PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MENULIS CERPEN UNTUK SISWA KELAS VII SMP/MTS
Nanik Herawati
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
Abstrak: Upaya penyelenggaraan pengembangan di bidang pendidikan sangat dianjurkan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Pengembangan atau pembaharuan ini menyentuh sarana nonfisik; seperti pengembangan kualitas tenaga-tenaga kependidikan yang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia, serta memiliki cara kerja yang inovatif. Seorang pendidik dituntut kreativitasnya untuk mampu menyusun bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan tingkat kebutuhan peserta didik. Mutu pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik hanya terpaku pada bahan-bahan ajar yang konvensional tanpa ada kreativitas untuk mengembangkan bahan ajar tersebut. Berkaitan dengan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar teks cerpen untuk siswa kelas VII SMP/MTs. Secara khusus, masalah yang dikaji meliputi (1) Bagaimanakah kebutuhan bahan ajar menulis teks cerpen untuk peserta didik kelas VII berdasarkan teknik storyboard
di MTsN. Tumpang?, (2) Bagaimanakah mengembangkan bahan ajar modul menulis teks cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa MTsN. Tumpang kelas VII?, dan (3) Bagaimanakah kelayakan bahan ajar modul menulis teks cerpen berdasarkan teknikstoryboard
untuk siswa MTsN. Tumpang kelas VII?.
menghasilkan skor rata-rata sebesar 4,21 dengan persentase kelayakan sebesar 84,2%. Jadi, modul Menulis Teks Cerpen Berdasarkan Teknik Storyboard untuk Siswa SMP/MTs kelas VII
sangat layak digunakan.
Kata-kata kunci : pengembangan, bahan ajar modul, menulis cerpen, teknikstoryboard, siswa SMP/MTS.
PENDAHULUAN
Upaya penyelenggaraan pengembangan di bidang pendidikan sangat dianjurkan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Pengembangan atau pembaharuan ini menyentuh sarana nonfisik; seperti pengembangan kualitas tenaga-tenaga kependidikan yang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia, serta memiliki cara kerja yang inovatif. Pembaharuan di bidang pendidikan pada dasarnya juga menyentuh sarana fisik/fasilitas pendidikan: seperti silabus, RPP, buku guru, buku siswa, lembar kegiatan siswa (LKS), bahan ajar, media pembelajaran, lembar penilaian (LP), dan alat evaluasi.
Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran terutama ditentukan oleh proses pembelajaran dan bahan ajar yang digunakan oleh guru. Melalui bahan ajar yang tepat, siswa akan mengalami perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman,
keterampilan, nilai dan sikap, yang akhirnya akan tercipta keefektifan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam pembelajaran perlu dikembangkan bahan ajar yang menarik agar siswa lebih semangat dan termotivasi.
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memilih atau menentukan bahan ajar
atau materi pembelajaran yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam kurikulum atau silabus, materi bahan ajar hanya dituliskan secara garis besar dalam bentuk materi pokok. Tugas guru adalah menjabarkan materi pokok tersebut sehingga menjadi bahan ajar yang lengkap.
Pemilihan teknik yang sesuai dengan kompetensi siswa diharapkan mampu menarik minat siswa dalam menulis cerpen.
Tarigan (2008: 3) menyatakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Pengertian menulis juga dikemukakan oleh Kurniawan dan Sutardi (2012) yang mengatakan bahwa menulis adalah mengungkapkan ide gagasan dalam pikiran dan rasa melalui bahasa. Seseorang dikatakan terampil menulis apabila ia memahami dan
mengaplikasikan proses
pengungkapan ide, gagasan, dan perasaan dalam bahasa tulis dengan mempertimbangkan faktor-faktor, antara lain ejaan dan tata bahasa, organisasi atau susuan tulisan, keutuhan (koherensi), kepaduan (kohesi), tujuan, dan sasaran tulisan. Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tidak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli (Nurgiyantoro, 2012: 10). Sementara itu, Sayuti (2000: 10) mengemukakan bahwa cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression
(pemadatan),
concentration(pemusatan), dan
intensity(pendalaman), yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang disyaratkan oleh panjang cerita itu. Di pihak lain, Phyllis Duganne (via Diponegoro, 1994: 6) seorang penulis wanita Amerika, mengatakan bahwa
cerpen ialah susunan kalimat-kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai bagian awal, tengah, dan akhir. Dan setiap cerpen punya tema, yakni inti cerita atau gagasan yang ingin diucapkan oleh cerita itu.
Tidak mudah untuk membelajarkan siswa tentang bagaimana menulis teks cerpen. Oleh karena itu, diperlukan bahan ajar yang tepat untuk membelajarkan hal tersebut pada siswa.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti bermaksud mengembangkan bahan ajar menulis teks cerpen yang sesuai dengan kurikulum 2013, dengan judul penelitian “Pengembangan Bahan
Ajar Menulis Teks Cerpen
Berdasarkan Teknik Storyboard Untuk Siswa Kelas VII SMP/MTs”. Secara khusus, masalah yang dikaji meliputi (1) Bagaimanakah kebutuhan bahan ajar menulis teks cerpen untuk peserta didik kelas VII berdasarkan teknik storyboard di MTsN. Tumpang?, (2) Bagaimanakah mengembangkan bahan ajar modul menulis teks cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa MTsN. Tumpang kelas VII?, (3) Bagaimanakah kelayakan bahan ajar modul menulis teks cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa MTsN. Tumpang kelas VII?
produk yang digunakan dalam pendidikan. Model ini dipilih dengan pertimbangan (1) mencakup pembelajar, materi, dan sajian bahan ajar yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (2)
memberi peluang untuk
mengembangkan format evaluasi guna mengukur komponen bahan ajar yang dikembangkan layak atau tidak, (3) memberi peluang untuk merevisi isi maupun sajian bahan ajar, (4) menggunakan pendekatan sistem dalam merancang bahan ajar sehingga membuka adanya peluang dalam mengintegrasikan semua variable yang mempengaruhi belajar melalui desain pembelajaran, dan (5) memiliki sifat prosedural dan sistematis yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan (Degeng, 1977).
Prosedur penelitian pengembangan, menurut Borg & Gall (2005) ini terdiri atas sepuluh langkah yang diadaptasi menjadi sembilan langkah yaitu: (1) penilitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji coba produk awal, (5) merevisi produk hasil uji coba, (6) uji coba lapangan, (7) validasi ahli dan praktisi, (8) penyempurnaan produk akhir, dan (9) diseminasi implementasi.
Desain penelitian
pengembangan ini adalah desain deskriptif kualitatif dilakukan untuk mengetahui kelayakan produk dari segi isi, bahasa, penyajian materi,dan kegrafikaan. Adapun desain uji coba menggunakan dua tahap, yaitu uji coba lapangan dan uji validasi oleh tim ahli dan praktisi. Dari kedua kegiatan tersebut akan diperoleh data kuantitatif dan kualitatif yang
Tumpang. Sedangkan untuk uji coba siswa terdiri 30 siswa kelas VII MTs. Negeri Tumpang. Jenis data dalam pengembangan ini adalah data interval yang diperoleh dengan pendekatan kuantitatif dan data dekriptif naratif yang diperoleh dengan pendekatan kualitatif. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari tanggapan ahli materi, ahli desain, dan praktisi/guru. Bentuk data kualitatif ini berupa catatan, komentar, saran, dan kritik. Sedangkan data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari hasil penyekoran angket yang telah diisi oleh ahli materi, ahli desain, praktisi, dan siswa. Adapun data yang diperoleh terkait aspek dalam instrumen hasil validasi tim ahli meliputi aspek (1) kelayakan isi, (2) kelayakan penyajian, (3) ukuran buku, (4) desain kulit buku, dan (5) desain isi buku. Hasil validasi dari praktisi/guru meliputi aspek (1) kelayakan bahasa dan (2) kelayakan penyajian. Sedangkan data yang diperoleh dari hasil uji coba siswa untuk mengetahui kelayakan bahan ajar melalui angket dengan kriteria meliputi (1) organisasi isi materi, (2) tingkat keterbacaan, (3) tampilan fisik.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Bentuk instrumen yang digunakan adalah checklist dengan skala pengukuran rating scale Data hasil uji coba dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Data verbal yang diperoleh dari hasil penelitian harus direduksi terlebih dahulu sebelum dianalisis secara kualitatif. Sedangkan data kuantitaif dianalisis dengan menggunakan
rumus perhitungan nilai rata-rata dan rumus
statistik deskriptif persentase. Produk bahan ajar teks cerpen untuk siswa kelas VII SMP/MTs. Ini dikatakan layak dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar apabila mencapai kriteria layak dengan rentang skala
persentase 80%-100%.
HASIL PENGEMBANGAN
Produk pengembangan yang dihasil-kan dalam penelitian ini adalah berupa bahan ajar teks cerpen untuk siswa kelas VII SMP/MTs. Uji bahan ajar teks cerpen dilakukan melalui empat tahap, yakni validasi ahli materi bahasa, validasi ahli desain/grafika, validasi praktisi/guru, dan uji coba siswa yang terdiri dari 30 siswa. Berikut penyajian dan analisis data temuan dari masing-masing tahap uji.
rata-rata 3,11 dengan kategori “cukup”, sedangkan validasi tahap 2 memperoleh skor rata-rata 4,67 dengan kategori “sangat baik”. Hasil validasi pada aspek kelayakan bahasa diketahui bahwa validasi tahap 1 yang dilakukan dosen ahli memperoleh skor ratarata 3,67 dengan kategori “baik”, sedangkan validasi tahap 2 memperoleh skor ratarata 4,17 dengan kategori “baik”. Hasil validasi dosen ahli dari masing-masing aspek, didapatkan data skor rata-rata yang disajikan pada tabel berikut diimplementasikan. Meskipun secara perhitungan, bahan ajar ini cukup layak dan dapat diimplementasikan, namun sesuai saran ahli masih terdapat beberapa bagian bahan ajar yang harus direvisi. Pertama, pada bagian aspek kognitif seharusnya ditambah dengan aspek psikomotorik dan afektif. Kedua, pada tingkat keterbacaan seharusnya lebih diperhatikan. Ketiga, pada aspek bahasa sebaiknya memperhatikan ejaan yang sesuai EYD.
Data Hasil Validasi Praktisi/Guru Validasi produk ini dilakukan oleh Ali Shodikin, S.Pd, dan Mislia, S.Pd, yang sama-sama mengajar di MTsN. Tumpang. Validasi produk oleh guru Bahasa Indonesia terdiri dari empat aspek, yaitu aspek kelayakan isi/materi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, dan kelayakan kegrafikan. Hasil validasi aspek isi/materi oleh guru Bahasa Indonesia dapat diketahui bahwa skor rata-rata dari guru 1 yaitu 3,6 dengan kategori “baik”, sedangkan skor rata-rata dari guru 2 yaitu 4 dengan kategori “baik”. Hasil validasi aspek penyajian oleh guru Bahasa Indonesia dapat diketahui bahwa skor rata-rata dari
guru 1 yaitu 3,7 dengan kategori “baik”, sedangkan skor rata-rata dari guru 2 yaitu 3,8 dengan kategori “baik”. Hasil validasi untuk aspek kegrafikan yang dilakukan oleh guru Bahasa Indonesia dapat diketahui bahwa skor rata-rata dari guru 1 yaitu 3,7 dengan kategori “baik”, sedangkan skor rata-rata dari guru 2 yaitu 4 dengan kategori “baik”.
Data Hasil Uji Coba
Lapangan/Siswa
Tahapan akhir dari penelitian pengembangan ini adalah uji coba siswa secara terbatas terhadap produk berupa modul Menulis Teks Cerpen Berdasarkan Teknik Storyboard untuk Siswa SMP/MTS Kelas VII. Uji coba ini sebatas tanggapan dan respon siswa selaku pengguna modul pembelajaran. Penilaian yang dilakukan siswa mencakup empat aspek, yaitu aspek isi/materi, penyajian, bahasa, dan kegrafikan dengan total 20 butir indikator penilaian. Uji coba produk ini dilakukan di MTsN. Tumpang. Siswa yang menjadi responden adalah siswa kelas VII berjumlah 30 siswa. Responden dipilih oleh guru Bahasa Indonesia yang juga mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII. Berdasarkan hasil uji coba terbatas pada 30 siswa, aspek kelayakan isi/materi memperoleh skor rata-rata4,32 dengan kategori “sangat baik”.
bahasa memperoleh skor rata-rata 4,32 dengan kategori “sangat baik”. Hasil uji coba terbatas pada 30 siswa, aspek kelayakan kegrafikan memperoleh skor rata-rata 4,47 dengan kategori “sangat baik”.
Siswa yang menjadi responden dalam uji coba ini tidak sekedar memberi nilai untuk setiap aspek, tetapi juga memberikan saran dan pendapat tentang modul menulis teks cerpen berdasarkan teknik storyboard. Saran dan pendapat siswa tersebut di antaranya, (1) modul sangat menarik, mudah dipahami, dan berbeda dengan yang lainnya. Menjadikan lebih bersemangat untuk belajar, (2) materi yang disajikan sangat menarik dan mudah dipahami, (3) penyajian gambar dalam modul membuat saya tertarik, (4) gambar/ilustrasi pada langkah-langkah menulis cerpen kurang bagus, (5) gambar/ilustrasi pada langkah-langkah menulis cerpen lebih bagus lagi jika diberi warna, (6) warna pada modul diganti dengan warna yang lebih bagus, (7) sampul/cover maupun isinya sangat inovatif dan menarik perhatian orang sehingga membuat orang ingin membeli dan membacanya, (8) kualitas kertas bagus, (9) alangkah baiknya jika modul ini diperbanyak, (10) pembuatan modulnya kreatif, dan modul ini dapat menambah pengetahuan/wawasan, (11) sampul/cover lebih menarik lagi jika diberi gambar, (12) bahasa yang digunakan sesuai untuk siswa SMP/MTS, (13) bisa dijadikan referensi, dan (14) modul ini sangat membantu untuk belajar
Berdasarkan uraian hasil uji coba siswa secara terbatas pada setiap aspek, didapatkan data skor rata-rata keseluruhan aspek menunjukkan
bahwa hasil uji coba terbatas pada 30 siswa untuk keseluruhan aspek memperoleh skor rata-rata 4,36 dengan kategori “sangat baik”.
SIMPULAN
Buku bahan ajar menulis cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa kelas VII MTsN. Tumpang yang dihasilkan ini diharapkan mampu membuat pembelajaran lebih menarik bagi. Materi yang ada di dalam bahan ajar menulis cerpen ini dirancang sedemikian rupa sebagai tuntutan kepada siswa agar lebih aktif sedang guru hanya sebagai fasilitator. Materi pembelajaran yang diahasilkan ini telah divalidasi oleh validasi ahli isi (Dr. Akhmad Tabrani, M.Pd) selaku dosen bahasa dan sastra Indonesia Universita Islam Malang, kemudian oleh ahli perancang dan media (Dr. Sri Wahyuni, M.Pd) selaku dosen bahasa dan sastra Indonesia Universitas Islam Malang, dan salah dua orang guru MTsN. Tumpang sebagai ahli praktisi (Ali Shodikin, M.Pd dan Mislia, S. Pd) sekaligus guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia.
memudahkan siswa dalam belajar atau memahami materi, (b) kegiatan pembelajaran yang terkait dengan kehidupan nyata bagi siswa sehingga dapat belajar tentang cara memecahkan masalah, (c) siswa dapat menemukan sesuatu dari masalah yang diberikan, (d) siswa dapat menemukan sendiri konsep atau langkah penulisan yang menarik
(storyboard) dan dapat
menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya serta benda disekitarnya, (e) kegiatan yang disajikan dapat membuat siswa lebih aktif.
Hasil validasi kelayakan pengembangan materi pembelajaran menulis cerpen berbasis pendekatan proses secara keseluruhan memiliki skor rata-rata 4,21 dengan presentase kelayakan 84,2%, hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar menulis cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa kelas VII MTsN. Tumpang layak digunakan sebagai bahan ajar untuk membantu siswa dan guru pada proses belajar mengajar.
SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, beberapa saran yang dapat
dikemukakan, yaitu (1)
pengembangan bahan ajar menulis cerpen berdasarkan teknik storyboard untuk siswa kelas VII MTsN. Tumpang hanya sebatas keterampilan menulis semata, oleh karena itu diharapkan ada tindak lanjut dari pengembangan materi tersebut sehingga penelitian ini lebih sempurna, (2) disarankan kepada pengembang-pengembang lainnya untuk menguji cobakan materi pembelajaran menulis berbasis
pendekatan proses ini kepada siswa beserta dengan soal-soal latihan mandirinya, (3) disarankan kepada pengembang mencoba menggunakan produk pengembangan materi pembelajaran menulis cerpen dalam pembelajaran kurikulum 2013 revisi (K-13, rev).
DAFTAR RUJUKAN
Adnan, Baharudin. 2013. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui Teknik Papan Cerita (Storyboard) Siswa Kelas VII. Arief, Nur Fajar. 2008. Hakekat
Keterampilan Berbahasa BI.
Bahan. Perkuliyahan S2 Unisma Malang Tidak di Publikasikan
Azwar, Saifuddin. 2007. Sikap
Manusia: Teori dan
Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Borg, Walter R. and Meredith Damien Gall. 1983. Educational Research An Introduction. Fourth Edition. New York & London: Lungman.
Daryanto. 2013. Menyusun Bahan ajar modul untuk Persiapan Guru dalam Mengajar. Yogyakarta: Gava Media. Departemen Pendidikan Nasional.
2003. Pedoman Penulisan Modul. Direktorat Pendidikan
Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Diponegoro, Mohammad. 1994. Yuk,
Nulis Cerpen Yuk.
Heri, E. 2008. Menggagas Sebuah Cerpen. Semarang.:PT. Sindur Press
Kurniawan, Heru & Sutardi. 2012.
Penulisan Sastra Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Lestari, Ika. 2013. Pengembangan
Bahan Ajar Berbasis: Sesuai dengan Kurikulum Satuan Pendidikan. Padang: Akademia Permata.
Mistar, Junaidi. 2010. Pedoman Penulisan Tesis. Universitas Islam Malang. Program Pasca Sarjana Universitas Islam.. Nurgiyantoro, Burhan. 2012. Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press..
Prastowo, Andi. 2013. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva Press.
Pringgawidagda, Suwarna. 2002.
Strategi Penguasaan Bahasa. Yogyakarta: Adicita Karya Nusantara.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualiatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Tarigan, Henry Guntur. 2008.Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. (Edisi Revisi). Bandung: Angkasa.
pojokmenulis.blogspot.com/.../storyb oard-dapat-menjadi-salah-satu.html di akses Pada jam 11:30 Hari Sabtu, 7 Mei 2016 https://teorimultimedia.wordpress.co
m/2013/05/17/teknik-dasar-dalam-pembuatan-storyboard/ di akses pada jam 21:33 WIB Hari Kamis, 30 Juni 2016 http://halimyou.blogspot.co.id/2012/0
8/pengertian-storyboard_6.html