GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/436/KPTS/013/2008 TENTANG

158  Download (0)

Full text

(1)

GUBERNUR JAWA TIMUR

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/436/KPTS/013/2008

TENTANG

PEDOMAN KERJA DAN PELAKSANAAN TUGAS PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2009

GUBERNUR JAWA TIMUR

MENIMBANG : bahwa agar pelaksanaan tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Tahun Anggaran 2009 oleh masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah dapat terselenggara dengan efektif dan efisien, sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan baik dari aspek fisik, keuangan maupun manfaatnya bagi kelancaran tugas pemerintahan umum dan pembangunan, perlu menetapkan Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur.

MENGINGAT : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan

Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286).

2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844).

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438).

(2)

4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4502).

5. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4503).

6. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4575).

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578).

8. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Tahun 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4609) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 ( Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4855).

9. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4330) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007.

10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007.

(3)

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Daerah.

12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur (Lembaran Daerah Tahun 2007 Nomor 1, Seri E).

M E M U T U S K A N

MENETAPKAN :

PERTAMA : Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa

Timur Tahun 2009 sebagaimana tersebut dalam Lampiran.

KEDUA : Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas sebagaimana dimaksud

dalam Diktum PERTAMA, meliputi:

a. Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Prioritas Belanja Tahun 2009 ;

b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); c. Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah ;

d. Pelaksanaan Kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (APBN) di Jawa Timur;

e. Laporan Pelaksanaan Kegiatan APBD/APBN ; f. Pembinaan Aoaratur:

g. Standar Honorarium/Upah/Tarif; h. Perjalanan Dinas ;

i. Pengelolaan Keuangan Daerah ; j. Penatausahaan Keuangan Daerah ;

(4)

k. Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur;

l. Administrasi Pengelolaan Barang Daerah ; m. Proses Pengadaan Barang dan Jasa ;

n. Pedoman dan Tata Cara Penyelenggaraan Pembangunan Bangunan Negara beserta Lingkungannya ;

o. Pedoman Penyelenggaraan Penataan Ruang ; p. Petunjuk Kegiatan Penelitian/Kajian/Studi;

q. Pelaporan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

KETIGA : Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas sebagaimana dimaksud

dalam Diktum KEDUA dipergunakan sebagai acuan yang harus dilaksanakan oleh Instansi/Lembaga/Satuan Unit Kerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk pelaksanaan program-kegiatan Tahun 2009.

KEEMPAT : a. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009 ;

b. Mengundangkan Keputusan ini dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur.

Ditetapkan di : Surabaya

pada tanggal : 30 Desember 2008

GUBERNUR JAWA TIMUR

ttd.

H. IMAM UTOMO. S

DIUMUMKAN DALAM LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR

(5)

LAMPIRAN KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR

NOMOR : 188/436/KPTS/013/2008 TANGGAL : 30 DESEMBER 2008 PEDOMAN KERJA DAN PELAKSANAAN TUGAS

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2009 BAB I

KEBIJAKAN UMUM APBD DAN PRIORITAS BELANJA TAHUN 2009

A. KEBIJAKAN UMUM APBD

Kebijakan Umum APBD (KUA) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 merupakan dokumen perencanaan yang memuat sasaran dan kebijakan daerah dalam satu tahun anggaran yang menjadi petunjuk dan ketentuan umum yang disepakati sebagai pedoman penyusunan Program dan Prioritas APBD Tahun 2009.

Adapun tujuan disusunnya Kebijakan Umum APBD (KUA) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 adalah sebagai pedoman dalam penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Tahun 2009.

1. Kondisi Umum

APBD merupakan alat untuk mengimplementasikan kebijakan yang dibahas dan disetujui bersama daerah oleh Pemerintah Daerah dan DPRD serta ditetapkan dengan peraturan daerah. Kebijakan pengelolaan keuangan daerah meliputi 3 (tiga) aspek penting yaitu kebijakan bidang pendapatan, kebijakan bidang belanja daerah dan kebijakan bidang pembiayaan.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi di Jawa Timur Tahun 2009 dengan rincian Pendapatan Daerah sebesar Rp. 5,539 trilyun sedangkan Belanja Daerah yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 5,689 trilyun. Defisit anggaran tersebut ditutup dari Pos Pembiayaan Penerimaan yang berasal dari estimasi SiLPA Tahun 2008 sebesar Rp. 150 milyar.

Sumber pendapatan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp. 3,765 trilyun, Dana Perimbangan dari Pemerintah sebesar Rp. 1,719 trilyun dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah sebesar Rp. 54,899 milyar.

Pendapatan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) disumbang dari Sub Pajak Daerah sebesar Rp. 3,267 Trilyun, Retribusi Daerah sebesar Rp. 301,606 Milyar, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Rp. 99,093 Milyar dan dari Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp. 97,692 milyar. Sedangkan pendapatan yang bersumber dari Dana Perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hasil sebesar Rp. 696,524 milyar, dan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp. 1,022 trilyun.

Selanjutnya pada Pos Pembiayaan Daerah terdiri dari Penerimaan sebesar Rp. 150 milyar yang bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) sebesar Rp. 150 milyar.

(6)

2. Permasalahan Anggaran

Anggaran sebagai sebuah alat untuk mengimplementasikan kebijakan melalui struktur program dan kegiatan baik pada aspek pendapatan, belanja dan pembiayaan menghadapi persoalan - persoalan sebagai berikut:

1. Keterbatasan potensi investasi publik terbatas yang proporsi normatif dibanding investasi swasta hanya sekitar 20%, harus mampu mengakomodasikan pelayanan dasar maupun fasilitasi dan stimulasi upaya mendorong tumbuhnya sektor-sektor riil baik melalui kerangka anggaran maupun kerangka regulasi;

2. Pengalokasian belanja, baru didasarkan pada variable kondisi potensi, asumsi - asumsi maupun pertimbangan evaluasi kinerja serta standar harga barang dan jasa dan belum didukung oleh ketersediaan instrument yang memadai seperti Standar Akuntansi Pemerintah Daerah, Standar Pelayanan Minimal, Standar Analisa Belanja;

3. Posting belanja tak tersangka harus didukung administrasi penatausahaan anggaran untuk efektivitas penyaluran terkait dengan kecepatan penanganan keadaan tanggap darurat, rehabilitasi maupun pasca bencana;

4. Pemanfaatan belanja antara Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota serta pengeluaran sektor swasta belum terintegrasi secara optimal termasuk dalam belanja penanganan bencana alam untuk pengelolaan sistem peringatan dini (early warning system) serta sistem pengelolaan pasca bencana secara terintegrasi (tanggap darurat, rehabilitasi dan pasca bencana). Disamping itu pengeluaran belanja untuk penanganan kemiskinan masih belum terintegrasi sehingga perlu ada one grand design dalam penanganan kemiskinan, termasuk regulasi-regulasi yang kondusif;

5. Pengalokasian pembiayaan kredit-kredit untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam manajemen pengelolaannya ternyata masih belum terintegrasi (APBN, APBD maupun laba BUMN), oleh karena itu perlu ada koordinasi dan perencanaan yang sinergis dalam satu manajemen pengelolaan oleh pemerintah daerah untuk mencapai hasil yang optimal;

6. Masih lemahnya sistem fasilitasi/pengakomodasian dinamika masyarakat yang berkembang dalam kerangka anggaran.

3. Tema

Pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009, pemerintah telah menetapkan tema pembangunan tahun 2009, yaitu : "Peningkatan Kesejahteraan

Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan". Tema itu diterjemahkan kedalam tiga

prioritas pembangunan nasional. Pertama, Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan; Kedua, Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan Ekonomi yang Didukung oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur, Energi; dan Ketiga, Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, Pemantapan Demokrasi, Pertahanan dan Keamanan dalam Negeri.

4. Arab Kebijakan

Arah kebijakan Pendapatan Daerah, kebijakan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 diarahkan pada :

a. Peningkatan target pendapatan daerah baik pajak langsung maupun tidak langsung secara terencana sesuai kondisi perekonomian dengan memperhatikan kendala, potensi, dan coverage ratio yang ada;

(7)

b. Mengembangkan kebijakan pendapatan daerah yang dapat diterima masyarakat, partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan;

c. Perluasan sumber-sumber penerimaan daerah.

Arah Kebijakan Belanja Daerah, kebijakan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur

Tahun 2009 diarahkan pada :

a. Pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat sesuai kemampuan dan khususnya bidang pendidikan diupayakan minimal 20 %;

b. Stimulasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil; c. Fasilitasi Penanganan bencana alam;

d. Mengakomodasi perkembangan dinamika masyarakat dan tidak terkonsentrasi pada lokus tertentu;

e. Pemanfaatan belanja didasarkan pada konsep integrasi Kebijakan Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota;

f. Pemenuhan belanja langsung SKPD untuk optimalisasi pelayanan publik (Belanja Eks Rutin).

Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Kebijakan Pembiayaan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 diarahkan untuk meningkatkan manajemen pembiayaan daerah yang mengarah pada akurasi, efisiensi, efektifitas dan profitabilitas.

Selain itu, pembangunan daerah yang dilakukan diharapkan mampu dibiayai tidak hanya bersumber APBD saja, tetapi diharapkan dari sumber-sumber yang lain seperti masyarakat, swasta serta pemerintah pusat (APBN).

5. Strategi

Strategi Pendapatan Daerah

1. Strategi Pendapatan Asli Daerah

Strategi di bidang pendapatan asli daerah pada prinsipnya diarahkan pada peningkatan pendapatan daerah yang dilaksanakan dengan 3 (tiga) fokus Strategi, yaitu:

a. Bidang Pendapatan

1) Perluasan dan peningkatan sumber penerimaan dan pembiayaan Daerah serta mendorong peningkatan tertib administrasi keuangan Daerah;

2) Peningkatan Hubungan Kerja/kerjasama antar Dinas dilingkungan Provinsi Jawa Timur dan dengan Pemerintah/BUMN dalam rangka peningkatan penerimaan Bagi Hasil dari Pemerintah;

3) Pengembangan fasilitasi kerjasama dengan Kabupaten/Kota dibidang Pajak dan Retribusi Daerah serta lain-lain pendapatan daerah yang sah;

4) Optimalisasi pemanfaatan aset dan pengelolaan BUMD yang didukung oleh sistem evaluasi kinerja BUMD yang memungkinkan BUMD dioptimalkan maupun dilakukan re-strukturisasi;

5) Kerjasama dengan Kabupaten/Kota. b. Bidang Pelayanan Publik

1) Pengembangan/peningkatan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat; 2) Pembangunan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat;

3) Meningkatkan kualitas pelayanan, dengan pemanfaatan teknologi informasi (hardware dan software) sebagai pendukung utama kelembagaan;

(8)

4) Pengembangan sistem dan prosedur pemungutan dan pembayaran pajak, retribusi daerah dan pendapatan lainnya.

c. Bidang Kelembagaan

1) Penyederhanaan peraturan perundang-undangan;

2) Pengembangan manajemen pendapatan daerah dengan prinsip profesionalitas, efisiensi, transparan dan bertanggung jawab;

3) Peningkatan kapabilitas dan profesionalisme Sumber Daya Manusia Aparatur dibidang pengelolaan Keuangan Daerah;

4) In House/On Job Training;

5) Program Rekruitmen Sumber Daya Manusia Aparatur berbasis Kompetensi; 6) Optimalisasi UPTD.

2. Dana Perimbangan

a. Memperjuangkan "redistribusi" Penerimaan Pusat ke Daerah diluar DAU dan DAK, yang mengarah kepada keseimbangan yang proporsional bagi daerah yang mempunyai sumber daya ekonomi dan memberikan kontribusi berupa cukai atau pajak ke Pusat, namun memiliki sumber daya alam yang terbatas. b. Perlunya diatur mengenai Revenue Sharing terhadap Pajak Pusat yang harus

dimasukkan dalam konstruksi perubahan UU 34 Tahun 2000 ke dalam salah satu pasal dengan konsep sebagai berikut, terhadap Pajak Pusat dengan pembagian : 70% untuk Pemerintah Pusat, 30% untuk Pemerintah Provinsi seluruh Indonesia. Dari 30% tersebut kemudian di "100%" kan, dan dibagi 50% untuk seluruh Pemerintah Provinsi di Indonesia (pro rata), sedangkan 50% dibagi berdasarkan angka indeks penerimaan (potensi) masing-masing Pemerintah Provinsi (berdasarkan potensi). Demikian juga halnya dengan bagian Pemerintah Provinsi, akan dibagikan kepada Kabupaten/Kota dengan konsep 70% dan 30% sesuai dengan kesepakatan.

Strategi Belanja Daerah

a. Fasilitasi alokasi belanja yang bersifat given (Belanja Pegawai/Gaji, Belanja Bag! Hasil ke Kab/Kota, belanja untuk rumah Sakit yang berasal dari anggaran fungsional);

b. Fasilitasi alokasi belanja untuk kegiatan multi years (tahun jamak) dan kegiatan prioritas lanjutan tahun 2008;

c. Melaksanakan efektivitas dan efisiensi belanja;

d. Memperbanyak konsep kemitraan pendanaan pembangunan diantaranya melalui revitalisasi kerjasama internasional (bilateral) baik sister province maupun non sister province;

e. Optimalisasi pemanfaatan belanja untuk pmendukung kerangka regulasi dalam pemanfaatan produk lokal pada kegiatan publik.

Strategi Pembiayaan Daerah

a. Apabila APBD surplus maka perlu dilakukan transfer ke persediaan Kas dalam bentuk giro, deposito, penyertaan modal atau sisa lebih perhitungan anggaran tahun berjalan;

b. Apabila APBD defisit, maka perlu memanfaatkan anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, dan melakukan rasionalisasi belanja;

(9)

c. Apabila Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tidak mencukupi untuk menutup defisit APBD, maka ditutup dengan dana pinjaman.

B. PRIORITAS BELANJA TAHUN 2009

Dengan disepakatinya Kebijakan Umum APBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan DPRD Provinsi Jawa Timur, maka perlu disusun Program dan Prioritas APBD.

Adapun tujuan disusunnya Prioritas dan Plafon APBD Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 adalah sebagai dasar dalam penyusunan dan penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009.

1. Rencana Pendapatan dan Penerimaan Pembiayaan Daerah

APBD merupakan alat untuk mengimplementasikan kebijakan yang dibahas dan disetujui bersama daerah oleh Pemerintah Daerah dan DPRD serta ditetapkan dengan peraturan daerah. Kebijakan pengelolaan keuangan daerah meliputi 3 (tiga) aspek penting yaitu kebijakan bidang pendapatan, kebijakan bidang belanja daerah dan kebijakan pembiayaan.

Dari aspek pendapatan yang terdiri atas Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, maka pada tahun 2009 kekuatan pendapatan daerah diperkirakan sebesar Rp. 5,539 trilyun lebih.

Sumber pendapatan APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 terdiri atas Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp. 3,765 trilyun, Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat sebesar Rp. 1,719 trilyun dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah sebesar Rp. 54,899 milyar.

Pendapatan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) disumbang dari Sub Pajak Daerah sebesar Rp. 3,267 Trilyun, Retribusi Daerah sebesar Rp. 301,606 Milyar, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan Rp. 99,093 Milyar dan dari Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah sebesar Rp. 97,692 Milyar. Sedangkan pendapatan yang bersumber dari Dana Perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hasil sebesar Rp. 696,524 milyar dan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp. 1,022 trilyun, lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp. 54,899 miliar.

Selanjutnya pada Pos Pembiayaan Daerah terdiri dari Penerimaan sebesar Rp. 150 milyar yang bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) sebesar Rp. 150 milyar.

Dalam Prioritas dan Plafon APBD Tahun 2009 telah ditetapkan Rencana Pendapatan Daerah sebesar Rp. 5,539 Trilyun yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 3,765 trilyun, Dana Perimbangan sebesar Rp. 1,719 Trilyun dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah sebesar Rp. 54,899 Milyar.

2. Prioritas Belanja Daerah

Berdasarkan 3 (tiga) prioritas pembangunan tahun 2009 sebagaimana yang diamanatkan dalam Rencana Kerja Pembangunan (RKP) tahun 2009, serta dengan mempertimbangkan sasaran kinerja pembangunan sebagaimana yang diamanatkan dalam Program Transisi/Indikatif Provinsi Jawa Timur Tahun 2009, maka prioritas belanja daerah APBD Tahun 2009 diprioritaskan pada program-program sebagai berikut:

(10)

1. Peningkatan Pelayanan dan Pembangunan Pedesaan, diprioritaskan pada program : Program Pendidikan Anak Usia Dini; Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun; Program Pendidikan Menengah, Program Pendidikan Luar Biasa; Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Pendidikan; Program Manajemen Pelayanan Pendidikan; Program Sinkronisasi dan Koordinasi Pembangunan Pendidikan di Daerah; Program Upaya Kesehatan Masyarakat; Program Perbaikan Gizi Masyarakat; Program Pengembangan Lingkungan Sehat; Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular; Program pengadaan; Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru - Paru/Rumah Sakit Mata; Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru - Paru/Rumah Sakit Mata; Program Upaya Kesehatan Perorangan; Program Sumber Daya Kesehatan; Program Pengembangan Usaha ekonomi Produktif Bagi Masyarakat Miskin; Program Peningkatan Kesempatan Kerja; Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial; Program Pembinaan Anak Terlantar; Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma; Program Bantuan dan Perlindungan Kesejahteraan Sosial; Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olahraga; Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga; Program Pengembangan Perumahan; Program Lingkungan Sehat Perumahan; Program Pengembangan Kinerja Pembangunan Air Minum dan Air Limbah; Program Peningkatan Kinerja Pembangunan Persampahan dan Drainase; dan Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan.

2. Percepatan Pertumbuhan yang Berkualitas dengan Memperkuat Daya Tahan

Ekonomi yang Didukung Oleh Pembangunan Pertanian, Infrastruktur dan Energi, diprioritaskan pada program : Program Peningkatan Iklim Investasi dan

Realisasi Investasi; Program Penyiapan Potensi Sumberdaya; Sarana dan Prasarana Daerah; Program Pengembangan Kemitraan Pariwisata; Program Penataan Wilayah Pariwisata; Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor; Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah; Program Peningkatan Kemampuan Teknologi Industri; Program Peningkatan Keterampilan SDM Industri; Program Peningkatan Kesejahteraan Petan; Program Peningkatan Ketahanan Pangan; Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan/ Peternakan; Program Pengembangan Agribinis; Program Pemanfaatan Potensi Sumber daya Hutan; Program Pengembangan Budidaya Perikanan; Program Pengembangan Perikanan Tangkap; Program Pengembangan Sistem Penyuluhan; Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produk Perikanan; Program Pengembangan Kawasan Budidaya Laut; Air Payau dan Air Tawar, Program Penciptaan Iklim Usaha Kecil Menengah yang Kondusif; Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif KUKM; Program Pengembangan Sistem Pendukung Usaha bagi KUKM; Pengembangan Badan Usaha Milik Daerah;

Program Pembangunan Jalanan dan Jembatan; Program

Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan; Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairannya Lainya; Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku; Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya; Program Pengendalian Pembangunan Kota-Kota Besar dan Metropolitan; Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh; Program Peningkatan Pelayanan Angkutan; Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Perkeretaapian; Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana

(11)

dan Fasilitas Transportasi Laut; Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas Transportasi Udara; Program Penguasaan, Pengembangan Migas, Batubara dan Energi Lainnya serta Aplikasi Teknologi Energi; Program Penguasaan, Pengembangan Migas, Batubara dan Energi Lainnya serta Aplikasi Teknologi Energi; Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan; Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan; dan Program Perencanaan Tata Ruang.

3. Peningkatan Upaya Anti Korupsi, Reformasi Birokrasi, Pemantapan

Demokrasi, Pertahanan dan Keamanan dalam Negeri, diprioritaskan pada

program : Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan; Program Penguatan Kelembagaan IPTEK; Kelembagaan dan Ketatalaksanaan; Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan; Program Pemberdayaan Masyarakat untuk Menjaga Ketertiban dan Keamanan; Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Hak Asasi Manusia; Program Pembentukan Produk Hukum; Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan Daerah; Program Peningkatan Dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah; Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah; Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah; Program Perencanaan Pembangunan; Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH; Program Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pemeriksa dan Aparatur Pengawasan; Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Pengawasan; Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi; Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah; Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik; Program Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Pemerintah; Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Negara; Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur; Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur; Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Negara; Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa; Program Pengembangan Daya Baca dan Pembinaan Perpustakaan; Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik; Program Pendidikan Politik Masyarakat; Program Penyempurnaan dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi; Program Koordinasi, Sinkronisasi, Fasilitasi dan Evaluasi Bidang Perekonomian; Program Koordinasi, Sinkronisasi, Fasilitasi dan Evaluasi Bidang Kesejahteraan Sosial dan Mental Spiritual; dan Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah.

C. TARGET KINERJA TAHUN 2009

Target kinerja pembangunan Jawa Timur Tahun 2000 mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2008 tentang Program Transisi/Indikatif Provinsi Jawa Timur Tahun 2009. Untuk realisasi pencapaian kinerja pembangunan Jawa Timur Tahun 2008 yang sudah mampu merealisasikan target kinerja tahun 2008, diupayakan tetap ditingkatkan sesuai dengan perkembangan input sumber daya, proses maupun kebijakan-kebijakan yang diciptakan oleh Pemerintah Provinsi maupun dukungan kebijakan-kebijakan oleh Pemeritah Kabupaten/Kota serta Pemerintah Pusat maupun peran mobilisasi investasi dunia usaha dan masyarakat.

(12)

BAB II

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH A. KEBIJAKAN PENYUSUNAN APBD

Pokok - pokok kebijakan yang perlu mendapat perhatian dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2009 terkait dengan kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah serta kebijakan penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan daerah, sebagai berikut:

1. Pendapatan Daerah

a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

1) Dalam merencanakan target PAD supaya mempertimbangkan realisasi penerimaan tahun lalu, potensi, dan asumsi pertumbuhan ekonomi yang dapat mempengaruhi masing - masing jenis penerimaan daerah;

2) Dalam upaya peningkatan PAD, hendaknya tidak menetapkan kebijakan yang memberatkan dunia usaha dan masyarakat. Untuk itu dapat ditempuh melalui penyederhanaan sistem dan prosedur administrasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, meningkatkan ketaatan wajib pajak dan pembayar retribusi daerah serta meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas pemungutan PAD yang diikuti dengan peningkatan kualitas, kemudahan, ketepatan dan kecepatan pelayanan;

3) Dalam menganggarkan rencana pendapatan daerah dari hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, hendaknya rasional dibandingkan dengan nilai kekayaan daerah yang disertakan, dan memperhatikan fungsi penyertaan modal tersebut. Selain itu, supaya mendayagunakan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan dan belum dimanfaatkan untuk dikelola atau dikerjasamakan dengan pihak ketiga dalam rangka meningkatkan PAD;

4) Komisi, rabat, potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat dari penjualan, tukar menukar, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga, jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana pada bank serta penerimaan dari hasil penggunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, merupakan PAD.

b. Dana Perimbangan

Mengingat proses penyusunan APBD sudah dimulai sejak bulan Juni 2008 sedangkan penetapan pagu definitif dana perimbangan tahun anggaran 2009 direncanakan sekitar bulan Oktober 2008, maka pencantuman pagu dana perimbangan dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2009 supaya melakukan proyeksi anggaran atas dasar alokasi definitif dana perimbangan Tahun Anggaran 2008;

c. Lain - lain Pendapatan Daerah Yang Sah

1) Dalam menetapkan pendapatan bag! hasil, agar menggunakan pagu Tahun Anggaran 2008, sedangkan bagian pemerintah Kabupaten/Kota yang belum direalisasikan oleh pemerintah provinsi akibat pelampauan target Tahun Anggaran 2008 agar ditampung dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2009; 2) Pencantuman rencana penerimaan hibah berupa uang dalam APBD Tahun

(13)

d. Pendapatan yang bersumber dari dana alokasi umum, dana bagi hasil, hibah, dana darurat, dan sumbangan pihak ketiga dianggarkan pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD).

2. Belanja Daerah

Belanja daerah disusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, oleh karena itu penganggarannya mengutamakan pencapaian hasil melalui program dan kegiatan (Belanja Langsung) daripada Belanja Tidak Langsung.

a. Belanja Tidak Langsung, meliputi : 1) Belanja Pegawai

a) Untuk mengantisipasi adanya kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, mutasi dan penambahan PNSD agar diperhitungkan acress yang besarnya dibatasi maksimum 2,5% dari jumlah belanja pegawai (gaji pokok dan tunjangan);

b) Dalam penganggarannya, perlu pula mengantisipasi :

− Kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD yang ditetapkan pemerintah. − Gaji bulan ke 13 (tiga belas).

− Pengangkatan CPNS dan formasi pegawai tahun 2009.

c) Dalam merencanakan anggaran tambahan penghasilan hanya diperkenankan untuk PNSD/CPNSD dengan pertimbangan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi, prestasi kerja, dan/atau pertimbangan obyektif lainnya, yang kriteria dan besarannya ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

d) Apabila daerah telah menganggarkan tambahan penghasilan dalam bentuk uang makan, tidak diperkenankan menganggarkan penyediaan makanan dan minuman harian pegawai dalam bentuk kegiatan.

e) Dalam rangka efektifitas dan efisiensi pemanfaatan biaya pemungutan pajak daerah, penganggaran biaya pemungutan pajak daerah, didasarkan atas rencana kebutuhan riil bagi aparat terkait dalam pemungutan dan pembinaan pajak daerah dan jumlahnya dibatasi paling tinggi sebesar 5% dari target penerimaan pajak daerah Tahun Anggaran 2009.

2) Penyediaan anggaran untuk penyelenggaran asuransi kesehatan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2003 tentang Subsidi dan luran Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil dan Penerima Pensiun serta Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri Nomor 616.A/MENKES/SKB/VI/2004 Nomor 155A Tahun 2004 tentang Tarif Pelayanan Kesehatan bagi Peserta PT. Askes (Persero) dan Anggota Keluarganya di Puskesmas dan di Rumah Sakit Daerah sehingga asuransi jiwa bagi PNSD atau yang sejenis tidak diperkenankan dianggarkan dalam APBD.

3) Penganggaran penghasilan dan penerimaan lain Pimpinan dan Anggota DPRD serta belanja penunjang kegiatan harus didasarkan pada :

a) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007;

(14)

b) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pengelompokan Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran dan Pertanggungjawaban Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif dan Dana Operasional.

4) Belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mempedomani ketentuan sebagai berikut:

a) Penganggaran belanja kepala daerah dan wakil kepala daerah didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

b) Biaya penunjang operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 yang semula tertulis "Biaya Penunjang Operasional Kepala Daerah Kabupaten/Kota" termasuk didalamnya "Biaya Penunjang Operasional Wakil Kepala Daerah Kabupaten/Kota".

5) Belanja Bunga

Kewajiban pembayaran bunga pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang diselesaikan dan dianggarkan dalam APBD Tahun Anggaran 2009.

6) Belanja Subsidi

Pemberian Subsidi hanya diperuntukkan kepada perusahaan/lembaga tertentu yang bertujuan untuk membantu biaya produksi sehingga harga jual produk/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat seperti subsidi air bersih, pelayanan listrik desa dan kebutuhan pokok masyarakat lainnya. Dalam menetapkan belanja ini perlu dilakukan pengkajian terlebih dahulu sehingga pemberian subsidi dapat tepat sasaran.

7) Belanja Hibah

a) Pemberian hibah untuk mendukung fungsi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilakukan oleh pemerintah (instansi vertikal seperti TMMD dan KPUD), semi pemerintah (seperti PMI, KONI, Pramuka, KORPRI, dan PKK), pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, serta masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya, dapat dianggarkan dalam APBD;

b) Dalam menentukan organisasi atau lembaga yang akan diberikan hibah agar dilakukan secara selektif dan rasional dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah;

c) Dalam rangka akuntabilitas penggunaan hibah kepada pemerintah, pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, organisasi masyarakat dan masyarakat, agar pemberian hibah dilengkapi dengan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) antara pemerintah daerah dengan penerima hibah serta kewajiban penerima hibah mempertanggungjawabkan penggunaan dana yang diterima, sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor : 900/2677/SJ tanggal 8 Nopember 2007 tentang Hibah dan Bantuan Daerah;

8) Belanja Bantuan Sosial

a) Dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, pemerintah daerah dapat memberikan bantuan sosial kepada kelompok/anggota masyarakat namun tetap dilakukan secara selektif/tidak mengikat dan jumlahnya dibatasi;

(15)

b) Untuk penganggaran bantuan keuangan kepada partai politik agar mengacu pada peraturan perundang - undangan yang terkait dengan pemberian bantuan keuangan kepada partai politik.

9) Belanja Bagi Hasil

Untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada Kabupaten/Kota disesuaikan dengan rencana pendapatan pada Tahun Anggaran 2009, sedangkan pelampauan target Tahun Anggaran 2008 yang belum direalisasikan kepada pemerintah daerah yang menjadi hak kabupaten/kota ditampung dalam Perabuhan APBD Tahun Anggaran 2009. 10)Belanja Bantuan Keuangan

a) Pemerintah Provinsi dalam menganggarkan bantuan keuangan kepada pemerintah Kabupaten/Kota yang bersifat umum didasarkan pada pertimbangan untuk mengatasi kesenjangan fiskal;

b) Selain bantuan keuangan yang bersifat umum pemerintah provinsi dapat memberikan bantuan keuangan yang bersifat khusus untuk membantu capaian program priotas pemerintah provinsi yang dilaksanakan sesuai urusan yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota seperti pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan;

c) Bantuan keuangan yang bersifat khusus dari pemerintah provinsi kepada pemerintah desa diarahkan untuk percepatan atau akselerasi pembangunan desa.

11)Belanja Tidak Terduga

Dalam penetapan anggaran belanja tidak terduga agar dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan realisasi Tahun Anggaran 2008 dan estimasi kegiatan - kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah, serta tidak biasa/tanggap darurat, yang tidak diharapkan berulang dan belum tertampung dalam bentuk program dan kegiatan pada Tahun Anggaran 2009.

b. Belanja Langsung

Penganggaran belanja langsung dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah, perlu memperhatikan hal - hal sebagai berikut:

1) Dalam merencanakan alokasi belanja untuk setiap kegiatan harus dilakukan analisis kewajaran biaya yang dikaitkan dengan output yang dihasilkan dari satu kegiatan. Oleh karena itu, untuk menghindari adanya pemborosan, program dan kegiatan yang direncanakan didasarkan pada kebutuhan riil.

2) Terhadap kegiatan pembangunan yang bersifat fisik, proporsi belanja modal diupayakan lebih besar dibanding dengan belanja pegawai atau belanja barang dan jasa.

3) Belanja Pegawai

a) Penganggaran honorarium bagi PNSD supaya dibatasi frekuensinya sesuai dengan kewajaran beban tugas PNSD yang bersangkutan. Dasar penghitungan besaran honorarium disesuaikan dengan standar yang ditetapkan dengan Keputusan kepala daerah.

b) Penganggaran honorarium Non PNSD hanya dapat disediakan bagi pegawai tidak tetap yang benar - benar memiliki peranan dan kontribusi serta yang terkait langsung dengan kelancaran pelaksanaan kegiatan di masing - masing SKPD termasuk pula narasumber/tenaga ahli di luar PNS, dan/atau PNS di luar lingkungan Pemerintah Provinsi.

(16)

4) Belanja Barang dan Jasa

a) Bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, pada jenis belanja barang/jasa ditambahkan obyek belanja pemeliharaan, jasa konsultansi, dan lain - lain pengadaan barang/jasa, dan belanja lainnya yang sejenis, sehingga penganggaran upah tenaga kerja dan tenaga lainnya yang terkait dengan jasa pemeliharaan atau jasa konsultansi baik yang dilakukan secara swakelola maupun dengan pihak ketiga dianggarkan pada belanja barang dan jasa dimaksud.

b) Dalam menetapkan jumlah anggaran untuk belanja barang pakai habis agar disesuaikan dengan kebutuhan riil dan dikurangi dengan sisa barang persediaan Tahun Anggaran 2008. Untuk menghitung kebutuhan riil disesuaikan dengan pelaksanaan tugas dan fungsi SKPD, dengan mempertimbangkan jumlah pegawai dan volume pekerjaan;

c) Untuk menghindari akumulasi tunggakan pemerintah daerah kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan dalam rangka menjamin keberlangsungan ketersediaan energi, SKPD yang mempunyai tunggakan PLN segera menyelesaikan tunggakan tersebut dalam Tahun Anggaran 2009;

d) Dalam menetapkan anggaran untuk pengadaan barang inventaris agar dilakukan secara selektif sesuai kebutuhan masing - masing SKPD. Oleh karena itu sebelum merencanakan anggaran terlebih dahulu dilakukan evaluasi dan pengkajian terhadap barang - barang inventaris yang tersedia baik dari segi kondisi maupun umur ekonomisnya;

e) Penganggaran belanja perjalanan dinas daerah, baik perjalanan dinas luar negeri maupun perjalanan dinas dalam negeri agar dilakukan secara selektif, frekuensi dan jumlah harinya dibatasi;

f) Untuk perjalanan dinas dalam rangka kunjungan kerja dan studi banding dilakukan secara selektif dan hanya diperkenankan apabila terkait dengan upaya pengkayaan wawasan dan substansi kebijakan daerah yang sedang dirumuskan pemerintah daerah dan dilengkapi dengan laporan hasil kunjungan kerja dan studi banding dimaksud;

g) Penganggaran untuk penyelenggaraan rapat- rapat yang dilaksanakan di luar kantor, workshop, seminar dan lokakarya agar dikurangi frekuensinya; h) Penganggaran untuk menghadiri pelatihan terkait dengan peningkatan SDM

hanya diperkenankan untuk pelatihan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga non pemerintah yang bekerjasama dan/atau direkomendasikan oleh departemen terkait;

i) Dalam merencanakan belanja pemeliharaan barang inventaris kantor disesuaikan dengan kondisi fisik barang yang akan dipelihara dan lebih diprioritaskan untuk mempertahankan kembali fungsi barang inventaris yang bersangkutan;

j) Daerah dapat menganggarkan pemberian hadiah dalam bentuk uang dan/atau barang kepada kelompok masyarakat dan/atau perorangan yang berprestasi terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah, baik yang diperoleh melalui lomba antara lain lomba desa/kelurahan, kelompok masyarakat atau perorangan yang berprestasi dalam pelatihan.

(17)

5) Belanja Modal

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, maka untuk penganggaran belanja modal tidak hanya sebesar harga beli/bangun aset tetapi harus ditambah seluruh belanja yang terkait dengan pengadaan/pembangunan aset sampai aset tersebut siap digunakan. Belanja Modal tersebut digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang memenuhi kriteria :

− Nilai manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan ; − Merupakan obyek pemeliharaan ;

− Jumlah nilai rupiahnya material. 3. Pembiayaan Daerah

a. Dalam rangka menutup defisit anggaran, pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah, yang bersumber dari pemerintah, pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank dan masyarakat (obligasi daerah). Pencantuman jumlah pinjaman dalam APBD harus didasarkan pada keputusan kepala daerah atas persetujuan DPRD yang telah mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan berdasarkan pertimbangan Menteri Dalam Negeri. b. Penerimaan pinjaman daerah yang dianggarkan agar disesuaikan dengan rencana

penarikan pinjaman dalam tahun anggaran 2009 dan disesuaikan kembali dengan perjanjian pinjaman serta batas maksimal defisit APBD tahun anggaran 2009 yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

B. TEKNIS PENYUSUNAN APBD

Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, maka terdapat beberapa hal yang mengalami perubahan :

1. Substansi KUA dilakukan penyederhanaan, hanya mencakup hal - hal yang sifatnya kebijakan umum, tidak menjelaskan hal - hal yang bersifat teknis dan detail, antara lain:

a. Penjelasan ringkas mengenai kondisi ekonomi makro daerah meliputi perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya dan rencana ekonomi makro pada tahun perencanaan (tahun 2009);

b. Asumsi - asumsi dasar dalam penyusunan RAPBD Tahun Anggaran 2009 meliputi laju inflasi, pertumbuhan PDRB, dan asumsi makro lainnya seperti kenaikan harga BBM dan gaji PNSD;

c. Kebijakan pendapatan daerah menginformasikan total rencana pendapatan pada Tahun Anggaran 2009 meliputi jumlah PAD, Dana Perimbangan dan Lain - lain Pendapatan Daerah Yang Sah serta strategi untuk mencapainya;

d. Kebijakan belanja daerah menginformasikan total rencana belanja daerah pada Tahun Anggaran 2009, dan langkah - langkah optimalisasi pelaksanaannya yang disusun secara terintegrasi dengan kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang akan dilaksanakan di daerah;

e. Kebijakan pembiayaan daerah dalam rangka menutupi defisit belanja daerah atau memanfaatkan surplus APBD.

(18)

2. Substansi PPAS tidak lag! menguraikan secara detail mengenai daftar program dan kegiatan setiap SKPD serta pagu anggaran definitif sampai dengan jenis belanja yang akan dilaksanakan pada tahun 2009, tetapi lebih disederhanakan yaitu menginformasikan prioritas pembangunan daerah dikaitkan dengan sasaran yang ingin dicapai, SKPD yang akan melaksanakan, dan program yang prioritas. Selain itu, juga menginformasikan plafon anggaran sementara berdasarkan urusan dan SKPD, plafon anggaran sementara berdasarkan program dan kegiatan, sehingga penetapan pagu definitif diperoleh setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan.

3. Dalam rangka percepatan pembahasan KUA dan PPAS, kepala daerah menyampaikan KUA dan PPAS kepada DPRD dalam waktu yang bersamaan. Hasil pembahasan kedua dokumen tersebut ditandatangani pada waktu yang bersamaan. 4. Selanjutnya berdasarkan KUA dan PPAS yang telah disepakati bersama antara

Kepala Daerah dengan DPRD, dijabarkan lebih lanjut dalam RKA-SKPD yang memuat rincian anggaran pendapatan, rincian anggaran belanja tidak langsung SKPD (gaji pokok dan tunjangan pegawai, tambahan penghasilan, khusus pada SKPD Sekretariat DPRD dianggarkan juga Belanja Penunjang Operasional Pimpinan DPRD), rincian anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan SKPD.

5. RKA-PPKD memuat rincian pendapatan yang berasal dari dana perimbangan dan pendapatan hibah, belanja tidak langsung terdiri dari belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bag! hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga, rincian penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.

6. Bagan Alir pengerjaan RKA SKPD sebagaimana tertuang dalam lampiran A.XIIIa, sedangkan format dan tata cara pengisiannya tertuang dalam lampiran A.XIVa Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

7. Berdasarkan peraturan daerah tentang APBD atau Perubahan APBD, SKPD dan SKPKD menyusun DPA SKPD dan DPA PPKD yang berlandaskan pada RKA SKPD dan RKA PPKD.

8. Penyediaan dana pendamping hanya dimungkinkan untuk kegiatan yang telah diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan seperti DAK sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 dan penerimaan hibah dan bantuan luar negeri sepanjang dipersyaratkan dana pendamping dari APBD sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah. Program dan kegiatan yang didanai dari DAK harus diselesaikan paling lambat akhir Tahun Anggaran 2009 dan tidak dapat diluncurkan pada Tahun Anggaran berikutnya (Tahun Anggaran 2010).

9. Dalam rangka penganggaran kegiatan yang pelaksanaannya lebih dari satu tahun anggaran, maka untuk menjaga kepastian kelanjutan penyelesaian pekerjaan terlebih dahulu dibahas dan disetujui bersama antara pemerintah daerah dengan DPRD. Masa waktu penganggaran dan pelaksanaannya dibatasi maksimum sama dengan sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan.

10.Kepala daerah/wakil kepala daerah dalam memantapkan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan daerah diwilayahnya dapat menyediakan dukungan dana dari APBD Tahun Anggaran 2009 berupa program "peningkatan pelayanan kedinasan kepala daerah/wakil kepala daerah", dengan kegiatan, antara lain :

a. Dialog/audiensi dengan tokoh-tokoh masyarakat, pimpinan/anggota organisasi sosial/kemasyarakatan;

(19)

b. Penerimaan kunjungan kerja pejabat negara/departemen/lembaga pemerintah non departemen/luar negeri;

c. Rapat koordinasi dengan unsur MUSPIDA;

d. Rapat koordinasi dengan pejabat pemerintah daerah;

e. Kunjungan kerja/inspeksi kepala daerah/wakil kepala daerah; f. Koordinasi dengan pemerintah dan pemerintah daerah lainnya.

C. TEKNIS PENYUSUNAN PERUBAHAN APBD

Perubahan peraturan Daerah tentang APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa.

I. Kriteria Perubahan APBD

1. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi Kebijakan Umum APBD, meliputi:

a) Perubahan asumsi ekonomi makro yang telah disepakati terhadap kemampuan fiskal daerah.

b) Pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah.

c) Adanya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan belanja daerah. d) Adanya kebijakan di bidang pembiayaan, sehingga harus dilakukan Perubahan

APBD.

2. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar program, antar kegiatan dan antar jenis belanja. Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja dapat dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD.

3. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun anggaran berkenaan, antara lain untuk:

a) Membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang melampaui anggaran yang tersedia mendahului perubahan APBD;

b) Melunasi seluruh kewajiban bunga dan pokok utang;

c) Mendanai kenaikan gaji dan tunjangan PNS akibat adanya kebijakan pemerintah;

d) Mendanai kegiatan lanjutan;

e) Mendanai program dan kegiatan baru dengan kriteria harus diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berkenaan;

f) Mendanai kegiatan-kegiatan yang capaian target kinerjanya ditingkatkan dari yang telah ditetapkan semula dalam DPA-SKPD tahun anggaran berkenaan yang dapat diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berkenaan pula.

4. Keadaan darurat

a) Sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut:

1) Bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya ;

2) Tidak diharapkan terjadi secara berulang ;

3) Berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah ; dan

4) Memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat.

b) Dalam keadaan darurat sebelum penetapan perubahan APBD, pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya dengan menggunakan belanja tidak terduga yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD.

(20)

c) Penggunaan dana dari hasil penjadwalan ulang capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan dan/atau memanfaatkan uang kas yang tersedia dan/atau melakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja yang dilakukan untuk mendanai program dan kegiatan dalam keadaan darurat sebelum perubahan APBD harus dianggarkan dalam rancangan perubahan APBD.

d) Kriteria belanja untuk keperluan mendesak mencakup program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berkenaan dan keperluan mendesak lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

e) Dasar pengeluaran untuk kegiatan bersifat darurat yang terjadi setelah ditetapkannya perubahan APBD tersebut diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD, yang selanjutnya untuk dijadikan DPA-SKPD dan disahkan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) setelah memperoleh persetujuan dari Sekretaris Daerah. Realisasi dari kegiatan yang bersifat darurat tersebut disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.

5. Keadaan luar biasa

a) Kriteria keadaan luar biasa merupakan persyaratan untuk melakukan Perubahan APBD yang kedua kali.

b) Keadaan luar biasa merupakan keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan lebih dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen).

c) Persentase 50% (lima puluh persen) merupakan selisih antara pendapatan dan belanja dalam APBD.

d) Kelebihan sebesar 50% (lima puluh persen) dalam APBD sebagai akibat kenaikan pendapatan atau efisiensi belanja, dapat digunakan untuk menambah kegiatan baru dan/atau menjadwalkan ulang/meningkatkan capaian target kinerja program dan kegiatan dalam tahun anggaran berjalan.

e) Pendanaan terhadap penambahan kegiatan baru diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD, sedangkan pendanaan terhadap penjadwalan ulang/peningkatan capaian target kinerja program dan kegiatan diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD (Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran-SKPD) .

f) RKA-SKPD dan DPPA-SKPD tersebut digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan kedua APBD.

g) Apabila terjadi kekurangan sebesar 50% (lima puluh persen) dalam APBD sebagai akibat penurunan pendapatan atau kenaikan belanja, maka dapat dilakukan penjadwalan ulang/pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan.

II. Cakupan Rancangan Perubahan APBD

1. Menampung program dan kegiatan yang mengalami perubahan. 2. Menampung program dan kegiatan yang baru.

3. Memuat hal-hal baik yang tidak berubah maupun yang mengalami perubahan serta menjelaskan alasan terjadinya perubahan.

(21)

D. DOKUMEN YANG DIGUNAKAN UNTUK PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN APBD

1. Untuk melakukan penambahan/pengurangan baik terhadap volume, satuan, target pencapaian yang berakibat terhadap penambahan/pengurangan jumlah anggaran program dan kegiatan untuk dianggarkan kembali dalam perubahan APBD, cukup dengan melakukan penyesuaian dalam DPPA-SKPD atau tidak perlu dengan menyusun RKA SKPD baru.

2. Untuk menampung program dan kegiatan yang baru dalam perubahan APBD, harus diawali dengan penyusunan dokumen RKA-SKPD.

3. Untuk menampung kegiatan-kegiatan yang tidak dapat diselesaikan dalam tahun anggaran sebelumnya dalam APBD/perubahan APBD, tidak perlu diawali dengan menyusun RKA-SKPD, tetapi langsung diperoleh dari DPA-L.

Kegiatan yang dapat di DPAL kan memenuhi kriteria:

a) Pekerjaan yang telah ada ikatan perjanjian kontrak pada Tahun Anggaran berkenaan, dan ;

b) Keterlambatan penyelesaian pekerjaan diakibatkan bukan karena kelalaian pengguna anggaran / belanja atau rekanan, namun karena akibat dari force major. DPAL dimaksud dapat disahkan setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap: a) Sisa DPA - SKPD yang belum diterbitkan SPD dan / atau belum diterbitkan SP2D

atas kegiatan yang bersangkutan.

b) Sisa SPD yang belum diterbitkan SPP, SPM atau SP2D; atau c) SP2D yang belum diuangkan.

E. HAL - HAL TEKNIS YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGANGGARAN

1. Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar program, antar kegiatan dan antar jenis belanja serta pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja diformulasikan dalam DPPA SKPD

2. Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan PPKD.

3. Pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah.

4. Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dan antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan dengan cara mengubah peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan, untuk selanjutnya ditampung dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD.

5. Pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja dapat dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD.

6. Anggaran yang mengalami perubahan baik berupa penambahan dan/atau pengurangan akibat pergeseran-pergeseran belanja tersebut diatas, harus dijelaskan dalam kolom keterangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD.

7. Revisi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)/ DPPA SKPD :

a) Hanya dapat dilakukan antar rincian-rincian obyek dalam rincian obyek belanja yang sama ;

b) Dilakukan dengan mengajukan surat yang disertai dengan penjelasan revisi kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (dalam hal ini Kepala Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur);

(22)

c) Mendapatkan persetujuan dari Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (dalam hal ini Kepala Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur);

d) Revisi DPA SKPD harus dituangkan pada Perubahan APBD dan DPPA SKPD. 8. Saldo anggaran lebih tahun sebelumnya merupakan Sisa Lebih Perhitungan tahun

anggaran sebelumnya yang penganggarannya untuk:

a) Membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang melampaui anggaran yang tersedia mendahului perubahan APBD;

b) Melunasi seluruh kewajiban bunga dan pokok utang;

c) Mendanai kenaikan gaji dan tunjangan PNS akibat adanya kebijakan pemerintah; d) Mendanai kegiatan lanjutan;

e) Mendanai program dan kegiatan baru dengan kriteria harus diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan; f) Mendanai kegiatan-kegiatan yang capaian target kinerjanya ditingkatkan dari yang

telah ditetapkan semula dalam DPA-SKPD tahun anggaran berjalan yang dapat diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan;

g) Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya untuk mendanai pengeluaran angka a, angka b, angka c, angka e, dan angka f tersebut diatas diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD;

h) Untuk kegiatan baru yang bersifat fisik, apabila tidak mungkin dilaksanakan sebelum tahun anggaran berakhir, agar dihindari penganggarannya dalam perubahan APBD dan diprogramkan serta dianggarkan dalam tahun anggaran berikutnya.

(23)

BAB III

AKUNTANSI KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH A. LANDASAN HUKUM

Pelaporan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur keuangan daerah, antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara;

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

6. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja

Instansi Pemerintah;

9. Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007;

10.Surat Edaran 900/316/BAKD tanggal 5 April 2007 perihal Pedoman Sistem dan Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah;

11.Surat Edaran 900/743/BAKD tanggal 4 September 2007 perihal Modul Akuntansi Keuangan Daerah;

12.Surat Edaran 900/079/BAKD tanggal 12 Pebruari 2008 perihal Kebijakan Akuntansi Keuangan Daerah;

13.Surat Edaran 900/758/BAKD tanggal 13 Nopember 2008 perihal Modul Teknis dan Ilustrasi Penerapan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah;

14.Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

15.Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur.

B. PENANGGUNGJAWAB PELAPORAN KEUANGAN

Penanggungjawab pelaporan keuangan berada di pimpinan entitas. Dalam pelaporan keuangan, entitas dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu entitas pelaporan dan entitas akuntansi.

Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan daerah yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan keuangan. Entitas pelaporan adalah pemerintah daerah atau satuan organisasi di lingkungan pemerintah daerah atau organisasi lainnya jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan.

Entitas pelaporan dalam hal ini adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang diwakilkan pada Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa

(24)

Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Entitas akuntansi dalam hal ini adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah yang berada di lingkup Pemerintah Provinsi Jawa Timur (selanjutnya disebut SKPD).

C. PENYELENGGARAAN AKUNTANSI

Setiap SKPD melalui Pejabat Pengelola Keuangan (PPK) / Pembantu PPK diwajibkan untuk menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan atas transaksi yang menjadi tanggung jawab masing-masing SKPD. SKPD menyelenggarakan akuntansi atas transaksi-transaksi pendapatan, belanja, asset, kewajiban dan ekuitas dana.

Kegiatan akuntansi pada SKPD meliputi pencatatan atas pendapatan, belanja asset dan selain kas. Proses tersebut dilaksanakan oleh PPK - SPD berdasarkan dokumen-dokumen sumber yang diserahkan oleh bendahara. PPK - SKPD melakukan pencatatan transaksi pendapatan pada jurnal khusus pendapatan, transaksi belanja pada jurnal khusus belanja serta transaksi aset dan selain kas pada jurnal umum.

SKPKD menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan atas transaksi yang menjadi tanggung jawab SKPKD juga mempunyai tugas untuk mengelola keuangan daerah. SKPKD menyelenggarakan kegiatan akuntansi atas transaksi pendapatan, belanja, pembiayaan, asset, kewajiban, ekuitas dana, konsolidasi dan selain kas.

Disamping sebagai penanggungjawab penyusunan pelaporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas pelaporan, SKPKD juga bertanggungjawab untuk melakukan pembinaan penyelenggaraan akuntansi di SKPD.

D. JENIS LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan yang dihasilkan ditentukan oleh jenis entitas serta periode pelaporan, jenis laporan keuangan yang dihasilkan adalah :

a. Neraca

Laporan yang menggambarkan posisi keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai asset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

b. Laporan Realisasi APBD

Laporan yang menyajikan ikhtisar sumber, alokasi dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang menggambarkan perbandingan antara realisasi dan anggarannya dalam satu periode.

• Laporan Realisasi Pendapatan

Laporan yang menyajikan ikhtisar yang menggambarkan perbandingan antara realisasi pendapatan dan anggaran pendapatan dalam satu periode yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

c. Laporan Arus Kas

Laporan yang menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, dan perubahan kas selama satu periode akuntansi serta saldo kas pada tanggal pelaporan. Disusun menggunakan metode langsung.

d. Catatan Atas Laporan

Keuangan Penjelasan naratif, analisis atau daftar terinci atas nilai suatu pos yang disajikan dalam laporan realisasi anggaran, neraca dan laporan arus kas.

(25)

e. Prognosis 6 bulan berikutnya

Laporan semester I atas realisasi yang dilakukan pada semester I dan prediksi realisasi 6 bulan berikutnya yang berupa data kuantitatif dan kualitatif.

E. PERIODE PELAPORAN KEUANGAN

Periode pelaporan keuangan dibedakan menjadi laporan bulanan, laporan triwulanan, laporan semesteran, dan laporan tahunan.

1. Laporan Bulanan

Laporan Realisasi Pendapatan wajib disampaikan oleh SKPD yang mempunyai pendapatan kepada SKPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan anggaran berkenaan berakhir.

2. Laporan Triwulanan

SKPD wajib menyampaikan − Laporan Realisasi APBD − Neraca Saldo

kepada SKPKD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah triwulan anggaran berkenaan berakhir.

3. Laporan Semesteran

SKPD wajib menyampaikan Laporan Realisasi APBD dan Prognosis 6 Bulan berikutnya kepada SKPKD maksimal 7 hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir.

SKPKD diwajibkan untuk menyusun Laporan Realisasi APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Prognosis 6 Bulan berikutnya atas dasar Laporan Realisasi APBD dan Prognosis 6 Bulan berikutnya dari masing-masing SKPD. Untuk SKPKD batas maksimal penyelesaian Laporan Realisasi APBD dan Prognosis 6 Bulan berikutnya ini adalah 15 hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. 4. Laporan Tahunan

SKPD diwajibkan menyerahkan laporan keuangan berupa : − Neraca

− Laporan Realisasi APBD

− Catatan atas Laporan Keuangan

kepada SKPKD paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir.

Apabila batas akhir tanggal penyampaian laporan keuangan dari SKPD kepada SKPKD jatuh pada hari libur, maka penyampaian laporan keuangan tersebut dimajukan satu hari sebelum batas waktu penyampaian laporan keuangan.

SKPKD diwajibkan untuk menyusun laporan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupa :

− Neraca

− Laporan Realisasi APBD − Laporan Arus Kas

− Catatan atas Laporan Keuangan

atas dasar laporan keuangan dari masing-masing SKPD. Batas maksimal penyusunan laporan keuangan oleh SKPKD adalah 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir.

Batas maksimal penyampaian laporan keuangan oleh SKPKD kepada BPK adalah 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berkenaan berakhir.

(26)

F. DOKUMEN SUMBER

Dokumen sumber merupakan dokumen yang digunakan sebagai dasar untuk pencatatan transaksi pada jurnal akuntansi.

1. Dokumen sumber untuk penerimaan kas dari pendapatan adalah : − Surat Tanda Setoran (SIS)

Nota Kredit

Bukti Lainnya yang Sah

2. Dokumen sumber untuk pengeluaran kas untuk belanja dan pembiayaan adalah : − Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D-LS)

Persetujuan Penggunaan SP2D UP/GU/TU

3. Dokumen sumber untuk transaksi selain kas adalah Pengesahan Bukti Memorial (PBM).

G. PROSEDUR REKONSILIASI

Rekonsiliasi adalah kegiatan untuk melakukan klarifikasi data yang dimiliki SKPKD dengan data yang dimiliki SKPD. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dan akuntabilitas data terhadap laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD maupun SKPKD. Pelaksanaan rekonsiliasi dilakukan secara triwulanan berdasarkan jadwal yang ditentukan oleh SKPKD. Data pendukung yang diperlukan dalam rekonsiliasi adalah : − Laporan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK)

− Laporan Potongan 2 & Contra Pos (CP) Tunai − Laporan Sisa GU / TU

− Laporan Pengesahan Bukti Memorial (PBM)

Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam berita acara yang diketahui oleh Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran dan PPK / Pembantu PPK - SKPD dan tim rekonsiliasi dari SKPKD.

Khusus untuk pengakuan asset, SKPD diwajibkan melakukan rekonsiliasi internal yang dilakukan secara periodik antara pengurus barang dengan bendahara pengeluaran atas belanja barang dan pengakuan asset yang dituangkan dalam berita acara.

H. PROSEDUR KOREKSI KESALAHAN

Koreksi kesalahan adalah tindakan untuk melakukan pembetulan terhadap kesalahan yang terjadi atas transaksi yang telah dilakukan. Kesalahan dapat berupa kesalahan pembebanan kode rekening, kesalahan pembebanan program / kegiatan, ataupun kesalahan dalam jumlah nominal transaksi yang dilakukan.

Apabila terdapat kesalahan pada dokumen transaksi maka pihak yang bertanggungjawab membuat surat / nota dinas beserta dokumen pendukung adalah Pengelola Keuangan dan diketahui Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran.

Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran akan meneliti isi dari surat/nota dinas yang diajukan. Apabila Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran mengotorisasi / menyetujui surat / nota dinas tersebut, maka PPK / Pembantu PPK - SKPD akan menyiapkan Bukti Memorial (BM) yang akan digunakan sebagai dasar pengajuan Pengesahan Bukti Memorial (PBM). BM yang telah ditandatangani oleh Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran beserta surat/ nota dinas dan dokumen pendukungnya diserahkan kepada SKPKD untuk dilakukan pengujian. Dokumen asli dari BM tersebut disimpan oleh PPK / Pembantu PPK - SKPD, dan salah satu tembusannya diarsip oleh SKPKD yang dalam hal ini adalah Biro Keuangan cq Bagian Akuntansi

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in