• Tidak ada hasil yang ditemukan

ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH : Teori dan Hasil-hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH : Teori dan Hasil-hasil Penelitian"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR PUSTAKA

Afa, l. 1998. Pengaruh Varietas, Ukura n Benih dan Pemupukan P

dan Ca terhadap Hasil dan Mutu Benih Kacang Tanah

(Arachis hypogea

l.J.

Tests. Pascasarjana Program Stu di Agronomi, Fakultas

Pertanian, Institut Pe rtanian Bogar.

Agarwal, V.K. and J. B. Sinclair. 1987. Principles of Seed Pathology. Volume I and II .

eRe

Press, tnc. Boca Raton, Florida.

Agrawal, R.l. 1980. Seed Technology. Oxfo rd and ISH Publish ing Co. New Delhi.

Agustia nsyah, S. Ilyas, Sudarsono, M. Machmud. 2010. Pengaruh

Perlakuan Senih 5ecara Hayati pada Benih Padi Terinfeksi Xon thomon05 oryzoe pv. oryzae terhadap Mutu Se nih dan Pertumbuhan Bibic Jurnal Agronomi Indo nesia, 38 (3) : 185-191. Anwa r, A. 2004. Det eksi, ldentifikasi, dan Eliminasi Cfavibacter

michganensis subsp. micfligonensis (Smith) Penyebab Penyakit Kanker Bakteri pada Tomat yang Ditu larkan melalui Benih. Disertasi. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Fakulta s Pertanian, Institut Pertanian Bogar. 104 hal.

Asie, K.V. 2004. M atricond itioning Plus Pestisida Botani untuk Perla kuan Benih Cabai Terinfeksi Cofletotrichum copsic;: Evalua si Mutu Ben ih se lama Penyimpanan . Tesis. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Faku ltas Pertanian, Instilut Pertanian Bogor. 97 hal.

AVROC. 1990. Vegetable Production Training Manual. Asian Vegetable Research and Development Center. Sha nhua, Tainan.

(3)

Cahyono, R.C. 2001. Pengaruh Perlakuan Pematahan Dormansi terhadap Viabllitas Benih Beberapa Varietas Kacang Tanah. Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 50 hal.

Candranegara, E. 1998. Pengaruh Matricondltioning dan Tingkat Vigor Benih terhadap Viabilitas dan Hasil Produksi Tomat (Lycopersicum esculentum L.). Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 42 hal.

Come, D., F. Corbineau, and S. Lecat. 1988. Some Aspects of Metabolic Regulation of Cereal Seed Germination and Dormancy. Seed Sci &

Technol, 16: 175-186.

Copeland, LO. and M.B. McDonald. 1995. Principles of Seed Science and I

Technology. Third Edition. Chapman and Hall, New York.

Delouche, J. C. and C. C. Baskin. 1973. Accelerating Aging Techniques for Predicting the Relative Storability of Seed Lots. Seed Sci Technol, 1:

427-452.

Desai, B.B., P.M. Kotecha, and O.K. Salunkhe. 1997. Seeds Handbook. Marcel Dekker, Inc., New York. 609 p.

Dina, E. Widajati, B. Wirawan, dan S.lIyas. 2007. Pola Topografi Pewarnaan Tetrazolium sebagai Tolok Ukur Viabllltas dan Vigor Benih Kedelai (Glycine max L. Merr.) untuk Pendugaan Pertumbuhan Tanaman di Lapangan. Buletin Agronomi, 35 (2): 88-95.

Ekowahyuni, L.P. 2002. Fenologi, Fenomena Vivipary, Pengaruh Stadia Kemasakan Benih dan Waktu Konservasi terhadap Viabilitas, serta Vigor Labu Siam (Sechium edule, Jacq Swartz). Tesis. Pascasarjarla Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanidn Bogor.

Fadillah, S. 2004. Pengaruh Matriconditioning plus Minyak Cengkeh atau Fungisida terhadap Mutu Kesehatan Benih. Skripsi. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 49 hal. Fathonah, R. 2000. Pengaruh Pemberian Perak Tiosulfat dan Poliamin

pada Media Enkapsulasi terhadap Viabilitas Bibit Mikro Enkapsulasi Kentang (Solanum tuberosum L.). Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 45 hal.

(4)

Daftar Pustaka

Fitria, A.A. 2001. Pengaruh Perbedaan Tingkat Kemasakan, Periode After Ripening, Pematahan Dormansi, dan Media Perkecambahan terhadap Oormansi Benih Terong Kopek (Solanum meiongena

l.)

Varietas Dadali. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 40 hal.

Hadiana, W.R. 1996. Peningkatan Viabilitas dan Vigor Benih Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) dengan Perlakuan Presoaking dan Conditioning. Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanlan, Institut Pertanian Bogor.

Harman. G.E., A.G. Taylor, and T.E. Stasz. 1989. Combining Effective Strains of Trichoderma harzianum and Solid Matrix Priming to Improve Biological Seed Treatments. Plant Disease Reporter, 73: 631-637. Hartini, R.1997. Pengaruh Kondisi Simpan dan Perlakuan Invigorasi

Pasca-Penyimpanan terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) pada Beberapa Periode Simpan. Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Hermansen, A., G. Brodal, and G. Balvoll. 1999. Hot Water Treatments of Carrot Seeds: Effects on Seed-Borne Fungi, Germination and Yield. Seed Sci Technol, 27: 599-613.

lIyas, S. 2006. Review: Seed Treatments Using Matriconditioning to Improve Vegetable Seed Quality. Buletin Agronomi, Vol. 34 (2): 124-132.

lIyas, S. 1994. Matriconditioning Benih Cabai (Capsicum annuum L.) untuk Memperbaiki Performansi Benih. Keluarga Benih, 5 (1): 59-67. lIyas, S. 1993. Invigoration of Pepper (Capsicum annuum

l.)

Seed by

Matriconditioning and Its Relationship with Storability, Dormancy, Aging, Stress Tolerance and Ethylene Biosynthesis. Dissertation. Cornell University, USA.

lIyas, S. 1986. Pengaruh Faktor 'Induced' dan 'Enforced' terhadap Vigor Benih Kedelai (Glycine max L. Merr.) dan Hubungannya dengan Produksi per Hektar. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 81 hal.

(5)

lIyas, 5., M. Surahman, R. Saraswati, L. Gunarto, dan T. Adisarwanto. 2003. Peningkatan Mutu Benih dan Produktivitas Kedelal dengan Teknik Invigorasi Benih Menggunakan Matriconditfoning dan Inokulan Mikroba. laporan HasH Penelitian. PAATP-Badan Penelitian dan Pengembangan, Oepartemen Pertanian.

lIyas, 5., G.A. Sutariati, F.C. Suwarno, and Sudarsono. 2002. Matriconditioning Improved Quality and Protein Level of Medium Vigor Hot Pepper Seed. Seed Technology, 24 (1): 67-77.

lIyas, 5., A. Hasan, UJ. Siregar, and Sudarsono. 2000. Matriconditioning Improve Yard-Long Bean Seed Quality. Third International Crop Science Congress, Hamburg, 17-22 August 2000.

lIyas, S. and W. Suartini. 1998. Improving Seed Quality, Seedling Growth, and Yield of Yard-Long Bean (Vigna unguiculata (L.) Walp.) by Seed Conditioning and Gibberellic Acid Treatment. p. 292-301. In: A.G. Taylor and Xue-Un Huang (eds.) Progress °In Seed Research: Proceeding of the Second International Conference on Seed Science and Technology, Guangzhou, China, 1997.

International Seed Testing Association. 1999. International Rules for Seed Testing, Rules 1999. Seed Sci Technol. 27 (Supplement).

International Seed Testing Association. 2010. International Rules for Seed Testing Edition 2010.

ISTA-APSA-Oanida Workshop on Sampling, Purity, Germination, and Accreditation. 2003. Hanoi, Vietnam.

Jumhana, A. 2004. Penggunaan Jenis Tepung Nabati untuk Menekan Serangan Cendawan dan Mempertahankan Viabllitas, serta Vigor Benih Kedelal (Glycine max (L.) Merrill) selama Penylmpanan. Skripsi. Oepartemen Agronoml, Fakultas Pertanian, Institut Pertanlan Bogor. 48 hal.

Justice, O.L. and L. N. Bass. 1979. Principles and Practices of Seed Storage. Castle House Publications ltd. 289 p.

Kania, N. 1998. Pengaruh Perlakuan Invigorasi Benih terhadap Perkecambahan dan Produksl Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.).

(6)

Daftar PU!itaka

Kartika, E dan S lIyas. 1994. Pengaruh Tingkat Kemasakan Benih dan . Metode Konservasi terhadap Viabilitas Benlh dan Vigor Benih Kacang

Jogo (Phasealus vulgaris L.). Buletin Agronomi, 22 (2): 44-59.

Khan, A.A. 1992. Preplant Physiological Seed Conditioning. P. 131-181. In: J. Janick (ed). Review. Wiley and Sons Inc., New York.

Khan, A.A., G.S. Abawi, and J.D. Maguire. 1992. Integrating Matriconditioning and Fungicidal Treatment of Table Beet Seed to Improve Stand Establishment and Yield. Crop Sci, 32 (1): 231-237. Khan, A.A., H. Miura, J. Prusinski, and S. lIyas. 1990. Matriconditioning of

Seeds to Improve Emergence. Proceedings of the Symposium on Stand Establis",;"ent of Horticultural cセッーウN@ 4-6 April, 1990. Minneapolis. Koesrini. 1987. Pengaruh Dosis dan Saat Pemberian TSP terhadap Produksi

dan Vigor Benih Kacang Tanah (Arachis hypogaea L) Varietas Gajah. Skripsl. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertaniar,'Bogor. 73 hal.

Kusdamayanti. 2000. Pengaruh Kondisi Simpan, Inhibitor, dan Matricondltionlng terhadap Viabilltas Benlh dan Pertumbuhan Bibit

Shorea selanica Blume. Tesis. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 107 hal.

langeraak. 1998. Seed borne Diseases in The 21st Century: The Economical Importance and the Role of the Plant Disease Committee of the International Seed Testing Association in their Management. International Workshop on Seed borne Diseases. March 25-27, 1998. Nag(Jya, Japan. P. 91-97.

louwaars, N.P. and GAM. van Marrewijk. 1996. Seed Supply System in De/eloping Countries. CTA, Wageningen. The Netherlands.

Madiki, A. 1998. Deteksi Dini Sifat Toleransi dan Peranan Perlakuan Invigorasi Benih dalam Mengatasi Cekaman Oksigen pada Berbagai Varietas/Galur Padi Sawah (Oryza sativa l.). Tesis. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 71 hal.

(7)

Nazirwan. 2001. Peningkatan Daya Simpan Bibit Enkapsulasi in vitro Brokoli (Brass/co oleracea L.) dengan Pelapisan. Tesis. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 54 hal. Nurmallah, E:S. 1999. Pengaruh Matrlconditioning plus Inokulasi dengan Trichoderma sp. terhadap Perkecambahan, Kadar Lignin, dan Asam Absisat Benih Kelapa Sawit (Elaeis guineensis )acq.). Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Plan, Z.A. 1981. Pengaruh Uap Etil Alkohol terhadap Vlabilltas Benih

Jagung (Zea mays L.) dan Pemanfaatannya untuk Menduga Daya Simpan. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 278 hal.

Purwanlngslh. 1999. Pengaruh Kondisi Simpan, Lama Penyimpanan, dan Invlgorasi terhadap Viabilitas Benih Tengkawang Tungkul (Shorea stenoptera BURCK). Tesis. Pascasarjana Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 63 hal.

Puspitarini, D.P. 2003. Sturktur Benih dan Dormansi pada Benih Panggal Buaya (Zanthoxylum rhetsa (Roxb.) D.C.). Tesis. Pascasarjana Program Studi IImu Pengetahuan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Redenbaugh, K. 1992. Synseeds. CRC.Press, Boca Raton, America. 481p. Rizain, A.W. 1999. Pengaruh TIpe Penyerbukan terhadap Produksi Benih

dan Peran Perlakuan Invigorasiterhadap Peningkatan Perkecambahan Benih Jati (Tectono grandis

L.f.).

Tesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 60 hal.

Sadjad, S., E. Murniati, dan S. lIyas. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih: dari Komparatif ke Simulatif. Penerbit PT Grasindo bekerja sarna dengan PT Sang Hyang Seri, Jakarta. 185 hal.

Sari, A.Y. 2006. Efektivitas Fungisida Botani dalam Menghambat Pertumbuhan Cendawan Patogenik Penyebab Rebah Semai pada Cabal Merah (Capsicum annuum L.) secara in vitro. Skripsi. Program Studi Hortikultura, Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 42 hal.

(8)

Daftar Pustaka

Silalahi, V.S.E. 1999. Pengaruh Perlakuan Penvimpanan dan Invigorasi terhildap Perubahan Molekuler dan Viabilitas Benih Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese). Tesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor. 60 hal.

Schmidt, L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub-Tropis 2000. (Terjemahan) Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan. Gramedia, Jakarta. 530 hal.

Smith, E.M. and F.C. Wehner. 1987. Biological and Chemical Measures Integrated with Deep Soil Cultivation Against Crator Disease of Wheat. PhythopathologV, 19: 87-90.

Smith, J.E., L. Korsten, and TAS. Aveling. 1999. Evaluation of Seed Treatments for Reducing Colletotrichum dematium on Cowpea Seed. Seed Sci. Technol, 27: 591-598.

Soejadi dan U.S. nオァイ。ィセB@ 2002. Studi Perilaku Dormansi Beberapa Genotipe Padi. Hal. 147-153. Dalam E. Murniati et

01.

(Eds.) Industri Benih di Indonesia. Laboratorium IImu dan Teknologi Benih IPB. 291 hal.

Surahman, M. dan S. IIVas. 1993. Pengaruh Pemupukan Nand P terhadap Produksi dan Vigor Benih Kedelai (Glycine max L. Merr.). Keluarga Benih, 4(2): 14-21.

Suryani, N. 2003. Pengaruh Perlakuan Matriconditioning plus Fungisida pada Cabai Merah (Capsicum annuum L.) dengan Berbagai Tingkat Kontaminasi ColI'?totrichum capsici (SVd.) Butl. et Bisby terhadap Viabilitas dan Vigor Benih. Skripsi. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Instit\Jt Pertanian Bogor. 49 hal.

Sutariati, G.A.K., \Jidodo, Sudarsono, dan S. IIvas. 2006. Pengaruh Perlakuan Rizobakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman terhadap Viabilitas Benih serta Pertumbuhan Bibit Tanaman Cabai. Buletin Agronomi, 34 (1): 46-54.

Sutariati, G.A.K., Widodo, S. lIyas dan Sudarsono. 2006. Karakter Fisiologis dan Efektivitas Isolat Rizobakteri sebagai Agens Antagonis C. capsici serta sebagai PGPR untuk Tanaman Cabal. Kultura. Juni 2006.

Pmf Or Ir \[ョエイゥカョセ@ OiカョNセN@ MS I 127

(9)

Suzanna, E. 1999. Pengaruh Penurunan Kadar Air dan Penyimpanan terhadap Perubahan Fisiologi dan Bloklmia Benih Karet (Hevea brasiliensis). Tesis. Pascasarjana Program Studl IImu Pengetahuan Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Taylor, A.G. and G.E. Harman. 1990. Concepts and Technologies of Selected Treatments. Annual Review of Phytopathology, 28: 321-339.

Taylor, A.G., P.S. Allen, M.A. Bennett, KJ. Bradford, J.S. Burris, and M.K. Misra. 1998. Seed Enhancements. Seed Sci. Res. 8: 245-256.

Untari, M. 2003. Pengaruh Perlakuan Minyak Cengkeh terhadap Tingkat Kontaminasi Cendawan Patogenik Tular:-Benih Colletotrichum capsici (Syd.) Butl. et Bisby dan Viabilitas Benih Cabal Merah (Capsicum onnuum L.). Skrlpsi. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. 62 hal.

Waemata, S. dan S.lIyas.1989. Pengaruh Tingkat Kemasakan, Kelembaban Nisbi Ruang Simpan, dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L.). Buletin Agronomi, 28 (2): 27-34.

Yunitasari, M. dan S. lIyas. 1995. Kemungkinan Penggunaan Beberapa Media' Padatan sebagai Media Matriconditioning Benih Cabai (Capsicum annuum L.). Keluarga Benih, 5 (2): 29-34.

(10)

DAFTAR lSI

Kata Penga ntar ... ... ... .. .. .. ... ... v

Daftar lsi ... " ... vii

Bab 1 Pentingnya Ben ih dalam Produksi Pe rtania n ... .. ... l

Bab 2 Sistem Perbenih an Forma l :an Informal ... ... 5

Bab 3 Sistem セ ・ イ「 ・ ョゥィ 。ョ@ di Indonesia ... .. ... 9

Bab 4 Viabilitas dan Vigor 8enih ... ... 15

Bab 5 Dormansi Benih ... 23

Bab 6 Mutu Benih ... 33

Bab 7 Pembentukan dan Perkembangan Benih ... 39

Bab 8 Produksi Benih ... .. ... 45

Bab 9 Pen anga nan d an Penyimpana n Benih ... ... .. 53

Bab

10

Penguj ian Benih .. .. .. ... ... .. ... . 65

Bab

11

Kese hat an Benih ... .. ...

71

Bab 12 Penin gka tan Mutu Beni h ... ... .... ... ... ... .... 93

Bab 13 Tekno logi Seed Cootinu dan PefJeting ... 105

Bab

14

Benih 5inte tis (Synthetic Seed) ... .. ... .. .. ... ... . 113

Oaftar Pust aka ...

121

Glosarium ...

129

(11)

ILMU DAN TEKNOLOGI B

Teori dan Hasil-hasil Penelitian

Prof Dr Ir Satriyas Ilyas, MS

Copyright

(C)

2012 Prof Dr Ir Satriyas lIyas, MS

Penyunting

Desainer Sampul

Penata lsi

Korektor

PT Penerbit IPB Press

: Yuki HE Frandy dan Nia Januarini

: Ezria E. Adyas

: Ardhya Pratama

: EI .... iana

Kampus IPB Taman Kencana Bogor

Cetakan Pertama : Oktober 2012

Dicetak oleh Percetakan IPB

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertutis dari Penerbit

ISBN,978-979-493-439-5

(12)

Bab 1

PENTINGNYA BENIH

DALAM PRODU KSI PERTANIAN

Benih se ba ga i

Inp ut

Utama

Benih merupaka n salah satu input dasardalam kegiata n produksi tanaman.

Be rdasa rkan sejarah, penggunaan benih ole h manusia menandai t ransisi dari pengumpulan maka na n seca ra nomaden ke sivilisasi berda sar

pe rtanian. Proses inl te rjadi pada bagian dunia yang berbeda. Sivilisasi awal ini dida sa ri atas tanam an yang berbeda pula, misalnya ga ndum, ba rley, le ntil d i Timur Tengah, dan jagung di Amerika Tengah. Oo mesti kasi

ta naman terjadi mela lui proses seleksi, sehingg<'l berbagai tanaman t elah berkembang menjadi tipe baru, spesies baru. Pem uli aa n tanaman modern

dan su plai benih me rupakan tahapan lai n da la m evolusi dan domestikasi

yang teru s-mene ru s.

Be nih adalah bagian ta naman yang digunakan unt uk reprod uksi, baik bagian gene ratif (true seed) maupu n vegetatif. Bag ian vegetatif dapat berupa (a) orga n reproduktif vegetatif serupa dengan "true seed" tetapi hast I dari apom ixis (misalnya rumput-rumput an), (b) akar (ubi kayu), (c) t uber (kentang), (d) batang (ubi kayu, tebu), (e ) ca bang (berbagai tanaman buah ·buahan, ubi), (f) daun (tanaman hiasJ, (g) bu lb (bawangJ, d an (h) rhizome (strawbe rry). Istilah propagul mencakup semua organ reproduktif t ana man .

(13)

Menurut data tahun 1999, petani Indonesia hanya memakai sekitar 13% benlh hortikultura bermutu, sedangkan sisanya dlpenuhl dengan berbagai macam cara misalnya dengan mengulang benih. Untuk benih bermutu tersebut, 90%-nya masih dipenuhi dengan impor sehingga Indonesia menjadl pasar benih yang potensial. Selislh harga yang cukup besar membuat kebanyakan petani Indonesia tidak dapat memperoleh benih bermutu yang kebanyakan masih diimpor. Sebagai perbandingan, pada saat benih tomat lokal hanya berharga Rp2.00D-3.000 per 10 g, harga benlh tomat impor dapat mencapai Rp7S.000 untuk berat yang sama.

Aspek Mutu Benih

Pengetahuan tentang berbag::li aspek mutu benih sangat berperan dalam perkembangan pertanian di masa lalu dan akan terus memainkan peran utama dalam peningkatan produksi tanaman dl masa mendatang.

Karakteristik mutu benih dibagi menjadi em pat gn.ip utama, yaitu mutu genetik, mutu analitik atau fisik, mutu fisiologis, dan mutu saniter

(sanitary seed quality)

atau mutu patologis. Mutu genetik ditentukan oleh karakteristik tanaman, hasil dari potensi genetik embrio, termasuk variasi genetik dalam satu lot benih. Potensi genetik dipengaruhi oleh praktik agronomi dan karakteristik ekologi di daerah produksi benih. Mutu fisik merujuk pada persentase benih utuh (tidak rusak) dari varietas tanaman yang diinginkan dalam suatu lot benih. lot benih terdiri atas benih murni, bahan

inert

(batu, sekam, benih patah), dan benih tanaman/varietas lain atau blji gulma.

Mutu fisiologis merujuk pada kemampuan benih berkecambah (tumbuhnya bagian-bagian penting kecambah) pada periode tertentu. Kondisi ini merupakan prasyarat untuk pe"kembangan suatu tanaman yang produktif. Mutu fisiologis benih mencakup viabilitas, karakteristik yang berhubungan dengan dormansi, dan· vigor. Mutu fisiologis dlpengaruhi oleh kondlsi tumbuh (tersedianya air, hara, dan tidak adanya penyakit selama stadia pengisian biji, tidak adanya hujan yang berlebihan selama pemasakan biji sampai saat panen), metode pemanenan dan perontokan yang mengakibatkan kerusakan mekanis, serta kondlsi simpan benih. Empat faktor utama yang memengaruhi mutu benih dalam penyimpanan yaitu suhu dan kelembaban ruang simpan, periode simpan, faktor biotik (fungi, insek, tikus). Pada kadar air benih tinggi, efek langsung fungi yaitu mengonsumsi jaringan benih, sedangkan efek tidak langsung

(14)

Pentlngnva Benlh dalam Produksl Pertanlan

yaitu pemanasan yang timbul akibat respirasl oleh fungi. Secara umum kadar air dan suhu tinggl menstimulasi proses metabolik dalam benlh yang mengakibatkan berkurangnya be rat, akumulasi metabolit beracun, berkurangnya vigor kecambah, viabilitas menurun, dan akhirnya benih mati.

Mutu sanitermerujuk kepada ada/tidaknya penyakittanaman di dalam atau di permukaan benih. Beberapa penyakit dapat dipindahkan (transmitted) melalul benih tanpa memengaruhi viabilltas benih atau vigor kecambah, tetapl dapat merusak tanaman pada stadia perkembangan lanjut. Standar objektif untuk mutu saniter benih sulit didefinisikan. Infeksi minor dalam lot benih dengan patogen yang baru bagl daerah dl mana benih dltanam akan berakibat fatal. Phytosanitary control harus mencegah terjadinya hal ini. Namun patogen lain dengan level yang lebih berat dapat diterima karena pad a akhirnya tanaman dapat terinfeksi dengan cara lain. Sebagai contoh, bacterial blight (Xanthomonas phaseo1/) pada Phaseolus sp. dan bacterial leal blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) penyebab penyakit hawar daun bakteri pada padi yang penularannya melalui benih, tanah, udara (seed-, soil-, air-transmitted). Oi daerah yang tanahnya terinfeksi bakterl In I, tambahan inokulum dari benlh hanya mengaklbatkan sedikit peningkatan level penyakit yang efeknya tidak nyata terhadap hasil. Namun introduksi penyakit ke tanah yang be bas dari penyakit tersebut menurunkan hasH secara nyata dan untuk waktu yang lama.

Penggunaan benih yang tidak memenuhi syarat keempat karakteristik mutu tersebut di atas akan menurunkan hasil. Hal in! ditunjukkan oleh tanaman yang merana/performa buruk karena rendahnya mutu fisik, genetik, fisiologis atau saniter, dan meningkatnya tekanan penyakit pada tanaman karena rendahnya mutu saniter.

Suplai Benih merupakan Pendekatan

Multidisiplin

Produksi benih memerlukan pengetahuan yang baik tentang genetika, metode seleksi, agronomi, fitopatologi, dan teknologl benih. Suatu industri benih memerlukan administrasi bisnis dan logistik yang balk. Kontrlbusi seluruh bldang/disiplln ilmu tersebut diperlukan untuk membuat benlh sebagai alat penting dalam perkembangan pertanian dan ketahanan pangan (food security) nasional maupun internasional.

(15)

Walaupun kehadiran varietas baru cukup penling dalam produksi pertanian, terbatasnya hasil produksi lidak saja disebabkan oleh mutu benih. Kendala fisik seperti degradasi tanah dan ketersediaan air, perubahan iklim global, kendala sosial-ekonomi seperti organisasi pasar-(slstem distribusi), ketersediaan lahan, sistem pemilikan lahan, dan meningkatnya populasi juga berperan penling. Namun dalam situasi bagaimanapun, benih adalah

low-cost input

dibandingkan dengan

input

eksternal lainnya seperti peslisida, yang dapat meningkatkan produksi tanaman untuk memenuhi kebutuhan yang selalu berubah.

Referensi

Dokumen terkait

Variabel pengamatan yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap viabilitas benih adalah kekuatan tumbuh benih (vigor) dan daya berkecambah benih

Penga~natan yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap peubah viabilitas po- tensial dan vigor benih (daya berkecambah, kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh), daya

menunjukkan pengaruh yang lebih baik pada peubah viabilitas (daya berkecambah dan bobot kering kecambah normal) dan peubah vigor benih (kecepatan tumbuh dan

Sedangkan pada benih masak fisiologis dan pasca masak fisiologis,viabilitas (daya kecambah dan kecepatan tumbuh) cenderung lebih tinggi diperoleh pada benih yang

Benih setelah penyimpanan empat minggu mengalami penurunan mutu dan setelah mendapat perlakuan matriconditioning plus agens hayati mampu meningkatkan viabilitas dan vigor benih

Benih grnelina diduga mencapai saat masak fisiologis (MF) pada umur 32 HSA yang ditandai dengan viabilitas potensial, vigor daD bobot kering benih yang maksimum. Posisi buah

Untuk menjaga agar selama penyimpanan viabilitas benih tetap dapat dipertahankan, maka benih yang disimpan haruslah benih yang mempunyai mutu fisik dan fisiologis yang tinggi

Kualitas benih yang baik memiliki daya tumbuh dan indeks vigor yang tinggi.Indeks vigor merupakan keserampakan benih dalam berkecambah.Indeks vigor yang tinggi dapat diperoleh dengan