18 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang akan dilakukan tentu tidak terlepas dari penelitian-penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan obyek yang akan diteliti. Berikut uraian dari beberapa penelitian terdahulu beserta persamaan dan perbedaan dengan penelitian sekarang.
1. Muhamad Safiq et al. (2014)
Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian eksperimen dengan desain eksperimen 2x2 yaitu pembingkaian kontrak insentif (pembingkaian kontrak insentif positif/gain dan pembingkaian kontrak insentif negatif/loss) dan tuntutan hukum (tuntutan hukum tinggi dan tuntutan hukum rendah). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh pembingkaian kontrak insentif terhadap kebijakan pelaporan perusahaan hal tersebut membuktikan bahwa teori prospek dapat digunakan untuk menjelaskan keputusan akuntansi melalui framing effect; (2) terdapat pengaruh tuntutan hukum terhadap kebijakan akuntansi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan hal tersebut cenderung membuat manajamen (direktur keuangan) menyajikan laporan keuangan yang lebih konservatif dan (3) manajemen (direktur keuangan) semakin konservatif jika berada pada posisi gain dan tuntutan hukum tidak terdukung.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan variabel
framing effect dalam penelitian.
b. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan teori prospek dalam penelitian.
d. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel certainty effect sebagai variabel independen dan pada variabel dependen menggunakan keputusan manajemen (direktur keuangan). Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan variabel adalah pola penyajian informasi dan urutan informasi sebagai variabel independen dan variabel dependen menggunakan keputusan investasi.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu pembingkaian kontrak insentif (pembingkaian kontrak insentif positif/gain
dan pembingkaian kontrak insentif negatif/loss) dan tuntutan hukum (tuntutan hukum tinggi dan tuntutan hukum rendah). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan
framing dibalik).
d. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa program Magister Akuntansi dan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada (UGM). Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen STIE Perbanas Surabaya.
e. Penelitian terdahulu hanya menggunakan uji statistik ANOVA. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
2. Erlinda Kusuma Wardani dan Sukirno (2014)
Penelitian yang dilakukan oleh Erlinda Kusuma Wardani dan Sukirno (2014) terkait dengan Pengaruh Framing Effect Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi dengan Locus of Control sebagai Variabel Pemoderasi yang bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh framing effect terhadap pengambilan keputusan investasi; (2) mengetahui pengaruh framing effect terhadap pengambilan keputusan investasi dengan locus of control sebagai variabel pemoderasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel framing effect (positive framing dan negative framing) sebagai variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah pengambilan keputusan investasi. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan variabel pemoderasi yaitu locus of control. Partisipan yang digunakan peneliti sebanyak 45 mahasiswa Jurusan Prodi Akuntansi 2010 dan Prodi Akuntansi 2011 pada Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian eksperimen dengan desain eksperimen 2x2 yaitu
framing effect (positive framing dan negative framing) dan locus of control
Wardani dan Sukirno (2014) menggunakan 16 item pertanyaan pada tahap
treatment untuk menentukan tingkat locus of control partisipan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Univariate ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengambil keputusan yang berada pada kondisi positive framing akan melakukan investasi karena tidak terpengaruh oleh risiko yang akan ditanggung; (2) pengambil keputusan pada kondisi negative framing akan melakukan investasi; (3) adanya indikasi bahwa tidak terdapat pengaruh locus of control pada pengambilan keputusan investasi yang dikarenakan pengambilan keputusan dengan internal maupun external locus of control mengambil keputusan yang sama yaitu melakukan investasi.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menguji pengaruh framing effect dalam pengambilan keputusan investasi.
b. Partisipan yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian sekarang merupakan investor non profesional/mahasiswa.
c. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel pemoderasi yaitu locus of control. Sedangkan pada penelitian sekarang tidak menggunakan variabel pemoderasi.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu framing effect (positive framing dan negative framing) dan locus of control
(internal dan external). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step
dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik).
c. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa Prodi Akuntansi 2010 dan Prodi Akuntansi 2011 pada Universitas Negeri Yogyakarta. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
d. Penelitian terdahulu hanya menggunakan uji statistik Univariate ANOVA. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
3. Luciana Spica Almilia dan Supriyadi (2013)
dan end of sequence (EoS)) dan (2) urutan informasi (+ + - - atau - - + +) sebagai variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah revisi keputusan oleh investor yang berhubungan evaluasi saham perusahaan. Partisipan yang digunakan oleh peneliti sebanyak 173 partisipan akan tetapi hanya 93 partisipan yang menjawab. Partisipan tersebut adalah mahasiswa Jurusan Akuntansi pada Universitas di Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain eksperimen 2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence) dan urutan informasi (good news
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menguji pengaruh pola penyajian informasi dan urutan informasi dalam pengambilan keputusan investasi.
b. Partisipan yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian sekarang merupakan investor non profesional/mahasiswa.
c. Penelitian terdahulu dan sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen..
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu tidak menggunakan variabel framing effect dalam penelitiannya. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan variabel
framing effect dalam penelitian.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence) dan urutan informasi (good news diikuti dengan bad news dan sebaliknya bad news
diikuti dengan good news). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step
c. Pada teori yang digunakan penelitian terdahulu menggunakan model belief adjustment. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan teori prospek, teori fuzzy trace dan teori mental probabilistik.
d. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa jurusan Akuntansi pada Universitas di Surabaya. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
e. Penelitian terdahulu menggunakan uji statistik ANOVA dan uji
independent sample t-test. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
4. Luciana Spica Almilia et al. (2013)
Penelitian yang dilakukan oleh Luciana Spica Almilia et al. (2013) terkait dengan Belief Adjusment Model in Invesment Decision Making yang bertujuan untuk (1) menguji pengaruh urutan penyajian informasi dalam pengambilan keputusan investasi; (2) menguji pengaruh pola penyajian informasi dalam pengambilan keputusan investasi. Variabel yang digunakan oleh peneliti adalah (1) pola penyajian informasi (step by step (SbS) dan end of sequence
manajemen dengan kriteria telah menempuh mata kuliah Analisa Laporan Keuangan dan Manajemen Investasi dan Pasar Modal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain eksperimen 2x2x3 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (good news diikuti dengan bad news dan sebaliknya bad news diikuti dengan good news) dan jenis informasi (informasi akuntansi, informasi non-akuntansi dan gabungan antara informasi non-akuntansi dengan non-non-akuntansi). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan alat uji statistik independent sampel t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terbukti bahwa terdapat efek urutan informasi dalam pengambilan keputusan investasi untuk informasi yang disajikan sekuensial/step by step; (2) tidak terjadi efek urutan informasi dalam pengambilan keputusan investasi untuk informasi yang disajikan secara simultan/end of sequence. Secara keseluruhan dari hasil penelitian ini sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Luciana Spica dan Supriyadi (2013) namun hanya terdapat penambahan klasifikasi jenis informasi yang terdiri dari informasi akuntansi, informasi non-akuntansi dan gabungan antara informasi akuntansi dengan non-akuntansi.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
b. Partisipan yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian sekarang merupakan investor non profesional/mahasiswa.
c. Penelitian terdahulu dan sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel jenis informasi (informasi akuntansi, informasi non-akuntansi dan gabungan antara informasi akuntansi dengan non-akuntansi) sebagai variabel independen. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan variabel framing effect sebagai variabel independen.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2x3 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (good news diikuti dengan bad news dan sebaliknya bad news diikuti dengan good news) dan jenis informasi (informasi akuntansi, informasi akuntansi dan gabungan antara informasi akuntansi dengan non-akuntansi). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect
(framing sesuai informasi dan framing dibalik).
e. Penelitian terdahulu hanya menggunakan uji statistik independent sample t-test. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
5. Dipankar Ghosh dan Anne Wu (2012)
Penelitian yang dilakukan oleh Dipankar Ghosh dan Anne Wu (2012) terkait dengan The Effect of Positive and Negative Financial and Nonfinancial
Performance Measure on Analysts’ Recommendations yang bertujuan untuk
menguji tingkat keuntungan atau tidak menguntungkan hasil dari ukuran financial
dan non financial pada rekomendasi analisa keuangan untuk melepaskan atau investasi di dalam perusahaan. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah (1) performance measure (financial and non-financial) dan (2) their favorableness (favorable and unfavorable) sebagai variabel independen sedangkan untuk variabel dependennya adalah recommendation ratings.
Partisipan yang digunakan oleh peneliti sebanyak 104 orang analis keuangan dengan skala rating satu sampai dengan sebelas yang dimulai dari sell, hold dan
maka ukuran non-financial yang favorable lebih besar dibandingkan dengan ukuran non-financial yang unfavorable.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
b. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan informasi non akuntansi.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel performance measure
(financial and non-financial) dan their favorableness (favorable and unfavorable) sebagai variabel independen dan untuk variabel dependennya adalah recommendation ratings. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan variabel pola penyajian informasi, urutan informasi dan
framing effect sebagai variabel independen dan untuk variabel dependen menggunakan keputusan investasi.
dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik).
c. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis deskriptif, uji hipotesis, ANOVA dan t-test. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
d. Sampel yang digunakan oleh penelitian terdahulu adalah seorang analis keuangan. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
6. Muhammad Nur Yahya dan Jen Surya (2012)
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Nur Yahya dan Jen Surya (2012) terkait dengan Pengaruh Framing Effect sebagai Determination Escalation of Commitment dalam Keputusan Investasi: Dampak dari Working Experiences
tidak berpengalaman). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa framing effect berpengaruh sebagai determinan eskalasi komitmen, akan tetapi tergantung dari latar belakang tingkat pengalaman kerja. Frame seperti yang ada pada teori prospek yaitu berpengaruh kepada subjek yang tidak berpengalaman, akan tetapi tidak berpengaruh kepada subjek yang berpengalaman.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menguji pengaruh framing effect dalam pengambilan keputusan investasi.
b. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
c. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan teori prospek dalam penelitian.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
framing effect sebagai variabel independen dan untuk variabel dependen menggunakan pengambilan keputusan investasi.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu variabel jenis bingkai keputusan (bingkai keputusan positif dan bingkai keputusan negatif) dan pengalaman kerja (berpengalaman dan tidak berpengalaman). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik).
c. Sampel yang digunakan oleh penelitian terdahulu adalah manajer berpengalaman dan mahasiswa S1 Jurusan Akuntansi. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
d. Penelitian terdahulu hanya menggunakan uji statistik ANOVA. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
7. Robert Pinsker (2011)
Penelitian yang dilakukan oleh Robert Pinsker (2011) terkait dengan
Primacy or Recency? A Study of Order Effects when Nonprofessional Investors
effect ketika dibandingkan dalam pola penyajian. Sedangkan untuk tujuan khususnya terletak pada hipotesis yaitu (1) untuk menguji informasi panjang baik pada kondisi simultan maupun kondisi sekuensial tidak terjadi efek yang berkepanjangan; dan (2) untuk menguji apabila diberikan informasi 40 informasi baik positif maupun negatif, investor non-profesional cenderung lebih besar signifikan pada informasi sekuensial daripada simultan. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) pola penyajian informasi (step by step (SbS) dan
end of sequence (EoS)) dan (2) urutan informasi (+ + - - atau - - + +) sebagai variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah stock price judgement. Partisipan yang digunakan oleh peneliti sebanyak 127 partisipan mahasiswa undergraduate business dari jurusan Akuntansi pada Universitas Florida Selatan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan desain eksperimen 2x2 yaitu adalah (1) pola penyajian informasi (step by step
(SbS) dan end of sequence (EoS)) dan (2) urutan informasi (+ + - - atau - - + +). Penelitian eksperimen yang digunakan Robert Pinsker (2011) menggunakan informasi panjang (>17) yaitu sebanyak 40 item informasi yang terdiri atas 20 item informasi positif dan 20 item informasi negatif. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah t-test, ANOVA dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat bukti bahwa effect recency
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan variabel pola penyajian informasi dan urutan informasi sebagai variabel independen. b. Partisipan yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian
sekarang merupakan investor non profesional/mahasiswa.
c. Penelitian terdahulu dan sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel stock price judgement sebagai variabel dependen. Sedangakan penelitian sekarang variabel dependennya adalah keputusan investasi.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step (SbS) dan end of sequence (EoS)) dan urutan informasi (+ + - - atau - - + +). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik). c. Pada teori yang digunakan penelitian terdahulu menggunakan model belief
d. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa
undergraduate business dari jurusan Akuntansi pada Universitas Florida Selatan. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
e. Penelitian terdahulu menggunakan seri informasi panjang. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan seri informasi pendek.
f. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis t-test, ANOVA dan uji hipotesis. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
8. Robert Pinsker (2007)
Penelitian yang dilakukan oleh Robert Pinsker (2007) terkait dengan
Long Series of Information and Nonprofessional Investors Belief Revision yang bertujuan untuk menyajikan belief revision yang menguji informasi akhir (recency effect) pada pola penyajian step by step. Variabel yang digunakan oleh peneliti adalah (1) pola penyajian informasi (step by step (SbS) dan end of sequence
(EoS)) dan (2) urutan informasi (+ + - - atau - - + +) sebagai variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah stock price revision. Partisipan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 129 partisipan mahasiswa
Robert Pinsker (2007) menggunakan informasi panjang (>17) yaitu sebanyak 20 item informasi yang terdiri atas 10 item informasi positif dan 10 item informasi negatif. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah t-test, ANOVA dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) revisi harga saham secara signifikan lebih besar dalam kondisi sekuensial daripada kondisi simultan; (2) revisi harga saham lebih besar dalam kondisi sekuensial akan berlanjut akan tetapi membalikkan tanda setelah perubahan dalam urutan informasi penyajian.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan variabel pola penyajian informasi dan urutan informasi sebagai variabel independen. b. Partisipan yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian
sekarang merupakan investor non profesional/mahasiswa.
c. Penelitian terdahulu dan sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step (SbS) dan end of sequence (EoS)) dan urutan informasi (+ + - - atau - - + +). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik). c. Pada teori yang digunakan penelitian terdahulu menggunakan belief
revision theory. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan teori prospek, teori fuzzy trace dan teori mental probabilistik.
d. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa
undergraduate business dari Jurusan Akuntansi Universitas Florida Selatan. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
e. Penelitian terdahulu menggunakan seri informasi panjang. Sedangkan penelitian sekarang menggunakan seri informasi pendek.
f. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis t-test, ANOVA dan uji hipotesis. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
9. Dipankar Ghosh dan Margaret N. Boldt (2006)
Penelitian yang dilakukan oleh Dipankar Ghosh dan Margaret N. Boldt (2006) terkait dengan The Effect of Framing and Compensation Structure on
dan negatif dari tujuan framing pada bagian profit penjualan yang tersedia dari transfer negosiasi untuk kedua perbedaan struktur kompensasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel framing effect (positif dan negatif) dan struktur kompensasi (kompensasi laba divisi tinggi dan kompensasi laba divisi rendah) sebagai variabel independen sedangkan variabel dependennya adalah profit/flexibility ratio. Partisipan yang digunakan peneliti dalam penelitian ini sebanyak 48 manajer pada perusahaan Fortune 500 dan telah memiliki pengalaman rata-rata 14,5 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan desain eksperimen 2x2 yaitu framing effect
(positif dan negatif) dan struktur kompensasi (kompensasi laba divisi tinggi dan kompensasi laba divisi rendah). Teknik analisis data yang digunakan adalah two-way ANOVA, least squares means, eta squared dan partial eta squared.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bagian profit untuk penjualan akan lebih tinggi ketika tujuan profit di ekspresikan dalam bentuk kehilangan
(framing positif) dan (4) Penjual akan mengalami kurangnya flexible melalui konsesi (perjanjian) pada harga ketika kompensasi bonus didasarkan pada profit
divisional yang lebih besar prosentasenya (struktur kompensasi laba divisi yang tinggi) dibandingkan jika kompensasi bonus didasarkan pada profit divisional yang prosentasenya lebih kecil (struktur kompensasi laba divisi yang rendah). Sehingga kesimpulan dari hasil penelitian secara keseluruhan adalah adanya pengaruh framing effects terkait dengan transfer pricing.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan variabel
framing effect sebagai variabel independen.
b. Penelitian terdahulu dan sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel struktur kompensasi sebagai variabel independen dan variabel dependennya adalah profit/flexibility ratio. Sedangakan penelitian sekarang variabel independennya adalah pola penyajian informasi dan urutan informasi dan variabel dependennya keputusan investasi.
divisi tinggi dan kompensasi laba divisi rendah). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan
framing dibalik).
c. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah manajer pada perusahaan Fortune 500 dan telah memiliki pengalaman rata-rata 14,5 tahun. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
d. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis two-way ANOVA, least squares means, eta squared dan partial eta squared. Sedangkan pada penelitian sekarang menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis.
10. C. Janie Chang et al. (2002)
Penelitian yang dilakukan oleh C. Janie Chang et al. (2002) terkait dengan An Empirical Examination of Competing Theories to Explain the Framing Effect in Accounting-Related Decisions yang bertujuan untuk menjelaskan
framing effect dalam pengambilan keputusan manajerial dan untuk menguji teori penjelas yaitu prospect theory dan dua teori lainnya yakni fuzzy-trace theory dan
sebanyak dua kali dimana partisipannya terdiri dari: pada ekperimen I sebanyak 86 mahasiswa undergraduate business dan pada eksperimen ke II sebanyak 185 mahasiswa undergraduate business. Mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa dari dua universitas yang berbeda pada pesisir pantai barat dan telah menempuh mata kuliah Akuntansi Manajemen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan desain eksperimen 2x3 yaitu problem domain
(gain dan loss) dan problem frame (positif, negatif, dan gabungan dari keduanya). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian eksperimen ini adalah ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fuzzy-trace theory adalah yang terbaik dalam menggambarkan fenomena framing effect pada perilaku pelaku pengambil keputusan dalam konteks akuntansi meskipun prospect theory telah diaplikasikan serta paling sering untuk digunakan.
Penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menjelaskan terkait dengan
framing effect.
b. Teori yang digunakan dalam penelitian terdahulu dan penelitian sekarang menggunakan tiga teori yaitu teori prospek, teori fuzzy trace dan teori mental probabilistik.
d. Penelitian terdahulu dan penelitian sekarang tergolong dalam jenis penelitian eksperimen.
Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah:
a. Penelitian terdahulu menggunakan variabel subjects choice sebagai variabel dependen. Sedangkan penelitian sekarang variabel dependennya adalah keputusan investasi.
b. Pada desain eksperimen penelitian terdahulu adalah 2x3 yaitu problem domain (gain dan loss) dan problem frame (positif, negatif, dan gabungan dari keduanya). Sedangkan pada penelitian sekarang desain eksperimennya adalah 2x2x2 yaitu pola penyajian informasi (step by step
dan end of sequence), urutan informasi (+ + - - dan - - + +) dan framing effect (framing sesuai informasi dan framing dibalik).
c. Sampel yang digunakan penelitian terdahulu adalah mahasiswa
undergraduate business dari dua universitas yang berbeda pada pesisir pantai barat. Sedangkan pada penelitian sekarang adalah mahasiswa S1 Akuntansi dan S1 Manajemen di STIE Perbanas Surabaya.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Prospek
Menurut teori prospek, terdapat dua tahap dalam proses membuat keputusan: Tahap I merupakan tahap editing yang merupakan analisis awal dari prospek yang ditawarkan. Kemudian tahap II yaitu mengevaluasi prospek dan memilih yang memiliki nilai tertinggi (Kahneman dan Tversky, 1979). Chang et al. (2002) menyatakan bahwa untuk tahap I dari teori prospek tersebut merupakan tahap proses editing psikologi. Dengan kata lain, teori prospek menggambarkan alasan seseorang dalam membuat keputusan dilihat dari sisi psikologisnya. Teori prospek membantah teori sebelumnya yaitu expected utility theory yang menjelaskan pengambilan keputusan seseorang yang bersifat rasional. Fenomena
framing terjadi ketika suatu permasalahan yang sama akan tetapi dapat menimbulkan pengambilan keputusan yang berbeda, hal tersebut tergantung bagaimana bingkai informasi diberikan kepada para pengambil keputusan. Kahneman dan Tversky (1979) juga menjelaskan bahwa pemberian informasi dengan bingkai positif akan mempengaruhi pengambil keputusan atas pembuatan keputusan yang kurang berisiko (risk averse) begitupun sebaliknya jika pemberian informasi dengan bingkai negatif akan mempengaruhi pengambil keputusan atas pembuatan informasi yang lebih berisiko (risk seeking). Chang et al. (2002) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa ketika informasi disajikan dalam bentuk
manajer menghadapi situasi yang tidak pasti dan dalam keterbatasan yang dimilikinya hal itu dapat menyebabkan manajer terjebak dalam framing trap.
Sehingga para pengambil keputusan akan mengambil keputusan bergantung pada sisi psikologisnya atau sesuai dengan cara pandang masing-masing individu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang akan mengambil keputusan sesuai dengan psikologisnya. Teori ini tentu terlihat lebih baik daripada expected utility theory karena sebagai teori yang menekankan pada sisi psikologisnya tentu teori ini mengetahui keterbatasan kemampuan seseorang dalam mencari dan menggali informasi guna sebagai dasar pengambilan keputusan.
2.2.2 Teori Fuzzy Trace
Chang et al. (2002) menjelaskan terkait teori fuzzy trace yang diperkenalkan oleh Reyna dan Brainerd (1990) yang mengasumsikan bahwa individu lebih memilih alasan dengan menggunakan representasi informasi yang sederhana. Chang et al. (2002) dalam penelitiannya menyatakan bahwa fuzzy-trace theory adalah yang terbaik dalam menggambarkan fenomena framing effect.
Reyna dan Brainerd (1998) menggunakan teori fuzzy trace untuk menjelaskan
framing effect. Chang et al. (2002) menyatakan bahwa teori fuzzy trace berbeda dengan teori prospek, dimana dalam teori prospek mengasumsikan alasan seseorang berdasarkan sisi psikologisnya sedangkan dalam teori fuzzy trace
pilihan berdasarkan lebih atau kurang atau yang lainnya untuk membedakan pilihan tersebut. Teori fuzzy trace berkaitan dengan erat dengan pendekatan/strategi heuristik yang menjelaskan bahwa para pengambil keputusan menggunakan proses penyederhanaan dalam mengambil keputusan. Dengan penyederhanaan heuristik, ketika seseorang dihadapkan pada situasi dengan pilihan yang berisiko atau memperoleh informasi yang kompleks, seseorang tersebut akan menggunakan cara untuk menyederhanakan kompleksitas informasi tersebut. Penyederhanaan informasi berarti mengeliminasi kompleksitas informasi/hanya menggunakan informasi yang dianggap penting. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan penyederhanaan heuristik akan mengakibatkan terjadinya bias dalam pengambilan keputusan karena mengurangi kompleksitas informasi yang digunakan oleh para pengambil keputusan.
2.2.3 Teori Mental Probabilistik
Chang et al. (2002) menjelaskan terkait teori mental probabilistik yang dikembangkan oleh Gigerenzer et al. (1991) yang menjelaskan dan memprediksi perilaku individu yang terlalu percaya diri dalam pengambilan keputusan. Kuhberger (1995) mengemukakan bahwa teori mental probabilistik dapat digunakan untuk menjelaskan framing effect. Gigerenzer et al. (1991) menjelaskan bahwa seseorang dihadapkan dalam dua pilihan alternatif. Pertama,
tepat dapat diambil dari memory jangka panjang untuk membandingkan alternatif, (2) fitur informasi yang berkaitan dengan alternatif tidak tumpang tindih dan (3) operasi logika dasar. Kedua, jika permasalahan tidak dapat diselesaikan secara langsung dengan menggunakan local mental model maka akan menggunakan
probabilistic mental model. Menurut Teori probabilistic mental model, untuk membuat keputusan, hal pertama yang dilakukan individu adalah membuat sebuah kelas referensi untuk masalah khusus. Gigerenzer et al. (1991) mengungkapkan bahwa probabilistic mental model berbeda dengan local mental model dalam beberapa aspek. Pertama, pada kelas referensi dari objek. Kedua, pada variabel ditambah dengan solusi strategi.
2.2.4 Pola Penyajian dan Urutan Informasi
Hogarth dan Einhorn (1992) mengembangkan belief adjustment model
untuk memberikan penjelasan secara menyeluruh terkait cara informasi diinterpretasikan dan diproses. Hogarth dan Einhorn (1992) mengadaptasi konsep umum dari anchoring dan adjustment (seperti membentuk keyakinan awal yang kemudian membentuk keyakinan baru berdasarkan informasi baru yang diperoleh) dengan memasukkan heuristics ke dalam model. Model belief adjusment
atau campuran positif dan negatif) dan pola penyajian (pola penyajian secara berurutan dan secara simultan).
Model ini sangat memperhatikan pola penyajian informasi, seperti pola penyajian secara step by step (SbS) dan end of sequence (EoS). Pola penyajian
step by step (SbS) merupakan pola penyajian informasi ketika investor melakukan transaksi perdagangan saham berdasarkan informasi yang sederhana (misalnya: laporan keungan interim triwulanan, informasi non akuntansi yang diperoleh dari media massa) dan dilakukan secara berurutan. Dengan kata lain, dalam penyajian
step by step individu akan memperbarui/merevisi keyakinan mereka setelah diberikan tiap-tiap potongan bukti dalam penyampaian informasi yang terpisah. Sedangkan pola penyajian end of sequence (EoS) merupakan pola penyajian informasi ketika investor melakukan transaksi perdagangan saham berdasarkan informasi yang kompleks dan secara keseluruhan diperoleh pada saat itu juga (misalnya: laporan tahunan lengkap yang tidak hanya berisi laporan keuangan saja). Dengan kata lain, dalam penyajian end of sequence individu akan memperbarui/merevisi keyakinan mereka setelah semua informasi terkumpul.
keyakinan baru setelah mendapatkan potongan-potongan bukti dari informasi yang terpisah. Dengan demikian individu akan membuat perbaikan/revisi keyakinan yang lebih besar dalam format step by step dibandingkan dengan format end of sequnce. Hal itu disebabkan karena penyajian potongan bukti yang lebih sering (SbS) memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan
anchor (penjangkaran/penetapan) dan adjusment (penyesuaian), dan individu-individu sering melakukan penyesuaian yang berlebih/over adjust ke arah item-item informasi tersebut.
Dalam urutan informasi terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi yaitu primacy effect dan recency effect. Primacy effect adalah pemberian bobot nilai yang lebih tinggi pada informasi awal yang diperoleh sehingga pengambilan keputusan akhir individu tergantung pada informasi awal tersebut. Dengan kata lain, dalam primacy effect individu cenderung lebih memperhatikan ataupun mempertimbangkan informasi awal yang diperolehnya. Sedangkan recency effect
adalah pemberian bobot nilai yang lebih tinggi pada informasi akhir yang diperoleh sehingga pengambilan keputusan akhir individu tergantung pada informasi akhir tersebut. Dengan kata lain, dalam recency effect individu cenderung lebih memperhatikan ataupun mempertimbangkan informasi akhir yang diperolehnya. Potensi recency effect akan lebih besar terjadi pada penyajian
penyajian sekuensial/step by step. Luciana Spica dan Supriyadi (2013) mebuktikan bahwa terdapat perbedaan judgement antara investor yang menerima urutan informasi good news diikuti dengan bad news (+ + - -) dibandingkan dengan investor yang menerima urutan informasi bad news diikuti dengan good news (- - + +) untuk pola penyajian informasi step by step serta tidak terdapat perbedaan atau tidak ada efek urutan antara investor investor yang menerima urutan informasi good news diikuti dengan bad news (+ + - -) dibandingkan dengan investor yang menerima urutan informasi bad news diikuti dengan good news (- - + +) untuk pola penyajian informasi end of sequence. Selain itu, Damai Nasution dan Supriyadi (2007) juga membuktikan bahwa terdapat perbedaan keyakinan antara auditor yang menerima urutan informasi bad news diikuti good news (- - + +) dengan auditor yang menerima urutan informasi good news diikuti dengan bad news (+ + - -) pada pola penyajian informasi sekuensial/step by step.
2.2.5 Framing Effect
dengan cara yang berbeda. Penggunaan bahasa seseorang merupakan aspek frame
digunakan untuk mempengaruhi para decision maker. Kahneman dan Tversky (1979) menyatakan bahwa pemberian informasi dengan bingkai positif akan mempengaruhi pengambil keputusan atas pembuatan keputusan yang kurang berisiko (risk averse) begitupun sebaliknya jika pemberian informasi dengan bingkai negatif akan mempengaruhi pengambil keputusan atas pembuatan informasi yang lebih berisiko (risk seeking).
Tversky dan Kahneman (1981) menyajikan contoh fenomena framing effect yang paling terkenal dalam masalah penyakit Asia sebagai berikut:
Permasalahan 1:
Bayangkan bahwa AS sedang mempersiapkan untuk wabah yang luar biasa dalam penyakit Asia, yang diharapkan untuk membunuh 600 orang. Terdapat dua alternatif untuk mencegah penyait ini telah diusulkan sebagai berikut:
1. Jika program A diadopsi, 200 orang akan terselamatkan.
2. Jika program B diadopsi, ada 1/3 kemungkinan bahwa 600 orang akan terselamatkan dan 2/3 kemungkinan tidak terselamatkan.
Manakah dari dua program ini yang akan anda dukung? Permasalahan 2:
Bayangkan bahwa AS sedang mempersiapkan untuk wabah yang luar biasa dalam penyakit Asia, yang diharapkan untuk membunuh 600 orang. Terdapat dua alternatif untuk mencegah penyait ini telah diusulkan sebagai berikut:
2. Jika program D diadopsi, ada 1/3 kemungkinan bahwa tidak akan meninggal dan 2/3 kemungkinan bahwa 600 orang akan meninggal.
Manakah dari dua program ini yang akan anda dukung? Solusi:
Untuk permasalahan 1 (menggunakan kata-kata positif “akan diselamatkan”), Tversky dan Kahneman (1981) melaporkan bahwa mayoritas (72
persen) lebih memilih menyelamatkan 200 orang. Artinya, dalam domain gains
(akan diselamatkan), mereka lebih memilih risk averse untuk program A daripada program B yang menawarkan 1/3 kemungkinan dapat menyelamatkan 600 orang (28 persen). Menurut expected utility theory (Friedmas dan Savage, 1948), program C dan Program D pada permasalahan 2 (menggunakan kata-kata negatif “akan meninggal”). Akan tetapi sebagian besar mereka lebih memilih program D
(78 persen) daripada program C (22 persen). Artinya pembingkaian masalah yang sama dengan cara yang berbeda dapat mengakibatkan keputusan yang berbeda.
2.2.6 Informasi Non Akuntansi
Informasi non akuntansi merupakan informasi non material dalam perusahaan. Berkaitan dengan perusahaan, pada umumnya informasi non akuntansi termuat dalam laporan tahunan perusahaan yang berisi seperti laporan para stockholder, good corporate governance dan corporate social responsibility.
berarti dapat mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi lain selain informasi laporan keuangan. Disisi lain, dengan pengungkapan informasi non akuntansi tentu dapat menarik investor karena investor dapat mengetahui informasi lain ataupun tambahan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan investasinya. Dengan kata lain, dasar dari pengambilan keputusan investasi yang dilakukan oleh investor tidak hanya diperoleh dari analisa informasi akuntansi saja melainkan juga dapat diperoleh dari analisa informasi non akuntansi. Informasi non akuntansi penting bagi investor dalam keputusan investasinya karena kandungan informasi non akuntansi juga dapat menggambarkan kelangsungan usaha perusahaan di masa yang akan datang. Abdelkarim et al (2009) membuktikan bahwa laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, pernyataan dari shareholder, komentar manajemen dan catatan atas laporan keuangan merupakan informasi penting dalam laporan tahunan. Hal ini juga didukung oleh Sharma (2006) membuktikan bahwa persepsi investor terhadap efektivitas dewan direksi merupakan penentu utama dari keputusan investasi. Selain itu, Cox et al. (2004) juga membuktikan bahwa investor institusional lebih memperhatikan laporan corporate social responsibility
perusahaan. Dengan demikian hal ini membuktikan bahwa informasi non akuntansi juga berperan penting dalam pengambilan keputusan investasi.
(stakeholders value) serta mengalokasikan berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (stakeholders) seperti kreditor, supplier, asosiasi usaha, konsumen, pekerja, pemerintah dan masyarakat luas (Hessel Nogi, 2003). Demirag (2005) menjelaskan bahwa corporate social responsibility sebagai sikap perusahaan dan tannggungjawab kepada masyarakat sosial, etika dan permasalahan lingkungan dan termasuk pengembangan berkelanjutan.
2.2.7 Pengambilan Keputusan Investasi
Dalam konteks investasi, pengambilan keputusan investasi merupakan suatu hal yang harus dikuasai dan sudah tidak asing dilakukan oleh para decision maker khususnya para investor. Akan tetapi, tak selamanya para decision maker
membuat keputusan tidak tepat. Hal tersebut dikarenakan kurang informasi yang diperoleh untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Erlinda Kusuma dan Sukirno (2014) mengemukakan bahwa keputusan yang tepat akan diperoleh ketika manajer memperoleh informasi yang lengkap sebagai bahan pertimbangan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa informasi yang lengkap merupakan suatu hal yang harus diperoleh ketika melakukan pengambilan keputusan.
keputusan berdasarkan pengetahuan yang ia miliki dan pengetahuan yang seharusnya diperlukan mungkin kurang menjadi bahan pertimbangan. Jika pengetahuan yang dimiliki selaras dengan kondisi yang diinginkan maka hal tersebut bukan merupakan keputusan yang bias akan tetapi sebaliknya jika pengetahuan yang dimiliki tidak selaras dengan kondisi yang diinginkan maka hal tersebut merupakan keputusan yang bias (Liza Alvia dan Dedhy Sulistiawan, 2009). Selain itu, terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan investasi seperti penelitian tentang pola penyajian dan urutan informasi dalam pengambilan keputusan investasi (Luciana Spica et al., 2013; Luciana Spica dan Supriyadi, 2013) serta penelitian tentang efek pembingkaian (framing effect) dalam pengambilan keputusan investasi (Muhammad Nur dan Jen Surya, 2012).
2.3 Kerangka Pemikiran
2.3.1 Pengaruh Pola Penyajian Informasi dan Urutan Informasi Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
dua kemungkinan yang terjadi yaitu primacy effect dan recency effect. Dalam
primacy effect bukti informasi awal lebih dipertimbangkan daripada bukti informasi awal. Sedangkan dalam recency effect bukti informasi terakhir lebih dipertimbangkan daripada bukti informasi awal. Dalam urutan informasi yang diperhatikan oleh individu dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan bukanlah substansi ataupun esensi informasi melainkan yang diperhatikan adalah urutan informasi yang diperoleh. Hal ini dibuktikan oleh penelitian terdahulu yaitu Pinsker (2007) membuktikan bahwa revisi harga saham lebih besar dalam kondisi sekuensial daripada dalam kondisi simultan. Hal ini juga didukung oleh Tri Ika dan Intiyas Utami (2015) membuktikan bahwa terjadi recency effect pada keputusan SPI ketika pola penyajian sekuensial/step by step.
Penelitian ini menguji pola penyajian informasi dan urutan informasi dengan menggunakan informasi non akuntansi dalam pengambilan keputusan investasi. Pola penyajian informasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
step by step (SbS) dan end of sequence (EoS). Urutan informasi yang digunakan adalah good news diikuti bad news dan bad news diikuti good news.
2.3.2 Pengaruh Framing Effect Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
averse) begitupun sebaliknya jika pemberian informasi dengan bingkai negatif akan mempengaruhi pengambil keputusan atas pembuatan informasi yang lebih berisiko (risk seeking). Fenomena framing effect telah dibuktikan oleh Erlinda Kusuma dan Sukirno (2014) yang membuktikan bahwa pengambil keputusan yang berada pada kondisi positive framing akan melakukan investasi karena tidak terpengaruh oleh risiko yang akan ditanggung serta pengambil keputusan pada kondisi negative framing akan melakukan investasi. Hal ini juga didukung oleh Teodora Winda et al. (2015) yang membuktikan hasil seperti teori prospek yaitu ketika para pengambil keputusan diberikan informasi framing positif maka akan mengambil keputusan yang cenderung risk averse, sebaliknya jika para pengambil keputusan diberikan informasi framing negatif maka akan mengambil keputusan yang cenderung risk seeking. Penelitian ini menguji framing effect dengan menggunakan informasi non akuntansi dalam pengambilan keputusan investasi.
Treatment yang digunakan atas variabel framing effect dalam penelitian ini menggunakan dua macam yang terdiri dari (1) framing sesuai informasi dan (2)
framing dibalik.
2.3.3 Pengaruh Informasi Non Akuntansi Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
keputusan investasi karena informasi non akuntansi dapat digunakan sebagai tambahan informasi selain informasi akuntansi yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan. Pengungkapan informasi non akuntansi perusahaan juga dapat menggambarkan kelangsungan usaha perusahaan di masa yang akan datang dan hal itu tentunya akab lebih dipertimbangkan investor dalam pengambilan keputusan investasinya. Pentingnya informasi non akuntansi dibuktikan oleh penelitian terdahulu yaitu Abdelkarim et al (2009) membuktikan bahwa laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, pernyataan dari shareholder, komentar manajemen dan catatan atas laporan keuangan merupakan informasi penting dalam laporan tahunan. Selain itu, Cox et al. (2004) juga membuktikan bahwa investor institusional lebih memperhatikan laporan corporate social responsibility
perusahaan.
Pola penyajian informasi: Step by Step Urutan informasi good news diikuti bad news Framing: sesuai dengan informasi Urutan informasi bad news diikuti good news Framing: sesuai dengan informasi
Seri informasi: pendek
Skenario 3
Pola penyajian informasi: Step by Step Urutan informasi good news diikuti bad news Framing: dibalik
Seri informasi: pendek
Skenario 4
Pola penyajian informasi: Step by Step Urutan informasi bad news diikuti good news Framing: dibalik
Seri informasi: pendek
Skenario 8
Pola penyajian informasi: End of Sequence Urutan informasi bad news diikuti good news Framing: dibalik
Seri informasi: pendek
Skenario 7
Pola penyajian informasi: End of Sequence Urutan informasi good news diikuti bad news Framing: dibalik
Seri informasi: pendek
Skenario 6
Pola penyajian informasi: End od Sequence Urutan informasi bad news diikuti good news Framing: sesuai dengan informasi
Seri informasi: pendek
2.4 Hipotesis Penelitian
2.4.1 Pengujian Urutan Informasi Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
Dalam teori belief adjusment menjelaskan bahwa untuk informasi/bukti positif dan negatif, terdapat dua kemungkinan efek urutan yaitu
primacy effect dan recency effect. Dalam primacy effect informasi awal lebih diperhatikan atau dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan dalam recency effect informasi akhir lebih diperhatikan atau dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Ketika pola penyajian step by step (pengambilan keputusan setelah memperoleh setiap bukti informasi) dilakukan dalam pengambilan keputusan investasi maka cenderung akan terjadi efek urutan/recency effect atau dengan kata lain untuk recency effect diprediksi akan terjadi ketika pola penyajian step by step. Untuk pola penyajian end of sequence
(pengambilan keputusan setelah semua informasi terkumpul) cenderung terjadi
primacy effect atau dengan kata lain primacy effect diprediksi akan terjadi ketika pola penyajian end of sequence. Hal ini menunjukkan bahwa pola penyajian end of sequence dapat mengurangi efek urutan karena informasi yang diperoleh secara bertahap dapat dihilangkan yaitu dengan cara menggabungkan bukti informasi positif dan negatif. Luciana Spica dan Supriyadi (2013) membuktikan bahwa (1) terdapat perbedaan judgement antara investor yang menerima urutan informasi
efek urutan antara investor investor yang menerima urutan informasi good news
diikuti dengan bad news (+ + - -) dibandingkan dengan investor yang menerima urutan informasi bad news diikuti dengan good news (- - + +) untuk pola penyajian informasi end of sequence. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena urutan informasi dapat mempengaruhi pertimbangan seseorang dalam melakukan pengambilan keputusan. Sehingga dapat dikatakan bahwa jika urutan informasi yang diberikan berbeda meskipun isi informasi sama maka akan menghasilkan pengambilan keputusan yang berbeda.
Pinsker (2011) membuktikan bahwa (1) terdapat bukti bahwa terjadi
effect recency memberikan isyarat informasi panjang dalam konteks investasi (2) kondisi sekuensial dapat memperburuk efek recency effect yang relatif terhadap kondisi simultan. Selain itu, Pinsker (2007) juga membuktikan bahwa (1) revisi harga saham secara signifikan lebih besar dalam kondisi sekuensial daripada kondisi simultan; (2) revisi harga saham lebih besar dalam kondisi sekuensial akan berlanjut akan tetapi membalikkan tanda setelah perubahan dalam urutan informasi penyajian. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa revisi keyakinan yang dilakukan bergantung pada urutan informasi maupun pola penyajiannya.
Berdasarkan argumentasi tersebut, maka hipotesis penelitian untuk menguji pengaruh urutan informasi dinyatakan sebagai berikut:
H1b: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima urutan informasi good news diikuti bad news (++--) dibandingkan dengan subjek yang menerima urutan informasi bad news diikuti good news (--++) pada pola penyajian step by step dengan kondisi framing dibalik
H1c: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima urutan informasi good news diikuti bad news (++--) dibandingkan dengan subjek yang menerima urutan informasi bad news diikuti good news (--++) pada pola penyajian end of sequence dengan kondisi framing sesuai informasi H1d: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima urutan
informasi good news diikuti bad news (++--) dibandingkan dengan subjek yang menerima urutan informasi bad news diikuti good news (--++) pada pola penyajian end of sequence dengan kondisi framing dibalik
2.4.2 Pengujian Framing Effect Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
Framing effect adalah pembingkaian bahasa ataupun kata tanpa merubah makna informasi yang digunakan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan khususnya dalam keputusan investasi. Dalam framing effect, suatu kejadian dapat mengakibatkan pengambil keputusan merespon yang berbeda (dengan suatu permasalahan yang sama) jika disajikan dengan cara yang berbeda. Ghosh dan Boldt (2006) menyatakan bahwa bagian profit untuk penjualan akan lebih tinggi ketika tujuan profit di ekspresikan dalam bentuk kehilangan profit
menghasilkan profit (framing positif). Muhammad Nur dan Jen Surya (2012) juga menyatakan bahwa framing effect berpengaruh sebagai determinan eskalasi komitmen. Muhamad Safiq et al. (2014) juga menyatakan bahwa terdapat perngaruh pembingkaian kontrak insentif terhadap kebijakan pelaporan perusahaan hal tersebut membuktikan bahwa teori prospek dapat digunakan untuk menjelaskan keputusan akuntansi melalui framing effect. Dengan argumentasi tersebut, maka hipotesis penelitian untuk menguji framing effect dinyatakan sebagai berikut:
H2a: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan kondisi framing sesuai informasi dibandingkan dengan subjek yang menerima framing dibalik pada pola penyajian step by step
dan pada urutan informasi good news diikuti bad news (++--)
H2b: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan kondisi framing sesuai informasi dibandingkan dengan subjek yang menerima framing dibalik pada pola penyajian step by step
dan pada urutan informasi bad news diikuti good news (--++)
H2c: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan kondisi framing sesuai informasi dibandingkan dengan subjek yang menerima framing dibalik pada pola penyajian end of sequence dan pada urutan informasi good news diikuti bad news (++--) H2d: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima
subjek yang menerima framing dibalik pada pola penyajian end of sequence dan pada urutan informasi bad news diikuti good news (--++)
2.4.3 Pengujian Pola Penyajian Informasi Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi
Penelitian eksperimen ini menggunakan pola penyajian informasi yang dikembangkan oleh Hogarth dan Einhorn (1992) dalam model belief adjustment
yaitu pola penyajian informasi step by step (SbS) dan pola penyajian informasi
end of sequence (EoS) dalam pengambilan keputusan investasi. Pola penyajian
maka hipotesis penelitian untuk menguji framing effect dinyatakan sebagai berikut:
H3a: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian step by step dibandingkan dengan subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian end of sequence pada urutan informasi good news diikuti bad news (++--) dan dengan kondisi
framing sesuai informasi
H3b: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian step by step dibandingkan dengan subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian end of sequence pada urutan informasi bad news diikuti good news (--++) dan dengan kondisi
framing sesuai informasi
H3c: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian step by step dibandingkan dengan subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian end of sequence pada urutan informasi good news diikuti bad news (++--) dan dengan kondisi
framing dibalik
H3d: Terdapat perbedaan keputusan investasi antara subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian step by step dibandingkan dengan subjek yang menerima informasi dengan pola penyajian end of sequence pada urutan informasi bad news diikuti good news (--++) dan dengan kondisi