• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009"

Copied!
180
0
0

Teks penuh

(1)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

KEBIJAKAN POLITIK FUSI :

SUATU TINJAUAN POLITIK KEPARTAIAN REZIM ORDE BARU

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Untuk meraih gelar sarjana

Diajukan oleh :

0 4 0 9 0 6 0 5 4

EKA NOVA PRASETYA PINEM

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

(2)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Universitas Sumatera Utara

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Politik

ABSTRAK

Pengalaman akan alpanya kestabilan politik akibat konflik politik/ideologi, integrasi nasional, dan pembangunan nasional, mengakibatkan rezim Orde Baru untuk melakukan reaksi dan koreksi terhadap periode sebelumnya. Untuk merealisasikan hal ini rezim Orde Baru menerapkan kebijaksanaan ganda, pertama, melakukan stabilisasi dan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan. Kedua, melakukan penataan politik dengan harapan terbentuknya suatu sistem politik yang kondusif bagi pilihan kebijaksanaan ekonomi. Dengan demikian, arah penataan politik yang dilakukan pada periode awal pemerintahan rezim Orde Baru adalah menyederhanakan struktur kepartaian, baik dan segi jumlah, pola dukungan, basis massa, maupun aliran serta ideologi yang dianut bagi partai-partai.

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana konfigurasi politik dalam politik kepartaian rezim Orde Baru yang bermuara pada kebijakan politik fusi dan dampaknya terhadap partai politik dan Golkar yang berada dalam konfigurasi tersebut.

Bentuk penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi pustaka untuk mengumpulkan data yang berhubungan dengan penelitian ini.

Dari hasil penelitian ini dapat digambarkan bahwa kebijakan politik fusi mampu menciptakan stabilitas politik nasional, namun yang terjadi selanjutnya adalah konflik politik nasional yang terjadi sebelumnya berpindah kedalam partai politik hasil fusi tersebut. Lalu, dari empat fungsi partai politik ditemukan bahwa dua fungsi dapat dikatakan berhasil dilaksanakan secara efektif yaitu : fungsi rekrutmen politik serta sarana pengatur konflik, sedangkan 4 fungsi lainnya tergolong gagal dilaksanakan oleh organisasi ini meliputi : fungsi sosialisasi politik dan komunikasi politik. Fungsi yang berhasil dan fungsi yang gagal tersebut di atas secara cukup signifikan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal organisasi. Dan yang terakhir, kebijakan politik fusi pada akhirnya menjadi sarana rezim Orde Baru untuk mempertahankan kekuasaannya.

(3)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa berikan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru”. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis menyadari tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa dorongan moril, yang membantu penulis menambah wawasan berfikir dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Prof. M. Arif Nasution, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Heri Kusmanto, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Politik yang telah memberikan persetujuan atas rencana penelitian yang penulis ajukan.

3. Bapak Drs. P. Antonius Sitepu, Msi, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan dan ide kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

4. Bapak Warjio, S.S, MA, selaku Dosen Pembaca yang selalu memberikan dorongan dan masukan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP USU yang telah memberikan bekal ilmu selama mengikuti perkuliahan.

6. Kepada kedua orang tua saya, Tony Suryadi Pinem, SH dan Sriwati br.

Sembiring atas apa yang diberikan selama ini tak ternilai harganya dan yang

(4)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

selalu mendoakan saya dalam menjalani perkuliahan dan pergumulan hidup saya.

7. Kepada adik tercinta Helen Yolanda Br. Pinem, Niko Pinem dan Nando Kaban yang selalu memberikan saya doa, semangat dan dukungan serta bantuan yang tak ternilai harganya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada Yance Sembiring, S.Sos yang saya cintai. Terimakasih yang sebesar- besarnya atas cinta, kesetiaan, kesabaran saat mendampingiku selama kuliah hingga tugas akhir, yang telah membuatku mengerti arti hidup, memberikan perubahan yang baik padaku dan terimakasih atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis dari awal hingga akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan.

9. Kepada Sahabat-sahabatku Burak, Mario, Roy, Hery, Risky dan seluruh teman-teman ILPOL’04 yang tak dapat disebutkan satu persatu, serta semua teman-teman yang pernah berbagi waktu dan hidup denganku. Terima kasih atas dukungan dan kebersamaannya.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam skripsi ini. Untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik guna menyempurnakannya. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

kita semua. Medan, Maret 2009

Penulis

Eka Nova Prasetia Pinem

(5)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1. Latar Belakang Masalah. ... 1

2. Perumusan Masalah ... 18

3. Tujuan Penelitian ... 18

4. Manfaat Penelitian ... 19

5. Dasar-Dasar Teori ... 19

5.1. Partai Politik ... 19

5.1.1. Batasan Dan Pengertian Partai Politik ... 23

5.1.2. Fungsi Partai Politik ... 24

5.1.3. Partai Politik dalam Rezim Orde Baru ... 26

5.2. Kebijakan Politik Fusi ... 31

5.2.1. Pengertian Kebijakan Politik Fusi ... 31

5.2.2. Latar Belakang Kebijakan Politik Fusi ... 33

6. Metodologi Penelitian ... 37

6.1. Jenis Penelitian ... 37

6.2. Teknik Pengumpulan Data ... 37

6.3. Teknik Analisa Data ... 38

7. Sistematika Penulisan ... 39

(6)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

BAB II FORMAT POLITIK ORDE BARU ... 40

1. Peranan Sosial Politik ABRI yang Diperluas ... 47

2. Lembaga Kepresidenan yang Kuat ... 56

3. Birokrasi Sipil yang Terkendali ... 64

4. Politik Kepartaian yang Disederhanakan ... 71

4.1 Reorganisasi Sekber Golkar ... 80

4.2 Fusi Partai-Partai Politik ... 89

5. Korporatisasi Organisasi Sosial ... 101

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA ... 111

1. Partai Politik Dalam Konfigurasi Politik Rezim Orde Baru 111 2. Kebijakan Politik Fusi dan Perkembangan Partai Politik ... 122

2.1. Kebijakan Politik Fusi dan Perkembangan PDI ... 122

2.2. Kebijakan Politik Fusi dan Perkembangan PPP ... 137

2.3. Kebijakan Politik Fusi dan Perkembangan Golkar .. 147

BAB IV KESIMPULAN ... 166

1. Kesimpulan ... 166

2. Saran... 168

(7)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Klasifikasi Partai Politik Masa Awal Kemerdekaan ... 2 Tabel 1.2. Perolehan Hasil Suara Pemilu 1971 ... 11 Tabel 1.3. Hasil Pemilu-pemilu Orde Baru ... 17

(8)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Politik Indonesia mencerminkan kompleksitas budaya dari suatu negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang beragam dalam geografi, bahasa, maupun identitas etnik di satu pihak dan dalam status sosial, posisi ekonomi dan ideologi di pihak lain. Semua perbedaan dan keragaman ini merupakan basis yang melahirkan persaingan sosial politik diantara kelompok masyarakat.

Melihat keberagaman ini, pemerintah mengeluarkan Maklumat tertanggal 3 November 1945 yang ditandatangani oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Isi Maklumat itu antara lain memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik. Dengan harapan, melalui partai politik, paham/ideologi yang ada di dalam masyarakat dapat disalurkan secara teratur. Dalam hal ini pula, maklumat pemerintah ini membawa partai politik garis tempat berpijak yang kokoh dan Indonesia menganut sistem multipartai.

Dengan dasar maklumat pemerintah ini, lahirlah berbagai partai-partai politik ditambah partai politik yang telah ada pada zaman penjajahan Belanda.

Partai-partai politik yang berdiri sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah

(9)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

tersebut tercatat serta diklasifikasikan dalam Buku Kepartaian Indonesia 1

Dasar Ketuhanan

sebagai berikut :

Tabel 1.1

Klasifikasi Partai Politik Masa Awal Kemerdekaan

Dasar Kebangsaan Dasar Marxisme Partai Lain-Lain 1. Masyumi

2. Partai Syarikat Indonesia 3. Pergerakan Tarbiah Islamiah 4. Partai Kristen Indonesia 5. Partai Katholik

1. Partai Nasional Indonesia (PNI) 2. Persatuan Indonesia Raya (PIR) 3. Partai Indonesia Raya (Parindra) 4. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 5. Partai Demokrasi Rakyat 6. Partai Rakyat Nasional (PRN) 7. Partai Wanita Rakyat (PWR) 8. Partai Kebangsaan Indonesia (Parki) 9. Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) 10. Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) 11. Ikatan Nasional Indonesia (INI) 12. Partai Rakyat Jelata

13. Partai Tani Indonesia (PTI) 14. WanitaDemokrasi Indonesia (WDI)

1. Partai Komunis Indonesia (PKI) 2. Partai Sosialis

Indonesia (PSI) 3. Partai Murba 4. Partai Buruh 5. Persatuan Rakyat

Marhaen Indonesia (Permai)

1. Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) 2. Partai

Indonesia Nasional (PIN)

Sumber: Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Kepartaian di Indonesia (Tegal: De Boer, 1950) hal. 7

Perkembangan partai politik awal ini mengisyaratkan betapa pertautan antara kebutuhan politik yang disalurkan melalui partai politik masih sangat erat hubungannya dengan peta ideologisasi yang menjadi ciri khas pluralitas masyarakat indonesia. Peta ideologi yang salah satunya pernah dirumuskan oleh Herbet Feith, mengenai lima aliran utama pemikiran politik indonesia kurun waktu 1945 – 1965 yang terdiri dari : Nasionalisme Radikal, Tradisionalisme

1 Kementerian Penerangan Republik Indonesia, Kepartaian di Indonesia (Tegal: De Boer, 1950) hal. 7

(10)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Jawa, Islam, Sosialisme Demokrasi, dan komusnisme adalah catatan penting yang sangat berharga dalam kesejarahan bangsa ini.2

Lima aliran pemikiran politik ini kemudian selanjutnya mewujudkan diri kedalam lima bentuk partai politik. Nasionalisme Radikal mewujudkan diri kedalam Partai Nasional Indonesia (PNI); Islam meleburkan diri kedalam Masyumi dan Nahdatul Ulama (NU); Sosialisme Demokratik mewujudkan diri kedalam Partai Sosialis Indonesia (PSI) sedangkan Komunisme mewujudkan diri kedalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan yang terakhir aliran Tradisionalisme Jawa satu – satunya yang tidak membentuk diri kedalam partai politik secara nyata.3

Dengan sistem multipartai dan peta ideologi yang berbeda ini, pada tahun 1955 diadakan Pemilihan Umum yang pertama di Indonesia sebagai tonggak awal kehidupan politik demokratis di indonesia. Pemilu 1955 ini menghasilkan empat partai besar : PNI, Masyumi, NU, dan PKI dengan jumlah partai yang berlaga dalam pemilu kali ini 29 partai dan ditambah dari perorangan atau independen.

Dengan sistem pemilu proporsional, menghasilkan anggota legislatif yang berimbang antara Jawa dan luar Jawa.4

2 Lihat, Herbert Feith dan Lance Castle, Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, (Jakarta:

LP3ES,1988)

3 P. Antonius Sitepu, Pluralitas Dan Keseragaman Dalam Apressiasi Konstruksi Politik Indonesia, <http : //www.usu.ac.id./depusu/.html > diakses tanggal 26 Agustus 2008

4 FS. Swantoro, “Meneropong Sistem Kepartaian Indonesia 2020”, dalam Soegeng Sarjadi dan Sukardi Rinakit, Meneropong Indonesia 2020, (Jakarta : Soegeng Sarjadi Syndacate, 2004). hal 149

Pemilu kali ini dilakukan dalam dua kali pemilihan. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih anggota-

(11)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante.

Sulitnya partai politik untuk bekerja sama dan tidak adanya partai mayoritas yang keluar sebagai pemenang dalam pemilu 1955 menjadikan stabilitas politik sangat tergantung pada koalisi partai yang sering berubah. Dalam waktu lima setengah tahun (September 1950 sampai Maret 1956) ada lima kabinet terbentuk. Ada dua kabinet yang paling lama memerintah dalam masa tersebut adalah kabinet Ali II, yakni dua tahun.

Konflik antar partai telah membuat kabinet tidak mempunyai cukup waktu untuk memikirkan pembangunan nasional. Tidak cukup waktu bagi sebuah kabinet untuk merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pembangunan nasional yang dapat memperbaiki keadaan politik dan ekonomi. Konflik ideologi yang tidak henti-hentinya dan kegagalan pemerintah dalam memperbaiki kehidupan rakyat menimbulkan ketidakpercayaan pada partai politik dan pemerintah pusat.

Konflik pusat daerah berjalan bersamaan dengan konflik partai/ideologi yang terjadi ditingkat pusat. Pada tingkat pusat terjadi dikotomi berupa partai Pro Pancasila di satu pihak, dan partai pro Negara Islam/anti Pancasila di pihak lain.

Dikotomi seperti ini kelihatan semakin menajam dalam Konstituante, sebuah badan pembentuk konstitusi baru yang akan menggantikan UUDS 1950.5

5 Maswadi Rauf, Konsensus dan Konflik Politik, (Jakarta: Dirjen DIKTI-Depdiknas, 2001)hal. 121

(12)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Kegagalan Konstituante menunjukkan hebatnya konflik partai-partai politik. Terlibatnya ideologi dan nilai-nilai primordial dalam konflik tersebut menjadi penyebab buntunya musyawarah dalam Konstituante. Ideologi yang mengandung unsur dogmatis juga melahirkan sikap fanatik seperti halnya ikatan promordial.

Kesempatan ini digunakan oleh Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menyatakan pembubaran Dewan Konstituante, penetapan kembali UUD 1945 serta pembentukan MPRS dan DPAS. Peristiwa ini mengawali periode Demokrasi Terpimpin yang membawa peningkatan peran politik Presiden Soekarno serta meningkatnya peran politik PKI, serta merosotnya peranan partai – partai politik di luar PKI.

Kondisi politik yang tidak menentu dalam paruh kedua dasawarsa 1950 karena konflik partai politik/ideologi yang hebat merupakan bukti yang baik bagi pendapat Presiden Soekarno bahwa sistem parlementer dan multipartai tidak layak digunakan di Indonesia. Oleh karena itu Bangsa Indonesia harus memiliki pemerintah yang kuat dan mampu bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara, hal ini hanya dapat dijalankan melalui Demokrasi Terpimpin.6

Oleh sebab itu, pada masa Demokrasi Terpimpin Presiden Soekarno melakukan penyederhanaan sistem kepartaian dengan Penpres No. 7 tahun 1959 dan Perpres No. 13 tahun 1960 yang mengatur tentang pengakuan, pengawasan

6 Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1962), hal. 518. Feith mengutip sebuah pidato Soekarno pada tahun 1956 dimana ia berkata bahwa demokrasi yang ingin ia wujudkan di Indonesia adalah demokarasi terpimpin, sebuah demokrasi dengan kepemimpinan, tapi tetap demokrasi.

(13)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

dan pembubaran partai politik. Kemudian pada tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 10 partai politik yang mendapat pengakuan dari pemerintah, antara lain : PNI, NU, PKI, PSII, Parkindo, Partai Khatolik, Perti, Murba dan PARTINDO.7

7 Abdul Bari Azed, “Sistem Pemilihan Umum di Indonesia”. hal 10 dalam Sistem- Sistem Pemilihan Umum, Suatu Himpunan Pemikiran, (Jakarta: Badan Penerbit FH UI 2000)

Hal ini dilakukan sebagai upaya melakukan penyelesaian konflik ideologi yang berkepanjangan pada masa demokrasi parlementer.

Selain krisis politik ini, Indonesia pada masa Demokrasi terpimpin juga mengalami krisis ekonomi. Dalam banyak hal Presiden Sukarno cendrung mengabaikan pembangunan ekonomi dan menekankan program–program politik.

Soekarno bahkan membatalkan program–program ekonomi pada tahun 1963.

krisis moneter menjadi tidak terhindarkan lagi. Harga–harga naik, inflasi naik serta defisit terus membengkak. Semua itu ditambah lagi dengan utang luar negri yang semakin besar. Kedua krisis ini –krisis politik dan ekonomi– mengundang ketidakpuasan militer atas kekuasaan sipil.

Terjadinya huru–hara 30 September 1965 yang dipicu oleh tewasnya sejumlah perwira militer, mengakibatkan militer segera memiliki alasan kuat untuk mematahkan PKI secara total sekaligus mengkooptasi kepemimpinan Sukarno. Sejak peristiwa ini militer semakin mantap menapaki tangga kekuasaan politik sekaligus benar–benar tampil sebagai pemegang kendali kekuasaan dan melahirkan suatu rezim baru yang bernama Orde Baru dibawah pimpinan Jendral Soeharto.

(14)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Berkaca pada Demokrasi terpimpin, para pemimpin Orde baru mencanangkan usaha-usaha perbaikan dalam sistem politik Indonesia dan kemampuan ekonomi rakyat. Pengalaman traumatik dengan kehidupan kepartaian pada sistem-sistem politik sebelumnya, dan obsesi terhadap suatu sistem politik yang dapat menjamin perbaikan ekonomi adalah bagian penting dari tuntutan perubahan itu. Lalu untuk merealisasikan hal itu, pemerintah Orde Baru berupaya menerapkan kebijaksanaan ganda.

Pertama, melakukan stabilisasi dan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan. Kedua, sekaligus mendukung yang pertama lalu melakukan penataan politik dengan harapan terbentuknya suatu sistem politik yang kondusif bagi pilihan kebijaksanaan ekonomi.8

8 Mengenai hal ini, lihat Mohtar Mas’oed, Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru, (Jakarta, LP3ES, 1989) terutama bab II dan IV.

Dengan demikian, maka tidak mengherankan bila arah penataan politik yang dilakukan Presiden Soeharto pada periode awal pemerintahannya adalah menyederhanakan struktur kepartaian, baik dan segi jumlah, pola dukungan, basis massa, maupun aliran serta ideologi yang dianut bagi partai-partai.

Pemerintah Orde Baru dituntut untuk menciptakan suatu sistem politik yang relatif bebas dari pengaruh partai, berikut ideologi yang dibawanya. Menurut penguasa tampaknya berlaku pandangan bahwa jumlah partai dan jumlah ideologi yang dibawanya identik dengan jumlah konflik dan ketidakstabilan politik yang dihasilkannya.

(15)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Lalu, obsesi tentang pertumbuhan ekonomi dianggap dapat dicapai dengan mengeliminasikan kemungkinan konflik yang muncul dan ketidakstabilan politik itu. Padahal konflik dan ketidakstabilan politik adalah faktor yang inheren dengan pluralitas struktur masyarakat Indonesia.

Dalam hal mencapai maksud tersebut pemerintah Orde Baru setidaknya melakukan empat upaya. Pertama, menciptakan pengelompokan politik yang baru di DPR. Hal itu yang akan mengatasi dominasi partai-partai, dan dapat menjadi

“perpanjangan tangan” pemerintah. Oleh karena itu, penguasa Orde Baru memperkuat Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar), yang semula dibentuk atas prakarsa Angkatan Darat untuk menampung aspirasi golongan fungsional dan kekaryaan. Kedua, membangun suatu birokrasi yang bebas dan pengaruh partai politik sehingga program pembangunan yang dicanangkan pemerintah dapat terlaksana dengan baik. Dalam upaya mewujudkan cita-cita itu, lalu pemerintah menciptakan “jarak” antara partai dan birokrasi. Selain itu, juga membiarkan kerja sama yang erat antara birokrasi dan Golkar. Ketiga, mendorong pembentukan kelompok kepentingan korporatis yang bertujuan ganda. Upaya ini untuk mengeliminasikan konflik-konflik sosial yang muncul dan perbedaan kepentingan. Kecuali itu, sebagai upaya yang dimaksudkan untuk mengambil alih peran artikulatif dari partai-partai politik. Keempat, menyederhanakan jumlah partai politik dan ideologi yang dianut melalui fusi sehingga konflik dan ketidakstabilan diharapkan akan berkurang.9

9 Mohtar Mas’oed, Ibid., hal 162-175

(16)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Makna dari uraian diatas adalah fenomena partai dan ideologi yang dibawa serta adalah mencerminkan “fenomena kepolitikan lama”, yang merupakan bagian terluar dari tatanan politik yang baru (Orde Baru). menurut pemerintahan Orde Baru, partai dengan basis ideologis hanya menghasilkan pertentangan- pertentangan sehingga cenderung dianggap sebagai “masa lalu yang buruk”. Oleh karena itu, partai-partai dengan basis ideologis perlu “dikuburkan” karena dianggap tidak sesuai lagi dengan kecenderungan Orde Baru yang berorientasi kepada program (program oriented).10

Penggarapan dan pelumpuhan atas partai-partai dimulai ketika pada 1969 Mendagri Amirmachmud mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 1969, yang populer dengan sebutan “Permen 12”. Ketentuan itu dimaksudkan untuk memurnikan Golkar di DPRD Tingkat I dan II. Selanjutnya, menyusul Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 1970 yang mewajibkan agar pegawai negeri hanya memiliki loyalitas tunggal kepada pemerintah. Bersamaan dengan hal itu dikeluarkan pula formulir Korps Karyawan Pemerintahan Dalam Negeri (Kokarmendagri) yang selanjutnya berubah menjadi KORPRI (Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia). Kesemua hal ini dilakukan rezime Orde Baru untuk menggiring pegawai negri dan keluarganya agar memberikan suara bagi Golkar.11

Menjelang pemilu 1971, mulai terlihat bahwa pemerintah Orde Baru menganut sikap yang sama dengan Soekarno dalam menghadapi konflik partai/ideologi, yakni kekhawatiran yang berlebihan terhadap konflik. Elit politik

10 A. Samsuddin, Pemilihan Umum 1971, (Jakarta : LPKP, 1972) hal. 74

11 A. Samsuddin, ibid., hal 75

(17)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Orde Baru selalu khawatir terhadap konflik partai/ideologi karena akan menggangu kestabilan politik, integrasi nasional, dan pembangunan nasional, tiga tema penting selama Orde Baru.

Dengan persiapan yang telah dilakukan rezim Orde Baru untuk menyelenggarakan Pemilu tanpa mengorbankan program ekonomi telah mantap, Pemilihan umum yang dijadwalkan 5 Juli 1968, dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971. Pemilu ini memilih 360 orang wakil dalam DPR ditambah 100 orang anggota DPR yang mewakili Golongan Karya, baik ABRI maupun sipil yang diangkat pemerintah.12

1. Partai Nasional Indonesia (PNI)

Pemilu yang kedua dalam sejarah bangsa Indonesia diikuti oleh 10 Partai Politik, antara lain :

2. Partai Khatolik

3. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 4. Nahdatul Ulama

5. Golongan Karya

6. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) 7. Partai Murba

8. Pergerakan Tarbiah Islamiah (Perti) 9. Partai Syarikat Islam Indonesia

10. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)

12 Yang merupakan hasil dari kesepakatan yang diambil pemerintah (melalui seminar AD ke II) dan partai politik di DPR, akibat tarik-menarik soal sistem pemilihan yang akan digunakan pada pemilu 1971.

(18)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Pada Pemilu 1971, tercatat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 114.890.347 orang dan jumlah pemilih yang terdaftar sebagai pemilih 58.558.776 orang dan jumlah pemilih yang memilih adalah 54.699.509 orang atau 94,02 persen.

Dalam penghitungan suara Pemilu yang kedua ini Golkar dinyatakan sebagai pemenang mutlak. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mesin politik yang dijalankan Orde Baru telah berjalan sebagaimana yang diharapkan, terlepas keberhasilan ini dilakukan melalui berbagai cara.

Berikut adalah hasil akhir Pemilu tahun 1971 sebagai pemilu pertama di masa Orde Baru :

Tabel 1.2.

Perolehan Hasil Suara Pemilu 1971

No. Partai Jumlah Suara Kursi Persentase 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Golkar NU Parmusi PNI PSII Parkindo Katholik Perti

34.348.673 10.213.650 2.930.740 3.793.266 1.308.237 745.359 605.740 381.309

236 58 24 20 10 7 3 2

62,8 18,67 7,365 6,94 2,39 1,34 1,11 0,70

Sumber: Karim, M Rusli, Perjalanan Partai Politik di Indonesia: Sebuah Potret Pasang-Surut (Jakarta: CV Rajawali, 1983) hal. 170.

(19)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Dengan demikian komposisi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil Pemilihan Umum 1971 merupakan perwakilan dari :13

1. ABRI + Sipil yang diangkat Pemerintah 2. Golkar

3. NU 4. Parmusi 5. PNI 6. PSII 7. Parkindo 8. Katholik 9. Perti

100 236 58 24 20 10 7 3 2

Kursi Kursi Kursi Kursi Kursi Kursi Kursi Kursi Kursi

Jumlah 460 Kursi

Kemenangan Golkar dengan perolehan suara 62,8 persen bukan saja mempertebal keyakinan pemerintah terhadap upaya fusi partai politik yang dilakukannya, tetapi juga kian menipisnya kepercayaan diri di kalangan partai terhadap kemampuan mereka untuk lebih lama mempertahankan partainya.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila gagasan penyederhanaan partai melalui fusi yang menjadi komitmen pemerintah Orde Baru tidak dapat ditolak oleh kalangan partai politik. Pada 27 Februari 1970, Presiden Soeharto dihadapan sembilan pemimpin partai politik dan Golongan Karya yang akan ikut dalam Pemiliu 1971, mengungkapkan saran mengenai gagasan pengelompokan partai politik. Dengan asas-asas yang dianut bersama, Pancasila dan UUD 1945, dasar pengelompokan itu sebaiknya persamaan tekanan pada aspek-aspek

13 Ali Moertopo, Strategi Pembangunan Nasional,( Jakarta: CSIS, 1981) hal 151

(20)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

pembangunan, baik aspek-aspek materil maupun spiritual. Atas dasar ini disarankan pembentukan dua kelompok :14

(a) Kelompok material-spiritual (Nasionalis), yang terdiri atas partai-partai yang menekankan pembangunan material tanpa mengabaikan aspek spiritual, terdiri atas PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katholik dan

(b) Kelompok spiritual-material (Spiritual), yang menekankan pembangunan spiritual tanpa mengabaikan aspek material, terdiri atas NU, Parmusi, PSII dan Perti.

Pada bulan Maret 1970, realisasi pengelompokan partai terjadi dengan dibentuknya Kelompok Demokrasi Pembangunan, yang terdiri atas PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katholik; serta kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri atas NU, Parmusi, PSII dan Perti dalam DPR.

Maka Pasca–Pemilu 1971 dan pada Sidang umum MPR 1972, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ditata sesuai dengan tujuan politik Orde Baru masa selanjutnya, sesuai dengan kesepakatan 27 Februari 1970. Terdapat sepuluh partai politik waktu itu, ternyata pada kenyataannya, di DPR hanya dibentuk empat fraksi, yaitu :

(a) Fraksi ABRI (b) Fraksi Golkar

(c) Fraksi Material-Spiritual (d) Fraksi Spiritual-Material

14 Krissantono, “Ali Moertopo di Atas Panggung Orde Baru”, dalam Prisma edisi Khusus 20 tahun Prisma 1971-1991, (Jakarta: LP3ES, 1991) hal 152

(21)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Tepatnya pada Januari 1973 pemerintah berhasil menggabungkan (mem- fusi-kan) sembilan partai politik yang ada menjadi dua partai politik ‘baru’, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), pada 5 Januari 1973 dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), pada 10 Januari 1973.

PPP adalah fusi dari empat partai aliran Islam, yakni Partai Muslim Konservatif (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Persatuan Tarbiyah Islam Indonesia (Perti). Sementara, PDI adalah hasil fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Murba, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) dan Partai Katholik. Sejak saat itu hingga tumbangnya rejim Orde Baru 1988/1999, hanya ada tiga partai politik di Indonesia, yaitu PPP, Golkar15

Setelah partai politik tuntas melakukan fusi pada 1973 ke dalam PPP dan PDI, setahun kemudian, tepatnya pada 6 desember 1974, RUU Partai Politik dan Golongan Karya diajukan ke parlemen oleh presiden dan disahkan pada tahun 1975 menjadi UU No. 3/1975 tentang Partai Politik dan Golkar yang antara lain menetapkan adanya dua partai politik (PPP dan PDI) serta satu Golongan Karya yang bersifat partai kader (yang berarti bukan partai massa lagi) dan bersifat terbuka. Meskipun demikian ciri khusus partai politik dan Golkar masih diakui (yang awalnya Sekber Golkar), dan PDI. Dinamika system kepartaian Indonesia di era Orde Baru ibarat perputaran baling-baling pesawat Dai Nippon. Golkar yang berada di tengah tampak menonjol, sedangkan PPP dan PDI berada diluarnya.

15 Menurut Terminologi Orde Baru, PDI dan PPP adalah partai politik, sedangkan Golkar bukanlah partai politik, tetapi organisasi politik. Dalam kenyataannya, Golkar adalah partai politik.

Ini menunjukkan sikap Orde baru yang tidak senang terhadap partai politik.

(22)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

disamping asas Pancasila. Undang-Undang ini diperbaharui melalui UU No.

3/1985, yang selain menegaskan seperti yang menjadi prinsip pada UU No.

3/1975 juga menegaskan bahwa Parpol dan Golkar mengakui Pancasila sebagai satu-satunya asas (ciri khusus hilang).

Dalam rangka penataan kehidupan politik ini, diupayakan pula agar rakyat terbebaskan dari kegiatan politik praktis, yang telah merusak kehidupan ekonomi (kesejahteraan) rakyat, karena rakyat terlibat di dalam pengaruh ideologi sempit partai-partai politik. Oleh karena itu maka, pemerintah menerapkan apa yang disebut floating mass atau massa mengambang yang secara substansial dimaksudkan agar rakyat tidak menjadi anggota suatu partai politik.16

16 Krissantono,..Op.,Cit., hal. 154

Floating mass hendak menyadarkan masyarakat dalam kehidupan politik.

Dalam pengertian ini, setiap warga negara berhak dan dapat menjadi anggota partai politik secara sukareladan aktif mendaftarkan diri. Keanggotaannya didasarkan atas kesadaran diri dan bukan karena primordialisme. Dalam floating mass, partisipasi langsung rakyat dengan partai politik dimanifestasikan dalam Pemilu. Setelah Pemilu selesai, kecuali anggota parpol, masyarakat tidak terlibat lagi dengan partai politik yang menjadi pilihannya dalam Pemilu, karena memang tidak ada faktor yang mengikat rakyat dengan partai politik tertentu.Dalam rangka pelaksanaan floating mass ini, kepengurusan partai politik dan Golkar hanya sampai di Daerah Tingkat (Dati) II.

(23)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Pemberlakuan konsep massa mengambang yang membatasi akses partai politik ke tingkat akar rumput justru melipat gandakan kekuatan politik Golkar yang waktu itu menolak disebut partai. Melalui jaringan birokrasi dan organisasi militer dari pusat sampai ke tingkat desa, Golkar mampu menggalang dukungan politik secara masif. Deideologisasi dan depolitisasi yang dilancarkan oleh Orde Baru sangat mengental di era 1980-an ketika banyak produk pemerintah dan UU pemilu yang menentapkan pemberlakukan azas tunggal bagi semua partai politik yang sangat menguntungkan bagi Golkar.

Dengan jargon andalan "politik no, pembangunan yes" propoganda Golkar berjalan mulus. Tercatat dari Pemilu 1971 sampai pemilu 1997 Golkar terus menjadi pengumpul suara terbanyak pada setiap Pemilu. Namun suara yang diperoleh oleh Golkar tidak terlepas dari kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh aparat birokrasi dan militer yang merupakan pendukung sejati Golkar.

Intimidasi-intimidasi baik fisik maupun regulasi selalu mewarnai setiap kampanye Golkar. Lewat mekanisme reward and punishment, Golkar menjadi simbol pembeda antara pendukung dan pembangkang rezim Orde Baru.

(24)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Berikut ini merupakan hasil Pemilu yang dilaksanakan pada masa rezim Orde Baru :

Tabel. 1.3.

Hasil Pemilu-pemilu Orde Baru

No. Tahun Pemilu

PPP Golkar PDI

Suara Kursi Suara Kursi Suara Kursi

1. 1971* 14.833.936 94 34.348.673 236 5.516.894 30

2. 1977 18.743.491 99 39.750.096 232 5.504.757 29

3. 1982 20.871.880 94 48.334.724 246 5.919.702 24

4. 1987 13.701.428 61 62.783.680 299 9.384.708 40

5. 1992 16.624.647 62 66.599.331 282 14.565.556 56

6. 1997 25.340.028 89 84.187.907 325 3.463.225 11

* Perhitungan Suara PPP merupakan total perolehan NU, Parmusi, PSII dan Perti

Perhitungan Suara PDI merupakan total perolehan PNI, Murba, Parkindo, IPKI dan Partai Katholik (Diolah dari berbagai sumber)

Pemilu di masa Orde Baru menjadi tidak lebih dari ritual demokrasi yang hampa. Rakyat berbondong-bondong datang ketempat pemilihan hanya untuk menjadi saksi kemenangan Golkar. Fondasi hegemoni politik Golkar selama tiga dekade terletak pada posisi yang dinikmati Golkar sebagai partai resmi rezim Orde Baru. Orde Baru memang identik dengan Golkar, Birokrasi dan Militer, tiga kekuatan inilah yang menopang kekuasaan Soeharto sebagai pemimpin Orde Baru selama 32 tahun lebih. Semua kebijakan politik Orde Baru diciptakan dan kemudian dilaksanakan oleh pimpinan militer, birokrasi dan Golkar. Selama puluhan tahun Orde Baru berkuasa, jabatan-jabatan dalam struktur eksekutif, legislatif dan yudikatif, hampir semuanya diduduk i oleh kader-kader Golkar.

(25)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan penjelasan dan penjabaran dari identifikasi masalah dan pembatasan.17

1. Bagaimanakah deskripsi konfigurasi politik dalam politik kepartaian Rezim Orde Baru?

Merujuk pada latar belakang diatas, yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah :

2. Bagaimanakah Kebijakan Politik Fusi dan dampaknya terhadap politik kepartaian Rezim Orde Baru?

3. Tujuan Penelitian

Setiap penelitian ilmiah selalu diupayakan kearah terwujudnya tujuan yang diinginkan. Dengan demikian yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan konfigurasi politik dalam politik kepartaian Rezim Orde Baru

2. Untuk menggambarkan Kebijakan Politik Fusi dan dampaknya terhadap politik kepartaian Rezim Orde Baru

17 Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial, (Bandung, Bumi Aksara, 2000) hal.43

(26)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan yang bermanfaat kepada semua pihak, yang secara umum meliputi :

1. Kepada penulis, dapat meningkatkan kemampuan berfikir dialektis, objektif dan praktis melalui penulisan karya ilmiah.

2. Untuk memperkaya referensi karya ilmiah kesejarahan politik serta teori partai politik di Departemen Ilmu Politik pada khususnya dan FISIP USU pada umumnya.

3. Penelitian ini kiranya memberikan manfaat bagi penentu kebijakan untuk mengelola dan memberdayakan kehidupan sosial-politik masyarakat.

5. Dasar-Dasar Teori 5.1. Partai Politik

Keberadaan Partai Politik dalam kehidupan Negara pertama kali dijumpai di Eropa Barat, yakni sejak adanya gagasan bahwa rakyat merupakan faktor yang patut diperhitungkan serta diikut sertakan dalam proses politik, Dengan adanya gagasan untuk melibatkan rakyat dalam proses politik (kehidupan dan aktifitas ketatanegaraan), maka secara spontan Partai Politik berkembang menjadi penghubung antara rakyat disatu pihak dan pemerintah di pihak lain.18

Sistem demokrasi tidak mungkin berjalan tanpa adanya partai politik.

Pembuatan keputusan secara teratur hanya mungkin dilakukan jika ada

18Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia, 1977), hal. 159

(27)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

pengorganisasian berdasarkan tujuan-tujuan kenegaraan. Tugas partai politik adalah untuk menata aspirasi rakyat untuk dijadikan opini publik yang lebih sistematis sehingga dapat menjadi dasar pembuatan keputusan yang teratur.19

Sebagaimana halnya di Indonesia, kehidupan partai politik di Indonesia dapat dilacak secara samar sampai tahun 1908. Namun demikian, kehadiran Boedi Oetomo belumlah dapat dikatakan sebagai partai politik karena secara fungsional belum menunjukkan fungsi partai politik, yaitu merebut kekuasaan negara melalui persaingan pemilihan umum.20

Kehadiran organisasi secara politis baru dimulai ketika berdiri Sarekat Islam, yang secara berkesinambungan telah berfungsi di dalam proses mempengaruhi kebijakan dan mendidik para pemimpin dan kemampuan menambah anggota, atau dengan kata lain telah terjadi proses politik di dalamnya.

21

Setelah proklamasi kemerdekaan, BP-KNIP terhitung mulai tanggal 30 Oktober 1945 bertindak sebagai parlemen sementara sebelum diadakan pemilu, . Kelahiran Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Sukarno dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) yang didirikan Syahrir serta didirikannya Sarikat Islam Merah oleh Sneevliet (selanjutnya menjadi PKI) yang merupakan pecahan dari Sarikat Islam pimpinan Tjokroaminoto merupakan perjalanan awal partai politik di Indonesia.

19 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Edisi Revisi, (Jakarta:

Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK RI, 2006), hal. 115-166.

20 Nur Syam, “Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik Pengalaman Indonesia Orde Baru”, dalam Jurnal IAIN Sunan Ampel, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 1999) hal.

24

21 Nur Syam, ibid., hal. 24

(28)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

berkeputusan untuk membentuk partai politik dengan konsep banyak partai (multyparty), dengan pertimbangan bahwa “berbagai pendapat yang ada di dalam masyarakat akan tersalur secara tertib”. Hal lain yang menjadi dasar pertimbangan adalah “bahwa partai politik akan memperkokoh perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan pemeliharaan keamanan masyarakat”22

Presiden Soekarno sebenarnya kurang suka terhadap model banyak partai.

Di dalam pidatonya tanggal 28 dan 30 Oktober 1956 ia menyatakan untuk menguburkan partai-partai sebab banyaknya partai menyebabkan pertentangan dan konflik yang berkepanjangan. Soekarno menyebut hal itu sebagai "penyakit kepartaian". Banyaknya partai politik menjadi penyebab kekalutan di seputar sidang Konstituante yang gagal akhirnya memaksa Soekarno untuk menyederhanakan partai politik menjadi sepuluh partai pada tahun 1960.

Dengan dikeluarkannya Maklumat Wakil Presiden No. X tahun 1945 tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945. Indonesia menganut sistem multipartai yang ditandai dengan munculnya 24 Partai Politik yang berbasis Aliran/ideologi.

23

Pada masa Orde Baru, jumlah partai yang mengikuti pemilu 1971 ialah sebanyak sepuluh partai. Yaitu Golkar, PNI, NU, Murba, IPKI, PSII, Parkindo, Perti, Partai Katolik dan Parmusi. Kemudian setelah pemilu 1971 muncul begitu deras ide-ide untuk menyederhanakan partai politik. Puncaknya ialah dilakukannya penyederhanaan partai politik menjadi tiga, yaitu Golongan Karya

22 Ali Moertopo, op., cit., hal. 190

23 Nur Syam, ibid., hal. 24

(29)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

(Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru, telah menghantarkan gelombang reformasi politik untuk menata kehidupan politik yang demokratis. Perubahan undang-undang partai politik, telah mendorong beragam pihak untuk menghidupkan kembali denyut nadi politik yang telah dilemahkan selama 32 tahun.

Perkembangan partai politik di Indonesia ini merupakan gambaran wajah peran rakyat dalam percaturan politik nasional atau dengan kata lain merupakan cerminan tingkat partisipasi politik masyarakat. Oleh karena itu, partai politik mempunyai posisi dan peranan yang penting dalam sistem politik demokratis.

Partai memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara proses-proses pemerintahan dengan warga negara.

Secara teoritikal, makin banyak partai politik memberikan kemungkinan yang lebih luas bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasinya dan meraih peluang untuk memperjuangkan hak-haknya serta menyumbangkan kewajibannya sebagai warga negara. Banyaknya alternatif pilihan dan meluasnya ruang gerak partisipasi rakyat memberikan indikasi yang kuat bahwa sistem pemerintahan di tangan rakyat sangat mungkin untuk diwujudkan.24

24 Alfian, Komunikasi Politik Dan Sistem Politik Indonesia, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1991) hal. 25

(30)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

5.1.1. Batasan dan Pengertian Partai Politik

1. Carl J. Friedrich: Sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin Partainya, dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota Partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materiil.

2. Miriam Budiardjo: Suatu kelompok yang terorganisir yang anggota- anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.

3. Roy C. Macridis : berpendapat bahwa partai politik (parpol) merupakan keharusan dalam kehidupan politik moderen yang demokratis, pengecualiannya hanya pada masyarakat tradisional yang sistem politiknya otoritarian yang pemerintahannya bertumpu pada tentara atau polisi.17 Sebagai organisasi, partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat yang saling bersaing, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai.

Menurut Roy C. Macridis, partai politik merupakan suatu asosiasi yang mengaktifkan, memobilisasi rakyat, dan mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan kompromi bagi pendapat-pendapat yang bersaing, dan memunculkan kepemimpinan politik. Oleh karena itu, partai politik menjadi

(31)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

fenomena umum dalam kehidupan politik di dalam masyarakat moderen. Partai politik adalah alat untuk memperoleh kekuasaan dan untuk memerintah. Partai politik telah digunakan untuk mempertahankan pengelompokan yang sudah mapan (seperti gereja) atau untuk menghancurkan status quo seperti yang dilakukan Bolsheviks pada tahun 1917 ketika menumbangkan kekaisaran Tsar. 25

Di dalam negara modern, menurut Miriam Budiardjo, partai politik mempunyai beberapa fungsi :

Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas, kita dapat melihat adanya

“benang merah” hubungan pengertian antara pendapat yang satu dengan yang lain, yaitu bahwa tujuan Partai Politik itu didirikan adalah untuk merebut ataupun mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan guna melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah digariskan oleh masing-masing Partai Politik.

5.1.2. Fungsi Partai Politik

26

1. Sebagai Sarana Komunikasi Politik :

Parpol berfungsi menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpang-siuran pendapat dalam masyarakat berkurang. Dalam masyarakat moderen yang begitu luas, pendapat dan aspirasi seseorang atau suatu kelompok akan hilang tak berbekas seperti suara di pandang pasir apabila tidak ditampung dan digabung

25Ichlasul Amal (Ed), Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, (PT. Tiara Wacana, Yogya, 1996), hal. 17.

26 Miriam Budiarjo, Op. Cit., hal. 163

(32)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

dengan pendapat dan aspirasi orang lain yang senada. Proses ini dinamakan

“penggabungan kepentingan” (interest aggregation). Sesudah digabung, pendapat dan aspirasi ini diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang teratur. Proses ini dinamakan, “perumusan kepentingan” (interest articulation).

2. Sebagai Sarana Sosialisasi Politik.

Di dalam ilmu politik, sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses dari seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik di dalam lingkungan masyarakat dimana ia berada. Biasanya proses sosialisasi berjalan secara berangsur-angsur dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Proses sosialisasi politik diselenggarakan melalui ceramah-ceramah penerangan, kursus-kursus kader, kursus penataran, dan sebagainya.

3. Sebagai Sarana Rekrutmen Politik

Dalam hal ini parpol berfungsi untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai (political recruitment). Dengan demikian partai turut memperluas partisipasi politik. Juga disuahakan untuk menarik golongan muda untuk dididik untuk menjadi kader yang di masa mendatang akan mengganti pimpinan lama (selection of leadership).

4. Sebagai Sarana Pengatur Konflik

Di dalam suasana demokrasi, persaingan dan perbedaan pendapat merupakan soal yang wajar. Jika sampai terjadi konflik, parpol berusaha untuk mengatasinya.

(33)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Sementara itu Ramlan Surbakti berpendapat bahwa fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahankan kekuasaan untuk mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu.27

Kehidupan politik pada masa-masa Orde Baru tidak diwarnai pertarungan ideologis. Deideologisasi yang dianut Orde Baru didasari oleh anggapan bahwa ideologi merupakan penyebab utama ketidakstabilan politik. Kebijakan ini berujung pada penetapan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalami kehidupan bermasyarakat. berbangsa, dan bernegara. sehingga asas atau ideologi partai tidak dikenal saat itu. Implikasinya, kehidupan politik selama Orde baru menumbuhkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang dianggap tidak lebih 5.1.3. Partai Politik Dalam Rezim Orde Baru

Sebagai wujud dari ide kedaulatan rakyat, dalam sistem demokrasi harus dijamin bahwa rakyat terlibat penuh dalam merencanakan, mengatur, melaksanakan, dan melakukan pengawasan serta menilai pelaksanaan fungsi- fungsi kekuasaan. Untuk menjembatani antara pemerintah dan rakyat, sebagai wujud bekerjanya demokrasi diperlukan adanya partai politik. Sistem demokrasi tidak mungkin berjalan tanpa adanya partai politik. Pembuatan keputusan secara teratur hanya mungkin dilakukan jika ada pengorganisasi berdasarkan tujuan- tujuan kenegaraan. Dengan demikian partai politik memainkan peran penghubung yang sangat strategis antara proses-proses pemerintahan dengan warga negara.

Karena itu partai politik merupakan pilar dalam sistem politik demokratis.

27 Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta, Gramedia, 1992) hal. 116

(34)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

sebagai alat kekuasaan negara. Parpol tidak lagi representatif menjadi penghubung masyarakat dengan pemerintah.

Relasi antara partai politik dengan kekuatan politik yang lain tercermin di dalam bentuk-bentuk kerja sama yang dijalin atas dasar kesamaan sistem nilai yang melandasi cita-cita, visi, atau ideologi partai (platform) dan persaingan, serta pilihan bentuk dan derajat partisipasi dalam mempengaruhi jalannya pemerintahan melebihi kemampuannya menerapkan prosedur demokrasi di dalam mekanisnie internal Partai Politik. Hal ini berarti, signifikansi Partai Politik dalam mekanisme sistem politik demokratis bukan saja akan ditentukan oleh platform serta pilihan bentuk persaingan dan kerja sama yang ditampilkan, tetapi juga bergantung kepada kemampuan Partai Politik dalam menginternalisasikan cita-citanya sehingga menjiwai keseluruhan aktivitas partai dan kemampuannya memasyarakatkan cita-cita tersebut kepada para anggota sehingga terbangun komitmen bersama untuk mewujudkannya melalui aktivitas partai.

Gambaran Partai Politik dalam dunia ide, atau setidak-tidaknya seperti yang dicita citakan para pendiri republik, berbeda dengan realitas kehidupan Partai Politik di era Orde Baru. Deideologisasi Partai Politik yang dijalankan Orde Baru telah memutuskan roh perjuangan Partai Politik dengan segenap cita-cita untuk membangun bangsa. Perkembangan Partai Politik di tanah air menjadi ahistoris. Partai ideologis termarginalisasi oleh arus pragmatisasi politik.

Dalam buku-buku sejarah yang ditulis selama Orde Baru (1966-1998), partai politik digambarkan sebagai sosok yang asing, karena cenderung hanya

(35)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

mementingkan diri sendiri. Upaya pemujaan diri yang berlebihan menyebabkan pemerintah Orde Baru terlalu terpaku kepada pertumbuhan ekonomi dan pemaksimalan pembangunan fisik dengan sarana hutang luar negeri.

Partai-partai politik tidak berkembang, sekalipun jumlah kelompok oposisi terus bertambah secara diam-diam. Sesedikit apapun gerakan pembangkangan dilakukan, akibat-akibat yang ditimbulkan tidak bisa ditebak dan ditanggung.

Sebuah desa bisa saja ditenggelamkan dengan air bah, penduduk diusir dengan mendatangkan gajah, tuduhan tentang organisasi tanpa bentuk, sampai penangkapan dan penahanan, bahkan kematian yang tidak diduga. Aparatus negara berubah menjadi begitu menakutkan, bahkan hanya dengan modal uniform.

Perbedaan pendapat berarti perlawanan atas pemerintah.

Jika dilihat dari sistem kepartaian yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah sistem kepartaian Indonesia saat ini dapat diletakkan dalam klasifikasi yang ada? Sistem kepartaian Indonesia Orde Baru jelas bukan sistem dua partai.

Sementara untuk menggolongkanya sebagai sistem satu atau multipartai pun terdapat banyak ganjalan.

Sekalipun Golkar sepanjang sejarah Orde Baru selalu tampil mendominasi pentas kepartaian nasional, tapi partai-partai lain, PPP dan PDI bukan tidak memiliki peran sama sekali. Pola kompetisi antara ketiga parpol yang adapun tetap tampak terutama menjelang pemilu setiap lima tahun. Ciri sistem partai tunggal tak terpenuhi di sini. Namun ciri sistem multi partai, yaitu kekuatan yang imbang antara partai-partai politik sehingga setiap parpol akan mampu

(36)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

menandingi kekuatan parpol lain, juga tak terpenuhi. PPP dan PDI, bahkan dengan menggabungkan kekuatan mereka pun, tidak akan mampu menandingi kekuatan Golkar. Klasifikasi sistem satu, dua, dan multi partai jelas kurang memadai untuk digunakan sebagai kacamata analisis untuk mengamati sistem kepartaian Indonesia Orde Baru.

Sebuah jalan alternatif untuk keluar dari kebuntuan itu dapat diambil dari Afan Gaffar28 yang mengidentifikasi sistem kepartaian Indonesia saat ini sebagai sistem kepartaian hegemonik (hegemonic party system), istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh La Palombara dan Weiner.29 Ciri sistem kepartaian ini adalah, Golkar sebagai partai hegemonik terus-menerus mendominasi kekuasaan, sementara partai-partai politik lain hanya secara formal ada, namun tanpa kemampuan untuk menandingi kekuatan partai hegemonik itu30

Hegemoni Golkar itu dimungkinkan oleh beberapa faktor yang telah dirancang dengan baik, yaitu: (1) Penciptaan aparatur keamanan yang represif untuk menegakkan dan menjaga kelangsungan tertib politik di dalam negeri; (2) Proses depolitisasi massa untuk sepenuhnya diarahkan pada kebijaksanaan dan pembangunan ekonomi; (3) Restrukturisasi partai-partai politik yang ada; dan (4) .

28 Afan Gaffar, Javanese Voters: A Case Study of Election Under A Hegemonic Party System (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992). hal. 36

29 Afan Gaffar, Ibid., hal 35-36. Menurutnya, selama ini Indonesia telah mengalami tiga sistem kepartaian. Pertama, sistem multi partai pada masa demokrasi liberal, di mana terdapat banyak partai dengan tingkat otonomi tinggi dalam suasana kompetitif, namun tidak ada partai yang memiliki kekuatan mayoritas. Kedua, pada periode demokrasi terpimpin, yang muncul adalah apa yang disebutnya 'No-party System". Tingkat kompetisi antar partai sangat rendah.Mereka hanya menjadi pemeran pembantu bagi tiga pemeran utama dalam kepolitikan Indonesia saat itu: Bung Karno, Angkatan Darat, dan PKI. Dan ketiga adalah sistem kepartaian hegemonik yang muncul sejak kemenangan besar Golkar dalam pemilu 1971

30 Afan Gaffar, Ibid, hal. 51-61

(37)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Penciptaan undang-undang pemilu serta prosesnya yang dapat menjamin Golkar menang dalam setiap pemilu.31

Kondisi kepartaian demikian, ditambah lagi dengan adanya kecenderungan bahwa dalam politik pengambilan keputusan (the politics of policy making) hubungan yang bersifat pribadi (personal linkage) lebih menonjol daripada institusional Linkage,

Dalam sistem kepartaian hegemonik ini peran PPP dan PDI praktis sangat sedikit. Akses mereka terhadap kekuasaan hanya sampai pada lembaga legislatif, Yang inferior ketika berhadapan dengan eksekutif. Sementara itu politik massa mengambang (floating mass) telah memotong akar mereka pada lapisan masyarakat bawah. Akibatnya, partai-partai politik itu mengalami kesulitan kaderisasi dan rekrutmen aktifis yang cakap. Sementara aparat pemerintahan sampai level terendah merupakan kader Golkar.

32

Kelompok-kelompok kepentingan, misalnya, dapat menjadi sarana dan wahana bagi masyarakat untuk dapat memiliki akses terhadap pembuatan keputusan dalam sistempolitik yang ada, jauh lebih efektif daripada parpol, sebab elit kelompok kepentingan selalu membawa citra tanpa pamrih atau ikhlas, tidak haus kekuasaan, jujur dan dengan berbagai karakter positif lainnya. Sementara itu elit partai selalu dicitrakan sebaliknya, seperti selalu mementingkan kepentingan pribadi, terlampau banyak politicking, berpamrih dan lain-lain.

memungkinkan lembaga-lembaga non-partai memainkan peran yang lebih berarti daripada parpol.

31Afan Gaffar, Ibid., hal. 37-38.

32 Afan Gaffar, "Partai Politik, Elit dan Massa dalam Pembangunan Nasional,"dalam A.

Zaini Abar (ed.), Beberapa Aspek Pembangunan Orde Baru (Solo:CV Ramadhani), hal. 21

(38)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Keharusan bagi Orde Baru untuk membangun citra diri sebagai rejim demokratis mengharuskannya untuk menerima ide tentang partai politik.

Akibatnya, kehadiran PDI dan PPP bukannya dalam kerangka untuk merealisasi komitmen bangsa untuk menjadi sebuah sistem politik yang demokratis, tapi justru untuk memenuhi secara simbolik status Indonesia sebagai negara demokratis –karena punya partai politik dan parlemen– di mata internasional.

5.2. Kebijakan Politik Fusi

5.2.1. Pengertian Kebijakan Politik Fusi

Kata Fusi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penggabungan, peleburan ataupun koalisi dari dua atau lebih kelompok-kelompok yang mempunyai tujuan yang relatif sama, menjadi satu kelompok. Kata ini sebenarnya adalah saduran dari bahasa Inggris fusion yang pengertiannya juga sama dengan versi Bahasa Indonesia yaitu penggabungan.33

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia34

33 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005) hal. 402

34 Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta : Cipta Adi Pustaka, 1989), hal. 418

kata fusi merupakan kata yang selalu dipakai dalam ilmu fisika untuk menunjukkan campuran larutan bermacam-macam benda. Kata ini kemudian dipergunakan dalam politik untuk menyebutkan penggabungan atau peleburan beberapa partai politik menjadi satu partai politik baru.

(39)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Di Indonesia, kata fusi mulai dipakai di bidang politik ketika pemerintah pada tahun 1970-an berikhtiar untuk memperbaharui kehidupan politik di Indonesia dengan cara menyederhanakan jumlah partai politik. Oleh karena itu, partai politik yang ada harus berfusi.

Dengan demikian lahirlah 3 organisasi politik di Indonesia: PPP, Golkar dan PDI. Kebijakan politik fusi ini dikukuhkan pemerintah melalui UU No. 3 tahun 1973 tentang Partai Politik dan Golongan Karya, yang diperbaharui dengan UU No. 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya.

Kebijakan Fusi menurut pandangan Orde Baru, seperti yang diungkapkan oleh Ali Moertopo dimaknai sebagai berikut :

Gagasan dasar fusi partai politik ini dimaksudkan untuk memberikan corak baru pada kehidupan kepartaian di Indonesia, disesuaikan dengan kebutuhan hidup suatu partai, yakni mengabdi kepada kepada pembangunan bangsa dan negara. Fusi partai politik bertujuan untuk mengurangi atau mengeliminasi friksi-friksi ideologis yang selama ini mewarnai seluruh keiatannya. Tujuan jangka pendek dari fusi partai politik ini adalah untuk mempertahankan stabilitas nasional dan kelancaran pembangunan, sedangkan tujuan jangka panjang adalah fusi partai politik menjadi ketetapan secara konstitusional yaitu sesuai dengan ketetapnan No.

XXII/MPRS/1966, hal ini dimaksudkan agar dalam kehidupan politik tidak terjadi hambatan bagi kelancaran usaha pemerintah untuk melakukan pembangunan.35

35 Ali Moertopo, op.cit., hal. 152

(40)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

5.2.2. Latar Belakang Kebijakan Politik Fusi

Kebijakan Politik Fusi yang dilakukan Rezime Orde Baru dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi Indonesia yang tidak terbenahi akibat kondisi politik Indonesia yang kerap diwarnai konflik partai/ideologi. Oleh sebab itu kebijakan yang diambil Orde Baru adalah menciptakan kestabilan politik untuk menciptakan kestabilan ekonomi.

Pada masa demokrasi liberal, terjadi perpecahan partai politik dan instabilitas kabinet yang jatuh bangun (usia rata-rata dari 12 kabinet dimasa demokrasi liberal tak lebih delapan bulan). Di era demokrasi terpimpin yang selain ditandai dengan semakin kuatnya cengkeraman kekuasaan Soekarno, juga ditandai adanya keinginan kuat kaum militer-sebagai salah satu kekuatan waktu itu-untuk langsung tampil di arena politik. Namun demikian konflik partai/ideologi tetap terus terjadi dan mengakibatkan hancurnya perekonomian negara. Hal ini memberikan gambaran tersendiri bagi Rezim Orde Baru dalam menjalankan kekuasaannya.

Jalan fikiran Soeharto dan Rezim Orde Baru dalam usaha melakukan restrukturisasi politik adalah cukup sederhana. Jumlah partai yang besar dengan ideologi yang berbeda dan bertentangan, mau tidak mau akan menghasilkan konflik politik yang besar pula. Semakin hebat pertentangan ideologi-ideologi yang dianut oleh partai-partai politik semakin hebat pula konflik politik diantara mereka. Rezime Orde Baru melihat bahwa kunci kestabilan politik terletak pada restrukturisasi kepartaian yang ada dengan cara fusi partai politik.

(41)

Eka Nova Prasetya Pinem : Kebijakan Politik Fusi : Suatu Tinjauan Politik Kepartaian Rezim Orde Baru, 2009.

USU Repository © 2009

Melalui Kebijakan Politik Fusi ini diharapkan konflik ideologi partai politik ini dapat dihentikan agar pembangunan dapat berjalan lancar tanpa ada hambatan. Namun disamping itu ternyata pada masa kampanye Pemilu 1982 terjadi pula konflik politik yang memaksa rezim Orde Baru untuk memperbaharui kebijakan politik fusi dengan melakukan penyeragaman ideologi dengan menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi bagi semua organisasi politik.

Pengkondisian ini terus berlangsung hingga jatuhnya Rezim Orde Baru.

Pengamat politik David Baurchier menilai bahwa fusi partai politik ini mempunyai tujuan pada depolitisasi masyarakat, yang berimplikasi kepada berkurangnya independensi kegiatan politik masyarakat, baik melalui pengurangan peran organisasi otonom maupun dengan mengkooptasinya ke dalam suatu organisasi payung yang pro pemerintah.36

Bagi pemerintah sendiri, dengan adanya tiga organisasi kekuatan sosial politik tersebut, diharapkan agar Partai Politik dan Golongan Karya benar-benar Kebijakan Politik Fusi membawa implikasi kepada terpasungnya penyaluran aspirasi rakyat yang terus tumbuh dan berkembang melalui partai politik. Atau dengan kata lain sistem kepartaian yang ditimbulkan dari proses fusi ini tidak memberikan landasan bagi corak afiliasi politik masyarakat. Ketiadaan aksesibilitas untuk berhadapan dengan puncak kekuasaan, mengakibatkan partai politik kehilangan fungsi dan kemampuannya berhadapan dengan supra-struktur politik.

36 Din Syamsuddin, Islam dan Politik Era Orde Baru, (Jakarta: Logos, 2001) hal. 42

Gambar

Tabel 1.1. Klasifikasi Partai Politik Masa Awal Kemerdekaan ...............   2  Tabel 1.2

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa sehubungan dengan butir (1) diatas, perlu diterbitkan keputusan Dekan tentang Pedoman Pendidikan jurusan/program studi S1 yang memberikan arah pelaksanaan pendidikan akademik

peneliti menyimpulkan bahwa ketika lansia melakukan gerakan Latihan gerak sendi lutut secara bertahap maka akan berdampak pada penurunan nyeri sendi dikarenakan

penelitian ini, soal open ended yang diberikan adalah soal yang memiliki lebih. dari satu jawaban atau cara penyelesaian

[r]

[r]

[r]

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana bentuk pertunjukan Kesenian Dames Group Laras Budaya di Desa Bumisari Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga, serta

Yang dimaksud dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adalah bahan hukum publik yang bertanggung jawab kepada presiden dan berfungsi