BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dimana akan dibuat deskrifsi yang sistematis dan akurat mengenai data yang diteliti. Penelitian deskriptif menurut Sudaryanto (1992: 62 ) menyatakan metode deskriptif merupakan suatu metode yang secara empiris hidup pada penuturnya sehingga yang dihasilkan atau yang dicari berupa pemberian bahasa yang biasa sifatnya seperti fotret, paparan, seperti apa adanya.
Penelitian deskriptif menurut Surakhmad (1978: 739) yaitu penelitian yang mencoba menggambarkan dan menganalisis data mulai dari tahap pengumpulan data, penyusunan data dan analisis interpretasi terhadap data.
Metode deskriptif yang dipilih karena penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menggambarkan dengan jelas tentang objek yang diteliti secara alamiah (Djajasudarma, 1993: 8-9).
Dapat disimpulkan bahwa metode penelitian ialah cara kerja untuk mendapatkan data dalam penelitian untuk mencari kebenaran yang objektif dalam pokok permasalahan.
3.1Metode Dasar
penelitian ini mencerminkan kenyataan berdasarkan fakta-fakta (fact findings) yang ada di lapangan sebagaimana adanya (Nawawi dan Hadari 1967 dalam Siahaan, 2009:51). Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pupuan lapangan meliputi pencatatan langsung dan perekaman. Pada teknik pencatatan peneliti secara langsung mencatat berian yang dijawab oleh informan.
3.2Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Hamparan Perak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.
3.3Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat penelitian yang penulis gunakan adalah peralatan tulis untuk mencatat informasi, perekam suara untuk wawancara, foto untuk dokumentasi gambar, dan video untuk dokumentasi gambar yang bergerak beserta suara.
3.4Sumber Data
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data itu diperoleh (Arikunto,1996 :114 ). Artinya, jika penelitian menggunakan metode wawancara dalam pengumpulan datanya, maka subjeknya responden dan apabila menggunakan metode observasi dalam pengumpulan datanya, maka subjeknya berupa benda atau tempat.
a. Metode kepustakaan (library research), yaitu dengan mencari data dan buku yang berhubungan dengan judul proposal penelitian ini.
b. Metode observasi, yaitu penulis langsung ke lapangan melakukan pengamatan terhadap kegiatan penelitian.
c. Metode wawancara, yaitu mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan kepada informan yang memahami masalah proposal penelitian.
3.5Metode Analisis Data
Metode analisis data merupakan suatu langkah dalam penelitian karena tahap dalam menyelesaikan masalah adalah dengan menganalisis data yang telah dikumpulkan. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif.Metode deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai subjek penelitian berdasarkan informasi yang diperoleh berdasarkan informasi dan fakta yang ada. Metode analisis data adalah metode atau cara-cara sipeneliti dalam mengolah data yang mentah sehingga menjadi data yang cermat, atau akurat dan ilmiah.
Metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data penelitian ini adalah metode deskriptif.
1. Mengumpulkan data sebanyak-banyaknya yang sesuai dengan pokok permasalahan
2. Membuat generelisasi terhadap data-data yang terkumpul sesuai dengan bentuk dan jenisnya
3. Mencatat seluruh data yang sistematis sehingga semua data-data yang terkumpul saling mendukung.
BAB IV PEMBAHASAN
4.1.Jenis Morfofonemik Bahasa Melayu Deli
Dalam Bahasa Melayu Deli ada beberapa jenis morfofonemik dengan proses morfologi antara lain : pelesapan fonem, pemunculan fonem, peluluhan fonem, perubahan fonem, dan pergeseran fonem.
4.1.1. Pelesapan fonem
Pelesapan fonem, yakni hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. Misalnya, ber- pada kata dasar rase ‘berasa’ yang akan diuraikan di bawah, termasuk kedalam bentuk yang telah mengalami pelesapan fonem. Pada bahasa Melayu Deli terjadi pada prefis ber- dan konfiks per-an.
4.1.1.1. Prefiks ber- dan konfiks per-an.
Pada Bahasa Melayu Deli prefiks ber- dan konfiks per-an mengalami proses pelesapan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/. Pelesapan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/, seperti contoh-contoh berikut.
e. /ber/ + rasE ‘rasa, berasE ‘berasa’
f. /ber/ + rondok ‘sembunyi’ berondok ‘bersembunyi’ g. /ber/ + ronE ‘warna’ beronE ‘berwana’ h. /per/ + rumah ‘rumah’ perumahan ‘perumahan’
ada satu fonem /r/ saja, sebagai akibat dari pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar rondok ‘sembunyi’ , yang fonem dasarnya /r/ ketika bertemu dengan prepiks ber- menjadi berondok ‘bersembunyi’ fonem /r/ yang berada pada prefiks ber- dilesapkan, yaitu hanya ada satu fonem /r/ saja, sebagai akibat dari pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar ronE ‘warna’ yang fonem dasarnya /r/ ketika bertemu dengan prepiks ber- menjadi beronE ‘berwana’ fonem /r/ yang berada pada prefiks ber- dilesapkan, yaitu hanya ada satu fonem /r/ saja, sebagai akibat dari pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar Rumah ‘rumah’ yang fonem awalnya /r/ ketika bertemu dengan konfiks per-an menjadi peRumahan ‘perumahan’ fonem /r/ yang berada pada prefiks ber- dilesapkan, yaitu hanya ada satu fonem /r/ saja, sebagai akibat dari pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.2. Pemunculan fonem
Pemunculan fonem adalah munculnya fonem dan proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Bentuk-bentuk seperti membujok ‘membujuk’ dan membEdal ‘memukul’ contoh lain telah diuraikan dibawah, termasuk kedalam bentuk yang telah mengalami pemunculan fonem. Pada Bahasa Melayu Deli pemunculan fonem terjadi pada prefiks me-, prefiks be-, konfiks te-, konfiks pe-an, konfiks ke-an dke-an konfiks be-ke-an.
Prefiks me- dalam Bahasa Melayu Deli mengalami pemunculan fonem /m/, /n/ dan /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /a/, /b/, /c/, /d/, /j/, /g/, /h/dan /k/.
Pemunculan fonem /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /b/, seperti contoh berikut.
a. /me/ + bujok ‘bujuk’ membujok ‘membujuk’ b. /me/ + bEdal ‘pukul’ membEdal ‘memukul’ c. /me/ + baRah ‘bengkak’ membaRah ‘membengkak’ d. /me/ + babas ‘cabik’ membabas ‘mencabik’ e. /me/ + bahana ‘gema’ membahana ‘bergema’ f. /me/ + bam ‘baring’ membam ‘membaringkan’ g. /me/ + bandut ‘ikat’ membandut ‘mengikat’ h. /me/ + baRot ‘balut’ membaRot ‘membalut’ i. /me/ + bawE ‘bawa’ membawE ‘membawa’ j. /me/ + bacE ‘baca’ membawE ‘membawa’
bertemu dengan prefiks me- menjadi membaRah ‘membengkak’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.Data pada bentuk dasar babas ‘cabik’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membabas ‘mencabik’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bahana ‘gema’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membahana ‘bergema’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bam ‘baring’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membam ‘membaringkan’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bandut ‘ikat’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membandut ‘mengikat’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar baRot ‘balut’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membaRot ‘membalut’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bawE ‘bawa’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membawE ‘membawa’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bacE ‘baca’ fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi membawE ‘membawa’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
Pemunculan fonem /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /c/, /d/ dan /j/, seperti contoh di bawah.
e. /me/ + canang ‘menyampaikan’ mencanang ‘memberitahukan’ f. /me/ + cEkik ‘cekek’ mencEkik ‘mencekek’
g. /me/ + jiplak ‘contoh’ menjiplak ‘menyontoh’ h. /me/ + ciRak ‘robek’ menciRak ‘merobek’
i. /me/ + duRung ‘nangkap’ menduRung ‘menangkap ikan’
‘menyontoh’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar ciRak ‘robek’ yang fonem awalnya /c/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi menciRak ‘merobek’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar duRung ‘nangkap’ yang fonem awalnya /d/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi menduRung ‘menangkap ikan’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
Pemunculan fonem /ng/ terjadi apabila bentuk yang dilekatinya bermula dengan fonem /g/, /h/, /k/ dan /a/ seperti contoh di bawah.
a. /me/ + gelai ‘sandar’ menggelai ‘bersandar’ b. /me/ + ayon ‘ayun’ mengayon ‘mengayun’ c. /me/ + asong ‘fitnah’ mengasong ‘memfitnah’ d. /me/ + hEla ‘tarik’ menghEla ‘menarik’
e. /me/ + kayok ‘dayung’ mengayok ‘mendayung’ f. /me/ + kelih ‘lihat’ mengelih ‘melihat’
g. /me/ + ajuk ‘ejek’ mengajuk ‘mengejek’ h. /me/ + kiRai ‘jemur’ mengiRai ‘menjemur’ i. /me/ + aRum ‘aduk’ mengaRum ‘mengaduk’ j. /me/ + asak ‘geser’ mengasak ‘menggeser’ k. /me/ + atak ‘atur’ mengatak ‘mengatur’
prefiks me- menjadi mengatak ‘mengatur’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.2.2. Prefiks be-, te- dan konfiks be-an
Prefiks be-, be-an dan te dalam Bahasa Melayu Deli mengalami proses pemunculan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /t/, /a/, /i/, /e/, /u/ dan /o/.
Pemunculan fonem /r/ terjadi apabila bentuk yang dilekatinya bermula dengan fonem /t/, /a/, /i/, /e/, /u/ dan /o/ seperti contoh dibawah berikut.
a. /be/ + tuRai ‘pikir’ beRtuRai ‘berpikir’ b. /be/ + abuk ‘debu’ beRabuk ‘berdebu’ c. /be/ + alas ‘lapis’ beRalas ‘berlapis’ d. /be/ + asak ‘desak’ beRasak ‘berdesak’ e. /be/ + ayak ‘seRak’ beRayak ‘berserak’ f. /be/ + iduk ‘hemat’ beRiduk ‘berhemat’ g. /be/ + ikogh ‘ekor’ beRikogh ‘berekor’ h. /be/ + iRis ‘potong’ beriRis ‘berpotong’ i. /be/ + embus ‘tiup’ berRembus ‘bertiup’ j. /be/ + ughak ‘ubah’ beRughak ‘berubah’ k. /be/ + ulah ‘tingkah’ beRulah ‘bertingkah’ l. /be/ + ombak ‘alun’ beRombak ‘beralun’
o. /be-an/ + uRus ‘urus’ beRuRusan ‘berurusan’
p. /te/ + enjak ‘jongkok’ teRenjak ‘terjongkok, terduduk’ q. /te/ + empas ‘hempas’ teRempas ‘terhempas’ r. /te/ + ayak ‘serak’ teRayak ‘terserak’
s. /te/ + obah ‘ubah’ teRobah ‘terubah’ t. /te/ + iris ‘potong’ teRiris ‘terpotong’
teRempas ‘terhempas’ sebagai akibat pertemuan dua fonem tersebut. Data pada bentuk dasar ayak ‘serak’ yang fonem awalnya /a/ ketika bertemu dengan prefiks te- menjadi teRayak ‘terserak’ sebagai akibat pertemuan dua fonem tersebut. Data pada bentuk dasar obah ‘ubah’ yang fonem awalnya /o/ ketika bertemu dengan prefiks te- menjadi teRobah ‘terubah’ sebagai akibat pertemuan dua fonem tersebut. Data pada bentuk dasar iris ‘potong’ yang fonem awalnya /i/ ketika bertemu dengan prefiks te- menjadi teRiris ‘terpotong’ sebagai akibat pertemuan dua fonem tersebut.
4.1.2.3. Konfiks pe-an, ke-an dan be-an
Pada konfiks pe-an, ke-an dan be-an dalam Bahasa Melayu Deli mengalami proses pemunculan fonem /y/ dan /w/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /b/, /p/ dan /t/.
Pemunculan fonem /y/ terjadi apabila bentuk yang dilekatinya bermula dengan /b/ dan /p/, seperti cotoh berikut.
a. /pe-an/ + bantEi ‘hantam’ pembantEian ‘penghantaman’ pembatEiyan
b. /ke-an/ + pandEi ‘pandai’ kepandEian ‘kepandaian’ kepandEyan
dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar pandEi ‘pandai’ yang fonem awalnya /p/ ketika bertemu dengan konfiks /ke-an/ menjadi kepandEian ‘kepandaian’ kepandEyansebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
Pemunculan fonem /w/ terjadi apabila bentuk yang dilekatinya bermulan dengan /t/ seperti contoh berikut.
a. /be-an/ + tinjo ‘tinjau’ bertinjoan ‘bertinjau’ bertinjowan
Pemunculan fonem /w/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /t/ bergabung dengan konfiks be-an. Data pada bentuk dasar tinjo ‘tinjau’ yang fonem awalnya /t/ ketika bertemu dengan konfiks be-an menjadi bertinjoan ‘bertinjau’ bertinjowan sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.3. Peluluhan fonem
Peluluhan fonem yaitu luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologi. Bentuk-bentuk seperti menyudu ‘menyendok’ yang telah diuraikan di bawah termasuk kedalam bentuk yang telah mengalami peluluhan fonem. Pada Bahasa Melayu Deli peluluhan fonem terjadi pada prefikd me-.
4.1.3.1. Prefiks me-
Peluluhan fonem terjadi apabila prefiks me- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan /s/ dan /k/.Dalam hal ini konsonan /s/ dan /c/ dilulukan dengan /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan /ng/.
a. Me + sudu ‘sendok’ menyudu ‘menyendok’ b. Me + sabuk ‘pukul’ menyabuk ‘memukul’ c. Me + sElinap ‘sembunyi’ menyElinap ‘bersembunyi’ d. Me + susut ‘kecil’ menyusut ‘mengecil’ e. Me + kElih ‘lihat’ mengElih ‘melihat’ f. Me + kiRai ‘jemur’ mengiRai ‘menjemur’ g. Me + kayok ‘dayung’ mengayok ‘mendayung’ h. Me + sEndEr ‘sandar’ menyEndeR ‘bersandar’ i. Me + saRot ‘gigit’ menyarot ‘menggigit’ j. Me + simbah ‘sembur’ menyimbah ‘menyembur’ k. Me + sukat ‘takar’ menyukat ‘menakar’ l. Me + cucuk ‘tikam’ menyucuk ‘menikam’ m. Me + sisip ‘selip’ menyisip ‘menyelip’
awalnya /s/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi menyukat ‘menakar’ maka fonem /s/ diluluhkan dengan fonem /ny/ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar cucuk ‘tikam’ yang fonem awalnya /c/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi menyucuk ‘menikam’ maka fonem /c/ diluluhkan dengan fonem /ny/ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar + sisip ‘selip’ yang fonem awalnya /s/ ketika bertemu dengan prefiks me- menjadi menyisip ‘menyelip’ maka fonem /s/ diluluhkan dengan fonem /ny/ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.4. Perubahan fonem
Perubahan fonem yaitu berubahnya sebuah fonem sebagai akibat terjadinya proses morfologi. Bentu-bentuk seperti pembeRang ‘pemarah’ dan membabas ‘mencabik’ yang telah diuraikan di bawah, termasuk kedalam bentuk yang telah mengalami perubahan fonem. Pada Bahasa Melayu Deli perubahan fonem terjadi pada prefiks peN- dan meN-
.
4.1.4.1. Prefiks peN- pem- dan meN- mem-
Pada Bahasa Melayu Deli prefiks peN- dan meN- mengalami proses perubahan fonem menjadi pem- dan mem- terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /b/.
Perubahan fonem /N/ berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasarnya yang mengikutinya berawal dengan fonem /b/.
b. peN- + bongak ‘bohong’ pembongak ‘pembohong’ c. peN- + bukE ‘buka’ pembukE ‘pembuka’ d. peN- + bacE ‘baca’ pembacE ‘pembaca’ e. meN- + beRah ‘bengkak’ membaRah ‘membengkak’ f. meN- + babas ‘cabik’ membabas ‘mencabik’
Data pada bentuk dasar beRang ‘marah’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks peN- menjadi pembeRang ‘pemarah’, sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasar bongak ‘bohong’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks peN- menjadi pembongak ‘pembohong’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.Data pada bentuk dasar bukE ‘buka’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks peN- menjadi pembukE ‘pembuka’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.Data pada bentuk dasar bacE ‘baca’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks peN- menjadi pembacE ‘pembaca’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.Data pada bentuk dasar beRah ‘bengkak’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks meN- menjadi membaRah ‘membengkak’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.Data pada bentuk dasar babas ‘cabik’ yang fonem awalnya /b/ ketika bertemu dengan prefiks meN- menjadi membabas ‘mencabik’ sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.4.2. Prefiks beN- ber-
Perubahn fonem /N/ berubah menjadi fonem /r/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /a/ dan /u/ seperti contoh berikut.
a. beN- + asak ‘desak’ beRasak ‘berdesak’ b. beN- + ughak ‘ubah’ beRughak ‘berubah’
Data pada bentuk dasar asak ‘desak’ yang fonem awalnya /a/ ketika bertemu dengan prefiks beN- menjadi beRasak ‘berdesak’, sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut. Data pada bentuk dasarughak ‘ubah’ yang fonem awalnya /u/ ketika bertemu dengan prefiks beN- menjadibeRughak ‘berubah’ , sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.4.3. Prefiks meN- men-
Pada Bahasa Melayu Deli prefiks meN- mengalami proses perubahan fonem menjadi men- terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /c/ dan /d/.
Perubahan fonem /N/ berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /c/ dan /d/.
a. meN- + caRut ‘maki’ mencaRut ‘memaki’
b. meN- + duRung ‘nangkap’ menduRung ‘menangkap ikan’
/d/ ketika bertemu dengan prefiks meN- menjadi menduRung ‘menangkap ikan’, sebagai akibat pertemuan dua morfem tersebut.
4.1.4.4. Prefiks meN- meng-
Pada Bahasa Melayu Deli prefiks meN- mngalami proses perubahan fonem menjadi meng- terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /a/.
Perubahan fonem /N/ berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /a/.
a. meN +ajuk ‘ejek’ mengajuk ‘mengejek’ b. meN +asak ‘geser’ mengasak ‘menggeser’
Data pada bentuk dasar ajuk ‘ejek’ yang fonem awalnya /a/ ketika bertemu dengan prefiks meN- menjadi mengajuk ‘mengejek’, sebagai akibat pertemuan dua morfemtersebut. Data pada bentuk dasar asak ‘geser’, yang fonem awalnya /a/ ketika bertemu dengan prefiks meN- menjadi mengasak ‘menggeser’, sebagai akibat pertemuan dua morfemtersebut.
4.1.5. Pergeseran fonem
4.1.5.1.Sufiks –an dan –i
Pada Bahasa Melayu Deli sufiks –an dan –i pergeseran fonem terjadi apabila bentuk yang mengikutinya berawal dengan fonem /u/, /h/, /j/, /t/, /p/, /c/, /m/, /r/ dan /s/ seperti cotoh berikut.
a. –an + utus ‘suruh’ utusan/ utus-an ‘suruhan’
b. –an + hambur ‘bertabur’ hamburan/ hambura-an ‘bertaburan’ c. –an + jaEt ‘jahit’ jaEtan/ jaEt-an ‘jahitan’
d. –an + lEbeR ‘berlebih’ lEbeR/ lEbeR-an ‘berlebihan’ e. –i + jejal ‘padat’ jejali/ jejal-i ‘padati’
f. –i + tujah ‘jolok’ tujahi/ tujah-i ‘joloki’ g. –i + paut ‘pegang’ pauti/ paut-i ‘pegangi’ h. –i + cacah ‘kacau’ cacahi/ cacah-i ‘dikacau’ i. –i + malang ‘segan’ malangi/ malang-i ‘segani’ j. –i + recak ‘naiki’ recaki/ recak-i ‘dinaiki’
k. –i + selungkar ‘bongkar’ selungkari/ selungkar-i ‘bongkari’ l. –i + tunggang ‘cebok’ tunggangi/ tunggang-i ‘ceboki’
fonem /ng/ yang semula berada pada suku kata gang menjadi berada pada suku kata ngi.
4.2. Proses Kaidah Morfofonemik Bahasa Melayu Deli
4.2.1. Kaidah morfofonemik mofem afiks meN-
4.2.1.1.meN- menjadi mem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /b/. misalnya :
a. meN- + bacE ‘baca’ membacE ‘mambaca’
b. meN- + bawE ‘bawa’ membawE ‘membawa’ c. meN- + baRot ‘bengkak’ membaRot ‘membengkak’ d. meN- + bandut ‘ikat’ membandut ‘mangikat’ e. meN- + baRah ‘bengkak’ membaRah ‘mambengkak’ f. meN- + bahana ‘gema’ membahana ‘bergema’ g. meN- + bam ‘baring’ membam ‘membaringkan’ h. meN- + babas ‘cabik’ membabas ‘mamcabik’
4.2.1.2.meN- menjadi men- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /c/ dan /d/. misalnya :
a. meN- + cagil ‘ganggu’ mencagil ‘mengganggu’ b. meN- + duRung ‘nangkap’ menduRung ‘menangkap’ c. meN- + ciplak ‘contoh’ menciplak ‘mencontoh’ d. meN- + canang ‘menyampaikan’ mencanang
e. meN- + dEngki ‘benci’ mendEngki ‘membenci’ f. meN- + ciRak ‘robek’ menciRak ‘merobek’ g. meN- + caRut ‘maki’ mencaRut ‘memaki’ h. meN- + cEkik ‘cekek’ mencEkik ‘mencekek
4.2.1.3.meN- menjadi meny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal
dengan fonem /c/ dan /s/.
a. meN- + saRot ‘gigit’ menyaRot ‘menggigit’ b. meN- + sisip ‘selip’ menyisip ‘menyelip’ c. meN- + sabuk ‘pukul’ menyabuk ‘memukul’ d. meN- + sudu ‘sendok’ menyudu ‘menyendok’ e. meN- + simbah ‘sembur’ menyimbah ‘menyembur’ f. meN- + sElinap ‘sembunyi’ menyelinap ‘bersembunyi’ g. meN- + sEndeR ‘sandar’ menyender ‘bersandar’ h. meN- + susut ‘kecil’ menyusut ‘mengecil’ i. meN- + cucuk ‘tikam’ menyucuk ‘menikam’ j. meN- + sukat ‘takar’ menyukat ‘menakar’
4.2.1.4.meN- menjadi meng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal
dengan fonem /a/, /h/ dan /k/. misalnya :
a. meN- + atak ‘atur’ mengatak ‘mengatur’ b. meN- + asak ‘geser’ mengasak ‘menggeser’
f. meN- + aRum ‘aduk’ mengaRum ‘mengaduk’ g. meN- + hEla ‘tarik’ menghEla ‘menarik’ h. meN- + asong ‘fitnah’ mengasong ‘memfitnah’ i. meN- + kayok ‘dayung’ mengayok ‘mendayung’
4.2.1.5.meN- menjadi me- apabila diikuti bentu dasar yang berawal dengan
fonem /l/, /m/, /n/, /p/ dan /t/. misalnya :
a. MeN- + lEding ‘kembang’ melEding ‘mengembang’ b. MeN- + lEkat ‘lengket’ melEkat ‘melengket’ c. MeN- + patok ‘catuk’ memematok ‘mencatuk’ d. MeN- + milip ‘redup’ memilip ‘meredup’ e. MeN- + tokoh ‘tipu ’ menokoh ‘menipu’ f. MeN- + lEmpit ‘lipat’ melEmpit ‘melipat’ g. MeN- + nayah ‘limpah’ menayah ‘melimpah’ h. MeN- + lEkap ‘tempel’ melEkap ‘menempel’ 4.2.2. Kaidah morfofonemik morfem afiks
beR-4.2.2.1.beR- menjadi be- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /b/, /c/, /g/, /s/ dan /t/. misalnya :
g. beR- + tamboh ‘tambah’ betamboh ‘bertambah’
4.2.2.2.be- menjadi beR- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /u/, /i/, /e/, /t/, /o/ dan /a/. misalnya :
a. be- + ughak ‘ubah’ beRughak ‘berubah’ b. be- + iduk ‘hemat’ beRiduk ‘berhemat’ c. be- + ayak ‘serak’ beRayak ‘berubah’ d. be- + asak ‘desak’ beRasak ‘berdesak’ e. be- + alas ‘lapis’ beRalas ‘berlapis’ f. be- + iRis ‘potong’ beRiRis ‘berpotong’ g. be- + ulah ‘tingkah’ beRulah ‘bertingkah’ h. be- + ombak ‘alun’ beRombak ‘beralun’ i. be- + tuRai ‘pikir’ beRtuRai ‘berpikir’ j. be- + ikogh ‘ekor’ beRikogh ‘berekor’ k. be- + embus ‘tiup’ beRembus ‘bertiup’ l. be- + abuk ‘debu’ beRabuk ‘berdebu’
4.2.3. Kaidah morfofonemik morfem afiks peN-
4.2.3.1.peN- menjadi pem- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /b/ dan /p/. misalnya :
a. peN- + basuh ‘cuci’ pembasuh ‘pencuci’ b. peN- + pujE ‘puja’ pemujE ‘pemuja’ c. peN- + bacE ‘baca’ pembacE ‘pembaca’
e. peN- + bukE ‘buka’ pembukE ‘pembuka’
4.2.3.2. PeN- menjadi pen- apabila dikuti dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /d/ dan /j/. misalnya :
a. peN- + durhakE ‘durhaka’ pendurhakE ‘pendurhaka’ b. peN- + dEngki ‘benci’ pendEngki ‘pepembenci’ c. peN- + jaEt ‘jahit ’ penjaEt ‘penjahit’
d. peN- + jalE ‘jala ’ penjalE ‘penjala’ e. peN- + jolok ‘juluk ’ penjolok ‘penjuluk’
4.2.3.3.peN- menjadi peng- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /h/, /i/, /k/, /e/ dan /u/. misalnya.
a. peN- + ughak ‘ubah’ pengughak ‘pengubah’ b. peN- + Embus ‘tiup’ pengEmbus ‘peniup’ c. peN- + iRis ‘potong’ pengiRis ‘pemotong’ d. peN- + ikogh ‘ekor’ pengikogh ‘pengekor’ e. peN- + iduk ‘hemat’ pengiduk ‘penghemat’ f. peN- + kEpit ‘jepit’ pengEpit ‘penjepit’ g. peN- + humban ‘lempar’ penghumban ‘pelempar’ 4.2.3.4.peN- menjadi peny- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /s/. misalnya :
4.2.3.5.peN- menjadi per- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /a/, /u/, /i/ dan /r/. misalnya :
a. peN- + Rumah ‘rumah peRumahan ‘perumahan’ b. peN- + ingat ‘ingat peRingatan ‘peringatan’ c. peN- + alas ‘lapis peRalas ‘pelapis’ d. peN- + ubah ‘ubah peRubahan ‘perubahan’ e. peN- + aEr ‘air peRaEran ‘perairan’ f. peN- + ajuk ‘duga peRajuk ‘penduga’
4.2.3.6.peN- menjadi pe- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan fonem /m/, /j/, /k/ dan /l/. misalnya :
a. peN- + lEkap ‘tempel’ pelEkap ‘penempel’ b. peN- + lEkat ‘lengket’ pelEkat ‘pelengket’ c. peN- + laboh ‘jatuh ’ pelaboh ‘menjatuhkan’ d. peN- + keRjE ‘kerja’ pepekeRjE ‘pekerja’ e. peN- + jajE ‘menjual’ pejajE ‘penjual’ f. peN- + manjE ‘manja’ pemanjE ‘pemanja’ 4.2.4. Kaidah morfofonemik morfem afiks di-
4.2.4.1.di- menjadi di- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /p/, /a/, /c/ dan /h/. misalnya :
e. di- + hinE ‘hina’ dihinE ‘dihina’ f. di- + cungkil ‘congkel’ dicungkil ‘dicongkel’ g. di- + ambEk ‘ambil’ diambEk ‘diambil’ h. di- + puput ‘tiup’ dipuput ‘ditiup’
i. di- + punggah ‘bongkar’ dipunggah ‘dibongkar’ 4.2.5. Kaidah morfofonemik morfem afiks te-
4.2.5.1.te- menjadi teR- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /e/, /a/, /o/ dan /i/. misalnya :
a. te- + iRis ‘potong’ teRiris ‘terpotong’ b. te- + obah ‘ubah’ teRobah ‘terubah’ c. te- + ayak ‘serak’ teRayak ‘terserak’ d. te- + empas ‘hempas’ teRempas ‘terhempas’
e. te- + enjak ‘jongkok’ teRempak ‘terjongkok/terduduk’
4.2.5.2.te- menjadi te- apabila diikuti bentuk dasar yang berawal dengan
fonem /p/, /t/ dan /j/. misalnya :
a. te- + pEdaya ‘tipu’ tepEdaya ‘tertipu’ b. te- + juntai ‘gantung’ tepjuntai ‘tergantung’ c. te- + tunu ‘bakar’ tetunu ‘terbakar’ d. te- + pukah ‘cabut’ tepukah ‘tercabut’ 4.2.6. Kaidah morfofonemik morfem afiks se-
4.2.6.1.se- menjadi se- apabila diikuti dengan bentuk dasar yang berawal
b. se- + pedEs ‘pedas’ sepedEs ‘sepedas’ c. se- + rasE ‘rasa’ serasE ‘serasa’ d. se- + kuRus ‘kurus’ sekuRus ‘sekurus’ e. se- + bEsak ‘besar’ sebEsak ‘sebesar’ f. se- + mendE ‘cantik’ semendE ‘secantik’ g. se- + teRang ‘terang’ seteRang ‘seterang’ h. se- + lebEh ‘lebih’ selebEh ‘selebih’ i. se- + kayE ‘kaya’ sekayE ‘sekaya’ j. se- + laman ‘halaman’ selaman ‘sehalaman’ k. se- + pinggang ‘pinggang’ sepinggang
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1.Kesimpulan
Kesimpulan penelitian merupakan pernyataan singkat tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan tentang hasil penelitian yang telah dilakukan pada uraian baba-bab sebelumnya. Kesimpulan berisi jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada bagian rumusan masalah.Kesimpulan berasal dari fakta-fakta atau hubungan yang logis.
Setelah keseluruhan dari data yang dikumpullkan dan kemudian dianalisis dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
1. Bahasa Melayu Deli merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara. Selain menjadi alat komunikasi, bahasa Melayu Deli juga berfungsi sebagai identitas atau jati diri bagi masyarakat penuturnya. 2. Jenis morfofonemik dalam Bahasa Melayu Deli terdapat prefiks berjumlah
be-an yaitu munculnya fonem r yang bentuk dasarnya dimulai fonem t, a, i, e, u dan o. Permunculan fonem dalam pengimbuhan konfiks pe-an dan ke-an yaitu muncul fonem semi vocal y yang bentuk dasarnya dimulai fonem b dan p. Pemunculan fonem dalam pengimbuhan konfiks be-an yaitu muncul fonem semi vocal w yang bentuk dasarnya dimulai fonem t. Peluluhan fonem dalam pengimbuhan prefiks me- apabila bentuk dasarnya dimulai fonem s dan c ( s dan c diluluhkan dengan ny) dan k (k diluluhkan dengan ng). Perubahan fonem dalam N- berubah menjadi m apabila bentuk dasarnya dimulai fonem b. Perubahan fonem dalam N- berubah menjadi r apabila bentuk dasarnya dimulai fonem a dan u. Perubahan fonem dalam N- berubah menjadi n apabila bentuk dasarnya dimulai fonem c dan d. Perubahan fonem dalam N- berubah menjadi ng apabila bentuk dasarnya dimulai fonem a. Pergeseran fonem dalam pengimbuhana sufiks –an dan -i terjadi apabila bentuk dasarnya berawal dengan fonem u, h, j, t, c, m, r, s dan p.
5.2. Saran
Pada akhirnya setelah memperhatikan dan menganalisa mengenai morfofonemik Bahasa Melayu Deli penulis dapat memberikan salam :
1. Melihat pentingnya fungsi bahasa di Indonesia agar dapat diperhatikan bagi pendidikan terutama peneliti dan pembaca yang bertujuan sebagai pengembangan bahasa khususnya bahasa daerah. 2. Di era globalisasi ini bahasa daerah sudah semakin terkikis oleh
sebab itu kita sebagai bangsa Indonesia yang beragam suku harus melestarikan budaya dan bahasa ibu agar terpelihara dan tidak punah.