima a-b-a-b yang 100% dalam BS. Katharine Sim memperhatikan pola metris dalam menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Jumlah suku kata rata-rata dalam pantun BS adalah 9, sedangkan dalam terjemahannya rata-rata 8 suku kata. Di satu sisi, pola pemindahan metris masih mencerminkan bentuk pantun asli, tetapi di sisi lain, karena adanya pemadanan struktur dan pemindahan pola rima yang tidak mengikuti pola rima a-b-a-b, hasil terjemahan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim kehilangan “jiwa” nya dalam merasakan makna pantun. Kata kunci : strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, pola

(20)

The Translation of Pantun Melayu into English by Katharine Sim: An Analysis of Translation Equivalence

Abstract

The objective of this study is to find out the strategies used by Katharine Sim in translating pantun Melayu into English. This study uses descriptive qualitative research method. Data are taken from 10 verses of pantun Melayu in Katharine Sim’s book ‘Flowers of the Sun’ The analysis is divided into four parts, namely structural strategy, semantical strategy, strategy of transferring rhyme-pattern and strategy of transferring metrical-pattern. The findings show that Katharine Sim uses additional structural strategy (57,27%), substraction strategy (2,73%), and transposition strategy (40%). In semantical strategy Katharine Sim uses borrowing strategy (4,44%), cultural equivalent strategy (33,33%), componential analysis strategy (20%), reduction strategy (0%), expansion strategy ( 2,22% ), additional strategy (4,44%), deletion strategy (11,11%), and modulation strategy (24,44%). She does not pay attention on the rhyme of the pantun in her translation, only 20% of the translation pays attention on the rhyme of the target text. However,she pays attention on the metrical pattern of the pantun: there are 8 syllabbles (average) in each line of the BT, while in BS there are 9 syllables (average).

Key-words: : structural strategy, semantical strategy, transferring rhyme strategy,

(21)

Bab I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Penerjemahan teks, buku-buku dan informasi lain ke dalam bahasa Inggris

telah dilakukan oleh praktisi atau pakar-pakar terjemahan untuk penyebaran informasi

dari satu bahasa ke dalam bahasa lain. Namun, dibanding genre yang lain,

penerjemahan karya sastra merupakan kerja yang paling sulit bagi para penerjemah,

khususnya puisi yang memiliki nilai-nilai estetika dan ekspresif.

Pantun termasuk dalam karya sastra lisan yang penerjemahannya ke dalam

bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, berkembang sangat lambat. Bahkan ada yang

berpendapat bahwa pantun mustahil dapat diterjemahkan. Namun, diantara pro dan

kontra tentang penerjemahan pantun, sejak abad ke-19, penerjemahan pantun ke

dalam bahasa Inggris telah dilakukan oleh praktisi penerjemahan.

Penerjemahan pantun ke dalam bahasa Inggris merupakan jembatan yang

menghubungkan pembaca bahasa target (BT) yang tidak menguasai bahasa sumber

(BS), namun dapat menikmati pantun dalam BT. Nababan (1997:39) mengungkapkan

bahwa ada empat kendala utama yang dihadapi oleh penerjemah dalam

menerjemahkan teks, kendala itu adalah:

1. Sistem BS dan BT berbeda.

(22)

lagi menjadi tugas yang sulit untuk dilakukan. Pembahasan mengenai konsep

kesepadanan akan menjadi persoalan yang sepele. Kenyataannya, setiap bahasa

mempunyai sistem yang berbeda-beda.

2. Kompleksitas semantik dan stilistik.

Bidang semantik merupakan bidang yang sangat luas cakupannya dan cenderung

bersifat subjektif, karena kesubjektifannya hubungan makna suatu kata sangat erat

kaitannya dengan budaya pemakai bahasa tersebut. Selama suatu kata BS

menyangkut sesuatu yang juga terdapat dalam budaya BT, kesulitan dalam

pencarian padanan sedikit banyak bisa dikurangi. Kenyataan menunjukkan bahwa

ada kata dalam BS yang tidak terdapat dalam konteks BT. Disamping

kompleksitas semantik, kompleksitas stilistik juga merupakan salah satu faktor

penyebab sulitnya penerjemahan dilakukan. Teks sastra seperti pantun

diungkapkan dengan gaya yang berbeda dari gaya teks ilmiah. Karena budaya BS

dan budaya BT berbeda, maka gaya bahasa yang digunakan oleh kedua bahasa

tersebut juga berbeda.

3. Tingkat kemampuan penerjemah

Jika tingkat kesukaran sebuah teks dikaitkan dengan tingkat kemampuan

penerjemah, sebuah teks dianggap mudah untuk diterjemahkan apabila tingkat

kemampuan penerjemahnya sudah sangat baik. Namun, apabila kemampuan

penerjemah rendah dalam memahami bahasa teks yang diterjemahkan, maka teks

(23)

oleh karenanya tingkat kemampuan penerjemah menjadi salah satu faktor penentu

dalam proses penerjemahan.

4. Tingkat kualitas teks BS.

Rendahnya kualitas teks BS menyebabkan pesan yang sebenarnya terkandung

dalam BS sulit ditangkap atau dipahami. Sehingga akan muncul kesulitan dalam

proses penerjemahannya.

Dengan kata lain, jika konteks yang diterjemahkan merujuk ke sesuatu yang

tidak dikenal dalam budaya BT, maka tugas penerjemah menjadi lebih berat karena

harus menemukan padanan dalam BT (Nababan, 60: 1997).

Masalah kesepadanan merupakan bagian inti dari teori dan praktek

penerjemahan karena proses penerjemahan selalu melibatkan pencarian padanan.

(Barnstone, 1993 dalam Nababan, 62:1997). Analisis kesepadanan terjemahan

merupakan suatu analisis yang menggiring kepada konteks keterjemahan dan

ketakterjemahan. Konteks keterjemahan pada umumnya tidak menimbulkan masalah

dalam penerjemahan, sebaliknya konteks ketakterjemahan menimbulkan

permasalahan karena penerjemah harus menemukan padanan yang sesuai dalam BT

(Nababan, 62:1997). Menurut Baker (1992: 21), kesulitan yang timbul dalam

menemukan padanan disebabkan oleh 2 hal yakni :

1. Konsep khusus budaya

Kata BS diterjemahkan ke dalam konsep yang sama sekali tidak dikenal dalam

budaya BT. Konsep ini dapat berkaitan dengan teks keagamaan, kesusasteraan,

(24)

yang erat kaitannya dengan adat istiadat di Melayu tetapi tidak dikenal dalam

budaya Inggris.

2. Kata BS yang tidak tersedia dalam BT

Kata BS diterjemahkan ke dalam suatu konsep yang dikenal dalam BT tetapi BT

tidak mempunyai padanan satu-satu untuk mengungkapkannya. Misalnya kata

hamburger” dalam bahasa Inggris yang sudah dikenal dalam masyarakat

Indonesia, tetapi bahasa Indonesia tidak mempunyai padanan satu-satu untuk

mengungkapkan konsep yang dikandung oleh jenis makanan tersebut.

Oleh sebab itu, diperlukan strategi-strategi tertentu yang harus digunakan penerjemah

untuk menemukan efek padan dalam suatu hasil terjemahan.

Strategi penerjemahan merupakan bagian dari proses penerjemahan yang

diterapkan pada saat proses penerjemahan berlangsung, baik pada tahap analisis teks

BS maupun pada tahap pengalihan pesan (Silalahi, 2009: 29). Suryawinata dan

Hariyanto (2003:67) mengklasifikasikan strategi penerjemahan menjadi dua jenis

yaitu strategi struktural dan strategi semantis. Strategi struktural mengacu kepada

bentuk atau struktur bahasa, sedangkan strategi semantis mengacu pada makna atau

pesan bahasa. Berlatar dari hal tersebut, penelitian ini mencoba untuk

mendeskripsikan strategi yang digunakan seorang penerjemah asal Inggris Katharine

Sim, yang telah menerjemahkan pantun dari bahasa Melayu ke dalam bahasa Inggris.

Menurut Shunmugam (2007: 23), pada akhir abad ke-20 telah terdapat

beberapa kajian yang menyentuh terjemahan puisi termasuk pantun, seperti yang

(25)

Katharina Reiss (1971 dalam Dagut 1976), Menachem Dagut (1976) dan Jean-Vina

serta Jean Paul Darblenet (1995). Dagut memberikan sumbangan terbesar dalam

kegiatan ini. Dari kajian-kajian tersebut terdapat tiga pandangan utama yang muncul,

yaitu: 1). metafora tidak mungkin diterjemahkan 2). metafora dapat diterjemahkan

secara harfiah dan 3). ada metafora yang bisa diterjemahkan dan ada pula yang tidak

dapat diterjemahkan. Pendapat yang ketiga adalah pandangan yang paling mendekati

kenyataan. Bukan hanya Dagut, pendapat ini juga didukung oleh ahli bahasa seperti

Ian Mason, Peter Newmark dan Raymond van den Broeck.

Di dalam analisis pantun, permasalahan strategi yang digunakan penerjemah

tidak sesederhana atau terbatas hanya dalam menerjemahkan pantun secara umum,

tetapi juga strategi dalam menerjemahkan pola rima pantun dan menerjemahkan pola

metris pantun, hal ini amat penting dilakukan mengingat pantun merupakan warisan

khasanah budaya yang memiliki karakteristik visual tertentu yaitu bersajak a-b-a-b

atau a-a-a-a dan terdiri dari 8/10-12 suku kata tiap barisnya (Kristantohadi, 2010:15).

Pantun Melayu mulai dikenal oleh masyarakat non-Melayu melalui

terjemahan yang dilakukan (terutama ke dalam bahasa Inggris) sejak akhir abad ke-19

oleh non-penutur asli bahasa Melayu. Diantara karya-karya tersebut Katharine Sim

merupakan penerjemah pantun yang terkenal. Dalam buku kumpulan pantunnya

Flowers Of The Sun (1957) terdapat 150 pantun Melayu yang telah diterjemahkan ke

(26)

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti merasa perlu untuk

menganalisis karya Katharine Sim untuk mendeskripsikan bagaimana strategi yang

digunakannya dalam menerjemahkan pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris.

1.2Rumusan Masalah

Penelitian ini akan mengkaji strategi yang digunakan Katharine Sim dalam

menerjemahkan pantun ke dalam bahasa Inggris. Secara spesifik rumusan masalah

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan pantun ke

dalam bahasa Inggris?

2. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola rima

pantun ke dalam bahasa Inggris?

3. Bagaimana strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola metris

pantun ke dalam bahasa Inggris?

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam menerjemahkan

pantun ke dalam bahasa Inggris.

2. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola

rima pantun ke dalam bahasa Inggris.

3. Mendeskripsikan strategi yang digunakan penerjemah dalam memindahkan pola

(27)

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi para penerjemah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan

untuk meningkatkan mutu terjemahan karya sastra.

2. Bagi para peneliti di bidang terjemahan, hasil penelitian ini dapat digunakan

sebagai masukan dalam menentukan arah penelitian selanjutnya, khususnya

penelitian mengenai evaluasi penerjemahan karya sastra dan pantun.

3. Bagi para pembaca (target-readers), hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman

untuk lebih memahami hasil terjemahan.

1.5Batasan Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada produk atau hasil karya terjemahan. Objek

kajian adalah strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah (Katharine Sim),

strategi pemindahan pola rima, dan strategi pemindahan pola metris. Satuan

terjemahan yang dikaji adalah kata, frase, dan kalimat yang terdapat dalam 10 pantun

Melayu dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, pernyataan

tentang strategi penerjemahan yang digunakan penerjemah, strategi pola pemindahan

rima dan pola pemindahan metris disimpulkan berdasarkan analisis terhadap produk.

1.6Klarifikasi Istilah

Satu istilah mungkin saja memiliki lebih dari satu pengertian, maka untuk

menghindari kekeliruan pada istilah yang digunakan diperlukan klarifikasi.

Istilah-istilah yang perlu diklarifikasi dalam tulisan ini yaitu: terjemahan, bahasa sumber,

(28)

penerjemah, strategi struktural, strategi semantis, pola pemindahan rima, dan pola

pemindahan metris. Klarifikasinya sebagai berikut:

1. Terjemahan dalam penelitian ini merupakan suatu produk dari proses

penerjemahan dari BS (bahasa Melayu) ke dalam BT (bahasa Inggris).

2. Bahasa sumber (BS) adalah bahasa yang digunakan pada teks asal yang

diterjemahkan. Dalam penelitian ini BS adalah bahasa Melayu.

3. Bahasa target (BT) adalah bahasa yang digunakan pada teks hasil yang

diterjemahkan. Dalam penelitian ini BT adalah bahasa Inggris.

4. Kesepadanan dalam penelitian ini merupakan suatu padanan yang menunjukkan

seberapa dekat teks BS dengan teks BT. Padanan adalah suatu bentuk dalam BT

dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk teks BS (Machali,

2000:106).

5. Metode penerjemahan merupakan cara proses penerjemahan yang dilakukan

dalam kaitannya dengan tujuan penerjemah. Metode penerjemahan adalah pilihan

global yang mempengaruhi keseluruhan teks (Molina & Albir dalam Silalahi,

2009:11).

6. Strategi yang digunakan penerjemah

Strategi yang digunakan penerjemah mengacu kepada cara penerjemah

(Katharine Sim) dalam mengatasi masalah ketidaksepadanan, baik yang

(29)

7. Strategi struktural

Strategi struktural mengacu pada strategi penerjemahan yang berkenaan dengan

struktur kalimat. Strategi struktural ini bersifat wajib dilakukan karena jika tidak

hasil terjemahannya akan tidak berterima secara struktural di dalam BT

(Suryawinata & Hariyanto, 2003:67).

8. Strategi semantis

Strategi semantis mengacu pada strategi penerjemahan yang langsung terkait

dengan makna kata atau kalimat yang sedang diterjemahkan. Strategi ini

dilakukan dengan pertimbangan makna. Strategi ini ada yang diterapkan pada

tataran kata, frase maupun kalimat (Suryawinata dan Hariyanto 2003:72).

9. Pola pemindahan rima

Pola pemindahan rima mengacu pada strategi penerjemah dalam memindahkan

pola rima (sajak) pantun Melayu ke dalam bahasa Inggris yang dilihat dari ciri

visualnya, yaitu selayaknya pantun bersajak paralel a-b-a-b (Kristantohadi,

2010:15).

10. Pola pemindahan metris

Pola pemindahan metris mengacu pada strategi yang digunakan penerjemah

dalam memindahkan pola metris (suku kata) pantun Melayu ke dalam bahasa

Inggris dilihat dari ciri visualnya, yaitu selayaknya metris pantun berkisar

antara 8/10-12 suku kata dalam setiap baris pantun (Kristantohadi, 2010:15).

(30)

Bab II

KAJIAN PUSTAKA

2.1Terjemahan dan Penerjemahan

Menurut Bell (1991:13) terdapat tiga 3 makna kata terjemahan. Yang pertama

terjemahan mengacu kepada proses menerjemahkan (kegiatan menerjemahkan).

Kedua, mengacu pada hasil dari proses penerjemahan. Ketiga, konsep abstrak yang

menekankan pada keduanya, baik proses menerjemahkan maupun hasil dari proses

penerjemahan.

Nida (1982:12) menyatakan bahwa menerjemahkan artinya menghasilkan

pesan yang paling dekat, sepadan dan wajar dari BS ke BT, baik dalam hal makna

maupun gaya. Teks yang diterjemahkan dapat terdiri dari kata, rangkaian kata (frase),

kalimat, paragraf, dan sebagainya.

Newmark (1988:5) memaparkan bahwa terjemahan adalah pengalihan pesan

tulis dari teks BS ke teks BT. Kewajaran dalam penerjemahan berkaitan erat dan

dapat dicapai dengan penguasaan seorang penerjemah terhadap BS dan BT yaitu

dalam hal penguasaan gramatikal dan kosakata bahasa.

Proses penerjemahan merujuk pada linguistic operation yang dilakukan oleh

penerjemah dalam mengalihkan pesan teks BS ke BT dan diwujudkan dalam tiga

tahapan: 1). analisis teks bahasa sumber, 2). pengalihan pesan, 3). penyusunan

(31)

dihadapkan pada komunikasi (baik lisan maupun tulisan) dengan dua bahasa, dan ia

tidak bisa akses ke dalam salah satu bahasa tersebut maka ia akan membutuhkan

penerjemah atau interpreter.

Banyak perbedaan definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Namun pada

dasarnya semua menyatakan hal yang sama yaitu bahwa penerjemahan adalah suatu

upaya untuk mengalihkan pesan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain.

Sebagaimana dinyatakan oleh Nida dan Taber (1982:12), bahwa penerjemahan

adalah menciptakan kembali makna dalam BT, padanan alami yang paling

mendekati pesan dalam BS, baik dalam makna maupun dalam gaya. Dalam

melakukan aktifitas penerjemahan akan terjadi proses penerjemahan. Jadi proses

penerjemahan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang penerjemah

dalam memproses pengalihan informasi dari BS ke dalam BT. Menurut Dubois

dalam Roger T. Bell (1993:5) penerjemahan adalah penyampaian pesan bahasa

sumber ke dalam bahasa yang berbeda (bahasa target) dengan tetap menjaga

nilai-nilai semantis dan gaya padanan bahasa sumber.

2.2 Kesepadanan Terjemahan

“Padanan adalah suatu bentuk dalam bahasa target dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk teks bahasa sumber. Masalah kesepadanan bukanlah identik dengan kesamaan karena perdebatan mengenai konsep tersebut lebih banyak terkait dengan penerjemahan karya sastra yang melihat kesepadanan sebagai tuntutan untuk menghasilkan

(32)

Jika konsep yang diterjemahkan merujuk ke sesuatu yang tidak dikenal dalam

budaya target, maka tugas penerjemah menjadi lebih berat. Dalam situasi yang

demikian, Larson (1984: 163) mengungkapkan:

“Penerjemah tidak hanya harus mencari cara terbaik untuk merujuk ke sesuatu yang sudah merupakan bagian dari pengalaman pembaca sasaran, tetapi juga harus mencari cara terbaik untuk mengungkapkan konsep yang sama sekali baru kepada penutur bahasa penerima.”

Pada dasarnya, mayoritas penerjemah berpendapat bahwa menerjemahkan

karya sastra lebih sulit daripada menerjemahkan teks jenis lain (Newmark, 1988:70).

Beberapa ahli bahasa seperti Newmark (1988), Nida (1982) berpendapat bahwa ini

adalah karena fakta bahwa teks-teks sastra mengandung kata-kata dan struktur yang

spesifik. Struktur ini memberikan nilai khusus untuk teks-teks sastra yang membuat

terjemahan menjadi sangat sulit. Masalah tersebut muncul karena dalam

penerjemahan teks sastra terpaku pada menemukan padanan leksikal dan struktur

sintaksis yang setara (Newmark:1988:70). Pilihan-pilihan yang dibuat oleh para

penerjemah seperti keputusan apakah akan mempertahankan gaya bahasa dari teks

BS atau apakah akan menciptakan gaya baru pada BT menjadi isu penting dalam

menerjemahan karya sastra khususnya pantun. Hal ini disebabkan oleh kenyataan

bahwa pantun erat kaitannya dengan unsur kultur dan estetis dimana secara jelas

penggunaan kata dan strukturnya berbeda. Akibatnya di satu sisi menerjemahkan

kata dan struktur dari satu bahasa ke bahasa lain dianggap sudah cukup, namun di

(33)

sehingga penerjemahannya pun tidak dapat dilakukan sesederhana menerjemahkan

teks secara umum.

2.3 Pantun

Pantun merupakan salah satu genre puisi Melayu tradisional. Pantun

merupakan salah satu jenis puisi lama dalam beberapa bahasa Nusantara, terutama

bahasa Melayu (Abror, 2009:77). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Indonesia (Melayu). Semua bentuk pantun terdiri atas sampiran dan isi. Sampiran

adalah dua baris pertama, kerap kali tentang alam (flora dan fauna), dan biasanya tak

punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud. Dua baris

terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. Tiap bait

biasanya terdiri dari empat baris yang berpola rima a-b-a-b.

Kristantohadi (2010:15) mengulas pengertian pantun sebagai berikut:

Pantun adalah jenis puisi lama yang dilisankan dan biasanya memakai lagu. Berdasarkan bentuknya, pantun terdiri dari empat baris (4-5 kata atau 8-10/12 suku kata), bersajak ab-ab (boleh sajak paruh atau penuh), tiap-tiap baris terbagi dalam irama pantun yang beraturan. Baris 1 dan 2 dinamakan sampiran yang diangkat dari kekayaan alam seperti binatang dan tumbuhan.Sedangkan isi pantun langsung berkenaan dengan hal yang dimaksud terhadap pendengarnya”.

Pantun merupakan sastra lisan asli Melayu Nusantara (Kalimantan, Sulawesi, Riau,

Sumatera Timur) dan Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, Brunei) yang telah

berkembang dan dipelihara oleh masyarakat pendukungnya. Tengku Lah Husny

(34)

meliputi wilayah Sumatera Utara bagian Timur yaitu daerah Aceh Timur, Langkat,

Deli Serdang, Asahan, dan Labuhan Batu. Pada masa lalu, pantun digunakan untuk

mendekatkan diri satu sama lain, mengecoh, menyindir atau memberi nasihat untuk

mengekspresikan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, dan sebagainya. Pantun

masih hidup dan berkembang dalam upacara-upacara adat, terutama di Indonesia

dan Malaysia.

Menurut Harun Mat Piah (1989:5-7 dalam Abd. Rachman Abror 2009: 80)

ciri-ciri pantun adalah:

1. diciptakan dan disebarkan secara lisan dan bersifat kolektif dan fungsional, yaitu

tanpa dicantumkan pengarangnya dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.

2. bentuknya terikat oleh konvensi-konvensi tertentu yang seterusnya memberikan

bentuk dan struktur pada puisinya.

3. bersifat fungsional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pantun

untuk kegiatan seni yang berunsur hiburan dan ritual.

4. puisi tradisional berhubungan erat dengan magis dalam maksud dan pengertian

yang luas.

5. sebagai bahan yang berunsur magis dan ritual, puisi dianggap suci.

6. puisi Melayu tradisional juga mengandung unsur musik.

7. bahasanya padat, mengandung unsur lambang, imaji, kias, dan

perbandingan-perbandingan lain yang tepat dengan maksud dan fungsinya.

Perpuisian Melayu tradisional sebagian besar tidak bernama (anonim) dan

(35)

kehalusan jiwa para penggubahnya, dan keterbukaan orang Melayu terhadap dunia

luar (Shafie Abu bakar, 1997:17 dalam Abd Rachman Abror, 2009: 81).

Sebagai salah satu jenis puisi Melayu tradisional, secara umum terdapat dua

aspek penting dari pantun, yaitu aspek luar dan aspek dalam (Mat Piah, 1989:123-124

dalam Abd Rachman Abror 2009:82):

1. Aspek luar adalah struktur dan seluruh ciri visual yang dapat dilihat dan didengar,

yaitu:

a. terdiri dari rangkap-rangkap yang bersaingan. Setiap rangkap terjadi dari

garis-garis yang sejajar dan berpasangan, tetapi umumnya empat baris.

b. setiap baris mengandung empat kata dasar. Jadi, unit yang penting ialah

perkataan, sedangkan suku kata merupakan aspek sampingan.

c. adanya klimaks, yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau

perkataan pada bait isi.

d. setiap stanza terbagi pada dua unit, yaitu sampiran dan isi pada setiap baitnya.

e. adanya skema rima yang tetap, yaitu rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi

a-a-a-a. Selain rima, asonansi juga merupakan aspek yang dominan dalam

pembentukan sebuah pantun.

f. setiap bait pantun dalam semua bentuknya mengandung satu pikiran yang

bulat dan lengkap.

2. Aspek dalam adalah unsur-unsur yang dapat dirasakan secara subjektif menurut

(36)

a. penggunaan lambang-lambang tertentu menurut anggapan dan sudut pandang

masyarakat.

b. adanya relasi makna antara pasangan sampiran dan pasangan isi, juga ada

hubungan konkret atau abstrak atau melalui lambang-lambang.

Berikut adalah contoh pantun tradisional Melayu

Apa guna pasang pelita

Jika tidak dengan sumbunya?

Apa guna bermain mata

Kalau tidak dengan sungguhnya?

Maksud dan isi dari pantun di atas terkandung dalam dua baris terakhir. Dua baris

pertama hanya bertindak sebagai “indikator” atau “awal”. Peran paling penting dari

indikator ini adalah untuk menjalankan fungsi rima.

2.4 Strategi Penerjemahan

Strategi penejemahan dimaknai sebagai tuntunan teknis untuk

menerjemahkan frase demi frase atau kalimat demi kalimat, dengan kata lain strategi

penerjemahan adalah taktik penerjemah untuk menerjemahkan kata atau kelompok

kata, atau mungkin kalimat penuh bila kalimat tersebut tidak bisa di pecah lagi

menjadi unit yang lebih kecil untuk diterjemahkan (Suryawinata & Hariyanto,

2003:67). Sementara itu, Silalahi (2009: 29) menguraikan bahwa strategi

penerjemahan diterapkan pada saat proses penerjemahan berlangsung, baik pada

tahap analisis teks BS maupun pada tahap pengalihan pesan. Oleh sebab itu, strategi

(37)

dengan dipecahkannya permasalahan atau disadarinya bahwa masalah tersebut tidak

dapat dipecahkan.

Ada beberapa teori mengenai strategi penerjemahan yang dikemukakan oleh

pakar bahasa, antara lain:

Newmark (1988: 81-93) menawarkan strategi penerjemahan secara

semantis, yaitu pentransferan, naturalisasi, padanan budaya, padanan fungsi,

padanan deskriptif, sinonim, terjemahan langsung, transposisi, modulasi, terjemahan

resmi, kompensasi, reduksi dan ekspansi, parafrasa, pencatatan, dan penambahan.

Strategi penerjemahan yang dipaparkan oleh Newmark tersebut dapat menjadi

acuan bagi penerjemah untuk konsep-konsep yang tidak dikenal dalam bahasa

penerima. Strategi ini bersifat umum. Artinya, belum dimaksudkan untuk jenis teks

tertentu.

Menurut Baker (1992: 26-38) strategi penerjemahan untuk kata atau

ungkapan yang tidak memiliki padanan dalam BT meliputi:

1. Penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih umum.

Strategi ini adalah strategi yang paling umum yang dipakai oleh penerjemah

untuk mencari padanan dari berbagai macam kata yang tidak memiliki padanan

langsung.

2. Penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih netral.

Strategi ini digunakan untuk mengurangi kesan negatif yang ditimbulkan oleh

kata dalam BS yang dikarenakan oleh makna yang dimiliki oleh kata dalam BS

(38)

3. Penerjemahan dengan menggunakan pengganti kebudayaan.

Strategi penerjemahan ini adalah dengan mengganti konsep kebudayaan pada BS

dengan konsep kebudayaan BT yang setidaknya memiliki makna yang

menyerupai dalam BS tersebut.

4. Penerjemahan dengan menggunakan kata serapan atau kata serapan yang disertai

dengan penjelasan.

Strategi ini sering digunakan dalam menerjemahkan kata yang berhubungan

dengan kebudayaan, konsep modern dan kata yang tidak jelas maknanya.

5. Penerjemahan dengan parafrase.

Strategi ini digunakan ketika konsep yang diungkapkan dalam BS memiliki

makna kamus dalam BT tetapi memiliki bentuk yang berbeda, dan frekuensi

kemunculan kata tersebut lebih sering dalam BS. Penerjemahan dengan parafrase

ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan kata-kata yang

berbeda atau menggunakan kalimat untuk mengungkapkan makna kata yang

terdapat dalam BS.

Berikut ini adalah strategi penerjemahan yang dibagi menjadi dua jenis

utama menurut Suryawinata dan Hariyanto (2003:.67). Pertama adalah strategi

struktural yang berkenaan dengan struktur kalimat. Strategi struktural ini bersifat

wajib dilakukan karena jika tidak hasil terjemahannya akan tidak berterima secara

struktural di dalam BT. Strategi yang kedua adalah strategi semantis yang langsung

(39)

2.4.1 Strategi Struktural

Menurut Suryawinata dan Hariyanto (2003:70) terdapat tiga strategi dasar

yang berkenaan dengan masalah struktur, yaitu penambahan, pengurangan, dan

transposisi.

1. Penambahan

Penambahan atau addition adalah penambahan kata atau elemen struktural di

dalam BT karena struktur BT mengharuskan begitu. Penambahan ini merupakan

suatu keharusan bukan pilihan.

Contoh:

BS : Saya Guru

BT : I am a teacher

Dari contoh di atas, kata am, dan a harus ditambahkan demi keberterimaan

struktur BT.

Contoh lainnya adalah:

BS : Saya tidak suka nasi goreng.

BT : I do not like fried rice.

Dalam contoh di atas kata do juga harus ditambahkan karena alasan yang sama,

yakni keberterimaan struktur BT.

2. Pengurangan

Pengurangan atau substraction adalah pengurangan elemen struktural di dalam

BT. Seperti halnya penambahan, pengurangan ini merupakan keharusan bukan

(40)

Contoh:

BS : Mereka saling menyalahkan satu sama lain.

BT : They blame each other.

Dari contoh di atas elemen struktural yaitusaling” dikurangkan dalam BT.

Contoh lain:

BS : Saya membelikan dua buah buku untuknya.

BT : I bought two books for him.

Dari contoh di atas kata “buah” dikurangi dalam BT demi keberterimaan struktur

BT.

3. Transposisi

Strategi penerjemahan ini digunakan untuk menerjemahkan kata, frase, klausa

atau kalimat. Transposisi dapat dianggap sebagai keharusan atau sebagai pilihan.

Transposisi menjadi keharusan apabila tanpa strategi ini makna BS tidak

tersampaikan. Transposisi menjadi pilihan apabila dilakukan karena alasan gaya

bahasa saja. Artinya, tanpa transposisi pun makna BS sudah bisa diterima oleh

pembaca teks BT. Dengan strategi ini penerjemah mengubah struktur asli BS di

dalam kalimat BT untuk mencapai efek yang padan. Pengubahan ini bisa berupa

pengubahan bentuk jamak ke bentuk tunggal, posisi kata sifat, bahkan

pengubahan struktur kalimat secara keseluruhan (Newmark, 1988: 85).

Pemisahan satu kalimat BS menjadi dua kalimat BT atau lebih, pengubahan letak

(41)

tunggal atau sebaliknya, atau penggabungan dua atau lebih kalimat BS menjadi

satu kalimat BT juga termasuk dalam strategi transposisi ini.

Contoh:

BS : “Alat musik bisa dibagi menjadi dua kelompok dasar”.

BT : Musical instruments can be divided into two basic groups.

Dari contoh diatas, letak kata sifat di dalam dua frase nomina “alat musik” dan

“dua kelompok dasar” di ubah letaknya, hal ini karena untuk banyak hal, bahasa

Indonesia mempunyai hukum D-M (diterangkan-menerangkan), jadi letak kata

sifat tersebut harus diubah. Dalam bahasa Inggris kata sifat berfungsi sebagai

unsur “menerangkan” harus berada di depan yang “diterangkan”. Pengubahan itu

bisa digambarkan sebagai berikut:

Alat musik : Musical instruments

Dua kelompok dasar : Two basic groups :

Selain pengubahan letak kata sifat seperti di atas, dari contoh tersebut juga

terdapat pengubahan dari bentuk kata tunggal menjadi jamak. Kata “alat”

(tunggal) diterjemahkan menjadi instruments (jamak). Demikian juga dengan kata

“kelompok”(tunggal) diterjemahkan menjadi groups (jamak).

2.4.2 Strategi Semantis

Strategi semantis adalah strategi penerjemahan yang dilakukan dengan

pertimbangan makna. Strategi ini ada yang diterapkan pada tataran kata, frase

maupun kalimat. Suryawinata dan Hariyanto (2003:72-75) mengklasifikasikan

(42)

1. Pungutan

Pungutan atau borrowing adalah strategi penerjemahan yang membawa langsung

kata BS ke dalam teks BT. Penerjemah sekedar memungut kata BS yang ada.

Salah satu alasan digunakannya strategi ini adalah untuk menunjukkan

penghargaan terhadap kata-kata tersebut. Alasan lain adalah belum ditemuinya

padanan di dalam BT. Pungutan bisa mencakup transliterasi dan naturalisasi.

Transliterasi adalah strategi yang mempertahankan kata-kata BS tersebut secara

utuh baik bunyi maupun tulisannya. Sedangkan dengan naturalisasi kata-kata BS

tersebut ucapan dan penulisannya disesuaikan dengan aturan BT. Naturalisasi ini

juga sering disebut dengan adaptasi.

Contoh :

BS : mall

Transliterasi : mall (bunyi)

Naturalisasi dalam BT : mal (bunyi dan tulisan)

Strategi pungutan ini biasanya digunakan untuk kata-kata atau frase-frase yang

berhubungan dengan nama orang, nama tempat, gelar lembaga, atau istilah-istilah

yang belum ada dalam BT.

2. Padanan Budaya

Dengan strategi padanan budaya atau Cultural Equivalent ini penerjemah

menggunakan kata khas dalam BT untuk mengganti kata khas dalam BS. Hal

utama yang perlu diperhatikan adalah kata khas budaya diganti dengan kata yang

(43)

bahasa lain kemungkinan besar berbeda, maka kemungkinan besar strategi ini

tidak bisa menjaga ketepatan makna. Meskipun begitu strategi ini bisa membuat

kalimat dalam BT menjadi mulus dan enak dibaca.

Contoh:

BS : Jaksa Agung

BT : Attorney General

Di dalam bahasa Inggris “Jaksa Agung” diterjemahkan menjadi Attorney General

(bukan Great Attorney). Hal ini dikarenakan jabatan”Jaksa Agung” di Inggris

dinamakan Attorney General.

3. Analisisis Komponensial

Menurut Larson (1984: 96), penerjemah tidak hanya berurusan dengan

konsep dalam satu sistem bahasa, tetapi juga konsep dalam sistem

dari dua bahasa. Karena setiap bahasa menggambarkan suatu daerah tertentu,

realitas atau pengalaman yang berbeda, penerjemah harus seakurat mungkin

memeriksa setiap kata dalam kedua sistem bahasa untuk menemukan kata atau

frase yang paling akurat dalam BT. Menurut Newmark (1988: 90) "satu-satunya

tujuan analisis komponensial dalam penerjemahan adalah untuk mencapai akurasi

terbesar dengan BT”. Dengan strategi analisis komponensial sebuah kata BS

diterjemahkan ke dalam BT dengan cara merinci komponen-komponen makna

kata BS tersebut. Hal ini disebabkan karena tidak adanya padanan satu-satu di BT,

(44)

Contoh:

BS : “Gadis itu menari dengan luwesnya”

BT : The girl is dancing with great fluidity and grace.

Dengan strategi ini, “luwes” bisa diterjemahkan menjadi “bergerak dengan halus

dan anggun” atau dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan move with great

fluidity and grace.

4. Penyusutan

Strategi ini mengacu pada penyusutan komponen kata BS setelah diterjemahkan ke

dalam BT untuk menghasilkan makna yang relevan. Strategi penyusutan ini harus

menghormati prinsip relevansi, yaitu, penerjemah harus memastikan bahwa tidak

ada informasi penting yang terdapat dalam terjemahan

Contoh:

(Newmark, 1988:90)

BS : “Dia belajar ilmu politik di Universitas tersebut”.

BT : “ He studiespolitics in the University”

Dari contoh diatas

Contoh:

penerjemah menyusutkan jumlah komponen kata BS “ilmu

politik” menjadi “politics” di dalam BT demi mempertimbangkan prinsip

relevansi makna.

BS : automobile

BT : “mobil”

Dari contoh di atas kata automobile dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi

(45)

menjadi “mobil” saja. Dalam kedua bahasa tersebut, baik bahasa Inggris maupun

bahasa Indonesia, kata automobile dan “mobil” mengacu pada makna yang sama.

5. Perluasan

Perluasan adalah lawan penyusutan. Perluasan mengacu pada hal dimana

penerjemah memperbanyak jumlah kata BS dalam BT untuk mendapatkan makna

yang paling tepat.

Contoh:

BS : Whale

BT : “ikan paus”

Kata whale diterjemahkan menjadi “ikan paus”, elemen “ikan” ditambahkan

karena jika diterjemahkan “paus” saja maknanya akan kurang baik di dalam

bahasa Indonesia, karena “paus” berarti pemimpin umat Katolik sedunia, atau “the

pope” dalam bahasa Inggris.

Selanjutnya, strategi perluasan juga terjadi ketika penerjemah mencoba untuk

bergerak dari implisit menjadi eksplisit.

Contoh:

BS : “the child cries for the toy”

BT : “anak itu menangis untuk mendapatkan mainan”

“The child cries for the toy” kurang tepat bila diterjemahkan menjadi "anak itu

menangis untuk mainan”, karena kata “untuk” pada kalimat di atas tidak

menyampaikan makna yang tepat dan dapat membingungkan pembaca. Jadi

(46)

tersebut, yang bermakna (agar/supaya mendapatkan). Maka terjemahannya

menjadi lebih baik jika, “anak itu menangis untuk mendapatkan mainan”.

6. Penambahan

Berbeda dengan penambahan pada strategi struktural, penambahan ini dilakukan

karena pertimbangan kejelasan makna. Penerjemah memasukkan informasi

tambahan di dalam teks terjemahannya karena penerjemah berpendapat bahwa

pembaca memang memerlukannya. Menurut Newmark (1988: 91-92) informasi

tambahan ini bisa diletakkan di dalam teks, di bagian bawah halaman (berupa

catatan kaki), atau di bagian akhir dari teks.

Prosedur ini biasanya digunakan untuk membantu menerjemahkan kata-kata yang

berhubungan dengan budaya, teknis, atau ilmu-ilmu lainnya.

Contoh:

BS : The skin, which is hard and scaly, is greyish in color, thus

helping to camouflage it from predators when underwater.

BT :“Kulitnya, yang keras dan bersisik, berwarna abu-abu. Dengan

demikian, kulit ini membantunya berkamuflase, menyesuaikan diri

dengan keadaan lingkungan untuk menyelamatkan diri dari predator,

hewan pemangsa, jika berada di dalam air”.

Dari contoh di atas, camouflage dan predator dipungut ke dalam BT. Selain itu,

informasi tambahan tentang masing-masing istilah ilmu biologi ini juga diberikan.

(47)

“hewan pemangsa”. Penambahan dimaksudkan untuk pertimbangan stilistika atau

kelancaran kalimat BT.

7. Penghapusan

Penghapusan atau omission berarti penghapusan kata atau bagian teks BS di dalam

teks BT. Penghapusan dapat berarti tidak diterjemahkannya kata atau bagian teks

BS ke dalam BT. Pertimbangannya adalah kata atau bagian teks BS tersebut tidak

begitu penting bagi keseluruhan teks BT atau bisa saja agak sulit untuk

diterjemahkan. Jadi, mungkin saja penerjemah berpikir, daripada harus

menerjemahkan kata atau bagian teks BS dengan konsekuensi pembaca BT

bingung, maka lebih baik bagi penerjemah untuk menghilangkan saja bagian itu

karena perbedaan maknanya tidak signifikan.

Contoh:

BS : “Sama dengan raden ayu ibunya,” katanya berbisik.

BT : Just like her mother, she whispered

Secara makna, dalam contoh di atas terlihat penerjemah memilih untuk tidak

menerjemahkan frase “raden ayu”, tetapi hanya menerjemahkan “ibunya” menjadi

her mother. Hal ini dilakukan karena mungkin saja penerjemah menganggap

bahwa “raden ayu” tidak memiliki fungsi yang signifikan dalam kalimat BS dan

lebih mudah difahami dalam BT.

8. Modulasi

Modulasi adalah strategi untuk menerjemahkan frase, klausa, atau kalimat dimana

(48)

(Newmark, 1988:88). Strategi ini digunakan jika penerjemahan kata-kata dengan

makna literal tidak menghasilkan terjemahan yang wajar atau luwes.

Contoh:

BS : I get my hair cut.

BT : “Rambutku di potong”

Dari contoh di atas, penerjemah memandang persoalannya dari objeknya, yaitu

“rambut”, bukan dari segi pelaku “I”. Cara pandang ini merupakan suatu

keharusan karena struktur BT memang menghendaki begitu. (Contoh kalimat ini

bisa juga disebut transposisi, karena struktur kalimat aktif diubah menjadi pasif).

BS : Anthropologist have reacted to the diversity of cultural

arrangements in two ways.

BT : “Terhadap keragaman pengaturan budaya, reaksi antropolog dapat

dibedakan menjadi dua corak”.

Pada contoh terjemahan di atas terjadi keduanya, modulasi dan transposisi.

Modulasi yang terjadi pada terjemahan di atas terdapat pada frase “dapat

dibedakan menjadi” yang dalam BS ini hanya tersirat. Salah satu ciri modulasi

yaitu apa yang tersirat dalam BS menjadi tersurat dalam BT. Transposisi pada

terjemahan kalimat di atas yaitu pemilihan gaya penerjemahan. Biasanya seorang

penerjemah akan menerjemahkan mulai dari subjek kalimat, yaitu

anthropologists”. Akan tetapi, dari contoh di atas penerjemah memulai dari frase

(49)

Strategi struktural dan strategi semantis sebenarnya secara bersama-sama

digunakan penerjemah. Penerjemah selayaknya menggunakan strategi tertentu di

dalam proses penerjemahannya. Strategi-strategi ini digunakan secara berkombinasi

di dalam proses penerjemahan (Suryawinata & Hariyanto, 2003:76).

2.5 Penerjemahan Pantun

Penerjemahan karya sastra khususnya pantun tidak sama dengan

penerjemahan teks pada umumnya, karena bukan hanya makna yang akan

dipindahkan dari BS ke BT, tetapi juga harus mempertimbangkan sisi estetika yang

menjadi ciri khas sebuah pantun. Menurut Andre Lavefere dalam Basnett-McGuire

dalam Suryawinata dan Hariyanto dalam Kusmawarti (2007:27-28), penerjemahan

puisi termasuk pantun dapat dilakukan dengan tujuh metode yaitu:

1. Penerjemahan fonemik

Penerjemahan fonemik adalah penerjemahan dengan menciptakan bunyi yang

sama antara puisi BS dan BT sekaligus memindahkan makna. Sayangnya,

penggunaan metode ini biasanya menghasilkan bunyi yang canggung dan kadang

menghilangkan beberapa bagian makna asli.

2. Penerjemahan literal

Penerjemahan literal adalah penerjemahan kata demi kata. Metode ini tidak akan

mampu memindahkan makna asli, karena frase dan struktur kalimat cenderung

(50)

3. Penerjemahan metris

Penerjemahan metris adalah penerjemahan yang menekankan agar menghasilkan

metris yang sama antara puisi asli dan puisi BT. Setiap bahasa memiliki sistem

penekanan dan ejaan masing-masing. Karena itu metode ini akan menghasilkan

hasil terjemahan yang tidak sesuai secara makna dan struktur.

4. Penerjemahan bait ke prosa

Penerjemahan bait ke prosa adalah penerjemahan makna ke BT dalam bentuk

prosa. Kelemahan dari metode ini adalah hilangnya sisi keindahan dari puisi asli.

5. Penerjemahan rima/sajak

Penerjemahan rima adalah penerjemahan yang menekankan pada pemindahan

rima puisi asli ke BT. Hasil terjemahannya akan sesuai secara fisik tetapi

cenderung tidak sesuai secara makna.

6. Penerjemahan bait secara bebas

Penerjemahan bait secara bebas adalah penerjemahan dengan memindahkan

makna puisi asli dengan menggunakan padanan yang akurat dan memiliki nilai

sastra dalam BT. Penggunaan metode ini cenderung mengabaikan rima dan

metris puisi asli. Hasil terjemahannya akan berbeda secara fisik, tetapi secara

semantik sama.

7. Penerjemahan Interpretasi

Penerjemahan interpretasi adalah menerjemahkan dengan cara interpretasi pribadi

penerjemah. Ada dua jenis interpretasi; yang pertama adalah ‘versi’ dan yang

(51)

semantik sama dengan puisi asli, tetapi secara fisik sangat berbeda. Sedangkan

terjemahan imitasi menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi susunan, topik,

dan starting point sama dengan puisi asli.

Penerjemahan literal, metris, dan rima menekankan pada bentuk atau struktur

poetik dari sebuah puisi, sedangkan penerjemahan fonemik, penerjemahan bait ke

prosa, penerjemahan bait secara bebas, dan penerjemahan interpretasi menekankan

pada makna yang akan dipindahkan dari BS ke BT. Semua metode di atas hanya

menekankan pada satu atau beberapa komponen poetik.

Aristotle dalam Shunmugam (2007:22) mengasumsikan bahwa bahasa puisi

(termasuk pantun) adalah “penyimpangan” dari bahasa biasa. Meskipun ini tidak

sepenuhnya benar, namun seringkali penciptaan bahasa puisi mengabaikan

norma-norma semantik dan sintaktik untuk menghasilkan efek tertentu pada sebuah karya

puisi. Suatu “penyimpangan” linguistik tidak terjadi secara acak dalam suatu karya

sastra, tidak berdiri sendiri, tetapi berpola dengan gejala linguistik yang lain dalam

membentuk suatu kesatuan yang utuh. “Penyimpangan” tersebut tidak dapat

dipahami secara terpisah, tetapi dapat dipahami hubungannya dengan sistem bahasa

yang bersangkutan. “Penyimpangan” itu harus dilihat dalam konteks BS.

Menerjemahkan puisi tidaklah mudah, mengingat struktur puisi yang unik dan tidak

sama dengan karya sastra jenis lain. Penerjemahan puisi bukan hanya menyangkut

kesepadanan kata, tetapi juga berkaitan dengan unsur budaya dan jiwa yang terdapat

(52)

Tradisi berpantun telah tersebar luas di dalam masyarakat Melayu tradisional.

Begitu luasnya penggunaan pantun dalam masyarakat Melayu sehingga pantun telah

membentuk sebagian dari bahasa sehari-hari masyarakat Melayu (Shunmugam, 2007:

26). Pantun dapat dikategorikan sesuai penggunaannya seperti pantun kanak-kanak,

dewasa dan orangtua yang secara langsung terpecah lagi menjadi kategori-kategori

tertentu seperti pantun mengejek, pantun nasihat, pantun pendidikan dan lain-lain.

Pantun memiliki nilai khasanah budaya yang cukup besar pengaruhnya dalam

masyarakat Melayu. Pantun sebagai khasanah tradisi lisan mempunyai peran

sosio-budaya dalam masyarakat Melayu. Dalam Kristantohadi (2010:15), pantun harus

memenuhi format struktural yaitu baris pantun harus berpola rima dalam posisi kata

terakhir. Setiap baris terdiri dari antara 8 sampai 12 suku kata, biasanya yang terbaik

adalah 9 suku kata.

Pantun telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sejak abad ke-19,

terutama oleh non-penutur asli bahasa Melayu. Yang paling utama dalam

penerjemahan pantun adalah kontribusinya terhadap penyebaran pantun kepada

pembaca non-Melayu. Di bawah ini adalah sebait pantun Melayu dan terjemahannya

dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim:

Sirih kuning dalam lalang Golden fair in the long grass Jatuh sehelai ditepuk hujan One blade falls, struck down by rain

(53)

2.6 Katharine Sim

Katharine Sim (1913-tak diketahui) adalah wanita berkebangsaan Inggris

yang berminat besar dalam bahasa dan budaya Melayu. Ia tinggal di Singapura

bersama suaminya; seorang pegawai negeri sipil yang juga berkebangsaan Inggris.

Sim tinggal cukup lama di Malaysia dan Singapura sehingga ia memiliki dasar yang

kuat dalam menerjemahkan pantun Melayu Malaysia ke dalam bahasa Inggris.

Beberapa karyanya yang terkenal:

1. (1947)

2. (Jan 1, 1955)

3. (1957)

4. (1957 , revisi Des 31, 1987)

5. Malayan Landscape (Hardcover - 1957)

6. Black Rice (1959)

7. (1959)

8. (1961)

9. Costumes of Malaya (1963)

10.(1969)

11.(Paperback - Jun 2001)

12.(Paperback - 1981)

Sim menginjakkan kakinya pertama kali di semenanjung Malaysia setibanya

dari Inggris sebagai memsahib muda mendampingi suaminya Stuart Sim, seorang

pegawai negeri sipil di kantor bea cukai Parit Buntar, Perak, Penang. Dari sinilah

kecintaan Sim terhadap kebudayaan Melayu mulai dituangkan ke dalam tulisan.

Sebagai seniman profesional, Sim juga menuangkan inspirasinya terhadap Melayu di

atas kanvas. Sim mengakui bahwa selama periode lima tahun terakhir sebelum

dirinya dan sang suami akan meninggalkan Malaya pada tahun 1960 karena pensiun

(54)

bawah nama samaran Melayu untuk koran lokal Inggris. Semua usahanya itu sangat

membuka wawasan dan menambah pengalaman, ungkap Sim. (Shunmugam

(55)

Bab III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode

deskriptif kualitatif menurut Bungin (2007:5) adalah upaya memecahkan masalah

berdasarkan pengalaman peneliti dan objek penelitiannya. Metode kualitatif

mencakup tahapan berpikir kritis ilmiah melalui pengamatan di lapangan,

menentukan metode dan teori serta menganalisis data. Peneliti kualitatif memberikan

informasi yang mutakhir sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Penelitian ini terfokus pada analisis isi yaitu meneliti strategi penerjemah dalam

menerjemahkan pantun, memindahkan pola rima pantun dan memindahkan pola

metris pantun ke dalam BT. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan

metode komparatif, yaitu membandingkan naskah sumber dengan naskah target.

3.2.Sumber Data

Sumber data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 pantun

cinta (setiap pantun terdiri dari empat baris) dalam dua bahasa yang berbeda, pantun

Melayu dan terjemahannya dalam bahasa Inggris oleh Katharine Sim dalam buku

(56)

Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup kata, frase, dan kalimat

yang terdapat dalam 10 pantun Melayu dan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris

oleh Katharine Sim.

3.3 Metodologi Analisis Data

Untuk menjawab rumusan masalah pertama, yaitu bagaimana strategi yang

digunakan Katharine Sim dalam menerjemahkan pantun, penelitian ini akan

menggunakan klasifikasi strategi penerjemahan yang dikemukakan oleh Suryawinata

dan Hariyanto (2003 : 67). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

3.3.1 Strategi Struktural

1. Peneliti membaca dan memahami pantun Melayu dalam BS.

2. Peneliti membaca dan memahami versi terjemahannya.

3. Peneliti memeriksa teks pantun asli dan terjemahannya baris demi baris.

P 1 B 1 Dari mana punai melayang?

From whence do the pigeons fly? (+do; +the; t punai =

pigeons)

B 2 Dari paya turun ke padi

From the swamp to the padi (+ the; + the)

B 3 Dari mana datang sayang?

From whence comes this love ? (+s; + this)

B 4 Dari mata turun ke hati

From the eyes down to the heart (+the; t mata= eyes;

+the)

4. Peneliti mengkategorisasikan strategi yang digunakan penerjemah dalam

menerjemahkan pantun BS ke BT dengan menggunakan klasifikasi strategi

(57)

Baris

5. Peneliti menghitung frekuensi strategi struktural yang digunakan penerjemah

pada setiap pantun.

6. Peneliti menyimpulkan frekuensi strategi struktural yang digunakan penerjemah

pada setiap pantun.

3.3.2 Strategi Semantis

1. Peneliti membaca dan memahami pantun Melayu dalam BS.

2. Peneliti membaca dan memahami versi terjemahannya.

3. Peneliti memeriksa teks pantun asli dan terjemahannya baris demi baris.

P 1 B.1 Dari mana punai melayang?

From whence do the pigeons fly? (PBpunai = pigeons)

B 2 Dari paya turun ke padi

From the swamp to the padi (Ph turun; Pg Padi =padi)

B 3 Dari mana datang sayang?

From whence comes this love ?

B 4 Dari mata turun ke hati

From the eyes down to the heart

4. Peneliti mengkategorisasikan strategi yang digunakan penerjemah dalam

menerjemahkan pantun BS ke BT dengan menggunakan klasifikasi strategi

Gambar

Tabel 1 : Frekuensi Strategi Struktural yang Digunakan Katharine Sim dalam      Terjemahannya
Tabel 2 : : Frekuensi Strategi Penambahan yang Digunakan Katharine Sim dalam Terjemahannya
Tabel 3 : Frekuensi Strategi Pengurangan yang Digunakan Katharine Sim dalam Terjemahannya
tabel 5 di bawah ini:
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan istilah budaya dalam novel Negeri 5 Menara ke dalam bahasa Inggris The Land Of Five Towers, dan (2) teknik penerjemahan apa

Hasil dari penelitian ini yaitu mempermudah mengartikan sebuah percakapan dalam bentuk pantun yang ada pada upacara merisik masyarakat Melayu yaitu dengan teori skala

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan diksi dan makna yang terkandung pada kumpulan pantun Adat Istiadat Perkawinan Melayu Karya Tamrin

tanpa sebarang kongkongan atau mengambil kira perkataan dan struktur bentuk ayat asal. Masalah-masalah yang melibatkan penterjemahan bahasa Arab ke bahasa Melayu. Antaranya

Analisis Teknik Penerjemahan dan Kualitas Terjemahan Istilah Budaya Tiongkok Dari Bahasa Mandarin Ke Bahasa Indonesia Dalam Buku Stempel Tiongkok : Kumpulan Karya

Persentase peningkatan nilai akurasi terjemahan mesin penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Melayu Pontianak yang dicapai dengan korpus uji berasal dari dalam

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan istilah budaya dalam novel Negeri 5 Menara ke dalam bahasa Inggris The Land Of Five Towers, dan (2) teknik penerjemahan apa

mereproduksi teks ke dalam bahasa sasaran yang sebisa mungkin memiliki kesepadanan yang berterima dan benar dari pesan yang terkandung dalam bahasa sumber, baik