Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 8 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana vii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………..
iSAMBUTAN
………...
...
iiiKOMITE ILMIAH
………...
....
vDAFTAR ISI
………...
...
viiKEYNOTE SPEAKER
SUSTAINABLE BUILDING MATERIALS ADALAH KEBUTUHAN……… KS-1
PERAN ENERGI TERBARUKAN DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI
INDONESIA……….. KS-11
BIDANG STRUKTUR DAN MATERIAL
PEMANFAATAN STEEL SLAG SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN PADA CAMPURAN BETON
NORMAL ………. SM-1 PERENCANAAN BETON MUTU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN
SUPERPLASTICIZER SULPHONAT DAN PENAMBAHAN FLY ASH ……… SM-9 ANALISIS STRUKTUR BETON BERTULANG SRPMK TERHADAP BEBAN GEMPA
STATIK DAN DINAMIK DENGAN PERATURAN SNI 1726 2012 ……….. SM-19 EVALUASI SIMPANGAN STRUKTUR AKIBAT PENAMBAHAN LANTAI DENGAN
METODE ANALISIS STATIK DAN DINAMIK RESPONSE SPECTRUM (STUDI KASUS :
PEMBANGUNAN GEDUNG DEKANAT FAKULTAS TEKNIK UNTIRTA) ………... SM-27 PENGARUH PENGURANGAN PENAMPANG TERHADAP KERUSAKAN RANGKA
BAJA………. SM-35
STUDI PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MOMENT RESISTING FRAME
DAN ECCENTRICALLY BRACED FRAME PADA GEDUNG CDAST ……… SM-43 PENGARUH PENAMBAHAN SERAT DRAMIX DAN PERAWATAN TERHADAP KUAT
TEKAN, KUAT TARIK DAN BIAYA BETON ………. SM-49 PENINGKATAN KINERJA BETON HIGH VOLUME FLY ASH DENGAN VARIASI UKURAN
BUTIR MAKSIMUM AGREGAT KASAR ……… SM-55 KEKUATAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON MENGGUNAKAN SERBUK BATU
BATA SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN ………. SM-63 STUDI PEMASANGAN PANEL BETON PRACETAK CORRUGATED SEBAGAI BADAN
REL-KERETA API: KASUS JALUR PELABUHAN TANJUNG EMAS SEMARANG …………. SM-71 ANALISIS PEMBEBANAN SEISMIK STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG
DENGAN DAN TANPA INTERAKSI TANAH-STRUKTUR (KASUS GEDUNG 5 LANTAI
DENGAN PONDASI TIANG)………. SM-87
STUDI PERBANDINGAN PERILAKU SEISMIK STRUKTUR RANGKA BETON
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 8 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana viii
STUDI PERBANDINGAN PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR BAJA MENGGUNAKAN KOLOM KOMPOSIT CONCRETE ENCASED DAN CONCRETE FILLED TUBE,SERTA NON
KOMPOSIT………... SM-113 EVALUASI POTENSI ABU TERBANG SISA PEMBAKARAN ASPALT MIXING PLAN
(AMP) PT.HARAPAN JAYA BETON BALI SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN
PORTLAND ………. SM-125 STUDI PEMASANGAN PANEL BETON PRACETAK CORRUGATED SEBAGAI BADAN
REL-KERETA API: KASUS JALUR PELABUHAN TANJUNG EMAS
SEMARANG…………...……….. SM-135 ANALISIS PERILAKU HUBUNGAN PELAT-KOLOM TEPI STRUKTUR PELAT DATAR
DENGAN CONCRETE DAMAGE PLASTICITY (CDP) DARI ABAQUS……….. SM-151 PENGARUH VARIASI CAMPURAN DAN FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP KUAT
TEKAN BETON NON PASIR DENGAN AGREGAT GRANIT PULAU BANGKA ……….. SM-161 ANALISIS PERILAKU STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG TIDAK BERATURAN
DENGAN PENAMBAHAN TINGKAT MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA……… SM-169 PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE
X-2 LANTAI DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA (SRPMB)……….. SM-179 PENGUJIAN LABORATORIUM BETON SERAT DENGAN AGREGAT RINGAN…………... SM-189
BIDANG GEOTEKNIK
ANALISIS KONSOLIDASI PDA TANAH LEMPUNG LUNAK DENGAN METODE
PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) ……… GT-1
ANALISIS WAKTU PENURUNAN KONSOLIDASI PADA KASUS PERBAIKAN TANAH
MENGGUNAKAN STONE COLUMN……….……….. GT-11 ANALISIS PENGARUH PEMERAMAN TERHADAP TANAH LEMPUNG YANG
DICAMPUR DENGAN ASPAL EMULSI……….………... GT-25 PEMANFAATAN LIMBAH BATUBARA SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH
LEMPUNG LUNAK………... GT-41 PERBANDINGAN DAYA DUKUNG PONDASI AKIBAT PERBEDAAN METODE
KONSTRUKSI PONDASI DALAM... GT-57 KAJIAN EFEK PNGEMBANGAN TERHADAP KUAT GESER DAN PERUBAHAN VOLUME
TANAH LEMPUNG BOBONARO... GT-65 PENGARUH KONSOLIDASI TERHADAP DEFORMASI DAN FAKTOR KEAMANAN
DENGAN MODEL MATERIAL TANAH LUNAK... GT-77 DAYA LAYAN PILE SLAB BETON BERTULAN SEBAGAI STRUKTUR PERKERASAN
JALAN PADA TANAH LUNAK………...……….. GT-85
BIDANG MANAJEMEN PROYEK DAN REKAYASA KONSTRUKSI
KENDALA DALAM PENERAPAN METODE TERINTEGRASI PADA PROYEK
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil 2 (SeNaTS 2) Tahun 2017 Sanur - Bali, 08 Juli 2017
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-179
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA
BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI
DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN
BIASA (SRPMB)
Ida Bagus Rai Widiarsa1, Ida Bagus Dharma Giri1dan Andre Tanjaya2 1Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar
Email: [email protected]
2Alumni Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana, Denpasar
ABSTRAK
Penelitian dilakukan untuk membandingkan kinerja Struktur Rangka Pemikul Momen dengan Struktur Rangka Breising Konsentrik Tipe X-2 Lantai pada gedung 10 lantai dengan analisis pushover. Analisis dilakukan dengan membandingkan 3 model struktur yaitu: Struktur Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB), Struktur Rangka Breising Konsentrik Khusus 1 (SRBKK 1), Struktur Rangka Breising Konsentrik Khusus 2 (SRBKK 2). SRBKK 1 memiliki dimensi balok kolom yang sama dengan SRMPB. SRBKK 2 merupakan SRBKK 1 setelah efisiensi dimensi balok kolom. Beban-beban yang bekerja mengacu pada SNI 1727:2013, SNI 1726:2012 dan PPIUG 1983. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada SRBKK 1, elemen struktur 11% lebih berat dari SRMPB dan pada SRBKK 2, berat struktur 2,42% lebih ringan dari SRPMB. Simpangan maksimum ketiga jenis struktur masih dalam simpangan yang diijinkan. SRBKK 1 memiliki simpangan maksimum 49% dan 60% lebih kecil dari SRPMB untuk arah X dan arah Y. Sedangkan SRBKK 2 memiliki simpangan maksimum 46% dan 59% lebih kecil dari SRPMB untuk arah X dan arah Y. SRBKK 1 memiliki gaya geser dasar maksimum 53% dan 58% lebih besar dari SRPMB untuk arah X dan arah Y. SRBKK 1 memiliki simpangan maksimum 60% lebih kecil dari SRPMB untuk arah X dan arah Y. Sedangkan SRBKK 2 memiliki gaya geser dasar maksimum 52% dan 55% lebih besar dari SRPMB untuk arah X dan arah Y. SRBKK 2 memiliki simpangan maksimum 53% dan 60% lebih kecil dari SRPMB untuk arah X dan arah Y.Roof drift ratiopada SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2 secara berturut-turut sebesar 1,79%, 0,71%, 0,83%. Target perpindahan tidak melebihi level kinerjalife safetyberdasarkan FEMA 356 dan ATC-40, sehingga struktur masih dalam keadaan aman ketika menerima gempa rencana.
Kata kunci:kinerja struktur, SRBK, SRPM, analisis pushover, drift ratio
ABSTRACT
The study was conducted to compare the performance of Moment Resisting Frame Structures with Concentrically Braced Frame Structures Type X-2 Story on 10 floors building with pushover analysis. The analysis has done by comparing the three models of structures, that is: Ordinary Moment Resisting Frame (OMRF), Special Concentrically Braced Frame 1 (SCBF 1), Special Concentrically Braced Frame 2 (SCBF 2). SCBF 1 has similar dimensions of beam column with OMRF. SCBF 2 was SCBF 1 after efficiency beam column dimensions. Load of structures follows the SNI 1727: 2013, SNI 1726: 2012 and PPIUG 1983. The results showed that on the SCBF 1, the weight of structures became 11% heavier than that of the OMRF and on the SCBF 2, the weight of structures was 2,42% lighter than that of the OMRF. The maximum deviation of the three types of structures was still in the allowable deviation. The SCBF 1 had a maximum deviation of 49% and 60% less than that of the OMRF for x and y directions. Meanwhile, the SCBF 2 had a maximum deviation of 46% and 59% less than that of the OMRF for X and Y directions. The SCBF 1 had a maximum base shear force 53% and 58% greater than that of the OMRF for X and Y directions. The SCBF 1 had a maximum deviation of 60% less than that of the OMRF for X and Y directions. Meanwhile, the SCBF 2 has a maximum base shear force 52% and 55% greater than that of the OMRF for X and Y directions. The SCBF 2 had a maximum deviation of 53% and 60% less than that of the OMRF for X and Y directions. Roof drift ratio at the OMRF, SCBF 1, and SCBF 2
Ida Bagus Rai Widiarsa , Ida Bagus Dharma Giri dan Andre Tanjaya
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-180 respectively were 1.79%, 0.71%, 0.83%. The displacements target did not exceed a level of life safety performance based on the FEMA 356 and ATC-40. Therefore, the structures were safe when it received designed earthquake load.
Keywords:structural performance, SCBF, OMRF, pushover analysis, drift ratio
1. PENDAHULUAN
Bahan baja umum digunakan untuk struktur gedung bertingkat tinggi karena memiliki banyak keunggulan seperti memiliki kekuatan, elastisitas dan daktilitas yang tinggi. Bahan baja lebih ringan dibandingkan dengan bahan beton, proses konstruksi juga lebih cepat karena bahan baja diproduksi di pabrik dan tinggal dipasang ditempat, sedangkan beton harus dibuat bekisting terlebih dahulu sebelum dilakukan pengecoran.
Struktur gedung dengan rangka baja dirancang untuk dapat menahan gaya gempa, dimana umumnya, gaya gempa yang terjadi ditahan melalui mekanisme lentur balok kolom. Mekanisme ini sering menimbulkan permasalahan yaitu simpangan yang besar. Hal ini menyebabkan diperlukannya pengaku lateral untuk menahan gaya gempa yang terjadi. Pengaku lateral yang sering digunakan seperti dinding pengisi, dinding geser, dan breising. Dinding pengisi merupakan dinding yang biasanya digunakan sebagai pembatas ruangan. Dinding geser merupakan kolom pipih dengan inersia besar yang dipasang hanya pada bagian tertentu. Breising merupakan batang tekan yang hanya mampu menerima gaya aksial. Dari ketiga jenis pengaku lateral ini, pemasangan breising merupakan cara paling mudah untuk dilakukan.
Struktur rangka breising (SRB) bertujuan memberikan kekakuan pada struktur sehingga mampu mengurangi deformasi yang terjadi. Selain itu, sistem SRB ini mampu mengefisienkan struktur dari segi berat bangunan. Menurut SNI 03-1729:2002 ada tiga macam konfigurasi sistem rangka yang sering digunakan yaitu struktur rangka pemikul momen (SRPM), struktur rangka breising konsentrik (SRBK), struktur rangka breising eksentrik (SRBE). Diantara ketiga sistem rangka tersebut, Struktur rangka breising konsentrik (SRBK) lebih mengutamakan pada kekuatan strukturnya. Sistem SRBK memiliki beberapa tipe seperti tipe X, tipe diagonal, tipe V, tipe V-terbalik, tipe X-2 lantai, dan tipe K. SRBK tipe X-2 lantai merupakan yang lebih baik bila dibandingkan dengan rangka breising tipe V atau V-terbalik. Bila terjadi tekuk pada batang tekan breising, balok akan mengalami defleksi kebawah sebagai akibat dari adanya gaya-gaya yang tidak seimbang pada balok. Defleksi ini dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem pelat lantai diatas sambungan tersebut, sehingga untuk mengantisipasi terjadinya defleksi pada balok maka diperlukan konfigurasi breising yang mencegah terbentuknya gaya-gaya yang tidak seimbang tersebut dan mendistribusikannya menuju lantai lain yang tidak mengalami defleksi tersebut (Utomo, 2011).
Berdasarkan SNI 1729:2002, sistem SRPM terbagi atas Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK), Struktur Rangka Pemikul Momen Terbatas (SRPMT) dan Struktur Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB). Perbedaan dari ketiga jenis ini terletak pada sambungan, pelat terusan, dan kekompakan penampang. SRPMB diharapkan dapat mengalami deformasi inelastis secara terbatas apabila dibebani oleh gaya-gaya yang berasal dari beban gempa rencana dibandingkan dengan SRPMK dan SRPMT. Sedangkan Struktur Rangka Breising Konsentrik terdiri atas Struktur Rangka Breising Konsentrik Khusus (SRBKK) dan Struktur Rangka Breising Konsentrik Biasa (SRBKB). Perbedaan kedua jenis ini terletak pada sambungan, kekompakan batang breising, dan kolom. SRBKK diharapkan dapat mengalami deformasi inelastis yang besar apabila dibebani oleh gaya-gaya yang berasal dari beban gempa rencana dibandingkan dengan SRBKB.
Untuk mengetahui kinerja suatu struktur, umumnya digunakan analisis statik non-linier yang sering disebut analisispushover. Analisispushoverdilakukan dengan memberikan suatu pola beban lateral statik pada struktur, yang kemudian secara bertahap ditingkatkan dengan faktor pengali sampai satu target perpindahan lateral dari suatu titik acuan tercapai. Titik acuan disini terjadi pada struktur bagian atas yang memiliki simpangan paling besar. Hasil dari analisispushoverini berupa kurva yang menggambarkan antara gaya geser dasar (V) terhadap perpindahan titik acuan (FEMA 356, 2000).
Berdasarkan kondisi diatas, kinerja dari Struktur Rangka Breising Konsentrik (SRBK) tipe X-2 lantai perlu dibandingkan dengan Struktur Rangka Pemikul Momen (SRPM). Hal ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas pemasangan breising pada struktur rangka. Hasil analisa ini dapat dijadikan acuan dalam pemilihan jenis struktur rangka pada gedung-gedung tinggi. Dengan demikian, maka pada penelitian ini dilakukan kajian untuk mengetahui perbandingan kinerja SRPMB dan SRBKK tipe X-2 Lantai dengan analisis statik non-linier pushover. Termasuk dalam penelitian ini untuk mengetahui efisiensi dari SRBKK tipe X-2 Lantai.
2. TEORI DAN METODE
Pemodelan dan analisis dilakukan pada struktur gedung 10 lantai dengan menggunakan program SAP 2000. Breising diletakkan pada bentang tengah portal luar seperti ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. Struktur
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA (SRPMB)
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-181 gedung 10 lantai dengan sistem struktur pemikul momen (SRPM) dan struktur rangka breising konsentrik (SRBK) tipe X-2 Lantai dengan ketentuan sebagai berikut: tinggi antar tingkat (h) 4000 mm, panjang bentang (L) 6000 mm, tebal pelat lantai 120 mm, tebal pelat atap 100 mm, dan tinggi genangan air atap 100 mm. Sedangkan sifat-sifat bahan yang digunakan: tegangan leleh baja (fy) 250 MPa, tegangan ultimit baja (fu) 410
MPa,Ebaja 200000 MPa, kuat tekan beton (f’c) 25 MPa, danEbeton23500 MPa.
(a) SRPM (b) SRBK
Gambar 1. Denah struktur bangunan
(a) Portal 1-1 SRPM (b) Portal 1-1 SRBK Gambar 2. Portal 1-1
Pada sistem SRPM dan SRBK, sambungan balok kolom menggunakan sambungan kaku. Sedangkan sambungan pada breising dengan balok kolom menggunakan sambungan sendi. Baja yang digunakan adalah profil IWF untuk balok, kolom, dan breising. Dinding dianggap sebagai beban pada balok, tidak sebagai pengaku. Beban dinding diinput pada seluruh balok induk dan balok anak sebagai asumsi bahwa bangunan tetap aman jika penempatan dinding dirubah dari perencanaan.
Beban yang dikerjakan pada struktur mengikuti ketentuan-ketentuan SNI 1727:2013, terdiri dari beban hidup, beban hidup atap, beban angin, dan beban hujan, dan PPIUG 1983 untuk beban mati tambahan. Sedangkan untuk beban gempa mengikuti SNI 1726:2012. Beban gempa diinput dengan metodeautoloadyang merupakan metode terbaik dalam mendesain beban gempa (Maurren. 2015). Gedung diasumsikan berdiri di atas tanah keras berlokasi di Denpasar dengan fungsi sebagai perkantoran.
Untuk langkah awal, dimodelkan sistem SRPMB. Selanjutnya struktur dibebani dengan beban sesuai rencana. Dengan trial and errormaka didapatkan dimensi yang optimal pada struktur. Rasio tegangan sistem SRPMB dikontrol berdasarkan metode LRFD yaitu < 0,95 dan simpangan < 0,02 tinggi gedung. Langkah berikutnya setelah rasio dan simpangan memenuhi syarat, dilanjutkan dengan pemodelan sistem SRBKK1 dengan menambahkan elemen breising pada sistem SRPMB tanpa merubah dimensi balok kolom. Sedangkan pemodelan sistem SRBKK 2 dengan mereduksi dimensi balok kolom dari model SRBKK 1 hingga mencapai dimensi optimum. Kedua model SRBK kemudian dikontrol berdasarkan kelangsingan batang breising, rasio tegangan, dan simpangan.
Ida Bagus Rai Widiarsa , Ida Bagus Dharma Giri dan Andre Tanjaya
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-182 Analisapushoverdilakukan pada ketiga model struktur yaitu SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2. Dari hasil analisis didapatkan berat dan simpangan dari ketiga model untuk kemudian dilakukan perbandingan efisiensi. Kinerja struktur diperoleh dari analisis pushover untuk ketiga model dibandingkan berdasarkan roof drift ratio, pola keruntuhan sendi plastis, gaya geser dan perpindahan maksimum.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dengan trial and error maka didapatkan dimensi yang optimal pada struktur pada ketiga model yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Dimensi SRPMB, SRBKK 1, SRBKK 2 ELEMEN DIMENSI SRPMB SRBKK 1 SRBKK 2 BIP W350X250X69,2 W350X250X69,2 W350X175X41,4 BIT W400X300X94,3 W400X300X94,3 W350x250x69,2 BA W350X175X49,6 W350X175X49,6 W350X175X49,6 Breising - W250x250x82,2 W250x250x82,2 K1P W400X400X200 W400X400X200 W400X400X200 K2P W400X400X200 W400X400X200 W400X400X200 K3P W400X400X200 W400X400X200 W400X400X147 K4P W400X400X172 W400X400X172 W400X400X147 K5P W400X400X147 W400X400X147 W400X400X147 K6P W400X400X140 W400X400X140 W400X400X140 K7P W400X400X140 W400X400X140 W400X400X140 K8P W300X300X106 W300X300X106 W300X300X84,5 K9P W300X300X84,5 W300X300X84,5 W300X300X84,5 K10P W300X300X84,5 W300X300X84,5 W250x250x82,2 K1T W400X400X415 W400X400X415 W400X400X415 K2T W400X400X283 W400X400X283 W400X400X283 K3T W400X400X283 W400X400X283 W400X400X283 K4T W400X400X232 W400X400X232 W400X400X232 K5T W400X400X200 W400X400X200 W400X400X200 K6T W400X400X172 W400X400X172 W400X400X172 K7T W400X400X147 W400X400X147 W400X400X147 K8T W350X350X106 W350X350X106 W350X350X106 K9T W300X300X84,5 W300X300X84,5 W300X300X84,5 K10T W300X300X84,5 W300X300X84,5 W250x250x82,2
Rasio tegangan dikontrol berdasarkan metode LRFD yaitu <0,95dan simpangan maksimum <0,02tinggi gedung. Hasil dari analisis pada ketiga model dengan dimensi sesuai dengan Tabel 1 terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbandinganstress ratiopada kolom dan simpangan maksimum Sistem
Struktur Stress ratiomin Stress ratiomaks Stress ratiorerata δ maks arah x (mm) δ maks arah y (mm)
< 0,95 < 0,95 < 0,95 < 800mm < 800mm
SRPMB 0,317 0,873 0,643 85,729 116,798
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA (SRPMB)
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-183
SRBKK 2 0,307 0,894 0,658 46,500 48,39
3.1 Perbandingan Efisiensi
Efisiensi berat dan simpangan ketiga model struktur yaitu SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2 dibandingkan. Perbandingan simpangan per lantai disajikan pada Gambar 3. Sedangkan perbandingan berat material baja masing-masing jenis struktur ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 3. Perbandingan simpangan lantai arah X dan Y
Dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa simpangan terbesar arah X terjadi pada SRPMB. Simpangan pada SRBKK 1 49% lebih kecil dari simpangan pada SRPMB. Sedangkan simpangan pada SRBKK 2 lebih kecil 46% dari simpangan pada SRPMB. SRBKK 1 memiliki simpangan 5,94% lebih kecil dari SRBKK 2. SRBKK 1 memiliki kekakuan yang paling besar dibandingkan SRPMB dan SRBKK 2. Untuk arah Y, simpangan terbesar juga terjadi pada SRPMB. Simpangan pada SRBKK 1 60% lebih kecil dari simpangan pada SRPMB. Sedangkan simpangan pada SRBKK 2 lebih kecil 59% dari SRPMB. SRBKK 1 memiliki simpangan 4,13% lebih kecil dari SRBKK 2. SRBKK 1 juga memiliki kekakuan yang paling besar dibandingkan SRPMB dan SRBKK 2.
Gambar 4. Perbandingan berat material baja
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa struktur yang paling efisien yaitu SRBKK 2. SRBKK 1 11% lebih berat dari SRMPB, hal ini terjadi karena pada SRBKK 1 hanya manambahkan elemen breising tanpa mereduksi dimensi balok kolom dari SRPMB. SRBKK2 2,42% lebih ringan dari SRPMB.
3.2 Analisis Pushover
Analisis pushover dilakukan untuk mengetahui perbandingan kinerja masing-masing struktur dan juga untuk mengetahui letak sendi plastis yang terjadi pada struktur. Letak-letak sendi plastis yang terbentuk pada SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2 dapat dilihat pada Gambar 5, 6 dan 7. Dari Gambar 5 dapat dilihat sendi plastis pertama terjadi pada step 2 baik arah x dan arah y, kemudian titik-titik yang akan mengalamicollapse terjadi
Ida Bagus Rai Widiarsa , Ida Bagus Dharma Giri dan Andre Tanjaya
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-184 pada step 9 untuk arah x dan step 7 untuk arah y. Letak sendi plastis yang terbentuk sudah sesuai konsep perencanaan yaitu balok lemah kolom kuat.
Step 2 Step 9 Step 2 Step 7
Gambar 5. Letak sendi plastis SRPMB arah X dan arah Y
Step 1 Step 4 Step 1 Step 3
Gambar 6. Letak sendi plastis SRBKK 1 arah X dan arah Y
Step 1 Step 3 Step 1 Step 3
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA (SRPMB)
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-185 Pada Gambar 6 dapat dilihat sendi-sendi plastis yang terbentuk pada SRBKK 1. Letak sendi plastis yang terbentuk sudah sesuai dengan konsepcapacity designbahwa batang breising harus terlebih dahulu mengalami leleh dan diikuti oleh balok kemudian kolom. Hal ini juga terjadi pada SRBKK 2 seperti ditunjukkan pada Gambar 7.
Hasil analisapushoveryang menunjukkan hubungan gaya geser dasar dengan perpindahan pada struktur ditunjukkan pada Tabel 3 dan 4 serta Gambar 8 dan 9.
Tabel 3. Hasil analisapushoverarah X
SRBKK 1 SRBKK 2 SRPMB
δ (mm) Force (kN) δ (mm) Force (kN) δ (mm) Force (kN)
B 108 3639 120 3549 176 1487
LS 276 7930 331 7910 688 3717
C 323 8699 342 8509 943 4130
Tabel 4. Hasil analisapushoverarah Y
SRBKK 1 SRBKK 2 SRPMB
δ (mm) Force (kN) δ (mm) Force (kN) δ (mm) Force (kN)
B 120 3671 131 3633 239 1492
LS 283 7533 322 7885 714 3164
C 313 7990 340 8120 867 3351
Notasi B menunjukkan kondisi operational struktur dimana pada kondisi ini kerusakan pada struktur dapat diabaikan. Notasi LS menunjukkan kondisilife safetydimana pada kondisi ini bangunan aman saat terjadi gempa namun tidak setelahnya, untuk itu perlu dilakukan perbaikan pada struktur. Notasi C menunjukkan kondisicollapsedimana pada kondisi ini struktur mengalami keruntuhan.
Gambar 8. Kurva pushover arah X dan Y
Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa kinerja SRBKK 1 lebih baik dibandingkan dengan kinerja SRPMB maupun SRBKK 2. Gaya geser dasar SRBKK 1 lebih besar 53% untuk arah x dan 58% untuk arah y dari SRPMB serta lebih besar 0,26% untuk arah x dan lebih kecil 4,47% untuk arah y dari SRBKK 2 dilevel kinerja life safety. Perpindahan yang terjadi pada SRBKK 1 lebih kecil 60% untuk arah x dan 60% untuk arah y dibandingkan dengan SRPMB serta lebih kecil 17% untuk arah x dan 12% untuk arah y dibandingkan dengan SRBKK 2 dilevel kinerjalife safety.
Perbandingan roof drift ratio yaitu perbandingan perpindahan dengan tinggi total gedung pada level kinerja life safety pada struktur disajikan pada Tabel 5. Dari tabel dapat dilihat bahwa roof drift ratio pada SRBKK 1 lebih kecil 1,08% dari SRPMB,roof drift ratio pada SRBKK 2 lebih kecil 0,95% dari SRPMB, dan roof drift ratiopada SRBKK 1 lebih kecil 0,12% dari SRBKK 2.
Ida Bagus Rai Widiarsa , Ida Bagus Dharma Giri dan Andre Tanjaya
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-186 Tabel 5. Perbandinganroof drift ratio
Jenis
Struktur Perpindahan Maksimum padaLevelLife Safety(mm) Tinggi Gedung(mm) Roof Drift Ratio(%)
SRPMB 714 40000 1,79%
SRBKK 1 284 40000 0,71%
SRBKK 2 332 40000 0,83%
3.3 Target Perpindahan
Gaya dan deformasi setiap elemen dihitung terhadap perpindahan tertentu dititik kontrol yang disebut
sebagai target perpindahan dengan δt dianggap sebagai perpindahan maksimum yang terjadi pada saat bangunan
mengalami gempa rencana. Berdasarkan metode koefisien perpindahan (FEMA356) dan metode capacity spectrum(ATC-40) yang sudah terintegrasi dalam program SAP 2000 didapatkan nilai perpindahan dan gaya geser dasar saat mencapai target perpindahan seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 6. Dari tabel dapat dilihat bahwa deformasi dan gaya geser tidak melebihi dari level kinerjalife safety yang disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4. Hal ini menunjukkan bahwa jika struktur menerima gempa rencana, struktur masih dalam keadaan aman.
Tabel 6. Batas Kinerja
Batas Kinerja Vt (kN) δt (mm) SRPMB SRBKK 1 SRBKK 2 SRPMB SRBKK 1 SRBKK 2 FEMA 356 arah X 2130 4474 4157 273 137 143 arah Y 1940 4217 3999 323 143 147 ATC-40 arah X 1904 4038 3757 239 122 128 arah Y 1734 3851 3657 284 127 132
4. KESIMPULAN
Dari hasil analisis dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada SRPMB yang ditambahkan breising (SRBKK 1), elemen struktur menjadi 11% lebih berat. Setelah dilakukan efisiensi dengan mereduksi dimensi balok kolom (SRBKK 2), berat struktur menjadi 2,42% lebih ringan dari kondisi awal (SRPMB).
2. Simpangan maksimum ketiga jenis struktur (SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2) masih dalam simpangan yang diijinkan. SRBKK 1 memiliki simpangan maksimum 49% dan 60 % lebih kecil dari simpangan maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. Sedangkan SRBKK 2 memiliki simpangan maksimum 46% dan 59% lebih kecil dari simpangan maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. 3. SRBKK 1 memiliki gaya geser dasar maksimum 53% dan 58% lebih besar dari gaya geser dasar
maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. SRBKK 1 memiliki simpangan maksimum 60% lebih kecil dari simpangan maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. Sedangkan SRBKK 2 memiliki gaya geser dasar maksimum 52% dan 55% lebih besar dari gaya geser dasar maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. SRBKK 2 memiliki simpangan maksimum 53% dan 60% lebih kecil dari simpangan maksimum SRPMB untuk arah X dan arah Y. Kinerja ini ditinjau pada level kinerjalife safety.Roof drift ratiopada SRPMB, SRBKK 1, dan SRBKK 2 secara berturut-turut sebesar 1,79%, 0,71%, 0,83%. 4. Pada target perpindahan yang sesuai dengan FEMA 356 dan ATC-40, deformasi dan gaya geser
berdasarkan gempa rencana tidak melebihi dari level kinerjalife safetysehingga struktur masih dalam keadaan aman ketika menerima gaya gempa rencana.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 1983.Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Rumah dan Gedung. Departemen Pekerjaan Umum Ditjen Cipta Karya Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan.
PERBANDINGAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BREISING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI DENGAN STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN BIASA (SRPMB)
Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Udayana SM-187 SNI 03-1729-2002. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. Badan Standardisasi
Nasional.
SNI 03-1726-2012. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung.Badan Standardisasi Nasional.
SNI 1727:2013. Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain. Badan Standardisasi Nasional.
SNI 1729:2015. Spesifikasi untuk gedung bangunan baja struktural. Badan Standardisasi Nasional.
Federal Emergency Management Agency 356, Inc. (2000). Prestandard and Commentary for The Seismic Rehabilitation of Buildings.California.
LRFD. 1996.Manual of Steel Construction, Load and Resistance Factor Design. Chicago.
Maurren, T. 2015. Aplikasi SAP2000 dalam Perencanaan Struktur Beton Bertulang Akibat Beban Gempa Menggunakan Metode Statik Ekivalen, Auto Load, Respon Spektrum, dan Riwayat Waktu. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Udayana
Utomo, J. 2011. Seismic Column Demands Pada Sistem Rangka Bresing Konsentrik Khusus Dengan Bresing Tipe X 2 Tingkat. Fakultas Teknik, Universitas Atmajaya Yogyakarta.