• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pancasila sebagai dan kepribadian bangsa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pancasila sebagai dan kepribadian bangsa"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

“Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia”

Disusun oleh:

Fauziah Nazmi (1406550213)

Firda Faradillah (1406626495)

Sela Maudia (1406626274)

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI

(2)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan rahmat-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah Pendidikan Pancasila ini yang berjudul "Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia" sesuai dengan waktu yang kami rencanakan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Makalah tentang Pancasila ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah Pendidikan Pancasila. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi lebih jauh tentang Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Dalam makalah ini pun disajikan beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ita Syamtasiyah Ahyat S.S., M.Hum sebagai pengajar mata kuliah Pendidikan Pancasila yang telah membimbing kami. Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran baik secara tertulis ataupun secara lisan, khususnya kepada Dosen mata kuliah Pendidikan Pancasila, Ita Syamtasiyah Ahyat S.S., M.Hum, agar penulis bisa mengembangkan ilmu pengetahuannya, khususnya ilmu Pendidikan Pancasila.

Depok, 15 Maret 2015

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Melalui kepribadian inilah setiap pribadi seseorang memiliki ciri khas masing-masing. Begitu pula dengan sebuah negara.Setiap negara juga memiliki kepribadian masing-masing. Melalui kepribadian tersebut sebuah negara dikenal luas. Kepribadian tersebut tidak akan lepas dari sejarah negara tersebut.

Indonesia sendiri memiliki sebuah kepribadian yang menjadi ciri khas dari Indonesia itu sendiri yaitu Pancasila.Sebagai dasar negara, Pancasila justru telah dibicarakan bahkan sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya melalui pembacaan proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Hatta. Membutuhkan proses pembahasan yang panjang sebelum akhirnya memperoleh keputusan final seperti teks Pancasila yang kita kenal saat ini.

Bangsa Indonesia dan juga dasar negara yaitu Pancasila, terbentuk berdasarkan perbedaan. Pancasila sendiri hadir sebagai penengah adanya perbedaan yang ada. Dan sebagai bentuk kepribadian bangsa Pancasila membuat Indonesia hadir dengan ciri khas yang membedakannya dengan negara lain.

I.2. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, kami menyusun rumusan masalah sebagai berikut:

1) Apa yang dimaksud dengan kepribadian bangsa?

2) Apa yang dimaksud dengan Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa?

3) Apa ciri khas Pancasila yang membuat Indonesia berbeda dengan negara lain? 4) Mengapa nilai pancasila sebagai fondasi bertingkah laku?

I.3. Tujuan

(4)

2) Untuk memahami pancasila sebagai kepribadian bangsa.

3) Untuk mengetahui ciri khas pancasila yang membuat indonesia berbeda dengan negara lain.

(5)

BAB II

PANCASILA SEBAGAI KEPRIBADIAN BANGSA INDONESIA

II.1. Pengertian Kepribadian Bangsa

Kepribadian adalah keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi. Atau keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan perilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.

Bangsa adalah Perkumpulan orang yang saling membutuhkan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu wilayah. Persekutuan hidup dalam suatu negara bisa merupakan persekutuan hidup mayoritas dan minoritas. Bangsa dalam arti sosiologis antropologis diikat oleh ikatan – ikatan seperti ras, tradisi, sejarah, adat istiadat, agama atau kepercayaan, bahasa dan daerah. Ikatan ini disebut ikatan primordial.

Jadi dapat disimpulkan pengertian kepribadian bangsa adalah suatu ciri khas atau pola sikap yang menjadi standart baku kumpulan beberapa orang yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama secara konsisten dalam menghadapi situasi apapun.

II.2. Pengertian Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa

(6)

bangsa Indonesia dan dipengaruhi oleh tempat, lingkungan dan suasana waktu sepanjang masa.

(7)

BAB III

A. Fondasi Berperilaku sebagai Bangsa

Nilai pertama dari Pancasila adalah ketuhanan. Nilai utama ini mengacu pada keyakinan pada Tuhan dan hidup dengan menjalankan perintah-Nya tanpa mengganggu urusan (umatnya) agama masing-masing. Ironisnya data menunjukkan perusakan rumah ibadah semakin meningkat. Padahal sejarah mencatat kenyataan yang berbeda. Masyarakat indonesia membuktikan bahwa menerima perbedaan dalam satu wadah sudah ada sejak zaman Majapahit. Dalam menjalankan kerajaan Majapahit, Raja Hayam Wuruk memerintahkan para pejabat urusan agama agar mengatur secara baik pelaksanaan dua agama besar secara berdampingan, yaitu agama Hindu dan agama Budha. Catatan ini penting untuk menjadi contoh bahwa berabad-abad lalu di Indonesia telah dikenal pemahaman toleransi di bidang keagamaan. Berdirinya menara masjid Kudus dan makanan sate kerbau (umat Hindu mengharamkan makan sapi, sebaliknya Muslim mengadakan kurban dengan hewan ternak semisal sapi) adalah bagian dari sejarah yang menunjukkan keberbedaan dapat hidup dalam kesatuan.

Nilai kedua pancasila pancasila pada prinsipnya mengakui persamaan hak dan kewajiban, sayang pada sesama, menjalin hubungan dengan bangsa lain berdasarkan sikap saling menghormati. Oleh karenanya, harapan utamanya akan tercermin dalam perilaku sebagai individu dan masyarakat sebagai bangsa. Cerminan tingkah laku dari nilai kedua sebagai bangsa adalah ketika mengakui bangsa-bangsa lain yang menyatakan diri merdeka dan berdaulat sesuai dengan prosedur yang berlaku. Ketika ada sebuah kedaulatan yang berbasis penjajahan atas bangsa lain, Indonesia belum dapat menerima hal itu. Di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari nilai ini dapat mewujud dalam keberanian untuk menyatakan suatu hal yang benar di tengah situasi yang kurang selaras. Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat bahwa perokok tidak mengindahkan hak dasar dari orang-orang di sekitarnya. Saat ia menghembuskan asap rokok, maka orang lain yang tidak merokok “dipaksa merokok bersama”. Menjadi aneh, ketika para perokok mendengung-dengungkan hak untuk merokok sebagai hal utama, hak menghirup udara bersih bagi non-perokok dan bahkan untuk perokok itu sendiri.

(8)

lebar dengan tema yang sama mulai berani merilis dengan film-film bertema umum lainnya, seperti gambar berikut.

Pada nilai keempat Pancasila mengetengahkan tema demokrasi. Pada dasarnya demokrasi memosisikan rakyat sebagai pemegang kedaulatan penuh atas dirinya. Jauh sebelum merdeka, bangsa indonesia sudah mengenal pola demokrasi yang hidup di masyarakat. Misalnya, ada mekanisme rapat desa di berbagai komunitas di pulau-pulau nusantara. Tan Malaka pernah mengkalim bahwa demokrasi yang merupakan wujud kedaulatan rakyat sudah dikenal sekitar abad XIV, setidaknya di minangkabau. Di sana, seorang raja tidak bisa semena-mena pada rakyatnya karena secara prinsip raja dibatasi oleh sistem yang mengutamakan logika dan keadilan. Jika tidak dipenuhi, perintah raja akan ditolak.

Upaya dalam mengejawantahkan nilai kelima dalam Pancasila sebagai bangsa Indonesia telah diupayakan sebelumnya. Dalam keseharian kita sering mendengar istilah gotong-royong, sebuah aktivitas bantuan kepada pihak lain yang meminta secara santun untuk menyelesaikan satu tugas agar tercapai tujuan bersama. Pada masyarakat desa yang agraris, membangun saluran air untuk sawah pribadinya jelas bukan sekadar pekerjaan pribadi, melainkan terkait pula dengan warga lain. Maka, hak untuk mendapatkan air seiring dengan kewajiban menjaga sumber dan saluran air untuk pertaniannya. Contoh lain menunjukkan bahwa nilai kelima diwujudkan untuk membangun karakter. Isu plagiarisme memperlihatkan kurang mawas diri dalam mengamati hak dari kewajiban menjalankan tanggung jawab sebagai peneliti.

B. Berlaku sebagai Warga Negara

UUD 1945 yang didasari Pancasila juga telah mewujudkan hak dan kewajiban. Hak-hak dan kewajiban ini yang membuat hubungan individu dan negara mecapai keselarasan. Nilai Pancasila yang diamalkan tentu memenuhi tanggung jawab individu sebagai warga negara.

(9)

Pola menegakkan nilai kedua dari Pancasila bagi warga Indonesia dapat terlihat sejak awal kemerdekaan. Upaya mendasar dilakukan, misalnya, dengan tidak membeda-bedakan perlakuan atas ras atau warna kulit. Agak berbeda dengan Amerika Serikat yang sejak merdeka hingga tahun 1960-an, pemerintahnya melakukan kebijakan segregrasi khususnya dalam hal warna kulit berlaku di segala aspek kehidupan. Mereka melakukan kebijakan segregrasi mulai dari kebijakan publik yang berdampak pada layanan publik. Sebagai perbandingan, Indonesia tidak membedakan hak suara dalam pemilu pada kelompok perempuan atau kelompok etnis tertentu sejak merdeka hingga sekarang.

Namun, harus diakui pula bahwa masih terdapat kesenjangan dalam mewujudkan nilai kedua ini. Ini dapat dilihat, di antaranya, pada kebijakan pemerintah atas pendidikan masih belum diterjemahkan dengan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Masih terjadi ketimpangan akses pendidikan bagi warga secara khusus pada kelompok masyarakat tertentu. Seda, Febriana, Agustin, dan Shakuntala menemukan bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan masih dibawah lelaki sejak tahun 1971 hingga 2004. Salah satu penyebab keadaan ini adalah kecenderungan masyarakat mengutamakan anak lelaki untuk bersekolah daripada anak perempuan. Tidak hanya akses sekolah, untuk angka buta huruf juga masih lebih tinggi perempuan dua kali lipat daripada lelaki. Alasan yang mengemuka masih sama, yakni pembedaan perlakuan berbasis jenis kelamin. Kejadian ini sangat berlawanan dengan upaya mewujudkan nilai kedua dari Pancasila. Jika bertahan, pola ini akan mengganggu pada penurunan kesejahteraan di aspek lainnya, semisal, tingginya angka kematian ibu (AKI) karena kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi pada kelompok perempuan yang umumnya diberikan di sekolah.

Sebagai warga negara, upaya untuk mewujudkan nilai ketiga dapat dikatakan cukup mudah. Menjadi warga negara yang berbahasa Indonesia adalah salah satunya, karena merupakan amanat dari UUD 1945, yang terdapat pada bab XV pasal 36. Dengan tidak menafikan keberadaan 742 bahasa daerah di seluruh Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia dilakukan dalam konteks keseharian di dalam lingkungan akademis. Penulisan ilmiah dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar menumpuk rasa persatuan bagi para penulisnya karena adanya kebakuan yang dipahami setara secara bersama-sama. Dengan demikian, komunikasi antarilmuwan nasional juga mencapai keselarasan yang pada akhirnya menunjang rasa kesatuan sebagau ilmuwan dan warga negara Indonesia.

(10)

dipilih bersama untuk kemaslahatan bersama. Dengan pemahaman ini, setidaknya dapat mengurangi potensi konflik yang didasari pada ketidakpuasan berpendapat dan oposisional terhadap langkah yang diambil pemimpin.

Nilai kelima dari Pancasila hanya dapat dimaknai sebagai nilai sosial semata. Padahal dalam penjabarannya, dimungkinkan peningkatan kualitas manusia Indonesia berdasar nilai ini. Peningkatan kreativitas diri yang menjadikan kehidupan masyarakat menuju yang lebih baik saat ini sangat dibutuhkan. Dalam keseharian kita melihat jumlah pengangguran berlatar pendidikan tinggi perlahan meningkat dari tahun ke tahun. Maka, membicarakan nilai kelima dalam konteks mahasiswa dan sarjana menjadi relevan. Bahwa sesungguhnya sarjana adalah harapan masyarakat dikarenakan proses pendidikan di perguruan tinggi yang membekali mahasiswa dalam pola pikir yang berbasis ilmu pengetahuan, maka diharapkan mucul ide-ide kreatif yang dapat membantu masyarakat memecahkan masalah. Bagi para sarjana, upaya membuat peluang kerja menjadi prioritas daripada mencari pekerjaan.

C. Berlaku sebagai Warga Global

Sebagai warga dunia, masyarakat Indonesia juga ikut dalam dinamika dunia. Keikutsertaan ini bukan selalu atas dasar politik, melainkan masih banyak hal lainnya. Untuk itu, di masa depan kesiapan warga negara Indonesia untuk lebih dapat berkiprah di dunia nyaris tanpa batas ini akan semakin dibutuhkan. Catatan terpenting adalah perilaku dari individu Indonesia tetap didasari nilai-nilai dasar masyarakat Indonesia.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia mengupayakan kehidupan beragama yang toleran. Nilai Pancasila bahkan dianggap sebagai religiously friendly ideology oleh juergensmeyer. Walaupun pernyataan juergensmeyer dikaitkan dengan ideologi, Pancasila juga mendasari corak kehidupan interaksi umat beragama di Indonesia. Mengacu pada nilai Pancasila, khususnya nilai pertama, warga Indonesia akan menjadi bagian dari aksi yang toleran. Keadaan ini tidak dapat dinafikan karena Indonesia secara pasti menjadi tempat perlintasan beragam kebudayaan. Mulder melihat bahwa Indonesia menjadi model yang khas dari tumbuhnya semangat keagamaan yang bercorak kebudayaan lokal. Ini dapat diartikan bahwa masyarakat Indonesia berkontribusi dalam memaknai agama-agama yang hadir di Indonesia. Kontribusi ini penting bagi masyarakat dunia, sehingga dapat menjadi model dari toleransi antar-umat beragama di dunia.

(11)

hak-hak dasar kewarganegaraan. Ini adalah kesepakatan universal yang diakui bersama, sehingga negara itu pada akhirnya memandang Indonesia sebagai negara yang mengakui hak asasi manusia. Pada akhirnya terbangunlah hubungan saling menghormati antarnegara.

Pengejawantahan nilai ketiga dari Pancasila dalam konteks global adalah dengan menjadi bagian kegiatan ekonomi dunia yang berorientasi nasional. Sejak memasuki krisis moneter 1997, pintu impor semakin terbuka yang memungkinkan segala produk masuk ke dalam negeri. Akibatnya, konsumen disuguhkan banyak pilihan. Kondisi ini secara prinsip tidak salah, tetapi di sisi lain produk dalam negeri perlahan tersisih. Hanya dengan alasan harganya tidak kompetitif, konsumen membeli produk impor yang bukan hanya menyisihkan produk dalam negeri, tetapi juga menghancurkan perusahaan lokal. Untuk itu nilai ketiga dari Pancasila yang menekankan cinta tanah air perlu diangkat kembali untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia. Langkah mengutamakan produk yang dapat dihasilkan dalam negeri sebelum membeli produk buatan luar negeri juga dilakukan oleh negara-negara maju. Negara-negara maju menutupi kepentingan dalam negeri melalui mekanisme perdagangan dunia seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka berupaya menjaga agar produk asing tidak membanjiri pasar lokalnya sehingga petani/pengusaha/masyarakat tetap sejahtera. Dengan demikian, nilai ketiga Pancasila masih relevan untuk diangkat menjadi dasar bagi peningkatan ketahanan nasional.

Pengejawantahan nilai keempat dalam kehidupan global bagi negara dan masyarakat terlihat dalam kebijakan dan tingkah laku. Dalam konteks pemerintah, Indonesia mengambil peran yang sesuai dengan nilai tadi. Sebagai anggota ASEAN sekaligus ketua ASEAN tahun 2011, Indonesia mengambil posisi tidak mengucilkan Myanmar. Pada saat yang sama, hampir semua negara Barat Tengah mengembargo Myanmar dan meminta ASEAN untuk ikut menekan. Langkah Indonesia cukup mengejutkan, dengan tidak mengisolasi Myanmar bahkan intensif membuka jalur diplomatik. Terbukanya jalur diplomatik justru membuat Myanmar lebih membuka diri yang pada akhirnya embargo negara-negara Barat mulai berkurang. Indonesia memahami bahwa cara tersebut tidak populer di mata bangsa-bangsa Barat, tetapi diplomasi ala Indonesia mampu mebuat Myanmar mengambil kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri yang cenderung terbuka dan dapat diterima masyarakat internasional.

(12)
(13)

BAB IV

KESIMPULAN

IV.1 Kesimpulan

Pancasila sebagai kepribadian bangsa erat kaitanya dengan kehidupan sehari hari masyarakat yang di kenal dengan keramahaan, kesopananya, kemajemukan, suku budayanya yang merupakan manifiestasi dalam pandangan hidup bangsa. Bahkan sejak sebelum berdirinya bangsa Indonesia, nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sudah melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Di dalam pancasila tersebut banyak mengandung makna – makna yang sanga erat kaitannya dengan keragaman budaya, adat istiadat, religius bangsa seperti masyakarat yang merupkan kepribadian bangsa yaitu adanya pengakuan atas tuhan, dalam menyelesaikan suatu masalah selalu bermusyawarah untuk mencpai kata mufakat, saling hormat - menghormati orang lain, meletakan kepentingan golongan di atas kepentingan pribadi, serta selalu bersikap adil untuk mencapai tujuan bersama.

Kemudian dari situlah Pancasila dibentuk dengan menggali nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sendiri yang telah tertanam dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang jelas berbeda jauh dengan nilai-nilai Ideologi bangsa lain.

Dengan ditetapkannya Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, kita sebagai warga Negara Indonesia yang juga telah menganut nilai-nilai pancasila harus mempertahankan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dengan kata lain, Pancasila dipergunakan sebagai penunjuk arah semua aktifitas atau kegiatan dan kehidupan didalam segala bidang, yang berarti semua tingkah laku dan tindak atau perbuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pancaran dari semua sila didalam Pancasila. Karena Pancasila selalu merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan antara sila yang satu dengan yang lainnya, dan saling berkaitan satu sama lain yang menunjukkan bahwa sila dalam Pancasila merupakan satu -kesatuan organis.

(14)

manifestasi atau perwujudan dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa), jiwa yang berperi kemanusiaan (sebagai manifestasi atau perwujudan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab), jiwa kebangsaan (sebagai manifestasi atau perwujudan dari sila Persatuan Indonesia), jiwa kerakyatan (sebagai manifestasi dari sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), dan jiwa yang menjunjung tinggi keadilan sosial (sebagai manifestasi dari sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia) yang selalu terpancar dalam segala tingkah laku dan tindak atau perbuatan serta sikap hidup seluruh bangsa Indonesia.

IV.2 Saran

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Situs internet:

http://history1978.wordpress.com

kakdiah.blogspot.com

http://ionecannon.blogspot.com/2014/02/makalah-pancasila-sebagai-kepribadian.html

http://diankape.blogspot.com/2013/03/pancasila-sebagai-kepribadian-bangsa.html

Buku:

Kaelan, drs. Pendidikan Pancasila. Paradigma: Yogyakarta: 2004

Manullang, A.C. Pilar-pilar Pancasila. Setia Sakti: 1986

Dewi, R. Ismala, dkk. 2013. Buku Ajar III Bangsa, Negara dan Pancasila. Depok: Universitas Indonesia.

Kartohadiprodjo, Soediman. 2010. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia: Gatra Pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan

Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia

Dengan pancasila sebagai dasar negara yang melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam perkembangannya juga menjadi ideologi negara maka bangsa Indonesia akan

Pancasila sebagai dasar Negara, pandanga hidup bangsa Indonesia, dan sebagai ideologi bangsa, menurut Suko Wiyono 2013, 95-96 memuat nilainilai/karakter bangsa Indonesia yang tercermin

Implementasi Pancasila sebagai dasar negara sangat diperlukan bagi masyarakat Indonesia yaitu untuk menjaga eksistensi Bangsa Indonesia, karena di dalam pancasila terdapat nilai-nilai

Jurnal Pendidikan Tambusai 9893 Meneguhkan Nilai Pancasila sebagai Dasar Negara dan Idiologi Bangsa Ai Lisnawati1, Dinie Anggraeni Dewi2 1,2 Universitas Pendidikan Indonesia

Jadi, pegertian Identitas Nasional adalah pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, filsafat pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling tinggi

Ahmad Tijari, M.Pd Hakikat Pancasila bagi Bangsa dan NKRI Pancasila merupakan suatu ideologi yang dianut oleh bangsa Indonesia dan pada dasarnya Pancasila itu sendiri adalah warisan