Kualitas hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad SAW

104  Download (1)

Teks penuh

(1)

KUALITAS HADIS-HADIS KEMAKSUMAN

NABI MUHAMMAD SAW.

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Islam (S.Th.i)

Oleh: IMAM KAMALI NIM: 1110034000070

PROGRAM STUDY TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i IMAM KAMALI

Kualitas Hadis-Hadis Kemaksuman Nabi Muhammad Saw.

Sanad dan matan merupakan dua komponen pembentuk bangunan hadis yang menduduki posisi penting dalam khazanah penelitian hadis. Sebab, tujuan dari melakukan penelitian hadis adalah untuk memperoleh validitas sebuah matan hadis. Karena hadis memiliki fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan menempati pada sumber otoritas kedua setelah al-Qur’an.

Melakukan kajian hadis tidak selalu harus dimulai dengan melakukan kritik sanad, melainkan dapat diawali dengan melakukan kritik matan hadis. Bahkan, tidak jarang tokoh pemikir hadis seperti Muhammad al-Ghazali atau yang lainnya menolak hadis yang berkualitas sahih karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur’an dan secara akal sehat. Meskipun, hadis Nabi dari segi sanadnya itu dha’if, namun Muhammad al-Ghazali lebih cenderung menerima hadis tersebut karena isi dari matannya mempunyai kesesuaian ajaran

Islam dan akal sehat manusia. Asumsinya, “Kesahihan sanad tidak dapat

menjamin sahihnya matan hadis”. Karena tolak ukur sahihnya sebuah hadis itu manakala tidak bertentangan dengan al-Qur’an, tidak bertentangan dengan hadis yang lebih sahih, dan tidak bertentangan dengan akal sehat.

Meneliti matan hadis yang sanadnya sahih tiada lain bertujuan untuk mengetahui dan menetapkan sahih atau tidaknya matan hadis, kemudian mehilangkan kemusykilan pada hadis-hadis sahih yang tampak musykil (samar) serta menghilangkan pertentangan.

(6)

ii

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat-Nya Tuhan sekalian alam, atas semua limpahan karunia dan kasih sayang-Nya yang tak pernah berhenti sedetikpun kepada makhluk-Nya dan khususnya kepada saya pribadi. Salawat beserta salam tak lupa saya haturkan kepada pembawa risalah Tuhan baginda Nabi Muhammad Saw., para keluarga, sahabat, dan mereka semua yang telah menegakkan kalimat tauhid di alam jagat raya ini.

Rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan kesempatan dan kemudahan kepada saya dalam menyusun skripsi ini, dalam menyelesaikan studi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulisan skripsi ini, akhirnya selesai dengan sidang skripsi, tentunya hal ini dilalui dengan adanya bimbingan, kritikan dan masukan dalam menyempurnakan dan memperbaiki skripsi.

Saya sepenuhnya menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini, masih banyak kekurangan dan kelemahan. Namun, berkat bantuan dan dorongan dari semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, besar atau kecil dan saya ucapkan banyak terima kasih, semoga Allah Swt. membalas jasa-jasa serta melindungi dan menyayangi mereka setiap saat. Saya ucapan terima kasih kepada: 1. Ibu Dr. Lilik Ummi Kaltsum, M.Ag selaku ketua jurusan Tafsir Hadis, beserta

Ibu Dra. Banun Binaningrum selaku Sekjur Tafsir Hadis

(7)

iii

3. Seluruh Dosen Jurusan Tafsir Hadis yang telah mengajarkan dan memberikan ilmunya kepada saya selama proses perkuliahan berlangsung. Semoga Allah Swt. memberikan balasan yang tak terduga atas ilmu yang telah diberikan selama ini, semoga ilmu yang diberikan bermanfaat bagi saya.

4. Teristimewa kepada kedua orang tua saya, Bapak Daskim dan Ibu Komariyah yang tercinta dan saya banggakan. Terima kasih atas pengorbanan, kasih sayang serta do’a yang tak henti-hentinya. Semoga Allah Swt. menjaga dan menyayangi mereka hingga akhir hayatnya.

5. Teman-teman seperjuangan TH B atas kekompakan dan solidaritasnya selama perkuliahan di kampus maupun di luar kampus. Khususnya kerabat dekat dalam menyelesaikan skripsi, kepada Setiawan Doni Kusuma, Muhammad Saeful Asyari, Chairul Amin dan Muhammad Hafis serta Bang Toro.

Akhirnya saya menyadari dengan keterbatasan wawasan dan pandangan yang masih sedikit, referensi dan rujukan-rujukan lain yang belum terbaca, menjadikan penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Namun, saya berusaha untuk menyelesaikan skripsi ini dengan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan.

Dengan segala kerendahan hati, saya ingin menyampaikan harapan yang begitu besar semoga skripsi ini bermanfaat buat sekalian pembaca dan khususnya saya pribadi. Saya ucapkan banyak terima kasih.

Ciputat, 28 April 2015

(8)

v

PEDOMAN TRANSLITERASI

(9)

vi 2. Vokal

Vokal dalam bahasa Arab, seperti vocal bahasa Indonesia, terdiri dari vocal tunggal dan vocal rangkap atau diftong.

a. Vokal Tunggal

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

__ a fatḥah

__ i Kasrah

_’_ u ḍammah

b. Vokal Rangkap

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

ي_ iy a dan i

__

و aw a dan u

c. Vokal Panjang

Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan

__ ā a dengan topi di atas

__

ُـ ī i dengan topi di atas

_

ٌو ’_ ū u dengan topi di atas

(10)

vii Kata Sandang

Kata sandang, dalam sistem aksara Arab dilambangkan

dengan huruf, yaitu dialihaksarakan menjadi huruf /l/, baik

diikuti huruf syamsiyyah dan qamariyyah. Contoh: al-Rijāl bukan

ar-Rijāl, al-Dīn bukan ad-Dīn.

Singkatan

Swt. : Subḥānah wa taʻālá

Saw. : Ṣallallah ʻalayh wa sallam

Ra. : Raḍiyallah ʻanh

H : Tahun Hijriyah

M : Tahun Masehi

w. : Wafat

Tt : Tanpa Tahun

Tp : Tanpa Penerbit

b. : Bin

bt. : Binti

(11)

viii DAFTAR ISI

A. ABSTRAK ... i

B. KATA PENGANTAR ... ii

C. PEDOMAN TRANSLITERASI ... v

D. DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

D. Metodologi Penelitian ... 7

E. Kajian Pustaka ... 10

F. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II DISKURSUS KEMAKSUMAN NABI MUHAMMAD SAW. A. Pengertian Maksum ... 15

B. Kemaksuman Nabi Muhammad Saw. ... 22

BAB III PENELITIAN MATAN HADIS KEMAKSUMAN NABI MUHAMMAD SAW. A. Peristiwa Renovasi Ka bah ... 31

a. Meneliti Matan dengan Melihat Kualitas Sanad ... 31

b. Meneliti Kandungan Matan Hadis ... 32

1) Memahami Sunah dengan Tuntunan Al-Qur an ... 34

2) Mengumpulkan Hadis-Hadis yang Satu Tema ... 38

(12)

ix

B. Peristiwa Terbukanya Paha Nabi Saw. Saat Berbincang dengan

Abū Bakar dan Umar ... 44

a. Meneliti Matan dengan Melihat Kualitas Sanad ... 45

b. Meneliti Kandungan Matan Hadis ... 45

1) Memahami Sunah dengan Tuntunan Al-Qur an ... 46

2) Mengumpulkan Hadis-Hadis yang Satu Tema ... 49

3) Memadukan Hadis-Hadis yang Tampak Bertentangan 50 4) Mengetahui Asbāb al-Wurūd Hadis ... 57

C. Perdebatan Kemaksuman Nabi Muhammad Saw. ... 58

D. Perbincangan Ulama Mengenai Kualitas Hadis-Hadis Kemaksuman Nabi Muhammad Saw ... 65

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 72

B. Saran-Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 73

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Fakhr al-Dīn al-R zī (w. 606 H.), al-Nawawī (w. 676 H.), ʻAlī b. Mu ammad al-Jurj nī (w. 816 H.), Taqiy al-Dīn al-Nabh nī (w. 1398 H.)1 dan Mu ammad ʻAlī al- būnī (1975 M.) mengatakan para Imam sepakat bahwa para Nabi terjaga dari menyembah berhala, kufur, dan bidʻah dan mereka maksum dari dosa besar dan kecil yang disengaja setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian mereka sama sekali tidak melakukan dosa besar dan dimungkinkan terjadinya kekeliruan atau kesalahan yang tidak sampai merusak harga diri dan merendahkan kedudukan serta kehormatan mereka. Apabila ada kelupaan atau kelalaian maka itu boleh saja dan tidak ada seorang Imam yang menentang atau berbeda faham dalam hal ini.2

Syarīf al-Murtaḍá (w. 436 H.) dan Maytsam al-Ba r nī (w. 699 H.) mengatakan bahwa para Nabi maksum dari dosa besar dan dosa kecil baik secara tidak sengaja dan tidak lalai ataupun salah dalam pentakwilan sejak masa kanak-kanak hingga setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul.3 Karena maksiat tidak

1

Beliau merupakan pendiri izb al-Taḥrīr, didirikan pada tahun 1953 di al-Quds, Palestina.

2

Fakhr al-Dīn al-R zī, ʻIṣmat al-Anbiy (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986), 41-42. Lihat juga al-Nawawī, Rawḍat al- libīn waUmdat al-Muftīn (Beirūt: Maktabat al-Isl mī, 1991),

J. 10, 205. Lihat juga Mu ammad ʻAlī al- būnī, al-Nubuwwah waal-Anbiy (Beirūt: Maktabat

al-Ghaz lī, 1975), J. 3, 58. Lihat juga ʻAlī b. Mu ammad al-Jurj nī, Syarḥ al-Maw qif (Beirūt:

D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1998), J. 8, 288. Lihat juga Taqiy al-Dīn al-Nabh nī, al-Syakhṣiyyah

al-Isl miyyah (Beirūt: D r al-Ummah, 2003), J. 1, 136. 3

Maytsam al-Ba r nī, Qaw id al-Mar m fī Ilm al-Kal m (Maktabat yatullah

al-ʻAẓamī, 1998), Cet. 2, 125. Lihat juga Syarīf al-Murtaḍá, Tanzīh al-Anbiy (Qum: Amīr, 1955),

(14)

bisa dikategorikan ini maksiat kecil atau besar, sengaja atau tidak disengaja, baik itu sebelum kenabian atau sesudah kenabian. Bagaimanapun perbuatan maksiat dapat merusak harga diri dan kehormatan serta mencerminkan watak seseorang.4 Pendapat ini kemudian menjadi pijakan oleh golongan Syiʻah.

Dari beberapa pendapat ulama di atas, menunjukkan adanya perdebatan ulama dalam hal kemaksuman Nabi dan Rasul, satu sisi sebagian ulama berpendapat Nabi dan Rasul maksum dari sejak lahir hingga akhir hayatnya dan sebagian ulama berpendapat Nabi dan Rasul maksum hanya setelah pengangkatannya menjadi nabi dan rasul.

Ditemukan beberapa riwayat yang menunjukkan adanya kemaksuman Nabi Muhammad Saw. secara fisik dari sebelum diangkatnya menajadi Nabi dan Rasul, seperti terlahir dalam keadaan tersunat sehingga aurat beliau tidak terlihat seseorang5 dan terjaga dari kemaksiatan dan keburukan perilaku kaum jahiliyah.6 Riwayat-riwayat ini yang kemudian dijadikan dalil atas kemaksuman Nabi Muhammad Saw. dari sejak lahir hingga setelah kenabian.

Saya mencoba menampilkan satu riwayat yang diduga menunjukkan ketidakmaksuman Muhammad Saw. sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, yaitu pada peristiwa Muhammad Saw. mengikuti renovasi Kaʻbah bersama pamannya al-ʻAbb s.

Dalam kitab al- aḥīḥ al-Bukh rī, al-Bukh rī meriwayatkan dari J bir b.

4 Jaʻfar al-Sub nī, ʻ

Iṣmat al-Anbiy fī al-Qur‟ n al-Karīm (Beirūt: D r al-Wal , 2004), Cet. 2, 41.

5Abī Nuʻ

aym al-I bah nī, Dal il al-Nubuwwah(Beirūt: D r al-Naf is, 1986), Cet. 2, 154.

6 Mu ammad al-Ghaz lī,

Fiqh al-Sīrah (Beirūt: D r al-Kutub, 1965), Cet. 6, 72. Lihat

juga Dal il al-Nubuwwah karya Abū Nuʻaym, 186. dan Dal il al-Nubuwwah karya al-Bayhaqī,

(15)

ʻAbdullah yang menceritakan bahwa sebelum kenabian, Muhammad Saw. ikut

serta dengan pamannya, al-ʻAbb s b. ʻAbd al-Mu lib dalam merenovasi Kaʻbah.7 Umumnya orang-orang mengangkat batu dengan beralaskan sehelai kain yang diletakkan di pundak mereka kecuali Muhammad Saw., hingga kemudian pamannya al-ʻAbb s memerintahkan Muhammad Saw. agar mengikatkan iz r8 pada lehernya9 supaya meringankan beban batu yang diangkatnya.10 Maka beliau mengikuti sebagaimana saran pamannya, yaitu melepas dan mengikatkan iz r pada lehernya. Namun tidak lama kemudian Muhammad Saw. jatuh ke tanah hingga matanya terbelalak hingga iz r yang dikenakannya terlepas, Nabi merasa kehilangan iz r yang beliau pakai, kemudian Nabi Saw. mengenakan iz r-nya kembali dengan ikatan yang lebih kuat lagi. Peristiwa ini terjadi ketika Muhammad Saw. berusia 35 tahun.11

Pada peristiwa ini ada riwayat yang mengatakan bahwa Muhammad Saw. telanjang (tanpa pakaian)12 dan dalam riwayat Abū al- ufayl bahwa aurat

7

Beberapa tahun sebelum Muhammad Saw. diangkat menjadi nabi, kota Makkah sering di landa banjir hingga menenggelamkannya, mengakibatkan bangunan Kaʻbah semakin rapuh sehingga memaksa orang-orang Quraisy memutuskan untuk merenovasi Kaʻbah demi kehormatan dan kesucian warisan peninggalan syari’at Nabi Ibrahim as. yang masih dijaga dikalangan orang Arab.

8 Iz r bermakna

al-Milḥafah yaitu selimut atau pakaian sejenis jubah. Lihat Ibn Manẓūr,

Lis n al- Arab (Beirūt: D r al-Fikr, 1990), J. 4,16.

9 Riwayat lain mengatakan, pamannya al-ʻAbb s memerintahkan Muhammad Saw. untuk meletakkan sarung pada pundaknya. Lihat aḥīḥ al-Bukh rī (al-Q hirah: D r Ibn al-Jauzī, 2010), no hadis 364, 56.

10

Al-Buthy, Fikih Sirah, penerjemah Fuad Syaifudin Nur (Jakarta: Hikmah PT Mizan Publika, 2010), Cet. 1, 65. Lihat juga Mu ammad al-Ghaz lī, Fiqh al-Sīrah (Beirūt: D r al-Kutub,

1965), Cet. 6, 83. 11 Al-Bukh rī,

aḥīḥ al-Bukh rī (Bairūt: D r al-Fikr, 1994), J. 3, 282. (Kit b;man qib al-Anṣ r, Bab : Buniya al-Ka'bah, No. adith : 3829).

12 Ibn ajar al-ʻAsqal nī

, Fatḥ al-B rī. Penerjemah Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam,

(16)

Muhammad Saw. terlihat (awal mula Nabi diseru untuk menutup auratnya).13 Melihat peristiwa ini, muncul dugaan bahwa Muhammad Saw. sebelum diangkat menjadi Nabi itu tidak maksum artinya kalau Nabi itu maksum maka Nabi terjaga dari terbukanya aurat meskipun secara tidak sengaja karena konsep maksum itu bukan berarti menjaga diri akan tetapi dijaga ataupun terjaga.

Berangkat dari riwayat yang diduga Muhammad Saw. terbuka auratnya, maka penelitian ini mengkaji ulang kualitas hadis-hadis yang diduga adanya ketidakmaksuman Nabi Muhammad Saw., karena saya berpatokan pada sebuah teori “Kesahihan sanad tidak dapat menjamin sahihnya matan hadis”,14 ini sebagai tolak ukur sahihnya matan hadis.Begitu juga ditemukan beberapa ayat

al-Qur’an maupun dari hadis Nabi secara lahiriyah Muhammad Saw. melakukan

kesalahan yang kemudian mendapat teguran dari Allah Swt. Tidak menutup kemungkinan, peristiwa terbukanya aurat Nabi Muhammad Saw. baik dari sebelum dan sesudah kenabian menunjukkan adanya ketidakmaksuman.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, saya akan melakukan kajian yang dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul: “KUALITAS HADIS-HADIS KEMAKSUMAN NABI MUHAMMAD SAW.”

13 Ibn ajar al-ʻAsqal nī,

Fatḥ al-B rī. Penerjemah Amiruddin (Jakarta: Pustaka Azzam,

2003), Cet 2, J. 19, 119. Lihat juga A mad ibn anbal, al-Musnad (al-Q hirah: D r al- adīts, 1995), Cet. 1, J. 17, 125. (no. hadis 23684 & 23690).

14

(17)

B. Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dan untuk memperjelas alur penelitian ini, maka saya perlu mengidentifikasi beberapa masalah mengenai kemaksuman Muhammad Saw. berikut untuk kemudian diteliti lebih lanjut:

a. Apa yang dimaksud dengan maksum? b. Kapan istilah maksum itu ada?

c. Siapakah yang pertama kali menggunakan istilah maksum ini?

d. Apakah Muhammad Saw. maksum dari sebelum kenabian atau sesudah kenabian?

e. Apakah maksum diberikan kepada selain para Nabi dan Rasul?

f. Bagaimana perbincangan ulama tentang kualitas hadis kemaksuman Muhammad Saw.?

g. Bagaimana kualitas hadis-hadis yang menunjukkan adanya ketidakmaksuman Muhammad Saw. sebelum dan sesudah kenabian? 2. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dari beberapa identifikasi masalah yang muncul dan untuk memudahkan penelitian ini, saya hanya membatasi masalah pada poin a, d, f, dan poin g. Pembatasan pada empat poin yang saya pilih, karena dalam penelitian ini, saya fokuskan pada riwayat-riwayat yang menunjukkan ketidakmaksuman Muhammad Saw. sehingga poin-poin tersebut dirasa perlu untuk diteliti lebih lanjut.

(18)

Saw. sebelum dan sesudah kenabian. Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka disusun rumusan masalah skripsi ini adalah: Bagaimana kualitas hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad Saw.?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Secara umum penelitian ini bertujuan menjelaskan arti maksum dan menganalisis kualitas hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad Saw. 2. Adapun tujuan khusus penelitian ini, guna melengkapi salah satu

persyaratan akhir pada program S1 untuk meraih gelar S.Th.i (Sarjana Theologi Islam) di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini antara lain:

1. Mengetahui arti maksum secara mendalam.

2. Mengetahui kualitas hadis-hadis kemaksuman Muhammad Saw.

3. Diharapkan dapat memberikan dan menambah wawasan serta pandangan kajian Islam terutama dalam studi Hadis, yaitu mengenai kajian kulitas

(19)

D. Metode Penelitian

Dalam skripsi ini, saya menggunakan tiga aspek metode penelitian, yaitu: 1. Metode Pengumpulan Data

Dalam penulisan skripsi ini, saya menggunakan penelitian kepustakaan (library research).15 Saya mengumpulkan data-data hadis atau riwayat yang menunjukkan ketidakmaksuman Muhammad Saw. sebelum kenabian dan sesudah kenabian. Data-data diperoleh dengan cara mengumpulkan bahan-bahan baik dari perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta maupun Google Book. Setelah data terkumpul kemudian saya klasifikasi menjadi dua jenis sumber data yaitu:

1. Sumber data primer, untuk penelitian ini merujuk pada dua kitab yaitu: aḥīḥ al-Bukh rī dan aḥīḥ Muslim.

Cara pengumpulan data-datanya melalui buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan permasalahan yang menjadi obyek penelitian.

16 Ibn Hisy m, Sīrah Nabawiyah (Beirūt: D r Ibn

azm, 2009), Cet. 2, 88. 17

Ibn Is q (ta qīq dan shar : Ibn Hish m), Sirah Nabawiyah. Penerjemah H. Samson Rahman (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2012), 111-112.

(20)

al-Anbiy ,21 Alī bin Muḥammad al-Jurj nī; Syarḥ al-Maw qif,22 Muḥammad

Dalam melakukan penelitian ini, saya menggunakan dua langkah metodologis penelitian matan hadis, yaitu:

1. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanad hadis.31 2. Meneliti kandungan matan.

Langkah selanjutnya dalam upaya memahami hadis Nabi, saya

21 Fakhr al-Dīn al-R zī, ʻ

Iṣmat al-Anbiy (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986),

41-42.

22 ʻAlī b. Mu ammad al-Jurj nī,

Syarḥ al-Maw qif (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah,

1998), J. 8, 288.

23 Mu ammad ʻAlī al- būnī,

al-Nubuwwat waal-Anbiy (Beirūt: Maktabah al-Ghaz lī,

1975), J. 3, 58.

Artikel di akses pada 19 Juli 2014 dari http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/

articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/prophethood/kemaksuman_nabi/001.html 31 Siti Masyitoh, “Kualitas Hadis

-hadis Dalam Tafsir al-Azhar; Studi Kritik Matan

(21)

menggunakan metode yang ditawarkan oleh Yūsuf al-Qaraḍ wi,32 yaitu: a. Memahami al-Sunnah dengan tuntunan al-Qur’an.

b. Menghimpun hadis-hadis yang satu tema.

c. Memadukan hadis-hadis yang tampak bertentangan.

d. Mengetahui Asb b al-Wurūd Hadis (Memahami hadis sesuai dengan latar belakang, situasi dan kondisi serta tujuannya).

e. Membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan tujuan yang bersifat tetap dalam setiap hadis.

f. Membedakan antara ungkapan hakikat dan majaz. g. Membedakan antara yang gaib dan nyata.

h. Memastikan makna kata-kata dalam hadis.

Saya menggunakan metode ini, karena metode yang ditawarkan oleh

Yūsuf al-Qaraḍ wī lebih terbuka dan rinci sehingga dalam memahami hadis tidak

sampai pada lahiriyah teks hadis saja, namun perlu memperhatikan sebab-sebab yang terkait di sekeliling teks hadis dengan tetap berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah.

3. Metode Penulisan

Adapun metode penulisan dalam skripsi ini, saya sepenuhnya mengacu pada buku pedoman akademik: Penulis Skripsi, Tesis dan Desertasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2010/2011,33 kecuali untuk transliterasi.

32Yūsuf al

-Qaraḍ wī, Kayfa Nata mal maa al-Sunnah al-Nabawiyah (al-Q hirah: D r al-Syurūq, 2002), 111.

33

(22)

E. Kajian Pustaka

Terdapat beberapa kajian penelitian terdahulu yang membahas kemaksuman para Nabi dan Rasul berupa skripsi, Tesis, buku/kitab, dan artikel, dengan catatan semuanya berbeda pembahasan satu sama lainnya, diantaranya: a. Adithia Warman,34 dari Fakultas Dirasat Islamiyah 2010, skripsinya berjudul

“Konsep Ishmah Para Nabi Menurut Imam Fakhr al-Dīn al-R zī”. Skripsi ini

lebih fokus mengkaji pemahaman al- Iṣmah para Nabi menurut Imam al-R zī dengan menjelaskan pengertian Nabi dan Rasul, perbedaan antara muʻjizat, karamah, dan sihir, dan kemaksuman para Nabi serta pembagian kemaksuman.

b. Muhammad Ridwan,35 dari Fakultas Dirasat Islamiyah 2009, skripsinya berjudul “Konsep Kenabian Menurut Mazhab Asy ary”Ṭ Skripsi ini hanya menjelaskan pengertian Nabi dan Rasul, seputar madzhab al-Asy irah berikut ulama-ulama besar yang bermadzhabkan al-Asy irah, dan teori kenabian menurut al-Asy irah.

c. Muhammad Yusfik,36 Tesisnya berjudul “Kenabian Muhammad Saw. Menurut Al-Qur'an: Kajian Tematik tentang Misi Kenabian Muhammad

SawṬ” Tesis ini mengulas sejarah Nabi Muhammad Saw. dari sebelum

kenabian hingga sesudah kenabian, menjelaskan konsep kenabian Muhammad Saw. dan misi kenabian Muhammad Saw. menurut al-Qur’an.

34 Adithia Warman, “

Konsep Ishmah Para Nabi Menurut Imam Fakhr al-Dīn al-Razi,”

(Skripsi S 1 Fakultas Dirasat Islamiyah, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2010). 35 Ahmad Ridwan, “

Konsep Kenabian Menurut Mazhab Asy'ary,” (Skripsi S1 Fakultas

Dirasat Islamiyah, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2009).

36 Muhammad Yusfik, “Kenabian Muhammad SawṬ Menurut Al

-Qur‟an: Kajian Tematik

(23)

d. Syarīf al-Murtaḍá (w. 436 H.),37 dengan judul “Tanzīh al-Anbiy ”. Karya ini berisikan tentang perbedaan pendapat dalam kesucian para Nabi dari dosa, kesempurnaan kesucian para Nabi dari dosa kecil dan besar dengan memberikan contoh dari kesucian Nabi Adam as. sampai pada kesucian Nabi Muhammad Saw. namun tidak menjelaskan seluruh para Nabi hanya beberapa Nabi saja serta para Imam yang dianggap suci seperti sahabat ʻAlī, al- asan b.

ʻAlī, Abū ʻAbdullah al- usayn b. ʻAlī, Abū al- asan ʻAlī b. Mūsá, dan al

-Q im al-Mahdī.

e. Fakhr al-Dīn al-R zī (w. 606 H.),38 dengan judul “Iṣmat al-Anbiy ”Ṭ Karya ini berisikan tentang sekilas pendapat-pendapat madzhab dalam hal kemaksuman para Nabi, dan pendapat Fakhr al-Dīn al-R zī sendiri mengenai wajibnya kemaksuman para Nabi serta memberikan lima belas dalil dalam pembahasan kemaksuman para Nabi.

f. Jaʻfar al-Sub nī,39 dengan judul “ʻIṣmat al-Anbiy fī al-Qur‟ n al-Karīm”Ṭ

Karya ini menjelaskan munculnya teori al- Iṣmah, hakikat arti maksum, apakah kemaksuman itu hasil dari ikhtiar atau karunia Ilahi, dan kemaksuman para Nabi yang terdapat di dalam al-Qur’an, seperti Nabi dam, Nabi Nū ,

Nabi Ibr hīm, Nabi Yūsuf, Nabi Mūsá, Nabi D wud, Nabi Sulaym n, Nabi

yūb, Nabi Yūnus, dan Nabi Muhammad Saw.

37Syarīf al

-Murtaḍá, Tanzīh al-Anbiy (Qum: Amīr, 1955), 15.

38 Fakhr al-Dīn al-R zī, ʻ

Iṣmat al-Anbiy (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986),

39-40.

39 Jaʻfar al-Sub nī, ʻ

(24)

g. Al-Syarbinī,40dengan judul “Radd Syubuh t awl Iṣmat al-Nabī fī Ḍaw

al-Kit b wal-Sunnah”Ṭ Karya ini menjelaskan secara khusus mengenai

kemaksuman Nabi Muhammad Saw. dari segi akal dan fisik, serta penolakan ketidakjelasan kemaksuman Nabi Saw. dari segi akal dan fisik, kemaksuman Nabi Saw. dalam menyampaikan wahyu Allah Swt. serta penolakan ketidakjelasan kemaksuman Nabi Saw. dalam menyampaikan wahyu, kemudian kemaksuman Nabi Saw. dalam berijtihad serta penolakan ketidakjelasan kemaksuman Nabi Saw. dalam berijtihad, dan selanjutnya kemaksuman tingka laku Nabi Saw. serta penolakan ketidakjelasan kemaksuman tingka laku Nabi Saw..

h. Mu ammad ʻAlī al- būnī (1975 M),41 dengan judul “al-Nubuwwah

wal-Anbiy ”Ṭ Karya ini berisikan tentang kenabian dan para Nabi; menjelaskan

bahwa kenabian merupakan karunia Tuhan, perbedaan antara al-Nubuwwah

dengan al-Mulk, dan kenapa para Nabi itu dari kalangan manusia. Selanjutnya keutamaan dakwah para Nabi; para Nabi berdakwah atas perintah Tuhan dan mereka tidak pernah mengharapkan pahala ataupun imbalan dari risalah yang mereka emban dan sifat-sifat yang mereka miliki seperti al- idq, al- Am nah, al-Tablīgh, al-Faṭ nah, al-Sal mat min al-Uyūb al-Munaffirah, dan

al-Iṣmah. Kemudian kemaksuman para Nabi; menjelaskan pengertian Maksum dan makna maksum menurut Syariat dan apakah para Nabi Maksum dari sebelum kenabian atau sesudah kenabian?. Kemudian kisah-kisah para Nabi;

40 Al-Syarbinī, Radd Syubuh t

awl Iṣmat al-Nabī fī Ḍaw al-Kit b wal-Sunnah (al-Q hirah: D r al- a īfah, 2003), 68-69.

41 Mu ammad ʻAlī al- būnī,

al-Nubuwwah wal-Anbiy (Beirūt: Maktabah al-Ghaz lī,

(25)

yakni mengambil pelajaran dari kisah para Nabi dan memahami tujuan kisah-kisah dalam al-Qur’an. Selanjutnya menjelaskan mengenai pengkisahan Nabi Adam menurut al-Qur’an, serta Ulil ʻAzmi dan para Nabi lainnya.

i. Tidak menyebutkan nama penulisnya,42 dengan judul “Kemaksuman Nabi”. Artikel ini, menjelaskan makna maksum, argumentasi dan manfaat kemaksuman, jenis-jenis kemaksuman, dan mungkinnnya sesorang selain para Nabi dan Rasul mendapat predikat maksum dengan tiga hal yaitu ketakwaan yang tingggi kepada Allah Swt., ilmu yang sempurna akan akibat dari perbuatan, dan kecintaan yang sempurna kepada Allah Swt. Ketiga syarat ini, menurut penulis artikel mampu mendapat predikat kemaksuman.

Delapan karya yang disebutkan di atas, berbeda dengan penelitian yang akan dikaji dalam skripsi ini. Pembahasan tentang kemaksuman Nabi, yang membedakan dengan peneliti sebelumnya adalah skripsi ini lebih fokus membahas dan mengkaji kualitas hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad Saw. sehingga akan diketahui kualitas matan hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad Saw. baik itu ṣaḥīḥ ataupun if.

F. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, saya menyajikan dalam bentuk bab disertai subbab-subbab yang berkaitan. Hal ini saya maksudkan agar lebih mudah dalam memahami bahasan yang dikaji atau yang diteliti.

Bab pertama, pendahuluan. Dalam pendahuluan ini, saya membahas mengenai latar belakang masalah dari kajian ini, kemudian identifikasi,

42

di akses pada 19 Juli 2014 dari http://www.alhassanain.com/indonesian/articles/

(26)

pembatasan, dan perumusan masalah yang saya akan kaji, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan diakhiri sistematika penulisan dari penelitian ini.

Bab kedua, berisikan diskursus kemaksuman Nabi Muhammad, meliputi beberapa sub bab dimulai dari pengertian maksum, hal ini dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui konsep maksum secara umum. Lebih lanjut, menjelaskan tentang kemaksuman Nabi Muhammad Saw.

Pada bab ketiga, analisis kritik matan hadis, meliputi empat sub bab pembahasan. Pertama, meneliti matan dengan kualitas sanad hadis, ini saya anggap penting karena sebelum melangkah pada kajian kritik matan hadis tentu harus terlebih dahulu mengetahui kualitas sanad hadisnya. Kedua, meneliti kandungan matan hadis, pembahasan ini penting sekali karena memperhatikan latar belakang hadis, kemudian apakah hadis tersebut mengandung kontradiksi atau tidak, al-Qur’an maupun al- adīts. Ketiga, perdebatan kemaksuman Nabi Muhammad Saw. Keempat, kualitas hadis-hadis kemaksuman Nabi Muhammad Saw.

(27)

15

DISKURSUS KEMAKSUMAN NABI MUHAMMAD SAW.

A. Pengertian Maksum

Secara bahasa maksum berasal dari bahasa Arab yaitu al- Iṣmah asal kata dari )مصعي -مصع) bermakna al- ifẓ dan al-Wiq yah (penjagaan), sedangkan maksum menurut ucapan orang Arab maknanya al-ims k (menahan diri), al-man

(mencegah), dan mul zamah (patuh). Semua mengandung satu pengertian yaitu pemeliharaan Allah Swt. terhadap hambanya dari terjadinya kesalahan atau keburukan.1 Menurut al-R ghib al-A fah nī al- iṣm bermakna al-ims k (menahan diri),2 dan menurut Ibn Manẓūr kata maksum (al- iṣm) bermakna

al-man (mencegah).3 Dalam al-Qur’an, kata al- iṣmah ditemukan tiga belas kali dari

tiga belas ayat dalam bermacam-macam bentuk,4 diantaranya berkaitan dengan perlindungan Nabi Muhammad Saw. dan peristiwa Nabi Nuh as. dengan anaknya. Berikut ayatnya:

ۚ

5

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanah-Nya. Dan Allah Swt. memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah Swt. tidak memberi petunjuk kepada orang-orang

yang kafirṬ”

Ayat ini berbicara mengenai penjagaan dan pertolongan Allah Swt. kepada

(28)

Nabi Muhammad Saw. dalam mengemban risalah dari kejahatan dan yang menundukkannya. Syaikh al- ūsī dalam hal maksum, ia menganalogikan seperti tali geriba6 yaitu tali yang diikatkan untuk membawa geriba dengan tujuan untuk menguatkan tali kulit atau benang tersebut pada geriba, dalam arti maksum sebagai bukti penguat kebenaran seorang Rasul dengan risalah yang disampaikannya.7 Kemudian pada peristiwa dialog Nabi Nuh dengan anaknya yang terekam dalam al-Qur’an al-Karim:

8

“Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nabi Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Swt. (saja) yang Maha

penyayang”. dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkanṬ”

Ayat ini menceritakan dialog Nabi Nuh bersama anaknya yang ingkar yang mencoba mencari tempat perlindungan ke gunung dari bahaya air yang akan menenggelamkannya dan yang mampu memberikan pencegahan (keselamatan) hanya Allah Swt. Maka Nabi Nuh selamat.9

Ringkasnya, kata maksum (al- iṣmah) mempunyai arti menahan diri, mencegah, dan patuh dari segala perbuatan salah dan buruk.

Arti maksum secara bahasa tidak mengandung arti yang mendalam. Namun, bila dihubungkan dengan kenabian dan kerasulan maka akan sangat berarti dan mempunyai pengaruh besar hingga timbul perbedaan pandangan

6

Tempat air yang terbuat dari kulit. 7Abī Jaʻfar Mu

ammad b. al- asan al- ūsī, al-Tiby n fī Tafsīr al-Qur n (Beirūt: D r

I y al-Tur ts al-ʻArabī, tt), J. 3, 588. 8 Hūd [11]: 43.

9

Abī Jaʻfar Mu ammad b. al- asan al- ūsī, al-Tiby n fī Tafsīr al-Qur n (Beirūt: D r

(29)

dalam pengertian kemaksuman, antara lain:

1. Maksum merupakan anugerah besar yang dikaruniakan oleh Allah Swt. kepada para Nabi dan Rasul, karena sifat-sifat yang mereka miliki sehingga menyelamatkan mereka dari perbuatan dosa dan maksiat, dari segala kemungkaran dan perkara-perkara yang diharamkan.10

Para ulama menafsirkan kemaksuman ke dalam empat kriteria:

a. Terdapat malakah ilahiyah (bakat, kemampuan) untuk melakukan perbuatan baik dalam menjaga kesucian jiwa dan menjauhkan diri dari berbagai macam perbuatan keji.

b. Mempunyai pengetahuan akan manfaat ketaatan dan akibat buruk dari perbuatan maksiat.

c. Penegasan ilmu dengan wahyu dan bukti dari Allah Swt.

d. Jika melakukan kekeliruan tanpa sengaja, maka ia harus bertobat, menghukum dan memperingatkan diri serta merasa malu hati.

Jika keempat kriteria tersebut terdapat pada diri seseorang, maka kemaksuman (dari perbuatan dosa) akan melekat. Menjaga kesucian jiwa diiringi dengan pengetahuan yang kuat, lalu dimantapkan dengan wahyu yang diterima, serta adanya bukti nyata, dan merasa takut dengan siksa dari kesalahan terkecil. Semua ini merupakan hakikat maksum yang disandang oleh para utusan Allah Swt. yaitu para Nabi dan Rasul. 11

2. Mayoritas ulama Mu’tazilah berpendapat bahwa seorang Rasul tidak melakukan dosa besar sama sekali dengan unsur kesengajaan, adapun

10

Mu ammad ʻAlī al- būnī, al-Nubuwah wa al-Anbiy (Beirūt: Maktabah al-Ghaz lī,

1975), J. 3, 54. 11

(30)

melakukan dosa kecil dengan unsur sengaja itu boleh, tentu dengan syarat perbuatan tersebut tidak menjijikan, mencacatkan atau dengan kata lain perbuatan tersebut tidak menurunkan derajat dan kehormatan baginya. Adapun

menurut AbūʻAlī al-Jub ī bahwa seorang Rasul tidak melakukan dosa besar

dan kecil dengan kesengajaan, akan tetapi boleh saja terjadinya kekeliruan dalam pentakwilan.12

Nabi Saw. pernah ditegur oleh Allah Saw. karena mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, yaitu ketika Nabi Saw. mengharamkan dirinya untuk minum madu setelah dari kediaman Zaynab bt. Ja sy. Demi menjaga keharmonisan dan menyenangkan istri-istrinya, Nabi Saw. bersumpah untuk tidak minum madu.13 Teguran yang ditujukan kepada Nabi Saw. bukan karena Nabi Saw. berbuat dosa. Akan tetapi, merupakan bentuk peringatan atau teguran kemuliaan supaya Nabi Saw. melakukan hal yang lebih sempurna dan utama yaitu dengan meninggalkan pengharaman karena lebih utama daripada melakukan pengharaman.14

3. Menurut Syaikh al-Mufīd bahwa seorang Nabi menjadi maksum dari lupa dan salah setelah diangkat sebagai utusan Tuhan. Adapun sebelum masa kenabian para Nabi kecuali Nabi Muhammad Saw., mereka melakukan dosa kecil yang tidak mencacatkan derajat mereka. Kemudian konsep maksum ini dikupas secara menyeluruh oleh murid Syaikh al-Mufīd yaitu al-Sayyid al-Murtaḍá. Menurutnya, Nabi dan Rasul itu suci dari semua dosa sebelum dan sesudah

12 Fakhr al-Dīn al-R zī, ʻ

Iṣmat al-Anbiy (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986), 40.

13 Al-Bukh rī,

aḥīḥ al-Bukh rī (al-Q hirah: D r ibn al-Jawzī, 2010), 600.

14 Fakhr al-Dīn al-R zī, ʻ

Iṣmat al-Anbiy (Beirūt: D r al-Kutub al-ʻIlmīyah, 1986),

(31)

kenabian baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Sehingga pada akhirnya pendapat al-Sayyid al-Murtaḍá ini menjadi pijakan madzhab Syi’ah hingga sekarang.15

Sebelum kenabian, jdikisahkan bahwa Nabi Saw. hendak melihat pesta pernikahan dalam tradisi jahiliyah. Pada saat itu Nabi Saw. sedang mengembala kambing bersama kawan-kawannya kemudian terdengar suara nyanyian dan pukulan rebana, Nabi Saw. hendak melihat pesta tersebut dan menitipkan gembalaan kepada temannya. Akan tetapi, belum sampai pada tempat tujuan Nabi Saw. lelah dan tertidur sehingga beliau tidak sempat menghadiri pesta tersebut.16

Kemudian Nabi Saw. pernah diajak oleh pamannya Abū lib ke negeri Syam bersama rombongan dagang Quraisy, setelah sampai di Busrá, sebuah kawasan di Syam, mereka beristirahat di dekat rumah ibadah pendeta Ba īra al

-R hib. Kemudian pendeta membuatkan makanan untuk menjamu para rombongan

Quraisy dan memerintahkan agar jangan sampai ada seorangpun yang tidak ikut makan yang telah disediakan oleh pendeta Ba īra al-R hib. Tenyata ada satu pemuda yang menjaga di tempat perbekalan rombongan yaitu Nabi Saw. Setelah itu, pendeta Ba īra al-R hib mendekati Nabi Saw. dan mendudukannya bersama rombongan lainnya.17

Pendeta itu menemukan kemuliaan terhadap pemuda itu, sehingga ia memperhatikan gerak-gerik seluruh tubuhnya. Setelah selesai makan, rombongan

15

Wan Zailan Kamaruddin, Siapa Itu Nabi-Nabi (Kuala Lumpur: PTS Millennia SDN, 2004), 58.

16 Abū Nuʻaym al-Abah nī, Dal il al

-Nubuwwah (Beirūt: D r al-Naf is, 1986), Cet. 2,

186. 17

Ibn Is q, al-Sīrah al-Nabawiyyah (Beirūt: D al-Kutub al-ʻIlmīyah, 2004), J. 1,

(32)

Quraisy berpencar sedangkan pendeta Ba īra al-R hib mendekati anak kecil itu (Nabi Saw.) dan bertanya kepadanya: “Wahai anak muda, dengan menyebut

nama al-L ta dan al- Uzz aku bertanya kepadamu dan jawablah apa yang aku

tanyakan kepadamu?” Kemudian pemuda (Nabi Saw.): “Janganlah sekali-kali

engkau bertanya tentang sesuatu apapun kepadaku dengan menyebut nama

al-L ta dan al- Uzz Ṭ Demi Allah, tidak ada yang sangat aku tidak suka melebihi

keduanya”. Pendeta berkata: “Baiklah aku bertanya kepadamu dengan menyebut

nama Allah Swt. dan hendaknya engkau menjawab pertanyaankuṬ” Pemuda (Nabi Saw.) menjawab:“Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak kau tanyakan!”18

Kemudian pendeta bertanya banyak hal kepada Nabi Saw. mengenai postur tubuh dan tidurnya Nabi Saw. Pada akhirnya, pendeta itu menemukan tanda kenabian yang berada diantara kedua pundak persis sebagaimana ciri-ciri seorang Nabi yang telah diketahuinya.19

Kedua riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Saw. di masa sebelum kenabian, beliau berada dalam perlindungan dan penjagaan Allah Swt. dan dalam keadaan bertauhidkan kepada Allah Swt.

Perbedaan pendapat tidak hanya berujung pada pengertian kemaksuman saja, hingga pada kemaksuman Nabi dan Rasul dari terjadinya maksiat dan dosa, apakah maksum itu atas kuasa dan kehendak sendiri (ikhtiar) atau maksum itu merupakan kuasa dan kehendak Tuhan. Selanjutnya pandangan beberapa ulama mengenai hal ini, sebagai berikut:

Ulama al-Asy ʻirah (penganut madzhab al-Asyʻarī) dan al-Asyʻarī berbeda

18

Ibn Is q, al-Sīrah al-Nabawiyyah (Beirūt: D al-Kutub al-ʻIlmīyah, 2004), J. 1, 123.

19

(33)

pendapat dalam hal ini, seperti al-R zī dan al-Ghaz lī berpendapat, Tuhan menjadikan kebaikan kepada diri seseorang dengan membolehkannya melakukan ketaatan dan menghindari maksiat dengan kuasa dan kehendak sendiri. Begitu juga menurut al-Qaḍī ʻIy ḍ yang menekankan bahwa para Nabi dan Rasul itu maksum di sisi Tuhan dari kesalahan dan dosa dengan daya usaha dan kehendak mereka sendiri.

Berbeda dengan al-Asyʻarī yang berpendapat bahwa maksum merupakan paksaan Tuhan (anugerah) yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul dan tidak berkehendak berbuat dosa. Al- usayn b. Mu ammad al-Najj r (ulama

al-Jabarīyah) juga sependapat dengan al-Asyʻarī yang mengatakan bahwa para Nabi

tidak kuasa melakukan maksiat dan dosa.

Secara umum pendapat mayoritas ulama Ahl al-Sunnah wal-Jam ʻah,

Syiʻah dan Muʻtazilah lebih menekankan pada kebebasan memilih melakukan

kebaikan dan keburukan dengan kuasa dan kehendak sendiri (ikhtiar). Karena kebaikan itu menjadi penghalang bagi para Nabi dan Rasul dari berbuat dosa dan kesalahan, dalam arti kebaikan dari Tuhan merupakan sebuah petunjuk, penjagaan, penghormatan dan kebesaran bagi mereka.20 Sekalipun mereka berkuasa dan berkehendak, mereka tidak akan melalaikan ketaatan dan melakukan perbuatan dosa, karena para Nabi dan Rasul dibimbing dan mendapat petunjuk dari Allah Swt.

Setiap Nabi dan Rasul dijaga oleh Allah Swt. dari kesalahan dan dosa (Maksum), dikarenakan mereka adalah pembawa risalah Allah Swt. Sekalipun

20

(34)

para Nabi dan Rasul itu adalah manusia, tentu bertabiat sebagaimana tabiatnya manusia, akan tetapi mereka adalah manusia pilihan Allah Swt. yang memiliki budi pekerti luhur, beramal baik, berjiwa suci, dan tidak ada cacat dalam perjalanan hidupnya karena mereka dijadikan sebagai teladan bagi manusia sehingga mereka dipelihara dari segala macam dosa dan kesalahan yang disengaja, tidak terkecuali dengan Nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi serta Rasul yang kemaksumannya dijelaskan secara gamblang di dalam

al-Qur’an, yang berbunyi: “…sesungguhnya Allah hendak menghapuskan dosa-dosa

kamu wahai „Ahlulbait‟ dan hendak mensucikan kamu sesuci-sucinyaṬ”21

Dapat disimpulkan bahwa maksum adalah anugerah yang Allah Swt. berikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya dari berbuat dosa, maksiat, kemungkaran, dan keharaman yang merusak derajat dan kemuliaan mereka. Ditetapkan kemaksuman karena sifat-sifat keluhuran yang mereka miliki, hal ini yang membedakan para Nabi dengan manusia biasa pada umumnya dan anugerah ini hanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul.

B. Kemaksuman Nabi Muhammad Saw.

Sebagai penyempurna nikmat-Nya, Allah Swt. menjaga Nabi Muhammad Saw. dari masa kecilnya dari perbuatan-perbuatan jahiliyah hingga masa mudanya dan sampai diangkatnya menjadi seorang Nabi serta diberikan mandat risalah kepadanya. Nabi Muhammad Saw. memiliki sifat-sifat yang agung seperti; berbudi luhur, bermurah hati, jujur, amanah, berprasangka dan bertetangga baik,

21

(35)

dan dijauhkan dari perbuatan keji dan akhlak yang kotor22 bahkan tidak terbesit sedikitpun didalam hati dan pikiran seorang Nabi untuk berbuat dosa dan kesalahan.23 Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. benar-benar manusia pilihan yang dipersiapkan untuk menjadi teladan.

Maksum dikategorikan ke dalam dua bagian24: 1. Maksum Dalam Penyampaian Risalah

Para Rasul terjaga dalam mengemban risalah, mereka tidak lupa apa yang telah diwahyukan oleh Allah Swt., dengan demikian, tidak ada wahyu yang hilang sedikitpun kecuali hal yang dikehendaki oleh Allah Swt.25 Sebagaimana firman Allah Swt.: (Allah) mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

Begitupun para Rasul maksum dalam menyampaikan wahyu, mereka tidak sedikitpun menyembunyikan ataupun menambahi, mengurangi, dan tanpa diubah dan diganti apa yang diwahyukan oleh Allah Swt., karena sifat menyampaikan merupakan perkara wajib, dan menyembunyikan merupakan perbuatan khianat.27 Mereka tetap menyampaikan segala berita yang diterima dari Allah Swt.

(36)

sekalipun menghadapi kedzaliman dan kekejaman manusia.28

Dengan demikian, terjamin kebenaran para Rasul dalam menyampaikan wahyu. Sebab jika tidak, tentu akan banyak mengalami kekeliruan dan kesalahan baik dari ucapan maupun perbuatan, jika mereka berbuat maksiat tentu tidak patut untuk diteladani dan sudah dipastikan bahwa mereka bertentangan dengan misi

al-Qur’an sehingga merusak risalah yang mereka emban. Ini mustahil terjadi pada

para utusan Allah Swt., karena mereka adalah manusia pilihan (terbaik).29 Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah al-Jin ayat 26-28;

26. (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia (Allah Swt.) tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

27. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia (Allah Swt.) mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

28. Supaya dia mengetahui, bahwa sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

Dapat dipahami dari ayat di atas bahwa Allah Swt. melalui para utusan-Nya dengan memberikan wahyu serta mengawasi dan menjaga mereka melalui para malaikat. Diketahui bahwa pengawasan dan penjagaan baik di muka dan dibelakangnya dengan tujuan menjaga wahyu dari setiap campuran, perubahan, penambahan, dan pengurangan yang dilakukan oleh setan-setan atau lewat perantara setan-setan. Ayat di atas menunjukkan bahwa wahyu terjaga dari

28

Abdul Hadi Awang, Beriman kepada Rasul (Selangor: PTS Islamika, 2007), 105-106. 29

(37)

kebocoran yang sampai kepada manusia, dan terjaga saat proses diturunkannya wahyu kepada para Rasul.30

Kemudian berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. itu berdasarkan wahyu, tidak berdasarkan hawa nafsu. Oleh karenanya, kemaksuman Nabi Muhammad Saw. dapat dipertanggungjawabkan karena berdasarkan bimbingan dan petunjuk-petunjuk dari Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:



31



(3). Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur‟an) menurut kemauan hawa nafsunya.(4). Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang diucapkan dan yang disampaikan oleh Nabi Saw. di dalam al-Qur’an itu tidak bersumber dari hawa nafsu. Akan tetapi, sesuai dengan yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Saw.32 Ketahui bahwa Allah Swt. menjaga Nabi Saw. dari ucapan yang bersumber dari hawa nafsu. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Swt. menjaga perilaku dan pengambilan keputusan Nabi Saw. dari hawa nafsu. Oleh karena itu, di dalam sifat Nabi Saw. penuh dengan keagungan, sekalipun Nabi Saw. bergurau namun tidak mengucapkan kecuali yang hak.33

Kemaksuman Nabi Muhammad Saw. tentu menyangkut kiprahnya sebagai seorang Rasul dan tujuan utama diutusnya untuk memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia dan membimbing mereka kepada hakikat kebenaran. Tentu,

(38)

tanpa kemaksuman segala apa yang menjadi tanggung jawabnya akan hancur bila pembawaannya bergantung pada hawa nafsu dan ketidakterjagaan akhlaknya. Jika Nabi Muhammad Saw. berbuat kesalahan atau tidak konsisten dengan ajaran ilahi maka dampak itu akan berpengaruh pada dakwahnya. Akibatnya, tidak akan berhasil secara sempurna tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw. Oleh karenanya, Allah Swt. menegaskan dan menguatkan Nabi Muhammad Saw. dan Nabi-nabi lainnya dengan mukjizat, serta membekali mereka iṣhmah (maksum) sehingga dalam menjalankan tugas berat menyampaikan risalah, tidak terdapat kelalaian, kelupaan, dan kegentaran. Karena apabila mereka tidak maksum dalam menghadapi sifat-sifat tersebut maka manusia tidak akan bersandar dan menerima mereka dan akan memungkinkan terjadinya penyimpangan dalam menyampaikan pesan Tuhan. Natijahnya adalah timbul kontra dengan maksud dan tujuan diutusnya para Nabi.34

Enam sifat wajib yang dimiliki para Rasul, sehingga pantas untuk mengemban risalah Ilahi.35

1. iddīq

Kejujuran ini tidak rusak dalam segala kondisi. Apabila sifat ini rusak sedikit saja, maka risalah yang dibawa pun ikut rusak pula karena manusia tidak akan percaya kepada Rasul yang tidak jujur. Jadi, seorang rasul tidak sedikitpun dalam ucapannya mengandung kebatilan dalam situasi dan kondisi apapun. Nabi Muhammad Saw. sebelum kenabiannya sudah terkenal dengan kejujuran,

34

Abduh al-Baraq, Bukan Dosa Ternyata Dosa (Yogyakarta: Pustaka Grhatama, 2010), 12. Lihat juga artikel yang diakses pada 18 juni 2015 dari http://www.alhassanain.com /indonesian/articles/articles/beliefs_library/fundamentals_of_Religion/prophethood/kesucian_para _nabi/001.html

35

Said Hawa, al-Rasul Saw., penerjemah ʻAbd al-Hayyī al-Katt nī dkk (Jakarta: Gema

(39)

kepercayaan dan memiliki kedudukan yang terhormat di kalangan suku Quraisy.

2. Am nah

Komitmen dengan apa yang Rasul sampaikan, sebagai wakil Allah Swt. Seorang Rasul mempunyai hubungan langsung dengan Allah Swt., tentu mengerti benar akan keagungan Allah Swt. dan tidak mungkin berkhianat kepada-Nya karena seorang yang berkhianat tidak pantas untuk mengemban risalah Ilahi.

3. Tablīgh

Seorang Rasul menyampaikan kandungan risalah dan dakwahnya secara istiqomah, tidak peduli dengan resiko yang dihadapinya, seperti kebencian, siksaan, kejahatan, tipu daya, dan sikap kasar manusia yang menghalangi jalan dakwahnya. Tidak ada yang menyampaikan risalah Ilahi kecuali orang yang cintanya kepada Allah Swt. melebihi segalanya. Karena hanya Allah yang Maha Agung di sisinya dan hanya ridha-Nya yang dituju.

4. Faṭanah

Seorang Rasul harus seorang yang cerdas, pikiran yang sempurna dan lurus, paling bijaksana, dan paling sempurna pengetahuannya, jelas dan tegas argumentasinya sehingga mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran yang ia bawa, dan keberedaannya bisa menjadi bukti kebenaran risalah yang ia sampaikan.

5. Al-Sal mat min al- Uyūb al-Munfirah

(40)

yang menjijikan hingga menyebabkan kaumnya lari darinya. Semua itu tidak mungkin terjadi pada seorang Rasul. Adapun kisah yang menyatakan bahwa Nabi

Ayyūb as. tertimpa penyakit amat parah sehingga sekujur tubuhnya membusuk,

keluar ulat yang bertebaran dan istrinya pun membenci dan menjauhinya. Kisah ini tidak benar dan penuh dengan kebohongan yang bersumber dari kisah Isr īliy t. Hal ini tentu bertentangan dengan sifat-sifat kenabian, karena para Nabi maksum dari penyakit-penyakit yang menjijikan.36

6. Al- Iṣmah37

Al- Iṣmah menjadi pembahasan khusus dalam penelitian skripsi ini.

Keenam sifat di atas merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan salah satunya, karena sifat-sifat tersebut melekat dalam jiwa seorang Rasul sehingga apa yang disampaikan oleh seorang Rasul mampu memberikan bukti kebenaran risalah Ilahi dan dapat diterima oleh umat manusia.

2. Maksum dari Perbuatan Maksiat dan Dosa

Kepedulian Allah Swt. dalam memelihara Nabi Muhammad Saw. menjaga hati dan aqidahnya dari kekufuran, syirik, sesat, kelalaian, keraguan, dan menjaganya dari pengaruh setan karena Nabi Muhammad Saw. adalah sebaik-baiknya manusia.38 Kemudian Allah Swt. menjaga para Nabi dalam menyampaikan agama dan tauhidnya, ini menunjukkan bahwa kemaksuman Nabi Muhammad Saw. meliputi pemahaman dan akidahnya. Hal ini tidak ada

36

Mu ammad ʻAlī al- būnī, al-Nubuwwah wal-Anbiy (Beirūt: Maktabat al-Ghaz lī,

1975), J. 3, 50. Lihat juga Mu ammad Sayyid an wī, al-Tafsīr al-Wasīṭ Li al-Qur‟ n al-Karīm

(1988), Cet. 2, J. 23, 217. 37

Mu ammad ʻAlī al- būnī, al-Nubuwwah wal-Anbiy (Beirūt: Maktabat al-Ghaz lī,

1975), J. 3, 50-51. 38Al-Syarbinī,

(41)

perbedaan pendapat baik sebelum dan sesudah kenabian.39

Adapaun salah satu tujuan dari diutusnya para Rasul adalah untuk memberi petunjuk dan membimbing manusia ke jalan yang lurus, serta mensucikan jiwa manusia sehingga dapat mengenal dan kembali kepada Tuhannya yang Maha Kuasa,40 sebagaimana Allah Swt. telah berfirman perihal doa Nabi Ibr hīm as.:

41



“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur‟an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha

BijaksanaṬ”

Penyucian yang dimaksud adalah mensucikan hati dari kehinaan, mengangkat derajat dan menanamkan kebaikan kepada manusia. Ini merupakan tujuan utama diutusnya para Nabi dan Rasul dan diturunkannya kitab-kitab Allah Swt. untuk mengajak manusia kepada petunjuk ilahi. Melakukan perbuatan maksiat dan ingkar, perbuatan ini justru menghilangkan nilai dan moral serta merusak kepercayaan jiwa dan ketaatan kepada Tuhan. Perbuatan ini tidak mungkin dan mustahil dilakukan oleh seorang utusan Allah Swt. baik dalam situasi ramai, sepi dan terang-terangan.42

39 Al-Syarbinī, Radd Syubuh t awla Iṣ

mat al-Nabī fī Ḍaw al-Kit b wal-Sunah (al-Q hirah: D r al- a īfah, 2003), 68.

40

Mu ammad ʻAlī al- būnī, al-Nubuwwah wal-Anbiy (Beirūt: Maktabat al-Ghaz lī,

1975), J. 3, 26. Lihat juga Jaʻfar al-Sub nī, ʻIṣmat al-Anbiy fī al-Qur‟ n al-Karīm (Beirūt: D r

al-Wal , 2004), Cet. 2, 53.

41 Al-Baqarah [02]: 129. Lihat juga li ʻImr n [03]: 164. 42Jaʻfar al-Sub nī, ʻIṣmat al

-Anbiy fī al-Qur‟ n al-Karīm (Beirūt: D r al-Wal , 2004),

(42)

Menurut al- illī (w. 726 H.) bahwa kemaksuman para Rasul dari dosa merupakan perkara yang wajib, dengan beberapa alasan43:

1. Tujuan diutusnya para Rasul akan terwujud hanya dengan kemaksuman. Jika mereka tidak terjaga dari perbuatan maksiat, tentu orang-orang yang mereka seru tidak akan mendengarkan dan menerima seruannya karena mereka sendiri berbuat dusta dan maksiat, dan ini merusak tujuan risalah. 2. Taat kepada para Rasul hukumnya wajib. Jika mereka berbuat maksiat,

tentu kaumnya wajib mengikuti perbuatan maksiat serupa, dan ini menjadi batal tujuan pengutusan mereka.

3. Jika seorang Rasul melakukan perbuatan maksiat, maka mereka bertentangan dalam menjalankan perintah Allah Swt. semua ini tentu mustahil terjadi pada mereka.

Oleh sebab itu, kemaksuman merupakan suatu hal yang mesti bagi seorang Rasul sehingga lahir kepercayaan kepadanya dan dengan kepercayaan ini tujuan dapat tercapai yakni memberi petunjuk kepada umat. Maka para Rasul maksum dalam menerima dan menyampaikan wahyu. Artinya Allah Swt. memilih dan mengutus seorang Rasul yang maksum dari segala jenis dosa, kelalaian dan kealpaan. Apabila tidak demikian, maka hal ini akan bertentangan dengan hikmah kenabian, pewahyuan kitab dan pengutusan para Rasul. Hikmah pengutusan para Rasul adalah untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia. Dan hal ini akan dapat tercapai tatkala para pembawa pesan Ilahi terjaga dan maksum dari kesalahan, kelalaian dan kealpaan dalam menerima dan menyampaikan wahyu.

43

(43)

31

PENELITIAN MATAN HADIS KEMAKSUMAN MUHAMMAD SAW.

A. Peristiwa Renovasi Kaʻbah

1

“Telah menceritakan kepadaku Maḥmūd telah menceritakan kepada kami Abdal-Raz q berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibn Jurayj berkata, telah

mengabarkan kepadaku Amrū bṬ Dīn r dia mendengar J bir bṬ Abdullah radliallahu anhum berkata; Ketika Ka bah diperbaiki Nabi Saw. dan al- Abb s mengangkut bebatuan. Saat itu al- Abb s berkata kepada Nabi SawṬ: “Ikatlah kain sarungmu pada lehermu karena dapat melindungimu dari bebatuan”. Tiba-tiba beliau tersungkur ke tanah dengan kedua matanya terbelalak menengadah ke langit. Kemudian beliau sadar dan berkata: “sarungku, sarungku”. Kemudian

beliau mengikatkan kain sarungnya kembali (dengan kuat)Ṭ”

a. Meneliti Matan dengan Melihat Kualitas Sanad

Dari hasil penelitian oleh peneliti sebelumnya, bahwa hadis ini sanadnya

aḥīḥ karena terdapat dalam kitab aḥīḥ al-Bukh rī, sehingga saya tak perlu

melakukan kegiatan kritik sanad. Dari semua jalur akan bertemu pada J bir b.

ʻAbdullah dan terdapat banyak Tawabi yang menjadikan sanad hadis ini menjadi

lebih kuat. Untuk lebih jelas bisa dilihat pada lampiran 1 halaman 84.

1Al-Bukh rī, aḥīḥ al

-Bukh rī (al-Q hirah: D r ibn al-Jawzī, 2010), 56. (no. hadis 364,

(44)

Menurut Badr al-Dīn Abī Mu ammad dan Ibn ajar al-ʻAsqal nī, hadis ini termasuk hadis Mursal ah by,2 karena J bir b. ʻAbdullah tidak ikut serta dalam kegiatan perbaikan Kaʻbah bersama Rasulullah Saw. Jadi, J bir b.

ʻAbdullah tidak menyaksikan secara langsung kisah tersebut, dan mungkin J bir

b. ʻAbdullah mendengarkan kisah ini dari Nabi Saw. atau dari Sahabat senior lain

yang ikut hadir pada peristiwa itu.3

b. Meneliti Kandungan Matan Hadis

(45)

Kemudian disempurnakan oleh riwayat al- abr nī; “setelah Nabi berdiri

mengikatkan iz r-nya kembali, beliau seraya bersabda: “Aku telah melarang

diriku berjalan dalam keadaan telanjang (tanpa mengenakan pakaian).”5

Hadis ini menunjukkan kemuliaan Nabi Saw. yang Allah Swt. berikan dengan menjaga dan memelihara Nabi Saw. di masa kecilnya dari keburukan dan perilaku jahiliyah.6 Allah Swt. telah menjadikan Nabi Saw. baik budi pekerti dan mulia tabiatnya. Perlu diperhatikan bahwa Nabi Saw. berusaha menutup kembali dan setelah peristiwa tersebut Nabi Saw. tidak pernah terlihat telanjang (tanpa pakaian) lagi. Dikatakan bahwa Nabi Saw. mengangkat batu bersama orang-orang Quraisy baik laki-laki maupun perempuan.7 Akan tetapi, ketika masih berada di tengah banyak orang Nabi Saw. masih mengenakan pakaiannya. Dalam perjalanan mengangkat batu, Nabi Saw. berada di depan pamannya al-ʻAbb s baru kemudian melepaskan pakaiannya.8

Menurut Ibn al-Jawzī bahwa hadis di atas menggambarkan bentuk kecemasan atau kekhawatiran Nabi Saw. karena bagian tubuhnya terbuka dan tidak menunjukkan kalau Nabi Saw. terbuka auratnya. Karena Nabi Saw. hanya melepaskan iz r-nya kemudian diletakkan di atas bahu beliau dengan maksud meringankan beban batu yang diangkat oleh beliau.9

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Saw. tidak boleh dalam keadaan telanjang (tanpa pakaian) di tempat keramaian orang-orang. Umumnya seorang

Syarīf, Penerjemah. M. Suwarta Wijaya (Jakarta: Kalam Mulia, 2002). J. 3, 344. 9 Ibn al-Jawzī,

Kasyf al-Musykil min adīts al- aḥīḥaynī (al-Riy ḍ: D r al-Wa an, 1997),

(46)

laki-laki seharusnya tidak telanjang dihadapan orang lain sekiranya telihat auratnya, berjalan telanjang (tanpa pakaian) sehingga mengganggu kenyamanan pandangan orang yang memandangnya, terkecuali dihadapan istri mereka sendiri. Menurut Imam al- abarī bahwa orang yang berjalan tanpa mengenakan pakaian takut dikira sebagai orang gila.10

1) Memahami Sunnah dengan Tuntunan Al-Qur’an.

Untuk dapat memahami hadis dengan pemahaman yang benar dan tepat, harus jauh dari al-Taḥrīf (penyelewengan), al-Intiḥ l (pemalsuan/penjiplakan), dan Sū al-Ta wīl (pentakwilan yang keliru) dan harus sesuai petunjuk al-Qur’an, yakni bingkai tuntunan ilahi yang kebenarannya bersifat pasti.11

Untuk memahami kemaksuman Nabi Muhammad Saw. secara mendalam, saya mencoba menampilkan ayat al-Qur’an yang ada kaitannya langsung dengan kemaksuman Nabi Muhammad Saw. berikut ayatnya:

(gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah Swt. tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafirṬ”

Ayat di atas terdapat dua poin besar yakni Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk menyampaikan risalah dan Allah Swt. menjanjikan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan jaminan maksum (terjaga) dari gangguan

-Sunnah al-Nabawiyah (al-Q hirah: D r

al-Syurūq, 2002), 113. 12

(47)

Rasulallah Saw. diperintahkan untuk menyampaikan risalah sebagaimana yang telah diwahyukan, agar senantiasa tidak takut celaka dan tidak perlu dikawal, tidak menanggapi ejekan orang-orang Yahudi, tidak membenci orang-orang munafiq. Kemudian apabila tidak menyampaikan risalah sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt. ataupun hanya sebagian saja, itu seperti halnya batal salat karena meninggalkan salah satu rukunnya. Karena setiap yang menyembunyikan sesuatu dari agama dalam hal ini yang dimaksud adalah risalah Tuhan maka sama halnya Nabi Saw. meninggalkan semuanya, dalam arti rusak misi kerasulan diutusnya Nabi Muhammad Saw. kepada umatnya. Jika ada seseorang yang hendak merendahkan atau menaklukkan Nabi Muhammad maka Allah Swt. lah yang menjaganya dari mereka (orang-orang yang membenci Nabi Saw.).13

Pada ayat ( ) diawali dengan ism al-Jal lah

(keagungan), ini menunjukkan bentuk kepedulian ataupun jaminan yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. secara langsung dengan memberikan perintah yakni menyampaikan risalah kepada umat manusia, tentu sesuai dengan yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. Maka perlunya dengan yakin menyebut Asma Allah Swt., dalam arti apabila selalu bersama Allah Swt. maka Allah Swt. akan memberi penjagaan/pertolongan (Muhammad Saw.). Menurut Syaikh ʻAbd al-Q har bahwa dengan menghilangkan keraguan terhadap janji Allah Swt. maka Allah Swt. akan memberikan kesempurnaan janjinya

13 Syaikh an wī Jawharī,

al-Jaw hir fī Tafsīr al-Qur n al-Karīm (Kairo: Mu afá

(48)

kepada Nabi Muhammad Saw.14

Menurut Mu ammad usayn al- ab ab ī bahwa al- iṣmah mempunyai arti penjagaan dari keburukan manusia yang diarahkan kepada Nabi Muhammad Saw., baik itu karena tujuan agama dan mengemban risalah, karena semua itu masuk kedalam area yang suci. Maksum dari manusia ini tanpa ada penjelasan, bahwa maksum dari setiap permasalahan manusia seperti kekerasan pada tubuh baik itu pembunuhan, meracun atau setiap yang ada hubungannya dengan menghilangkan nyawa atau berupa fitnah, penghinaan atau hal lain seperti perbuatan licik, penipuan, tipu daya, dan semua itu tidak nampak dari kemaksuman Nabi Saw. sebagai penyamarataan. Akan tetapi, itu hanya konteks keburukan mereka yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. agar jatuh atau gagal dalam mengemban tugas risalah Tuhan.15

Tidak dapat dikatakan sebagaimana umumnya, mengenai perlindungan dari setiap kesulitan dan bahaya, karena pandangan seperti itu dibantah oleh al-Qur'an, hadis ma tsūr dan sejarah yang dapat diterima. Allah Swt. telah menjadikan Nabi Muhammad Saw. lebih umum dari umatnya dalam arti Nabi Saw. mengalami kondisi sebagaimana umatnya, baik itu orang mu’min, orang-orang kafir atau munafik dari kemalangan seperti, kesengsaraan dan aneka penderitaan dan keluhan yang tak seorang pun yang mampu menghadapi itu semua kecuali jiwa Nabi Saw. yang mulia.16

14Ibn ʻ syūr, Tafsīr al

-Taḥrīr wal-Tanwīr (Tūnis: D r al-Tūnisīyah, 1984), J. 6, 263. 15 Mu ammas usayn al- ab ab ī,

al-Mīz n fī Tafsīr al-Qur‟ n (Beirūt: al-Mu assasah

al-Aʻlamī lil-Ma būʻ t, 1997), J. 6, 50-51. 16 Mu ammas usayn al- ab ab ī,

al-Mīz n fī Tafsīr al-Qur‟ n (Beirūt: al-Mu assasah

(49)

Adapaun tujuan dari turunnya ayat ini adalah sebagai penguat (al-Ta kīd) mental Nabi Muhammad Saw. dalam mengemban risalah dan al- iṣmah pada ayat di atas bermakna penjagaan Nabi Saw. dari tipu daya musuh yaitu orang-orang kafir dari Yahudi, orang-orang munafiq, dan orang-orang musyrik.17

Dalam kitab al-Dur al-Mantsūr, mengutip riwayat yang bersumber dari Ibn Abī tim, Ibn Marduwayh dan Ibn ʻAs kir dari Abī Saʻīd al-Khudrī, ia berkata:

Ayat ini yaitu ( ) turun kepada Rasulullah Saw.

pada hari Ghadīr Khumm18 sehubungan dengan ʻAlī b. Abī lib.19 Menurut al-W idī bahwa hadis ini sanadnya ḍa īf karena menurutnya dua rawi seperti ʻAlī b.

ʻ bas dinilai ḍa īf dan ʻA iyah b. Saʻd al-ʻAwfī dinilai ṣadūq (bermadzhab Syi’ah

yang mudallis).20

Al- abr nī, Abū al-Syaikh, Ibn Marduwayh dan Abī Naʻīm dalam kitab al-Dal il, dan Ibn ʻAs kir meriwayatkan dari Ibn al-ʻAbb s, ia berkata: Nabi Saw. perlu pendamping untuk menjaganya, maka diutuslah Abū lib untuk mendampinginya. Setiap hari tokoh-tokoh dari Banī H syim menjaganya,

sehingga turun ayat ( ). Maka pamannya hendak mengutus

seseorang untuk menjaga Nabi Saw. Kemudian Nabi Saw. bersabda: Wahai

17 Ibn ʻ syūr, Tafsīr al

-Taḥrīr wal-Tanwīr (Tūnis: D r al-Tūnisīyah, 1984), J. 6, 263.

18

Lokasi di Arab Saudi, di tengah-tengah antara Mekkah dan Madinah lebih kurang 200 mil atau daerah itu lebih dikenal sebagai tempat penobatan ʻAlī b. Abī lib sebagai wali dan khalifah yang dilakukan oleh Nabi Saw.

19 Jal l al-Dīn al-Suyū ī,

al-Durr al-Mantsūr fi Tafsīr al-Qur‟ n (al-Q hirah:, 2003), Cet.

1, J. 5, 383.

20 Abī al- asan ʻAlī b. A mad al-W idī, Asb b Nuzūl al

-Qur n (Beirūt: D r al-Kutub

(50)

pamanku, Sesungguhnya Allah Swt. telah menjagaku dari jin dan manusia.21

Menurut al-W idī bahwa hadis di atas sanadnya ḍa īf karena menurutnya ada seorang rawi (al-Naḍr b ʻAbd al-Ra m n Abū ʻUmar al-Khuzz z) yang dinilai matrūk (tertuduh dusta).22

Dalam riwayat yang lain diriwayatkan oleh Ibn ibb n dan Ibn Marduwayh dari jalan Abī Salamah dari Abī Hurayrah, ia berkata: Ketika Rasulullah Saw. berhenti di suatu tempat yang dipilihkan oleh para sahabatnya di dekat pohon, kemudian meletakkan pedangnya pada sebatang dahan pohon. Kemudian datanglah seorang dusun arab lalu mendekati sedangkan Nabi Saw. sedang tidur kemudian ia membangunkan Nabi Saw. dan menghunus pedangnya serya berkata: Siapakah yang akan menghalangimu dariku? Rasulullah Saw. menjawab: Allah Swt. yang akan menolongku darimu, jatuhkanlah pedangmu.

Maka ia menjatuhkan pedangnya. Maka turunlah ayat: 23

2) Menghimpun Hadis-hadis yang Satu Tema.

Terdapat tiga periwayatan dalam aḥīḥ al-Bukh rī, dua periwayatan dalam aḥīḥ Muslim, dan empat periwayatan dalam Musnad Aḥmad b. anbal. Namun,

dari ketiga Mukharrij masing-masing banyak kesamaan dan sedikit perbedaan pada beberapa penggunaan kata dalam lafadz matan hadis. Namun tidak merubah

21Jal l al

-Dīn al-Suyū ī, Asb b al-Nuzūl al-Musammá Lub b al-Nuqūl fī Asb b al-Nuzūl

(Beirūt: Mu assasah al-Kutub al-Tsaq fiyah, 2002), Cet. 1, 106. Lihat juga tafsirnya Durr

al-Mantsūr fi Tafsīr al-Qur‟ n (al-Q hirah:, 2003), Cet. 1, J. 5, 385-386.

22 Abī al- asan ʻAlī b. A mad al-W idī, Asb b Nuzūl al

-Qur n (Beirūt: D r al-Kutub

al-ʻIlmiyah, 1991), Cet. 1, 205.

23 Hadisnya ḥasan lihat Muqbil b. H dī al-W diʻī,

al- aḥīḥ al-Musnad min Asb b al

-Nuzūl (al-Yaman: Maktabah anaʻ al-Atsariyah, 2004), Cet. 2, 99. Dan sanadnya L ba sa bih lihat ʻI m b. ʻAbd al-Mu sin al- amīd n, al- aḥīḥ min Asb b al-Nuẓūl (Beirūt: Mu assasah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...