• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Disusun Oleh: Dinda Rizvina Nasution

111301007

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya

bahwa skripsi saya yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan“ adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari

hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumber secara jelas sesuai dengan

norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini,

saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera

Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Medan, September 2015

Dinda Rizvina Nasution

(4)

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan

Dinda Rizvina Nasution dan Fahmi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan media massa yang menjadi responden pada LPP TVRI Medan dan Harian Waspada Medan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu karyawan pria dan wanita. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan cara purposive sampling dengan jumlah sampel 61 orang. Metode pengambilan data yang digunakan adalah skala gaya kepemimpinan transformasional menggunakan teori Bass dan skala stres kerja menggunakan teori Michael. Skala gaya kepemimpinan transformasional disusun berdasarkan dimensi gaya kepemimpinan transformasional yang dikemukakan oleh Bass (1990) yang terdiri atas 4 dimensi yaitu: charisma, inspirational, individualized consideration, and intellectual stimulation. Skala stres kerja disusun berdasarkan dimensi stres kerja yang dikemukakan oleh Michael (2009) yaitu: beban kerja, konflik kerja, dan ambiguitas peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh negatif gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan mass media Medan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa level gaya kepemimpinan transformasional di media massa Medan berada pada level sedang dan stres kerja karyawan media massa Medan berada pada level sedang. Peneliti berharap penelitian ini nantinya dapat memberikan pengetahuan yang lebih tentang gaya kepemimpinan transformasional yang dapat diterapkan oleh pemimpin kepada karyawan dan bermanfaat juga dalam menurunkan stres kerja pada karyawan.

(5)

The Effect of The Transformational Leadership towards Medan Mass Media Employees Job Stress

Dinda Rizvina Nasution and Fahmi

ABSTRACT

This study aimed to know the effect of the transformational leadership towards job stress of mass media employees who responded to LPP TVRI Medan and Harian Waspada Medan. The population which is used in this research are male and female employees. The sampling technique is nonprobability sampling by using purposive sampling with 61 subjects. The data collection method used is transformational leadership scale based on transformational leadership theory by Bass and job stress scale based on job stress theory by Michael. The transformational leadership scale is based on the dimensions of transformational leadership proposed by Bass (1990), which consists of four dimensions: charisma, inspirational, individualized consideration, and intellectual stimulation. Job stress scale is based on job stress dimensions proposed by Michael (2009), they are workloads, work conflict, and the ambiguity of role. The results showed that there was negative effect of transformational leadership towards Medan mass media employees job stress. The results also showed that the level of transformational leadership in mass media Medan was average and Medan mass media employees job stress was average. Researcher hopes this research can give us more information about the transformational leadership which can be applied to employees in order to decrease employees job stress.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahi Rabbil’aalamiin. Puji dan syukur yang tiada habisnya

penulis sampaikan ke hadirat Allah SWT, pemilik segala ilmu yang telah

memberikan segala taufik dan hidayah-Nya kepada penulis serta nikmat yang

tiada terkira sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan” yang disusun sebagai syarat akademis dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) Psikologi Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara.

Skripsi ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua penulis. Kepada

Ayahanda Irwan Dwanda Nasution, S.H dan Ibunda Hj. Butet Marike, Am.Keb

terima kasih atas segala doa, nasihat, dukungan serta kepercayaan yang telah

diberikan selama kuliah dan menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga kepada

Kakanda Rizka Wandari Nasution, S.Sos, Wina Avina Nasution, S.H, serta adik

tersayang Haikal Afkar Nasution atas segala dukungan dan semangat kepada

penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa

dukungan, bimbingan, bantuan serta doa dari berbagai pihak selama penyusunan

skripsi. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan

(7)

1. Ibunda Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sumatera utara.

2. Kak Rahmi Putri Rangkuti, M.Psi., psikolog selaku dosen pembimbing

akademik yang telah memberikan bantuan dan saran serta bimbingan

kepada penulis selama masa perkuliahan penulis dimulai hingga skripsi ini

selesai.

3. Abangda Fahmi Ananda, M.Psi., psikolog selaku dosen pembimbing yang

telah memberikan saran, bimbingan, dan pengarahan sehingga skripsi ini

dapat diselesaikan.

4. Bapak Eka Danta Jaya Ginting, S.Psi., M.A., psikolog dan ibu Sherry

Hadiyani, M.Psi., psikolog selaku dosen penguji sidang yang telah

memberikan saran, bimbingan, pengarahan sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan.

5. Seluruh Pegawai dan Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas

Sumatera Utara yang memberikan banyak bekal ilmu kapada penulis.

6. Bapak Zainuddin Latuconsina, SE, M.Si dan ibu Liza Trimurti, SE serta

keluarga besar LPP TVRI Medan yang telah memeberikan izin, membantu

serta mengisi skala penelitian sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

7. Bapak Edi Suwarno dan bapak Hasan Basri serta keluarga besar Harian

Waspada yang telah memberikan izin, membantu serta mengisi skala

(8)

8. Mbak Iki dan kedua orang tua (Ibu Sugiarti dan Bapak Kirwanto) yang

telah menemani, membimbing, mengarahkan dan membantu penulis

dalam setiap urusan di LPP TVRI Medan.

9. CBS tersayang Ade, Suhu, Darmik, Vika, Defi, Bibah yang telah

memberikan banyak bantuan, dukungan, saran, perhatian, wejangan, dan

sering dibuat heboh oleh penulis saat penulis membutuhkan masukan

dalam pengerjaan skripsi ini. Terima kasih telah sabar sekali menghadapi

kehebohan penulis selama masa perkuliahan ini dan terima kasih atas

curahan kasih sayang kalian.

10. Teman SMA: Amelia Tri Widya, Rahma Ramadhani, Devi Lestari, Posma

Agustinus, terima kasih atas dukungan yang telah diberikan.

11. Keluarga Besar Teater REPSAS: Kak Im yang selalu mendo’akan,

menyemangati, dan mengingatkan penulis agar segera menyelesaikan

skripsi ini, Sopi, Mirjak, Aslam dan yang lainnya yang telah memberikan

perhatian, semangat sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

12. Teman sekaligus adik yang turut serta mendo’akan penulis agar lancar dan

segera mungkin menyelesaikan skripsi ini Rachma Dwita Sari terima

kasih banyak.

13. Teman-teman Psikologi USU angkatan 2011 terkhusus Islah, Ocak, Bang

Ari, Kiki, Dwi, terima kasih atas segala kenangan selama kuliah.

14. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah

(9)

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan

dan jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

Oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat

membangun dan menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan

dapat digunakan sebagai tambahan informasi bagi semua pihak yang

membutuhkan.

Medan, September 2015

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... x

BAB I: PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penelitian ... 12

E. Sistematika Penulisan... 13

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA... 14

A. Stres Kerja ... 14

1. Definisi Stres Kerja ... 14

2. Dimensi Stres Kerja ... 15

(11)

B. Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 19

1. Definisi Gaya Kepemimpinan Transformasional... 19

2. Ciri-ciri Gaya Kepemimpinan Transformasional... 21

C. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja ... 22

D. Hipotesis Penelitian ... 26

BAB III: METODE PENELITIAN ... 27

A. Identifikasi Variabel Penelitian ... 27

B. Definisi Operasional Variabel ... 27

1. Stres Kerja ... 27

2. Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 28

C. Populasi dan Sampel ... 28

D. Metode Pengumpulan Data ... 29

1. Skala Stres Kerja ... 30

2. Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional... 32

E. Uji Coba Alat Ukur ... 33

1. Validitas Alat Ukur ... 34

2. Uji Daya Beda Item (Aitem) ... 34

3. Reliabilitas Alat Ukur ... 35

F. Prosedur Penelitian... 36

1. Tahap Persiapan ... 36

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 37

3. Tahap Pengolahan Data ... 37

(12)

1. Uji Normalitas ... 38

2. Uji Linearitas ... 38

H. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 39

1. Hasil Uji Coba Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 39

2. Hasil Uji Coba Skala Stres Kerja ... 40

BAB IV: ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 42

A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 42

1. Gambaran Subjek berdasarkan Jenis Kelamin ... 42

2. Gambaran Subjek berdasarkan Usia ... 43

3. Gambaran Subjek berdasarkan Masa Kerja... 43

B. Hasil Penelitian ... 44

1. Hasil Uji Asumsi ... 44

a. Uji Normalitas ... 44

b. Uji Linearitas ... 45

2. Hasil Utama Penelitian ... 47

a. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan ... 47

b. Koefisien Determinasi ... 49

c. Nilai Empirik dan Hipotetik ... 49

d. Kategorisasi Data Penelitian ... 52

C. Pembahasan ... 54

(13)

A. Kesimpulan ... 56

B. Saran ... 57

1. Saran Metodologis ... 57

2. Saran Praktis... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Skor Alternatif Jawaban Skala Stres Kerja ... 31

Tabel 2. Blue Print Skala Stres Kerja ... 31

Tabel 3. Skor Alternatif Jawaban Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional... 32

Tabel 4. Blue Print Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 33

Tabel 5. Distribusi Aitem Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional Setelah Uji Coba ... 40

Tabel 6. Distribusi Aitem Skala Stres Kerja Setelah Uji Coba ... 41

Tabel 7. Penyebaran Subjek berdasarkan Jenis Kelamin ... 42

Tabel 8. Penyebaran Subjek berdasarkan Usia ... 43

Tabel 9. Penyebaran Subjek berdasarkan Masa Kerja ... 43

Tabel 10. Uji Normalitas Sebaran dengan Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov ... 45

Tabel 11. Uji Linearitas Gaya Kepemimpinan Transformasional dengan Stres Kerja ... 46

Tabel 12. Hasil Analisis Regresi Sederhana ... 47

(15)

Tabel 15. Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik Gaya

Kepemimpinan Transformasional ... 50

Tabel 16. Perbandingan Mean Hipotetik dan Mean Empirik

Stres Kerja ... 51

Tabel 17. Norma Kategorisasi Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 52

Tabel 18. Norma Kategorisasi Gaya Kepemimpinan Transformasional ... 52

Tabel 19. Norma Kategorisasi Stres Kerja ... 53

Tabel 20. Norma Kategorisasi Stres Kerja ... 53

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Skala Try Out dan Skala Penelitian ... 62

Lampiran B. Data Mentah dan Hasil Pengolahan Data Penelitian ... 88

Lampiran C. Tabel F dan Tabel T ... 115

Lampiran D. Surat Izin Penelitian ... 126

(17)

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan Media Massa Medan

Dinda Rizvina Nasution dan Fahmi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan media massa yang menjadi responden pada LPP TVRI Medan dan Harian Waspada Medan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu karyawan pria dan wanita. Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan cara purposive sampling dengan jumlah sampel 61 orang. Metode pengambilan data yang digunakan adalah skala gaya kepemimpinan transformasional menggunakan teori Bass dan skala stres kerja menggunakan teori Michael. Skala gaya kepemimpinan transformasional disusun berdasarkan dimensi gaya kepemimpinan transformasional yang dikemukakan oleh Bass (1990) yang terdiri atas 4 dimensi yaitu: charisma, inspirational, individualized consideration, and intellectual stimulation. Skala stres kerja disusun berdasarkan dimensi stres kerja yang dikemukakan oleh Michael (2009) yaitu: beban kerja, konflik kerja, dan ambiguitas peran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh negatif gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan mass media Medan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa level gaya kepemimpinan transformasional di media massa Medan berada pada level sedang dan stres kerja karyawan media massa Medan berada pada level sedang. Peneliti berharap penelitian ini nantinya dapat memberikan pengetahuan yang lebih tentang gaya kepemimpinan transformasional yang dapat diterapkan oleh pemimpin kepada karyawan dan bermanfaat juga dalam menurunkan stres kerja pada karyawan.

(18)

The Effect of The Transformational Leadership towards Medan Mass Media Employees Job Stress

Dinda Rizvina Nasution and Fahmi

ABSTRACT

This study aimed to know the effect of the transformational leadership towards job stress of mass media employees who responded to LPP TVRI Medan and Harian Waspada Medan. The population which is used in this research are male and female employees. The sampling technique is nonprobability sampling by using purposive sampling with 61 subjects. The data collection method used is transformational leadership scale based on transformational leadership theory by Bass and job stress scale based on job stress theory by Michael. The transformational leadership scale is based on the dimensions of transformational leadership proposed by Bass (1990), which consists of four dimensions: charisma, inspirational, individualized consideration, and intellectual stimulation. Job stress scale is based on job stress dimensions proposed by Michael (2009), they are workloads, work conflict, and the ambiguity of role. The results showed that there was negative effect of transformational leadership towards Medan mass media employees job stress. The results also showed that the level of transformational leadership in mass media Medan was average and Medan mass media employees job stress was average. Researcher hopes this research can give us more information about the transformational leadership which can be applied to employees in order to decrease employees job stress.

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar

dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan, bekerja secara

terus menerus untuk mencapai tujuan (Robbins, 2006). Salah satu kunci

kesuksesan organisasi di era globalisasi ini adalah sejauh mana individu atau

warga organisasi secara sinergis mampu berkontribusi positif, baik dalam

perencanaan maupun dalam proses pengimplementasian tugas dan tanggung

jawab sebagai warga organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini

menunjukkan bahwa perilaku atau peranan yang dilakukan oleh karyawan

sangat penting bagi suatu perusahaan. Organisasi membutuhkan karyawan

yang akan bertindak melebihi tugas pekerjaan umum mereka, yang akan

memberikan kinerja yang melampaui perkiraan (Robbins, 2006). Dalam hal

ini juga tentunya karyawan harus mampu menyesuaikan dirinya dengan

keadaan organisasi yang akan berubah-ubah seiring dengan semakin

berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat

membawa perubahan dalam kehidupan manusia, yang kemudian

mengakibatkan tuntutan yang lebih tinggi terhadap setiap individu agar lebih

meningkatkan kinerja mereka dalam organisasi perusahan. Hal ini berarti

mengharuskan individu atau karyawan mengubah pola dan sistem kerjanya

(20)

Kehidupan modern manusia yang semakin kompleks, menyebabkan

manusia akan cenderung lebih mudah mengalami stres apabila ia kurang

mampu mengadaptasikan keinginan dengan kenyataan yang ada, baik

kenyataan yang ada di dalam maupun di luar dirinya. Segala macam bentuk

stres pada dasarnya disebabkan oleh kurang pahamnya manusia akan

keterbatasan dirinya sendiri. Ketidakmampuan untuk melawan keterbatasan

inilah yang akan menimbulkan frustrasi, konflik, gelisah, dan rasa bersalah

yang merupakan tipe-tipe dasar stres (Luthans, 2006).

Stres tidak akan muncul tanpa ada penyebabnya. Penyebab munculnya

stres disebut sebagai stressor, yang bisa saja semata-mata bersifat jasmani,

sosial, atau kejiwaan. Pikiran yang menafsirkannya sebagai sesuatu yang

menyenangkan atau tidak menyenangkan, otak mengirimkannya melalui dua

jalur. Jalur pertama dikenal sebagai jalur bawah sadar yang bertanggung jawab

atas refleks-refleks fisik dan emosi dari tubuh. Sedangkan pada jalur kedua

individu dibuat sadar terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan, termasuklah

lingkungan kerja. Hal inilah yang dapat menyebabkan stres kerja pada

individu (Afrilia, 2009).

Stres kerja menurut Handoko (2000) adalah suatu kondisi ketegangan

yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang dalam

bekerja. Semakin berat stres yang dialami oleh karyawan, maka semakin

terganggu kemampuannya dalam pekerjaan dan lingkungannya. Kemudian

(21)

merupakan konsekuensi tindakan, situasi, atau kejadian eksternal (lingkungan)

yang menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik yang berlebihan pada

seseorang.

Stres pada pekerjaan tentunya tidak akan muncul tanpa ada penyebabnya.

Menurut Robbins (2008) timbulnya stres kerja dipengaruhi oleh beberapa

faktor, yaitu, faktor organisasi, faktor lingkungan, dan faktor individu.

Organisasi berpengaruh terhadap stres kerja karyawan karena semua kegiatan

atau aktivitas dalam organisasi perusahaan berhubungan dengan karyawan.

Seperti tuntutan tugas, tuntutan peran, maupun tuntutan pribadi karyawan

yang terkait di dalam organisasi, apabila terlalu berat atau pun tidak sesuai

dengan kemampuan yang dimiliki oleh karyawan, serta kerja yang

membutuhkan tanggung jawab yang tinggi cenderung dapat mengakibatkan

stres kerja.

Berbicara mengenai tuntutan tugas, tuntutan peran, maupun tuntutan

pribadi (hubungan karyawan dengan karyawan lainnya) dalam suatu

organisasi erat kaitannya pula dengan pemimpin organisasi itu sendiri, karena

pemimpin berarti seseorang yang diikuti, seseorang yang dapat mempengaruhi

dan memotivasi orang-orang dalam organisasi untuk mencapai tujuan (Jewell,

1998). Pemimpin dalam memimpin suatu organisasi memiliki gaya

kepemimpinannya masing-masing. Jewell (1998) mengemukakan bahwa

kepemimpinan berarti pengaruh seorang pemimpin dalam mencapai tujuan

organisasi secara efektif. Lebih lanjut dijelaskan oleh House (dalam Dewo,

(22)

mempengaruhi, memotivasi, dan memungkinkan orang-orang memberikan

kontribusi terhadap keefektivan dan kesuksesan organisasi. Seorang pemimpin

harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk mengelola bawahannya, karena

seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam

mencapai tujuannya (Waridin dan Bambang Guritno, 2005). Terdapat

berbagai macam gaya kepemimpinan yang akan mewarnai perilaku seorang

pemimpin dalam menjalankan tugasnya. Salah satunya adalah gaya

kepemimpinan transformasional.

Gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan

dimana pemimpin mengenal perlunya perubahan organisasi, menciptakan visi,

membuat komitmen pada visi tersebut, membentuk budaya perusahaan untuk

mendukung perubahan-perubahan, dengan cepat melihat tanda-tanda perlunya

perubahan dalam organisasi, serta mampu menciptakan kepercayaan pada

karyawannya, walaupun tidak memiliki hubungan personal dengan tiap

karyawannya (Tichy dan Devana, dalam Jewell, 1998). Kemudian, gaya

kepemimpinan juga dikatakan Rouche (dalam Pawar & Eastman, 1997).

sebagai kemampuan pemimpin untuk mempengaruhi nilai-nilai, sikap,

kepercayaan, dan perilaku pemimpin-pemimpin lain dengan tujuan untuk

menyelesaikan misi organisasi (Suseno & Sugiyanto, 2010).

Menurut Bass (dalam Muchinsky, 2003) gaya kepemimpinan

transformasional merupakan kepemimpinan yang didasarkan pada pengaruh

dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan. Dalam hal ini, para

(23)

pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi untuk

berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi. Bass (dalam Dewo, 2008)

mengemukakan bahwa karakteristik gaya kepemimpinan transformasional

yang efektif adalah yang menunjukkan perilaku karismatik yang diakui oleh

tiap bawahannya, memunculkan motivasi inspirasional, memberikan stimulasi

intelektual dan memperlakukan karyawan dengan memberi perhatian terhadap

individu dalam organisasi. Hal-hal tersebutlah yang mendorong karyawan atau

bawahan untuk lebih lagi dalam berprestasi dan bekerja.

Berprestasi dan berkerja lebih tentunya berpengaruh terhadap tuntutan

kerja karyawan, yang mana tuntutan kerja menurut Robbins (2008) merupakan

faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang dan dapat memberi tekanan

pada orang jika tuntutan tugas kecepatannya dirasakan berlebihan dan dapat

meningkatkan kecemasan dan stres. Selain itu, kepribadian individu yang

berbeda-beda terkadang juga menyebabkan pekerjaan yang dihasilkan kurang

baik karena tidak semua individu dapat menjalankan tuntutan yang berada di

luar kemampuannya dan dalam hal ini individu merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi munculnya stres kerja (Robbins, 2008).

Kemudian Bass (dalam Muchinsky, 2003) mengatakan bahwa gaya

kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang didasarkan

pada pengaruh dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan, hal

ini berarti apabila hubungan yang terjalin antara atasan dan bawahan itu baik,

maka tugas-tugas yang dikomunikasikan oleh atasan atau pemimpin dapat

(24)

kepada bawahan tidak jelas, maka hal ini dapat menimbulkan kebingungan

pada diri karyawan yang disebut sebagai ambiguitas peran yang berarti

ketidakjelasan tugas-tugas yang harus dilaksanakan seorang karyawan. Dalam

hal ini ambiguitas peran merupakan salah satu aspek pada stres kerja

(Michael, 2009).

Berbicara mengenai ambiguitas peran juga sangat erat kaitannya dengan

konflik peran yang juga merupakan salah satu aspek dari stres kerja. Konflik

peran sendiri berarti keadaan ketika seseorang memiliki satu atau lebih peran

yang saling bersaing, dengan kata lain, tiap peran memiliki tuntutan

masing-masing, jadi ketika individu memenuhi tuntutan peran yang satu, maka akan

sulit bagi individu tersebut untuk memenuhi tuntutan peran yang lainnya

(Rollinson, 2005).

Konflik peran dalam organisasi dapat tercipta salah satunya karena

pemimpin yang terlalu banyak menuntut dan kurang peka terhadap keadaan

dan kemampuan karyawan (Robbins, 2008). Namun, pemimpin yang

menerapkan gaya kepemimpinan transformasional kepada bawahannya

dikenal dengan karakteristiknya yang memberikan perhatian bersifat

individual (Bass, 1990). Pemberian perhatian kepada bawahan oleh pemimpin

dengan gaya kepemimpinan transformasional merupakan bentuk kepekaan

pemimpin terhadap keadaan bawahan, termasuk peran-peran yang dimiliki

karyawan. Sehingga, hal tersebut menunjukkan bahwa semakin peka

pemimpin terhadap keadaan bawahan khususnya peran bawahan, maka

(25)

satu aspek dari stres kerja. Maka, diperoleh sebuah informasi bahwasanya

terdapat hubungan gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja

seperti penelitian yang dilakukan oleh Hamdani & Handoyo (2012).

Selain itu, adapun aspek stres kerja lainnya yakni beban kerja (Michael,

2009). Salah satu organisasi yang memiliki beban kerja yang cukup banyak

dan erat kaitannya pula dengan waktu adalah perusahaan media massa. Media

massa merupakan alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan

dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat

komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002).

Adapun jenis-jenis dari media massa itu sendiri yakni media cetak, media

elektronik, dan media siber.

Dewasa ini, sudah banyak bisa dijumpai perusahaan-perusahaan media

massa, media elektronik dan media cetak contohnya. Pada era globalisasi

seperti sekarang ini, banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk menjadi

pemenang dalam persaingan bisnis. Persaingan bisnis yang semakin kuat dan

inovasi-inovasi yang terus berkembang mendorong setiap perusahaan untuk

terus meningkatkan kreativitas baik dalam proses perbaikan mutu produk,

peningkatan efektivitas dan efisiensi, dan lain sebagainya (Andriopoulos

dalam Agustina, 2009). Tidak hanya itu, proses peningkatan kreativitas

perusahaan juga dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah sumber

daya manusia. Perusahaan membutuhkan karyawan-karyawan yang juga

kreatif sebagai upaya peningkatan keunggulan kompetitif dalam menghadapi

(26)

Seperti pada perusahaan media massa, dalam pelaksanaannya

menyampaikan berita, perusahaan media elektronik dan media cetak dapat

berjalan karena adanya karyawan-karyawan yang bertugas dan disusun dalam

divisi-divisi tertentu. Salah satu divisi yang sangat berperan dalam penyaluran

berita-berita yakni divisi berita dan siaran pada media elektronik dan divisi

redaksi pada media cetak. Karyawan-karyawan dalam divisi berita/divisi

redaksi bertugas untuk memproduksi berita yang telah diperoleh dari reporter

yang meliput berita di lapangan, dan karyawan di divisi siaran bertugas untuk

memproduksi program serta menyiarkan baik dari perencanaan program

hingga pelaksanaan.

Penyelesaian tugas-tugas di divisi tersebut sangat bergantung pada waktu.

Berita-berita yang telah diperoleh dari reporter harus selesai diproduksi atau

dirangkum sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan agar nantinya dapat

disiarkan atau diterbitkan sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan.

Tugas-tugas harus diselesaikan sesuai dengan target yang telah ditetapkan,

apabila target tidak tercapai, maka produser berita atau kepala redaksi dan

produser siaran harus mengadakan rapat bersama karyawan-karyawan terkait,

membicarakan apakah ada hambatan atau kesulitan sehingga tidak tercapainya

target.

“Oh iya..itu menjadi tanggung jawab pemimpin..mengecek kan..apa kita memenuhi target durasi nggak..kita kan ada ketetapan durasi disini satu jam kan..paling sedikit itu 25 aitem berita..jadi tetap ada koordinasi, karena kita itukan kerja tim namanya kan..”

(27)

Berbicara mengenai hambatan dan kesulitan yang mungkin dialami

karyawan dalam divisi-divisi tersebut, terdapat beberapa hambatan yang

dialami karyawan dalam menjalankan tugas-tugasnya yakni adanya karyawan

yang sulit dalam bekerja tim, karyawan yang datang terlambat sehingga

mengganggu kinerja karyawan yang lain, beban kerja yang cukup banyak

yang harus diselesaikan sesuai waktu yang telah ditetapkan mengharuskan

pemimpin terus memotivasi karyawan agar dapat mencapai target. Namun,

mayoritas karyawan berusia 41-60 tahun termasuk kategori dewasa madya dan

memiliki masa kerja yang terbilang cukup lama sulit untuk menerima

dorongan ataupun motivasi dari pimpinan, dengan kata lain motivasi yang

diberikan pemimpin kepada karyawan tidak terlalu berpengaruh bagi mereka. “ Kalo bekerjanya udah capek..dari tahun 82..nah kalo disini itulah bisa dikatakan hambatannya ya..pegawainya udah tua-tua, di atas 40an..jadi jumlah yang usianya 40an itu 90%, jadi kalo cerita soal motivasi..motivasi itu selalu ada, tapi memotivasi usia yang tua-tua ini yang sulit..”

(Komunikasi personal 15 April, 2015)

Permasalahan-permasalahan atau hambatan yang pada umumnya terjadi

pada karyawan-karyawan media massa tersebut ternyata dialami oleh LPP

TVRI kota Medan dan Harian Waspada Medan. Kedua perusahaan media

cetak ini memiliki tugas yang sama yakni menyiarkan atau menerbitkan berita,

hanya saja yang satu adalah media elektronik dan satunya lagi adalah media

cetak.

Kedua jenis media massa tersebut memiliki karyawan yang mayoritas

(28)

memiliki masa kerja sekitar 11-20 tahun bahkan terdapat pula yang sudah

bekerja lebih dari 30 tahun. Tentunya dalam melaksanakan tugas-tugasnya,

karyawan dipimpin oleh seorang pemimpin yang bertugas mengontrol dan

mengkoordinir karyawan. Pemimpin di kantor media massa sendiri dikenal

sebagai seorang pemimpin yang demokratis dan terbuka. Setiap harinya

pemimpin datang ke kantor untuk mengecek apakah tugas-tugas bawahan atau

karyawannya sudah terlaksana dengan baik atau belum. Pemimpin juga selalu

mengadakan rapat sebulan sekali dengan para karyawannya guna

mendiskusikan sudah tercapainya target atau belum serta menampung

masukan dari bawahan mengenai program kerja mereka.

“disini kepemimpinannya saya gak ngerti secara teori ya..tapi yang jelas sangat demokratis, terbuka..kan gitu..kita sendiri disini ada pertemuan, rapat gitu..tidak tetap tapi rutin gitu..sebulan sekali biasanya selalu ada dengan profesi-profesi yang ada tadi..”

(Komunikasi personal 15 April, 2015) Selain itu, dikatakan bahwasanya pemimpin juga selalu memberikan

motivasi ataupun dorongan bagi setiap bawahannya agar mereka tetap terus

bersemangat dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan dapat mencapai target

yang yang telah ditetapkan bahkan kalau bisa melebihi target yang sudah

ditetapkan sebelumnya.

“Eee..artinya mampu persentasenya yang tidak full gitu ya..kalau motivasi selalu ada..cuman ya itu tadi seperti yang saya bilang, tergantung si pegawainya juga..ya kan gitu..”

(Komunikasi personal 15 April, 2015) Permasalahan yang terjadi adalah karyawan yang mayoritas berusia di atas

(29)

yang sudah cukup lama menyebabkan sulitnya mereka menerima motivasi dari

atasan karena sudah biasa (monoton) dan terlalu sering dimotivasi, sehingga

pada akhirnya mereka menjadi mudah bosan dan jenuh dengan pekerjaan

mereka.

Permasalahan-permasalahan di atas memungkinkan terciptanya stres kerja

pada karyawan media massa sendiri, oleh karena itu untuk mengontrol hal-hal

mengenai terorganisirnya tugas-tugas karyawan, menciptakan kesejahteraan

karyawan, dan mencegah stres kerja karyawan, serta tercapainya target

perusahaan, maka diperlukanlah seorang pemimpin yang mampu mengontrol

dan mengkoordinir bawahannya demi mencapai tujuan ataupun target

perusahaan.

Berdasarkan hal di atas, peneliti melihat bahwa adanya kemungkinan gaya

kepemimpinan transformasional dapat mempengaruhi stres kerja pada

karyawan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh gaya

kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan.

B. RUMUSAN MASALAH

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah pengaruh

gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja karyawan media

(30)

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui

pengaruh gaya kepemimpinan transformasioanl terhadap stres kerja karyawan

media massa Medan.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini memiliki dua manfaat baik secara teoritis maupun praktis:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dibidang Psikologi

khususnya Psikologi Industri dan Organisasi terutama yang berkaitan dengan

gaya kepemimpinan dan stres kerja.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pemimpin Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih

tentang gaya kepemimpinan transformasional yang dapat diterapkan oleh

pemimpin kepada karyawan.

b. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang

pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres kerja

(31)

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Bab I : Pendahuluan

Berisi mengenai latar belakang masalah yang hendak dibahas, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Tinjauan Pustaka

Berisikan uraian tentang teori-teori dari masing-masing variabel,

hubungan antara variabel, dan hipotesa, yang mendasari masalah yang

menjadi objek penelitian, yang meliputi landasan teori dari gaya

kepemimpinan dan stres kerja.

Bab III : Metode Penelitian

Berisikan mengenai metode-metode dalam penelitian yaitu identifikasi

variabel, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan sampel, alat

ukur, validitas dan realibilitas alat ukur, metode pengolahan data, serta hasil

uji coba alat ukur.

Bab IV : Analisa Data dan Interpretasi

Bab ini memaparkan mengenai gambaran umum subjek penelitian, hasil

penelitian, hasil utama penelitian, dan menginterpretasikan data-data empirik.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan mengenai hasil penelitian serta berisi

(32)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. STRES KERJA 1. Definisi Stres Kerja

Stres kerja menurut Handoko (2000) adalah suatu kondisi ketegangan yang

mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang dalam bekerja.

Semakin berat stres yang dialami oleh karyawan, maka semakin terganggu

kemampuannya dalam pekerjaan dan lingkungannya. Stres kerja yang dialami

oleh para karyawan dapat menghambat tugas-tugas yang dibebankan, yang mana

manusia cenderung mengalami stres apabila ia kurang mampu mengadaptasikan

keinginan-keinginan dengan kenyataan-kenyataan yang ada, baik kenyataan yang

ada di dalam maupun di luar dirinya (Anoraga, 2001). Sebagai hasilnya, dalam

diri karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu

keberlangsungan kerja mereka. Orang-orang yang mengalami stres dapat menjadi

nervous dan merasakan kekuatiran kronis. Mereka sering menjadi mudah marah dan agresi, tidak dapat bersikap tenang, atau tidak kooperatif (Rivai, 2005)

Luthans (2006) mengungkapkan stres kerja sebagai respon adaptif yang

dihubungkan oleh perbedaan individu dan atau proses psikologi yang merupakan

konsekuensi tindakan, situasi, atau kejadian eksternal (lingkungan) yang

menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik yang berlebihan pada seseorang.

Stres pada pekerjaan tentunya tidak akan muncul tanpa ada penyebabnya.

Robbins (2008) memaparkan bahwasannya stres kerja pada karyawan dapat

(33)

dalamnya tuntutan tugas, tuntutan peran, dan tuntutan pribadi, kemudian faktor

lingkungan, serta faktor individu. Tak jauh berbeda dengan yang lainnya, Robbins

dan Coulter (2010) mendefinisikan stres sebagai reaksi negatif dari orang-orang

yang mengalami tekanan berlebih yang dibebankan kepada mereka akibat

tuntutan, hambatan, atau peluang yang terlampau banyak.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa stres kerja

merupakan suatu kondisi ketegangan yang berupa respon adaptif yang

dihubungkan dengan perbedaan individu dan atau proses psikologi yang

merupakan konsekuensi tindakan, situasi, atau kejadian eksternal (lingkungan)

yang menempatkan tuntutan psikologis dan atau fisik yang berlebihan pada

seseorang.

2. Dimensi Stres Kerja

Stres kerja dapat diukur dari 3 dimensi (Michael, 2009), yaitu:

a. Beban Kerja

Adanya ketidaksesuaian antara peran yang diharapkan, jumlah waktu, dan

sumber daya yang tersedia untuk memenuhi persyaratan tersebut. Beban

kerja berkaitan dengan banyaknya tugas-tugas yang harus dilaksanakan,

ketersediaan waktu, serta ketersediaan sumber daya. Apabila proporsi

ketiganya tidak seimbang, kemungkinan besar tugas tersebut tidak bisa

diselesaikan dengan baik. Ketidakseimbangan ini bisa menyebabkan

seseorang mengalami stres.

(34)

b. Konflik Peran

Konflik peran merujuk kepada suatu keadaan ketika seseorang memiliki

satu atau lebih peran yang saling bersaing, dengan kata lain, tiap peran

memiliki tuntutan masing-masing, sehingga ketika individu memenuhi

tuntutan peran yang satu, maka akan sulit bagi individu tersebut untuk

memenuhi tuntutan peran yang lainnya (Rollinson, 2005).

c. Ambiguitas Peran

Ambiguitas peran berkaitan dengan ketidakjelasan tugas-tugas yang harus

dilaksanakan seorang karyawan. Hal ini terjadi salah satunya karena job description tidak diberikan oleh atasan secara jelas, sehingga karyawan kurang mengetahui peran apa yang harus dia lakukan serta tujuan yang

hendak dicapai dari perannya tersebut.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja

Menurut Robbins (2008) timbulnya stress kerja dipengaruhi oleh beberapa

faktor, yaitu:

a. Faktor Organisasi

Terdapat banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat

menimbulkan stres. Beberapa faktor tersebut yakni tekanan untuk

menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang

telah ditetapkan, beban kerja yang berlebih, pimpinan yang menuntut dan

kurang peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan. Beberapa faktor

(35)

1. Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan tuntutan atau

tekanan untuk menunaikan tugasnya secara baik dan benar.

2. Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada

seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam

organisasi itu. Konflik peran menciptakan harapan-harapan yang

barangkali sulit dirujukkan atau dipuaskan. Kelebihan peran terjadi bila

karyawan diharapkan untuk melakukan lebih daripada yang dimungkinkan

oleh waktu. Sehingga ambiguitas peran dapat tercipta bila harapan peran

tidak dipahami dengan jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa yang

harus dikerjakan.

3. Tuntutan antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan

lain. Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antar

pribadi yang buruk dapat menimbulkan stres yang cukup besar, khususnya

di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial yang tinggi.

4. Struktur Organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi,

tingkat aturan dan peraturan dan dimana keputusan itu diambil. Aturan

yang berlebihan dan kurangnya berpartisipasi dalam pengambilan

keputusan yang berdampak pada karyawan merupakan potensi sumber

stres.

b. Faktor Lingkungan

Ada beberapa faktor yang mendukung faktor lingkungan, yaitu:

(36)

Bila perekonomian itu menjadi menurun, orang menjadi semakin

mencemaskan kesejahteraan mereka.

2. Ketidakpastian politik. Situasi politik yang tidak menentu seperti yang

terjadi di Indonesia, banyak sekali demonstrasi dari berbagai kalangan

yang tidak puas dengan keadaan mereka. Kejadian semacam ini dapat

membuat orang merasa tidak nyaman. Seperti penutupan jalan karena ada

yang berdemo atau mogoknya angkutan umum dan membuat para

karyawan terlambat masuk kerja.

3. Kemajuan teknologi. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, maka

hotel pun menambah peralatan baru atau membuat sistem baru. Yang

membuat karyawan harus mempelajari dari awal dan menyesuaikan diri

dengan itu.

4. Terorisme adalah sumber stres yang disebabkan lingkungan yang

semakin meningkat dalam abad ke 21, seperti dalam peristiwa penabrakan

gedung WTC oleh para teroris, menyebabkan orang-orang Amerika

merasa terancam keamanannya dan merasa stres.

c. Faktor Individu

Faktor ini mencakup kehidupan pribadi karyawan terutama faktor-faktor

persoalan keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian

bawaan.

1. Faktor persoalan keluarga. Survei nasional secara konsisten

menunjukkan bahwa orang menganggap bahwa hubungan pribadi dan

(37)

pecahnya hubungan dan kesulitan disiplin anak-anak merupakan contoh

masalah hubungan yang menciptakan stres bagi karyawan dan terbawa ke

tempat kerja.

2. Masalah Ekonomi. Diciptakan oleh individu yang tidak dapat mengelola

sumber daya keuangan mereka merupakan satu contoh kesulitan pribadi

yang dapat menciptakan stres bagi karyawan dan mengalihkan perhatian

mereka dalam bekerja.

3. Karakteristik kepribadian bawaan. Faktor individu yang penting

mempengaruhi stres adalah kodrat kecenderungan dasar seseorang.

Artinya gejala stres yang diungkapkan pada pekerjaan itu sebenarnya

berasal dari dalam kepribadian orang itu.

Berdasarkan uraian di atas dapatlah terlihat bahwa salah satu faktor yang

mempengaruhi terciptanya stres kerja adalah faktor organisasi, yang mana di

dalam faktor organisasi itu sendiri, dikemukakan bahwa gaya pemimpin dalam

memimpin bawahannya turut mempengaruhi stres kerja. Adapun salah satu

gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan oleh pemimpin organisasi kepada

bawahannya yakni gaya kepemimpinan transformasional.

B. GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

1. Definisi Gaya Kepemimpinan Transformasional

Tichy dan Devanna (dalam Jewell, 1998) mendefinisikan gaya kepemimpinan

(38)

organisasi, menciptakan visi, membuat komitmen pada visi tersebut, membentuk

budaya perusahaan untuk mendukung perubahan-perubahan, dengan cepat melihat

tanda-tanda perlunya perubahan dalam organisasi, serta mampu menciptakan

kepercayaan pada karyawannya, walaupun tidak memiliki hubungan personal

dengan tiap karyawannya.

Seperti ungkapan Bass dalam Muchinsky (2003) yang mendefinisikan gaya

kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang didasarkan pada

pengaruh dan hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan. Dalam hal ini,

para pengikut akan merasa percaya, mengagumi, loyal, dan menghormati

pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi

dan berkinerja yang lebih tinggi.

Pemimpin yang transformasional bisa menjadi direktif, partisipatif, otoriter

ataupun demokratis (Bass dalam Muchinsky, 2003). Menurut Bass (1990)

kepemimpinan transformasional ini bersifat kontinuum dan merupakan suatu

tingkatan di atas kepemimpinan transaksional dalam hal mengilhami dan

memotivasi bawahan untuk berbuat lebih dari yang diharapkan. Kepemimpinan

transformasional dapat menciptakan lingkungan yang memotivasi karyawan

dalam mencapai tujuan organisasi serta mengembangkan minat karyawan dalam

bekerja. Kemudian Luthans (2006) menyatakan bahwa kepemimpinan

transformasional membawa keadaan menuju kinerja tinggi pada organisasi yang

menghadapi tuntutan pembaharuan dan perubahan.

Kepemimpinan transformasional juga didefinisikan sebagai antitesis dari

(39)

kepemimpinan transformasional dapat didefinisikan sebagai kepemimpinan yang

mencakup upaya perubahan organisasi (Dwiyekti, 2011).

Transformasional berarti dalam pelaksanaannya, pengikut lebih diberikan

kebebebasan, rasa kepemilikan dan tanggung jawab yang memungkinkan para

pengikut untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan tujuan akhirnya

meningkat (Khan, 2012).

Tidak jauh berbeda dengan Bass, Modiani (2012) mengemukakan bahwa

kepemimpinan transformasional merupakan kemampuan untuk memberikan

inspirasi dan memotivasi para pengikutnya untuk mencapai hasil - hasil yang

lebih besar daripada yang direncanakan secara orisinil dan untuk imbalan internal.

Dari berbagai pendapat tersebut peneliti menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang mengenal perlu adanya perubahan organisasi didasarkan pada pengaruh serta hubungan pemimpin dengan

pengikut atau bawahan, menciptakan komitmen dan motivasi yang tinggi untuk

berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi serta menimbulkan rasa percaya,

kagum, loyal, dan hormat pada karyawan terhadap pemimpin.

2. Ciri-ciri Gaya Kepemimpinan Transformasional

Bass (1990) merumuskan empat ciri yang dimiliki oleh pemimpin dengan

gaya kepemimpinan transformasional, yaitu:

a. Pemimpin memiliki karisma yang diakui oleh pengikutnya (charisma),

berarti pemimpin yang menjadi model bagi pengikutnya, mendapatkan

(40)

mampu menyampaikan rasa pengertian memiliki misi yang kuat terhadap

pengikutnya.

b. Dapat memberikan inspirasi atau menjadi sumber inspirasi bagi

pengikutnya (inspirational), berarti pemimpin yang percaya diri, meningkatkan optimism dan antusias kelompok, serta mampu memotivasi

pengikutnya.

c. Perilaku dan perhatian pemimpin terhadap pengikutnya bersifat individual

(individualized consideration), berarti memberikan perhatian secara personal pada semua individu serta membuat individu merasa dihargai.

d. Pemimpin memiliki kemampuan menstimulasi pemikiran atau ide-ide dari

bawahannya (intellectual stimulation), berarti menunjukkan cara-cara dalam mendorong pengikut menjadi inovatif dan kreatif dalam memimpin.

C. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan

Stres kerja merupakan respon adaptif yang dihubungkan oleh perbedaan

individu dan atau proses psikologi yang merupakan konsekuensi tindakan, situasi,

atau kejadian eksternal (lingkungan) yang menempatkan tuntutan psikologis dan

atau fisik yang berlebihan pada seseorang (Luthans, 2006). Gaya kepemimpinan

transformasional merupakan kepemimpinan yang didasarkan pada pengaruh dan

hubungan pemimpin dengan pengikut atau bawahan, yang dalam hal ini, para

(41)

serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi dan

berkinerja yang lebih tinggi (Bass dalam Muchinsky, 2003).

Pemimpin yang transformasional merupakan pemimpin yang memberikan

perhatian bersifat individual kepada karyawannya (Bass,1990). Perhatian yang

bersifat individual ini berarti pemimpin sangat tahu benar diri tiap-tiap

karyawannya. Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa pemimpin dengan

gaya kepemimpinan transformasional harusnya mampu mengatur peran serta

beban kerja tiap bawahannya sehingga dapat mencegah terjadinya stres kerja.

Salah satu faktor yang menyebabkan terciptanya stres kerja adalah faktor

organisasi, yang mana di dalam nya terdapat beberapa hal yang dapat memicu

terjadinya stres kerja, salah satunya adalah pimpinan yang terlalu menuntut dan

kurang peka (Robbins, 2008). Apabila dikaitkan dengan pemimpin yang

transformasional, yakni pemimpin yang dikenal dengan karakteristiknya yang

memberikan perhatian bersifat individual, yang berarti pemimpin yang

memberikan perhatian kepada tiap bawahannya (Bass, 1990). Hal ini merupakan

bentuk kepekaan pemimpin terhadap keadaan bawahan, sehingga hal tersebut

menunjukkan bahwa semakin peka pemimpin terhadap keadaan bawahan, maka

semakin kecil kemungkinan terciptanya stres kerja (Robbins, 2008).

Kemudian daripada itu, pemimpin yang transformasional juga mampu

menstimulasi pemikiran atau ide-ide bawahannya (Bass, 1990), dapat menjadi

seorang pemimpin yang direktif ketika situasi yang mengharuskan pemimpin

menjadi direktif atau bahkan dapat menjadi seseorang yang otoriter maupun

(42)

Berdasarkan pernyataan tersebut, berarti dengan gaya kepemimpinan

transformasional pemimpin dapat mencegah munculnya stres kerja dikarenakan

pemimpin yang transformasional termasuk pemimpin yang dapat mengontrol

segala situasi yang terjadi dalam organisasi/perusahaan. Transformasional sendiri

berarti dalam pelaksanaannya, pengikut lebih diberikan kebebebasan, rasa

kepemilikan dan tanggung jawab yang memungkinkan para pengikut untuk

mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan tujuan akhirnya meningkat

(Khan, 2012). Maka dengan kata lain, pemberian kebebasan pada karyawan ini

memungkinkan karyawan dapat bekerja dengan lebih tenang walaupun dituntut

harus bekerja lebih daripada tujuan organisasi, sehingga mencegah timbulnya

kondisi yang tegang yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi

karyawan dalam bekerja (Handoko,2000).

Dalam kegiatan memimpin, mengawasi dan mengontrol bawahan, tentunya

perlu diciptakan sebuah hubungan yang baik antara pemimpin dan bawahan atau

anak buah; pemimpin yang dapat memotivasi dan memberikan perhatian secara

individual kepada tiap bawahannya (Bass,1990). Pemimpin dengan gaya

kepemimpinan transformasional akan memotivasi bawahannya agar berprestasi

dan bekerja yang lebih tinggi, hal ini berarti menjadi tuntutan tiap bawahan untuk

dapat menghasilkan sesuatu yang lebih lagi di luar target pemimpin (Bass,1990).

Sedangkan setiap individu memiliki kepribadiannya masing-masing. Tidak semua

individu dapat menjalankan tuntutan yang berada di luar kemampuannya,

sehingga dalam hal ini pemimpin dengan gaya kepemimpinan transformasional

(43)

Konflik peran merupakan suatu keadaan ketika seseorang memiliki satu atau

lebih peran yang saling bersaing, dengan kata lain, tiap peran memiliki tuntutan

masing-masing, jadi ketika individu memenuhi tuntutan peran yang satu, maka

akan sulit bagi individu tersebut untuk memenuhi tuntutan peran yang lainnya

(Rollinson, 2005). Pemimpin yang terlalu banyak menuntut dan kurang peka

terhadap keadaan dan kemampuan karyawannya dapat menjadi salah satu faktor

terciptanya konflik peran yang kemudian berujung kepada stres kerja (Robbins,

2003). Namun, pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan transformasional

dikenal dengan karakteristiknya yang memberikan perhatian bersifat individual

(Bass, 1990). Pemberian perhatian kepada bawahan oleh pemimpin dengan gaya

kepemimpinan transformasional merupakan bentuk kepekaan pemimpin terhadap

keadaan bawahan, termasuk peran-peran yang dimiliki karyawan. Sehingga, hal

tersebut menunjukkan bahwa semakin peka pemimpin terhadap keadaan bawahan

khususnya peran bawahan, maka semakin kecil kemungkinan terciptanya konflik

peran yang merupakan salah satu aspek dari stres kerja.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan

transformasional berpengaruh negatif terhadap stres kerja, semakin kuat gaya

kepemimpinan transformasional yang diterapkan oleh pemimpin, semakin rendah

(44)

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah

terdapat pengaruh negatif gaya kepemimpinan transformasional terhadap stres

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

kuantitatif yang bersifat korelasional. Tujuan metode penelitian korelasional

adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan

dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien

korelasi. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui pengaruh Gaya Kepemimpinan

Transformasional terhadap Stres Kerja Karyawan.

A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN

Untuk dapat menguji hipotesa penelitian terlebih dahulu diidentifikasi

variabel-variabel penelitian. Dalam penelitian ini variabel-variabel penelitian yang

digunakan terdiri dari :

Variabel tergantung (DV) : Stres Kerja

Variabel bebas (IV) : Gaya Kepemimpinan Transformasional

B.DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL

1. Stres Kerja

Stres kerja adalah kondisi karyawan dimana lingkungan kerja menuntut

adanya respon adaptif baik fisik maupun psikologis dari karyawan. Stres kerja

diukur menggunakan skala stres kerja dengan mengembangkan aspek-aspek stres

kerja yang dikemukakan oleh Michael (2009) yaitu: beban kerja, konflik peran,

(46)

yang dicapai seseorang artinya semakin tinggi stres kerja yang dialami individu.

Sebaliknya, semakin rendah skor yang dicapai artinya semakin rendah stres kerja

yang dialami individu.

2. Gaya Kepemimpinan Transformasional

Gaya kepemimpinan transformasional adalah gaya yang diterapkan oleh

pemimpin dengan memberikan inspirasi atau menjadi sumber inspirasi bagi

pengikutnya, yang akan membuat pengikutnya merasa percaya, kagum, loyal, dan

hormat kepada pemimpin, serta memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi

untuk berprestasi dan berkinerja yang lebih tinggi lagi.

Gaya kepemimpinan transformasional diukur dengan skala gaya

kepemimpinan transformasional dengan mengembangkan aspek-aspek yang

dikemukakan oleh Bass (1990) yaitu memiliki karisma, menjadi sumber inspirasi,

memberikan perhatian bersifat individual, dan mampu menstimulasi pemikiran

atau ide-ide dari bawahan. Skala ini menggunakan metode likert. Semakin tinggi skor yang dicapai seseorang artinya semakin kuat gaya kepemimpinan

transformasional yang diterapkan individu. Sebaliknya, semakin rendah skor yang

dicapai artinya semakin lemah gaya kepemimpinan transformasional yang

diterapkan individu.

B. POPULASI DAN SAMPEL

Populasi adalah keseluruhan individu yang akan diselidiki dan mempunyai

(47)

ini adalah 80 orang karyawan divisi berita dan siaran LPP TVRI Medan dan 88

orang karyawan divisi redaksi Harian Waspada Medan.

Sampel adalah sebagian dari populasi atau sejumlah penduduk yang

jumlahnya kurang dari jumlah populasi dan harus mempunyai sifat yang sama

(Hadi, 2000). Adapun sampel dalam penelitian ini adalah karyawan media massa

Medan (LPP TVRI dan Harian Waspada) adalah sejumlah 61 orang.

Teknik sampling yang digunakan adalah nonprobability sampling dengan cara purposive sampling. Purposive sampling merupakan sebuah teknik pengambilan sampel berdasarkan pada kriteria-kriteria yang telah dirumuskan

terlebih dahulu oleh peneliti, bertitik tolak pada penilaian pribadi peneliti yang

menyatakan bahwa sampel yang dipilih benar-benar representatif (Sugiharto, dkk,

2003).

D. METODE PENGUMPULAN DATA

Metode pengumpulan data adalah cara untuk memperoleh data dalam suatu

penelitian (Azwar, 2005). Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang

digunakan adalah skala. Skala adalah kumpulan pernyataan-pernyatan mengenai

suatu obyek tertentu dimana respon subyek pada setiap pernyataan dapat

disimpulkan mengenai arah dan intensitas individu yang akan diukur (Azwar,

2002).Menurut Hadi (2000), metode skala mempunyai manfaat sebagai berikut:

1. Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya.

(48)

3. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya

adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.

Metode skala yang digunakan adalah metode Likert. Pada model penskalaan ini terdapat dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable. Pernyataan favorable merupakan pernyataan positif yang mendukung objek sikap yang diungkap, sedangkan pernyataan unfavorable merupakan pernyataan negatif yang tidak mendukung objek sikap yang hendak diungkap (Azwar, 2000). Metode ini

menggunakan pilihan jawaban, yaitu netral (N) , sangat setuju (SS), setuju (S),

netral (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Masing-masing dibuat

dengan menggunakan skala 1 – 5 kategori jawaban, yang masing-masing jawaban

diberi score atau bobot yaitu banyaknya score antara 1 sampai 5, dengan rincian:

1. Jawaban SS sangat sesuai diberi score 5 2. Jawaban S sesuai diberi score 4

3. Jawaban N netral diberi score 3

4. Jawaban TS tidak sesuai diberi score 2

5. Jawaban STS sangat tidak sesuai diberi score 1

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua skala psikologi, yaitu skala

Stres Kerjadan skala Gaya Kepemimpinan Transformasional.

1. Skala Stres Kerja

Untuk mengukur stres kerja maka digunakan skala stres kerja yang

(49)

yang digunakan adalah skala likert. Skor total pada skala merupakan petunjuk tinggi rendahnya stres kerja.

Skala stres kerja ini menggunakan lima pilihan jawaban, yaitu SS (Sangat

Sesuai), S (Sesuai), N (Netral), TS (Tidak Sesuai), STS (Sangat Tidak Sesuai).

Skala disajikan dalam bentuk pernyataan favorable dan unfavorable dengan rentang skor dari 1 sampai 5. Berikut Blue Print dari skala stres kerja:

Tabel 1. Skor alternatif jawaban skala

Favorable Unfavorable

Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor

Sangat sesuai 5 Sangat sesuai 1

Sesuai 4 Sesuai 2

Netral 3 Netral 3

Tidak sesuai 2 Tidak sesuai 4

Sangat tidak sesuai 1 Sangat tidak sesuai 5

Tabel 2. Blue print skala Stres Kerja

No. Dimensi Favourable Unfavourable

(50)

2. Konflik peran 5 5

3. Ambiguitas peran 5 5

Jumlah Total Item 15 15

2. Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional

Gaya kepemimpinan transformasional diukur dengan skala gaya

kepemimpinan transformasional yang dikemukakan oleh Bass (dalam Muchinsky,

2003) dengan menggunakan metode likert yang disusun berdasarkan empat dimensi, yaitu: memiliki karisma, menjadi sumber inspirasi, memberikan

perhatian bersifat individual, dan mampu menstimulasi pemikiran atau ide-ide

dari bawahan. Skala gaya kepemimpinan transformasional ini menggunakan lima

pilihan jawaban, yaitu SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), N (Netral), TS (Tidak

Sesuai), STS (Sangat Tidak Sesuai). Skala disajikan dalam bentuk pernyataan

favorable dan unfavorable dengan rentang skor dari 1 sampai 5.

Tabel 3. Skor alternatif jawaban skala

Favorable Unfavorable

Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor

Sangat sesuai 5 Sangat sesuai 1

(51)

Netral 3 Tidak sesuai 3

Tidak sesuai 2 Sangat tidak sesuai 4

Sangat tidak sesuai 1 Sangat tidal sesuai 5

Tabel 4. Blue Print Skala Gaya Kepemimpinan Transformasional

No. Dimensi Favourable Unfavourable

1. Memiliki karisma 5 5

2. Menjadi sumber

inspirasi

5 5

3. Memberikan perhatian

bersifat individual

5 5

4. Mampu menstimulasi

pemikiran atau ide-ide

bawahan

5 5

Jumlah Total Item 20 20

E. UJI COBA ALAT UKUR

Menurut Azwar (2000) tujuan dilakukan uji coba alat ukur adalah untuk

melihat seberapa jauh alat ukur dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak

(52)

1. Validitas Alat Ukur

Validitas berarti ketepatan interpretasi atas hasil dari suatu tes atau

pengukuran dan sesuai dengan tujuan pemberian tes (Wiersma, 1986). Azwar

(2003) mendefinisikan validitas sebagai sejauh mana ketepatan dan kecermatan

suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau

instrumen pengukur akan dikatakan valid jika hasil pengukurannya sesuai dengan

tujuan dilakukannya pengukuran tersebut. Validitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah validitas isi atau content validity, yaitu sejauh mana alat tes yang digunakan dilihat dari segi isi adalah benar-benar mengukur apa yang

seharusnya diukur (Hadi, 2000). Teknik yang digunakan untuk melihat validitas

isi dalam penelitian ini adalah professional judgement, pendapat profesional diperoleh dengan cara berdiskusi dengan dosen pembimbing

2. Uji Daya Beda Item (Aitem)

Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu

membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki atribut

dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur. Prinsip kerja yang dijadikan

dasar melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang

fungsi ukurnya sesuai selaras atau sesuai dengan fungsi ukur skala sebagaimana

dikehendaki oleh penyusunnya (Azwar, 2005).

Pengujian daya beda aitem dilakukan dengan komputasi korelasi antara

distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu distribusi skor skala itu

(53)

dikenal dengan sebutan parameter daya beda aitem. Kriteria pemilihan aitem

berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan rit ≥ 0,30. Semua aitem yang

mencapai koefisien korelasi minimal 0,30, daya pembedanya dianggap memuaskan.

Aitem yang memiliki harga rit kurang dari 0,30 dapat diinterpretasikan sebagai aitem

yang memiliki daya beda rendah (Azwar, 2005). Pernyataan-pernyataan pada skala

diuji daya beda aitemnya dengan menghitung antara skor aitem dengan skor total

skala. Teknik statistika yang digunakan adalah koefisiensi Product Moment oleh

Pearson. Formulasi koefisien korelasi Product Moment dari Pearson digunakan bagi

tes-tes yang setiap aitemnya diberi skor kontinyu. Semakin tinggi koefisien korelasi

positif antara skor aitem dengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara

aitem tersebut dengan skala secara keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya

bedanya. Bila koefisien korelasi rendah mendekati angka nol berarti fungsi aitem

tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik (Azwar,

2005). Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan menggunakan program

komputer SPSS 17.0.

3. Reliabilitas Alat Ukur

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya,

maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok

yang sama diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2000). Uji reliabilitas adalah

alat menunjukkan derajat konsistensi alat ukur yang bersangkutan jika diterapkan

berulang kali pada kesempatan yang berlainan. Semakin tinggi reliabilitas alat

pengukur maka semakin stabil pula alat pengukur tersebut dalam mengukur suatu

(54)

semakin tidak stabil alat pengukur tersebut dalam mengukur suatu gejala(Azwar,

2003). Uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

konsistensi internal dengan teknik reliabilitas AlphaCronbach, yaitu suatu bentuk tes yang hanya memerlukan satu kali pengenaan tes tunggal pada sekelompok

individu sebagai subjek dengan tujuan untuk melihat konsistensi antar aitem atau

antar bagian dalam skala. Koefisien reliabilitas yang mendekati angka 1,00 berarti

semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien reliabilitas yang mendekati

angka 0,00 berarti semakin rendah reliabilitasnya.

F. PROSEDUR PENELITIAN

1. Tahap Persiapan a. Pencarian informasi

Pada tahap ini peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Mencari informasi tentang perusahaan yang akan dijadikan tempat

pengambilan data.

2) Peneliti menghubungi pihak perusahaan untuk memastikan pemberian

izin dalam hal pengambilan data.

3) Setelah mendapatkan izin dari pihak perusahaan, peneliti mengurus surat

izin dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

4) Peneliti mendatangi perusahaan tersebut dan memberikan surat

keterangan dari Fakultas Psikologi untuk mengadakan penelitian di

perusahaan tersebut.

Gambar

Tabel 1. Skor alternatif jawaban skala
Tabel 5. Distribusi Aitem Skala Gaya Kepemimpinan
Tabel 7. Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 9. Penyebaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan yang dimaksud dengan gaya kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin yang “memotivasi kita untuk berbuat lebih daripada apa yang

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN GAYA KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL TERHADAP PRODUKTIVITAS KARYAWAN DENGAN MOTIVASI SEBAGAI..

Penelitian ini memberikan bukti yang nyata bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksiaonal yang diterapkan pihak manajemen CV Cahaya Setia Mulia memberikan pengaruh

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KEPUASAN KERJA.. KARYAWAN CAFÉ GOEDANG COFFEE

Namun jika melakukan perbaikan yang sudah disarankan dari peneliti yaitu Perbaikan pada gaya kepemimpinan transformasional dapat lakukan dengan mendorong jajaran

Diharapkan pihak perusahaan dapat mempertahankan serta meningkatkan pelayanan terhadap Gaya kepemimpinan transformasional, karena variabel Gaya kepemimpinan

Hasil analisis jalur Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan dapat diketahui bahwa Gaya Kepemimpinan Transformasional

10 Transformasional X2, sebagai berikut: Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Variabel Gaya Kepemimpinan Transformasional X2 Sumber: Data diolah, 2021 Keterangan: X2.1 =Pemimpin di