• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

7   

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Manajemen Operasional

Dalam pengertian paling luas, Manajemen operasi berkaitan dengan produksi barang dan jasa. Setiap hari kita dapat menjual barang atau jasa yang melimpah yang ditawarkan oleh sejumlah perusahaan, dimana semuanya itu dihasilkan dibawah pengawasan manajer operasi. Beberapa pengertian tentang manajemen operasi adalah sebagai berikut,

- Menurut pendapat Barry Render dan Jay Heizer (2001,p2) : Operation

management is the set of activities that creates goods and services by transforming inputs into outputs.

- Menurut pendapat Chase – Jacobs – Aquilano (2004,p6) : Operation

Management (OM) is define as the design, operation, and improvement of the systems that create and deliver the firms primary producs and service.

Jadi manajemen operasi adalah serangkaian kegiatan membuat barang dan jasa melalui perubahan dari masukan menjadi keluaran atau pengelolaan sumber daya yang berupa faktor-faktor produksi seperti bahan baku, tenaga kerja, modal untuk diubah menjadi barang dan jasa yang lebih bermanfaat.

(2)

2.2 Persediaan

2.2.1 Definisi persediaan

Setiap perusahaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan maupun pabrik selalu memiliki persediaan barang. Persediaan (inventory) dapat memiliki berbagai fungsi penting yang menambah fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan dan dengan adanya persediaan dapat mempermudah dan memperlancar jalannya proses produksi. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan atau meminta barang atau jasa yang dihasilkan. Bila persediaan dilebihkan, biaya penyimpanan dan modal yang diperlukan akan bertambah. Kelebihan persediaan juga membuat modal menjadi mandeg, semestinya modal tersebut dapat diinvestasikan pada sektor lain yang lebih menguntungkan (opporunity cost). Sebaliknya, bila persediaan dikurangi maka dapat terjadi kehabisan bahan baku (stock out). Bila perusahaan tidak memiliki persediaan yang mencukupi, biaya pengadaan darurat akan lebih mahal, dampak lainnya adalah kekecewaan konsumen terhadap perusahaan tersebut.

Menurut pendapat Baroto (2002, p452), Persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in process), barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan (Baroto, 2002, p52).

Menurut pendapat Zulfikarijah (2005, p4), : “Persediaan adalah stock bahan baku yang digunakan untuk memfasilitasi produksi atau memuaskan permintaan konsumen”. Jenis persediaan meliputi : bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi.

(3)

Jadi persediaan (inventory) adalah persediaan berbagai jenis barang atau sumber daya yang digunakan dalam suatu organisasi / perusahaan untuk memfasilitasi produksi atau memuaskan permintaan konsumen.

Menurut Render dan Heizer (2001), inventory dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu bahan baku, bahan setengah jadi, barang jadi, dan inventory untuk kebutuhan pemeliharaan atau perbaikan. Kegunaan inventory adalah dapat memenuhi kebutuhan pelanggan di waktu tertentu; Membangun persediaan untuk bulan ke depan ketika permintaan lebih tinggi dari kapasitas yang ada; Mengambil keuntungan ketika ada diskon dari pemasok; Menghindari atau memproteksi dari fluktuasi harga yang meningkat; Menyediakan persediaan cadangan untuk kondisi permintaan yang tidak menentu; dan Menjaga kelangsungan proses produksi.

Menurut Nasution, Arman Hakim (2003, p103) Persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut. Proses lebih lanjut adalah berupa kegiatan produksi dalam sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga. Persediaan merupakan sumber daya disamping yang dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Bahan baku, barang dalam proses dan barang jadi merupakan contoh dari persediaan. Semua organisasi memiliki tipe – tipe sistem pengendalian dan perencanaan persediaan. Perusahaan selalu berusaha untuk mengurangi biaya dengan mengurangi tingkat persediaan di tangan (on hand), sementara itu di sisi lain pelanggan menjadi sangat tidak puas ketika jumlah persediaan mengalami kehabisan (stock out). Oleh karena itu perusahaan harus mengusahakan terjadinya keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat layanan pelanggan dan minimasi biaya merupakan faktor penting dalam membuat keseimbangan ini.

(4)

Persediaan dimiliki hampir seluruh bentuk entitas bisnis manufaktur dalam bentuk persediaan bahan mentah, barang dalam proses dan barang jadi. Bagi bentuk entitas non manufaktur, persediaan yang dimiliki dalam jumlah yang lebih kecil / setidaknya dalam bentuk persediaan perlengkapan kantor yang mendukung kegiatan operasionalnya, semua itu jika tidak dikelola dengan baik akan berpengaruh terhadap tingkat performa yang diberikan bagi pengguna jasa / pelanggan / masyarakat yang dilayani, apalagi jika unit usaha tersebut menyandarkan pada pengelolaan persediaan sebagai sumber pendapatannya seperti bentuk perusahaan gudang. Bentuk persediaan yang tidak dikelola dengan baik akan tercermin dalam bentuk sebagai berikut :

1. Persediaan yang menumpuk di gudang, hal itu menunjukkan

ketidakefisienan karena menumpuknya investasi perusahaan yang tertanam dalam bentuk barang.

2. Barang yang tertumpuk mengakibatkan bertambahnya biaya penyimpanan, ruang penyimpanan, serta resiko rusak dan tidak laku juga meningkat. 3. Pelanggan akan berkurang dikarenakan kinerja perusahaan yang menurun

karena tidak mampu bersaing dan beroperasi secara efisien.

Menurut pendapat Nasution Hakim (2003, p103) dalam sistem manufaktur, persediaan terdiri dari 3 bentuk sebagai berikut :

1. Bahan Baku, yaitu merupakan input awal dari proses transformasi menjadi

produk jadi.

2. Barang setengah jadi, yaitu merupakan bentuk peralihan antara bahan baku

(5)

3. Barang jadi, yaitu merupakan hasil akhir proses transformasi yang siap dipasarkan kepada konsumen.

Menurut Zulfikarijah (2005, p4) : “Persediaan adalah stok bahan baku yang digunakan untuk memfasilitasi produksi atau untuk memuaskan permintaan konsumen. Jenis persediaan meliputi : bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.”

Manajemen Persediaan merupakan suatu cara untuk mengendalikan persediaan agar dapat melakukan pemesanan dengan tepat, yaitu dengan biaya yang optimal. Oleh karena itu, konsep mengelola sangat penting diterapkan oleh perusahaan agar tujuan efektifitas dan efisiensi tercapai. Karena semua organisasi mempunyai beberapa jenis perencanaan dan pengendalian persediaan. Manajemen persediaan yang baik merupakan hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan. Pada satu sisi, pengurangan biaya persediaan dengan cara menurunkan tingkat persediaan dapat dilakukan perusahaan, tetapi pada sisi lainnya, konsumen tidak akan puas apabila suatu produk stock barangnya habis. Oleh karena itu, keseimbangan antara investasi persediaan dan tingkat pelayanan kepada konsumen harus dapat dicapai.

Bahan

Baku

Setengah Jadi

Barang

Barang

Jadi

PROSES

PRODUKSI

Gambar 2.1 Persediaan

(6)

Manajemen persediaan merupakan hal yang mendasar dalam penetapan keunggulan kompetitif jangka panjang. Mutu, rekayasa, produk, harga, lembur, kapasitas berlebih, kemampuan merespon pelanggan akibat kinerja yang kurang baik, waktu tenggang (lead time), dan profitabilitas keseluruhan adalah hal – hal yang dipengaruhi oleh tingkat persediaan. Perusahaan dengan tingkat persediaan yang lebih tinggi daripada pesaing cenderung berada dalam posisi kompetitif yang lemah. Kebijaksanaan manajemen persediaan telah menjadi sebuah senjata untuk memenangkan kompetitif.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah sejumlah barang yang disimpan dalam suatu tempat guna memenuhi kegiatan usaha dan untuk bahan baku produksi.

Persediaan dapat diartikan sebagai sumber daya yang belum digunakan. Persediaan mempunyai nilai ekonomis di masa mendatang pada saat aktif. Fungsi manajemen persediaan:

a. Perencanaan persediaan: menentukan kebutuhan material untuk memenuhi rencana produksi yang telah disusun.

b. Pengendalian persediaan: menentukan tingkat persediaan yang sesuai, dimana pemesanan harus dilakukan kembali, persediaan pengaman, pendataan tingkat dan kondisi persediaan

2.2.2 Definisi Sistem Persediaan

Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola masukan – masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi output, dimana

(7)

untuk itu diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu (Baroto, 2002, p54). Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi, dan berapa besar pesanan harus dilakukan. Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen, dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan.

Variabel keputusan dalam pengendalian persediaan tradisional dapat diklarifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif. Secara kuantitatif, variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut :

1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan (EOQ)

2. Kapan pemesanan harus dilakukan (reorder point)

3. Berapa jumlah persediaan pengaman (safety stock)

4. Bagaimana mengendalikan persediaan

Secara kualitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai berikut :

1. Jenis barang apa yang dimiliki

2. Dimana barang tersebut berada

3. Berapa jumlah barang yang sedang dipesan

(8)

Secara luas, tujuan dari sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal terhadap seluruh masalah yang terkait dengan persediaan. Dikaitkan dengan tujuan umum perusahaan, maka ukuran optimalisasi pengendalian persediaan seringkali diukur dengan keuntungan maksimum yang dicapai. Optimalisasi pengendalian persediaan biasanya diukur dengan total biaya minimal pada suatu periode tertentu.

2.2.3 Jenis Persediaan

Secara fisik, item persediaan dapat dikelompokkan dalam lima kategori, yakni sebagai berikut (Baroto, 2002, p52) :

1. Bahan Mentah (Raw Materials), yaitu barang – barang berwujud seperti baja,

kayu, tanah liat, atau bahan – bahan mentah lainnya yang diperoleh dari sumber – sumber alam, atau dibeli dari pemasok, atau diolah sendiri oleh perusahaan untuk digunakan perusahaan dalam proses produksinya sendiri.

2. Komponen, yaitu barang – barang yang terdiri atas bagian – bagian (parts)

yang diperoleh dari perusahaan lain atau hasil produksi sendiri atau untuk digunakan dalam pembuatan barang jadi atau barang setengah jadi.

3. Barang setengah jadi (work in process) yaitu barang – barang keluaran dari tiap

operasi produksi atau perakitan yang telah memiliki bentuk lebih kompleks daripada komponen, namun masih perlu proses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi.

4. Barang jadi (finished goods) adalah barang – barang yang telah selesai diproses

dan siap untuk didistribusikan ke konsumen.

5. Bahan pembantu (supplies material) adalah barang – barang yang diperlukan

(9)

komponen barang jadi. Termasuk bahan penolong adalah bahan bakar, pelumas, listrik, dan lain – lain.

2.2.4 Biaya Persediaan

Menurut Herjanto, Eddy (2007, p242-243), Unsur – unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :

1. Biaya pemesanan (Ordering Cost, procurement cost) adalah biaya yang

dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan / barang, sejak dari penempatan pemesanan sebagai tersedianya barang di gudang. Yang termasuk dalam biaya pemesanan meliputi biaya administrasi dan penempatan vendor, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan barang.

2. Biaya penyimpanan (carrying cost, holding cost) adalah biaya yang dikeluarkan

berkenaan dengan diadakannya persediaan barang. Yang termasuk biaya ini, antara lain biaya sewa gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji pelaksana pergudangan, biaya listrik, biaya modal yang tertanam dalam persediaan, ataupun biaya kerusakan.

3. Biaya kekurangan (stockout cost) persediaan ini pada dasarnya bukan biaya

nyata, melainkan berupa biaya kehilangan kesempatan yang timbul misalnya karena terhentinya proses produksi akibat tidak adanya bahan yang diproses, antara lain meliputi biaya kehilangan waktu produksi bagi mesin dan karyawan. Berdasarkan pendapat Zulfikarijah (2005, p13 – 17), biaya persediaan di dalam perusahaan umum dibedakan menjadi 4 jenis yaitu :

(10)

1. Biaya Pembelian (purchasing cost)

Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, jumlahnya tergantung pada yang dibeli dan harga barang per unit.

2. Biaya pengadaan (procurement cost)

Merupakan biaya yang berhubungan dengan pembelian barang terdiri dari biaya

pemesanan (ordering cost) apabila barang yang dikeluarkan berasal dari luar

perusahan dan biaya persiapan (setup cost). Biaya pengadaan ini terdiri dari 2 jenis, yaitu :

- Biaya pemesanan, adalah semua pengeluaran yang disebabkan oleh adanya kegiatan mendatangkan barang dari luar, biaya ini meliputi biaya menentukan pemasok, pengetikan pemesanan, pengiriman pemesanan, biaya pengangkutan, biaya penerimaan.

- Biaya persiapan adalah semua pengeluaran yang disebabkan oleh kegiatan memproduksi suatu barang, biaya ini berasal dari pabrik yang meliputi : biaya menyusun peralatan produksi, menyetel mesin, mempersiapkan gambar kerja.

3. Biaya penyimpanan (carrying cost / holding cost)

Semua pengeluaran yang disebabkan oleh adanya kegiatan menyimpan barang dalam periode waktu tertentu, biaya ini diwujudkan dalam bentuk persentase nilai rupiah per unit waktu. Biaya ini meliputi :

(11)

- Biaya modal (cost of capital). Adanya penumpukan barang dalam proses persediaan sama artinya dengan biaya penumpukan modal yang menyebabkan peluang untuk investasi lainnya berkurang. Modal ini dapat diukur dengan besarnya suku bunga bank, oleh karena itu biaya yang disebabkan oleh karena memiliki persediaan harus diperhitungkan dalam biaya sistem persediaan biaya modal diukur sebagai persentasi nilai persediaan untuk periode waktu tertentu.

- Biaya penyimpanan (cost of storage) adalah biaya gudang yang dikeluarkan

untuk tempat atau gudang penyimpanan barang, apabila gudang yang digunakan adalah sewa, maka biaya dapat berupa biaya sewa dan apabila gudang milik sendiri, maka biayanya merupakan biaya depresiasi. Adapun masukan dalam biaya gudang adalah biaya tempat, asuransi, dan pajak. - Biaya keusangan atau kadaluarsa (obsolence cost) adalah biaya keusangan

atau penyimpanan barang – barang dalam waktu yang relatif lama dapat berakibat menurun atau merosotnya nilai barang, hal ini dapat disebabkan oleh adanya perubahan teknologi, model dan trend konsumen. Biaya keusangan ini diukur dalam persentase berdasarkan pengalam yang terjadi selama ini.

- Biaya kehilangan (loss cost) dan biaya kerusakan (deterioration) adalah

penyimpanan barang yang dapat mengakibatkan dan penyusutan beratnya dapat berkurang atau jumlahnya berkurang karena kehilangan. Biaya kehilangan ini diukur dalam persentase berdasarkan pengalaman yang selama ini terjadi

(12)

- Biaya asuransi (insurance cost) adalah akibat lain dalam penyimpangan persediaan adalah adanya bahaya yang tidak dapat dikendalikan seperti bencana alam, kebakaran, dan lain – lain. Beberapa perusahaan besar mengasuransikan persediaannya untuk mengantisipasi kerugian tersebut. Adapun jumlahnya sesuai dengan nilai, jenis persediaan dan kesepakatan dengan pihak asuransi.

- Biaya administrasi dan pemindahan. Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk administrasi persediaan barang yang ada, baik pada saat pemesanan, penerimaan barang, maupun penyimpanannya dan untuk memindahkan dari dan ke tempat penyimpanan termasuk biaya tenaga kerja dan material handling.

4. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost). Mereferensikan konsekuensi ekonomis yang disebabkan oleh adanya kehabisan persediaan. Kondisi ini sangat merugikan perusahaan karena proses produksi akan terganggu dan kesempatan untuk memperoleh peluang atau keuntungan akan hilang atau konsumen yang akan dapat pindah ke perusahaan lain karena permintaanya tidak terpenuhi yang pada akhirnya dapat berpengaruh pada citra perusahaan. Adapun yang termasuk dalam biaya stock out adalah :

- Jumlah barang yang tidak terpenuhi. Adanya kehabisan barang yang menyebabkan kegiatan proses produksi terhenti dan sejumlah permintaan tidak terpenuhi sehingga perusahaan akan kehilangan peluang untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan. Pengukuran biaya ini didasarkan

(13)

pada peluang yang hilang tersebut yang disebut juga dengan biaya penalti dengan satuan rupiah per unit.

- Waktu pemenuhan. Kekurangan persediaan dapat juga berakibat pada lambatnya waktu penyelesaian barang karena adanya waktu menganggur pada saat perusahaan harus memesan persediaan, waktu menganggur ini merupakan biaya kehilangan pendapatan. Pengukuran biaya ini didasarkan waktu yang diperlukan untuk mengisi gudangn dengan satuan rupiah per satuan waktu.

- Biaya pengadaan darurat. Biaya darurat ini sering kali diperlukan sebagai upaya untuk memenuhi permintaan konsumen dalam kondisi kehabisan biaya persediaan, sehingga biaya yang akan dikeluarkan lebih besar dibandingkan kondisi normal. Biasanya biaya ini dikarenakan pemesanan yang mendadak dimana perusahaan tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir lebih jauh untuk menentukan pilihannya, baik harga, pemasok, atau biaya – biaya yang mengikutinya. Pengukurannya didasarkan pada pemesanan setiap kali kehabisan persediaan.

2.2.5 Penyebab Persediaan

Persediaan merupakan suatu hal yang tidak terhindarkan (Baroto, 2002, p53). Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut :

- Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu barang

tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan untuk pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan.

(14)

- Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.

- Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar

dari kenaikan harga di masa mendatang 2.2.6 Fungsi Persediaan

Efisiensi produksi (salah satu muaranya adalah penurunan biaya produksi) dapat ditingkatkan melalui pengendalian sistem persediaan. Efisiensi ini dapat dicapai bila fungsi persediaan dapat dioptimalkan. Beberapa fungsi persediaan adalah sebagai berikut :

- Fungsi Independensi. Persediaan bahan diadakan agar departemen –

departemen dan proses individual terjaga kebebasannya. Permintaan pasar tidak dapat diduga dengan tepat, demikian pula dengan pasokan dari pemasok. Seringkali keduanya meleset dari perkiraan. Agar proses produksi dapat berjalan tanpa tergantung dari pemasok dan permintaan, maka persediaan harus mencukupi.

- Fungsi Ekonomis. Membeli dalam jumlajh tertentu akan lebih ekonomis

dibanding membeli sesuai dengan kebutuhan, sehingga memiliki persediaan dapat dikatakan tindakan yang ekonomis.

- Fungsi Antisipasi. Fungsi ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan

(15)

permintaan pada saat tertentu yang tidak terduga, sehingga diperlukan persediaan untuk mengantisipasinya.

- Fungsi Fleksibilitas. Bila dalam proses produksi terdiri dari beberapa tahapan

proses operasi dan kemudian terjadi kerusakan pada suatu tahapan proses produksi, sehingga produk tidak dapat diproduksi lagi, maka akan diperlukan bahan baku tambahan untuk melanjutkan proses produksi yang terhambat tersebut.

Berdasarkan pendapat Tampubulon, (2004, p190) pentingnya mengefektifkan sistem persediaan bahan, efisiensi, operasional perusahaan dapat ditingkatkan melalui fungsi persediaan dalam mengefektifkan fungsi decoupling, fungsi economic size, dan fungsi antisipasi.

1. Fungsi decoupling. Merupakan fungsi perusahaan untuk mengadakan

persediaan decople, dengan mengadakan pengelompokan operasional secara terpisah – pisah, sebagai contoh adalah perusahaan manufaktur mobil, skedul perakitan mesin dipisah dari skedul perakitan tempat duduk.

2. Fungsi economic size. Penyimpanan dalam jumlah besar dengan

pertimbangan adanya diskon atas pembelian bahan, diskon atas kualitas untuk dipergunakan dalam proses konversi, serta didukung gudang yang memadai. Contohnya adalah badan urusan logistic (bulog) membeli gabah dari petani untuk dibuat persediaan, pada umumnya harga gabah ketika panen masih murah dan tergantung mutu. Kemudian pada waktu selesai dipanen atau paceklik, gabah yang telah diproses menjadi beras untuk dijual kepasar, pada saat ini bulog tidak membeli gabah dari petani, karena stok

(16)

petani sedikit dan harganya mahal. Dengan demikian bulog tersebut menganut fungsi economic size.

3. Fungsi antisipasi. Merupakan penyimpanan bahan yang fungsinya untuk penyelamatan jika sampai terjadi keterlambatan datangnya pesanan bahan dari pemasok. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga proses produksi tetap berjalan dengan lancar

Persediaan dapat diartikan sebagai investasi yang akan menunggu proses lebih lanjut, persediaan dalam perusahaan merupakan salah satu aset terpenting dalam banyak perusahaan. Jenis persediaan di berbagai perusahaan berbeda – beda akan tetapi secara umum persediaan dibagi menjadi tiga, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi, dan persediaan barang jadi.

Dengan adanya persediaan yang baik di dalam suatu perusahaan, maka akan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Untuk memberikan stock agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi

akan terjadi.

2. Untuk menyeimbangkan produksi dengan distribusi.

3. Untuk memperoleh keuntungan dari potongan kuantitas, karena membeli dalam jumlah banyak dan biasanya ada diskon.

4. Untuk hedging terhadap inflasi dan perubahan harga

5. Untuk menghindari kekurangan stok yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, mutu ketidakpastian pengiriman.

(17)

6. Untuk menjaga kelangsungan operasi dengan cara persediaan dalam proses

2.3 Pengendalian Persediaan

Dalam suatu perusahaan, kelancaran seluruh kegiatan operasi harus didukung oleh beberapa kegiatan penting. Pengendalian persediaan merupakan salah satu kegiatan penting dari urutan kegiatan-kegiatan yang berkaitan erat satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan sesuai dengan apa yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu, jumlah, kantitas, dan biayanya. Pengendalian persediaan ini meliputi perencanaan persediaan jadwal untuk pemesanan, pengaturan penyimpanan, dan lainnya. Pengendalian persediaan ini juga penting bagi semua jenis perusahaan karena kegiatan ini dapat membantu tercapainya suatu tingkat efesiensi penggunaan dalam persediaan.

2.3.1 Pengertian Pengendalian Persediaan

Pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini (20% sampai 60%). Hal tersebut merupakan dilema bagi perusahaan. Setiap perusahaan, apakah itu perusahaan perdagangan ataupun pabrik serta perusahaan jasa selalu mengadakan persediaan.

- Menurut pendapat Assauri (2004,p176) : “Pengawasan persediaan merupakan

salah satu kegiatan dari urutan kegiatan-kegiatan yang berurutan erat satu sama lain dalam seluruh operasi produksi perusahaan tersebut sesuai dengan apa yang telah direncanakan lebih dahulu baik waktu, jumlah, kuantitas, maupun biayanya.”

(18)

- Menurut Fredy Rangkutti (2004,p25) : “Pengawasan persediaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang dapat dipecahkan dengan menerapkan metode kuantitatif.”

Dari pengertiaan diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan adalah suatu aktivitas untuk menetapkan besarnya persediaan dengan memperhatikan keseimbangan antara besarnya persediaan yang disimpan dengan biaya-biaya yang ditimbulkannya.

2.3.2 Tujuan Pengendalian Persediaan

Suatu pengendalian persediaan yang dijalankan oleh suatu perusahaan sudah tentu mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Menurut pendapat Assauri (2004,p117) tujuan pengendalian persediaan secara terperinci dapat dinyatakan sebagai usaha untuk:

a) Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat

mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.

b) Menjaga agar pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu besar atau

berlebih-lebih, sehingga biaya-biaya yang ditimbulkan dari persediaan tidak terlalu besar.

c) Menjaga agar pembelian kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan berakibat

biaya pemasaran menjadi besar.

d) Meminimalkan item – item yang tidak laku, kelebihan atau usang dengan

melaporkan perubahan produk yang mempengaruhi bahan baku.

(19)

f) Menjaga agar jumlah modal yang diinvestasikan ke dalam persediaan berada di tingkat yang konstan dengan kebutuhan operasi dan perencanaan manajemen. Dari kegiatan diatas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pengendalian persediaan adalah untuk memperoleh kualitas dan jumlah yang tepat dari bahan-bahan barang yang tersedia pada waktu yang dibutuhkan dengan biaya-biaya minimum untuk keuntungan atau kepentingan perusahaan. Dengan kata lain pengendalian persediaan untuk menjamin terdapatnya persediaan pada tingkat yang optimal agar produksi dapat berjalan dengan lancar dan biaya persediaan adalah minimum.

2.3.3 Modal Persediaan

Perusahaan manufaktur dalam menjalankan usahanya membutuhkan persediaan mulai dari keperluan bahan mentah sampai ada barang jadi. Manajemen persediaan ini bertujuan untuk membantu perusahaan dalam meningkatkan dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen. Pengadaan stok barang-barang agar tidak terjadi kekurangan atau kelebihan, karena jika terjadi kekurangan pelanggan akan merasa tidak puas atau badan usaha tersebut. Sebaliknya jika terjadi kelebihan stok bisa menimbulkan kerusakan terhadap barang-barang tersebut dan biaya yang dikeluarkan tidak seimbang dengan hasil penjualan.

Disamping itu, harus diperhatikan juga segi-segi meminimalkan biayanya sebab banyak biaya yang dikeluarkan dalam mengadakan stok barang tersebut. Di antara biaya pembelian, biaya pengadaan atau pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya kehilangan penjual. Untuk itu maka diperlukan metode persediaan yang dapat mengatisipasi penentuan diadakannya persediaan pada perusahaan tersebut.

(20)

Metode persediaan pada manajemen persediaan menurut pendapat Fredy Rangkutti (2004,p116):

1. Prosedur Perolahan Bahan

Seluruh pemebelian bahan dalam suatu perusahaan dilaksanakan oleh departemen / Divisi Pembelian. Untuk memperoleh laporan pertanggungjawaban yang lengkap mengenai penggunaan seluruh bahan yang dibeli, diperlukan sistem yang sistematis. Dengan demikian, pembelian, pemakaian, maupun pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara tepat dan optimal

2. Penyimpanan dan Penggunaan Bahan

Setelah lama bahan diterima oleh bagian gudang disertai dengan salinan proposal penerimaannya dari Departemen Penerimaan dan Pemeriksaan, barang – barang atau bahan disimpan secara cermat, yaitu :

- Barang disimpan dalam berdasarkan nomor perkiraan bahan;

- Frekuensi penggunaan bahan;

- Sifat, ukuran, dan bentuk bahan tersebut

3. Penentuan Harga Pokok Persediaan

Penentuan harga pokok persediaan sangat bergantung dari metode penilaian yang dipakai, yaitu metode FIFO (First in, First out), metode LIFO (Last in, First Out) atau metode harga pokok rata – rata (Average Cost Method).

(21)

Sebelum menentukan pilihan terhadap metode penerapan harga pokok yang sesuai, penting untuk membandingkan harga pokok rata – rata per unit untuk ketiga metode diatas

5. Metode Harga Ecer untuk Penentuan Harga Pokok Persediaan

Metode ini pada umumnya digunakan oleh retailer atau perusahaan dagang eceran, misalnya pasar swalayan, department store, dan sebagainya

6. Penilaian Persediaan Berdasarkan Metode Laba Kotor

Selain metode perkiraan persediaan yang telah disebutkan, jumlah persediaan juga dinilai berdasarkan penaksiran laba kotor. Apabila persentase laba kotor diketahui, nilai penjualan dalam suatu periode tertentu dapat dipecahkan dalam 2 unsur, yaitu :

a. Laba Kotor

b. Harga pokok barang yang dijual

7. Metode MRP (Material Resource Planning)

Metode MRP metode yang sudah bersifat modern, atau dengan kata lain sudah bersifat komputer – oriented, yang terdiri dari sekumpulan prosedur, aturan – aturan keputusan dan seperangkat mekanisme pencatatan yang dirancang untuk menjabarkan Jadwal Induk Produksi.

2.4 Analisis Lima Kekuatan Porter

Analisis Porter : The Five Forces of Competition Analysis digunakan untuk menganalisis daya tarik dari suatu indistri. Adapu pengertian industri itu sendiri adalah

(22)

sekumpulan dasar yang terdiri dari berbagai pasar usaha yang memiliki model bisnis yang sejenis namun berbeda fokus usaha di masing – masing pasar ini.

Saat mempelajari suatu persaingan, perusahaan harus berkonsentrasi untuk dapat bersaing secara langsung. Namun demikian, perusahaan harus mencari dan mengidentifikasi pada potensial para pesaingnya dengan melakukan hal yang sama

untuk consumer potential mereka. Model lima kekuatan porter mengenali bahwa

supplier dapat menjadi kompetitor.

Dalam dunia industri, faktor persaingan merupakan salah satu elemen yang penting di dalam melakukan proses bisnis yang simultan dan berkelanjutan. Ketatnya persaingan akan menekan perusahaan untuk mampu melakukan terobosan – terobosan baik dari product resourcing, supply recources, operational cost, dan lainnya sehingga memberikan nilai tambah (added value) untuk mengalahkan pesaingnya

Menurut Fred David (2004, p144) analisis model persaingan lima kekuatan porter merupakan pendekatan yang banyak sekali dipakai untuk mengembangkan strategi di banyak industri. Intensitas persaingan antar perusahaan sangat beragam diberbagai industri. Menurut Porter, sifat persaingan dalam satu industri dapat dilihat sebagai gabungan dari lima kekuatan ini, yaitu :

a. Ancaman persaingan di antara perusahaan sejenis

Setiap perusahaan memiliki pesaing utamanya dalam bersaing di dalam

dunia bisnis. Persaingan di kalangan pesaing yang ada berbentuk suatu kompetisi untuk mendapatkan keunggulan posisi dengan menggunakan beberapa strategi. Persaingan terjadi karena satu atau lebih pesaing merasakan adanya tekanan atau melihat peluang untuk memperbaiki posisi. Maka agar dapat mengungguli

(23)

persaingan, perusahaan harus berfokus pada beberapa perubahan strategi yang memiliki keunggulan kompetitif, seperti menurunkan harga, meningkatkan mutu, menambah fitur, menyediakan pelayanan yang baik, memperpanjang garansi, dan meningkatkan iklan. Dengan adanya strategi – strategi tersebut, maka perusahaan tersebut dapat menarik konsumen – konsumen dari para pesaingnya. Pada kebanyakan indsutri, gerakan persaingan oleh satu perusahaan mempunyai pengaruh yang besar terhadap para pesaingnya. Dengan demikian, strategi – strategi tersebut dapat mendorong perlawanan atau usaha untuk menandingi gerakan tersebut. Kekuatan ini adalah kekuatan yang paling berpengaruh dibandingkan keempat kekuatan lainnya.

b. Ancaman Masuknya Pendatang Baru

Pendatang baru dalam industri biasanya dapat mengancam pesaing yang ada. Hal ini disebabkan karena pendatang baru seringkali membawa kapasitas baru, keinginan untuk merebut pangsa pasar, serta seringkali pula memiliki sumber daya yang besar. Akibatnya harga dapat menjadi turun atau biaya meningkat sehingga mengurangi laba yang dapat dihasilkan oleh organisasi. Selain itu, adanya pendatang baru dapat memaksa perusahaan yang sudah ada untuk lebih efektif dan efisien serta belajar bersaing dalam dimensi baru.

Secara sederhana, kemungkinan perusahaan akan memasuki suatu industri adalah fungsi dari dua faktor, yaitu : hambatan memasuki industri dan reaksi dari perusahaan yang sudah ada. Apabila hambatan – hambatan untuk masuk adalah tinggi dan pendatang baru mendapatkan reaksi yang tajam dari pemain lama dalam industri, maka dapat dipastikan bahwa pendatang baru tersebut tidak menimbulkan suatu ancaman masuk yang serius bagi pesaing lamanya.

(24)

c. Ancaman Dari Produk Pengganti

Walaupun karakteristikya berbeda, barang pengganti dapat memberikan

fungsi atau jasa yang sama. Ancaman dari produk pengganti ini kuat jika konsumen dihadapkan pada sedikitnya biaya peralihan pemasok dan jika produk pengganti tersebut mempunyai harga yang lebih murah atau kualitasnya sama bahkan lebih tinggi dari produk – produk suatu industri

d. Kekuatan tawar – menawar pembeli

Para pembeli biasanya berusaha membeli barang dengan harga termurah yang dapat diperolehnya. Untuk mengurangi biaya mereka, biasa pembeli meminta kualitas yang lebih tinggi, pelayanan yang lebih baik serta yang lebih penting harga yang lebih murah. Tindakan ini akan menyebabkan persaingan yang kuat diantara perusahaan yang ada dalam suatu industri yang sama.

Biasanya kekuatan tawar menawar pembeli meningkat jika :

- Pembeli membeli dalam jumlah yang besar

- Produk yang dibeli adalah produk standar atau tidak terdiferensiasi - Pembeli memperoleh laba yang rendah

- Produk industri adalah tidak terlalu penting untuk produk atau jasa pembeli e. Kekuatan tawar menawar pemasok

Pemasok dapat saja menekan perusahaan yang sudah ada dalam suatu

(25)

dijualnya disaat jumlah pemasok di industri berjumlah sedikit. Jika perusahaan tidak dapat menutupi jenaikan biaya melalui struktur harganya, maka kemampuan untuk menghasilkan laba pada perusahaan tersebut dapat menurun karena tindakan pemasok tadi. Namun bisa juga seringkali pemasok saling memberikan harga yang masuk akal, memperbaiki kualitas dan mengurangi biaya persediaan di saat jumlah pemasok besar. Dengan demikian akan memperbaiki profitabilitas jangka panjang untuk semua pihak.

Pemasok memiliki kekuatan tawar menawar jika :

- Didominasi oleh sedikit perusahaan

- Produknya adalah unik

- Industri tersebut bukanlah pelanggan penting dari pemasok

Kekuatan tawar - menawar pemasok Ancaman masuknya pendatang baru Persaingan antar perusahaan sejenis Kekuatan tawar - menawar pembeli Ancaman produk atau jasa pengganti

Model Lima Kekuatan Porter

Sumber : Fred David, Manajemen Strategis : Konsep – konsep, 2004, p144 Gambar 2.2 Model Lima Kekuatan Porter

(26)

2.5 Peramalan

Peramalan merupakan bagian penting bagi setiap perusahaan / organisasi bisnis dalam setiap pengambilan keputusan manajemen yang sangat signifikan. Peramalan menjadi dasar bagi perencanaan jangka panjang perusahaan. Dalam area fungsional finansial, peramalan memberikan dasar dalam menentukan anggaran dan pengendalian biaya.

Pada bagian pemasaran, peramaln penjualan dibutuhkan untuk merencanakan

produk baru, kompensasi tenaga perjual, dan beberapa keputusan penting lainnya. Selanjutnya, pada bagian produksi dan operasi menggunakan data-data peramalan untuk perencanaan kapasitas, fasilitas, produksi, penjadwalan, dan pengendalian persediaan.

Peramalan dapat diartikan sebagai penggunaan data masa lalu dari sebuah variabel atau kumpulan variabel untuk mengestimasikan nilai dimasa yang akan datang. Untuk membuat peramalan dimulai dengan mengeksplorasi data dari waktu yang lalu dengan mengembangkan pola data dengan asumsi bahwa pola data waktu yang lalu itu akan berulang lagi pada waktu yang akan datang.

Peramalan bertujuan untuk memperkecil ketidakpastian yang terdapat pada kecenderungan atau trend dan fluktuasi permintaan yang terjadi di luar pengendalian perusahaan. Peramalan adalah suatu perkiraan tingkat permintaan yang diharapkan untuk suatu produk atau beberapa produk dalam periode waktu tertentu di masa yang akan datang.

(27)

2.5.1 Jenis – Jenis Peramalan

Peramalan dapat diklasifikasikan menjadi 2 metode, yaitu : 1. Metode Peramalan Kualitatif

Yaitu metode yang didasarkan pada intuisi dan pandangan individu – individu, penilaian orang yang melakukan dan tidak tergantung pada data – data yang akurat (pengolahan data dan analisis data historis yang tersedia), metode ini digunakan untuk peramalan produk baru dimana tidak ada data historis. Teknik pada metode ini yang digunakan adalah teknik Delphi, Kurva Pertumbuhan, dll. Menurut Freddy Rangkuti (2005, p63), secara umum pendekatan yang biasa dipakai di dalam metode peramalan kualitatif, yaitu :

- Pendapat dari para eksekutid (jury of executive opinion). Metode ini menggunakan pendapat kelompok kecil para eksekutif untuk mengestimasikan besarnya permintaan.

- Gabungan beberapa tenaga penjual (sales force composite). Metode ini merupakan gabungan pendapat beberapa orang tenaga penjual (sales person) dalam menentukan besarnya permintaan di wilayah meraka masing – masing, kemudian hasilnya digabung untuk menentukan jumlah peramalan secara keseluruhan.

- Metode Delphi. Metode ini menggunakan proses interaktif dengan melibatkan para eksekutif yang ditempatkan di beberapa tempat yang berbeda untuk membuat peramalan (forecasting). Ada tiga partisipan yang berbeda dalam proses ini, yaitu : para pengambil keputusan, staf pembantu, dan responden.

(28)

Para pengambil keputusan umumnya terdiri dari lima sampai dengan sepuluh orang tenaga ahli. Tugas mereka adalah membuat actual forecast. Sedangkan staf pembantu bertugas membantu para pengambil keputusan dalam menyiapkan, mendistribusikan, mengumpulkan, dan membuat kuisioner dan survei. Responden adalah sekelompok orang yang akan dimintai pendapatnya. Kelompok responden ini memberikan masukan dalam bentuk wawancara maupun pengisian kuisioner dalam rangka pengambilan keputusan pembuatan peramalan (forecasting).

- Riset pasar (customer market survey). Metode ini banyak menggunakan

masukan yang diperoleh dari pelanggan atau pelanggan yang potensial, sesuai dengan rencana pembelian pelanggan di masa yang akan datang. Semua informasi yang diperoleh dari pelanggan ini sangat bermanfaat, tidak hanya untuk membuat perkiraan besarnya permintaan, tetapi juga untuk memperbaiki desain produk serta perencanaan pengembangan produk baru.

2. Metode Peramalan Kuantitatif.

Metode peramalan kuantitatif terdiri dari peramalan deret waktu (time series) dan peramalan sebab akibat. Kedua metode kuantitatif ini mendasarkan peramalannya pada data lalu dengan menggunakan predictor untuk masa yang akan datang. Dengan mengelola data yang lalu maka melalui metode time series atau kausal akan sampai pada suatu hasil peramalan.

Metode peramalan kuantitatif dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Peramalan deret waktu (Time Series)

(29)

Peramalan ini dilakukan berdasarkan data – data dari suatu produk yang sudah ada sebelumnya, kemudian dianalisa pola datanya apakah berpola pada trend atau musiman maupun berbentuk siklus. Metode – metode yang dapat dipergunakan dalam hal ini dapat berupa rata – rata bergerak, rata – rata bergerak tertimbang, penghalusan eksponensial, penghalusan eksponensial dengan tren, model matematika, dsb.

2. Peramalan sebab – akibat (Causal)

Peramalan ini dilakukan berdasarkan data yang sudah ada sebelumnya, tetapi menggunakan data dari variabel lain yang menentukan atau mempengaruhinya pada masa depan, seperti penduduk, pendapatan, dan kegiatan ekonomi. Dengan mengolah data yang sudah ada sebelumnya melalui deret waktu dan metode sebab akibat, maka akan diperoleh hasil peramalan. Metode – metode yang dapat dipergunakan dalam hal ini dapat berupa regresi, model ekonometri, model input – output dan model simulasi

Metode peramalan kuantitatif meliputi : 1. Metode Peramalan Naive

Metode Naïve adalah metode peramalan yang sangat sederhana, ia hanya menggunakan data nilai actual tahun lalu sebagai ramalah/perkiraan untuk tahun ini, dan begitu seterusnya. Peramalan tahun berikutnya hanya berupa (t+1) akan sama dengan data tahun ini.

(30)

Moving Average Method disebut juga metode rata – rata bergerak. Metode ini sangat bermanfaat apabila kita dapat membuat asumsi bahwa permintaan cenderung stabil sepanjang waktu. Rumus dari metode rata – rata bergerak adalah :

Dimana n adalah jumlah periode yang digunakan dalam metode metode rata – rata bergerak

3. Eksponential Smoothing

Eksponential Smoothing disebut juga penghalusan eksponensial, merupakan

salah satu metode forecasting yang relatif mudah dipergunakan, karena tidak memerlukan input data yang sangat banyak. Adapun rumus metode penghalusan eksponensial adalah sebagai berikut :

Dimana

a

 

adalah konstanta yang nilainya antara 0 sampai dengan 1,

sehingga persamaan tersebut dapat ditulis sebagai berikut : Rata – Rata Bergerak =

∑ demand pada periode n 

n

 

  Forecast periode yang akan datang = Forecast periode yang lalu +

a

(aktual demand – forecast

(31)

Dimana,

Ft = Forecast periode berikutnya

Ft-1 = Forecast periode yang lalu

At-1 = Actual demand periode yang lalu

a

 

= konstanta yang nilainya 0 sampai dengan 1

   

a

 

(smoothing constant) dapat berubah, tergantung pada asumsi kita

mengenal perubahan yang akan terjadi pada data tersebut. Semakin besar

asumsi terhadap terjadinya peningkatan penjualan, nilai

a

 

akan semakin

besar, dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, pemilihan besarnya nilai

a

 

harus kita lakukan dengan hati – hati.

   

Untuk memperoleh forecasting yang lebih akurat, kita dapat

membandingkan nilai forecasting dengan nilai aktual yang terjadi. Semakin kecil perbedaan antara nilai hasil forecasting dan nilai aktual, berarti tingkat kesalahannya semakin kecil dan metode forecasting yang digunakan relatif baik. Tingkat kesalahan forecasting (forecast error) dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

(32)

   

 

4. Trend Projection

 

Peramalan dengan proyeksi tren merupakan metode peramalan yang

menyesuaikan garis tren data pada sekumpulan data masa lalu, dan

kemudian diproyeksikan dalam garis untuk meramalkan masa depan. Berikuta adalah persamaan untuk metode proyeksi tren :

Dimana,

Y = Variabel dependen

a = koefisien intercept

b = koefisien slope atau kemiringan garis regresi

X = Variabel independen

Koefisien kemiringan slope b dapat dihitung dengan rumus : Forecast error = Demand - Forecast

Y = a + bX

b= n ∑ XY – (∑ X) (∑Y) n (∑ X2) – ( X)2

(33)

Dimana,

b = slope atau kemiringan garis regresi

∑ = tanda penjumlahan

X = Nilai variabel independen

Y = Nilai variabel dependen

n = jumlah sampel atau jumlah pengamatan

setelah mendapatkan koefisien b, selanjutnya kita dapat menghitung koefisien a, yaitu :

atau dengan

   

ketepatan estimasi regresi sangat dipengaruhi oleh seberapa besar penyimpanan semua data variabel independen (X) terhadap garis regresi. Apabila semua data variabel independen (X) tersebut berada di sepanjang garis regresim maka tingkat kesalahannya mendekati 0.

a=

∑Y – b ∑ X n

(34)

Sebaliknya, jika data variabel tersebut semakin menjauh dari garis regresi, maka tingkat kesalahannya semakin besar. Dan besarnya tingkat kesalahan dapat dihitung dengan rumus :

Dimana,

Se = Standar error estimasi

2.5.2 Menghitung Kesalahan Peramalan

Ada beberapa perhitungan yang biasa digunakan untuk menghitung kesalahan

peramalan (forecast error) total. Perhitungan ini dapat digunakan untuk

membandingkan model peramalan yang berbeda, juga unutk mengawasi peramalan, untuk memastikan peramalan berjalan dengan baik. Ada 2 perhitungan yang paling terkelan, yaitu deviasi rata – rata absolut (mean absolute deviation – MAD), kesalahan rata – rata kuadrat (mean squared error – MSE)

Berikut adalah penjelasan tentang kedua pendekatan tersebut : 1. Deviasi rata – rata absolut (mean absolute deviation – MAD)

MAD merupakan ukuran pertama kesalah peramalan keseluruhan untuk sebuah

model. Nilai ini dihitung dengan mengambil jumlah nilai absolut dari tiap kesalahan peramalan dibagi dengan jumlah periode data (n).

Se = ∑Y

2– a Y – b XY

n-2

(35)

2. Kesalahan rata – rata kuadrat (mean squared error – MSE)

MSE merupakan cara kedua untuk mengukur kesalahan peramalan secara

keseluruhan. MSE merupakan rata – rata selisish kuadrat antara nilai yang

diramalkan dan yang diamati. Kekurangan penggunaan MSE adalah pendekatan tersebut menonjolkan deviasi yang besar karena adanya pengkuadratan.

2.6 Metode EOQ (Economic Order Quantity)

2.6.1 Pengertian EOQ

Setiap perusahaan selalu berusaha untuk menentukan policy penyediaan bahan dasar yang tepat, dalam arti tidak menganggu proses produksi dan disamping itu biaya yang ditanggung tidak terlalu tinggi. Untuk keperluan itu terdapat suatu metode EOQ (Economic Order Quantity).

Menurut Gitosudarmo (2002, p101), EOQ sebenarnya adalah merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali

 

MAD = ∑ |aktual – peramalan| 

n

  MSE =

∑ (kesalahan peramalan)2

(36)

pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan menggunakan biaya yang minimal.

Menurut Rangkutti (2004,p11), EOQ adalah jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pemesanan dengan biaya yang paling murah

Menurut pendapat Pardede, Pontas M (2005, p422), ia menyatakan bahwa Economic Order Quantity (EOQ) menunjukkan sejumlah barang yang harus dipesan untuk tiap kali pemesanan agar biaya sediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin.

Menurut Pendapat Reksohadiprodjo, Sukanto (2000, p200), EOQ merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan setiap kali pembelian Menurut pendapat Keown, et al (2000, p748), ia menyebutkan bahwa Economic Order Quantity (EOQ) adalah suatu metode untuk menentukan jumlah pemesanan yang ekonomis untuk jenis persediaan dengan penggunaan yang diperkirakan, biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.

Menurut Render, Barry, & Jay Heizer (2001, p320), EOQ merupakan salah satu teknik pengendalian tertua dan paling terkenal teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :

- Tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan.

- Lead time, yaitu waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan diketahui,

(37)

- Persediaan diterima dengan segera. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam bentuk kumpulan produk, pada satu waktu.

- Tidak mungkin diberikannya diskon

- Biaya variabel yang muncul hanya biaya pemasangan atau pemesanan dan

biaya penahanan atau penyimpanan persediaan sepanjang waktu.

- Keadaan kehabisan stok (kekurangan barang) dapat dihindari sama sekali bila

pemesanan dilakukan pada saat yang tepat.

Menurut pendapat Herjanto, Eddy (2007, p245), EOQ merupakan salah satu model klasik, diperkenalkan oleh FW Harris pada tahun 1914, tetapi paling banyak dalam teknik pengendalian dan paling banyak dipergunakan sampai saat ini karena mudah penggunaannya.

Model kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity – EOQ model) ini adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan paling dikenal secara luas (Heizer & Render, 2006, p68). Teknik ini relatif mudah untuk digunakan tetapi didasarkan pada beberapa asumsi, seperti :

(38)

1. Hanya satu item barang (produk) yang diperhitungkan

2. Permintaan yang bersifat diketahui, tetap, dan bebas

3. Lead time – yaitu, waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan –

diketahui dan konstan.

4. Penerimaan persediaan bersifat seketika dan lengkap. Dengan kata lain,

persediaan dari sebuah pesanan tiba dalam satu batch sekaligus.

5. Diskon (potongan harga) karena kuantitas tidak memungkinkan

6. Biaya variabel yang ada hanyalah biaya pengaturan atau pemesanan (biaya

setup) dan biaya penyimpanan atau penggudangan persediaan.

7. Kosongnya persediaan (kekurangan) dapat dihindari sepenuhnya jika

pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat

- EOQ akan terjadi apabila biaya pemesanan = biaya penyimpanan. Berikut adalah

rumus untuk menghitung EOQ :

Keterangan :

D = Jumlah Kebutuhan Barang (unit / tahun)

S = Biaya Pemesanan atau Biaya Setup (rupiah / pesanan) H = Biaya Penyimpanan (rupiah / unit / tahun)

(39)

- Frekuensi pesanan (F), merupakan permintaan pertahun dibagi dengan jumlah pesanan dalam satu tahun, sehingga jumlah frekuensi pesanan yang paling ekonomis adalah :

F = Frekuensi Pemesanan

- Jika 1 tahun sama dengan 365 hari, maka jangka waktu antar tiap pesanan adalah

:

T = Jarak waktu antar pesanan (tahun, hari)

- Titik pemesanan ulang (Reorder Point – ROP)

Titik pemesanan ulang (Reorder Point – ROP), yakni tingkat persediaan dimana harus dilakukan pemesanan kembali. Agar pembelian bahan yang sudah ditetapkan dalam EOQ tidak mengganggu kelancaran kegiatan produksi, maka diperlukan waktu pemesanan kembali bahan baku. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik pemesanan kembali adalah :

1. Lead Time. Lead time adalah waktu yang dibutuhkan antara bahan baku

dipesan hingga sampai diperusahaan. Lead time ini akan mempengaruhi besarnya bahan baku yang digunakan selama masa lead time, semakin lama

F = D/Q*

T = Jumlah hari kerja per tahun Frekuensi Pemesanan

(40)

lead time maka akan semakin besar bahan yang diperlukan selama masa lead time.

2. Tingkat pemakaian bahan baku rata-rata persatuan waktu tertentu.

3. Persediaan Pengaman (Safety Stock), yaitu jumlah persediaan bahan minimum yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk menjaga kemungkinan keterlambata datangnya bahan baku, sehingga tidak terjadi stagnasi.

Dimana :

d = tingkat kebutuhan unit per waktu L = waktu tenggang (lead time)

- Safety Stock

Menurut Keown, et al (2000, p54), safety stock adalah persediaan yang dipegang untuk mengakomodasikan penggunaan yang luar biasa dan tidak bisa diharapkan selama waktu pengiriman.

Menurut Assauri (2004, p186), safety stock adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi dan untuk menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Kemungkinan terjadinya stock out disebabkan karena penggunaan bahan baku yang lebih besar dari pada perkiraan semula, atau keterlambatan dalam pengiriman bahan baku yang dipesan. Akibat pengadaan persediaan penyelamat terhadap biaya perusahaan adalah mengurangi kerugian

(41)

yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, akan tetapi sebaliknya akan menambah besarnya carrying cost. Oleh karena itu pengadaan persediaan penyelamat oleh perusahaan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan karena terjadinya stock out, tetapi juga pada saat itu diusahakan agar carrying cost menjadi serendah mungkin.

Berdasarkan pendapat Assauri (2004, p186-187), faktor – faktor yang menentukan besarnya persediaan penyelamat adalah

1. Penggunaan bahan baku rata – rata

Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku selama periode – periode tertentu, khususnya selama periode pemesanan adalah rata – rata penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan karena setelah kita mengadakan pesanan atau order penggantian, maka pemenuhan kebutuhan atau permintaan dari pelanggan sebelum barang yang dipesan datang harus dapat dipenuhi dari persediaan yang ada.

2. Faktor waktu atau Lead time

Lead time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan – bahan sampai dengan kedatangan bahan – bahan yang dipesan tersebut dan diterima di gudang persediaan.

Dengan ditemukannya EOQ, masih ada kemungkinan adanya kekurangan

persediaan (out of stock) di dalam proses produksi. Kemungkinan kekurangan

(42)

1. Penggunaan bahan dasar di dalam proses produksi lebih besar daripada yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini akan berakibat persediaan akan habis diproduksi sebelum pembelian / pesanan yang berikutnya datang, sehingga terjadilah kekurangan persediaan

2. Pesanan / pembelian bahan dasar itu tidak dapat datang tepat pada waktunya

Dari dua keadaan tersebut diatas, maka perusahaan perlu menetapkan adanya proses persediaan cadangan (safety stock) untuk menjamin kelancaran proses produksi akibat kemungkinan adanya kekurangan persediaan tersebut.

Untuk menaksir besarnya safety stock, dapat dipakai cara yang relatif lebih teliti yaitu dengan metode sebagai berikut :

1. Metode Perbedaan Pemakaian Maksimum dan Rata-Rata.

Metode ini dilakukan dengan menghitung selisih antara pemakaian maksimum dengan pemakaian rata-rata dalam jangka waktu tertentu (misalnya perminggu), kemudian selisih tersebut dikalikan dengan lead time.

2. Metode Statistika. Untuk menentukan besarnya safety stock dengan metode ini,

maka dapat digunakan program komputer kuadrat terkecil (least square). 2.6.2 Minimisasi Biaya

Tujuan dari kebanyakan model persediaan adalah untuk meminimisasi biaya total (keseluruhan). Dengan biaya – biaya yang biasanya ada di perusahaan, biaya yang signifikan adalah biaya pemasangan (pemesanan) dan biaya penahanan

(43)

(penyimpanan). Biaya – biaya yang lainnya, seperti biaya persediaan itu sendiri, sifatnya konstan. Maka, dengan meminimisasi jumlah biaya pemasangan dan penahanan, kita juga meminimisasi biaya total.

Dengan model EOQ, jumlah pesanan yang optimal akan muncul di titik dimana biaya pemasangan totalnya sama dengan biaya penahanan total. Dengan menggunakan kenyataan ini, dikembangkanlah persamaan yang langsung mencari nilai Q*. Tahapan yang harus dilakukan adalah :

1. Mengembangkan persamaan untuk biaya pemasangan atau pemesanan

2. Mengembangkan persamaan untuk biaya penhananan atau penyimpanan

3. Menetapkan biaya pemasangan sama dengan biaya penahanan

4. Menyelesaikan persamaan dengan hasil angka jumlah pesanan yang optimal.

Dengan menggunakan variabel – variabel dibawah ini, kita dapat menentukan biaya pemasangan dan penyimpanan, sehingga didapatkan nilai Q* :

Q = Jumlah barang setiap pesanan

Q* = Jumlah optimal barang per pesanan (EOQ)

D = Permintaan tahunan barang persediaan, dalam unit S = Biaya pemasangan atau pemesanan untuk setiap pesanan H = Biaya penahanan atau penyimpanan per unit per tahun

(44)

1. Biaya Pemasangan tahunan atau Biaya Pemesanan (Ordering Cost) = (Jumlah pesanan yang dilakukan per tahun) (Biaya pemasangan atau pemesanan setiap kali pesan)

= (Permintaan tahunan / Jumlah barang setiap pemesanan) (Biaya pemesanan atau pemasangan setiap pesanan)

= (D/Q) (S)

2. Biaya Penyimpanan tahunan atau Biaya Penahanan (Holding Cost) = (Tingkat

persediaan rata – rata) (Biaya penyimpanan per unit per tahun)

= (Jumlah pesanan / 2) (Biaya penyimpanan per unit per tahun)

= (Q/2) (H)

3. Jumlah pesanan optimal ditemukan pada saat biaya pemasangan tahunan sama

dengan biaya penyimpanan tahunan, yakni : = (D/Q) (S) = (Q/2) (H) Q  2 D  QS H D  Q S Q  2 H = =

(45)

4. Untuk mendapatkan biaya total, maka dapat dihitung dengan menggabungkan Biaya Pemesanan dan Biaya Penyimpanan, yakni :

TC = (D/Q) (S) + (Q/2) (H) D  Q Q  2 S H = + TC 

(46)

2.7 Kerangka Pemikiran Input  Persediaan  Bahan Baku  Peramalan  Persediaan  Bahan Baku  Implikasi Hasil Penelitian  Pengendalian  Bahan Baku  Metode Persediaan  EOQ  Safety Stock (SS)  Re‐order Point (ROP)  Metode  Forecasting –  Trend Projection 

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Persediaan Bahan-bahan Pembantu atau Barang-barang Perlengkapan (Supplies Stock), yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk

Persediaan bahan baku (raw material stock) adalah persediaan dari barang- barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi yang dapat diperoleh dari sumber alam atau

Persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan,

Yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau digunakannya dalam kerja suatu

Jadi dapat dikatakan pengendalian persediaan adalah menyediakan barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai pada waktu yang ditentukan dengan biaya dan cara yang

MRP memberikan peningkatan efisiensi karena jumlah persediaan, waktu produksi,dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan dengan lebih baik, karena ada keterpaduan

Pengawasan persediaan dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan parts, bahan baku dan barang hasil/produk sehingga perusahaan

Persediaan dibagi menjadi 4 macam yaitu (Heizer and Render, 2015) : persediaan bahan baku (raw material inventory), persediaan barang dalam proses atau WIP