SIMULASI PRODUKSI BENIH TANAMAN TOMAT (Lycopersicum Esculentum Mill.) DI LAPANG
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
Disusun Sebagai Persyaratan Ujian Akhir Praktikum Produksi Benih
Disusun Oleh : Kelas VII A Kelompok 5
Yayan Faesal NIM. 201410200311038
LABORATORIUM AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
ii
Segala puji dan syukur penulis haturkan pada Allah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
dapat terselesaikannya kegiatan dan laporan praktikum “SIMULASI PRODUKSI BENIH TANAMAN TOMAT (Lycopersicum Esculentum Mill.) DI LAPANG” ini. Dalam penyelesaian laporan ini penyusun telah berusaha semaksimal mungkin guna menuangkan semua ilmu yang didapat dari berbagai referensi, namun dengan segala keterbatasan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan kemampuan yang penulis miliki, penulis menyadari bahwa laporan ini masih kurang dari makna kesempurnaan. Melalui kesempatan ini penulis mengucapkan kata dan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Orang Tua penyusun, selaku pembakar semangat penulis untuk terus berusaha lebih dan lebih.
2. Dr. Ir. Ali Ikhwan, MP. selaku ketua jurusan AGRONOMI. 3. Kakak Saefurrohman selaku asisten praktikum.
4. Teman-teman kelompok 5 praktikum Produksi Benih,
5. dan teman-teman agroteknologi 2014 yang senantiasa memberikan sharing untuk terus mencapai hasil laporan seoptimal mungkin.
Kritik dan saran yang membangun selalu penyusun tunggu demi membuat karya tulis ilmiah yang lebih baik. Semoga laporan ini bermanfaat bagi yang membaca dikemudian hari.
Malang, 18 Desember 2017
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Tanaman Tomat ... 3
2.2 Roguing ... Error! Bookmark not defined. BAB III. METODE PRAKTIKUM ... 6
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ... 6
3.2 Alat dan Bahan ... 6
3.2.1 Alat... 6
3.2.2 Bahan ... 6
3.3 Langkah Kerja ... 6
3.3.1 Simulasi Budidaya ... 6
3.3.2 Kegiatan Pengukuran Variable Pengamatan ... 6
3.3.3 Kegiatan Roguing ... 7
BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8
5.1 Simulasi Budidaya Tomat Untuk Produksi Benih Lapang ... 8
5.2 Pertumbuhan Tomat ... 9
iv
5.2.2 Jumlah Daun ... 10
5.2.3 Jumlah Cabang ... 11
5.2.4 Waktu Pembungaan ... 11
5.2.5 Jumlah Bunga per Tanaman ... 12
5.2.6 Jumlah Buah per Tanaman ... 13
5.3 Roguing ... 13
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 15
5.4 Kesimpulan ... 15
5.5 Saran ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 16
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Halaman
vi
DAFTAR LAMPIRAN
No. Teks Halaman
1 Lampiran 1. Data Pengamatan Lapang 17
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan tanaman hortikultura yang hampir ada pada tiap bahan untuk masakan dapur, sambal, salad, juice, dll. yang sangat populer di Indonesia. Seiring dengan berkembangnya teknologi, dewasa ini Tomat juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, kosmetik, serta bahan baku pengolahan makanan seperti saus, sari buah, dll. Oleh sebab itu Tomat merupakan salah satu sayuran yang multiguna sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Menurut data BPS (2016), produksi Tomat di Indonesia dari tahun 2013 - 2015 mengalami penurunan sebanyak 114.988 ton, dan kembali meningkat pada tahun 2016 sebanyak 0.62 %.
Semangun (2000) berpendapat bahwa budidaya tanaman Tomat tidak dapat terlepas dari berbagai kendala yang dapat memengaruhi produksinya. Penurunan produksi Tomat dapat berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yang paling berperan dalam produksi Tomat ialah varietas yang membawa sejumlah gen - gen tertentu, sedangkan faktor eksternal yang dominan yakni cara budidaya, adanya serangan organisme pengganggu tanaman, serta penggunaan peralatan dan bahan penunjang. Suatu cara paling mudah dalam mengamati pertumbuhan dan produksi Tomat ialah dengan mengamati sifat fenotipe yang dimilikinya. Fenotipe merupakan ekspresi dari gen dan lingkungan yang kemudian dapat terlihat dari perwujudan suatu tanaman. Gen sendiri biasanya akan diturunkan oleh induk tanaman kepada tanaman turunannya, entah itu melalui perkawinan silang maupun sendiri.
2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tahapan budidaya dalam produksi benih lapang tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill) di Lapang?
2. Bagaimanakah respon pertumbuhan tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill) yang dilaksanakan ?
3. Bagaimana simulasi Roguing dilakukan pada produksi benih lapang Tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill) ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka didapatkan tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui tahapan budidaya dalam produksi benih lapang tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill) di lapang.
2. Mengetahui respon pertumbuhan tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill) yang dilaksanakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Tomat
Tomat termasuk tanaman sayuran dalam family Solanaceae. Secara lengkap klasifikasi tanaman Tomat menurut Tugiyono (2005) adalah sebagai berikut : Kerajaan : Plantae
Divisi : Spermatophyta dataran rendah. Produksi Tomat kurang lebih 2 ton – 13 ton tiap hektar, tergantung pada varietas dan kesuburan tanaman. Tanaman Tomat memiliki akar tunggang yang tumbuh menembus tanah dan akar serabut yang tumbuh menyebar ke arah samping tetapi dangkal. Batang tanaman Tomat berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambut halus dan di antara bulu- bulu itu terdapat rambut kelenjar. Selain itu, batang tanaman Tomat dapat bercabang dan apabila tidak dilakukan pemangkasan akan bercabang banyak dan menyebar secara merata. Tanaman Tomat memiliki daun yang berwarna hijau dan berbentuk oval, dengan bagian tepi daun bergigi dan membentuk celah-celah yang menyirip serta sedikit melengkung kedalam. Daun Tomat merupakan daun majemuk ganjil, dengan jumlah helai daun antara 5-7 helai. Disela-sela daun terdapat 1- 2 pasang daun kecil yang berbentuk delta (Purwati dan Khairunisa, 2007).
4
warnanya menjadi merah. Buah Tomat yang masih muda memiliki rasa getir dan aromanya tidak enak, sebab masih mengandung zat lycopersicin yang berbentuk lendir. Aroma yang tidak sedap tersebut akan hilang dengan sendirinya pada saat buah memasuki fase pematangan hingga matang. Buah Tomat banyak mengandung biji lunak berwarna putih kekuning – kuningan yang tersusun secara berkelompok dan dibatasi oleh daging buah. Biji Tomat saling melekat karena adanya lendir pada ruang – ruang tempat biji tersusun (Cahyono, 2008). Biji Tomat berukuran kecil, dengan lebar 2 mm – 4 mm dan panjang 3 mm – 5 mm. biji berbentuk seperti ginjal, ringan, berbulu, dan berwarna coklat muda. Setiap gram berisi antara 200 – 500 biji tergantung varietasnya (Pracaya,1998).
2.2 Roguing
Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, oleh karena itu perlu dilakukan tahapan Roguing. Yang dimasud dengan Roguing adalah proses pemeriksaan kondisi tanaman pada areal produksi benih dan pembuangan tanaman yang tidak dikehendaki yang memiliki ciri berbeda. Tanaman-tanaman yang tidak diinginkan kehadirannya di areal produksi benih disebut Rogues. Rogues dapat terdiri atas gulma, tanaman species lain, tanaman varietas lain dalam satu spesies dan tanaman tipe simpang (off type).
Roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai dari fase vegetatif sampai akhir pertanaman. Tujuan Roguing adalah untuk mempertahankan kemurnian dan mutu genetik suatu varietas (Litbangtan. 2014).
dapat memhasili pertumbuhan tanaman utama. Yang tergolong tanaman off-type
ialah, gulma, tanaman varietas lain, dan tanaman spesies lain (voluntir).
6
BAB III
METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan praktikum ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2017. Bertempat di lahan kreativitas Agronomi UMM, Tegalgondo, Malang. 3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi, cangkul, ajir, tali rafia, pot semai, ATK, penggaris, dan alat dokumentasi,
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi, benih Tomat, sekam bakar, pupuk NPK Mutiara, dan pupuk kandang.
3.3 Langkah Kerja 3.3.1 Simulasi Budidaya
Adapun langkah yang dilaksanaan pada tahap simulasi budidaya ini antara lain meliputi :
1. Penyemaian bahan tanam (benih Tomat).
2. Penyiapan lahan dan pemberian pupuk kandang. 3. Penanaman bibit Tomat.
4. Pemeliharaan tanaman yang meliputi, pemupukan, dan pemasangan ajir. 3.3.2 Kegiatan Pengukuran Variable Pertumbuhan Budidaya
Langkah kerja dalam kegiatan pengukuran variable pengamatan meliputi : 1. Tinggi tanaman : tanaman diukur mulai dari batas tanaman dengan tanah
sampai dengan bagian tunas tanaman paling atas.
2. Jumlah daun : bagian daun tanaman dihitung keseluruhan jika daun sudah mekar sempurna.
3. Jumlah cabang : menghitung bagian cabang yang muncul dari tanaman Tomat.
5. Jumlah bunga per tanaman : menghitung keseluruhan bunga yang muncul pada tiap tanaman sampel.
6. Jumah buah per tanaman : menghitung buah yang terbentuk pada tiap tanaman sampel.
*Catatan: semua variable mulai diamati seminggu setelah pindah tanam. 3.3.3 Kegiatan Roguing
Langkah dalam kegiatan Roguing meliputi :
1. Mengamati tanaman lain yang tidak sesuai dengan morfologi tanaman utama.
2. Membuang tanaman yang tidak sesuai dengan morfologi tanaman utama. 3. Membuang tanaman yang kehadirannya tidak diinginkan (gulma, varietas
lain.).
8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Simulasi Budidaya Tomat untuk Produksi Benih Tomat di Lapang 1. Pemilihan Bahan Tanam
Bahan tanam atau benih yang dipergunakan ialah benih yang diambil dari tanaman sehat (tidak terserang hama penyakit), murni dan berdaya hasil atau produksi tinggi / hibrida. Benih yang diambil dari buah yang masih muda dapat memberikan daya kecambah yang rendah, pertumbuhan yang kurang baik, dan tidak dapat disimpan dalam waktu lama (mudah kisut-kisut). Benih yang cukup kering yang memiliki kandungan air 8 – 11 % dan disimpan ditempat yang kering dan agak dingin dapat memperpanjang umur benih tersebut (Sunaryono, 1981). 2. Penyemaian
Penyemain dilakuan karena benih tomat yang akan ditanam berukuran kecil, hal ini dilakukan agar di dapatkan tanaman yang seragam dan juga memudahkan perawatan waktu tanaman masih kecil (Bappenas, 2005). Tempat persemaian benih tomat berupa bak / ember yang bagian bawahnya dibuat lubang untuk mengalirkan air. Adapun media untuk persemaian digunakan sekam bakar. Lamanya waktu pembibitan sekitar 25-30 hari.
3. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah untuk penanaman bibit di lahan kreativitas agronomi dilakukan seminggu sebelum tanam dengan mencampurkan tanah dengan pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dicangkul. Tanah dibersihkan dari rumput, gulma dan sisa-sisa pertanaman sebelumnya. Tanah diolah sedalam 30-40 cm dengan menggunakan cangkul atau traktor. Pengolahan tanah ini harus memperhatikan kegemburan, struktur tanah, dan kedalaman solum atau kedalaman lapisan olah (Pudjiatmoko. 2008 ).
4. Penanaman
membusuk. Tanah dilubang tanaman harus dihindari munculnya rongga yang dapat menyebabkan tanaman mati karena akarnya terkena panas (Wiryanta, 2002). 5. Pemupukan
Pemupukan adalah kegiatan untuk menambah zat makanan yang berguna bagi tanaman dalam tanah atau dengan kata lain agar zat makanan untuk tanaman itu bertambah. Dalam pembuatan media tanam, perlu ditambah pupuk kandang yang digunakan sebagai pupuk dasar. Pupuk kandang yang diberikan haruslah sudah matang, karena pupuk kandang yang belum matang dapat membawa penyakit. Pemberian pupuk dasar bertujuan untuk menambah zat-zat hara dan memperbaiki struktur tanah. Zat hara tersebut penting untuk pertumbuhan tanaman, sedangkan struktur tanah yang baik akan memudahkan akar menyerap zat hara teresebut (Trisnawati dan Setiawan, 1994). Pemupukan dilakukan pada umur seminggu setelah pindah tanam, dengan interval 2-4 minggu sekali, atau dengan dilarutkan dalam air dengan interval 3-14 hari sekali (kocoran). Pemupukan tidak hanya sekedar untuk menambah zat-zat hara dalam tanah, tetapi juga berusaha supaya zat-zat yang tidak mudah diserap tanaman itu menjadi mudah diserap tanaman (AAK, 1976).
6. Pemeliharaan
Sebagai usaha untuk menjaga pertumbuhan tanaman tomat, maka tanaman tomat yang telah ditanam dilahan perlu adanya perhatian dan pemeliharaan. Pemeliharaan yang intensif dapat dilakukan mulai tahap awal persemaian sampai panen. Pemeliharaan yang perlu dilakukan meliputi penyiraman, penyulaman, pemberian ajir, penyiangan, pemangkasan, serta pemberantasan hama dan penyakit (Trisnawati dan Setiawan, 1994). Perawatan tanaman yang terpenting, terdiri atas : pembersihan gulma, memberi air bila kekeringan dan membuang air apabila kondisi tergenang, memasang ajir dari bambu agar tanaman tidak roboh, mengadakan pemberantasan hama dan penyakit sebelum terlambat (Sunaryono, 1981).
5.2 Variabel Pertumbuhan Tomat 5.2.1 Tinggi Tanaman
10
tanaman tertinggi adalah tanaman ke- 3 dan 6, 2, 5, 1, dan 4. Data pertumbuhan tinggi tanaman Tomat dapat dilihat pada Gambar 1. :
Gambar 1. Grafik pengamatan tinggi tanaman tomat
Pupuk NPK yang diberikan memiliki unsur N yang berfungsi memacu perkembangan organ vegetatif tanaman yang salah satunya ialah tinggi tanaman. Pertumbuhan tinggi tanaman ditentukan oleh perkembangan dan pertumbuhan sel. Makin cepat sel membelah dan memanjang (membesar) semakin cepat tanaman meninggi. Pertumbuhan tersebut berhubungan dengan kandungan unsur hara N dalam tanah yang merupakan unsur penting dalam pertumbuhan tanaman. Apabila unsur N rendah maka tanaman akan mengalami kekahatan yang menyebabkan tanaman terganggu dan hasilnya menurun (Hardjowigeno, 2007).
5.2.2 Jumlah Daun
Pemberian pupuk NPK pada selang 3 minggu sekali memberikan hasil yang meningkat pada perkembangan jumlah daun tanaman Tomat. Secara berturut-turut jumlah daun tertinggi pada tanaman Tomat ialah pada tanaman ke- 6, 3, 5, 2, 4, dan 1. Data perkembangan jumlah daaun tanaman Tomat dapat dilihat pada Gambar 2. :
Gambar 2. Grafik Pengamatan jumlah daun tanaman tomat
Pemberian Pupuk NPK memiliki fungsi yang salah satunya untuk memacu pertumbuhan vegetatif karena memiliki kandungan unsur hara N (nitrogen). Unsur N merupakan salah satu hara utama bagi pertumbuhan vegetatif tanaman seperti daun, akar, dan batang. Peranan utama nitrogen bagi tanaman adalah untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan daun (Hardjowigeno, 2007).
5.2.3 Jumlah Cabang
Pemberian dosis pupuk NPK pada selang waktu 3 minggu sekali tidak memberikan hasil terhadap pembentukan cabang tanaman Tomat sampai akhir pengamatan. Hal ini diduga saat awal sampai akhir praktikum terdapat munculnya hujan yang hampir setiap hari, sehingga kondisi bedengan menjadi sangat basah dan tergenang air. Kebanyakan air akan merugikan tanaman sebab mempengaruhi fase pertumbuhan tanaman secara vegetatif maupun generatif, hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Gardner et al. (1991), yang menyatakan bahwa percabangan pada tanaman dihasili oleh beberapa faktor, salah satunya adalah air dan mineral. Percabangan sangat tergantung pada faktor faktor yang menguntungkan pertumbuhan vegetatif yang cepat.
5.2.4 Waktu Pembungaan
Hasil pengamatan pada waktu pembungaan, tanaman Tomat mulai berbunga pada, Tanaman 1 (45 HST), Tanaman 2 (45 HST), Tanaman 3 (45 HST),
9
12
Tanaman 4 (Belum berbunga), Tanaman 5 (Belum Berbunga), Tanaman 6 (42 HST). Waktu tanaman mulai memasuki fase pembungaan merupakan peralihan dari fase vegetatif ke generatif yang sebagian ditentukan oleh faktor genetik dan sebagian lagi ditentukan oleh faktor lingkungan seperti suhu, cahaya kelembaban dan unsur hara. Hal tersebut didukung oleh literatur dari Darjanto dan Satifah (1984), bahwa pembentukan bunga adalah peralihan dari fase vegetatif ke fase generatif. Dalam hal ini faktor genetik lebih dominan memhasili umur berbunga dibandingkan dengan faktor lingkungan.
5.2.5 Jumlah Bunga per Tanaman
Hasil pengamatan jumlah bunga pertanaman secara total dan berturut-turut ialah, Tanaman 1 (2 buah), Tanaman 2 (3 buah), Tanaman 3 (2 buah), Tanaman 4 (Belum berbunga), Tanaman 5 (Belum Berbunga), Tanaman 6 (3 buah). Data pengamatan jumlah bunga pertanaman ditunjukkan pada Gambar 3. :
Gambar 3. Grafik jumlah bunga per tanaman tomat
Jumlah bunga pertanaman diduga berkaitan dengan ketersediaan dan serapan hara P dan K oleh tiap tanaman yang dimanfaatkan untuk pembentukan bunga. Wiryanta (2004) menyatakan bahwa fungsi fosfor adalah untuk pertumbuhan bunga dan pemasakan buah, kekurangan unsur fosfor pada tanaman Tomat akan menyebabkan pertumbuhan generatifnya terganggu. Menurut Lingga dkk. (2006), unsur kalium berperan untuk mengaktifkan kerja beberapa enzim,
1
memacu distribusi karbohidrat dari daun ke organ tanaman lainnya salah satunya dalam pembentukan bunga.
5.2.6 Jumlah Buah per Tanaman
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman Tomat sampai hari terakhir pengamatan belum menunjukkan adanya buah yang terbentuk. Hal tersebut diduga karena frekuensi hujan pada saat praktikum terbilang tinggi dan membuat bunga Tomat gugur atau sebagian yang telah dibuahi menjadi busuk. Hujan juga menyebabkan tepung sari menjadi busuk dan tidak mempunyai viabilitas lagi. Kepala putik dapat busuk karena kelembaban yang tinggi. Selain itu, aktivitas serangga penyerbuk juga berkurang saat kelembaban tinggi. Apabila terjadi kerusakan pada tepung sari dan kepala puti berarti penyerbukan telah gagal. Hal ini juga berarti bahwa pembuahan dan selanjutnya, panen, telah gagal dan harus menunggu tahun berikutnya (Ashari, 2006).
5.3 Roguing
Berdasarkan hasil yang dilakukan pada kegiatan Roguing, maka keseluruhan tanaman Rogues yang didapatkan ialah, tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides), Patikan Kebo (Euphorbia hirta), Rumput Teki(Cyperus rotundus) , dan tanaman Krokot (Portulaca quadrifida L.). Data hasil tanaman Rogues
disajikan pada Gambar 4 :
Gambar 4. Grafik tanaman rogues yang didapatkan
4
14
Rogues yang didapatkan kesemua hasil merupakan gulma tanaman utama. Gulma yang didapatkan berasal dari famili yang berbeda, yaitu famili Asteraceae (Ageratum Conyzoides), Euphorbiaceae (Euphorbia Hirta), Cyperaceae (Cyperus Rotundus), dan Portulacaceae (Portulaca Quadrifida L.). Famili Asteraceae (berdaun lebar)dan Poaceae memiliki alat perkembangbiakan yang ringan sehingga mudah dipencar serta mudah hidup pada berbagai tipe habitat. Cyperaceae memiliki sifat ekologi yang hampir sama dengan Poaceae tetapi karena sifat hidupnya yang berumpun menyebabkan penyebarannya tidak merata. Suku Cyperaceae memiliki daya adaptasi yang tinggi, distribusi luas, dan mampu tumbuh pada lahan kering maupun tergenang (Rukmana dan Saputra, 1999).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.4 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pemaparan pembahasan dalam simulasi produksi benih lapang tanman Tomat, maka didapatkan kesimpulan sebaai berikut :
1. Tahapan dalam simulasi produksi benih lapang tanaman Tomat yang telah dilakukan meliputi, pemilihan bahan tanam, penyemaian, pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, dan pemeliharaan.
2. Pertumbuhan tanaman Tomat pada tiap variable pengamatan memberikan hasil bahwa,
3. Simulasi pada kegiatan Roguing meliputi pengamatan tanaman yang muncul dan memiliki ciri morfologi yang berbeda dari tanaman utama, kemudian mengambil dan membuang tanman tersebut untuk melindungi kemurnian varietas tanaman utama dan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman utama (Tomat).
5.5 Saran
16
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S., 2006. Meningkatkan Keunggulan Bebuahan Tropis Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Badan Litbang Pertanian. 2014. Roguing, Mempertahankan Kemurnian dan Mutu Genetik Varietas, (online at) http://www.litbang.pertanian.go.id. Diakses pada Kamis 14 Desember 2017.
Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Hortikultura 2016
Cahyono, Bambang. 2008. Tomat Usaha Tani & Pascapanen. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Darjanto dan S. Satifah. 1984. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang. Gramedia. Jakarta.
Faisal R., Edy Batara M.S., Nelly Anna. 2011. Inventarisasi Gulma Pada Tegakan Tanaman Muda. Universitas Sumatera Utara
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2017. Produksi Benih (Seed) Tanaman. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017, Mata Pelajaran/Paket Keahlian Agribisnis Perbenihan Dan Kultur Jaringan Tanaman.
Lingga, P. 2006. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nurhayati, Siti. 2017. Produksi Tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum Mill.) F1 Hasil Induksi Medan Magnet Yang Diinfeksi Fusarium Oxysporum F.Sp. Lycopersici. Skripsi. Universitas Lampung Bandar Lampung
Pracaya. 1998. Bertanam Tomat .Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Purwati, E. dan Khairunisa. 2007. Budidaya Tomat Dataran Rendah dengan
Gadjah Mada University -Press, Yogyakarta
Tugiyono. 2005. Tanaman Tomat. Agromedia Pustaka. Jakarta.
LAMPIRAN Lampiran 1. Data Pengamatan Lapang
Tabel 1. Hasil Pengamatan Produksi Benih Tomat Lapang Pengamatan
Ke- (MST)
Fase Vegetatif
Tinggi Tanaman Ke- (cm) Jumlah Daun Tanaman Ke- (buah) Jumlah Cabang Tanaman Ke- (buah)
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
1 9 11 9 8 9 10 9 10 10 9 10 11
2 17 21 20 15 15 23 19 22 29 21 19 38 3 21 30 33 20 24 32 31 35 43 32 36 65 4 28 40 41 25 32 41 48 52 60 50 55 88
Fase Gegetatif Awal Berbunga Tanaman Ke-
(HST) Berbunga 50% (HST)
Berbunga 75% (HST)
Jumlah Bunga per Tanaman (buah)
Jumlah Buah per Tanaman
1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6
45 45 45 42 45 2 3 2 3
18
Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan
Gambar 1. Penyemaian Benih Tomat Dalam Bak
Plastik.
Gambar 2. Penanaman Bibit Tomat.
Gambar 3. Penambahan Pupuk Kandang
Gambar 4. Pemberian Pupuk Tambahan Ke
Tanaman Tomat
Gambar 5. Kegiatan
Roguing Tanaman
Gambar 6. Bandotan