• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS IKLAN XL BEBAS INTERNET VERSI NOAH (Studi Deskriptif Kuantitatif Efektivitas Iklan XL Bebas Internet Versi Noah “Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan Di Televisi).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIVITAS IKLAN XL BEBAS INTERNET VERSI NOAH (Studi Deskriptif Kuantitatif Efektivitas Iklan XL Bebas Internet Versi Noah “Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan Di Televisi)."

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

Ver si Noah “Rp. 5000 Bebas Inter netan 6 Bulan Di Televisi)

SKRIPSI

Oleh :

FAHRUL J UNAIDI

0843010022

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

J AWA TIMUR

(2)

Versi Noah “Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan Di Televisi)

Diajukan Oleh :

FAHRUL JUNAIDI 0843010022

Telah Dipertahankan Dihadapan Dan Diterima Oleh Tim Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada Tanggal 23 Desember 2013

Tim Penguji :

Pembimbing Ketua

Drs. Kusnarto, M.Si Dr. Catur Suratnoaji. M.Si

NIP. 119580801198402100 NPT. 368 049 400 281

Sekretaris

Drs. Syaifuddin Zuhri M.Si NPT. 370 069 400 351

Anggota

Drs. Kusnarto, M.Si

NIP. 119580801198402100

Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi

(3)

Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan

berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal yang

berjudul “EFEKTIVITAS IKLAN XL BEBAS INTERNET VERSI NOAH

(Studi Deskr iptif Kuantitatif Efektivitas Iklan XL Bebas Internet Versi Noah

“Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan Di Televisi)” dengan baik.

Proposal penelitian ini penulis susun untuk memenuhi persyaratan dalam

menyelesaikan program Ujian Proposal Penelitian setiap mahasiswa Jurusan Ilmu

Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Bersama dengan terselesaikannya penyusunan proposal penelitian ini,

penulis telah berusaha dan menganalisa sesuai dengan kemampuan penulis, dan

kesemuanya tidak lepas dari bimbingan serta saran- saran dari Bapak

Drs. Kusnarto, M.Si, selaku Dosen Pembimbing serta berbagai pihak. Oleh karena

itu penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada :

1. Dra. Ec. Hj. Suparwati, M.Si, Dekan Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur.

2. Juwito, S.Sos, M.Si, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Drs. Kusnarto, M.Si, dosen pembimbing yang penuh dengan mengorbankan

(4)

5. Kedua Orang tuaku dan saudara- saudaraku atas doa dan motivasinya.

6. Sahabat- sahabat atas dukungan, bantuan dan kesetiakawanannya

Penulis menyadari bahwa proposal penelitian ini masih jauh dari

sempurna, sehingga kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan. Akhir

kata semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur khususnya dan pembaca pada

umumnya.

Surabaya, Januari 2014

(5)

Halaman

HALAMAN J UDUL ... i

LEMBAR PERSETUJ UAN DAN PENGESAHAN UJ IAN SKRIPSI ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAKSI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

1.4.1. Secara Teoritis ... 7

1.4.2. Secara Praktis ... 8

1.4.3. Secara Sosial ... 8

BAB II KAJ IAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu ... 9

2.2. Landasan Teori ... 12

2.2.1. Definisi Efektifitas ... 12

2.2.2. Efektivitas Komunikasi... 13

2.3. Media Televisi ... 14

(6)

2.4.3. Tujuan Kegiatan Periklanan ... 19

2.4.4. Strategi Kreatif Pesan Iklan ... 20

2.5. Televisi Sebagai Media Periklanan ... 24

2.5.1. Televisi... 24

2.5.2. Kekuatan Televisi ... 25

2.5.3. Elemen Iklan Televisi ... 26

2.6. Direct Rating Method (DRM) ... 28

2.6.1. Pengertian Direct Rating Method (DRM)... 28

2.6.2. Fungsi Direct Rating Method (DRM) ... 28

2.6.3. Tujuan Direct Rating Method (DRM) ... 28

2.6.4. Variabel Direct Rating Method (DRM) ... 29

2.7. Kerangka Berpikir ... 37

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Konseptual ... 41

3.1.1. Efektivitas Iklan ... 41

3.1.2. Direct Rating Method (DRM)... 41

3.2. Definisi Operasional ... 46

3.3. Pengukuran Variabel ... 46

3.4. Metode Penelitian ... 47

3.5. Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel ... 47

(7)

3.6. Teknik Pengumpulan data ... 49

3.7. Teknik Analisis Data ... 50

3.7.1. Uji Validitas ... 50

3.7.2. Uji Reliabilitas ... 51

3.7.3. Analisis Data Efektivitas Iklan ... 51

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 56

4.1.1. Sejarah Singkat XL ... 56

4.2. Penyajian Data dan Analisis Data ... 57

4.2.1. Identitas Responden ... 57

4.2.2. Pembahasan ... 60

4.2.2.1. Uji Validitas ... 60

4.2.2.2. Uji Reliabilitas ... 62

4.3. Efektivitas Iklan ... 63

4.3.1. Efektivitas Iklan Pada Dimensi Perhatian (Attention) 63 4.3.2. Efektivitas Iklan Pada Dimensi Pemahaman ... 80

4.3.3. Efektivitas Iklan Pada Dimensi Respon Kognitif ... 87

4.3.4. Efektivitas Iklan Pada Dimensi Respon Afektif ... 91

(8)

5.2. Saran... 104

DAFTAR PUSTAKA

(9)

Iklan XL bebas internetan pertama kali muncul di televisi pada tanggal 4 Februari 2013 (www.xl.co.id/xlbebas). Dalam pembuatan iklan XL bebas internetan, PT. Excelcomindo Pratama Tbk selaku produsen produk XL mengeluarkan biaya cukup besar yaitu 6 Miliar bersama group band papan atas NOAH sebagai brand image. PT. Excelcomindo Pratama Tbk berharap mampu mendapatkan keuntungan yang besar dari tingginya penjualan produk XL bebas internetan. Langkah berani mengeluarkan XL bebas internet dikarenakan jumlah pengguna data XL saat ini mencapai sekitar 60% dari total jumlah pelanggan XL sebesar 42,3 juta orang (http://kalbar.antaranews.com)

Efektivitas iklan adalah tingkat keefektivan sebuah iklan baik pada konsumen ataupun masyarakat. Pada dasarnya, suatu iklan dikatakan efektif apabila iklan tersebut dapat terpatri secara mendalam dalam benak konsumen. Direct Rating Method (DRM) yang diukur dengan lima indikator sebagai berikut: perhatian (attention), pemahaman (readthrougness), respon kognitif (cognitive), respon afektif (affection) dan sikap terhadap iklan (behaviour).

Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel adalah teknik non probability sampling yaitu purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, antara lain responden berusia antara 16-35 tahun, responden domisili di surabaya, dan responden yang pernah melihat iklan televisi XL bebas internet selama 30 detik. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah sebanyak 100 orang.

Berdasarkan analisis efektivitas iklan iklan XL bebas internet versi Noah kepada masyarakat Surabaya melaui media televisi dengan menggunakan metode Direct Rating method (DRM), secara keseluruhan skor rata-rata DRM “Xl Bebas Internet Versi NOAH, Rp. 5000 bebas internetan 6 bulan” di televisi ini termasuk dalam rentang skala sangat efektif. Dimensi perhatian

(attention), dimensi pemahaman (readthrougness), respon kognitif (cognitive), respon afektif

(affection) dan sikap terhadap iklan (behaviour) terhadap iklan Xl Bebas Internet Versi NOAH, Rp. 5000 bebas internetan 6 bulan” di televisi masuk dalam rentang skala sangat efektif.

ABSTRACT

FAHRUL JUNAIDI. EFFECTIVENESS OF ADVERTISING-FREE INTERNET VERSION XL

NOAH (Quantitative Descriptive Study of Advertising Effectiveness XL Free Internet Version Noah" Rp. Internetan 5000 Free 6 Months On Television)

Ad-free surf XL first appeared on television on February 4, 2013 (www.xl.co.id / xlbebas) . In making ad -free surf XL , PT . Excelcomindo Pratama Tbk as the XL product manufacturers spend large enough that 6 Billion with top bands NOAH as brand image PT. Excelcomindo Pratama Tbk hopes to benefit greatly from the high surf freely XL product sales . XL issued a bold move freely because the number of internet users XL data currently account for about 60 % of the total subscriber base of 42.3 million people XL (http://kalbar.antaranews.com)

The effectiveness of advertising is an advertising -effectiveness both on the consumer and society . In essence , an effective advertising if the ad is said to be deeply imprinted in the minds of consumers. Direct Rating Method ( DRM ), which is measured by five indicators as follows: attention (attention), comprehension (readthrougness), cognitive responses (cognitive), affective responses (affection) and attitude toward the ad (behavior).

Techniques used in the sampling is non- probability sampling technique that purposive sampling is a sampling technique with certain considerations, among others, respondents aged between 16-35 years, respondents domicile in Surabaya, and respondents who had seen a television advertisement XL free internet for 30 seconds. In this study the samples used were as many as 100 people .

(10)

1.1. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan manusia komunikasi sangat diperlukan dalam proses

penyampaian informasi dari satu pihak kepada pihak lain. Soekanto (1990: 71)

menyatakan bahwa suatu interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak

memenuhi 2 syarat, yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Ketika seseorang

melakukan suatu proses komunikasi dengan orang lain dibutuhkan kesamaan

makna sehingga diharapkan agar proses komunikasi yang sedang terjadi dapat

berlangsung efektif dan akan terjadi suatu kepuasan diantara keduanya.

Dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat luas diperlukan suatu

media yang biasa disebut dengan media massa. Komunikasi yang menggunakan

media massa disebut sebagai komunikasi massa. Komunikasi massa melibatkan

jumlah komunikan banyak, tersebar dalam area geografis yang luas, namun

mempunyai perhatian minat dan isu yang sama. Agar pesan dapat diterima

serentak pada waktu yang sama, maka digunakan media massa baik itu berupa

media elektronik seperti televisi dan radio, atau media cetak seperti surat kabar.

(Effendy, 2002: 60).

Salah satu media massa yang berupa media elektronik yaitu televisi.

Televisi sudah merupakan barang umum yang mudah dijumpai dimana saja,

sehingga mempunyai potensi yang besar sebagai wahana iklan. Televisi mampu

(11)

kelebihan televisi dibandingkan dengan media massa lainnya adalah

kemampuannya menyajikan berbagai kebutuhan manusia, baik hiburan, informasi,

maupun pendidikan dengan sangat baik, karena pesan yang disampaikan oleh

televisi bersifat audio visual yang dapat didengar dan dilihat.

Iklan menjadi sarana untuk menjalin komunikasi antara perusahaan

dengan konsumen. Perusahaan berusaha mengkomunikasikan dengan baik

keberadaan perusahaan itu sendiri maupun produk atau jasa yang dihasilkan.

(Durianto 2003: 2)

Wells, et.al (2000: 10) mengungkapkan bahwa iklan merupakan bentuk

komunikasi non personal dari sebuah produsen yang dikenal dengan

menggunakan media massa untuk mempersuasi atau mempengaruhi khalayak.

Sedangkan Lee dan Johnson (2004: 03) mengatakan bahwa iklan adalah

komunikasi komersil dan non personal tentang sebuah organisasi dan

produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak melalui media bersifat misal

televisi, radio, koran, majalah, direct mail, reklame luar ruangan atau kendaraan

umum. Hingga saat ini iklan masih menjadi sarana yang tepat dalam menunjang

aktivitas pemesaran karena dengan berkomunikasi melalui iklan beberapa tujuan

bisa tercapai, seperti meningkatnya awareness, sales dan image suaru produk

ataupun jasa.

Tujuan periklanan yang berkaitan dengan sasarannya dapat digolongkan,

menjadi tiga macam yaitu (1) iklan untuk memberi informasi (informative) kepada

khalayak tentang seluk beluk suatu produk, (2) iklan membujuk (persuasive)

(12)

mengingatkan (reminding) yaitu untuk menyegarkan informasi yang pernah

diterima masyarakat (Durianto, 2003:4).

Iklan yang lebih kreatif, simple dan mengena bagi konsumen artinya iklan

yang efektif. Selain itu yang perlu diingat juga, budget iklan yang sangat tinggi,

maka menuntut iklan tersebut harus efektif. Untuk itu, perlu dikaji mengenai

efektivitas iklan. Efektivitas iklan yang berkaitan dengan pengingatan dan

persuasi dapat diketahui melalui riset tentang dampak komunikasi (Durianto,

2003:15).

Keefektivan iklan dapat dinyatakan dengan dua hal (didasarkan Media

Public Relations). Pertama, pesan yang disampaikan perusahaan harus diterima

dalam arti received tetapi juga accepted. Kedua, iklan harus mampu

mengembangkan pesan komunikasi untuk mengubah sikap atau perilaku khalayak

dan terencana agar tujuan komunikasi dapat tercapai (Syam, 2004:120). Pesan

yang baik adalah pesan yang dapat diterima oleh penerima pesan dengan mudah

dan dapat dimengerti, karena pesan pada dasarnya adalah sebuah informasi yang

merupakan inti dari komunikasi oleh pihak-pihak yang terlibat komunikasi

(komunikator dan komunikan). Untuk menyukseskan pesan dalam komunikasi,

pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik

perhatian sasaran yang dimaksud. Agar komunikasi efektif dan mencapai sasaran

harus diperhatikan pengaruh perilaku dalam proses komunikasinya apakah

(13)

Persaingan yang terjadi tidak terelakkan lagi, berbagai jalan ditempuh oleh

produsen dalam hal ini pihak perusahaan untuk merebut perhatian calon

konsumen melalui berbagai iklan (Kasali, 1992:1).

Dengan kondisi demikian, perusahaan- perusahaan kartu seluler di

Indonesia berlomba- lomba menarik perhatian pengguna social network untuk

memudahkan akses internet. Perang tarif paket internetan, sms, telepon operator

seluler di Indonesia dalam mempromosikan produk dan fitur layanan berbasis

internet murah dan gratis yang ditawarkan dengan harga murah dan berbagai

macam keuntungan.

Salah satunya adalah XL yang merupakan salah satu provider terbesar di

Indonesia. XL menawarkan inovasi baru XL bebas gratis internet, dengan

menggandeng NOAH sebagai bintang iklannya. Promo terbaru XL bebas internet

“Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan”, Promo XL bebas internet, bebas akses ke

semua situs, chatting, browsing, email, whatsapp, Facebook, Twitter, skype,

istagram, semuanya diakses dengan kuota 150MB/hari, ditambah bonus extra

1MB/hari, jika kuota bulanan habis, bonus extra 1MB/hari tidak dapat

diakumulasikan ke kuota berikutnya.

Iklan televisi yang diteliti dalam penelitian ini adalah iklan terbaru XL

bebas internet versi NOAH yang bertajuk “Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan” di

televisi. Promo XL bebas internet ini di televisi belum pernah dikeluarkan

sebelumnya oleh PT. XL Axiata Tbk (PT. Excelcomindo Pratama Tbk). Selama

ini XL membidik segmen low end dan berjiwa muda yang tidak lepas dari

(14)

pasar yang dirasakan masih sangat luas dikalangan anak muda sebagai segmen

yang paling sering up date pada social network yang mereka miliki.

Alasan penelitian ini menggunakan objek iklan terbaru XL bebas internet

ini adalah bahwa selama ini PT. XL Axiata Tbk (PT. Excelcomindo Pratama Tbk)

tidak pernah mengeluarkan produk (XL) yang bebas internet tapi saat ini XL

berani melakukan terobosan dengan mengeluarkan XL bebas internet seperti

dalam iklannya yang terbaru yang bertajuk XL bebas internet yang menggandeng

group band papan atas NOAH yang salah satu tujuannya adalah untuk

memberikan fasilitas bebas internet bagi pengguna XL serta pelanggan XL agar

tidak berpindah ke provider lain.

Iklan XL bebas internetan pertama kali muncul di televisi pada tanggal

4 Februari 2013 (www.xl.co.id/xlbebas). Dalam pembuatan iklan XL bebas

internetan, PT. Excelcomindo Pratama Tbk selaku produsen produk XL

mengeluarkan dana yang cukup besar bersama group band papan atas NOAH

sebagai brand image untuk membantu mendongkrak penjualan XL dan menarik

simpati masyarakat secara luas.

Adapun biaya pembuatan iklan XL versi NOAH sebesar 6 Miliar. Dengan

dana yang dikeluarkan untuk iklan XL bebas internetan yang cukup besar

tersebut. Biaya pembuatan iklan XL tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan

dengan biaya pembuatan iklan telkomsel simpati versi Agnes Monica yang hanya

menghabiskan dana sebesar 4 Miliar, serta biaya pembuatan iklan indosat im3

versi SMS SUKA-SUKA dengan JKT48 sebagai brand ambassadornya hanya

(15)

PT. Excelcomindo Pratama Tbk berharap mampu mendapatkan

keuntungan yang besar dari tingginya penjualan produk XL bebas internetan.

Langkah berani yang dilakukan oleh PT. Excelcomindo Pratama Tbk dalam

mengeluarkan produk XL bebas internet dikarenakan jumlah pengguna data XL

saat ini mencapai sekitar 60% dari total jumlah pelanggan XL sebesar 42,3 juta

orang (http://kalbar.antaranews.com), sedangkan penelitian ini dilakukan di kota

Surabaya dikarenakan jumlah pelanggan XL di kota Surabaya telah mencapai 75

ribu pelanggan, dan memberikan kontribusi 30% dari total pelanggan di east

region (Jawa Timur, Bali dan Lombok) yang berjumlah 240 ribu pelanggan.

(http://www.surabayapost.co.id, Jumat, 18/11/2011 | 11:07 WIB)

Hal inilah yang menjadikan peneliti untuk melakukan penelitian tentang

tingkat keefektifan iklan terbaru XL bebas internet. Pengukuran efektivitas pesan

iklan XL bebas internet dalam penelitian ini menggunakan metode DRM (direct

rating method) menurut Durianto (2003) akan meninjau 5 variabel yaitu:

(1) Tingkat perhatian yaitu seberapa baik iklan XL bebas internet ini menarik

perhatian pemirsa, (2) Tingkat pemahaman yaitu seberapa baik iklan XL bebas

internet ini dapat dimengerti oleh pemirsa (3) Tingkat respon kognitif yaitu

seberapa jelas pesan atau manfaat kontrolnya dari iklan XL bebas internet

(4) Tingkat respon afektif yaitu seberapa efektif daya tarik iklan XL bebas internet

ini terhadap pemirsa (5) Tingkat sikap terhadap iklan yaitu seberapa baik iklan XL

bebas internet ini mengarahkan pemirsa bertindak, melalui metode ini makin

tinggi peringkat sebuah iklan semakin tinggi pula kemungkinan iklan tersebut

(16)

Penelitian ini menekankan tentang pengujian terhadap iklan yang nantinya

yang dapat diketahui bagaimana efek komunikasinya, apakah iklan yang di

keluarkan oleh XL terbaru ini dapat dikatakan efektif sebagai sarana pemberian

informasi mengenai suatu hal yang baru dalam masyarakat. Salah satu metode

pengujian iklan ini adalah dengan Direct Rating Method (DRM) atau disebut juga

Metode Penentuan Peringkat Langsung. Tujuannya adalah mengevaluasi kekuatan

sebuah iklan yang berkaitan dengan kemampuan iklan itu mendapatkan perhatian,

mudah tidaknya iklan tersebut dibaca dengan seksama, mudah untuk dipahami,

kemampuan iklan itu untuk menggugah perasaan dan kempuannya untuk

mempengaruhi perilaku. Melalui metode ini, makin tinggi peringkat sebuah iklan

semakin tinggi pula kemungkinan iklan tersebut efektif (Durianto, 2003:63).

Objek penelitian ini adalah masyarakat Surabaya yang pernah melihat

iklan XL bebas internet versi NOAH yang bertajuk “Rp. 5000 Bebas Internetan 6

Bulan”. Surabaya sendiri merupakan kota metropolis di Indonesia sehingga

merupakan masyarakat heterogen dengan berbagai karakteristik. Alasan lain

peneliti memilih masyarkat Surabaya karena masyarakat Surabaya juga

merupakan salah satu wilayah jangkauan XL.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti akan meneliti lebih lanjut

mengenai “EFEKTIVITAS IKLAN XL BEBAS INTERNET VERSI NOAH

(Studi Deskriptif Kuantitatif Efektivitas Iklan XL Bebas Internet Versi Noah “Rp.

(17)

1.2. Perumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut maka perumusan masalahnya adalah :

“Bagaimanakah efektivitas iklan XL bebas internet versi NOAH “Rp. 5000

Bebas Internetan 6 Bulan” di televisi pada masyarakat Surabaya?”

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas iklan XL bebas

internet versi NOAH “Rp. 5000 Bebas Internetan 6 Bulan” di televisi pada

masyarakat Surabaya diukur dengan Direct Rating Method (DRM).

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Secara Teoritis

Secara akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian

ilmu komunikasi yang menjelaskan keberlakuan teori- teori komunikasi megenai

efektivitas iklan televisi. Selain itu, penelitian ini diharapkan menjadi bahan bagi

penelitian- penelitian selanjutnya.

1.4.2. Secara Pr aktis

Manfaat penelitian ini secara praktis adalah sebagai bahan masukan dan

saran bagi perusahaan PT. XL Axiata Tbk (PT. Excelcomindo Pratama Tbk)

sebagai pengelola kartu prabayar iklan XL bebas internet versi NOAH“Rp. 5000

Bebas Internetan 6 Bulan” di televisi pada masyarakat Surabaya dalam hal ini

(18)

1.4.3 Secara Sosial

Dari hasil penelitian ini masyarakat dapat menggunakan fasilitas yang

telah disediakan sebagai adanya kehadiran media sebagai sumber informasi yang

dipakai perusahaan untuk sarana komunikasi tentang keberadaan produk baru

dengan tujuan membantu masyarakat membandingkan sebuah produk dengan

produk yang lain serta membuat masyarakat lebih konsumtif, artinya iklan lebih

(19)

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang releven dengan penelitian ini adalah penelitian

yang dilakukan oleh:

1. Robby Soetikno, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Kristen Petra Surabaya

2013, dalam Jurnal E-Komunikasi, Vol I. No.3 Tahun 2013, dengan judul

Efektivitas Pesan Iklan Telkomsel “Kartu As Wow Gratis 100x Lipat”

Terhadap Customer Telkomsel Di Surabaya. Penelitian ini bertujuan

mengukur tingkat efektivitas pesan iklan Telkomsel “Kartu As Wow Gratis

100x Lipat” Terhadap Customer Telkomsel Di Surabaya” dengan metode

DRM. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan

kuesioner dan observasi. Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian

ini adalah pemakai di Surabaya yang berusia 15-24 tahun berjumlah 479.966

orang. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Survei. Metode

DRM digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas Pesan Iklan Telkomsel

“Kartu As Wow Gratis 100x Lipat” Terhadap Customer Telkomsel Di

Surabaya”. Dari hasil analisis dan pembahasan, peneliti menarik kesimpulan

bahwa tingkat efektivitas iklan Telkomsel “Kartu AS Wow Gratis 100x

Lipat” tersebut efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai DRM (Direct

rating Method) sebesar 92,05 dimana iklan tersebut pada tabel DRM terletak

(20)

versi “Kartu AS Wow Gratis 100x Lipat” tersebut efektif dalam penyampaian

pesannya kepada pemakai/pengguna. Indikator penentu efektivitas iklan

Telkomsel versi “Kartu AS Wow Gratis 100x Lipat” dapat dilihat dari tingkat

yang lebih tinggi ke rendah yaitu: 1) Tingkat behavior, seberapa baik iklan

tersebut mengarahkan tindakan khalayak untuk berbuat lebih lanjut 2)

Tingkat cognitive, seberapa jelas pesan yang diterima dan manfaatnya 3)

Tingkat affective, seberapa efektif daya tarik pesan iklan. 4) Tingkat

attention, seberapa baik iklan menarik perhatian khalayak. 5) Tingkat

readthrougness, seberapa baik iklan mengarahkan khalayaknya lebih lanjut.

Perbedaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu adalah:

- Penelitian terdahulu, menggunakan objek Iklan Telkomsel “Kartu As Wow

Gratis 100x Lipat.

Persamaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu adalah:

- Penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu, sama- sama mengukur tingkat

efektivitas dan menggunakan analisa DRM (Direct rating Method)

2. Afrian Mukti Ramdani (2008: 111), Program Studi Manajemen, Fakultas

Ekonomi Universitas Gunadarma, dalam Jurnal Ilmu komunikasi, Vol 5,

No 1, Desember 2008, dengan judul Pengukuran Efektivitas Iklan Kartu

Seluler Axis Di Media Televisi Dengan Pendekatan DRM Dan EPIC Model.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas iklan televisi

kartu seluler AXIS versi “Jelang Ramadhan Berkah Blak-Blakan” dengan

metode DRM (Attention, Read Thoroughness, Cognitive, Affection,

(21)

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan

kuesioner dan observasi. Jumlah responden yang berpartisipasi sebanyak 100

mahasiswa. Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

mahasiswa S1 fakultas ekonomi jurusan manajemen angkatan 2007

Universitas Gunadarma. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah

Non-Probability Sampling dengan teknik convenience sampling. Metode

DRM dan EPIC Model digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas iklan

televisi kartu seluler AXIS versi “Jelang Ramadhan Berkah Blak-Blakan”.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan metode DRM, iklan AXIS

termasuk dalam kategori iklan yang baik dengan total skor direct rating

sebesar 76,86. Sedangkan dengan menggunakan metode EPIC Model,

didapatkan hasil bahwa iklan AXIS dalam kategori iklan yang efektif dengan

menghasilkan nilai EPIC rate sebesar 3,76. Berdasarkan hasil kedua metode

tersebut dapat disimpulkan bahwa iklan televisi kartu seluler AXIS versi

“Jelang Ramadhan Berkah Blak-Blakan” tergolong jenis iklan yang efektif.

Perbedaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu adalah:

- Penelitian terdahulu, menggunakan objek Iklan AXIS versi Jelang Ramadhan

Berkah Blak- Blakan, dan menggunakan EPIC Model

Persamaan penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu adalah:

- Penelitian saat ini dengan penelitian terdahulu, sama- sama mengukur tingkat

(22)

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Definisi Efektifitas

Pengertian efektivitas adalah bagaimana penerima melakukan tindakan

sesuai dengan makna yang diinginkan si pengirim (Subiakto, 96:192). Definisi

Efektivitas secara umum (Hardjana, 2000:24) adalah mengerjakan hal-hal yang

benar, membawa hasil, menangani tantangan masa depan, meningkatkan

keuntungan atau laba, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Tolak ukur

efektifitas dalam iklan adalah :

1. Audience coverage (khalayak yang dicapai), untuk melihat keberhasilannya,

meneliti bagaimana kita mampu atau tidak untuk mencapai target khalayak

sasarannya (target audience). Dalam kampanye tersebut jumlah khalayak dan

bagaimana respon atau tanggapan selanjutnya.

2. Audience respons (tanggapan khalayak), bagaimana tanggapan dari khalayak

sasaran dan apakah isi pesan dari iklan tersebut bermanfaat atau tidak bagi

khalayak yang dituju.

3. Communication impact (pengaruh komunikasi), apa pengaruh atau dampak

dari pesan-pesan dalam komunikasi tersebut setelah diekspose keluar

terhadap khalayak sebagai sasaran?

4. Proses of influence (proses pengaruh), apakah proses dari kegiatan

komunikasi tersebut secara efektif dapat mempengaruhi sasaran? Bagaimana

pesan-pesan disampaikan melalui media komunikasi dan mekanisme

persuasif tersebut mampu mempengaruhi individu atau kelompok. Bagaimana

(23)

perilaku, dukungan, memotivasi, atau dapat membentuk opini publik sebagai

khalayak sasaran baik secara positif atau negatif (Ishak, Koh siew leng,

1991:136)) .

2.2.2. Efektivitas Komunikasi

Efektivitas komunikasi berbicara mengenai apakah komunikasi yang

dilakukan itu efektif atau tidak. Secara sederhana, komunikasi dikatakan efektif

bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya. Pengertian tersebut

hanya merupakan salah satu ukuran bagi efektivitas komunikasi. Secara umum,

komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disampaikan dan dimaksudkan

oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan

dipahami oleh penerima (Mulyana, 2000:22-23).

Iklan yang efektif harus sukses dalam dua level, yaitu pertama,

komunikasi, dan kedua, mencapai target pemasaran (Lane; Russell, 2000:17).

Dalam penelitian ini yang ditekankan adalah level pertama, yaitu sukses dalam

level komunikasi. Wilbur Schramm dalam karyanya yang terkenal, yaitu “How

Communication Works”, mengemukakan apa yang dinamakan the condition of

success in communication, yang secara gamblang diringkas sebagai berikut:

1. Pesan harus dirancangkan dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat

menarik perhatian sasaran yang dimaksud.

2. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang

sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama dapat

(24)

3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan, dan

menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan itu.

4. Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan yang

layak bagi situasi kelompok tempat komunikan berada pada saat ia

digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki (Effendy,

2002:32).

Wells, Moriarty dan Burnett (2006:98) juga menerangkan bahwa iklan yang

efektif adalah iklan yang mampu bekerja dan memiliki pengaruh, dalam arti

mampu mengirimkan pesan yang dapat membangkitkan hasrat dan memotivasi

konsumen, untuk merespon seperti yang diharapkan pengiklan.

2.3. Media Televisi

Televisi yang memiliki kemampuan untuk menjangkau tiap kategori

demografi, merupakan sarana utama yang dapat menyajikan gambar secara nyata,

khususnya begi pengiklan yang memiliki skala target nasional. Menurut

W.Ronald Lane dan J.Thomas Russel (2000:98-99) Karakteristik televisi

diantaranya :

1. Televisi merupakan sarana yang sangat kreatif dan fleksibel, yang dapat

digunakan untuk membuktikan sebuah pesan iklan. Terutama, iklan televisi

yang menunjukkan demonstrasi sebuah produk.

2. Meskipun memakan biaya tinggi, namun televisi sangat efisien bagi para

pengiklan yang ingin meraih banyak pemirsa.

(25)

4. Iklan televisi menawarkan gengsi atau kehormatan bagi para pengiklan dan

pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan dengan media lain (Seperti majalah,

koran, radio dan lain lain).

5. Pesan iklan televisi mudah dilupakan dibenak pemirsa jika tanpa pengulangan

tayangannya.

6. Pemirsa televisi terpecah-pecah dengan adanya berbagai stasiun televisi.

7. Iklan yang ditayangkan selama 15 detik, biasanya sulit untuk mencapai

komunikasi yang efektif.

8. Adanya remote control dan mudahnya penggantian saluran membuat pemirsa

meluangkan sedikit waktu untuk melihat iklan.

2.4. Iklan

2.4.1 Definisi Iklan

Kata iklan berasal dari bahasa Yunani, yang artinya kurang lebih adalah

‘menggiring orang dari gagasan’ (Durianto, 2003:1). Iklan adalah bentuk

komunikasi tidak langsung, yang didasari pada informasi tentang keunggulan atau

keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan

rasa menyenangkan yang akan merubah pikiran seseorang untuk melakukan

pembelian. AMA (American Marketing Association) mendefinisikan iklan sebagai

berikut :

“Any paid form of non personal presentation and promotion of ideas,

(26)

Sedangkan periklanan menurut Institusi Periklanan Inggris adalah

periklanan merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang

diarahkan kepada konsumen yang palin potensial atas produk barang atau jasa

tertentu dengan biaya paling ekonomis (Jefkins, Frank :1997).

Definisi standar dari periklanan menurut Sutisna mengandung enam

elemen yaitu :

1. Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar, walaupun beberapa

bentuk periklanan seperti iklan layanan masyarakat, biasanya menggunakan

ruang khusus yang gratis atau walaupun harus membayar tapi dengan jumlah

yang sedikit.

2. Dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor. Iklan bukan hanya

menampilkan pesan mengenai kehebata produk yang ditawarkan, tapi juga

sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai perusahaan

yang memproduksi produk yang ditawarkan.

3. Periklanan merupakan upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen.

4. Periklanan memerlukan elemen media massa sebagai media penyampai

pesan.

5. Periklanan memiliki sifat non personal (bukan pribadi).

6. Audience. Tanpa identifikasi audience yang jelas, pesan yang disampaikan

dalam iklan tidak akan efektif. (Sutisna, 2003:275-276).

Dari berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa periklanan

merupakan bentuk komunikasi non personal yang dibayar dari sponsor yang

(27)

mempengaruhi audience sasaran. Pembuatan program periklanan harus selalu

dimulai dengan mengidentifikasi pasar sasaran dan motif pembeli. Kemudian

membuat lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan, yang

disebut lima (Kotler 2000:578).

1. Mission (misi) : Apakah tujuan periklanan ?

2. Money (uang) : Berapa banyak yang dapat dibelanjakan ?

3. Messsage (pesan) : Pesan apa yang harus disampaikan ?

4. Media (media) : Media yang akan digunakan ?

5. Measurement (pengukuran) : Bagaimana mengevaluasi hasilnya ?

2.4.2. Manfaat dan Fungsi Iklan

Kasali menyebutkan ada beberapa manfaat iklan, antara lain :

1. Iklan memperluas alternatif bagi konsumen.

2. Iklan membantu produsen menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya.

3. Iklan membuat orang kenal, ingat dan percaya. (Kasali, 1995:16)

Seiring dengan menjamurnya penawaran-penawaran produk melalui

berbagai media maka konsumen juga dipermudah dalam memilih produk sesuai

dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan. Konsumen juga dengan mudah dapat

membandingkan dan memilih produk mana yang lebih baik. Melalui iklan

penyampaian pesan dalam penjualan produk akan efektif. Jika sebelumnya

produsen menjual produknya dengan cara bertatap muka secara dan terbatas oleh

(28)

mengenai manfaat, memperlihatkan fisik produk, harga dan sebagainya di

berbagai media.

Terlebih lagi jika dalam tayangan iklan tersebut ditampilkan tokoh yang

sudah dikenal oleh public, sehingga public akan semakin percaya kepada

perusahaan. Dari tayangan-tayangan iklan juga konsumen akan mengenal,

meningkat dan mempercayai produk yang akhirnya pada perusahaan. Hal tersebut

dapat dilakukan dengan menayangkan iklan dengan frekuensi berulang-ulang,

sehingga konsumen akan cepat mengenal, selalu ingat dan percaya pada produk.

Wright dkk (1978) mengatakan, dalam periklanan mencangkup beberapa

fungsi, antara lain :

1. Fungsi pemasaran.

2. Fungsi komunikasi.

3. Fungsi pendidikan.

4. Fungsi ekonomi.

5. Fungsi sosial.

6. Fungsi yang ditinjau dari segi komunikator dan komunikasi. (Wright

dalam Liliweri, 1992:52).

Fungsi pemasaran dalam periklanan merupakan fungsi untuk memenuhi

permintaan para pemakai ataupun pembeli terhadap barang ataupun jasa serta

gagasan yang diperlukannya. Melihat fungsi komunikasi dalam periklanan, semua

bentuk iklan memang mengkomunikasikan melalui media berbagai pesan dari

komunikator kepada komunikan yang terdiri atas sekelompok orang yang menjadi

(29)

ditonton dan didengarnya dan hal tersebut yang menjadikan periklanan memiliki

fungsi pendidikan.

Selain itu iklan mengakibatkan orang semakin tahu tentang produk-produk

tertentu, pelayanan jasa maupun kebutuhan serta memperluas ide-ide yang

mendatangkan keuntungan financial, tentunya hal ini pula yang menyebabkan

dalam periklanan mencangkup fungsi ekonomi. Sifat manusia yang ingin terus

maju dan menjadi lebih baik dalam iklan juga memiliki fungsi sosial yang

membantu menggerakan sesuatu perubahan standar hidup yang ditentukan oleh

kebutuhan manusia di seluruh dunia. Jika fungsi periklanan ditinjau dari segi

komunikator dan komunikan terdiri dari menambah frekuensi penggunaanya,

menambah frekuensi penggantian benda yang sama, menambah volume

pembelian dari barang atau jasa yang dianjurkan, menambah dan memperluas

musim penggunaan barang atau jasa.

2.4.3. Tujuan Kegiatan Periklanan

Tujuan periklanan dapat digolongkan menurut sasarannya. Menurut

Kotler, 2002:659 mengatakan bahwasannya iklan itu untuk membujuk,

menginformasikan, atau mengingatkan. Periklanan informatve biasanya dilakukan

secara besar-besaran pada tahap awal suatu jenis produk. Tujuannya adalah

membentuk permintaan pertama. Periklanan persuasive penting dilakukan pada

tahap kompetitif tujuannya adalah membentuk permintaan selektif untuk suatu

(30)

Beberapa periklanan persuasive telah beralih ke jenis periklanan

perbandingan (comparative advertising), yang berusaha untuk membentuk

keunggulan suatu merek melalui perbandingan atribut specifik dengan satu atau

beberapa merek lain di jenis produk yang sama. Iklan pengingat sangat penting

untuk produk yang sudah mapan. Bentuk iklan ini adalah iklan penguat

(reinforcement advertising), yang bertujuan meyakinkan pembeli.

2.4.4. Strategi Kreatif Pesan Iklan

Strategi kreatif pesan iklan diuraikan oleh Durianto, Sugiarto, Widjaja dan

Supratikno (2003:25-30) dengan menjawab pertanyaan “How to Say?”, yaitu:

1. Directed Creativity

Ada 14 teknik visual untuk membuat naskah iklan yang dramatis:

a. Spokes Person

Suatu teknik dimana seseorang langsung berhadapan dengan kamera yang

menampilkan pandangan atau pendapatnya tentang suatu produk kepada

pemirsa televisi.

b. Testimonial

Teknik ini menggunakan artis untuk memberikan kesaksiannya setelah

menggunakan suatu produk.

c. Demonstrasi

Periklanan yang memakai teknik ini menggambarkan dengan jelas

(31)

d. Close-ups

Teknik ini membuat gambar menjadi lebih hidup. Contohnya adalah

foto-foto gambar makanan yang ada di restoran-restoran, menggambarkan

kelezatan makanan yang ada dalam foto tersebut, sehingga terlihat lebih

indah dan lebih menyentuh jika dibandingkan dengan aslinya.

e. Story line

Iklan yang menggunakan teknik ini dibuat dalam bentuk cerita-cerita yang

pendek untuk menggambarkan merek yang diiklankan.

f. Direct Product Comparison

Teknik ini langsung membandingkan merek suatu produk dengan merek

pesaingnya. Di Indonesia, teknik ini tidak bisa dibandingkan langsung

antara dua merek yang sedang bertarung di pasaran. Biasanya, pemasar

mnyiasatinya dengan membuat perbandingan tidak langsung, seperti

dengan menutup merek dari pesaing yang akan dibandingkan.

g. Humor

Banyak iklan yang menggunakan teknik humor karena biasanya lebih

diingat oleh konsumen.

h. Slice of Life

Iklan dengan teknik ini menggambarkan penggalan kehidupan sehari-hari

yang dimulai dengan adanya masalah, pemecahan masalah, dan diakhiri

(32)

i. Customer Interview

Iklan dengan teknik ini berisi wawancara langsung dengan konsumen yang

telah mengkonsumsi produk yang telah diiklankan. Biasanya konsumen

akan menceritakan pengalaman dan pendapatnya tentang produk tersebut.

j. Vignettes dan Situations

Dalam iklan dengan teknik ini digambarkan seseorang yang sedang

menikmati suatu produk diiringi dengan iringan musik.

k. Animation

Iklan yang menggunakan teknik animasi biasanya ditujukan kepada

konsumen anak-anak.

l. Stop Motion

Jika teknik story line berisi sebuah cerita pendek, maka stop motion berisi

rangkaian cerita bersambung.

m.Rotoscope

Teknik ini menggabungkan animasi dengan gambar nyata.

n. Combination

Gabungan dari teknik-teknik diatas.

2. Brand Name Exposure

Brand name exposure terdiri dari individual brand name dan company brand

name. Brand name exposure dianggap penting karena bertujuan untuk

mendapatkan brand awareness. Bila terlalu mementingkan kreativitas iklan

(33)

karena konsumen hanya mengingat kreativitas iklannya (misal, slogannya

saja) tanpa mengingat mereknya.

3. Positive Uniquness

Iklan yang efektif harus mampu menciptakan asosiasi yang positif. Jangan

sampai setelah melihat iklan, konsumen justru memiliki asosiasi yang salah

atau bahkan melenceng. Pertama-tama iklan harus efektif, kemudian kreatif,

karena akan sia-sia bila iklan dibuat sekreatif mungkin namun tidak efektif

mencapai konsumen sasarannya.

4. Selectivity

Berkaitan dengan:

a. Message sources, yaitu pembawa pesan / product endorser yang terbagi

menjadi: expertise (ahli), trustworthness (dipercaya), dan likability

(disukai). Karakter product endorser harus disesuaikan dengan jenis

produk yang akan diiklankan.

b. Message structure

Yang perlu diperhatikan, antara lain:

1. Conclusion maksudnya: apakah perusahaan yang akan membuat

kesimpulan sendiri atau menyerahkan langsung kepada konsumen

untuk menarik kesimpulan.

2. Argumentation, maksudnya: menjelaskan argumen yang mendukung

pesan perusahaan. Umumnya, jenis iklan argumentasi hanya one side,

artinya mendukung dengan argumentasi yang baik. Tetapi, ada juga

(34)

3. Climax, maksudnya: apakah suatu iklan akan menampilkan klimaks di

depan atau di akhir iklan. Pada umumnya, iklan yang banyak dibuat

memunculkan klimaks di akhir.

c. Message content

Isi pesan dalam iklan biasanya terdiri dari:

1. Rational, untuk industry goods.

2. Emotional, untuk consumer goods.

3. Moral, untuk iklan layanan masyarakat.

2.5. Televisi Sebagai Media Periklanan

2.5.1. Televisi

Televisi yang memiliki kemampuan untuk menjangkau tiap kategori

demografi, merupakan sarana utama yang dapat menyajikan gambar secara nyata,

khususnya bagi pengiklanan yang memiliki skala targetnasional. Menurut W.

Ronald Lane dan J. Thomas Russel (2000: 98-99), karakteristik iklan di televisi

diantaranya adalah :

1. Televisi merupakan sarana target yang sangat kreatif dan fleksibel, yang

dapat digunakan untuk membuktikan sebuah pesan iklan. Terutama,iklan

televisi menunjukkan demonstrasi sebuah produk.

2. Meskipun memakan biaya tinggi, namun televisi sangat efesien bagi para

pengiklan yang ingin meraih banyak pemirsa.

3. Dapat disiarkan secara tersegmen, sesuai antara target segmen produk dengan

(35)

4. Iklan televisi menawarkan gengsi atau kehormatan bagi para pengiklan dan

pengaruh lebih tinggi dibandingkan dengan media lain (seperti majalah,

koran, radio dan lain-lain).

5. Pesan iklan televisi mudah dilupakan dibenak pemirsa jika tanpa pengulangan

penayangannya.

6. Pemirsa televisi terpecah-pecah dengan adanya berbagai stasiun televisi.

7. Iklan yang ditayangkan selama 15 detik, biasanya sulit untuk mencapai

komunikasi yang efektif.

8. Adanya remote control dan mudahnya penggantian saluran membuat

pemirsa.

2.5.2. Kekuatan Televisi

Televisi mampu menjawab kesan auatudio visual yang mampu dihadirkan.

Media ini merupakan media massa secara langsung, cepat dan mempunyai efek

yang sangat kuat atas khalayak massa, juga sebagai saluran komunikasi yang

digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan berupa informasi dan hiburan.

Secara kontekstual televisi memiliki tiga kekuatan (Sumartono, 2002:06-07).

1. Efisiensi Biaya. Banyak periklanan yang memandang televisi sebagai media

yang paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komersialnnya. Salah

satu keunggulannya adalah kemampuan menjangkau khalayak sasaran yang

sangat luas. Jutaan orang menonton televisi secara teratur. Televisi selain

(36)

dapa menjangkau khalayak yang tidak terjangkau oleh media cetak.

Jangkauan ini menimbulkan efisiensi biaya untuk menjangkau setiap kendala.

2. Dampak yang Kuat. Keunggulan lainnya adalah kemampuannya

menimbulakan dampak yang kuat terhadap konsumen, dengan tekanan pada

sekaligus dua indera yaitu penglihatan dan pendengaran. Televisi juga

mampu menciptakan kelenturan bagi pekerjaan-pekerjaan yang kreatif

dengan mengkombinasikan gerakan, kecantikan, suara, warna, drama, dan

humor.

3. Pengaruh yang Kuat. Televisi mempunyai kemampuan untuk

mempengaruhi persepsi khalayak sasaran. Kebanyakan masyarakat

meluangkan waktunya didepan televisi, sebagai sumber berita, hiburan, dan

sarana pendidikan. Kebanyakan calon pembeli lebih “percaya” pada

perusahaan yang mengiklankan produknya ditelevisi dari pada yang tidak

sama sekali. Inilah adalah cerminan bonafiditas pengiklan.

2.5.3. Elemen Iklan Televisi

Beberapa elemen bekerja sama untuk menciptakan peran visual dari iklan

televisi menurut Wells, Burnett, dan Moriarty (1989:391-394) :

1. Video. Video mengandung rangkaian adegan yang berupa gerakan, kata-kata

yang menceritakan tentang produk perusahaan. Video berperan penting untuk

memberikan informasi kepada konsumen tentang seluk-beluk produk

(37)

2. Audio. Iklan televisi merupakan media audio visual sehingga elemen radio

menjadi penting.

3. Talent. Iklan audio visual di televisi selain menggunakan kata-kata juga

menggunakan cerita atau gambar agar menarik. Untuk iklan televisi

membutuhkan orang untuk memerankan adegan dalam iklan yang

menggunakan manfaat, cara kerja, kehebatan dan lainnya dari produk agar

konsumen mendapati informasi cukup.

4. Pr ops. Di dalam setiap iklan termasuk televisi, hal yang paling penting

adalah produknya. Adegan cerita, figure, musik dan lainnya yang digunakan

hanyalah sebagai pendukung dalam menunjukkan keunggulan produk.

5. Setting. Dalam iklan televisi memerlukan tempat untuk pengambilan adegan.

Pemilihan tempat harus sesuai dengan jalannya cerita sehingga iklan menarik,

6. Lighting. Pencahayaan dalam iklan haruslah tepat untuk membuat iklan

dapat menarik untuk dilihat. Selain itu penggunaan kombinasi harus baik

untuk menarik konsumen akan iklan suatu produk.

7. Pacing. Setiap konsumen memiliki daya tangkap yang berbeda, karena itu,

pengiklan harus merancang iklannya sedemikian rupa agar iklan itu mudah

dimengerti dan ditangkap dengan baik oleh konsumen. Pacing adalah bagian

(38)

2.6. Direct Rating Method (DRM)

2.6.1 Pengertian Direct Rating Method (DRM)

Penelitian efek komunikasi dapat menggunakan alat ukur yang disebut

Direct Rating Method (DRM). Direct Rating Method disebut juga metode

penentuan peringkat langsung untung menguji pesan iklan. Dalam metode ini,

semakin tinggi peringkat yang diperoleh sebuah iklan maka semakin tinggi pula

kemungkinan iklan tersebut efektif (Durianto, dkk 2003: 63). Oleh karena itu,

peneliti menggangap bahwa metode Direct Rating Method (DRM) sangat sesuai

dengan susuai digunakan dalam penelitian ini karena dengan mengetahui

peringkat masing-masing iklan dengan mudah pula diketahui perbedaan tingkat

efektivitasnya.

2.6.2 Fungsi Direct Rating Method (DRM)

Menurut (Durianto, dkk, 2003: 63), Direct Rating Method (DRM)

digunakan untuk mengevaluasi kekuatan sebuah iklan terhadap dampak

komunikasi yang berkaitan dengan: (1) Kemampuan iklan itu untuk mendapat

perhatian,(2) Mudah tidaknya iklan tersebut dibaca secara seksama,(3) Mudah

tidaknya iklan itu dipahamai,(4) Kemampuan iklan itu untuk menggugah

perasaan, dan (5) Kemampuan iklan itu untuk mempengaruhi perilaku.

2.6.3 Tujuan Direct Rating Method (DRM)

Menurut (Durianto, dkk, 2003:80) penelitian dengan menggunakan DRM

(39)

a. Tingkat attention, seberapa baik iklan ini menarik perhatian pemirsa.

b. Tingkat readthrougness, seberapa baik iklan ini dapat dimengerti pemirsa.

c. Tingkat cognitive, seberapa jelas pesan atau manfaat kontrolnya.

d. Tingkat affection, seberapa efektif daya tarik iklan ini terhadap pemirsa.

e. Tingkat behaviour, seberapa baik iklan ini mengarahkan pemirsa bertindak.

2.6.4. Variabel Direct Rating Method (DRM)

Ada lima variabel yang digunakan dalam Direct Rating Method (DRM)

atau Metode Penentuan Peringkat Langsung, yaitu:

1. Perhatian (Attention)

Perhatian didiefinisikan sebagai alokasi kapasitas pemrosesan untuk stimulus

yang baru masuk. Kapasaitas merupakan sumber daya yang terbatas, maka

konsumen sangat selektif mengalokasi perhatian mereka. Ini berarti, saat

sejumlah stimulus menerima perhatian melalui salah satu indera maka yang

lain akan diabaikan (Durianto, dkk, 2003: 64).

Faktor-faktor yang menentukan perhatian dibagi menjadi dua, yaitu

determinan pribadi dan determinan stimulus.

a. Determinan Pribadi

Determinan pribadi merujuk pada karakteristik individu yang

mempengaruhi perhatian. Yang termasuk dalam determinan pribadi, yaitu:

1. Kebutuhan

Kebutuhan seseorang sangat mempengaruhi penerimaan stimulus

(40)

pemirsanya sudah dimotivasi oleh kebutuhannnya sendiri (Durianto,

dkk, 2003:64). Kebutuhan adalah dasar pendorong bagi kita untuk

melakukan sesuatu (Wells, Burnett; Moriarty,2006:135).

2. Sikap

Menurut teori konsistensi kognitif orang berusaha mempertahankan

seperangkat kepercayaan dan sikap yang konsisten. Orang dipandang

mau menerima informasi yang mempertahankan atau meningkatkan

konsistensi, dan cenderung menghindari informasi menantang

kepercayaan atau sikap mereka. Dalam hal ini, sikap positif menjadi

fasilitator jika konsumen memiliki perasaan mendukung kearah

produk, tetapi sikap bisa berperan sebagai penghalang saat

konsumen bersikap negatif.

3. Tingkat adaptasi

Diukur apakah iklan ini memiliki pengulangan tayangan yang sudah

cukup (tidak terlalu sering dan tidak terlalu jarang) dan apakah ide

cerita dari iklan ini adalah ide cerita yang kreatif (lain dari pada yang

lainnya).

4. Rentang perhatian

Diukur dari apakah durasi tayang dari iklan ini sudah cukup dan

dapat membuat penonton atau responden fokus pada iklan tersebut.

b. Determinan Stimulus

Sifat fisik dan aktual suatu stimulus memainkan peranan yang signifikan

(41)

1. Ukuran

Diukur apakah gambar XL bebas internet Versi NOAH “Rp. 5000

Bebas Internetan 6 Bulan” Di Televisi (Studi Deskriptif Kuantitatif

Pada Masyarakat Surabaya) terlihat jelas.

2. Warna

Diukur apakah komposisi warnanya yang digunakan serasi dan enak

dipandang.

3. Intensitas

Diukur apakah kreatifitas ide cerita iklannya dapat menarik perhatian

4. Kontras

Diukur apakah ide cerita dengan elemen iklan ditelevisi

(adegan,suara, kata-kata, setting, pencahayaan) sudah sesuai

5. Posisi

Diukur apakah iklan iklan ditayangkan pada program acara yang

sesuai dengan target konsumennya

6. Gerakan

Diukur apakah gerakan gambarnya enak dilihat.

7. Kebaruan

Diukur apakah sesuatu yang baru, yang dapat ditampilkan iklan

produk tersebut menarik perhatian.

8. Stimulus pemikat perhatian yang “dipelajari”

Diukur apakah pemikat perhatian yang menjadi ciri khas iklan itu

(42)

9. Juru bicara yang menarik\

Diukur apakah model iklan itu sesuai dan menarik perhatian

2. Pemahaman (Readthrougness)

Pemahaman berkaitan dengan penafsiran suatu stimulus. Makna suatu

stimulus bergantung pada bagaimana suatu stimulus dikategorikan dan

diuraikan dengan pengetahuan yang sudah ada.

Faktor-faktor yang menentukan pemahaman (readthrougness) dibagi menjadi

empat, yaitu kategori stimulus, elaborasi stimulus, determinan pribadi dan

determinan stimulus.

a. Kategori Stimulus

Kategori stimulus mengakibatkan penggolongan suatu stimulus dengan

menggunakan konsep yang tersimpan dalam ingatan. Tindakan

mempengaruhi kategori stimulus sangat penting iklan berupaya meluaskan

daya tarik produk dengan mendorong konsumen untuk menggunakan

beberapa kategori stimulus selama proses kategorisasi.

b. Elaborasi Stimulus

Elaborasi mengacu pada banyaknya integrasi informasi yang baru dan

pengetahuan yang sudah tersimpan dalam ingatan. Pencitraan (imaginary)

juga termasuk elaborasi stimulus. Pencitraan adalah suatu proses dimana

informasi dari pengalaman indra digambarkan dalam ingatan kerja.

c. Determinan pribadi

Determinan pribadi merujuk pada karakteristik individu yang

(43)

1. Motivasi

Motivasi seseorang juga akan mempengaruhi pemahaman. Jika suatu

stimulus dirasa relevan bagi dirinya, yaitu stimulus itu memiliki

kegunaan untuk memenuhi kebutuhan, maka pemrosesan lebih teliti

terjadi. Konsumen termotivasi, akan terlibat pada pemikiran yang

lebih banyak, tidak hanya sifat pelaksanaan iklan juga terhadap

produknya. Misalnya, pemikiran keuntungan mememiliki produk,

dan lain-lain. Jika sebaliknya, maka stimulus itu akan diproses secara

dangkal.

2. Pengetahuan dan perangkat harapan

Pengetahuan dan harapan yang tersimpan dalam ingatan merupakan

determinan utama dalam pemahaman. Pengetahuan dan harapan

dapat meningkatkan kemampuan konsumen.

d. Determinan Stimulus

Sifat fisik dan aktual suatu stimulus memainkan peranan yang signifikan

terhadap penafsiran stimulus. Yang termasuk determinan stimulus, yaitu:

1. Lingustik

Temuan para ahli psikolingustik untuk mengerti dan meningkatkan

pemahaman pesan, diantaranya kata-kata yang sering digunakan

dalam bahasa sehari-hari akan lebih mudah dipahami dan diingat,

kata-kata negatif akan menurunkan citra merek yang dipasarkan,

potensi kesalahpahaman akan lebih besar jika menggunakan kalimat

(44)

2. Konteks

Konteks atau situasi sekeliling terjadinya suatu stimulus akan

berpengaruh pada pemahaman (Durianto, dkk, 2003: 68).

3. Respon Kognitif

Variabel respon kognitif berbeda dengan variabel perhatian. Pada variabel

perhatian dihubungkan dengan respon pasif, tetapi variabel respon kognitif

merupakan respon aktif dari komunikan (Wells; Burnett; Moriarty, 1989:197).

Fakta menunjukkan bahwa pemahaman pesan tidak sama dengan penerimaan

pesan. Suatu peneliti menunjukkan bahwa penerimaan sangat terkait dengan

pikiran yang muncul selama tahap pemahaman. Fenomena inilah yang disebut

respon kognitif. Respon kognitif merupakan pelengkap pada pengukuran sikap

standar dalam mengevaluasi keefektifan komunikasi. Pengukuran sikap standar

dapat menyikapi apakah suatu komunikasi meninggalkan kesan yang

menguntungkan atau tidak pada pemirsa (Durianto, dkk, 2003: 72-73). Kesan

tersebut terbagi dalam 3 kategori, yaitu :

1. Kesan terhadap produk atau pesan (product or message thoughts).

Support arguments atau argumen yang positif akan terbentuk jika khalayak

tidak percaya maka akan terbentuk counterarguments, atau argumen yang

negatif mengenai produk ataupun pesannya.

2. Kesan terhadap sumber pesan (source-oriented thoughts).

Sumber pesan yaitu, model, bintang iklan, ataupun perusahaan pengiklanan

menentukan apakah pesan iklan tersebut diterima baik atau tidak. Source

(45)

khalayak memiliki stetotipe (pandangan buruk) terhadap sumber iklan.

Namun, sumber pesan yang disukai, source bolster, akan memudahkan

khalayak menerima pesan dengan baik.

3. Kesan terhadap daya tarik iklan (ad execution thoughts).

Pertama, ad execution-related thoughts, berarti kreatifitas iklan, kualitas efek

visual, warna, suara atau musiknya berpengaruh pada brand. Kedua, Atitude

toward the ad, artinya reaksi suka atau tidak suka pada iklan akan berdampak

pada perilaku pembelian (Belch, 2004: 157).

4. Respon Afektif

Respon afektif menggambarkan perasaan dan emosi yang dihasilkan sebuah

stimulus (Durianto,dkk, 2003: 73). Variasi tanggapan afektif dapat berupa

penilaian positif, negatif, menyenagkan atau tidak menyenangkan (Durianto,

dkk, 2003: 87). Respon afektif berupa suka atau tidak suka. Sedangkan yang

mengarah pada level yang lebih kuat seperti:

1. Hasrat (desire)

Keinginan (wants) digambarkan sebagai hal yang banyak dipengaruhi oleh

hasrat. “Aku menginginkan sesuatu” menyatakan secara tidak langsung

bertanya hasrat. Hasrat didasarkan pada harapan (wishes) dan perasaan

sangat membutuhkan (cravings) (Wells; Burnett; Moriary, 2006:109).

Iklan yang berisi pesan emosional harus dapat membangkitkan hasrat

(46)

2. Preferensi (preference)

Konsumen yang memiliki keinginan atau hasrat untuk membeli belum

tentu akan langsung membeli produk yang ditawarkan pengiklan karena

ada begitu banyak pilihan produk merek lain. Oleh karena itu, dalam hal

inilah pentingnya membangun preferensi konsumen. Pengiklan perlu

menekankan mutu, nilai, daya guna dan ciri lainnya yang menyagkut

kelebihan produk.

3. Pendirian (conviction)

Pendirian artinya konsumen yakin terhadap pesan iklan yang akan menjadi

kenyataan (Wells; Burnett; Moriarty, 2006: 114). Tahap ini merupakan

tahap respon afektif yang paling kuat dimana pembeli merasa yakin

dengan pasti bahwa tindakannya jika membeli produk tersebut merupakan

tindakan yang tepat. Hal ini mengarahkan pada respon behavior yang

diharapkan pengiklan.

5. Sikap terhadap iklan

Sikap konsumen terhadap suatu iklan dapat berpengaruh signifikan bagi

pembentukan sikap konsumen yang mendukung terhadap produk yang

diiklankan. Jika iklan disukai maka konsumen juga menunjukan sikap positif

terhadap produk. Jika tidak, maka akan menurunkan evaluasi produk dari sisi

(47)

2.7. Kerangka Berpikir

Persaingan usaha operator seluler saat ini di Indonesia sangat ketat, perang

iklan antar provider di Indonesia semakin memanas sehingga banyak operator

seluler menawarkan berbagai macam keuntungan. Persaingan yang ketat dan

keras menuntut kreatifitas dalam pentarifan dan paket promo layanan yang

ditawarkan kepada pelanggan. Promosi besar-besaran dilakukan, banyak provider

yang menawarkan berbagai program sosial network khususnya facebook murah

dan gratis, telpon, dan sms murah. Iklan ditelevisi sebagai media komunikasi

massa yang ditunjukan untuk memberikan informasi sebuah produk atau objek

tertentu.

PT. XL Axiata Tbk (PT. Excelcomindo Pratama Tbk) sebagai pengelola

kartu prabayar XL akhirnya makin agresif dalam menawarkan program bebas

internet. Setidaknya terlihat dalam program kartu perdana XL Bebas Internet,

produk kartu perdana ini baru pertama kali dikeluarkan oleh XL. Selama ini XL

membidik segmen low end dan berjiwa muda yang tidak lepas dari pertimbangan

dalam melihat trend kedepan sekaligus mengakomodir peluang pasar yang

dirasakan masih sangat luas dikalangan anak muda sebagai segmen yang paling

sering up date pada social network yang mereka miliki.

Hingga saat ini iklan masih menjadi sarana yang tepat dalam menunjang

aktivitas pemasaran perusahaan karena dengan berkomunikasi melalui iklan

beberapa tujuan bisa dicapai, seperti awarness, salaes, dan image suatu produk

ataupun jasa. Iklan adalah usaha untuk mempengaruhi konsumen dalam bentuk

(48)

masyarakat luas dan secara tidak langsung. Dalam membuat suatu iklan

diperlukan kreativitas agar iklan tersebut dapat menarik perhatian dari masyarakat

yang melihatnya. Menurut (Durianto, dkk, 2003) iklan yang efektif adalah iklan

yang terpatri secara mendalam dalam benak konsumen, dan konsumen

mencermatinya dengan sudut pandang yang benar. Menurut Kasali , periklanan

bertujuan untuk menanamkan informasi ataupun mengembangkan sikap maupun

mengharapkan suatu tindakan yang mennguntungkan bagi pengiklan (Kasali,

1992: 51). Oleh karena itu penting untuk membuat suatu iklan yang efektif, agar

pesan yang terdapat dalam iklan tersebut dapat tepat pada khalayak sasaran.

Iklan adalah usaha untuk mempengaruhi konsumen dalam bentuk tulisan,

gambar, suara, atau kombinasi dari semuanya itu diarahkan pada masyarakat luas

dan secara tidak langsung. Dalam mempromosikan program XL bebas internet

pihak excelcomindo pun menggunakan media televisi sebagai media komunikasi

untuk menginformasikan produknya kepada konsumen. Hal ini mengingat

kelebihan televisi yang dapat memberikan dampak atau pengaruh yang kuat ke

khalayak luas. Iklan bersifat persuasif untuk merangsang, membujuk khalayak

untuk membeli dan tetap mengkonsumsi produk tertentu.

Tingkat efektivitas iklan akan diukur dengan menggunakan metode Direct

Rating Method (DRM). Perhatian (attention) seseorang dipengaruhi oleh dua

determinan, yaitu determinan pribadi dan determinan stimulus. Determinan

pribadi adalah kebutuhan/motivasi, sikap, tingkat adptasi dan rentang perhatian.

Sedangkan determinan stimuluas adalah ukuran, warna, intensitas, kontras, posisi,

(49)

yang menarik. Pemahaman (readthrougness) terkait pada stimulus, elaborasi

stimulus, determinan pribadi dalam pemahaman dan determinan stimulus dalam

pemahaman. Kategori stimulus berhubungan dengan penggolongan stimulus itu

pada proses kategorisasi. Elaborasi stimulus berkaitan dengan pencitraan.

Determinan pribadi dalam pemahaman dipengaruhi motivasi, pengetahuan,dan

persepsi.determinan stimulus dalam pemahaman dapat dilihat dari linguistik dan

konteks pesan iklan tersebut. Disamping itu, iklan yang efektif harus dapat

menimbulkan respon afektif dan kognitif. Respon kognitif sesorang dapat dilihat

dari kesan terhadap produk (XL bebas internet) atau pesan, kesan terhadap sumber

pesan, kesan terhadap daya tarik iklan. Sedangkan, respon afektif konsumen

diukur dari hasrat (desire), preferensi (preference) dan pendirian (conviction). Hal

terakhir dimensi yang dipakai untuk mengetahui tingkat efektivitas iklan XL

bebas internet adalah sikap masyarakat Surabaya yang pernah melihat tersebut.

Semua faktor-faktor yang mempengaruhi variabel akan diukur untuk

menghasilkan tingkat efektivitas iklan yang akhirnya dapat ditarik kesimpulan

(50)

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pemikiran

Iklan XLbebas inter net ver si NOAHSebagai sar ana Komunikasi PT Excelcomindo Tbk

Sosialisasi Pr omo XLbebas inter net ver si NOAHMelalui Media Televisi

Elemen Iklan Televisi

Pengujian tingkat efektivitas iklan XLbebas inter net ver si NOAHMenggunakan Direct Rating Method

(51)

3.1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode survey (kuantitatif), metode ini

membedah dan menguliti serta mengenal masalah dan juga mendapatkan

pembenaran terhadap keadaan dan praktek yang sedang berlangsung (Nasir,

1988:65).

3.2. Definisi Konseptual

3.2.1. Efektivitas Iklan

Efektivitas iklan adalah tingkat keeftivan sebuah iklan baik pada

konsumen ataupun masyarakat. Pada dasarnya, suatu iklan dikatakan efektif

apabila iklan tersebut dapat terpatri secara mendalam dalam benak konsumen.

(Durianto, dkk, 2003:10).

3.2.2. Direct Rating Method (DRM)

Direct Rating Method (DRM) di sebut juga Metode Penentuan Peringkat

Langsung yang digunakan untuk menguji naskah iklan. Metode ini mengevaluasi

kekuatan iklan yang berkaitan dengan kemampuannya untuk mendapat perhatian

(tingkat attention), mudah tidaknya iklan tersebut dipahami (tingkat kognitif

(52)

readthrougness), mudah tidaknya iklan itu menggugah perasaan (tingkat

affective), dan kemampuan iklan itu mempengaruhi perilaku (tingkat behaviour).

3.3. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah untuk mengukur tingkat efektivitas Iklan XL

bebas internet Versi NOAH Di Televisi menggunakan Direct Rating Method

(DRM) yang diukur dengan lima indikator sebagai berikut :

A. Perhatian (attention)

Bentuk respon terhadap suatu pesan yang baru diterima mencakup evaluasi

kekuatan iklan dalam menarik perhatian. Perhatian (attention) diukur dengan

13 indikator antara lain (Durianto, dkk, 2003: 64) :

1. Kebutuhan

Diukur dari apakah penonton merasa membutuhkan promo internet seperti

Promo XL bebas internet, bebas akses ke semua situs, chatting, browsing,

email, whatsapp, Facebook, Twitter, skype, istagram, semuanya diakses

dengan kuota 150MB/hari, ditambah bonus extra 1MB/hari, sehingga

tertarik melihat Iklan XL bebas internet Versi NOAH Di Televisi.

2. Sikap

Diukur apakah pesan iklan ini tidak bertentangan dengan apa yang selama

Gambar

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pemikiran
Table 3.3
Tabel 4.2.
Tabel 4.4.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara dari responden, responden yang menyatakan tidak tertarik dengan iklan sampoerna a mild versi go ahead yang ditayangkan di televisi adalah karena

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penayangan iklan XL versi “Kawin Sama Monyet” dengan Tindakan Membeli (Buying Actions) Kartu XL

Secara keseluruhan didapatkan pada tabel tersebut bahwa tanggapan responden tentang efektifitas iklan pada dimensi sikap terhadap iklan dengan 1 item pertanyaan yang

Pada pernyataan tanggapan terhadap iklan, mayoritas responden menjawab sering pada pertanyaan no.5 sebanyak 47 responden atau 47%, 30 orang responden atau 30%

bahwa iklan Indosat IM3 Seru Anti Galau di Televisi Versi “Loe Gue End” pada. dimensi perhatian (attention) adalah

Judul Skripsi : Hubungan Antara Terpaan Tayangan Iklan Operator Seluler IM3 Versi Voucher Internet Di Televisi Dengan Tingkat Penggunaan Voucher Internet Di Kalangan

Konsep cerita yang digunakan dalam iklan Djarum tidak hanya sekedar berisi lelucon saja, tapi juga berisi kritik sosial, seperti dalam iklan Djarum 76 versi Wakil

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah yang akan dikemukakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Efektivitas Iklan simPATI