• Tidak ada hasil yang ditemukan

PTK Bahasa Inggris 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PTK Bahasa Inggris 2018"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA MENULIS SISWA MENULIS TEKSTEKS BERBENTUK PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBENTUK PROCEDURE MELALUI MODEL PEMBELAJARAN

MAKE A

MAKE A MATCH MATCH DI KELAS DI KELAS IX SMPN 4IX SMPN 4 V KOTO KAMPUNG DALAM

V KOTO KAMPUNG DALAM

Oleh : Oleh : YANTI RISNA S.Pd YANTI RISNA S.Pd 19711024 200604 2 006 19711024 200604 2 006

SMPN 4 V KOTO KAMPUNG DALAM

SMPN 4 V KOTO KAMPUNG DALAM

(2)
(3)

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PENGESAHAN

Judul

Judul Penelitian Penelitian : : Upaya Upaya Peningkatan Peningkatan Kemampuan Kemampuan Siswa Siswa Menulis Menulis TeksTeks

Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Match di Kelas Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Match di Kelas

IX SMP

IX SMP 4 V 4 V Kampung Kampung DalamDalam

Peneliti :

Peneliti :

Yanti Risna S.Pd

Yanti Risna S.Pd

(SMP 4 V Kampung Dalam)(SMP 4 V Kampung Dalam)

Kepala SMP

Kepala SMP 4 V 4 V Kampung Kampung Dalam,Dalam,

YOHENDRIS, S.Pd YOHENDRIS, S.Pd  NIP. 1965060  NIP. 19650603199702100131997021001 Pengawas Pengawas

(4)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1.

1. Judul Judul Penelitian Penelitian : : Upaya Upaya Peningkatan Peningkatan Kemampuan Kemampuan Siswa Siswa MenulisMenulis Teks Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Teks Berbentuk Procedure Melalui Metode Make a Match di Kelas

Match di Kelas IX SMP 4 IX SMP 4 V Kampung V Kampung DalamDalam 2.

2. Identitas PenelitiIdentitas Peneliti a.

a.  Nama Lengkap Nama Lengkap  b.

 b. Jenis KelaminJenis Kelamin c.

c.  NIP NIP d.

d. Pangkat. GolonganPangkat. Golongan e. e. SekolahSekolah f. f. AlamatAlamat :: :: :: :: :: ::

Yanti Risna S.Pd

Yanti Risna S.Pd

Perempuan Perempuan

19711024 200604 2 006

19711024 200604 2 006

Penata Muda.Tk I /III.b Penata Muda.Tk I /III.b SMP 4

SMP 4 V KV Kampung ampung DalamDalam

Jalan Kp. Paneh Sungai Jilatang Kp. Dalam Jalan Kp. Paneh Sungai Jilatang Kp. Dalam

3.

3. Lama PenelitianLama Penelitian Dari Bulan Dari Bulan Sampai Bulan Sampai Bulan :: :: :: 2 Bulan 2 Bulan Februari Februari Maret Maret Mengesahkan Mengesahkan Guru Pemandu Guru Pemandu Dede Darusman, S.Pd Dede Darusman, S.Pd  NIP. 1974082  NIP. 19740820199903100601999031006 Banjar, 23 Maret 2010 Banjar, 23 Maret 2010 Penyusun, Penyusun,

Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd

 NIP. 197704

 NIP. 197704012009021006012009021006

Mengetahui, Mengetahui,

Kepala SMP Pasundan Banjar Kepala SMP Pasundan Banjar

SOBAR, S.Pd SOBAR, S.Pd  NIP. 1973082

(5)

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Puji syukur hanya kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya Puji syukur hanya kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya

 penyusunan

 penyusunan Laporan Laporan Penelitian Penelitian Tindakan Tindakan Kelas Kelas ini ini dapat dapat terselesaikan terselesaikan dengan dengan tuntastuntas

dan tepat waktu.Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disusun dalam rangka dan tepat waktu.Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disusun dalam rangka

 pelaksanaan

 pelaksanaan program program BERMUTU BERMUTU (( Better  Better Education Education Through Through Reformed Reformed ManagamentManagament

and Universal Teachers Upgrading 

and Universal Teachers Upgrading ) MGMP Bahasa Inggris. Penulisan proposal ini) MGMP Bahasa Inggris. Penulisan proposal ini

selesai berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu ucapan terima kasih tersampaikan selesai berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu ucapan terima kasih tersampaikan

kepada : kepada :

1.

1. SOBAR, S.Pd, Kepala SMP Pasundan Banjar atas ijin, motivasi danSOBAR, S.Pd, Kepala SMP Pasundan Banjar atas ijin, motivasi dan

dukunganny

dukungannya menyelenggarakan penelitian di a menyelenggarakan penelitian di SMP Pasundan Banjar.SMP Pasundan Banjar.

2.

2. Pengawas Mata Pelajaran Bahasa Inggris Dinas Pendidikan Kota Banjar, Hj.Pengawas Mata Pelajaran Bahasa Inggris Dinas Pendidikan Kota Banjar, Hj.

Euis Srinengsih, M.Pd. Euis Srinengsih, M.Pd.

3.

3. Ibu Dra, Hj. Nur rahmiyati, PKS Kurikulum SMP Pasundan Banjar atasIbu Dra, Hj. Nur rahmiyati, PKS Kurikulum SMP Pasundan Banjar atas

saran dan dukungannya selama melaksanakan penelitian. saran dan dukungannya selama melaksanakan penelitian.

4.

4. Dede Darusman, S.Pd, sebagai guru pemandu MGMP BERMUTU MataDede Darusman, S.Pd, sebagai guru pemandu MGMP BERMUTU Mata

Pelajaran Bahasa Inggris atas bimbingan dan diskusinya yang sangat Pelajaran Bahasa Inggris atas bimbingan dan diskusinya yang sangat

 bermanfaat bagi penyusun dalam peny

 bermanfaat bagi penyusun dalam penyelesaian penelitian ini.elesaian penelitian ini.

5.

5. Para fasilitator dan pemateri yang telah memberikan materi BERMUTUPara fasilitator dan pemateri yang telah memberikan materi BERMUTU

selama 16 pertemuan yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas selama 16 pertemuan yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas

guru. guru.

(6)

6.

6. Pengurus MGMP Bahasa Inggris yang senantiasa memberikan pelayananPengurus MGMP Bahasa Inggris yang senantiasa memberikan pelayanan

maksimal kepada kami. maksimal kepada kami.

7.

7. Rekan-rekan Guru kelompok kelas 3 MGMP Bahasa Inggris 1 Kota BanjarRekan-rekan Guru kelompok kelas 3 MGMP Bahasa Inggris 1 Kota Banjar

atas kerjasama dan diskusinya sehingga proposal Penelitian Tindakan Kelas atas kerjasama dan diskusinya sehingga proposal Penelitian Tindakan Kelas

(PTK) ini dapat terselesaikan tepat waktu. (PTK) ini dapat terselesaikan tepat waktu.

8.

8. Semua guru dan rekan Guru MGMP Bahasa Inggrsi 1 yang turutSemua guru dan rekan Guru MGMP Bahasa Inggrsi 1 yang turut

 berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini.  berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini.

Semoga bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak

Semoga bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak diberkati Allah SWT.diberkati Allah SWT.

Tersadar bahwa Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini masih jauh dari Tersadar bahwa Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini masih jauh dari

kesempurnaan, penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak tetap terbuka kesempurnaan, penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak tetap terbuka

guna

guna penyempunaan penyempunaan dan dan perbaikan perbaikan tindak tindak lanjut. lanjut. Semoga Semoga pelaksanaan pelaksanaan dan dan hasilhasil

 penelitian

 penelitian ini ini nantinya nantinya dapat dapat memberikan memberikan manfaat manfaat dan dan peningkatan peningkatan dalam dalam prosesproses

 pembelajaran di kelas.  pembelajaran di kelas. Banjar, 23 Maret 2010 Banjar, 23 Maret 2010 Peneliti Peneliti

Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd Rd. Friska Mahyudin Syah, S.Pd  NIP 197704

(7)

ABSTRAK

Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat keterampilan berbahasa, yaitu: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Semua itu didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya, yaitu: kosa tata, tata bahasa dan  pronunciation  sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. Dari ke empat keterampilan berbahasa di atas, Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan  berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa tentang mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk  procedure pada semester 2 sebanyak 60% siswa masih berada di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal). Permasalahan tersebut sangat menarik perhatian penulis untuk mencoba memaparkan topik analisa terhadap kemampuan siswa menulis teks berbentuk posedur melalui model  pembelajaran make a match.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IX A SMP Pasundan Banjar dengan jumlah siswa sebanyak 41 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan melalui MGMP program BERMUTU yang pada pelaksanaannya peneliti sebagai Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang guru Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok guru yang mengajar di kelas IX. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari sampai dengan Maret 2010 atau pada semester 2.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks procedure, mengembangkan strategi  pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan, Siswa

dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan mengemukakan gagasan, pendapat dan perasaannya secara sederhana baik lisan maupun tertulis. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi/ pengamatan dan pemberian test performance siswa dengan bentuk test tuli s.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan, hasil pengamatan mengindikasikan  bahwa 29 dari 41 siswa (70,73%) terlihat aktif dalam proses pembelajaran. Nilai siswa hasil dari evaluasi test tulis hanya 1 orang siswa (0,22%) saja yang masih belum mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal). Nilai post test siswa berupa evaluasi individu melalui Lembar Kerja Siswa menunjukan Sebanyak 3 siswa (0,07%) mendapat

nilai C ‘good’, 17 siswa (0,41%) mendapat nilai D ‘fair’, 20 siswa (0,49%) mendapat

nilai E ‘poor’

Akhirnya penulis menyimpulkan berdasarkan penjelasan pada pembahasan diatas bahwa tujuan penelitian yang telah dilaksanakan mengalami keberhasilan. Dengan kata lain, impelmentasi tindakan pembelajaran melalui model pembelajaran make a match dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks berbentuk  prosedur dan meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.

(8)

DAFTAR ISI Halaman Judul

Halaman Pengesahan ………

Kata Pengantar ………..

Abstrak ...

Daftar Isi ………...

i iii v vi I. PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. Latar Belakang

………

Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

………..

1.2.1. Rumusan Masalah ... 1.2.2. Pemecahan Masalah ... Tujuan Penelitian

………

Manfaat Hasil Penelitian

………

Definisi Operasional

………

... Batasan Masalah ... Hipotesis Penelitian ... 1 4 4 4 5 6 7 7 8 II. KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

2.1.

Kajian Pustaka ………

9

2.1.1. P

rocedure Text ………

2.1.2. Contextual Teaching and Learning (CTL) ... 2.1.3. Cooperative

Learning (CL) ………

... 2.1.4. Model Pembelajaran Make a Match ...

9 9 10 11 2.2. Renc

ana Tindakan ………

... 13

(9)

III. PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1.

Setting Penelitian ………

15 3.2

Persiapan Penelitian ………

... 16 3.3. Prosedur Penelitian

………

. 16 3.4. Siklus Penelitian

………..

... 19 3.5. Pembuatan Instrumen

………

. 22

3.6. Analisis dan Refleksi ... 23

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus 1 ... 4.1.1. Hasil Tindakan ... 4.1.2. Hasil Pengamatan/Observasi ... 4.1.3. Hasil Test Performance Siswa ... 4.1.4. Hasil Refleksi Siklus ke 1 ... 24 24 26 28 32 4.2. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus 2 ... 4.2.1. Hasil Tindakan ... 4.2.2. Hasil Pengamatan/Observasi ... 4.2.3. Hasil Test Performance Siswa ... 4.2.4. Hasil Refleksi Siklus ke 2 ... 34 34 36 39 42 4.3. Pembahasan ... 42

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 45

5.2. Saran ... 45 Daftar Pustaka

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Penguasaan kemampuan Bahasa Inggris (language skill ) merupakan sebuah

syarat mutlak yang harus dimiliki di era komunikasi dan globalisasi saat ini.

Pembelajaran Bahasa Inggris ( Language Learning ) di jenjang SMP merupakan materi

 pokok sebagai bagian dari fungsi pengembangan diri siswa dalam bidang Ilmu

Pengetahuan, teknologi dan seni yang diharapkan setelah menamatkan studi, Mereka

mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu yang cerdas, terampil dan

 berkepribadian sebagai bekal hidup di masa mendatang.

Penguasan materi pelajaran Bahasa Inggris dalam jenjang SMP meliputi empat

keterampilan berbahasa, yaitu: menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Semua itu

didukung oleh unsur-unsur bahasa lainnya, yaitu: Kosa Kata, Tata Bahasa dan

 Pronunciation  sesuai dengan tema sebagai alat pencapai tujuan. Dari ke empat

keterampilan berbahasa di atas, Writing (menulis) merupakan salah satu kemampuan

 berbahasa yang dirasa sering menjadi masalah bagi siswa dalam proses pembelajaran

Bahasa Inggris. Hal tersebut sangat menarik untuk diteliti mengingat kemampuan

menulis (writing ability)  sangatlah dipengaruhi oleh penguasaan kosa kata, struktur

 bahasa dan kemampuan siswa dalam merangkai kata menjadi sebuah teks yang

 berterima. Perbedaan secara grammatical antara bahasa Inggris sebagai bahasa asing

dan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama merupakan masalah yang sering timbul

(11)

dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat,

lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks

 berbentuk procedure dan report  adalah salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus

dikuasai oleh siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pembelajaran mengungkapkan makna dalam langkah retorika dalam essai pendek

sederhana dengan menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima

untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks ber bentuk procedure

telah penulis lakukan secara klasikal. Dalam pembelajaran tersebut penulis menjelaskan

materi pokok yang terdapat dalam indikator sebagai berikut :

- Menyusun kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure.

Dalam kegiatan inti pembelajaran, siswa biasanya diberi contoh teks monolog

 berbentuk  procedure  dan siswa diminta untuk mencari arti dari teks tersebut yang

kemudian dirangkai menjadi sebuah kalimat yang benar. Proses pembelajaran seperti itu

sudah biasa dilakukan oleh penulis dan ternyata hasil pembelajaran siswa tidak sesuai

yang diharapakan dan siswa masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Penulis memperoleh data dari hasil pengamatan melalui refleksi yang dilakukan bahwa

siswa terlihat pasif, bosan dan bahkan ada beberapa siswa yang mengeluh tidak percaya

diri dalam mengungkapkan ide atau gagasannya. Mereka tentunya kesulitan dalam

mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hal ini sangat mengundang pertanyaan

dan asumsi bahwasannya metode pembelajaran tersebut tidak berhasil (gagal) dan

cenderung tidak efektif.

Setelah mengamati uraian di atas, dapat dilihat sebuah gambaran kegagalan

(12)

diatasi. Sebagai upaya memperbaiki kegagalan tersebut penulis berusaha mencari

metode dan strategi pembelajaran yang tepat sebagai solusi selanjutnya. Penulis sadar

 bahwa di era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ini, guru dituntut untuk kreatif dan

inovatif. Guru harus mampu mencari satu teknik pembelajaran yang sesuai dengan

situasi dan kondisi kelas. Prinsip PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,

Efektif dan Menyenangkan) harus dilaksanakan. Guru bukan lagi merupakan sosok

yang ditakuti dan bukan pula sosok otoriter, tetapi guru harus jadi seorang fasilitator dan

motor yang mampu memfasilitasi dan menggerakkan siswanya untuk mendapatkan ilmu

 pengetahuan yang mereka butuhkan.

Setelah mengikuti pelatihan guru melalui MGMP BERMUTU ( Better Education

Through Reformed Management and Universal Teachers Upgrading ) yang

diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Banjar, serta pengalaman penulis saat

mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan, penulis mencoba menggunakan

 pendekatan Contextual Teaching And Learning   dan pendekatan Cooperative Learning 

dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match.

Penulis melakukan penelitian tind

akan kelas dengan judul, “Upaya Peningkatan

Kemampuan Siswa Menulis Teks Berbentuk  Procedure  Melalui Model Pembelajaran

(13)

1.2.Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah

1.2.1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka masalah yang diangkat dalam

 penelitian ini adalah

: ”Apakah melalui Penggunaan Model Pembelajaran

Make a Match dapat meningkatkan Kemampuan Siswa Untuk Menyusun Teks Berbentuk Procedure di

Kelas IX A SMP Pasundan Banjar 

?”

1.2.2. Pemecahan Masalah

Terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam

 pembelajaran, yaitu pemrosesan informasi, dan komunikasi (DePorter, dkk, 2000).

Senada dengan yang diungkapkan oleh Tim Power Brain Indonesia dalam situsnya

menyatakan bahwa secara ilmiah sudah diketahui bahwa dalam hal penyerapan

informasi tersebut manusia dibagi menjadi 3 bagian; manusia visual, yang mana ia akan

secara optimal menyerap informasi yang dibacanya/ dilihatnya; manusia auditorik, di

mana informasi yang masuk melalui apa yang didengarnya akan diserap secara optimal;

dan manusia kinestetik, di mana ia akan sangat senang dan cepat mengerti bila

informasi yang harus diserapnya terlebih

dahulu “dicontohkan” atau ia membayangkan

orang lain tersebut melakukan hal tadi (http://www.medikaholistik.com).

Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis mencoba model pembelajaran Make a

 Match  atau mencocokkan kartu yang berisi kalimat acak menjadi sebuah teks yang

 berterima. Model Pembelajaran  Make a Match  merupakan implementasi dari Metode

Contextual Teaching and Learning   (CTL). Hal ini senada dengan pendapat Nurhadi

(2004: 148-149) kunci dalam pembelajaran kontekstual adalah; (1) real word learning ;

(14)

siswa; (5) siswa aktif, kritis dan kreatif; (6) pengetahuan bermakna dalam kehidupan;

(7) pendidikan atau  education  bukan pengajaran atau instruction; (8) memecahkan

masalah; (9) siswa akting, guru mengarahkan, bukan guru akting, siswa menonton; (10)

hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.

Dengan demikian pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual

memiliki ciri harus ada kerja sama, saling menunjang, gembira, belajar dengan

 bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif,

menyenangkan, tidak membosankan,  sharing   dengan teman, siswa kritis dan guru

kreatif. Proses kegiatan pembelajaran dapat lebih bermakna jika kegiatan pembelajaran

yang dilaksanakan berangkat dari pengalaman belajar siswa dan guru yaitu kegiatan

siswa dan guru yang dilakukan secara bersama dalam situasi pengalaman nyata, baik

 pengalaman dalam kehidupan sehari-hari maupun pengalaman dalam lingkungan.

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kemampuan siswa untuk menyusun teks  procedure.

2. Mengembangkan strategi pembelajaran dan model pembelajaran yang efektif,

efisien dan menyenangkan.

3. Siswa dapat melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan komunikasi dengan

mengemukakan gagasan, pendapat dan perasaannya dengan sederhana secara

(15)

1.4.Manfaat Penelitian

a. Manfaat bagi Peneliti

1. Mengembangkan model pembelajaran yang efektif, efisien dan

menyenangkan yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses

 pembelajaran Bahasa Inggris untuk meningkatkan kompetensi menulis

siswa.

2. Membantu memperbaiki / meningkatkan proses hasil belajar dan

mengajar.

3. Membantu dalam penyusunan karya ilmiah untuk dijadikan penilaian guna

mendapatkan tunjangan sertifikasi guru/pendidik dan meningkatakan

kualitas profesionalisme guru.

 b. Manfaat Bagi Siswa

1. Meningkatkan kemampuan siswa mengungkapkan makna dalam langkah

retorika dalam essai pendek sederhana dengan menggunakan ragam bahasa

tulis secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks

kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk procedure

2. Meningkatkan rasa senang dan motivasi belajar.

3. Meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menulis teks sederhana

4. Meningkatkan kompetensi menulis dan prestasi belajar Bahasa Inggris.

c. Manfaat Bagi Sekolah

Melalui model pembelajaran make a match  membantu memperbaiki

(16)

1.5.Definisi Operasional

Sebagai upaya memperjelas pemahaman dalam penelitian demi menghindari

kesalahan dalam penyusunan penelitian, di bawah ini adalah penjelasan mengenai

definisi operasional yang digunakan penulis.

1.3.1. Kemampuan siswa dalam menyusun teks

Siswa mampu mengimplementasikan ide dan gagasannya dalam menyusun

kalimat acak menjadi teks yang padu berbentuk procedure.

1.3.2. Procedure text

Teks  procedure  bertujuan untuk memberikan petunjuk tentang

langkah-langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan Djuharie, 2006 :38).

1.3.3. Model Pembelajaran Make a Match

Penerapan model pembelajaran ini dimulai dari teknik yaitu siswa diminta

mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa

yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.

1.6.Batasan Masalah

Permasalahan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini dibatasi pada perbaikan

kualitas pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran  Make a Match  yang

diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyusun teks Bahasa

(17)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Pustaka

2.1.1. Teks Procedure

Teks  procedure  merupakan salah satu Genre text selain dari beberapa genre

yang dipelajari di tingkat SMP. Teks  procedure bertujuan untuk memberikan petunjuk

tentang langkah- langkah/metoda/cara-cara melakukan sesuatu (Otong Setiawan

Djuharie, 2006 :38). Teks  procedure umumnya berisi tips atau serangkaian tindakan

atau langkah dalam membuat suatu barang atau melakukan suatu aktifitas. Teks

 procedur dikenal pula dengan istilah directory.

Teks procedure umumnya memiliki struktur :

1. Goal, tujuan kegiatan,

2. Materials, bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu

 barang/melakukan suatu aktifitas yang sifatnya opsional,

3. Steps, serangkaian langkah.

2.1.2. Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning  (CTL) merupakan proses pembelajaran yang

holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan

mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial

dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang dinamis dan

fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. CTL disebut

(18)

materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam

kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Hal ini senada dengan Mulyasa (2003:

188) siswa memiliki rasa ingin tahu dan memiliki potensi untuk memenuhi rasa ingin

tahunya. Oleh karena itu tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan

lingkungan belajar yang menyenangkan agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu

semua siswa sehingga tumbuh minat atau siswa termotivasi untuk belajar. Mulyasa

(2006:103) juga mengemukakan : pentingnya lingkungan belajar dalam pembelajaran

kontekstual; (1) belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yangberpusat pada

siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswamenonton ke siswa aktif bekerja dan

 berkarya, guru mengarahkan; (2) pembelajaran harus berpusat pada bagaimana cara

siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategibelajar lebih dipentingkan

dibandingkan hasilnya; (3) umpan balik amat penting bagi siswa; (4) menumbuhkan

komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

2.1.3. Cooperative Learning (CL)

Pendekatan Kooperatif (Cooperative Learning ) merupakan suatu pendekatan

 pengajaran yang mengutamakan siswa untuk saling bekerjasama satu dengan lainnya

untuk memahami dan mengerjakan segala tugas belajar mereka. Kegiatan bekerjasama

dapat mengembangkan tingkat pemikiran yang tinggi, keterampilan komunikasi yang

 penting, meningkatkan minat, percaya diri, kesadaran bersosial dan sikap toleransi

terhadap perbedaan individu. Menurut Anita Lie  (1:10)  ada tiga hal yang perlu

diperhatikan dalam cooperative learning , : Pengelompokan, semangat Gotong Royong,

(19)

Belajar kelompok, memiliki kesempatan mengungkapkan gagasan,

mendengarkan pendapat orang lain, serta bersama-sama membangun pengertian,

menjadi sangat penting dalam belajar karena memiliki unsur yang berguna menantang

 pemikiran dan meningkatkan harga diri seseorang. Dengan pengalaman belajarnya

siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

Lundgren mendeskripsikan keterampilan kooperatif yang perlu dikembangkan

dalam pembelajaran kooperatif sebagai keterampilan interpersonal dalam belajar.

Keterampilan kooperatif tersebut meliputi tiga (3) tingkatan, yaitu tingkat awal, tingkat

menengah dan tingkat mahir, dalam setiap tingkat terdapat beberapa keterampilan yang

 perlu dimiliki oleh siswa agar dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif dengan

 baik. Keterampilan tersebut antara lain menggunakan kesepakatan, menghargai

kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas, mendorong partisipasi (tingkat awal),

mendengarkan dengan aktif, menunjukkan penghargaan dan simpati, bertanya,

menerima tanggung jawab, dan membuat ringkasan (tingkat menengah), mengelaborasi,

memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran dan berkompromi (tingkat mahir).

Cooperative Learning merupakan satu strategi pembelajaran yang terbaik yang

telah diteliti. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa memiliki kesempatan untuk bekerja

 bersama-sama, belajar lebih cepat dan efisien, memiliki daya ingat yang lebih besar dan

mendapat pengalaman belajar yang lebih positif. Pembelajaran kooperatif siswa belajar

dan membentuk pengalaman dan pengetahuannya sendiri secara bersama-sama dalam

kelompoknya.

Penulis sepakat bahwa pendekatan kooperatif sangat cocok untuk digunakan

(20)

terlalu berat jika akan dilaksanakan semua dalam pembelajaran di SMPN Pasundan

Banjar Kelas IX A. Maka dari itu, penulis mendesain satu teknik pembelajaran yang

lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dari kooperatifitu sendiri. Dalam penelitian

ini, penulis menggunakan model pembelajaran Make A Match.

2.1.4. Model Pembelajaran Make a Match

Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas, guru

menerapkan model pembelajaran make a match. Metode make a match  atau mencari

 pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa.

Penerapan metode ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu

yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan

kartunya diberi poin.

Model pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh

Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan

sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang

cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu

 jawaban.

2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.

3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Pemegang

(21)

kalimat berikutnya yang dipegang oleh siswa di kelompok lain yang memegang

kalimat prosedur B dan seterusnya.

5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi

 poin.

6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak

dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman,

yang telah disepakati bersama.

7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang

 berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu

yang cocok.

9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi

 pelajaran.

2.2. Rencana Tindakan

Rencana tindakan yang dapat digunakan untuk mengatasi pembelajaran Writing

agar dapat menarik, siswa menjadi termotivasi, minat belajar siswa tinggi adalah dengan

metode pembelajaran kooperatif. Dengan optimalisasi pembelajaran Bahasa Inggris

melalui Teknik Kooperatif merupakan alternatif proses pembelajaran agar lebih

menyenangkan dan bermakna. Dalam hal ini penulis menggunakan model pembelajaran

 Make a Match.

Teknik metode pembelajaran make a match  atau mencari pasangan

(22)

mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang

menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik

yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya

kartu jawaban.

2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.

3. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.

Pemegang kartu yang bertuliskan penggalan kalimat prosedur A akan

 berpasangan dengan kalimat berikutnya yang dipegang oleh siswa di

kelompok lain yang memegang kalimat procedure B dan seterusnya.

4. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi

 poin.

5. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak

dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan

hukuman, yang telah disepakati bersama.

6. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang

 berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

7. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang

kartu yang cocok.

8. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi

(23)

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1. Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Pasundan Banjar. Alamat

sekolah di Jalan Tentara Pelajar No. 158 Kota Banjar. Penelitian ini merupakan

 penelitian yang dilakukan melalui MGMP program BERMUTU yang pada

 pelaksanaannya peneliti sebagai Guru Model berkolaborasi dengan 5 orang. Guru

Bahasa Inggris yang tergabung dalam kelompok 3. Subyek penelitian yang di ambil

adalah kelas IX A SMP pasundan Banjar. Waktu pelaksanaan pada Bulan Februari 2010

atau pada semester 2.

Kelas IX A berjumlah 41 siswa, laki-laki 17 dan perempuan 24 siswa dengan

latar belakang sosial-ekonomi siswa mayoritas anak buruh dan petani dengan tingkat

kesejahteraan menengah ke bawah. Buku-buku pembelajaran yang dimiliki sendiri

masih terbatas. Kemampuan akademik siswa masih terbatas karena motivasi belajar

siswa yang rendah. Situasi kelas saat pembelajaran masih belum optimal, siswa masih

 belum seluruhnya mempunyai keaktifan dalam belajar.

3.2. Persiapan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran kontekstual

dengan persiapan :

a. Pembuatan lembar instrumen penelitian

(24)

c. Mempersiapkan model pembelajaran dan media pembelajaran

d. Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar menarik dan mudah

dipahami siswa.

e. Mempersiapkan dan menentukan lokasi pembelajaran sesuai dengan materi

 pembelajaran.

f. Persiapan pre test, post tes dan pembuatan perangkat penilaian.

g. Lembar penilaian proses untuk memantau keaktifan, kemandirian,

kompetensi, kelancaran dan ketepatan.

h. Membuat lembar observasi untuk memantau kegiatan proses pembelajaran

dan mengetahui optimalisasi pembelajaran make a match.

3.3. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action

 Research) yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada

 prinsip Kemmis dan Taggart (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan ( planning ),

tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat

kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus. Penelitian ini dilakukan

dengan cara berkolaborasi dengan guru-guru MGMP Bahasa Inggris Kelompok 1 yang

mengajar di kelas IX.

Penulis merencanakan pembelajaran Bahasa Inggris dengan memilih materi

 pembelajaran Writing Procedure Text   melalui dua siklus pada semester 2 tahun

 pelajaran 2009-2010. Alokasi waktu yang digunakan pada siklus pertama terdiri dari

(25)

 pembelajaran yang meliputi  Building Knowledge of The Field   (BKOF),  Modelling of

the Thext  (MOT), Joint Contruction of the text  (JCOT) dan Individual Contstruction of

the Text (ICOT). Langkah-langkah tersebut dilaksanakan juga pada siklus kedua dan

seterusnya apabila diperlukan dalam penelitian ini.

Pada langkah BKOF, guru memulai pembelajaran dengan melakukan apersepsi

dan Tanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari

dimana siswa sering menggunakan teks  procedure  atau langkah-langkah untuk

menjelaskan atau mengajak orang menyusun atau membuat sesuatu. Waktu yang

digunakan dalam langkah BKOF dibatasi 10 menit

Pada langkah selanjutnya (MOT), guru memberikan contoh teks  procedure

melalui media In Focus. Siswa diminta untuk mengamati teks  procedure 

langkah-langkah cara membuat coffee. Siswa diminta menuliskan poin-poin penting sebagai

langkah membuat coffee instant . Langkah ini dibatasi waktu 10 menit.

Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok atau JCOT. Siswa diminta

mengelompokkan diri pada kelompok yang telah dibuat dua hari sebelumnya. Tiap

kelompok siswa terdiri dari 5 orang siswa. Pada langkah ini Guru membagikan kartu

yang berisi kalimat dari beberapa topik teks  procedure  kepada setiap siswa. Kartu

tersebut dibagikan ke tiap kelompok. Tiap kelompok mendapatkan 1 buah kartu yang

akan dicari pasangan kalimatnya di kelompok lain. Siswa diminta menyusun kembali

kalimat yang disebarkan menjadi teks yang benar. Siswa yang aktif dan benar dalam

 penyusunan kalimat menjadi teks mendapatkan poin tertinggi. Pada langkah ini siswa

dibatasi waktu 20 menit. Langkah-langkah penerapan metode make a match  sebagai

(26)

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang

cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainn ya kartu jawaban.

2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.

3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Pemegang kartu

yang bertuliskan penggalan kalimat procedure A akan berpasangan dengan kalimat

 berikutnya yang dipegang oleh siswa di kelompok lain yang memegang kalimat

 procedure B dan seterusnya.

5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.

6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat

menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah

disepakati bersama.

7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda

dari sebelumnya, demikian seterusnya.

8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu

yang cocok.

9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

Pada ICOT, siswa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy

 berisi kalimat acak ( jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks  procedure

(27)

Siklus Penelitian

Dalam pelaksanaannya penulis merencanakan menggunakan 2 siklus sebagai

dasar penelitian tindakan kelas.

SIKLUS ke-1

Tahap Perencanaan (Planning), mencakup:

1. Menganalisis Silabus/ Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

2. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan metode CTL dengan

menggunakan model Pembelajaran make a match.

3. Merancang model pembelajaran klasikal.

4. Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif.

5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir).

6. Menyusun kelompok belajar peserta didik.

7. Merencanakan tugas kelompok.

Tahap Melakukan Tindakan (Action), mencakup:

1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan.

2. Menerapkan model pembelajaran klasikal.

3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan sesuai

rencana.

4. Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan yang

dilaksanakan.

5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui kendala saat

(28)

Tahap Mengamati (observation), mencakup:

1. Melakukan diskusi dengan guru Bahasa Inggris kelompok 1 MGMP Bahasa

Inggris Kota Banjar dan kepala sekolah untuk rencana observasi.

2. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran klasikal

yang dilakukan guru kelas IX.

3. Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat penerapan model

 pembelajaran klasikal.

4. Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas tentang

kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran

 perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.

Tahap refleksi (Reflection), mencakup:

1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi.

2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menerapkan model

 pembelajaran klasikal dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.

3. Melakukan refleksi terhadap penerapan model pembelajaran klasikal.

4. Melakukan refleksi terhadap kreativitas peserta didik dalam pembelajaran

Bahasa Inggris.

(29)

SIKLUS ke-2

Tahap Perencanaan (Planning), mencakup:

1. Mengevaluasi hasil refleksi, mendiskusikan, dan mencari upaya perbaikan

untuk diterapkan pada pembelajaran berikutnya.

2. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran.

3. Merancang perbaikan berdasarkan refleksi siklus 1.

Tahap Melakukan Tindakan (Action), mencakup:

1. Melakukan analisis pemecahan masalah.

2. Melaksanakan tindakan perbaikan dengan menggunakan penerapan model

 pembelajaran Make a Match.

Tahap Mengamati (observation), mencakup:

1. Melakukan pengamatan terhadap penerapan model pembelajaran Make a

Match.

2. Mencatat perubahan yang terjadi.

3. Melakukan diskusi membahas masalah yang dihadapi saat pembelajaran dan

memberikan balikan.

Tahap Refleksi (Reflection), mencakup:

1. Merefleksikan proses pembelajaran make a match

2. Merefleksikan hasil belajar peserta didik dengan penerapan model

 pembelajaran make a match.

3. Menganalisis temuan dan hasil akhir penelitian.

(30)

Dari tahap kegiatan pada siklus 1 dan 2, hasil yang diharapkan adalah agar (1)

 peserta didik memiliki kemampuan dan kreativitas serta selalu aktif terlibat dalam

 proses pembelajaran Bahasa Inggris; (2) guru memiliki kemampuan merancang dan

menerapkan model pembelajaran interaktif dengan kerja kelompok khusus pada mata

 pelajaran Bahasa Inggris, dan (3) terjadi peningkatan prestasi peserta didik pada mata

 pelajaran Bahasa Inggris.

3.4. Pembuatan Instrumen

Pengamatan yang dilakukan secara kolaboratif yang melibatkan guru mata

 pelajaran yang sejenis sebagai pengamat di kelas ini menggunakan instrumen penelitian

sebagai berikut :

a. Potongan kartu yang berisi kalimat  procedure  yang di acak dan dibagikan

kepada siswa (satu kelompok diberi satu buah kartu) sebagai instrumen

menyusun sebuah teks procedure.

 b. Lembar Observasi dan Lembar Cek list

c. Lembar Kerja Siswa sebagai evaluasi atau penilaian

3.5. Analisis dan Refleksi

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah memanfaatkan analisa

deskriptif kuantitatif dari proses dan hasil belajar. Analisis juga dilakukan dari hasil

observasi. Analisis berdasarkan siklus yang secara bertahap. Analisis 1 dalam siklus 1

yang hasilnya direfleksikan ke siklus 2. Refleksi yang dilakukan sesuai dengan

(31)

 peneliti berharap siswa akan menjadi lebih termotivasi dalam proses pembelajaran.

Tindak lanjut dalam penelitian ini siswa dapat menjadi lebih aktif dan pembelajaran

(32)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dijelaskan dalam bab ini

mencakup siklus ke satu dan siklus kedua sesuai perencanaan yang telah dibuat

sebelumnya. Bab ini melaporkan hasil dari test writing procedure text  pada tahap akhir

masing-masing siklus. Hasli penelitian dapat tergambar melalui tahapan sebagai berikut.

4.1. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus ke 1

4.1.1. Hasil Tindakan

Pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan pada siklus ke 1 merupakan hasil dari 1

 pertemuan. Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2010 jam ke 1-2 (07.00

 – 

08.20) dengan alokasi waktu 2x40 menit. Pelaksanaan tindakan pada siklus ini

Guru

Belum menggunakan media video dan teknik MAKE A MATCH dalam mengajar Teks Prosedur

Siswa

Hasil belajar siswa pada materi menyusun Teks Prosedure rendah

Menggunakan media Video dan teknik MAKE A MATCH dalam Menyusun Teks Prosedur

SIKLUS I Menggunakan teknik MAKE A MATCH, tapi tidak semua siswa terlibat

Diduga melalui

penggunaan Media Video dan Teknik Pembelajaran Make a Match

meningkatkan hasil belajar siswa menyusun teks berbentuk prosedur

SIKLUS II

Menggunakan media Video dan Siswa diberi kartu seluruhnya secara berkelompok kecil Kondisi awal

tindakan

(33)

mencakup perencanaan, implementasi tindakan (BKOF, MOT, JCOT, ICOT), observasi

dan refleksi tindakan.

Pada proses pembelajaran ini, penulis melakukan empat langkah teknik

 pembelajaran yang meliputi  Building Knowledge of The Field   (BKOF),  Modelling of

the Thext (MOT), Joint Contruction of the text  (JCOT) dan Individual Contstruction of

the Text (ICOT). Langkah-langkah tersebut dilaksanakan juga pada sikllus kedua dan

seterusnya apabila diperlukan dalam penelitian ini.

Pada langkah BKOF, guru memulai pembelajaran dengan melakukan apersepsi

dan tanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari

dimana siswa sering menggunakan teks  procedure  atau langkah-langkah untuk

menjelaskan atau mengajak orang menyusun atau membuat sesuatu. Waktu yang

digunakan dalam langkah BKOF dibatasi 10 menit

Pada langkah selanjutnya (MOT), guru memberikan contoh teks  procedure

melalui media In Focus. Siswa diminta untuk mengamati teks  procedure 

langkah-langkah cara membuat coffee. Siswa diminta menuliskan poin-poin penting sebagai

langkah membuat coffee instant. Langkah ini dibatasi waktu 10 menit.

Langkah selanjutnya merupakan kerja kelompok atau JCOT. Siswa diminta

mengelompokkan diri pada kelompok yang telah dibuat dua hari sebelumnya. Tiap

kelompok siswa terdiri dari 5 orang siswa. Pada langkah ini Guru membagikan kartu

yang berisi kalimat dari beberapa topik teks  procedure  kepada setiap siswa. Kartu

tersebut dibagikan ke tiap kelompok. Tiap kelompok mendapatkan 1 buah kartu yang

akan dicari pasangan kalimatnya di kelompok lain. Siswa diminta menyusun kembali

(34)

 penyusunan kalimat menjadi teks mendapatkan poin tertinggi. Pada langkah ini siswa

dibatasi waktu 20 menit.

Pada ICOT, siwa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy

 berisi kalimat acak ( jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks  procedure

yang benar. Langkah ini dibatasi waktu 15 menit.

4.1.2. Hasil Pengamatan/ Observasi

Hasil Pengamatan pada siklus ke-1 merupakan hasil pengamatan para observer

 pada proses pembelajaran tahap BKOF, MOT dan JCOT yang dilakukan menggunakan

metode pembelajaran Contextual Teaching and Learning melalui model pembelajaran

make a match. Para observer yang merupakan guru Bahasa Inggris yang tergabung

dalam MGMP Kota Banjar kelompok kelas 3 melakukan pengamatan dengan

menggunakan lembar observasi berbentuk form check list   ( ). Indikator yang diamati

selama proses pembelajaran meliputi tiga indikator, yaitu  perhatian siswa terhadap

materi pelajaran, kerjasama kelompok, partisipasi.

Pada kegiatan inti (BKOF, MOT, JCOT) guru menjelaskan struktur penyusunan

teks  procedure  dengan menggunakan media in focus kemudian guru menyuruh siswa

membentuk kelompok dan siswa diberi kartu yang berisi kalimat acak. Siswa diminta

mencari pasangan kalimat yang ada di kelompok lain. Dibawah ini adalah hasil

(35)

TABEL HASIL PENILAIAN PROSES

PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS PROSEDUR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH PERTEMUAN KE 1 SIKLUS 1

Kelas : IX A

Aspek Skill : Writing

 No Nama Indikator Total Kategori

1 2 3 Aktif Pasif

1 Ade Entris Firmansyah √ 1 √

2 Adis Yudistira √ √ √ 3 √ 3 Agus Rusdiat √ 1 √ 4 Arapat Sahara √ 1 √ 5 Asep Rianto 0 √ 6 Cici √ √ 2 √ 7 Darus √ √ √ 3 √ 8 Dadan Ramdani 0 √ 9 Delis Meliani √ √ √ 3 √ 10 Deri Gumilar 0 √ 11 Dikha Puspa W √ √ 2 √ 12 Doni Kurniawan √ 1 √ 13 Eli Wahyuni 0 √ 14 Enci Supriatin √ 1 √ 15 Endah Yulianti √ 1 √ 16 Erik Darusman √ 1 √ 17 Erna Wati √ 1 √ 18 Erni √ 1 √ 19 Euis Solihat √ √ √ 3 √ 20 Handi Sunantoro 0 √ 21 Hendiana √ √ 2 √ 22 Hera Cahyaningsih 0 √ 23 Ika Kartika 0 √ 24 Jenal MA √ 1 √ 25 Kicin Dini √ √ √ 3 √ 26 Lastri √ √ √ 3 √ 27 Muhrohil √ √ √ 3 √ 28 Neni Suhesti 0 √ 29 Nia Kaningsih √ √ 2 √ 30 Okfi Lestari √ 1 √

(36)

31 Reni Nuraeni √ √ √ 3 √ 32 Riyan Supriadi √ √ 2 √ 33 Risa Fatmawati √ √ 2 √ 34 Rully Nurdianti √ √ 2 √ 35 Saepul Uyun 0 √ 36 Sena Destiana √ √ √ 3 √ 37 Tati Sudarti √ 1 √ 38 Usi √ √ √ 3 √ 39 Veni Lutviani √ 1 √ 40 Wandini Srilya M 0 √ 41 Yuli Yulianti √ √ √ 3 √ TOTAL 20 19 21 60 18 23 PROSENTASE 48,78 46,34 51,22 48,78 43,90 56,09  Keterangan Indikator: 1.  Perhatian 2.  Kerjasama 3.  Pasritipasi

Berdasarkan hasil penilain proses dari tabel di atas dilihat bahwa sebanyak 18

orang siswa (43%) siswa aktif mengikuti proses pembelajaran melalui model

 pembelajaran make a match. Jumlah siswa yang pasif lebih besar yaitu sebanyak 23

orang (56%).

4.1.3. Hasil Test Performance

Selain lembar penilaian proses, dalam upaya mengumpulkan data, peneliti

menggunakan instrumen test tulis yang merupakan kalimat acak (jumbled sentences)

dibagikan kepada siswa secara individu. Proses ini dilakukan pada akhir pembelajaran

 berupa evaluasi pembelajaran pertemuan ke-2.

(37)

Tabel 1: Hasil test Writing Menyusun Kalimat Siklus 1

DAFTAR NILAI SISWA KELAS IX A

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2009-2010 MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

 No NAMA L/P SCORE JML

RATA-RATA

1 Ade Entris Firmansyah L 60 50 110 55,00

2 Adis Yudistira L 70 62 132 66,00 3 Agus Rusdiat L 60 60 120 60,00 4 Arapat Sahara L 65 55 120 60,00 5 Asep Rianto L 50 60 110 55,00 6 Cici P 65 65 130 65,00 7 Darus L 75 60 135 67,50 8 Dadan Ramdani L 50 60 110 55,00 9 Delis Meliani P 65 60 125 62,50 10 Deri Gumilar L 60 60 120 60,00 11 Dikha Puspa W P 75 70 145 72,50 12 Doni Kurniawan L 60 65 125 62,50 13 Eli Wahyuni P 65 60 125 62,50 14 Enci Supriatin P 60 60 120 60,00 15 Endah Yulianti P 55 60 115 57,50 16 Erik Darusman L 60 66 126 63,00 17 Erna Wati P 65 60 125 62,50 18 Erni P 60 60 120 60,00 19 Euis Solihat P 70 65 135 67,50 20 Handi Sunantoro L 60 60 120 60,00 21 Hendiana L 70 65 135 67,50 22 Hera Cahyaningsih P 65 60 125 62,50 23 Ika Kartika P 55 55 110 55,00 24 Jenal MA L 60 55 115 57,50 25 Kicin Dini P 70 65 135 67,50 26 Lastri P 90 80 170 85,00 27 Muhrohil L 65 65 130 65,00 28  Neni Suhesti P 60 60 120 60,00 29  Nia Kaningsih P 70 65 135 67,50 30 Okfi Lestari P 70 70 140 70,00 31 Reni Nuraeni P 60 60 120 60,00 32 Riyan Supriadi L 60 55 115 57,50 33 Risa Fatmawati P 75 70 145 72,50 34 Rully Nurdianti P 80 75 155 77,50

(38)

35 Saepul Uyun L 60 60 120 60,00 36 Sena Destiana P 65 65 130 65,00 37 Tati Sudarti P 60 60 120 60,00 38 Usi P 60 55 115 57,50 39 Veni Lutviani P 60 55 115 57,50 40 Wandini Srilya M L 50 50 100 50,00 41 Yuli Yulianti P 65 60 125 62,50 TOTAL 2620 2523 5143 2571,5 RATA-RATA 63,90 61,54 125,4390 62,72 Aspek Penilaian:

1. Mengidentifikasi generic structure dan language feature

2. Menyusun kalimat acak ( jumbled text ) menjadi sebuah text secara individu

Tabel 2: Rekapitulasi Nilai Hasil Test performance pada Siklus 1

 N o

Aspek Penilaian sikap

Jumlah Siswa Presentase

A B C D E F A B C D E F 1 Mengidentifikasi Generic Structure dan Language Feature 0 1 1 9 25 5 0,00 0,02 0,02 0,22 0,61 0,1 2 2 Menyusun Kalimat acak menjadi teks  procedure 0 0 1 4 28 8 0,00 0,00 0,02 0,10 0,68 0,2 0 Catatan: A: Excellent (10) B: Very Good (8.0 - 9.9) C: Good (8.0

 – 

 8.9 D: Fair (7.0

 – 

 7.9) E: Poor (6.0

 – 

 6.9) F: Very Poor (5.0

 – 

 5.9)

(39)

1. Identifikasi generic structure dan language feature

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak seorang pun siswa yang

memperoleh nilai “Excellent” dalam mengidentifikasi generic structure teks berbentuk

 procedure

. Satu (1)siswa (0,02%) mendapat nilai “Very Good”, satu (1) siswa

memperoleh nilai

“Good” (0,02%), sembilan (9) siswa (0,22%) memperoleh nilai

“Fair”, mayoritas sebanyak 25 siswa (0,61%) mendapat nilai “Poor”, sebanyak 5 siswa

(0,12%) siswa mendapat nilai very poor.

2. Menyusun kalimat acak menjadi teks prosedur yang

berterima

Pada chart diatas dapat disimpulkan bahwa tidak ada stu seorang pun siswa yang

memperoleh nilai “Excellent”

dan ‘

very good’  satu (1) siswa (0,02%) memperoleh nilai 0 1 1 9 25 5 Jumlah Siswa A Jumlah Siswa B Jumlah Siswa C Jumlah Siswa D Jumlah Siswa E Jumlah Siswa F 0 0 1 4 28 8 0.00 0.00 0.02 0.10 0.68 0.20 A B C D E F A

(40)

“good”, sebanyak empat (4) siswa (0,10%) memperoleh nilai “fair”, dua puluh delapan

(28) sis

wa (0,68%) memperoleh nilai “poor”dan sebanyak delapan (8) siswa (0,20%)

memperoleh nilai “very poor”.

4.1.4. Hasil Refleksi Siklus ke-1

Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan

kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat

refleksi penulis berusaha (1) memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala

yang nyata dalam tindakan strategis, dengan mempertimbangkan ragam

 perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelajaran di kelas, dan (2)

memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajaran

dilaksanakan.

Sesuai dengan tahap perencanaan yang telah disusun, refleksi siklus ke-1

dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2010 bertempat di SMPN 6 Banjar yang dihadiri

oleh para observer dan guru pemandu sebagai nara sumber. Para observer yang hadir

memberikan evaluasi berdasarkan catatan dan pendapatnya mengenai proses

 pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Dari hasil pengamatan dapat ditemukan sebanyak 18 orang (43%) siswa saja

yang secara aktif mengikuti pelajaran sesuai dengan harapan. Sedangkan mayoritas

siswa, yaitu sebanyak 23 siswa (56%) masih terlihat pasif dalam proses pembelajaran

menggunakan model pembelajaran make a match. Nilai yang diperoleh siswa pun

 belum menunjukkan hasil yang signifikan, bahkan dalam indikator mengidentifikasi

(41)

A (excellent). Mayoritas siswa, atau sebanyak 25 siswa (0,61) mendapat nilai E (poor),

satu siwa (0,02%) mendapat nilai B (Very Good), satu siswa (0,02%) mendapat nilai C

(Good), sembilan siswa (0,22%) mendapat nilai D (fair). Pada Indikator menyusun

relevansi susunan kalimat menjadi sebuah text secara individu siswa masih belum

menghasilkan nilai yang diharapkan. Bahkan tidak ada satu pun siswa yang

mendapatkan nilai ‘excellent’ dan ‘very good’. Mayoritas siswa,

atau sebanyak 28 siswa (0,68%) mendapat nilai E (poor).

Merujuk pada data dan hasil refleksi pelaksanaan siklus ke 1 di atas dapat ditarik

kesimpulan bahwa pembelajaran menulis menyusun kalimat menjadi teks berbentuk

 prosedur yang dilaksanakan pada siklus ke 1 dapat dikatakan gagal dan belum berhasil

dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menyusun kalimat acak menjadi

teks padu berbentuk procedure. Hal tersebut merupakan masalah dan temuan yang harus

segera dicari solusinya sebagai upaya peningkatan mutu kualitas pembelajaran.

Kegagalan ini menurut para observer terjadi pada media pembelajaran yang

 belum optimal, efektif dan efisien. Pendapat ini muncul dari Ibu Ai, S.Pd sebagai

observer yang mengatakan bahwa penggunaan media sangat penting dalam tahap BKOF

dan MOT, pada tahap ini siswa seharusnya diberi penguatan materi secara spesifik

mengenai langkah-langkah retorika membuat sebuah teks  procedure. Senada dengan

 pendapat Ibu Ai, S.Pd, Ibu attin dan Pak Nana sebagai observer juga memberikan

komentar, bahwa aktifitas siswa di kelas cenderung tidak disiplin dan kurang efektif

mengingat tidak semua siswa diberi kartu yang berisi penggalan kalimat. Guru model

hanya memberi satu buah kartu per-kelompok, dimana tidak semua siswa diberi

(42)

dan Ibu Maya Ulfah, S.Pd memberikan pendapatnya bahwa guru model hendaknya

menjelaskan secara rinci aturan main dan batasan waktu dalam tahap JCOT (kerja

kelompok) sehingga siswa tidak kebingungan dan mampu mengimplementasikan

 perintah yang diberikan oleh guru.

Pendapat dan saran para pengamat/observer merupakan dasar tindakan

selanjutnya. Peneliti merasa perlu melangkah ke siklus ke 2. Dalam hal ini peneliti

memutuskan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan menyusun rencana

 perbaikan pada siklus ke-2. Dengan persiapan dan perencanaan yang matang,

diharapkan pada siklus ke-2 pembelajaran dapat berjalan dengan lebih baik, berhasil

dalam upaya meningkatkan kualitas hasil pembelajaran siswa.

4.2. Deskripsi Laporan Tindakan Siklus ke 2

4.2.1. Hasil Tindakan

Rencana tindakan siklus ke 2 mengacu pada hasil refleksi yang dilakukan pada

siklus pertama. Perencanaan tindakan dimulai dari tahap perencanaan program

 pengajaran yang dilakukan oleh peneliti berkonsultasi dengan guru pemandu dan

guru-guru yang tergabung dalam MGMP Bermutu Bahasa Inggris kelompok kelas 3 dengan

memperbaiki RPP (Rencana Program Pengajaran) sebagai skenario pembelajaran siklus

kedua. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam siklus kedua terdiri dari satu pertemuan

(2x40 menit). Siklus ke 2 dilaksanakan pada tanggal 2 maret 2010 di SMP Pasundan

Banjar.

Berbeda dengan siklus ke 1, pada siklus kedua ini peneliti menggunakan media

(43)

yang di download dari www.youtube.com tentang prosedur cara menggunakan mesin

ATM. Hal ini dilakukan sebagai upaya memperjelas materi sehingga diharapkan siswa

dapat dengan mudah menangkap materi yang ditampilkan. Selain itu, peneliti juga

membuat kartu untuk melaksanakan pembelajaran make a match yang berisi kalimat

acak sebanyak 10 teks yang terbagi menjadi 5 bagian, yang masing-masing bagian

diabagikan kepada seluruh siswa yang berjumlah 41 orang.

Pada langkah BKOF (Buliding Knowlwdge of the Field) , guru memulai

 pembelajaran dengan melakukan tegur sapa dan mengabsen siswa. Guru melakukan

tanya jawab tentang materi yang akan dibahas sesuai tema. Penjelasan silabus dan

indikator pembelajaran dijelaskan pula dalam tahap ini. Hal tersebut dilakukan agar

siswa mempunyai batasan dan tujuan dalam pembelajaran. Tahap BKOF dibatasi waktu

10 menit. Pada tahap ini ada beberapa siswa yang dapat menjawab beberapa pertanyaan

yang diajukan oleh guru. Hal ini membuat guru merasa terhibur dan termotivasi, guru

dapat mengetahui seberapa besar siswa yang mempunyai kemampuan dasar materi yang

akan dibahas dalam pertemuan kali ini.

Pada langkah MOT (Modeling of the Text), guru menggunakan media Video

dalam mentransfer materi pembelajaran. Sebelum film diputar, guru memberikan

 beberapa catatan di papan tulis berupa kata kunci dan apa saja yang harus dilakukan

siswa pada saat melihat film. Selanjutnya siswa diberi kesempatan melihat dan

mengamati film berisi tata cara menggunakan mesin ATM serta langkah-langkah

menyusun teks  procedure. Siswa diminta mencatat langkah-langkah pembuat teks

 procedure dan informasi yang tersirat dari film yang mereka lihat dan amati. Pada

(44)

terlihat sibuk dengan temannya mendiskusikan apa saja yang mereka lihat dan mereka

membuat beberapa catatan kecil. Pada langkah ini waktu dibatasi 10 menit.

Setelah siswa dibekali materi pada tahap BKOF, Langkah selanjutnya

merupakan kerja kelompok atau JCOT. Siswa diminta untuk menggabungkan diri pada

kelompoknya. Masing masing kelompok terdiri dari 5 dan 6 orang siswa. Jumlah

kelompok siswa sebanyak 8 kelompok dari 41 siswa. Sebelum membagikan kartu yang

 berisi kalimat acak, guru memberikan arahan dan aturan permainan make a match

dimana siswa harus mencari pasangan kartu yang berisi kalimat  procedure di

kelompoknya masing masing. Kelompok yang dapat meyelesaikan permainan dengan

cepat dan benar mendapat poin tertinggi. Penjelasan guru dibatasi 5 menit, kemudian

guru mulai membagikan kartu yang berisi kalimat dari beberapa topik teks procedure

kepada setiap siswa. Kartu tersebut dibagikan ke siswa sebanyak 41 kartu. Pada langkah

ini siswa dibatasi waktu 20 menit.

Pada ICOT, siswa diberi kertas kerja yang merupakan lembar soal foto copy

 berisi kalimat acak ( jumbled sentences) yang harus disusun menjadi teks  procedure

yang benar. Langkah ini dibatasi waktu 20 menit.

4.2.2. Hasil Pengamatan/ Observasi

Pada tahap pengamatan, peneliti melakukan penilaian proses dengan cara

 berkeliling ke tiap kelompok dan mengamati aktifitas belajar siswa. Peneliti

menggunakan form check list

(√) untuk mengukur aktifitas siswa dalam pembelajaran.

Penilaian proses ini terfokus pada indikator penilaian proses meliputi  perhatian siswa

(45)

mengerjakan tugas. Penilaian proses ini berupa check list 

(√) yang berisi nama

-nama siswa. Hasil pengamatan pada siklus ke 2 dapat dilihat pada lembar penilaian dibawah

ini.

TABEL HASIL PENILAIAN PROSES

PEMBELAJARAN MENYUSUN TEKS PROSEDUR MENGGUNAKAN MODEL MAKE A MATCH SIKLUS 2

Kelas : IX A Aspek Skill : Writing

NO NAMA INDIKATOR TOTAL KATEGORI

1 2 3 AKTIF PASIF 1 Ade Entris Firmansyah √ √ √ 3 √

2 Adis Yudistira √ √ √ 3 √ 3 Agus Rusdiat √ 1 √ 4 Arapat Sahara √ 1 √ 5 Asep Rianto √ √ 2 √ 6 Cici √ √ 2 √ 7 Darus √ √ √ 3 √ 8 Dadan Ramdani √ 1 √ 9 Delis Meliani √ √ √ 3 √ 10 Deri Gumilar √ √ 2 √ 11 Dikha Puspa W √ √ 2 √ 12 Doni Kurniawan √ √ 2 √ 13 Eli Wahyuni √ 1 √ 14 Enci Supriatin √ √ 2 √ 15 Endah Yulianti √ √ 2 √ 16 Erik Darusman √ √ 2 √ 17 Erna Wati √ √ 2 √ 18 Erni √ 1 √ 19 Euis Solihat √ √ √ 3 √ 20 Handi Sunantoro 0 √ 21 Hendiana √ √ 2 √ 22 Hera Cahyaningsih √ 1 √ 23 Ika Kartika √ 1 √ 24 Jenal MA √ 1 √ 25 Kicin Dini √ √ √ 3 √

(46)

26 Lastri √ √ √ 3 √ 27 Muhrohil √ √ √ 3 √ 28 Neni Suhesti √ √ 2 √ 29 Nia Kaningsih √ √ 2 √ 30 Okfi Lestari √ √ 2 √ 31 Reni Nuraeni √ √ √ 3 √ 32 Riyan Supriadi √ √ 2 √ 33 Risa Fatmawati √ √ 2 √ 34 Rully Nurdianti √ √ 2 √ 35 Saepul Uyun 0 √ 36 Sena Destiana √ √ √ 3 √ 37 Tati Sudarti √ 1 √ 38 Usi √ √ √ 3 √ 39 Veni Lutviani √ √ 2 √ 40 Wandini Srilya M √ 1 √ 41 Yuli Yulianti √ √ 2 √ TOTAL 30 22 27 79 29 12 PROSENTASE 73,17 53,66 65,85 64,23 70,73 29,27  Keterangan Indikator: 1.  Perhatian 2.  Kerjasama 3.  Partispasi

Berdasarkan data yang diperoleh pada sikus ke 2 dapat dilihat sejauh mana

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Ada peningkatan hasil pada proses

 pembelajaran dibandingkan dengan pelaksanaan tindakan siklus ke 1, yaitu sebanyak 29

siswa (70,73%) aktif dalam proses pembelajaran dan siswa yang pasif sebanyak 12

orang (29,27%).

Siswa mengalami peningkatan dalam hasil proses pembelajaran dimungkinkan

oleh situasi pembelajaran yang asyik dan tidak kaku. Siswa senang dan enjoy dengan

media pembelajaran video dimana siswa dapat dengan fokus mengikuti proses

(47)

kesempatan untuk melakukan hal yang lain diluar kerja kelompok dengan pembatasan

waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan efektif.

4.2.3. Hasil Test Performance Siswa

Hasil evaluasi siswa pada test tulis terfokus pada kemampuan siswa menyusun

kalimat acak menjadi teks yang berterima. Siswa diminta mengisi instrumen berupa

LKS (lembar kerja siswa) yang dibagikan secara individu. Siswa mengisi LKS yang

diberikan dengan dibatasi waktu 15 menit. Test tersebut dilaksanakan pada akhir

 pembelajaran pada pertemuan yang sama.

Hasil dari test tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 3: Hasil test Writing Menyusun Kalimat Siklus 2

DAFTAR NILAI SISWA KELAS IX A

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2009-2010 MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

 No NAMA L/P SCORE JML

RATA-RATA

1 Ade Entris Firmansyah L 65 60 125 62,5

2 Adis Yudistira L 75 70 145 72,5 3 Agus Rusdiat L 75 70 145 72,5 4 Arapat Sahara L 80 70 150 75 5 Asep Rianto L 65 60 125 62,5 6 Cici P 75 70 145 72,5 7 Darus L 80 70 150 75 8 Dadan Ramdani L 65 60 125 62,5 9 Delis Meliani P 75 70 145 72,5 10 Deri Gumilar L 75 70 145 72,5 11 Dikha Puspa W P 85 80 165 82,5 12 Doni Kurniawan L 75 70 145 72,5 13 Eli Wahyuni P 70 65 135 67,5 14 Enci Supriatin P 65 60 125 62,5 15 Endah Yulianti P 75 65 140 70 16 Erik Darusman L 70 65 135 67,5 17 Erna Wati P 70 65 135 67,5

(48)

18 Erni P 65 60 125 62,5 19 Euis Solihat P 75 75 150 75 20 Handi Sunantoro L 65 60 125 62,5 21 Hendiana L 80 75 155 77,5 22 Hera Cahyaningsih P 70 65 135 67,5 23 Ika Kartika P 70 75 145 72,5 24 Jenal MA L 65 65 130 65 25 Kicin Dini P 80 70 150 75 26 Lastri P 95 85 180 90 27 Muhrohil L 75 65 140 70 28  Neni Suhesti P 65 60 125 62,5 29  Nia Kaningsih P 70 65 135 67,5 30 Okfi Lestari P 80 70 150 75 31 Reni Nuraeni P 65 60 125 62,5 32 Riyan Supriadi L 60 60 120 60 33 Risa Fatmawati P 85 75 160 80 34 Rully Nurdianti P 80 75 155 77,5 35 Saepul Uyun L 75 70 145 72,5 36 Sena Destiana P 75 65 140 70 37 Tati Sudarti P 65 60 125 62,5 38 Usi P 80 80 160 80 39 Veni Lutviani P 70 55 125 62,5 40 Wandini Srilya M L 65 60 125 62,5 41 Yuli Yulianti P 75 70 145 72,5 TOTAL 2990 2760 5750 2875 RATA-RATA 72,93 67,32 140,24 70,12 Aspek Penilaian:

1. Mengidentifikasi generic structure dan language feature

2. Menyusun kalimat acak (jumbled text) menjadi sebuah text secara individu

(49)

Tabel 4. Rekapitulasi Nilai Hasil Test performance pada Siklus 2

No Aspek Penilaian sikap Jumlah Siswa Presentase

A B C D E F A B C D E F

1

Mengidentifikasi generic structure dan language feature

0 1 9 19 12 0 0,00 0,02 0,22 0,46 0,29 0,00

2

Menyusun relevansi susunan kalimat menjadi sebuah text secara individu

0 0 3 17 20 1 0,00 0,00 0,07 0,41 0,49 0,02

Catatan:

 A: Excellent (10) B: Very Good (8.0 - 9.9) C: Good (8.0 –  8.9)  D: Fair (7.0 – 7.9) E: Poor (6.0 – 6.9) F: Very Poor (5.0 –  5.9)

1. Identifikasi generic structure dan language feature

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu siswa pun yang

mendapat nilai A ‘excellent’, Satu siswa (0,02%) mendapat nilai B ‘good’, 9 siswa

(0,22%) mendapan nilai C ‘good’, 19 siswa (0,46%) mendapat nilai D ‘fair’, 12 siswa

(0,29%) men

dapat nilai E ‘poor’ dan tidak ada satu pun siswa yang mendapat nilai F

‘very poor’ dalam mengidentidikasi generic structure teks prosedur.

C, 9, 21% D; 19 E, 12, 29% F, 0, 0% A, 0.00, 0% B, 0.02, 0% F, 0.00, 0% A B C D E F A

Gambar

TABEL HASIL PENILAIAN PROSES
Tabel 1:  Hasil test Writing Menyusun Kalimat Siklus 1 DAFTAR NILAI SISWA KELAS IX A
Tabel 2:  Rekapitulasi Nilai Hasil Test performance pada Siklus 1  N
TABEL HASIL PENILAIAN PROSES
+3

Referensi

Dokumen terkait

Diberikan sebuah teks fungsional pendek berbentuk pengumuman siswa dapat melengkapi teks dengan kata dan ungkapan yang

yang dilakukan adalah : meningkatkan perbendaharaan kosa kata siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan lagu-lagu pada siswa kelas.. IV SDN Tanjung Selor kecamatan

Penelitian Tindakan Kelas ini berjudul Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Laporan melalui Metode Pembelajaran Berbasis Lingkungan Pada Siswa Kelas VIII D

(2 tailed) sebesar 0,000 atau α < 0,05 sehingga penggunaan video pembelajaran efektif meningkatkan kemampuan menulis teks prosedur peserta didik Kelas VII SMP Negeri

Melalui metode penelitian tindakan kelas, penulis menguraikan pembelajaran ini dalam tulisan yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa dengan Menggunakan Mind mapping pada

 Total 17 Tujuan pembelajaran  Total JP selama setahun 144 JP 10.C.4 Merancang teks tulis dan mempresentasikan secara lisan teks berbentuk prosedur procedure terkait topik fenomena

Tujuan Pembelajaran 10.A6 Menganalisis dan menyimpulkan makna secara kontekstual fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks lisan berbentuk recount secara kritis, kreatif

Komponen Inti Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu: - Mengidentifikasi informasi rinci pada suatu teks berbentuk eksplanasi - Menemukan kata ganti reference yang tepat sesuai