• Tidak ada hasil yang ditemukan

Magister Pendidikan Bahasa Indonesia NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Magister Pendidikan Bahasa Indonesia NOSI Volume 4, Nomor 2, Agustus 2016"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODELPEMBELAJARAN BESTEK - KREATIFTIPE EKSPLORASI, REPETISI UCAPAN, PRAKTIK, TES (ERUPT)

UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA DALAM KEGIATAN DISKUSI PADA SISWA KELAS XI

MA AN NUR RAMBIPUJI JEMBER

Bram Suryantoro

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia

Abstrak: Siswa dituntut komunikatif dan aktif saat pembelajaran sehingga penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT dipilih untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Berdasarkan observasi awal terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember, guru masih menggunakan metode ceramah dan siswa pasif dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa tergolong rendah dan masih jauh dari KKM yang ditentukan. Tujuan penelitian secara umum adalah mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi dengan menerapkan model Bestek-Kreatif Tipe ERUPT.

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran objektif tentang peningkatan proses dan hasil pembelajaran berbicara dalam kegiatan diskusi dengan penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif Tipe ERUPT yang dilakukan oleh siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember.Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan masalah (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan kelas meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subjek dari penelitian adalah siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember sebanyak 24 siswa. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan.

(2)

belajar belajar pada siklus I yaitu 68% dan meningkat pada siklus II menjadi 83%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Kata-katakunci:peningkatan, keterampilan berbicara, model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT

PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia digunakan masyarakat Indonesia sebagai alat berkomunikasi. Bahasa Indonesia juga dapat menyampaikan pesan, gagasan, pengalaman dan pendapat kepada orang lain. Bahasa Indonesia juga digunakan sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan informasi dari pada pembelajaran tentang sistem bahasa (Wahyuni, 2012:28).

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan kemahiran berbahasa siswa. Keterampilan berbahasa dalam kurikulum di sekolah mencakup empat segi yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Tarigan, 2008:1). Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan. Di antara empat keterampilan itu, keterampilan berbicara adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap individu. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan dasar yang pertama kali dikuasai oleh setiap individu pada fase pertama jenjang kehidupannya.

Keterampilan berbicara termasuk keterampilan dasar yang menjadi basis keterampilan berbahasa yang lain. Untuk memperoleh

keterampilan berbicara yang memadai, maka dilakukan pelatihan secara terus menerus. Hal pertama yang dilakukan untuk menggali kemampuan tersebut adalah dengan menumbuhkan minat pada setiap individu untuk belajar, dengan cara menciptakan strategi pembelajaran yang menarik, baik dengan cara menciptakan metode dan teknik pembelajaran ataupun sarana dan prasarana penunjang pendidikan, karena dengan latihan secara terus menerus secara berkesinambungan, kemahiran berbicara siswa akan terbentuk sehingga siswa menjadi pembicara yang kreatif dan aktif (Nurjamal, 2013:23).

Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, nuerologis, semantik dan lingustik, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol manusia. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, rekaman, volume suara, tempo, dan irama (Wahyuni, 2012:31).

(3)

siswa. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran berbicara harus diarahkan untuk membekali siswa terampil mengungkapkan ide, gagasan, pengalaman, pesan, pendapat, dan pernyataan secara sistematis, logis, dan kreatif dalam bentuk ucapan (berbicara). Siswa harus di latih menggunakan bahasa untuk berkomunikasi secara lisan tidak di tuntut untuk mengetahui pengetahuan tentang bahasa (Depdiknas, 2006:9). Oleh karena itu, pembelajaran berbicara seharusnya memberikan peluang kepada siswa untuk berlatih berbicara sebanyak-banyaknya.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disebutkan bahwa tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA agar peserta didik memiliki kemampuan (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, (3) memahami

bahasa Indonesia dan

menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya serta untuk memperluas wawasan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbicara, dan (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Standar kompetensi aspek berbicara pada semester kedua kelas

XI SMA/MA adalah menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar. Kompetensi dasarnya adalah mempresentasikan hasil penelitian secara runtut dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Indikator pembelajaran meliputi (1) menuliskan pokok-pokok yang akan disampaikan secara berurutan, (2) mengemukakan ringkasan hasil penelitian, dan (3) menjelaskan proses penelitian dan hasil penelitian dengan kalimat yang mudah dipahami.

Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pembelajaran memiliki tingkat kepentingan yang sama jika dibandingkan dengan aspek pembelajaran lain yaitu menyimak, mambaca dan menulis. Akan tetapi pada kenyataannya pembelajaran berbicara justru belum dilaksanakan dengan baik. Sebagian guru lebih sering memberi tugas kepada siswa untuk membaca dan menulis. Pada sisi lain siswa belum sepenuhnya percaya diri ketika di tunjuk untuk berbicara di depan kelas ataupun dalam kelompok. Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan mempengaruhi kualitas siswa dalam mengembangkan potensi dan kemampuan bernalarnya.

(4)

tukar-menukar gagasan dan pendapat secara langsung. Melalui diskusi siswa dapat berbicara lebih banyak dalam cakupan tema tertentu. Dalam diskusi tentu saja dapat terjadi adanya perbedaan pendapat dalam upaya mendapatkan solusi dari persoalan yang di bahas. Perbedaan pendapat tersebut dapat memunculkan adanya bentuk rasa persetujuan, ketidaksetujuan, sanggahan, ataupun penolakan dari peserta diskusi.

Penelitian ini diawali dengan permasalahan, yakni siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember setelah diadakan evaluasi mata pelajaran bahasa Indonesia dengan pokok materi menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Pada hasil evaluasi menunjukkan hanya 10 siswa dari 24 siswa yang mendapat nilai antara 65-100 atau hanya 40% yang mendapat nilai diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sedangkan 14 siswa lainnya mendapatkan nilai antara 10-60, atau 60% mendapat nilai di bawah KKM. Ini artinya hanya 40% yang menguasai materi tentang menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi dan seminar, dan 60% belum menguasai materi tersebut.

Hasil observasi awal dengan siswa dan guru menunjukkan indikasi bahwa keterampilan menulis lebih baik dari pada berbicara. Siswa mampu menuliskan pokok-pokok yang akan disampaikan secara berurutan. Namun ketika siswa di minta untuk mengemukakan ringkasan hasil penelitian, baik secara individu maupun kelompok dengan berbicara di depan kelas, siswa

merasa kesulitan menyampaikannya. Hal itu tampak ketika siswa di minta untuk menjelaskan proses penelitian dan hasil penelitian dengan kalimat yang mudah dipahami. Siswa gugup ketika menyampaikan ringkasan hasil penelitian dalam situasi formal, akibatnya penjelasan yang dikemukakan menjadi tidak teratur dan kalimatnya sulit dipahami. Siswa tidak berani berbicara karena beberapa faktor yaitu, malu, gugup, tidak percaya diri, dan perasaan takut salah.

Berdasarkan observasi awal di MA An Nur Rambipuji Jember, penyebab permasalahan tersebut adalah (a) kurang percaya diri pada peserta didik, karena guru jarang memberikan pelajaran yang mengutamakan keaktifan siswa, guru hanya memberikan pembelajaran satu arah, dan jarang memberikan umpan balik untuk memancing siswa lebih aktif, sehingga siswa belum terbiasa terutama pada aspek keterampilan berbicara di depan kelas, (b) sumber belajar yang tersedia masih terbatas, (c) interaksi siswa dengan guru kurang terjalin, (d) interaksi siswa dengan siswa kurang terjalin, dan (e) metode yang digunakan guru masih menggunakan metode ceramah sehingga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sangat kurang dan guru sangat jarang memberikan waktu atau meminta siswa untuk menyelesaikan atau mendiskusikan suatu masalah sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar dan berfikir secara mandiri. Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa belum tercapai.

(5)

dipengaruhi oleh pendekatan mengajar yang dilakukan guru. Untuk menghindari adanya monopoli pembicaraan oleh salah satu pihak tertentu dalam pelaksanaan diskusi diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat memaksimalkan pembagian kesempatan berbicara siswa dan untuk merangsang seluruh siswa untuk berperan aktif dalam berbicara, yaitu penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT.

Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan sebuah strategi yakni banyak berlatih mengerjakan, melakukan, dan mempraktikkan hal-hal yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Pembelajaran ini dilakukan di dalam kelas dengan membentuk kelompok diskusi agar siswa lebih berimajinatif dalam menyampaikan laporan hasil penelitian. Selain itu model ini memberdayakan ahli atau teman sebagai narasumber dalam belajar dan memodifikasi kebiasaan negatif “ mencontek ” menjadi cara belajar positif. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kurangnya rasa percaya diri dan timbulnya rasa gugup dapat disebabkan oleh siswa kurang berlatih berbicara dalam situasi formal. Sedangkan pada model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT ini ada penekanan kegiatan praktik atau berlatih yang dilakukan oleh siswa sehingga peneliti menganggap model ini cocok dan layak untuk diterapkan.

Subjek yang di teliti dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember dengan pertimbangan guru dan siswa. Dari sisi guru, yaitu (1) model pembelajaran kurang bervariasi, dan

(2) kurang semangat dalam mengajarkan keterampilan berbicara dengan alasan keterbatasan fasilitas dan media pembelajaran. Adapun dari sisi siswa, yaitu (1) siswa kurang berminat mengikuti pembelajaran berbicara dikarenakan membosankan dan bahasa yang digunakan juga merupakan bahasa sehari-hari, dan (2) siswa kurang mampu berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena masih kentalnya bahasa pertama. Melihat kondisi demikian dan hasil belajar siswa dalam keterampilan berbicara masih tergolong rendah, maka peneliti perlu mengadakan penelitian tentang peningkatan kemampuan berbicara pada sekolah tersebut.

Berdasarkan penjelasan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT di atas secara garis besar model pembelajaran ini dapat mewujudkan sistem pembelajaran yang memudahkan siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember dalam memahami materi pelajaran. Selain itu dalam metode belajar Bestek-Kreatif tipe ERUPT cocok untuk diterapkan karena pencapaian keterampilan berbicara siswa agar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang menuntut siswa untuk banyak praktik berbicara dalam kegiatan diskusi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam aspek berbicara. Model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT ini dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

MANFAAT PENELITIAN

(6)

diterapkannya teknik baru untuk meningkatkan keterampilan berbicara melalui pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT dalam kegiatan diskusi.

Secara praktis, hasil penelitian ini dimanfaatkan untuk (1) dapat menjadi salah satu cerminan kemampuan proses dan hasil pembelajaran berbicara khususnya diskusi sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (2) meningkatkan kemampuan siswa dalam keterampilan berbicara, khusunya dalam kegiatan diskusi dengan cara menerapkan model pembelajaran Bestek-Kreatif Tipe ERUPT yang dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran berbicara, (3) dapat merekomendasikan kepada guru bahasa dan sastra Indonesia maupun guru mata pelajaran lainnya agar menggunakan teknik atau model pembelajaran yang lebih variatif agar kualitas hasil pembelajaran menjadi lebih maksimal serta dapat dijadikan bahan acuan peningkatan kualitas pembelajaran berbicara di sekolah, dan (4) mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan keilmuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMA, dan digunakan sebagai evaluasi untuk peningkatan model pembelajarn Bestek-Kreatif tipe ERUPT.

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian tindakan kelas (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya. PTK berfokus pada kelas atau proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) maupun out put (hasil belajar). PTK harus tertuju atau

mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Pengertian kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Siswa belajar tidak hanya terbatas di dalam ruangan tertutup saja, tetapi dapat juga ketika anak sedang melakukan karyawisata objek wisata, di laboratorium, di rumah, atau di tempat lain, ketika siswa sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru (Arikunto, 2010:58).

Tindakan dilakukan disebabkan ada sesuatu ketidakberhasilan dalam pelaksanaan pembelajaran berbicara khususnya pada materi menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminarpada siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember. Anak-anak cenderung pasif setiap kali menerima pelajaran atau pengajaran dari guru, keterlibatan dan partisipasi belajar yang minim sehingga membuat gairah belajar siswa menjadi berkurang.

Rancangan penelitian menggunakan data yang ditemukan di lapangan yang berupa hasil wawancara dengan siswa dan guru di kelas. Peneliti juga mengobservasi ketika pembelajaran bahasa Indonesia. Setelah mengemukakan masalahnya maka penelitian ini di mulai dengan melakukan tindakan untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena menggunakan sumber data langsung sebagai latar penelitian.

(7)

Dalam penelitian ini kehadiran peneliti di lapangan bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Kehadiran peneliti sebagai instrumen berperan penuh dalam menemukan masalah hingga pelaksanaan tindakan. Sedangkan peran peneliti sebagai pengumpul data dimulai dari penyusunan instrumen hingga menganalisis data yang dikumpulkan. Kehadiran peneliti mutlak diperlukan untuk memperoleh data dari awal hingga akhir penelitian.

Subjek penelitian ini adalah 24 siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember dan satu guru bahasa Indonesia yang juga bertindak sebagai kolaborator. Dipilihnya siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember didasarkan pada pertimbangan (1) keterampilan mengemukakan pendapat kompetensi berbicara yang harus dimiliki siswa sesuai dengan tuntutan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah, (2) siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember telah memiliki kemampuan komunikatif yang perlu

ditingkatkan secara

berkesinambungan terutama berkaitan dengan keterampilan menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar, dan (3) pencapaian hasil belajar belajar siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember perlu ditingkatkan agar mencapai target kemampuan minimal yang ditetapkan. Teknik pengmpulan data dalam penelitian ini yang digunakan ada empat macam yaitu teknik observasi, teknik wawancara, tes, dan catatan lapangan.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Rencana Program Penelitian 2) Lembar Observasi

3) Pedoman Wawancara 4) Format Catatan Lapangan 5) Tes

Analisis data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil pengamatan, wawancara, catatan lapangan, dan studi dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain.

Data kuantitaif berasal dari hasil rata-rata tes belajar sebelum dan sesudah pembelajaran model Bestek-Kreatif tipe ERUPT diberikan atau nilai rata-rata akhir siklus persentase ketuntasan yang dianalisis secara deskriptif Tahapan yang ditempuh dalam penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu (1) tahap pratindakan, (2) tahap pelaksanaan kegiatan penelitian, dan (3) tahap analisis data.Pada tahap ini dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah tercantum dalam sub bab analisis data, yaitu dengan membagikan jumlah skor pada jumlah peserta tes.

HASIL PENELITIAN

Tingkat keberhasilan tindakan kelas penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT dalam kegiatan diskusi dapat dilihat pada meningkatnya keterampilan berbicara siswa setelah dilakukan penelitian dengan dua kali siklus. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa keterampilan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi sudah meningkat dari mulai pratindakan, siklus I, dan siklus II.

(8)

keterampilan berbicara siswa.Hasil tes keterampilan berbicara pada siklus I belum mencapai KKM.Namun peneliti berkolaborasi dengan guru untuk melaksanakan siklus II dengan memperbaiki rencana belajar dari siklus I, hasil tes keterampilan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi siswa pada siklus II sudah mencapai kriteria ketuntasan belajar.

Untuk mencapai tujuan penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT penelitian ini berpedoman pada indikator yang telah dicantumkan pada kurikulum. (Majid, 2006:53) menyatakan indikator pencapaian hasil pembelajaran berfungsi sebagai tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik. Tanda-tanda itu lebih cermat dan spesifik dapat diamati dalam peserta didik. Jika serangkaian indikator hasil belajar sudah nampak pada diri peserta didik maka target kompetensi dasar sudah tercapai. Rumusan indikator yang ada pada kurikulum adalah mengutarakan kembali materi untuk mencapai rumusan indikator yang telah ditentukan tersebut pembelajaran dilaksanakan melalui tiga jenis kegiatan. Tahapan kegiatan tersebut adalah kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Untuk ketercapaian rumusan indikator tersebut dalam pelaksanaanya dijabarkan pada tujuan khusus pada setiap kegiatan pembelajaran.

Penerapan metode ERUPT membuat siswa lebih berani tampil di depan kelas dan berekspresi dalam berbicara. Siswa merasakan belajar yang sangat menyenangkan dan terbimbing secara menyeluruh dan tidak monoton. Hasil penelitian

dengan menerapkan metode ERUPT untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi sudah baik.

Penilaian berbicara digunakan untuk mengetahui prestasi kemampuan berbicara siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember.Dari pedoman penilaian yang telah digunakan hasil keterampilan berbicara siswa masih banyak yang dibawah KKM. Siswa yang tidak tuntas berjumlah 8 siswa yang memiliki persentase 32% hasilnya beda tipis dengan siswa yang tuntas.

Siswa yang tuntas berjumlah 16 siswa yang memiliki persentase 68 %. Dari hasil siklus I bisa disimpulkan bahwasannya model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT masih kurang menunjang keberhasilan siswa dalam pembelajaran berbicara. Untuk menunjang keberhasilan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT yang digunakan, peneliti perlu mengadakan pembelajaran pada siklus II.

(9)

memperhatikan penjelasan guru 18 siswa atau 75% siswa memperhatikan penjelasan guru, 9% siswa atau 2 siswa cukup memperhatikan penjelasan guru, dan 4 siswa atau 16% siswa kurang memperhatikan penjelasan guru. Hal ini dikarenakan siswa cukup senang dengan penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT yang baru mereka dapat selama ini.

Lembar observasi pengelola pembelajaran guru digunakan untuk mengamati kegiatan guru selama mengajar dengan menggunakan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT. Persiapan guru cukup maksimal akan tetapi dalam menggali kemampuan siswa tentang materi yang akan dipelajari secara intensif, seluruh siswa tidak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan banyak kegiatan yang belum dilakukan guru yaitu pada kegiatan akhir.

Berdasarkan hasil catatan lapangan selama pelaksanaan siklus I pembelajaran bahasa Indonesia tentang menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar melalui model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT ditemukan beberapa keterangan dan aktivitas siswa yang tidak termuat dalam instrumen lain. Keterangan tersebut adalah situasi pada saat pembelajaran berlangsung dengan baik namun masih ada beberapa anak yang gaduh dikelas.Selain itu juga ada siswa yang berbicara sendiri ada juga yang aktif dalam pembelajaran.

Pada siklus II penilaian berbicara siswa sudah mencapai apa yang ditargetkan kepada siswa yakni prestasi kemampuan berbicara siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji

Jember sudah meningkat dengan menggunakan model pembelajaran Bestek-Kreatif Tipe ERUPT yang digunakan oleh peneliti.Dari pedoman penilaian yang telah digunakan hasil keterampilan berbicara siswa sudah mencapai KKM yang telah ditentukan.Siswa yang tuntas berjumlah 21 siswa yang memiliki presentasi83%, hasilnya sangat memuaskan bagi peneliti.

Berdasarkan hasil catatan lapangan selama pelaksanaan siklus II pembelajaran bahasa Indonesia tentang menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskusi atau seminar melalui model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT ditemukan beberapa keterangan dan aktivitas siswa yang tidak termuat dalam instrumen lain. Keterangan tersebut adalah situasi pada saat pembelajaran berlangsung dengan baik, tidak gaduh lagi dan kondusif. Guru mampu mengondisikan kelas dengan baik, dan siswa terlihat lebih aktif. Proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Oleh karena itu hasil pelaksanakan tindakan siklus II ini sudah memenuhi KKM dan kriteria keberhasilan yang ditetapkan, maka peneliti tidak perlu melanjutkan atau memperbaiki pada siklus selanjutnya.

(10)

keterampilan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi.

Tingkat keterbatasan capaian penelitian tindakan kelas yang merupakan penerapan metode ERUPT dapat dilihat pada siklus I dan siklus II. Keterbatasan terletak pada proses pembelajaran, sehingga hasil tes keterampilan berbicara pada siklus I belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Media yang

digunakan guru belum

bisamenjangkau siswa sehingga contoh berbicara dalam kegiatan diskusi tidak dipahami siswa secara menyeluruh. Guru juga tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk mengomentari kegiatan temannya di depan kelas sehingga kesalahan yang terjadi terulanglagi ketika siswa selanjutnya tampil didepan kelas. Sedangkan pada siklus II keterbatasan yang dialami guru adalah kurang mengefektifkan penggunaan waktu

SIMPULAN

Hasil penelitian ini menunjukkan ada peningkatan kemampuan siswa dalam berbicara khususnya pada pembelajaran berbicara dalam kegiatan diskusi melalui model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT. Selama proses pembelajaran pada siklus I pada tahap awal, tahap inti, sampai tahap penutup siswa kurang antusias mengikuti setiap tahap pembelajaran. Pada saat siklus II siswa sangat antusias mengikuti tahap pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT dalam kegiatan diskusi diawali dengan mendiskusikan secara tulisan akan dituliskan, berbicara secara mandiri, hasil diskusi di tukar

dengan siswa yang lain, memberikan penilaian pada lembar kerja siswa, menyajikan hasil diskusi secara lisan dan refleksi.

Pada siklus I data yang diperoleh dari hasil tes berbicara yang dianalisis menggunakan pedoman penilaian tes akhir siklus. Penilaian berbicara digunakan untuk mengetahui prestasi kemampuan berbicara siswa kelas XI MA An Nur Rambipuji Jember. Dari pedoman penilaian yang telah digunakan hasil keterampilan berbicara siswa masih banyak yang dibawah KKM. Siswa yang tidak tuntas berjumlah 10 siswa yang memiliki presentase 42% hasilnya beda tipis dengan siswa yang tuntas.

Siswa yang tuntas berjumalah 14 siswa bahwasanya model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT masih kurang menunjang keberhasilan siswa dalam pembelajaran berbicara. Untuk menunjang keberhasilan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT yang digunakan, peneliti perlu mengadakan pembelajaran lagi pada siklus II.

(11)

adalah 83%, hasilnya sangat memuaskan bagi peneliti

Berdasarkan analisis data, bahwa kemampuan siswa dalam berbicara pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan dengan rician sebagai berikut pada siklus I hasil penilaian berbicara dalam diskusi yaitu 68% dan penerapan model Bestek-Kreatif tipe ERUPT masih

belum maksimal dalam

penggunaannya. Sedangkan pada siklus II hasil penilain keterampilan berbicara dalam kegiatan diskusi mencapai 83% dan hasil observasi model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT menunjukkan bahwa model Bestek-Kreatif yang dijelaskan oleh peneliti sudah terlaksana dengan baik. Dari data tersebut maka model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT merupakan salah satu bentuk inovasi dalam memperbaiki kualitas proses belajar mengajar yang bertujuan untuk membantu siswa agar dapat belajar mandiri dan kreatif, sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran-saran ini ditujukan kepada siswa, guru bahasa Indonesia, pelaksana peneliti selanjutnya, dan pembaca, khususnya mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia.

1) Bagi siswa

Bisa digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran dan alat untuk belajar mengembangkan diri dalam hal keterampilan berbicara khususnya pada forum diskusi,

sehingga siswa dapat

meningkatkankemampuan berbicaranya.

2) Bagi Guru Bahasa Indonesia Bagi guru mata pelajaran bahasa Indonesia, hendaknya dapat menggunakan pembelajaran dengan model Bestek-Kreatif tipe ERUPT dalam kegiatan diskusi sebagai alternatif pemecahan masalah berbicara karena pembelajaran ini dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam kegiatan diskusi.

3) Bagi Kepala Sekolah

Disarankan kepala sekolah memberikan pengarahan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT. Karena dengan menggunakan model pembelajaran tersebut siswa lebih aktif dan tidak kesulitan lagi untuk menyampaikan pendapat di depan kelas sehingga keterampilan berbicara siswa meningkat.

4) Bagi Peneliti selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang berminat mengadakan penelitian tentang penerapan model pembelajaran Bestek-Kreatif tipe ERUPT untuk meningkatkan keterampilan berbicara, disarankan untuk melakukan penelitian dengan pokok pembahasan lain dan menambah strategi belajar bahasa yang lain untuk lebih mengoptimalkan kegiatan siswa. 5) Bagi Pembaca

(12)

Bestek-Kreatif tipe ERUPT pada siswa dikalangan SMA/MA.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, Muksin. 1990. Strategi

Belajar Mengajar

Keterampilan Berbicara dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3

Arikunto, Suharsimi, dkk.2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:PT Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi, dkk.2010.

Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:PT Bumi Aksara. Arsjad dan Mukti.1987. Pembinaan

Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Buku Bahasa Indonesia.Ekspresi Diri dan Akademik. SMA/MA/ Kelas XI Semester 2

Depdiknas, 2003.StandarKompetensi Mata PelajaranBahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas, 2006.Kurikulum Berbasis Kompetensi: Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia Untuk Sekolah Menengah Atas. Jakarta

DimyatidanMudjiono. 2006. BelajardanPembelajaran. Jakarta: RinekeCipta

Iskandarwassid dan Sunendar, Dadang. 2013. Strategi Pembelajaran Bahasa.

Bandung: Remaja

Rosdakarya

Tarigan, Guntur.2008. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

Tarigan.H.G. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbicara. Bandung: Angkasa

Mainuddin, Hadjisusanto, dan Mudjono. 2002. Peranan

Guru dalam

Diskusi.http//www.

pendidikan guru diskusi.com /v1/ indeks.php/ read /2011/12/3/631/ Pendidikan-guru. (diakses pada tanggal 21 Maret 2016)

Moleong, L.J. 2005.Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

N.K, Roestiyah. 1988. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: BinaAksara

Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: PT BPFE Yogyakarta

Nurjamal, Daeng dkk. 2011.Terampil Berbahasa.

Bandung:Alfabeta

Sudjana, Nana. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru

Sukatman, dkk. 2002. Strategi Pembelajaran Bestek-Kreatif. Jember: Universitas Jember Wahyuni, Sri dan Ibrahim, Abdul

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil deskripsi analisis angket minat dan motivasi siswa kelas IV SDN Banjaragung II dalam pembel- ajaran teks wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa minat

Dalam penelitian ini digunakan kajian tekstual yaitu menganalisis teks novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy yang dalam hal ini berupa kosakata dengan

Nilai moral individu yang ditemukan dalam Syair Tanpo Waton , dapat dikemukakan simpulan: (1) perlunya mencari ilmu agama (ngaji) bagi umat muslim serta mengamalkannya dan

Penelitian pengembangan bahan ajar membaca membaca bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) berbasis budaya Indonesia tingkat menengah di Indonesian Studies Program (ISP)

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan nilai sosial yang meliputi; kebersamaan atau gotong-royong dan kepedulian sosial, (2) mendeskripsikan nilai kepribadian yang

Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua macam, yaitu (1) angket untuk menjaring analisis kebutuhan bahan ajar bagi siswa dan guru bahasa Indonesia,

Dari hasil analisis lembar validasi rancangan pembelajaran persentase penilaian validator 89% menunjukan bahwa e-learning sebagai bahan ajar sangat valid nampak pada

ngantuk , ngasih merupakan bentuk yang terinterferensi BJ. Kata ngantuk dan ngasih merupakan hasil pembentukan dari KD berfonem /k/. Berikut proses pembentukannya:.. Pembentukan