• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis pengendalian intern terhadap sistem akuntansi penggajian : studi kasus pada PT Telkom divisi regional II Jakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis pengendalian intern terhadap sistem akuntansi penggajian : studi kasus pada PT Telkom divisi regional II Jakarta."

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

vi ABSTRAK

ANALISIS PENGENDALIAN INTERN TERHADAP SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

STUDI KASUS PADA PT TELKOM DIVISI REGIONAL II JAKARTA

CHRISTINA BUDI ASTUTI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Y O G Y A K A R T A

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Akuntansi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah prosedur penggajian dalam system akuntansi penggajian di PT Telkom Divisi Regional II Jakarta sudah baik, juga untuk mengetahui apakah system pengendalian intern terhadap system akuntansi penggajian sudah efektif.

Jenis penelitian ini adalah studi kasus pada PT Telkom Divisi Regional II Jakarta. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi.

Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan antara teori dan praktik sistem akuntansi penggajian di PT Telkom. Untuk menganalisis efektivitas pengendalian intern sistem Akuntansi Penggajian digunakan metode stop-or-go-sampling.

(2)

vii ABSTRACT

ANALYSIS THE INTERNAL CONTROL FOR THE ACCOUNTING SYSTEM OF SALARIES

A CASE STUDY AT PT TELKOM DIVISI REGIONAL II JAKARTA

CHRISTINA BUDI ASTUTI SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA 2002

This research aimed to find out whether salary procedure in accounting system of salaries at PT Telkom Divisi Regional II Jakarta had been good, and whether the internal control of the salary system had been effective.

This case study performed at PT Telkom Divisi Rergional II Jakarta. The techniques of data gathering are observation, interviews, questionnaires and documentation.

The analysis was conducted by comparing the current theory with the practise of PT Telkom. The analysis of the internal control system on the accounting system of salaries was performed using the stop-or-go sampling method.

(3)

i

ANALISIS PENGENDALIAN INTERN

TERHADAP SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

STUDI KASUS PADA PT TELKOM

DIVISI REGIONAL II JAKARTA

S K R I P S I

Diajukan untuk Menempuh Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Akuntansi

Oleh:

CHRISTINA BUDI ASTUTI

NIM : 94 2114 039 NIRM : 940051121303120038

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

ii

S K R I P S I

ANALISIS PENGENDALIAN INTERN

TERHADAP SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

STUDI KASUS PADA PT TELKOM

DIVISI REGIONAL II JAKARTA

Oleh:

CHRISTINA BUDI ASTUTI

NIM : 94 2114 039

NIRM : 940051121303120038

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Dra. YFM. Gien Agustinawansari,M.M.,Ak Tanggal: 5 Maret 2002

Pembimbing II

(5)

iii

S K R I P S I

ANALISIS PENGENDALIAN INTERN TERHADAP

SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

STUDI KASUS PADA PT TELKOM DIVISI REGIONAL II JAKARTA

Dipersiapkan dan ditulis oleh: CHRISTINA BUDI ASTUTI

NIM : 942114039 NIRM : 940051121303120038

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 23 April 2002

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

SUSUNAN PANITIA PENGUJI

Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua : Dra. YFM. Gien Agustinawansari,M.M,Ak ………... Sekretaris : Ir. Drs. Hansiadi YH.,M.Si.Ak ………. Anggota : Dra. YFM. Gien Agustinawansari,M.M,Ak ………. Anggota : Drs. YP. Supardiyono, M.Si.,Ak ………. Anggota : Drs. Joko Siswanto ,M.M.,Ak ………

Yogyakarta, April 2002 Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

(6)

iv

MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN

1. Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah.

( Aristotales, The Nichomachean Ethics) 2. Dengan mata hatilah kebenaran terlihat; hal-hal yang penting tak tampak di

depan mata.

( Antonie de Saint – Axupery, The Little Prince) 3. Sebab kebijaksanaan dan pengajaran adalah ketakukan akan Tuhan, dan Allah

berkenan pada kesetiaan dan hati lembut.

(Sirakh, 1 : 27)

4. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong,. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

( 1 Korintus 13 : 4 – 7)

(7)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, April 2002

Penulis

(8)

vi ABSTRAK

ANALISIS PENGENDALIAN INTERN TERHADAP SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

STUDI KASUS PADA PT TELKOM DIVISI REGIONAL II JAKARTA

CHRISTINA BUDI ASTUTI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Y O G Y A K A R T A

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Akuntansi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah prosedur penggajian dalam system akuntansi penggajian di PT Telkom Divisi Regional II Jakarta sudah baik, juga untuk mengetahui apakah system pengendalian intern terhadap system akuntansi penggajian sudah efektif.

Jenis penelitian ini adalah studi kasus pada PT Telkom Divisi Regional II Jakarta. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi.

Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan antara teori dan praktik sistem akuntansi penggajian di PT Telkom. Untuk menganalisis efektivitas pengendalian intern sistem Akuntansi Penggajian digunakan metode stop-or-go-sampling.

(9)

vii ABSTRACT

ANALYSIS THE INTERNAL CONTROL FOR THE ACCOUNTING SYSTEM OF SALARIES

A CASE STUDY AT PT TELKOM DIVISI REGIONAL II JAKARTA

CHRISTINA BUDI ASTUTI SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA 2002

This research aimed to find out whether salary procedure in accounting system of salaries at PT Telkom Divisi Regional II Jakarta had been good, and whether the internal control of the salary system had been effective.

This case study performed at PT Telkom Divisi Rergional II Jakarta. The techniques of data gathering are observation, interviews, questionnaires and documentation.

The analysis was conducted by comparing the current theory with the practise of PT Telkom. The analysis of the internal control system on the accounting system of salaries was performed using the stop-or-go sampling method.

(10)
(11)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur pada Tuhan yang Maha Esa atas segala karunia dan limpahan kasih-Nya sehingga skripsi dengan judul Analisis Pengendalian Intern Terhadap Sistem Akuntansi Penggajian ini dapat terselesaikan.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana ekonomi pada jurusan akuntansi di Universitas Sanata Dharma.

Skripsi ini tersusun berkat bimbingan, saran, nasehat dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini kami memgucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Fr. Reni Retno A.,S.E.,M.Si.,Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi.

2. Ibu Dra. YMF.Gien Agustinawansari ,M.M., Ak ., selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.

3. Bpk. YP. Supardiyono ,M.Si., Ak , selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dalam penyelesian skripsi ini.

4. Bapak Chr. Y. Wahyu Ari A, S.E.,M.M, Bpk Drs.Ign. Kuntoro M,S.E.,Ak., yang telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak Drs.G. Anto Listianto MSA.,Ak selaku Dosen Penguji.

6. Bapak Marihot Sibarani, selaku Senior Manager Keuangan yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian di PT Telkom.

7. Bapak Hanafiah, selaku Kepala Bagian Akuntansi yang telah banyak membantu dalam penelitian di PT Telkom.

(12)

x

9. Bapak dan Ibu di Yogyakarta yang selalu memberi doa dan dukungannya juga bantuan materi yang telah diberikan.

10.Bapak dan Ibu di Banyuwangi yang selalu memberi dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

11.Mas-mas dan mbak-mbak di Yogyakarta dan mbak Ani di Jakarta yang selalu memberi dukungan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

12.Kakak-kakak iparku semua dan semua keponakan-keponakanku, terima kasih dukungannya.

13.Indra dan Ira, Stef dan Deni, Kelik dan Reni, Lina dan Ony, Iyon dan Ade, Cimenk dan teman-temanku semua; terima kasih dukungannya !!!

14.Mbak Yuli sekeluarga dan Ayu di Jakarta, yang telah banyak membantu penulisan selama melakukan penelitian.

15.Mbak Atun, Mas Hasto, Mas Frans, Mbak Heni dan Mas Yuli di Sekretariat Fakultas Ekonomi.

16.Mas Nitis, yang selalu sabar dan selalu memberi dukungan kepada penulis. 17.Semua pihak yang telah membantu kelancaran penelitian dan penyusunan

skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu segala kritik maupun saran demi perbaikan tulisan ini sangat penulis harapkan.

Yogyakarta, April 2002

Penulis

(13)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii 1. Pengendalian Intern 1). Pengertian Pengendalian Intern ... 6

2). Pentingnya Pengendalian Intern ... 6

3). Tujuan Pengendalian Intern ... 7

(14)

xii

1). Pengertian Sistem dan Sistem Akuntansi ... 13

2). Elemen Sistem Akuntansi Pokok ... 15

3). Peranan Elemen Sistem Akuntansi ... 16

4). Perbedaan Pengertian Sistem dan Prosedur ... 17

5). Tujuan Umum Penyusunan Sistem Akuntansi ... 18

3. Sistem Akuntansi Penggajian 1). Fungsi Yang Terkait ... 20

2). Informasi yang Diperlukan oleh Manajemen ... 22

3). Dokumen yang Digunakan ... 23

4). Catatan Akuntansi yang Digunakan ... 28

5). Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem ... 31

6). Unsur-unsur Pengendalian Intern Penggajian ... 32

7). Bagan Alir Dokumen Sistem Penggajian ... 34

4. Pengujian Pengendalian 1). Jenis Pengujian Pengendalian ... 41

2). Tipe Pengujian Pengendalian ... 43

3). Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Pengendalian . 43 4). Penentuan Resiko Pengendalian ... 45

5. Sampling Audit 1). Definisi Sampel ... 48

2). Pendekatan Sampling Audit ... 48

(15)

xiii

BAB IV : SEJARAH DAN GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

1. Sejarah Berdirinya Perusahaan ... 63

2. Kegaitan Usaha ... 68

3. Struktur Organisasi Perusahaan ... 69

4. Sumber Daya Manusia ... 81

10).Formulasi Penghasilan Pegawai ... 88

BAB V : HASIL TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISIS DATA 1. Analisis Data Sistem Akuntansi Penggajian 1). Struktur Organisasi yang Memisahkan Tanggung Jawab Secara Tegas ... 89

2). Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan ... 91

3). Praktik yang Sehat ... 94

4). Karyawan yang Kompoten ... 96

2. Efektivitas Pengendalian Intern Sitem Akuntansi Penggajian PT Telkom ... 98

BAB VI : KESIMPULAN, KETERBATASAN PENULISAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 104

2. Keterbatasan Penulisan ... 107

(16)

xiv

(17)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Tabel 3.1. Tabel Besarnya Sampel Minimum untuk Pengujian

Kepatuhan (Zero Expected Occurences) ... 58 2. Tabel 3.2. Penentuan Besarnya Sampel Minimum untuk Pengujian

Kepatuhan ... 59 3. Tabel 3.3. Stop-or-go Decision ... 60 4. Tabel 3.4. Tabel Angka Acak ... 62 5. Tabel 5.1. Tabel Perbandingan Teori dan Praktik Struktur Organisasi

yang Memisahkan Tanggung Jawab secara Tegas ... 90 6. Tabel 5.2. Tabel Perbandingan Teori dan Praktik Sistem Otorisasi dan

Prosedur Pencatatan ... 94 7. Tabel 5.3. Tabel Perbandingan Teori dan Praktik, Praktik yang

Sehat ... 96 8. Tabel 5.4. Tabel Pengujian Kepatuhan Pengendalian Intern Sistem

Akuntansi Penggajian ... 100 9. Tabel 5.5. Tabel Attribute Sampling for Determining storp-or-goSample

(18)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Gambar 2.1. Daftar Hadir Karyawan ... 23

2. Gambar 2.2. Kartu Jam Hadir ... 24

3. Gambar 2.3. Kartu Jam Kerja ... 25

4. Gambar 2.4. Daftar Gaji ... 25

5. Gambar 2.5. Rekapitulasi Daftar Gaji ... 26

6. Gambar 2.6. Surat Pernyataan Gaji ... 27

7. Gambar 2.7. Bukti Kas Keluar ... 28

8. Gambar 2.8. Jurnal Umum ... 28

9. Gambar 2.9. Kartu Harga Pokok Produk ... 29

(19)

1

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Dunia perekonomian saat ini sudah semakin kompleks dengan berbagai

persaingan yang ketat diantara perusahaan-perusahaan di tingkat lokal, nasional

dan internasional. Persaingan tersebut semakin terasa dengan akan dimulainya

era ekonomi global dan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi

perusahaan-perusahaan besar, menengah dan kecil di negara-negara dunia

ketiga seperti Indonesia. Berbagai aspek yang ikut berpengaruh terhadap

kesiapan dunia usaha dalam menghadapi persaingan tersebut adalah faktor

manusia dan sistem yang digunakan dalam menjalankan operasi perusahaan.

Manajemen pada perusahaan-perusahaan besar terutama yang sudah go public memiliki tanggung jawab berat, karena harus mempertanggungjawabkan semua kegiatan perusahaan kepada masyarakat umum, disatu sisi harus siap

berhadapan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang sudah siap

dalam segala hal, baik sumber daya manusia maupun sistem yang digunakan.

Hal tersebut terbukti dengan semakin banyaknya sektor-sektor yang dikuasai

oleh perusahaan multinasional. Berbagai fungsi bisa terkontrol dengan baik

sehingga keputusan-keputusan di tingkat manajemen menghasilkan sesuatu

yang bermanfaat bagi pengembangan usaha.

Ada banyak tawaran sistem atau metode yang bisa diaplikasikan oleh

(20)

berbagai tawaran tersebut harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan.

Semakin kompleks operasi perusahaan, maka manajemen semakin

membutuhkan sistem yang baik dalam penyajian berbagai informasi termasuk

informasi keuangan. Karena penting bagi manajemen untuk memperoleh

informasi yang akurat apabila pihak manajemen akan menggunakan informasi

tersebut untuk pengambilan keputusan.

Salah satu hal penting bagi perusahaan dalam menentukan kebijakan di

tingkat manajemen adalah memberikan perhatian terhadap sumber daya

manusia. Karena manusia menjadi motor utama dalam setiap kegiatan

perusahaan. Perhatian tersebut dapat berupa peningkatan skill atau kemampuan dengan cara pelatihan, training-training, studi lanjut maupun pemberian balas jasa yang layak.

Apabila pekerja atau karyawan perusahaan memperoleh imbalan jasa

yang layak, maka kemungkinan untuk terjadi penyelewengan maupun

perlawanan-perlawanan terhadap perusahaan akan semakin kecil. Sebagai

contoh ketika terjadi demo karyawan pabrik, apa yang terjadi; aktifitas

produksi terganggu, perusahaan menjadi rugi dan disatu sisi kredibilitas

perusahaan di mata publik menjadi turun, hal tersebut banyak terjadi karena

dilatarbelakangi oleh penghargaan atau balas jasa perusahaan terhadap

karyawan dinilai masih kurang.

Untuk menghindari kejadian tersebut, maka manajemen membutuhkan

suatu sistem yang efektif dalam penentuan balas jasa yang bisa di terima oleh

(21)

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mencoba untuk meneliti

penerapan pengendalian intern pada sistem akuntansi penggajian.

2. Batasan Masalah

Dalam penulisan skripsi ini penulis membatasi masalah pada pengendalian

intern sistem akuntansi penggajian pada PT. Telkom Divisi Regional II Jakarta.

3. Perumusan Masalah

1). Apakah penerapan prosedur penggajian pada PT. Telkom Divisi Regional

II Jakarta sudah sesuai dengan sistem akuntansi penggajian?

2). Apakah pengendalian intern yang diterapkan oleh PT. Telkom Divisi

Regional II Jakarta sudah efektif?

4. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yang dilakukan adalah:

1). Untuk mengetahui apakah prosedur penggajian pada PT. Telkom Divisi

Regional II Jakarta sudah sesuai dengan sistem akuntansi penggajian.

2). Untuk mengetahui apakah pengendalian intern yang diterapkan oleh PT.

(22)

5. Manfaat Penelitian

1). Bagi Perusahaan

Dapat dijadikan sumber informasi dan pembandingan bagi perusahaan

untuk membantu manajemen dalam mengawasi sistem penggajian agar

tujuan perusahaan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang dapat

tercapai.

2). Bagi Universitas Sanata Dharma

Dapat dijadikan sebagai bahan penelitian lebih lanjut dan juga dapat

dipakai sebagai bacaan ilmiah.

3). Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penalaran dalam mengamati

dunia praktek kerja yang nyata dengan teori yang telah didapat.

6. Sistematika Penulisan

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini dibahas mengenai latar belakang masalah, batasan

masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Berisi teori-teori yang mendukung untuk menyelesaikan masalah

yang telah dirumuskan. Adapun isinya adalah pengendalian

intern, sistem akuntansi penggajian, pengujian pengendalian dan

(23)

BAB III : METODOLOGI PENELLITIAN

Berisi jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan

obyek penelitian, data yang dicari, teknik pengumpulan data dan

teknik analisis data.

BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Bab ini berisi sejarah dan gambaran umum perusahaan, struktur

organisasi perusahaan serta tanggung jawab dan fungsi

masing-masing bagian serta berbagai hal yang berkaitan dengan sumber

daya manusia di PT Telkom Divisi Regional II.

BAB V : HASIL TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISIS DATA

Bab ini berisi temuan penelitian yang dilakukan yaitu tentang

prosedur penggajian dan pengendalian intern yang diterapkan

dan hasil pengujian terhadap efektivitas pengendalian intern.

BAB VI : KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN

SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dari analisis data yang dilakukan

terhadap prosedur penggajian dan efektivitas pengendalian intern

yang sudah diterapkan, serta keterbatasan penelitian, dan saran

yang diberikan oleh penulis untuk perbaikan sistem yang belum

diterapkan.

(24)

6 BAB II

LANDASAN TEORI

1. PENGENDALIAN INTERN

1). Pengertian Pengendalian Intern

Pengendalian Intern adalah suatu hal yang memegang peran penting dalam

auditing. Untuk itu perlu diketahui difinisi tentang pengendalian intern

tersebut.

Pengendalian Intern adalah kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memberikan keyakinan (assurance) yang memadai bahwa tujuan tertentu satuan usaha akan dicapai. (Abdul Halim, 1995:161)

Salah satu latar belakang timbulnya kebutuhan pengendalian intern karena

masuknya orang lain yang bukan sebagai pemilik di dalam aktivitas usaha.

Pemilik berkepentingan mengamankan harta kekayaannya. Alasan lain

mengapa perusahaan perlu memiliki suatu pengendalian intern adalah untuk

menjamin tercapainya tujuan yang telah dicanangkan oleh pemilik atau

manajemen secara efektif dan efisien.

2). Pentingnya Pengendalian Intern

Pengendalian intern sangat penting karena: (Abdul Halim, 1995:162)

(1). Lingkup dan ukuran entitas bisnis semakin kompleks. Hal ini

mengakibatkan manajemen harus mengandalkan laporan dan analisis

yang banyak jumlahnya agar peranan pengendalian dapat berjalan

(25)

(2). Pemeriksanaan dan penelaahan dalam sistem yang baik memberikan

perlindungan terhadap kelemahan manusia dan mengurangi

kemungkinan kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi.

(3). Pengendalian intern yang baik akan mengurangi beban pelaksanaan

audit sehingga dapat mengurangi biaya ataupun fee audit.

Bagi perusahaan, pengendalian dapat digunakan secara efektif untuk

mencegah penggelapan maupun penyimpangan. Dengan kata lain,

pengendalian intern memberikan kepastian bahwa penggelapan

laporan keuangan dapat dicegah atau dideteksi lebih dini.

3). Tujuan Pengendalian Intern

Menurut tujuannya pengendalaian intern dapat dibagi menjadi dua macam

yaitu pengendalian akuntansi dan pengendalian administratif. (Mulyadi,

1992:68)

(1). Pengendalian Akuntansi (Accounting Control)

Pengendalian akuntansi merupakan bagian dari pengendalian intern

meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang

dikoordinasikan terutama untuk:

(1.1). Menjaga kekayaan dan catatan akuntansi

Kekayaan fisik suatu perusahaan dapat dicuri, disalahgunakan

atau hancur karena kecelakaan kecuali jika kekayaan tersebut

(26)

(1.2). Mengecek ketelitian dan keandalan catatan akuntansi

Pengendalian intern untuk memberikan jaminan proses

pengolahan data akuntansi yang akan menghasilkan informasi

keuangan yang teliti dan handal. Manajemen memerlukan

informasi keuangan yang teliti dan handal untuk menjalankan

kegiatan usahanya dan digunakan untuk dasar pengambilan

keputusan.

(2). Pengendalian Administratif (Administrative Control)

Pengendalian administratif meliputi struktur organisasi, metode dan

ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk:

(2.1). Mendorong efisiensi

Pengendalian intern ditujukan untuk mencegah pemborosan

dalam segala bisnis perusahaan dan untuk mencegah

penggunaan sumber daya perusahaan yang tidak efisien.

(2.2). Dipatuhinya kebijakan manajemen

Pengendalian intern ditujukan untuk memberikan jaminan yang

memadai agar kebijakan manajemen dipatuhi oleh karyawan

perusahaan.

4). Elemen-elemen Pengendalian Intern

Pengendalian intern memiliki tiga unsur pokok yaitu lingkungan

(27)

(1). Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian memiliki empat unsur yaitu filosofi dan

gaya operasi, berfungsinya dewan komisaris dan komite pemeriksa,

metode pengendalian manajemen, dan kesadaran pengendalian.

(Mulyadi, 1993:174).

(1.1). Filosofi dan gaya operasi

Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic believe)

yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawan. Filosofi

merupakan apa yang seharusnya dikerjakan oleh perusahaan,

sedangkan gaya operasi mencerminkan ide manajer tentang

bagaimana operasi suatu kesatuan usaha harus dilaksanakan.

Ada manajer yang memilih gaya operasi yang sangat

menekankan pentingnya pelaporan keuangan, penyusunan dan

penggabungan anggaran sebagai alat pengukur kinerja manajer

dan pencapaian tujuan yang telah dicanangkan dalam anggaran.

(1.2). Berfungsinya dewan komisaris dan komite pemeriksa

Untuk menciptakan independensi akuntan publik,

perusahaan-perusahaan yang go public sebaiknya mengalihkan wewenang penunjukkan akuntan publik dari tangan manajemen puncak ke

tangan dewan komisaris atau komite pemeriksa (audit comitte).

Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam

perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas. Dewan ini

(28)

dilaksanakan oleh manajemen (direksi), dengan demikian dewan

komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah

konsentrasi pengendalian yang terlalu banyak ditangan

manajemen (direksi).

(1.3). Metode pengendalian manajemen

Pengendalian manajemen merupakan metode perencanaan dan

pengendalian alokasi sumber daya perusahaan dalam mencapai

tujuan perusahaan. Perencanaan dan pengendalian manajemen

dilakukan melalui empat tahap yaitu penyusunan anggaran

(rencana jangka panjang dan jangka pendek), pelaksanaan dan

pengukuran, pelaporan dan analisis.

(1.4). Kesadaran pengendalian

Kesadaran pengendalian dapat tercermin dari reaksi yang

ditunjukkan oleh manajemen dari berbagai jenjang organisasi

atas kelemahan pengendalian yang ditujukan oleh akuntan intern

atau akuntan publik.

(2). Sistem Akuntansi

Sistem akuntansi meliputi metode-metode dan catatan-catatan yang

diterapkan manajemen untuk mencatat, melaporakan transaksi,

kejadian dan untuk menyelenggarakan pertanggungjawaban aktiva dan

(29)

Sistem akuntansi yang efektif harus meliputi metode-metode dan

catatan-catatan yang dapat : (Munawir, 1995:230)

(2.1). Mengindentifikasi semua yang sah

(2.2). Menggambarkan transaksi secara tepat waktu dan cukup rinci

sehingga memungkinkan adanya klasifikasi transaksi secara

tepat untuk pelaporan keuangan.

(2.3). Mengukur nilai transaksi dengan cara yang memungkinkan

pencatatan nilai keuangan dalam laporan keuangan.

(2.4). Menentukan periode terjadinya transaksi untuk memungkinkan

pencatatan transaksi pada periode akuntansi yang tepat.

(2.5). Menyajikan transaksi dan pengungkapannya dalam laporan

keuangan dengan semestinya.

(3). Prosedur Pengendalian Intern

Prosedur pengendalian intern berupa kebijakan dan prosedur yang

ditetapkan manajemen untuk memperoleh jaminan yang memadai

bahwa tujuan satuan usaha akan dapat dicapai. Prosedur pengendalian

dapat dikelompokkan sebagai berikut: (Munawir, 1995:231)

(3.1). Otorisasi yang tepat atas transaksi

Tujuan utamanya adalah untuk menjamin bahwa semua

transaksi telah diotorisasi oleh manajemen yang berwenang,

baik otorisasi yang bersifat umum maupun khusus. Otorisasi

(30)

bersifat rutin, seperti pemberian kredit, pembelian dan

penjualan, sedangkan otorisasi khusus berhubungan dengan

transaksi yang tidak rutin misalnya pengeluaran yang besar

(capital expenditures), emisi saham, penerbitan utang obligasi, otorisasi kredit yang melebihi batas tertentu.

(3.2). Pemisahan tugas

Berkaitan dengan pemberian tanggung jawab dalam suatu

transaksi sebagai pekerjaan orang atau badan tertentu secara

otomatis dapat dicek oleh orang atau bagian lain. Tujuan utama

dari pemisahan tugas adalah untuk mencegah dan menemukan

sedini mungkin adanya kekeliruan/ketidakberesan dalam

pelaksanaan tanggung jawab yang dibebankan.

(3.3). Dokumen dan catatan

Dokumen memberikan bukti terjadinya transaksi berikut harga,

sifat dan syarat transaksi. Dokumen juga merupakan dasar untuk

penetapan tanggung jawab pelaksana dan pencatat transaksi.

Catatan meliputi juga catatan pendapatan pegawai yang

menunjukkan jumlah pembayaran gaji kumulatif tiap-tiap

pegawai, catatan persediaan secara perpetual dan ringkasan

dokumen yang dikeluarkan (misalnya faktur penjualan dan

(31)

(3.4). Pengendalian kewengan

Pengendalian kewenangan diperhatikan dalam kaitannya dengan

pembatasan dua tipe akses terhadap aktiva dan perhitungan

catatan yaitu kewenangan langsung terhadap fisik dan

kewenangan tidak langsung melalui pemeriksaan dokumen,

dengan demikian pengendalian kewenangan terutama berkaitan

dengan alat pengaman dan cara penyimpanan terhadap aktiva,

catatan program-program komputer serta arisp-arsip. Tindakan

pengamanan dapat pula berupa ketentuan bahwa yang

berwenang menyimpan, memindahkan atau menggunakan hanya

orang yang telah diotorisasi untuk itu.

(3.5). Pengecekan independen

Mencakup verifikasi terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh

individu atau bagian lain atau kebenaran penilaian jumlah yang

dicatat.

2. SISTEM AKUNTANSI

1). Pengertian Sistem dan Sistem Akuntansi

(1). Pengertian sistem adalah:

Sekelompok elemen yang erat berhubungan satu dengan lainnya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. (Mulyadi, 1993:5)

Dari pengertian tersebut dapat dirinci lebih lanjut mengenai sistem

(32)

(1.1). Setiap sistem terdiri dari elemen-elemen.

Elemen-elemen suatu sistem terdiri dari sub sistem yang lebih

kecil yang terdiri pula dari kelompok elemen yang membentuk

sub sistem tersebut.

(1.2). Elemen-elemen tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang

bersangkutan.

Elemen-elemen sistem yang berhubungan erat satu dengan

lainnya dan sifat serta kerja sama antar elemen sistem tersebut

mempunyai bentuk tertentu.

(1.3). Elemen sistem tersebut bekerjasama untuk mencapai tujuan

sistem.

Setiap sistem mempunyai tujuan tertentu.

(1.4). Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih

besar.

(2). Pengertian sistem akuntansi adalah:

(33)

2). Elemen Sitem Akuntansi Pokok

Elemen sistem akuntansi pokok adalah formulir, catatan yang terdiri dari

jurnal, buku besar dan buku pembantu, serta laporan keuangan. Berikut

uraian lebih lanjut mengenai elemen sistem akuntansi pokok: (Mulyadi,

1993:4)

(2.1). Formulir

Formulir merupakan dokumen pertama yang digunakan untuk

merekam terjadinya transaksi. Formulir sering juga disebut dengan

istilah dokumen, karena dengan formulir ini peristiwa yang terjadi

dalam organisasi direkam/didokumentasikan di atas secarik kertas.

Formulir sering pula disebut dengan istilah media, karena formulir

merupakan media untuk mencatat peristiwa yang terjadi dalam

organisasi ke dalam catatan akuntansi. Contoh formulir adalah faktur

penjualan, bukti kas keluar dan cek.

(2.2). Jurnal

Jurnal merupakan catatan akuntansi pertama yang digunakan untuk

mencatat, mengklasifikasikan dan meringkas data keungan dan data

lainnya. Sumber informasi pencatatan dalam jurnal ini adalah

formulir. Contoh jurnal adalah jurnal penerimaan kas, jurnal

pembelian, jurnal penjualan dan jurnal umum.

(2.3). Buku besar

(34)

jurnal. Akun-akun dalam buku besar ini disediakan sesuai dengan

elemen-elemen informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.

Contoh buku besar adalah kas, piutang, utang, dan modal.

(2.4). Buku pembantu

Jika data keuangan yang digolongkan dalam buku besar diperlukan

rinciannya lebih lanjut dapat dibentuk buku pembantu (subsidiary ledger). Buku pembantu ini terdiri dari akun-akun pembantu yang merinci data keuangan yang tercantum dalam akun tertentu dalam

buku besar. Contoh buku pembantu adalah buku pembantu piutang,

buku pembantu utang. Buku besar dan buku pembantu ini

merupakan catatan akhir (books of final entry) yang berarti tidak ada catatan akuntansi lain lagi sesudah data akuntansi diringkas dan

digolongkan dalam akun buku besar dan buku pembantu.

(2.5). Laporan

Hasil akhir proses akuntansi adalah laporan keuangan yang berupa

neraca, laporan rugi laba, dan laporan perubahan laba yang ditahan.

3). Peranan Elemen Sistem Akuntansi

Suatu hal yang perlu diingat bahwa formulir dan dokumen-dokumen ini

mempunyai peranan yang penting dala suatu sistem akuntansi. Peranan atau

kegunaan formulir dan dokumen-dokumen dalam sistem akuntansi menurut

(35)

(1). Untuk menentukan hasil kegiatan perusahaan

Peranan ini dapat dilihat dari pekerjaan membuat distribusi dan

pembuatan laporan-laporan untuk pimpinan.

(2). Untuk menjaga aktiva-aktiva dan utang-utang perusahaan

Peranan ini dapat dilihat dari penggunaan akun-kaun sehingga dapat

diketahui saldo masing-masing rekening.

(3). Untuk memerintahkan mengerjakan suatu pekerjaan

Peranan ini dapat dilihat antara lain dari penggunaan surat perintah

pengiriman untuk mengirim barng-barang dan penggunaan surat

permintaan pembelian agar dibelikan barang-barang yang dibutuhkan.

(4). Untuk memudahkan penyusunan rencana-rencana kegiatan, penilaian

hasil-hasilnya dan penyesuaian rencana-rencana.

Peranan ini dapat dilihat dari penggunaan rencana produksi yang akan

digunakan untuk menilai kegiatan produksi kemudian kalau diperlukan

mengadakan perubahan terhadap rencana tadi.

4). Perbedaan Pengertian Sistem dan Prosedur

Dalam membahas sistem akuntansi perlu diadakan pengertian sistem dan

prosedur agar dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai berbagai

sistem yang menghasilkan berbagai macam formulir yang diolah dalam

sistem akuntansi.

(36)

(1). Sistem adalah suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan.

(2). Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang. (Mulyadi, 1993:8)

Kegiatan klerikal (clerical operation) terdiri dari kegiatan-kegiatan

menulis, menggandakan, menghitung, memberi kode, mendaftar, memilih

(menyortasi), memindahkan dan membandingkan.

5). Tujuan Umum Penyusunan Sistem Akuntansi

Penyusunan sistem akuntansi untuk suatu perusahaan mempunyai beberapa

tujuan yaitu:

(1). Untuk menyediakan informasi bagi pengelolaan kegiatan usaha baru.

Kebutuhan penyusunan sistem akuntansi terjadi jika perusahaan baru

didirikan atau suatu perusahaan menciptakan usaha baru yang berbeda

dengan usaha yang telah dijalankan selama ini.

(2). Untuk memperbaiki informasi yang dihasilkan oleh sistem yang sudah

ada, baik mengenai mutu, ketepatan penyajian maupun struktur

informasinya.

(3). Untuk memperbaiki pengawasan akuntansi dan pengecekan intern,

yaitu memperbaiki tingkat keandalan (realiability) informasi akuntansi dan menyediakan catatan lengkap mengenai pertanggungjawaban dan

(37)

(4). Untuk mengurangi biaya klerikel dan penyelenggaraan catatan

akuntansi.

3. SISTEM AKUNTANSI PENGGAJIAN

Dalam perusahaan manufaktur, pembayaran kepada karyawan biasanya

dibagi menjadi dua golongan yaitu gaji dan upah. Gaji umumnya merupakan

pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan yang

mempunyai jenjang jabatan manajer, sedangkan upah pada umumnya

merupakan pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan

pelaksana (buruh). Umumnya gaji dibayarkan secara tetap perbulan sedangkan

upah dibayarkan berdasarkan hari kerja, jam kerja, atau jumlah satuan produk

yang dihasilkan oleh karyawan.

Sistem akuntansi penggajian dalam perusahaan manufaktur melibatkan

fungsi kepegawaian, fungsi keuangan dan fungsi akuntansi. Fungsi

kepegawaian bertanggungjawab dalam pengangkatan karyawan, penetapan

jabatan, penetapan tarif gaji dan upah, promosi dan penurunan pangkat, mutasi

karyawan, penghentian dari pekerjaannya, dan penetapan berbagai tunjangan

kesejahteraan karyawan serta penghitungan gaji dan upah karyawan. Fungsi

keuangan bertanggung jawab atas pelaksanaan pembayaran gaji dan upah serta

berbagai tunjangan kesejahteraan karyawan. Fungsi akuntansi bertanggung

jawab atas pencatatan biaya tenaga kerja dan distribusi biaya tenaga kerja

untuk kepentingan perhitungan harga pokok produk dan penyediaan informasi

(38)

Berikut diuraikan lebih lanjut tentang berbagai fungsi yang terkait dalam

sistem akuntansi penggajian.(Mulyadi, 1993:377)

1). Fungsi yang Terkait

Fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi penggajian adalah:

(Mulyadi, 1993:386)

(1). Fungsi Kepegawaian

Kegiatan yang dilakukan fungsi kepegawaian atau personalia

meliputi: memelihara arsip lamaran pekerjaan, memelihara hubungan

dengan lembaga-lembaga penghasil calon pegawai seperti sekolah

tinggi, akademi, universitas, dan balai latihan kerja, mengadakan

seleksi calon pegawai yang pada umumnya meliputi seleksi

kemampuan teknis (technical test), seleksi sikap, minat (psyco test),

dan seleksi kesehatan, melakukan processing data pegawai baru meliputi penyiapan surat keputusan pengangkatan dan penempatan

dalam golongan gaji bagi pegawai baru dan penyiapan laporan

penarikan tenaga kerja ke departemen tenaga kerja, melakukan

pengembangan pegawai dan pemberhentian pegawai.

(2). Fungsi Pencatatan Waktu

(2.1). Mengawasi pegawai dalam memasukkan kartu hadir ke dalam

(39)

yang bersangkutan sajalah yang dimasukkan ke dalam mesin

absensi.

(2.2). Membuat rekapitulasi waktu hadir/kerja dan menyerahkan

kepada pembuat daftar gaji.

(3). Fungsi Pembuat daftar gaji

(3.1). Membuat daftar gaji yang berisi penghasilan bruto yang

menjadi hak dan berbagai potongan yang menjadi beban setiap

karyawan selama jangka waktu pembayaran gaji.

(3.2). Daftar gaji diserahkan oleh fungsi pembuat daftar gaji kepada

fungsi akuntansi guna pembuatan bukti kas keluar yang dipakai

sebagai daftar untuk pembayaran gaji dan upah kepada

karyawan.

(4). Fungsi Utang

Fungsi utang bertanggung jawab untuk mencatat kewajiban yang

timbul dalam hubungannya dengan pembayaran gaji. Fungsi utang

yang menangani sistem akuntansi:

(4.1). Bagian Utang

Bertanggung jawab untuk memproses pembayaran gaji seperti

yang tercantum dalam daftar gaji. Bagian ini juga menerbitkan

bukti kas keluar yang memberi otorisasi kepada fungsi

pembayaran gaji untuk membayar gaji kepada karyawan seperti

(40)

(4.2). Bagian Kartu Gaji

Bertanggungjawab untuk mencatat distribusi biaya kedalam

kartu harga pokok produk dan kartu biaya berdasarkan rekap

daftar gaji dan kartu jam kerja (untuk tenaga kerja langsung

pabrik).

(4.3). Bagian Jurnal

Bertangung jawab untuk mencatat biaya gaji dalam jurnal

umum.

(5). Fungsi Keuangan

Bertanggung jawab untuk mengisi cek guna pembayaran gaji dan

menguangkan cek tersebut ke bank. Uang tunai tersebut kemudian

dimasukkan ke dalam amplop gaji setiap karyawan untuk selanjutnya

dibagikan kepada karyawan yang berhak.

2). Informasi yang Diperlukan oleh Manajemen

Informasi yang dibutuhkan oleh manajemen dari kegiatan penggajian

adalah:(Mulyadi, 1993:378)

(1). Jumlah biaya gaji yang menjadi beban perusahaan selama periode

akuntansi tertentu.

(2). Jumlah biaya gaji yang menjadi beban setiap pusat

pertanggungjawaban selama periode tertentu.

(41)

(4). Rincian unsur biaya gaji yang menjadi beban perusahaan dan setiap

pusat pertanggungjawaban selama periode akuntansi tertentu.

3). Dokumen yang Digunakan

Dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi penggajian adalah:

(1). Kartu Jam Hadir

Dokumen ini digunakan oleh fungsi pencatat waktu untuk mencatat

jam hadir setiap karyawan di perusahaan. Contoh daftar hadir

karyawan pada Gambar 2.1 dan kartu jam hadir pada Gambar 2.2

berikut ini

DAFTAR HADIR KARYAWAN Minggu Yang Berakhir Tanggal:…..

(42)

KARTU JAM HADIR

No:

Nama : Periode

Jam Biasa : Tarif : Jumlah: Jam Lembur : Tarif : Jumlah:

Jumlah Penghasilan

Potongan :

Pph pasal 21 :

Utang :

Lain-lain :

Jumlah Potongan: Jumlah yang Harus Dibayar

M K M K M K M K

Gambar 2.2 Kartu Jam Hadir

(2). Dokumen Pendukung Perubahan Gaji

Dokumen ini umumnya dikeluarkan oleh fungsi kepergawaian berupa

surat keputusan yang bersangkutan dengan karyawan.

(3). Kartu Jam Kerja

Kartu kerja digunakan untuk mencatat waktu yang dikonsumsi oleh

tenaga kerja langsung pabrik guna menegrjakan pesanan tertentu.

(43)

KARTU JAM KERJA

Jumlah Potongan Barang

Mandor Kepala Bagian Total Jam Kerja

Gambar 2.3 Kartu Jam Kerja

(4). Daftar Gaji

Berisi jumah gaji dan upah setiap karyawan dikurangi dengan

potongan-potongan berupa Pph pasal 21, utang dan iuran karyawan.

Contoh daftar gaji pada Gambar 2.4

DAFTAR GAJI BULAN :……

Tarif gaji Nama Karyawan Nomor

Induk

POTONGAN GAJI KARYAWAN

Pph psl 21 Iuran Organisasi Karyawan

Dana Pensiun

Koperasi Yayasan Lain-lain Jml Potongan

(44)

(5). Rekap Daftar Gaji

Berisi ringkasan gaji per depertemen yang dibuat berdasarkan daftar

gaji. Contoh rekap daftar gaji dapat dilihat pada Gambar 2.5

REKAPITULASI GAJI BULANAN:……..

Departeme

Potongan Gaji Karyawan Gaji Bersih

Gambar 2.5 Rekap Daftar Gaji

(6). Surat Pernyataan Gaji dan Upah

Dokumen dibuat sebagai catatan bagi karyawan mengenai rincian gaji

dan upah yang diterima setiap karyawan. Contoh pernyataan gaji dan

(45)

SURAT PERNYATAAN GAJI Bulan:

Nama:

No. Induk Karyawan:

Departemen:

Bagian:

Gaji/Upah Biasa

Gaji/Upah Lembur

Jumlah Gaji/Upah Bruto: Rp. Pph psl 21 :

Iuran Org. Karyawan:

Dana Pensiun:

Lain-lain:

Jumlah Potongan:

Gaji/Upah Bersih Rp.

Gambar 2.6 Surat pernyataan Gaji

(7). Amplop Gaji dan Upah

Uang gaji dan upah karyawan diserahkan kepada setiap karyawan

dalam amplop gaji dan upah.

(8). Bukti Kas Keluar

Dokumen ini merupakan perintah pengeluaran uang yang dibuat oleh

petugas fungsi akuntansi kepada petugas fungsi keuangan. Contoh

(46)

No. BKK No. Cek : BUKTI KAS KELUAR

Dibayarkan: Jumlah Uang: Rp

Untuk Keperluan:

Tanda Tangan

Tanggal No. Rek Jumlah Direktur Keuangan

Kep.Dep Keuangan Kepala Bagian

Kasa

Gambar 2.7 Bukti Kas Keluar

4). Catatan Akuntansi Yang Digunakan

Catatan akuntansi yang digunakan dalam siklus penggajian adalah:

(Mulyadi, 1993:386)

(1). Jurnal umum

Jurnal umum digunakan untuk mencatat distribusi biaya tenaga kerja

kedalam setiap departemen dalam perusahaan. Contoh jurnal umum

pada Gambar 2.8

Halaman: JURNAL UMUM

Tanggal Keterangan No. Bukti No. Rekening Debit Kredit

(47)

(2). Kartu harga pokok produk

Digunakan untuk mencatat upah tenaga kerja langsung yang

dikeluarkan untuk pesanan tertentu. Contoh kartu harga pokok produk

pada Gambar 2.9

KARTU HARGA POKOK PRODUK

Nama Pemesan Nomor Pemesan Tanggal Mulai

Spesifikasi Kuantitas Tanggal Selesai

Biaya Bahan Baku Biaya TKL Biaya Overhead Harga Pokok/sat …. Tgl No. Harga Pokok/sat ….

Otorisasi

(48)

(3). Kartu Biaya

Digunakan untuk mencatat biaya tenaga kerja langsung dan biaya

tenaga kerja non produk setiap departemen dalam perusahaan.

(4). Kartu Penghasilan Karyawan

Digunakan untuk mencatat penghasilan yang diterima oleh setiap

karyawan. Contoh kartu penghasilan karyawan pada Gambar 2.10

KARTU PENGHASILAN KARYAWAN

Nama: No. Induk Departemen Bagian Penghasilan

dan Potongan

Januari Februari Maret April Desember Jumlah Total

(49)

5). Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem

Sistem penggajian terdiri dari jaringan prosedur berikut ini: (Mulyadi,

1993:399)

(1). Prosedur Pencatatan waktu Hadir

Prosedur ini bertujuan untuk mencatat waktu hadir karyawan.

Pencatatan waktu hadir ini diselenggarakan oleh fungsi pencatat

waktu dengan menggunakan daftar hadir pada pintu masuk kantor

administrasi atau pabrik. Pencatatan waktu hadir dapat menggunakan

daftar hadir, dimana karyawan harus menandatanganinya setiap hadir

dan pulang dari perusahaan atau dapat menggunakan kartu hadir

berupa clock card yang dicap secara otomatis dengan menggunakan mesin pencatat waktu time recorder. Pencatatan waktu hadir ini diselenggarakan untuk menentukan gaji karyawan.

(2). Prosedur pembuatan daftar gaji

Dalam prosedur ini fungsi pembuat daftar gaji membuat daftar gaji

karyawan. Data yang dipakai sebagai dasar pembuatan daftar gaji

adalah surat-surat keputusan mengenai pengangkatan karyawan baru,

kenaikan pangkat, pemberhentian karyawan, penurunan pangkat,

daftar gaji bulan sebelumnya dan daftar hadir.

(3). Prosedur distribusi biaya gaji

Dalam prosedur distribusi biaya gaji, biaya tenaga kerja

didistribusikan kepada departemen-departemen yang menikmati

(50)

(4). Prosedur pembuatan bukti kas keluar

Bukti kas keluar merupakan perintah kepada fungsi keuangan untuk

mengeluarkan sejumlah uang, pada tanggal dan untuk keperluan

seperti yang tercantum dalam dokumen tersebut.

(5). Prosedur pembayaran gaji

Prosedur pembayaran gaji melibatkan fungsi pencatatan utang dan

fungsi pembayaran gaji. Fungsi pencatat utang memberi perintah

untuk pengeluaran kas kepada fungsi pembayar gaji untuk menulis

cek guna pembayaran gaji. Fungsi pembayaran gaji kemudian

menguangkan cek tersebut ke bank dan memasukkan uang ke amplop

gaji.

6). Unsur Pengendalian Intern Sistem Akuntansi Penggajian

Unsur sistem pengendalian intern dalam sistem akuntansi penggajian

adalah sebagai berikut: (Mulyadi, 1993:390)

(1). Organisasi

(1.1). Fungsi pembuatan daftar gaji harus terpisah dari fungsi

pembayaran gaji.

(1.2). Fungsi pencatatan waktu hadir harus terpisah dari fungsi

(51)

(2). Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan

(2.1). Setiap orang yang namanya tercantum dalam daftar gaji harus

memiliki surat keputusan pengangkatan sebagai karyawan

perusahaan yang ditandatangani oleh direktur utama.

(2.2). Setiap perubahan gaji karyawan karena perubahan pangkat,

perubahan tarif gaji, tambahan keluarga harus didasarkan pada

surat keputusan direktur utama.

(2.3). Setiap potongan atas gaji karyawan selain dari pajak

penghasilan karyawan harus didasarkan atas surat potongan

gaji yang diotorisasi oleh bagian personalia.

(2.4). Kartu jam hadir harus diotorisasi oleh fungsi pencatat waktu.

(2.5). Perintah lembur harus diotorisasi oleh kepala departemen

karyawan yang bersangkutan.

(2.6). Daftar gaji harus diotorisasi oleh fungsi personalia.

(2.7). Perubahan dalam kartu penghasilan karyawamn direkonsiliasi

dengan daftar gaji karyawan.

(3). Praktik yang Sehat

(3.1). Pemasukan kartu jam hadir ke dalam mesin pencatat waktu

harus diawasi oleh fungsi pencatat waktu.

(3.2). Pembuatan daftar gaji harus diverifikasi kebenaran dan

ketelitian perhitungannya oleh fungsi akuntansi sebelum

(52)

(3.3). Perhitungan pajak penghasilan karyawan direkonsiliasi dengan

catatan penghasilan karyawan.

(3.4). Kartu penghasilan karyawan disimpan oleh fungsi pembuat

daftar gaji.

(4). Karyawan yang Kompeten

(4.1). Dalam perekrutan karyawan dilaksanakan dengan

penyeleksian secara ketat melalui beberapa tahap antara lain

tes tertulis, tes wawancara dan tes kesehatan.

(4.2). Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi

karyawan perusahaan sesuai dengan tuntutan perkembangan

pekerjaan.

7). Bagan Alir Dokumen Sistem Akuntansi Penggajian

Berikut ini diuraikan sistem penggajian yang merupakan sistem

pembayaran atas jasa yang diserahkan oleh karyawan yang bekerja sebagai

manajer atau kepada karyawan yang gajinya dibayarkan bulanan, tidak

tergantung dari jumlah jam atau hari kerja atau jumlah produk yang

dihasilkan. Bagan alir dokumen sistem penggajian dapat dilihat pada

Gambar 2.12 sampai dengan 2.15 halaman 37dan seterusnya.

Jurnal untuk mencatat biya gaji dibuat dalam empat tahap berikut

(53)

(1). Tahap pertama. Berdasarkan dokumen buku kas keluar lembar ke-1,

dicatat oleh bagian utang kewajiban gaji ke dalam register bukti kas

keluar sebagai berikut:

Gaji dan Upah xxx

Bukti kas keluar yang akan dibayar xxx

Dalam jurnal tersebut digunakan rekening gaji dan upah sebagai

clearing account.

(2). Tahap kedua. Berdasarkan bukti memorial, bagian jurnal mencatat

distribusi biaya gaji kedalam jurnal umum sebagai berikut:

Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx

Biaya administrasi dan umum xxx

Biaya pemasaran xxx

Gaji dan upah xxx

Karena gaji karyawan di pabrik tidak berhubungan langsung dengan

pesanan tertentu, maka biaya gaji diperlakukan sebagai unsur biaya

overhead pabrik, sehingga biaya gaji karyawan pabrik dibebankan kedalam rekening biaya overhead pabrik sesungguhnya. Gaji karyawan fungsi-fungsi non produksi dibebankan kedalam rekening

biaya administrasi dan umum dan rekening biaya pemasaran.

(3). Tahap ketiga. Bagian jurnal mencatat pembayaran gaji kedalam

register cek sebagai berikut:

Bukti kas keluar yang akan dibayar xxx

(54)

(4). Tahap keempat. Berdasarkan bukti memorial yang dilampiri dengan

rekap daftar gaji, bagian kartu biaya mencatat biaya tenaga kerja

kedalam buku pembantu (kartu biaya). Kartu biaya ini berisi

rekerning pembantu yang merinci rekening-rekening kontrol: biaya

overhead pabrik sesungguhnya, biaya administrasi dan umum, dan biaya pemasaran.

(55)

Daftar 1

Bagian Pencatat Waktu Bagian Gaji dan Upah

Gambar 2.12 Sistem Akuntansi Penggajian

(56)

Bagian Utang

Keterangan:

KPK : Kartu Penghasilan Karyawan SPG : Surat Pernyataan Gaji

RDG : Rekap Daftar Gaji DG : Daftar Gaji

Gambar 2.13 Sistem Akuntansi Penggajian (lanjutan)

2

(57)

Bagian Kasa

Keterangan:

KPK : Kartu Penghasilan Karyawan SPG : Surat Pernyataan Gaji

RDG : Rekap Daftar Gaji DG : Daftar Gaji

Gambar 2.14 Sistem Akuntansi Penggajian (lanjutan)

4 kertu penghasilan Mengisi cek dan

memintakan uang ke amplop

gaji

Membubuhkan cap pada bukti dan

(58)

Bagian Jurnal Bagian Kartu Biaya

Keterangan:

RDG : Rekap Daftar Gaji BKK : Bukti Kas Keluar

Gambar 2.15 Sistem Akuntansi Penggajian (lanjutan)

(59)

4. PENGUJIAN PENGENDALIAN

Pengujian pengendalian (test of control) atau pengujian kepatuhan

(compliance tests) merupakan pengujian yang dilakukan terhadap efektivitas pengendalian intern dalam mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Untuk menguji kepatuhan terhadap pengendalian intern, dilakukan dua

macam pengujian yaitu:

1). Penggujian adanya kepatuhan terhadap pengendalian intern.

2). Pengujian tingkat kepatuhan terhadap pengendalian intern.

Berikut diuraikan lebih lanjut tentang pengujian kepatuhan dan pengujian

tingkat kepatuhan terhadap pengendalian intern.

1). Jenis Pengujian Pengendalian

Ada dua jenis pengendalian intern seperti yang telah disebutkan di

atas, yaitu:

(1). Pengujian Adanya Kepatuhan

Untuk menentukan apakah informasi mengenai pengendalian

intern yang diumpulkan benar-benar ada, dilakukan dua macam

pengujian, yaitu:

(1.1). Pengujian transaksi dengan cara mengikuti pelaksanaan

transaksi tertentu.

Dalam membuktikan adanya kepatuhan pengendalian intern,

dapat dipilih transaksi tertentu kemudian dilakukan pengamatan

(60)

transaksi tersebut, sejak transaksi tersebut dimulai sampai

dengan selesai.

(1.2). Pengujian transaksi tertentu yang telah terjadi dan yang telah

dicatat.

Dalam hal ini harus dipilih transaksi tertentu kemudian

mengikuti pelaksanaannya (reperforming) sejak awal sampai selesai, melalui dokumen-dokumen yang dibuat dalam transaksi

tersebut dan pencatatannya dalam catatan akuntansi.

(2). Pengujian Tingkat Kepatuhan

Dalam pengujian tingkat kepatuhan terhadap pengendalian intern

dapat ditempuh beberapa prosedur audit berikut ini:

(2.1). Memeriksa kelengkapan dokumen pendukung suatu transaksi

yang diambil sampelnya. Tujuan pengujian ini adalah untuk

mendapatkan kepastian suatu transaksi telah diotorisasi oleh

pejabat-pejabat yang berwenang.

(2.2). Melaksanakan pengujian bertujuan ganda (dual-purpose test),

yang merupakan kombinasi antara pengujian yang tujuannya

untuk menilai efektivitas pengendalian intern (pengujian

pengendalian) dan pengujian yang tujuannya menilai kewajaran

informasi yang disajikan dalam laporan keuangan (pengujian

(61)

2). Tipe Pengujian Pengendalian

Ada dua tipe pengujian pengendalian, yaitu: (Abdul Halim, 1995:199)

(1). Concurrent test of control yaitu pengujian pengendalian yang dilaksanakan seiring dengan prosedur untuk memperoleh pemahaman

mengenai pengendalian intern.

(2). Pengujian pengendalian tambahan atau yang direncanakan (additional or planned test of control) yaitu pengujian yang dilaksanakan selama pekerjaan lapangan.

3). Prosedur Untuk Melaksanakan Pengujian Pengendalian

Ada empat prosedur untuk melaksanakan pengujian pengendalian,

yaitu: (Abdul Halim 1995:200)

(1). Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan

Pengajuan pertanyaan kepada para karyawan dilakukan berkaitan

dengan evaluasi atas kinerja tugas mereka. Pengajuan pertanyaan

kepada para karyawan pada umumnya tidak akan menghasilkan bukti

yang kuat mengenai efektivitas operasi pengendalian. Meskipun

demikian, prosedur ini kadang lebih tepat digunakan untuk suatu

pemeriksaan daripada prosedur lainnya. Dari pengajuan pertanyaan

terhadap karyawan ini dapat ditentukan pengendalian aksses atas

(62)

(2). Pengamatan terhadap karyawan dalam pelaksanaan tugasnya

Observasi terutama dilakukan terhadap pengendalian yang tidak

menghasilkan jejak bukti. Beberapa jenis kegiatan pengendalian tidak

meninggalkan jejak bukti. Prosedur selain obeservasi tidak akan efektif

digunakan untuk menilai kegiatan pengendalian tersebut. Contoh

kegiatan pengendalian yang tidak meninggalkan jejak bukti adalah

pemisahan tugas yang mengandalkan beberapa orang tertentu untuk

melaksanakan tugas khusus.

(3). Melakukan inspeksi terhadap dokumen, catatan dan laporan

Inspeksi dapat dilakukan terhadap dokumen, catatan dan laporan yang

mengindikasikan kinerja pengendalian. Banyak kegiatan pengendalian

yang meninggal jejak bukti. Prosedur yang paling efektif untuk menilai

kegiatan pengendalian tersebut adalah inspeksi dokumen, catatan dan

laporan. Inspeksi terhadap dokumen, catatan dan laporan tersebut

untuk memastikan bahwa dokumen, catatan dan laporan telah:

lengkap, dibandingkan dengan dokumen lain, dan ditandatangani

sebagaimana mestinya.

(4). Mengulang kembali pelaksanaan pengendalian

Ada beberapa kegiatan pengendalian yang meninggalkan jejak bukti

yang berupa dokumen, catatan dan laporan, tetapi isinya kurang

mencukupi untuk menilai efektivitas operasi pengendalian. Prosedur

yang paling efektif digunakan untuk menilai kegiatan pengendalian

(63)

pengujian untuk menilai akurasi mekanis kegiatan pengendalian.

Sebagai contoh adalah penilaian ketepatan pemakai daftar harga

standar dalam menentukan harga jual barang dagangan.

Tiga prosedur pertama menghasilkan jenis bukti yang sama dengan

bukti yang dihimpun melalui pelaksanaan prosedur untuk memperoleh

pemahaman pengendalian intern. Perbedaan utamanya terletak pada

spesifikasi tujuan dan luas penggujian. Pada pengujian pengendalian, tujuan

yang ditetapkan lebih spesifik. Disamping itu, luas pengujian pengendalian

juga lebih ekstensif.

4). Penentuan Risiko Pengendalian

Dalam menentukan risiko pengendalian untuk setiap asersi, ada

beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu: (Abdul Halim, 1995:202)

(1). Mengidentifikasi salah saji potensial yang dapat terjadi untuk asersi

tersebut.

(2). Mengindentifikasi pengendalian yang dapat mencegah atau mendeteksi

salah saji.

(3). Menghimpun bukti dari pengujian pengendalian apakah rancangan dan

operasi pengendalian relevan adalah efektif.

(4). Mengevaluasi bukti yang diperoleh.

(5). Menetukan risiko pengendalian.

Indentifikasi salah saji potensial dapat dilakukan atas

(64)

keduanya dapat saling terkait. Misalnya identifikasi salah saji potensial atas

transaksi pembelian kredit, dan atas akun yang terkait seperti akun hutang

dagang dan persediaan atau pembelian.

Setelah identifikasi salah saji potensi, maka perlu diidentifikasi

pengendalian yang diperlukan dan relevan untuk mencegah atau

mendeteksi salah saji potensial tersebut. Hal ini dapat dicocokkan dengan

pengendalian yang diidentifikasi pada saat memahami dan mengevaluasi

kebijakan pengendalian intern.

Hal yang perlu diingat dalam mengindetifikasi pengendalian yang

relevan adalah bahwa pengendalian-pengendalian tentang lingkungan

pengendalian, dan sistem akuntansi mungkin dapat diterapkan pada lebih

dari satu asersi. Misalnya, bila manajemen secara efektif menggunakan

anggaran dalam mengendalian pengeluaran atau biaya, pengaruhnya dapat

pada tiga asersi yaitu asersi tentang keberadaan, kelengkapan, dan

penilaian. Demikian sebaliknya, prosedur pengendalian hanya dapat

diterapkan pada satu asersi. Misalnya, penggunaan formulir faktur

penjualan yang berurut nomor tercetak hanya relevan untuk asersi

kelengkapan terhadap kelompok transaksi penjualan.

Langkah selanjutnya setelah mengindentifikasi pengendalian yang

relevan untuk mencegah salah saji potensial adalah menghimpun bukti

melalui pengujian pengendalian. Kemungkinan pengujian pengendalian

(65)

dilakukan. Pengujian yang dilakukan tentunya setelah mempertimbangkan

jenis bukti yang diinginkan, dan biaya pengujian tersebut.

Dari hasil pengujian tersebut akan dievaluasi bukti-bukti yang

diperoleh. Setelah bukti-bukti diperoleh kemudian ditentukan tingkat risiko

pengendaliannya.

5. SAMPLING AUDIT

Setelah diputuskan prosedur pengujian yang dipilih, perlu ditentukan

jumlah item yang tepat sebagai sampel dari suatu populasi untuk pengujian

tersebut. Di samping itu, harus ditentukan pula bagian populasi mana yang

dipilih sebagai sampel.

Pemilihan sampel dilakukan dengan maksud untuk memperoleh sampel

yang representatif. Sampel yang representatif adalah sampel yang mempunyai

karakteristik yang sama dengan karakteristik populasi.

Di samping itu, sampel harus mengandung stabilitas, yaitu apabila jumlah

sampel ditambah, maka hasilnya harus sama, dan tidak berubah. Pada

kenyataannya, tidak akan dapat diketahui apakah sampel yang diambil

merupakan sampael representatif, meskipun pengujian telah selesai dilakukan

seluruhnya. Maksimal hanya dapat meningkatkan kualitas pengambilan sampel

menjadi mendekati kualitas sampel yang representatif. Hal tersebut dapat

dilaksanakan dengan cara merancang dan melakukan seleksi sampel, dan

(66)

1). Definisi Sampling

Ikatan Akuntan Indonesia melalui Standar Profesional Akuntan

Publik seksi 350 mendefinisikan sampling audit sebagai:

Penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo akun atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karekteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.

Sampilng audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian

pengendalian maupun pengujian substanstif, dan jika diterapkan dengan

semestinya akan dapat menghasilkan bukti audit yang cukup. (Abdul

Halim, 1995:218)

2). Pendekatan Sampling Audit

Standar Profesional Akuntan Publik menyatakan bahwa:

Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditor.

Ada dua pendekatan sampling audit yang dapat dipilih untuk memperoleh

bukti audit kompeten yang cukup. Kedua pendekatan tersebut adalah:

(1). Sampling statistik

Pengambilan anggota sampel dalam sampling statistik dipilih

secara acak dari seluruh anggota populasi dan menganalisis hasil

pemeriksanaan terhadap anggota sampel secara sistematis. Sampling

(67)

(1.1). Attribute sampling (proportional sampling)

Digunakan terutama untuk menguji efektivitas pengendalian

intern (dalam pengujian kepatuhan). Ada tiga model attribute sampling yaitu fixed-sample-size attribute sampling, stop-or-go–sampling, dan discovery sampling.

(1.1.1). Fixed-sample-size attribute samplig

Pengambilan sampel dengan model ini ditujukan untuk

memperkirakan persentase terjadinya mutu tertentu

dalam suatu populasi. Model ini terutama digunakan

jika melakukan pengujian kepatuhan terhadap unsur

pengendalian intern dan memperkirakan akan dijumpai

beberapa penyimpangan atau kesalahan. Adapun

prosedur penggunaan metode dengan fixed-sample-size attribute sampling adalah sebagai berikut: penentuan

attribute yang akan diperiksa untuk menguji efektivitas pengendalian intern, penentuan populasi yang akan

diambil sampelnya, penentuan besarnya sampel, untuk

itu harus dipertimbangkan faktor-faktor berikut ini:

penentuan tingkat keandalan (realiability level/confidence level) atau disingkat dengan R%. Dalam pengujian kepatuhan, pada umumnya

digunakan R% sebesar 90%, 95% dan 99%, penaksiran

(68)

Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (desire upper precision limit atau DUPL), penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan

besarnya sampel. Pemilihan anggota sampel dari

seluruh anggota populasi. Pemeriksaan terhadap

attribute yang menunjukkan efektivitas unsur pengendalian intern. Evaluasi hasil pemeriksaan

terhadap attribute anggota sampel.

(1.1.2). Stop-or-go sampling/decision attribute sampling

Model ini mencegah pengambilan sampel yang terlalu

banyak, yaitu dengan cara menghentikan pengujian

sedini mungkin. Model ini digunakan jika yakin bahwa

kesalahan yang diperkirakan dalam populasi sangat

kecil. Adapun prosedur menggunakan metode stop-or-go-sampling adalah sebagai berikut: Menentukan

desired upper precision limit dan tingkat keandalan. Tingkat keandalan yang disarankan dalam stop-or-go sampling adalah 90%, 95%, atau 97,5%. Menggunakan tabel besarnya sampel minimum untuk pengujian

pengendalian guna menentukan sampel pertama yang

(69)

selanjutnya adalah membuat tabel keputusan stop-or-go. Jika dalam pemeriksaan pertama terhadap besarnya sampel yang telah ditentukan tidak ditemukan

kesalahan maka akan dihentikan pengambilan sampel,

dan diambil kesimpulan bahwa unsur pengendalian

intern yang diperiksa adalah efektif. Pengambilan

sampel dihentikan jika DUPL = AUPL (desired upper precision limit sama dengan achieved upper precision limit). Pada tingkat kesalahan sama dengan 0, AUPL dapat dihitung dengan rumus: (Mulyadi, 1998:256)

Jika AUPL > DUPL maka perlu mengambil sampel

tambahan. Sampel tambahan ini dapat dihitung

dengan menggunakan rumus: (Mulyadi, 1998:259)

Pengambilan sampel ini dihentikan jika AUPL =

DUPL, tetapi jika dari empat kali tambahan sampel

(70)

ditarik kesimpulan bahwa unsur pengendalian intern

yang diperiksa tidak dapat dipercaya.

(1.1.3). Discovery Sampling

Digunakan jika tingkat kesalahan yang diperkirakan

dalam populasi sangat rendah. Discovery sampling

dipakai untuk menemukan kecurangan, pelanggaran

yang serius dari unsur pengendalian intern dan

ketidakberesan yang lain. Prosedur yang digunakan

dalam metode discovery sampling adalah: Menentukan

attribute yang akan diperiksa. Menentukan populasi dan besar populasi yang akan diambil sampelnya,

menentukan tingkat keandalan, menentukan desire upper precision limit, menentukan besarnya sampel, memeriksa attribute sampel, mengevaluasi hasil pemeriksaan terhadap karakteristik sampel. (Mulyadi,

1998:260)

(1.2). Variable sampling

Variable sampling adalah teknik statistik yang digunakan untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk

mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas

(71)

Jika variable sampling digunakan untuk memperkirakan saldo suatu akun, hasil perhitungannya akan berupa nilai rupiah

(rerata sampel dikalikan dengan besarnya populasi) ditambah

atau dikurangi dengan suatu interval jumlah rupiah pada tingkat

kepercayaan yang diinginkan.

Variable sampling dapat juga digunakan untuk menilai kewajaran saldo suatu unsur yang dicantumkan di dalam

laporan keuangan. (Mulyadi, 1998:274)

(2). Sampling Non Statistik

Sampling non statistik merupakan pengambilan sampel yang

dilakukan berdasarkan kriteria subyektif. Dalam penentuan besarnya

sampel yang diambil dan dalam pelaksanaan evaluasi atas sampel

(72)

54 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah studi kasus, yaitu suatu

penelitian terhadap obyek tertentu yang populasinya terbatas sehinga

kesimpulan yang diambil berdasarkan penelitian ini hanya berlaku terbatas

bagi obyek yang diteliti dan berlaku waktu tertentu.

2. Tempat dan Waktu Penelitian 1). Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT Telkom Divisi Regional II Jakarta,

Jl. Gatot Subroto Kav. 352 Jakarta Selatan.

2). Waktu penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tangal 24 September sampai

dengan 24 Oktober 2001.

3. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah:

1). Bagian Layanan SDM

2). Bagian Pengembangan SDM

3). Bagian Keuangan

Gambar

Gambar 2.1 Daftar Hadir Karyawan
Gambar 2.2 Kartu Jam Hadir
Gambar 2.3 Kartu Jam Kerja
Gambar 2.5 Rekap Daftar Gaji
+7

Referensi

Dokumen terkait

This score is used to segment customers using k-means algorithm to interpret Garuda Frequent Flyer member purchasing behavior which is important for

perbedaan dalam proses penyidikan yang mana pelakunya adalah orangtua kandung dibandingkan dengan pelakunya orang lain.. 1) Tinjauan Yuridis pada proses penyidikan polisi

Penelitian tindakan kelas dengan judul : “Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas II

International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XL-1/W1, ISPRS Hannover Workshop 2013, 21 – 24 May 2013, Hannover, Germany.. and

Laporan ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Program Diploma 3 Hiperkes dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

apprenants s’ennuient quand ils étudient dans la même situation et la même technique, mais la tehnique SQSG peut donner la compétence de la compréhension écrite

[r]

1) Ketika tingkat suku bunga mengalami kenaikan, maka bank mengalami kenaikan pendapatan bunga dengan prosentase yang lebih besar dibanding dengan prosentase kenaikan