KITAB
U N D A N G * PERNIAGAAN
(W e tb o e k van Koophandel)
D IT E R D J E M A H K A N * oleh Air 11. A. Koesnoen .!
p e n e R B i t a n „ s u m u R s a n ó u n q ” d /h N .V . M ij Vorkink-Van Hoeve, Bandung.Rp.
KITAB UNDANG-UXDANG PERNIAGAAN
K - j
K I T A B
U N D A N G 2 P E R N I A G A A N
("W etboek v a n K oophandel)
DITERDJE^fAEffijAN / (flelf / Mr ^ 5')^</ Koesnoen PENERBITAN „S U M U R BANDUNG” d /h N .V . Mij Vorkink-Van Jrl- 'an-'FAK. HUKUM dan PENG. MASJ.
Ta" 99«* ....1 0 ... *»....& + h o
Menterdjemahkan buku mengenai ilmu pengetahuan hukum,
seperti ianff sudah saja laksanakan sebanjak dua buah untuk suatu
Universitas* Negeri dan sebuah buku kriminologi untuk suatu pe- nerbit peraturan2 untuk keperluan pekerdjaan Djawatan, adalah
berat Apala°'i menterdjemahkan suatu undang2 seperti halnja Kitab
Undang2 Perniagaan jang sudah dibuatnja sebelum 1847.
Akan tetapi, mengingat akan sangat diperlukannja kitab un- dano-2 ini seperti jang saja ketahui sendiri selaku pengadjar, oleh para mahasiswa djurusan hukum jang sudah beribu-ribu djumlahnja, belum la°i para mahasiswa Akademi Perniagaan, Pelajaran, para pengikut &kursus Notaris, Padjag, Pegang Buku dan peladjar2 lain2- nja &jano- berkepentingan, atas desakan banjak mahasiswa dan an- djuran2°rekan2 pengadjar, karena belum ada terdjemahannja sama sekali maka saja memaksa diri untuk menterdjemahkannja.
Disamping kitab undang2 ini dapat dipergunakan oleh para pengadji ilmu pengetahuan hukum perniagaan, dengan bertumbuh- nja usaha perekonomian jang serba tjepat seperti sekarang, adanja terdjemahan ini merupakan pelantjar pemetjahan kesulitan usaha dan seno-keta, bagi1 para pengusaha perindustrian, perdagangan dan pengan^lmtan darat dan laut, dengan para petugas dan perantaranja, dan djuga bagi para pedjabat Djawatan2 jang bersangkutan.
Untuk niemudahkan pemakaiannja dan memberi pengertian jang pasti sesuai dengan maksud pemerintah, istilah2 terdjemahan jang dipergunakan dikutip dari Kamus Istilah Hukum penerbitan Balai Pustaka 1958.
Tidak lain harapan saja, semoga terdjemahan jang sangat tidak sempurna ini, dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum dan usaha perniagaan di Indonesia. Maka dari itu dari ma- sjarakat dan para achli saja harapkan adanja tegoran2 dan petun- djuk2 jang dapat dipergunakan untuk memperbaiki tjetakan baru nanti.
Bandung, 17 Agustus 1959.
Penterdjemah, A. KOESNOEN.
KITAB UNDANG2 PERNIAGAAN UNTUK INDONESIA (Diundangkan dengan Pengumuman 30 April 1847, S. No. 23).
Terhadap golongan Timur Asing, bukan Tionghoa, dan ter hadap golongan Tionghoa Kitab Undang2 Perniagaan berlaku se-
ketjuali perubahan susunan kalimat dalam fatsal 396; S. 24-556 fatsal 1, B ; S. 17-120, fatsal 1 sub 2, (lihat halaman 167, 169 Engelbrecht 1954).
<^aera-h pemerintah di Djawa dan Madura dengan S. 31 168 jo. 423, dalam Kitab Undang2 Perniagaan disebut : Kepala Pe- merintahan Setempat, harus dibatja : Assisten Residen.
P E R ATU R A N IJMUM.
P.N.
1. Fatsal 1. (Dirob : S. 38-276) B. W., sepandjang dalam W.v.K. tidak diadakan penjimpangan chusus, djuga berlaku terhadap hal2 jang diatur dalam Kitab Undang2 ini. (A.B. 15; B.W. 1617, 1774, 1878; K. 15, 79 dst., 85, 119, 168a, 286, 296, 747, 754).
A jat 2 dihapus dengan S. 38-276.
BUKU PERTAMA
PERNIAGAAN PAD A UMUMNJA. BAB PERTAMA.
Menurut S. 38-276 berlaku mulai 17 Juli 1938 bab pertama : ten tang peniaga dan perbuatan perniagaan (fatsal 2-5) dihapuskan.
BAB KEDUA.
. PEMBUKUAN.
(Kepala dirobah dengan S. 38-276).
Fatsal 6-11 dan 13 lama menurut S. 1927-146 sebagian diganti dengan fatsal 6-9 baru dan sebagian dihapuskan.
6. Fatsal 6. (Dirob : S. 38-276). Barang siapa, berniaga, wadjib menurut sjarat2 perniagaannja mengadakan pentjatatan tentang kekajaan dan semua hal, jang berhubungan dengan perniagaannja, sedemikian sehingga se-waktu2 dapat diketahui hak2 dan kewa- djiban2nja (K. 35, 66, 86, 96, 348; S.W. 396 dst.; Co. 8, 10).
Ia wadjib, saban tahun, dalam 6 bulan pertama dari tiap tahun, menurut sjarat2 perniagaannja, membuat neratja dan ditanda ta- ngani sendiri (B.W. 1881; Co. 9).
Ia wadjib menjimpan buku2 dan surat2 bukti, dimana ia meng- adakan pentjatatan, seperti termaktub dalam ajat 1, djuga neratja
untuk selama 30 tahun, surat2 dan surat2 kawa,t jang diterima dan turunan surat2 dan surat2 kawat jang dikirim untuk selama 10 tahun (K. 35; Co. 8, 11).
7. Fatsal 7. (Dirob. S. 38-276). Hakim bebas menggunakan pem- bukuan sebagai bukti lintuk kepentingan pemiliknja, djika ia untuk tiap keadaan chusus memandang perlu (B.W. 1881; K. 12, 35, 67, 86; " Co. 12 dst., 109).
8. Fatsal 8. (Dirob : S. 38-276). Hakim dapat, selama dalam pe- meriksaan dimuka sidang, atas permintaan atau karena djabatannja, pada ,tiap pihak atau pada salah satu memerintahkan membuka buku2, surat2 bukti, dan tjatatan, jang menurut fatsal 6, ajat ketiga, harus mengadakan, membuat atau menjimpan, untuk melihatnja atau membuat turunannja, djika hakim memandang perlu berhu- bung dengan hal jang dipersengketakan.
Hakim mengenai sifat atau isi dari surat2 jang dihadapi dapat mendengar seorang achli, baik dalam sidang maupun dengan tjara jang diatur dalam fatsal 215 s/d 229. R.v.
Hakim bebas, menarik kesimpulan menurut pendapatnja sen- diri djika perintahnja tidak dipenuhi (B.W. 1888, 1915 dst.; K. 67. Co. 15, 17).
v
9. Fatsal 9. Djika buku2, surat2 bukti atau tjatatan2 berada di- tempat luar daerah hukumnja hakim, ia dapat minta pada hakim setempat memeriksanja dan membuat berita atjara tentang penda patnja dan mengirimkannja (R.O. 33; K. 35; Co. 16).
Fatsal 10, 11 dan 13. Dihapus. S. 27-146.
12. Fatsal 12. (D irob: S. 27-146; 38-276). Tidak dapat seorang dipaksa untuk membuka pembukuannja, ketjuali untuk waris, u n tu k jang turut berkepentingan dalam usaha bersama, untuk a n g g a u t a , untuk jang turut mengangkat pengurus, jang langsung berkepen tingan dan achirnja djika djatuh pailit. (B.W. 573, 1082; K. 35, : Co. 14).
BAB TIGA.
BEBERAPA MATJAM PERSEROAN.
(Kepala dirobah dengan S. 38-276; lihat mengenai Kongsi T ion g h o a •
Tionghoa 3, 21 hal. 170-174 Engelbrecht 1954). ^ BAGIAN PERTAMA.
PERATURAN UMUM. 14. (Kepala dirobah dengan S. 38-276).
nfaga™ “
tebU nji : UllC,ang! menSaM «Sa perseroan
per-É T " firm a ; ? erseroa" dengan pemasukan uang- modal d in -»
disebut perseroan komanditer; perseroan terbatas. J 0 15. Fatsal 15. (Dirob : S. 38-276). Perseroan^ jang disebut dalam
S Ï T Sai ° leh, Persetudjuan pihak* oleh Kitab Undan^ iS
dan oleh Hukum Perdata (B.W. 1618 dst.; K 1- Co 18)
BAGIAN KEDUA.
atRtSt? ? ^ AN p i r m a DAN PERSEROAN d e n g a n PEMA
“ UANG M0DAL atau djuga disebut PERSEROAN KOMAN-16. /fyjtfsaZ KOMAN-16. (Dirob : S. 38-276). Perseroan firma adalah suatu usaha kerdja sama, untuk menjelenggarakan suatu pernia°aan de I - c ™ ) ™ (K 19 dst- 22 dst- 26-1°>29; r" S i» , lJ oe;
\
p X k aL SgagpadrpSsefoantka;n perSeroan pada Pihak ketig-a, dan Perbuatan J’an§' tidak bersangkut paut dengan perseroan atau djika para pesero menurut persetudjuan tidak wenan- S ter masuk ketentuan ini (B.W. 1632, 1636, 1639, 1642; K. 20, 26 29, s l j
18 Fatsal^ 18. ^ Dalam perseroan firma, tiap pesero terikat nlpli
muania ^ertanggung djawab setjara perorangan untuk se-tang^unp- d^ \ S^°rang' atau beberapa orang lain jang hanja ber-
J dengan uangnja jang dimasukkan dalam usaha. baai patJdengan demikian sekaligus merupakan firma, ba f J S f ma’- dan meruPakan perseroan pemasukan modal,
Co 23 dst )PeS0r° Jang memasukkan modalnja (K. 16, 20, 22 dst.,
2 1 Faisal 20. Ketjuali jang diatur dalam fatsal 30, nama pesero nama f X a Sadj a tidak boleh di^imakan sebagai din F e}ser° ini tidak boleh bertindak sebagai pengurus, atau beker-
(K. 17^aiS-,USS a Perseroan>‘dJu§'a tidak biarpun dengan surat kuasa
untuk selama 30 tahun, surat2 dan surat2 kawat jang diterima dan turunan surat2 dan surat2 kawat jang dikirim untuk selama 10 tahun (K. 35; Co. 8, 11).
7. Fatsal 7. (Dirob . S. 38-276). Hakim bebas menggunakan pem- bukuan sebagai bukti lintuk kepentingan pemiliknja, djika ia untuk tiap keadaan chusus memandang perlu (B.W. 1881; K. 12, 35, 67, 86 ; Co. 12 dst, 109).
8. Fatsal 8. (Dirob : S. 38-276). Hakim dapat, selama dalam pe- meriksaan dimuka sidang, atas permintaan atau karena djabatannja, pada ,tiap pihak atau pada salah satu memerintahkan membuka buku2, surat2 bukti, dan tjatatan, jang menurut fatsal 6, ajat ketiga, harus mengadakan, membuat atau menjimpan, untuk melihatnja atau membuat turunannja, djika hakim memandang perlu berhu- bung dengan hal jang dipersengketakan.
Hakim mengenai sifat atau isi dari surat2 jang dihadapi dapa,t mendengar seorang achli, baik dalam sidang maupun dengan tjara jang diatur dalam fatsal 215 s /d 229. R.v. _
Hakim bebas, menarik kesimpulan menurut pendapatnja sen- diri djika perintahnja tidak dipenuhi (B.W. 1888, 1915 dst.; K. 67. Co. 15, 17).
9. Fatsal 9. Djika buku2, surat2 bukti atau tjatatan2 berada di- tempat luar daerah hukumnja hakim, ia dapat minta pada ha ïm setempat memeriksanja dan membuat berita atjara tentang pen a- patnja dan mengirimkannja (R.O. 33; K. 35; Co. 16).
Fatsal 10, 11 dan 13. Dihapus. S. 27-146.
12. Fatsal 12. (D irob : S. 27-146; 38-276). Tidak dapat seorang dipaksa untuk membuka pembukuannja, ketjuali untuk ^ , jang turut berkepentingan dalam usaha bersama, untu &§_ > untuk jang turut mengangkat pengurus, jang ^ nc « 7 " tingan dan achimja djika djatuh pailit. (B.W. 573, 10 , • » >
Co. 14).
B A B T IG A .
B EB ER APA M ATJAM PERSEROAN.
(Kepala dirobah dengan S. 38-276; liha,t mengenai Kongsi Tionghoa : Tionghoa 3, 21 hal. 170-174 Engelbrecht 1954).
b a g i a n p e r t a m a.
PERATURAN TJMUM.
M. (kepala dirobah dengan S. 38-276). f utsui Uf. Dihapus S. 38-276.
(Fatsal 14 lama berbunji : Undang2 mengakui tiga perseroan per- niagaan :
perseroan firma; perseroan dengan pemasukan uang modal, djuga disebut perseroan komanditer; perseroan terbatas.
15. Fatsal 15. (Dirob : S. 38-276). Perseroan2 jang disebut dalam bab ini dikuasai oleh persetudjuan pihak2, oleh Kitab Undang2 ini dan oleh Hukum Perdata (B.W. 1618 dst.; K. 1; Co. 18).
BAGIAN KEDUA.
PERSEROAN FIRMA DAN PERSEROAN DENGAN PEMA SUKAN UANG MODAL atau djuga disebut PERSEROAN KOMAN DITER.
16. Fatsal 16. (Dirob : S. 38-276). Perseroan firma adalah suatu usaha kerdja sama, untuk menjelenggarakan suatu perniagaan de ngan nama bersama (K. 19 dst., 22 dst., 26-1°, 29; Rv. 6-5°, 8-2°,
99; Co. 20). •
\
17. Fatsal 17. Tiap pesero, jang tidak dinjatakan dilarang, wenang atas nama perseroan melakukan perbuatan, menerima dan menge- luarkan uang, dan mengikatkan perseroan pada pihak ketiga, dan pihak ketiga pada perseroan.
Perbuatan jang tidak bersangkut paut dengan perseroan atau djika para pesero menurut persetudjuan tidak wenang, tidak ter . masuk ketentuan ini (B.W. 1632, 1636, 1639, 1642; K. 20, 26, 29, 32;
Co. 22).
18. Fatsal 18. Dalam perseroan firma, tiap pesero terikat oleh tiap perikatan dari perseroan, setiara perorangan untuk semuanja
(B.W. 1282, 1642, 1811; Co. 22; Bb. 2638).
19. Fatsal 19. Perseroan dengan pemasukan uang modal djuga di sebut Perseroan Komanditer, diadakan antara seorang atau bebe- rapa orang jang bertanggung djawab setjara perorangan untuk se- muanja, dengan seorang atau beberapa orang lain jang hanja ber- tanggung djawab dengan uangnja jang dimasukkan dalam usaha.
Perseroan dapat dengan demikian sekaligus merupakan firma, bagi pesero firma, dan merupakan perseroan pemasukan modal, bagi para pesero jang memasukkan modalnja (K. 16, 20, 22 dst.,
I Co. 23 dst.). '
20. Fatsal 20. Ketjuali jang diatur dalam fatsal 30, nama pesero jang hanja memasukkan uang sadja tidak boleh digunakan sebagai nama firma (K. 19, 21).
-Pesero ini tidak boleh bertindak sebagai pengurus, atau beker- dja dalam usaha Perseroan,.djuga tidak biarpun dengan surat kuasa
Tanggung djawabnja dalam kerugian terbatas pada djumlah. uang jang ia masukkan atau jang ia harus masukkan dalam Perse roan, dengan tidak wad jib mengembalikan keuntungan jang sudah diterima (B.W. 1642 dst.; Co. 25 dst.).
21. Fatsal 21. Pesero pemasuk modal, jang melanggar ketentuan dari ajat 1 atau ajat 2 fatsal diatas, terikat oleh semua hutang dan perikatan perseroan setjara perorangan untuk semuanja (K. 18;
22. Fatsal 22. Perseroan firma harus didirikan dengan akta resmi
dan tidak adanja akta tidak boleh dipakai untuk menentang pihak ketiga (B.W. 1868, 1874, 1895, 1898; K. 1, 26, 29, 31; Co. 39, 42; T. XX-100).
23. Fatsal 23. Para pesero firma harus mendaftarkan akta dalam daftar jang diadakan untuk itu, dikepaniteraan Raad van Justitie jang menguasai daerah dimana perseroan berada (Ov. 82; B.W. 152; K. 24, 27 dst., 30 dst., 38 dst.; Co. 42; T. XX-101; S. 46-135 fatsal 5). 24. lama. Fatsal 2k. Tapi para pesero firma bebas, untuk men
daftarkan hanja turunan resmi dari akta (K. 26, 28; Co. 42; T. X X -101).
25. lama. Fatsal 25. Tiap orang^dapat minta melihat akta jang sudah terdaftar atau turunann^C^'Ssm mendapat turunan dengan ongkos sendiri. (K. 38; Co. 42 / S'.''tó51-27, fatsal 7).
26. lama. Fatsal 26. (Dirob 38-276). Turunan jang dimaksud oleh fatsal 24 harus berisi : ^ '
le. nama, nama ketjil, pentjaharian dan tempat tinggal para pe sero firma; (K. 16, 19 dst.).
2e. keterangan tentang firma, dengan penegasan apakah perseroan berusaha setjara umum atau dalam salah satu lapangan sadja dan djika demikian disebut lapangan apa; (K. 17).
3e. penundjukan pesero jang tidak boleh tanda tangan atas nama firma; (K. 17).
4e. waktu firma mulai bekerdja dan akan berachirnja;
5e. dan selandjutnja, setjara umum, bagian2 dari persetudjuan, jang mengatur hak2 fihak ketiga terhadap para pesero; (K. 27 dst •
Co. 43). '
W Fatsal 27. Pendaftaran harus diberi tanggal pada hari akta atau turunannja diserahkan di kepaniteraan. (K. 23).
28. lama. Fatsal 28. Para pesero wad jib mengumumkan turunan akta, sesuai dengan penentuan fatsal 26, dalam Lembaran Negara.
29. lama Fatsal 29. (Dirob : S. 38-276). Sebelum didaftarkan dan d*umumkan perseroan firma, terhadap pihak keti-a akan dinanrlan°-w f , r ^ bentSaha ^ T Ur T i ,d? la” semua lapMigan cHdirikan untuk djangka waktu jang tidak ditentukan, dan semua pesero ber- hak berbuat dan tanda tangan atas nama firma
Djika ada perbedaan antara jang didaftarkan dengan jang di- umumkan, bagi pihak ketiga berlaku peraturan2 jang menurut fatsal duluan, diumumkan dalam Lembaran Negara. (B.W. 1916 • K. 30 dst.
3 91 Co. 4 2 j T . !X X -1 0 3 ) .
30. lama. Fatsal 30. Firma dari suatu perseroan jang dipetjah- kan dapat, baik karena persetudjuan, maupun djika bekas pesero jang namanja terdapat dalam firma nienjetudjuinja deng'an .tegas2, atau djika meninggal, warisnja tidak menentangnja, dipertahankan oleh satu atau beberapa orang, jang untuk menundjukkan hal itu, harus diadakan akta, didaftarkan dan diumumkan dalam Lembaran Negara, setjara jang ditentukan dalam fatsal 23 dan seterusnja de ngan sanctie menurut fatsal 29.
Ketentuan ajat 1 fatsal 20 tidak berlaku, djika pesero jang mengundurkan diri, dari pesero firma, mendjadi pesero pemasuk modal. (B.W. 1651; K. 26; T. XX-163).
31. lama. Fatsal 31. Djika perseroan firma dipetjahkan sebelum djangka waktu jang ditentukan dalam persetudjuan berachir, baik karena pengunduran diri maupun karena pembubaran, dapat diper- pandjang sesudah lampau waktu jang ditentukan tersebut, dan di adakan perubahan2 dalam persetudjuan bermula, jang menjangkut pihak ketiga, dilakukan dengan akta resmi, dan harus didaftarkan dan diumumkan dalam Lembaran Negara.
Djika tidak diperbuat demikian berakibat, bahwa pemetjahan, pengunduran, pembubaran atau perubahan tidak berlaku terhadap
pihak ketiga. x
Djika tidak didaftarkan dan diumumkan, mengenai perpandjang- an waktu perseroan, berlaku ketentuan fatsal 29 (B W 1646 dst., K. 22, 26, 30; Co. 46; T. XX-103).
32. Fatsal 32. Djika perseroan dipetjahkan, para pesero pengurus harus membereskan urusan perseroan atas nama firma, ketjuali djika ditentukan lain dalam persetudjuan, atau semua pesero (tidak * termasuk pesero2 pemasuk modal) setjara perorangan ber-sama2 dan dengan suara terbanjak, mengangkat seorang lain sebagai pemberes.
Djika pemungutan suara gagal Raad van Justitie memutuskan, menurut pendapatnja jang se-baik2nja untuk kepentingan perseroan jang dipetjahkan. (B.W. 1652; K. 17, 20, 22, 31, 56; Rv. 6-5°, 99; T. X X -10 4).
33. Fatsal 33. Djika uang kas perseroan tidak mentjukupi untuk membajar hutang2 jang dapat ditagih, mereka jang ditugaskan untuk pemberesan, dapat menagih uang jang dibutuhkan, pada para
dinfa °ukkan ^ r s e r o ^ n ^ K *1l s ^ s l ) 0 ^ '
^
s e h a ru s n ja a k a n 34. Fatsal 3Jf. Uang, jang selama dalam pemberesan tidak diper- lukan oleh perseroan, dapat untuk sementara dibagi. (K. 33).35. Fatsal 35. Sesudah pemberesan dan pemisahan, djika dalam hai in tidak ada persesuaian, buku2 dan surat2 dari perseroan, di- simpan oleh seorang pesero, jang dipilih dengan suara terbanjak, atau QJ^ka pemilihan gagal, jang dipilih oleh Raad van Justitie; de ngan dibolehkan para pesero atau para pemaris hak meliha.t buku2 dan surat tersebut (B.W. 1081 dst., 1652, 1885; K. 12, 56).
BAG IAN KETIGA.
PERSEROAN TERBATAS
(Kepala dirobah S. 38-276; untuk pengakuan perseroan terba tas asing lihat Bb. 330; persetudjuan tentang pengakuan timbal- balik mengenai perseroan terbatas dan lain2 perseroan antara Ne derland dengan keradjaan Djerman S. 08-519, 16-494, antara Neder land dengan Rusia S. 13-650, 651; tentang Cf. untuk perseroan Indonesia dan perubahan dari perseroan terbatas mendjadi perseroan Indonesia (I.M.A.), S. 39-569 hal. 607 dst Engelbrecht 1954).
36. lama. Fatsal 36. (Dirob : S. 38-276). Perseroan terbatas t i dak punja firma, tidak pakai nama seorang atau lebih dari para pesero, tapi pakai nama jang menundjukkan lapangan usahanja.
(Dirob : 37-572). Sebelum perseroan terbatas dapat didirikan, akta pendiriannja, atau rentjana tentang itu dikirim ke Gupernur Djenderal atau petugas jang ditundjuk olehnja (Sebagai petugas d i- tundjuk Direktur Justisi S. 37-573), untuk mendapatkan perkenan- nja.
Pada tiap perubahan mengenai sjarat2, dan pada perpandjangan. waktu perseroan, harus ada perkenannja jang sama (K. 3 dst., 37, 51; Rv. 99; Co. 29 dst.; S. 70-64 fatsal 10; Bb. 330, 5011; Zeg. 93 dst.).
37. lama. Fatsal 37. (Dirob : 37-572). Djika perseroan tidak b e r- tentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum, dan tidak a d a keberatan penting terhadap pendiriannja, djuga aktanja tidak m uat hal2 jang bertentangan dengan ketentuan dalam fatsal 38 sampai dengan fatsal 55 perkenan diberikan. >
Djika perkenan tidak diberikan, alasan penolakan diberitahu- kan pada pemohon, sebagai petundjuk, ketjuali dianggap tidak p a da tempatnja.
Perkenan dapat, djika ada alasannja, digantungkan pada sjarat, bahwa perseroan se-waktu- dapat dipetjahkan, djika Gupernur Djen- deral memandang perlu untuk kepentingan umum.
Djika perkenan diberikan dengan tidak bersjarat, perseroan tidak dapat dipetjahkan oleh kekuasaan pemerintah, sebelum’ hoog gerechtshof didengar pendapatnja dan menerangkan bahwa para pengurusnja tidak memenuhi ketentuan2 dan sjarat2 jang terdapat dalam akta perseroan (AB. 23; B.W. 1335 1653- K 45 50 '
T. X X -105). ’ ’ ‘ ’ ’
38. Fatsal 38. Akta perseroan harus dibuat setjara authentik ka-lau tidak batal. (K. 22, dst., 42, 48 dst., 52 dst., 56, 58; Tjatatan 1, 20 dst., 27; Tjat. Hon. X ). J
(Dirob : S. 23-548, 594; 37-572). Para pesero wad jib mendaf- tarkan akta, dengan lengkap, dan surat perkenan jang sudah didapat, didaftar umum jang sudah ditentukan untuk itu di kepaniteraan Raad van Justitie jang didaerah hukumnja perseroan berada, dan mengumumkan dalam Lembaran Negara. (Ov. 82, 105- K 23* S 46-35
fatsal 5). ‘
Semua jang disebut diatas berlaku terhadap perubahan2, atau perpandjangan djangka waktu perseroan.
Peraturan fatsal 25 djuga berlaku terhadap hal ini. (Co. 40, 45 dst.; T. X X -1 0 9 ).
39. Fatsal 39. Selama belum ada pendaftaran dan pengumuman seperti jang diwadjibkan dalam fatsal .diatas, para pengurusnja, dalam perbuatannja bertanggung djawab setjara perorangan un tuk semuanja, .terhadap pihak ketiga. (K. 45, 47).
40. Fatsal Jfi. Modal perseroan dibagi dalam sero, bernama atau tanpa nama.
Para pesero atau pemegang sero bertanggung djawab hanja sampai pada djumlah uang jang dimasukkan sesuai dengan bunji seronja (K. 42, 47, 50 dst.; Co. 33 dst.).
41. Fatsal 1^1. Tidak boleh dikeluarkan sero tanpa nama, selama djumlah uang seluruhnja jang disebutkan didalamnja belum dima sukkan dalam kas perseroan (B.W. 1977; K. 43; Rv. 6-7°).
42. Fatsal ]$. Dalam akta ditentukan bagaimana tjara memin- dahkan sèro2 bernama; dapat dilakukan dengan keterangan dari pe sero dan penerima dengan diketahui oleh pengurus, atau dengan ditulis dalam pembukuan pesero dengan keterangan jang sama. dan ditanda tangani oleh atau atas nama dua belah pihak. (B.W. 613 dst., 1977; Co. 35 dst.).
43. Fatsal Jf3. Djika djumlah seluruhnja dari sero sematjam itu tidak dimasukkan, pesero jang memindkhkan, atau warisnja atau pemegang haknja, terikat pada perseroan untuk memasukkan
keku-rangannja, ketjuali pengurus dan para komisaris djika ada, dengan tegas menjatakan menjetudjui penerima jang baru, dan membebas- kan tanggung djawab pesero jang memindahkan ’ (B.W. 833, 955, 14171K. 41).
44. Fatsal 44- Perseroan diurus oleh pengurus dan peserta, atau orang lain, jang diangkat oleh para pesero, dengan mendapat upah atau tidak, dengan diawasi atau tidak oleh komisaris.
Pengurus tidak boleh diangkat dengan tidak dapat ditarik kem- bali. (B.W. 1636, 1814 dst.; K. 17, 38, 52, 54 dst.; Co. 31).
45. Fatsal 45. Pengurus hanja bertanggung djawab atas kuasa jang diberikan jang harus didjalankan dengan baik; mereka tidak terikat pada pihak ketiga mengenai perikatan jang diadakan untuk kepentingan perseroan.
Tapi djika mereka melanggar salah satu ketentuan dalam akta atau perubahan2 jang diadakan kemudian tentang sjarat2, mereka terhadap pihak ketiga bertanggrmg djawa.b setjara perorangan untuk semuanja mengenai kerugian, jang diderita oleh pihak ketiga (B.W. 1800 dst.; K. 39, 47, 55; Co. 32).
46. Fatsal 46. Perseroan terbatas harus didirikan untuk djangka waktu tertentu dan dapat diperpandjang, djika perlu, sesudah djang ka waktu tersebut berachir. (B.W. 1646-1; K. 38).
47. Fatsal 47. Segera pengurus tahu, bahwa modal bersama men- derita rugi sampai 50%, mereka wadjib mengumumkan hal ltu da lam daftar di kepaniteraarf Raad van Justitie dan dalam Lembaran
Negara. (S. 46-135. fatsal 5).
Djika ruginja meningkat sampai 75%, perseroan dengan sendi- rinja petjah, dan pengurus setjara perorangan untuk semuanja ber tanggung djawab ber-sama2 kepada pihak ketiga mengenai semua ikatan, djika mereka sesudah mereka tahu atau seharusnja tahu, adanja kemunduran diatas, masih mengadakan persetudjuan. (K. od, 45, 48).
48. Fatsal 48. Untuk menghindarkan pemetjahan, seperti diterang- kan diatas, dalam akta dapat ditjantumkan ketentuan tentang a a- nja kas-persediaan, untuk dapat mengisi kekurangan uang sebagian atau seluruhnja. (K. 49).
49. Fatsal 49. Dalam akta tidak boleh diperdjandjikan bunga pasti. Pembagian keuntungan dilaksanakan dari penghasilan sesu dah dikurangi dengan semua pengeluaran.
Tapi dapat diadakan persetudjuan, bahwa pembagian keuntung an tidak boleh melebihi djumlah tertentu. (K. 48, 55).
50. Fatsal 50. (Dirob : S. 37-572; 38-161). Persetudjuan menurut fatsal 36 tidak diberikan, ketjuali ternjata bahwa pesero pendiri
ber-sama2 memasukkan sedikitnja 1/ 5 modal bersama; selandjutnja di- tentukan suatu djangka waktu, dimana kekurangan pemasukan uang sero harus sudah selesai. Djangka waktu tersebut dapat di- perpandjang oleh Gupernur Djenderal atau oleh pegawai jang di- tundjuk olehnja menurut fatsal 36 atas permohonan para pesero pendiri (K. 36 dst.).
51. Fatsal 51. Perseroan belum boleh mulai berusaha sebelum se dikitnja 10% dari modal bersama perseroan dimasukkan (K. 41,50). 52. Fatsal 52. Djika pekerdjaan para komisaris ditentukan hanja untuk mengawasi pengurus, dan dengan demikian, sama sekali ti dak turut tjampur dalam pengurus, dalam akta mereka dapat diberi kuasa memeriksa tagihan2 dan pertanggungan djawab pengurus, atas nama para pesero dan mengesjahkannja.
Djika keadaan sebaliknja pemeriksaan dan pengesjahan harus dilakukan oleh para pesero, atau oleh orang2 jang ditundjuk dalam akta. (K. 43 dst., 54 dst.).
j 53. Fatsal 53. Dalam perseroan pertanggungan mengenai barang2
j tertentu, dalam akta harus ditentukan suatu maksimum, dan tidak I boleh menanggung dengan djumlah diatasnja pada barang itu, ke-' tjuali djika para pesero, dengan perdjandjian chusus, sudah menje : rahkan pada putusan pengurus, dengan para’ komisaris atau tidak. , (K. 246 dst. 253).
54. Fatsal 51f. Dalam akta harus ditentukan bagaimana hak suara dari para pesero harus dilakukan. Tapi dengan ketentuan bahwa tiap orang tidak boleh mempunjai suara lebih dari 6, djika perse roan terdiri dari 100 sero atau lebih; dan tidak lebih dari 3 suara
j djika kurang dari 100 sero. .
Tidak seorang pengurus atau komisaris dibolehkan bertindak sebagai kuasa dalam pemungutan suara. (K. 44 dst.).
i
55. Fatsal 55. Pengurus wadjib setahun sekali memberi laporan I tentang untung dan rugi pada para pesero, jang didapat atau
di-derita oleh perseroan dalam tahun jang lalu.
Laporan dapat diberikan, baik dalam rapat umum, maupun de- ngan dikirim daftar pada tiap pesero, atau dengan menjediakan perhitungan jang diberi .tahukan pada para pesero untuk dilihat, selama djangka waktu tertentu menurut ketentuan dalam akta.
(K. 52; Rv. 764 dst.).
56. lama. Fatsal 56. Perseroan jang petjah dibereskan oleh pe- ngurus, ketjuali dalam akta ditentukan setjara lain. (K. 32 dst.; Rv. 99; S. 39-571, pemberesan Badan Hukum Indonesia oleh Peng- adilan hal. 609 Engelbrecht 1954).
Bagian keempat : tentang usaha dengan pembiajaan bersaina hapus menurut S. 38-276.
Fatsal2 jang dihapus berbunji :
Fatsal 57 : Ketjuali tiga matjam perseroan disebut diatas, un dang2 djuga mengakui usaha dengan pembiajaan bersama.
Fatsal 58 : Usaha2 ini bersangkutan dengan satu atau beberapa perusahaan dagang jang chusus atau tertentu; usaha .tersebut ter- djadi mengenai barang2, dan dengan sjarat2, sesuai dengan p e r s e t u djuan antara para peserta.
Tidak diharuskan adanja akta tertulis, dan tidak terikat oleh tjara2 dan peraturan2 mengenai perseroan.
Terhadap pihak ketiga tidak memberikan hak menagih, hanja terhadap seorang peserta jang berhubungan langsung dengan pihak ketiga.
BAB EMPAT.
BURSA PERNIAGAAN, M AKELAR DAN KASIR BAGIAN KESATU.
BURSA PERNIAGAAN.
59. Fatsal 59. Bursa perniagaan ialah berkumpulnja para peniaga, djuragan kapal, makelar, kasir dan lain2 orang jang berhubungan dengan perniagaan. Diadakan atas kekuasaan Gupernur Djenderal.
(B.W. 1X56; K. 61; Rv. 595-3°; Co. 71; T. XX-181).
60. Fatsal 60. Dari perbuatan2 dan kata sepakat, jang diadakan dalam bursa, disusun penentuan kurs wisel, harga2 k e s a u d a g a r a n , pertanggungan, biaja angkutan dilaut, biaja angkutan diperairan dan daratan, obligasi luar dan dalam negeri, dana2 dan lain2 surat berharga jang dapat dipakai untuk penentuan kurs.
Kurs atau harga bermatjam-matjam ini disusun menurut pera turan atau kebiasaan setempat. (B.W. 389, 398, 1077, 1155, 1427; K. 151-3°; 262, 621 dst.; Co. 72 dst.).
61. Fatsal 61. Djam pembukaan dan penutupan bursa, dan semua hal jang bersangkutan dengan ketertiban dalam bursa, diatur d e ngan peraturan chusus oleh Gupernur Djenderal (T. XX-183).
BAGIAN KEDUA. MAKELAR (Bb. 4449).
62. lama. F-atsal 62. (Dirob : S. 06-335; 38-276). Makelar ada- lah seorang perantara dalam perdagangan jang diangkat oleh Gu- pemur Djenderal atau oleh pegawai jang dinjatakan wenang olehnja
Untuk itu. Usahanja berupa pekerdjaan, seperti dimaksud dalam fatsal 64, dengan mendapat upah atau provisi, atas perintah dan atas nama orang2, jang tidak mempunjai hubungan tetap dengannja (Dg. S. 1906-479 Kepala Pemerintah Daerah dinjatakan wenang niengangkat makelar Lihat tentang pelaksanaan wewenang ini S. 25-434, 28-243, 38-373 hal. 80-84 Engelbrecht 1954).
Sebelum dibolehkan melakukan pekerdjaannja, harus bersum- Pah di Raad van Justitie jang daerah hukumnja menguasainja, bahwa ia akan mendjalankan kewadjibannja dengan djudjur. (B.W. 1078; K. 59, 71 dst., 681; S. 20-69 hal. 179 Engelbrecht 1954).
63. lama. Fatsal 63. Perbuatan seorang perantara dalam perda- gangan jang tidak diangkat sematjam itu, hanja berakibat, seperti jang timbul dari persetudjuan penguasaan (B.W. 389, 1155, 1792 dst.; K. 67 dst.).
64. lama. Fatsal 6Jf. Pekerdjaan makelar terdiri dari, untuk ke-pentingan penjuruhnja, beli dan djual barang dan kesaudagaran, kapal, dana2 umum dan lain surat2 berharga dan obligasi2, surat2 Wisel, surat2 perintah membajar dan lain2 surat dagang, menjerah- kan discompto, pertanggungan, persetudjuan hutang, uang oleh naehoda dan pemuatan kapal, uang penggadaian, atau hal2 lain jang sematjam. (B.W. 1078- K. 62 681 dst.; Co. 76 dst.; Zeg. 109
dst.). ’ , .
65. lama. Fatsal 65. Pengangkatan makelar setjara umum, ialah untuk semua lapangan usaha, atau dalam akta pengangkatannja dinjatakan dalam suatu lapangan atau beberapa lapangan tertentu ia boleh berusaha.
Dalam lapangannja atau beberapa lapangan usahanja jang ia makelari ia tidak boleh berdagang atas biaja sendiri, baik oleh diri sendiri, maupun dengan perantaraan orang lain atau ber-sama2 de ngan orang lain, atau dengan komisi, atau mendjadi penanggung dalam perbuatan2 jang ia adakan sebagai perantara. (K. 62, 64, 71 dst.; B.W. 1468 dst.; Co. 81, 85).
66.- lama. Fatsal 66. Makelar wadjib, segera sesudah mengadakan
tiap tindakan, mentjatat dalam buku sakunja, dan selandjutnja setiap hari menjalinnja dalam buku hariannja, dengan tidak boleh mengo- songkan halaman2, membuat tulisan2 tambahan diantara garis2, tja tatan2 dipinggir, dengan menjebutkan nama pihak2 dengan djelas, tanggal pembuatan dan penjerahan, keadaan, djumlah dan harga ba rang, dan semua sjarat mengenai tindakan jang diadakan. (K. 6 ; Co. 84).
67. lama. Fatsal 67. Makelar wadjib se-waktu2 memberikan tu- runan dari bukunja pada pihak2, dan segera djika mereka menghen- dakinja, berisi tjatatan tentang perbuatan jang ia lakukan. (K. 12; Zeg. 109 dst.).
Hakim dimuka sidang dapat memerintahkan pada makelar mexn- buka bukunja, untuk mentjotjokkan turunan dengan tjatatan aseli- nja, dan tentang hal itu hakim dapat minta keterangannja (B.W- 1905).
68. lama. Fatsal 68. Djika perbuatannja tidak dipungkiri selu
ruhnja, tjatatan2 jang olehnja dipindahkan dari buku saku ke-buku hariannja, merupakan bukti antara pihak2, mengenai waktu dila- kukan tindakan dan penjerahan, keadaan dan djumlah barang, har- ganja dan sjarat2nja (K. 66; Co. 109).
69. Fatsal 69. Makelar harus, djika pihak2 tidak membebaskan dari itu, dari tiap djumlah barang jang didjual dengan tjontoh, de ngan perantaraannja, menjimpang tjontohnja sampai saat selesai- nja penjerahan, dengan memberi tanda2 jang djelas untuk dapa. mengenalnja kembali.
70. Fatsal 70. Makelar, jang mengadakan djual beli surat wisel atau surat2 berharga sematjam itu jang dapat diper.dagangkan, me njerahkannja pada pembeli, bertanggung akan aselinja tanda tangan
dari pendjual (K. 65, 100, 110-113, 178, 187, 506 dst.).
71. lama. Fatsal 71. Makelar, jang melanggar sesuatu, jang da lam bagian ini ditentukan baginja, oleh penguasa jang mengang katnja, menurut keadaan, dapat diberhentikan un. uk semen waktu dari djabatannja, atau dinjatakan ditjabut dengan i mengurangi dikenakannja pidana tertentu, penggantian biaja, t
rugian dan bunga, jang mengikatnja s e b a g a i penenma uasa. ( • -1801, 1803; K. 62, 65 dst., 69; Co. 87; T. XX-183).
72. lama. Fatsal 72. Djika makelar djatuh pailit diberhentikan untuk sementara waktu dari djabatannja, dan selandjutnja oleti
hakim dapat dinjatakan ditjabut.
Djika melanggar larangan,_ tertjantmn dalam fatsal 65 ajat 2 , makelar jang pailit dipetjat dari djabatannja. ( • > , o.
73. lama. Fatsal 73. Makelar jang dinjatakan ditjabut djabatan nja, tidak dapat diangkat kembali. (K. 71 dst., Co. 88).
BAGIAN K E TIG A
K A S I R .
74- fatsal 7Jf. Kasir adalah orang jang dengan mendapat upah. atau provisi, menjimpan atau membajarkan uang orang lain. (t>-vv. 1694 dst., 1792 dst., 1812; K. 6 dst., 59).
75. Fatsal ^ 75. Kasir, jang tidak dapat membajar atau pailit,
dianggap djatuh dalam usahanja disebabkan karena salahnia sen-
diri (B.W. 1916). J B A B L IM A K O M IS IO N E R , E K S P E D IT U R , P E N G A N G K U T D A N D J U R A G A N KAPAXi, B E R L A J A R D I-S U N G A I2 D A N P E R A I R A N P E D A L A M A N BAGIAJV K E SA T U K O M I S I O N A I R
76. Fatsal 76. (Dirob : S. 38-276). Komisionair, s ialah jang ber- usaha dengan mengadakan persetudjuan atas namanja sendiri atau firma, dan mendapat upah atau provisi, atas perintah dan atas biaja orang lain. (B.W. 1792 dst.; K. 6 dst., 62, 79, 85a; Co. 91). (Pembukaan dan penutup fatsal^ 76 berbunji : „Komisionair ialah seorang, jang atas namanja ..! ... dst... melakukan
perniagaan). •
77. Fatsal 77. Komisionair, kepada orang, jang ia hubungi dalam perdagangan, tidak perlu memberitahukan orangnja, jang membia- jai dan dilakukan pekerdjaannja.
. Ia, seperti berusaha sendiri, langsung terikat oleh pihak jang mengadakan persetudjuan dengannja. (B.W. 1802; K 78 85a 240,
262). ’ ’
78. Fatsal 78. Penjuruh tidak berhak menagih orang, jang ber-dagang dengan komisionair, dan sebaliknja pihak ja n g ' berber-dagang dengan komisionair, djuga tidak dapat menuntut peniuruh. (B.W.
1799). J
Dg. S. 75-256 fatsal 79-85 diganti dengan fatsal2 berikut : 79. Fatsal 79. Tapi djika komisionair berdagang atas nama pem- beri kuasa, hak dan kewadjibannja, djuga terhadap ipihak ketiga, diatur menurut B.W. dalam bab pemberian kuasa.
Ia tidak punja hak utama seperti jang diatur dalam fatsal2 berikut. (B.W. 1792 dst., 1812; K. 80 dst.; Co. 92).
80. Fatsal 80. Komisionair jang punja tagihan pada penjuruhnja mengenai uang jang sudah dibajarkan lebih dahulu, bunga, biaja dan provisi, dan mengenai perikatan jang masih berlaku, mempu- njai hak utama terhadap barang2 dari penjuruhnja jang ia terima untuk didjual atau disimpan menunggu perintah lebih djauh, atau jang ia beli dan terima bagi penjuruhnja, selama barang2 masih dalam kekuasaannja.
Hak utama ini didahulukan dari pada hak2 lain, ketjuali ja n g tertjantum dalam fatsal 1139, le dari B.W. (B.W. 1134, 1139-4 > 5e dan 7e; K. 81 dst., 85, 85a; Oogstv. fatsal 13; Co. 93; 9 5 ; T. XX-184).
81. Fatsal 81. Djika barang2 termaksud dalam fatsal 80, sudah terdjual dan diserahkan untuk penjuruh, komisionair membajarkan pada dirinja dari hasil pendjualan, djumlah penagihannja, jang dapat sebagai hak utama berdasarkan fatsal tersebut. (B.W. I 4^ö dst.; K. 85a; Co. 94).
82. Fatsal 82. Djika penjuruh mengirim barang pada k o m i s i o n a i r dengan kuasa untuk menjimpannja sambil menunggu putusan atau membatasi wewenangnja untuk mendjual, atau pemberian kua^a untuk mendjual dibatalkan, dan penjuruh tidak memenuhi tagn a dari komisionair, jang ia berhak dari padanja, dan k o m i s i o n a i r jang menurut fatsal 80 mempunjai hak utama, dapat memadju a surat permohonan pada Raad van Justitie didaerahnja dengan nundjukkan surat2 bukti, untuk diizinkan mendjual barang , bagian atau semuanja dengan tjara2 jang ditentukan dalam surat putusan. (B.W. 1813; K. 80 dst. 85a).
Komisionair wadjib memberi tahu pada penjuruhnja, baik te - tang permintaan izin, djuga pendjualan j ar^g di a u an er a izin jang didapatnja, paling lambat pada h a r i beri u nJa,
harinja ada hubungan pos atau surat kawat, atau ji a a v aw a t pos jang berangkat paling awal. Pekabaran dengan utama atau dengan surat tertjatat merupakan pemberi tahuan jang utam a.
(B.W. 1366 dst.).
8 3 . Fatsal 83. Komisionair, jang membeli barang d a n m e n e r i m a untuk penjuruhnja, dapat djika penjuruh tidak memenuhi ta „ih a n dari komisionair, jang ia berhak dan padanja, dan oleh f a t s a l 8 0
diberi hak utama, oleh Raad van Justitie ditempat tmggalnja dibei_i penguasaan untuk mendjualnja barang2 tersebut, dengan tjara seperti jang ditentukan dalam fatsal diatas. . . . ^ ,
A jat terachir fatsal 82 berlaku mengenai hal mi. (K. 81, 8oa) -8 4 . Fatsal U (Dirob : S. 0 6 - 3 4 8 ) Djika penjuruh djatuh pailit, peraturan dalam f a t s a l 5 6 , 5 7 d^n 5 8 dari peraturan pailit mengenai pemegang gadai atau pemberi hutang, berlaku terhadap komisionair
dan'penjuruh. , , • , i . Penundaan pembajaran oleh penjuruh karena putusan hakim tidak m e n g h a la n g i penjuruh menggunakan wewenang j ang diberi kan oleh fatsal 81; 82 <Jan 83,
S3. FaUül P e m b e r ia n wewenang oleh fatsal 81, 82 dan 83 ,
t & k ttienghalangi hak penahanan dari komisionair jang dimi ïk i
85a. Fatsal 85a. (Dimasukkan dengan S. 38-276). D jika seorang, dengan tidak se-mata2 berusaha, mengadakan persetudjuan atas nama sendiri atau firma dengan mendapat upah atau provisi, atas perintah dan biaja orang lain, dikuasai djuga oleh fatsal 77, 78, 80 sampai dengan 85, 240 dan 241. (K. 6 dst. 76; B.W. 1792, 1794).
B A G IA N KEDU A.
E K S P E D I T U R
86. Fatsal 86. Ekspeditur ialah orang, jang menjelenggarakan
pengiriman kesaudagaran dan barang2 lain didaratan atau diperairan. Ia wadjib mentjatat dalam daftar hariannja terpisah satu sama lain sifat dan djumlah barang atau kesaudagaran jang dikirimkan, djuga, djika diminta, nilainja. (B.W. 1139-7e, 1147, 1792 dst. 1812; K. 6 dst. 76, 90, 95; Co. 96; Bb. 3226).
87. Fatsal 87. Ia bertanggung djawab mengirimkan dengan se- baik2nja dan se-tjepat2nja kesaudagaran dan barang jang diterima- nja untuk dikirimkan, dengan memperhatikan alat2 pengangkut jang aman jang ada, untuk dapat melaksanakan pengiriman dengan sem- purna. (B.W. 1244, 1367, 1800 dst.; K. 8 8 ; Co. 97).
88. Fatsal 88. Ia djuga bertanggung djawab sesudah dikirim atas
kerusakan atau kehilangan kesaudagaran dan barang2, jang ter- djadi karena kesalahannja atau tidak hati2nja. (K. 91 dst.; Co. 98). 89. Fatsal 89. Ia djuga bertanggung djawab atas para ekspeditur perantara jang ia gunakan. (B.W. 1803; Co. 99).
90. Fatsal 90. Surat angkutan muat persetudjuan antara pe- ngirim atau ekspeditur dengan pengangkut atau djuragan kapal, dan muat, ketjuali apa jang mendjadi persetudjuan antara pihak2, djuga djangka waktu jang mendjadi batas selesainja pengiriman, dan pembajaran kerugian djika terlambat, dan djuga :
le. nama dan berat atau ukuran barang jang diangkut, djuga merk dan djumlahnja;
2e. nama dari orang jang dikirimi barang;
3e. nama dan tempat tinggal pengangkut atau djuragan kapal; 4e. djumlah upah angkutan;
5e. hari dan .tanggal;
6e. tanda tangan dari pengirim atau ekspeditur.
Surat angkutan harus ditulis oleh ekspeditur dalam daftar hariannja. (K. 86, 454 dst. 506; Co. 101 dst.).
BAGIAN KETIGA
PENGANGKUT DAN DJURAGAN KAP AL, B E R LA JA R D l SUNGAI2 DAN PERAIRAN PEDALAM AN.
91. Fatsal 91. Pengangkut dan djuragan kapal bertanggung d ja wab atas kerusakan jang menimpa kesaudagaran dan barang j aI1^ diangkutnja, ketjuali disebabkan karena barangnja sendiri sudan tjatjad, atau karena adipaksa atau karena keadaan jang tidak dapa dihindari, atau karena kesalahan atau kurang hati2 pengirim atau ekspeditur. (B.W. 1139-7e, 1147, 1246, 1367, 1617, K. 87 dst., 93, » 98, 342 dst., 533, 693; Co. 103; Bb. 755, 2521).
92 Fatsal 92. Pengangkut atau djuragan kapal tidak bertang
gung djawab atas kelambatan, .djika disebabkan karena dipaksa- (B.W. 1245; K. 87; Co. 104).
93. Fatsal 93. Djika kesaudagaran atau barang jang diangkut su dah diantarkan dan diterima, dan upah angkutan sudah dibaja*% semua penagihan karena kerusakan atau kelturangan terhadap
angkut atau djuragan kapal batal, djika tjatjadnja barang ter i a ^ Kerusakan atau kekurangan jang tidak terlihat dari luar, dapat dimintakan pemeriksaan pada hakim sesudah barang diterima, ngan tidak mengingat apakah upah angkutan sudah dipenuhi atau
tidak, asalkan pemeriksaan diminta dalam djanö
a^oon-djam sesudah diterima, dan ternjata barang- masi sama te nja. (K. 485 dst., 746, 753; Co. 105).
94. Fatsal 91h (Dirob : S. 25-497). Djika kesaudagaran atau b a
rang ditolak penerimaannja, atau timbul persi > hakim van Justitie, atau djika tempat itu bukan kedu _ ' . -irpt)ai a
Keresidenan atau djika ^ “ ^Vada berhalangan _ -M adura s r aS d » i i a
jang dimadjukan, dimana pihak lam, djika ia mpmerik-didengar keterangannja, mendatangkan -j barang2 <ü
sania dan <?plrnli p*us m.em.erintahkan. untuk menjimpan Darang ^
tempat pen^mpan^i^jang baik untuk
upah angkutan dan biaja pada pengangkut 2 &
Raad van Justitie, atau hakim keresidenan atau ke;pala pe:me- rintah setempat wenang, dengan tjara 3ang sama seperti ditentukan diatas memberi nengniasaan untuk melelangkan baranga -jang aapat m e S j-a ïïte s u " I & a g i a n d a r i barangnja untuk membaaar upah angkutan dan lain biaja. (K. 81, 493 dst.; Co. 10b, Bb. 379, l . XX-185).
95. Fatsal 95. Semua penagihan hak terhadap ekspeditur P ^ g - angkut atau djuragan kapal, karena semua barang hilang, terlambat
Dengan undang2 25 April 1935 (Ned. S. No. 224), persetudjuan tersebut dinjatakan berlaku untuk Indonesia, Suriname dan Cura cao dan mulai berlaku untuk Indonesia dan Curasao 14 Oktober 1935 : lihat K.B. 14 September 1935. (N.S. 579) dalam S. tersebu n diatas.
B. CHEQUE. .
Dengan S 1935-561 diumumkan persetudjuan2 jang d ia d a k a n
di Genève pada 19 Maret 1931 dengan protokol2 jang bersangkutan . Ie. mengadakan undang2 jang sama mengenai cheque,
2e. pengaturan tentang pertentangan undang2 jang cheque;
3e. tentang peraturan bea-meterai mengenai cheque,
Dengan undang2 2 Agustus 1935 (Ned. S. No. 490) Pel^® djuan2 ini dinjatakfn berlaku untuk Indonesia Suriname dan Cura^ cao, dan pada 29 Desember 1935 mulai berlaku di Indones ^ Curacao; lihat K.B. 21 Oktober 1935 (N. S. 617) dalam S. t
d la tMenumt daftar dalam S. 37-496 jis 39-37 4 3 5 turut .erta dalam persetudjuan2 tersebut diatas negara2 seperti disebut dibawah m
mengenai
A, (le dan 2e) Belgia, Danzig, Denemarken • Djerman, Finlandia, Perantjis, Junani, Italia, Djepang, Monaco, Nederland dengan Indonesia, Suriname dan Curasao Norwegia, Austria, Polandia, Portugal (tidak dengan koloninja) Rusia Soviet, Swedia, Swiss. A, 3e
Negara2 seperti disebut dalam le dan 2e, d ngan pengetjualian Junani; dan djuga Britama- Raya dan Irlandia-Utara dengan daerah b ^ ikut : Australia, Bahamas, Barbados,
Betchuana, Kepulauan Bermuda, Kepulauan -atas Angin, Guyana-Inggris, H o n d u r a s -In „r «, qailan Cyprus, Kepulauan Falklandia, Kepu
Ï Ï T w J f c Gam bie, D ja b a tta n k Kepulauan
Gilbert dan Ellis, Pantai Emas Kenya Kera d jaan2 Malaya jang berfederasi dan tidak, M al ta, Mauritius, Irian daerah mandaat, Nauru, Newfoundland, Hebriden Baru, Rhodesia a^a ’ Kepulauan Norfolk, Nyasalandia, Uganda, Israel, Papua, Kepulauan Salomon, Seychellen Sierra Leone, St. Helena dan Ascension, Straits Settlement, Swazilandia, Tanganyika, Tonga, Transjordania, Trinidad dan Tobago, Irian ia Merdeka, Zanzibar.
Danzig, Negara- seperti disebut dalam l e dan 2e, dan Diermlm ^ djuga Britania-Raya dan Irlandia Utara de-Finlandia, ngan daerah2 berikut : Australia, Bahamas, Perantjis, Barbados, Basuto, Betchuana, Kepulauan Ber-Junani, muda, Kepulauan Diatas Angin, Guyana-Ing-Italia, gris, Honduras-Inggris, Sailan, Cyprus, Kepu-Djepang, lauan Falklandia, Kepulauan Fidji, Gambie, Nederland dengan Kepulauan Gilbert, dan Ellis, Pan-Indonesia, Emas, Kenya, Keradjaan2 Malaya jang ber-Suriname dan federasi dan tidak, Malta, Mauritius, Irian dae-Curacao, rah mandaat, Nauru, Hebriden Baru, Rhodesia-Nicaracua, Utara, Kepulauan Norfolk, Nyasalandia, Ugan-Norwegia, da, Israel, Papua, Kepulauan Salomon, Sey-p ° /-4.-J i j chellen, Sierra Leone, St. Helena dan Ascension,
Portugal (tidak de- •, c . ’ ngan koloni) Strait Settlements, Swazilandia, Tanganyika, Swedia, ’ Tonga, Transjordania, Trinidad, dan Tobago, Swiss. Irlandia Merdeka, Zanzibar.
Untuk menjesuaikan peraturan tentang surat2 wisel dan surat2 order sedapat mungkin disesuaikan dengan peraturan2 dari undang2 I Nederland 25 Djuli 1932, S. 32-405 bab VI dengan S. 34-562. jo. j 35-531, mulai berlaku 1 Januari 1936, diganti dengan bab baru
i jang berikut, dengan menghilangkan fatsal 99. I
I
i BAB ENAM
I
I SURAT W ISEL DAN SURAT PETUNDJUK.
! ' BAGIAN KESATU
I *
PENERBITAN D AN BENTUK SURAT WISEL 100. Fatsal 100. Isi sura,t wisel : (K. 174, 178).
le. nama „surat wjsel” , ditulis didalamnja dalam bahasa dari ne gara surat wisel tersebut dibuat. (AB. 18).
2e. perintah pembajaran sedjumlah uangAdengan tidak bersjarat. (K. 104 dst.). " -»*■ *
3e. nama orang jang harus membajar (tertarik). (K. 102)^ «W»ws»t4- , 4e. penentuan tanggal habisnja djangka waktu. (K. 101, 132 dst.)vr~'**~i>1'' 5e. tempat dimana pembajaran harus dilakukan; (K. 101, 103, 126).
6e. nama seorang, kepada siapa atau kepada siapa atas petundjuk- nja harus dibajar; (K. 102, 109a).
te. penjebutan tanggal, djuga tempat, dimana surat wisel diterbit-
kan. (K. 101).
8e. tanda tangan dari orang, jang menerbitkan surat wisel (pena- rik). (K. 106 dst.). *
i 101. Djika salah satu bab, jang ditentukan dalam
fatsal diatas, tidak ditjantumkan, tidak berlaku sebagai surat wisel, ketjuali dalam keadaan disebut dibawah : (K. 175 179)
Surat wisel, jang tidak menjebut tanggal berachimja djangka waktu, dipandang sebagai dapat dibajar pada saat diperlihatkan.
, , ^ a j ditjantumkan suatu tempat tertentu, tempat jang er pat pada nama tertarik, dipandang sebagai tempat pembajaran
djuga sebagai tempat kedudukan dari tertarik
' i Surat wisel, jang tidak menjebut tempat, dimana wisel diterbit- dst1’ 1921)1 a ,tangani di tempat penarik. (B.W. 1915
iarik FatSal 102' SUrat WiSel dapat menJ'ebut atas petundjuk pc
i - Dapat ditarik terhadap penarik sendiri
Dapat ditarik atas biaja pihak ketiga.'
rlnH Pc^fraiflk diaf gg4ap mf narik surat wisel atas biaja sendiri, djika
w a^ 0Jan surat nasehat tidak temjata, ditarik atas biaja siapa. (K. 183; B.W. 1915 dst> 1921).
^ - 102^ Fatsal 102a Djika penarik di surat wisel mentjantumkan sebutan ^ di™nta” , „memberi kuasa” , atau penerima danaT^ ^ 8^ ^ 3'1'^3'11 timbulnja perintah minta uang, wispl gpnakan semua hak jang terbit dari surat kuasa nja dapat mengendosir dengan djalan pemberian +prfnwngenf i, SUrat Wisel ]ang demikian para jang berhutang jang S S ? SUrat W1Sel terhadap pemegang surat wisel hanja dapat madjukan upaja2 tangkisan, seperti jang dapat ditangkiskan terhadap penarik. ö ^
P^intah, jang tertjantum dalam surat wisel untuk diminta, tidak berachir dengan matinja atau mendjadi tidak mampunja sipemberi kuasa dikemudian hari. (K. 100,117; B.W. 1792 dst., 1813). 103. Fatsal 103. Surat wisel dapat dibajar ditempat tinggal pihak keüga, baik di tempat kedudukan tertarik, maupun di lain tempat.
(K. 100-5°, 126, 185; B.W. 17 dst., 24). .
104 Fatsal 10lf. Dalam surat wisel, jang dapat dibajar pada w a k -
tu diperlihatkan atau beberapa lama sesudah diperlihatkan, penarik dapat naenentukan, bahwa djumlah tersebut berbunga. Dalam tiap surat2 wisel lainnja clausula ini dianggap tidak ditulis. (B.W 1765;
1 Besarnja bunga harus disebutkan dalam surat wisel. Djika hal tersebut tidak ada clausula tentang bunga dianggap .tidak ditulis.
(B.W.176Z dst.).
Bunga dihitung mulai dari tanggal surat wisel, ketjuali diten tukan hari lain.
105. Fatsal 105. Surat wisel, jang mentjantumkan djumlah dengan angka dan huruf, djika terdapat selisih, berlaku djumlah jang ditulis dengan huruf.
Surat wisel, jang djumlahnja beberapa kali ditulis, baik dengan angka, maupun dengan huruf, djika ada selisih, jang berlaku hanja djumlah jang terketjil. (B.W. 1878 dst.; K. 186).
106. Fatsal 106. Djika- dalam surat wisel terdapat tanda tangan orang2, jang tidak mampu mengadakan ikatan dengan surat wisel, tanda tangan palsu, atau tanda tangan dari orang2 jang sebetulnja tidak ada, atau tanda tangan, jang bagaimana djuga alasannja, tidak dapat mengikat orang jang menanda tangani atau jang tanda tangan- nja dituliskan disitu, perikatan terhadap orang2 lain jang tanda tangannja terdapat dalam surat wisel, biarpun demikian berlaku.
(B.W. 108, 113, 1446, 1872, 1876 dst.; K. 70, 187; S.W. 264).
107. Fatsal 107. Seorang, jang bertanda tangan disurat wisel sebagai wakil orang lain, untuk mana ia sebenamja tidak wenang, terikat sendiri oleh surat wisel, dan sesudah membajar, mempunjai hak2 sama, seperti hak2 jang semestinja didapat oleh orang jang dinjatakan diwakili. Hal jang sama berlaku terhadap wakil, jang melampaui batas wewenangnja (B.W. 1797, 1806; K. 188).
108. Fatsal 108. Penarik bertanggung djawab atas akseptasi dan pembajaran (K. 120 dst., 137 dst., Rv. 299, 581-1 sub 1 ° ).
i Ia dapat membebaskan diri dari tanggung djawab tiap klausula,
1 jang membebaskan tanggung djawab membajar, dianggap tidak di
' tulis. (K. 121). .
I
i 109. Fatsal 109. Djika surat wisel, waktu diterbitkan tidak leng- kap, kemudian dilengkapkan tapi bertentangan dengan persetudjuan jang diadakan, tidak memenuhinja persetudjuan tidak dapat diper- tanggung djawabkan pada pemegang, ketjuali ia mendapatkannja dengan djalan tidak djudjur atau karena kesalahannja sendiri jang besar. (K. 168).
109a. Fatsal 109a. Penarik wadjib, atas pilihan penerima, me- nentukan hanja dapat dibajar pada penerima sendiri, atau pada beberapa orang lain, dalam dua hal tersebut pada tertundjuk atau dengan tidak menambah atas petundjuk tapi dengan menambahkan sebutan, seperti dimaksud dalam fatsal 110 ajat 2. (K. 102).
menjampaikan, atau kerusakan pada kesaudagaran atau barang, kedaluwarsa sesudah 1 tahun, mengenai pengiriman dalam wilajah Indonesia, dan kedaluwarsa sesudah 2 tahun, mengenai pengiriman dari Indonesia keluar negeri, dihitung, djika mengenai kehilangan, dari hari jang seharusnja sudah selesai mengenai pengangkutan kesaudagaran atau barang, dan, djika kerusakan atau terlambat menjampaikan, dari hari barang mana seharusnja sudah sampai ditempatnja.
Kedaluwarsa ini tidak berlaku djika terdjadi karena pendus- taan atau tidak taat. (B.W. 1967; K. 86 dst., 91, 93; Co. 103, 108; Bb. 937, 3148; T. XX-185).
96. Fatsal 96. Dengan tidak mengurangi peraturan chusus jang mungkin ditentukan, peraturan2 dari bagian ini djuga berlaku ter hadap pengusaha2 pengangkutan umum melalui daratan dan per- airan. Mereka wadjib mengadakan daftar barang2 jang mereka terima.
Djika barang2 berupa uang, emas, perak, berlian, mutiara, permata, perhiasan, surat2 berharga, kupon2 atau lain surat2 ber- harga sematjam itu, jang mempunjai nilai uang, pengirim wadjib memberitahukan tentang nilainja, dan ia dapat minta agar nilai2 ditjatat dalam daftar.
Djika tidak ada pemberitahuan tentang hal itu, djika hilang atau rusak, hanja dapat dimadjukan sebagai bukti nilai menurut keadaan lahir, jang dapat dilihat dari barang2 tersebut.
Djika nilainja diberitahukan, dapat dipakai semua alat2 bukti untuk pembuktian, dan hakim malahan wenang untuk mempertjajai pemberitahuan dari sipengirim, jang dikuatkan dengan sumpah, dan berdasarkan itu menentukan besarnja penggantian kerugian dan keharusan membajar (K. 86, 91 dst.; S. 1823-3 fatsal 9, 23,
Co. 107). .
97. Fatsal 97. Pelajaran berkala dan semua alat angkutan di- kuasai oleh peraturannja umum dan chusus sendiri, selama tidak bertentangan dengan peraturan dari bab ini.
98. Fatsal 98. Peraturan dalam bab ini tidak berlaku terhadap hak dan kewadjiban antara pembeli dan pendjual. (B.W. 1457 dst., 1473 dst., 1513).
A. SURAT2 WISEL DAN SURAT2 ORDER.
Dengan S. 35-480 diumumkan persetudjuan2 dengan protokol2 jang bersangkutan jang diadakan di Genève pada 7 Djuni 1930. le. mengadakan undang2 jang sama mengenai surat2 wisel dan
surat2 order;
2e. pengaturan tentang pertentangan undang2 jang mengenai surat2 wisel dan surat2 order;
3e. tentang peraturan bea-meterai mengenai surat2 wisel dan surat2 order.
109b. Fatsal 109b. Penarik, atau siapa sadja jang untuknja di- tarik surat wisel, wadjib berusaha bahwa tertarik, pada hari ber- achirnja djangka waktu, mempunjai dana jang diperlukan uiituk membajar, biarpun surat wisel diuangkan pada pihak ketiga, tapi i
dengan tjatatan, bahwa penarik sendiri bagaimanapun djuga tetap bertanggung djawab pada pemegang dan orang2 jang mengendosir lebih dahulu. (K. 102 dst., 127a, 146a).
109c. Fatsal 109c. Tertarik dianggap, mempunjai djumlah uang jang diperlukan, djika pada hari berachirnja djangka waktu surat wisel atau pada saat berdasar fatsal 142 ajat 3 pemegang dapat memadjukan tagihan tempuh, pada penarik atau pada orang jang ditarikkan, mempunjai hutang jang dapat ditagih, sedikitnja se- besar djumlah seperti tertjantum dalam surat wisel. (K. 127a, 146a).
BAGIAN KEDUA. ENDOSEMEN
110. Fatsal110. Tiap surat wisel, djuga jang tidak dengan tegas dinjatakan ada penggantinja, dapat dipindahkan densran dialan en-
dosemen. AkZ^ 0
Djika penarik dalam surat wisel mentjantumkan kata2 „tidak dengan pengganti atau kata lain jang sematjam, surat wisel ter- sebut hanja dapat dipindahkan dalam bentuk dan dengan akibat seperti dengan sea penjerahan biasa. Dan endosemen jang di tulis pada surat wisel sematjam itu hanja berlaku sebagai sesi penjerahan biasa. (B.W. 613).
Endosemen dapat ditulis, malah untuk keuntungan tertarik, baik sebaga pengaksep ataupun tidak, bagi penarik, atau bagi tiap orang lam ja.ng foerhutang pada wisel. Orang2 ini dapat mengendosir lagi surat wisel. (K. I l l dst., 119, 166). ' 1H . Fatsal 111. Endosemen harus tidak bersjarat. Tiap sjarat
jang ditjantumkan dianggap tidak ditulis. (K 114) '
Endosemen untuk sebagian batal. ‘ ‘
Endosemen untuk ditundjukkan berlaku sebagai endosemen tak bernama. (K. 112°, 1132).
112. Fatsal 112. Endosemen harus ditulis diatas surat wiselnja atau diatas kertas jang disambungkan. Harus ditanda tangani oleh endosan.
Dalam endosemen dapat tidak disebut orang jang diendosir
<3,tau hanja terdiri dari tanda tangan endosan (endosemen tak ber
nama). Dalam hal belakangan, endosemen, agar berlaku, harus di tulis dihalaman sebaliknja dari surat wisel atau diatas kertas jang disambungkan. (K. I l l 3, 1132).
113. Fatsal 113. Dengan endosemen semua hak jang terbit dari surat wisel dipindahkan (K. 114).
Djika endosemen tak bernama, pemegang dapat : (K. I lls , 1122). le. mengisi kekosongannja, baik dengan nama sendiri maupun de
ngan nama orang lain;
2e. mengendosir surat wisel setjara ,tak bernama lagi atau kepada orang lain;
3e. menjerahkan surat wisel pada pihak ketiga, dengan tidak me ngisi kekosongannja dan dengan tidak mengendosir (B.W. 612
dst.; K. 194).
114. Fatsal lik- Ketjuali diperdjandjikan sebaliknja, para endosan tanggung djawab atas pengaksepan dan pembajarannja. (Rv. 299, 581-1 sub 1°).
Ia dapat melarang endosemen baru; dalam hal demildan ia ter hadap orang, jang kemudian diendosir, dalam surat wisel, tidak ber- tanggung djawab tentang pengaksepan dan pembajarannja. (K. 111, 1131).
115. Fatsal 115. Ia, jang memegang surat wisel, dipandang se-bagai pemegang jang berhak, djika ia dapat menundjukkan haknja dengan berturutnja semua endosemen dengan tidak terputus, biar- pun endosemen terachir ditulis tak bernama. Endosemen jang di i tjoret dianggap tidak ditulis. Djika endosemen tak bemama diikuti 1 dengan endosemen lain, ipenanda tangan dari endosemen terachir
dianggap mendapat surat wisel dengan endosemen setjara tak ber- ; nama. (K. 1393).
I Djika seorang, dengan tjara bagaimana djuga, kehilangan su-1 rat wisel, pemegang, jang menundjukkan haknja dengan tjara, di ) sebutkan dalam ajat duluan, tidak wadjib menjerahkan kembali ! surat wiselnja, ketjuali ia mendapatkannja dengan tidak djudjur, ! atau karena kesalahannja jang besar. (B.W. 582, 1977; K. 167a, : 167b).
116. Fatsal 116. Mereka, jang ditagih berdasarkan surat wisel, tidak dapat mengemukakan upaja2 tangkisan terhadap pemegang,
berdasarkan hubunganrija pribadi dengan penarik atau para pe megang duluan, ketjuali djika dalam mendapatkan surat wisel ter sebut dengan sengadja berbuat untuk merugikan jang ditagih.
(K. 102a, 118). ( .
117. Fatsal 117. Djika endosemen muat kata2 „nilai untuk di-minta” , „untuk didi-minta” , „memberi kuasa” , atau lain sebutan, de ngan tugas njata2 untuk memungut uang, pemegang dapat meng- gunakan semua hak jang terbit dari surat wisel, ,tapi ia hanja dapat mengendosir dengan memberi kuasa. .
Para jang berhutang pada wisel dalam hal ini terhadap pe megang hanja dapat memadjukan upaja2 tangkisan, seperti apa jang dapat ditangkiskan terhadap endosan.
Perintah jang termuat dalam endosemen untuk minta pemba- ! jaran, tidak berachir dengan matinja atau mendjadi tidak mam- ; punja sipemberi kuasa dikemudian hari (K. 102a; B.W. 1792 dst., 1813).
118. Fatsal 118. Djika endosemen muat kata2 „nilai untuk tang- gungan” , „nilai untuk gadai” , atau kata2 lain, jang mengakibatkan adanja gadai, pemegang dapat menggunakan semua hak jang ter bit dari surat wisel, tapi endosemen jang ia tulis hanja berlaku sebagai endosemen memberi kuasa. (B. W. 1150, 1152 dst.).
Pada jang berhutang. pada wisel tidak dapat madjukan upaja tangkisan terhadap pemegang, berdasar hubungannja pribadi de ngan endosan, ketjuali pemegang menerima surat wisel dengan sengadja merugikan jang berhutang pada wisel. (K. l l o ) .
119. Fatsal 119. Endosemen, ditulis sesudah hari berachirnja djangka waktu, mempunjai akibat sama seperti endosemen, ditulis sebelum hari berachirnja djangka waktu. Tapi endosemen, ditulis sesudah protes terhadap tidak membajar atau sesudah habis djang ka waktu, jang ditentukan untuk memadjukan protes, hanja mem punjai akibat sebagai sesi biasa. (B.W. 613). _
Ketjuali ada pembuktian sebaliknja, endosemen jang tidak me- muat tanggal dianggap ditulis sebelum ^jang]ka wa t u jang
ditentukan untuk memadjukan protes. (B. W. 1915 dst.; iv.
B A G IA N K E TIG A
A K S E P T A S I
320. Fatsal 120. Surat wisel dapat sampai hari berachirnja djang ka waktu oleh pemegang atau orang, jang hanja menjimpannja, dimadjukan pada tertarik ditempat tinggalnja untuk diakseptasi
(K. 121, 124 dst.). _
121. Fatsal 121. Dalam tiap surat wisel penarik, dengan diten tukan djangka waktu atau tidak, menentukan, bahwa harus dima- dj’ukan untuk diakseptasi. . .
Ia dalam surat wisel dapat melarang dimadjukan untuk diak septasi, ketjuali dalam surat wisel, jang dapat dibajar pada pihak ketiga, atau dapat dibajar di tempat lain dari pada tempat kedu- dukan tertarik atau dapat dibajar pada waktu tertentu seaudah diperlihatkan. (K. 108, 122, 132). a- i
Ia dapat djuga menentukan, bahwa tidak boleh memadjukan untuk diakseptasi sebelum hari tertentu. (K. 1Z(C).
Ketjuali penarik m e n e r a n g k a n , bahwa surat wisel tidak dapat diakseptasi, tiap endosan dapat, dengan menetapkan atau tidak suatu djangka waktu menentukan, bahwa surat tersebut harus dimadjukan untuk diakseptasi. (K. 127b).
122. Fatsal 122. Surat wisel, jang dapat dibajar pada waktu tertentu sesudah diperlihatkan, harus dimadjukan untuk diakseptasi dalam 1 tahun sesudah ditanda tangani (K. 132 dst., 143, 152).
Penarik dapat memperpandjang atau memperpendek djangka waktu ini.
Para endosan dapat memperpendek djangka waktu ini.
123. Fatsal 123. Tertarik dapat minta, agar dimadjukan padanja untuk kedua kalinja, pada hari berikutnja. Jang berkepentingan tidak boleh memadjukan sebagai dasar, bahwa permintaan ini tidak dipenuhi, ketjuali djika permintaannja dimuat dalam protes.
Pemegang tidak wadjib, menjerahkan surat wisel, jang dima djukan untuk diakseptasi, pada tertarik. (K. 143).
124. Fatsal 12Jf. Akseptasi ditulis diatas surat wisel. Dinjatakan dengan kata2 „diakseptasi” atau dengan kata2 jang sematjam; di
tanda tangani oleh tertarik. Tanda tangan dari tertarik, ditulis di halaman muka surat wisel, berlaku sebagai akseptasi. (K. 127, 127b).
Djika surat wisel dapat dibajar pada wa:ktu tertentu sesudah diperlihatkan, atau berdasarkan suatu perdjandjian jang tegas ha rus dimadjukan untuk diakseptasi dalam djangka waktu tertentu, tanggal diakseptasi harus hari, waktu akseptasi dilakukan, ketjuali pemegang minta tanggal ditundjukkan untuk diaksep. Djika tang gal tidak ada pemegang harus menetapkan kelalaiannja dengan protes, tepat pada waktunja, dengan sanctie kehilangan hak regres terhadap para endosan dan terhadap penarik, jang sudah menjedia- kan dana. (K. 122, 126, 143, 165).
125. Fatsal 125. Akseptasi tidak boleh bersjarat, tapi tertarik dapat membatasi sampai sebagian dari djumlah jang ditulis (B.W. 1253 dst., 1390).
Tiap perubahan lain, jang dilakukan oleh akseptan mengenai apa jang ditulis dalam surat wisel, dianggap sebagai penolakan akseptasi. Tapi akseptan harus memenuhi sesuai dengan ïsi aksep- tasinja. (K. 128, 143, 150).
126. Fatsal 126. Djika penarik mengatakan dapat dibajar dilain tempat daripada tempat kedudukan tertarik, dengan tidak menun djuk pihak ketiga, kepada siapa harus dibajarnja, tertarik dapat menundjuk orangnja dalam akseptasi. Djika penundjukan sematjam itu tidak ada akseptan dianggap mengikat diri membajar ditempat pembajaran. (K. 101).
Djika surat-wisel dapat dibajar ditempat kedudukan dari ter tarik, ia dapat, dalam akseptasi, menundjuk alamat, di tempat jang sama, dimana harus dilakukan pembajaran. (K. 143a).
127. Fatsal 121. Dengan akseptasi tertarik mengikat diri, mem bajar surat wisel pada hari berachirnja djangka waktu. (K. 164).