7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Konsep Dasar Sistem
Dalam mendefinisikan sistem terdapat dua kelompok pendekatan sistem, antara lain : sistem yang lebih menekankan pada prosedur dan elemennya Adapun pembahasan mengenai sistem yang akan dibahas dan salah satunya adalah pengertian sistem menurut beberapa pakar antara lain sebagai berikut :
A. Sistem
Menurut Indrajit dalam Hutahaean (2014:1) berpendapat bahwa “Sistem mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya”. Kemudian menurut Sidharta dalam Hutahean (2014:2) menjelaskan bahwa “Sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama”. Sedangkan menurut Sukamto dan Shalahuddin (2013:2) mengemukakan bahwa “Sistem berarti kumpulan komponen yang saling terkait dan mempunyai satu tujuan yang ingin dicapai”. Sedangkan menurut Gerald dalam Hutahean (2014:5) “Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur- prosedur yang Saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan Suatu sasaran yang tertentu”. Selain pengertian sistem ada pula karakteristik sistem yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Karakteristik Sistem
Menurut Ladjamudin (2013:4) menjelaskan bahwa “suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu, yaitu mempunyai komponen-komponen, batasan sistem, lingkungan luar sistem, penghubung, masukan, keluaran, pengolah dan sasaran atau tujuan”.
a. Komponen Sistem
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang berinteraksi, yang artinya saling bekerjasama membentuk suatu kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem.
b. Batasan Sistem
Batasan sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai suatu kesatuan dan menunjukan ruang lingkup dari sistem tersebut.
c. Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun di luar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan dan juga merugikan. Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan dengan demikian harus dijaga dan dipelihara. Sedangkan lingkungan luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, jika tidak maka akan mengganggu kelangsungan hidup dari sistem.
d. Penghubung Sistem
Penghubung merupakan media yang menghubungkan antara satu subsistem dengan subsistem yang lainnya. Melalui penghubung ini kemungkinan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem yang lainnya. Keluaran dari satu subsistem akan menjadi masukan untuk subsistem lainnya melalui penghubung. Dengan penghubung satu subsistem dapat berintegrasi dengan subsistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.
e. Masukan Sistem
Masukan sistem adalah energi yang dimasukan ke dalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan dan masukan sinyal maintenance input adalah energi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat berjalan. Sinyal input adalah energi yang diproses untuk mendapatkan keluaran dari sistem. f. Keluaran Sistem
Keluaran sistem adalah energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna. Keluaran dapat merupakan masukan untuk subsistem yang lain.
g. Pengolahan Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah atau sistem itu sendiri sebagai pengolahnya. Pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran.
h. Sasaran Sistem
Suatu sistem mempunyai tujuan atau sasaran, jika sistem tidak mempunyai sasaran maka sistem tidak aka nada. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya. Sasaran sangat berpengaruh pada masukan dan keluaran yang dihasilkan.
2. Klasifikasi Sistem
Menurut Ladjamudin (2013:6) menjelaskan bahwa “Sistem dapat diklasifikasikan kedalam beberapa sudut pandang . Seperti contoh sistem yang bersifat abstrak, sistem alamiah, sistem yang bersifat deterministic dan sistem yang bersifat terbuka dan tertutup” . Untuk lebih detail dan rinci penjelasan akan dipaparkan dibawah ini.
a. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak dan sistem fisik. Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak nampak secara fisik. Misalnya sistem teologi, yaitu sistem yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Misalnya sistem komputer, sistem operasi, sistem penjualan, dan lain sebagainya.
b. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah dan sistem buatan manusia. Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi karena proses alam tidak dibuat oleh manusia (ditentukan dan tunduk kepada kehendak sang pencipta alam). Misalnya sistem perputaran bumi, sistem pergantian siang dengan malam, sistem kehidupan umat manusia. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia. Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi manusia dengan mesin disebut dengan
human-machine sistem atau ada yang menyebut dengan machine system . Sistem informasi merupakan contoh man-machine system. Karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.
c. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan sistem tak tentu (probabilistic system). Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagian-bagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem tertentu relatif stabil/konstan dalam jangka waktu yang lama. Sistem komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat dipastikan berdasarkan program yang dijalankan. Sehingga dapat dikatakan sistem yang deterministik adalah sistem yang tidak pernah dan menganut prinsip demokrasi (suara terbanyak adalah suara tuhan), karena dalam sistem komputer misalnya seberapa banyaknya data yang salah yang dimasukan (menjadi input), maka hasilnya tetap akan salah, sebaliknya satu saja data yang benar dimasukan (menjadi input) diantara sekian juta data yang salah, maka hasilnya satu data tersebut akan menjadi benar. Sistem tak tentu adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas. Sistem sosial, sistem politik, dan sistem demokrasi merupakan sistem yang probabilistik/tak tentu, dalam sistem politik kondisi masa depannya tidak bisa diprediksi bahkan dalam waktu beberapa jam saja sudah berubah, kawan menjadi lawan dan lawan yang selalu dihujat berubah menjadi kawan dan didukung habis-habisan.
d. Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup dan sistem terbuka. Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak luarnya. Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tetapi kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar tertutup, yang ada hanya
relatively closed system (secara relatif tertutup, tidak benar-benar tertutup). Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lain. Karena sistem sifatnya terbuka dan terpengaruh lingkungan luarnya, maka suatu sistem harus mempunyai suatu pengendalian yang baik. Sistem yang baik harus dirancang sedemikian rupa, sehingga secara relatif tertutup karena sistem tertutup akan bekerja secara otomatis dan terbuka hanya untuk pengaruh yang baik saja.
B. Informasi
Berikut ini adalah pengertian Informasi Menurut beberapa ahli antaralain sebagai berikut : pengertian Informasi menurut Hutahean (2014:9) bependapat bahwa “Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya. Sumber informasi adalah data. Data kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata”. Dan menurut Gordon berpendapat bahwa “Informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan-keputusan-keputusan yang akan datang”.
C. Basis Data
Menurut Sukamto dan M.Shalahuddin (2013:43) mengemukakan bahwa “Sistem basis data adalah sistem terkomputerisasi yang tujuan utamanya adalah memelihara data yang sudah diolah atau informasi dan membuat informasi tersedia saat dibutuhkan”. Dalam pembuatan database penulis menggunakan aplikasi MySQL yang akan dijelaskan di bawah ini. Menurut Supono dan Virdiandry Putratama (2016:96) berpendapat bahwa “MySQL adalah sistem manajemen database SQL yang bersifat Open Source dan paling popular saat ini. Sistem database MySQL mendukung beberapa fitur seperti multithreaded, multi user , dan SQL database manajemen sistem (DBMS)”. Sedangkan menurut Anhar dalam Hikmah dkk (2015:2) menjelaskan bahwa “MySQL adalah salah satu Database Management System (DBMS) dari sekian banyak DBMS, seperti Oracle, MS SQL, dan lainnya”. Dan menurut Nugroho (2008:5) menjelaskan bahwa “SQL merupakan sebuah Bahasa permintaan yang melekat pada suatu SMBD termasuk MySQL”. Dalam penggunaannya, perintah SQL dikategorikan menjadi tiga sub perintah, yaitu DDL (Data Definition Language), DML (Data Manipulation Language), dan DCL (Data Control Language) yang keseluruhan akan dibahas antara lain sebagai berikut :
1. Data Definition Language (DDL)
Data Definition Language (DDL) merupakan sub Bahasa SQL yang digunakan untuk membangun kerangka database.
2. Data Manipulation Language (DML)
Data Manipulation Language (DML) merupakan sub bahasa SQL yang digunakan untuk memanipulasi data dalam database yang telah terbuat. Perintah yang digunakan.
3. Data Control Language (DCL)
Data Control Language (DCL) merupakan sub Bahasa SQL yang digunakan untuk melakukan pengontrolan data dan server databasenya. Perintah DCL.
D. Model Pengembangan Perangkat Lunak
Model yang digunakan pada pengembangan perangkat lunak ini menggunakan model waterfall (Sukamto dan Shalahuddin, 2013:28) yang terbagi jadi empat (4) tahapan, yaitu :
1. Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak
Proses pengumpulan kebutuhan dilakukan secara intensif untuk mespesifikasikan kebutuhan perangkat lunak agar dapat dipahami perangkat lunak seperti apa yang dibutuhkan oleh user. Spesifikasi kebutuhan perangkat lunak pada tahap ini perlu untuk didokumentasikan. 2. Desain
Desain perangkat lunak adalah proses multi langkah yang fokus pada desain pembuatan program perangkat lunak termasuk struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi antarmuka, dan prosedur pengodean. Tahap ini mentranslasi kebutuhan perangkat lunak dari tahap analisis kebutuhan ke representasi desain agar dapat diimplementasikan
menjadi program pada tahap selanjutnya. Desain perangkat lunak yang dihasilkan pada tahap ini juga perlu didokumentasikan.
3. Pembuatan Kode Program
Desain harus ditranslasikan ke dalam program perangkat lunak. Hasil dari tahap ini adalah program komputer sesuai dengan desain yang telah dibuat pada tahap desain.
4. Pengujian
Pengujian fokus pada perangkat lunak secara dari segi lojik dan fungsional dan memastikan bahwa semua bagian sudah diuji. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan (error) dan memastikan keluaran yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.
5. Pendukung (support) atau pemeliharaan (maintenance)
Tidak menutup kemungkinan sebuah perangkat lunak mengalami perubahan ketika sudah dikirimkan ke user. Perubahan bisa terjadi Karena adanya kesalahan yang muncul dan tidak terdeteksi saat pengujian atau perangkat lunak harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Tahap pendukung atau pemeliharaan dapat mengulangi proses pengembangan mulai dari analisis spesifikasi untuk membuat perubahan perangkat lunak yang sudah ada, tapi tidak untuk membuat perangkat lunak baru.
2.2. Teori Pendukung
Berikut ini adalah penjelasan tentang teori pendukung yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini antara lain sebagai berikut :
A. Data Flow Diagram
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2013:70) berpendapat bahwa “Data Flow Diagram (DFD) atau dalam bahasa Indonesia menjadi Diagram Alir Data (DAD) adalah representasi grafik yang menggambarkan aliran informasi dan transformasi informasi yang diaplikasikan sebagai data yang mengalir dari masukan (input) dan keluaran (output)”. Sedangkan menurut Kendall dan
Kendall (2010:305) berpendapat bahwa Diagram Alir Data (DAD) adalah “perangkat-perangkat analisis yang terstruktur sehingga memungkinkan penganalisis sistem memahami sistem dan subsistem secara visual sebagai suatu rangkaian aliran data yang saling berkaitan”. DFD dapat digunakan untuk merepresentasikan sebuah sistem atau perangkat lunak pada beberapa level abstraksi. DFD dapat dibagi menjadi beberapa level yang lebih detail. Berikut adalah simbol-simbol DAD yang digunakan menurut model Kendall dan Kendall antara lain sebagai berikut :
1. Entitas
Entitas eksternal, atau hanya entitas, disebut juga sumber atau tujuan data, dan dianggap eksternal terhadap sistem yang sedang digambarkan. Setiap entitas diberi label dengan sebuah nama yang sesuai.
2. Aliran Data
Tanda panah menunjukan perpindahan data dari satu titik ke titik yang lain, dengan kepala tanda panah mengarah ke tujuan data. Aliran data yang muncul secara simultan bisa digambarkan hanya dengan menggunakan tanda panah paralel.
3. Proses
Bujur sangkar dengan sudut membulat digunakan untuk menunjukan adanya proses transformasi. Proses-proses tersebut selalu menunjukan suatu perubahan dalam di dalam sistem atau perubahan data, jadi aliran data yang meninggalkan suatu proses selalu diberi label yang berbeda dari aliran data yang masuk.
4. Penyimanan Data
Simbol-simbol ini digambarkan hanya dengan lebar secukupnya sehingga memungkinkan menandai bentuk huruf-huruf diantara garis garis pararel yang ada. Penyimpanan data menandakan penyimpanan manual, seperti lemari file, atau sebuah file atau basis data terkomputerisasi. Maksud pemberian suatu bilangan unik untuk setiap penyimpanan data, seperti D1, D2, D3, dan seterusnya adalah untuk mengidentifikasi tingkatannya. Selain menejelaskan simbol-simbol untuk pembahasan selanjutnya adalah aturan main yang telah ditetapkan dalam pembuatan DAD menurut model Kendall dan Kendall yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Aliran data tidak boleh terbelah menjadi dua atau lebih aliran data yang berbeda.
2. Semua aliran data harus memilih salah satu proses untuk mengawali atau menghentikan suatu proses.
3. Proses-proses tersebut harus memiliki sedikitnya satu aliran data masukan dan satu aliran data keluaran.
4. External Entity tidak boleh terhubung secara langsung ke penyimpanan data.
5. Penyimpanan data tidak boleh terkoneksi secara langsung ke penyimpanan data lainnya.
Selain simbol-simbol DAD dan aturan main pembuatan DAD untuk pembahasan selanjutnya adalah Langkah-langkah mengembangkan DAD yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Membuat sebuah daftar tentang kegiatan-kegiatan bisnis digunakan untuk menentukan berbagai macam :
a. Entitas eksternal b. Aliran data c. Proses-proses d. Penyimpanan data.
2. Menciptakan sebuah diagram yang menunjukan entitas-entitas eksternal dan aliran data menuju dan dari sistem. Tidak menunjukan setiap proses atau penyimpanan data yang mendetail.
3. Menggambar Diagram 0, level berikutnya. Menunjukan proses-proses, namun menjaganya tetap umum. Menunjukan penyimpanan data- penyimpanan data pada level ini.
4. Menciptakan sebuah diagram anak untuk setiap proses dalam Diagram 0. 5. Mengecek kesalahan dan memastikan label-label yang kita tetapkan untuk
setiap proses dan aliran data yang mengandung arti.
6. Mengembangkan suatu diagram aliran data fisik dari diagram aliran data logika. Membedakan antara proses manual dengan proses otomatis, menggambarkan file-file aktual dan dilaporkan menurut nama, dan
menambahkan kontrol-kontrol untuk menunjukan kapan proses-proses tersebut selesai atau kapan muncul kesalahan.
7. Membagi diagram aliran data fisik dengan memisahkan atau mengelompokan bagian-bagian dari diagram agar bisa memfasilitasi pemrograman dan implementasi.
Untuk pembahasan selanjutnya adalah mengenai tahapan proses pembuatan DAD yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Pembuatan Diagram Konteks
Diagram konteks adalah tingkatan tertinggi dalam diagram aliran data dan hanya memuat satu proses, menunjukan sistem secara keseluruhan. Proses tersebut diberi nomor nol. Semua entitas eksternal yang ditunjukan pada diagram konteks berikut aliran data-aliran data utama menuju dan dari sistem. Diagram tersebut tidak memuat penyimpanan data dan tampak sederhana untuk diciptakan, begitu entitas-entitas eksternal serta aliran data-aliran data menuju dan dari sistem diketahui penganalisis dari wawancara dengan pengguna dan sebagai hasil analisis dokumen.
2. Pembuatan Diagram Nol
Digram nol adalah pengembangan diagram konteks dan bisa mencakup sampai sembilan proses. Memasukan lebih banyak proses pada level ini akan terjadi dalam suatu diagram yang kacau dan yang sulit dipahami. Setiap proses diberi nomor bilangan bulat, umumnya dimulai dari sudut sebelah kiri atas diagram dan mengarah ke sudut sebelah kanan bawah. Penyimpanan data-penyimpanan data utama dari sistem mewakili file-file master dan semua entitas eksternal dimasukan kedalam diagram nol.
3. Pembuatan Digram Detail
Proses pada diagram nol yang dikembangkan disebut parent process
(proses induk) dan diagram yang dihasilkan disebut child diagram
(diagram anak). Aturan utama untuk menciptakan diagram anak,keseimbangan vertikal, menyatakan bahwa suatu diagram anak tidak bisa menghasilakan keluaran atau menerima masukan dimana proses induknya juga tidak menghasilkan atau menerima masukan dimana proses induknya juga tidak menghasilkan atau menerima. Semua aliran data yang menuju atau keluar dari proses induk harus ditunjukan mengalir atau keluar dari diagram anak.
B. Enterpise Relationship Diagram
Menurut Yanto (2016:32) berpendapat bahwa “ERD adalah suatu diagram untuk menggambarkan desain konseptual dari model konseptual suatu basis data relasional. ERD juga merupakan gambaran yang merelasikan antara objek yang satu dengan objek yang lain dari objek di dunia nyata yang sering dikenal dengan hubungan antar entitas”. Jadi jelas bahwa ERD berbeda dengan DFD yang merupakan suatu model jaringan fungsi yang akan dilaksanakan oleh sistem, sedangkan ERD merupakan model jaringan data yang menekankan pada struktur-struktur dan relationship data. Selain definisi akan dijelaskan juga Komponen ERD dan Derajat Relationship yang akan dijelaskan sebagai berikut : Menurut Yanto (2016:32) menjelaskan bahwa “ERD terdiri dari 3 Komponen Utama, yaitu : Entitas (entity) , Atribut (attribute), Relasi (Relationship)”.
1. Entitas (Entity)
Entitas adalah suatu objek di dunia nyata yang dapat dibedakan dengan objek lainnya. Objek tersebut dapat berupa orang, benda ataupun hal lainnya. Entitas terdiri dari dua jenis yaitu : Entitas Kuat (strong Entity), dan Entitas Lemah (Weak Entity).
2. Atribut (Attribute)
Atribut merupakan semua informasi yang berkaitan dengan entitas. Atribut sering dikenal dengan property dari suatu entitas atau objek. Atribut terdiri dari Atribut Sederhana (Simple Attribute), Atribut Komposit (Composite Attribute), Atribut Bernilai Tunggal (Single Values Attribute), Atribut Bernilai Banyak (Multi Values Attribute), Atribut Turunan (Devided Attribute), dan Atribut Identitas (Key Attribute).
3. Relasi (Relationship)
Gambar belah ketupat merupakan perlambangan relasi antar entitas atau sering disebut kerelasian. Ada dua penggambaran relasi yaitu relasi kuat dan relasi lemah.
Selain komponen-komponen ERD untuk pembahasan selanjutnya akan dibahas pembahasan tentang Derajat Relationship antara lain sebagai berikut :
Menurut Yanto (2016:38) mengungkapkan “Ada tiga macam relasi menurut derajatnya, yaitu unary, binary, dan ternary”.
1. Relasi Unary
Adalah relasi yang menghubungkan entitas yang sejenis.
2. Relasi Binary
3. Relasi Ternary
Adalah relasi yang menghubungkan lebih dari dua entitas yang tidak sejenis. Untuk penjelasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai derajat kardinalitas antara lain sebagai berikut : Derajat kardinalitas merupakan penjabaran dari hubungan antar entitas. Derajat kardinalitas dibagi atas 3 bagian yaitu : 1. Derajat kardinalitas One to One
Derajat kardinalitas One to One terjadi jika satu entitas X hanya berelasi dengan satu entitas Y, ataupun sebaliknya.
2. Derajat kardinalitas One to Many
Derajat kardinalitas One to Many terjadi jika satu entitas X berelasi dengan banyak entitas Y, ataupun sebaliknya.
3. Derajat kardinalitas Many to Many
Derajat kardinalitas Many to Many terjadi jika banyak entitas X berelasi dengan banyak entitas Y, ataupun sebaliknya.
Untuk selanjutnya akan dijelaskan tahap pembuatan ERD yang akan dijelaskan sebagai berikut :
Pendekatan yang digunakan dalam merancang basis data dengan model relasional dapat dilakukan dengan pendekatan top-down, bottom-up, dan mixed.
Pada tahap perancangan basis data ini dengan model relasional menggunakan pendekatan inside-out yaitu dengan tahapan sebagai berikut :
1. Mengumpulkan Informasi 2. Menentukan Entitas
3. Mentukan Himpunan Relasi 4. Menentukan Derajat Kardinalitas
5. Melengkapi Himpunan Entitas dan Relasi dengan Atribut 6. Pemetaan Diagram E-R ke dalam Rancangan Tabel. C. Logical Record Structure
Menurut Hasugian dan Shidiq (2012:608) menjelaskan bahwa “LRS adalah sebuah model sistem yang digambarkan dengan sebuah diagram-ER akan mengikuti pola atau aturan permodelan tertentu dalam kaitannya dengan konvensi ke LRS”. Perubahan yang terjadi yaitu mengikuti aturan-aturan yang ada antara lain sebagai berikut :
1. Setiap entitas akan diubah kebentuk kotak
2. Sebuah atribut relasi disatukan dalam sebuah kotak bersama entitas jika hubungan yang terjadi pada diagram-ER 1:M (relasi bersatu dengan
cardinality yang paling membutuhkan refrensi).
3. Sebuah relasi dipisah dalam sebuah kotak tersendiri (menjadi entitas baru) jika tingkat relasinya M:M (many to many) dan memiliki foreign key
sebagai primary key yang diambil dari kedua entitas yang diambil dari kedua entitas yang sebelumnya saling berhubungan.
D. Kamus Data
Menurut Sukamto dan Shalahuddin (2013:73) mengungkapkan “Kamus data adalah kumpulan daftar elemen data yang mengalir pada sistem perangkat lunak sehingga masukan (input) dan (output) dapat dipahami secara umum (memiliki standar cara penulisan)”. Kamus data (data dictonary) dipergunakan untuk memperjelas aliran data yang digambarkan pada DFD. Kamus data dalam implementasi program dapat menjadi parameter masukan atau keluaran dari sebuah fungsi atau prosedur.
1. Hal Yang Harus Dimuat Dalam Kamus Data
Hal yang biasa dimuat dalam kamus data adalah sebagai berikut : a. Nama - nama dari data
b. Digunakan pada – merupakan proses-proses yang terkait data c. Deskripsi – merupakan deskripsi data
d. Informasi tambahan – seperti tipe data, nilai data, batas nilai data, dan komponen yang membentuk data.
2. Notasi Struktur Data
Kamus data memiliki beberapa symbol untuk menjelaskan informasi tambahan sebagai berikut :
Tabel II.1.
Tabel Notasi Struktur Data
NOTASI PENJELASAN
= disusun atau terdiri dari
+ Dan
[|] baik …atau…
{ }n n kali diulang/bernilai banyak
( ) data opsional
*…* batas komentar
E. Pengkodean
1. Definisi Pengkodean
Menurut Kusrini dan Koniyo (2007:23) berpendapat bahwa kode “adalah pemberian tanda/nomor tertentu dengan memakai angka, huruf, atau kombinasi angka dan huruf pada setiap akun atau rekening”. Sedangkan
menurut Shatu (2016:106) berpendapat bahwa “Kode memudahkan proses pengolahan data karena dengan kode, data akan lebih mudah diidentifikasikan”.
2. Macam-Macam Kode
Kode dapat dibuat dalam berbagai struktur kode yang berbeda. Setiap struktur mempunyai kelebihan dan kelemahan. Oleh Karena itu perlu suatu struktur kode yang sesuai sehingga tujuan pemberian kode dapat tercapai. Berikut ini adalah macam-macam kode yang dapat digunakan :
a. Kode Urut Nomor
Kode yang disusun urut nomor. Agar setiap kode mempunyai jumlah angka (digit) yang sama perlu direncanakan terlebih dahulu jumlah digitnya, misalkan jumlah digitnya sebanyak empat angka maka kodenya akan dimulai dengan 0001 dan diakhiri 9999. Kode urut ini sederhana tetapi tidak memenuhi persyaratan fleksibelitas. Sebaiknya kode urut ini digunakan untuk memberi nomor (kode) dokumen atau bukti transaksi.
b. Kode Kelompok
Kode kelompok membagi data ke dalam kelompok tertentu. Tiap kelompok akan diberi kode dengan angka, sehingga masing-masing posisi angka kode mempunyai arti.
c. Kode Blok
Dalam kode blok setiap kelompok data diberi kode dalam blok nomor tertentu. Cara pemberian kode ini dapat memenuhi persyaratan
fleksibelitas sehingga dapat digunakan untuk pemberian kode pada rekening.
d. Kode Desimal
Setiap kelompok data akan diberi kode 0 sampai 9. Oleh karena itu pengemlompokan data harus dilakukan maksimum dalam sepuluh kelompok. Agar kode desimal ini dapat digunakan untuk pengelompokan data yang luas, dapat disusun kelompok-kelompok yang bertingkat.
e. Kode Mnemonic
Merupakan singkatan dari karakteristik data. Misal pabrik sepatu, persediaan sepatu pria ukuran besar dapat dibuatkan kodenya SPB (Sepatu Pria Besar). Bisa juga kode ini disusun dengan kombinasi huruf dan angka, missal sepatu pria dengan nomor 42 diberi kode SP42. Sebaiknya kode mnemonic ini digunakan bila data atau elemennya (itemnya) tidak terlalu banyak sehingga tidak menyulitkan pemakainya bila terlalu sering perubahan itemnya dan banyak datanya maka pemakai kode akan sulit mengingatnya.
f. Kode Bar
Kode bar digunakan untuk industri makanan dan minuman di luar negeri missal : USA yang menggunakan Universal Product Code
(UPC). Tiap pengusaha makanan dan minuman yang berpartisipasi akan diberikan 10 digit sebagai kode produknya. Lima digit pertama berisi kode perusahaan, lima digit berikutnya berisi kode produk.
Kode bar ini dapat dibaca oleh mesin Automatic Tag Readers, dan langsung diproses di dalam komputer.
3. Teknik Pengkodean
Kode dapat dibentuk dari kumpulan angka,huruf, dan karakter-karakter khusus. Didalam merancang suatu kode harus memperhatikan beberapa hal yaitu :
a. Kode yang disusun perlu disesuaikan dengan metode proses data b. Setiap kode harus mewakili hanya satu item sehingga tidak
membingungkan
c. Kode yang disusun harus memudahkan pemakai untuk mengingatnya d. Kode yang disusun harus fleksibel, dalam arti memunginkan
dilakukan perluasan tanpa perubahan menyeluruh
e. Setiap kode harus menggunakan jumlah angka atau huruf yang sama f. Kode yang panjang perlu dipotong-potong (chunking) untuk
memudahkan mengingat. Misalnya : kode 60662582549 dapat dibuat 606-258-259.
g. Dalam kode yang panjang perlu diberi kode yang merupakan check digit, yaitu untuk mengecek kebenaran kode.
F. HIPO
Menurut Ladjamudin (2013:211) berpendapat “Hierarchy Plus Input-Process-Output (HIPO) merupakan teknik untuk mendokumentasikan sistem pemrograman”. Sedangkan menurut Puspitawati dan Anggadini (2011:114) “HIPO (Hierarchy plus Input-Proses-Output) merupakan serangkaian diagram yang terdiri dari serangkaian level yang mengalir dari atas ke bawah
yang menggambarkan sistem yang lebih detail”. HIPO dikembangkan oleh personel IBM yang percaya bahwa dokumentasi sistem pemrograman yang dibentuk dengan menekankan pada fungsi-fungsi sistem akan mempercepat pencarian prosedur yang akan dimodifikasi, karena HIPO menyediakan fasilitas lokasi dalam bentuk kode dari tiap prosedur dalam suatu sistem. HIPO dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari macam-macam pemakai yang menggunakan dokumentasi untuk tujuan-tujuan yang berbeda, di bawah ini adalah manfaat-manfaat dari penggunaan HIPO :
a. Seorang manajer dapat menggunakan dokumentasi HIPO untuk memperoleh gambaran umum sistem
b. Seorang programmer aplikasi dapat menggunakan dokumentasi HIPO untuk menentukan fungsi-fungsi program.